[CHAPTER ONE] Little Stories of Ours

Cover by Cindy Handoko

Cover by Cindy Handoko

Copyright © 2013 by Cindy Handoko

Satu

Stephanie

Sulit sekali untuk hidup normal, bila kau bahkan tak tahu apa arti kata ‘normal’

 

***

 BOLEH nggak aku menganggap diriku sudah “selangkah lebih dekat” dengan cowok yang kutaksir kalau aku tetanggaan dengannya?

Baiklah, kuakui, kalimat barusan itu hanya penghibur supaya aku tidak terlalu kecil hati saja. Aku bukan orang bodoh atau orang buta yang tidak bisa melihat perbedaan yang membentang jauh antara diriku dengan cowok yang sudah lima tahun terakhir menghuni rumah di seberang rumahku itu.Pertama, aku bukan cewek populer. Aku tidak cantik, berbodi kerempeng, berkulit pucat, dan sulit untuk bersikap ramah. Di sekolah, banyak gosip miring yang beredar tentang diriku. Awalnya hanya sebatas gosip bahwa aku ini anak pungut (lantaran wajahku sekilas memang tidak mirip dengan ayah maupun ibuku), tapi kemudian gosip-gosip itu bertambah parah dan mulai mengada-ada. Gosip bahwa aku ini hantu, misalnya. Yang benar saja, aku tidak bisa disalahkan untuk terlahir dengan kulit putih pucat dan pembawaan yang tidak banyak bicara, kan?

Kedua, aku tidak aktif dalam organisasi manapun di sekolah. Hal ini membuat namaku semakin tidak terkenal saja. Biasanya, orang-orang yang sadar diri bahwa dirinya kurang pamor akan langsung unjuk gigi di organisasi-organisasi sekolah. Atau, paling tidak, berusaha menjadi salah satu ketua ekskul. Tapi aku tidak begitu. Aku sama sekali tidak berminat mengikuti organisasi-organisasi itu. Dapat dibilang, aku ini terasing di sekolah.

Ketiga, aku tidak pernah ada hubungan romantis dengan cowok sebelumnya. Sebenarnya, tidak sedikit cowok yang mendekatiku. Tapi jangan salah sangka dulu, mereka mendekatiku bukan karena aku kelihatan menarik atau mereka ingin PDKT denganku, melainkan karena aku sering dijadikan bahan taruhan. You know, seperti di novel-novel remaja picisan, cowok-cowok iseng di sekolahku juga sering membuat taruhan untuk unjuk kemampuan merebut hati cewek. Dan menurut observasi yang diam-diam kulakukan (aku harus belajar untuk tidak terlalu banyak memusingkan hal-hal tidak penting seperti ini), lebih dari lima puluh persen taruhan yang pernah dibuat melibatkan aku sebagai target.

Aku tidak tahu lagi apakah aku harus melanjutkan untuk menyebutkan semua keburukanku, atau aku akan berhenti sampai di sini saja karena aku jadi semakin merasa kecil hati. Pilihan kedua terdengar lebih menyenangkan.

Kembali ke masalah cowok yang kutaksir itu.

Nama cowok itu David, David Hansen Harjanto, lengkapnya. Dia bukan cowok sembarangan—oke, dari sini, dapat disimpulkan bahwa ternyata aku punya satu kelebihan, yaitu aku tidak bakal naksir cowok sembarangan, itu pun kalau ini masih bisa disebut kelebihan. David ketua OSIS di sekolahku, dia juga aktif sebagai ketua ekskul PMR dan punya suara emas yang membuatnya sering dilirik pembina ekskul paduan suara (tapi sayangnya, dia lebih memilih PMR ketibang paduan suara). Dia ganteng, tajir, ramah, dan punya senyum yang bisa membuat hati cewek sedingin es pun meleleh. Dia juga punya banyak teman dan jadi anak emas guru-guru di sekolahku. Pokoknya, satu kata yang bisa menggambarkan dirinya adalah : sempurna. Kalau satu kata masih kurang, maka kata kedua yang bakal kutambahkan adalah kata “banget”. Cowok satu ini benar-benar tanpa cela—ah ya, bukannya dia sempurna-sempurna amat, sebab dia juga punya kekurangan, yaitu dia sedikit playboy (tapi memangnya hal seperti itu perlu dipermasalahkan, ya?)

Oke, jangan memandangku seperti itu.

Aku tahu, aku kedengaran seperti orang bodoh. Hanya dari ciri-ciri yang kugambarkan saja, sudah terlihat jelas bahwa aku tidak mungkin bisa jadi cewek yang disukainya. Coba saja tanya semua cowok yang pernah kautemui tentang tipe cewek mereka, pasti rata-rata bakal menjawab, “Yang cantik, dong! Itu nomor satu. Selebihnya, dia juga harus baik, ramah, seksi, imut, pokoknya gitu deh!” Nggak ada deh tuh, cowok yang bakal menjawab, “Yang pendiam, kalau bisa yang aneh sekalian. Plus seram, jangan lupa. Biar nanti kalau kita nikah, rumahnya jadi lucu. Kan ada mainan jelangkung-jelangkungannya!”

Aku nggak mirip jelangkung sih, tapi kan tetap saja.

Karena menyadari perbedaan yang terlalu jauh membentang itu, aku pun mulai sering membuat pernyataan-pernyataan ngaco yang bisa sedikit membesarkan hatiku. Pernyataan bahwa aku selangkah lebih dekat dengan David lantaran kami tetanggaan, misalnya. Cewek-cewek “fans”nya yang lain pasti sudah mupeng hanya untuk melihat eksterior rumahnya saja. Apalagi kalau diajak masuk ke dalam, pasti mereka sudah keburu mengompol di celana.

Tapi aku? Tidak perlu susah-susah mupeng, aku tinggal membuka jendela manapun dari rumahku yang menghadap ke rumahnya, dan aku bisa dengan leluasa mengamati eksterior rumahnya yang mewah itu. Aku juga pernah sekali menginjakkan kaki ke dalam rumahnya, yaitu saat syukuran rumah barunya lima tahun lalu
(biarpun aku masih kelas enam SD saat itu, aku sudah bisa menebak kalau keluarganya tajir abis dari interior rumahnya yang saat itu masih kosong melompong tapi sudah kelihatan bagus luar biasa). Bahkan, kalau sedang kecipratan untung, aku bisa melihat isi kamar cowok itu. Yah, dia kan kadang-kadang membuka jendela kamarnya yang menghadap ke luar, dan jendela itu berhadapan langsung dengan ruang baca alias perpustakaan miniku. Aku hanya perlu pergi ke sana setiap sore, membuka jendela, dan berharap semoga hari itu aku kecipratan untung.

Seperti saat ini. Aku sedang duduk termangu di sofa kecil ruang baca yang sengaja kuarahkan menghadap jendela (tujuan aslinya bukan untuk mengintip David, sih, tapi karena sinar matahari yang sering menerobos masuk dari jendela membuat tempat ini jadi spot yang nyaman untuk duduk-duduk sambil membaca buku). Jendela kamar David tertutup rapat, tidak menampakkan tanda-tanda bakal dibuka oleh si pemilik. Aku mendesah putus asa, kemudian mengalihkan perhatianku pada buku psikologi remaja di pangkuanku. Yup, akhir-akhir ini, aku sedang getol-getolnya membaca buku-buku psikologi. Ternyata buku-buku itu tidak kalah seru dibandingkan buku fiksi yang sering kubaca.

“Cieee yang lagi kecewa gara-gara nggak bisa lihat pangerannyaaa…”

Aku menoleh dan mendapati sahabat karibku, Luna, berdiri di sampingku dengan tatapan menggoda. Sejak kapan dia berdiri di situ? Kenapa aku bisa tidak sadar?

“Apaan sih lo,” aku tertawa kecil, “Lo udah lama berdiri di situ?”

Dia mencibir sebentar sebelum menjawab, “Nggak, kok. Baru aja nyampe, dan ternyata Tuan Putri lagi gelisah gara-gara Barney kesayangannya nggak kelihatan.”

“Barney” adalah nama panggilan Luna untuk David. Menurut Luna, senyum David itu kaku dan aneh. Dia mengumpamakan bahwa senyum cowok itu mirip senyum Barney, si tokoh kartun berwarna ungu yang bertubuh gempal lucu. Sahabatku ini memang aneh-aneh sekali. Bagaimana bisa senyum cowok seganteng David menjelma menjadi senyum Barney di kepalanya?

“Oh” jawabku singkat, “Nggak mau duduk?” Aku melirik sofa lain yang masih kosong, tidak jauh dari tempatku duduk. Luna ikut melirik sofa itu sebentar, tapi kemudian menggeleng.

“Gue ke sini mau ngajakin lo ngemall. Buruan ganti baju, sono! Udah jam tiga nih, ntar keburu rame.”

Aku segera menutup buku psikologi remaja yang sedang kubaca dan beranjak dari sofa. Setelah mengembalikan buku itu ke raknya, aku naik menuju kamarku di lantai dua. Mengganti pakaian hanya perlu waktu beberapa menit. Setelah itu, aku dan Luna segera berangkat menuju mall naik Honda Jazz yang disetirnya sendiri.

 

***

“Lucu nih,” ujarku sembari menunjukkan sebuah gantungan kunci dengan hiasan boneka berbulu yang lucu banget. Luna menoleh sebentar, kemudian mendecak kesal.

“Buat apa sih, benda kayak gitu?” ujarnya sewot.

“Ya buat digantungin di kunci, lah,” jawabku, “Selain itu, bisa juga—“

“Iya, iya. Gue nggak nanya fungsinya, kalo itu juga gue udah tau. Maksud gue, benda kayak gitu kan nggak perlu-perlu amat. Kecuali kalo lo ada kepentingan kayak ngasih oleh-oleh ke orang, kek, gitu.”

Aku merengut. Luna memang tidak pernah tertarik benda beginian. Padahal aku sudah berniat kembaran dengannya. Karena dia tidak tertarik, aku terpaksa harus menelan keinganku kalau tidak mau terlihat membawa-bawa gantungan kunci bulu-bulu sendirian. Kulangkahkan kakiku ke bagian gantungan kunci di outlet itu untuk mengembalikan si benda bulu-bulu.

Setelah gantungan kunci itu terpajang kembali dengan rapi di raknya, aku lalu menghampiri Luna. Dari kejauhan, aku dapat melihat rambut sebahunya yang bergerak-gerak saat dia sedang berbicara dengan seseorang. Ah, pasti salah satu temannya yang tidak kukenal. Kuberanikan diri melangkah mendekat, dan segera setelah Luna melihatku, dia langsung menunjuk-nunjukku.

Ada apa sih ini?

“Nah, ini dia anaknya,” Luna merangkulku begitu aku sampai di sebelahnya. Aku menatapnya penuh tanda tanya, sedangkan dia tidak terlihat berniat menjelaskan apa yang sedang terjadi. Pandanganku beralih pada cewek berambut pendek yang tadi berbincang-bincang dengan Luna. Cewek itu tinggi semampai, cantik, dan berkulit putih, tipe-tipe cewek populer. Melihatku, ekspresi wajahnya langsung berubah. Aku tidak bisa mengartikan perubahan ekspresi itu.

“Oh,” ujarnya sambil tersenyum kecut, “Jadi… L-lo tahu banyak soal ilmu psikologi, ya?”

Mendengar nada grogi dalam suaranya, aku tidak jadi bertanya dari mana dia tahu bahwa aku sedang getol mempelajari psikologi. Aku malahan mengerutkan keningku seperti orang tolol. “Hmm… Nggak juga sih,” Luna langsung menginjak kakiku, dan aku buru-buru menambahkan, “Tapi lumayan lah.”

“Oh, gitu,” cewek itu lagi-lagi tersenyum kecut, “Anu… Lo mau nggak, masuk ke tim kreativitas mading? Soalnya beberapa bulan lagi, ada lomba mading antarsekolah, dan tim kami butuh artikel tentang psikologi, gitu. Tapi nggak ada yang paham tentang itu, sih.”

Astaga, aku berani bertaruh ini pasti ulah Luna! Dia pasti membeberkan ketertarikanku pada psikologi akhir-akhir ini dan bikin aku jadi terjebak dalam tawaran cewek ini. Astaga… Aku malas banget kalau harus bergabung dalam tim semacam itu.

“Mm… Artikelnya nggak bisa dicari di internet, ya?”

Dan Luna menginjak kakiku lagi.

“Yah, bisa sih. Tapi kan artikel-artikel di internet kebanyakan isinya basi. Yang keren itu yang di buku-buku psikologi, dan rata-rata dari kami belum pernah baca buku-buku psikologi. Jadi… Lo bisa bantu?”

Luna memberikan tatapan penuh arti padaku. Seolah-olah mengisyaratkan ‘terima-aja-bego!’

“Mm… Mungkin gue bisa pikir-pikir…”

“Dia mau kok!” Luna langsung menyahut, dan aku langsung menunduk dalam-dalam. Aduh… Cewek ini benar-benar, deh! Apa dia memang berniat mempermalukanku di depan orang asing? “Lagian, dia pinter banget masalah psikologi. Di rumahnya, dia punya banyak banget buku psikologi yang keren-keren! Dijamin, deh, mading kalian bakal jadi luar biasa banget!”

Cewek itu manggut-manggut sambil menatapku, “Gitu ya? Kalo gitu, nanti gue daftarin ke bagian koordinasinya deh. Eh, bentar, bentar.” Dari dalam tasnya, cewek itu mengeluarkan secarik kertas dan bolpoin. “Nama lengkap lo?”

“Mm… Stephanie Tania,” jawabku ragu.

“S-T-E-F-F-A-N-Y atau S-T-E-P-H-A-N-I-E?” Tanya cewek itu sebelum menuliskan namaku.

“Yang kedua,” jawabku cepat.

“Oke,” kemudian dia menuliskan namaku di atas kertas itu, “Nomor HP lo?”

Kusebutkan nomor HP-ku dan kulihat cewek itu sibuk mencatat.

“Lo kelas XI-IPA-3 kan, ya?”

Aku mengangguk singkat sebagai jawaban. Cewek itu kelihatannya sudah puas dengan jawaban-jawabanku, karena detik selanjutnya, dia memasukkan bolpoin ke dalam tas dan menyelipkan kertas itu ke dalam kantung celana jinsnya. “Nanti kalo udah fix, gue kabarin deh. Gue… Mm… Cabut dulu, ya.”

Aku mengangguk lagi. Cewek itu melambaikan tangan pada Luna kemudian berjalan pergi.

Dan aku masih terbengong seperti orang bego di tempatku berdiri.

 

***

Semua keraguanku tentang tim mading itu hilang sudah setelah Luna sibuk mencerocos sepanjang perjalanan pulang di mobil.

“Lo bego banget, ah! Udah dikasih isyarat juga nggak lo peduliin! Lo nggak tau apa, ketua koordinasi tim mading itu si Barney pujaan lo! Kudu gue tabok muka lo waktu tadi lo bilang mau mikir-mikir dulu!”

Hah?? David ketua koordinasi tim mading? Yang benar saja? Luna nggak lagi mengarang-ngarang cerita supaya aku mau masuk tim mading, kan?

“Tau dari mana lo?”

“Ya tadi si Clara bilang gitu! Makanya gue langsung rekomendasiin elo, bego!”

Oh, jadi cewek tadi itu namanya Clara.

“Tapi gue nggak yakin bisa, Lun.”

Luna langsung mencibir, “Dengan kapasitas otak lo yang melebihi komputer itu, lo bilang lo nggak yakin bisa?! Terus, ini ejekan buat gue atau gimana nih?”

Mau-tidak-mau aku tersenyum geli, “Yah, bukannya gitu. Tapi kan gue nggak pernah partisipasi dalam tim kayak gini sebelumnya.”

“Nah, karena nggak pernah, makanya harus dicoba! Gimana sih?”

Oke, aku mengaku kalah kalau berdebat dengan cewek satu ini. Terpaksa, aku harus ikut tim mading. Lagipula, siapa tahu ini kesempatan buatku mengenal David. Ya, kan?

Kring… Kring…

Dering HP terdengar nyaring. Dari getaran di pahaku, aku bisa tahu kalau HP-ku baru saja berbunyi. Segera kuraih benda itu dari kantung dan kupelototi layarnya sampai rasanya mataku mau keluar dari tempatnya. Yah, penglihatanku memang tidak terlalu baik. Sepertinya minusku bertambah lagi. Sayangnya, aku belum punya waktu untuk mengecek minusku ke dokter mata. Jadi, sekarang, aku harus repot-repot melotot atau menyipitkan mataku untuk membaca tulisan yang tidak terlalu jelas terbaca.

Satu SMS baru dari nomor tidak dikenal.

“Siapa, Steph?” Luna bertanya sambil melirik singkat ke arahku. Kalau dia tidak sedang menyetir, pasti dia sudah menghambur ke arahku dan ikut-ikutan memelototi layar HP-ku.

“Nomor nggak dikenal,” jawabku.

“Baca aja! Siapa tau Clara, tuh.”

Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban, walaupun aku nggak yakin Luna bisa melihat anggukan itu. Kubuka SMS baru yang masuk itu dan segera membacanya.

“Ini Stephanie Tania? Ini Clara dr tim kreativitas mading. Td gw udh hubungin bag koordinasi n ktny mrk ok2 aj kl lo join. Dtg ke rapat bsk plg skul d ruang keseninan ya.. Mngkn rapatnya bs lama, thx.”

Ternyata benar SMS dari Clara. Dan SMS itu membuatku sedikit girang. Kalau aku diterima di tim ini, berarti kesempatan yang kutunggu-tunggu akan datang!

“Clara, Steph?”

Aku mengangguk lagi. Tapi menyadari bahwa Luna tidak bisa melihat anggukanku, aku akhirnya bersuara, “Iya nih.”

“Trus, trus?” Luna kedengaran bersemangat sekali, “Lo diterima, nggak?”

“Katanya iya,” jawabku. “Besok gue diminta datang rapat di Ruang Kesenian.”

“Wah, cakeeepp! Lo besok datang rada awal aja! Pilih tempat duduk yang deket tempat ketua, biar lo bisa deket-deketan sama si Barney tuh!”

Aku tersenyum geli. Ada-ada saja Luna ini. “Yah, paling pol gue duduk di pojok belakang, kali.”

“Dasar,” Luna mencibir, “Kalau mau berhasil tuh usaha, dong!”

“Iya deh, iya.”

 

***

Hari ini bukanlah hari baik seperti yang kubayangkan. Mungkin memang benar kata orang-orang, hari Senin selalu adalah hari buruk. Tak peduli kau sudah berharap macam-macam hari sebelumnya.

Kesialan itu diawali dari pagi hari. Ketika aku hendak mandi, mendadak saja air yang mengucur dari kran keruh. Belakangan ini, PAM memang sering mengalami gangguan. Tapi biasanya pagi-pagi begini airnya masih normal, tuh. Akhirnya, terpaksa aku mandi menggunakan air galon dan menghabiskan 2 galon cuma untuk membersihkan tubuhku. Biarlah, daripada kena penyakit kulit. Ya, nggak?

Kesialan berlanjut ketika guru fisikaku memutuskan mengadakan kuis dadakan. Aku baru sadar kalau tipex-ku habis, dan terpaksa aku membiarkan kertas ulanganku penuh corat-coret. Akibatnya, aku mendapat pengurangan nilai dua poin untuk setiap coretan yang kubuat. Dan untuk itu, aku harus rela mendapatkan nilai 61. Seharusnya, tanpa coret-coretan itu, aku bisa mendapatkan nilai 73 dan hasil ulanganku bisa digolongkan ‘tuntas’.

Di pelajaran terakhir, perutku mendadak mulas dan aku harus mendekam di UKS sampai aku merasa baikan. Tapi ternyata, bahkan setelah bel pulang berbunyi, perutku tidak kunjung membaik. Karena ingat ada rapat tim kreativitas mading, kupaksakan saja diriku untuk bangkit dari kasur dan berjalan tertatih-tatih menuju Ruang Kesenian.

Sampai di sana, aku baru sadar bahwa aku datang paling terakhir. Buktinya, seluruh kursi sudah penuh terpakai, hanya tersisa beberapa kursi di bagian pojok belakang. Tuh, kan, benar perkataanku kemarin.

Selama rapat, aku tidak konsen dan satu-satunya hal yang kuingat dari rapat ini hanyalah David yang berdiri dengan tampang bersemangat sambil menjelaskan konsep mading di depan ruangan. Hanya wajahnya saja. Bahkan apa yang dia katakan pun aku tidak ingat.

Setelah melalui 3 jam yang sungguh menyiksa di Ruang Kesenian, akhirnya kami dibubarkan. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore dan satu-satunya hal yang terpikir olehku hanyalah segera pulang sebelum sakit perutku bertambah parah.

Tapi sepertinya kesialan tidak mau lepas dariku. Buktinya, begitu aku menghampiri sepedaku di lahan parkir belakang sekolah, aku sadar bahwa ban depan sepeda itu kempes. Hal ini tidak biasa terjadi, maka aku sama sekali tidak terpikir untuk membawa-bawa pompa ke sekolah. Satpam jaga masih ada di pos depan, tapi aku terlalu takut untuk meminta bantuannya. Apalagi, satpam jaga di sekolahku terkenal galak. Apa jadinya kalau aku merepotkan dia di saat dia seharusnya sudah bisa bersantai-santai ria di dalam “rumah” kecilnya itu?

Aduuhh… Mana anggota tim yang lain sudah pada pulang, lagi! Sial sekali nasibku hari ini.

Aku menendang tembok keras-keras, dan langsung menyesal telah melakukannya.

“Aduh!” Erangku kesakitan. Kuangkat sebelah kakiku untuk memeriksa keadaannya. Tapi aku tidak bisa melihat dengan jelas lantaran penerangan di sini sangat minim, ditambah mataku yang kurang baik penglihatannya.

Aku berjongkok dan menelungkupkan kepalaku di antara lipatan tangan. Hari ini kacau. Sangat kacau.

“Hey.”

Dan jangan bilang aku sedang berhalusinasi sekarang ini. Aku seperti mendengar suara berat dan serak dari belakangku. Bagus. Kalau sampai aku menoleh dan tidak ada orang di sana, aku akan buru-buru lari menuju psikolog terdekat untuk memastikan jiwaku tidak terganggu.

Kuberanikan diriku untuk menoleh ke belakang dan….

….nyaris terjengkang kaget melihat sosok yang berdiri di belakangku.

Astaga! Sosok bermuka pucat dan berbaju putih-putih! Mana tatapan tajamnya mengarah padaku, lagi! Aduh, ngeri banget!

Aku mundur dengan gaya merambat yang memalukan. Apa daya, aku sangat ketakutan. Mungkin benar, aku harus menemui psikolog setelah ini. Tidak mungkin kan, sosok yang kini menatapku heran itu adalah hantu?

Tuhan, jangan ambil nyawaku sekarang, please

“Hey”

“AAAAAA…..!!!”

Satu lagi sapaan dari sosok itu dan aku langsung berlari tunggang langgang keluar area sekolah. Gila, jantungku berpacu dua kali lipat lebih cepat! Sosok itu benar-benar kelihatan menakutkan! Matanya mencorong tajam dan kantung matanya bergelayutan di kulit putih pucat itu. Tubuhnya tinggi dan kurus kerontang seperti tengkorak. Aku bahkan tidak sempat memperhatikan apakah kakinya menapak di tanah. Hii…

Aku berhenti setelah mencapai jalan setapak yang cukup sepi. Lega sekali rasanya bisa lepas dari ketakutan yang mencekam tadi itu. Kurapikan rambutku yang sempat terbang kesana-kemari setelah berlari tanpa tujuan yang jelas. Setelah mengatur nafas, kuputuskan untuk pulang ke rumah jalan kaki saja. Aku jadi paranoid untuk kembali ke sekolah dan mengambil sepedaku lagi. Bisa-bisa aku ketemu sosok mengerikan itu lagi, lalu aku mati ketakutan, dan…

Kring! Kring!

Aku menoleh ketika mendengar bunyi sepeda di belakangku. Dan aku tidak bohong kalau aku bilang, detik itu juga aku terjengkang ke aspal jalanan.

Tebak apa, sosok mirip hantu itu sedang menatapku dengan wajah datar, dan dia duduk di atas sepedaku!

Yang benar saja! Bukankah tadi ban sepedaku kempes? Kok makhluk ini bisa tiba-tiba membawa sepedaku dalam keadaan sehat walafiat tanpa cacat sedikitpun?! Hii… Jangan-jangan dia memberi kutukan di sepeda itu…

“Lo kenapa sih?” Terdengar suaranya yang penuh tanda tanya. Kupicingkan mata dan mencoba melihat di bawah sinar lampu jalanan.

Setelah yakin bisa melihat dengan jelas, nafasku terhembus lega.

Ternyata sosok mirip hantu itu manusia biasa. Fiuh…

“Gue datang ke sana karena gue lihat lo butuh bantuan. Pas gue deketin, nggak taunya lo malah lari nggak jelas, teriak-teriak pula!”

Aku harus mengatur nafasku sekali lagi sebelum bisa menjawab, “Sori. Tapi, lo siapa?” Yup, cuma itu satu-satunya hal yang terlintas di otakku yang buntu. Siapa dia? Kenapa dia bisa ada di sekolah malam-malam begini? Dan kenapa dia memakai baju putih-putih yang… tunggu dulu, bukankah itu baju petugas upacara sekolahku? Ya, aku nggak mungkin salah lihat. Jadi, dia salah satu siswa di sekolahku. Pertanyaanku hanya tinggal dua, siapa dia dan kenapa dia masih di sekolah malam-malam begini.

“Siapa gue itu nggak penting,” jawabnya ketus, “Yang jelas, sepeda lo udah bener lagi.”

Aku terdiam sambil menggigit bibir. Malu rasanya karena sempat menyangka cowok ini hantu. Mana ekspresiku tadi sangat ketakutan, lagi! Aduh, memalukan sekali.

Cowok itu turun dari tempat duduk sepeda dan menyingkir agar aku bisa duduk di atasnya. Masih dengan ekspresi syok, aku duduk di atas tempat duduk dan bersiap mengayuh sepedaku pulang. Kusempatkan diriku untuk berbalik, sekedar mengucapkan terima kasih pada cowok itu.

“Maka—“

Tapi dia sudah terlanjur berjalan pergi, dan aku hanya bisa melihat punggungnya semakin menjauh. Kutarik nafas panjang, lalu menghembuskannya lagi.

Oke, kira-kira bagaimana aku bisa mencari cowok ini lagi untuk membalas budi kepadanya?

TO BE CONTINUED

Haiii… Sori lama banget ‘menelurkan’ posting satu ini ^^ semoga nggak terlalu bikin pusing atau mual.. hehehe… lanjutannya bakal dipost ASAP, thanks for reading^^ see ya next time…

Next chapter : 2

Download the Ebook?

download-icon2

Advertisements

21 thoughts on “[CHAPTER ONE] Little Stories of Ours

  1. Haloo ._.
    Sori baru komen disini :p
    Sebenere mau komen di chapter 2 tp entah knp kebuka di chapter 1 😐 (males nunggu loading ke chapter 2)
    Ditunggu chapter 3 nya (sebenernya gue juga udh ngerti beberapa kelanjutannya :P)
    Btw ada yg janggal menurut gue (di kelanjutannya) tp kan gue gak mungkin komen “itu” di sini.. (ntar buka aib malah .-.) jadi besok aja kalo chapter 3 nya udah..
    Udahan dlu komen gue..
    Keep writing!! ;;)

    1. nggak apa2 kok baru komen juga 😀
      hahaha internet server emang suka error gaje gitu 😐 apalagi neg buka pake browser HP, hadeehh…
      wkwkwkwkw… hoo kw kan dah tau cerita full e..
      Hal yang “janggal” itu udah tak jawab di sekolah yaaa 😀 neg misale ada yang janggal-janggal lagi omong wae (di sekolah tapi, neg disini sama wae mbocorin jalan cerita’-‘)
      okee 😀

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s