[CHAPTER NINE] Little Stories of Ours

Cover by Cindy Handoko

Cover by Cindy Handoko

Copyright © 2014 by Cindy Handoko

Previous chapters : 1 || 2 || 3 || 4 || 5 || 6 || 7 || 8

Sembilan

Stephanie

Hidup itu seperti seekor ikan yang melompat keluar dari air yang tenang—penuh kejutan dan kadang sulit ditebak.

 

***

MALAM ini, aku bermuram durja di kamar, berguling-guling kesana-kemari di atas kasur. Seharian, aku sudah pusing memikirkan bagaimana caranya bertanya kepada Luna mengenai insiden yang membuatnya bermusuhan dengan Evelyn. Aku sadar betul kalau menanyakannya bukan perihal mudah yang bisa disepelekan.

Angel tidak tahu kalau Luna itu orang yang sangat sulit, apalagi kalau sudah menyangkut hal-hal yang dibencinya. Aku tidak bisa menjamin bahwa dia tidak akan berkacak pinggang dengan mata melotot dan berteriak, “Ngapain lo nanya-nanyain gituan?!”

Aku menghela nafas berat, kemudian melirik ke arah jam dinding yang terpasang di kamar.

Sudah jam delapan malam.

Kruukk

Terdengar suara cacing-cacing di perutku yang sedang ramai berdemo, mulai protes lantaran tidak diberi makan sejak tadi siang.

Baiklah, sepertinya mencoba kafe baru di dekat rumah bukan pilihan yang buruk. Lagipula ini awal bulan—yang berarti setoran baru saja datang—dan sepertinya aku butuh sedikit refreshing. Jadi, kusambar jaketku dan keluar dari kamar menuju garasi tempat sepedaku terparkir.

***

Alunan piano klasik langsung menyambut telingaku begitu aku memasuki bagian dalam kafe. Aku selalu suka musik klasik, apalagi yang dimainkan dengan piano. Kafe ini sepertinya punya hal-hal yang bisa menenangkanku. Semoga harganya tidak mahal-mahal amat, supaya aku nggak perlu makan mi instan lagi akhir bulan nanti. Aku mulai khawatir bahan kimia yang terkandung dalam bumbunya akan merusak otakku sebentar lagi.

Aku memilih tempat duduk di dekat jendela, agar bisa memperhatikan jalanan di depan kafe. Yah, sama dengan kebanyakan orang, aku juga suka duduk di dekat jendela.

Seorang waitress mendatangiku dan meletakkan buku menu di hadapanku. Setelah membolak-balik buku menu itu berkali-kali, akhirnya aku memutuskan untuk memesan Western Platter dan segelas Cola Float. Si waitress mengulangi pesananku sekali lagi sebelum akhirnya berjalan meninggalkanku.

Aku memandangi jalanan di balik kaca yang buram karena embun—musim hujan sepertinya sedang mencapai puncak akhir-akhir ini. Seperti yang sudah kuduga, jalanan semakin memadat karena hari sudah semakin malam. Bunyi klakson yang bersahut-sahutan bahkan terdengar sampai ke dalam kafe. Untungnya, lagu klasik yang dimainkan piano sedikit meredam bunyi-bunyi memekakkan itu.

Lagu-lagu klasik pianis terkenal dimainkan dengan apik oleh pianis kafe yang saat ini sedang duduk di balik piano besar di atas panggung. Aku mendengarkan satu-per-satu lagu dalam diam sambil sesekali memekik kecil saat ada lagu yang kukenali. Sedang asyik-asyiknya mendengarkan lagu sambil memandangi padatnya jalanan, tiba-tiba alunan piano itu berhenti. Awalnya aku tidak begitu peduli, karena kukira pianis itu hanya berhenti untuk beristirahat sebentar. Tapi, di luar dugaanku, kemudian terdengar intro dari lagu Bruno Mars favoritku, When I Was Your Man.

Walaupun masih sedikit bingung karena tiba-tiba lagu-lagu klasik itu digantikan oleh lagu Bruno Mars, aku tetap menikmatinya karena aku sangat suka lagu ini.

Pesananku datang bersamaan dengan dimulainya verse lagu When I Was Your Man.

 

Same bed but it feels just a little bit bigger now

Our song in the radio but it don’t sound the same

When our friends talk about you, all it does is just tear me down

‘Cause my heart breaks a little when I hear your name

Aku ikut mendendangkan lagu itu dalam hati sembari memakan Western Platter-ku yang ternyata rasanya luar biasa enak. Penyanyi yang membawakan lagu itu keren juga. Suaranya terdengar mirip-mirip Bruno Mars, hanya saja lebih berat dan minus logat Inggris alaminya yang memang sulit ditiru oleh orang Indonesia.

It all just sounds like oooh…

Mmm, too young, too dumb to realize

That I should’ve bought you flowers

And held your hands

Should’ve gave you all my hours

When I had the chance

Take you to every party

‘Cause all you wanted to do was dance

Now my baby’s dancing

But she’s dancing with another man

 

Bagian reff dinyanyikan dengan sangat mulus, seolah-olah mengajak pendengar untuk ikut merasakan apa yang dirasakan orang dalam lagu itu. Nada tinggi yang menjadi klimaks lagu juga dibawakan dengan sangat rapi, sampai-sampai aku berpikir mungkin saja penyanyi itu sebenarnya lipsing. Tapi sepertinya nggak, deh. Mungkin penyanyi itu punya kans untuk menjadi penyanyi tingkat internasional—atau setidaknya lebih dari sekedar penyanyi kafe biasa.

Aku melirik sekilas ke arah panggung dengan tangan yang masih sibuk menusuk-nusuk sandwich dan mulut yang masih sibuk mengunyah french fries.

Dan detik itu pula, aku tercengang.

Hah? Penyanyi itu kan…?

Oke, aku tahu, ia memakai topi yang menutupi sebagian besar wajahnya—aku bahkan tak bisa melihat matanya dengan jelas di balik topi merah itu—dan bibirnya tertutup sebagian oleh mikrofon yang ia gunakan untuk bernyanyi. Tapi postur tubuh itu… sikap duduk santai itu…

Astaga, dia benar-benar terlihat mirip dengan Jerry!

Tapi… masa, sih?

Berkali-kali aku menyangkal pemikiran bahwa penyanyi bersuara emas itu adalah Jerry. Habis, mana mungkin cowok itu bisa menyanyi sebagus ini? Dan sejak kapan dia jadi penyanyi kafe? Ngomong biasa saja suaranya fals, masa dia bisa menyanyi, sih?

Tapi… tidak salah lagi, postur tubuh itu memang mirip banget dengan postur tubuh Jerry.

Apa mataku yang salah lihat, ya?

***

Aku masuk ke kelas dengan wajah suntuk. Lagi-lagi, aku tidak mendapatkan tidur yang baik semalam. Aku terus berguling-guling di atas kasur, memikirkan berbagai masalah yang saling tumpuk tindih : Luna yang sepertinya kini marah terhadapku, penyanyi kafe yang terlihat sangat mirip dengan Jerry itu, dan bagaimana aku harus menghadapi David dengan mood seburuk ini nanti.

Aku tidak tahu lagi seperti apa aku terlihat saat ini. Mungkin, teman-teman akan segera lari ketakutan begitu bertatap muka denganku. Habis, aku yakin banget penampilanku persis hantu atau semacam vampir. Pasti aku terlihat mengerikan.

Keheranan pertamaku pagi itu adalah meja Luna yang kosong melompong.

Biasanya, cewek itu selalu datang lebih awal daripada aku. Apa dia terlambat hari ini? Tumben sekali.

Berusaha untuk tidak terlalu khawatir, aku pun duduk di bangkuku sendiri dan membenamkan wajah di antara lipatan tangan. Alangkah serunya kalau aku bisa tidur sekarang ini, setidaknya satu jam saja. Tapi sepertinya nggak mungkin, mengingat sebentar lagi bel sudah mau bunyi dan aku kembali harus bertatap muka dengan Pak Herman dan setumpuk buku Matematika yang bikin pusing. Sebenarnya, Pak Herman guru yang baik. Kadang, dia malah membiarkan murid-muridnya tidur di kelas—mungkin dia sadar kalau pelajaran Matematika di jam pertama bukanlah ide yang bagus karena nyawa para siswa belum sepenuhnya terkumpul, apalagi untuk mencari nilai x maupun y yang selalu bikin pusing. Tapi, tetap saja, aku bukan murid yang punya reputasi hobi tidur di kelas. Biasanya, aku selalu menyimak pelajaran dengan baik—walaupun hasilnya kurang meyakinkan lantaran aku memang lemah dalam eksakta. Pasti aku akan ketinggalan pelajaran. Apalagi, materi yang sedang dibahas sama sekali tidak kupahami. Bisa-bisa aku dapat nol dalam ulangan nanti.

Aku mengangkat wajah dan melirik sekali lagi ke meja Luna. Masih kosong. Ke mana ya, cewek itu? Padahal lima menit lagi bel sudah bunyi. Apa yang dipikirkannya sampai-sampai dia belum datang jam segini?

“Luna mana?”

Aku mendongak saar mendengar sebuah suara mengajakku bicara. Terlihat Viona, teman sebangkuku yang sepertinya baru saja naik ke kelas setelah jalan-jalan sebentar. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, Viona memekik kecil melihat tampangku. Sudah kubilang, aku pasti kelihatan seram.

“Nggak tahu,” jawabku singkat.

Viona mengerutkan kening. “Tumben nggak tahu. Biasanya lo berdua selengket permen karet dan sol sepatu, kan?”

Aku tersenyum pahit mendengar perumpamaannya. “Dia nggak ngabarin,” lagi-lagi aku menyahut singkat.

Viona melirik singkat jam dinding yang terpasang di belakang kelas. “Tiga menit lagi bel bunyi. Jangan-jangan dia nggak masuk?”

“Nggak, ah,” sangkalku. “Telat kali.”

Viona mengangkat bahu. “Maybe. Kalo dia belum datang sampai bel bunyi, itu artinya urusannya sama Pak Angga bakal lama. Mungkin, sampe jam ketiga pun dia belum dibolehin masuk kelas.”

Aku tertawa kecil, “Semoga nggak, deh.”

Viona duduk di sebelahku, dan kami terdiam dalam waktu yang cukup lama. Bunyi bel-lah yang menyentak kami, dan detik berikutnya baru kusadari, ternyata Luna memang belum muncul sampai bel berbunyi.

Ke mana cewek itu?

Pak Herman masuk ke kelas dan menutup pintu. Aku tidak bisa berkonsentrasi padanya, karena perhatianku tertuju pada meja Luna yang masih saja kosong.

Kuharap nggak terjadi sesuatu padanya.

***

“Sori banget, Steph,” David berkata dengan wajah penuh penyesalan. “Kayaknya hari ini kita batal nonton dulu, deh. Soalnya OSIS harus rapat buat pensi minggu depan.”

Aku tersenyum lebar, walaupun sebenarnya cukup kecewa mendengar kabar tidak menyenangkan itu. Padahal, aku sudah tidak sabar untuk menonton film komedi yang sudah cukup lama tayang di bioskop. Hari ini adalah hari terakhir film itu tayang, dan aku nggak mungkin nonton sendirian.”Nggak apa-apa. Lo tampil nyanyi di pensi nanti, kan?”

“Iya,” David menjawab, lengkap dengan senyuman lebar yang sedikit menyiratkan kebanggaan, “Lo harus nonton, ya.”

“Sip,” jawabku, “Udah, rapat dulu aja sana, deh. Gue mau pulang.”

“Oke,” David menjawab, “Sekali lagi, sori, ya. Lain kali kita nonton film lain, deh.”

Tapi aku pinginnya nonton film ini.

Buru-buru kutepis pikiran itu dan menjawab dengan nada sesantai mungkin, “Boleh, deh.”

Setelah melambaikan tangan, David masuk kembali ke gedung sekolah, dan aku berjalan menuju sepedaku di pekarangan belakang.

Kuhela nafas berat.

Sampai rumah nanti, mau ngapain, ya?

Kalau pertanyaan ini diajukan padaku bulan lalu, aku tak perlu berpikir untuk menjawabnya. Oke, mungkin aku akan berpikir, tapi yang kupikirkan bukan, “Waduh, ngapain, ya?” seperti sekarang ini, melainkan, “Enaknya nonton DVD apa, ya, bareng Luna nanti?”

Tapi hal itu terasa mustahil saat ini. Pertama, hari ini ternyata dia tidak masuk sekolah. Untuk hal yang tidak biasa ini, dia bahkan tidak memberitahuku. Dia sama sekali tidak menelepon atau mengirim SMS yang berisi alasan mengapa dia tidak masuk hari ini, padahal aku sudah khawatir setengah mati terhadapnya. Aku—yang selalu ditanyai guru-guru tentang alasan mengapa Luna tidak masuk—tentu saja kelimpungan. Di satu sisi, rasanya aneh kalau aku berkata, “Nggak tahu,” padahal semua orang juga tahu kalau aku dan Luna dekat banget—seperti yang sempat dikatakan Viona tadi. Tapi, di sisi lain, toh memang begitu kenyataannya. Aku tidak mungkin mengarang-ngarang cerita tentang itu.

Seharian, aku terus melirik ke bangkunya yang kosong. Kira-kira kenapa ya, dia nggak masuk? Apa dia sakit sampai nggak sanggup bangun dari kasur? Atau kesiangan bangun dan akhirnya memutuskan untuk membolos?

Tapi dia nggak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Bahkan, dia hampir nggak pernah absen. Hanya sekali-dua kali saja dalam setahun, dan biasanya untuk alasan yang logis, misalnya acara keluarga. Dia bukan tipe orang yang hobi membolos untuk alasan yang tidak penting dan bisa ditunda—ini bukan karena dia rajin atau tidak mau ketinggalan pelajaran, melainkan karena malas dipanggil guru BP yang sangat ditakutinya, Pak Angga.

Apa benar dia sakit sampai nggak bisa bangun dari kasur?

Pikiran itu terus mengusikku.

Apa seharusnya aku ke rumahnya saja sekarang ini?

Tapi, bagaimana kalau dia tidak ada di rumah? Apa aku harus menunggunya sampai pulang?

Kring! Kring!

Aku meloncat ke belakang dengan cepat saat sebuah sepeda nyaris menabrakku. Pengemudi sepeda itu sepertinya sengaja ingin menerjangku, karena dia sama sekali tidak kaget dengan reaksiku dan malah terus mengayuh sepedanya dengan santai.

Astaga! Aku nyaris terkena serangan jantung gara-gara sepeda itu!

Pengemudi sepeda itu menghentikan sepedanya, kemudian turun dan menghampiriku.

“Ngapain bengong di tengah jalan kayak orang galau gitu?” tegurnya langsung.

Melihat siapa orang itu, aku langsung mendecak kesal. “JER! Ngapain sih, lo pake mau nerjang-nerjang gue segala? Kalo gue ketabrak beneran gimana?”

“Ya jatuh,” jawabnya santai, “Jatuh ya tinggal ditolongin. Gitu kok susah.”

Aku menahan emosi yang sudah hendak meledak dari dalam diriku, kemudian membuang muka.

“David ngebatalin janji, ya?”

Setelah memutar kedua bola mataku, aku mengangguk pelan.

“Maklum, lah. Mungkin cewek yang ditempelin sama dia bukan cuma lo,” Jerry menyahut santai. Aku langsung melotot.

“Dia rapat OSIS buat pensi, tau! Lo pikir dia cowok apaan?” bentakku.

“Cowok brengsek,” jawabnya, “Dan jelek, dan nggak bisa dipercaya, dan bego, dan sok tebar pesona, dan—“

“Udah, udah! Nggak usah ngejelek-jelekin dia gitu, kali! Kenapa sih, lo sensi amat sama dia? Kayak lo lebih baik dari dia aja,” desisku kesal.

“Ya ampun, cuma nyaris ditabrak sepeda aja udah emosian gini,” sindirnya, “Lemah banget jadi orang.”

Aku menghela nafas panjang dengan sok dramatis. “Udah, lah. Buruan aja, mau ngapain lo ke sini? Kalo nggak ngapa-ngapain, jangan gangguin gue, deh. Gue lagi nggak mood debat sama lo.”

Kini giliran Jerry yang mendesah sok dramatis. “Galak amat. Padahal ya, gue ke sini dengan niat baik.”

Aku mengerutkan kening. “Niat baik apa?”

“Yah…, tadinya sih, gue mau ngajakin lo nonton,” jawabnya, “Tapi kayaknya lo nggak mau, ya?”

Mataku langsung melebar. “Nonton?! Seriusan? Nonton apa?”

“Film komedi yang hari ini terakhir diputer itu,” Jerry menjawab. “Udah, sih, tujuan gue gitu aja. Lo nggak mau, kan? Jadi, gue pergi dulu, ya.”

Aku tahu dia cuma bercanda soal membatalkan tawaran itu, jadi saat dia berbalik dan pura-pura berniat meninggalkanku, aku memanggilnya.

“Hey!”

Dia menoleh dengan wajah ‘hayoo-sebenernya-lo-pingin-kan?’ dan kali ini kubiarkan dia menang, karena aku diam-diam mengakui kalau dia benar. Yup, aku memang pingin banget nonton film itu saat ini!

Aku mengangkat kedua alis. “Yang bayarin… lo, kan?”

***

“Ke rumah gue dulu, ya?” Katanya setelah kami berdua sudah duduk di atas sepeda masing-masing. Aku menolak untuk membonceng sepedanya, karena terakhir kali aku meninggalkan sepedaku di sekolah, beberapa orang iseng sengaja mengelupas catnya. Cat yang terkelupas itu sebenarnya tidak mengganggu keseluruhan sepedaku—untung bukan mobil yang kubawa, karena kalau benar begitu, pasti badan mobil akan digores-gores tanpa belas kasihan (atau lebih parah lagi, dibentuk tulisan yang isinya porno). Tapi, tetap saja, aku tidak mau sepeda itu rusak lagi lantaran ditinggal semalaman di sekolah untuk yang kedua kalinya.

“Ngapain ke rumah lo dulu?”

Jerry menoleh dengan tampang datar. “Ngambil duit.”

Setelah mengatakan hal itu, dia segera mengayuh sepedanya keluar dari pekarangan sekolah.

“Tungguin!” Aku menyusulnya dan mencoba mengimbangi kecepatannya. Setelah berhasil menyamakan posisi sepeda kami, aku mulai mengayuh dengan santai.

Kami berdua sama sekali tidak bersuara selama beberapa saat. Aku memang tidak berniat memulai percakapan duluan, dan dia sepertinya juga begitu.

Tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Orang yang menyanyi di kafe kemarin malam.

Oh, ya! Aku harus memastikan, apakah benar orang itu Jerry, atau itu semata-mata hanya kesalahan mataku saja. Mumpung orangnya ada di sini, mungkin ada baiknya aku bertanya padanya mengenai hal ini.

“Jer,” panggilku.

“Hm?” Jerry menggumam tanpa menoleh sedikit pun. Pandangannya lurus ke depan, seolah-olah sedang berkonsentrasi memperhatikan jalan.

“Lo suka nyanyi, ya?”

Jerry mengerutkan keningnya, kemudian menoleh sekilas dengan ekspresi bertanya-tanya. “Kesambet apa, lo? Kok tau-tau nanya gitu?”

“Nggak,” sahutku cepat, “Cuma mau nanya aja, kok.”

Jerry terdiam sebentar, kemudian bertanya, “Teriak-teriak di kamar mandi itu termasuk nyanyi, nggak?”

Aku tertawa kecil. “Jelas enggak, lah.”

“Berarti gue nggak suka nyanyi,” gumamnya. “Lagian kenapa, sih? Apa pentingnya nanyain soal ginian ke gue?”

“Nggak penting, sih,” sahutku, “Tapi…”

Bayangan penyanyi kafe itu muncul di benakku. Ah, aku tidak mungkin salah mengenali. Postur tubuh dan cara duduk itu sama persis dengan milik Jerry.

“Jer, lo jujur, ya,” aku mengawali, “Lo suka nyanyi di Lux Cafe?”

Jerry menoleh ke arahku dengan muka bingung, “Lux Cafe? Apaan, tuh?”

“Itu lho, kafe di deket rumah gue. Yang bangunannya kuno gitu.”

Jerry terlihat mengingat-ingat selama sepersekian detik, kemudian memekik. “Oh, kafe baru itu?”

Aku mengangguk. “Baru bulan lalu buka.”

Jerry menggut-manggut, kemudian terdiam. Aku berdecak kesal. Ngapain dia malah diam saja? Aku kan sedang bertanya padanya, bukannya mau memberi informasi soal Lux Cafe yang baru bulan lalu buka!

“Gimana, sih?” Aku memprotes, “Kok pertanyaan gue nggak dijawab?”

“Lo tanya apa tadi?” Jerry malah balik bertanya.

Aku menghela nafas panjang, kemudian mengulangi pertanyaanku yang sebenarnya sudah cukup jelas itu. “Lo suka nyanyi di sana, nggak?”

“Maksud lo, ngamen?” Jerry menjawab dengan suara datar. “Nggak, kok. Gue nggak sehina itu, sampe ngamen-ngamen segala.”

“Bukaaaaan,” rengekku frustasi, “Maksud gue, nyanyi di panggung! Jadi penyanyi kafe, gitu!”

Jerry memutar kedua bola matanya dengan ekspresi kesal. “Lo kenapa, sih, sebenernya? Lo kan tahu juga kalo gue nol besar dalam bidang menyanyi. Ngapain pake tanya segala, sih?”

Aku mendesah kesal, “Tapi gue tetep nggak yakin, Jer. Yang gue lihat kemarin itu bener-bener mirip lo.”

“Yang lo lihat… kemarin?”

“Iya,” sahutku langsung, “Kemarin kan gue ke sana, dan gue lihat penyanyinya mirip lo, Jer. Gue semacam yakin kalo itu elo.”

Jerry mengerutkan kening. “Lo salah makan obat apa gimana, sih? Mau dipikir kayak gimana pun, kalau gue jadi penyanyi, paling cuma pengamen, Steph. Mana mungkin gue bisa nyanyi di kafe seelit itu?”

Aku tidak tahu apakah aku bisa membenarkan ucapannya atau tidak. Pasalnya, aku belum pernah mendengar dia menyanyi, jadi aku tidak tahu kualitas suaranya. “Tapi gue yakin itu elo, Jer.”

“Orang yang mirip gue banyak, Steph, di dunia ini,” Jerry menjawab, “Mungkin lo salah lihat, atau lo depresi karena kangen sama gue, makanya sampe kebawa halusinasi segala.”

Aku mencibir. “Kayak kurang kerjaan aja ngangenin lo.”

Jerry terkekeh, “Bercanda, bercanda. Lagian gue juga nggak mau dikangenin sama orang kayak lo.”

Kami berdua pun kembali mengayuh sepeda masing-masing dalam diam. Aku masih sibuk bergelut dengan pikiranku sendiri.

Apa mungkin itu memang cuma perasaanku saja, ya? Lagipula, benar kata Jerry, orang yang berpostur sama dengan dia pasti banyak. Dia kan nggak seunik itu.

Akhirnya, aku berusaha menepis kecurigaanku terhadap Jerry dan terus mengayuh dengan santai.

Sepeda kami memasuki area perumahan yang terpencil. Jalanan di perumahan itu berbatu-batu, sampai-sampai aku harus ekstra hati-hati kalau tidak mau ban sepedaku tertusuk batu-batu itu. Menuntun sepeda yang bannya kempes sampai ke rumah tidak terdengar seperti pilihan yang menyenangkan.

“Yang mana rumah lo?” Aku bertanya saat menyadari sejak tadi kami belum juga berhenti.

“Sabar, bentar lagi juga nyampe,” jawabnya singkat. Sepeda dibelokkannya ke gang yang lebih sempit lagi. Aku mengikutinya masuk ke dalam gang, dan sepedaku langsung terguncang-guncang karena ternyata jalan kecil ini lebih rusak lagi. Ya ampun, aku baru tahu kalau ada tempat seperti ini di Jakarta. Kenapa tidak ada orang yang tertarik untuk memperbaiki jalan ini, ya?

Dari kejauhan, tampak kerumunan orang yang mengerubungi sebuah rumah. Kerumunan itu sangat ribut—beberapa orang berteriak-teriak dengan heboh, saling menutupi satu-sama-lain demi bisa melihat ke dalam rumah di hadapan mereka. Beberapa orang juga tampak saling dorong.

Ada apa itu?

Dan… eh? Kok ada mobil polisi segala, sih?

Aku menyipitkan mata untuk mempertajam penglihatanku. Ya, benar. Di sana memang ada beberapa orang dengan seragam polisi yang tampak sibuk menjaga ketat rumah itu. Beberapa menahan orang-orang dari kerumunan yang berusaha menerobos masuk. Bunyi sirine terdengar meraung-raung—entah itu sirine milik mobil polisi, atau milik ambulans yang juga diparkir tak jauh dari sana. Suara teriakan lantang terdengar dari sana-sini.

“Menjauh, menjauh! Jauhi police line!”

“Dilarang masuk ke dalam!”

“Tenang, tenang! Jangan ribut!”

Namun, teriakan-teriakan itu sepertinya tertelan oleh keramaian massa.

Ada apa, sih? Kok ada polisi segala? Memangnya apa, sih, yang sedang mereka lihat?

“Jer,” aku memanggil Jerry dengan nada waswas, “Itu kerumunan apa, sih?”

Jerry tidak menjawab sepatah kata pun. Aku menoleh dan melihat wajahnya memucat. Ada apa, sih? Kok perasaanku jadi semakin tak enak begitu sepeda kami semakin dekat dengan kerumunan?

“Jerry,” panggilku sekali lagi, kali ini lebih keras daripada sebelumnya. “Lo kenapa, Jer? Itu kerumunan apa?”

Jerry menoleh dengan gerakan kaku. “Gue nggak tahu.”

Ia mempercepat laju sepedanya secara tiba-tiba. Aku buru-buru menyusul sambil berusaha untuk menahan perasaan tidak enak yang menyergap hatiku.

Kami tiba di depan kerumunan, dan Jerry langsung menghentikan sepedanya. Setengah kaget karena tindakannya yang begitu tiba-tiba, aku ikut menghentikan sepedaku. Jerry turun dengan langkah lebar dan rahang mengeras.

“Jer, Jerry! Woy, lo mau ke mana, sih?!” aku berteriak keras, berusaha agar suaraku terdengar olehnya dalam keributan ini. Namun, Jerry sama sekali tidak peduli. Dia berjalan lurus dengan langkah kaku dan…

…menerobos kerumunan dengan brutal!

Astaga, apa sih, yang sedang dilakukannya? Apa dia nggak tahu kalau di sana banyak polisi? Apa dia nggak takut kalau ada apa-apa?

“Minggir kalian!”

Jerry berteriak sambil mendorong orang-orang yang menghalangi jalannya. Orang-orang mulai berbisik-bisik sambil melirik ke arah Jerry.

Ada apa, sih, sebenarnya? Kenapa sepertinya hanya aku yang tidak tahu apa-apa di sini? Rumah siapa ini? Kenapa orang-orang mengerubungi rumah ini? Kenapa para polisi berjaga di sini? Dan kenapa tiba-tiba Jerry jadi pucat dan menerobosi kerumunan dengan membabi-buta?

“Jerry!” aku berteriak. Namun, cowok itu sudah berada jauh di depan kerumunan. Suaraku sama sekali tidak terdengar di tengah keributan yang semakin menjadi-jadi.

Jerry sampai di samping polisi, dan langsung membentak dengan suara kasar dan lantang. “Ada apa ini?!”

“Dik, jangan dekat-dekat police line! Mundur sekarang!” polisi itu balas membentaknya dengan tegas.

“Saya harus tahu kenapa tiba-tiba rumah saya diamankan polisi!” Jerry membentak lagi, dan mataku langsung membelalak kaget.

HAH?!

Jadi, rumah ini adalah rumahnya?! RUMAH JERRY?!

Ya ampun, kenapa rumahnya sampai dibatasi police line seolah-olah rumah itu adalah TKP pembunuhan? Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini?

Polisi itu tampak sedikit terkejut, kemudian bertanya dengan tenang. “Apa benar Adik ini Jeremy Ericson, adik dari Yohanes Valent?”

Jerry mengangguk dengan rahang yang semakin mengeras dan tangan terkepal di kedua sisi tubuh. “Ya, saya Jeremy. Sekarang jelaskan semua ini!”

“Maaf, Dik. Kami dari pihak polisi akan menjelaskannya nanti,” si polisi berujar. Dan aku nyaris pingsan saat polisi itu melanjutkan, “Sekarang ikut kami ke kantor polisi! Kami harus melakukan beberapa pemeriksaan atas dugaan kasus narkoba.”

TO BE CONTINUED

I have to say… hello conflict!._. this part is probably the shortest one : only about 8 or 9 pages, almost the same with the first part. Well, it’s a drastic decrease, but I hope it’s fine._.

Still, I hope it’s not bad and you appreciate it. Thank you!^^

Next chapter : 10

Download the Ebook?

download-icon2

Advertisements

11 thoughts on “[CHAPTER NINE] Little Stories of Ours

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s