[CHAPTER ELEVEN] Little Stories of Ours

Cover by Cindy Handoko

Cover by Cindy Handoko

Copyright © 2014 by Cindy Handoko

Previous chapters : 1 || 2 || 3 || 4 || 5 || 6 || 7 || 8 || 9 || 10

Sebelas

Stephanie

Dan semua mimpi buruk yang tak pernah kuharapkan itu pun dimulai…

 

***

AKU masih berdiri mematung di depan rumah Jerry tanpa sanggup berkata apa-apa. Kerumunan orang di sekelilingku semakin ramai, beberapa malah mendesakku mundur dan menegurku dengan kasar karena aku tidak bergerak seinci pun dari tempatku berdiri sejak tadi. Lututku bergetar lemas, dan mataku mendadak berkunang-kunang.

Jerry masih bersitegang dengan polisi di depan rumahnya. Ia masih berdiri di sana seperti beberapa detik yang lalu, tapi aku sudah berhenti memanggil-manggil namanya. Tenggorokanku tercekat dan terasa kering, seolah pita suaraku baru saja diiris oleh sebilah pisau tajam. Aku tidak sanggup berpikir. Aku bingung. Aku syok.

Segala sesuatu terjadi dengan begitu cepat. Tahu-tahu saja, para polisi sudah memborgol kedua tangan Jerry dan mendorongnya tanpa belas kasihan ke dalam mobil polisi yang diparkir rapi di depan rumah. Para wartawan mulai berdatangan, menambah kacau situasi yang tidak kumengerti ini. Kamera-kamera raksasa menyorot ke segala penjuru, mengabadikan rumah yang kini dibatasi police line berwarna kuning itu dalam sebuah video yang nantinya akan tersiar di televisi.

Aku ingin menghambur ke arah Jerry dan memintanya menjelaskan apa yang terjadi, tapi aku tidak bisa. Seluruh saraf tubuhku menjadi kaku dan aku hanya bisa melontarkan tatapan penuh tanda tanya padanya yang kini tengah duduk tenang di dalam mobil polisi—setidaknya, itulah yang dilihat orang-orang. Kenyataannya, hanya aku yang tahu kalau hatinya tidak tenang. Sikap tubuhnya yang gelisah dan rahangnya yang mengeras telah membuktikan segalanya.

Sesaat, pandangan mata kami bertemu. Ia sepertinya memahami isyarat mataku yang meminta penjelasan untuk semua kejadian yang begitu tiba-tiba ini. Aku berharap ia akan menggeleng untuk mengisyaratkan bahwa ia juga tidak mengerti mengapa polisi mendadak ingin menahannya, namun kenyataannya, ia malah melengos, menghindari tatapan mataku seolah-olah kehadiranku di sini tidak diharapkan.

Jantungku berdebar kencang dan sebuah perasaan khawatir merayap di hatiku.

Jerry melengos untuk menghindari tatapan mataku. Apakah itu berarti pengakuan secara tidak langsung bahwa ia terlibat dalam kasus narkoba ini?

Aku sering mendengar bahwa orang yang berbohong biasanya suka menghindari kontak mata dengan orang yang sedang dibohonginya. Aku sadar betul kalau hal-hal seperti itu biasanya akurat—karena aku terkadang juga menemukan beberapa orang yang melakukannya. Namun, entah mengapa, satu sisi hatiku menolak untuk percaya.

Jerry nggak mungkin melakukan hal sehina itu.

Sebuah peperangan batin yang cukup sengit terjadi. Di satu sisi, aku mulai mengingat kembali semua tingkah mencurigakan yang kadang ia tampakkan saat sedang bersamaku. Namun di sisi lain, aku tidak ingin menjadikan tingkah-tingkah mencurigakan itu sebagai dasar bagiku untuk mencurigai Jerry. Sisi hatiku yang ini percaya bahwa cowok itu pasti punya penjelasan logis untuk semua ini.

Sebelum aku sempat menyadari keadaan sekelilingku, mendadak saja, kulihat sekumpulan paramedis keluar dari dalam rumah sambil menandu seorang gadis berlumuran darah yang tampak sudah tak bernyawa. Kumpulan paramedis itu menyuruh orang-orang yang menghalangi jalan mereka untuk menyingkir. Mataku terbelalak lebar melihat sosok gadis muda yang ditandu menuju ambulans itu.

Demi Tuhan! Siapa orang yang setega itu membunuh seorang gadis dengan menusukkan benda tajam ke perutnya seperti itu?

Bulu kudukku meremang. Baru sekali ini aku melihat korban pembunuhan di depan mataku sendiri. Dan parahnya, aku tidak mengerti apa-apa di sini. Aku bahkan tidak tahu siapa gadis itu dan kenapa dia bisa berakhir dibunuh di sini.

Belum habis rasa syokku akibat melihat gadis dengan perut hancur lebur itu, aku sudah dibuat tercengang lagi oleh segerombolan paramedis lain yang menyusul dengan tandu yang mereka bopong. Kali ini, terlihat seorang pria muda yang terbaring tak berdaya dengan wajah pucat kebiruan dan mata melotot walaupun tanpa kesadaran yang penuh. Terdengar igauan tanpa arti dari mulutnya yang berubah warna menjadi keunguan. Sekujur tubuhnya menggigil, seperti kedinginan.

Aku langsung terhuyung ke belakang melihat pemandangan mengerikan itu.

Siapa lagi pria itu?!

Apa yang terjadi padanya sampai ia berakhir dalam kondisi naas seperti itu? Apa hubungan orang-orang ini dengan Jerry? Dan apa hubungan mereka dengan narkoba?

Mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu rasanya mustahil. Aku sadar sepenuhnya karena pertanyaan yang lebih sederhana daripada pertanyaan-pertanyaan itu pun tidak bisa kutemukan jawabannya. Pertanyaan lebih sederhana yang kumaksud antara lain, “Siapa Yohanes Valent?”, “Sejak kapan Jerry punya seorang kakak?”, dan, “Kenapa Jerry tidak pernah cerita padaku kalau ia punya seorang kakak?”

Baru pertanyaan seperti itu saja aku sudah tidak tahu jawabannya, apalagi pertanyaan mengenai siapa gadis tak bernyawa dan pria berwajah pucat itu. Jerry tidak tampak berniat menjelaskan apapun padaku, walaupun sejak tadi sudah kuserang ia dengan berbagai tatapan mohon penjelasan. Ia masih belum mau melihat ke arahku, dan itu membuatku semakin serbasalah.

Aku ingin sekali membelanya, tapi kalau yang dibela malah melengos begini, aku jadi tidak yakin untuk mempercayainya.

“Eh, eh, itu Valent, kan?” kudengar bisik-bisik dari seorang remaja cewek pada temannya dalam kerumunan, persis di depan tempatku berdiri. Walaupun aku tahu kenyataan akan semakin membuatku syok, tapi aku tidak sanggup menahan rasa penasaran yang menggerayangi hatiku.

Aku harus tahu seluk-beluk kasus ini agar bisa memutuskan untuk membela Jerry atau tidak.

Kalau aku tahu peristiwanya, aku tentu bisa memutuskan apakah Jerry pasti terlibat atau ini masih dugaan semata. Untuk itu, aku menajamkan telinga, menguping pembicaraan dua cewek itu.

“Yang mana? Yang mana?” teman cewek yang baru saja bertanya itu menyahut sambil berjinjit untuk melihat lebih jelas.

“Itu lho, yang lagi ditandu sama suster-suster,” jawab si cewek.

“Oh, iya!” temannya memekik, “Kayaknya lo bener! Itu Valent temen SMA kita dulu, kan?”

“Iya,” cewek itu mengiyakan, “Ya ampun, ternyata dia junkies, Sya. Gue tahu sih kalo dia emang terkenal berandal sejak dulu, tapi gue nggak nyangka kalo dia sampe terlibat kasus seserius ini.”

“Gue juga nggak nyangka,” temannya menggeleng-gelengkan kepala dengan tidak percaya, “Ya ampun, ternyata dia orangnya tega banget, ya. Udah junkies, masih ngebunuh pacarnya sendiri lagi.”

DEG!

Kerja jantungku langsung berhenti selama sepersekian detik. Mataku membelalak semakin lebar saat mendengar percakapan itu.

Astaga! Jadi, pria yang ditandu itu adalah Yohanes Valent, kakak Jerry? Dan dia membunuh pacarnya sendiri?

MEMBUNUH PACARNYA SENDIRI?!

Aku nyaris tidak mempercayai pendengaranku kalau saja cewek itu tidak menjawab, “Iya. Lo lihat keadaan pacarnya tadi, kan? Ngenes banget, ya?”

“Iya, meninggal di tangan pacar sendiri. Lebih parah lagi, ternyata pacarnya orang nggak bener gitu,” temannya menyetujui, “Eh, tapi kenapa kok Valent ikut-ikutan ditandu gitu? Mana mukanya biru semua, lagi. Emangnya dia kenapa?”

Si cewek mendesis dengan tampang ‘jadi-selama-ini-lo-nggak-tahu?’ kemudian menjawab dengan nada kesal, “Ya ampun! Jadi dari tadi lo nggak dengerin cerita gue? Dia kan OD, Sya! Overdosis!”

“HAH?! Sampe overdosis segala?” temannya memekik kaget—reaksi yang kurang-lebih sama dengan reaksi yang sedang diteriakkan batinku. “Tapi kenapa kok dia sampe ngebunuh pacarnya sendiri? Nggak mungkin, kan, dia tau-tau ngebunuh aja tanpa alasan?”

“Memang nggak,” si cewek mendesis kesal sekali lagi. “Ya ampun, kan dari tadi gue udah cerita kalo pacarnya itu mau menghalangi dia dari narkoba! Trus karena udah kalap, makanya dia ngambil pisau buat ngebunuh pacarnya itu!”

Nafasku spontan tercekat.

Jadi, narkoba bisa menghancurkan hidup orang sampai sebegini jauh? Bahkan bukan hanya hidupnya sendiri, melainkan juga hidup orang lain?

“Dia kalap… karena pengaruh narkoba?”

“Iya, lah! Lo pikir ada orang waras yang tahu-tahu ngebunuh pacarnya sendiri, gitu?”

“Iya, iya, gue tahu nggak ada,” temannya menggumam, “Tapi kok menurut gue rada nggak masuk akal, ya? Masa tetangga-tetangga nggak denger ada teriakan atau apa gitu?”

“Denger,” si cewek menjawab, “Tapi karena takut, makanya mereka nggak berani ngecek. Setelah yakin keadaan udah tenang, baru mereka ngedobrak rame-rame ke dalam rumah, dan ternyata udah telat.”

Temannya manggut-manggut.

“Sya, menurut lo, adiknya Valent terlibat?” si cewek balik bertanya. Mendengar nama Jerry disebut-sebut, aku langsung menajamkan pendengaran sambil berusaha menata hatiku yang masih sangat syok akibat cerita versi lengkap dari cewek itu yang baru saja kudengarkan.

“Menurut gue sih iya,” temannya menjawab, “Dugaan soal itu kan kuat banget. Mana mereka tinggal seatap, lagi.”

“Iya, menurut gue juga gitu,” si cewek menyetujui, “Dan lo lihat tampang adiknya tadi, kan? Nyantai banget, seolah it’s not a big problem buat dia, dan sebelumnya dia udah mengharapkan kejadian kayak gini bakal terjadi.”

“Nah, gue setuju,” temannya menimpali, “Kalo dia sungguhan terlibat, ada 50% kemungkinan dia bakal menanggung semua hukumannya sendirian.”

“Kok bisa, Sya?”

“Iya, lah! Lo lihat keadaan Valent, kan? Harapan hidupnya udah tinggal 50%, kali! Kalo dia meninggal, adiknya itu otomatis jadi wakil buat hukuman dia, plus hukuman buat dirinya sendiri!”

“Lho, terus bokapnya gimana?” si cewek bertanya heran, “Kan bisa aja hukumannya dilimpahin ke bokapnya, Sya?”

“Menurut gue bisa, asal adiknya itu terbukti nggak bersalah. Kalo dia juga terlibat, kemungkinan besar bakal dilimpahin ke dia. Naas, ya? Padahal adiknya masih SMA gitu.”

“Emang hukumannya apa, sih?”

“Gue juga nggak tahu,” temannya menjawab, “Tapi kan Valent terbukti pengedar. Gue pernah baca di koran, ada pengedar yang dihukum mati segala, lho!”

DHUARR!!

Tubuhku seolah disambar petir di siang bolong mendengar kalimat terakhir itu.

Jerry? Dihukum mati?

Dihukum mati? JERRY?!?!

Nafasku langsung berhenti dan kepalaku pusing seketika. Aku terhuyung ke belakang dan nyaris jatuh menimpa sepedaku sendiri saat sebuah tangan berhasil menangkap tubuhku dengan selamat. Aku menyipitkan mata untuk melihat pemilik tangan itu karena pandangan mataku sudah mulai berkunang-kunang.

Sesaat, kukira itu hanya halusinasi, tapi aku melihat sosok yang mirip Luna sedang berdiri di sampingku dengan wajah marah.

Karena sudah sering pingsan akibat syok sebelumnya, aku tahu kalau aku memang sering berhalusinasi sebelum pingsan, jadi kukira itu hanya halusinasi belaka. Tapi, semua dugaan itu lenyap begitu sebelah tangannya yang lain digunakan untuk menampar pipiku.

PLAK!!

Mataku langsung terbelalak lebar dan kesadaranku kembali. Butuh dua hal untuk meyakinkanku bahwa orang yang menangkap tubuhku tadi benar-benar Luna. Pertama, hanya Luna yang tahu cara menyadarkanku dari situasi hampir pingsan, dan cara itu adalah dengan menampar pipiku. Dan kedua, setelah aku mendapatkan penglihatanku yang jelas kembali, sosok di depanku ini tetap adalah Luna, bukan orang lain. Dan aku tentu saja masih mengenalinya kendati ia tampak kacau hari ini.

Saking masih syoknya aku, aku sampai tidak sempat bertanya mengapa wajah Luna terlihat luar biasa pucat dan kedua matanya bengkak. Aku juga tidak sempat bertanya mengapa ia memakai seragam sekolah, padahal tadi ia tidak masuk sekolah sampai membuatku khawatir bukan kepalang. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah pasrah dan membiarkannya menuntunku menuju sebuah mobil APV hitam yang diparkir di luar gang tempat rumah Jerry dibangun.

APV hitam?

Tunggu dulu, ini kan bukan mobil Luna? Mobil siapa ini? Bukankah Luna biasanya bawa Jazz ungu? Ke mana Jazz ungunya itu?

Namun, walaupun banyak pertanyaan berkelebat di benakku, mulutku tetap terkunci rapat, tenggorokanku kaku dan tidak mampu menyuarakan barang secuil pun kata. Aku sudah tidak punya tenaga untuk menolak saat Luna mendorongku masuk ke jok belakang mobil. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah menyadari bahwa mobil ini tidak disetir oleh Luna—seorang cowok berkaos santai yang kuduga adalah pemilik asli dari mobil ini duduk di jok pengemudi sambil memegang setir.

Siapa cowok itu? Sopir Luna kah?

Pemikiran tidak masuk akal itu buru-buru kubuang jauh-jauh. Pertama, keluarga Luna tidak pernah menyewa sopir pribadi sebelumnya. Dan kedua, penampilan cowok ini kelewat keren untuk ukuran sopir. Bahkan keluarga konglomerat pun tidak ada yang menyewa sopir sekeren ini.

Lantas siapa dia? Teman Luna? Atau, lebih parah lagi, pacar Luna?

Aku baru membuka mulut untuk mencoba bertanya, ketika Luna sudah menyambar dengan makian kasar.

“Goblok lo!” bentaknya begitu pintu mobil ditutup dan mobil dijalankan. Aku kaget mendengar makian sekasar itu keluar dari mulut Luna. Bukannya aku tidak pernah mendengarnya mengatakan hal itu, sih, tapi baru sekali ini dia mengalamatkan makian itu padaku. Belum sempat aku membalas perkataannya, dia sudah menyambung, “Otak lo ada di mana, sih?! Udah tahu tempat itu TKP kejadian kriminal, masih aja nongkrong di situ, bengong kayak orang bego!”

Aku baru akan membantah dengan mengatakan bahwa bukan hanya aku yang nongkrong di sana, melainkan puluhan orang lainnya juga melakukan hal itu, tapi Luna sudah menyambung lagi bentakannya.

“Lo bisa dikira terlibat juga karena lo dateng bareng Jeremy, goblok! Lo ini pura-pura nggak tahu atau emang nggak tahu, sih?! Harusnya lo lari, kek, atau apa, kek! Eeeeeh… ini malah bengong kayak nggak tahu apa-apa gitu!”

“Lun—”

“Lo harusnya cepat tanggap! Jadi orang jangan sok lemah tak berdaya gitu! Pake otak yang di kepala lo itu, jangan dipajang doang!”

“Tap—”

“Gue kira lo lebih pinter daripada ini, Steph! Taunya, lo malah kayak nggak tau apa-apa gitu.”

Maki-makiannya yang tanpa henti membuatku semakin kaget. Baru pertama kalinya Luna memaki-makiku sampai sebegini kejam. Biasanya, sekesal apapun ia terhadapku, ia selalu bisa mengontrol emosinya di depanku. Kali ini, kurasa ia sudah kelewatan.

“Luna,” panggilku lirih. Aku tidak tega ikut-ikutan membentaknya walaupun aku kaget bukan kepalang atas sikapnya yang kasar terhadapku, “Gue memang nggak tahu apa yang terjadi.”

“Tahu atau nggak tahu, tetep aja lo harus segera pergi dari tempat itu begitu tahu Jeremy ditahan! Apa lo nggak punya rasa takut?! Gue tahu lo sebenernya takut, tapi lo sok berani! Kalo takut, lo nggak usah sok pahlawan gitu!”

Aku tercengang mendengar Luna yang masih belum terlihat mau menyudahi makian kejamnya padaku. Demi Tuhan, apa yang terjadi padanya? Kenapa tiba-tiba dia jadi semarah ini? Apa dia tidak mau mendengarkan penjelasanku barang hanya sedikit saja? Apa dia tidak mau percaya padaku?

“Luna…” suaraku terdengar serak sekaligus lirih, “Cukup. Lo nggak perlu semakin mojokin gue seperti itu.”

“Halah, ini tuh biar lo nyadar kesalahan lo apa!” Luna tetap membentak-bentak dengan emosi membeludak, “Lain kali, jadi orang jangan cuma pinter teori doang, prakteknya dipake dong ilmu lo!”

“Luna!” suaraku meninggi, walau hanya sedikit saja, “Gue masih syok. Lo nggak usah nambah-nambahin masalah gini, dong!”

“OH! Jadi, menurut lo, gue ini bisanya cuma—“

“Luna, udah cukup,” cowok tak dikenal itu tiba-tiba menyela saat Luna semakin naik darah. Kalimat Luna terhenti, dan tatapan tajamnya yang semula diarahkan padaku berganti haluan menjadi pada cowok tak dikenal itu. “Lo jangan nambahin beban pikiran dia. Dia pasti syok lihat langsung korban tindakan kriminal di depan matanya. Biarin dia istirahat dulu, baru lo berdua selesaiin masalah kalian. Nggak baik kalo kalian berantem di saat dia masih syok gini. Bisa-bisa, kalian nggak bisa mikir rasional nantinya.”

Luna masih melotot, tapi kusadari ia menuruti cowok itu untuk menyudahi acara bentak-bentakannya. Melihat fenomena langka itu, aku langsung dapat menangkap sesuatu.

Jangan-jangan, cowok ini adalah cowok yang disukai Luna?

Pemikiran itu menuntunku pada pertanyaan-pertanyaan lain yang semakin membuatku berprasangka buruk mengenai Luna.

Jadi, selama ini dia naksir cowok? Sejak kapan? Kenapa dia tidak memberitahuku? Apa baginya aku sudah bukan sahabat lagi sampai-sampai dia nggak pernah menyebut-nyebut nama cowok ini barang hanya secuil pun di hadapanku?

Bukan cuma itu, dia juga membentak-bentakku tanpa belas kasihan tadi. Apa dia sudah nggak menghargaiku lagi? Apa dia menganggapku segoblok itu sampai-sampai nggak membiarkanku menjelaskan situasinya? Apa dia benar-benar sudah hilang kepercayaan terhadapku?

Buru-buru kutepis pikiran-pikiran buruk yang menghinggapi benakku itu. Nggak. Luna bukan orang seperti itu. Dia memang tempramental, tapi aku tahu dia selalu menganggapku sahabat sama seperti aku menganggapnya sahabat. Mungkin dia hanya khawatir terhadapku dan nggak mau aku kenapa-kenapa.

Tapi… kenapa aku tetap merasa kecewa terhadapnya, ya?

Ah, nggak, nggak. Aku nggak boleh berprasangka buruk terhadap sahabatku sendiri. Lagipula, dugaan-dugaanku itu belum terbukti kebenarannya, jadi aku tidak boleh asal tuduh terhadap Luna. Aku yakin dia hanya terlalu khawatir terhadapku.

Atas dasar pemikiran itulah, aku akhirnya menghela nafas panjang dan memandang ke luar jendela.

Dan saat rintik hujan mulai turun membasahi permukaan kota Jakarta, saat itulah berbagai pertanyaan yang tadi sempat menghampiriku datang kembali.

 

***

Berita yang disiarkan di TV pada sore harinya membuatku semakin tercengang. Ternyata, perkembangan kasus ini menjadi cukup rumit. Pertama, Valent—kakak Jerry yang menjadi peran utama dalam kasus narkoba ini—pingsan setelah masuk ke dalam ambulans dan sampai saat ini belum sadarkan diri. Menurut dokter yang menanganinya, Valent masih punya harapan besar untuk bisa selamat karena kelebihan zat dalam tubuhnya belum terlalu banyak dan belum sampai merusak sel-sel penting di tubuhnya. Selain itu, orang tua si cewek menuntut Valent atas kasus pembunuhan yang membuat mereka kehilangan putri semata wayang itu. Menurut kabar, persidangan akan dilakukan segera setelah kondisi Valent membaik dan ia sudah mampu beraktivitas seperti orang normal—yang mana membutuhkan waktu sekitar dua minggu menurut penuturan dokter terkait.

Namun, dua berita itu tidak ada apa-apanya dibanding berita yang baru saja ditayangkan dalam Breaking News sore stasiun TV. Berita ini, dapat dibilang, adalah berita yang memperparah perkembangan kasus. Ternyata, setelah mendapat kabar bahwa Valent OD dan saat ini sedang menjalani perawatan intensif serta Jerry ditangkap untuk menjalani pemeriksaan, sang ayah langsung panik dan ngebut gila-gilaan menuju rumah sakit tempat kedua putranya berada. Karena jalanan licin akibat air hujan yang membasahi aspal, roda mobil selip dan berakibat kecelakaan tunggal yang dialaminya. Kini, ia harus dirawat di UGD karena kehilangan banyak darah.

Semua berita mengerikan itu membuatku tidak bisa berhenti memikirkan nasib Jerry. Saat ini, pasti ia merasa sendirian. Pasti ia tidak punya siapa pun untuk diajak bicara. Lebih parah lagi kalau ternyata ia sungguh-sungguh tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa mengenai masalah ini. Bagaimana perasaaannya kira-kira? Marah? Sedih? Bingung?

Aku tahu, aku tidak boleh membela Jerry terlalu banyak. Apalagi, saat ini, polisi belum mengkonfirmasi fakta apapun. Tapi, entah mengapa, aku tidak ingin cowok yang sudah kuanggap sahabatku sendiri itu mengalami masa-masa sulit. Mungkin aku terlalu subjektif. Mungkin aku tidak seharusnya bersikap seperti ini. Namun, sisi hatiku yang membelanya memerintahkanku untuk tidak peduli. Yang kupedulikan hanyalah kondisinya saat ini, dan bagaimana aku sebisa mungkin mendukungnya.

Ah, ngaco aku. Bukankah seharusnya aku tutup mulut dan tidak memihak siapa-siapa sampai konfirmasi dikeluarkan? Kenapa aku malah membela Jerry? Bagaimana kalau ternyata ia terlibat?

Oke, aku memang benci untuk mengakui bahwa kemungkinan itu ada, tapi aku harus. Seberapa pun kuatnya sisi hatiku yang membelanya, tetap ada juga sisi lain yang meragukannya.

Benar atau tak benar berita ini, aku hanya harus tutup mulut saja sementara ini. Hanya itu saja.

Tapi kenapa rasanya begitu sulit untuk tidak membela sahabatku sendiri di saat-saat seperti ini, ya?

 

***

Keesokan harinya adalah hari terburuk dalam hidupku. Diawali dari bunyi jam weker yang memaksaku untuk bangun dari tidur-dua-jamku yang melelahkan, yang menuntunku pada rasa ngantuk luar biasa.

Semalam, aku tidak bisa tidur karena memikirkan masalah Jerry. Hal itulah yang menimbulkan kekacauan superhancur ini, dan untuk itu, aku bersumpah akan memaki-maki cowok itu kalau saja aku bertemu dengannya hari ini.

Sayangnya, aku tidak bisa mengganti kata “kalau saja” dalam kalimatku sebelumnya menjadi “saat”, sebab ternyata cowok itu tidak muncul di sekolah. Mungkin, ia harus ditahan sementara sampai hasil tes keluar, dan buruknya, aku tidak tahu kapan hari itu akan tiba.

Absennya Jerry dari sekolah membuat hari ini menjadi dua kali lebih buruk daripada seharusnya. Pasalnya, gosip menyebar begitu cepat. Dalam kurun waktu semalam saja, seisi sekolah sudah tahu mengenai berita keluarga Jerry itu. Aku tahu hal ini karena aku menjadi saksi bisu dari gosip-gosip bernada tak enak yang menyebar di seluruh penjuru sekolah.

“Eh, kakaknya Jeremy si berandalan itu ternyata pecandu narkoba, loh!”

“Katanya Jeremy itu juga pengedar, lho!”

“Yang ngebunuh cewek itu siapa, sih? Jeremy atau kakaknya?”

“Ih… Kok keluarganya ancur banget, sih?”

“Emang kenapa sih dia? Broken home?”

“Ya ampun! Gue tahu Jeremy dan keluarganya emang rusak, tapi kalo sampe narkoba? Aduuh…, tuh anak bener-bener nggak bisa dimaafin!”

Semua bisik-bisik yang tak jelas betul atau salahnya itu terus terdengar di sepanjang langkahku, baik di koridor, kantin, maupun kelas. Semua orang ribut membicarakannya seolah-olah berita ini adalah berita Perang Dunia 3. Beberapa hanya membicarakan saja, tapi beberapa menuduh dengan keji, bahkan sampai membuat hipotesis-hipotesis sendiri tanpa dasar yang kuat.

Awalnya, aku masih bisa menolerir semua gosip-gosip itu sebagai bentuk ketertarikan belaka terhadap suatu berita. Namun, menjelang siang, kupingku mulai panas. Apalagi mendengar gosip itu dibicarakan tanpa henti di mana-mana.

“Jeremy ternyata anaknya rusak banget, ya!”

“Aduh, tuh anak kudu dihukum mati biar kapok, kali!”

“Eh, dia nggak masuk sekolah, lho, hari ini! Pasti malu tuh, gara-gara ketahuan pecandu!”

Mendengar kalimat terakhir itu, aku benar-benar ingin mendatangi si penggosip dan menampari mukanya beberapa kali. Habis, dia kan nggak tahu penyebab Jerry nggak masuk sekolah. Lalu kenapa dia berani asal tuduh? Memangnya bagaimana perasaannya kalau dia jadi Jerry—dibicarakan, dihina, dan dituduh?

Masalah utamanya adalah, aku nggak bisa melakukannya. Pertama, aku nggak mungkin tahu-tahu mendatangi si penggosip dan menampari mukanya—itu benar-benar bukan gayaku. Dan kedua, bukan hanya satu orang yang bicara seperti itu, melainkan nyaris semua orang. Masa iya, aku mau menampari wajah nyaris semua orang di sekolah? Rasanya mustahil. Yang ada malah tanganku bakal bengkak sendiri dan aku diuber-uber massa nantinya.

Semua gosip tak jelas ini membuatku kepingin menggelar seminar dadakan di aula dengan judul “Mengetahui Fakta Sebelum Menggosipi Orang Lain”—seminar yang pasti bakal membuatku langsung jadi populer sebagai rekan setia pecandu narkoba, plus mungkin berkesempatan untuk diwawancarai oleh reporter.

Ih. Amit-amit, deh. Aku nggak mau dikenal sebagai rekan setia pecandu narkoba—terutama karena Jerry belum tentu adalah pecandu narkoba.

Maka, berusaha kutahan saja semua perasaan tak enak yang merayapi hatiku setiap gosip soal Jerry diungkit-ungkit lagi. Berusaha kuacuhkan saja sebutan-sebutan tak menyenangkan yang mereka lontarkan untuk Jerry.

Akibat terlalu banyak menahan-nahan emosi di hatiku, tampangku jadi benar-benar tak enak dilihat hari ini.

Sebenarnya bukan hanya itu penyebab tampangku jadi tak enak dilihat, melainkan ada satu masalah lagi : Luna.

Aku tidak tahu apakah cewek itu masih kesal pada tingkahku yang dianggapnya goblok kemarin, yang jelas, hari ini, dia sama sekali tidak mau kuajak bicara—entah hanya bertegur sapa di pagi hari maupun berbincang-bincang seperti biasa di kantin. Hal itu, terang saja, membuatku luar biasa kecewa. Sebab sejujurnya, aku tidak merasa dia perlu marah sampai sebegitunya padaku hanya gara-gara kejadian kemarin, karena toh semuanya sudah berlalu, dan buktinya aku tidak kenapa-kenapa. Lantas mengapa ia terus bertingkah seolah-olah kami tidak saling kenal begini? Memangnya sebesar apa sih kesalahanku padanya?

Karena tidak mau menyulut kemarahan dalam diri Luna, aku berusaha untuk terus bersikap seperti biasa—mengikutinya ke mana pun dia pergi dan mengajaknya bicara seolah tidak sadar kalau dia sedang marah. Aku tidak peduli dia tidak sekali pun menanggapiku dan malah terus-terusan melontarkan lirikan sinis ke arahku, yang penting aku sudah mencoba. Terkadang, sikap seperti inilah yang diperlukan untuk membuat seseorang luluh. Dan untuk itu, aku berusaha mengontrol diriku untuk tidak menanyakan hal-hal yang berpotensi membuatnya marah—misalnya soal cowok kemarin. Aku bisa membayangkan reaksinya jika aku bertanya mengenai cowok itu.

“Urus urusan lo sendiri, goblok!”

Oke, mungkin tidak persis seperti yang kubayangkan, tapi kira-kira seperti itulah pastinya—atau mungkin, dia malah tidak bakal menanggapiku sama sekali. Maka, berusaha kuhindari topik-topik seperti itu.

Karena terlalu banyak menahan-nahan segala sesuatu di hatiku hari ini, aku jadi tidak betah. Maka, segera setelah bel pulang berbunyi, aku langsung setengah berlari ke luar kelas.

Aku harus segera pulang. Aku harus pulang. Pulang. Pulang…

“Stephanie.”

Semua harapanku untuk segera pulang langsung buyar begitu seseorang menepuk pundakku sambil memanggil namaku. Aku menghela nafas panjang.

Tanpa membalik badan, aku sudah tahu siapa orang yang baru saja memanggilku.

David.

Baiklah, bertemu David adalah hal terakhir yang kuharapkan hari ini. Sebab, aku yakin tampangku pasti bakal membuat imejku jeblok di depan matanya. Aku tidak mau hal itu terjadi hanya gara-gara aku sedang banyak pikiran. Maka dari itu, kemunculannya membuat jantungku seolah hendak melompat keluar dari tempatnya.

Sambil berbalik dan berusaha tersenyum seramah mungkin, aku harap-harap cemas dalam hati. Namun, di luar dugaanku, David malah tidak terlihat kaget sama sekali melihat tampangku yang lebih buruk daripada itik buruk rupa. Senyumnya malah semakin lebar, membuat jantungku benar-benar hendak melompat keluar dari tempatnya.

“Hai,” sapaku, berusaha terdengar ramah walaupun rasanya sulit harus bersikap seperti itu saat ini.

“Hai,” David membalas, “Lo kenapa, Steph? Lo kelihatan nggak sehat.”

“Nggak apa-apa,” jawabku spontan, “Hari ini nggak ada rapat mading, kan, Kak?”

“Nggak ada,” David menjawab, “Emangnya kenapa?”

“Gue…,” aku berhenti sejenak untuk memikirkan sebuah alasan, “Cuma lagi butuh istirahat aja hari ini.”

David mengerutkan kening, dan entah mengapa, aku jadi merasa tak siap jika ia menanyakan pertanyaan apapun padaku setelah ini. Buru-buru aku menyambung perkataanku dengan, “Hari ini ada rapat OSIS lagi, kan? Kalo gitu, gue sebaiknya pulang duluan.”

Aku berbalik dan bersiap untuk berlari menuju sepedaku di pekarangan belakang, tapi rencana itu serta-merta gagal karena David menahan pergelangan tanganku dengan cepat. Aku berbalik dengan wajah bertanya-tanya.

“Rapat OSIS-nya diganti besok, dan gue rasa, yang lo butuhin bukan istirahat.”

Aku mengerutkan kening, tidak menangkap maksud perkataannya barusan. “Maksudnya?”

David menaikkan satu sudut bibirnya membentuk seulas senyum simpul. “Kayaknya gue bisa nemenin lo makan es krim. Lo butuh itu.”

 

***

Aku benci mengakui bahwa David benar—walaupun aku tidak yakin ia sepenuhnya benar. Setelah kami berdua berjalan menuju kedai es krim dekat sekolah dan memesan dua scoop es krim Chocolate Mint, aku memang merasa lebih tenang. Sedikit-demi-sedikit pikiran beratku mulai terlupakan, walaupun hanya untuk sejenak.

Aku tidak yakin ia sepenuhnya benar, karena aku tidak tahu apa yang membuatku lebih tenang—es krim Chocolate Mint yang rasanya luar biasa enak ini, atau keberadaan David yang menemaniku berbincang-bincang seru. Habis, cowok itu banyak berusaha untuk membuatku tersenyum hari ini lantaran tampangku sangat kacau. Dan, yah, harus kuakui, ia memang selalu berhasil melakukannya. Hanya dengan melihat wajah tampannya saja, aku sudah tersenyum terus-terusan dalam hati. Jadi, membuatku tersenyum saat hatiku sedang kacau tentu bukan pekerjaan sulit untuknya.

Meskipun begitu, aku bersyukur kondisi pikiran yang amburadul tidak membuat mulutku terpeleset membocorkan masalah-masalah yang sedang menggangguku. Aku masih cukup waras untuk tidak membiarkan David tahu mengenai persahabatanku dengan Jerry—mengingat aku sempat menyangkalnya beberapa kali saat cowok itu mulai menyangkut-nyangkut nama Jerry. Dan aku juga tidak mau acara senang-senang ini berubah haluan menjadi acara curhat mengenai sikap aneh Luna. Intinya, masalah-masalahku sama sekali tidak cocok untuk dibicarakan di saat-saat seperti ini. Lebih baik kumanfaatkan saja momen ini untuk melupakan sejenak masalah-masalah itu.

“Gimana persiapan pensinya?” Aku bertanya untuk sekadar basa-basi.

“Lancar,” jawabnya, “Semua pengisi acara udah siap. Tinggal beberapa slide show aja yang perlu di-finishing sebelum siap tampil.”

Aku manggut-manggut. “Pasti keren dong, pensinya?”

David mengacungkan jempol untuk menyetujui, “Clara banyak andil di pensi kali ini. Dia anaknya tanggung jawab banget, jadi gue punya perasaan baik kalo pensinya bakal lancar di bawah komando dia.”

Aku mengerutkan kening. “Lho? Yang ketua OSIS bukannya Kak David?”

“Memang gue,” David menjawab, “Tapi sub-ketua untuk ngurusin pensinya Clara, dan gue sedikit-banyak cuma ngejelasin konsep-konsep yang dia bikin aja.”

Karena tidak mengerti apa itu sub-ketua dan konsep dan segala tetek bengek yang disebut-sebut David, aku akhirnya mengangguk-angguk sok paham saja. “Pokoknya nanti gue nonton, deh.”

“Harus,” David menyahut sambil menyuapkan sesendok es krim ke dalam mulutnya, “Lo nggak boleh ngelewatin pensi kali ini. Soalnya pasti bakal wow banget.”

Aku tersenyum, “Nggak bakal ngelewatin, deh.”

David tertawa kecil, kemudian kami berdua terdiam selama beberapa saat, sibuk dengan es krim masing-masing. Sedang asyik-asyiknya menyendok es krim, tiba-tiba David membuka pembicaraan lagi dengan topik yang membuat jantungku langsung berhenti bekerja selama satu detik.

“Oh, ya, Steph. Lo udah denger gosip soal Jeremy Ericson?”

Gerakan tanganku yang hendak menyuapkan es krim ke dalam mulut terhenti seketika. Kuletakkan kembali sendok ke dalam gelas dan kugigit bibir bawahku untuk menahan agar aku tidak mendadak memekik kaget atau semacamnya. “J-Jeremy?”

“Iya, yang soal kakaknya itu,” David menyahut, “Gosipnya lagi rame di TV-TV.”

“Gosip… er… yang… narkoba… itu…” Mendadak bicaraku jadi terbata-bata tanpa bisa kukontrol. Beruntung, David langsung memotong kalimatku yang tidak jelas juntrungnya.

“Iya, yang itu,” potongnya. “Lo udah denger, kan?”

Aku mengangguk kaku sambil mengaduk-aduk es krim dalam gelas kaca di hadapanku. “K-kenapa emang?”

“Nggak apa-apa,” jawabnya, “Gue cuma mau tahu pendapat lo aja. Soalnya gue denger banyak versi cerita dari beberapa orang, jadi gue kepingin tahu gimana versi lo.”

Versiku?

Jerry pasti nggak bersalah dan punya penjelasan logis untuk semua ini, begitu?

Ah, nggak, nggak. Salah-salah, aku malah dicap membelanya. Padahal, aku membelanya, kan, dengan kapasitas sebagai sahabatnya, bukannya sebagai pihak tak berkepentingan yang tahu-tahu memihaknya. Pembelaanku terhadapnya juga sangat subjektif lantaran aku sudah menganggapnya sahabat, jadi tak ada gunanya mengatakan hal itu di hadapan David kalau tak mau dianggap membela pihak yang tak jelas.

“Pendapat gue…, yang mengenai apa?”

“Mengenai Jeremy-nya. Menurut lo, dia punya andil nggak, dalam kasus ini?”

Sialan.

Harus kujawab apa pertanyaan ini?

Berhubung semua pembelaanku terhadap Jerry mustahil untuk kuungkapkan, kini semua jawaban yang terngiang di otakku jadi terdengar tak berdasar.

“Mm…, yah…,” aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal, “Menurut gue, sih, mendingan kita nunggu konfirmasinya dulu aja.”

“Konfirmasi polisi atas keterlibatan Jeremy, maksud lo?”

Aku mengangguk sambil memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyambung perkataanku agar terdengar masuk akal. Habis, ‘menunggu konfirmasi’ itu kan memang hal yang seharusnya dilakukan, bukannya opiniku. Aku takut David akan menyadari kalau jawaban itu sebenarnya tidak menjawab pertanyaannya, berhubung jawaban terkait tidak mengandung opini apapun yang keluar dari diriku sendiri. Hanya kata ‘menurut gue’-lah yang membuatnya sedikit-banyak terdengar seolah keluar dari hasil pemikiranku sendiri—padahal sebenarnya tidak.

Untungnya, David selalu tahu apa yang kuinginkan. Buktinya, dia sama sekali tidak sadar—atau mungkin dia sadar, tapi memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh—dan malah langsung beralih pada pertanyaan lain. “Kalo soal kakaknya itu, menurut lo, kasusnya bakal jadi rumit?”

“Maksudnya?” Aku bertanya.

“Gini, ya. Menurut gue, kakaknya itu harus masuk rehab, cepat atau lambat. Tapi, kalo setelah pulih, dia langsung harus sidang dan divonis hukuman, kapan dia mau rehabnya? Nah, di sinilah menurut gue bakal jadi rumit. Keluarga korban pasti nuntut supaya hukuman dilaksanain sesegera mungkin, kan? Sementara kalo nggak rehab, dia pasti bakal mengulangi kesalahan yang sama.”

Aku mengangguk-angguk dengan tampang sepaham mungkin, biarpun sebenarnya tidak sepenuhnya mendengar apa yang David katakan barusan. Yang penting kelihatan paham, maka selamatlah aku. “Menurut gue juga gitu.” Nah! Tambahan kalimat itu, aku jadi kedengaran dua kali lebih diplomatis daripada yang sebenarnya.

David mengangguk-angguk, “Kasihan bokapnya, ya.”

“Iya,” gumamku, masih dengan gaya sok paham yang meyakinkan.

“Tapi kalo broken home gitu, memang nggak heran sih, anaknya jadi rusak-rusak,” David menambahkan. Kalimat terakhirnya itulah yang membuat perhatianku serta-merta langsung terpusat pada kata-katanya lagi.

Wah, ini baru fakta baru.

Ternyata keluarga Jerry broken home sungguhan. Apa David tahu lebih jauh, ya? Siapa tahu, aku bisa memuaskan sedikit rasa penasaran mengenai kehidupan Jerry yang serbatertutup. Berbekal rasa penasaran itulah, aku pun akhirnya bertanya pada David, “Keluarganya broken home? Kenapa, tuh?”

“Iya,” David menjawab, “Denger-denger, bokap sama nyokapnya cerai gara-gara bokapnya ketahuan selingkuh sama banyak cewek. Mereka berdua cerai setelah salah satu selingkuhan bokapnya datang ke rumah mereka dan minta pertanggung jawaban atas kehamilannya.”

Deg.

Aku tertegun untuk yang kesekian kalinya.

Oke. Jadi, sekacau apakah kehidupan yang selalu disembunyikan Jerry di balik semua tingkahnya itu? Kenapa aku tidak tahu barang hanya secuil saja? Kenapa orang lain yang bukan sahabatnya malah lebih tahu dibanding aku?

Ini nggak adil. Dia harus memberitahuku semuanya, segera setelah kami bertemu lagi nanti. Sebab untuk membelanya, aku butuh cerita versi lengkap dari awal sampai akhir.

Dan satu lagi. Aku nggak suka orang yang main rahasia-rahasiaan terhadapku, terutama orang itu adalah orang yang sudah kuanggap sahabat sendiri—walaupun belum tentu ia juga menganggapku sahabatnya.

Pokoknya, ia harus menjelaskan semua ini.

“Terus…,” suaraku mulai terdengar serak, pertanda emosi-emosi yang tidak baik mulai menyerang hatiku, “Nyokapnya ke mana?”

David tampak membeku selama sepersekian detik, tapi kemudian aku sadar itu sepertinya hanya halusinasiku saja, sebab detik setelahnya, ia sudah menjawab dengan nada santai seperti sebelumnya, “Nggak tahu. Ada yang bilang meninggal, ada juga yang bilang pindah ke tempat yang jauh. Gosip-gosip nggak jelas itu kan udah mulai nyebar di sekolah sejak lama.”

“Oh ya?” Aku menggumam, “Gue nggak pernah denger gosip semacam itu.”

“Mungkin karena lo nggak seberapa tertarik urusan begituan. Tapi para siswa yang hobi ngegosip ngejadiin ini sebagai bahan gosip yang menarik.”

“Jadi, dia sering diterpa gosip-gosip nggak bener?”

“Yep,” David menjawab mantap, “Jeremy emang udah lama jadi semacam icon berandalan di sekolah. Nggak heran dia sering digosipin, dan gosipnya kebanyakan nggak jelas bener atau salahnya.”

Termasuk gosip yang satu ini, sambungku dalam hati. Aku semakin nggak bisa membayangkan kehidupan cowok itu. Selama ini, dia selalu bisa menyembunyikan segala bebannya dengan tameng sikap sok santainya itu. Makanya, dalam beberapa kesempatan, aku berpikir, mungkin aku sudah bunuh diri duluan kalau jadi dia—dilabeli berandalan nggak naik kelas yang nyolot, punya masa lalu nggak jelas, dan digosipin sana-sini. Benar-benar jauh dari tipe hidup idaman.

Dan seberapa kuatnya dia dalam menghadapi semua masalah itu mungkin adalah salah satu alasan aku ingin membelanya.

“Masalah ini bikin dia tambah digosipin yang nggak-nggak,” David mengimbuhi, “Nyaris semua orang yakin kalo dia terlibat. Soalnya, lo tahu sendiri reputasinya sehancur apa. Orang-orang yang benci sama dia pasti ngejadiin ini semacam kesempatan buat nuduh dia dan jadi provokator buat orang-orang lain. Dan akhirnya, berita kayak ginilah yang nyebar.”

Aku mengangguk-angguk. “Kalo dia ternyata nggak bersalah…, apa mereka bakal ngelepasin dia?”

“Belum tentu,” David menjawab, “Tapi kemungkinan besar, label itu akan terus melekat di dirinya.”

Dan jawaban itulah yang kemudian membuat hari-hariku berikutnya jadi dipenuhi kegelisahan dan rasa khawatir.

 

***

Aku membuka mataku yang terasa luar biasa berat pagi ini. Sudah lewat tiga hari sejak gosip-gosip tak enak itu pertama kali menyebar, dan sekarang isu-isu yang beredar tambah parah lantaran Jerry belum juga muncul di sekolah untuk mengklarifikasi bahwa ia sudah dilepaskan polisi atau belum. Ada yang bilang polisi merahasiakan keterlibatannya kepada publik karena tidak ingin gosip parah menerpa dirinya, ada juga yang bilang dia kini sedang ditahan polisi karena ketahuan terlibat. Sebenarnya belum ada yang tahu apakah dia sungguhan terlibat atau tidak, tapi kalau dia muncul di sekolah, setidaknya gosip-gosip itu akan sedikit mereda lantaran orang-orang waras pasti bisa menebak kalau dia dilepaskan—dan dilepaskan artinya tidak terlibat.

Sayangnya, sepertinya itu cuma harapanku saja. Sebab, sampai sekarang, aku belum juga bisa melihat wajahnya lagi.

Aku turun dari kasur dengan lemas dan mandi secepat mungkin. Setelah berganti pakaian dengan seragam hari ini, aku segera turun ke lantai dasar dan menyambar roti terdekat yang kulihat. Aku memang selalu makan roti di pagi hari. Habis, tidak ada waktu untuk membeli makanan, apalagi memasak.

Setelah selesai makan, aku menyambar tasku dan memakai sepatu, kemudian menghampiri sepedaku yang terparkir di garasi. Dengan santai, kukayuh sepedaku menuju sekolah.

Aku sampai di sekolah terlalu awal. Hal ini kuketahui dari masih ramainya lapangan oleh murid-murid. Itu tandanya, bel masuk masih lama. Kalau bel masuk sudah tinggal sebentar lagi, pasti murid-murid itu akan berlarian masuk ke kelas masing-masing seperti dikejar anjing.

Bukan hal yang terlalu mengejutkan, sih. Yang mengejutkan adalah ternyata Luna ada di antara murid-murid di lapangan itu. Cewek itu sedang duduk di dekat pohon di sisi lapangan—hal yang tidak biasa, karena biasanya dia lebih suka mendekam di kelas sampai bel berbunyi. Raut wajahnya tidak terlihat baik, dan itu membuatku mau-tak-mau bertanya-tanya.

Kendati sudah cukup lama tidak berkomunikasi tentang masalah pribadi dengannya—karena…, yah, dia masih saja mendiamkanku sejak peristiwa itu—aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak merasa penasaran. Maka, kuhampiri dia dan duduk di sampingnya.

“Hey,” aku memanggil setelah mengumpulkan segenap keberanian. Luna mendongak dan tampak terkejut melihatku tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Dan aku kemudian sadar kalau sapaan balik hanya harapanku saja, sebab ternyata cewek itu malah melengos dengan sinis. “Lun,” panggilku.

“Hm?” Dia menyahut sambil memandangi ujung sepatunya yang sebenarnya tidak sebagus itu untuk terus-terusan dipandangi.

“Lun, lo kenapa sih, akhir-akhir ini?”

“Kenapa apanya?” ia bertanya balik dengan nada malas-malasan yang membuatku semakin ingin menyelesaikan masalah ini dengannya secepat mungkin. Sebab, mendengar nada malas-malasan itu, aku jadi kangen pada celotehan supercerewet yang biasa ia ocehkan.

“Nyuekin gue, nggak ngenalin pacar lo ke gue, pura-pura nggak kenal gue. Kayak gitu lo masih nanya lagi?” aku sengaja memancing agar Luna emosi karena merasa kubodoh-bodohkan. Setidaknya, kalau dia marah, dia bisa memperhatikanku sedikit, bukannya terus-terusan memperhatikan ujung sepatu yang tidak bergerak. Namun aku salah. Luna sepertinya memang berniat nyuekin aku, dan kesalahan itu diperkuat lantaran dia sudah mengenalku luar-dalam. Hal itu membuatku nyaris yakin kalau dia sudah tahu tujuanku memancing emosinya bahkan sebelum aku sempat berpikir tentang itu.

Bertengkar dengan sahabat memang nggak sesederhana kelihatannya.

“Gue nggak nyuekin elo, cowok itu bukan pacar gue, dan gue nggak duduk berdua di bawah pohon bareng orang yang nggak gue kenal—kalo itu penjelasan yang lo mau,” sahutnya acuh-tak-acuh.

Aku mendesah frustasi, “Luna, lo tahu bukan itu maksud gue.”

“Gue tahu,” potongnya, “Maksud lo, lo mau ngata-ngatain gue gaje, kan?”

“Bukan, Lun,” aku menyahut, “Sumpah, gue cuma bingung aja dengan sikap lo yang berubah akhir-akhir ini.”

“Nggak ada yang berubah dari diri gue,” jawabnya, “Kecuali bahwa ternyata gue tambah tinggi satu senti setelah diukur kemarin.”

“Luna, gue tahu lo nggak segoblok itu untuk nggak memahami apa yang gue omongin,” aku menyela, lagi-lagi untuk memancing emosinya yang sepertinya sulit sekali dipancing pagi ini.

“Oh, jadi lo udah ada perkembangan,” gumamnya, “Akhirnya lo berani ngata-ngatain orang goblok. Dan bravo, ternyata orang beruntung itu gue.”

“Lun, please, deh, dengerin gue dan jawab sejujurnya,” aku mendesah, “Gue nggak perlu jawaban yang lo maksudkan buat mengalihkan pembicaraan seperti itu.”

Luna memutar kedua bola matanya, kemudian menghela nafas panjang dan menoleh ke arahku. Ekspresinya terlihat seperti sedang menahan emosi. “Stephanie yang selalu benar dalam segala sesuatu, lebih baik lo introspeksi diri dulu sebelum nanya-nanyain gue macem-macem. Dan satu lagi, gue lagi banyak pikiran, jadi lebih baik lo urusin aja dulu urusan pembelaan terhadap ‘SAHABAT’ lo yang juga selalu benar dalam segala sesuatu itu.”

Aku mengerutkan kening. Serius, deh. Aku nggak ngerti apa yang dibicarakan Luna. Kenapa tiba-tiba dia menyuruhku introspeksi diri? Apa kesalahan yang sudah kulakukan padanya sampai-sampai aku harus introspeksi diri? Dan apa hubungan semua ini dengan Jerry?

“Luna, please, jangan bikin masalahnya tambah nggak jelas gini. Mending kita selesaiin aja semua masalah yang ada sekarang. Gue nggak suka masalahnya terlalu berlarut-larut,” aku memohon. Luna memutar kedua bola matanya sekali lagi.

“Lo bener-bener mau tahu apa kesalahan lo?” Dia bertanya dengan nada sarkastis, “Tapi gue kasihan, sih, sama lo. Ntar lo kaget kalo gue beberin semua kesalahan lo di sini.”

“Nggak,” aku menyela cepat, “Kalo gue ada salah, lo mending kasih tahu gue sekarang. Gue janji nggak akan menyela lo.”

“Oke, kalo itu memang yang lo mau,” dia mengawali, kemudian menghirup nafas dalam-dalam, seolah bersiap untuk memberikan sebuah pidato panjang. “Sejak lo deket sama Barney—sorry, David, maksud gue—lo suka ngacuhin gue. Lo selalu ninggal gue setiap pulang sekolah, dan lo lebih sering diem aja kalo gue ajak bicara. Mengenai sikap gue yang suka nyuekin lo akhir-akhir ini, itu karena gue mau lo ngerasain apa yang gue rasain—dicuekin, nggak didengerin, dan dianggap nggak ada. Tambahan lagi, sejak masalah Jeremy, lo selalu bertingkah seolah-olah lo ini korban, dan bukannya dia. Lo selalu menunjukkan pembelaan terhadap oknum berandalan gaje yang gue yakin sebenarnya pengedar narkoba itu. Lo selalu pasang wajah tertekan setiap kali ada yang bicarain dia, dan itu bikin gue muak. Gue yakin lo nggak mengalami masalah separah yang gue alami, tapi lo bertingkah seolah-olah lo ini tertimpa berton-ton masalah yang nggak bisa diselesaiin—lo bertingkah seolah-olah lo ini tokoh utama dari sebuah cerita. Lo nggak menyadari apa yang terjadi di sekeliling lo, dan tanpa sadar, lo udah berubah, hanya dalam kurun waktu beberapa hari aja. Lo udah jarang menyapa gue lagi, lo udah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan baca buku lo yang biasanya gue anggap nyebelin tapi sekarang jadi ngangenin itu, dan ini semua cuma gara-gara masalah cowok. COWOK. Dan gue sekarang jadi tahu sesuatu : ternyata lo itu ganjen. Lo deket sama David dan ngaku-ngaku suka sama dia, tapi begitu ada masalah Jeremy ini, lo bertingkah seolah-olah lo itu pacarnya dan…, argh, gue nggak tahu lah! Pokoknya lo itu malu-maluin. Tau, nggak?”

Setelah dia menyelesaikan kalimat panjang lebar yang diucapkan dengan kecepatan bak kereta api ekspres itu, aku hanya bisa melongo lebar-lebar. Aku punya argumen untuk beberapa fakta yang dia ungkapkan, tapi beberapa lainnya malah baru kusadari sekarang. Jadi aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Banyak hal yang tidak kumengerti di sini, dan aku juga tidak menyangka dia benar-benar akan bicara panjang lebar seperti ini. Aku terlalu syok untuk menanggapi ucapannya.

“Tuh, kan? Lo sekarang kaget,” dia mengakhiri dengan santai, “Gue harap cuma itu yang lo mau tahu. Soal Kak Marcell…, nggak. Gue rasa belum saatnya gue jelasin ke elo. Apalagi gue baru ada masalah sama dia, dan gue nggak mau lo tambah kaget lagi kalo denger masalah-masalah gue yang bejibun.”

Luna bangkit berdiri sambil mengibaskan tangannya di udara. Sebelum pergi lebih jauh, ia berbalik menghadapku yang masih terpaku di tempatku duduk dan berkata, “Oh, ya, dan satu lagi. Kak Sella datang, dan berkat dia, gue nggak jadi dikurung bokap-nyokap di kamar selama tiga hari. Thanks buat lo, karena selama ini lo udah nggak peduli dengan hal-hal seperti itu.”

Aku semakin tercengang mendengar kalimat terakhirnya itu. Baru kali ini Luna tidak memberitahukan hal-hal seperti itu padaku. Biasanya, kalau Kak Sella—sepupunya dari Solo itu—datang, Luna selalu heboh dan memaksaku mampir ke rumahnya untuk bertemu Kak Sella. Tapi, kali ini, kurasa dia sudah benar-benar muak terhadapku sampai-sampai kabar seperti ini saja tidak dia beritahukan padaku.

Aku hendak memanggil Luna, tapi tenggorokanku mendadak kering, dan sekujur tubuhku seolah tidak mengizinkanku untuk bangkit berdiri dan mengejarnya yang sudah menjauh dari tempatku duduk. Barulah setelah sosoknya menghilang di balik tangga, tubuhku bisa bergerak bebas kembali. Namun aku sudah hilang keberanian untuk menyusulnya, jadi aku hanya duduk diam seperti orang bingung, menatap kosong ke paving lapangan sekolah yang dihiasi beberapa dedaunan kering.

Ini semua tidak benar.

Aku bukannya mendiamkan Luna dengan sengaja. Saat itu, aku hanya terlalu gugup dan bingung untuk menanyakan perihal ‘insiden sambal’ yang—omong-omong—sampai sekarang belum kuketahui kebenarannya itu. Luna paham betul kalau aku selalu jadi pendiam kalau sedang gugup, dan biasanya dia selalu menolerir hal itu. Masalah utamanya adalah, dia tidak tahu kalau aku sedang gugup. Jadi, dikiranya aku sengaja bersikap cuek terhadapnya.

Semua kesalahpahaman ini benar-benar membuat tali persahabatan di antara kami terancam putus, dan aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semua ini padanya. Luna orang yang sulit—seperti yang sudah bekali-kali kutegaskan. Dan dia juga luar biasa keras kepala. Daripada menerima semua penjelasanku mengenai kejadian sebenarnya, kurasa lebih besar kemungkinan ia malah akan mengira aku membela diri setelah ia beberkan semua “kesalahan”-ku. Aku tidak mau hal itu terjadi.

Tapi kalau tidak dijelaskan, kesalahpahaman ini akan merintangi hubungan kami selamanya. Aku tidak mau persahabatan kami berakhir hanya gara-gara masalah yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. Aku bukannya tidak mau tahu masalah apa yang sedang dihadapinya, tapi apa perlu menjadikan masalah-masalah itu sebagai penghancur persahabatan kami? Apa perlu merahasiakan masalah-masalah itu dariku?

Aku tidak suka sikapnya yang tiba-tiba jadi aneh tanpa mau memberikan penjelasan. Aku tidak suka caranya membeberkan semua kesalahanku yang membuatku terdengar seperti pihak paling bersalah. Dan aku juga tidak suka bagaimana ia tidak memberitahuku hal-hal yang seharusnya kuketahui.

Terlebh lagi, aku tidak suka situasi di mana aku tidak tahu kepada siapa aku harus bicara. Biasanya, Jerry selalu ada di sana, mendengarkanku dengan sejuta banyolan konyol yang selalu membuatku merasa lebih baik. Tapi, sekarang tidak akan sama lagi. Sebab dia punya masalah sendiri, dan aku tidak boleh menambah-nambahi masalah orang dengan masalahku sendiri. Lagipula, dia juga belum menampakkan diri sama sekali.

Terlalu banyak pikiran-pikiran yang mengganjal hatiku. Rasanya seluruh emosi yang sudah lama kutahan-tahan hendak tumpah ruah—entah dalam bentuk tangisan atau emosi negatif. Aku kepingin mengejar Luna dan memaksanya mendengar penjelasanku serta menceritakan masalah-masalahnya, kemudian melakukan sedikit argumen dengannya sebelum berbaikan kembali. Aku kepingin berbaikan menjadi urusan gampang seperti dulu sebelum masalah ini datang. Aku kepingin hubunganku dengan Luna kembali seperti dulu lagi.

Dan di atas segalanya, aku kepingin Luna kembali menjadi Luna yang dulu lagi. Walaupun ia suka cerewet, itu tetap lebih baik daripada ia bersikap seperti ini. Walaupun ia suka bicara hal-hal yang tidak penting, itu tetap lebih baik daripada tidak bicara sama sekali.

Tapi… kenapa rasanya mustahil untuk mengembalikan hal-hal itu?

Aku masih duduk dengan pikiran yang luar biasa berat dan emosi yang hendak naik ke ubun-ubun saat kemudian seorang cowok lewat di depanku. Bukan, itu sih bukan berita baru. Sejak tadi, memang banyak cowok yang berlalu-lalang di depan mataku—mulai dari cowok nerd yang lewat sambil menenteng-nenteng buku Fisika, sampai cowok keren yang mengundang pekikan histeris cewek-cewek yang kebetulan ada di sekelilingku. Namun, bukan lewatnya cowok itu di depanku yang membuatku terkejut. Melainkan siapa cowok itu-lah yang membuat nafasku langsung tercekat.

Aku nyaris tidak mempercayai penglihatanku sendiri, tapi cowok itu betul-betul adalah Jerry!

Astaga, akhirnya dia muncul juga di sekolah! Hatiku makin dipenuhi emosi-emosi yang tidak jelas—antara ingin menghambur ke arahnya dan curhat panjang-lebar mengenai betapa bingungnya aku terhadap Luna, atau menyuruhnya menjelaskan segala sesuatu yang masih mengganjal pikiranku soal kasusnya yang akhir-akhir ini sedang heboh di mana-mana.

Semua emosi itu—seperti yang sudah sering terjadi—malah membuatku jadi tak bisa bergerak saking kagetnya.

Jerry sendiri berjalan tanpa memperhatikanku. Yah, aku bahkan tidak yakin dia melihat keberadaanku. Kusadari ada satu perubahan mencolok yang terjadi pada dirinya selama empat hari terakhir ini : ia tampak tertekan. Garis-garis wajahnya yang biasanya tegas dan keras tampak lesu hari ini. Kantung mata tebal yang bergelantungan di bawah kedua matanya menandakan bahwa ia tidak mendapat tidur yang cukup belakangan ini. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. Rasa rindu sekaligus keinginan untuk menggebuki cowok sialan itu bercampur menjadi satu dalam hatiku, membuatnya jadi semakin kacau lantaran belum pulih dari syok akibat kalimat-kalimat Luna tadi.

Aku lupa apa yang kulakukan setelahnya, yang jelas, tiba-tiba saja aku sadar Jerry sudah berjalan jauh melewatiku. Belum sempat aku berdiri untuk mengejarnya, tiba-tiba saja, seorang cowok yang tidak kukenal lewat di sebelahnya dan berteriak keras-keras, “Pecandu narkoba udah balik, nih, ye?!”

Sapaan yang sama sekali tidak sopan itu langsung membuat langkahku terhenti.

Uh-oh. Sepertinya menjulukinya seperti itu di saat-saat seperti ini kurang tepat.

Dugaanku terbukti benar saat Jerry tiba-tiba menarik kerah baju cowok itu dan melotot garang. “Apa lo bilang tadi?!”

“Pecandu narkoba udah balik,” ulang cowok itu dengan santai, seolah tidak takut pada Jerry yang sepertinya geram sekali saat ini. “Apa kuping lo segitu tulinya sampe lo nggak denger apa yang gue omongin?”

Mendengar kata-kata cowok itu, kegundahanku langsung berganti haluan dari memikirkan kata-kata Luna yang supermenyakitkan menjadi berharap Jerry tidak segoblok itu untuk menanggapi pancingan cowok tak dikenal yang tidak punya sopan santun itu.

Duok!

Harapanku tentu saja tak benar. Jerry terbukti tak sepintar itu, sebab sebuah bogem mentah langsung mendarat mulus di wajah sengak cowok tak dikenal itu. Cowok itu mundur selangkah ke belakang, namun kerah bajunya langsung ditarik lagi oleh Jerry sehingga ia terpaksa maju ke depan kalau tak mau bajunya sobek.

“Jaga mulut busuk lo, ya!” Jerry membentak dengan suara lantang. Beberapa orang di lapangan yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing mulai mengelilingi mereka untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ya Tuhan, Jerry sungguh-sungguh dungu. Apa tidak cukup citranya hanya tercoreng sebagai pecandu narkoba saja? Apa dia mau orang-orang tambah melabelinya penindas?

“Kenapa gue harus takut sama pecandu narkoba?”

Gawat, cowok itu malah melawan tanpa rasa takut sedikit pun.

“Babi goblok!” Jerry menonjok muka cowok itu sekali lagi, dan kali ini cowok itu mengaduh kesakitan. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak menganggap kebiasaan Jerry mengata-ngatai orang dengan nama binatang itu lucu.

“Jaga mulut lo!” Cowok itu merangsek maju dengan kedua tangan terkepal di samping badan, seolah mengambil ancang-ancang untuk membalas perbuatan Jerry.

“Lo yang jaga mulut lo!” Jerry ikut maju selangkah untuk menantang cowok itu.

“Lo pikir gue babu, mau lo suruh-suruh?!” Cowok itu membalas sengak.

“Siapa bilang lo babu?! Gue kan bilang lo babi, dan lo tahu artinya apa?” Jerry mengangkat sebelah alisnya, kemudian menyambung, “Lo lebih goblok daripada babu. Setidaknya, babu masih dibayar untuk semua pelayanannya. Sementara lo—babi yang nggak tahu diri—cuma modal berani aja, nggak pake otak!”

“Eh!” Emosi cowok itu mulai mencapai ubun-ubun, dan ia menjuruskan tinju ke wajah Jerry. Aku menahan nafas, namun ternyata Jerry berhasil menangkis tinju itu dan memelintir tangan si cowok hingga ia merintih kesakitan.

“Tenaga aja kayak cewek, masih berani lawan gue!” Jerry mencibir, kemudian menendang perut cowok itu dan menginjaknya. “Lain kali, cari lawan yang lebih sebanding. Sesama babi, kek! Whatever, asal jangan coba-coba lawan gue!”

“Preman lo!” Seorang cowok di antara kerumunan yang mengelilingi mereka menyoraki. “Beraninya main tenaga aja!”

“Iya, kasar lo!” Seorang cewek yang sepertinya teman cowok yang baru saja beradu jotos dengan Jerry itu menyahut dengan nada marah. “Baru dilepasin polisi bentar aja udah berani bertingkah!”

“Belagu! Belagu!”

Tiba-tiba, seluruh kerumunan sudah menyoraki Jerry dengan heboh. Rahang Jerry mengeras, pertanda ia marah. Orang-orang masih menyorakinya dan mengata-ngatainya macam-macam, bahkan setelah ia melepaskan injakannya dari dada cowok itu dan membiarkannya berlari kabur.

Jerry berdiri di tengah-tengah kerumunan tanpa berbuat apa-apa. Kedua tangannya terkepal kuat di kedua sisi tubuhnya, dan pandangan matanya yang nyalang mengedar ke sekeliling. Sepertinya, baru sekali ini ia menghadapi situasi di mana ia direndahkan orang-orang, bukannya merendahkan orang-orang. Orang-orang itu kini sudah tidak takut terhadapnya lantaran mereka berkerumun—yang berarti puluhan orang lawan satu. Tambahan lagi, mereka menganggap, mereka pasti bisa melaporkan Jerry kembali ke polisi kalau sampai ia berbuat macam-macam. Bernaung di bawah embel-embel polisi, semua rasa takut mereka terhadap Jerry langsung lenyap tak berbekas.

Rasanya seluruh emosi yang menekan dadaku hendak membuncah keluar melihat cowok itu kini membuat masalah baru lagi. Maka, saat pandangan mata kami bertemu, aku mengacungkan jari telunjukku dan mengisyaratkan agar ia mengikutiku. Setelah menerjang kerumunan yang masih memaki-makinya dengan penuh kebencian, ia pun mengikutiku yang sudah berjalan duluan menuju pekarangan belakang sekolah.

Saat ia sudah berdiri di hadapanku, aku mendadak tidak tahu harus berkata apa. Rasanya aku ingin menangis karena marah. Ia tidak tahu seberapa berat beban yang kutanggung dalam hati selama beberapa hari belakangan ini, dan kini ia malah berniat menambah lagi beban-bebanku yang sudah cukup membuatku frustasi.

“Apa?” Ia bertanya dengan nada sengak yang menyiratkan kemarahan, “Lo juga mau nuduh gue pecandu kayak orang-orang lain?”

“Dasar cowok dungu!”

Plakk!!

Aku menampar pipinya keras-keras. Ia tampak syok atas perlakuanku yang begitu tiba-tiba dan tak terduga. Saat ia membuka mulut untuk memprotes, aku buru-buru menyela.

“Mulai sekarang, kalo gue nampar lo sekali, itu artinya gue ngajak lo bolos,” ujarku dengan emosi tertahan.

“Ap—”

Plakk!!

Aku menamparnya sekali lagi—lebih keras daripada sebelumnya—dan kali ini ia tampak lebih syok lagi. Sebelum ia sempat membuka mulut, aku menyela dengan nada penuh paksaan.

“Dua kali, artinya lo traktir gue di warung depan.”

“Apa sih ma—”

Plaakkk!!!

Aku mendaratkan tamparan terakhir yang superkeras di pipinya. Cukup keras untuk meninggalkan bekas cap tangan berwarna merah yang sepertinya terasa sangat panas itu.

“Tiga tamparan, artinya kita perlu bicara, dan lo harus jelasin semuanya.”

Setelah mengatakan kalimat terakhir dengan nada setenang mungkin, aku berbalik dan berjalan meninggalkannya. Ia memanggil-manggil namaku beberapa kali, namun tidak kurespons panggilannya itu dan terus berjalan menjauh.

Ia benar-benar berhutang penjelasan padaku untuk semua ini.

 

***

“Hasil tesnya urine-nya negatif,” Jerry berkata dengan nada suara sedatar ekspresi wajahnya. Pandangan matanya terlihat sendu dan kelam, membalas pandangan mataku yang masih saja terlihat bertanya-tanya.

Saat ini, kami berdua sedang duduk di warung Mang Usep, seperti yang beberapa hari lalu masih kami lakukan—namun sudah terasa seperti berabad-abad yang lalu. Mang Usep terus memandangi Jerry dengan tatapan aneh sejak tadi, dan aku tentu tahu penyebabnya. Yah, jadi seleb dadakan di sekitar sekolah kan sebenarnya bukan keinginan Jerry.

“Negatif?” Ulangku dengan nada tak percaya sambil mengaduk-aduk gula dalam teh hangat yang kupesan. Aku memilih untuk memesan teh hangat hari ini lantaran cuaca sedang sangat dingin dan kurasa aku butuh sesuatu yang lebih menghangatkan tubuh daripada sekadar air mineral biasa.

“Kenapa? Nggak percaya?” Ia bertanya dengan nada sarkastis. Sepertinya hari ini ia memang sedikit sensitif jika masalah ini disinggung-singgung. Ternyata masalah ini memang membawa dampak yang cukup besar padanya. Buktinya, aku bisa menangkap raut tertekan yang ia tampakkan setiap waktu di wajahnya. Memang, sih, wajahnya tetap datar seperti biasa, tapi ini datar yang berbeda, bukan datar yang santai seperti biasanya. “Tuduh aja gue atau sorakin gue kayak yang lainnya tadi,” sambungnya.

“Nggak, Jer,” aku menyela, “Gue nggak ke sini untuk nuduh lo atau bikin persepsi sendiri. Gue mau denger ceritanya.”

“Cerita apa?” selanya dengan tampang tak tertarik. “Gimana nasib gue selama dua hari bolak-balik rumah sakit sama kantor polisi, gitu? Gimana rasanya tidur di sel tahanan? Gimana rasanya ngabisin dua malem di kamar rumah sakit nungguin orang nggak sadarkan diri?”

“Tunggu dulu,” aku menyela perkataannya, “Lo tidur dua malem di kamar rumah sakit nungguin bokap lo?”

“Jangan kira gue nungguin di sana karena gue anak baik yang perhatian sama bokap. Gue di sana karena gue nggak tahu mau tidur di mana,” sahutnya sengak.

Aku mengerutkan kening, “Kita bahas masalah itu nanti. Sekarang gue cuma mau denger cerita sebenernya dari lo. Lo hutang penjelasan sama gue karena udah ngerahasiain semua ini dari gue.”

“Gue ngerahasiain apa?” Ia balas bertanya, masih dengan tampang tak tertarik. “Lo pikir gue paham dengan semua ini? Gue aja nggak tahu kenapa gue tiba-tiba ditangkep dan digosipin sekampung.”

“Jadi…,” aku menggantungkan kalimatku di udara dan melanjutkannya dengan hati-hati, “Itu artinya lo nggak terlibat, kan?”

“Lo pernah lihat muka gue biru-biru gara-gara nagih atau sesuatu semacem itu? Atau lo pernah lihat gue bawa bungkusan mencurigakan?” Jerry balas bertanya dengan nada sarkastis. Jawaban itu kuasumsikan sebagai ‘tidak’. Asumsi itu membuatku menghembuskan nafas lega seketika.

“Gue bersyukur gue nggak salah,” aku menggumam.

“Nggak salah soal apa?” Jerry bertanya lagi.

Aku menahan nafas sebelum menjawab, “Tadinya gue pikir keputusan gue untuk ngebela elo itu salah.”

Jerry tertegun sejenak, kemudian bertanya lagi. “Lo? Ngebela gue?”

Aku mengangguk ragu.

“Ngapain?!” dia memekik.

“Jadi orang jangan goblok-goblok, Jer,” aku mencela, “Memangnya lo pikir gue mau percaya gitu aja sama gosip buruk yang menimpa sahabat gue?”

Jerry terdiam sejenak, sebelum akhirnya tersenyum pahit. “Ternyata bener, lo cuma bohong waktu bilang nggak nganggep gue sahabat.”

Aku memutar kedua bola mataku sebagai pengakuan secara tak langsung, “Yah, oke, oke. Lagian itu nggak penting-penting amat,” ujarku. “Oh, ya, ngomong-ngomong, gimana keadaan kakak lo?”

“Biasa aja,” Jerry menjawab dengan wajah datar, “Dua hari yang lalu dia udah sadar, dan sekarang lagi dipulihin kondisi tubuhnya.”

Aku mengangguk-angguk, “Itu artinya lo nggak harus nanggung hukuman buat dia, kan?”

Jerry mengerutkan kening, “Ngapain gue nanggung hukuman buat cecunguk kayak gitu?”

“Hus!” Aku menegur sebutan kasarnya, “Nggak, gue cuma denger aja dari orang-orang kalo ada kemungkinan lo yang nanggung hukuman buat dia.”

Jerry mendengus dengan nada meremehkan, “Halah, orang buta hukum berpendapat ya jadinya gitu,” sindirnya, “Lo pikir hukuman itu apa, bisa dipindah-pindah tangan?”

Aku menghembuskan nafas lega. “Ya udah lah, mungkin gue cuma terlalu panik aja.”

Kami berdua kemudian terdiam selama beberapa detik, sibuk bergelut dengan pikiran masing-masing. Karena gerah dengan situasi yang sangat hening, aku pun melirik jam tangan dan berkata dengan nada terburu-buru, “Kayaknya jam kedua udah dimulai. Lebih baik kita buru-buru balik aja.”

Setelah mengatakan hal itu, aku bangkit berdiri dan bersiap kembali ke sekolah. Tapi kemudian Jerry menahanku dengan panggilannya.

“Steph,” panggilnya. Aku menoleh dengan ekspresi bertanya-tanya. “Thanks, ya. Lo udah ngebelain gue walaupun orang-orang nuduh gue bersalah semua.”

Walaupun diucapkan dengan wajah dan suara datar, aku bisa menangkap ketulusan dalam ucapannya itu. Ketulusan itulah yang kemudian membuat rasa hangat menjalar di hatiku. Aku tersenyum lebar.

“Nggak apa-apa. Anggap aja gue sahabat lo yang setia.”

Jerry mendengus dan menjawab, “Yah…, sebelumnya sih gue nggak pernah terpikir untuk punya sahabat, tapi… kali ini oke, lah.”

Aku mengangguk-angguk dengan senyum puas.

“Steph, lo mau janji, nggak?”

Aku memiringkan kepalaku. “Janji apa?”

Jerry terdiam sejenak, sebelum akhirnya mendapat keberanian untuk bicara, “Janji kalo apapun yang terjadi ke depannya, lo bakal tetep dukung gue dan berada di sisi gue?”

Jantungku mencelos mendengar permintaannya yang begitu tak terduga. Astaga, demi apapun di dunia ini, aku tidak pernah menyangka cowok yang sepertinya tak punya secuil pun perasaan ini akan punya permohonan seperti itu padaku. Apa semua masalah itu membuatnya sangat tertekan?

Jujur saja, aku jadi kasihan padanya. Maka, setelah mencoba tersenyum selebar mungkin, aku menjawab, “Ya. Gue janji akan selalu dukung lo.”

Thanks.” Dan saat itulah, kulihat senyum tulus pertamanya yang ia lontarkan padaku. Entah kenapa, senyum itu terlihat begitu manis—dan familiar, seperti yang sudah kusadari sebelumnya. Rasa hangat semakin menjalar di hatiku, dan aku mematung di tempat karena melihat senyum itu. Ternyata cowok yang begitu dingin seperti Jerry bisa tersenyum sebegini manis juga.

Aku buru-buru mencoba bersikap normal saat menyadari kening Jerry berkerut. “Ada lagi?” tanyaku dengan nada sesingkat mungkin. Jerry menggeleng singkat dengan senyum yang sudah lenyap dari wajahnya.

“Gue rasa…, habis ini gue pulang aja,” gumamnya, “Setelah melihat reaksi teman-teman tadi, gue rasa gue belum siap.”

Aku mengangguk-angguk. Aku paham kalau ia pasti tidak menduga teman-teman akan bereaksi sebegitu kejamnya terhadapnya, dan kalau aku jadi dia, rasanya aku juga bakal merasakan hal yang sama. Tapi, mendadak sebuah pemikiran terlintas di benakku. “Jer, memangnya rumah lo udah boleh ditinggali?”

Jerry mendongak menatapku dengan kedua alis terangkat, “Saat ini, rumah baru gue adalah kamar rumah sakit.”

Mulutku ternganga lebar, dan aku langsung menyahut, “Memangnya berapa lama lo pikir lo mau tinggal di sana setiap hari?”

“Nggak tahu,” jawabnya, “Mungkin berminggu-minggu, sampai tetek bengek penyelesaian kasusnya kelar, atau apalah, gue nggak tahu.”

“Dan selama berminggu-minggu itu, lo berencana tinggal di rumah sakit terus?” aku bertanya lagi.

“Ya dimana lagi gue bisa tinggal?” Jerry bertanya balik dengan tatapan mata yang mengisyaratkan ‘nggak-ada-kan?’

Aku terdiam sejenak, kemudian entah dapat ide dari mana, mulutku tiba-tiba menyahut, “Kalo nginep di rumah gue? Lo mau?”

TO BE CONTINUED

Hello!^^ sorry for late post 😦 I know, this part is a bit confusing and weird, but I hope you understand it 😀 cause if you don’t, maybe it’ll be more confusing in the next Stephanie parts. This is just the beginning of Jerry’s problems, kkk~ 😛

Right now, it’s 20 pages already!^^ Fortunately back to normal.. I hope next parts would be better, not just in length, but in story line 😀

That’s all, thanks^^

Next chapter : 12

Download the Ebook?

download-icon2

Advertisements

9 thoughts on “[CHAPTER ELEVEN] Little Stories of Ours

  1. Haloo..
    Jerry aman2 aja tuh?
    Kok david td pas ngebahas nyokapnya jerry mendadak wajahnya kaku(ato apalah itu)?
    Ditunggu part stephanie lanjutannya..
    Keep writing!! 🙂

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s