[Stacy’s Curse] A Bloody Farewell (1/2)

abf

Copyright © 2014 by Cindy Handoko

 

P.S : This story is a collaboration story between me and Viona Angelica, the owner of shining-hearts. This part is written by me, but the next part’s going to be written by Viona. Some violence in this story is not to be done at home! And remember that Stacy doesn’t just kill people who betray, but she also kills people who are on her way of killing her main target. So, not all her victims are betrayer. Maybe they’re just one of her “obstacles”

Are you ready to read this?

In the count of three, we’ll go…

One… Two…

WATCH YOUR BACK CAUSE I’M SAYING “THREE”…

STACY’S CURSE

A BLOODY FAREWELL

CHAPTER ONE

Aku bukan orang bodoh…
Bukan juga orang buta
Di balik serangkaian cerita janggal ini,
aku sepenuhnya tahu permainan apa yang menanti

Sebab itu, jika bagimu ini adalah sebuah permainan
Maka akan kutunjukkan cara memainkannya
Kau hanya perlu menunggu, dan di situlah kau akan tahu…

***
RACHEL POV

Sore sudah menjelang. Hujan deras turun membasahi permukaan kota Jakarta yang bernaung awan tebal nan gelap. Angin kencang menyambar gedung-gedung tinggi pencakar langit yang kini tampak muram nan sendu. Berkas-berkas sinar mentari tak nampak, tertutup oleh awan hitam yang mengguyurkan air hujan tanpa henti. Sesekali, kilat membelah langit, disusul bunyi gemuruh guntur yang menggelegar.

Di jam-jam seterlambat ini, biasanya aku sudah pulang, meringkuk di kasurku yang sekeras aspal sembari menyelimuti sekujur tubuhku dengan selimut yang lebih mirip potongan kain kumal. Atau mungkin duduk berdesak-desakan dengan warga satu RT di rumah supersempit yang ukurannya kurang-lebih sama dengan rumahku, menonton acara TV bersama-sama melalui satu-satunya TV yang ada di RT-ku—yang berarti sebuah TV kuno milik Pak RT yang kadang-kadang harus dipukul dengan tenaga sekuat tenaga kuda agar gambarnya tidak buram. Apa pun itu, yang jelas bukan berdiri dengan lemas memandangi papan pengumuman sekolah dengan seragam yang telah basah kuyup seperti ini.

Yang kupandangi bukanlah rubrik berisi cerpen yang ditulis anak-anak penggemar sastra. Bukan juga TTS kuno yang dibuat oleh anak-anak kurang kerjaan. Yang benar saja, ini kan bukan mading, ini papan pengumuman.

Lantas apa yang kau harapkan dari sebuah papan pengumuman yang sudah penuh bekas selotip kering di ujung-ujungnya seperti ini?

Yep, tidak salah lagi. Hanya ada satu jawaban untuk pertanyaan itu : pengumuman kelulusan dari hasil ujian sebulan yang lalu.

Pengumuman ujian ini bukan pengumuman ujian biasa—yang hanya memberitahu apakah kau dapat ranking atau malahan berada di posisi terakhir. Melainkan pengumuman ini, bisa dibilang, adalah pengumuman yang menentukan seluruh hidup dan masa depanku.

Untuk itulah, aku kini berdiri dengan wajah penuh harap, memandangi selembar kertas yang masih mulus—pertanda kertas itu baru saja ditempel siang ini—sambil mencari-cari namaku di atasnya, seperti yang sudah berulang kali kulakukan sejak bel pulang sekolah berbunyi dan murid-murid masih ramai berkeliaran di sekitar sekolah tadi siang. Namun, sama seperti setiap kali aku melihat—dan bahkan memelototi—kertas itu, namaku tetap tidak tertera di atasnya.

Tidak. Ini tidak mungkin.

Apa mereka kelewatan dalam mencetak namaku? Atau ada kesalahan dalam data komputer mereka?

Mataku kembali mencari-cari dengan liar, namun hasil yang kudapatkan tetap sama saja. Tidak ada yang berubah dari deretan nama-nama yang diumumkan sebagai nama-nama yang lulus ujian. Tetap tidak ada namaku.

Mungkin bagi beberapa orang, hal ini bukan sesuatu yang perlu terlalu dibesar-besarkan—terutama bila mereka dungu dan selalu dapat nol dalam setiap ulangan yang mereka ikuti. Tapi, bagiku—si peraih tetap ranking pertama yang nyaris selalu dapat nilai seratus dalam setiap ulangan yang kuikuti—hal ini tentu saja terasa janggal.

Rasanya aku sudah mengerjakan ujian itu dengan baik, lalu bagaimana keadaan bisa menjadi seperti ini?

Aku tidak mungkin tidak lulus. Bahkan, sebelum hari ini, aku sudah amat yakin bahwa hasil ujianku bakal dilabeli sebagai hasil ujian dengan nilai tertinggi. Pasti ada kesalahan dalam kertas hasil ujian jelek ini. Pasti namaku seharusnya ada. Pasti namaku seharusnya berada di posisi teratas.

Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa aku begitu heboh.

Masalah terbesarnya adalah, seluruh hidupku benar-benar ditentukan oleh hasil ujian ini. Dan itu tidak kubesar-besarkan. Peraih ranking pertama dari ujian ini berhak mendapatkan beasiswa berupa sekolah di luar negeri plus uang tunai dalam jumlah yang sangat besar. Aku sudah yakin seratus persen bahwa beasiswa menjanjikan itu akan jatuh ke tanganku, maka selama ini aku tenang-tenang saja seolah tidak ada masalah besar yang bakal terjadi.

Tapi, berhubung aku sudah pesimis untuk menemukan namaku di antara deretan nama-nama peserta yang lulus, aku jadi dapat masalah superbesar. Kenapa? Karena aku butuh beasiswa itu di atas segalanya.

Keluargaku adalah keluarga yang berkekurangan, dan sudah berbulan-bulan ini, kami dikejar-kejar pihak bank untuk hutang kami yang bejibun banyaknya. Tenggat waktu pelunasan adalah seminggu lagi, sebelum mereka menyita rumah kami dan kami terancam jadi gelandangan. Karena profesi ayahku sebagai pegawai toko roti milik temannya sama sekali tidak menghasilkan, tagihan hutang itu belum bisa kami lunasi. Untuk itu, aku mengejar beasiswa ini. Duit dari beasiswa ini cukup untuk membayar hutang-hutang itu—plus aku berkesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih maju di luar negeri.

Awalnya, aku sudah sangat yakin bahwa masalahku akan segera terselesaikan setelah hasil ujian diumumkan, tapi…

Aku memejamkan mata dan menunduk dalam-dalam. Desahan pelan bernada berat yang kukeluarkan mengukir uap tipis di sekitar mulutku—pertanda udara yang mengelilingiku luar biasa dingin menusuk tulang.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah kubiarkan pihak bank menginjak-injak keluargaku?

“Di sini lo rupanya,” sebuah suara menyentakku dari lamunan panjang. Aku menoleh dan mendapati seorang gadis berambut panjang kecokelatan dengan sepasang mata besar berwarna nyaris senada dengan rambutnya, sedang berdiri di sampingku sambil ikut memandangi papan pengumuman.

Gadis itu bernama Bella. Ia salah satu teman sekelasku sekaligus sahabatku. Kami berdua sama-sama dimasukkan ke kelas XII-J, atau yang lebih dikenal sebagai “kelas para kutu buku”—istilah halusnya, “kelas unggulan”. Jumlah siswa di kelasku hanya enam siswa—aku, Bella, Michelle, Nico, Henry, dan Axel. Kami berenam bersahabat dekat (kecuali untuk Bella dan Axel, karena status mereka bukan hanya “sahabat”, melainkan juga “pacar”), sekaligus selalu menyabotase daftar peringkat paralel bersama-sama. Persaingan di antara kami cukup ketat—ralat, sebenarnya yang bersaing hanya Michelle, Nico, Henry, dan Axel, karena peringkat pertama selalu berhasil kudapatkan dan Bella selalu menduduki posisi kedua. Kendati demikian, persaingan itu tidak menjadi halangan bagi persahabatan kami. Kami tetap bergaul—dalam lingkup luar biasa sempit—seperti anak-anak normal lainnya.

Bella termasuk salah satu di antara lima sahabatku yang paling dekat denganku. Kadang-kadang, kami belajar bersama hingga sore di perpustakaan, terutama saat-saat mendekati ujian. Biarpun selalu bisa kukalahkan dengan nilai sangat telak, Bella tidak pernah mempermasalahkannya. Ia tidak pernah berbuat curang untuk menjatuhkanku.

Kini, karena aku dinyatakan tidak lulus ujian, dapat dengan mudah ditebak, Bella menjadi peraih posisi tempat seharusnya namaku berada—posisi pertama, sekaligus posisi paling diincar yang membuatnya dinyatakan sebagai penerima beasiswa tahun ini.

“Kami semua udah nyariin lo sejak tadi,” Bella menyambung lagi. Kali ini pandangan matanya dialihkan padaku.

Aku diam saja, tak menanggapi perkataannya. Entah mengapa, aku sedikit merasa kesal terhadapnya. Tidak, tidak. Ini bukan salahnya. Hanya saja…, ada sekelumit rasa kesal di hatiku mengetahui bahwa gadis ini justru merebut posisi yang seharusnya kududuki di ujian penentuan.

“Chel, lo marah gara-gara hasil ujiannya?” Bella bertanya melihat sikapku yang mendadak jadi cuek. Aku melengos, tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi, aku memang sedikit kesal padanya karena masalah perebutan posisi itu, tapi di sisi lain, sebenarnya aku tak punya alasan untuk merasa seperti itu. “Chel, kalo lo merasa gue merebut posisi lo, gue minta maaf. Tapi gue harap lo nggak seperti ini hanya gara-gara masalah itu,” Bella menepuk pundakku dengan bersahabat.

“Bukan hanya gara-gara masalah itu,” potongku. Bella mengerutkan kening, seolah meminta penjelasan atas perkataanku. Aku menghela napas panjang dan menatap mata Bella dalam-dalam. “Apa lo udah tahu kalo… kalo gue nggak cuma kehilangan posisi pertama gue, tapi juga nggak lulus?”

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, mata Bella langsung membelalak lebar. “M-maksud lo…”

“Iya, gue nggak lulus,” aku menekankan, “Coba cari nama gue di seluruh daftar seperti yang udah gue lakukan sejak tadi siang. Nggak ada sama sekali nama gue di situ.”

Air muka Bella berubah masam. Tampaknya ia syok berat mendengar kabar mengejutkan ini. “S-sori, Chel… Gue… Gue tadi nggak bermaksud—”

“Nggak apa-apa,” aku memotong perkataannya, “Sekarang, gue rasa, gue harus pulang dulu. Gue butuh nenangin diri sejenak.”

Aku berbalik dan bersiap pergi meninggalkan teras sekolah. Saat aku sudah selangkah maju ke depan, Bella menahan tanganku.

“Apa?” aku bertanya tanpa membalikkan badan.

“Chel, soal rencana kita buat ngadain acara nginep di villa Nico sehabis ujian… gue harap, masalah ini nggak membuat lo serta-merta batal ikut,” ujarnya.

Aku menghela napas berat. Jujur saja, baru sekarang ini aku teringat bahwa kami berenam pernah membuat janji seperti itu. Aku tidak yakin bisa berangkat dalam keadaan seperti ini. Terlebih lagi, kalau rumahku disita bank, keluargaku pasti akan menjadi gelandangan, dan gelandangan tidak bersenang-senang dengan menginap di villa milik temannya. Itulah mengapa, aku kemudian menunduk dan menjawab lirih. “Gue nggak yakin.”

Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang kuucapkan pada Bella sebelum aku pulang, menghilang dari jarak pandangnya…

Untuk waktu yang lama, kurasa.
***
BELLA POV

Seminggu sudah berlalu sejak hari pengumuman kelulusan. Aku sudah resmi menjadi penerima beasiswa tahun ini dan akan dikirim ke London dua bulan lagi. Selama seminggu ini, Rachel tidak pernah masuk sekolah. Kurasa ia masih sangat terpukul karena tidak lulus ujian. Padahal, selama ini, dia adalah peraih tetap ranking satu paralel—dengan aku yang selalu satu posisi di bawahnya dengan nilai yang kalah cukup telak. Yah, untuk hal ini, aku tidak bisa menyalahkannya. Pasalnya, semua orang juga terkejut mendengar berita tak terduga ini. Yang selalu mereka tahu adalah, Rachel tak terkalahkan. Berita seperti ini pastinya bukan berita yang diharapkan oleh mereka semua.

Terlepas dari semua itu, kami berdua beserta empat sahabat kami yang lain sudah membuat janji untuk menginap selama tiga hari dua malam di villa milik keluarga Nico. Acara menginap itu rencananya akan dilaksanakan hari ini, tapi kami malah belum mendapat kepastian apakah Rachel jadi ikut atau tidak. Belum masuknya gadis itu ke sekolah di hari terakhir ini semakin mempersulit keadaan.

“Samperin aja ke rumahnya,” usul Michelle yang memang selalu suka cara-cara praktis. “Daripada nggak ada kepastian gini.”

“Iya, gue juga setuju,” timpal Nico, si tuan rumah dari villa yang akan kami tinggali selama tiga hari ke depan. “Paling-paling dia ada di rumah.”

“Tapi kalo nggak ada, gimana? Sayang tau bensin gue,” Henry, si pemilik sekaligus pengemudi mobil yang akan kami gunakan sebagai alat transportasi, memprotes sengit.

“Halah, bensin mulu yang lo pikirin, dasar medit,” Michelle menyindir, “Nanti kita-kita patungan, deh, buat nukerin duit bensin lo yang luar biasa mahal itu.”

“Iya, patungan aja,” Nico menyetujui. “Yang lain setuju, kan?”

“Setuju,” aku dan Axel menggumam. Axel adalah—ehem—pacarku sejak tiga bulan yang lalu. Dia tipe orang yang tidak suka banyak bicara. Karena itu, di antara kami, akulah yang sepertinya lebih mendominasi. Walaupun begitu, kami saling mencintai—kalau soal itu, sih, aku yakin sekali.

“Ya udah, lah,” Seperti yang sudah diduga semua orang, Henry si mata duitan pasrah begitu mendapat iming-iming duit patungan, “Yuk, cabut.”

***

Rumah Rachel lebih mirip gubug daripada rumah yang layak ditinggali oleh manusia normal. Rumah itu terletak di kawasan perumahan terpencil yang minim sinyal dan dilalui oleh jalan superrusak yang sepertinya belum pernah diaspal ulang sejak berabad-abad yang lalu. Meskipun begitu, biasanya rumah kecil itu dipenuhi suasana hangat.

Namun, saat kukatakan ‘biasanya’, itu berarti tidak berlaku untuk saat ini. Saat ini, rumah itu tampak kosong, tanpa ada tanda-tanda kehidupan dari dalamnya. Berkali-kali Nico mengintip melalui jendela dan mengetuk pintu yang sepertinya hampir roboh itu, namun sama sekali tidak terdengar adanya jawaban. Kami semua mulai khawatir, apalagi suasana saat ini terlalu sepi untuk hari pertama liburan. Ralat, sepertinya kata ‘khawatir’ kurang tepat. Sejujurnya, kami mulai takut. Rumah tanpa penerangan itu terlihat seram jika tak ada orang di dalamnya seperti ini. Terlebih lagi, cuaca sedang mendung dan hawa luar biasa dingin. Berkali-kali, aku merasa tengkukku digelitiki oleh sesuatu yang tidak kelihatan. Mungkin itu hanya angin, tapi aku tetap merasa takut. Antena di atas rumah Rachel bergerak-gerak tertiup angin, mengeluarkan bunyi berderit yang terdengar menyeramkan. Lonceng di depan rumahnya—yang dipasang sebagai pengganti bel rumah—beberapa kali mengeluarkan bunyi-bunyian yang menggelitik telinga akibat saling berbenturan. Angin dingin menerpa teras rumah Rachel, tempat kami semua sedang berdiri saat ini.

“Aduuh…,” aku mengeluh saat lagi-lagi tengkukku seperti dibelai halus oleh sesuatu yang tidak kelihatan, “Udahan, yuk. Kayaknya dia nggak ada di rumah, deh. Gue merinding, nih.”

“Iya,” Michelle—yang tampaknya juga merasakan hal yang sama denganku—menyetujui, “Gue juga. Aduh… kenapa rumah Rachel serem gini, sih? Cabut, yuk… Kalo dia memang nggak ada, ya udah, ditinggal aja. Toh kita udah mencoba, kok.”

“Iya, kita kan udah mencoba,” aku menimpali, “Mungkin dia masih syok banget, kali.”

“Syok atau nggak syok, gue tetep takut sekarang ini,” Michelle menggumam, “Mana gue kayak berhalusinasi lihat bayangan aneh gitu, lagi.”

“Bayangan aneh?” Aku bertanya dengan nada waswas.

“Iya, sekilas kayak bayangan manusia, tapi begitu gue lihat lagi, ternyata cuma bayangan pohon. Tapi tetep aja, gue ngeri sendiri jadinya,” Michelle menjawab.

Bulu kudukku semakin meremang mendengar penuturan Michelle. Ya ampun, padahal sebelumnya rumah Rachel tidak pernah seseram ini. Kenapa hari ini tiba-tiba rumah itu jadi terasa menyeramkan, ya?

“Halah, cewek-cewek lemah kalian,” Henry mencibir, “Apanya yang serem? Rumah jelek kayak gini doang.”

Tepat saat Henry menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba, jendela rumah yang berada di samping Nico menjeblak terbuka disertai bunyi yang sangat keras.

BRAKK!!

Kami semua kaget bukan kepalang. Michelle bahkan langsung menjerit-jerit histeris sambil bersembunyi di balik punggungku. Aku hanya sanggup tertegun di tempatku berdiri tanpa bisa mengatakan apa-apa.

“Eh, kok adegannya mirip adegan film horror gini, ya?” Nico berpendapat. Sayangnya, pendapat itu sepertinya kurang tepat untuk diucapkan di saat-saat seperti ini. Buktinya, Michelle langsung menutup telinganya dengan heboh.

“Ya ampun, Nic! Jangan ngomongin gitu-gituan, dong! Aduuh…, gue takut, nih…” Michelle merengek dengan suara yang bergetar ketakutan.

“Lho? Iya, kan? Biasanya, kalo sebuah rumah itu berhantu, kalo rumahnya dibilang nggak serem atau jelek, hantunya marah. Habis itu, dia bakal melakukan hal-hal misterius kayak ngebuka pintu sendiri atau ngejatuhin barang.”

Nico goblok. Kenapa dia malah menerus-neruskan cerita seram itu? Aku malah jadi ikut merinding sendiri sekarang. Sialan.

“Udah lah, Nic. Cewek-cewek pada takut, tuh,” Axel menegur dengan bijaksana. Jujur saja, aku paling suka padanya di saat-saat seperti ini—ia selalu tahu apa yang kurasakan walaupun aku tidak menunjukkannya secara terang-terangan. “Lagian, itu semua cuma kerjaan angin, kok. Nggak usah dipikirin. Mendingan kita semua cabut aja sekarang. Lagian, keburu sore ntar.”

“Iya, deh,” Henry, yang sepertinya juga mulai ketakutan sejak kejadian barusan—lantaran kalau sungguhan ada hantu di sini, pasti dia yang akan jadi sasaran pertama—nimbrung, “Kalo sore-sore, ntar kita nggak sempat ngapa-ngapain.”

“Halah, ngaku aja lo takut,” Nico mencibir, “Tapi ya udahlah. Yuk, kita cabut aja sekarang.”

Aku sangat lega saat akhirnya kami semua memutuskan untuk segera berangkat, meninggalkan rumah Rachel yang seram luar biasa. Saat kami sudah masuk ke mobil, mendadak saja, aku merasakan sepasang mata mengintaiku dari belakang. Karena aku duduk di jok paling belakang, aku pun menoleh dengan waswas ke luar mobil.

Jantungku mendadak berdebar sangat kencang dan aku semakin merasa seperti diawasi. Namun, saat aku menoleh, tidak ada apa-apa di sana. Hanya ada jalanan berbatu-batu yang kosong dan dihiasi beberapa dedaunan kering yang bertebaran di depan rumah Rachel.

“Ry, buruan,” desakku karena perasaanku mendadak tak enak, “Gue ngerasa kayak diawasin, nih. Cepet jalanin aja mobilnya.”

“Iya, iya, sabar,” Henry mencibir kesal, “Dasar penakut. Gitu aja ketakutan mulu dari tadi.”

“Halah, lo juga takut kan, tadi?” Nico gantian mencibir Henry, “Muka lo aja pucet pas tiba-tiba jendela rumahnya Rachel kebuka.”

“Ngaco lo! Gue nggak takut, tau!” Henry membantah, “Jangan-jangan, yang sebenernya takut itu elo?”

“Itu tambah ngaco lagi, gue nggak—“

“Udah, ah, buruan!” aku membentak dengan tidak sabar, “Perasaan gue nggak enak, nih. Kalian jangan malah debat nggak jelas gitu.”

“Iya, iya, Tuan Putri,” Nico dan Henry menyahut bersamaan. Biasanya, aku bakal memprotes saat mereka menggodaku dengan panggilan ‘Tuan Putri’. Tapi, saat ini, yang kupedulikan hanyalah cepat-cepat hengkang dari tempat ini agar aku tidak terus-terusan merasa diawasi.

Namun, saat mobil akhirnya distarter dan berjalan menjauhi rumah Rachel, perasaanku tetap tidak tenang.

Aku merasa seperti diikuti.

Satu sisi akal sehatku menolak untuk mempercayai perasaan aneh itu, dan setelah berpikir ulang berkali-kali, aku akhirnya memutuskan untuk berhenti memikirkan ketakutanku.

Tidak ada hal buruk yang akan terjadi, dan aku percaya itu.

***

Pukul enam sore, akhirnya kami tiba di villa keluarga Nico. Villa itu tidak seberapa besar—setidaknya, villa itu masih kalah besar dibandingkan villa-villa lain di sekitarnya. Desain eksteriornya menyerupai bangunan Inggris zaman dulu—dengan ukiran-ukiran bergaya Victorian yang menimbulkan kesan luas dan mewah dalam villa itu. Kalau di hari-hari biasa, aku pasti akan langsung membelalakkan mata lebar-lebar sambil memekik, “Buset, villa lo keren banget, Nic!” dengan heboh. Tapi, sayangnya, karena sempat mengalami kejadian seram di rumah Rachel tadi, perasaanku jadi tak enak. Akibatnya, villa ini jadi ikut-ikutan terlihat seram di mataku.

“Ini, nih, villanya?” aku menggumam.

“Yep, welcome to my second home!” Nico membentangkan tangannya lebar-lebar di udara sembari tersenyum penuh kebanggaan. Semua orang sepertinya puas sekali dengan villa Nico yang supermewah. Buktinya, mereka semua kini terkagum-kagum dengan senyum menghiasi wajah masing-masing. Tapi tidak begitu denganku dan Michelle. Kami berdua sepertinya punya perasaan yang sama bahwa villa ini terlihat seram.

“Yuk, masuk. Ambil barang-barang kalian di bagasi, terus kalian boleh milih kamar sendiri,” Nico berkata.

“Kamarnya boleh milih sendiri?” Henry bertanya dengan antusias, “Keren! Gue boleh milih kamar buat gue sendirian, dong?”

“Boleh sih boleh, tapi kayaknya nggak bisa, Ry,” Nico menjawab.

Raut wajah Henry langsung berubah kecewa. “Lho? Kenapa?”

“Villanya udah lama nggak dipake, jadi beberapa kamar udah berdebu dan butuh tenaga ekstra buat ngebersihinnya. Mungkin cuma ada sekitar tiga kamar yang cukup bersih buat ditiduri.”

Raut wajah Henry berubah lagi dari kecewa menjadi datar. “Yah… nggak asyik lo.”

Kami semua terkekeh pelan melihat tingkah Henry yang suka kekanak-kanakan, kemudian mulai mengobrak-abrik bagasi mobil untuk mengambil barang bawaan kami masing-masing. Barang bawaanku sendiri tidak terlalu banyak—hanya sebuah tas ransel berwarna baby pink yang cukup untuk menampung baju-baju yang kuperlukan, serta sebuah tas selempang berwarma hijau yang biasa kugunakan untuk bepergian. Jadi, aku tidak perlu susah payah untuk membawanya masuk.

“Butuh bantuan?”

Tiba-tiba, Axel sudah muncul dari balik punggungku dan menawarkan bantuan. Karena hatiku masih diliputi ketakutan sejak tadi, aku pun kaget bukan kepalang melihat kemunculannya yang tiba-tiba. Refleks, aku meloncat mundur sambil mendorongnya menjauh. Ia tampak bingung melihat sikapku yang tidak biasa, dan aku buru-buru meminta maaf padanya soal itu.

“Sori, sori, Xel, aku cuma… refleks aja. Soalnya kaget,” ujarku dengan cepat, “Mm… dan makasih buat tawarannya, tapi aku nggak masalah bawa barang sendiri ke dalam.”

Axel mengerutkan kening. “Kamu aneh banget hari ini,” gumamnya, “Masih takut soal tadi, ya?”

Aku menelan ludah. Jadi inilah tidak enaknya punya pacar yang sudah mengerti dirimu luar dalam. Dia tahu apa yang kau sembunyikan. Karena sudah tertangkap basah, aku pun akhirnya memutuskan untuk mengakui saja kenyataan itu daripada menepisnya.

“Iya, aku masih takut soal itu,” jawabku, “Jujur aja, perasaanku nggak enak, Xel.”

Axel terdiam sejenak, kemudian merangkulku dengan mesra. “Tenang aja, Sayang. Semuanya bakal baik-baik aja. Aku jamin itu.”

Aku menghela napas panjang, kemudian mencoba tersenyum lebar. “Aku percaya kamu.”

Tiga kata itulah yang kemudian kupegang erat dalam hati. Semuanya pasti akan baik-baik saja, dan aku percaya itu.

***

Semua rasa takut yang sempat kurasakan terbukti hanya karena aku terlalu paranoid saja. Buktinya, setelah kami berlima berbenah dan menonton TV bersama sambil bercanda ria di ruang tengah, semua ketakutan tidak jelas itu langsung hilang begitu saja. Axel sangat membantu dalam hal ini, karena sejak tadi, ia terus-terusan merangkulku dan membuatku merasa sangat nyaman. Yah…, semoga perasaan nyaman ini bertahan lama.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam saat kami akhirnya memutuskan untuk pergi ke luar villa. Menurut Nico, jika kami berjalan satu kilometer dari villa ini, kami akan sampai pada semacam perkampungan penduduk yang selalu mengadakan pesta mingguan. Pesta mingguan itu diadakan di pasar kota, dan dibuka banyak stan yang menarik. Kami semua berencana pergi ke sana untuk membeli beberapa stok makanan buatan warga sebagai teman begadang malam ini.

“Jalan kaki aja,” Henry berkata. Cowok satu ini memang paling pelit dalam hal menghabiskan bensin. Kadang-kadang, hal itu membuat kami semua kewalahan.

“Halah, pelit amat sih lo,” Michelle memprotes sengit, “Cuma satu kilometer aja apa susahnya, sih? Emangnya satu kilometer itu habis bensin berapa? Sepuluh liter?”

“Tetep aja keluar bensin,” Henry menyela, “Lagian cuma satu kilometer aja, deket banget. Mending jalan kaki.”

“Iya, mending bagi lo,” Michelle mencibir lagi, “Lo pikir hawa di luar nggak dingin apa? Ini kan udah malem. Bisa-bisa kita sakit ntar. Ini kan baru hari pertama. Kalo sakit, besok malah nggak bisa ngapa-ngapain.”

“Bilang aja lo takut keluar malem-malem,” Henry balas mencibir. “Lo kan emang orangnya penakut banget.”

“Henry,” Axel menegur dengan tegas, “Udah lah, lagian apa susahnya keluar bensin? Michelle benar. Hawa di luar pasti dingin banget. Biarpun cuma satu kilometer, kita kan ngelewatin jalan yang lumayan berbatu-batu dan masuk gang-gang kecil, dan ini udah malam. Mendingan keluar duit bensin sedikit daripada keluar duit buat biaya perawatan rumah sakit, kan?”

“Iya, gue juga setuju,” imbuhku. “Menurut gue, wajar kalo kita semua nggak mau sakit. Ini Puncak, Ry, bukan Jakarta yang panasnya kayak penggorengan.”

“Pacar aja dibelain,” Henry menggerutu, “Gue mau, sih, asal lo semua nukerin duit bensin gue.”

“Halah, iya, iya, ditukerin!” Michelle membentak, “Dasar medit lo. Besok gue kasih goban, deh. Pokoknya sekarang lo nggak usah banyak protes. Cepet keluar dan panasin mobil lo yang bensinnya mahal banget itu!”

Henry memutar kedua bola matanya. Tapi, karena dapat iming-iming gobanan dari Michelle, dia akhirnya langsung keluar untuk menyiapkan mobil juga.

Setelah mobil siap, kami semua pun berangkat menuju pasar kota tempat diadakannya pesta mingguan. Seperti yang sudah dibilang Nico, pasar itu memang dekat banget dari villa keluarganya. Namun, suasana di pasar itu jauh berbeda dari suasana villa Nico yang tenang dan terkesan suram. Pasar itu semarak dan ramai, terlebih lagi dengan lampu-lampu warna-warni yang menghiasi gapura dan alunan musik upbeat yang dimainkan oleh band. Suasana pesta mingguan ini benar-benar mirip suasana karnaval.

“Rame banget,” ujarku, setengah berteriak untuk mengalahkan suara musik yang sangat keras.

“Susah gerak, nih,” Henry membalas. “Mana desak-desakan gini, lagi. Ngantre di stan makanannya pasti lama banget ntar. Jangan-jangan sampe jam sepuluh pun belum kelar ngantre.”

“Ya udah, gue sama Bella ngantre di stan snack Thailand dulu aja. Kalian bertiga ngantre di stan lainnya,” usul Axel.

“Ide bagus, tuh, biar hemat waktu,” Michelle menyetujui. “Lo sering ke sini, kan, Nic? Pasti lo tahu makanan yang enak-enak, dong.”

“Sip, Bos,” Nico mengacungkan jempol, “Di sana ada stan mie kering. Gue sama abang gue biasa beli itu buat temen begadang. Mau nyobain?”

“Boleh, deh,” Michelle menjawab, “Ya udah, kita bertiga ngantre di situ dulu aja, biar Bella sama Axel ngantre di stan snack Thailand. Duitnya ada, kan, Xel?”

Axel mengangguk sambil menepuk-nepuk saku tempat dompetnya disimpan. Setelah menentukan tempat janjian untuk ketemuan nanti, Nico, Michelle, dan Henry langsung meninggalkan kami ke stan mie kering.

“Di mana stan snack Thailand-nya?” Aku bertanya sambil berjinjit dan menelusuri nama stan satu-per-satu untuk mencari stan yang akan kami tuju.

“Kata Nico, di deket panggung,” Axel menjawab sambil menggandeng tanganku untuk berjalan menuju stan itu.

“Deket panggung?” Aku bertanya dengan nada merengek, “Ya ampun, berarti kita harus ke tempat rame-rame itu, dong?”

“Yah, gimana lagi? Habis, memang di situ tempatnya,” Axel menjawab.

Aku akhirnya pasrah dan membiarkan Axel menggandengku menerobos kerumunan orang yang sedang bernyanyi-nyanyi heboh di depan panggung. Berkali-kali, gandengan tangan kami terpisah oleh kerumunan orang yang sangat ramai itu, namun akhirnya kami sampai juga di stan yang kami cari. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, antrean di stan itu mengular panjang sampai mendekati panggung. Yah, snack Thailand di sini memang terkenal enak, jadi tidak heran banyak orang rela mengantre lama hanya untuk mencicipinya.

“Waduh, kayaknya bakal lama, nih,” Axel menggumam sambil memperhatikan orang-orang di depan kami yang juga sedang mengantre.

“Udah kayak antrean sembako aja,” imbuhku, “Bisa-bisa sampe jam sepuluh beneran, nih.”

“Kemungkinan besar gitu,” Axel menyetujui.

Kami berdua pun mengantre dengan sabar sambil sesekali ikut bersenandung sesuai irama musik yang dimainkan band, sekadar untuk menghilangkan rasa bosan akibat mengantre terlalu lama.

Sedang asyik bersenandung mengikuti irama musik upbeat yang dimainkan band, tiba-tiba saja seluruh lampu mati disertai bunyi ‘blarr‘ yang cukup keras. Irama musik berhenti, dan sebuah kilatan listrik terlihat dari atas panggung. Suasana menjadi gelap gulita tanpa sedikit pun penerangan. Jantungku serasa tersengat listrik selama beberapa detik saking kagetnya. Orang-orang yang memenuhi pasar kota mulai riuh.

Ada apa ini?

Kenapa lampu dan sound system tiba-tiba mati? Apa terjadi gangguan dengan listrik di sini?

“Bell? Bella?” Terdengar suara Axel memanggil-manggil namaku di tengah keriuhan. Dalam kegelapan seperti ini, aku tidak bisa melihatnya, dan aku yakin dia juga tidak bisa melihatku. Aku berusaha tetap berdiri di tempatku agar tidak terpisah darinya.

“Ya, Xel. Aku di sini. Kamu masih di sampingku, kan?” Aku balik bertanya untuk memastikan.

Tiba-tiba, kurasakan sebuah tangan menggenggam tanganku erat-erat.

Tangan Axel.

Genggaman tangan Axel mengalirkan rasa hangat di sekujur tubuhku, dan aku langsung merasa tenang. Aku tidak perlu takut, sebab ada Axel di sampingku, dan aku tahu dia akan melindungiku kalau sampai terjadi apa-apa.

“Tenang aja, Bell. Listriknya pasti nyala sebentar lagi. Kamu nggak perlu takut,” Axel berkata. Walaupun kalimat itu diucapkan dengan sangat pelan, namun aku bisa merasakan dampaknya dalam hatiku. Ya, aku semakin merasa tenang.

Aku beruntung punya pacar seperti Axel. Dia selalu tahu apa yang kubutuhkan.

Seerr…

Angin dingin membelai tengkukku perlahan. Sesuatu seperti sengatan listrik langsung menjalar ke seluruh tubuhku. Bulu kudukku mendadak meremang.

Perasaan ini…

Aku tahu betul perasaan ini. Ini perasaan yang sama dengan yang kurasakan tadi siang. Rasa ngeri tanpa sebab. Perasaan seperti diawasi.

Menyadari perasaan itu, aku buru-buru menoleh ke belakang dan menajamkan penglihatan untuk mencari-cari sepasang mata yang mengawasiku. Namun, sama seperti tadi siang, tidak ada siapa-siapa di sana. Terlebih lagi, saat ini, tidak ada penerangan sama sekali. Aku jadi kesulitan untuk melihat. Satu-satunya yang dapat ditangkap mataku hanyalah bayangan dari orang-orang yang saling berdesakan di belakangku.

Seerr…

Angin dingin membelai tengkukku sekali lagi. Sesuatu yang menyerupai bisikan tanpa arti menggelitik telingaku. Aku berjengit mundur, dan tiba-tiba jantungku berdebar di atas kecepatan normal.

Ada apa ini?

Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Kenapa aku merasa sangat takut? Kenapa dalam sekejap seluruh rasa tenangku hilang digantikan debar jantung yang menggila? Apa seseorang memang sedang mengawasiku? Tapi siapa? Kenapa aku tidak bisa melihat siapa-siapa dalam jarak pandangku?

“Xel?” Aku memanggil Axel dengan suara yang bergetar hebat. Keringat dingin mengucur membasahi dahiku.

Siing…

Tidak ada jawaban.

Rasa panik langsung merambat di hatiku, dan aku baru sadar bahwa ternyata genggaman tangan kami sudah terlepas. Kini hanya tersisa tanganku yang menggapai udara, tanpa pegangan yang dapat menenangkanku.

“Axel?” Aku memanggil sekali lagi dengan suara yang lebih keras. Namun, sama seperti sebelumnya, sama sekali tidak terdengar suara lembut Axel yang menyahut panggilanku. Hanya ada riuh rendah kerumunan orang-orang yang masih ribut karena matinya lampu secara tiba-tiba.

“Xel? Axel?! Axel, jawab aku!” Suaraku mulai meninggi, dan debar jantungku bertambah cepat dan cepat.

Perasaanku tidak tenang.

Sesuatu yang tidak beres terjadi di sini, dan sesuatu itu melibatkan Axel. Ya Tuhan, ke mana dia? Aku yakin, tadi dia masih ada di sini, menggenggam tanganku dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tapi, mana kenyataannya? Kenapa dia malah menghilang? Ke mana dia pergi?

“Axel? Kamu ada di sana? Xel, jawab aku, Xel!” Aku berteriak kencang. Namun, suara Axel tetap tak terdengar.

Lampu tiba-tiba menyala, dan kerumunan orang langsung berteriak-teriak lega. Aku spontan menoleh ke samping dengan panik untuk mencari Axel.

Tidak. Dia tidak ada di sana.

“Axel! Kamu di mana?!” Aku berteriak dengan panik. Beberapa orang menoleh ke arahku karena suaraku sangat kencang, tapi aku sudah tidak peduli. Aku takut. Aku khawatir. Aku panik. Segala perasaan bercampur aduk dalam hatiku.

Pandangan mataku mengedar dengan liar ke sekeliling, mencari-cari sosok Axel yang tinggi dan biasanya mudah ditemukan di antara kerumunan orang. Namun hasil yang kudapatkan sama saja. Axel tetap tidak ada di sana.

Badanku langsung merosot ke tanah, dan air mataku tumpah ruah.

Axel, ke mana kamu? Aku takut. Perasaanku tak enak.

“Bella!”

Aku mendongak dan mendapati Michelle menghambur ke arahku diikuti Henry dan Nico. Wajahnya terlihat khawatir dan rambutnya berantakan, pertanda ia baru saja berlari kencang-kencang ke sini untuk menghampiriku. Wajah Henry dan Nico yang mengikuti di belakangnya juga tampak tegang. Sepertinya mereka semua mengkhawatirkanku dan Axel.

Apa mungkin mereka juga merasakan perasaan tak enak yang kurasakan?

Melihat Michelle, semua hal yang mendesak hatiku langsung tumpah ruah. Aku memeluknya erat-erat dan menangis tersedu-sedu. “Chelle… Axel, Chelle…”

Bahu Michelle berubah tegang dalam pelukanku. “Kenapa, Bell? Axel kenapa? Di mana dia?”

Aku menggeleng-geleng sambil masih terus menangis ketakutan. “Gue nggak tahu… Dia… Tiba-tiba dia…”

“Ssh… Ssh…” Michelle menepuk-nepuk punggungku. “Udah, Bell, tenang dulu. Ceritain semuanya di villa nanti. Kita pulang sekarang.”

***

Setelah menceritakan segala hal mengerikan yang kualami beberapa waktu yang lalu, kukira perasaanku akan menjadi lebih tenang. Tapi, tentu saja, hal itu salah besar. Aku malah jadi semakin ketakutan. Terlebih lagi, kami juga sudah berusaha mencari-cari Axel tadi. Namun, sosok cowok itu belum juga terlihat.

Semua orang menjadi panik dan khawatir setengah mati. Bahkan, Henry yang biasanya supercuek pun kini tampak tegang.

“Kita harus nyari ke mana?” Aku merengek. Air mataku sudah nyaris tumpah lagi untuk yang kesekian kalinya. “Gue takut Axel kenapa-napa. Perasaan gue nggak enak.”

“Sama, gue juga gitu, Bell,” Michelle menyahut, “Sebenernya, perasaan gue udah nggak enak sejak dari rumah Rachel tadi. Gue kayak ngerasa ada yang ngawasin kita.”

Mataku membelalak lebar. “Chelle, jadi lo juga ngerasa gitu?”

Michelle gantian membelalakkan matanya. “Ya ampun, Bell! Lo juga? Jadi ini bukan cuma perasaan gue yang berlebihan aja?”

Wajahku spontan jadi pucat pasi, dan aku menggeleng kaku. “Kayaknya bukan, Chelle. Gue juga ngerasain hal yang persis sama. Dari tadi perasaan gue nggak tenang terus.”

“Sekarang perasaan gue jadi ikut-ikutan nggak tenang,” Nico menggumam. “Tadinya gue nggak merasakan apa-apa, tapi sekarang gue mulai merasa ada sesuatu yang nggak beres.”

“Apa Axel diculik, ya?” Henry mengutarakan dugaannya, “Dan penculiknya udah ngincer dia sejak dari rumah Rachel tadi, mungkin?”

“Tapi buat apa dia nyulik Axel, Ry?” Aku membantah. “Axel kan nggak melakukan apa-apa.”

Henry terdiam. “Bener juga, nggak ada alasan spesifik,” gumamnya.

Kami berempat terdiam dalam tegang sambil sama-sama berpikir. Selama berpikir, aku terus merasa resah. Sejujurnya, sampai saat ini pun, aku masih merasa seperti diawasi. Berkali-kali kutolehkan kepala ke belakang, namun berkali-kali itu pula jawaban yang kudapatkan selalu sama. Tidak ada orang di sana.

“Gini aja, deh,” suara Nico menyentak lamunanku. Aku langsung bersusah payah memusatkan perhatian pada Nico dan melupakan rasa takutku, walaupun kenyataannya gagal total. “Mendingan kita pencar buat nyariin Axel. Karena cewek-cewek nggak mungkin pergi berdua aja, maka kita pencar dua-dua, cewek dan cowok.”

“Mau nyari di mana?” Suara Michelle terdengar sama resahnya dengan suara yang pasti kukeluarkan jika aku bicara saat ini. “Masa mau balik lagi ke pasar kota? Jam segini kan udah kelar pesta mingguannya. Pasti udah sepi banget di sana.”

“Ini baru lewat dua puluh menit sejak pestanya kelar, kok. Mungkin aja mereka masih ada di sana,” Nico menimpali, “Ya udah, deh. Gini aja. Biar gue sama Bella yang nyariin ke sana, pasti dia khawatir banget soal pacarnya. Lo sama Henry nyariin di sekitar villa aja. Siapa tahu Axel nyasar dan balik ke sini sendirian.”

Kami semua terdiam memikirkan usul Nico.

Well, walaupun nggak mungkin banget Axel nyasar dan balik sendirian, tapi oke lah. Lagian gue juga takut kalo disuruh balik lagi ke pasar kota. Merinding gue di sana,” Michelle akhirnya membuka suara.

Nico tersenyum puas, walaupun dapat kulihat, senyum itu sedikit dipaksakan. Wajar saja, pasti dia juga merasa luar biasa khawatir saat ini, dan tersenyum di saat khawatir sama sulitnya dengan menahan pipis di tengah-tengah keramaian. “Yang lain setuju juga?”

“Setuju,” aku dan Henry menjawab dengan cepat.

“Ya udah. Yuk, Bell, kita berangkat sekarang. Henry, pinjem mobil lo dulu, ya? Gue yakin, kalo buat Axel, lo mau ngerelain bensin lo itu,” Nico berkata.

Henry mengangguk dengan tampang pucat. “Bensin nggak lebih penting daripada Axel. Ambil aja kunci mobil gue di atas rak sepatu.”

Aku dan Nico mengangguk, kemudian berdiri bersamaan dan berjalan cepat keluar villa setelah menyambar kunci mobil Henry.

Dalam hati, aku berdoa. Semoga Axel nggak kenapa-napa.

***

 

MICHELLE POV

 

“Kita mulai dari mana, Ry?” Aku bertanya pada Henry yang kini tampak sama tegangnya denganku. Kini, sudah tinggal kami berdua di dalam villa, dan kami harus berusaha untuk menemukan Axel, bagaimana pun caranya. Melihat Henry yang hanya sanggup duduk membeku, aku tahu, aku harus mengambil inisiatif duluan.

Henry menoleh, masih dengan wajah seperti membeku. “Nggak tahu, Chelle.”

Aku berdecak kesal dan memutar kedua bola mata. “Payah lo! Temen lo hilang, lo malah bengong aja!”

“Habis, gue syok,” Henry menggumam. “Gue nggak nyangka kejadiannya bakal jadi kayak gini.”

So what? Terus, kalo lo nggak nyangka, lo harus bengong tanpa ngelakuin usaha apa-apa, gitu?! Apa Axel bakal datang sendiri kalo lo diam aja?!” Aku membentak. Dalam hati, aku rada menyesal sudah membentak-bentak Henry seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi? Kalau sedang panik, emosiku memang gampang meledak-ledak.

“Ya udah, ya udah! Lo tenang dulu, kek!” Henry balas membentak dengan kesal. “Pokoknya, apapun yang terjadi, kita nggak boleh misah. Bahaya kalo misah-misah. Mending kita nyari bareng-bareng.”

Aku menggigit bibir bawahku dan mengangguk menyetujui. “Jadi, kita mulai dari mana?”

“Kayaknya kita harus mulai dari luar villa. Mungkin di sekitar villa dulu,” Henry menjawab. “Di dalam villa rasanya nggak mungkin.”

Aku terdiam sejenak untuk memikirkan ucapannya sebelum akhirnya memutuskan untuk setuju. “Ya udah, yuk, buruan.”

Kami berdua bangkit berdiri dengan cepat. Henry berjalan di depanku, bersiap keluar melalui pintu keluar satu-satunya.

“Eh, Ry,” aku memanggil. Langkah Henry terhenti, dan ia menoleh dengan wajah bertanya-tanya. “Kayaknya kita butuh senter. Gue ambilin dulu, ya?”

“Emang senternya ada di mana?” Henry balik bertanya, “Ini kan villanya Nico, Chelle. Memangnya lo tahu?”

Aku terdiam. “Nggak tahu, sih. Makanya, cari dulu. Di luar gelap, sama aja kalo kita keluar nggak pake senter.”

Henry menghela napas panjang. “Ya udah, deh. Lo cari aja di kamar cowok-cowok. Gue nunggu di sini aja.”

Aku mencibir, “Dasar pemales lo. Demi sahabat sendiri aja masih malesnya kayak gitu.”

Henry memutar kedua bola matanya. “Gue nggak nganggur, kali! Gue juga ngawasin kondisi sekitar sini!”

“Ah, ya udah, ya udah, terserah lo lah,” aku akhirnya pasrah. Dengan langkah tergesa-gesa, aku berjalan menuju kamar cowok-cowok yang terletak di lantai dua. Kamar itu terletak di koridor yang lebih sempit, terpisah dari kamar-kamar lainnya. Lampu di luar kamar memancarkan cahaya kuning remang-remang, membuat suasana menjadi temaram.

Langkah kakiku bergema di koridor kecil menuju kamar itu. Lantai kayu yang mendasari koridor berderak-derak, mengeluarkan bunyi-bunyian aneh. Situasi sangat sepi, membuat jantungku mau-tak-mau berdetak dua kali lebih cepat.

Tunggu dulu. Kenapa perasaan tak enak itu kembali lagi?

Aku menoleh ke belakang dengan waswas. Tapi, sama seperti yang sudah sering kutemui, tidak ada siapa-siapa di belakangku. Namun, aku tetap merasa diintai. Seseorang seperti sedang mengawasiku dari jauh—atau mungkin dari dekat, aku tidak tahu.

Suara tetesan air kran dari dalam kamar mandi yang ada di sebelahku membuat suasana jadi semakin terasa mengerikan. Ingin rasanya aku berlari turun kembali dan memeluk Henry sambil mengatakan bahwa aku ketakutan, tapi aku berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.

Aku kan hanya mencari senter. Tidak ada hal buruk yang akan terjadi.

Atas dasar pemikiran itulah, aku meneruskan langkahku menuju kamar cowok dengan kaki yang mulai bergetar hebat. Saat akhirnya aku sampai di depan kamar itu, debar jantungku semakin berdentum-dentum tidak keruan. Tanganku gemetaran dan bulu kudukku meremang.

Seperti ada seseorang yang sedang mengawasiku.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan lagi-lagi harus puas dengan jawaban bahwa tidak ada siapa-siapa di sekitarku selain diriku sendiri.

Seerr…

Angin dingin yang entah berasal dari mana berhembus kencang menerpa tubuhku. Aku merinding. Hidungku mulai menangkap bau-bauan aneh yang menyerupai daging busuk. Aku memejamkan mata dan mencoba mengenyahkan segala perasaan burukku.

Tenang, Michelle, tenang. Itu semua cuma perasaanmu aja. Karena suasana sepi, kau jadi berhalusinasi yang tidak-tidak.

Kuulurkan tanganku untuk membuka gagang pintu. Namun, saat hendak menyentuh gagang pintu, tanganku seperti tersengat aliran listrik yang memaksanya mundur.

Jangan dibuka. Sesuatu yang berbahaya sedang menantimu.

Suara hatiku berbisik. Jantungku berdebar kencang dan lututku melemas.

Kenapa suara hatiku sepertinya tidak mengizinkanku untuk membuka pintu ini? Ada apa di balik pintu ini? Bahaya apa yang mungkin terjadi?

Aku menggeleng-gelengkan kepala.

Tidak. Tidak mungkin ada apa-apa. Aku kan hanya mencari senter saja. Mencari benda itu pasti tidak makan waktu terlalu lama, dan aku bisa langsung berlari keluar setelahnya. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi.

Setelah berusaha memantapkan hatiku, aku pun mengulurkan tangan dan membuka gagang pintu perlahan-lahan, kemudian mendorong pintu itu ke depan dengan hati-hati.

Krieett…

Bunyi derit pintu yang bergesekan dengan lantai menggelitik telingaku, membuat bulu kudukku semakin meremang.

“Eh, kok adegannya mirip adegan film horror gini, ya?”

Perkataan Nico siang tadi terngiang-ngiang dalam benakku, membuat jantungku langsung berdebar-debar kencang.

Sialan Nico. Kenapa tadi dia harus ngomong seperti itu? Gara-gara omongannya itu, sekarang aku jadi terbayang-bayang film-film horor yang pernah kutonton. Dan, lebih sialnya lagi, adegan ini, kalau dipikir-pikir, memang mirip adegan film horor.

Suasana di dalam kamar yang gelap gulita memaksaku untuk memutar pandangan, mencari-cari sakelar lampu yang terhubung dengan lampu gantung di tengah ruangan. Aku mencoba menengok ke belakang pintu, namun sakelar itu belum juga kelihatan. Di mana ya, sakelarnya?

Fokus, Chelle, fokus. Kamu nggak boleh menghabiskan waktu hanya untuk mencari sakelar lampu. Kamu ke sini untuk mencari senter.

Suara hatiku memaksaku untuk menghentikan acara mencari sakelar lampu yang belum juga membuahkan hasil. Akhirnya, kuputuskan untuk membuka pintu lebar-lebar demi mendapatkan secercah penerangan dari lorong remang-remang di depan kamar. Dengan tergesa-gesa, aku berlari menuju meja rias dan menarik lacinya.

Tanganku bergerak liar mengobrak-abrik isi laci besar itu. Tidak banyak barang yang ada di dalamnya. Hanya ada beberapa alat tulis bekas dan botol-botol plastik tak terpakai. Sama sekali tidak ada senter. Setelah menutup laci keras-keras, aku membuka laci berikutnya dan kembali mengobrak-abrik dengan brutal.

Aku harus cepat. Aku harus cepat.

Debar jantungku semakin menjadi-jadi seiring dengan bergetarnya kedua tanganku yang sedang sibuk mengobrak-abrik laci.

Kertas-kertas bekas, sekotak klip, bolpoin-bolpoin mati, kaleng berkarat…

Sama sekali tidak ada senter.

Aku mengacak rambutku dengan frustasi. Di mana, sih, Nico menyimpan benda itu? Padahal aku sudah berharap untuk cepat-cepat keluar dari sini. Kenapa senter keparat itu belum juga kutemukan?

Aku selesai mengaduk-aduk isi dari laci terakhir tanpa membuahkan hasil. Yang ada malah seluruh tenagaku terkuras habis lantaran terlalu gemetaran sejak tadi.

Aku berdiri perlahan-lahan dan mengatur napas yang terengah-engah akibat detak jantung yang bertambah cepat.

Tes…

Bunyi tetesan air kran dari kamar mandi yang hanya dibatasi tembok dari kamar ini membuat suasana makin terasa mencekam.

Tes…

Tes…

Seerr…

Hembusan angin dingin menerbangkan tirai putih di sampingku. Tirai itu melambai-lambai pelan oleh angin yang entah berasal dari mana. Lampu gantung di tengah ruangan bergerak-gerak seperti nyaris jatuh. Debar jantungku semakin menggila. Aku seolah berhalusinasi mendengar derap langkah kaki seseorang.

Tidak. Tidak. Itu tidak mungkin hantu.

Aku harus berpikir logis. Aku kan tidak goblok. Pertama, hantu tidak memiliki kaki. Itu hanya berarti, mereka tidak bisa mengeluarkan bunyi derap langkah kaki. Kedua, hantu mengincar seseorang biasanya untuk alasan tertentu. Untuk apa hantu itu mengincarku? Tidak mungkin ia ingin mengambil alih tubuhku seperti di film-film. Jika ia ingin mengambil alih tubuh seseorang, tidak ada alasan baginya untuk memilihku. Masih banyak orang yang lebih cantik dan lebih disukai daripada aku. Untuk apa hantu kurang kerjaan itu memilih untuk mengincarku? Orang seperti Bella jauh lebih pantas diincar daripada aku.

Inti dari segala intinya, hantu itu tidak logis. Yah, walaupun aku sering ketakutan karena makhluk gaib itu, tapi aku harus mencoba berpikir rasional.

Aku menajamkan telinga sekali lagi untuk mendengar apakah bunyi derap langkah kaki itu masih ada. Namun, setelah menajamkan telinga setajam mungkin, tidak ada suara apa pun.

Aku mengerutkan kening. Aneh, lantas suara apa tadi itu? Apa benar itu hanya halusinasiku semata?

Aku menggeleng-gelengkan kepala.

Ah, ya sudah lah. Lagipula, malah bagus kalau itu hanya halusinasiku semata. Aku harus fokus dan cepat-cepat menemukan senter agar bisa segera keluar dari sini dan bergabung dengan Henry.

Tujuanku selanjutnya adalah lemari. Lemari yang kumaksud adalah lemari kayu kuno yang sudah lapuk dan tinggi menjulang di samping meja rias. Lemari itu dilengkapi kenop dari besi yang sudah berkarat. Walaupun rasanya agak mustahil Nico menyimpan senter di tempat seperti ini, tapi tidak ada salahnya mencoba. Siapa tahu benda itu ada di dalam.

Aku membuka lemari perlahan-lahan sambil menahan napas. Bagian dalam lemari itu gelap gulita. Apalagi, dilengkapi dengan tidak adanya penerangan, aku jadi tidak bisa melihat apa-apa. Kuraba-raba bagian dalam lemari untuk mencari-cari benda yang bentuknya mirip senter.

Tanganku meraba-raba dengan hati-hati, saat tiba-tiba kurasakan benda mirip kain kusam menyentuh tanganku.

Dahiku langsung berkerut. Apa itu?

Aku menyipitkan mata untuk mempertajam penglihatan. Tatapanku menerobos masuk ke dalam lemari yang gelap itu, mengawasi setiap inci yang dapat tertangkap oleh mataku.

Dan aku pun melihatnya.

Sepasang mata tajam yang menatap lurus ke arahku, seolah menusuk sanubariku dalam-dalam. Aku terkejut bukan kepalang dan langsung terjengkang ke belakang.

Aku mengedip-ngedipkan mata berkali-kali, dan kemudian menyadari bahwa sepasang mata yang ada di dalam lemari itu sudah menghilang. Aku jadi waswas. Dengan gemetaran, aku menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang lain di sini selain diriku sendiri.

Ini sudah kelewatan. Aku harus segera keluar dari sini. Persetan dengan senter, yang penting aku bisa lepas dari ketakutan ini!

Aku buru-buru meraih kenop lemari untuk menutupnya. Namun, di luar dugaanku, sebuah bayangan gelap dari dalam lemari menerkam ke arahku.

Aku terlalu syok, dan tahu-tahu saja aku sudah jatuh terduduk dengan leher yang dicekik kuat-kuat oleh sosok hitam itu. Mataku membelalak lebar dan tubuhku seperti tersengat listrik.

Sosok hitam itu berjubah dan mengenakan topeng. Topengnya bukanlah topeng biasa, melainkan topeng tanpa sedikit pun lubang yang membuatku bertanya-tanya dari mana dia bisa melihat di balik topeng itu. Mata dari topeng itu mencorong tajam ke depan, dan giginya berupa taring dengan aksen darah yang mengerikan.

Namun, lebih daripada semua kengerian yang tersimpan di balik topeng itu, aku lebih dibuat takut oleh sepasang tangan itu. Tangan pucat nan dingin yang kini melingkar kuat di leherku, mencekiknya sampai rasanya urat-uratku keluar semua. Aku kepingin berteriak, tapi suaraku tertahan di tenggorokan.

Sakit. Rasanya sakit sekali.

Kurasakan aliran darah berhenti di leherku, dan saat itu pulalah aku tahu wajahku pasti membiru. Tanganku menggapai-gapai udara, mendorong sosok hitam itu untuk menjauh. Kakiku menendang-nendang tanpa hasil.

Ya Tuhan, rasanya aku hampir mati.

Siapa orang ini? Apa ia sosok mengerikan yang terus-terusan mengintai kami sejak tadi siang? Mengapa ia tiba-tiba mencekikku?

Terlalu banyak pertanyaan tanpa jawaban yang berkelebatan dalam otakku, hingga aku akhirnya memutuskan untuk melupakan pertanyaan-pertanyaan itu dan mengutamakan penyelamatan diri. Dengan tangan kananku, aku menarik rambut kusam sosok itu yang panjang sampai ke punggung. Kepala sosok itu ikut tertarik ke belakang, namun tangannya tetap mencekik leherku dengan sangat kuat.

Aku mencoba menarik rambutnya sekali lagi dan menginjak kakinya yang dihiasi sepatu biru kusam. Cekikan di leherku sedikit mengendur, dan aku langsung memanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan diri. Dengan susah payah, aku berhasil lepas dari cengkeraman sosok itu. Aku berlari dengan panik menuju pintu keluar, namun alangkah terkejutnya aku menemui pintu itu sudah terkunci dari luar.

Ya Tuhan! Siapa yang mengunci pintu ini? Kapan ia melakukannya? Kenapa aku tidak menyadari hal itu?

Tidak. Aku tidak boleh menyerah. Bisa-bisa aku mati di tangan sosok tidak jelas itu kalau aku menyerah sekarang. Aku pun berlari menuju tirai jendela dan menyibaknya hingga terbuka. Aku mengintip ke bawah dengan waswas, dan mendesah lega saat menyadari jendela ini letaknya tidak tinggi-tinggi amat kendati berada di lantai dua. Aku pasti bisa meloncat dari atas sini dengan selamat. Parah-parahnya, paling aku hanya bakal lecet-lecet saja.

Dengan cekatan, aku mendorong jendela itu agar terbuka ke luar. Tapi ternyata jendela itu terkunci. Aku mencoba sekali lagi, namun hasilnya sama saja. Jendela itu tetap tidak mau terbuka.

Aku menoleh dengan cepat ke belakang dan terkejut menyadari sosok itu kini sedang berjalan dengan kaki diseret menuju ke arahku. Ia semakin mendekat dan mendekat, dan aku mulai panik. Dengan gerakan ekstra cepat, aku mengambil benda keras terdekat untuk memecahkan kaca jendela. Belakangan kusadari, ternyata aku mengambil sebuah tongkat golf. Ah, tidak masalah. Tongkat golf pasti cukup keras untuk memecahkan kaca jendela.

PRANG!!

Dalam sekali pukulan keras, kaca jendela pecah hingga menjadi kepingan-kepingan. Aku bersiap melompat turun saat tiba-tiba sepasang tangan dingin dan pucat itu mencekik leherku sekali lagi, kali ini lebih kuat daripada sebelumnya. Rasanya aku nyaris kehabisan napas dibuatnya.

“AAAHH!!” Aku berteriak-teriak histeris dan meronta-ronta, memohon untuk dilepaskan. Namun, dalam setiap gerakan tubuhku, cekikan yang membelit leherku malah semakin kuat. Tubuhku dihempaskan dengan keji ke atas lantai dan diduduki hingga aku tak sanggup bergerak.

Tangan sosok itu meraih pecahan kaca dari jendela yang kupecahkan. Aku membelalak lebar saat menyadari kepingan tajam itu diarahkan ke wajahku.

“AAAAHH!!” Aku berteriak keras-keras, “HENRY! HENRY! TOL—AKHH!”

Terlambat. Pecahan kaca itu sudah ditancapkan dalam-dalam ke leherku. Dapat kurasakan benda tajam itu menembus kulit leher dan saluran tenggorokanku. Darah menyembur keluar dari leherku, dan rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku. Pecahan kaca itu digunakan untuk menyobek leherku pelan-pelan. Darah keluar dari setiap inci kulit yang disobek oleh pecahan tajam itu. Aku ingin berteriak, namun suaraku tidak mau keluar. Aku hanya bisa pasrah karena kini pita suaraku sudah rusak. Dapat kurasakan pecahan kaca itu masuk sempurna ke dalam leherku, meninggalkan luka yang menganga lebar, memperlihatkan daging berwarna merah bekas seretan kaca tajam itu.

Seolah belum puas telah merusak leherku, ia mengambil pecahan kaca lainnya dan menggoreskannya ke pipiku. Pecahan kaca itu menembus dalam sekali ke dalam daging wajahku hingga mengeluarkan darah yang meleleh dan terasa panas di pipiku. Rasa perih menjalar di seluruh wajahku, dan dapat kurasakan air mata mengalir dari pelupuk mataku.

Seseorang, tolong aku!

Aku ingin sekali berteriak meminta tolong, namun aku sadar, kini aku sudah tak berdaya. Aku hanya bisa pasrah dan menerima kenyataan bahwa nyawaku telah berada di ujung tanduk.

Sosok itu terus mengukir pipiku dengan pecahan kaca, membentuk bekas luka yang menganga lebar dan mengucurkan darah. Rasa sakit tak tertahankan membuat air mataku mengalir semakin deras dan deras. Kendati demikian, sosok tak berbelas kasihan itu terus saja menyiksaku tanpa peduli jeritan hatiku yang memintanya menghentikan seluruh aksi kejamnya.

Setelah mengakhiri aksinya mengukir pipiku dengan menancapkan potongan-potongan pecahan kaca ke dalamnya, sosok itu kemudian mengambil sesuatu dari balik jubah hitamnya. Mataku langsung membelalak lebar begitu menangkap kilatan benda yang dikeluarkannya dari sana.

Pisau.

Ya Tuhan! Apa yang akan dilakukannya dengan benda itu?

Pisau dengan darah kering di berbagai sisinya tersebut diarahkannya ke bibirku. Aku ingin menghindari pisau itu, namun leherku sudah tidak mampu digerakkan lagi. Menoleh rasanya hanya akan membuat leherku putus.

Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat pisau itu mengiris kedua ujung bibirku perlahan-lahan. Darah menyembur memenuhi mulutku. Bau amis memenuhi rongga penciumanku. Pisau tajam itu terus mengiris bibirku hingga sobek. Setelah puas merobek bibirku hingga ke samping telinga, sosok itu memainkan pisau di tangannya dengan memasukkannya ke dalam mulutku. Aku dapat merasakan gusiku teriris dan membentuk sobekan luka yang menganga lebar. Mulutku semakin penuh darah yang membuatku ingin muntah. Tapi, aku bahkan tidak yakin apakah muntah tidak akan membuat saraf leherku putus juga. Jadi, berusaha kutahan rasa mual yang mengusik perutku.

Pisau dikeluarkan dari mulutku, dan dapat kulihat darahku menetes-netes dari benda tajam itu. Aku bahkan masih dapat menangkap warna merahnya kendati situasi sangat gelap. Bulu kudukku meremang, dan aku bergidik ketakutan membayangkan hal apa yang akan dilakukannya padaku setelah ini.

JLEB!

Pisau ditancapkan ke lenganku, dan aku berjengit merasakan benda itu menembus lenganku hingga tertancap di lantai. Tanpa perlu melihat pun, aku tahu, darah pasti langsung mengucur deras membentuk genangan lengket berbau amis. Sosok itu mengeluarkan benda lain dari dalam jubahnya, dan aku sudah mulai kesulitan untuk melihat benda apakah itu. Pandangan mataku sudah mulai buram dan rasanya aku sudah hampir menyerah pada maut.

Benda itu diangkat tinggi-tinggi, dan…

JLEBB!!!

Aku yakin, kalau pita suaraku belum dirobek pisau, aku akan berteriak sekencang yang kubisa. Sebab, kini, benda yang ternyata adalah sebatang jarum tajam itu ditancapkan ke mata kiriku. Sangat dalam, sampai-sampai kusangka bila jarum itu dicabut, bola mataku akan ikut tercabut bersamanya. Untung saja, sosok mengerikan itu tidak mencoba mencabut jarum itu. Aku masih waras dan tidak mau melihat bola mataku keluar dari rongga mataku sendiri, terlebih lagi karena satu mataku yang lain masih berfungsi dengan cukup baik.

Fakta bahwa satu mataku masih berfungsi itu langsung berubah detik setelahnya. Sebab, tiba-tiba saja, jarum lain sudah menancap di kelopaknya. Kali ini bukan hanya jarum, tapi juga benang.

Dengan kedua tangannya yang berdarah dingin, sosok itu menjahit kelopak mataku menjadi satu, hingga aku harus menahan rasa sakit akibat darah yang terus-terusan mengucur tanpa henti. Segala sesuatu menjadi gelap dalam setiap tusukan dan tarikan yang dibuatnya, dan untuk sesaat, hanya tersisa aku, kegelapan, dan rasa sakit.

Tubuhku kejang-kejang tanpa bisa kukontrol, dan napasku mulai tersengal-sengal. Sepertinya aku sudah kehilangan terlalu banyak darah. Samar-samar, aku dapat mendengar dengusan puas sosok keji itu, sebelum kurasakan suaranya yang menyerupai desisan ular berbisa menggelitik telingaku.

“Hei,” bisiknya lirih, “Kau menikmatinya?”

Pertanyaan itu menandai akhir dari semua ini. Sebab, detik setelahnya, dapat kurasakan, sesuatu membelah leherku. Mungkin pisau, mungkin juga benda lainnya. Yang jelas, setelah itu, aku sudah benar-benar tak bisa merasakan apa-apa lagi.

 

***

HENRY POV

 

Aku terbangun dan menyadari bahwa diriku masih berada di villa Nico. Otakku langsung memutar ingatan beberapa waktu yang lalu, saat kami semua masih berkumpul di sini dengan panik, mendiskusikan hilangnya Axel secara tiba-tiba. Ingatan itu menuntunku pada suatu pertanyaan.

Bukankah seharusnya aku dan Michelle mencari Axel saat ini?

Kenapa aku malah ketiduran di sini? Di mana Michelle?

Aku mencoba mengingat-ingat sejenak, dan langsung memekik pelan begitu ingat bahwa cewek itu sedang pergi mencari senter beberapa waktu yang lalu.

Kenapa dia lama sekali?

Aku bangkit dari sofa dan berjalan pelan-pelan menuju tangga.

“Chelle?” Aku memanggil nama Michelle, namun hanya gema tak berarti yang menjawab panggilanku.

Aneh. Ke mana Michelle? Kenapa dia tidak menjawab panggilanku?

“Michelle?” Aku memanggil sekali lagi. Namun, sama seperti sebelumnya, masih tidak ada jawaban. Padahal, biasanya cewek itu akan selalu menyahut dengan suara cemprengnya itu.

Jangan-jangan, terjadi sesuatu padanya.

Pikiran itu cukup mengusikku.

Aku harus memeriksa keadaan di atas. Aku harus melihat apakah dia masih ada di sana. Aku harus memastikan dia baik-baik saja.

Dengan cepat, aku berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam lorong tempat kamar cowok berada. Suasana di lorong itu agak berbeda dengan suasana di luar. Lorong itu terasa dingin, dan hembusan angin menerpa entah dari mana.

Berusaha tidak mempedulikan hal itu, aku tetap berlari menuju kamar cowok. Bau menyengat yang kukenali sebagai bau darah bercampur bau daging busuk langsung menyambut hidungku begitu aku tiba di depan pintu kamar.

Mataku langsung membelalak lebar.

Michelle!

Dengan tergesa-gesa, aku mendorong pintu hingga menjeblak terbuka. Bau darah dan daging busuk itu semakin kuat begitu pintu terbuka, sampai-sampai aku harus menahan napas kalau tidak mau saluran pernapasanku dirusak bau-bauan tidak menyenangkan. Mataku langsung mengedar dengan liar mencari sosok Michelle, dan alangkah terkejutnya aku menemui sosoknya tergeletak di lantai.

Tidak, sebenarnya bukan itu yang membuatku terkejut, melainkan kondisinya.

Demi Tuhan! Apa itu benar-benar Michelle?

Aku nyaris tak mempercayai penglihatanku sendiri. Ia kini tergolek tak bernyawa dengan wajah dipenuhi luka menganga yang menguarkan bau amis darah, mulut tersobek lebar hingga ke samping telinga, mata kanan yang dijahit, mata kiri yang ditusuk jarum dalam keadaan terbuka lebar, leher yang disobek menggunakan pecahan kaca tajam, serta pisau yang menembus lengan kirinya. Darah kental dan merah tampak menggenang. Aku hanya sanggup berdiri terpaku di tempatku tanpa bisa berkata-kata.

Mimpi. Aku pasti sedang bermimpi.

Tidak mungkin ada orang yang sungguhan tega memperlakukan Michelle seperti ini. Mungkin, karena aku sering kesal terhadap tingkahnya, aku jadi bermimpi hal yang tidak-tidak seperti ini. Aku harus segera bangun dari mimpi buruk ini.

Rasa mual yang bergejolak di perutku kemudian membuat semua asumsi itu kacau balau. Rasa mual itu terasa sungguh nyata, bukan sekadar bunga tidur belaka. Terlebih lagi, saat kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh leherku.

Tunggu dulu. Sesuatu yang dingin?

Dengan waswas, aku melirik ke belakang tanpa menolehkan kepalaku.

Dan pandangan mataku langsung berserobok dengan sebuah pisau tajam berdarah-darah yang kini telah menempel di leherku.

Mataku langsung membelalak lebar dan aku berjengit mundur selangkah.

Sial. Ternyata pembunuh berdarah dingin itu masih ada di sini.

Sekujur tubuhku merinding, dan aku mendadak lupa semua teknik beladiri yang pernah kupelajari. Damn it! Aku kan atlet judo, harusnya aku tidak berlemah-lemah ria dan menyerahkan diriku seperti ini!

Dengan gerakan supercepat yang nyaris tak terlihat, aku menangkap pisau itu dan melemparnya di udara. Dengan sigap, aku menangkap gagang pisau itu dan berbalik, kemudian mengarahkan ujungnya pada leher si pembunuh.

Aku sedikit terkejut saat menyadari pembunuh itu mengenakan topeng ekstra mengerikan dengan berbagai aksen darah dan mata menyerupai mata asli yang mencorong tajam ke depan. Tapi persetan dengan itu. Aku tidak boleh terlihat takut di depan psikopat gila seperti ini.

“Buka topeng lo!” Aku mengancam. Orang itu hanya diam tanpa sepatah kata pun. “Buka topeng lo atau gue telepon polisi sekarang juga!”

Dengusan bernada meremehkan terdengar dari balik topeng itu, dan emosiku semakin naik ke ubun-ubun.

“Lo udah ngebunuh Michelle, bodoh! Buka topeng lo dan serahin diri lo! Lebih baik dipenjara daripada mati, kan?” Suaraku terdengar sangat keras.

Orang itu tetap diam saja tanpa membalas ancamanku. Aku semakin mendekatkan pisau di tanganku ke lehernya, tapi ia malah menggeleng-geleng dengan gaya meremehkan.

Sialan orang ini. Dia meremehkanku.

Setelah mendengus sinis sekali lagi, orang itu menarik ujung topengnya. Aku masih mengarahkan pisau ke lehernya saat topeng itu perlahan-lahan terbuka.

Dan alangkah terkejutnya aku melihat rupa apa di balik topeng itu.

Kulit putih pucat yang berwarna kontras dengan mata hitam legam tanpa bagian putihnya itu langsung menyambutku. Mata itu berkilat-kilat menyerupai kelereng, tanpa sehelai pun alis yang menghiasi bagian atasnya. Wajah itu menjadi lebih seram dengan adanya dua lubang besar tanpa batang hidung yang mengerikan. Tambahan lagi, mulut itu. Mulut dengan bekas sobekan benda tajam yang membentuk seringai superlebar yang seperti nyaris membelah wajahnya menjadi dua bagian itu…

PRANG!!

Pisau langsung terjatuh dari tanganku yang bergetar ngeri. Dan sosok itu berjalan dengan kaki diseret mendekatiku. Saat mulutnya yang lebar itu sudah berada di samping telingaku, dapat kulihat seringai kejamnya bertambah lebar, dan aku tidak sangup bergerak barang hanya seinci pun.

Dengan suara menyerupai desisan ular yang mengerikan, ia berbisik lirih.

“Halo, Henry…”

TO BE CONTINUED…

Read more Stacy's Curses in shining-hearts
Advertisements

6 thoughts on “[Stacy’s Curse] A Bloody Farewell (1/2)

  1. Woiii, merinding tauk bacanya, :/
    Tu sing ngebunuh Stacy? trus Rachel kemana? Kok ga keliatan?
    part 2 di post di sini ap di shining-hearts? Ap dua2 ne?

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s