[CHAPTER FOUR] Little Stories of Ours

Cover by Cindy Handoko

Cover by Cindy Handoko

Copyright © 2013 by Cindy Handoko

Previous chapters : 1 || 2 || 3 

Empat

Luna

Takdir memang susah jauh-jauh dari diri kita.

 

***

“Dmn km? Aku udh duduk d pojok.. baju item”

SEMBARI membaca SMS yang baru saja masuk ke HP-ku itu, aku melirik-lirik jam tangan. Aduuhh… sudah terlambat setengah jam! Ini, nih, akibat nyata dari macetnya lalu lintas Jakarta yang susah ditebak. Padahal, aku berangkat dari rumah jam sembilan pagi, sebagai antisipasi kalau-kalau nanti macet di jalan. Tapi ternyata, macetnya tidak hanya makan waktu satu jam seperti perkiraanku, melainkan dua jam! Bayangkan saja, dua jam tanpa bergerak di jalan raya!

Sebentar, sebentar.

Aku bahkan belum menjelaskan kenapa aku ketar-ketir seperti orang gila di hari Sabtu pagi begini. Biasanya, sih, jam segini aku masih asyik molor, saking tidak ada yang membangunkan. Tapi ini?

Fiuh… oke, Luna. Atur nafasmu. Tenangkan pikiranmu. Kau tidak bisa membiarkan dirimu tampil dengan tampang menyerupai korban gunung meletus begini di depan Kak Marcell.

Eh, tunggu dulu. Kak Marcell?

Yup, hari ini aku ada janji bertemu dengannya. Alasannya, karena aku tetap ngotot ingin mengembalikan duit tiga puluh lima ribunya itu. Alasan lainnya (yang jelas tidak mungkin kukatakan terang-terangan di depan Kak Marcell), adalah karena aku ingin kenal Kak Marcell lebih dekat lagi.

Okay, katakan saja aku ganjen atau apalah. Tapi memangnya salah, kalau kau ingin mengenal seseorang yang sudah dua minggu terakhir ini memenuhi inbox-mu dengan SMS-SMSnya? Memangnya salah, kalau kau ingin sekali-sekali kenal cowok ganteng? Nggak, kan? Lagian, semua orang juga pasti pernah seperti itu.

Sambil menunggu macet yang kini sudah mulai merayap pelan-pelan, aku merapikan rambut melalui kaca spion. Biarlah aku dikira orang gila karena mendadak menurunkan kaca mobil hanya untuk bernarsis ria di depan spion. Daripada aku masuk ke kafe dengan rambut bak singa liar? Hih, amit-amit, deh. Bisa gagal semua rencanaku.

Akhirnya, setelah melalui berbagai siksaan di jalan—mobil yang DIPAKSA mogok, klakson-klakson memekakkan di mana-mana, mengumpat dan mendapat umpatan, diserempet dengan tidak berbelas kasihan oleh motor-motor nekad yang tidak sabaran—mobilku bisa juga keluar dari traffic light yang lama-lama bikin pengguna jalan makin pusing (siapa juga yang tidak pusing kalau lampu merahnya menyala selama 200 detik, sedangkan lampu hijaunya cuma 30 detik? Itu sih, baru maju sedikit, sudah disuruh menunggu 200 detik lagi!). Setelah berhasil lolos dari jeratan macet, mobilku langsung kupacu dengan sangat kencang, hingga akhirnya aku sampai di kafe tempatku dan Kak Marcell janjian, tepat pukul 11.25. Bagus juga, nih. Sudah terlambat nyaris sejam.

Begitu memasuki kafe, mataku langsung mengedar dengan liar mencari sosok Kak Marcell. Pakai baju hitam tadi, katanya? Mana sih, kok nggak kelihatan?

Setelah memutari seisi ruangan sekali lagi, akhirnya aku menemukan cowok itu. Sedang duduk sambil mengutak-atik HP-nya dan sesekali menyeruput kopi panas yang asapnya masih mengepul. Dengan perasaan malu, aku berjalan mendekatinya dan duduk di hadapannya.

“Hai,” sapaku seramah mungkin. “Sori, telat banget. Udah lama ya, nunggunya?”

Tuh, kan. Apa kubilang. Orang-orang selalu menanyakan pointless question di awal percakapan. Ya jelas lah, dia sudah lama menungguku! Satu jam itu waktu molor yang sangat nggak wajar bagi seorang cewek!

“Nggak apa-apa, kok,” Kak Marcell malah tersenyum ramah, kemudian memasukkan HP-nya ke dalam saku celana. “Lo mau pesan dulu?”

Aku mengangguk, kemudian memanggil seorang waitress untuk memesan minuman. Kafe ini memang terkenal dengan kopinya, tapi aku sama sekali nggak suka kopi. Kalau bukan karena Kak Marcell mengusulkan tempat ini sebagai tempat janjian, aku tak bakalan deh, terpikir barang secuil pun untuk datang ke sini. Akhirnya, aku memesan chocolate blend saja. Ini bukan minuman yang direkomendasikan di sini, sih. Tapi setidaknya rasanya nggak bakalan parah-parah amat, kan? Orang harganya juga cukup menguras kantung gini.

Aku mengeluarkan dompet baruku (yang kutemukan di mall beberapa hari lalu dan langsung kubeli tanpa pikir-pikir lantaran bentuknya yang mirip sepatu kets itu unik banget) dan menarik selembar dua puluh ribuan, selembar sepuluh ribuan, serta selembar lima ribuan dari dalamnya, lalu meletakkannya di meja dan mendorongnya ke arah Kak Marcell. Duit ini adalah sebagian dari hasil aksi memohon-mohon pada Mamaku untuk duit jajan tambahan. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, Mama menganggap insiden dompet hilang itu sebagai bukti dari kecerobohanku yang tidak pernah bisa menjaga barang sendiri. Aku ingin protes soal itu, karena aku kan memang tidak menyangka sebelumnya kalau dompet itu bisa tiba-tiba dicuri orang. Tapi aku tahu, memprotes Mamaku yang begitu keras kepala hanya akan menyebabkan masalahnya jadi tambah panjang. Jadi, kubiarkan saja beliau ngamuk-ngamuk sendiri semalam suntuk, sampai mengacam tidak akan memberiku duit lagi untuk sisa bulan ini. Setelah kemarahannya reda, barulah aku membujuk demi beberapa lembar duit lima puluh ribuan. Membujuk Mama bukanlah hal yang mudah. Selain karena aku memang tidak dekat sama sekali dengan beliau, beliau juga orang yang begitu keras kepala. Malam itu pun, usaha membujuk Mama sia-sia berat. Aku benar-benar dibiarkan mati kelaparan di kantin sekolah selama tiga hari setelahnya, dan kupikir beliau benar-benar serius dengan ancaman itu. Tapi, untunglah, beliau masih punya secuil belas kasihan. Buktinya, pagi-pagi di hari keempat, duit dua ratus ribu sudah nangkring dengan manis di atas meja rias kamarku.

“Makasih,” Kak Marcell tersenyum dan mengambil tiga lembar duit kucel itu, lalu memasukkannya ke dalam kantung celana. “Sebenernya ini beneran nggak perlu, lho.”

Seandainya nggak ada yang namanya sopan santun, aku pasti sudah langsung berterima kasih padanya dan merebut paksa duit itu agar kembali ke dompetku. Habis mau gimana lagi, duit segitu kan, lumayan. “Ah, nggak. Harus dong, Kak. Gue kan bukan tukang utang.”

Tak lama kemudian, pesananku datang, dan aku langsung menyeruput sedikit melalui sedotan hitam yang dimasukkan ke dalam gelas tinggi itu. Fiuh… Akhirnya bisa minum juga. Macet selama dua jam betul-betul menguras energi dan emosi. Buktinya, rencana awal untuk “menyeruput sedikit minuman itu” berubah jadi “menyedot minuman itu dengan membabi-buta sampai rasanya sebentar lagi sedotannya bakal ikut tertelan.”

“Sekolah lo libur, ya, kalo hari Sabtu?” tanya Kak Marcell.

“Iya,” jawabku, “Cuma itu hal yang gue senengin dari sekolah ini.”

Kak Marcell tertawa kecil, “Enak banget, tuh. Dulu, pas gue masih SMA, Sabtu-Sabtu gini masih penat di kelas.”

Oh, iya, aku lupa cerita. Kak Marcell ini sekarang berstatus mahasiswa jurusan business management di salah satu universitas swasta terkenal di Surabaya. Dia sudah masuk semester dua, dan dia baru saja kembali ke Jakarta untuk merawat ibunya yang divonis tumor otak. Aku kasihan banget mendengarnya. Apalagi, adiknya masih kelas sembilan, jadi dialah satu-satunya harapan karena ayahnya sedang pergi dinas ke luar negeri. Belakangan, baru kuketahui bahwa dia pergi ke toko buku waktu itu untuk membelikan ibunya buku sebagai bacaan di rumah sakit, dan dia sangat terburu-buru makanya sampai membayari barangku. Aku cukup lega mengetahui bahwa dia melakukannya bukan karena ingin aku segera angkat kaki dari sana, melainkan karena perhatian kepada ibunya.

Kak Marcell sedang mempertimbangkan buat putus kuliah dan mendaftar kuliah di Jakarta saja, agar dia tidak jauh-jauh dari rumah. Lagipula, dia tidak terlalu sreg dengan jurusan business management. Kalau bukan karena ayahnya memaksa dulu, dia tak bakalan masuk jurusan itu. Sebenarnya, dia tertarik jurusan kedokteran, dan dia semakin bertekad untuk masuk jurusan kedokteran setelah peristiwa tidak mengenakkan yang menimpa ibunya ini (ketertarikannya terhadap dunia kedokteran adalah salah satu kesamaannya denganku. Yup, aku juga tertarik di bidang ini). Terang saja dia ingin jadi dokter, keluarganya kan punya catatan kesehatan yang bisa dibilang buruk. Kakak perempuannya baru saja meninggal beberapa tahun yang lalu karena anoreksia, dan sekarang ibunya divonis tumor otak. Ditambah lagi, Celina, adik bungsunya yang adalah teman Juna itu, sering sakit-sakitan alias lemah banget. Dokter bilang, keturunan cewek dari ayah dan ibunya memang berpotensi besar kena penyakit mematikan. Ini disebabkan oleh genetika ble ble ble yang tidak aku mengerti itu. Untungnya Kak Marcell cowok.

Aku seperti tahu banyak soal dia, ya? Hehehe… akhir-akhir ini kan aku rajin berkomunikasi dengannya melalui SMS.

“Oh ya, Na,” Kak Marcell menyela lamunan panjangku, “Gue denger, akhir minggu depan nanti, akan ada seminar kedokteran. Pembicaranya George Yulius, dan pendaftarannya gratis.”

Aku menatapnya dengan tertarik. Sudah lama aku kepingin ikut seminar-seminar begituan, dan hal ini sempat kuutarakan pada Kak Marcell saat kami SMS-an. Apalagi pembicaranya George Yulius, seorang dokter yang merangkap sebagai motivator kondang. Dan yang lebih penting lagi, acaranya gratis!

“Oh ya? Terbuka untuk umum, tuh?”

“Iya,” Kak Marcell menjawab, “Umur minimal lima belas tahun. Tapi lo udah lewat lima belas, kan? Mau ikut?” tawarnya.

Oh, iya, aku sih jelas mau. Tapi, dia ikut nggak ya? “Mm… terserah, deh. Kak Marcell ikut?”

“Gue ikut, sih. Lumayan, kan, gratis. Hehehe…”

Oh, ternyata dia gila gratisan juga. Sama dong kayak aku. Tapi nggak mungkin dia separah aku, sebab penyakit gila gratisanku ini sudah turun-temurun dari almarhum nenekku. Luar biasa, kan?

“Daftarnya lewat apa?” tanyaku.

“Lewat salah satu crew atau datang langsung ke klinik Dokter George, sih. Tapi kalo lo tertarik ikut, gue daftarin sekalian. Soalnya temen gue crew di sana, dan kebetulan kita bisa disediain bangku terdepan. Kan lebih enak, daripada duduk di belakang.”

“Oh, ya udah, boleh deh. Jam berapa, tuh? Hari apa?”

“Hari Sabtu jam enam sore. Kalo lo mau, gue bisa jemput sekalian ke rumah lo, gimana?”

Gosh, of course! Tentu saja aku mau! Selain ngirit bensin, kan lumayan, bisa ngeceng. Hehehe…

“Boleh, tuh.”

Kak Marcell tersenyum, “Ya udah, ntar gue daftarin dulu, deh.”

“Oke.”

Setelah sepatah kata dariku itu, kami berdua sibuk terdiam. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, tapi yang jelas, yang ada di otakku sekarang ini hanya satu hal : apa ya, topik pembicaraan yang menarik buat dibicarakan?

“Lo cuma mau dateng sendirian?”

Aku mendongak menatap Kak Marcell, lalu tanpa sadar memasang tampang bego bin lemot yang, aku yakin, benar-benar memalukan. “Hah?”

“Ya, maksud gue, lo nggak mau ngajak temen gitu, ke seminarnya?” Kak Marcell menjelaskan maksud dari pertanyaannya tadi.

“Mm… Iya sih, kayaknya,” jawabku, “Stephanie nggak bakal tertarik acara beginian. Ini bukan acara tentang psikologi atau sejenisnya, kan?”

Kak Marcell buru-buru menggeleng, “Bukan, bukan.” Dia terlihat berpikir sebentar, tapi kemudian menyambung, “Siapa tuh, Stephanie?”

“Oh, gue belum cerita, ya?” Tanyaku sok basa-basi, “Stephanie sahabat gue dari SD. Dia tertariknya ke psikologi, bukan kedokteran gini.”

“Ooo…” Kak Marcell manggut-manggut, “Ntar kalo gue dapet kabar ada seminar psikologi, boleh tuh, dia ikut.”

“Emang Kak Marcell punya koneksi apaan, sih? Kok bisa update banget soal seminar-seminar gituan?”

Kak Marcell tersenyum bangga, “Temen gue yang tadinya kakak kelas gue kerja di salah satu… apa, ya? Semacam EO buat seminar-seminar gitu, kali. Pokoknya itu, lah. Dia sering nanganin acara-acara seminar yang pembicaranya top-top gitu, deh.”

Aku mengerutkan alis, “Gue baru tahu kalo seminar harus pake EO-EO-an segala. Gue kira, EO cuman buat party doang.”

“Bukan EO, kali, istilahnya. Cuman gue nggak tahu apa,” jawabnya, “Itu lho… Nama perusahaannya A.D.C Company… Masa lo nggak pernah denger?”

Aku menggeleng, “Nggak, nggak pernah, tuh.”

“Itu terkenal banget, lho,” sanggahnya.

“Oh, gitu, ya?” Aku sok manggut-manggut. “Tapi tetep aja gue nggak pernah denger.”

Dia tertawa kecil.

Selama beberapa saat, kami terdiam lagi. Aku bersumpah dalam hati, aku paling benci harus diam-diaman dengan seseorang. Masih mending kalau diam-diamannya karena sedang marahan, tapi ini? Karena bingung mau membicarakan topik apa?! Sungguh, ini jenis diam-diaman yang paling bikin tak enak hati.

Di satu sisi, kami sudah sering SMS-an, bahkan membicarakan masalah keluarga segala (soal keluarga Kak Marcell dan catatan kesehatannya yang buruk itu, lho). Jadi seharusnya, suasananya nggak perlu secanggung ini, dong. Tapi, di sisi lain, kami belum terlalu kenal. Tidak enak membicarakan hal-hal pribadi pada orang yang belum terlalu kenal dengan dirimu. Masalah pribadiku saja hanya kuceritakan pada Stephanie, tidak pada orang-orang lain. Padahal, masalah pribadi itulah yang seru buat diperbincangkan.

“Lo nggak pesen makan?”

Lagi-lagi aku mendongak dengan gaya bego, tapi lalu menggeleng cepat. “Nggak, deh.”

“Oh,” dia mengangguk-angguk, “Cewek emang suka jaim, ya. Suka diet-diet gitu.”

Aku langsung melotot. Diet?! Diet apanya?! Diet dompet?! Aku menolak makan bukan karena ingin diet atau sejenisnya, melainkan karena aku nggak bisa membayangkan berapa duit yang harus kuhabiskan untuk makan di kafe semewah ini! Dari daftar menu yang tadi sempat kulihat-lihat saat memesan minum saja, aku dapat melihat digit puluhan yang menghiasi kolom harga rata-rata menampilkan angka 9 semua. Yang artinya, sembilan puluh ribuan hanya untuk sekali makan! Bisa habis semua hartaku!

“Nggak kok, gue nggak diet,” sanggahku, “Emang menurut lo, gue kelihatan gendut, gitu?”

“Eh? Nggak, nggak. Bukan gitu maksud gue… Maksud gue, cewek-cewek suka diet tanpa sebab. Padahal nggak gendut, tapi diet juga… Sebenernya, kan—”

“Gendut juga nggak apa-apa, kok,” aku menyela dengan tidak sopan. Dan Kak Marcell langsung mengerutkan kening dengan sukses.

“Maksudnya?”

“Ya kalo lo mau bilang gue gendut juga nggak apa-apa, gitu. Orang gue juga nggak peduli.”

“Oh, yah…” Dia kelihatan bingung, “Ya udah deh, terserah. Tapi lo nggak gendut, kok. Beneran.”

“Iya, iya, percaya gue.”

Kami mengobrol panjang-lebar, dan suasana yang tadinya kaku akhirnya bisa mencair juga. Kami mulai membicarakan beberapa topik yang seru. Setelah puas berbincang-bincang, kami memutuskan untuk pulang.

Bye, dan makasih sekali lagi udah ngembaliin duit gue biarpun aslinya nggak perlu,” Kak Marcell tersenyum lebar sekali. Gosh, walaupun sepertinya sudah seribu kali kulihat senyum itu, rasanya aku masih kagum dan mendadak lemas saat melihatnya tersenyum lagi. Benar-benar senyum paling gorgeus yang pernah kulihat.

“Nggak apa-apa, Kak. Dan sori karena gue udah ngerepotin lo,” aku balas tersenyum.

“Jangan lupa Sabtu depan, ya,” ujarnya, “Dan jangan lupa kirimin gue alamat dan rute ke rumah lo sebelumnya.”

“Oke,” jawabku, “Jangan lupa juga ingetin gue buat ngasih alamat. Soalnya gue suka lupa.”

“Beres, deh.”

Dan setelah tersenyum lebar sekali lagi, kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.

 

***

“Steeeeeph…..” Aku mengerang malas-malasan sambil mengulet di atas kasur Stephanie. Kalau sedang penat di rumah, aku memang selalu menyatroni rumah sobatku ini. Selain karena rumahnya besar dan nyaman banget buat digunakan bersantai, dia juga tinggal sendirian saja. Tiga tahun yang lalu, ayahnya dimutasi ke New York. Dan kebetulan, ibunya juga ingin pindah ke sana. Tapi, saat ditawari, Stephanie menolak mentah-mentah ajakan orang tuanya buat pindah rumah ke New York. Alasannya, jelas karena dia masih belum ingin meninggalkan hal-hal yang dia sukai di Jakarta. Setelah sempat bertengkar semalaman, akhirnya kedua orang tuanya mengizinkannya tetap tinggal di rumah ini, dengan bekal transferan duit setiap awal bulan. Papa dan Mamanya hanya kembali ke rumah saat ada libur panjang.

“Apa?” Tanyanya singkat.

“Boseeeeeen……” Aku lagi-lagi mengerang dengan nada ala anak kecil yang sedang merajuk minta dibelikan balon. Setelah mengulet-ngulet beberapa kali, akhirnya aku merubah posisi menjadi duduk, “Lo lagi nulis apaan, sih?”

Stephanie tampak tidak terusik dengan pertanyaanku. Dia tetap fokus berkonsentrasi pada kertas-kertas surat bergambar lucu-lucu di hadapannya. “Artikel, nih.”

“Yang buat mading itu?”

“Hmm,” ia hanya menggumam mengiyakan.

“Emang deadline-nya kapan, sih?”

“Masih lama, sih,” jawabnya, “Tapi Kak Clara bilang, lebih baik dicicil dulu dari sekarang. Biar nanti kalo perlu ada revisi lagi, nggak dadakan.”

“Ya tapi kan lo nggak harus nyicil sekaraaaang,…” Aku merajuk lagi, “Masa lo sampe nolak ajakan gue buat ngemall, sih?”

“Lebih cepet lebih baik, kan, Lun?”

“Ya memang sih, tapi kan tetep aja.” Aku merengut kesal kemudian menghampirinya dan berkacak pinggang, “Lo tega biarin gue mati kebosenan gini?”

“Lun, kalo udah selesai, ntar gue temenin lo ngemall sepuasnya, deh.”

Alasan kayak begitu nggak mempan buatku, tau. Huh! “Orang bosennya sekarang, masa gue kudu nunggu berbulan-bulan?”

Stephanie tertawa kecil. “Gue nyelesaiin ini nggak berbulan-bulan, kali.”

Aku mencibir kesal, kemudian melenggang pergi keluar ruangan. Daripada penat nggak ada kerjaan, mending cari udara segar, deh!

 

***

Sekolah bubar agak siang hari ini. Ini karena kegiatan menyebalkan yang diwajibkan untuk siswa-siswi kelas sebelas : ekskul komputer! Aduh… Kehadiran ekskul tidak diharapkan ini benar-benar merusak hari Sabtu yang seharusnya indah ini!

Yah, seharusnya, hari ini kan bakal jadi hari yang menyenangkan. Nanti sore, Kak Marcell bakal menjemputku di rumah untuk pergi seminar. Sejak tiga hari yang lalu, aku sudah merencanakan semua agenda kegiatan yang bakal kulakukan hari ini. Dan seharusnya, setelah pulang sekolah aku bisa tidur siang dulu sebentar. Tapi lalu aku teringat ekskul ini, dan harus menelan keinginanku untuk menikmati alam mimpi yang indah siang ini.

Makanya, saking kesalnya diriku, begitu bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung keluar dari kelas, setengah berlari menuju Honda Jazz yang kuparkir di halaman parkir belakang sekolah. Stephanie sampai bingung melihat tingkahku yang tidak biasa ini. Setelah meneriakkan “Steph! Nanti gue nggak bisa mampir ke rumah lo dulu, sori!” aku langsung ngacir masuk ke mobil dan menutup pintunya keras-keras.

Begitu sampai di rumah, langsung saja aku berendam air hangat. Nggak enak banget membiarkan keringat-keringat lengket membasahi sekujur tubuh. Ini adalah hal lain yang kubenci dari ekskul komputer : ruangannya pengap dan AC-nya lebih seperti barang rongsok tak berguna yang seharusnya dibuang saja ke gudang. Aku sengaja berlama-lama di dalam bath tub, mengingat masih banyak waktu tersisa. Yah, tujuanku pulang cepat-cepat memang supaya aku bisa punya banyak waktu untuk berendam.

Jam menunjukkan pukul setengah lima sore saat aku memutuskan untuk menyudahi acara berendamku yang menyenangkan. Badanku sudah terasa sedikit lebih rileks dan tidak secapek tadi. Sudah kubilang, berendam memang hal paling menenangkan yang ada di muka bumi.

Biasanya cewek-cewek akan pusing memilih pakaian untuk digunakan dalam acara-acara penting. Tapi, dasarnya aku bukan cewek normal, aku sama sekali tidak kebingungan dalam menentukan. Kaus oranye panjang yang mencapai paha dengan sedikit semburat kuning polkadot di bagian bawahnya serta celana jeans biru panjang langsung menjadi pilihanku. Bukan selera fashion yang baik, sih. Tapi biarkan sajalah, toh siapa sih, orang yang bakal cari mati dengan mengomentari penampilanku?

Tanpa babibu lagi, aku langsung membuka pintu kamar untuk menunggu di teras…

…dan nyaris mencium wajah Juna yang sudah berdiri di balik pintu.

“Hih, apaan sih lo! Ngagetin aja!” Bentakku langsung. Juna hanya terkekeh geli.

“Mau ke mana, Kak?”

Tampangku langsung berubah kesal, “Bukan urusan lo. Kenapa? Mau nitip lagi?”

“Enggak, kok. Kakak asal tuduh banget,” sanggahnya.

“Trus, mau ngapain lo?! Gangguin gue? Kalo iya, mending lo minggir duluan, soalnya gue habis belajar jurus judo keren hari ini.”

“Hidih, jurus judo keren apaan, coba? Buka tutup botol aja nggak bisa, mau belajar judo! Ngimpi, deh! Huahahahahaha…”

Sial, sekarang dia malah ngakak-ngakak menertawakanku.

“Ayo, deh! Cepet! Tujuan lo ke sini mau ngapain? Gue buru-buru, tau!”

“Oke, oke,” dia tampak susah payah meredakan tawa. Kemudian setelah tawanya reda, jempolnya diarahkan menunjuk pintu depan, “Kakak udah ditunggu, tuh.”

Hah? Jadi, dia mau cuman ngasih tau hal ini? Kenapa begini aja belibet banget, sih?

Aku mengangguk-angguk, tapi lalu kusadari sedetik kemudian tampangnya berubah jahil. Nah, lho! Dia pasti mau menggodaku lagi.

“Kakak sekarang deket ya, ama kakaknya Celina?” Tanyanya, masih dengan wajah menggoda dan, tambahan lagi, suara bernada menggoda.

“Apaan, sih? Nggak! Kita kan cuma mau dateng ke seminar bareng!” Aku menyangkal sambil menoyor dahi Juna yang sama sekali tidak ada nonong-nonongnya—pertanda bahwa dia bodoh, kali.

“Haduh, galaknyaaa…. Aku denger nih ya, Kak, kalo orang jatuh cinta tuh biasanya sensitif. Digodain dikit, marah. Hihihi…” Dia terkikik-kikik.

“Udah, ah! Ngaco lu!” Setelah memberikan satu toyoran lagi ke dahinya, aku berjalan menuju teras tempat Kak Marcell seharusnya menunggu. Dan, yah, aku langsung dapat melihat sosoknya yang berbalut jaket kulit asli, sedang duduk di kursi teras. “Mm… Udah lama nunggunya?”

Dia menoleh dan tersenyum, “Baru aja, kok. Oh, ya, sori sebelumnya, tapi hari ini kita naik motor, ya. Soalnya mobil gue tadi siang mogok mendadak dan harus diservis di bengkel.”

Aku spontan melotot. Seriously? Dia mengajakku naik motor?!

Oh my gosh, of course! That’s gonna be fun! Sejak kecil, orang tuaku melarang-larang aku dan Juna naik motor. Pengalamanku naik motor hanya dua kali seumur hidup, dan itu semua karena trauma aneh Mamaku. Dulu, tanteku, Tante Windhy, meninggal dunia karena kecelakaan motor. Motornya oleng lalu menabrak pembatas jalan, katanya. Saat itu, Mamaku beserta kakak-kakaknya datang langsung ke TKP, dan melihat mayat Tante Windhy dalam keadaan mengerikan dan nyaris tak berbentuk. Aku sendiri masih berumur tiga tahun saat itu, jadi aku tidak mengerti apa-apa. Tahu-tahu saja, Mamaku trauma sendiri pada benda yang dinamakan motor. Padahal menurutku, naik motor itu seru banget. Pengalamanku dua kali naik motor juga adalah pengalaman naik kendaraan terbaik seumur hidupku. Aku bahkan lebih memilih naik motor ketimbang pesawat jet.

“Mm… Lo nggak suka, ya?” Kak Marcell bertanya ragu-ragu saat aku hanya memandangnya dengan wajah berbinar aneh dan tidak berkata-kata.

“Eh, nggak, nggak! Gue suka banget, malah. Yuk, pergi sekarang aja!” Aku memasang senyum terlebar yang kupunya. Kak Marcell ikut tersenyum.

“Ya udah, yuk.”

Kami keluar ke halaman depan. Di sanalah kulihat sebuah motor Ninja yang keren banget sedang nangkring. Wow, he’s gotta be so rich! Ninja-nya aja keren begitu!

Kak Marcell maju duluan dan naik ke atas motor. Setelah memasang helm, dia menyodorkan helm lain yang tergantung di motornya padaku. Aku menerima helm itu dengan perasaan excited. Maksudku, kapan lagi aku bisa naik motor tanpa dilarang-larang?

“Kok lo kayak speechless gitu?” Tanyanya saat aku sudah ikut duduk di belakangnya.

“Iya, gue emang speechless,” jawabku, masih setengah terbengong-bengong, “Gue seneng aja bisa naik motor.”

Kulihat Kak Marcell menoleh sekilas dengan ekspresi penuh tanda tanya padaku. “Hah? Kok bisa seneng sampe segitunya? Emang sebelumnya nggak pernah?”

“Pernah, sih,” jawabku, “Tapi jaraaaaaang banget. Soalnya nyokap ngelarang. Trauma liat mayat adiknya yang kecelakaan motor.”

“Oh, so sorry to hear that.

“Nggak apa-apa. Lagian kejadiannya udah lama banget, pas itu gue masih umur tiga tahun, jadi gue belum ngerti apa-apa,” jawabku. “Yuk, jalan.”

“Oke.” Setelah mengatakan sepatah kata itu, Kak Marcell menstarter motornya dan sedetik kemudian dapat kurasakan motor Ninja ini melaju kencang membelah jalanan.

Aku memejamkan mata menikmati semburan angin kencang yang menerpa wajahku. Rasanya seperti sudah seabad aku tidak merasakan angin sekencang ini di wajahku. Kaca helm sengaja kubiarkan terbuka untuk memberi akses bagi angin malam yang dingin untuk menyentuh kulitku.

“Pasti rasanya seneng banget, ya?” Kak Marcell tertawa kecil.

Aku pura-pura nyolot, “Ngejek?”

“Hahaha… Nggak, nggak,” Kak Marcell menjawab, “Ya udah, ntar kalo kita pergi bareng lagi, gue naik motor terus aja deh.”

“Boleh, tuh,” jawabku, “Kayaknya seru.”

“Tapi nyokap lo nggak marah, kan? Kalo ketauan, gue nggak disalahin, kan?”

Aku giliran tertawa kecil, “Mungkin lo bakal habis sama dia. Tapi untuk sementara ini, kayaknya kecil kemungkinan bakal ketauan. Soalnya bokap ama nyokap gue biasa pulang sekitar jam satu dini harian. Kecuali kalo kita pergi sampe jam segitu, sih.”

“Nggak lah!” Dia tertawa, “Mana mungkin seminarnya sampe jam satu dini hari? Bisa berbusa pembicaranya, tuh!”

Aku terkekeh geli, dan Kak Marcell juga ikut tertawa. Motor Ninja yang kami naiki ini mulai memasuki kawasan jalan raya yang padat. Holy crap, dari jauh saja macetnya sudah kelihatan jelas sekali. Nggak terbayang, deh, kalau harus jadi salah satu dari kendaraan-kendaraan yang saat ini sedang berjuang untuk bergerak sedikit-demi-sedikit itu! Bisa-bisa kami terlambat dua jam sampai di sana!

“Kenapa harus pake macet segala, sih?” aku mengumpat dengan kesal. Setengah berteriak, karena kini suaraku tak bakal terdengar kalau bicara dengan volume suara biasa. Kalah, deh, sama klakson-klakson yang bersahut-sahutan itu.

“Tenang aja, Na! Ini kan motor!”

Sebelum sempat kucerna teriakan Kak Marcell itu, motor kami sudah nyemplung ke dalam padatan kendaraan di perempatan jalan besar itu. Tapi, bukannya terjebak macet seperti bayanganku, Kak Marcell malah menyelip-nyelipkan motor di sela-sela mobil besar. Rasanya seru banget. Kami nyaris menyerempet sekitar tiga mobil, dan walaupun mendapat klakson dari sana-sini, hal ini tetap terasa menyenangkan bagiku. Maklum, kan aku nyaris tidak pernah naik motor. Sekalinya naik juga pas masih bayi dulu. Yang satunya lagi, saat aku umur dua tahun. Dan jelas saja aku tidak tahu rasanya menyelip-nyelip di antara kemacetan jalan yang biasanya cuma bisa aku ratapi dari dalam mobil ini.

Ternyata, macet jadi terasa seru kalau naik motor.

Dan dalam waktu kurang dari sepuluh menit, kami sudah berhasil lolos dari jebakan macet. Ini rekor tercepat buatku dalam hal terjebak macet. Karena motor jelas-jelas jauh lebih ramping ketimbang mobil, perjalanan kami pun hanya ditempuh dalam waktu kurang dari setengah jam. Wow, padahal tempatnya tergolong jauh, lho, dari rumahku!

Aku turun dari motor dengan perasaan yang senang banget. Kulepas helm yang sejak tadi melapisi kepalaku dan kukembalikan pada Kak Marcell. Sebelah tanganku kugunakan untuk merapikan rambut yang terbang tak beraturan.

“Belum mulai kayaknya,” Kak Marcell memandang sekitar, “Kita terlalu cepet, deh.”

Aku tertawa kecil, “Padahal gue sangka bakal telat. Ternyata naik motor itu banyak benefit-nya, ya.”

Kak Marcell ikut tertawa, “Lain kali lo kudu lebih sering naik motor. Ntar kalo punya cowok, terus diajak ngedate naik motor, habis itu ketahuan nggak pernah naik motor, malu nggak, tuh?”

Eh, sialan, nih. “Gue pernah naik motor, tauk!” aku sengaja memasang tampang sok memberengut. Tapi Kak Marcell malah semakin tertawa.

“Ya udah, yuk. Masuk.”

Kami berdua masuk ke dalam gedung besar yang sepertinya adalah penginapan elite. Gedung itu mirip hotel, tapi hanya berlantai dua saja. Biarpun begitu, pekarangannya yang luas, eksteriornya yang mewah dan classy, serta taman dan tumbuhan asri yang mengelilinginya membuatnya tampak sangaaaaat luas. Begitu mendekati gedung, kami disambut oleh pintu kaca otomatis yang langsung membuka lebar-lebar.

Lobby penginapan itu terlihat seperti ballroom hotel berbintang lima yang harga sewa kamarnya milyar-milyaran untuk satu malam. Beneran, deh. Penginapan elite ini mewah banget! Kalau melihat dari tetek bengek hiasan antik macam guci tanah liat berukir dan patung keramik elegan yang menghiasi sudut-sudut penginapan ini, harga sewa kamar penginapan dapat dengan mudah ditebak : yup, mahal buanget pastinya.

Saking kagumnya aku terhadap interior lobby, aku sampai berbisik pada Kak Marcell, “Seminarnya beneran gratis, kan?”

“Iya, bener kok,” jawabnya.

Kemudian, mataku menangkap sesosok wanita cantik yang mengenakan dress berwarna hitam dan high heels berhak sekitar sepuluh sentimeter berjalan ke arahku. Bukan, sepertinya bukan ke arahku, melainkan ke arah Kak Marcell. Buktinya, Kak Marcell langsung melambaikan tangan tinggi-tinggi begitu melihat wanita itu.

“Dian!” panggilnya. Si wanita mempercepat langkah anggunnya menghampiri kami—atau lebih tepat kukatakan, menghampiri Kak Marcell.

“Kak, udah lama nggak ketemu, ya,” ujarnya sesaat setelah tiba di hadapan kami. Ternyata setelah kuperhatikan, dia hanya kelihatan satu atau dua tahun lebih tua dariku. Buset… make up-nya menor banget, sampai-sampai dari jauh dia kelihatan mirip tante-tante!

Kak Marcell tersenyum lebar, “Iya nih, Di. Udah sekitar enam tahunan, ya. Gimana Singapura sana?”

Wanita—atau lebih tepat kukatakan cewek—itu tersenyum lagi, “Mm… yah, biasa aja. Yang jelas lebih bersih daripada di sini. Lalu lintasnya juga mendingan.”

“Kamu kapan nyampe ke Jakarta?” Kak Marcell bertanya lagi.

“Baru kemaren malem pesawatku landing,” jawab cewek itu, “Kayaknya aku mau stay di Indonesia dulu aja, deh, sementara ini. Soalnya Kakak lagi butuh partner support di usahanya. Dia barusan dapet promotion jadi manager, lho.”

“Kamu mau tinggal di sini?” Kak Marcell kelihatan kaget, “Terus, kuliah kamu? Lagian, memangnya Kak Andi butuh bantuan apa sampe-sampe manggil kamu segala?”

“Aku sendiri kok, yang nawarin diri,” jawab cewek itu, “Pengin aja.”

Setelah mengatakan kalimat terakhirnya itu,  pandangannya beralih padaku. Untung dia nggak menatapku dari atas ke bawah seperti di sinetron-sinetron. Kalau iya, pasti perbandingan penampilan kami kelihatan mencolok banget, deh. Masa iya, dress elegan dibandingkan dengan kaus kepanjangan motif polkadot? Haduh, aku jadi menyesal tidak memilih-milih baju yang lebih bagus saat di rumah tadi. Habis, aku kan tidak menyangka bakal bertemu cewek dengan penampilan se-wow ini. Kalau tahu begini, pasti aku tidak bakal sudi mempermalukan diriku sendiri. Apa coba, yang ada di pikiran cewek ini sekarang? “Waduh, pembantu nyasar dari mana, nih? Ancur banget penampilannya, kayak pengembara dari kampung,” gitu kali, ya?

“Hai,” tanpa kuduga-duga, dia malah menyapaku dengan senyum lebar yang ramah banget. “Kamu pacarnya Kak Marcell, ya?”

Aku speechless. Beneran. Bukan, bukan karena dia mengira aku pacarnya Kak Marcell, tapi karena dia bicara denganku dengan gaya ramah yang membuatku menggoblok-goblokkan diri sendiri karena sudah berpikir yang jelek-jelek tentang dirinya. Lain kali aku harus belajar untuk tidak berpikiran negatif terhadap orang yang belum kukenal.

“Eh? Oh, bukan, bukan,” sanggahku, “Cuman temennya aja, kok. Dan kebetulan juga mau ikut seminar ini.”

Cewek itu kelihatan manggut-manggut, kemudian mengulurkan tangannya untuk bersalaman denganku, “Kenalin, aku adik temennya Kak Marcell, namaku Dian.”

Aku membalas uluran tangannya sambil tersenyum lebar-lebar, mencoba untuk kelihatan sedikit pede dengan penampilan hancurku, “Luna.”

“Masuk aja dulu. Sebentar lagi seminarnya mau mulai,” cewek bernama Dian itu berkata, “Ntar keburu rame, lho.”

“Lho? Katanya udah disiapin bangku terdepan?” Kak Marcell bertanya, “Gimana, sih, si Andi ini.”

“Eh? Oh… Kalian udah disediain bangku terdepan? Sori, sori, aku nggak tau. Ya udah, masuk dulu aja,” Dian menyahut.

“Ya udah. Kita duluan, ya, Di,” Kak Marcell tersenyum lagi sembari menepuk pundak Dian. Setelah mendapat sedikit anggukan kecil, kami berdua pun masuk ke sebuah lorong menuju aula tempat diselenggarakannya seminar. Lorong itu tidak panjang-panjang amat, karena hanya dengan beberapa kali melangkah saja, kami sudah sampai di ujung lorong itu, tempat pintu ganda besar dari kayu berdiri kokoh.

Ini pasti ruangannya.

“Woy, Marcell!”

Kami berdua menoleh mendengar panggilan bernada akrab dari belakang itu. Tampak seorang pria yang sepertinya tiga atau empat tahun lebih tua daripada Kak Marcell sedang berjalan santai menghampiri kami. Pria itu berpakaian resmi dengan jas hitam berdasi kupu-kupu yang berwarna senada dengannya. Dia kelihatan luar biasa ganteng dan dewasa. Satu kata : wow.

“Eh, Kak Andi!” Kak Marcell melambaikan tangan tinggi-tinggi. Setelah pria yang dipanggil Kak Andi itu tiba di hadapan kami, mereka berdua berpelukan erat selama beberapa detik.

“Tumben lo mau dateng ke seminar-seminar gue,” Kak Andi berkata. Kemudian pandangannya beralih padaku dan menyambung, “Bawa pacar, lagi.”

“Gue tertarik kedokteran, tau,” jawab Kak Marcell, “Dan dia bukan pacar gue. Kenalin, dia ini Luna, temen gue. Na, kenalin, ini Kak Andi, tadinya senior gue.”

Kak Andi mengulurkan tangannya padaku, dan kusambut uluran tangannya. “Andi,” ujarnya sambil tersenyum. Ya Tuhan, senyumnya manis banget!

“Luna,” sahutku sambil memaksakan seulas senyum di wajahku.

“Ya udah, gue duluan, ya. Seminarnya udah mau mulai, nih. Gue kudu ngarahin anak buah yang mau ngatur setting-setting, nih,” Kak Andi kemudian menepuk bahu Kak Marcell dengan bersahabat.

“Oke, kerjain tugas dengan baik, ya, MANAGER,” Kak Marcell menekankan kata “manager” dalam kalimatnya untuk menyindir Kak Andi. Namun yang disindir malah hanya terkekeh geli.

“Bisa aja lo,” ujarnya. “Ya udah, ketemu lagi nanti.”

Setelah melambaikan tangan tinggi-tinggi, sosok Kak Andi pun menghilang ditelan lorong.

“Yuk, masuk,” Kak Marcell berjalan mendahuluiku masuk ke ruangan di balik pintu kayu ganda itu. Ternyata ruangan di dalamnya tidak seluas yang kubayangkan. Karena ruangannya tidak terlalu luas, fungsi dua AC yang dipasang di sudut-sudutnya jadi terasa banget. Sebuah panggung yang tidak seberapa tinggi terlihat menghiasi bagian depan ruangan. Panggung itu dilapisi karpet merah marun yang bersih dan menimbulkan kesan luas serta mewah. Menghadap panggung itu adalah deretan kursi-kursi empuk yang disusun berjajar-jajar dengan rapi. Melihat dari jumlah kursi yang tertata rapi di sana, sepertinya peserta seminar tidak sebanyak yang kukira. Padahal, kusangka pesertanya bakal ratusan (secara, acara ini kan gratis, dan pembicaranya George Yulius gitu, loh!), ternyata jumlah kursi di sana hanya sekitar lima puluhan. Oh, seminar eksklusif, rupanya. Jadi, justru karena seminarnya gratis, quota pesertanya jadi dipersempit. Beruntung juga aku. Kalau tidak ada Kak Marcell, aku tak bakalan bisa ikut seminar ini. Dapat seat terdepan, lagi.

“Cell!” Seorang pria berbaju hitam-hitam (yang kuperhatikan adalah seragam crew A.D.C Company) menghampiri Marcell, “Lama banget kita nggak ketemu!”

Marcell merangkul pria itu sebentar, kemudian menyambung, “Iya, nih.”

“Lo masih di Surabaya aja? Ke Jakarta buat liburan doang atau…”

“Nggak, gue kayaknya mau pindah kuliah ke sini aja,” jawab Kak Marcell.

Pria itu tampak bingung, “Lho? Kenapa? Bukannya bokap lo ngotot banget mau masukin lo ke jurusan BM di Surbaya?”

“Iya, tapi ini darurat, Ndan. Nyokap gue divonis tumor otak, sementara bokap gue masih di Aussie. Celina nggak mungkin bisa nungguin nyokap seharian. Dia kan masih kecil juga. Jadi mendingan gue pindah ke sini aja, deh,” jelas Kak Marcell panjang-lebar, “Lumayan juga. Dengan adanya kejadian kayak gini, gue jadi bisa nyari kesempatan buat ngambil kedokteran.”

“Dasar lo,” pria itu tertawa kecil, “Ya udah, sampein salam gue buat Tante Venny, ya. Semoga beliau cepet sembuh, deh.”

“Iya, ntar gue sampein.”

“Oh ya, lo udah disediain Kak Andi kursi, tuh, di pojok depan,” pria itu menunjuk dua buah kursi di pojok depan, dekat sekali dengan panggung.

“Oke, thanks, Bro,” Kak Marcell menjawab, “Jadi, ceritanya sekarang lo bawahannya Kak Andi?”

“Iya, nih,” jawab pria itu, “Semoga bentar lagi gue bisa nyusul dia jadi manager. Kayaknya kerjanya enak banget, tuh. Gajinya lebih menjamin, lagi.”

“Ya elah, Bro! Kejauhan lo, mikirnya! Lo baru masuk berapa lama, sih? Setengah tahun belom ada, kan? Kerja keras lo dituntut! Ntar setelah lo bisa buktiin kerja keras lo itu, jalan buat jadi manager baru dibuka lebar, deh!”

“Yah, semoga gue bisa,” pria itu menjawab, “Masalahnya gue udah bela-belain pake nggak kuliah segala, lagi.”

Kak Marcell terbahak, “Lo nggak kuliah kan bukan karena pingin kerja di sini!”

Pria itu ikut terkekeh, “Iya, sih. Gue nggak kuliah karena nggak ada duitnya. Tapi kan tetep aja, udah susah-susah usaha dan akhirnya keterima di sini, hidup gue harus ada perkembangan, dong.”

“Iya, harus, Bro! Gue tau lo pasti bisa, kok! Ya udah, ya. Gue duduk dulu. Kayaknya udah mau mulai, tuh. Udah pada dateng.”

“Oke, thanks motivasinya, ya! Nikmati seminarnya!” Pria itu merangkul Kak Marcell sebentar, kemudian beranjak menuju belakang panggung. Aku dan Kak Marcell berjalan menuju kursi yang telah disediakan untuk kami.

“Temen lo banyak juga, ya?” Aku memulai pembicaraan.

“Ah, nggak juga. Cuman yang tadi itu, kok. Kak Andi itu senior gue pas SD. Dian tadi itu adeknya. Kalo yang barusan itu Bondan, temen SMA gue,” jawabnya.

“Oh,” aku manggut-manggut, “Makasih, ya. Kalo lo nggak punya koneksi sebanyak itu, gue nggak bakal bisa kebagian untungnya, hehehe…”

“Santai aja, lagi,” Kak Marcell tertawa, “Lagian gue juga nggak enak kalo harus dateng ke seminar gede gini sendirian. Nggak ada temen ngomong.”

Aku tersenyum lebar, kemudian memperhatikan sekeliling ruangan yang kini mulai dipadati puluhan orang. Ruangan menjadi ramai oleh suara orang-orang yang berbincang-bincang secara bersahutan, “Kapan nih, seminarnya mulai?”

Tepat pada saat Kak Marcell membuka mulut untuk menjawabku, seorang pria paruh baya berkharisma yang kukenali sebagai Dokter George naik ke atas panggung dan berdiri di depan stand mikrofon.

Dengungan mikrofon yang keras dan memekakkan menginterupsi keributan yang sempat terjadi di dalam ruangan. Semua orang langsung terdiam dan memusatkan perhatian ke panggung, pada Dokter George yang kini sedang berdiri dengan senyum bijaksana di atasnya.

“Salam, Saudara-Saudaraku,” Dokter George memberikan salam. Beberapa orang menanggapi salamnya itu, tapi beberapa hanya diam saja. “Baiklah, hari ini kita akan mengadakan seminar dengan tema Mendidik Calon Dokter Sukses. Saya percaya, semua orang di sini adalah calon orang-orang sukses, bukan begitu, Saudara-Saudara?”

Semua orang menyahut dengan kata “iya”, termasuk aku.

“Hari ini, kita akan mulai langkah awal menuju kesuksesan itu. Sebab percaya atau tidak, kesuksesan tidak ada yang instan. Kita harus belajar dan merangkak dari bawah untuk bisa mencapainya.”

Dokter George memberikan isyarat pada salah satu crew yang bertugas untuk mengontrol LCD Projector yang akan digunakan untuk menampilkan slide-slide. Sesaat setelah slide bertuliskan “MENDIDIK CALON DOKTER SUKSES” ditampilkan, seminar pun dimulai.

 

***

Kau harus percaya saat aku bilang, seminarnya sangat menyenangkan. Serius, deh. Ini tidak seperti bayanganku. Jauh berbeda, malah. Padahal kusangka seminar ini bakal jadi seminar biasa membosankan yang menuntut pesertanya untuk duduk selama dua jam sampai pantat mereka rata sambil memelototi slide yang penuh kalimat-kalimat membingungkan dan mendengarkan ceramah panjang pembicara. Ternyata, seminar ini tidak seperti itu. Dokter George mengadakan permainan-permainan edukatif yang berkaitan dengan dunia kedokteran. Dan permainannya seru banget! Aku bahkan sempat maju ke depan untuk mempraktikkan tantangan Dokter George menggunakan alat peraga dan mendapatkan bingkisan hadiah yang isinya lima buah buku kedokteran karangan Dokter George sendiri!

Bahkan setelah seminar disudahi, aku masih bisa merasakan passion yang menggebu-gebu memenuhi seisi ruangan. Sepertinya semua orang juga menyukai seminar Dokter George ini. Kalau beliau terpikir untuk mengadakan seminar lagi, berapa pun aku bayar, deh! (Asal tidak melebihi lima puluh ribu, sih, hehehe… Aku kan tidak bisa melipatgandakan duitku yang cuma seuprit itu).

“Lo mau ikut lagi, Na?” Terdengar suara Kak Marcell dari sampingku. Aku menoleh dan langsung berhadapan dengan wajahnya yang sedang tersenyum manis. Astaga, sampai detik ini, senyum itu masih menjadi senyum paling gorgeous yang pernah kulihat. Bahkan senyumnya lebih manis daripada senyum Kak Andi yang notabene lebih ganteng daripada dia.

Pandanganku beralih pada secarik brosur di tanganku. Brosur itu baru saja dibagikan kepada seluruh peserta seminar. Isinya mengenai seminar lanjutan yang akan diadakan Dokter George dua minggu lagi. Bedanya, seminar lanjutan ini lebih mirip camp, sebab kami menginap ramai-ramai di villa Dokter George di Puncak dari hari Jumat sampai Minggu. Nanti, kami juga akan mengunjungi YPAC untuk melihat anak-anak cacat, juga panti jompo untuk melihat keadaan orang-orang tua yang sudah tidak punya rumah lagi, dan masih banyak kegiatan lain lagi. Semua ini, katanya, ditujukan untuk menumbuhkan jiwa ingin memperbaiki kehidupan sesama. Menurut Dokter George, kunci utama untuk menjadi dokter yang sukses dan disukai adalah rasa ingin memperbaiki kehidupan sesama. Tanpa rasa itu, seorang dokter tidak akan bisa mengerjakan tugasnya dengan sepenuh hati. Padahal, jika tidak dikerjakan dengan sepenuh hati, pasti hasilnya tidak maksimal.

Sebenarnya, aku pribadi, sih, tertarik banget dengan acara ini. Tapi aku agak tidak pede karena sepertinya di antara peserta lain yang mengikuti seminar ini, aku yang termuda. Kalau aku jadi yang paling kikuk dan nggak bisa apa-apa, gimana, dong? Malu-maluin banget pasti.

“Mm… Belum tau, sih, Kak. Kalo lo sendiri?”

“Gue ikut aja lah… Katanya kalo bisa jadi peserta terbaik, ntar dapet piagam. Kalo punya piagam itu, bakal lebih mudah untuk masuk ke jurusan kedokteran universitas-universitas kenamaan. Lagian, mungkin bokap gue bisa luluh kalo liat piagam itu. Itu kan bukti kalo gue bener-bener serius pingin jadi dokter.”

Aku manggut-manggut, “Oh, gitu…”

“Lo ikut aja, lah, Na. Gue kan nggak kenal siapa-siapa di sini,” Kak Marcell mengedarkan pandangan ke seisi ruangan yang kini kembali dipenuhi hiruk-pikuk orang berbincang-bincang. Mungkin juga sedang membicarakan soal camp ini. “Biaya pendaftarannya murah kok, lagian. Cuman dua puluh ribu doang. Sisanya dibonusin sama Dokter George.”

Aku menimbang-nimbang apakah seharusnya aku menelan keraguanku atau tidak. Di satu sisi, aku pingin banget ikut seminar seperti ini. Tapi di sisi lain, aku juga takut bakal dianggap paling kikuk. Lagian, apa kata Papa dan Mamaku nanti? Aku sudah bisa membayangkan ekspresi aneh yang bakal ditampakkan Papa saat aku minta izin untuk pergi camp.

“Hah? Ngapain kamu pake ikut-ikutan acara kayak begituan? Kayak kurang kerjaan aja. Memangnya kamu nggak buang-buang duit dengan ikutan camp-camp aneh gitu? Apa sih gunanya?”

Dan acara menceramahiku bakal berlanjut sampai malam. Pokoknya sampai aku bilang, ‘Iya, deh. Aku nggak ikut kalo gitu,’ barulah ceramahnya akan berhenti. Hidih, males banget kalau harus seperti itu.

“Mungkin gue musti pikir-pikir dulu, deh,” jawabku.

“Kalo ikut, gue daftarin sekalian. Quota-nya dibatesin tiga puluh orang doang, lho, ntar keburu habis. Soalnya banyak juga kayaknya yang tertarik,” Kak Marcell berujar, “Kebetulan bisa daftar langsung di sini. Jadi kan bisa curi start dulu, hehehe…”

Aku berpikir lagi. Aduh, aku sebenarnya kepingin banget! Apalagi ada Kak Marcell, kan bisa ngeceng, hehehe…

Lupakan! Hal itu kan nggak penting sekarang ini! Yang penting, aku bisa ikut atau tidak.

“Mm… Kak, itu modelnya tiketan, kan? Ntar kalo gue booking tiketnya dulu, gimana? Jadi kalo gue nggak bisa ikut, tiketnya bisa dijual ke orang lain,” aku menawarkan sebuah solusi.

“Ya udah, nanti ditanyain dulu ke crew-nya, deh. Gue juga kurang tau masalahnya,” jawab Kak Marcell. “Yuk, ke bagian pendaftaran dulu.”

Aku mengangguk, lalu mengikuti Kak Marcell ke sebuah stan kecil yang didirikan di sudut ruangan. Tadinya aku tidak begitu memperhatikan stan itu, sampai-sampai tidak tahu kalau ada stan seperti itu di sudut ruangan ini. Di sana, tampak segelintir orang yang sedang mengisi formulir dan juga seorang wanita yang tampaknya berusia 40-an dan mengenakan seragam crew berdiri di balik stan. Wanita itu kelihatan sangat sabar.

Aku dan Kak Marcell mengantre di belakang tiga orang yang sedang mengisi formulir. Setelah tiga orang itu menyelesaikan bisnis mereka, kami berdua pun maju ke deret terdepan.

“Mau mendaftar?” Wanita penjaga stan itu tersenyum ramah, lebar sekali sampai-sampai aku takut mulutnya sebentar lagi bakal sobek.

“Mau tanya dulu, Mbak,” aku menjawab.

“Ya? Mau tanya apa?” Senyum-yang-membuat-bibirnya-seolah-olah-mau-sobek itu tetap dipertahankannya. Aku sampai ngeri sendiri melihatnya.

“Kalo misalnya saya nggak tahu jadi ikut atau nggak, tapi saya mau booking tiket dulu, boleh?” Tanyaku, “Jadi kalo sewaktu-waktu saya ngebatalin, tiketnya bisa dijual ke orang lain, gitu.”

“Oh, bisa, bisa,” si Mbak-Mbak memperlebar lagi senyumnya, dan dapat kurasakan diriku bergidik ngeri. Aku tidak mau melihat aksi orang merobek mulutnya sendiri di hadapanku. Hii… “Isi saja formulirnya dulu.”

“Lo duluan,” aku menyenggol Kak Marcell yang berdiri di sampingku. Dia segera tanggap dan mengambil bolpoin standard bertinta hitam yang tersedia, kemudian mulai mengisi data-data dirinya di formulir. Aku curi-curi mengintip untuk melihat apa yang dituliskannya di sana.

Oh, nama lengkapnya ternyata Marcell Jeffrey Hartanto. Keren juga, tuh.

Tanggal lahirnya… 16 Oktober.

Usianya… 19 tahun.

Jenis kelaminnya… Laki-lak—tunggu dulu, kalau ini aku juga sudah tahu!

Motto hidupnya… “Don’t give up until—”

“Na? Na?”

Aku menoleh dengan cepat ketika sadar Kak Marcell memanggil-manggil namaku. Haduh, ketahuan nggak ya, aku mengintip-ngintip formulirnya? Jangan sampai, deh. Semoga nggak. “Hm?”

“Gue udah kelar,” dia menjawab, “Isi dong, punya lo.” Dia menyingkir dari tempatnya berdiri dan membiarkan aku mengisi formulirku sendiri.  Setelah kami selesai mengisi formulir masing-masing, kami pun beranjak dari tempat itu untuk pulang. Dan setelah menoleh ke belakang, baru kusadari bahwa antrean di belakang kami sudah cukup panjang. Wow, benar kata Kak Marcell. Banyak yang tertarik ikutan acara ini.

“Kita makan dulu?” Kak Marcell menawarkan.

“Nggak usah, Kak. Gue udah makan, kok,” jawabku, tentu saja berdusta. Mustahil aku sudah makan, orang sejak dari sekolah tadi aku sibuk berendam! Mana mungkin ada waktu makan?

“Halah, nggak apa-apa, makan lagi aja,” katanya, “Gue tahu restoran sushi enak, lho.”

Mataku langsung berbinar mendengar kata “sushi”. Oh my God, itu kan makanan favoritku! Mendengar nama makanan itu disebut-sebut, perutku langsung keroncongan seketika. Kebetulan, aku juga sudah lama banget nggak makan sushi. “Boleh, tuh,” jawabku langsung tanpa mempedulikan jawabanku sebelumnya. Kak Marcell langsung tertawa terbahak-bahak.

“Kalo di depan gue, nggak usah sok jaim,” ujarnya, “Lo boleh makan sebanyak yang lo mau, kok.”

“Kedengarannya seru,” jawabku asal, sudah tak sabar ingin makan sushi. “Eh, tapi bayar sendiri-sendiri, kan?” Aku bertanya sekadar untuk memastikan.

“Ya nggak, lah! Gue aja yang bayarin,” katanya kemudian berjalan keluar dari ruangan. Aku tertinggal beberapa langkah di belakangnya, jadi kukejar saja dia.

“Hey, jangan, dong! Gue ogah, ah, kalo lo bayarin! Kesannya gue kayak jadi tukang utang mulu di depan lo,” aku mencerocos dengan berapi-api.

“Yee… Siapa bilang gue ngatain lo tukang utang? Kan gue traktir, bukan gue pinjemin,” jawabnya.

“Kalo gue nggak nerima traktiran, gimana?”

“Ya tetep gue traktir, lah!”

Kami sampai di lahan parkir dan langsung menuju motor Kak Marcell. Setelah memakai helm masing-masing dan naik ke motor, motor pun dipacu menuju restoran sushi yang katanya enak itu.

Dari luar, restoran itu kelihatan Jepang banget. Mulai dari aksen kayu-kayu sampai kain putih besar dengan tulisan berbahasa Jepang yang tidak aku mengerti. Kami memasuki restoran dan memilih tempat duduk di dekat jendela yang menghadap langsung ke taman belakang. Malam-malam begini, tamannya kelihatan bagus banget di bawah sinar lampu taman. Wow.

Seorang waitress berpakaian ala Jepang menghampiri kami dan membawakan dua buah daftar menu. Aku dan Kak Marcell melihat-lihat kemudian memesan makanan serta minuman masing-masing. Setelah mengulang pesanan kami, waitress itu pun beranjak dari tempat duduk kami.

“Tamannya keren, ya?” Kak Marcell seperti menangkap kekagumanku terhadap taman di balik jendela. Aku hanya mengangguk-angguk sambil masih mengamati taman degan rumput pendek-pendek yang dipangkas rapi dan teratur itu. Tanaman berwarna-warni tampak menghiasi sekeliling taman, dan ada kolam dengan air mancur kecil di tengah-tengahnya. Hmm, kolam itu ada ikannya nggak, ya? “Besok-besok kalo kita ke sini pas siang-siang, kita bisa lihat-lihat taman itu.”

Aku melirik sebentar ke arah Kak Marcell, “Emang kita mau ke sini lagi?”

Kak Marcell hanya mengedikkan bahu, “Siapa tahu aja, kan?”

“Kayaknya seru lihat-lihat taman,” ujarku, “Kolam itu ada ikannya, nggak?” Aku menunjuk kolam kecil yang dihiasi bebatuan warna-warni di sekelilingnya itu.

“Ada,” Kak Marcell menjawab, “Ikan kecil-kecil, gitu. Pengunjung boleh ngasih makan ikannya, kok. Ada makanannya di samping kolam.”

Aku manggut-manggut, “Gue suka ikan kecil-kecil.”

“Gue juga,” imbuh Kak Marcell.

Aku memicingkan sebelah mata, “Di banding ikan besar, lo lebih suka yang mana?”

“Ikan kecil,” jawabnya.

Mataku berbinar dan menyahut, “Sama dong!”

Kak Marcell tertawa, “Gue nggak tahu kenapa banyak orang lebih suka ikan besar macam koi, gitu. Gue sih sukanya yang kecil-kecil, lebih bagus aja kalo menurut gue.”

“Iya, menurut gue juga gitu!” Sahutku, “Kalo lihat ikan kecil bergerombol gitu rasanya lucu banget, kayak ngebentuk kubangan apaaaaaa gitu.”

“Iya, gue juga suka, tuh,” Kak Marcell manjawab, “Kalo ikan besar bergerombol? Haduh, sori-sori aja, deh! Jijik gue malah.”

Aku terkekeh, “Kalo ikan besar, gue suka juga, sih. Tapi yang udah dimasak! Hahaha…”

Kak Marcell ikut tertawa bersamaku. “Gue juga suka yang udah dimasak, tuh! Apalagi gurame bakar!”

Kami berdua tertawa-tawa seperti orang sinting, kemudian mulai berbincang-bincang. Perbincangan kami malam ini terasa seru banget. Mulai dari membicarakan satwa langka di kebun binatang sampai membicarakan korupsi yang sedang ngetren-ngetrennya di kalangan pejabat Indonesia. Pokoknya banyak banget, deh, topik yang kami bicarakan. Dan semuanya seru-seru. Sampai pesanan datang dan sukses kami habiskan pun, perbincangan tetap tidak berhenti mengalir.

Dalam hati, aku membatin, Ya ampun, kapan lagi bisa ada malam seseru ini, ya?

TO BE CONTINUED

Akhirnya bisa balik lagi dengan LSOO^^ aku nggak tau apakah ini kurang panjang atau kepanjangan, tapi yang jelas ini udah 16 lembar, jadi mustinya udah cukup, ya? Semoga di part 5 nanti aku bisa balik lagi dengan memuaskan lewat POV-nya Stephanie. Walaupun ceritanya agak-agak ancur, tapi nggak apa-apa lah^^ nulis untuk menyalurkan ide, bukan untuk pamer, kan? Lagian apa yang mau aku pamerin coba?:| orang tulisan juga ancur gini.. hehehe…

Okay^^ sekian pesan sponsornya, bye^^

 Next chapter : 5

Download the Ebook?

download-icon2

Advertisements

16 thoughts on “[CHAPTER FOUR] Little Stories of Ours

  1. Haloo..
    Kemaren gue mau baca ketiduran :p
    Si marcell jg suka sm luna tu ceritanya? #penasaran #banget
    Gue tunggu part 5 nya!!
    Keep writing =))

    1. hahaha iya situ tadi udah cerita kok 😛
      mm… enggak sih sebenernya, cuman mau cari temen ngomong doang..
      part 5 nggak akan menjawab pertanyaan itu tauk, soalnya part 5-nya Stephanie._. semoga part 6 nanti bisa menjawab pertanyaan itu(?)
      oke^^ hwaiting! wkwkwkw

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s