That Blue Scarf

Copyright © 2013 by Cindy Handoko

Mentari telah meredup dengan anggun di ufuk barat, siap mengakhiri tugasnya beradu dengan angin dingin musim salju hari ini. Langit diwarnai corak senja keemasan yang makin memudar terganti malam. Hawa dingin menyergap melalui celah-celah etalase pertokoan yang kini ramai berhias pernak-pernik Natal yang berkerlap-kerlip.
Kidung Natal disenandungkan di sepanjang jalan setapak berselimut salju putih, mengiringi langkah kaki para pejalan yang dengan santai menyusuri deretan toko-toko.

Dari kejauhan, nampak bayangan seorang gadis mendekat. Sayup-sayup…Tanpa suara…

Ia bagaikan tidak terlihat. Ia bagaikan tidak tersentuh. Hanya raut sedih dan bekas tangisan di wajah pucatnya saja yang menyiratkan bahwa ia masih berada dalam dimensi yang sama dengan para pejalan kaki itu. Hanya saja, eksistensinya seolah tidak dihiraukan. Membuatnya terlihat seakan-akan ia adalah makhluk asing yang baru menapakkan kakinya di daratan bersalju dan tidak tahu jalan menuju ke tempat asalnya.

Namun hal itu tidak terlihat mengusiknya. Sama sekali.

Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Entah apa yang menyebabkan air mata itu mengering di wajahnya. Entah apa yang menyebabkan seluruh tubuhnya seolah lumpuh oleh kesesakan hati. Hal itu… hanya dia yang memahami.

Sama seperti dirinya yang tidak terusik oleh kericuhan sekitar, begitu juga perlakuan orang-orang terhadapnya. Tidak ada yang benar-benar memperhatikannya. Hanya sesekali, saat mereka lewat di sampingnya atau tidak sengaja tertabrak olehnya. Hanya sekali itu saja mereka bertanya-tanya apa yang terjadi padanya. Hanya sekali itu saja eksistensinya dihargai.

Lampu remang-remang menyinari setiap jejak kaki yang ditinggalkannya. Hawa dingin membelai tengkuknya lembut, seolah ia adalah satu-satunya yang mengerti, satu-satunya yang peduli. Namun kepedulian itu malah semakin menyiksanya, semakin menjerumuskannya dalam jurang kesepian. Ia tidak butuh kepedulian itu. Ia hanya butuh… sendiri.

Baginya, saat ini, setiap butir salju yang mendarat di telapak tangannya mewakili setiap kenangan yang pernah terukir. Setiap kenangan yang pada akhirnya meninggalkan raganya menangis sendirian tanpa belas kasih. Ia tidak tahu kepada siapa ia akan bersandar. Ia tidak tahu siapa yang akan mengerti apa yang dia rasakan. Mungkin tidak ada. Ia yakin tidak ada.

Langkah kakinya terhenti. Pandang matanya yang sejak tadi menerawang terangkat ke atas, ke arah bintang-bintang yang telah menaburi angkasa dengan sinarnya yang terang. Uap dingin mengiringi hembusan nafas berat yang terlontar dari bibirnya yang kelu. Satu-satunya yang tersisa pada dirinya hanyalah syal itu. Syal biru yang sejak tadi menemani di pelukannya.

Syal itu bukanlah syal yang bagus. Bukan juga syal dengan harga ratusan dollar seperti yang terpajang di etalase-etalase yang ia lewati. Syal itu hanyalah syal rajutan sendiri… yang menyimpan kenangan manis dan pahit di setiap helai benangnya. Namun kini kenangan itu tercabik-cabik, pudar dan tidak lagi terikat satu-sama-lain. Sobek-sobek, kumal, dan lusuh. Kini ia tidak lagi punya nilai. Tidak lagi punya harga.

Tapi bagi gadis itu… syal itu segalanya.

Setidaknya saat ini. Saat ia bahkan tidak bisa memaklumi alasan mengapa hanya dirinya dan syal itu yang tertinggal di bawah naung cakrawala. Saat ia belum mengerti mengapa nasib justru membawanya ke sini. Ke tempat yang dingin, tanpa kehangatan yang biasa menemani.

Tes.

Air mata jatuh lagi dari pelupuk mata gadis itu. Tiap tetes menimpa syal berhias bercak darah itu, membasahi setiap kenangan yang pernah tersimpan di dalamnya. Setiap kenangan yang pernah terjadi namun mustahil untuk terulang kembali.

Dalam hati, gadis itu hanya mencoba kuat. Mencoba memahami bahwa ia di sini untuk suatu alasan. Membenam memori itu jauh-jauh. Agar kelak tak lagi ada yang tersakiti.

***

Bagiku, tidak ada yang lebih berarti daripada dirinya…

Walaupun hati ini terasa sakit, jantung ini membeku oleh rasa kesepian…

Tetap kucoba untuk mengusap air mata ini…

Cukup dia… Cukup dia yang pergi meninggalkanku untuk selamanya…

Advertisements

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s