[CHAPTER SEVEN] Little Stories of Ours

Cover by Cindy Handoko

Cover by Cindy Handoko

Copyright © 2013 by Cindy Handoko

Previous chapters : 1 || 2 || 3 || 4 || 5 || 6 

Tujuh

Stephanie

Mungkin hanya kebimbangan yang dapat mengisi relung hatiku.

 

***

“JER,” aku memutar kedua bola mataku sambil menatap Jerry dengan pandangan sedikit sebal, “Udah, deh. Gue nggak bakal kenapa-kenapa. David cowok baik-baik, kok.”

“Dari mana lo tahu hal kayak gitu?”

“Ya akhir-akhir ini kan gue sering jalan sama dia. Gue jelas tahu lah!” Aku memekik kesal, “Lo nggak perlu ikut-ikutan kencan gue segala.”

“Karena gue peduli sama elo, makanya gue harus ikut!”

Aku menghela nafas berat. Yah, sejak pertengkaran pertama kami dulu, kami sudah berbaikan. Sulit rasanya bete lama-lama pada cowok satu ini. Apalagi, keesokan harinya, dia kembali menyapaku di sekolah seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Karena pada dasarnya aku bukan orang yang hobi memendam dendam pada orang lain, aku pun langsung memaafkannya dan kami berteman lagi seperti biasa. Tapi, sejak berbaikan itulah, Jerry mulai sok mengurusi kencanku dengan David. Dia terus-terusan memaksa untuk ikut dalam kencan kami. Aku tentu saja tidak setuju, walaupun dia sudah berkali-kali mengumbar janji bahwa dia tidak akan membiarkan David tahu keberadaannya dan tidak akan mengganggu aktivitas kami berdua. Biar bagaimana pun, aku sudah besar. Bukan lagi anak bayi yang perlu diawasi terus-menerus.

“Jer, plis deh,” aku melontarkan tatapan memohon, “Gue juga butuh privasi.”

“Memangnya apa sih, yang mau kalian lakuin?” Dia mengangkat sebelah alis, “Jangan bilang, dia mau ke rumah lo malem-malem dan melakukan hal-hal nggak senonoh.”

Aku spontan melotot, “Eh, ngaco! Nggak, lah! Gue juga bisa menjaga diri, Jer!”

“Ya kalo kalian nggak melakukan hal seperti itu, berarti nggak ada hal yang cukup privat yang nggak boleh gue lihat,” sahutnya santai dengan nada tegas. Astaga, mendebat cowok satu ini, aku tidak bakal menang. Kehebatannya dalam berdebat mengalahkan semua orang, termasuk Luna sekali pun. Terlebih lagi, suara kasar dan sengaknya membuat argumennya terdengar sangat meyakinkan.

“Privasi bukan berarti hal-hal seperti itu!”

“Terus, hal-hal seperti apa?” Dia melontarkan tatapan mengejek yang menyebalkan seraya mendengus, “Duduk nonton bioskop selama dua jam dan makan es krim lo sebut privasi?”

Aku menghela nafas berat. “Udah, ah. Terserah lo. Pokoknya lo nggak boleh ikutan. Udah, ya, gue kudu masuk. Rapatnya udah mau mulai.”

Tanpa menunggu reaksi darinya, aku segera beranjak dari tempatku berdiri dan masuk ke dalam gedung sekolah. Hatiku masih diliputi perasaan sebal pada orang yang entah sejak kapan sudah kuanggap sahabatku sendiri itu. Kenapa dia tidak bisa berhenti mengurusi masalahku, sih?

Masuk ke dalam Ruang Kesenian, beberapa orang tampak sedang asyik berbincang-bincang. Aku segera duduk di tempatku sendiri dan bengong karena tidak merasa punya sesuatu untuk dikerjakan.

“Dateng juga lo!”

Suara menyindir Evelyn terdengar keras. Aku mendongak dan mendapati cewek itu sedang menatapku dengan pandangan merendahkan. Melihat pandangan tidak menyenangkan itu, buru-buru aku menunduk lagi, kali ini lebih dalam daripada sebelumnya.

“Cih, sombong banget lo jadi orang!” Evelyn mendengus lagi. “Berasa penting?”

Aku menunduk semakin dalam lagi, menyembunyikan wajahku dari sorot mata tajam Evelyn yang kini terasa setajam laser. Oh Tuhan, kapan semua ini akan berhenti?

“Evelyn!”

Mendadak, sebuah suara bernada tegas terdengar dari ujung ruangan. Aku mendongak, bersamaan dengan Evelyn yang menoleh dengan tatapan ‘siapa-sih?-ganggu-banget’. Di ambang pintu, David sudah berdiri dengan pandangan yang menghunjam Evelyn tajam-tajam. Melihat siapa yang memanggilnya barusan, bahu Evelyn langsung tampak sedikit menegang, kemudian ia mendengus dan mencibir, lalu kembali ke tempat duduknya sendiri.

Aku mendesah lega saat cewek itu sudah memunggungiku. Akhirnya berakhir juga penderitaanku, setidaknya untuk sementara.

Baru satu detik debar jantungku kembali normal, David sudah berjalan ke arahku dengan senyum lebarnya. Mau-tak-mau, debar jantungku berpacu cepat lagi. Lebih cepat dari sebelumnya, malah.

“Lo nggak apa-apa, kan, Steph?”

Aku mendadak kagok, tidak tahu harus menjawab apa. Saking bingungnya, aku sampai hanya mengangguk ragu saja.

“Jangan dimasukin hati,” sambungnya seraya memperlebar senyum, “Mereka cuman iri sama lo.”

Aduh, apa dia barusan memujiku? Bukankah kalau dia menyangka mereka iri padaku, berarti menurutnya aku lebih baik daripada mereka?

Oke, aku mulai geer. Mana mungkin dia menganggapku lebih baik daripada anak-anak tim mading yang lain? Dilihat dari segi mana pun, aku jauh lebih buruk. Dalam hati, aku mencatat, mulai detik ini, aku harus lebih realistis. Nggak baik berkhayal terlalu muluk, Steph!

Kuanggukkan kepala pelan. Aku setengah berharap dia akan bertahan lebih lama dan mengajakku berbincang-bincang akrab, tapi setengahnya juga berharap dia segera pergi agar debar jantungku tidak semakin menggila. Bisa-bisa aku terkena serangan jantung dini karena terlalu banyak berada di dekatnya dan melihat senyumnya itu.

“Bagus, deh, kalau gitu,” ujarnya, “Oh, ya, nanti jadi, kan? Lo bisa, kan?”

Lagi-lagi aku hanya mengangguk pelan. Aduh, aku pasti kelihatan tolol banget. Kacau deh.

“Ya udah,” dia menjawab, “Kalau gitu, gue mulai rapatnya dulu, ya.”

Aku mengangguk lagi tanpa memedulikan imejku yang mungkin sudah dicap cewek kikuk oleh David. Tapi, cowok itu tidak tampak mempermasalahkan sikap anehku, dan langsung berjalan santai ke depan ruangan tanpa babibu lagi.

“Ehem!” Ia berdeham, memancing perhatian seluruh anggota yang kini sudah duduk di tempat mereka masing-masing. Keributan yang sempat terjadi karena percakapan dan bisikan yang saling bertumpuk pun lenyap. Setelah yakin semua perhatian sudah tertuju padanya, David pun memulai rapat.

Aku ikut memusatkan perhatian padanya yang kini mulai menjelaskan materi rapat dengan menggebu-gebu seperti biasa. Yah, rapat dimulai, artinya waktu bengong mengagumi wajah pangeran tampan juga dimulai!

***

Rapat selesai lebih awal hari ini, mungkin karena beberapa materi penting sudah selesai dibahas beberapa hari yang lalu, jadi kami hanya membahas aksesori-aksesori tambahan yang akan digunakan untuk mempermanis penampilan mading saja hari ini—setidaknya, begitulah dugaanku, karena aku tidak benar-benar mendengarkan materi rapat. Membahas aksesori yang tidak terlalu penting, tentunya tidak makan waktu lama. Karena itu, saat jam baru menunjuk angka lima, rapat sudah dibubarkan. Yap, sekitar satu jam lebih cepat daripada biasanya.

Hari ini, David mengajakku jalan-jalan ke mall lagi seperti yang sudah cukup sering kami lakukan akhir-akhir ini. Cowok itu sekarang jadi semakin sweet saja perlakuannya. Ia sering meneleponku hanya untuk menanyakan apakah aku sudah makan atau mengirim SMS untuk mengucapkan selamat malam. Yah, aku tahu aku sudah mencatat untuk tidak kegeeran dan berpikir lebih realistis tadi, tapi boleh nggak sih, kalau aku menganggap hal seperti itu adalah hal yang dilakukan seorang cowok yang sedang PDKT?

Aku sempat mengutarakan pertanyaan itu pada Jerry, dan seperti yang telah kuduga sebelumnya, tanggapan cowok itu negatif banget. Aku bahkan masih ingat persis komentar sengit cowok itu saat aku menanyakan perihal kegeeranku itu padanya.

“Itu tuh tingkah cowok sok tebar pesona, tau?” Katanya sambil mengangkat sebelah alis.

“Kok lo selalu berpikiran negatif gitu, sih?”

“Lo pikir gue goblok?” balasnya sengak, “Denger ya, gue ngerti yang mana PDKT dan yang mana tebar pesona. Lo kalo nggak ngerti, nggak usah kegeeran.”

Kalimat itu sempat membuatku tersinggung setengah mati sampai nyaris ngamuk-ngamuk padanya. Tapi, mengingat nggak enaknya suasana pertengkaran kami yang pertama (dan penyebab pertengkarannya sama pula), aku mengurungkan niatku untuk membentak cowok itu.

“Ah, ya udah, deh, apa kata lo aja,” begitu akhirnya jawabanku, “Ntar dilihat aja deh ke depannya.”

“Oke, kita lihat aja.”

Dan aku ingat banget, setelah mengatakan empat kata itu, Jerry langsung rempong banget mengurusi kencanku dengan David. Sepertinya dia benar-benar menanggapi kata ‘kita lihat aja’ dengan serius, sampai mau mengamati segala hal yang kulakukan bersama David. Awalnya, kupikir dengan melihat kedekatanku dengan David, dia akan bungkam. Maka, kuizinkan dia ikut dalam kencan setelahnya—dengan beberapa syarat, tentunya. Seperti tidak boleh membiarkan David tahu kalau dia mengekorku, dan tidak boleh menggangguku dan David. Tapi, kenyataannya, sepulang dari kencan itu, Jerry tetap memaksa hendak ikut kencan-kencan kami yang berikutnya. Aku jadi mulai merasa terganggu dan akhirnya melarang cowok itu untuk ikut campur masalahku dengan David. Kehadirannya benar-benar tidak mengindahkan hal yang dinamakan ‘privasi.’

Kuharap dia tidak bakal mengacaukan kencanku yang kali ini juga. Sudah berkali-kali kuperingatkan padanya untuk berhenti mengikuti kencan-kencanku, walaupun sebenarnya aku tahu, dia bukan tipe orang yang gampang diperingatkan. Kalau dia tipe orang yang gampang diperingatkan, sudah dari dulu-dulu dia meninggalkan predikat siswa paling bandel dan berandalan nggak naik kelas yang memalukan itu. Kenyataannya, sampai sekarang pun dia masih memegang predikat itu, plus predikat orang yang kepo luar biasa alias selalu kepingin tahu urusan orang lain. Sumpah, kalau aku dapat predikat negatif sebanyak itu, mungkin aku sudah bunuh diri duluan. Dapat predikat hantu gara-gara kulit putih pucat dan pita suara yang hemat pengeluaran saja sudah cukup bikin depresi!

Setelah rapat dibubarkan, aku tidak langsung keluar dari ruangan. Seperti biasa, aku tetap duduk dan menunggu satu-per-satu anggota meninggalkan ruangan, hingga hanya tersisa aku dan David di dalam ruangan. Cowok itu selalu keluar paling akhir, mungkin berkaitan dengan jabatannya sebagai ketua, yang artinya nggak sopan banget keluar paling awal dalam rapat-rapat. Atau mungkin juga karena banyaknya berkas-berkas yang selalu menghiasi mejanya di setiap rapat, yang harus dibereskan dan dimasukkan ke dalam ransel hitamnya.

“Lomba mading sudah makin dekat ya,” ujarnya tiba-tiba. Tidak menyangka bakal diajak bicara, aku malah hanya mengangkat kedua alis dengan tampang superbego.

“Hm?”

“Yah, nggak sampai dua bulan lagi, lho,” ia menyambung.

Menyadari kejanggalan dalam pernyataannya itu, aku mengerutkan kening dalam-dalam, “Hah? Bukannya sudah tinggal seminggu lagi?”

David berhenti membereskan berkas-berkas dan menatapku dengan pandangan bertanya-tanya, “Lo nggak merhatiin pengumuman gue di rapat tadi?”

Wah, aku bahkan nggak tahu kalau ada pengumuman darinya. Inilah salah satu alasan mengapa aku sempat berpikiran untuk mulai memperhatikan ocehan David alih-alih hanya mengagumi wajah gantengnya setiap saat. “Pengumuman… apa?”

David terkikik geli, “Lucu banget sih lo. Itu lho, sekolah kita bakal langsung diajukan buat mewakili kota Jakarta dalam lomba tingkat provinsi.”

Kerutan di keningku bertambah banyak, sampai rasanya sebentar lagi aku akan bertransformasi menjadi nenek-nenek keriput, “Hah? Bukannya harusnya kita ikut yang tingkat kota dulu?”

“Ya, memang awalnya gitu,” jawabnya, “Tapi berkat tangan sakti Bu Rifda, kepala sekolah kita tercinta, kita bisa langsung maju tingkat provinsi.”

“Bu Rifda… nyogok?”

“Nggak bisa dibilang gitu juga, sih. Jadi, seharusnya ada delapan kota yang bakal mengikuti lomba tingkat provinsi, dan tiap kota mengajukan satu perwakilan. Tapi, berkat koneksi Bu Rifda dengan pihak penyelenggara lomba, Jakarta jadi bisa mengajukan dua perwakilan, deh.”

“Jadi kita nggak ikut lomba yang seminggu lagi itu?”

“Nggak. Kita udah positif diajuin buat jadi perwakilan. Lomba yang minggu depan itu cuma buat milih perwakilan yang satu lagi.”

Aku manggut-manggut, “Sip juga koneksinya Bu Rifda.”

David terkekeh, “Tapi, itu berarti saingannya tambah berat. Kita harus bikin mading yang lebih bagus lagi. Kalau menang nanti, bisa dapat piagam yang bakal berguna buat masuk kuliah desain grafis.”

Aku manggut-manggut lagi. Sebenarnya aku kepingin bilang kalau aku tidak tertarik kuliah desain grafis, sih, tapi lalu kuurungkan niatku itu agar aku tidak kelihatan seperti orang tidak berkepentingan dan bertanya padanya, “Lo pingin masuk DKV?”

“Bisa jadi pertimbangan,” jawabnya, “Lumayan tertarik juga.”

Bersamaan dengan kalimat terakhirnya, ia memasukkan berkas-berkas ke dalam tas ransel dan menutup ritsleting tas, kemudian menyampirkan tas itu ke pundaknya dan berbalik menghadapku.

“Yuk. Lo udah selesai, kan?”

***

Begitu keluar ke pekarangan depan, satu-satunya hal yang kupikirkan adalah mencari sosok Jerry dan memberikan barang satu atau dua pelototan padanya. Yah, suasana sedang bagus sore ini. Tidak lucu kalau dia mendadak muncul dan membuntutiku lagi. Bisa rusak sore yang seharusnya indah ini.

Mencari cowok itu sama sekali tidak sulit, karena seragam putih-putih petugas upacaranya jelas-jelas mencolok dan kelihatan bersinar-sinar di antara celana-celana abu-abu yang biasa dikenakan siswa sekolahku. Si pemakai seragam, seperti biasa, sedang nangkring dengan santai, bersandar pada sepedaku yang jadi kelihatan kecil banget kalau disandingkan dengan tubuhnya. Melihatku, dia langsung berjengit dan menegakkan posisi sandarannya.

Aku sudah siap untuk memberi sebuah pelototan garang padanya, saat mendadak David menoleh padaku dan aku terpaksa memasang senyum sok asyik.

“Kita ke PIM lagi?”

“Mm… yah, terserah lo, deh,” jawabku.

“Bosen. PS aja, yuk!” David mengajak seraya tersenyum lebar. Melihat ekspresinya itu, aku tahu, aku nggak bakal sanggup menolak permintaannya.

“Boleh.”

Dari sudut mataku, dapat kulihat Jerry sedang meringis dengan sumringah sambil memasang tatapan ‘hahaha-gue-tahu-tujuan-lo’ dengan bangga. Aku mendengus kesal. Astaga, gagal, deh, rencana memelototi cowok itu supaya dia nggak menggangguku lagi! Sekarang, yang bisa kulakukan cuma berdoa semoga kencanku kali ini nggak bakal jadi hancur-hancur amat gara-gara dia.

***

Aku dan David yang naik mobil, tentu saja, sampai lebih dulu di Plaza Senayan daripada Jerry yang cuma naik sepeda. Kesempatan ini kumanfaatkan untuk mengajak David ngacir sejauh-jauhnya supaya Jerry nggak bisa menemukan kami. Akhirnya, kami sepakat untuk minum kopi dulu karena lelah sehabis membahas mading berjam-jam.

Aku mengajaknya duduk di pojok belakang kafe, dekat dengan tirai yang agak menutupi meja kami dari luar. David sama sekali nggak bertanya alasan mengapa aku minta duduk di pojok belakang, dan hanya mengikutiku saja. Beruntung, dia nggak curiga. Kalau sampai dia menanyakan alasanku memilih meja ini, aku pasti kagok dan tidak tahu harus menjawab apa. Masa iya, aku akan menjawab, “Ada orang kepo yang ngebuntutin kita, Kak!”? Bisa-bisa aku ditertawakan olehnya.

Ah, sudahlah. Lupakan Jerry. Lebih baik kunikmati saja kencanku dengan David dan tidak memikirkan penguntit lancang itu.

Seorang waitress menghampiri meja kami dengan senyum ramah. Ia meletakkan dua buah buku menu dengan sopan dan hati-hati di hadapan kami masing-masing. David segera membolak-balik buku menunya sementara aku hanya melihat-lihat gambar yang dipajang di sana. Jujur saja, aku belum pernah pergi ke kafe ini. Jadi, aku bingung mau pesan apa.

“Americano satu ya, Mbak,” David memesan setelah puas membolak-balik buku menu di tangannya. Si waitress terlihat mencatat pesanan David di atas kertas yang dibawanya. “Steph, lo mau pesan apa?”

“Mm… yang recommended apa, sih, di sini?” tanyaku pada akhirnya. Menjawab dengan nada tenang sepertinya pilihan yang lebih menyenangkan daripada menjawab dengan nada bingung. Setidaknya, itu nggak malu-maluin.

“Untuk yang recommended, kami punya Caramel Frappuccino, Americano, Vanilla Latte, dan Cookies&Cream Blended Coffee,” si waitress menjawab dengan ramah. Karena tidak menangkap satu pun nama minuman yang disebutkannya kecuali “Caramel Frappuccino,” akhirnya aku memutuskan untuk memesan itu saja.

“Caramel Frappuccino-nya aja, Mbak,” ujarku akhirnya, dan si waitress langsung mencatat pesananku.

“Baik, untuk pesanannya, satu Americano dan satu Caramel Frappuccino. Ada tambahan?”

David memandangku dengan tatapan ‘lo-mau-nambah?’ dan kubalas dengan sebuah gelengan. David pun menjawab si waitress, “Nggak ada. Itu aja.”

“Baik. Mohon ditunggu kurang lebih lima belas menit untuk pesanannya, ya,” setelah mengatakan hal itu, si waitress lalu berjalan meninggalkan kami dengan anggun.

Aku dan David hanya terdiam selama beberapa saat. Tidak ada di antara kami yang sepertinya mau memulai pembicaraan. Aduh, aku jadi deg-degan sendiri. Sekarang dia malah memandangiku! Astaga…

“Untuk acara belanja lusa nanti, lo harus ikut, ya.”

Tidak menyangka akan diajak bicara, aku mengangkat kedua alis dengan ekspresi ‘hah?-acara-belanja-apaan?’ dan disambut gelak tawa David yang terdengar menahan geli.

“Jangan bilang lo nggak denger pengumuman gue soal itu juga!” ujarnya di tengah-tengah gelak tawa.

Jujur saja, aku memang tidak dengar dia berkata apa-apa mengenai hal ini tadi. Bodohnya aku, seharusnya aku berhenti memandangi wajah David terus dan mulai benar-benar mendengarkannya!

“Stephanie, Stephanie…” David menggeleng-geleng begitu gelak tawanya telah reda, “Jadi, sebenarnya apa sih, yang sibuk lo lakuin saat rapat?”

Aku hanya bisa meringis sok asyik, enggan menjawab pertanyaannya itu. Lagi-lagi, amit-amit banget kalau aku dikira psikopat yang sedang mengawasi gerak-gerik mangsa—dalam hal ini, David. David tampak tidak mau memperpanjang pertanyaannya tadi agar aku menjawab, dan itu membuatku lega setengah mati. Dia lebih memilih menjelaskan maksud perkataannya tadi.

“Jadi, lusa akan ada acara belanja lagi. Soalnya tema mading bakal diubah. Persiapan-persiapan sebelumnya kan kita siapin buat lomba mading kota, dan tema awalnya Love All Around—oke, lo pasti tahu hal ini, soalnya lo ikut acara belanja sebelumnya. Tapi, berhubung kita udah langsung ditembusin ke tingkat provinsi, kita juga dikasih bocoran mengenai tema mading untuk tingkat provinsi itu, dan temanya Nature, jadi kita harus mulai ngerombak hiasan dari awal.”

Oh, aku bahkan tidak tahu apa-apa soal hal yang dibicarakannya itu. “Oh, gitu…” aku menggumam sok paham.

“Jadi, lusa ikut, ya?”

“Boleh,” jawabku singkat.

“Tenang aja, lusa nanti Evelyn sama Jessica nggak ikut. Jadi, mereka nggak bakal gangguin lo lagi,” David menambahkan dengan senyuman lebar yang hangat. Astaga, ketimbang hal luar biasa dalam ucapannya, aku lebih dibuat sumringah dengan senyumnya itu!

“O-oh, yah… ba-bagus, deh,” jawabku kagok.

“Lo awalnya udah takut, ya, sama mereka?”

Aku tidak tahu harus menjawab ‘iya’ atau ‘tidak’. Seharusnya sih ‘iya’, tapi pasti aku bakal kelihatan cemen kalau menjawab seperti itu. Jadi hanya kuangkat kedua alisku—seperti biasa, karena aku nggak bisa mengangkat satu saja—dan menggigit bibir bawahku tanda aku enggan menjawab.

“Udah lah,” dia berkata, “Nggak usah takut sama orang-orang kayak gitu. Nanti juga mereka capek sendiri.”

Aku mengangguk-angguk. Ketimbang menanggapi ucapannya, otakku lebih sibuk mengagumi wajahnya dan jantungku sibuk memukul-mukul dadaku seakan ingin meloncat keluar dari sana. Untunglah, jantungku nggak bisa loncat beneran. Kalau bisa, David pasti syok melihat jantungku loncat-loncat, menari shuffle, atau bahkan melakukan moonwalk tepat di depan mukanya.

Untuk beberapa saat, kami hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku bingung harus memulai pembicaraan seperti apa, karena satu-satunya hal yang terlintas di otakku sekarang ini hanyalah mengagumi kegantengan wajah David. Masa iya, aku mau ngomong “Astaga, Kak! Demi Tuhan, lo ganteng bangeeeet!” padanya? Bisa-bisa aku dikira cewek ganjen plus lebay!

Sampai pesanan kami datang pun, masih belum ada sepatah kata pun meluncur dari mulut kami—baik aku maupun David. Cowok itu tampak sedang berpikir keras, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu hendak mengucapkannya. Aku meminum Caramel Frappuccino-ku pelan-pelan sambil menunggunya mengatakan sesuatu.

“Mm… Steph,” akhirnya dia membuka suara.

Aku berusaha tersenyum ramah dan meredam rasa penasaranku, kemudian bertanya, “Ya?”

“Gue… err… ada sesuatu yang harus gue omongin ke elo…”

“Ya? Mau ngomong apa?”

“Mm… gue agak ragu, sih, tapi gue udah lama kepingin nanyain hal ini ke elo.”

“Mau tanya apa, Kak?”

“Lo… mm… kalo gue… kalo gue bilang—“

“ANJRIT LO!”

Aku dan David langsung menoleh ke sumber suara. David menoleh dengan muka penasaran, sementara aku menoleh dengan muka kesal setengah mati karena perkataan David jadi terpotong. Aduh, padahal aku sudah penasaran banget dengan hal yang bisa membuat bicaranya jadi berbelit-belit dan terbata-bata begitu! Bisa saja, kan, dia mau menyatakan cin—ah, nggak jadi. Aku kan harus realistis. Lagipula, kami berdua belum lama dekat. Nggak mungkin dia bisa langsung suka padaku—dan bahkan mungkin selamanya mustahil dia bisa suka padaku.

Di meja yang agak jauh dari meja kami, terlihat seorang waiter sedang bingung menghadapi seorang pelanggan. Pelanggan kurang ajar itulah yang sepertinya berteriak keras-keras barusan. Aku menyipitkan mata dan langsung mengenali pelanggan kurang ajar itu sebagai…

…Jerry?

Astaga! Ngapain dia ke sini?! Padahal kukira dia nggak bakal menemukan kami! Aduh, ternyata orang kurang ajar yang menginterupsi pembicaraan serius David adalah dia! Menyebalkan banget nggak, sih?

“LO KALAU NGASIH HARGA PAKE MATA! Ini apaan?!” Jerry menunjuk-nunjuk botol air mineral di depannya dengan nada sarkastis.

Min-mineral water, Mas…” si waiter yang bertubuh kecil dan kelihatan penakut itu membalas dengan suara bagaikan terjepit.

“HARGANYA BERAPA?!”

“Lim-lima belas ribu, Mas…”

“TUH, KAN! Udah tahu cuman air putih biasa, masih berani ngasih harga nggak pake mikir gitu! Lo pernah tau warung?! DI WARUNG HARGANYA CUMAN EMPAT RIBU PERAK, GOBLOK!”

Aku langsung menunduk menyembunyikan wajah dengan malu. Ingin rasanya aku menjeduk-jedukkan kepala ke atas meja saking malunya. Haduh, jangan sampai ada yang tahu kalau aku teman cowok itu, apalagi David. Mau ditaruh di mana mukaku? Habis, dia malu-maluin banget, sih. Ya iyalah, air mineral di sini harganya mahal, orang ini kafe high class! Kenapa tingkahnya kayak orang katrok plus kere gitu, sih?

“Ma-maaf, Mas… tapi ini harga sudah dari manager-nya—“

“YA BERARTI MANAGER­-NYA YANG GOBLOK! Bilang manager lo itu, ada pelanggannya yang nggak puas! Suruh dia minta maaf ke gue terus ngegratisin pesenan gue, cepet!”

“Tapi, Mas—“

“Nggak pakai tapi! Lo kira gue bank, apa? Diporotin kayak ATM!”

“Mas, tapi—“

“’Tapi, Mas’ dan ‘Mas, tapi’ itu nggak ada bedanya, bego! Tetep ada tapinya! Udahlah, sana! Enyah lo dari pandangan gue, atau gue tonjok muka lo!”

Si waiter langsung buru-buru ngacir dengan wajah ketakutan. Aduh, keterlaluan si Jerry ini. Kasihan, kan, waiter itu? Dia cuma datang untuk meminta uang yang memang seharusnya dibayarkan Jerry, tapi sekarang nasibnya naas begitu dibentak-bentak Jerry di depan umum!

Yang bersangkutan, alias Jerry, tetap tampak santai dengan ekspresi datar dan soknya yang menyebalkan sambil duduk ala warteg. Semua pengunjung kafe terlihat memperhatikannya sambil berbisik-bisik, tapi dia masih bisa sok benar dengan tampang nggak tahu malunya itu. Astaga, sudah meneriakkan kata-kata kasar plus minta digratisin, masih bisa bertingkah saja dia!

“Lo kenal dia, kan?”

Sontak, aku nyaris terlonjak dari tempatku duduk. Aduh, David kok tahu, sih?! Jangan-jangan, dia bakal mengecapku teman-si-anak-rusak-yang-sama-rusaknya-tapi-sok-jaim? Oh Tuhan, Jerry berhutang banyak padaku untuk ini!

“O-oh, eh, eng-enggak, kok…”

David mengerutkan kening dengan bingung, “Tapi, dulu pas rapat mading kedua, lo diajak pergi sama dia, kan?”

Oh. OH! Gara-gara peristiwa itu rupanya dia tahu! “Mm… ehm, gue… waktu itu cuman mau… b-bayar hutang aja, kok. Tap-tapi gue nggak kenal sama dia…” dustaku.

“Oh gitu…” David mengangguk-angguk tanpa rasa curiga sedikit pun. Melihat tidak adanya ekspresi curiga di wajahnya, aku langsung menghembuskan nafas lega. Syukurlah, dia nggak sadar kalau aku bohong! Kalau dia tahu aku teman—dan bahkan sahabat—Jerry, mungkin dia bakal langsung enggan berhubungan denganku lagi dan imejku jadi jeblok sejeblok-jebloknya di depan matanya! “Lo jangan berhubungan dengan orang seperti itu, sebaiknya.”

“Mm… hehehe… i-iya…”

“Dia itu terkenal rusak banget, lho,” David menambahkan. Walaupun suaranya tidak keras, tapi dapat kulihat, Jerry langsung melotot garang padanya. Hancur, deh! Jangan sampai dia berniat menghampiri meja kami dan melabrak David!

Untungnya dugaanku nggak benar. Jerry tampaknya ingat dengan janjinya untuk tidak mengganggu aktivitasku dengan David, karena dia lalu hanya memutar kedua bola mata dengan sinis, dan kembali menikmati waktu duduk ala wartegnya. Syukur, deh, dia nggak macam-macam.

“Mm… Kak, tadi kam—lo mau ngomong apa?”

David terlihat sedikit bingung, tapi kemudian menjawab dengan nada santai, “Nggak jadi, deh. Lain kali aja.”

Yah… kenapa nggak jadi, sih? Padahal aku sudah penasaran setengah mati. Ini semua gara-gara Jerry si biang kerok! Pulang nanti, harus kuomeli dia sampai urat tenggorokanku menegang!

Aku menyeruput Caramel Frappuccino-ku yang sudah tinggal sedikit dengan setengah emosi. David tampaknya sudah selesai dengan minumannya sendiri.

“Udah, kan? Yuk, jalan,” David mengajak. Aku mengangguk, kemudian mengikuti cowok itu beranjak dari tempat kami duduk untuk keluar dari kafe. Aku berjalan di belakang David, melewati Jerry yang pandangannya selalu mengarah pada kami berdua. Dengan gerakan pelan sepelan-pelannya, aku meletakkan uang dua puluh ribuan ke atas meja Jerry, hanya agar cowok itu nggak disuruh mencuci piring karena nggak sanggup membayar atau diamuk sang manager karena kata-kata kasarnya.

Aku mengikuti David membayar minuman kami di kasir. Cowok itu memang selalu membayari pesananku. Awalnya, aku agak tidak enak padanya dan memaksa ingin membayar menggunakan duitku sendiri saja. Tapi, dia berkata bahwa itu adalah balas jasa karena aku sudah mau menemaninya jalan-jalan. Dan dia balik memaksa untuk tetap membayari semua pesananku. Jadi, yah… sekarang aku sudah lumayan terbiasa dengan hal itu.

Selama berjalan-jalan, aku tidak berhenti menoleh ke belakang untuk melihat apakah Jerry masih mengikuti kami. Sebenarnya, aku tahu kalau jawabannya pasti iya—karena tujuan cowok itu ke sini, kan, untuk membuntuti kami—tapi tetap saja aku rajin menengok untuk memastikan dia tidak berbuat ulah macam-macam lagi.

Langkah David mendadak berhenti di depan sebuah butik bereksterior keren. Butik itu adalah butik khusus gaun dan pakaian wanita, jadi aku agak sedikit bingung waktu dia berhenti di depannya.

“Mau… ngapain?” aku bertanya ragu.

“Butik ini punya temen gue,” jawabnya, “Kalau lo nggak keberatan, gue mau mampir sebentar.”

Menyadari bahwa aku tidak mungkin menolak permintaan cowok itu, aku hanya mengiyakan, “Boleh, deh.”

Dia pun masuk ke dalam butik, dan aku mengekor di belakangnya. Mbak-Mbak pelayan butik menyapa kami dengan ramah.

“Selamat datang,” ujarnya.

“Permisi, Mbak,” David tersenyum ramah, “Saya temannya Cindy.”

“Oh, temannya Non Cindy?” si Mbak-Mbak memperlebar senyumnya, “Mau cari Non Cindy, atau…”

“Ya, dia lagi ada di sini, nggak?”

“Ada, sepertinya. Sebentar, biar saya cek ke dalam,” si Mbak-Mbak buru-buru masuk ke bagian dalam butik. Iseng-iseng, aku melirik ke belakang dan melihat Jerry tidak mengikuti kami masuk ke dalam butik, melainkan hanya menunggu di depan butik sambil berpura-pura sibuk memainkan HP Nokia-nya yang jadul. Jelas sekali dia pura-pura. Habis, apa yang bisa dimainkan dari HP Nokia jelek yang bahkan bukan Qwerty itu? Seolah-olah HP-nya Android atau BlackBerry saja! Aku tertawa kecil melihat tingkah lucunya itu. Harus kuakui, dia ini konyol banget.

“Cindy ini…” David tiba-tiba menggumam, sepertinya mengajakku bicara.

“Hm?”

“Cindy ini… mantan pacar gue,” David menyambung dengan nada berat. Aku manggut-manggut sambil sebisa mungkin menyembunyikan rasa tidak sukaku karena dia masih mengurusi mantan pacarnya. Biar bagaimana pun, aku bukan pacarnya dan kami hanya sekadar teman dekat biasa. Jadi, sah-sah saja kalau dia mau mengurusi mantannya. “Butik ini sebenarnya punya kakaknya, tapi dia sering mampir ke sini untuk bantu-bantu.”

Tidak tahu harus menjawab apa, aku hanya mengangguk-angguk sok paham, “Oh…”

“Kami belum lama putus,” David menyambung tanpa terlihat ada niatan untuk menyudahi ceritanya, “Awal tahun ini, kalau gue nggak salah ingat.”

“Oh…”

“Sejak putus sama gue, dia pindah sekolah. Gue udah cukup lama nggak ketemu dia.”

“Oh…”

“Tapi, setahu gue, dia sering banget mampir ke butik kakaknya ini. Jadi, gue pikir, mungkin nggak ada salahnya menemui dia lagi pas kita lewat sini tadi.”

“Oh…”

“Sebenarnya, gue sendiri nggak tahu kenapa gue kepingin ketemu dia.”

“Oh…”

Mendengar jawabanku yang sangat monoton, David mengerutkan keningnya dalam-dalam. “Steph?”

“Ya, kenapa?”

“Lo nggak…” Entah hanya perasaanku saja atau bukan, David kelihatan takut salah ucap, “Mm… lo nggak—“

“Gue nggak apa?”

“Ah, lupain aja. Anggep aja nggak penting.”

“Apaan, sih?”

“Udah, lupain aja.”

“Apaan? Gue penasaran, lho.”

David menghela nafas dengan wajah serius, “Lo nggak berasa apa-apa, gitu?”

Hah? Berasa? Berasa apa? “Berasa apa, Kak?”

“Yah, tadi… waktu gue cerita soal Cindy, lo nggak ngerasain apa-apa?”

Aku nyaris melotot lebar-lebar kalau saja kontrol diriku tidak baik. Ya jelas lah! Masa dia nggak bisa membaca kalau aku cemburu, sih? Dia ini nggak peka atau apa?

Tapi, berhubung tidak mungkin aku mengungkapkan hal itu di depannya, akhirnya aku bersusah payah memasang senyum terlebar dan menggeleng, “Nggak, tuh.”

“Oh, gitu, ya?” David kelihatan sedikit kecewa, dan ekspresi kecewa itu membuatku bertanya-tanya dalam hati. Jadi, dia berharap aku merasakan sesuatu dengan cerita-ceritanya itu? Apa itu berarti… dia ingin aku merasa cemburu dan ingin mendapat bukti bahwa aku menyukainya? Dan apa itu berarti… dia juga menyukaiku?

Ah, ngaco aku! Nggak mungkin, kan, cowok seperti David bisa menyukaiku? Aku bukan cewek yang selevel dengan dia, bukan juga cewek yang sepertinya tipe idamannya. Mana mungkin, hanya dengan kedekatan kami akhir-akhir ini saja, dia bisa naksir padaku? Seperti pungguk merindukan bulan betulan, deh.

Setelah tiga kata terakhir darinya itu, kami hanya terdiam tanpa diiringi sepatah kata pun. Aku sibuk dengan terkaan-terkaan ngacoku sendiri, dan David entah sibuk dengan apa. Yang jelas, tidak ada satu pun di antara kami yang terlihat ingin memulai percakapan.

Sampai akhirnya, pintu bagian dalam butik terbuka, dan pelayan yang tadi menyambut kami masuk ke dalam butik diikuti seorang cewek cantik yang sepertinya seusia dengan David—yah, sekitar satu tahun lebih tua dariku, berarti. Melihat cewek yang baru saja keluar itu, aku langsung takjub sendiri.

Ya ampun, jadi ini, cewek yang namanya Cindy?

Cantik banget! Nggak heran David pernah suka—atau mungkin sampai sekarang, ya?—padanya! Habis, dia ini benar-benar tipe-tipe cewek populer!

Sebenarnya, cewek bernama Cindy ini tidak terlalu tinggi. Kulitnya juga tidak terlalu putih. Tapi, tinggi badan dan warna kulit itu terlihat sangat serasi dengan wajah manisnya. Rambutnya dicat Hazelnut dengan sedikit semburat cokelat tua dan pirang. Make up yang dikenakannya tidak membuat wajahnya kelihatan menor bak tante-tante, melainkan terlihat cocok sekali dengan usianya. Matanya bulat besar, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan merah. Tubuhnya juga ideal banget. Tidak kurus, tapi juga tidak gendut. Apalagi, sepertinya cewek ini punya selera fashion yang keren. Lihat saja mini-dress hitam-pink yang melekat indah di tubuhnya dan high-heels hitam berhias pita pink yang mempercantik kaki jenjangnya itu! Ya ampun, benar-benar seperti dewi yang jatuh dari khayangan, deh!

Melihat penampilan cewek ini, aku tahu satu hal : aku bukan tandingannya. Jelas saja, dilihat dari sisi mana pun, aku tidak lebih baik darinya. Satu-satunya hal yang bisa membuatku sedikit—sedikiiit banget—lebih unggul darinya hanyalah tinggi badanku. Maksudku, tanpa high heels pun, tinggiku sudah bisa menyamainya. Entah aku yang ketinggian, atau cewek ini yang kependekan—tapi, sepertinya memang dia yang kependekan, deh. Ups, bukannya mengejek, lho. Kan aku sudah bilang tadi, kalau tinggi badannya yang tidak seberapa itu justru terlihat serasi dengan penampilan imutnya?

Cewek itu tersenyum lebar melihat David, kemudian menghampiri kami dengan anggun. “Hai… kamu datang!” Setelah men-cipika-cipiki pipi David seperti layaknya teman yang sudah lama nggak ketemu, dia mengulurkan tangan untuk menyalamiku. Aku membalas uluran tangannya itu dengan senyum terpaksa. Dengan penampilan yang kebanting jauh begini, mana bisa aku tersenyum tulus? Mana senyum tulusku jelek banget, lagi. Bisa makin hancur penampilanku!

“Kamu udah punya pacar baru?” Cindy bertanya dengan nada bersahabat yang sama sekali nggak terdengar seperti nada cemburu atau sejenisnya.

“Mm, bukan pacarku, kok,” David menjawab enteng. Aku jadi merasa sama sekali nggak berkepentingan mendengar jawaban bernada enteng itu. Kesannya seperti aku ini orang nggak penting yang kebetulan saja ikut jalan-jalan ke sini dan—TADAAA—ketemu deh, aku sama Cindy. Tapi, semua perasaan aneh dan nggak berguna itu mendadak hilang saat David menyambung, “Belum, mungkin.”

Astaga! Apa tuh, maksudnya? Apa dia bermaksud untuk menjadikanku pacar suatu hari nanti?! Ya Tuhan, boleh nggak, aku geer untuk sekali ini saja?

Ah, ngaco lagi, kan! Nggak mungkin maksud David adalah ingin menjadikanku pacar suatu hari nanti! Melihat mantan pacarnya saja, aku sudah pesimis sendiri. Yah, bagaimana nggak pesimis? Cewek secantik Cindy aja diputusin sama David! Lalu, bagaimana nasibku ke depannya? Aku kan sama sekali nggak cantik!

“Oh, gitu…” kali ini nada bicara Cindy terdengar seperti menyembunyikan perasaan lain. Aku sendiri tidak tahu perasaan apa, tapi lalu dia tersenyum dan beralih menghadapku sembari mengulurkan tangannya lagi, “Siapa nama kamu?”

Dengan gerakan serba kikuk, aku membalas uluran tangannya dan mencoba untuk tersenyum seramah mungkin, “S-Stephanie…”

“Oh, senang kenalan dengan kamu, Stephanie. Aku Cindy,” dia menjawab. Kemudian, kami melepaskan jabatan tangan itu. “Yah, aku berharap yang terbaik aja, deh, untuk kalian.”

David tersenyum lebar, “Thanks, buat harapan baik itu. Oh iya, Kak Devi ada di sini, nggak? Aku udah lama nggak ketemu dia.”

Entah hanya perasaanku saja atau bukan, Cindy kelihatan agak kagok mendengar pertanyaan David itu, “Ah, mm… Kakak lagi nggak ada di sini. Dia lagi ngurus butik pusat. Nanti aku sampaikan salammu ke dia, deh.”

“Oh, ya udah. Jangan lupa ya, Cin,” David tersenyum semakin ramah, “Kamu sekarang makin cantik aja.”

Oke, aku tahu kalimat itu hanya basa-basi belaka, tapi entah kenapa, aku merasa sedikit cemburu. Katakan saja aku goblok, ganjen, geer, atau apalah. Tapi aku benar-benar berasa aneh dan kikuk dengan diriku sendiri.

Cindy menampakkan senyum yang—lagi-lagi—entah hanya perasaanku atau bukan, sepertinya dipaksakan. “Makasih,” jawabnya.

“Sekarang sekolah di mana?”

“Di IJDS. Aku langsung masuk ke sana dan berencana nerusin sampai empat tahun ke depan.”

Aku mengenali nama sekolah yang disebutkannya sebagai kependekan dari International Jakarta Design School, alias sekolah desain kenamaan yang terkenal mahal gila-gilaan dan kualitasnya sudah diakui secara internasional. Sekolah di sana sudah sama artinya dengan kuliah, dan itu berarti, setelah lulus dari sana, kita akan dapat gelar juga. Bahkan, lulusan dari sana kebanyakan bekerja untuk perusahaan desain di luar negeri yang top-top kualitasnya. Wow, cewek ini pasti tajir banget, bisa masuk ke IJDS segala.

“Oh, kamu berencana ngikutin jejak Kak Devi?”

“Nggak,” Cindy menjawab, “Aku pilih jurusan interior design, bukan fashion design. Entah kenapa, aku lebih suka desain interior. Lebih menantang ketimbang fasion design.”

“Ya udah, aku doain kamu sukses ke depannya,” David menyahut dengan senyum lebar yang tidak lepas dari bibirnya.

“Kalau Stephanie ini… sekolah di Bakti Nusantara juga?” Cindy bertanya. Lebih kepadaku, sepertinya, karena biar bagaimana pun, dia menanyakan tentangku. Tapi, David lebih dulu menjawab pertanyaannya itu—dan aku cukup lega dibuatnya. Soalnya, aku takut kalau keminderanku membuat jawabanku jadi nggak mutu.

“Iya, dia setahun lebih muda daripada aku,” David menjawab.

Cindy manggut-manggut, “Kalian sudah lama dekat, ya?”

Aku baru akan menjawab ‘belum’ saat David sudah menjawab duluan, “Lumayan.”

Aduh, kenapa jawaban itu bikin aku geer, ya? Tenang, Steph, tenang. Nggak mungkin David bermaksud macam-macam dengan ucapannya itu. Mungkin hanya formalitas semata. Lagipula, aku kan sudah mencatat untuk tidak terlalu banyak kegeeran tadi siang.

“Oh…” Cindy menjawab. Kemudian, kami bertiga diliputi keheningan yang sedikit menyiksa. Soalnya, suasana jadi terasa canggung banget, seolah kami nggak saling mengenal sama sekali.

Menghadapi situasi ini, Cindy terlihat gerah, karena detik setelahnya, dia buru-buru membuka suara, “Mm… kalau gitu, aku masuk dulu, ya. Soalnya masih ada beberapa hal yang harus aku kerjain.”

David tersenyum ramah, “Oke, sampai ketemu lain kali, ya.”

“Ya,” Cindy menjawab, “Nikmati waktu kalian, ya. Aku duluan.”

Setelah mengatakan hal itu, dia lalu berbalik dan masuk kembali ke bagian dalam butik. David mengajakku keluar dari butik dan berjalan-jalan lagi. Selama berjalan-jalan, aku tidak berhenti berpikir. Banyak sekali hal yang membuatku bingung. Sikap David yang sering banget bikin aku geer, atau alasan kenapa David dan Cindy putus, misalnya. Aku tahu, aku nggak seharusnya memikirkan hal itu atau kegeeran terlalu banyak. Tapi, otakku ini tidak bisa diajak berkompromi. Hingga acara jalan-jalan kami berakhir dan David mengantarku pulang pun, aku belum juga bisa berhenti berpikir.

***

“Yah, lo nggak tahu, sih.”

Kalimat itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Jerry saat aku ‘melabrak’nya mengenai kejadian memalukan di kafe mall kemarin. Cowok itu sama sekali tidak tampak bersalah, dan aku jadi semakin kesal dibuatnya.

“Apa yang gue nggak tahu?”

“David itu kemarin mau ngomong yang macem-macem,” Jerry menjawab, “Ulah cowok sok tebar pesona begitu, sih, gue hafal.”

“Kok bisa lo hafal?” cecarku, berusaha memojokkan cowok nggak tahu malu itu, “Jangan-jangan lo juga bagian dari mereka?”

“Enggak, lah,” jawabnya enteng, “Gue bisa hafal karena biasanya orang-orang seperti itulah yang langganan gue hajar. Tingkah mereka benar-benar nggak bisa ditolerir lagi oleh manusia biasa.”

“Berarti sama aja lo ngatain gue bukan manusia biasa, dong? Gue bisa tuh, mentolerir semua perlakuan David! Malahan, menurut gue, sikap dia nggak ada yang salah!”

“Bisa jadi lo bukan manusia biasa,” jawabnya tanpa rasa bersalah, “Jadi orang kok, percaya banget sama cowok munafik kayak gitu?”

“Jangan ngata-ngatain orang yang sama sekali nggak ada hubungannya sama elo, deh! Kenapa, sih, lo anti banget sama dia? Dia kan nggak pernah bikin salah sama elo!”

“Memang nggak pernah,” Jerry menjawab, masih dengan nada enteng yang membuatnya terlihat lima kali lipat lebih menyebalkan, “Tapi gue tahu dia akan bikin salah. Bukan sama gue, sih, tapi sama elo.”

“Cih, pede banget lo!” aku membalas dengan kesal, “Udah, deh. Mendingan lo nggak usah lagi bikin malu gue dengan melakukan hal-hal gaje kayak kemarin lagi! Kalau dia mau ngomong sesuatu, biarin dia ngomong. Lagian gue juga penasaran, kok, dia mau ngomong apa.”

“Lo mending percaya sama gue, deh!”

“Gue nggak bisa!”

Jerry memutar kedua bola matanya dengan tampang seperti menahan kesal mati-matian—tampang yang lebih pantas ditampilkan olehku daripada olehnya, sebenarnya. “Lo beraninya bertingkah sama gue doang, ya.”

Mendengar ucapannya yang sama sekali nggak nyambung itu, aku mengerutkan kening. “Maksud lo?”

“Kalo sama orang lain, lo sok jaim banget. Pakai sok malu-malu gitu, lagi. Sok-sok pendiam. Kalo sama gue, lo berani ngebentak-bentak gitu.”

Aku langsung melotot. “Gue nggak—“

“Tuh, kan! Pakai berani melotot segala lagi! Jangan-jangan lo sama munafiknya dengan David?”

Aku baru hendak membentaknya, tapi lalu otakku mendadak mendapat jawaban lain yang lebih smart, “Ya malah bagus, dong! Berarti gue jodoh, kan, sama dia?” Jawaban itu memang kedengaran sangat geer, tapi setidaknya, itu lebih smart daripada menjawab, “Gue melotot-melotot kan biar keren, bukannya munafik!”

Jerry malah menggeleng-gelengkan kepala seperti orang putus asa, “Ckckck… mana berani kegeeran, pula! Kalo temen-temen lo tahu sifat asli lo, udah pada ngacir jauh-jauh mereka! Ngeri nggak sih, ada hantu yang punya kepribadian galak tapi sok jaim biar dikiranya hantu berkharisma?”

Aku sudah pernah bilang belum, kalau cowok satu ini benar-benar kurang ajar dan bikin naik darah? Entah apa yang kupikirkan dulu saat memberinya ‘promosi’ sebagai sahabatku. “Lo nggak bisa lebih kurang ajar ya, daripada ini?”

“Bisa,” jawabnya enteng, “Lo mau tahu gue lebih kurang ajar lagi?”

Melihat seringai jahil di wajahnya, aku tahu, nggak ada gunanya bete pada cowok ini. Yang ada, aku malah bakal diisengin habis-habisan sampai darahku mendidih di ubun-ubun. Mungkin inilah mengapa kebanyakan orang enggan berurusan dengannya. Bukan karena dia kelewat rusak—yah, dia memang rusak, sih, tapi bagiku itu masih rada normal—tapi karena dia punya kekuatan bikin orang-orang di sekitarnya naik darah sampai kepingin nonjok mukanya. Mungkin aku harus diberi penghargaan sebagai satu-satunya orang yang sudi—dan yah… sebenarnya cukup senang—berteman dengannya.

“Nggak, makasih,” jawabku sok tenang. “Lebih baik lo gunain kekurangajaran lo itu untuk hal-hal yang lebih berguna.”

“Jadi, lo mau gue ngelabrak David?” Cowok itu menyeringai jahil lagi, dan… astaga! Seringai jahilnya itu…

Aduh, sudah berapa kali kubilang kalau aku seperti pernah melihat seringai itu? Sampai sekarang pun, aku masih belum bisa terbiasa dengan deja vu yang selalu kurasakan tiap melihat seringai yang, sebenarnya nggak pasaran itu. Di mana ya, aku pernah melihatnya? Kapan aku pernah bertemu dengannya sebelum ini?

“Lo diam aja, gue anggep setuju,” cerocosnya tanpa mikir.

“EH, JANGAN!” spontan aku memekik saat dia berdiri hendak mencari David untuk melabraknya. Aku tahu dia tidak serius, tapi tak bisa kupungkiri, aku jadi khawatir juga kalau-kalau dia benar-benar berniat untuk melabrak David. Soalnya, cowok ini tipe cowok yang tidak bisa diduga. Hampir semua ucapannya terdengar seperti kelakaran, tapi kadang-kadang dia serius dengan ucapan-ucapan itu. Bisa gawat kalau dia serius dengan yang satu ini.

Jerry mendengus dengan nada meremehkan, “Cih, begitu aja lo takut. Seberapa bagusnya sih cowok munafik itu di mata lo?”

Aku menghela nafas berat seolah ada beban yang begitu berat di pundakku saat dia mengatakan hal itu, “Denger, ya, Jer. Cowok yang lo sebut-sebut munafik itu adalah cowok yang bikin gue seneng, cowok yang bikin gue tergila-gila selama lima tahunan terakhir ini. Lo kalau nggak ngerti, mending tutup mulut aja. Soalnya gue butuh temen yang ngedukung gue, bukannya malah ngejelek-jelekin orang yang gue taksir begini. Gue sendiri nggak habis pikir kenapa orang yang udah gue anggap sahabat sendiri bisa segini teganya ngata-ngatain cowok idaman gue.”

Aku tahu, kalimat panjang lebarku barusan kedengaran lebay. Tapi, toh itu juga cuma kubuat-buat, kok. Aku nggak depresi sungguhan menghadapi tingkah Jerry. Aku hanya kesal karena dia tidak bisa menghargai keputusanku untuk mengejar David. Siapa tahu dengan bertingkah sok dramatis begini, dia bisa bertobat—walaupun kayaknya nggak mungkin banget, sih.

“Kalimat terpanjang yang pernah lo ucapin,” Jerry memasang tampang pura-pura takjub sambil bertepuk tangan, “Oh, dan gue baru tahu, lo ternyata menganggap gue sahabat.”

Mendengar pernyataannya yang—seperti biasa—nggak nyambung itu, aku tahu satu hal : aku sudah salah ngomong. Seharusnya aku nggak secara terang-terangan mengakui di depan cowok ini bahwa aku menganggapnya sahabat. Bisa-bisa dia kegeeran dan langsung mulai lebih merecokiku lagi karena menganggap dia punya hak sebagai seorang sahabat. Aduh, bodoh banget aku, pakai ngomong-ngomong kalau dia sudah kuanggap sahabat segala.

“Maksud gue, lo kalau mau jadi sahabat gue, ya harus menghargai semua keputusan gue,” jawabku spontan, “Gitu!”

Jerry mencibir, “Sori ya, Mbak. Emangnya muka gue terlihat kayak orang tertarik punya sahabat, gitu?”

Aku langsung memasang wajah datar dan menyahut, “Ya udah, kalau gitu, nggak usah sekalian jadi sahabat gue!”

“Yeee… emangnya gue tertarik sahabatan sama lo?”

“Ya udah, kalau gitu, lo nggak usah ngerecokin kencan gue sama David lagi!”

“Justru karena gue bukan sahabat lo, gue punya hak, dong!”

“Hah? Kok bisa gitu?”

“Kan tadi lo bilang, kalau mau jadi sahabat lo, harus menghargai setiap keputusan yang lo ambil. Nah, kalo sekarang gue bukan sahabat lo, berarti boleh dong, gue menentang keputusan lo?”

Sial. Aku sudah lupa seberapa lihainya cowok ini dalam berdebat. “Ya tapi kan, lo jadi nggak punya hak mengurusi masalah gue!”

“Gue mengurusi masalah lo sebagai temen yang baik, kok!”

“Cih, lo mana ada sisi baiknya?”

“Maksud gue kan baik, lo aja yang nggak nyadar. Makanya, Tuhan ngasih elo mata buat digunain, bukan cuma buat pajangan aja.”

“Lo ngejek gue?!”

“Nggak,” jawabnya enteng, “Cuma menasihati sebagai teman yang baik.”

Aku emosi betulan menghadapi cowok ini. Tingkahnya betul-betul menyebalkan. “Apa kata lo, deh.”

“Oke, berarti lo nurut ya, sama apa kata gue?”

“Nggak akan sudi,” jawabku sok ngambek. “Nurutin apa kata lo sama aja dengan bunuh diri.”

“Gue nggak nyuruh elo bunuh diri, bego!”

“Ya itu kan cuma perumpamaan!”

“Ckckck… orang pinter Bahasa Indonesia emang beda, ya. Ngaku kalah, deh. Soalnya nilai Bahasa Indonesia gue pas bab perumpamaan cuman 30 doang.”

“Lo nggak usah sok ngaku kalah, kali! Bilang aja lo mau nyindir!”

“Emang mau nyindir, kok. Nyindir kok disuruh bilang-bilang?”

“Ah, terserah lah! Emosi gue ngomong sama lo!”

“Ya bagus, deh. Tujuan gue emang mau bikin lo emosi.”

Aku memutar kedua bola mataku dengan tampang sok kesal. Kadang-kadang aku merasa, berdebat dengan cowok ini cukup menantang. Tapi lalu aku sadar, nggak mungkin aku bisa menang darinya. Sekarang, melihat ekspresiku yang mirip orang depresi, Jerry mulai terkikik-kikik geli seolah-olah mukaku ini adalah muka SpongeBob SquarePants yang kotak lucu. Ah, sialan. Kalau dia menganggap mukaku mirip SpongeBob, akan kubuat nasibnya jadi seperti Patrick Star yang serba sial itu!

“Ekspresi lo udah kayak mau nelen gue hidup-hidup,” cerocosnya.

“Emang gue pingin nelen lo hidup-hidup, kok!”

“Ampun gue! Punya temen kanibal gini serem juga! Hahaha…”

“Sialan lo!”

“Sialan-sialan begini, lo nganggep gue sahabat, kan? Ngaku lo! Hahaha…”

Eh, dia menyindirku, lagi! “Enggak, tau!”

“Halah, ngaku aja lo seneng punya sahabat cowok keren kayak gue!”

“Cih, keren dari mananya? Dari ujung kepala sampai ujung kaki, lo itu nggak ada keren-kerennya!”

“Berarti lo musti periksa mata habis ini! Katarak kali lo!”

“Lo bener-bener kurang ajar, ya!”

“Emang. Dan lo baru nyadar? Lo bener-bener goblok, ya!”

Eh, dia membalik ucapanku, lagi! “Enak aja lo ngatain gue goblok! Emangnya lo sendiri pinter? Kalo pinter, kok nunggak?”

“Emangnya tadi gue bilang kalo diri gue pinter? Tuli kali lo! Hahaha…”

“Ah, udah lah! Capek gue ngomong sama lo!” aku bersidekap dengan tampang sok kesal, sementara Jerry masih ngakak-ngakak tak karuan. Melihat ekspresinya yang kelihatan senang banget sudah berhasil menggodaku plus wajahnya yang merah semua seperti nyaris meledak, mau-tak-mau, aku tersenyum geli juga. Lalu, tanpa kusadari, sedetik kemudian, aku sudah ikut ngakak-ngakak bersamanya. Cowok ini memang punya kemampuan bikin emosi orang lain naik-turun, deh, kalau ngomong dengannya.

Setelah tawa kami berdua reda, aku memanggil Mang Usep—seperti biasa—untuk membayar pesanan Jerry dan air mineralku. Mang Usep, yang sepertinya sudah cukup terbiasa dengan kehadiran kami di warungnya rata-rata tiga kali seminggu, datang sembari membawa kalkulator kecil yang baru-baru ini dibelinya. Biasanya, sih, dia menghitung memakai kertas biasa. Tapi, sejak dagangannya jadi semakin laris, dia akhirnya bisa membeli sebuah kalkulator. Kalkulator itu hobi sekali dibangga-banggakannya sebagai hasil dari kerja keras selama berbulan-bulan untuk menabung. Yah, aku tidak bisa menyalahkannya, sih. Soalnya membuka warung kecil-kecilan di pinggir jalan besar begini memang penghasilannya tidak bisa terlalu diharapkan. Jadi, sah-sah saja kalau dia menganggap kalkulator itu adalah hasil kerja kerasnya yang berharga.

“Mau bayar, Neng?” Mang Usep meringis sumringah sambil, seperti biasa, mengacungkan kalkulatornya dengan bangga. “Delapan belas ribu.”

“Ya, bentar,” aku mengorek-ngorek dompetku untuk mencari duit dua puluh ribuan yang kusimpan di sana.

“Biar gue aja yang bayar,” Jerry menyodorkan duit dua puluh ribuannya yang kucel ke atas meja. Aku baru akan menyela saat dia berkata, “Ini balas jasa buat duit lo kemarin. Lagian hari ini gue lagi gajian.”

Aku mengerutkan kening sembari menutup kembali dompetku, “Gajian? Emang lo kerja apa?”

“Itu kan istilah doang, bego. Yang jelas, gue lagi banyak duit hari ini,” jawabnya bangga. Mang Usep mengantongi duit Jerry dan mengeluarkan selembar dua ribuan sebagai kembalian. Jerry meraup duit dua ribuan itu dan memasukkannya ke saku baju.

“Kok lo suka kadang-kadang banyak duit, kadang-kadang kere gitu, sih?”

“Sebenernya gue ini kere senantiasa, tapi di hari-hari tertentu, kadang gue ketiban durian runtuh,” Jerry meringis. Aneh sekali dia.

Ah, sudahlah. Lagipula, dia memang suka aneh begitu. Tidak ada gunanya bertanya-tanya mengapa dia tiba-tiba bersikap tidak bisa ditebak dan seolah menyembunyikan sesuatu seperti saat ini.

“Pulang ini, lo gue anter aja,” ujarnya setelah kami berdua sudah sama-sama berdiri untuk meninggalkan warung.

“Nggak usah, lah!”

“Nona yang PINTAR,” Jerry menekankan kata “PINTAR” dalam kalimatnya untuk menyindirku, “Ini udah jam sepuluh malam. Bahaya bagi seorang cewek keluyuran sendirian.”

“Tapi gue tetep ogah! Kalo dilihat tetangga pulang bareng cowok malem-malem begini, apa reputasi gue nggak bakal tercoreng habis-habisan?”

“Pilih mana, reputasi lo anjlok tapi lo nggak dirusak cowok manapun, atau reputasi lo sama anjloknya, dan lo beneran dirusak cowok nggak bener yang nggak lo kenal?”

Aku terdiam memikirkan perkataannya. Benar juga, sih. Mendingan reputasiku tercoreng tapi aku nggak benar-benar diapa-apakan oleh cowok manapun daripada reputasiku sama anjloknya tapi aku benar-benar diapa-apakan oleh orang asing. “Tapi, gimana dengan sepeda gue?”

“Sepeda jelek gitu mah, mana ada yang mau nyolong?”

Eh, sialan. Dia menghina sepedaku.

“Lagian ada hewan peliharaan sekolah yang berharga, kok. Kalo ada maling masuk, si gajah sakti itu pasti denger. Kupingnya aja udah kayak kuping gajah sungguhan.”

Mau-tidak-mau, aku tersenyum menahan geli saat mendengarnya menyebut satpam jaga sekolah kami dengan sebutan “gajah sakti.” Cowok ini memang selalu punya julukan yang aneh-aneh tapi sangat akurat untuk orang lain.

“Ya udah, deh. Nurut gue sama lo kali ini,” aku menjawab pasrah, “Yuk.”

***

Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam ketika sepeda Jerry mencapai bagian depan rumahku. Aku turun dan mengucapkan terima kasih dengan sikap sok setengah hati dan masuk ke dalam rumah.

Kondisi rumah gelap gulita seperti saat terakhir kali kutinggalkan untuk sekolah. Kondisi seperti ini hanya menandakan satu hal : Luna nggak datang. Yah, cewek itu aneh banget sikapnya akhir-akhir ini. Dia seperti… menjauh. Biasanya, kalau aku tidak mengabarinya bahwa aku akan pulang malam, dia akan menungguku di rumah dengan gaya berkacak pinggangnya yang nyolot. Tapi, belakangan, dia bahkan jarang sekali mampir ke rumahku. Frekuensi mampirnya ke rumahku turun dari lima kali seminggu menjadi dua kali seminggu. Penurunan yang drastis, tentunya. Dan cukup untuk membuatku heran sekaligus bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatku itu.

Apa dia marah padaku, ya?

Tapi… karena apa? Rasanya, aku tidak pernah melakukan kesalahan apa pun padanya. Aku bahkan jarang sekali bikin kesalahan yang berarti selama kami bersahabat. Justru, sebenarnya dia yang banyak sekali melakukan kesalahan, walaupun kesalahan-kesalahan itu selalu kumaafkan.

Aku masuk ke kamar dan mengganti pakaian, kemudian menjatuhkan tubuhku ke atas kasur. Tanpa dikomando, otakku langsung memikirkan Luna.

Sebenarnya apa sih, yang terjadi pada cewek itu? Apa aku pernah bikin salah sampai dia marah begini?

***

“Lucu, nih, Vid!” Tiana memekik ketika melihat sebuah hiasan bermotif daun emas yang bagus banget. David menoleh dan memperhatikan hiasan yang diambil Tiana.

“Berapaan, nih?”

Tiana buru-buru menarik kembali hiasan itu dan memperhatikan label harganya, “Mm… Harganya dua puluh lima ribu doang.”

“Ya udah, deh. Beli aja dulu, sisa anggaran kita masih banyak, kok,” David menjawab. Tiana, dengan girang, langsung memasukkan hiasan itu ke dalam keranjang belanja kami.

Yah, saat ini, kami sedang berada di salah satu pusat pernak-pernik yang cukup terkenal di Jakarta. Toko ini sangat besar dan isinya dapat dibilang cukup lengkap. Saat acara belanja sebelumnya, kami juga mengunjungi toko ini, dan dapat banyak sekali bahan yang bagus-bagus dari sini.

“Stephanie udah nemu hiasan bagus?” David bertanya sambil tersenyum lebar. Oh, luar biasa. Acara belanja baru saja dimulai dan hidupku sudah mau berakhir duluan karena serangan jantung mendadak.

“Mm… bel-belum… Biar gue cari lagi dulu.” Secepat mungkin, aku ngacir ke bagian pita-pita untuk menghindari senyumnya yang bikin lututku lemas itu. Aku berpura-pura menyibukkan diri dengan timbunan pita yang bertumpuk-tumpuk di dalam keranjang pendek, padahal sama sekali tidak melihat-lihat apa pun. Biar saja, deh. Yang penting aku kelihatan kerja. Nggak lucu kalau aku hanya bengong dan dikira nggak berguna karena sama sekali nggak kerja.

Sedang asyik-asyiknya melamun, mendadak sebuah suara terdengar memanggilku. “Gimana, Steph?”

Aku menoleh dengan heran mendengar suara bernada ramah itu. Bukan, bukan suara David, tentunya. Karena David nggak mungkin melakukan operasi transgender secepat itu, kecuali kalau selama ini dia memang hanya berpura-pura menjadi cowok. Habis, suara yang tadi kudengar jelas-jelas adalah suara seorang cewek.

Aku tertegun mendapati Angel sedang berdiri di sana dengan senyum lebar menatapku. Angel ini juga adalah anggota tim mading, sekaligus anggota tim desain. Dalam keseharian tim desain, dia tipe orang yang dingin dan cuek banget terhadapku. Biasanya, dia sama sekali nggak berkomentar ketika Evelyn dan Jessica mulai memperlakukanku dengan kasar, dan malah seolah-olah mendukung perlakuan negatif mereka itu. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum begitu ramah padaku. PADAKU.

“Mm… gimana… apanya, Kak?”

“Hiasannya,” jawabnya, “Lo udah nemu?”

Aku melirik sejenak keranjang pendek di samping kakiku dan menyadari bahwa sejak tadi, aku sama sekali belum benar-benar memperhatikan isinya walaupun sudah berulang kali mengobrak-abriknya. “Ng… ini juga baru mau nyari, kok. Hehehe…”

Angel menyodorkan sebuah miniatur bunga melati yang mirip-mirip dengan miniatur bunga melati yang sering kutemui di Pulau Dewata. “Ini,” ujarnya, “Menurut lo, cocok nggak, dipasang ke mading kita?”

Aku tersenyum kaku, kemudian mengangkat bahu dengan canggung, “Mm… nggak tahu, sih, Kak. Takut salah pertimbangan.”

“Ayo, lah. Ngusul aja, nggak usah takut,” dia menyahut, “Jangan jadiin tim mading sebagai tekanan buat lo.”

“Mm… nggak, sih, Kak, tapi—“

“Gue tahu, lo anggap tim mading ini semacam tekanan,” potongnya tanpa memberiku kesempatan untuk mengelak. “Dan ini semua gara-gara Evelyn sama Jessica, kan?”

Nggak cuma mereka saja, sebenarnya. Karena perlakuan anggota lainnya juga nggak jauh beda dari mereka, jawabku dalam hati. Aku tahu, mustahil untuk mengutarakan jawaban itu di depan Angel secara terang-terangan. Maka, aku hanya menggaruk tengkukku yang tidak gatal dan berusaha untuk beralasan, “Mm… yah, nggak… jadi, mm—“

“Udah, lah, Steph. Mengakui hal itu bukan suatu hal yang perlu dipermasalahkan, kok. Lagian, kalau lo merasa nggak nyaman dengan tim mading, nggak berarti lo bakal langsung di-kick dari tim ini, kan?”

“Mm… iya, sih. Tapi—“

“Lagian, dari mana kita bisa dapat artikel menarik selain dari elo?” Angel mengerlingkan matanya dengan jahil. Melihat ekspresiku yang seperti menyiratkan ‘hah?-jadi-Kak-Angel-baik-sama-aku-ada-maksudnya?’, buru-buru dia menyambung, “Gue bercanda doang, kali! Kita mempertahankan lo di tim bukan cuma gara-gara itu, kok.”

“Terus, gara-gara apa, Kak?”

“Lo punya jalan pikiran yang beda dari kebanyakan anak, Steph. Jalan pikiran itu yang kita butuhin supaya madingnya juga jadi beda dari yang lain. Ide lo soal bikin pintu dan sangkar burung dari ranting juga bikin kita jadi mikir buat lebih kreatif,” jawabnya panjang lebar, “Lo pikir, kalau lo nggak punya skill, ngapain kita mempertahankan elo sementara artikel psikologi udah nggak lagi dibutuhin setelah pergantian tema? Buat nambah-nambahin anggota, gitu?”

“Tapi, Kak, Kak Evelyn dan Kak Jessica kok—“

“Ah, mereka,” Angel menggumam sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku, “Nggak usah peduliin mereka. Toh, mereka juga suka gitu sama orang yang nggak mereka sukai. Kami semua pura-pura mendukung mereka supaya nggak ikut-ikutan dijadiin bulan-bulanan.”

“Memangnya kenapa mereka nggak suka sama aku, Kak?”

Angel mengerutkan kening dengan ekspresi ‘hah?-begini-aja-lo-nggak-tahu?’ kemudian bersuara, “Lho? Lo nggak tahu, ya?”

“Ng… nggak, sih.”

“Ya ampun, Steph! Gue kira lo tahu!” Angel memekik.

“Memangnya… kenapa, sih, Kak?” aku bertanya dengan nada penasaran yang tidak bisa ditutupi.

“Mm… gimana, ya, Steph? Gue nggak enak ngomongnya,” kini giliran Angel yang menggaruk tengkuknya, “Awalnya gue kira lo udah tahu.”

“Nggak apa-apa, Kak. Omongin aja. Aku janji nggak bakal marah.”

“Bukan masalah itu, sih, tapi…”

“Tapi apa?”

Kak Angel menatap sejenak ekspresiku yang kelihatan penasaran setengah mati, kemudian menghela nafas berat, “Lo bener-bener mau tahu dan janji nggak marah?”

Aku mengangguk, berharap ia akan segera menjawab.

Angel menggigit bibir bawahnya kemudian menjawab pelan, “Ini semua gara-gara sahabat lo, Steph.”

Aku langsung membelalakkan mata lebar-lebar. Sahabatku?

OH! Jadi, ini semua gara-gara Jerry? Gara-gara dia lagi? Ya ampun, aku nggak habis pikir. Jadi, selama ini, aku dibenci seisi tim mading karena aku bergaul—dan bahkan bersahabat—dengan berandalan semacam dia?

Oke, aku tahu, sebenarnya ini bukan kesalahan Jerry. Malahan, bisa dibilang, dia nggak salah sama sekali. Tapi, tetap saja aku jadi kesal mengetahui bahwa semua masalah yang bikin aku stres berat selama ini bersumber darinya. SEMUANYA.

“Mm… Kak, kalo Jerry pernah bikin salah sama kalian, aku mewakili dia minta maaf, deh. Tapi, kenapa jadi aku yang dibenci? Aku nggak salah sama mereka, kan?”

Angel menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Sepertinya dia cukup bingung mendengar ucapanku. Apanya yang membingungkan, sih?

“Jerry?” akhirnya dia membuka suara dengan nada bingung yang tidak ditutup-tutupi. Kemudian, menyadari nama yang baru saja kusebutkan, dia memekik kaget, “Lo sahabatan sama Jeremy Ericson juga?! Ya ampun!”

Nah, sekarang giliran aku yang bingung. Tadi katanya sahabatku yang bikin anak-anak tim mading benci padaku? Lalu, sahabatku yang mana? Sahabatku ya cuma Luna dan Jerry! Tapi, masa Luna bikin ulah sama kakak-kakak kelas yang nggak berurusan dengannya? Rasanya nggak mungkin, deh. Jerry adalah satu-satunya alternatif pembuat onar yang paling tepat. “Ng… kenapa, Kak?”

“Gini, gini, Steph,” Angel tampak mati-matian menenangkan diri dari kaget luar biasa yang baru saja melanda dirinya. “Gue nggak bakal kasih tahu Evelyn dan Jessica kalau lo juga sahabatan dengan Jeremy, dan gue janji akan itu. Kasihan gue sama lo, udah sahabatan dengan pembuat onar—oke, sori untuk mengatakan ini—masih punya satu sahabat lagi yang juga pembuat onar! Evelyn dan Jessica nggak bakalan lepasin lo untuk yang satu ini.”

“Bentar, Kak. Aku nggak ngerti. Siapa, sih, sahabat pembuat onar yang Kakak maksud?”

Angel membelalakkan matanya lebar-lebar, “Ya Luna Serafin, lah, Steph!”

HAAAAH?

Luna? Yang benar saja?! Pernah bikin ulah apa dia?

“Kak, bentar, deh. Aku nggak ngerti kenapa Luna bisa dikatain pembuat onar, dan apa masalahnya dengan Kak Evelyn dan Kak Jessica?”

Angel memutar kedua bola matanya dengan ekspresi ‘demi-Tuhan-lo-kudet-banget-sih’ kemudian menjawab, “Ya karena insiden sambal itu, lah!”

Aku mengerutkan kening. Apaan, tuh, insiden sambal? Kok aku nggak tahu? Apa jangan-jangan, aku salah dengar? Jangan-jangan tadi dia bilang ‘insiden sandal’? Tapi… apa Luna pernah melempari Evelyn dan Jessica dengan sandal? Rasanya nggak, deh! “Insiden… sambal?”

“Iya,” jawab Angel langsung, “Jangan-jangan lo nggak tahu kejadiannya?”

“Memang nggak tahu, Kak,” jawabku, “Memangnya kejadiannya gimana, sih?”

“Astaga, Steph! Lo masa nggak tahu, sih? Luna nggak pernah cerita?”

Aku menggeleng kaku. “Apa sih, sebenernya? Aku nggak ngerti, deh.”

Angel membuka mulut hendak menceritakan, tapi lalu ia mengatupkan kembali mulutnya itu. Mungkin, argumen di otaknya mencegahnya untuk menceritakan hal itu. “Nanti aja deh, lo tanya sendiri sama orangnya. Nggak enak gue mau cerita. Lagian, kalo dia sahabat yang baik, pasti dia mau ceritain. Dan berita kalau Evelyn dan Luna saling bermusuhan itu udah lama tersebar di sekolah, jadi dia nggak mungkin nggak ingat tentang insiden itu.”

“Kak, tapi—“

“Udah, deh. Pokoknya lo tanya aja sama dianya langsung. Udah, ya, gue ke sana dulu. Dari tadi Dion manggilin gue melulu.” Setelah mengatakan hal itu, Angel langsung ngacir ke bagian manik-manik, menemui Dion yang sudah menunggunya di sana.

Aku masih diam di tempatku berdiri. Hatiku terus bertanya-tanya mengenai perkataan Angel tadi.

Apa yang sudah dilakukan Luna? Kenapa dia bisa sampai musuhan dengan Evelyn dan Jessica? Dan kenapa dia menyembunyikan semua ini dariku?

TO BE CONTINUED

Hello again^^ sorry not for posting it sooner… like what I’ve told you, I was on my semester test so I couldn’t open the internet frequently.-. but actually, I’ve been continuing it since the first day of test.-. yeah, I don’t want that test to drive my brain crazy._. it’s not worth it-__- but, yea, I had a stuck on ideas. That shit made me couldn’t continue it well-__- sorry if this part’s pointless, and about the name Cindy, I just borrowed my own name because I can’t think of any other name-_- doesn’t mean that the ‘Cindy’ here is me or something:|

Lastly, I’d like to say THANK YOU^^

Next chapter : 8

Download the Ebook?

download-icon2

Advertisements

11 thoughts on “[CHAPTER SEVEN] Little Stories of Ours

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s