[Stacy’s Curse] A Bloody Farewell (2/2)

abf

P.S : this part of the story is written by Viona Angelica, the owner of shining-hearts. To remind you of the previous part, you can read it again here. This story may show too much violence, but please DON’T TRY TO DO IT AT HOME!

Ready now?

Then GO!

STACY’S CURSE

A BLOODY FAREWELL

CHAPTER TWO // END

Kedua mata yang terus mengintai

Mengikuti kami kemanapun kami pergi
Tak ada lagi tempat bersembunyi
Pada akhirnya semua akan mati
Mengapa penyesalan selalu datang setelah semuanya terjadi?
Bella POV
Aku dan Nico sedang dalam perjalanan menuju pasar Mingguan yang sudah selesai sekitar 30 menit yang lalu.
Pasar yang sebelumnya sangat ramai sampai kami harus berdesak-desakan kini telah sepi. Hanya tersisa beberapa penjual stan yang sedang menutup dan membereskan barang dagangannya.
Aku dan Nicopun turun dari mobil menuju salah satu pembuka stan yang sedang membereskan barang. Sesekali kulirik Nico yang tampak tegang bercampur khawatir itu.
“Permisi Pak, apakah anda melihat dia?”kataku menunjukan foto-foto Axel yang ada di dompetku.
“Nggak tuh Mbak,”kata pedagang itu acuh tak acuh sambil mengangkut barang-barangnya ke dalam truk.
Songong amat sih nih pedagang! kalimat itu sedikit mengurangi rasa takutku. Serasa sedikit rasa takutku berubah menjadi rasa emosi terhadap pedagang yang songong kaya dia!
“Ya udah deh La, kita cari aja di sekitar sini. Lagipula di sini kan rame banget tadi, pedagang-pedagang nggak mungkin perhatian kalaupun mereka liat.”kata Nico sambil menarik tanganku pergi dari depan stan itu.
“Kita mau ke mana?”tanyaku masih khawatir. Nico diam saja sambil terus berjalan ke arah hutan di belakang panggung. Kulihat wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu dan tampak kalau yang dipikirkan itu adalah sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Akhirnya sampailah kami ke bagian depan hutan itu lalu kucoba melihat ke dalam sana namun aku tak dapat melihat apapun juga. Hanya warna hitam kelam yang terlihatoleh kedua mataku.
“Nic, kayaknya Axel nggak bakal ke sana deh.”kataku menoleh pada Nico.
“Mungkin aja Axel diculik pembunuh atau penjual organ dalam manusia trus di bawa ke dalem gubug kecilnya di dalem hutan kaya di film-film.”
“Huush, Nico ah kebanyakan nonton film pembunuhan sama horror, jangan gitu dong, gue jadi tambah merinding nih.”kataku sambil menepuk pundak Nico.
“Loh, kan siapa tahu yang dibalik semua ini itu pembunuh bayaran atau penjual organ dalem manusia trus kebetulan orang yang berhasil mereka dapetin pertama kali itu Axel. Trus dibawa …”
“Ssst udah-udah jangan diterusin, lo bikin gue tambah merinding. Persetan sama tuh pembunuh atau penjual organ atau setan, yang penting gue nggak akan maafin siapa aja yang nyulik Axel dari sisi gue.”kataku mulai melangkah masuk ke dalam hutan dengan Nico di sisiku dan sebuah senter yang kupegang untuk penerangan.
Serrr…
P-perasaan ini, perasaan yang kurasakan di rumah Rachel saat itu juga di villa Nico saat itu, kembali lagi. Angin kencang yang dingin menerpa ke arahku. Aku merasa diintai dari belakang, akupun berbalik dan kulihat hanya ada Nico yang sedang berjalan mengikutiku.
“Kenapa Bel?”katanya turut melihat ke belakang ke mana senterku menyorot.
“Ah, nggak papa, perasaan gue nggak enak aja.”kataku berbalik dan melanjutkan langkahku.
Deg… Deg… Deg…
Jantungku terus berdebar kencang seirama dengan tiap langkah yang kuambil. Semakin dalam dan dalam aku masuk ke hutan lembab tersebut dengan hanya secuil penerangan dari senter yang kubawa.
Aku mendengar seperti suara teriakan dan rintihan kesakitan di sana. Langsung kupercepat langkahku memasuki hutan yang menyeramkan itu tanpa menoleh ke belakang maupun berbalik. Aku benci ini karena aku yakin jika aku berbalik aka nada sosok perempuan ataupun laki-laki yang tak bernyawa di sana alias hantu!
Tap tap tap tap….
Kali ini aku yakin seyakin-yakinnya kalau ada yang mengikutiku dari belakang. Tentu saja! Nico kan berada di belakangku. Kupalingkan badanku namun tak kulihat siapapun di sana. “N-nico? Nic? Lo jangan macem-macem ya, cepetan keluar sekarang.”kataku yakin kalau Nico sedang mempermainkanku dengan bermain petak umpet.
Tak ada jawaban. Hanya ada suara serangga-serangga yang sejak tadi berbunyi menambah ketegangan yang sedang kualami.
“Nico!”teriakku sampai menimbulkan gema.
Sama saja tak ada jawaban. Shit! Aku langsung berlari sekuat tenagaku menuju ke luar hutan berharap bertemu Axel ataupun Nico atau siapalah yang penting MANUSIA!
Kulihat jalan keluar dari hutan itu, langsung saja aku menerobos keluar. Sungguh lega sekali saat aku mencapai bagian luar hutan itu.
Hosh… Hosh… Hosh….
Aku berhenti sejenak untuk mengatur nafasku yang tidak karuan setelah berlari terbirit-birit dari dalam sana.
Deg…
Tiba-tiba sesuatu menyentuh pundakku. Dengan sangat berhati-hati dan perlahan aku membalikkan badanku. Alangkah legannya aku saat melihat tangan Nico lah yang menyentuh pundakku.
“Nic, gue takut banget. Lo abis darimana aja sih?”kataku padanya.
“Sorry deh sorry,”katanya sambil memelukku. “Sekarang lo tenangin diri dulu, gue bakal jelasin semuanya nanti.”
Badan Nico terasa hangat, suhu tubuhnya yang hangat itu membuatku nyaman di pelukannya, aku pun berusaha menenangkan diri di pelukannya itu.
“Jadi, tadi gue kesandung sesuatu dan lo gue teriakin nggak kedengeran. Ya… Gue nggak ada penerangan kalo jalan terus bakal nabrak atau kesandung lagi, jadi… Gue balik deh hehehe.”kata Nico.
“Resek lo!”kataku melepaskan pelukan kami dan memukul pelan bahunya.
“Tapi… Gue dapet sesuatu dari pencarian hari ini. Yaitu….”kata Nico sambil menaikkan jari telunjuknya. “Gue yakin kalo Axel ada disuatu tempat di dalem hutan ini, soalnya waktu gue kesandung tadi gue denger suaranya Axel.”sambung Nico sambil menurunkan jarinya.
“Trus? Kita mau masuk lagi ke sana sekarang?”tanyaku.
“Nggak usah lah, ini udah larut malem, mending kita pulang dulu istirahat, besok pagi kita balik lagi ke sini sama Henry sama Michelle buat nyariin Axel. Kan mending berempat daripada berdua.”kata Nico mengajakku kembali ke mobil.
Kulihat ia menampakan wajah main-mainnya namun aku dapat merasakan ia sedang menyembunyikan atau memikirkan sesuatu. Namun aku tak tahu pasti apakah hal itu sebenarnya.
Tiba-tiba, tangannya memegang lembut tanganku. “Um… Nic?”kataku menaikkan sebelah alis dan melihat ke arahnya.
“Gue pingin megang tangan lo,”katanya tanpa memperbolehkanku melepaskan gandengan tangan kami itu.
“Er-oke,”kataku memaklumi. Mungkin ia sangat khawatir dan memerlukan pegangan tangan pikirku.
Kamipun naik ke mobil Henry dan menuju ke villa miliknya.
Nico POV
Akhirnya aku dan Bella kembali ke villa yang nyaman. Bella masih khawatir akan diculiknya Axel oleh seseorang tak dikenal.
“Hen, Chelle, gue sama Nico udah balik nih!”teriak Bella setelah masuk ke dalam villa dan menyalakan lampu tengah.
Namun tak ada jawaban. Perasaanku sudah tak enak saat itu. Jangan-jangan mereka-mereka udah…
“Halah paling mereka udah tidur saking capeknya.”lanjut Bella sambil menaiki tangga kayu.
Ya, mereka sudah tertidur lelap di kamar masing-masing nggaka ada yang perlu gue khawatirin. Kataku pada diriku sendiri sambil mengikuti Bella.
Setelah menaiki tangga dari kayu yang berderak-derak, aku menuju ke kamarku untuk beristirahat.
“Bau apa ini? Baunya sangat nggak sedap.”kataku pada Bella yang akan masuk ke kamarnya yang hanya bersebelahan denganku.
“Bau apaan sih? Gue nggak nyium apa-apa kok.”kata Bella masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.
Aku yakin bau itu berasal dari dalam kamarku. Kubuka pintu kamarku dan bau daging busuk yang bercampur bau amis bersemerbak keluar ke arahku.
Kututup hidungku karena baunya bisa merusak indra penciumanku kalau lama-lama dihirup lalu berjalan ke dalam dan menekan tombol lampu di balik lemari kayu tuaku.
Alangkah kagetnya aku ketika melihat 2 mayat tak berdaya yang sudah hancur lebur muka, badan, maupun kakinya di lantai dekat jendela yang pecah.
Kulihat pula sosok boneka kecil yang memiliki rupa seperti gadis Belanda namun boneka kecil itu telah rusak dan menjadi buruk rupa.
Darah menggenang disekitar mereka yang memunculkan bau tak sedap yang sedari tadi kuhindari untuk hirup.
Aku mendekat agar dapat mengenali mayat-mayat itu. Aku baru mengenali mereka setelah kulihat muka mereka.
M-mereka adalah mayat dari 2 sahabatku Michelle dan Henry.
“Nic! Nic! Nico, Michelle nggak ada di kamar gue! Gue udah nyari ke mana-mana dan.. Ugh.”kata Bella yang terpotong saat memasuki ruanganku.
“B-Bel, m-mereka u-udah nggak ada.”kataku menunjuk pada kedua mayat yang tergeletak tak bernyawa di dalam kubangan darah.
Bellapun langsung menangis merengek-rengek di tempat ia berdiri tadi. Ia terduduk dan menangis ketakutan bercampur sedih.
Lalu, akupun berjalan ke arahnya dan membantunya berdiri. Aku mengajaknya keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya agar bau busuk itu tak menyebar ke mana-mana.
“Bel, gue tau lo sedih banget. Tapi, kalo gini caranya lo bakal kehabisan energi dan nggak bisa nyari Axel besok. “kataku memeluk Bella.
Ia terus menangis di pundakku tanpa menjawab apa-apa.
“Udah tenang, gue akan selalu ada di sini buat lo,”kataku sambil menepuk pelan punggung Bella.
Akupun membawanya ke kamar dan menyuruhnya tidur lalu berjalan keluar menuju pintu kamarnya.
“Nic..”panggilnya setelah dapat menenangkan diri. “Jangan tinggalin gue, malem ini lo tidur di sini aja.”lanjutnya.
“Eh? Beneran?”kataku kaget.
“Nggak papa, perasaan gue lagi nggak enak sejak tadi. Aku merasakan kita lagi diintai sama kayak di rumah Rachel, di hutan tadi, trus di villa waktu mati lampu.”katanya menjelaskan.
“Er-ok, gue tidur di sofa aja ya.”kataku sambil berjalan menuju sofa. Aku memilih tidur di sofa karena takut akan terjadi sesuatu yang tidak-tidak kalau kami berdua tidur di kasur yang sama.
Apalagi, aku sejak dulu mencintai Bella.
***
Kubuka perlahan mataku. Aku sedang tertidur di atas sofa. Aku berusaha mengingat apa saja yang terjadi kemarin mungkin saja aku mendapatkan sebuah clue selain teriakan dari Axel.
Tiba-tiba aku teringat, s-saat itu, saat aku tersandung di hutan, kulihat sepasang mata mengintai Bella dan bersiap menangkapnya. Namun saat kupanggil Bella, ia tak mendengar apapun dan mata itu memalingkan mukanya ke arahku. Oleh karena itu aku lari dari sana meninggalkan Bella.
Tentu saja itu yang sebenarnya terjadi! Entah kenapa kemarin saat akan bercerita pada Bella aku lupa akan hal ini. Sudah kucoba untuk mengingat-ingat tetap saja aku lupa. Dan sekaranglah saat yang tepat untuk mengatakan ini pada Bella. Akupun terbangun dari sofa dan melihat ke kasur. Bella sudah tak ada di sana.
“Ke mana dia? Apa ke kamar mandi?”kataku mencarinya ke kamar mandi.
Tetap tidak ada. Kucari ia ke seluruh ruangan di villa, tetap tidak ada. Dan ketika aku mencari di ruang tengah, kulihat jam dinding yang tergantung di atas pintu keluar. Sudah jam 3 sore?!? Kenapa aku tidur begitu lama? Dan kemana Bella? Kucari ia ke ruang terakhir yang belum kudatangi yaitu dapur.
Tak ada siapapun di sana, hanya ada peralatan dapur biasa: panci dan penggorengan yang tergantung, bahan makanan dalam 1 keranjang, dan pisau, bungkus-bungkus makanan, serta obat tidur di atas meja…
T-tunggu dulu, o-obat tidur? Apa yang ia lakukan di dapur villaku? Aku mendekati obat tersebut, pasti obat inilah yang membuatku bangun jam segini. Kuangkat obat itu dan menemukan secarik kertas yang terlipat di bawahnya.
Hello Nico… Aku meminjam Bella saat kau sedang tidur lelap. Jika ingin menemuinya, datanglah ke hutan yang kemarin malam kau datangi.
Begitulah kata surat itu. Langsung kusambar kunci mobil Henry dan pergi menuju ke pasar Mingguan, tempat masuk hutan tersebut.
Kubawa sebuah senter, obat-obatan ringan, tali, dan pisau kecil dalam sebuah ransel seperti yang pernah kulihat di TV-TV.
Akupun berjalan cepat masuk ke dalam hutan yang masih terang itu. Sambil kuteriak-teriakkan nama Bella aku berjalan tanpa arah menuju hutan semakin dalam dan dalam. Namun aku tak lupa memberi tanda pada pohon-pohon agar saat kembali tak tersesat.
Dug…
Tiba-tiba seseorang memukul kepalaku dengan suatu benda keras. Kepalaku terasa sakit sekali! Tanpa kusadari, pandanganku menjadi gelap gulita tanpa ada cahaya secuilpun.
***
Kukedip-kedipkan mataku yang baru dapat terbuka. Sekitarku tampak gelap, kuangkat tanganku untuk mengusap-usap mataku. T-tapi, tanganku tak dapat bergerak!
Kusipitkan mataku berusaha menyadari apa yang terjadi di sini. Namun, usahaku sia-sia, tak ada satupun benda yang dapat kulihat.
CLAP….
Tiba-tiba lampu menyala. Namun lampu itu tak cukup terang untuk menerangi seisi ruangan, keadaan menjadi remang-remang.
Akhirnya aku dapat melihat rantai yang mengikat tanganku pada sebuah kasur pasien di rumah sakit. Kutarik-tarik rantai itu sekuat tenaga hingga pergelangan tanganku memerah. Tak ada yang berubah, hanya saja, ikatannya sedikit melonggar dan itu melegakanku.
“Well-well,”kata seseorang tiba-tiba. Kucoba menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tak dapat kutemukan kehadiran orang itu.
“S-Siapa lo!?”teriakku mencoba untuk menenangkan diriku yang sedang gemetaran.
“Kalau takut jujur aja, nggak perlu pura-pura kuat!”kata suara misterius itu lagi.
“Gue nggak takut! Lo yang pengecut! Keluar dari persembunyian lo dasar bangsat!”kataku kembali menarik-narik tanganku penuh emosi sekuat tenagaku.
Tap… Tap…. Tap…
Suara langkah kaki terdengar jelas berjalan ke arahku. Akhirnya kulihat sosok wanita bergaun biru kusam sambil membawa sebuah boneka jadul mirip gadis Belanda. T-tunggu dulu, b-boneka itu adalah boneka yang duduk di sebelah mayat Henry dan Michelle di villa, untuk apa ia membawanya.
Ia berjalan lebih dekat lagi ke arahku sambil menunduk seperti menutupi wajahnya dariku. Tiba-tiba ia berhenti beberapa meter di samping kananku.
“Heh pengecut! Tunjukin muka jelek lo biar gue bisa ngenalin lo!”kataku mengancamnya karena sedari tadi ia menyembunyikan wajahnya.
“Apa kau benar-benar mau melihat wajahku?”tanyanya masih dalam keadaan menunduk.
Ser….
Kurasakan perasaan yang tak enak di dalam hatiku. Perasaan apakah ini dan kenapa??
Kulihat ia mulai menaikkan wajahnya, perlahan-perlahan dan perlahan.
Deg…
Jantungku serasa hampir melompat keluar ketika melihat wajah wanita itu. D-dia adalah Rachel?!?
“Rachel, lo ngapain di sini? L-lo ngapain pake dress jadul gtu? Trus lo ngapain bawa-bawa boneka horror begituan segala sih? Lo semua lagi ngerjain gue ya kan? Udahan deeh Rach, Ry, Bel, Chel, Xel, cukup deh, gue ngaku kalah, udah pada keluar dari persembunyian lo masing-masing.”kataku masih berusaha melepaskan rantai yang mengikat tangan dan kakiku.”
Tak ada jawaban, Rachel masih berdiri di sana dengan senyumannya yang tampak mengerikan.
“Udah cukup! Gue muak sama kalian!”kataku sambil menarik kembali rantai-rantai yang mengikatku itu.
“Ini bukan permainan ataupun prank ini kenyataan, dan inilah detik-detik terakhir darimu Nico!”kata Rachel menghilangkan senyum dari wajahnya.
Aku hanya terdiam heran memandangnya. “Sumpah lo mirip presenter-presenter acara horror tengah malem, udah deh, gue males main beginian.”kataku memandang langit-langit akhirnya.
“Lo masih nggak tau juga? Ini adalah detik-detik terakhir dari lo!”kata Axel sambil berjalan mendekatiku dari sebelah kiriku.
“Udah deh, acting kalian busuk tau nggak?!?”bentakku kesal dan kembali kuangkat rantai itu.
Tak ada yang menjawabku, mereka terus berjalan mendekatiku. Langkah kaki mereka terdengar sangat jelas ketika berjalan. Menimbulkan irama seperti petugas upacara yang berjalan.
Kulihat ke arah Rachel yang terus memegangi boneka jelek itu. Lalu aku menoleh ke arah Axel, dan ia membawa s-sebuah pedang!? Untuk apa pedang itu!? Jangan-jangan mereka benar-benar ingin membunuhku!?
Kuguncang-guncangkan rantai yang sudah kendur itu agar dapat terbuka. Namun terlambat, Axel sudah mengangkat pisaunya tepat di atas dadaku bersiap untuk menusukannya ke jantungku.
Akhirnya aku hanya menutup mata dan pasrah. Kalau ini memang nasibku, aku akan menerimanya.
“STOP!!!”teriaklah seorang wanita lagi yang kedengaran dari kiriku. Tak salah lagi jika suara itu adalah suara orang yang amat kucintai, Bella.
“Sayang, kamu nggak usah ikut campur! Dendamku ke orang ini harus terbalaskan!”kata Axel pada Bella.
Rachel pun langsung berjalan cepat ke arah Bella dan menyikapnya agar tak lari ke mana-mana.
“What!? Salah gue apaan? Setau gue, gue nggak pernah ada salah sama lo deh?”kataku kebingungan.
“Lo kira gue nggak tau? Waktu gue diculik Rachel ke sini, lo cari-cari kesempatan melukin Bella kan!?”kata Axel mendaratkan sebuah tusukan ke lengan kiriku.
Darah mengalir dari lenganku, dan menetes ke lantai. Aku mengerang kesakitan karena sangat perih rasanya, bahkan aku dapat melihat dengan jelas tulang lenganku.
“Axel! Lo gila! Kataku menarik kedua lenganku dengan susah payah.
KRANG…
Akhirnya!!! Aku berhasil mematahkan besi karatan tempat rantai itu dikaitkan. Langsung aku berlari menjauh dari Axel.
Aku berlari tanpa tujuan sambil memegang lenganku yang terluka dalam itu. Kulihat sekelilingku mencari jalan keluar, walaupun sulit untuk melihat dalam keadaan berdarah dan di dalam ruangan remang-remang seperti ini.
Akhirnya kutemukan sebuah pintu di balik Rachel. Kulihat pula Rachel sedang sibuk menyikap Bella yang menggeliat-geliat.
Aku akan memanfaatkan keadaan ini, walaupun harus mengorbankan Bella. Akupun berlari ke arah pintu itu. Aku hampir berhasil hanya tinggal beberapa meter lagi!
JLEB…
Tiba-tiba sebuah pedang menusuk perutku hingga tembus. Darah segarpun menetes dari perutku mewarnai bajuku dengan warna merah. Akupun terjatuh dan memegang perutku yang bolong itu. Dan ketidak beruntunganku lagi adalah, tusukan itu tak mendarat langsung ke bagian fatal yang dapat membunuhku melainkan tusukan itu malah menyiksaku perlahan sebelum mati.
“Dan, lo selalu mata-matain gue waktu gue berduaan sama Bella!”kata Axel lagi sambil mengiris pipiku dengan pedang  dan meninggalkan bekas luka dengan darah yang menetes di sana.
Kucoba untuk mendorong badanku yang sudah melemah itu dengan kedua kakiku agar dapat mencapai pintu keluar.
“Sebenernya gue udah benci lo sejak SD. Memang gue bertindak sebagai sahabat buat lo waktu SD, tapi, di dalem hati gue, gue benci banget sama lo karena lo, selalu ngrebut apa yang jadi punya gue!”katanya lagi sambil menebas kedua kakiku dengan pedang.
Aku mengerang kesakitan disertai batuk darah. Sekarang aku tak punya kaki lagi! Namun, aku harus bisa mencapai pintu keluar bagaimanapun caranya! Aku tak boleh mati di sini apalagi di tangan Axel! Kugunakan tangan kananku untuk mendorong tubuhku keluar dari sana.
“Dan yang terakhir, lo nggak pernah sadar kalo gue selalu ngalah sama lo sampe sekarang, lo terus ngambil apa yang jadi milik gue, termasuk Bella juga lo rampas!”kata Axel menebaskan pedang yang telah mencabik-cabik tubuhku sedari tadi untuk memutuskan tanganku.
Darah keluar dari lenganku yang telah buntung itu dan membasahi lantai maupun baju yang sudah penuh dengan darahku.
“A-Aaah, Xel, g-gue, m-minta, m-ma-af, pl-ease su-dah-in, s-sem-uaa, i-ini.”kataku dengan susah payah sembari terus batuk-batuk darah.
Kulihat senyum puas dari wajah Axel sambil ia terus menusukkan pedangnya ke arah perutku membuat lubang-lubang di sana. Pada detik-detik terakhirku, kulirik Bella, ia telah diikat dengan tali dan ditutup mulutnya. Namun tak dapat kulihat dimana Rachel berada.
Sebelum aku mati, aku ingin menyempatkan untuk melihat kembali Axel, pembunuhku.Namun aku terkejut saat yang kulihat bukanlah Axel melainkan seorang gadis berambut hitam tinta dengan mata tanpa ada putihnya bagaikan kelereng. Ia mengenakan baju biru kusam yang dipenuhi darahku dan pita biru yang senada dengan bajunya. Sambil menyeringai, ditusukkannyalah tusukan terakhir yang mengakhiri hidupku pada kepalaku.
***
Axel POV
Alangkah puasnya aku setelah menusukan tusukan terakhir ke kepala keparat milik ‘perebut pacar orang’ itu.
Entah kenapa saat Rachel menunjukan foto-foto Nico yang sedang bermesraan dengan Bella, sesuatu mendorongku untuk membunuhnya.
Dan ketika aku berharap aku bisa membunuhnya, sosok wanita cantik berambut hitam tinta dating kepadaku. Namanya Stacy, ia bersedia mewujudkan permintaanku itu.
Namun aku menolak karena aku ingin membunuh keparat itu dengan kedua tanganku sendiri. Lalu ia menyentuh badanku dan tiba-tiba menghilang.
Setelah kejadian itu kurasakan keinginan untuk membunuhnya bertambah. Dan entah dari mana datangnya, tiba-tiba aku memegang sebuah pedang yang telah kugunakan untuk membunuhnya.
Setelah Rachel menculik Bella untuk menjadi umpan Nico ke sini, aku menyekapnya di hutan dan kubawa ia ke sini untuk kubunuh!
Dan sekarang aku dapat pulang dengan Bella dan Rachel, lalu menjalani liburanku dengan Bella tanpa ada gangguan dari keparat yang selalu mengganggu acara kami berdua.
JLEB…
Tiba-tiba sesuatu yang dingin menancap di kaki kananku. Akupun berlutut dan melihat ke belakang. Kulihat Rachel menusukkan pisau ke kakiku yang menyebabkan aku sulit berdiri.
“Ngapain lo!?”kataku kaget karena kukira selama ini Rachel mendukungku.
“Lo pikir, aku nggak tau apa yang udah lo lakuin?”kata Rachel mencabut pisau dari kakiku.
J-jangan-jangan, dia tau apa yang udah gue sama Bella lakuin!? Oh gosh, gimana dia udah tau soal itu? Langsung kutendang kakinya hingga jatuh dan aku berlari terpincang-pincang meraih ransel yang tadi pagi dibawa Nico ke hutan ini.
Aku yakin saat itu aku melihat sebuah pisau di tas ransel milinya. Kubuka tas itu dan kutemukan pisau kecil serta obat luka. Kusahut kedua benda itu dan berlari terpincang-pincang ke sudut ruangan meninggalkannya cukup jauh.
Rachel masih terduduk kesakitan di sana, jadi kubuka obat itu dan kuteteskan pada lukaku. Walaupun perih mungkin ini bisa mengurangi lukanya. Kumanfaatkan keadaan ini untuk menyelamatkan Bella. Aku berlari secepat yang kubisa  ke arah Bella dan membuka sekapannya. Setelah kubuka sekapannya itu, ia berkata, “Axel, awas!!!”
Aku langsung berguling ke kanan sejauh-jauhnya tanpa melihat ke belakang. “Aaahh…”teriak Bella. Tidak! Karena aku menghindari pisau yang akan ia tusukkan padaku pisau itu malah mengiris tangan Bella.
Rachel langsung meninggalkan Bella dan kembali mengejarku. Untung lah Bella ditinggalkannya, kalau saja ia menyiksanya, aku pasti akan menyerahkan diriku cuma-Cuma.
Aku pun berlari menuju sudut ruangan yang lain lagi. Namun, aku tersandung oleh tangan Nico yang telah kupotong tadi.
Shit! Aku terpeleset dan terjungkal ke depan.
Sret…
Berhasillah Rachel melukai lenganku. Untung aku sempat melakukan penghindaran kecil sehingga tak terjadi luka yang terlalu serius.
Tanpa menunggu lebih lama, langsung kutancapkan pisau yang kubawa ke perutnya. Namun alangkah aku terkejut saat kutusukkan pisau itu, seketika Rachel di mataku berubah menjadi Stacy! Namun, Stacy yang kali ini memiliki muka yang sangat seram! Matanya hitam seperti kelereng, dan mulutnya terbelah hingga ke telinga.
Ia menyeringai padaku sambil berkata, “Hello Axel, bagaimana kabarmu? Kau sudah puaskan dapat membunuh Nico, karena sekarang giliranku untuk membunuhmu atas permintaan sahabatmu yang telah kau hianati Rachel.”
Langsung ditusukannya lah pisau itu ke tubuhku dan di belahnya perutku seperti babi yang akan dimasak.
Dapat kulihat darah keluar dari perutku dan organ-organ dalam tubuhku tampak jelas di mataku. Rasa perih tak dapat dihindari lagi. Aku berteriak kesakitan, saat Stacy mulai mencutik keluar ususku perlahan.
Namun kemudian, ditusuk-tusukannya pisau itu secara asal-asalan ke seluruh organku hingga darah keluar dari mulutku dan organ-organ dalam itu berceceran di luar tubuhku.
“Selamat tinggal Axel,”katanya sebelum ia menusukkan pisau ke leherku yang sekaligus menghilangkan kesadaranku.
***
Bella POV
K-kusaksikan sahabat-sahabatku mati satu persatu di hadapanku. Bau amis dari darah mereka bercampur menjadi satu membuatku ingin muntah saja. Aku tak dapat bergerak dan melakukan apapun kecuali menangis dan meneriakkan masing-masing nama mereka.
“C-cukup!”teriakku pada Rachel yang sedang memandang mayat Axel.
Ia melihat ke arahku dan berjalan dengan muka pembunuhnya ke arahku. “Berhenti!!”teriakku berusaha mengesampingkan rasa takutku.
Tanpa menghiraukanku, ia terus mendekatiku dan menyiapkan pisaunya. Tidak! Dia pasti akan membunuhku!
Langsung kucari-cari benda tajam yang mungkin tergeletak di sekitarku untuk membuka tali, namun tak ada apapun. Terlambat sudah, Rachel sudah berada di depanku bersiap menusukku.
Hanya ada satu pilihan, “Emangnya salah gue ke lo apaan!”teriakku padanya sambil berusaha menendang kakinya.
“Lo pasti udah tahu.”katanya sambil mengangkat pisaunya.
“Apa!? Sebutin salah gue apa!?”kataku.
“Lo pikir gue sebodoh apa? Lo kan yang buat gue nggak lulus dari ujian yang jelas-jelas gue bisa ngedapetin nilai paling bagus itu?”katanya menurunkan dan menodongkan pisau ke arahku.
“Lo jangan asal nuduh dong! Buktinya mana?”kataku masih tak terima.
“Bella, lo nggak usah pura-pura bego deh! Gue udah nemuin Pak Anwar trus minta LJK gue dan gue liat kalo banyak  jawaban-jawaban yang udah gue bulletin secara hati-hati dan sempurna, kena bekas hapusan!”katanya ikut tak terima.
“Heh! Itu bisa aja orang lain! Bukan gue ataupun sahabat-sahabat kita yang lain yang udah lo bunuh!”kataku berusaha melepas tali yang mengikatku.
“Lo itu udah ketauan bersalahnya, gue juga udah minta rekaman CCTV kelas kita dan jelas-jelas lo yang ngehapus LJK gue sampe gue bisa NGGAK LULUS! Dan padahal lo tau hidup gue dipertaruhkan ke lembar bodoh itu! Sekarang gue nggak punya apa-apalagi dan semua itu gara-gara lo!”katanya langsung menancapkan pisau itu ke kedua kakiku.
Shit! Ternyata dia udah tau semuanya, dan sekarang yang gue bisa lakuin berusaha kabur dari sini. Rachel terus menusukkan pisaunya ke sekujur tubuhku. Darah mulai mengucur dari bagian-bagian tubuhku.
Sekarang tak hanya tubuh Axel dan Nico yang mengeluarkan bau amis, tapi juga tubuhku! Aku hanya dapat menangis kesakitan tanpa berbuat apapun.
“Gue udah muak liat tampang busuk lo, jadi, gue mau ngakhirin ini cepet aja!”katanya langsung menusukkan pisau ke dalam mataku. Kurasakan perih luar biasa di mataku dan sekarang aku hanya dapat melihat dengan 1 mata!
Lalu dengan pandangan sebelah  mata saja kulihat ia mengangkat pisau itu dan menancapkannya ke kepalaku hingga tembus. Itulah hal terakhir yang dapat kurasakan sebelum aku kehilangan kesadaranku…
***
Penagih hutang 1
Kini sampailah aku dan rekan kerjaku ke rumah kreditor yang selalu menunda-nunda untuk membayar hutang-hutangnya yang sudah menumpuk.
Sebenarnya pihak kami sudah terlalu bersabar hinnga hutang yang jaminannya rumah mereka sendiri berkembang menjadi semakin banyak.
Kami pun mengetuk pintu rumah yang lebih mirip kandang hewan itu. Sebenarnya aku tak tega membawakan tukang pukul untuk mengusir  kedua orang tua, dan seorang gadis remaja dari rumah itu.
Tak ada jawaban dari dalam. Kami mencoba menunggu beberapa saat lagi dengan sabar sambil berbincang-bincang di depan rumahnya.
“Ni pemilik rumah pergi ke mana sih?”kata rekanku mulai kesal setelah menunggu sangat lama.
“Kita dobrak aja rumahnya Bos, trus ambilin barang-barangnya.”kata salah 1 tukang pukul yang kami bawa.
“Jangan gitu dong, kita penagih hutang bukan malling atau preman! Mending kita tunggi aja yang sabar di sini.”kataku tak setuju.
Akhirnya kami menunggu lebih lama lagi di depan rumah tua itu.
Ser….
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang mengerikan dan menakutkan akan terjadi. Entah mengapa perasaan ini tiba-tiba merasuk di dalamku.
“Eh itu tuh anak yang punya rumah ini! Kita sergap aja dia!”kata rekanku langsung beranjak berdiri dan berlari ke arah gadis itu disertai tukang-tukang pukul kami.
Aku pun juga ikut menyusul mereka. T-tunggu dulu, perasaanku semakin tak enak. Aku menoleh ke belakang, lalu menoleh lagi ke depan karena ingin memastikan tak ada yang mengintai kami sejak tadi.
T-Tapi, saat aku memalingkan kembali pandanganku, rekanku telah ditusuk pisau yang penuh dengan darah oleh gadis itu.
Ia memakai baju biru kusam dan pita yang senada dengan bajunya. Mulutnya tersobek hingga ke telinga dan matanya tak memancarkan kehidupan.
Bagaimana keluarga ini memiliki anak yang sebegitu seramnya? Dalam sekejap rekanku dan tukang-tukang pukulku telah tergeletak tak berdaya di lantai.
Gadis itu menyeringai padaku sambil menusukkan pisaunya ke tubuhku seraya berkata, “Dengan membunuhmu aku telah menyelesaikan permintaan Rachel.”

THE END

Fiuhh.. done already^^ so that’s the end of ABF, as a “present” for those who have waited for 5 days for this chapter to release..

Personally, I like the story Viona has made (I mean, this part), but there’s one thing I don’t like : GUESS WHAT, NICO DIED! I repeat, NICO DIEEEDDD!!

Okay, I know everyone excluding Rachel died, but I’m Nico’s delusional fan T_T

That’s all, I hope you like it^^ keep watching your back, cause Stacy’s behind you…

[Read more Stacy's curses in shining-hearts]
Advertisements

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s