[CHAPTER SIX] Little Stories of Ours

Cover by Cindy Handoko

Cover by Cindy Handoko

Copyright © 2013 by Cindy Handoko

Previous chapters : 1 || 2 || 3 || 4 || 5

Enam

Luna

Kesabaran adalah kunci dari segala bentuk masalah.

 

***

AKU menaikkan sebelah alis, menunggu reaksi dari pria berkumis yang kini tengah duduk santai di atas sofa sambil membaca koran. Sudah lima menit kami hanya terdiam tanpa diiringi sepatah kata pun, padahal kusangka beliau akan segera meledak begitu aku menyampaikan permohonan izinku.

Yah, pria berkumis yang kumaksud adalah ayahku. Beliau baru saja pulang dari bekerja dan langsung bersantai di sofa keluarga kami.

Aku berdecak kesal melihat tidak ada reaksi yang berarti dari beliau. Padahal, besok aku sudah harus berangkat ke Puncak untuk camp, tapi beliau malah belum mengatakan sepatah kata pun untuk memberi izin.

“PA!!”Suara bentakanku terdengar menggelegar di tengah malam yang tadinya sunyi ini. Papa sedikit berjengit, kemudian menoleh dengan ekspresi ‘ngapain-kamu-teriak-teriak-begitu?’

“Jadi gimana?” Tanyaku dengan nada kesal, “Aku diizinin atau nggak?”

Ekspresi papa berubah dari ‘ngapain-kamu-teriak-teriak-begitu?’ menjadi ‘kamu-ini-ngomong-apa-sih?’

Holy crap! Jadi, sejak tadi, beliau sama sekali tidak mendengarkanku sampai-sampai tidak tahu apa yang kubicarakan?!

“Itu lho, Pa, camp kedokteran di Puncak besok,” aku menjawab pertanyaan nonverbalnya sesingkat mungkin, “Boleh nggak?”

Ekspresi Papa berubah lagi, tapi kali ini sama sekali tidak dapat kuartikan. Jadi, aku hanya menatapnya, setengah berharap dan setengah takut karena beliau ini orang yang cukup meledak-ledak kalau sedang marah. Pengalamanku izin menginap di luar kota dua tahun yang lalu sudah membuktikan segalanya. Beliau langsung ngamuk-ngamuk dan bertanya macam-macam mengenai asas manfaat dari acara menginap itu. Aku sampai nyaris kehilangan pendengaranku saking kerasnya bentakan beliau yang seolah menggetarkan seisi rumah. Aku tahu, izin pergi ke Puncak ini juga tidak akan ditanggapi beliau dengan baik. Tapi, apa sih, salahnya mencoba? Lagipula, aku sudah siap mental terhadap semua amukan yang sepertinya akan segera meledak.

Di luar dugaanku, beliau malah langsung mengalihkan perhatian pada koran lagi, dan menjawab dengan suara datar, “Kalau mau pergi, ya pergi aja.”

“Hah?”

“Urusannya sama Papa apa?”

Aku melongo di tempat. Jantungku sudah memukul-mukul dadaku dan aliran darahku mendadak naik ke ubun-ubun.

Jadi, cuma itu reaksi beliau?

Beliau sama sekali nggak peduli aku pergi atau tidak, dan sama sekali nggak merasa punya tanggung jawab untuk mengurusiku? Yang benar saja, aku ini kan anaknya!

“Tiga hari lho, Pa,” aku mengulang dengan suara keras, “Di PUNCAK.” Kata ‘Puncak’ sengaja kuberi penekanan, siapa tahu beliau salah dengar dan mengira aku hanya akan menginap di rumah teman, atau camp di sekolah, atau hal-hal semacam itu.

“Ya terserah kamu. Memangnya apa urusan Papa? Papa harus menyiapkan semua keperluan kamu, begitu?”

What?!

Gigiku langsung bergemeretak menahan amarah. Sebenarnya, aku ini anaknya bukan, sih? Padahal, tadinya aku takut beliau akan ngamuk-ngamuk mendengar rencana ini, tapi melihat reaksinya sekarang ini, rasanya lebih baik beliau ngamuk-ngamuk saja sampai berbusa, deh! Setidaknya, itu petanda bahwa beliau masih peduli padaku! Lah, ini?! Apa sih, aku di mata beliau?!

“Ya kan Papa orang tuaku! Harusnya Papa ngasih izin yang lebih pantas, dong!” Aku membentak.

Papa menoleh sedikit, “Kamu ini sudah besar atau masih balita, sih? Masa beginian saja pakai harus merepotkan Papa? Sudah, ah! Papa mau baca koran! Kamu nggak usah ganggu.”

Aku melongo heran di tempat.

Jadi, seperti ini reaksi orang tua yang baik? Menyuruh anaknya untuk tidak mengganggu kegiatan membaca koran yang berharga, ditambah mengata-ngatai anaknya balita? Begitukah?!

“PA!!” Aku membentak keras-keras dengan wajah yang sudah merah padam, “Aku nggak mau ganggu Papa! Tapi aku cuma mau Papa ngasih izin yang sesuai! Gitu!”

Papa menoleh lagi, kali ini sambil mengerutkan kening dalam-dalam, pertanda bahwa beliau sudah mulai merasa terusik, “Papa kan sudah bilang, kalau mau pergi, ya pergi aja sana! Kalau niatmu mau minta duit, minta sama Mama, jangan sama Papa!”

Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata. Kalau ada kontes orang paling tidak peka dan tidak berperasaan sejagad raya, dapat kupastikan, beliau akan berdiri dengan bangga menerima piala juara pertama! Serius, deh! Aku sampai marah sekali dan rasanya ingin berteriak-teriak di depan muka beliau, ‘WOY! Aku ini anakmu atau bukan, sih?!’

“Ngapain masih berdiri di situ? Katanya mau pergi,” Papa berkomentar sinis, “Papa nggak suka ada orang yang mengawasi Papa membaca koran. Nggak nyaman rasanya.”

Well, yeah, Pa, aku juga nggak suka ada orang yang membaca koran di saat aku sedang serius bicara. Seribu kali lipat lebih nggak nyaman rasanya!

“Ya udah, aku pergi,” jawabku tak kalah sinis, “Habis ini, aku nggak bakal minta izin Papa untuk apa yang bakal aku lakukan. Nggak akan pernah untuk selamanya!”

Aku langsung mengentakkan kaki dan setengah berlari menuju kamarku sendiri. Beliau tidak lagi membalas apa-apa, dan itu semakin membuatku kesal.

Masa sih, beliau sama sekali tidak peduli barang secuil pun kepadaku? Aku kan bukannya mau cari gara-gara dengan beliau, melainkan cuma mau minta izin? Kenapa, sih, beliau nggak mau lepas sebentar dari koran dan menanyakan dengan siapa aku pergi, naik apa aku pergi, atau apa aku perlu bantuan dengan lebih pantas? Kenapa beliau malah menanyakan pertanyaan sinis macam ‘urusan Papa apa?’ dan pakai menuduhku mau minta duit segala? Beliau menganggapku anaknya atau anak pembantunya, sih?

Aku membanting pintu kamar keras-keras, berharap bunyi bantingan pintu itu dapat terdengar sampai ruang tamu tempat Papa sedang membaca koran. Biar saja beliau tahu aku marah besar! Memangnya, cuma beliau yang bisa marah? Memangnya, aku bukan manusia?

Kujatuhkan tubuhku ke atas ranjang dan meraih HP yang tergeletak sembarangan di atas bantal. Banyak sekali SMS masuk yang belum terbaca.

9 new unread messages.

Ah! Siapa lagi, sih? Malas banget harus meladeni 9 SMS sekaligus! Apalagi mood-ku sedang tidak baik begini, bisa-bisa kubanting HP-ku sampai jatuh berceceran di lantai!

Kubuka SMS itu satu-per-satu dengan sabar. Operator, operator, operator, operator lagi, Tasya (ah, malas banget membaca SMS dari teman sekelasku yang superlebay itu!), Stephanie… tunggu dulu, ngapain Stephanie mengirimiku 3 SMS sekaligus?

Kubuka SMS pertama dan membaca isinya.

“Lun, David ngajak gw jln lagi! Y ampun, kyk mimpi jd kenyataan tau gk!”

Oh, soal Barney lagi. Kenapa sih, kalau menyangkut masalah cowok itu, Stephanie jadi nggak kalah lebay dengan Tasya? Apa sih, hebatnya cowok playboy seperti itu?

Aku beralih pada SMS kedua.

“Lun? Lo udh tdr? Kok sms gw ga dibales?”

Aku mengangkat sebelah alis, kemudian membuka SMS terakhir darinya.

“Haloo?? Lunaaa?? Udh tdr beneran y?”

Tuh, kan, dia lebay lagi. Seberapa pentingnya sih, SMS balasanku buat dia? Kayak aku ngerti urusan percintaan aja. Selama ini, kisah cintaku kan, gagal terus. Ngapain dia minta saran padaku? Memangnya dia mau kisah cintanya ikut-ikutan gagal, begitu?

Kubalas SMS-SMSnya dengan malas-malasan. Aku mengetikkan deretan kalimat yang kuusahakan terdengar heboh, agar sahabatku itu senang.

“SERIUS LO?! Waahh lo hrs tampil kece! Udh lah, jepit aja tuh poni! Pede Steph! (PS : gw blm tdr, td HP hbs batere)”

Setelah yakin balasan itu cukup heboh bin lebay, kutekan tombol SEND. Tanganku bergerak cepat membuka SMS terakhir yang masuk ke HP-ku.

Woah, yang ini dari Kak Marcell.

“Na, bsk bs kan? Kl bs, gw jemput jam stngh 4 d rmh lo, gmn? :)”

Mendengar urusan camp ini disangkut-sangkut lagi, aku jadi teringat Papa dan sikapnya yang kelewat cuek. Mungkin, kalau aku benar-benar pergi, beliau akan puas. Mungkin beliau nggak akan menganggapku balita lagi. Dengan hati yang masih dongkol, buru-buru kuketikkan SMS balasan yang menyatakan bahwa aku setuju untuk dijemput, kemudian kutekan lagi tombol SEND. Setelah itu, aku buru-buru beranjak dari kasur dan meraih koper yang sudah lama tidak terpakai di sudut kamarku, kemudian setelah membersihkan sedikit debunya, kubuka koper itu dan kujejali dengan berbelas-belas pakaian. Aku tidak peduli pakaian apa yang kuambil, asalkan pakaian itu ada dalam jarak pandangku, langsung saja kusambar dan kujejalkan sampai akhirnya koper itu penuh sesak dan sulit untuk ditutup.

Urusan packing beres, deh.

Sekarang aku tidur saja, ah. Lagipula, jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Tidak baik bagiku untuk tidur terlalu malam. Apalagi, aku yakin kegiatan di Puncak akan cukup menguras tenaga. Aku tidak boleh loyo saat acara, terutama di depan Kak Marcell.

Tidur bukanlah hal yang mudah saat ini. Buktinya, setelah berguling kesana-kemari di atas ranjang, aku belum juga bisa terbang ke alam mimpi. Otakku masih sibuk memaki-maki Papa dan mataku tidak mau menutup saking masih kesalnya aku pada beliau. Oh my gosh, semoga besok aku tidak tampil mengerikan dengan kantung mata bergelayutan!

 

***

Sepulang sekolah, aku memutuskan untuk bergegas memacu mobilku ke rumah. Lagipula, Stephanie sudah langsung diajak pergi oleh David, jadi tidak ada lagi alasan bagiku untuk berlama-lama di sekolah. Waktuku tidak banyak. Setengah jam lagi, aku sudah akan dijemput Kak Marcell. Aku tidak mau dinilai sebagai cewek yang super duper ngaret!

Setelah kebut-kebutan di jalan, akhirnya aku bisa sampai di rumah sepuluh menit kemudian. Beruntung, jarak antara sekolah dan rumahku tidak terlalu jauh. Dengan kecepatan paling ekstra yang kumiliki, aku segera mandi. Tidak ada waktu untuk berendam, jadi aku hanya mandi asal-asalan saja. Kusambar pakaian pertama yang kulihat di dalam lemari dan mengenakannya.

Aduh, kaus oblong berwarna hijau tua dan legging ungu ini kok, rasanya nggak matching, ya? Buru-buru kuganti bawahanku dengan celana panjang kain berwarna putih yang mencapai mata kaki. Nah, begini kan lebih bagus.

Sambil menyisir rambutku yang kusut, aku berteriak keras-keras, “JUNA!! Kak Marcell udah dateng belom?!”

“Udah, Kak! Tuh, udah di luar orangnya!”

Jawaban Juna membuatku tergesa-gesa menyelesaikan kegiatan menyisir rambutku. Setelah siap dengan tas selempang dan koper, aku memutuskan untuk keluar. Tapi kok, sepertinya ada yang ketinggalan, ya?

Oh iya, mantel!

Puncak kan berhawa dingin, bisa mati aku tanpa mantel yang menyelimuti tubuhku! Jadi, buru-buru saja kusambar mantel merahku yang tergantung di balik pintu dan kujejalkan ke dalam tas selempang yang cukup besar. Setelah itu, aku bergegas keluar menuju teras.

Kak Marcell sudah menunggu di sana, dengan kaus Polo biru tua yang membuatnya terlihat luar biasa keren. Dia menoleh dan langsung berdiri begitu melihatku. “Udah siap, Na?”

Senyum lebarnya yang super cute melemaskan lututku seketika. Aku memasang senyum terbaik dan menjawab, “Udah.”

“Ya udah, yuk.”

Kak Marcell berjalan mendahuluiku menuju mobilnya. Kali ini, dia memutuskan untuk membawa mobil karena barang bawaan kami—macam koper dan kantung plastik besar—mustahil dibawa naik motor. Setelah membantuku memasukkan koper ke bagasi, kami pun masuk ke dalam mobil, dan Kak Marcell langsung menstarter mobilnya.

“Kita nggak telat, kan?” tanyaku saat mobil sudah mulai meluncur di jalan raya.

“Nggak bakalan,” jawab Kak Marcell santai, “Lagian, seandainya telat pun, kita bakal ditunggu, kok.”

“Kok bisa gitu?” Aku bertanya heran.

“Iya, Dokter George baru akan memulai acara kalau pesertanya sudah lengkap tiga puluh,” jawabnya, “Makanya, nggak mungkin deh, kita ditinggal.”

Aku manggut-manggut. “Oh, ya bagus, deh, kalau begitu. Soalnya kayaknya di depan macet, deh.”

Benar kataku. Di persimpangan jalan, macet yang lumayan parah sudah menanti. Aduh, lama-lama muak juga aku terhadap lalu lintas Jakarta yang luar biasa bikin repot!

Kak Marcell memukul setirnya begitu mobil terjebak di tengah-tengah macet tanpa bisa bergerak. “Waduh, macet beneran, nih!”

Aku ikut-ikutan gelisah, “Macetnya lama nggak ya, kira-kira?”

“Nggak tahu, Na, tapi kayaknya bakal lama, deh.”

Aku setuju banget dengan Kak Marcell. Soalnya, baru melihat kendaraan-kendaraan bermotor yang berjajar-jajar panjang mengular di depan mobil saja, aku sudah pesimis sendiri. Macet seperti ini, minimal butuh waktu satu jam buat merayap! Percaya aku, deh. Kalau soal macet-macetan begini, aku memang ahlinya. Yah, soalnya aku sering jadi korban.

Setengah jam pun berlalu. Macet sudah mulai merayap pelan-pelan. Dapat kulihat raut wajah Kak Marcell sudah lega banget karena sepertinya sebentar lagi kami bisa lolos dari jebakan macet. Tapi, ternyata perkiraannya salah. Baru maju sedikit, mobil sudah harus berhenti lagi, padahal traffic light—si sumber kemacetan—masih jauh.

“Kapan kita sampai, ya, kalo gini?” Kak Marcell menggumam. Aku memperhatikan rentetan kendaraan di depan mobil dan mendesah pelan.

“Kayaknya masih lama, nih. Sekitar setengah jam lagi,” aku menjawab.

Yeah, mungkin setelah ini, Kak Marcell bakal mengiraku peramal karena semua yang aku katakan terjadi juga. Termasuk yang satu ini. Benar saja, setengah jam kemudian, kami baru berhasil lolos dari jeratan macet. Kak Marcell buru-buru ngebut menuju Harjuna—nama penginapan tempat seminar dua minggu lalu—yang disepakati Dokter George untuk menjadi tempat berkumpul. Sampai di sana, ternyata peserta yang lain sudah pada datang. Hanya tinggal kami dan satu orang peserta lainnya.

Menunggu satu peserta terakhir, untungnya, tidak butuh waktu lama. Setelah ibu-ibu berkonde dengan make-up menor itu datang, kami langsung berjalan bersama-sama menuju lahan parkir tambahan yang terletak di sebelah barat Harjuna. Di sana, dua buah bis sudah menunggu. Melihat bis-bis berwarna ungu itu, wajahku langsung memucat.

Oh iya, kami kan naik bis! Dan oh, no, aku kan tukang mabuk darat!

Buru-buru kubuka tas selempangku dan kukorek-korek isinya untuk mengetahui apakah aku membawa kantung plastik sebagai tempat untuk muntah. Tapi, pencarianku hasilnya nihil. Dan wajahku semakin memucat saja saat menyadari tidak ada obat-obatan semacam minyak kayu putih atau Antimo yang kubawa. Aduh, kenapa aku bisa lupa kalau kami semua bakal berangkat naik bis? Tahu begitu, aku pasti sudah membawa satu kardus Antimo!

“Kenapa, Na?”

Suara Kak Marcell yang penuh perhatian menyentakku dari kepanikan sesaat. Aku mendongak dan—melihat ekspresi wajahnya yang menyiratkan kekhawatiran—memutuskan untuk menggeleng. Tidak ada gunanya mengakui bahwa aku ini tukang mabuk darat di depan Kak Marcell, bisa-bisa dia enggan duduk di sebelahku karena takut kaus Polo-nya yang berharga terkena muntahan!

“Bener nggak apa-apa?”

Aku mengangguk.

“Ya udah, nanti kalo butuh bantuan, lo kasih tahu gue aja,” Kak Marcell tersenyum lebar, dan setelah memasukkan barang bawaan kami ke dalam bagasi bis, dia mengajakku masuk ke dalam bis yang memuat para peserta. Kami sengaja memilih tempat duduk di tengah agar guncangan roda bis tidak terlalu terasa dari tempat kami duduk.

Setelah yakin peserta sudah lengkap jumlahnya, salah seorang crew memberikan penjelasan mengenai tetek bengek perjalanan yang akan segera dimulai. Aku tidak mampu menangkap sepatah kata pun darinya karena sibuk ketar-ketir di tempat dudukku sendiri. Kemudian, tahu-tahu saja, bis sudah berjalan. Mulanya pelan-pelan, tapi lalu semakin cepat dan cepat.

Sejauh ini, masih baik-baik saja.

Fiuh… Padahal, kusangka aku akan langsung muntah-muntah begitu bis berjalan. Untungnya, mabuk darat yang menjengkelkan itu tidak langsung menyerang. Kak Marcell mengajakku berbincang-bincang, dan aku menanggapi dengan seakrab mungkin. Tidak lucu kalau aku sok-sok bersikap seperti orang sakit dan dia mengira aku cewek superlemah. Lagipula, saat ini kondisi tubuhku masih baik-baik saja.

“Lo udah pernah lihat villanya Dokter George di Puncak?” Kak Marcell bertanya.

“Belum,” jawabku, “Boro-boro lihat villanya, ke Puncak aja seumur-umur baru pernah dua kali!”

Kak Marcell terkekeh pelan, “Gue juga belum, sih, tapi kemaren gue sempet browsing di internet, dan ternyata villanya keren banget, lho!”

“Oh ya?” tanyaku antusias.

“Iya, beneran! Ada kolam renangnya segala, lho.”

Aku mengangkat kedua alis, “Terus, lo mau renang?”

Kak Marcell spontan tertawa mendengar pertanyaanku. Kenapa sih? “Lo pikir kita mau renang? Nggak takut mati kedinginan?”

Oh, iya, goblok banget aku. Kan ini sudah masuk musim penghujan, Puncak pasti dingin banget. “Oh iya, ya, gue lupa.”

Setelah tawanya reda, Kak Marcell mulai bercerita lagi. “Ada juga taman yang luas banget sampe kayaknya lebih mirip lapangan sepak bola.”

“Oh, ya? Kita bakal ada acara bonfire nggak?”

“Kayaknya ada. Tunggu aja jadwal acaranya dibagi.”

“Pasti seru tuh, kalo ada acara bonfire! Sejak SD, kalo camp, acara yang paling gue tunggu-tunggu ya bonfire itu!”

“Gue juga suka bonfire, Na. Seru aja, malem-malem di depan api unggun gitu.”

“Iya, apalagi kalo acaranya nyenengin. Pasti seru banget! Tapi kalo acaranya renungan?” aku berlagak seolah merinding, “Hii… sori-sori aja, deh! Gue paling ogah malam yang indah dirusak pake acara nangis-nangisan!”

Kak Marcell tertawa lagi, “Kayaknya seru kalo ada barbeque-nya, suasananya makin enak.”

“Wah, iya, seru tuh!” pekikku setuju.

“Pas farewell camp SMP dulu, tangan gue nyaris kebakar pas acara barbeque.”

“Hah? Kok bisa?”

“Soalnya rame banget, dan gue kedorong-dorong ke depan. Untung nggak beneran.”

“Terus gim—WHOAAA!”

Seisi bis menoleh mendengar teriakanku. Sementara aku hanya bisa terengah-engah dengan jantung berdebar-debar. Habis, baru saja, bis kami ngerem mendadak saat hendak menyalip sebuah truk, dan truk itu nyaris tertabrak oleh bis kami kalau saja ia tidak belok ke kiri! Aduh, seram banget rasanya!

Nyut… nyut… nyut…

Kepalaku langsung pusing seketika. Oh my gosh, please, not now!

Aku mencoba memijat-mijat kepalaku, namun rasa pusingnya masih belum mau hilang. Malahan, sekarang, sesuatu seperti memaksa hendak naik di perutku. Aduh, mual banget! Aku memejamkan mata dan mencoba meredakan pusing sekaligus mual yang seolah hendak membunuhku.

“Na, lo kenapa?”

Suara lembut Kak Marcell terdengar, tepat di samping telingaku. Aduh, aku mana mampu membalas pertanyaannya? Untuk membuka mata saja rasanya susah saat ini! Aku hanya menggeleng, berharap semoga Kak Marcell menangkap maksudku : “aku nggak apa-apa” dan “nggak usah khawatir.”

Uhuk, uhuk!

Oh, gawat. Rasanya sebetar lagi aku bakal muntah. Guncangan di bis yang kami tumpangi mendadak terasa kuat sekali, dan aku semakin pusing karena guncangan-guncangan itu. Kututupi mulutku dengan sebelah tangan, mencegah agar aku tidak muntah.

“Na, Na, lo mabuk darat?” Kak Marcell bertanya dengan suara penuh perhatian yang menyiratkan rasa panik, “Na, pusing banget rasanya?”

Aduh, udah, deh, Kak! Mending jaga jarak supaya nggak kena muntahanku!

Melihat tanganku yang sibuk kugunakan untuk menutupi mulut, Kak Marcell langsung bertanya, “Na, lo mual, ya?”

Aku menggeleng, hanya supaya dia mau menjauh. Ayolah, ini semua kan, demi keamanannya juga!

Tanpa kusangka-sangka, dia malah berteriak keras-keras, “PAK, PAK! Saya minta kantung plastik!”

Salah seorang crew yang duduk di seat terdepan menoleh dan langsung bersuara dengan bingung. “Ada apa, ya?”

“Teman saya mabuk darat, Pak! Cepat ambilkan kantung plastik!”

Uhuk, uhuk!

Rasa mualku bertambah menjadi dua kali lipat semula. Gawat, nih! Sepertinya muntahanku sudah mendesak tenggorokan!

Aku masih belum berani membuka mata sampai kudengar seseorang mendekat disertai bunyi gemerisik kantung plastik. Kubuka mataku perlahan, dan pusing yang luar biasa dahsyat langsung menyerang kepalaku. Aku mengerang pelan, masih dengan satu tangan menutupi mulut.

“Ini, Mas,” si crew menyerahkan kantung plastik itu pada Kak Marcell, dan Kak Marcell langsung menadahkannya di bawah mulutku.

“Ayo, Na, dikeluarin aja, biar lega,” Kak Marcell memerintahkan dengan nada panik yang kentara sekali dalam suaranya. Aku bersusah payah mengucapkan sebuah kalimat.

“B-bi…ar gue aj-ja…”

Lalu, tanganku yang bebas kugunakan untuk meraih kantung plastik di tangan Kak Marcell. Kak Marcell menepuk-nepuk punggungku agar aku lebih cepat muntah. Dengan kepala yang rasanya masih luar biasa nyut-nyutan, aku mencoba memuntahkan seluruh isi perutku ke dalam kantung plastik.

Aduh, mana nggak bisa, lagi!

Padahal rasanya mual banget dan seperti nyaris muntah, tapi kok susah banget, ya, mengeluarkannya? Melihatku yang tidak kunjung bisa muntah, Kak Marcell berteriak lagi dengan suara yang lebih lantang.

“PAK!! Berhentiin bisnya di SPBU terdekat!”

Aku tidak sanggup lagi mencerna perkataannya karena pusing di kepalaku semakin menjadi-jadi. Aku tetap mencoba muntah, tapi terus gagal. Padahal, rasa mual di perutku sepertinya sudah mencapai klimaks.

Bis tiba-tiba dihentikan, dan sebelum aku sempat memikirkan apa pun, Kak Marcell sudah menarik tanganku turun dari bis. Setelah menghirup udara segar, pusing di kepalaku berkurang sedikit. Tapi mualnya masih tetap bertahan sampai aku sadar apa yang harus kulakukan : pertama, berlari secepat mungkin menuju wastafel toilet, dan kedua, muntah sejadi-jadinya sampai perutku kosong.

Rencana itu tidak berjalan lancar. Pertama, aku tidak bisa lari secepat mungkin, karena berjalan saja aku sudah sempoyongan sampai harus dituntun oleh Kak Marcell. Dan kedua, tetap saja aku tidak bisa muntah begitu sampai di depan wastafel. Gosh, this is nightmare!

Kak Marcell terus menepuk-nepuk punggungku, namun hasilnya tetap nihil. Aku baru berhasil muntah saat seseorang keluar dari toilet yang terletak bersebelahan dengan wastafel. Bau toilet itu sangat menyengat hidung, sampai-sampai aku langsung muntah begitu mencium bau pesing itu.

Kak Marcell mendesah lega ketika akhirnya aku berhasil muntah. Dan, harus kuakui, rasanya sangat mendingan begitu muntahan itu keluar. Tapi, setelah berhasil muntah untuk pertama kalinya, mendadak perutku didesak oleh kekuatan yang dobel-dobel sehingga aku tidak bisa berhenti muntah. Sampai akhirnya, setelah kurang lebih tujuh kali muntah tanpa henti, barulah perutku normal kembali.

Fiuh… lega sekali rasanya.

Kak Marcell menyodorkan saputangan, dan langsung kusambar benda itu untuk mengelap bibirku yang terkena bekas muntahan. Setelah yakin bibirku sudah cukup bersih, kami pun berjalan masuk kembali ke dalam bis. Aku sungguh berharap semoga pusing dan mual-mualku itu tidak kembali lagi begitu bis berjalan.

“Na, kayaknya mendingan lo tidur dulu, deh,” Kak Marcell berkata begitu kami sudah duduk di seat masing-masing, “Nanti kalo bangun, pasti rasanya udah mendingan.”

Aku mengangguk menyetujui. Rasanya lelah sekali setelah sibuk menahan sakit selama beberapa menit tadi. Tidur kedengaran seperti pilihan yang sempurna. Kupejamkan mata dan kucoba untuk tidur, ketika mendadak sebuah tangan yang besar merengkuh kepalaku. Tangan Kak Marcell.

Apa yang dia lakukan?

“Sandaran ke pundak gue aja,” Kak Marcell menyandarkan kepalaku ke pundaknya, “Daripada keguncang-guncang.”

Aku mendongak menatapnya, tapi dia hanya tersenyum lebar-lebar. Jantungku langsung berdebar tidak karuan melihat senyum itu. Astaga, dia baik banget! Merasa tidak ada salahnya untuk menuruti perkataannya—yang benar saja, aku malah merasa beruntung banget!—aku pun memejamkan mata, dan sedetik kemudian tertidur lelap di pundaknya.

 

***

“Na, Luna, bangun!”

Aku membuka mata dan sedikit mengerang mendengar bisikan bernada tergesa-gesa itu. Kuedarkan pandangan ke sekeliling dan menemukan diriku masih berada di dalam bis yang sama dengan saat sebelum aku tidur. Aku mengulet sebentar untuk merilekskan otot-ototku yang sempat jadi kaku karena terlalu lama berada dalam posisi tidur yang sama.

Kutolehkan kepala dan menemukan Kak Marcell sudah tersenyum menatapku. Buru-buru kukembalikan kesadaran seutuhnya dan kubalas senyum itu.

“Udah enakan?” tanyanya lembut.

Aku hanya mengangguk pelan, mengingat tubuhku sudah terasa fresh banget saat ini. Ternyata, tidur memang pilihan yang tepat buat mengatasi mabuk darat.

“Bentar lagi nyampe, lho,” Kak Marcell berkata, “Tuh, villanya udah kelihatan.”

Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Kak Marcell, dan benar saja, aku dapat melihat sebuah villa yang luar biasa besar berdiri kokoh. Wow, benar kata Kak Marcell. Villa ini amazing!

Setelah parkir di halaman depan villa, para penumpang bis pun turun satu-per-satu. Aku dan Kak Marcell turun setelah membereskan barang-barang yang ada di tempat duduk kami. Begitu bagasi dibuka, langsung saja kutarik koperku yang ukurannya cukup besar itu. Kak Marcell juga sibuk dengan kopernya sendiri.

Setelah bis kami, datang satu bis lainnya yang memuat crew-crew berikut Dokter George sendiri. Pria paruh baya itu turun dari bis dan langsung menghampiri para peserta camp.

“Selamat datang di villa saya,” beliau tersenyum lebar sekali untuk menyambut kami, “Kalian boleh masuk dan menata barang bawaan kalian dulu. Setelah itu baru turun ke ruang makan untuk penjelasan berikutnya sekaligus makan malam. Oh ya, ada enam kamar di dalam villa, dan daftar nama penghuni kamar sudah ditempel di pintu masing-masing. Kalian tinggal mencari nama kalian saja, dan voila! Kamar itu otomatis menjadi kamar kalian.”

Seluruh peserta mengangguk mengiyakan, dan setelah itu kami dibubarkan untuk masuk ke dalam villa dan mencari kamar masing-masing. Lantai satu hanya berisi ruangan-ruangan semacam dapur dan ruang makan, dan ada juga kamar untuk para crew dan kamar Dokter George sendiri. Kamar untuk peserta terletak di lantai dua dan tiga. Kamar-kamar di lantai dua ditempati oleh para peserta cowok. Dapat kulihat, peserta cowok mendominasi acara ini. Maklumlah, tidak banyak cewek yang tertarik pada bidang kedokteran. Ada empat kamar di lantai dua, dan semuanya penuh. Untungnya, jumlah peserta cewek dan cowok pas banget untuk menempati kamar-kamar di villa ini.

“Lo naik dulu, deh,” Kak Marcell tersenyum lebar begitu menemukan kamar dengan namanya di depan pintu, “Nanti gue samperin, kita turun bareng.”

Aku mengangguk, kemudian naik ke lantai tiga untuk mencari kamarku sendiri.

Sedang asyik mencari-cari kamar, mendadak seorang cewek menepuk pundakku. Aku menoleh dan melihat cewek itu sedang tersenyum menatapku. Ia terlihat lebih muda daripada aku sekitar dua atau tiga tahun—dan hal itu tentu saja mengherankan, karena batas usia minimal peserta camp ini adalah 15 tahun, sedangkan usiaku sendiri sudah 16 tahun. Cewek ini kelihatan lebih muda dari usia seharusnya. Parasnya cantik dengan kulit seputih kapas dan bibir merah merona. Poni hitam lurusnya menjuntai lemas menutupi dahi. Bukan poni kepanjangan yang mengerikan seperti milik Stephanie, melainkan poni yang terlihat manis sekali dan serasi dengan wajah imutnya. Mengingatkanku pada ikon cewek-cewek Jepang.

“Hai,” sapanya ramah. Bahkan suaranya pun terdengar luar biasa lembut, khas anak konglomerat yang sudah dididik untuk bersikap anggun sejak kecil. “Lagi cari kamar juga, ya?”

Aku hanya mengangguk sambil berusaha membalas senyumnya, berharap senyum itu tidak kalah imut dengan miliknya—harapan yang agak mustahil, sih, mengingat sebenarnya senyumku tidak ada imut-imutnya (tidak jelek juga, sih, tapi yang jelas tidak imut).

“Datang… sama pacar?” Cewek itu menunjuk ke lantai bawah, tempat aku berpisah dengan Kak Marcell tadi. Oh, rupanya dia memperhatikanku sedari tadi. Dalam hati, aku iseng-iseng menghitung berapa orang yang sudah mengira aku dan Kak Marcell pacaran. Hmm…, Dian yang waktu itu, Kak Andi, penjaga toko di mall, mbak-mbak KFC, pegawai Baskin&Robbins, dan sekarang cewek ini. Luar biasa banget.

“Oh, bukan,” jawabku, “Itu cuma temen, kok.”

Cewek itu manggut-manggut, kemudian mengulurkan tangannya, “Kenalin, aku Yamamoto Erica, peserta camp juga.”

Nah, kan, benar, dia orang Jepang. Aku membalas uluran tangannya. Buset…, tangan cewek ini lembut banget! “Aku Luna Serafin Gunawan. Senang bisa kenalan sama kamu.”

Aku agak tidak terbiasa dengan sapaan aku-kamu yang kami gunakan, tapi aku merasa harus bersikap sopan di depan cewek ini. Ia tidak terlihat seperti cewek dari kalangan biasa, melainkan dari kalangan konglomerat terpandang. Cara berpakaiannya, sikapnya, dan bahkan postur tubuhnya meneriakkan hal itu.

“Senang bisa kenalan sama kamu juga. Mm… Sepertinya kamu lebih tua daripada aku, ya? Atau aku panggil kamu ‘Kak’ saja?” Dia tersenyum semakin lebar.

“Mm…, yah, boleh,” jawabku asal.

“Oke, Kak. Kakak panggil aku Erica saja,” Erica melepaskan genggaman tangannya pada tanganku dan menurunkan tangan kanannya itu.

Aku mengangguk-angguk.

“Yuk, kita cari kamar sama-sama,” Erica mengajakku. Ia kemudian mulai memutari seisi lantai tiga ini, dan aku mengekor di belakangnya. Walaupun kamar yang digunakan untuk acara ini hanya ada dua kamar, namun ternyata tidak hanya dua kamar yang tersedia di lantai tiga, melainkan sekitar lima atau bahkan lebih. Erica berhenti dan menunjuk sebuah kamar dengan kertas berisi daftar nama penghuni kamar dengan telunjuknya.

“Kayaknya yang itu, deh,” dia berkata, “Aku sudah cek kamar yang sebelah sini, dan nama kita nggak ada di daftar.”

“Ya, ya, mungkin aja,” jawabku, lagi-lagi asal, “Lho? Berarti kita sekamar?”

“Iya,” dia tertawa manis sekali, “Kayaknya penentuan kamar memang didasarkan pada usia, kok.”

Aku hanya manggut-manggut dan mengikutinya menuju kamar yang tadi ditunjuknya. Letak kamar itu sangat strategis. Terpisah dari kamar-kamar lainnya, kamar itu terletak di pojokan, dengan jendela besar membentang di dekat pintunya. Jendela itu memudahkan akses untuk melihat-lihat pemandangan Puncak yang asri, lain sekali dengan Jakarta yang kini dipenuhi hiruk-pikuk dan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Stephanie senang sekali dengan gemerlap kota Jakarta saat malam, tapi tidak begitu halnya denganku. Aku justru lebih senang dengan pemandangan yang alami seperti ini.

Erica menunjuk nama kami yang tertera di daftar penghuni kamar dengan wajah yang seolah mengatakan ‘nah-kan-aku-benar’, kemudian mengetuk pintu dan membukanya pelan-pelan. Buset, mau masuk ke kamar sendiri saja pakai ketuk pintu. Kalau aku sih, langsung terjang masuk saja tanpa peduli etika!

Tapi, harus kuakui, cewek ini terlihat sangat berpendidikan. Dan aku patut merasa malu oleh diriku sendiri.

Kamar yang berada di balik pintu terlihat sangat luas. Nuansa putih memenuhi seisi ruangan, memberikan kesan luas dan bersih. Mulai dari lantai keramik putih, dinding putih dengan wallpaper ukiran bunga-bunga berwarna silver, atap putih dengan lampu bulat yang juga memancarkan cahaya putih, sampai meja rias berwarna putih gading yang kosong melompong. Lima buah single bed yang sepertinya sengaja disediakan khusus untuk acara camp berjajar-jajar memenuhi sisi kanan dan kiri kamar. Di sisi kanan, terdapat pintu kayu berwarna biru pudar yang sepertinya menghubungkan dengan kamar mandi. Wow, kamarnya bagus banget!

Di dalam kamar, tiga orang lainnya sudah menunggu. Sepertinya perkataan Erica benar, pembagian kamar memang didasarkan pada usia. Sebab, kelihatannya, orang-orang yang berbagi kamar dengan kami masih berusia cukup muda. Satu-satunya orang yang terlihat paling tua di antara kami hanyalah seorang wanita yang tampak berusia 25 tahun ke atas. Namun, terlepas dari wajahnya yang kelihatan rada tua, ia belum bisa dikategorikan sebagai ‘tante-tante’, kok. Dua orang lainnya adalah seorang wanita yang terlihat seperti anak kuliahan (tapi mungkin lebih tua daripada Kak Marcell) dan juga seorang wanita lagi yang kelihatannya berusia 23 tahunan. Hmm…, rupanya aku dan Erica peserta camp paling muda. Tapi aku cukup bersyukur akan kehadiran Erica. Setidaknya aku tidak akan jadi yang paling muda dan tidak tahu apa-apa di sini. Yeah, teruslah berharap, Luna. Siapa tahu Erica justru gadis yang sangat pintar dan mampu menandingi peserta lain.

Jadi, kesimpulannya, mungkin akulah yang tergoblok di sini.

“Hei, datang juga kalian,” cewek kuliahan yang kini duduk sambil membereskan barang-barangnya menyapa kami, “Dari tadi kami sengaja nungguin soalnya nggak tahu kasur mana yang mau kalian pilih.”

“Gue terserah aja, sih,” aku menyahut spontan, dan kemudian teringat bahwa tidak baik ber-gue-lo dengan orang yang belum kita kenal, apalagi jika orang itu lebih tua daripada kita. “Eh, maksudku, aku.”

“Ya udah, kami akhirnya pilihin kalian kasur di sana,” cewek itu menunjuk dua buah kasur yang terletak di pojokan, saling berhadapan, “Kami pikir, kayaknya kalian nggak keberatan.”

“Saya nggak keberatan,” Erica menjawab sambil tersenyum, kemudian beralih padaku, “Kakak mau kasur yang mana?”

Aku memandang dua kasur itu secara bergantian, kemudian mengangkat bahu, “Aku terserah aja, deh.”

“Ya udah. Kalau gitu, aku yang itu aja, ya,” Erica menunjuk ke arah kasur di sebelah kiri. Aku hanya mengangguk mengiyakan, kemudian berjalan menuju kasurku sendiri untuk membereskan barang-barang. Setiap kasur memiliki satu nakas sendiri yang bisa digunakan untuk menyimpan berbagai macam keperluan—tentunya bukan keperluan sejenis makanan, karena meletakkan makanan di sana sama saja dengan mengharapkan makanan itu bakal jadi basi karena tidak mendapat udara sama sekali, kecuali kalau makanan yang kita bawa semacam chips atau snack penuh pengawet dan lemak yang kini sedang disukai banyak kalangan, kecuali aku. Di atas nakas, juga terdapat lampu tidur dengan cahaya kuning yang mirip-mirip lampu tidur di kamar hotel.

Koper kuletakkan di samping kasur, sedangkan tas selempang kutumpangkan ke atas nakas. Setelah selesai ‘berbenah’ dengan barang-barangku—aku tidak tahu apakah hal yang kulakukan patut disebut berbenah—aku duduk di atas kasur.

“Kalian masih SMA, ya?” Wanita yang terlihat paling tua di sini bertanya.

“Ya.”

“Tidak.”

‘Ya’ dariku, dan ‘tidak’ dari Erica. Sudah kuduga, sepertinya cewek ini lebih muda dari usia minimal peserta. Si wanita yang tadi bertanya terlihat bingung.

“Lho? Kamu sudah kuliah, Dik?”

Erica tersenyum geli, “Nggak, Kak. Saya masih SMP.”

Dan setelah jawaban dari Erica itu, semua mata yang ada di ruangan ini melotot lebar-lebar—kecuali mataku, tentu saja. Karena hal ini sudah kuduga sejak awal melihat wajahnya yang terkesan masih terlalu imut untuk menjadi murid SMA.

“Bukannya batas minimal usia 15 tahun?” Cewek yang terlihat berusia 23 tahunan menggumam, “Berarti kamu lebih muda daripada itu?”

Erica mengangguk dengan seulas senyum yang menyiratkan kebanggaan, “Iya, saya masih 13 tahun.”

Pelototan mata tiga orang lainnya berganti menjadi kerutan di dahi. “Kok… boleh ikut?”

“Ayah saya adalah sahabat karib Om George, dan dia sangat mengharapkan saya untuk menjadi dokter yang sukses seperti sahabatnya itu. Maka, dia meminta izin pada Om George agar saya diperbolehkan ikut ke acara camp ini,” Erica menjelaskan.

“Dan kamu diizinkan?” Wanita yang terlihat paling tua itu bertanya. Pertanyaan yang tidak penting, sebenarnya, karena kalau Erica tidak diizinkan, dia tidak mungkin ada di sini bersama kami semua.

“Ya, saya diizinkan,” Erica menjawab dengan suara formalnya yang terdengar sopan.

“Terus, materi kedokteran nggak terasa berat bagi kamu?” Si cewek kuliahan bertanya, “Maksudku… anak SMP kan biasanya belum mikir untuk prospek kehidupan ke depannya.”

“Yah, sebenarnya materi ini agak berat buat saya, tapi ayah bilang, pendidikan formal untuk menuju cita-cita masa depan sudah harus dipersiapkan sejak dini,” Erica menjawab, “Jadi ayah memutuskan agar saya mencoba dulu di camp ini, supaya nantinya saya bisa lebih mengerti.”

Semua orang manggut-manggut.

“Kalau kamu, Dik?”

Aku terkejut saat semua pasang mata beralih menatapku. Tidak tahu harus berkata apa, aku hanya meringis seperti orang bego, “Err… Saya?”

Goblok! Jawaban macam apa itu?

“Ya, kamu. Kamu SMA, kan?”

“Mm… Iya,” jawabku kikuk.

“Kelas berapa kamu?”

“Sebelas,” aku menjawab lagi.

Semua orang manggut-manggut. “Tertarik sama kedokteran, ya? Mau masuk jurusan itu nantinya?”

“Mm… Nggak tahu juga, sih. Soalnya baru tertarik,” jawabanku terdengar kurang intelek dibandingkan jawaban-jawaban lugas Erica. Malu-maluin banget.

“Oh, gitu…”

“Ya udah, yuk, kita sama-sama turun ke ruang makan. Sudah lapar banget aku,” cewek kuliahan itu menyela. Yang lainnya mengiyakan, kemudian bersiap turun ke ruang makan. Hmm, tadi Kak Marcell bilang mau nyamperin aku, jadi kayaknya mendingan aku tunggu dulu, deh.

“Nungguin Kakak yang tadi itu, ya?” Erica bertanya saat melihat aku tidak beranjak dari kasur. Aku hanya mengangguk. “Aku tinggal dulu, ya, Kak.”

“Ya udah, nggak apa-apa, Er.”

Erica meringis jahil, kemudian berbisik, “Selamat pacaran, Kak!”

Eh, sialan. Kan aku sudah bilang kalau aku dan Kak Marcell nggak pacaran!

Tapi, mau-tak-mau aku tersenyum geli juga. Cewek ini lucu banget soalnya. Setelah membisikkan kata-kata itu, ia langsung ngacir pergi bersama tiga orang lainnya. Aku duduk diam sendirian sambil menunggu Kak Marcell datang.

Kurogoh-rogoh tas selempangku untuk mencari HP yang kujejalkan asal-asalan ke dalamnya. Setelah menemukan HP itu, aku segera mengaktifkannya. Yup, aku memang sengaja mematikan benda itu selama di bis tadi. Seperti kata pepatah, ‘Hemat baterai sebelum kehabisan.’ Eh, tapi memangnya ada, ya, pepatah seperti itu?

Sama sekali tidak ada SMS penting yang masuk kecuali dari operator. Bahkan Stephanie pun tidak mengirim SMS atau menelepon sama sekali. Mau-tidak-mau, aku jadi merasa sedikit sebal. Tapi, berusaha kumaklumi tindakannya itu. Dia kan sedang kencan dengan David, mungkin nanti malam dia baru akan menghubungiku.

Sedang asyik mengutak-atik HP, mendadak terdengar suara ketukan di pintu.

“Na? Ini Marcell!”

Buru-buru kujejalkan HP-ku ke dalam saku celana dan berteriak, “Ya? Kak Marcell masuk aja!”

Sedetik kemudian, cowok itu masuk ke kamar, masih dengan kaus Polo birunya yang tadi. Tapi, ia terlihat lebih ganteng daripada tadi. Mungkin ia sempat cuci muka atau sejenisnya. Bicara soal cuci muka, aku baru ingat kalau aku seharusnya cuci muka dulu. Soalnya, tidak dapat dipastikan mukaku sekarang terlihat seperti apa. Mungkin seperti orang yang baru bangun dari tidur bertahun-tahun, atau mungkin juga seperti singa kelaparan yang baru digigit vampir sampai punya kantung mata berlapis-lapis. Pokoknya, yang pasti, bukan seperti Luna yang biasanya. Luna yang ini pasti terlihat seratus kali lipat lebih kacau dan jelek.

Kak Marcell duduk di sampingku dan mengedarkan pandangan ke seisi kamar, “Udah selesai beres-beresnya?”

“Udah, kok,” jawabku, “Tapi nggak tahu juga, deh.”

Kak Marcell beralih menatapku, membuatku nyaris sesak nafas karena mengagumi wajahnya yang terlihat sangat ganteng malam ini. Sial, di saat aku tampil lebih jelek daripada biasanya, dia malah tampil lebih ganteng daripada biasanya. Aku jadi merasa kacau.

“Badan lo udah enakan?”

“Udah… mendingan,” jawabku.

Kemudian Kak Marcell merogoh saku celana jinsnya dan mengeluarkan beberapa obat-obatan. “Nih, tadi gue sempat ambil dari koper gue. Kayaknya lo lebih butuh untuk jaga-jaga.”

Aku memandangnya dengan ekspresi bertanya-tanya, “Terus? Lo sendiri?”

“Gue jarang ada masalah kesehatan, sih, jadi sebaiknya lo aja yang bawa obat-obatan ini,” dia berdiri dan meletakkan obat-obatan yang baru saja dikeluarkannya ke atas nakasku. “Lo udah laper?”

“Belum,” jawabku, “Entah kenapa selera makan gue hilang.”

“Sama,” dia menyahut, “Begitu nyampe di sini, bawaannya pingin lihat pemandangan mulu, sampe lapernya hilang entah ke mana.”

Aku tertawa kecil, “Suka pemandangan yang alami-alami juga?”

“Suka dong,” ia menjawab, “Lebih bagus daripada pemandangan kota metropolitan.”

Dan aku setuju banget. “Menurut gue juga gitu. Lebih asyik habisin waktu di pegunungan daripada di jalan raya dan kudu bergelut sama macet yang nggak karuan.”

“Nah, gue setuju banget,” Kak Marcell duduk lagi di sampingku, “Jadi, lo mau turun?”

Aku mengangkat kedua alis, “Males sebenernya. Tapi katanya ada pengarahan buat kegiatan selanjutnya, ya?”

“Iya, sih,” Kak Marcell menjawab, “Tapi gue juga males turun.”

“Penting nggak sih, pengarahannya?”

“Mungkin,” jawabnya, “Tapi kan bisa tanya-tanya ke peserta lain juga.”

Aku manggut-manggut. “Kita bakal dicariin nggak?”

Kak Marcell mengangkat bahu, “Entah. Mau liat-liat kamar gue aja?”

Mataku membelalak. “Boleh!”

 

***

Kamar yang membentang di hadapanku ini tidak seluas kamarku, tapi tetap terkesan rapi. Beberapa barang yang berceceran ala cowok tidak mengurangi kesan rapi yang diciptakan kamar ini. Lima tempat tidur berjejer-jejer di kanan-kiri kamar layaknya di kamarku. Namun, berbeda dengan kamarku yang bernuansa putih, kamar ini lebih bernuansa hijau. Mulai dari cat, seprai, sampai pintu kamar mandi. Satu-satunya yang berwarna putih di kamar ini hanyalah lantai keramiknya.

“Keren juga,” gumamku.

Kak Marcell tertawa kecil, kemudian menunjuk sebuah kasur yang diapit dua kasur lainnya, “Yang itu tempat tidur gue.”

“Rapi banget,” komentarku, “Padahal gue kira kasur lo yang itu.” Jari telunjukku mengarah pada sebuah kasur yang seprainya sudah terlipat-lipat seperti sudah dipakai, dan banyak barang berceceran di atasnya. Kasur paling berantakan di kamar ini.

Kak Marcell tertawa, “Gini-gini gue cinta kerapian, lho! Itu kasur Donny, anak SMA juga, sama kayak lo.”

“Berarti gue termasuk rapi dong, untuk ukuran anak SMA?”

Dahi Kak Marcell mengerut, “Pede amat.”

Dan aku giliran tertawa, “Harus pede, dong!”

Kak Marcell duduk di atas kasurnya sendiri, dan aku hanya berdiri di depannya. Aku sedang mengamati barang-barangnya ketika tiba-tiba sebuah suara yang cukup keras menyentak kami berdua.

Kring… Kring…

“HP lo bunyi,” Kak Marcell mengingatkanku. Kurogoh saku celana dan melihat nama yang terpampang di layar. Oh, bagus, operator lagi. Nggak penting banget.

Aku meletakkan HP di atas nakas kemudian menunjuk kamar mandi dengan ibu jariku, “Gue numpang toilet, ya?”

“Oke,” Kak Marcell mengangguk, kemudian aku berjalan menuju kamar mandi. Selesai buang air kecil, aku menyempatkan diri untuk berkaca…

…dan nyaris berteriak melihat bayangan diriku yang terpantul.

Ya ampun, kacau banget!

Rambutku sudah amburadul dan kusut, dan seperti dugaanku, kantung mata yang cukup besar muncul di bawah kedua mataku. Ditambah lagi, bibirku kering dan pecah-pecah, nyaris seperti orang dehidrasi. Buru-buru kucuci wajahku dengan air dari kran wastafel. Berkali-kali kucipratkan air dengan membabi-buta ke wajahku, berharap penampilanku bakal jadi lebih baik daripada ini setelah cuci muka.

Yah, usahaku nggak terlalu berhasil, sih. Tapi setidaknya, wajahku jadi kelihatan lebih segar. Kusisir rambut dengan jari-jari tangan dan kurapikan letak belahan rambutku yang tidak jelas. Setelah yakin penampilanku sudah mendingan, aku keluar dari kamar mandi.

“Udah?” Kak Marcell bertanya dengan senyum lebar yang membuatku salting. Aku hanya mengangguk dan berharap tadi dia tidak menahan tawa melihat wajahku.

“Udah,” aku menjawab, kemudian duduk di sampingnya.

“Habis cuci muka?” Ia bertanya. Ada dua kemungkinan dari pertanyaannya itu : kemungkinan pertama, aku kelihatan lebih segar daripada tadi, dan kemungkinan kedua, mukaku masih basah karena belum sempat kukeringkan. Kemungkinan kedua sepertinya lebih benar, karena setelahnya, Kak Marcell menyambung, “Muka lo basah.”

“Oh, iya, belum sempet dikeringin.”

Kak Marcell membuka laci nakasnya, kemudian mengeluarkan selembar handuk yang sepertinya ia bawa sendiri. Dengan handuk itu, ia mengelap wajahku. Mataku membelalak menyadari seberapa dekatnya wajah kami berdua saat ini. Aduh, kenapa aku mendadak jadi deg-degan banget gini, ya? Kak Marcell benar-benar membuatku kehilangan akal sehat!

“Ehm!”

Aku tersentak saat mendengar seseorang berdeham keras-keras dari arah pintu. Kak Marcell sepertinya juga kaget, karena detik setelahnya, kami langsung menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Seorang pria yang kelihatan seumuran denganku sedang berdiri di sana dengan wajah ‘gue-ganggu-ya?’ dan sebelah alis yang terangkat.

Kak Marcell buru-buru menurunkan handuk dari wajahku dan tersenyum. “Donny?”

Cowok yang dipanggil Donny itu membuka  mulut, “Barang gue ketinggalan, Kak. Tapi kayaknya gue ganggu, ya?”

Mukaku spontan memanas mendengar perkataan itu. Kutundukkan wajah agar cowok bernama Donny itu tidak dapat melihat rona wajahku.

“Oh, nggak, kok,” Kak Marcell menjawab santai sambil berdiri dan melangkah sedikit menjauh, “Ambil aja dulu barangnya, Don.”

Donny melangkah masuk dan berjalan menuju kasur yang paling berantakan di kamar ini, kasur yang tadinya kukira kasur Kak Marcell. Ia mengobrak-abrik laci nakas dan mengeluarkan sebuah bolpoin dan secarik kertas, kemudian berdiri dan bersiap untuk pergi. “Oh ya, kalian udah dicariin sama Dokter George di bawah.”

“Oh, ya udah, kita ikut turun aja,” Kak Marcell buru-buru menyela, “Yuk, Na.”

Aku pun mengangguk dan mengikutinya turun ke ruang makan.

 

***

Malam sudah semakin larut. Lampu kamar sudah dimatikan, dan hanya tersisa cahaya redup dari lampu-lampu tidur. Aku masih duduk bengong di atas kasur. Sekarang ini, nyaris semua penghuni kamarku sudah terlelap. Hanya tersisa aku dan si cewek kuliahan—yang kini sibuk dengan HP-nya sendiri. Bahkan Erica pun sudah tidur sejak tadi. Malahan, ia jadi yang pertama tidur di antara kami. Sepertinya, ia sudah dididik untuk tidur tidak terlalu larut dan disiplin waktu. Khas anak konglomerat banget.

Merasa belum mengantuk, aku memutuskan untuk mengecek HP saja. Siapa tahu Stephanie sudah memberi kabar. Aku penasaran banget dengan kelanjutan kencannya bersama David. Yah, walaupun harus kuakui, sepertinya David tidak bisa terlalu banyak diharapkan. Ia terlalu playboy untuk disandingkan bersama Stephanie. Tapi, untuk sementara ini, asalkan sahabatku itu senang, aku tidak bisa apa-apa.

Kuraba-raba nakas untuk mencari HP itu. Nggak ada. Kurogoh saku celana dan lagi-lagi nggak menemukan HP itu. Sasaranku berganti pada tas selempang yang masih tergeletak di atas nakas. Namun, tas selempang itu hanya berisi beberapa potong baju ganti yang masih bersih serta dompet. Sama sekali nggak ada tanda-tanda keberadaan HP-ku.

Aneh. Ke mana ya, benda itu?

Ingatanku memutar ke beberapa jam yang lalu. Terakhir kali aku melihat HP itu adalah saat menerima SMS dari operator di kamar Kak Marcell.

Eh, tunggu dulu. Di kamar Kak Marcell! Oh iya, berarti benda itu masih ada di sana!

Ya, ya, sekarang aku ingat. Tadi, saat hendak ke kamar mandi, aku meletakkan HP itu di atas nakas. Aku lupa untuk mengambilnya kembali karena terlalu terburu-buru lantaran gugup dilihatin Donny, teman sekamar Kak Marcell. Dan itu berarti, HP-ku masih berada di kamarnya.

Shit’s gonna ruin my life…

Apa yang harus kulakukan? Mengambil HP itu ke kamarnya di tengah malam begini? Menunggu hari berganti pagi dan membiarkan HP itu tertinggal di sana semalaman? Menelepon kamar Kak Marcell dan menyuruhnya mengantar HP itu ke sini?

Oke, pilihan terakhir terdengar mustahil. Pertama, nggak sopan banget meminta seseorang mengantarkan barang yang adalah kebutuhan kita sendiri. Dan kedua, memangnya kamar ini kamar hotel? Pakai ada telepon di tiap kamar segala.

Jadi, pilihanku tinggal dua. Menghampiri kamar itu sekarang atau membiarkan HP-ku tertinggal di nakas Kak Marcell sampai besok pagi. Baiklah, kalau aku menghampiri kamar itu sekarang, risikonya adalah, aku akan dikira cewek nggak bener karena menghampiri kamar cowok malam-malam. Tapi, biar bagaimana pun, tujuanku kan bukan untuk berbuat macam-macam, melainkan cuma mau mengambil HP. Tapi kalau aku membiarkan HP itu tertinggal… bagaimana dengan alarm? Apa aku harus membiarkan diriku bangun paling terlambat hanya karena nggak pasang alarm? Kalau bangun paling terlambat, aku bakal dapat giliran memakai kamar mandi paling akhir, dan sial-sialnya, aku bakal ditinggal sendirian di kamar sementara yang lainnya sudah pada turun dan makan. Lalu, kalau mandiku agak lama, saat aku turun, semua jatah makanan pasti sudah ludes, dan aku terpaksa nggak makan. Lalu, selama perjalanan aku bakal kelaparan sampai nggak bisa apa-apa, dan aku bakal pucat seperti mayat hidup, lalu pingsan dan harus diboyong ramai-ramai kembali ke villa. Lalu, perjalanan akan tertunda gara-gara aku, dan aku jadi dibenci seluruh peserta camp

Oke, aku sudah berpikir terlalu jauh. Itu nggak masuk akal banget.

Tapi, tetap saja aku membutuhkan alarm. Siapa tahu kejadiannya bakal seperti yang kubayangkan tadi. Gawat banget, kan?

Kayaknya aku memang harus mengambil HP itu sekarang juga.

Kuraih mantel merahku dan kupakai benda itu sembarangan hanya untuk menutupi piyama kotak-kotakku yang memalukan, kemudian berjalan menuju pintu untuk turun ke lantai dua.

“Mau ke mana kamu, malam-malam gini?”

Aku menoleh mendengar teguran si cewek kuliahan, dan mendapati cewek itu sedang memandangiku dengan dua alis terangkat.

“Mau ngambil HP,” jawabku singkat, “Ketinggalan di kamar temen.”

“Kamar cowok?” Dia bertanya lagi.

Aku menghela nafas panjang, “Begitulah.”

“Nggak baik lho, ke kamar cowok malam-malam,” dia mengingatkan, “Apalagi kamu masih SMA. Dan ini sudah larut malam.”

“Ya tapi kan banyak orang yang ada di kamarnya itu, nggak cuma dia. Dan ini keperluan mendesak banget,” jawabku, “Duluan, ya.”

Setelah pintu kututup, aku langsung melesat menuju kamar Kak Marcell. Aku berhenti di depan pintu kamar itu dan sesaat merasa ragu untuk mengetuk. Bener, nih, aku mau mengetuk pintu kamarnya? Bagaimana kalau orang-orang di dalam sudah pada tidur? Ini kan sudah jam dua belas malam.

Akhirnya, setelah lama menimbang-nimbang apakah aku akan mengetuk pintu kamar itu atau tidak, kukalahkan semua keraguanku dan mulai mengetuk. Kuusahakan sepelan mungkin, namun tetap terdengar.

Tok tok tok.

Hening, nggak ada jawaban.

Tok tok tok.

Kuulangi mengetuk sekali lagi. Aku menunggu lama sekali di depan pintu, tapi pintu itu tetap bergeming, sama sekali tidak menampakkan tanda-tanda akan dibuka. Bahkan, nggak terdengar suara apa pun dari dalam. Suara dengkuran pun nggak ada.

Aku jadi semakin ragu untuk mengetuk lagi. Jangan-jangan aku dikira mengganggu, ya?

Ah, ya sudah, deh. Besok aku minta dibangunkan sajalah. Aku berbalik dan siap berjalan kembali menuju kamarku sendiri, saat kudengar seseorang memanggilku.

“Ya? Ada apa?”

Aku berbalik dan mendapati seorang pria yang tampak berusia 28 tahunan sedang berdiri memegangi pintu dengan alis berkerut. Pria itu jelas-jelas bertanya kepadaku, karena tidak ada orang lain selain aku di sekitar sini. Aku kemudian mencoba tersenyum.

“Nggak apa-apa. Sudah pada tidur, ya?”

“Belum,” dia menjawab, “Kami lagi nonton film di dalam. Kamu cari siapa?”

“Mm…,” aku jadi ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatku, “Bisa tolong panggilin Kak Marcell ke sini nggak?”

“Marcell?” Dahi cowok itu kelihatan berkerut, tapi sedetik kemudian, wajahnya seperti baru mendapat pencerahan, “Oh, ya! Marcell yang itu… Sebentar, sebentar, aku panggilin.”

Cowok itu beranjak dari pintu tanpa menutupnya, kemudian terdengar suaranya memanggil-manggil Kak Marcell.

“Marcell! Dicariin pacar lo, tuh!”

Jantungku mendadak deg-degan. Aduh, lagi-lagi aku dikira pacarnya. Aku tidak tahu apakah aku harus merasa senang atau risih, karena di satu sisi, aku nggak suka disangka-sangka pacar seseorang yang sebenarnya nggak ada hubungan apa-apa denganku. Tapi di sisi lain, Kak Marcell kan ganteng banget. Kita seharusnya senang kan, kalau dikira pacar seorang cowok ganteng?

Sedang menimbang-nimbang apakah sebaiknya aku merasa senang atau risih, mendadak wajah Kak Marcell sudah nongol di depan pintu, lengkap dengan senyumnya yang sanggup membuat hati siapa pun meleleh.

“Kenapa, Na?”

Aku mendadak bingung mau ngomong apa. “Mm…, Kak, HP gue ketinggalan di sini, nggak?”

“HP?” Kak Marcell kelihatan bingung, “Bentar, bentar, biar gue lihat dulu.”

Kak Marcell masuk kembali ke kamarnya, kemudian kembali lagi dengan membawa HP-ku di tangannya. “Yang ini?”

“Ya, bener,” jawabku, “Tadi ada telepon masuk nggak?”

Kak Marcell tampak berpikir sebentar, “Sepertinya nggak. Sejak tadi nggak ada bunyi HP di kamar gue.”

Jadi Stephanie nggak menelepon. Dia SMS nggak, ya?

“Oh, gitu,” jawabku, “Ya udah, gue balik dulu.”

“Oke,” Kak Marcell tersenyum, kemudian menutup pintu. Aku langsung membuka inbox HP-ku, dan harus menahan kecewa saat melihat tidak ada SMS masuk dari Stephanie.

Aneh, biasanya cewek itu selalu histeris setelah kencannya bersama David. Apa dia sudah lupa padaku? Kejam banget kalau iya.

Ah, nggak, deh. Stephanie nggak mungkin lupa padaku. Kalau nggak padaku, pada siapa lagi dia mau curhat?

Atau jangan-jangan… sekarang dia lebih senang curhat pada Jeremy?

Ah, nggak, nggak. Memang, sih, sahabatku itu akhir-akhir ini lagi dekat dengan Jeremy si anak rusak, tapi dia pasti cukup waras untuk nggak curhat-curhat pada cowok itu. Karena, cowok itu terlalu rusak untuk bisa memberi saran buat masalah-masalahnya. Salah-salah, dia malah menyesatkan Stephanie. Dan Stephanie pasti tahu itu.

Masih sambil bertanya-tanya dalam hati, aku naik kembali menuju kamarku.

 

***

Acara pertama pagi ini adalah kunjungan ke panti asuhan. Berkat alarm yang sengaja kusetel keras-keras, aku berhasil bangun sambil terlonjak kaget, plus membangunkan seisi kamar. Beberapa orang ngamuk-ngamuk karena rencana mereka untuk tidur sedikit lebih lama gagal gara-gara bunyi alarmku. Dan aku hanya bisa cengar-cengir saat mereka misuh-misuh lantaran sulit untuk tidur lagi. Akhirnya, kami memutuskan untuk segera mandi saja. Aku mendapatkan giliran pertama untuk mandi.

Air di Puncak dingin banget, sampai-sampai rasanya seluruh saraf tubuhku bakal mati kalau kelamaan berada di bawah guyuran shower air dingin itu. Setelah mengenakan baju tebal berwarna hitam yang kutemukan di dalam koper—aku bahkan baru sadar kalau aku membawa baju itu lantaran aku hanya asal-asalan saja memasukkan baju ke dalam koper saat packing—aku segera keluar dari kamar mandi dan memberikan giliran bagi orang lain untuk ikut menggigil kedinginan karena si air terkutuk.

Aku menyisir rambutku dan mengenakan mantel merahku, kemudian duduk ongkang-ongkang kaki di atas kasur karena sudah nggak ada kerjaan lain.

Erica keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di sebelahku. “Bengong aja, Kak?” ia bertanya. Aku hanya mengangguk-angguk. “Nggak nemuin pacarnya?”

Aku menepuk jidatku sok dramatis, “Ya ampun, Erica! Dia itu bukan pacarku! Sudah berapa kali kubilang?”

“Sudah dua kali,” jawabnya polos, “Tapi aku tetap nggak percaya.”

“Ya sebaiknya kamu percaya,” sanggahku, “Karena kenyataannya emang begitu!”

Erica terkikik, “Dengar-dengar, orang jatuh cinta kalau digodain suka marah-marah.”

Kayaknya aku pernah mendengar kata-kata ini. Oh, ya, dari Juna si adik sialan itu. Kenapa orang-orang suka mengatakan hal-hal nggak berguna seperti itu? Apa pentingnya menggoda seseorang dan membuat orang tersebut jadi naik darah karena tahu godaan itu nggak benar? “Itu nggak benar, Erica.” Aku bertingkah sok dramatis lagi dengan berkacak pinggang.

“Entah. Yang bilang bukan aku, kok,” dia berkata, “Tapi kalian memang kelihatan cocok.”

Aku memutar kedua bola mataku, “Jangan ngaco, ah.”

Erica terkikik-kikik geli. Kemudian, sepertinya dia sadar kalau topik ini agak membuatku merasa nggak nyaman, karena dia langsung mengalihkan pembicaraan. “Kakak nanti mau ke danau?”

“Danau apa?”

“Nanti saat free time sebelum acara api unggun, kita kan boleh lihat-lihat danau yang ada di belakang villa. Katanya, danau itu bagus banget, lho.”

“Oh ya? Boleh tuh, lihat-lihat danau.”

“Ke sana sama-sama, yuk, Kak? Aku sudah kepingin banget ke sana, tapi nggak ada teman.”

“Boleh, kayaknya seru.”

“Katanya ada perahu segala, lho, Kak. Tapi aku nggak tahu kita boleh naik atau nggak. Sepertinya nggak boleh, soalnya belakangan ini perahu-perahu itu lagi rusak. Pengelola danau nggak mau ambil risiko kena protes penumpang perahu kalau-kalau perahu itu mendadak tenggelam. Lagipula, danaunya lumayan dalam.”

Cewek ini banyak tahu juga. Sebagai orang yang lebih tua, aku jadi merasa malu.

“Daripada berisiko, mending nggak usah naik aja lah, kalau gitu.”

“Iya, aku juga berpikir gitu. Lebih baik kita jalan-jalan saja, atau makan jagung bakar di sana.”

“Ada jagung bakar segala? Kayaknya enak, tuh.”

“Iya, ada. Harganya juga cukup murah, dengar-dengar. Nanti kita harus cobain, ya, Kak?”

“Boleh. Traktir aku kalau duitku nggak cukup,” jawabku asal. Erica terkikik geli.

“Kalau duit Kakak nggak cukup, aku tinggal di sana saja, deh,” candanya. Dia bisa bercanda juga.

Mendadak, HP Erica berbunyi. Dia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan benda itu dari dalamnya. Wow, iPhone terbaru, man! Anak tiga belas tahun saja pegangannya sudah gadget secanggih ini. Padahal, waktu aku berusia tiga belas tahun (berarti sekitar tiga tahun yang lalu), aku baru boleh pegang BlackBerry Gemini oleh Papaku. Antara beliau menganggapku balita, atau menganggap iPhone terlalu mahal untuk diserahkan pada anak usia tiga belas tahun. Tapi, memang sih, menurutku nggak ada gunanya pegang gadget mahal-mahal kalau belum perlu-perlu amat. Sepertinya cewek ini kaya banget. Orangtuanya kerja apa, ya?

Erica tampak sibuk berbicara dengan orang di seberang telepon. Orang itu sepertinya papanya.

“Ya, Daddy… Eri nggak apa-apa. Ya, sudah mandi… Eri akan jaga kesehatan. Oh, nggak, di sini nggak ada jajanan sembarangan, Dad. Kami akan ke panti asuhan sekarang… Ya, ya, uang sumbangan itu akan Eri sampaikan… Ya, masih ada di tas… Oke, Daddy, bye…”

Setelah menutup telepon, Eri tersenyum kecil. “Ayahku,” ujarnya.

Karena penasaran, akhirnya aku bertanya juga, “Ayahmu kerja apa, Er?”

“Dia pemilik RS Jaya Medika, dan sekaligus dokter juga di sana,” Erica menjawab. Aku mengenali nama rumah sakit yang disebutnya sebagai salah satu rumah sakit besar paling bergengsi di Jakarta. Wow, pantas dia tajir. Dan sedetik kemudian, aku baru sadar dari mana dia mendapat marga Yamamoto itu. Dari Dokter Yamamoto Kenta, dokter asli Jepang yang tersohor banget itu, yang katanya peduli pada Indonesia dan hendak memajukan kesehatan di negeri ini dengan merintis rumah sakit bertaraf internasional pertama di Jakarta, yaitu RS Jaya Medika. Oh, ya, itu hanya berarti satu hal : Erica putri tunggalnya yang selalu ia sebut-sebut dalam setiap wawancara yang dimuat di koran. Pantas sepertinya sikap cewek ini terhormat banget.

Wow!” Aku memekik kagum, “Ayahmu Dokter Yamamoto Kenta, kan? Aku penggemar beliau, lho! Sampaikan salamku pada beliau, ya.”

“Akan aku sampaikan,” Erica menjawab. “Nah, sepertinya yang lain sudah pada selesai. Ayo turun ke ruang makan sama-sama.”

 

***

“Kemaren nyenyak tidurnya?”

Aku menoleh mendengar pertanyaan dari Kak Marcell itu. Saat ini, kami sedang berada di dalam bis yang akan membawa kami semua ke panti asuhan. Letak panti asuhan itu cukup jauh—makan waktu sekitar satu atau satu setengah jam ditempuh dengan bis. Selama perjalanan, aku dan Kak Marcell terus berbincang-bincang.

“Yah, lumayan,” jawabku asal.

Hari ini, Kak Marcell tampil dengan kaus V-neck tipis berwarna putih, dan dilapisi dengan kemeja kotak-kotak merah yang hanya dikancingkan bagian bawahnya saja. Untuk bawahan, dia mengenakan celana jins biru panjang yang sepertinya mahal. Harus kuakui, dia tampak luar biasa memesona dalam outfit sekeren itu. Tambahan lagi, kini dia sedang duduk santai sambil mendengarkan sesuatu dari earphone yang terpasang di telinganya.

“Lagi dengerin apa?” tanyaku basa-basi.

Masterpiece-nya Atlantic Starr,” jawabnya singkat.

“Suka lagu-lagu kuno?” tanyaku. Kak Marcell tertawa dan mengangguk.

“Sebenernya bokap gue, sih, yang suka. Dia suka muterin lagu-lagu kuno di mobil sejak gue kecil, dan akhirnya gue kebawa juga suka musik-musik kayak gini,” jelasnya, “Lumayan enak juga, lho, setelah didengerin. Nggak kalah sama lagu-lagunya… apa tuh, band barat jebolan X-Factor yang lagi booming banget sekarang ini?”

“One Direction,” potongku, “Aku penggemar mereka, lho.”

“Yah, mereka bagus, sih,” Kak Marcell mengangkat bahu, “Tapi band-band kuno juga ternyata nggak kalah.”

Aku hanya mengangguk-angguk, “Gue nggak pernah terlalu merhatiin band-band kuno, sih. Tapi nanti kalo udah pulang, gue bakal coba download lagu-lagu mereka supaya ngerti bagusnya di mana.”

“Untuk band modern sekarang ini, gue sukanya Maroon5. Gila, Adam Levine suaranya cool abis!” dia berkata, “Lo suka juga?”

“Iya, gue juga suka!” jawabku, “Dan Owl City, keren tuh.”

“Oh, Owl City yang itu…” dia menggumam, “Enak juga tuh lagu-lagunya.”

“Iya, enak banget. Gue punya banyak juga lagunya di HP.”

Kak Marcell terkekeh, “HP gue banyakan lagu-lagu kuno gitu, sih. Nggak menarik mungkin bagi lo.”

“Yee… gue kan belum ngerti. Siapa tahu, gue juga bakal suka lagu-lagu kuno gitu nantinya,” aku menyanggah, “Eh, bentar, bentar. Itu ya, kayaknya, panti asuhannya?” aku menunjuk sebuah bangunan besar dengan plang bertuliskan “PANTI ASUHAN TUNAS BANGSA” besar-besar di bagian depannya. Pertanyaanku dikonfirmasi dengan berhentinya bis kami tidak jauh dari panti asuhan itu.

“Yup,” Kak Marcell menyahut, “Yuk, turun.”

 

***

Kegiatan di panti asuhan benar-benar menyenangkan. Kami melihat anak-anak yatim piatu yang ramah-ramah dan sopan sekali. Berbeda dari anggapan normalku bahwa anak kecil itu menyebalkan, ternyata anak-anak di sini justru menyenangkan. Terlebih lagi, mereka juga tahu etika. Mungkin aku harus berhenti membanding-bandingkan anak kecil dengan Juna saat kecil. Yeah, mungkin adikku itu yang nggak normal masa kecilnya. Saat kecil, dia benar-benar membuatku menua lebih cepat dengan tingkah kurang ajarnya. Mulai dari mengompol di kasurku, menyerobot jatah makananku, suka nangis-nangis nggak jelas sampai aku kena marah Papa, sampai mengolok-olokku karena aku masih minum susu formula sampai usia delapan tahun. Pokoknya, menyebalkan banget, deh!

Kami diminta memberikan sumbangan berupa beras dan mi instan secara simbolik satu-per-satu, dan diambil pula foto untuk kenang-kenangan. Aku bahkan berfoto berdua saja dengan seorang gadis cilik yang mengingatkanku pada Candy di film Candy-Candy. Pokoknya dia supel dan menyenangkan banget, deh. Sejak pertama kali melihatnya, dia sudah menjadi anak kesayanganku di sana. Namanya Vanessa.

Acara lain adalah melihat-lihat anak panti yang sakit. Ternyata, penyakitnya tidak hanya batuk atau pilek biasa seperti perkiraanku, melainkan ada yang sakit panuan segala. Aku mendadak jijik melihat anak kecil yang sekujur tubuhnya dipenuhi panu itu. Namun, Dokter George meminta agar kami mendekat ke arah anak kecil itu dan memperhatikan sakit kulit menjijikkan yang dideritanya itu. Aku nggak tahu apakah setelah lulus kuliah nanti, akan ada peserta camp yang tertarik membuka praktik dengan nama DSP, singkatan dari “Dokter Spesialis Panuan.” Atau, biar lebih keren lagi, DSPI. Singkatan dari “Dokter Spesialis Panuan Internasional.” Slogannya bakal jadi “the first ever in the world,” dan slogan itu nggak bohong. Soalnya, mana ada, orang waras yang mau buka praktik abnormal seperti itu?

“Seru ya, anak-anaknya?” Kak Marcell menggumam begitu langkah kami menapaki bagian luar panti asuhan untuk kembali ke bis. Sepertinya, semua peserta juga merasakan euforia yang sama saat bermain-main bersama anak-anak panti tadi.

“Iya, seru banget,” jawabku. “Apalagi Vanessa, ya ampun. Cewek itu manis bener!”

Kak Marcell tertawa, “Suka anak kecil, ya?”

“Nggak sih, sebelumnya. Tapi kayaknya setelah ini bakal gue pertimbangin lagi. Mereka ternyata bukan makhluk cengeng menyebalkan seperti yang biasanya gue pikirkan,” jawabku. “Setelah ini kita ke mana?”

“Kayaknya mampir makan siang dulu,” jawab Kak Marcell. Kemudian setelah melirik jam tangan hitamnya, ia menyambung, “Kan ini udah jamnya.”

Perkataan Kak Marcell ternyata salah. Memang sih, setelah itu kami makan siang, tapi bukan mampir makan siang, melainkan kembali ke villa dan makan siang di sana. Selepas makan siang, Dokter George melanjutkan dengan sesi seminar. Seminar sesi pertama ini memakan waktu satu jam. Setelah itu, kami kembali ke bis untuk kunjungan ke YPAC.

YPAC letaknya lebih dekat dari villa ketimbang panti asuhan tadi. Namun, kegiatan di sana amat sangat membosankan. Dalam rentang waktu satu jam, aku sudah menguap kurang lebih delapan belas kali dan sudah nyaris ketiduran dua kali. Orang-orang di sana rata-rata sudah dewasa, dan bahkan ada yang sudah berusia 80-an. Karena itu, sangat nggak mungkin mengajak orang-orang itu bercanda, apalagi bermain. Nggak seperti anak-anak panti tadi. Kemustahilan itu semakin diperkuat karena rata-rata penyakit yang mereka derita adalah penyakit yang diawali dengan kata “tuna”. Yeah, yang sejenis tunanetra, tunarungu, tunawicara, dan sebagainya. Mana mungkin mau bercanda dengan orang-orang seperti itu? Bisa-bisa, alih-alih ikut bercanda, kita malah dicuekin dengan tidak hormat.

Kegiatan di sana juga hanya mendengarkan ceramah pengelola YPAC sekaligus ceramah Dokter George (kali ini formal banget sampai nggak ada sisi menyenangkannya sama sekali), menyerahkan sumbangan secara simbolik untuk diambil fotonya (seperti di panti tadi), dan melihat-lihat penghuni YPAC. Setelah itu, kami kembali lagi ke bis.

Acara selanjutnya adalah praktik menggunakan alat peraga di villa Dokter George. Ruangan praktik terletak di lantai dua, dan ruangannya ternyata sempit sekali. Kami sampai tidak bisa masuk beramai-ramai, melainkan harus giliran per tim. Aku ditempatkan dalam satu tim bersama orang-orang yang sama sekali tidak kukenal. Oh, ada sih, yang kukenal, yaitu teman sekamarku, si cewek 23 tahunan yang sepertinya jutek banget itu. Sampai sekarang, aku bahkan belum tahu siapa namanya. Yang jelas, nama itu pastilah sebuah nama yang bisa dipersingkat menjadi “Vel”—entahlah, mungkin Velda, Veli, Velita, atau apalah.

Kami diminta mendemonstrasikan pertolongan pertama yang akan dilakukan ketika melihat seseorang kecelakaan di depan mata kami—yang rasanya lebih mirip PMR daripada kedokteran. Atau itu hanya anggapanku saja?

Tapi, tak peduli PMR atau kedokteran, aku tetap menikmati kegiatan ini. Aku sempat dimarahi teman-teman setimku lantaran terlalu kencang membalut luka sampai-sampai kalau manekin di hadapanku ini nyata, ia pasti sudah mati tercekik. Yah, segala sesuatu butuh latihan, kan?

Akhirnya, sesi ini berakhir dan diikuti dengan coffee break. Setelah coffee break, kami mendapatkan satu jam free time. Sesuai janjiku pada Erica, kami pergi melihat-lihat danau di belakang villa. Erica memintaku agar mengajak Kak Marcell dalam acara jalan-jalan sore ini.

Dan karena permintaannya itu, kini di sinilah kami, duduk di tepi danau besar itu sambil makan jagung bakar yang pedasnya minta ampun. Rasanya nggak nyaman duduk di tengah-tengah karena kita tidak bisa mengulet atau tiduran seenak jidat, tapi suasana ini tetap terasa menyenangkan, kok, bagiku.

“Kalian deket banget, ya?” Erica bertanya, dan aku dapat menangkap nada jahil dalam suaranya. Oh, sial, sepertinya anak ini mau menggodaku lagi. Mana dia baru kenal Kak Marcell, lagi. Apa yang akan dipikirkan cowok itu kalau tahu Erica sudah menyangka kami pacaran? Oh, ya, aku tahu. Pasti dia akan berpikir : Luna murahan banget. Kita kan nggak ada hubungan apa-apa, kenapa dia ngumbar-ngumbar hal nggak bener ke orang yang belum jelas asal-usulnya?

Kalau dia sampai berpikiran seperti itu, aku bakal langsung menjeduk-jedukkan kepala ke tembok saking malunya.

“Lumayan,” Kak Marcell menjawab dengan senyumnya yang, seperti biasa, bikin segala sesuatu di sekitarnya meleleh. Aku sampai curiga kalau-kalau sebentar lagi Erica bakal meleleh juga. Tapi, nggak, deh. Erica sepertinya bukan tipe cewek yang tertarik pada cowok yang jauh lebih tua daripada dirinya. Maksudku, jarak usia mereka pasti lebih dari lima tahun, kan?

Erica terkikik geli. Tuh, kan. Semoga dia nggak mengacaukan segalanya, deh!

“Kalau pacarannya udah berapa lama?”

Jder!!

Nah, ini nih, yang benar-benar disebut “mengacaukan segalanya”!

Kak Marcell terkekeh geli, dan aku cukup lega karena sepertinya dia tidak memiliki pikiran negatif apa pun dari pertanyaan Erica tadi. “Kami nggak pacaran,” jawabnya santai, “Belum, mungkin.”

Oke, bagi kalian yang cuma mendengar perkataan itu saja, pasti punya pikiran bahwa Kak Marcell mungkin memiliki maksud tersirat dari perkataannya itu. Tapi kalian nggak benar-benar ada di sini, sih. Kalau kalian ada di sini, pasti kalian tahu kalau perkataan itu lebih bernada candaan daripada sesuatu yang serius. Setidaknya, candaan itu nggak cukup untuk membuatku geer.

“Kalau sudah jadian, traktir aku, ya!” Binar di mata Erica menandakan bahwa dia tidak berminat menyudahi godaannya yang rada keterlaluan ini.

Beruntung, Kak Marcell tetap tertawa-tawa seperti biasa. Sementara aku hanya melontarkan tatapan ‘plis-deh-ah’ kepada mereka berdua. Erica ikut tertawa kecil.

“Pasti deh!” Kak Marcell menjawab, lagi-lagi bukan jawaban serius seperti yang kau bayangkan, tapi hanya candaan belaka.

“Traktir Pizza Hut, ya!”

“Itu juga boleh.”

“Ajak aku ke kencan kalian nantinya, oke?”

“Boleh juga, tuh. Bawa pacarmu juga ya, nanti.”

“Kalau sudah punya, aku kenalkan, deh.”

“Sip, hahaha…”

“Sekalian, kalau sudah lebih dewasa nanti kalian mau menikah, undang aku ya!”

Aku langsung melotot mendengar penuturan ngaco terakhir dari Erica itu. Bocah ini, benar-benar! “Udah, ah! Apaan sih ini?” Omelku, “Yuk, kita muter-muter lagi aja.”

Setelah itu, aku membuang bonggol jagung ke dalam tong sampah dan berjalan pergi. Kak Marcell dan Erica masih terkikik-kikik geli seperti orang gila sambil mengikuti di belakangku. Orang-orang ini betul-betul sudah sinting!

 

***

Masuk kembali ke villa, ruang tamu sudah dipadati beberapa orang yang sedang bersantai. Gelak tawa terdengar memenuhi seluruh penjuru ruangan. Jam kini menunjukkan pukul enam sore. Yang artinya, sebentar lagi, kami akan melanjutkan dengan sesi terakhir, dilanjutkan dengan makan malam. Setelah makan malam, kami akan mengadakan bonfire barbeque party alias pesta barbekyu api unggun. Pesta api unggun ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan kedokteran, melainkan hanya untuk senang-senang saja. Peserta juga diizinkan sharing mengenai masalah pribadi dalam acara itu. Jujur saja, aku sudah nggak sabar banget. Saat free time di danau tadi, banyak orang yang sudah membicarakan rencana untuk mengisi acara ini. Om Paul, salah satu peserta camp paling ambisius, berkata bahwa dia membawa CD lagu-lagu yang bisa digunakan untuk menari dalam acara itu. Dokter George sudah mengkonfirmasi ketersediaan speaker-nya. Katanya, Om Paul akan mengajak Tante Frida, istrinya, untuk menari salsa di tengah taman. Wah, kedengarannya seru banget!

Maka, karena nggak sabar, aku sudah nangkring di sini lebih awal daripada waktu seharusnya. Sepertinya bukan hanya aku yang nggak sabar, karena lebih dari setengah peserta camp tampak sudah berkumpul juga di ruangan yang sama. Sepuluh menit kemudian, peserta bahkan sudah lengkap. Dokter George, yang merasakan semangat dari para peserta, kemudian memutuskan untuk memulai sesi kendati seharusnya sesi dimulai sepuluh menit lagi. Karena sesi dimulai lebih awal daripada jadwal, maka sesi itu juga selesai lebih awal daripada jadwal. Dengan tampang separuh senang dan separuh capek, para peserta mulai berjalan menuju kolam renang, tempat di mana makan malam akan diadakan. Untuk makan malam kali ini, istri Dokter George yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga biasa, menghidangkan masakan bikinannya sendiri secara langsung. Aku sangat antusias untuk merasakan masakan istri beliau, dan begitu juga sepertinya Erica. Cewek itu kini sedang berjalan di sampingku, masih dengan gaya anggunnya yang seperti tidak bisa dipisahkan dari sosoknya, tapi dengan kecepatan jalan yang lebih cepat. Aku mengenali kecepatan jalan ini sebagai kecepatan jalan orang yang sudah tidak sabar akan sesuatu. Menyadarinya, aku terkikik geli.

“Kenapa Kakak ngetawain aku?” Ia bertanya dengan nada yang sok dibuat tersinggung, tapi malah terdengar polos dan kelewat lucu di telingaku.

“Nggak, nggak,” aku menjawab, “Kamu udah nggak sabar banget, ya?”

“Nggak sabar apa?”

“Pakai sok nggak tahu, lagi!” Aku terkekeh, “Nggak sabar makan, lah!”

“Ooh, itu… Iya, sih. Soalnya aku kepingin tahu rasa masakan Tante Febrina. Aku sudah lama kenal beliau, tapi belum pernah sekali pun mencicipi masakan beliau yang katanya enak itu,” Erica menjawab dengan senyum girang yang tidak ditutupinya. Cewek ini benar-benar lucu banget tingkahnya. “Bukan karena aku rakus, lho, Kak.”

“Iya, iyaaa… Kamu nggak rakus, aku yang rakus.”

“Kok bisa gitu?”

“Soalnya sekarang aku pingin banget makan dan ngehabisin semua makanan yang ada,” jawabku. Erica giliran tertawa.

“Itu baru yang dinamakan rakus!” pekiknya.

Kami tiba di bagian belakang villa yang luasnya luar biasa. Aku bahkan berpikir kalau-kalau ada pesawat yang oleng mendadak di daerah sini, pesawat itu bisa dengan mulus mendarat di bagian belakang villa ini. Yeah, luas banget, memang.

Di teras belakang, sudah tersedia sekitar sepuluh meja yang berkapasitas empat orang per meja, lengkap dengan lilin-lilin berbentuk lucu yang diletakkan di tengah-tengah setiap meja. Meja-meja itu dinaungi oleh payung-payung kecil warna-warni. Tepat di hadapan meja-meja itu, terbentang sebuah kolam renang yang luas dan tenang airnya. Kolam renang itu sepertinya dangkal, mungkin sekitar 120 cm dalamnya. Asalkan kau bukan remaja kerdil, manula yang badannya sudah mengkeret, ataupun anak kecil yang belum mencapai usia remajanya, kau pasti bisa berenang atau, minimal, masuk ke dalam sana. Kolam renang itu tampak semakin indah dengan lampu-lampu kolam yang terletak di sisi-sisi dalamnya. Lampu-lampu itu menyorot ke tengah-tengah kolam, ke arah keramik-keramik yang menyusun dasar kolam yang membentuk pola bintang biru besar dan memberi kesan luas. Di tepi kolam, terdapat tanaman-tanaman hias yang tampak subur dan serasi dengan kolam serta meja-meja yang akan kami gunakan untuk makan.

Melihat pemandangan yang wow banget ini, aku cuma bisa melongo seperti orang bego di tempatku berdiri. Mendadak, semua rasa lapar yang sempat mengamuk di dalam perutku hilang digantikan rasa kagum, setengah pingin menyambar kamera polaroid mana pun dan berfoto sebanyak mungkin sampai urat pipiku kaku, dan setengah pingin menceburkan diri ke dalam kolam renang yang kayaknya berair dingin itu. Sumpah, ini bagus banget! Pemandangan seperti inilah yang kuharapkan bakal kulihat di hotel berbintang lima, dan bukannya di villa Puncak biasa. Kayaknya aku harus mempertimbangkan untuk benar-benar jadi dokter di kemudian hari, deh. Gila, pasti aku jadi kaya banget! Lihat saja Dokter George. Villanya saja sudah seperti ini, bagaimana rumahnya? Seperti istana bangsawan Inggris zaman dulu, kali, ya? Atau seperti rumah Goo Jun Pyo dalam serial Boys Before Flowers? (Yeah, begini-begini, aku penggemar serial Korea juga, lho). Entahlah. Yang jelas, pasti bagus banget.

Cool!” Pekikan Erica di sebelahku menyadarkanku bahwa aku seharusnya bersikap normal, dan bukannya melongo dengan tampang nyaris menandingi Mr. Bean—yang ketemu teman seperjuangannya yang lebih goblok darinya—begini. Buru-buru kukatupkan mulutku yang tanpa sadar terbuka lebar. Nyaris ngiler, mungkin. Aku menoleh dengan tampang sok jaim pada Erica dan tersenyum lebar-lebar.

“Keren, ya?”

Wah, lagakku sudah mirip pemilik villa saja. Tapi biarlah, setidaknya itu nggak memalukan.

“Keren banget,” dia menjawab, “Kayaknya seru kalau renang di sana.”

“Iya,” jawabku, “Airnya jernih banget.”

Jawaban yang goblok banget, karena mana mungkin kau mengharapkan air yang keruh di tempat sekeren ini? Seperti mengharap akan menemukan berlian di tempat pembuangan sampah. Alias, impossible.

Kami berjalan menuju sebuah meja yang letaknya paling dekat dengan kolam renang. Peserta lain juga sudah mulai memenuhi meja-meja lainnya. Aku berbagi meja dengan Erica, Kak Marcell, dan Donny, teman sekamarnya yang jorok banget itu. Aku dan Kak Marcell duduk berhadap-hadapan. Di bawah sinar lilin yang remang-remang, wajahnya kelihatan tiga kali lipat lebih ganteng daripada biasanya, dan itu membuat jantungku langsung menari hula-hula dengan berisiknya. Jantung keparat! Ngapain dia melakukan hal nggak menyenangkan itu di saat-saat seperti ini?

Istri Dokter George keluar ke teras belakang sambil membawa sepanci besar makanan, lalu meletakkannya di atas meja panjang di pinggir kolam renang yang kini sudah nyaris penuh oleh piring-piring bersih, sendok dan garpu, serta panci-panci yang berisi makanan lainnya. Panci ini sepertinya panci terakhir yang dibawanya, karena setelah itu, ia langsung berdiri menghadap kami semua dengan sebuah senyum lebar.

“Kalian boleh menikmati santap malam kalian sekarang. Semoga memuaskan. Selamat makan,” ujarnya, kemudian mempersilakan kami semua untuk mengambil makanan masing-masing. Sebenarnya, aku agak tidak senang dengan sistem prasmanan seperti ini. Tapi, biar bagaimana pun, aku tidak bisa menyamakan para peserta camp yang rata-rata sudah dewasa ini dengan teman-teman sekolahku. Mereka nggak akan melakukan aksi brutal dalam mengambil makanan, kan? Yah, setidaknya nggak akan seperti teman sekolahku yang suka menumpahkan makanan seenak jidat, saling dorong, mengumpat-umpat, dan lain sebagainya.

“Mau ngambil makanan sekarang, Na?” Kak Marcell bertanya. Aku mengangguk, kemudian mengikutinya berjalan menuju meja panjang itu dan mengantre di belakang para peserta lainnya. Erica dan Donny mengantre di belakangku.

Menu makanan yang dibuat istri Dokter George malam ini adalah sapi lada hitam, semur yang resepnya ia racik sendiri, kangkung saus tauco, tahu dan tempe bacem, serta sapo tahu seafood. Setelah selesai mengambil makanan, kami semua kembali ke meja dan makan bersama sambil berbincang-bincang. Om Paul sudah memutar CD yang dibawanya di speaker keras-keras. Suasana terasa sangat semarak dan akrab. Menyenangkan banget pokoknya.

Sedang asyik-asyiknya menyantap makanan kami, mendadak terdengar bunyi “byur” yang sangat keras dari arah kolam renang. Kami semua menoleh dan melihat para Om-Om sudah saling menceburkan satu sama lain di kolam renang sambil bercanda ria. Om Paul, yang sepertinya merupakan sumber kejahilan ini, tertawa riang sambil menghindar dari cipratan air yang sengaja diarahkan padanya oleh korban cebur-ceburan yang tidak terima. Aku tertawa geli melihat tingkah para Om-Om yang rata-rata sudah kepala tiga atau bahkan lebih itu. Lalu, mendadak saja, Om Paul menceburkan istrinya yang langsung berteriak-teriak sambil tertawa-tawa. Yang diceburkan keluar dari kolam, kemudian menggotong Om Paul bersama-sama untuk dilemparkan ke kolam renang.

“Ampuni sayaaa!! Hahaha…”

Ledakan tawa Om Paul diiringi bunyi ‘BYUUURR’ yang sangat keras serta air yang tumpah ruah ke luar kolam. Sontak, semua orang tertawa, termasuk aku, Kak Marcell, Erica, dan Donny. Lalu, sebelum sempat kami sadari, acara cebur-ceburan itu sudah merembet tidak karuan. Meja demi meja kehilangan penghuninya karena didorong menuju kolam dan diceburkan satu-per-satu.

“Ke sana, yuk!” Kak Marcell mengajak kami untuk menghampiri keramaian yang seru banget itu.

“Ayo!” aku memekik girang, setuju dengan idenya itu. Sepertinya seru bergabung dengan Om-Om dan Tante-Tante itu.

“Gue juga mau!” Donny menimpali.

“Nggak, ah,” Erica menyanggah, “Nanti kita ikut diceburin juga, lho. Gimana tuh?”

“Ya nggak apa-apa!” Aku, Kak Marcell, dan Donny memekik bersamaan.

“Kan malah seru!” Kak Marcell menambahkan.

“Iya, pasti seru!” Imbuhku, “Ayolaaaah…”

Tanpa bisa protes, kami bertiga sudah menarik Erica menuju kerumunan. Erica meronta-ronta, tapi tenaganya jelas kalah dengan tenaga gabungan kami bertiga. Akhirnya, entah dapat ide jahil dari mana, kami bertiga langsung menceburkan Erica begitu sampai di tepi kolam.

“KYAAAA!!” Erica berteriak ketika bunyi ‘byur’ yang sama terdengar lagi, “Dingin, dingin! Kalian… Ahahahahaha….”

Kemudian, cewek itu tertawa-tawa riang. Rupanya dia mulai menganggap lelucon ini menyenangkan juga. Lalu, dengan kecepatan yang luar biasa, tahu-tahu saja, dia sudah merayap naik ke atas kolam, mencengkeram pundakku, dan…

…Mendorongku ke dalam kolam!

“Aduh, aduh! Mau ngapain kam—”

BYUUUUURR!!!

Aku masuk ke kolam tanpa siap nafas. Akibatnya, hidungku kemasukan banyak air dan begitu bisa mengangkat kepalaku ke permukaan, aku megap-megap seperti ikan yang terlalu lama dibiarkan di daratan kering. Aduh, mana airnya dingin banget, lagi! Rasanya sebentar lagi tubuhku bakal beku. Sialnya, ketiga orang tak berperasaan itu malah memandangku geli sambil ngakak-ngakak sampai muka mereka merah.

Sialan mereka!!

Akan kubalas semua ini!

Aku merayap naik ke atas kolam dengan tampang sok garang, dan ketiga orang tak berperasaan itu langsung mundur selangkah sambil masih ngakak-ngakak tidak jelas. Aku tersenyum penuh arti, kemudian mendorong Erica masuk kembali ke kolam. Ia tercebur dengan sukses sampai seluruh tubuhnya basah oleh air dingin. Sekarang, ia sedang terkekeh-kekeh sambil mencoba naik lagi.

Dengan sigap, aku mendorong Kak Marcell ke dalam kolam. Tapi, cowok itu malah menarik ujung mantelku sehingga aku ikut terseret jatuh ke kolam renang.

“Aaaahh!!”

Aku berteriak saat kami berdua tercebur bersamaan ke kolam renang. Aku jatuh dengan gaya yang memalukan—memegangi kedua pundak Kak Marcell dengan wajah yang sangat dekat dengan wajahnya! Menyadari jarak wajah kami yang hanya terpaut sekitar sepuluh sentimeter, aku langsung menarik diriku ke belakang sehingga aku tercebur dengan gaya telentang yang, lagi-lagi, memalukan. Kak Marcell dan Erica tertawa terbahak-bahak dan membuatku kesal setengah mati.

Huh, menyebalkan!

“Don! Masuk sini, gih! Seru lho!” Kak Marcell berteriak memanggil Donny yang masih setengah berjongkok di tepi kolam.

“Oke, Bos!”

Dengan sukarela, cowok itu melepas jaketnya dan melompat ke dalam kolam renang.

Bum!!!

Air kolam menyembur ke mukaku dengan ganas, dan aku langsung batuk-batuk saat beberapa tetes air masuk ke saluran pernafasanku.

“Sialan banget!”

Pekikanku yang keras membuat ketiga orang tak berperasaan itu—lagi-lagi—tertawa keras-keras. Sepertinya mukaku cocok jadi korban bullying malam ini. Benar-benar sialan banget, seperti kataku tadi.

Kami bermain-main di kolam renang bersama peserta lainnya. Ada yang mengadakan permainan-permainan lucu seperti lomba menahan nafas di dalam air, couple race di mana si cowok menggendong si cewek berenang dari ujung satu ke ujung lainnya, saling lempar bola (yang kemunculannya kuanggap misterius karena aku sama sekali nggak lihat ada yang bawa-bawa bola saat masuk ke kolam tadi), sampai lomba sok-sok lompat indah (tentu saja bukan lompat indah sungguhan, karena tidak ada di antara kami yang bisa melakukannya). Puncaknya, Dokter George pun ikut-ikutan digotong masuk ke kolam renang. Pokoknya acara ini seru banget, deh!

Karena keseruan yang tercipta, kami sampai lupa waktu. Akibatnya, acara bonfire baru dimulai ketika jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Namun, kendati sudah malam, euforia para peserta tetap tidak surut. Kami mengadakan games lagi saat acara barbekyu, dan tertawa terbahak-bahak saat Om Paul mulai menari salsa bersama Tante Frida dengan tubuh masih basah kuyup. Om-Om satu itu memang kocak banget.

Kami bahkan masih tertawa-tawa dengan heboh saat sudah waktunya tidur. Aku belum merasa ngantuk sama sekali, tapi tidak begitu halnya dengan Erica. Wajahnya sudah tampak loyo bak tidak mendapatkan tidur selama berhari-hari. Yah, sepertinya dia memang terbiasa disiplin waktu. Tidur pada jam dua belas malam pasti bukan gayanya.

“Aku capek,” keluhnya saat kami semua sudah selesai mengeringkan tubuh dan membersihkan diri, “Tidur dulu, ya.”

“Ya,” seluruh penghuni kamar yang lain spontan menyahut. Beberapa orang tampak masih belum mengantuk sepertiku, tapi tampaknya kesegarbugaran itu malah lebih ingin mereka gunakan untuk bermain HP.

Sampai saat Erica sudah terlelap dengan pulasnya, mereka masih sibuk bermain HP, entah apa yang mereka lakukan dengan begitu asyik dalam benda kecil itu. Aku sampai jadi bete sendiri dibuatnya.

Setelah cukup lama, akhirnya wanita yang tampak paling tua itu—lagi-lagi aku belum tahu secara persis namanya—memutuskan untuk tidur. Hanya tersisa aku dan dua orang lainnya yang masih sibuk memainkan HP mereka masing-masing. Aku mencoba menyibukkan diri dengan HP-ku sendiri, tapi tidak ada aktivitas yang berarti di sana.

Bahkan Stephanie tidak SMS maupun telepon. Yang benar saja, aku bahkan tidak memberitahunya kalau aku pergi camp, yang berarti dia tidak tahu mengapa aku tidak muncul di rumahnya dalam waktu yang lama. Tapi dia sama sekali tidak khawatir?

Dia ini sudah lupa sungguhan padaku atau bagaimana, sih?

Kesal, kubanting HP-ku dengan keras ke atas kasur. Bunyi “bugh” yang tercipta akibat benturan HP dengan kasur sama sekali nggak mengusik dua orang yang sedang memelototi HP mereka masing-masing itu. Huh, aku jadi semakin kesal.

Kulirik jam dinding dan menyadari bahwa saat ini sudah jam setengah satu dini hari. Merasa masih belum mengantuk, aku memutuskan untuk keluar kamar.

Apa yang sebaiknya kulakukan, ya?

Oh, ya! Benar banget! Kenapa aku tidak pergi ke ruang alat peraga dan melihat-lihat saja? Ya, ya. Ruangan itu pasti sudah sepi tengah malam begini. Dokter George maupun peserta lainnya nggak mungkin ada di sana, jadi aku bisa bereksperimen dengan alat-alat peraga yang ada di sana sendirian!

Menyadari bahwa ide itu kedengaran sempurna, aku buru-buru berlari turun sambil berusaha tidak menimbulkan suara.

Benarlah, ruangan itu kosong melompong. Hanya beberapa sampah sisa praktik tadi sore yang menandakan bahwa ruangan itu punya fungsi lain selain ditelantarkan begitu saja. Walaupun sebenarnya ruangan praktik ini adalah ruangan paling menarik di seisi villa, namun tak dapat dipungkiri, ruangan ini juga merupakan ruangan terjelek sekaligus terbutut di seisi villa. Selain karena kesempitannya, alat-alat peraga di sini juga sepertinya sudah cukup lama dianggurkan.

Aku mulai melihat-lihat tiruan kerangka manusia yang berjejer-jejer di sisi kanan ruangan. Tiruan-tiruan itu benar-benar merepresentasikan kerangka manusia asli, hanya saja ukurannya agak kurang realistis karena lebih mirip kerangka manusia gigantisme daripada kerangka manusia normal. Yeah, mungkin tiruan ini sengaja dibuat lebih besar agar memudahkan dalam penggunaan sebagai alat praktik.

Saat sedang asyik melihat-lihat alat peraga lainnya, mendadak saja terdengar suara pintu berderit tanda dibuka. Buru-buru aku nyungsep ke belakang lemari kaca tempat meletakkan tiruan organ pencernaan manusia. Ngumpet di belakang lemari kaca tidak terdengar terlalu bagus, sih. Soalnya, kalau orang benar-benar memperhatikan, muka kita akan terekspos dengan jelas karena kaca yang menyusun lemari itu tembus pandang. Tapi, kalau orang itu hanya mengecek sekilas, pasti kita tidak bakal kelihatan.

Kupejamkan mata saking takutnya melihat siapa pun yang mungkin muncul dari balik pintu. Yeah, katakanlah aku aneh karena mengira sosok itu mungkin hantu, atau lebih parah lagi, salah satu anak buah Dokter George. Aku bisa mati kalau benar begitu. Soalnya, di jam-jam segini, aku seharusnya sudah tidur atau, minimal, sudah ngetem di kamar. Bisa-bisa aku dituduh hendak mencuri sesuatu dari sini, lalu selamanya aku bakal dicap pencuri goblok! Atau, lebih parah lagi, aku bakal—

“Luna?”

Mati aku! Mati, mati, mati! Dia melihatku! Dan lebih parah lagi, dia mengenaliku!

Goodbye imej baik, hello imej pencuri goblok…

“Luna? Itu elo?”

Eh, tunggu dulu. Bukankah ini suara…

…Kak Marcell?

Takut-takut, kubuka kedua mataku pelan-pelan, dan pandanganku langsung berserobok dengan tatapan lembut Kak Marcell yang tampak bertanya-tanya. Rasa deg-degan di hatiku digantikan aliran hangat yang menyenangkan. Thanks God

“K-Kak Marcell?”

“Iya, ini gue,” Kak Marcell menjawab, “Ngapain lo di situ?”

“Kak Marcell ngapain di sini?”

“Lo jawab duluan.”

“Oke,” aku terdiam sebentar, menyiapkan kata-kata yang pas untuk menggambarkan apa yang sedang kulakukan di tempat ini. “Gue ngumpet.”

“Ngapain ngumpet?”

“Ya gue takut kalau ketahuan berada di sini,” jawabku, “Bisa-bisa gue dikira punya niat jahat.”

Kak Marcell terkekeh, “Emangnya ngapain lo ke sini malam-malam?”

“Gue cuma pingin lihat-lihat,” jawabku, “Nggak ada kerjaan di kamar.”

“Oh…”

“Kak Marcell sendiri?”

“Gue ke sini karena dengar suara pintu yang dibuka. Gue kira siapa, malem-malem bikin ribut.”

Haaaaahh?!?! Jadi, dia bisa dengar suara yang kutimbulkan? Suara yang kutimbulkan bikin ribut? Astaga! Mati sungguhan aku! “Hah? Suaranya… kedengeran?”

“Dari kamar gue doang, kali. Soalnya kamar gue kan persis di sebelah.”

Fiuh… Aku manggut-manggut dengan lega. Syukurlah. Padahal kukira suara itu bakal kedengaran juga dari kamar Dokter George di lantai dasar.

“Lo nggak berniat keluar dari situ?”

Oh iya. Aku baru sadar sejak tadi masih terhimpit di antara lemari kaca dan dinding. Kugeser tubuhku untuk keluar, tapi lalu kusadari bahwa keluar dari himpitan ini tidak semudah masuk ke dalamnya. Bahkan, setelah mengecilkan perut sampai rasanya sebentar lagi ususku bakal mengkeret, tetap saja aku tidak bisa keluar. “Kak…”

“Nggak bisa keluar?” Kak Marcell mengangkat kedua alisnya, “Sini, biar gue bantu.”

Kak Marcell mendekat dan mendorong lemari kaca yang menghimpit tubuhku sehingga kini aku bisa keluar dengan mudah.

Thanks, Kak,” aku tersenyum. Kak Marcell membalas senyumanku dan membuat jantungku langsung berdebum-debum tidak karuan.

You’re welcome,” jawabnya sambil memperlebar senyum di wajahnya.

Aku hanya bisa membeku dengan tampang bego di tempatku berdiri. Ya ampun, baru kusadari, Kak Marcell benar-benar ganteng banget malam ini! Bukan cuma ganteng, tapi ganteng BANGET! B-A-N-G-E-T!

“Nah, katanya lo mau lihat-lihat,” dia berkata, “Kedengarannya seru. Gue ikutan.”

Aku masih tetap melongo di tempat tanpa bergerak.

“Na? Luna? Lo kenapa?”

Aku menampar pipiku sendiri dan tersenyum, “O-oh, lo mau ikutan? Boleh. Yuk.”

Kami mulai berjalan mengitari ruangan dan melihat-lihat alat peraga yang bentuknya unik-unik. Mulai dari tiruan jantung, paru-paru, usus, sampai tiruan bakteri penyebab sakit kulit segala. Kak Marcell tampak sama tertariknya denganku terhadap tiruan-tiruan lucu itu.

Saat kami sedang melihat-lihat, mendadak kakiku tersandung kabel sampai aku nyaris jatuh terjerembap ke depan. Namun, dengan sigap, Kak Marcell langsung menahan kedua pundakku, kemudian menegakkan tubuhku. Aku dapat merasakan nafas lembutnya membelai kedua pipiku. Oh God, lagi-lagi wajahnya dekat banget dengan wajahku!

“Nah,” ujarnya dengan suara lembut, “Lain kali lo harus lihat-lihat jalan.”

Aku benar-benar terhipnotis olehnya malam ini. Dan mendadak, entah mendapat kesadaran dari mana, aku menyadari bahwa aku sudah jatuh cinta padanya. Bukan sekadar suka atau mengagumi tampang gantengnya yang melebihi manusia normal, melainkan benar-benar jatuh cinta. Perlakuannya, sikapnya, senyumnya, wajahnya, semua yang ada pada dirinya…

Oh, God. You must be kidding me!

TO BE CONTINUED

And yeah, you must be kidding me. Ini part terpanjang yang pernah aku buat, length-nya aja 29 pages, bayangin coba.-. beda jauh sama part sebelomnya, ini bisa dibilang new record so far. Aku nggak tahu apa yang mau aku tulis di part ini jadinya mungkin ceritanya agak aneh gitu, entahlah, but I hope kalian nggak pusing ngebacanya, soalnya aku takut adegan Luna mabok darat nular ke para pembaca yang malang(?)

Ohya, kayaknya habis ini aku mau ngambil hiatus alias ngilang sementara._. UAS sudah didepan mata soalnya, jadi kemungkinan besar part 7-nya masih agak lamaan dikit.. untuk part 7, aku udah ada gambaran dikit mau dibuat gimana, jadi mungkin nggak seribet bikin part 6 yang melelahkan ini-_-

Oke, I guess sekian aja deh._.

Next chapter : 7

Download the Ebook?

download-icon2

Advertisements

12 thoughts on “[CHAPTER SIX] Little Stories of Ours

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s