[Stacy’s Curse] The Red Covered Package

Copyright © 2014 by Cindy Handoko

Hubungan kita tak ubahnya setangkai mawar merah
Dari luar tampak cantik, namun sejatinya berduri
Dari luar tampak lemah, namun sejatinya sanggup membuat siapa pun terluka
Baik kau maupun aku
Kita sama-sama memiliki duri tajam yang menyakitkan
Bersama, kita bisa membuat kesatuan yang mematikan
Tapi, jika kita terpecah belah, ingatlah…
Aku selalu sanggup menjadi musuh yang sangat berbahaya…

***

Ruangan berdinding batu bata itu tampak gelap tanpa sedikit pun penerangan. Bunyi gemerisik daun di luar jendela yang terusik angin terdengar jelas, membelah sunyinya malam.Lilin-lilin yang memancarkan cahaya redup tergantung di dinding-dinding ruangan, membuat suasana menjadi temaram.

Di tengah-tengah ruangan, tampak seorang gadis berjubah hitam, sedang berlutut dan memejamkan mata dengan khusuk. Kedua tangannya membawa sebatang lilin besar di depan dada. Mulutnya berkomat-kamit mengucapkan deretan kalimat tanpa suara yang terlihat seperti mantra-mantra mistis. Di hadapannya, tampak sebuah altar kosong, menambah kesan bahwa gadis itu sedang melakukan sebuah ritual terlarang.

Mata gadis itu perlahan-lahan terbuka, menampakkan sepasang bola mata berwarna cokelat gelap yang nampak penuh dendam nan licik. Bibirnya menyunggingkan seulas senyuman mengerikan yang penuh arti.

“Di hari ulang tahunnya…,” gumamnya dengan suara berat dan serak yang berkesan mengerikan. Senyumnya bertambah lebar saat melanjutkan, “Bantu aku, di hari ulang tahunnya…”

Suasana menjadi hening sesaat, dan dalam beberapa detik setelahnya, yang tersisa hanyalah gadis itu, kegelapan, dan suara-suara tak berarti. Kemudian, detik setelahnya, sebuah suara menyahut pelan.

“Aku akan membantumu…”

Suara itu begitu sendu, kelam, dan mengerikan. Sekaligus begitu merasuk dalam relung hati gadis itu, kendati ia tak mengerti dari mana suara serak mengerikan itu berasal. Ia tersenyum keji, kemudian berbisik pada udara yang dingin.

“Terima kasih…”

***
Seminggu sebelumnya…

Udara malam itu terasa dingin menusuk tulang. Salju berjatuhan di permukaan kota Busan yang berlapis kabut pekat. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, kala aktivitas para penduduk Busan telah mulai surut oleh larutnya malam.

Di sudut kota, tampak sebuah gedung tiga tingkat yang berdiri kokoh, lengkap dengan lampu-lampu neon terang benderang yang masih saja dinyalakan kendati gedung itu sudah mulai sepi. “Sepi” yang dimaksud bukanlah sepi tanpa orang sama sekali, melainkan “sepi” karena acara yang baru saja diadakan di dalamnya telah selesai. Yang masih kelihatan di dalam bangunan itu hanyalah beberapa kru pengoordinasi acara yang sibuk berbenah, bersiap pulang dan beristirahat di rumah masing-masing.

Dari dalam gedung, tampak seorang gadis berjalan dengan langkah lebar ke luar. Wajahnya merah padam, kontras dengan kulit tangannya yang memucat oleh dinginnya malam. Alisnya berkerut dengan kesal, nyaris seperti saling bertaut menjadi satu. Bibirnya cemberut, seolah-olah ia baru saja mengalami kejadian tidak mengenakkan di dalam gedung.

Tak lama setelah gadis itu, seorang gadis lain berpenampilan serbahitam keluar sambil berlari-lari kecil, menyusul gadis itu yang sudah berjalan cukup jauh. Dengan kecepatan yang mengagumkan, gadis berpakaian serbahitam itu berhasil menyusul gadis di depannya, tepat saat mereka sudah mencapai tempat parkir.

“Sohwa,” gadis itu memanggil pelan sambil mencekal tangan gadis di depannya–yang tampaknya bernama Sohwa. Nada suaranya sama sekali tidak sinkron dengan tindakannya. Kendati ia berusaha mencegah kepergian Sohwa, nada suara itu tetap terdengar dingin, tenang, dan tak menunjukkan ekspresi apa pun. Seolah-olah, kalau Sohwa berhasil lolos dari cekalan tangannya pun, dia tak bakalan melakukan apa-apa untuk mengubah keadaan. “Berhenti di situ,” lanjutnya, masih dengan suara yang dingin dan tanpa ekspresi.

Sohwa menoleh dengan wajah garang. “Mau apa kamu?!”

Gadis itu terdiam. Tatapan matanya menusuk tajam ke arah Sohwa, membuat Sohwa–mau-tak-mau–sedikit bergidik ngeri. Setelah cukup lama terdiam, gadis itu akhirnya membuka suara. “Kamu kenapa, sih? Ada masalah?”

Mata Sohwa melotot hingga dua kali lebih lebar. “Jelas ada!” Ia berteriak sampai urat-urat lehernya terlihat.

Gadis berpakaian serbahitam itu memiringkan kepalanya dengan tenang dan santai. “Masalah apa?”

Sohwa megap-megap, seolah sedang berusaha menenangkan emosinya yang membeludak akibat pertanyaan gadis itu yang tidak menyiratkan adanya perhatian sama sekali. “Nggak sukses!” teriaknya dengan marah, “Acaranya nggak sukses! Padahal aku sudah berusaha mati-matian demi acara bodoh ini!”

Gadis itu tampak berpikir sebentar, kemudian mulutnya terbuka. “Oh,” katanya datar. Sohwa semakin melotot mendengar jawaban superdatar dari gadis itu. Saat ia membuka mulut dengan geram untuk memprotes, gadis itu sudah menyela terlebih dahulu dengan pertanyaan yang bernada tak tertarik. “Terus, kenapa?”

Bibir Sohwa terkatup kembali, dan wajahnya semakin merah karena emosi yang menjadi-jadi. “Kenapa?! Kamu tanya kenapa?!”

“Ya,” gadis itu menjawab cuek. “Aku tanya kenapa.”

Sohwa berdecak penuh amarah, “Bukannya sudah jelas, seberapa besar usahaku untuk membuat acara ini sukses? Kenyataannya, acara ini gagal total! Sudah tidak ada lagi kesempatan! Padahal, aku rela melakukan hal-hal yang tidak kusukai demi menyukseskan acara ini, tapi hasilnya tetap sama saja!”

“Hal-hal seperti apa?” gadis itu bertanya santai, masih dengan ekspresi yang tidak menunjukkan ketertarikan secuil pun.

Mulut Sohwa ternganga lebar melihat seberapa tidak pedulinya gadis itu terhadap masalah yang sedang dihadapinya. Setelah menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali berkali-kali, akhirnya ia memutar kedua bola mata dan berkata pelan. “Kamu sepertinya nggak paham. Sudahlah, kamu pulang saja sekarang. Lagipula, hari sudah malam, dan besok kita harus sekolah.”

“Ya sudah,” gadis itu mengangkat bahu, seolah-olah sudah mengharapkan Sohwa bakal berbicara seperti itu sebelumnya. Tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung berbalik dan bersiap meninggalkan Sohwa. Sebelum sempat melangkah lebih jauh lagi, telinganya menangkap kalimat yang Sohwa ucapkan secara lirih, nyaris tak terdengar kalau saja suasana tidak sepi.

“Padahal kukira dengan merayumu untuk meramal di acara ini, acaranya bakal sukses besar.”

Bahu gadis itu menegang mendengar kalimat terakhir Sohwa, dan ia menoleh dengan ekspresi terusik. “Apa katamu?”

“Aku sengaja,” Sohwa berkata dengan wajah masih dipenuhi amarah, “Aku sengaja mendekatimu demi merayumu untuk membuka stan ramalan di acara ini. Kukira, dengan begitu, acaranya bakal sukses dan dikunjungi banyak orang. Tapi ternyata aku salah besar.”

Gadis itu berbalik kembali menghadap Sohwa. Ekspresi wajahnya tampak tersinggung dan rahangnya mulai mengeras. “Jadi, maksudmu, selama ini kau mendekatiku hanya demi keuntungan pribadi?”

“Jelas!” Sohwa mengangkat kedua alis dengan wajah menantang, “Memangnya, siapa yang sudi berteman denganmu tanpa embel-embel keuntungan pribadi? Kuberitahu kau, tidak ada di dunia ini yang mau berteman–apalagi bersahabat–dengan monster sepertimu. Kau harusnya bersyukur karena aku bersedia melakukannya–walaupun tidak sungguh-sungguh.”

Mata gadis itu melebar sedikit, namun ekspresinya tetap nampak datar dan serius. “Monster? Kau menyebutku monster?”

“Aku tidak menyebutmu monster, tapi kau memang adalah monster,” Sohwa menjawab dengan nada yang sengaja dibuat menyebalkan. “Selama ini, kau hanya tidak sadar. Padahal, semua orang sudah menjauhimu karena kelakuanmu yang membuat orang-orang tidak nyaman.”

“Memangnya aku berlaku seperti apa?” Gadis itu bertanya dengan nada ketus yang menyiratkan kemarahan.

“Pikir sendiri!” Sohwa memutar kedua bola matanya, “Sudah kubilang, kau tak akan sadar! Sekali-sekali, kau butuh pelajaran seperti ini untuk sadar!”

Setelah mengatakan hal itu, Sohwa berbalik dan berjalan pergi dengan langkah lebar. Sementara gadis itu masih berdiri di tempatnya, memandangi kepergian Sohwa. Raut wajahnya menggambarkan ekspresi yang sulit ditebak. Antara marah, sedih, kecewa, dan penuh dendam.

“Jadi, selama ini…,” gumamnya pada diri sendiri, “Aku berkorban untuk orang yang salah?”

***

KIM SOHWA POV

Aku tiba di sekolah dengan wajah lesu. Sebenarnya, wajah lesu ini sudah bukan berita baru. Sejak seminggu yang lalu, tampangku selalu seperti ini sepanjang waktu. Hal ini, tak lain dan tak bukan, adalah gara-gara ketidaksuksesan acara pameran yang diadakan minggu lalu.

Dengan tidak suksesnya acara itu, yang dirugikan tentu adalah aku.

Bukan, bukan. Aku bukan orang yang mengadakan acara itu–yang benar saja, aku ini kan masih SMA, dan anak SMA tidak mungkin menyelenggarakan pameran sendiri. Melainkan ayahku. Beliau adalah pemilik sebuah biro jodoh yang baru saja memulai usahanya empat bulan yang lalu. Karena masih baru, biro jodoh itu masih belum terkenal. Penghasilan yang didapat dari situ pun masih sedikit.

Karena beliau begitu keras kepala, beliau pun memaksakan kehendak untuk menyelenggarakan pameran supaya biro jodoh itu cepat terkenal. Aku sudah berkali-kali memberi peringatan bahwa membuat pameran itu tidak sesederhana kelihatannya, apalagi di saat biro jodoh itu belum terkenal. Budget yang diperlukan pasti banyak sekali, dan aku tidak yakin penghasilan dari biro jodoh cukup untuk membayar semua biayanya.

“Maka dari itu, appa mau meminta bantuanmu,” begitulah kata beliau dengan mata yang berbinar-binar penuh semangat saat itu.

“Bantuan apa?” aku bertanya dengan alis berkerut, menyadari bahwa bantuan yang dimaksud beliau pasti tidak menyenangkan.

“Bantuan untuk meminjamkan sedikit uangmu,” ujar beliau. Mataku serta-merta melotot sampai sebesar buah kedondong.

Mwo? Shireo, aku tidak punya uang!” aku menolak sengit.

Gotjimal, appa tahu kau menyimpan banyak sekali tabungan hasil dari kerja paruh waktumu itu,” ayahku tetap berkeras dengan pendirian beliau.

Aku berdecak kesal. “Memangnya, kalau aku menyimpan banyak tabungan, aku mau meminjamkannya pada appa hanya untuk acara yang belum jelas bakal sukses atau tidaknya?”

“Pasti sukses!” Ayahku menyahut spontan, “Appa berani jamin, acaranya pasti sukses!”

“Atas dasar apa?” aku bertanya dengan nada menyudutkan yang menyiratkan rasa tak senang. “Biro jodoh goblok itu belum terkenal! Dari mana appa bisa sangat yakin pameran itu bakal sukses?”

“Justru karena pameran itu, biro jodohnya akan jadi terkenal!” Ayahku masih mendebat dengan keras kepala. “Sudahlah, pinjamkan sedikit uangmu itu.”

SHIREO!”

Aku ingat sekali, setelah itu, aku langsung masuk ke kamar dengan geram, meninggalkan ayahku yang masih duduk di ruang makan. Kusembunyikan seluruh tabunganku di dalam plastik kemasan pembalut–hanya agar ayahku tak bisa menemukannya–kemudian menyimpan plastik kemasan itu di bawah tumpukan baju-bajuku di lemari. Hal itu terbukti berguna, karena keesokan harinya, aku menemukan kamarku telah digeledah oleh ayahku sepulang sekolah. Untungnya, uang dalam jumlah besar itu tidak berhasil beliau temukan. Kukira, dengan begitu, beliau akan menyerah. Namun aku salah. Ayahku tidak kenal kata menyerah. Setiap hari, aku dicekoki ucapan-ucapan bernada memohon yang membuat kupingku lama-lama risih.

Hingga suatu hari, aku sudah hilang kesabaran. Saking tidak tahannya, aku menanggapi permohonan itu.

“Memangnya, kalau kita menderita kerugian, uangku bakal dikembalikan secara utuh?” aku bertanya.

“Memangnya kau mau pakai uangmu itu untuk apa?” Ayahku malah balik menanyakan pertanyaan lain–yang sama sekali tak ada hubungannya dengan pertanyaanku sebelumnya.

“Urusan pribadi,” jawabku singkat, malas menjelaskan panjang lebar bahwa aku menabung untuk membeli sepasang sepatu bot yang sudah kuincar sejak dua bulan yang lalu dan tidak ingin kehabisan stok sepatu itu. “Sudahlah, jawab saja pertanyaanku.”

“Sohwa,” ayahku mengawali dengan nada menggurui, “Kau tahu, appa tidak pernah gagal dalam segala sesuatu, dan appa yakin, pameran kali ini tidak akan membawa kerugian untuk kita. Makanya, kau juga harus mendukung kesuksesan pameran ini semaksimal mungkin. Cari sesuatu yang bisa menarik minat pengunjung. Lakukan ini semua demi kembalinya uangmu yang akan appa pinjam.”

Kalimat yang beliau katakan tidak hanya itu, hanya saja aku lupa sisanya. Pokoknya, kata-kata beliau begitu manis dan meyakinkan, sampai-sampai akhirnya aku menyetujui untuk meminjamkan seluruh hartaku pada beliau setelah berpikir berulang kali.

Bodohnya aku. Seharusnya aku tahu sejak awal kalau pameran ini tak bakalan sukses.

Akibat ketidaksuksesan pameran ini, kami jadi mengalami rugi besar. Kerugian itu, tentu saja, membuatku kehilangan semua uang yang telah kutabung dengan susah payah. Semua mimpiku untuk memiliki sepatu bot cantik itu pupus sudah.

Keterlaluan sekali.

Aku duduk di bangkuku dan menyiapkan alat tulis yang diperlukan untuk pelajaran. Hatiku masih dipenuhi rasa sesal yang membuatku tidak berminat melakukan apa-apa selain duduk bengong menanti bel berbunyi.

Seorang gadis masuk ke kelas dengan langkah lambat. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, dan tas hitamnya menggantung di punggungnya yang agak bungkuk. Kehadiran gadis itu sontak membuat seisi kelas menjadi hening. Tadinya, kelas dipenuhi riuh rendah murid-murid yang berbincang-bincang heboh. Namun, setelah ia masuk ke kelas, hanya tersisa pandangan mata yang semua mengarah padanya. Suasana menjadi sangat canggung, terlebih karena aura tidak menyenangkan yang dipancarkan gadis itu.

“Jihyun, Jihyun,” beberapa orang berbisik-bisik dengan nada tak senang. Namun, gadis itu tampak tak mempermasalahkan perbuatan kentara itu.

Nama gadis itu Han Jihyun. Ia gadis misterius yang berpenampilan seram. Selain nyaris seluruh wajahnya ditutupi rambut hitam sepinggang, postur tubuhnya juga tampak seperti postur tubuh hantu. Gosipnya, dia bahkan dekat sekali dengan dunia roh dan punya teman berupa hantu-hantu menyeramkan yang suka memanfaatkannya sampai-sampai ia tidak punya teman sungguhan. Ia pandai meramal–dan gosipnya lagi, kepandaian meramalnya ini adalah hasil bertanya pada para hantu–dan suka membicarakan kalimat-kalimat aneh yang terkesan seram dan superpsikopat. Pernah suatu waktu, teman sekelas kami, Go Hyejung, mengajaknya bicara serius soal kebiasaannya yang tidak pernah membantu petugas piket. Di tengah-tengah berbicara, Jihyun menyeletuk dengan suaranya yang rendah dan menyeramkan, “Memangnya kalau aku hadir dalam piket harian, kalian tidak takut kukutuk?” Setelah itu, dapat ditebak, Hyejung langsung bergidik ngeri dan tidak lagi pernah meminta Jihyun membantu petugas piket. Di waktu lain, Lee Sunji, ketua klub pecinta alam, pernah berniat untuk mengajaknya bergabung dalam klub karena kurangnya anggota. “Apa jaminannya bahwa aku tak akan menceburkan kalian semua ke dalam jurang yang gelap?” begitu katanya saat itu. Karena takut berakhir di jurang yang gelap, Sunji pun akhirnya menyerah dan tidak pernah mau berbicara dengan gadis menyeramkan itu lagi.

Gara-gara ulahnya sendiri, Jihyun pun membuat orang-orang terkena sindrom “takut disantet Jihyun”, yang dalam sekejap membuat namanya jadi terkenal di seluruh sekolah, lengkap dengan gosip-gosip yang tidak jelas benar atau salahnya. Gosip yang satu mengatakan bahwa dia adalah penjelmaan Anti Kristus, mirip Damien, anak kecil di film horor klasik “The Omen”. Gosip lain mengatakan bahwa dia adalah pemberian Lucifer kepada kedua orang tuanya. Gosip ini didukung oleh fakta bahwa kedua orang tuanya baru dikaruniai anak–yaitu dia–setelah enam belas tahun menikah. Tapi, di antara semua gosip itu, ada satu gosip yang benar-benar ngaco. Gosip itu adalah bahwa ia membunuh kedua orang tuanya dengan tangannya sendiri. Terdengar tidak masuk akal, memang. Tapi, kalau kalian melihat sendiri seberapa seram penampilan Jihyun, kalian pasti percaya kalau dia sepertinya sanggup berbuat hal sekeji itu. Apalagi, kedua orang tuanya meninggal tanpa alasan yang jelas–mereka hanya ditemukan tergeletak di jalan raya saat tengah malam tanpa adanya luka-luka yang berarti. Tidak ada jejak pembunuhan, dan itu membuat polisi kemudian menutup kasus aneh ini tanpa kejelasan. Semua orang pun mulai menduga-duga kalau ia pasti memiliki masalah dengan kedua orang tuanya, kemudian meminta tolong kepada salah satu dari “teman-teman”nya untuk mengeksekusi mereka.

Sejauh ini, tidak ada yang tahu mana gosip yang benar–apakah semuanya benar, atau malah tidak ada sama sekali yang benar. Yang jelas, semua orang kini menghindarinya seolah-olah ialah hantu mengerikannya, dan bukannya “teman-teman”nya itu.

Termasuk aku, tadinya.

Sama seperti orang-orang lain, aku juga takut setengah mati padanya. Aku takut kalau sewaktu-waktu ia sanggup menyantet siapa pun yang berani dekat-dekat dengannya–habis, dari tampang seramnya, dia kelihatan mampu melakukan hal tak berperikemanusiaan itu. Namun, karena berbagai masalah, aku sempat menjadi dekat dengannya.

Jangan menyalahartikan kedekatan itu, ya. Aku bukannya tulus bersahabat dengan gadis itu. Melainkan, sebaliknya, aku melakukan semua itu secara terpaksa. Kalau bukan gara-gara pameran sialan yang nyatanya tidak sukses itu, aku tak bakalan mau dekat-dekat dengannya–bahkan berbicara dengannya saja aku sudah ogah.

Mungkin kalian bertanya-tanya, apa hubungannya pameran biro jodoh ayahku dengan Jihyun. Sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa di antara dua hal itu. Hanya saja, aku sendiri lah yang menghubung-hubungkan mereka. Hal ini diawali dari ideku untuk membuka stan ramalan cinta di pameran supaya pamerannya bisa sukses dan aku bisa mendapatkan uangku kembali. Kalian tahu, biro jodoh–atau, dalam bahasa lebih kasar, “sarang mak comblang”–identik dengan ramalan cinta (atau ramalan jodoh masa depan, atau hal-hal semacamnya). Aku pun berniat untuk menyewa peramal untuk meramaikan acara.

“Mau habis budget berapa? Untuk menyewa gedung saja, appa sudah meminjam uangmu, masa masih mau menyewa peramal segala? Memangnya kau punya uang?” Begitulah komentar sengit ayahku saat kuutarakan ide cemerlang itu pada beliau.

Karena masalah yang kami hadapi ternyata cukup rumit, aku pun mulai memikirkan solusi lain yang bisa dilakukan tanpa mengeluarkan sepeser pun uang. Satu-satunya nama yang terlintas dalam pikiranku saat itu hanyalah Han Jihyun, si cewek peramal seram yang sebelumnya belum pernah kuajak bicara sama sekali. Aku sadar kalau berbicara dengannya bisa jadi agak berbahaya, tapi demi suksesnya acara pameran itu–dan demi kembalinya uang tabunganku–aku pun akhirnya menyusun siasat.

Selama dua minggu, aku melakukan pendekatan dan sengaja bersikap sok akrab terhadap gadis itu. Dalam beberapa hari pertama, dia bersikap cuek dan menganggapku tak ada, namun karena melihat usahaku yang begitu keras untuk “berteman” dengannya, dia pun akhirnya mulai menanggapiku. Kami pun mulai bersahabat. Aku tidak tahu apakah dia sungguhan menganggapku sahabat atau hanya pura-pura saja (seperti aku pura-pura menganggapnya sahabat), tapi yang jelas, akhirnya aku bisa membujuknya untuk membuka stan ramalan di acara pameran itu. Awalnya, dia agak meragukan rencana ini.

“Aku ada janji hari itu,” ujarnya lirih saat pertama kali kuutarakan permintaanku. “Sepertinya aku tidak bisa datang.”

“Janji apa?” aku mendesaknya dengan nada merengek. “Apa janji itu lebih penting daripada aku?”

“Janji itu…,” ujarnya dengan suara beratnya yang sampai sekarang masih saja terdengar ekstra mengerikan, “Sangat penting.”

Aku berdecak kesal. “Baru sekali ini aku memohon sesuatu padamu, masa kau tidak mau mengabulkannya? Lagipula, bagimu, meramal saja pasti tidak susah. Kau sudah terkenal untuk kemampuan luar biasa itu, pastinya kau bisa membantuku sebagai seorang sahabat.”

“Entahlah, Sohwa,” gumamnya, “Aku merasa tidak yakin.”

“Baiklah,” aku menjawab tenang, “Kalau begitu, kuberi kau waktu untuk berpikir. Aku akan menunggu kepastiannya tiga hari lagi.”

Dia hanya mengangguk pelan saat itu.

Entah apa yang digunakannya sebagai pertimbangan, pokoknya, tiga hari kemudian, dia memberitahuku bahwa dia akhirnya bersedia membantuku dengan membuka stan ramalan tanpa dibayar di malam pameran itu. Aku begitu senang, dan berpikir bahwa dengan adanya stan heboh itu, pamerannya bakal sukses besar.

Kenyataannya, akulah yang terlalu buta.

Setelah mengetahui bahwa pamerannya gagal total dan kami rugi besar, aku mengamuk. Emosiku tidak terkontrol sampai-sampai aku membocorkan semua siasatku selama ini pada Jihyun. Apalagi, gadis itu bersikap sangat cuek dan tidak peduli pada masalahku. Menanggapi sikap cueknya itu, aku mulai sebal. Kuputuskan untuk menyakiti hatinya sekalian dengan membocorkan semua rahasia yang selama ini kusimpan rapat-rapat darinya. Di saat akhirnya dia tampak syok, aku meninggalkannya begitu saja tanpa menawarinya tumpangan.

Dan sejak hari itu, hubungan kami tak pernah sama lagi.

Bukannya aku menyesali hal itu, sih. Sebaliknya, aku malah merasa senang bisa lepas dari gadis mengerikan yang hobi bicara aneh-aneh itu. Tapi, entah mengapa, akhir-akhir ini aku malah jadi semakin takut padanya. Pasalnya, sejak kejadian itu, aku mulai sering memergokinya sedang mengawasiku dengan tatapan tajamnya yang setajam sinar laser Cyclops. Kadang kala, aku bahkan melihatnya sedang menulis sesuatu di buku jurnalnya dengan bolpoin bertinta merah. Karena daya intipku terbatas, aku hanya bisa melihat beberapa suku kata saja, seperti “Kim”, “Hwa”, dan “Ju”. Tanpa harus mengira-ngira lagi, aku tahu yang ditulisnya adalah “Kim So Hwa, jugeosseo,” yang artinya “Kim So Hwa, matilah”. Walaupun belum pasti, aku cukup yakin kalimat mengerikan itulah yang ditulisnya setiap hari.

Karena itulah, masuknya ia ke dalam kelas membuat bulu kudukku langsung berdiri. Aku mencoba untuk tetap bersikap tenang saat ia duduk di belakangku. Suasana menjadi canggung. Namun, canggung yang ini terasa menyiksa, karena aku harus berpura-pura tidak peduli terhadap kehadiran Jihyun. Untunglah, tak lama setelah itu, bel berbunyi. Aku sangat bersyukur saat akhirnya Joo songsaengnim, guru Fisika kami, masuk ke dalam kelas.

Syukurlah, aku bisa lepas dari kecanggungan yang menyiksa ini.

Aku buru-buru mengeluarkan buku Fisika dan menyibukkan diri. Namun, saat aku tengah menulis sebuah catatan, tiba-tiba hawa dingin memenuhi udara sekitarku. Punggungku seolah dihunjam oleh sebuah tatapan tajam yang memata-matai. Aku menoleh dengan waswas ke belakang…

dan langsung berhadapan dengan sepasang mata tajam Jihyun yang melirik penuh dendam ke arahku.

Demi Tuhan! Betapa mengerikannya dipandangi Jihyun dengan tatapan seperti itu!

Menyadari bahwa tatapan itu membuat sekujur tubuhku merinding, aku buru-buru membalikkan badan kembali menghadap ke depan. Berusaha kuacuhkan rasa risih dan takut akibat diawasi Jihyun, walaupun sangat sulit rasanya.

Sebab, dari pandangan mata itu, aku dapat merasakan dendam yang luar biasa terpancar dari dalamnya.

***
“Aku pulang!” aku berteriak keras saat memasuki pintu rumah. Di ruang makan yang berhadapan langsung dengan pintu, tampak ibu dan adik perempuanku, Kim Sohyun, yang masih berusia enam tahun, sedang duduk-duduk sambil menikmati secangkir susu hangat. Yah, musim dingin memang membuat semua orang membeku. Susu hangat terdengar sangat menyenangkan untuk cuaca sedingin ini. “Aku juga mau susu hangatnya,” ujarku saat melewati meja makan.

“Ganti dulu semua pakaianmu dan cuci tangan, lalu tuanglah untuk dirimu sendiri,” ibuku menjawab, setengah berteriak karena kini aku sudah berjalan menaiki tangga.

Ne, eomma,” jawabku.

Aku membuka pintu kamar dan melepas dasiku, lalu melemparkannya sembarangan ke atas kasur. Rasanya capek sekali sehabis bersekolah, apalagi, hari ini aku tidak bisa berkonsentrasi terhadap pelajaran lantaran terus-terusan diawasi Jihyun. Sial, gadis itu benar-benar mengerikan. Kalau tahu pamerannya tak bakal sukses walaupun aku sudah mendatangkannya, aku tak bakalan cari mati dengan mendekatinya.

Aku bergegas turun setelah selesai mengganti pakaian dengan sweater ungu kesukaanku. Di bawah, Sohyun masih duduk tenang sambil menyesap susu hangatnya pelan-pelan.

“Mana eomma?” aku bertanya sambil menarik kursi di hadapannya untuk duduk.

“Sedang mencuci piring,” jawabnya singkat.

Aku menuangkan susu hangat dari termos ke dalam gelas yang sudah tersedia di meja makan. Setelah mengisi penuh gelas itu dengan susu hangat yang asapnya masih mengepul, aku pun menyesapnya sedikit-demi-sedikit.

Eonni,” tiba-tiba Sohyun memanggilku.

“Hm?” aku bergumam untuk menanggapi panggilannya sambil masih menyesap susu hangatku.

“Tadi ada paket untuk eonni,” Sohyun menjawab sambil menunjuk ke arah pintu masuk.

“Dari siapa?” aku bertanya acuh-tak-acuh.

Sohyun menggeleng, “Molla, ahjussi tukang pos mengantarkannya tadi pagi, dan dia bilang, tidak ada nama pengirim yang jelas.”

Aku mengerutkan kening. “Aneh sekali,” gumamku. “Apa pengiriman paket tidak mewajibkan pencantuman alamat pengirim?”

Sohyun mengangkat bahu. “Eonni cek sendiri saja. Tuh, paketnya di dekat rak sepatu.”

Aku meletakkan gelas susu hangatku dan beranjak menuju dekat rak sepatu. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku menggeser rak sepatu untuk mengecek bagian belakangnya. Kami memang punya kebiasaan menyimpan barang-barang di belakang rak sepatu, termasuk paket-paket kiriman.

Tak perlu berusaha mencari, paket yang ditujukan untukku itu sudah tampak mencolok dan jelas sekali. Paket itu dibungkus oleh kertas kado berwarna merah mengilap dan dipita dengan pita merah yang warnanya nyaris sama dengan kertas kado merah itu. Ukurannya cukup besar–setidaknya tingginya hanya sedikit di bawah lututku, dan lebarnya lebih daripada lebar tubuhku. Aku mengangkat paket yang ternyata cukup ringan itu ke meja makan, kemudian meletakkannya di atas sana dengan hati-hati. Sohyun memperhatikan setiap gerakan yang kulakukan dengan saksama.

“Apa kira-kira isinya, eonni?” ia bertanya dengan polos. Aku mengangkat bahu tanda tidak tahu. “Kenapa tidak eonni buka saja?”

Aku duduk di kursiku semula, kemudian menarik paket itu mendekat ke arahku. Sohyun masih tetap memperhatikan gerakanku dengan saksama saat aku mulai menarik pita paket itu.

Kusangka, simpul pitanya akan langsung terlepas begitu aku menariknya. Tapi, ternyata dugaanku salah besar. Simpul pita itu tidak mau terbuka walaupun aku sudah menariknya kuat-kuat.

“Kenapa tidak mau terbuka?” aku menggumam dengan heran. “Padahal ini cuma pita biasa.”

“Mungkin eonni kurang kuat menariknya,” Sohyun berpendapat polos. “Atau pitanya bandel, tidak mau terbuka.”

Aku terkekeh pelan, kemudian mencoba menarik pita itu sekali lagi. Namun, dalam setiap tarikanku, ikatan pada pita itu sepertinya malah semakin kuat. Sialan, apa pengirim paket ini berniat mengerjaiku? Apa paket ini memang sebenarnya tidak bisa dibuka?

Tepat pada saat aku mencoba menarik kembali pita itu untuk yang kelima kalinya, ibuku keluar dari dapur dan menghampiri kami berdua.

“Kalian sedang apa?” ia bertanya sambil mengelap tangannya pada celemek yang ia pakai. Pandangan matanya tertuju pada paket di hadapanku, kemudian ia manggut-manggut paham tanpa kujawab. “Oh, paket itu.”

Aku mengangguk. “Sayangnya, simpul pitanya tidak bisa lepas. Sudah kucoba menariknya berkali-kali, namun hasilnya sama saja.”

Ibuku terdiam sejenak, seperti berpikir. “Biar eomma coba tarik.” Setelah mengatakan kalimat itu, ia berjalan menghampiri paket itu dan menarik pitanya kuat-kuat. Seperti yang sudah kuduga, simpulnya tetap tidak bisa lepas. Ternyata, sekuat apapun kami menarik pita itu, hasilnya tetap sama saja. “Eomma akan ambilkan pisau sebentar. Mungkin lebih baik pitanya dipotong saja.”

Ibuku masuk ke dapur dengan langkah cepat dan kembali dengan sebilah pisau kecil di tangannya. Dengan sigap, ia memotong pita bandel itu dengan pisau. Di luar dugaan kami, pita itu tidak bisa dipotong.

“Aneh,” ibuku menggumam dengan terheran-heran, “Padahal biasanya gampang sekali memotong sebuah pita.”

“Biar aku coba,” aku menawarkan diri, kemudian mengambil pisau dari tangan ibuku. Perlahan-lahan, aku mengiris pita itu sambil mengamatinya dengan saksama. Sial, pita apa sih ini? Kenapa pisau tajam pun tidak mempan untuk mengirisnya? “Gagal,” gumamku sambil mengangkat bahu.

“Apa perlu eomma putus pitanya dengan korek api?” Ibuku menawarkan.

“Tidak usah,” jawabku langsung, “Besok-besok saja. Lagipula, aku sudah malas.”

Dengan sebelah tangan, aku mengangkat paket ringan itu naik ke kamar. Dalam hati, aku bertanya-tanya.

Siapa sih, yang mengirim paket untukku? Apa isinya kira-kira?

***
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aku selesai menyikat gigi dan langsung mempersiapkan bantal dan guling untuk tidur. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung menjatuhkan tubuhku ke atas kasur. Kupejamkan mataku dan mencoba tidur.

Tiba-tiba, aku terbayang paket berbungkus kertas kado merah itu.

Mataku langsung terbuka lagi. Kenapa aku tiba-tiba terbayang paket itu? Tak bisa kupungkiri, aku memang sangat penasaran terhadap isi paket itu–dan terlebih, siapa pengirimnya. Tapi… kenapa simpul pitanya tidak mau terbuka?

Aku melirik paket yang kuletakkan di sudut kamar itu. Apa kucoba saja membukanya lagi, ya? Siapa tahu, paketnya bisa terbuka sekarang. Habis, aku sudah terlanjur sangat penasaran.

Perlahan-lahan, aku bangkit dari kasur dan berjalan menghampiri paket itu. Aku duduk di sebelah paket itu dan menariknya mendekat. Dengan penuh harap, aku menarik pita yang mengikat paket itu.

Dan alangkah terkejutnya aku ketika simpul pita itu dengan mudah terbuka.

Alisku berkerut seketika.

Aneh. Padahal, tadi siang, simpulnya tidak bisa dibuka. Kenapa sekarang rasanya mudah sekali membuka simpul itu?

Rasa ngeri tanpa sebab merayap di hatiku. Dalam hitungan detik, bulu kudukku tiba-tiba meremang. Kendati demikian, aku tetap melanjutkan untuk membuka paket itu sambil berusaha mengabaikan rasa takutku. Saat akhirnya pita berhasil kulepaskan, aku menarik napas panjang. Tanganku perlahan bergerak menyobek kertas kado berwarna merah mengilap yang melapisi paket itu. Kertas kado itu tersobek, semudah melepas simpul pita yang tadinya mengikatnya.

Di dalam kertas kado, tampak sebuah kotak berwarna senada dengannya–merah, namun bedanya, kotak ini tidak mengilap seperti kertas kado itu. Tampaknya pengirim kado ini begitu terobsesi dengan warna merah–atau dia hanya tidak kreatif dan kurang variasi. Buktinya, seluruh pelapis paket ini berwarna merah–baik kotaknya, kertas kadonya, maupun pitanya. Aku curiga, jangan-jangan, isinya juga berwarna merah. Kira-kira, apa tujuannya? Hanya karena iseng atau memang ada makna tertentu?

Saat tanganku bergerak membuka tutup kotak itu, dapat kurasakan, hawa sekitarku mendadak jadi terasa dingin. Maksudku, sejak tadi, hawa memang sudah dingin. Hanya saja, dingin yang ini terasa berbeda. Seolah-olah, seberkas angin baru saja menerpaku. Angin itu begitu dingin menusuk tulang, sampai-sampai aku berpikiran untuk menyeret selimut ke sini.

Tanpa mempedulikan suasana yang tiba-tiba jadi terasa aneh, aku membuka tutup kotak itu…

dan langsung berhadapan dengan sepasang mata bulat tajam yang menghunjam ke arahku.

Aku nyaris berteriak keras-keras saking seramnya sepasang mata biru itu. Tutup kotak yang kupegang menggunakan kedua tanganku terjatuh begitu saja, dan seluruh tubuhku gemetaran.

Di dalam kotak itu, tampak sebuah boneka manusia bergaun merah, dengan rambut yang dikepang dan topi menghiasi kepalanya. Mata biru bulat boneka itu melirik ke arahku, dan seketika itu juga, aku tersadar bahwa sepasang mata yang membuatku kaget setengah mati adalah mata boneka itu. Tapi, sungguh, aku seakan merasa boneka itu memang melirik penuh dendam ke arahku.

Aku seakan merasa boneka itu betul-betul hidup.

Pemikiran itu membuat bulu kudukku meremang. Angin dingin membelai tengkukku dengan lembut, membuatku semakin merasa takut.

Demi Tuhan, boneka ini seram sekali.

Dengan tangan gemetaran, aku mengangkat boneka itu keluar dari kotak. Sebenarnya, boneka bergaun merah itu cukup cantik. Rambutnya pirang keemasan, matanya plastiknya yang biru bulat bisa bergerak-gerak dan berkedip, bibirnya juga mungil dan merah sempurna. Hanya saja… entah mengapa, boneka ini betul-betul terlihat mengerikan di mataku. Mungkin aku harus menyimpannya di lemari malam ini supaya tidak terus-terusan melihatnya sepanjang malam, kemudian memberikannya pada Sohyun besok pagi. Anak itu pasti senang sekali kuberi boneka Belanda cantik seperti ini. Apalagi, ibu dan ayahku jarang membelikannya boneka.

Aku mengintip ke dalam kotak setelah meletakkan boneka itu di lantai. Mataku langsung menangkap sebuah kartu ucapan berwarna merah yang tergeletak di dasar kotak itu. Dengan tangan yang masih gemetaran, kuraih kartu ucapan itu dan membacanya dalam hati.

To : Kim So-Hwa

Saengil chukkae.

From : your very best friend

Dahiku langsung berkerut membaca deretan tulisan supersingkat yang ditulis menggunakan tinta putih itu. Saengil chukkae? Selamat ulang tahun?

Jantungku berdebar kencang membayangkan siapa orang yang mengirimiku paket seperti ini. Bagaimana dia bisa mengklaim dirinya sebagai teman terbaikku? Selama ini, aku tidak pernah punya teman baik. Ayahku sering berpindah dari kota satu ke kota lainnya untuk menjalankan bisnis, jadi aku tidak punya terlalu banyak teman karena sering berpindah-pindah sekolah.

Terlebih dari semua itu, ada satu lagi hal janggal yang kutemukan dalam kartu ucapan ini.

Bagaimana penulisnya bisa tahu kalau besok aku berulang tahun?

Padahal, sungguh, aku tidak pernah memberitahukan tanggal ulang tahunku pada siapa-siapa. Bagi orang-orang, tanggal 13 Februari hanyalah hari biasa, hari dimana mereka sibuk mempersiapkan cokelat valentine, hari dimana mereka sibuk mengemas kue-kue valentine, dan bukan hari dimana teman baik mereka berulang tahun. Tidak ada yang tahu bahwa 16 tahun yang lalu, di tanggal 13 Februari, seorang gadis bernama Kim Sohwa lahir. Lebih tepatnya, tidak ada yang mau tahu.

Lantas, kenapa pengirim paket ini bisa tahu bahwa besok usiaku akan genap enam belas tahun? Siapa dia sebenarnya?

Aku menggigit bibir bawahku, dan mendadak sekujur tubuhku terasa lemas. Semua ini terlalu aneh, terlalu penuh misteri, dan terlalu mengerikan. Sejak awal, aku sudah mencurigai paket ini lantaran simpul pitanya tidak bisa dibuka. Kalau tahu akan berakhir seperti ini, lebih baik kubuang saja sekalian paket ini sejak awal aku menerimanya. Sebab kini, aku jadi merasa diteror–dan bukannya diberi hadiah ulang tahun. Hadiah ulang tahun yang sah adalah hadiah ulang tahun yang diberi nama pengirim. Hadiah yang nama pengirimnya dirahasiakan jelas-jelas punya maksud terselubung. Maksud terselubung itulah yang membuatku merasa tidak aman. Terlebih lagi, boneka mengerikan itu…

Aku menggeleng-gelengkan kepala saat merasakan perutku terasa dingin. Lebih baik aku berhenti memikirkan semua ini dan tidur. Tidak lucu kalau aku tampil dengan kantung mata tebal di hari ulang tahunku. Bisa-bisa aku jadi badut pesta di acara makan-makan keluarga besok.

Pemikiran itu membuatku buru-buru membereskan kotak dan kertas kado yang berceceran di lantai, kemudian memasukkan boneka mengerikan itu ke dalam lemari geser. Berusaha untuk tidak menghiraukan rasa takutku, aku menjatuhkan tubuh ke atas kasur setelah mematikan lampu dan mencoba tidur.

***
Nae ireumeun Emily…”

Nae ireumeun Emily…”

Aku membuka mataku yang terasa lengket perlahan-lahan saat mendengarkan bisikan serak nan lirih yang mengerikan. Pandangan mataku langsung berhadapan dengan langit-langit kamar yang gelap dan tinggi. Suasana kamar begitu dingin, sampai-sampai aku harus meringkuk di dalam selimut agar tubuhku tidak membeku kedinginan.

Nae ireumeun Emily…”

Seerr…

Aura dingin yang mengerikan menerpa sekujur tubuhku. Dapat kurasakan, bulu kudukku meremang. Demi Tuhan, suara apa itu? Kenapa tiba-tiba terdengar suara rendah yang serak dan mengerikan di kamarku?

Dengan waswas, kutolehkan kepala ke samping dan menyipitkan mata untuk melihat dengan jelas tanpa penerangan kecuali secercah cahaya dari ventilasi. Perlahan-lahan, bayangan yang awalnya tampak kabur dalam lensa mataku menjadi jelas. Perlahan… Perlahan, dan…

DEG.

Jantungku berhenti berdetak selama satu detik saking syoknya. Sekujur tubuhku gemetaran seketika.

Sebab, di sudut kamarku, tampak sebuah boneka berbaju merah darah duduk membelakangiku, menghadap ke tembok yang kosong. Boneka itu berambut pirang dengan simpul kepang dan topi pantai menghiasi kepalanya.

Astaga! Boneka itu!

Aku yakin sekali, boneka itu adalah boneka seram yang kutemukan di dalam paket hadiah ulang tahunku. Dan sejauh yang dapat diingat otakku, aku sudah memasukkan boneka itu ke dalam lemari sebelum tidur saking takutnya aku terhadap wajah boneka itu yang terkesan hidup. Lantas, kenapa boneka itu bisa duduk menghadap tembok seperti saat ini?

Nae ireumeun Emily…”

Suara itu. Aku yakin suara itu berasal dari boneka bergaun merah yang mengerikan itu. Jangan-jangan, aku bermimpi? Tapi, kenapa suara rendah dan serak mengerikan itu terdengar sangat nyata? Saking nyatanya, suara itu sampai sanggup membuat sekujur tubuhku gemetaran.

Boneka itu berhenti mengeluarkan suara, dan selama sesaat, aku hanya memandanginya sambil menimbang-nimbang apakah aku berhalusinasi atau tidak. Suasana menjadi hening dalam beberapa detik yang terasa menyiksa.

Tiba-tiba, kepala boneka itu menoleh ke arahku dan menampakkan wajahnya yang retak-retak dan penuh darah manusia, menyeringai kejam dengan tatapan mata menghunjam ke arahku.

Dan jantungku serasa nyaris copot saat mendengar mulut kecil boneka itu berbisik pelan dengan suara yang lebih mengerikan daripada sebelumnya.

Nae ireumeun EMILY…”

***

SOHWA’S MOM POV

“AAAAAAA!!!”

Sebuah teriakan melengking bernada tinggi terdengar dari lantai atas. Aku kaget bukan kepalang menyadari teriakan itu adalah teriakan Sohwa, putriku.

Ya ampun, apa yang terjadi padanya dini hari begini? Apa ia melantur atau bermimpi seram?

Tanpa banyak bicara lagi, aku segera berlari menuju lantai atas dan menerjang masuk ke kamar Sohwa. Alangkah terkejutnya aku menemui putriku itu kini telah jatuh dari kasur dengan wajah pucat dan tubuh gemetaran, sementara mulutnya yang bergetar penuh kengerian masih setengah terbuka setelah berteriak kencang-kencang tadi. Matanya terpejam, seolah tak berani untuk melihat sesuatu.

Dengan sigap, aku menyalakan lampu.

Wae geudae?” aku bertanya dengan nada panik seraya menghampirinya dan mengguncang-guncang tubuhnya.

Andwae! Pergi! Pergi dariku! Jangan dekati aku!” Ia berteriak-teriak heboh seraya menendang-nendang udara. Kedua tangannya mendorong tubuhku menjauh.

“Sohwa! Kim Sohwa!” aku membentaknya sambil mencekal kedua tangannya kuat-kuat. “Ini aku, ibumu!”

Tubuh Sohwa menegang, dan dalam sekejap, kepanikannya berubah menjadi tangis tersedu-sedu. Ia membuka mata dan menatapku dengan mata berkaca-kaca, kemudian meraung-raung sambil memeluku kuat-kuat. Aku menepuk-nepuk punggungnya kendati tidak mengerti apa yang membuatnya begitu ketakutan.

Wae geudaeyo, Sohwa-ah?” aku bertanya dengan nada lembut sambil masih memeluknya.

Dengan terisak-isak, Sohwa meracau lirih. “Boneka… Boneka mengerikan itu…”

“Boneka apa?” tanyaku, masih dengan nada lembut yang menenangkan.

“Boneka berbaju merah yang kutemukan dalam paket itu…” Sohwa menggumam dengan suara gemetaran.

Dahiku berkerut seketika. “Paket? Paket berbungkus merah itu?”

Sohwa mengangguk sambil menahan isak tangisnya. “Boneka itu ada di belakang eomma…”

Aku menoleh dan mencari-cari boneka yang dimaksud Sohwa, namun pencarianku hasilnya nihil. Tidak ada boneka apa-apa di belakangku. Hanya ada lantai kosong berbatas tembok seperti yang seharusnya.

“Tidak ada boneka, Sohwa. Mungkin kau hanya bermimpi buruk,” aku berkata pelan.

“Tidak mungkin!” Sohwa berteriak heboh, “Itu tidak mungkin sebuah mimpi! Semuanya terasa sungguh nyata, suaranya, seringainya–”

“Sudah, sudah,” aku memotong perkataannya. “Sekarang, di mana kau menyimpan boneka itu terakhir kali?”

Sohwa terdiam sembari menggigit bibir bawahnya, kemudian ia menunjuk lemari geser di depan kasur yang menyatu dengan tembok. Lemari itu biasa digunakannya untuk menyimpan pakaian dan buku-buku pelajaran. Aku berasumsi ia menyimpannya di antara pakaian-pakaian. Maka, kulangkahkan kaki ke arah lemari dan menggeser pintunya perlahan-lahan.

Setelah berhasil terbuka lebar, tampaklah bagian dalam lemari yang penuh pakaian. Aku melirik ke bagian bawah, dan kutemukan sebuah boneka bergaun merah cantik dengan rambut pirang dikepang dua serta topi pantai, sedang duduk manis memandang ke depan.

Aku menunjuk boneka itu dan berpaling ke arah Sohwa. “Boneka ini, maksudmu?”

Mata Sohwa terbelalak lebar melihat boneka itu di dalam lemari. Ia menggeleng-geleng tak percaya.

“Tidak mungkin…” racaunya terheran-heran. “Aku yakin sekali, tadi ia duduk menghadap tembok di sana… Lalu ia menoleh dan berbicara padaku…”

“Berbicara?” Aku memastikan. “Mana mungkin boneka bisa berbicara?”

“Ia bisa!” Sohwa memekik penuh kengerian. “Aku masih ingat jelas suaranya yang berat mengerikan itu!”

Aku berbalik dan mengamati boneka bergaun merah itu dengan saksama. Kuperhatikan setiap detil yang dimiliki boneka itu–mulai dari topi pantainya, matanya, hidungnya, bibirnya, rambut pirangnya yang dikepang dua, gaunnya, tangannya…

Tunggu dulu.

Mataku menangkap sebentuk bulatan aneh di telapak tangan boneka itu. Kuraih tangan plastik itu dan kuperhatikan bulatan itu. Belakangan kusadari, bulatan itu memiliki tulisan “PUSH” di atasnya. Sesuai instruksi yang tertulis, aku pun menekan bulatan itu.

Nae ireumeun Emily”

Suara riang boneka itu yang memperkenalkan diri terdengar. Aku melirik Sohwa dengan tatapan ‘tuh-kan-semua-ini-hanya-kaset-rekaman’ dan menyaksikan wajah putriku itu berubah pucat, dua kali lebih pucat daripada sebelumnya.

“Bukan! Itu bukan suaranya!” ia memekik heboh. “Suaranya tidak manis dan riang seperti itu! Suaranya begitu rendah dan menyeramkan! Aku yakin sekali, eomma!”

Aku menekan bulatan di tangan boneka Emily sekali lagi untuk membuktikan ucapan Sohwa yang terdengar supermelantur.

Nae ireumeun Emily”

Suara boneka itu masih terdengar riang seperti sebelumnya. Sama sekali tidak ada hal aneh dari boneka ini. “Kau mimpi buruk, Sohwa,” ujarku menyimpulkan. “Tidak mungkin sebuah boneka bisa menoleh dan berbicara dengan suara seram. Satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah, semua itu hanya mimpi belaka.”

Eomma…” Sohwa merengek, “Aku takut. Aku merasa semua itu begitu nyata… Aku nyaris yakin semua itu bukan hanya mimpi.”

“Ssh…ssh…” Aku menenangkan putriku itu. “Mungkin kau hanya gugup menghadapi hari ulang tahunmu, makanya bermimpi yang tidak-tidak.”

Sohwa menggigit bibir bawahnya, tampak berpikir berulang kali untuk menelan ucapanku bulat-bulat. Akhirnya, ia mendesah pelan. “Bisakah aku tidur di kamar eomma malam ini? Jaebal, eomma… Aku ketakutan.”

Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Yah… Kalau itu maumu, eomma bisa apa? Asal kau bantu eomma siapkan spring bed, eomma tidak keberatan.”

Sohwa tersenyum lega. “Gomawo, eomma… Akan kubantu kau. Kajja.”

***
KIM SOHWA POV

Aku sungguh-sungguh berharap kenyataan sesederhana terkaan ibuku. Namun, kenyataan tentunya tidak sesederhana itu. Buktinya, aku ketar-ketir sepanjang malam dan tidak bisa tidur gara-gara penampakan boneka seram yang diyakini ibuku sebagai mimpi buruk belaka itu. Boneka itu memang tidak muncul lagi, tapi ketakutannya masih dapat kurasakan dengan jelas.

Akibat dari tidak mendapatkan tidur sama sekali semalaman, pagi harinya, kantung mata tebal menghiasi bagian bawah mataku. Sepertinya aku ditakdirkan untuk jadi badut pesta sungguhan di acara makan-makan keluarga nanti. Belum lagi, moodku masih buruk sejak kejadian semalam. Aku takut masuk kembali ke kamarku sendirian.

“Apa eonni tidak bisa melakukan ini sendirian?” Sohyun memprotes saat aku memintanya menemaniku masuk kamar untuk menyiapkan buku dan mengambil seragam. Rupanya ia tidak senang acara bersantainya kuganggu. Tapi, yah, setidaknya ia tidak menolak.

“Diamlah saja,” hardikku. “Nanti eonni traktir kau bibimbap.”

Sohyun mencibir, tapi mendengar nama makanan kesukaannya kusebut-sebut, tak urung ia menurut juga. Aku buru-buru menyelesaikan urusanku di kamar dan keluar secepat kilat.

Gomawo, saengie!” aku berteriak pada Sohyun sambil berlari menenteng seragam dan tas sekolahku. Kujatuhkan tas sekolahku asal-asalan ke atas kursi meja makan dan membawa seragamku menuju kamar mandi.

Perlahan-lahan, kunyalakan shower untuk membasuh tubuhku. Air hangat mengucur dari shower dan membuat tubuhku jadi terasa lebih baik daripada sebelumnya. Di bawah guyuran air hangat, aku menghela napas panjang.

Kenapa sampai sekarang pun kejadian itu masih terbayang jelas dalam ingatanku?

Aku tahu, seharusnya aku percaya saja pada terkaan ibuku bahwa semua kejadian seram itu hanya mimpi buruk. Tapi, entah mengapa, sesuatu dalam hatiku memberitahu kalau kejadian itu bukan sekadar mimpi, melainkan merupakan sebuah pertanda.

Masalahnya, pertanda apa itu?

Firasatku buruk, tapi aku tak tahu sebabnya. Dan yang lebih parah lagi, aku tak bisa berhenti memikirkan kekhawatiranku. Aku takut hari ini tak akan menjadi hari yang baik, padahal aku sudah menanti-nanti datangnya hari ini selama setahun penuh.

Aku menunduk dan mendesah pelan.

Semoga ketakutan itu tidak benar.

Dari sudut mataku, aku melihat sesuatu yang aneh melambai-lambai di dekat pintu. Jantungku langsung berdebar kencang, dan aku mulai menerka yang tidak-tidak. Kutolehkan kepalaku pelan-pelan ke samping dan menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas.

Mataku spontan terbelalak saat menyadari benda apa itu yang tergantung di handel pintu dalam posisi terbalik.

Setangkai mawar merah.

Sekarang aku tahu apa yang disebut “aneh tapi nyata”. Maksudku, dari mana mawar merah itu muncul? Setahuku, tidak ada satu pun anggota keluargaku yang suka membawa-bawa mawar merah, apalagi ke kamar mandi. Ayahku bahkan tidak suka bunga mawar, jadi agaknya mustahil setangkai mawar merah bisa ada di pintu kamar mandiku–apalagi, tangkainya diikat dengan sangat rapi di handel pintu. Ikatan yang rapi itu menandakan bahwa semua perbuatan ini memang disengaja dan direncanakan.

Lututku bergetar hebat. Tanpa kusadari, otakku mulai mengait-ngaitkan kejadian ini dengan kejadian semalam. Paket itu juga didominasi warna merah–mulai dari pitanya, kertas kadonya, kotaknya, kartu ucapannya, sampai gaun yang dikenakan boneka terkutuk itu. Mawar ini, secara kebetulan, juga berwarna merah.

Ada apa dengan warna merah?

Aku berpikir keras dengan jantung berdebar-debar kencang. Setahuku, mawar merah memiliki makna cinta sejati dan ketulusan. Tapi, mawar merah juga sering digunakan untuk mengiringi orang mati. Merah sendiri identik dengan darah, dan kebetulan, aku sempat mengalami kejadian seram dengan boneka bergaun merah itu semalam.

Apa ini suatu pertanda?

Apa seseorang yang kusayangi telah meninggal? Atau… sesuatu yang buruk terjadi? Aku tak bisa berhenti menerka-nerka sambil masih gemetaran–setengahnya karena kedinginan, dan setengahnya lagi karena rasa ngeri tanpa sebab.

DOK DOK DOK!

“Sohwa-ah! Ppalli!” terdengar teriakan ibuku dari luar kamar mandi bersamaan dengan diketuknya pintu kamar mandi secara brutal. Aku tersentak dari lamunan dan buru-buru berteriak balik.

Ne, eomma! Chamkamman!

Dengan secepat kilat, kuselesaikan kegiatan mandiku yang masih setengah jalan, kemudian aku segera memakai seragam dan bersiap keluar.

Serr…

Tiba-tiba, angin dingin yang entah berasal dari mana berhembus kencang menerpa tubuhku, tepat saat tanganku menyentuh handel pintu. Mawar merah yang tergantung di handel pintu melambai-lambai pelan tertiup angin, dan bulu romaku spontan berdiri. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri dengan ketakutan untuk memastikan tidak ada orang–atau makhluk–lain yang ada di sekitarku. Seperti yang seharusnya, tidak ada orang lain selain aku di dalam kamar mandi yang cukup sempit ini.

Aku tidak tahu apakah aku harus merasa lega atau malah ketakutan. Habis, aku sungguh-sungguh merasa seseorang sedang mengawasiku.

Ah, tidak mungkin. Aku pasti melantur.

Masa ada seseorang yang mengawasiku di dalam kamar mandi? Kalau sungguhan ada, itu berarti, ia orang mesum yang pantas dilaporkan polisi atas tindakan jahilnya–menakut-nakutiku, kemudian mengintipku saat mandi dengan tidak sopan.

Tapi, asumsi itu tidak membuat kengerianku berkurang. Aku malah jadi semakin merinding saja membayangkan ada orang mesum yang mengintipku saat mandi. Dengan secepat kilat, aku menerjang keluar kamar mandi.

Di luar, ibuku sudah menunggu dengan garang sembari berkacak pinggang. Wajahnya merah padam, pertanda ia marah. Aku meringis dan pura-pura bersikap santai seolah tak pernah ada apa-apa di dalam kamar mandi tadi.

“KIM SOHWA!” teriakan ibuku nyaris membuatku tuli. Maka, kututup kedua telingaku dengan tangan dan tersenyum tanpa dosa. “Lama sekali kau di dalam! Cepat berangkat sekolah sekarang! Kau sudah terlambat lima menit, tahu! Tidak usah sarapan segala, ya! Makan di sekolah saja nanti!”

H-hajiman…”

“TIDAK PAKAI TAPI-TAPIAN! SEKARANG!!”

Teriakan ibuku itu membuat nyaliku langsung menciut. Dengan tergesa-gesa, aku berlari keluar rumah setelah menyambar tas sekolahku. Kukayuh sepeda dengan kecepatan setinggi mungkin menuju sekolah.

Dalam hati, aku berusaha meyakinkan diri bahwa hal-hal aneh yang kualami tidak berarti apa-apa.

***
Hari ini superkacau. Aku dimarahi guru kimiaku karena terlambat lima belas menit, dan dihukum lari keliling lapangan dengan tidak hormat. Selama seharian ini, perasaanku juga tidak tenang, sehingga aku sulit berkonsentrasi terhadap apa yang sedang kukerjakan. Pokoknya, aku benar-benar merasa ini hari ulang tahun yang buruk.

Keburukan itu diperkuat lantaran tidak ada sama sekali yang ingat hari ulang tahunku. Yah, aku tahu, aku memang tidak pernah mengumbarnya pada teman-teman, jadi yang ini mungkin kesalahanku sendiri. Tapi, tetap saja, hal itu sukses membuatku kesal sekali karenanya.

Aku berniat menyendiri di belakang gedung sekolah saat istirahat. Mungkin aku butuh kesendirian itu. Mungkin, dengan merenung sebentar, aku bisa menemukan hal yang akan mencerahkan hari suram ini. Maka, atas dasar pemikiran itu, aku menyeret kakiku dengan malas-malasan ke belakang sekolah melalui jalan memutar.

Dan yang pertama kali kulihat di sana adalah Jihyun.

Gadis itu sedang duduk seraya menunduk dalam-dalam, membuat wajahnya semakin terhalangi oleh rambut hitam panjang yang mengerikan itu. Tangannya yang kurus dan pucat terulur ke depan, memegang sekuntum bunga mawar merah segar yang entah didapatnya dari mana. Kehadirannya yang begitu tak terduga tentu saja membuatku kaget bukan kepalang. Tapi, lebih daripada semua itu, aku lebih dibuat kaget oleh sekutum bunga mawar merah di tangannya itu.

Mawar merah.

Bunga cantik itu membangkitkan ingatanku mengenai kejadian di kamar mandi tadi pagi. Bunga yang kutemukan tergantung di handel pintu kamar mandi terlihat persis sama dengan yang dipegang Jihyun erat-erat. Bedanya, yang digantungkan di handel pintu kamar mandiku hanya setangkai saja, tapi yang dipegang Jihyun ada sekuntum. Hal itu, tak urung, membuatku berasumsi yang tidak-tidak.

Kenapa aku merasa setangkai mawar di kamar mandiku tadi seharusnya berada di antara mawar-mawar di tangan Jihyun itu?

Aku sungguh-sungguh merasa ia memang diambil dari situ, dan lebih parahnya lagi, kalau asumsiku benar, itu berarti, kejadian mengerikan tadi pagi ada sangkut pautnya dengan Jihyun. Kedengarannya tidak masuk akal, tapi mengingat reputasinya sebagai budak sekaligus sahabat makhluk halus, rasanya hal itu mungkin-mungkin saja dilakukannya kalau ia mau.

Serr…

Bulu kudukku spontan meremang. Aku ingin berlari secepat mungkin, tapi kakiku sulit digerakkan saking gemetarannya. Sebelum aku sempat mengumpulkan kekuatan, sepasang mata tajam itu sudah menghunjamkan pandangannya ke arahku. Dalam sekali, sampai-sampai kurasa rumor bahwa ia adalah makhluk semacam Cyclops itu benar adanya.

“Hai,” suaranya yang rendah dan serak itu menyapaku lirih. Suara itu mengingatkanku pada boneka bergaun merah terkutuk yang kemarin malam menggangguku dengan kehadirannya itu. Memang tidak mirip, tapi aku merasa suara itu punya kesamaan dengan suara Jihyun–setidaknya, mereka sama-sama terdengar menyeramkan.

“H-hai,” aku balik menyapa sambil meringis, berusaha kelihatan seceria mungkin. Jihyun tersenyum lebar, namun di mataku, senyum itu terlihat sama mengerikannya dengan tatapan matanya yang tajam menusuk. “Sedang apa?”

“Menunggu temanku,” jawabnya singkat sambil memandangi bunga-bunga mawar merah di tangannya. “Tapi sepertinya, ia baru akan datang nanti malam.”

Entah hanya karena aku paranoid atau apa, aku merasa ucapannya itu mengandung maksud tertentu yang ia tutup-tutupi. Berpikir bahwa aku sungguh-sungguh hanya paranoid saja, aku pun mengabaikan ketakutan itu dan mencoba mencari topik lain untuk dibicarakan.

“Bunga mawar itu untuk apa?” tanyaku sambil tersenyum lebar. Sebelum ia menjawab, aku buru-buru menambahkan, “Kalau boleh tahu.”

Jihyun terdiam sebentar, kemudian menyeringai. Seringai itu terlihat luar biasa mengerikan–seperti seringai psikopat yang menemukan mangsanya dalam keadaan lemah tak berdaya dan siap dieksekusi. “Hadiah ulang tahun untuk temanku itu. Hari ini dia berulang tahun.”

Jawaban itu membuat sekujur tubuhku langsung panas-dingin. “O-oh…,” aku menggumam canggung. “Pasti kalian dekat sekali, ya?”

Di luar dugaanku, Jihyun menggeleng. “Aku dan dia terikat suatu hubungan. Aku punya satu permintaan untuknya, sebenarnya.”

Walaupun tidak paham apa yang dibicarakan Jihyun, aku tetap tersenyum lebar seolah-olah aku orang yang paling mengerti. Setelah melalui dua detik tanpa suara yang begitu menyiksa, Jihyun tampak tersentak.

“Oh, ya. Aku lupa,” gumamnya. “Bukankah hari ini kau juga berulang tahun, Sohwa?”

Jackpot. Sekalinya ada yang ingat hari ulang tahunku, malah orang semengerikan Jihyun-lah orangnya. Walaupun aku berharap ada yang memberiku ucapan selamat ulang tahun, tapi sama sekali tidak terbersit dalam benakku untuk mengharapkan ucapan itu keluar dari mulut Jihyun. Sekarang, mendengarnya menanyakan hal itu, tubuhku serasa diguyur air mendidih–atau disambar petir, atau sesuatu semacam itu.

N-ne,” balasku pelan sambil berusaha agar aku tidak berhenti tersenyum–walaupun sejatinya sangat sulit.

Saengil chukkae,” ucapnya sambil lagi-lagi menyeringai lebar. Oke, sekali lagi, aku sungguh-sungguh paranoid. Aku merasa ucapannya tadi mirip sekali dengan tulisan di kartu ucapan yang kuterima. Aku tahu, kalimat itu memang lazim sekali–bahkan selalu–digunakan untuk memberi ucapan selamat ulang tahun. Tapi, otakku yang suka sok detektif secara tidak sadar menghubung-hubungkan kedua hal yang seharusnya tak ada hubungannya itu.

Gom-gomawo,” balasku.

Mian, aku lupa menyiapkan kado. Habis, aku baru ingat kau berulang tahun hari ini,” ujarnya. “Sebagai gantinya, aku akan memberikanmu sesuatu.”

Dengan kasar, Jihyun menarik setangkai mawar dari antara sekuntum bunga mawar merah yang dipegangnya. Sebelah tangannya mengulurkan mawar itu padaku. Bibirnya melengkung membentuk senyum lebar yang, lagi-lagi, mirip senyum psikopat.

“Cantik, kan?” dia menggumam.

Aku hanya sanggup memandangi bunga mawar itu dengan sekujur tubuh yang bergetar hebat. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis ini. Maksudku, tidak ada orang lain yang memetik setangkai mawar merah untuk diberikannya pada teman yang berulang tahun sesaat setelah dia ingat momen penting itu. Hal itu seolah-olah mengindikasikan bahwa dia sanggup berbuat apa saja kalau dia ingat–dan kalau dia mau. Benar-benar persis psikopat.

“Kim Sohwa,” dia memanggil namaku dengan pelan namun lugas. “Kau mau menerima hadiahku, kan?”

Menyadari ucapannya lebih terdengar seperti pemaksaan bernada ancaman daripada pertanyaan, aku pun menerima bunga mawar itu dengan ketakutan. Senyum Jihyun bertambah lebar.

“Hati-hati dengan mawar itu,” ujarnya pelan. “Ia mungkin tampak cantik, tapi durinya sangat tajam.”

Lagi-lagi, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti pertanda yang rancu. Aku sibuk menerka-nerka apa maksud semua itu, namun aku tidak mau dia menyadari bahwa kelakuannya membuatku ketakutan. Maka, kupasang senyum termanisku dan menjawab dengan suara ramah. “Gomawo, Jihyun-ah. Aku akan berhati-hati.”

Jihyun tersenyum penuh arti. Perlahan-lahan, ia melangkah meninggalkanku. Sebelum benar-benar enyah dari jarak pandangku, kudengar ia berbisik lirih.

“Dan hati-hati dengan tiga bunga mawar. Mereka bisa mengindikasikan hal buruk.”

***

Aku tak bisa berhenti memikirkan maksud perkataan Jihyun tadi siang, bahkan hingga berjam-jam telah berlalu sejak ia mengatakan hal itu. Jihyun begitu misterius, begitu penuh intrik dan rahasia, begitu sulit ditebak. Aku bertanya-tanya apakah ia bermaksud buruk dengan perkataannya tadi itu, atau ia hanya sekadar mengungkapkan kepercayaan yang ia tahu saja.

Tapi memangnya ada apa dengan tiga bunga mawar? Hal buruk apa yang bisa diindikasikan dari bunga cantik berduri itu?

Akibat terlalu banyak berpikir dan menerka-nerka, aku jadi tidak bisa bersikap ramah seperti seharusnya. Selama makan-makan keluarga besar, aku hanya diam saja, sesekali menyunggingkan senyum simpul bila diajak bicara, dan menjawab seperlunya saja saat ditanya mengenai apa pun. Aku bukan aku yang biasanya.

Selama dua jam itu pulalah, perasaanku sudah tak enak. Aku merasa sesuatu yang buruk bisa saja terjadi padaku sewaktu-waktu, bahkan di tengah keramaian dan canda tawa yang hangat. Lebih parah lagi, aku merasa diawasi di tengah-tengah acara. Hal itu membuat otakku yang–lagi-lagi–sok detektif bekerja cepat. Aku mulai menduga bahwa hal ini ada korelasinya dengan segala kejadian misterius yang selama dua hari ini terus kualami, yang melibatkan Jihyun, bunga mawar yang hari ini sering kulihat, dan juga paket serbamerah itu.

Oh, ya. Bicara soal paket, benda terkutuk itu masih nangkring dengan manis di dalam kamarku, dan belum sempat kupindahkan ke mana-mana sejak kemarin malam. Lebih tepatnya, aku tidak berani memindahkannya ke mana-mana. Habis, melihatnya saja aku takut, apalagi membawanya pergi. Bisa-bisa aku pingsan duluan lantaran terlalu gemetaran sebelum benda sialan itu sempat terpindahkan. Sebagai akibatnya, aku tidak punya cukup keberanian untuk masuk ke kamar. Kamar sementara yang kugunakan untuk “mengungsi” adalah kamar ibuku. Untungnya, dia tidak keberatan aku menyatroni kamarnya hanya gara-gara ketakutan yang tidak jelas juntrungnya. Lagipula, ayahku sedang pergi mengurus biro jodohnya yang goblok itu. Jadi, ibuku juga tidak punya teman. Mungkin aku bisa menjadi temannya selama seharian–atau beberapa hari–ini.

“Sohwa,” panggilan ibuku menyentakku dari lamunan panjang. Aku buru-buru menoleh dan melontarkan tatapan bertanya-tanya. “Kau jaga rumah dulu, ya. Eomma mau mengantar imomu pulang dulu. Dia tidak bawa mobil.”

Oh, ya. Aku lupa. Acara makan-makan baru saja selesai dan sekarang semua anggota keluargaku yang diundang sedang bersiap-siap pulang ke rumah masing-masing. Bibiku yang dimaksud ibu pastilah Bibi Heesun, adik bungsu dari ayahku yang belum menikah. Bibiku yang satu itu memang paling sering minta tumpangan saat datang ke rumahku. “Sohyun juga ikut?” aku bertanya.

Ibuku mengangguk. “Kau tahu, ini sudah jam sepuluh malam. Paling-paling dia mulai rewel lagi dan menolak dipisahkan dengan eomma. Kau tidak mau mendengar raungan manjanya selama berjam-jam, kan?”

Aku bergidik ngeri membayangkan adik kecilku itu menangis meraung-raung dan mencari-cari ibuku. Menyadari bahwa bayanganku rupanya sangat mengerikan, aku pun menggeleng. “Hajiman, eomma… berarti aku menjaga rumah sendirian?”

Seperti yang sudah kuduga, ibuku mengangguk. Demi Tuhan! Tidak ada yang lebih buruk daripada ditinggal sendirian di rumah saat kau sedang merasa luar biasa ketakutan. Aku merinding sendiri membayangkan hal-hal yang mungkin saja terjadi saat aku sendirian di rumah. Hantu, pembunuhan, pencurian, penyekapan… Semua bayangan terburuk langsung berkelebatan dalam otakku, dan aku mendadak merasa mual karenanya. Oh, sial. Kenapa momen ini begitu tidak pas?

“Kenapa, Sohwa?” Ibuku bertanya melihat wajahku yang mendadak pucat gara-gara anggukan singkatnya. “Kamu masih takut gara-gara mimpi buruk kemarin malam?”

Kalau boleh jujur, hal itu hanya sebagian kecil dari ketakutanku yang sesungguhnya. Aku lebih takut daripada yang dibayangkan ibuku. Dan aku yakin, kalau dia mengalami hal yang sama, dia pasti sudah ngibrit ketakutan duluan. Tapi aku tidak boleh menunjukkan ketakutanku. Aku kan sebenarnya bukan orang penakut.

Aniya,” sanggahku berdusta, “Aku hanya tidak suka ditinggal sendirian.”

Sama saja dengan mengakui bahwa aku takut ditinggal sendirian. Ah, tapi ya sudahlah, toh ibuku tak menyadari maksud tersirat itu.

“Sohwa, kalau kamu ikut, rumah kosong,” ibuku berkata lembut. “Kamu tidak mau terjadi hal-hal buruk, kan?”

Aku menggeleng dengan raut wajah tertekan. Habis, memangnya apa jaminannya bahwa tidak akan terjadi hal-hal buruk bila aku tetap tinggal di rumah? Bisa saja penjahat mendobrak pintu rumah dan menyekapku. Hal itu kan bukannya tidak mungkin–walaupun kecil kemungkinannya karena kawasan rumahku termasuk cukup aman.

“Ya sudah, kalau begitu, eomma berangkat dulu. Tutupkan pintunya, ya,” ibuku menggandeng Sohyun kemudian berjalan menuju pintu keluar. Bibi Heesun sudah menunggu di luar, tempat mobil butut ibuku terparkir. Aku mengekor di belakang ibuku dan Sohyun, kemudian berhenti di pintu. Setelah mereka berdua keluar, kututup pintu perlahan-lahan.

Aku masuk ke kamar ibuku dengan perasaan waswas sekaligus kacau. Kututup pintu kamar dan kukunci rapat-rapat untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan. Aku menghempaskan tubuh ke atas kasur dan bersandar pada sandaran tempat tidur. Kupejamkan mata dalam-dalam dan menghela napas panjang.

Seerr…

Angin dingin menerpa tubuhku, membuat perasaanku semakin tidak enak. Serius, deh. Dari mana, sih, angin-angin tidak jelas itu berasal? Kenapa aku punya firasat buruk setiap kali angin dingin itu berhembus? Angin itu selalu berhasil membuatku merinding dan merasakan aura-aura kelam di sekelilingku.

Padahal sebelumnya tidak pernah begini.

Aku membuka mata perlahan-lahan dan mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan ekstra hati-hati. Jendela kamar yang semula tertutup terhempas oleh angin hingga terbuka. Aku menahan napas.

Ya Tuhan. Di luar gelap sekali.

Haruskah kututup jendela itu? Aku takut, tapi di sisi lain, udara musim salju yang menerobos masuk melalui jendela begitu dingin. Apalagi, salju sedang turun rintik-rintik di luar. Aku bisa mati kedinginan kalau kubiarkan jendelanya terbuka. Aku harus menutupnya.

Dengan susah payah, aku turun dari kasur dan berjalan perlahan-lahan menuju jendela yang terbuka itu. Kakiku rasanya gemetaran–bukan hanya karena kedinginan sepertinya, melainkan juga ketakutan. Aku dapat mendengar langkah kakiku sendiri bergema dalam kamar sempit ini. Angin dingin terus-terusan menerpa tubuhku yang rasanya sangat rapuh saat ini, membuat bulu romaku meremang.

Setelah melalui sepuluh detik yang terasa bagaikan sepuluh jam, aku akhirnya tiba di depan jendela.

Whoosh…

Terpaan angin menghantam wajahku tanpa belas kasihan. Aku melongok sedikit keluar untuk menarik handel jendela.

Dan saat itulah pandangan mataku berserobok dengan benda mungil yang tergeletak di tanah bersalju itu.

Benda itu berukuran kecil, tidak mencolok, dan sedikit tertimbun salju. Bagi kebanyakan orang, benda yang nampak rapuh itu pasti menjadi detil yang diabaikan dan tidak disadari. Tapi bagiku, walaupun tidak terlalu jelas melihat benda kecil itu, tapi aku tahu persis benda apa itu.

Setangkai mawar merah.

“Dan hati-hati dengan tiga bunga mawar. Mereka bisa mengindikasikan hal buruk.”

Serr…

Bulu kudukku meremang seketika.

Tiga bunga mawar? Hal buruk?

Serius, ini adalah mawar ketiga yang kulihat malam ini, dan kalau kata-kata Jihyun tadi siang benar adanya, berarti setelah ini akan ada hal buruk yang terjadi.

Hal buruk.

Memikirkannya membuatku ketakutan sendiri. Dengan tergesa-gesa, aku menarik handel jendela dan membantingnya tertutup. Tapi, nampaknya hal itu tidak bekerja sama sekali. Angin dingin yang tak tahu dari mana asalnya tetap menerpa tubuhku, membuat suasana semakin terasa mengerikan.

Aku berbalik perlahan-lahan.

Dan di sana, di atas kasur, kulihat paket serbamerah itu, duduk tenang seolah tengah memandangiku.

Mataku terbelalak lebar melihat kotak berwarna merah yang mengerikan itu.

Demi apa pun yang ada di dunia ini, bukankah aku meninggalkan paket itu di kamarku?! Bahkan, saat aku duduk di atas kasur beberapa menit yang lalu, paket itu masih tidak ada di sana. Lalu dari mana paket itu muncul?

Dengan tergesa-gesa, aku berlari dan membuka paket itu untuk mengecek apakah boneka terkutuk juga ada di dalamnya.

Yang kutemukan bukanlah boneka terkutuk bernama Emily itu, melainkan sebuah pisau bacok yang dipenuhi darah kering.

Nae ireumeun Emily”

Suara riang dan ceria boneka terkutuk itu terdengar, dan aku langsung terjengkang ke belakang mendengar suara tanpa dosa itu.

Bonekanya tidak ada di sini, tapi bagaimana suaranya bisa sampai ke sini?

Nae ireumeun Emily”

Jantungku berdebar sangat kencang dan tanganku gemetaran. Tiba-tiba, paket dalam keadaan terbuka di atas kasurku jatuh, dan pisau bacok yang ada di dalamnya tergeletak di samping kakiku.

Nae ireumeun Emily”

Suara boneka itu semakin pelan, namun suara itu tetap merupakan suara riang tanpa dosa yang di saat-saat seperti ini malah terdengar seribu kali lebih menakutkan.

Nae ireumeun Emily”

Nae ireumeun Emily”

Annyeonghaseyo

Annyeonghaseyo

Annyeonghaseyo

Suara boneka itu menjadi semakin pelan dalam setiap kalimat yang diucapkannya. Aku tidak sanggup bergerak, hingga akhirnya suara itu menghilang, tak lagi terdengar.

Tunggu dulu. Keheningan ini terasa janggal. Aku melirik ke kanan dan ke kiri dengan waswas sambil menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dan jantungku langsung mencelus mendengar suara menyerupai desisan ular yang terdengar jelas setelahnya.

Nae ireumeun Stacy…”

JLEB!!

Aku melotot saat menyadari punggungku ditusuk sebilah pisau. Dengan gerakan terbata-bata, aku menoleh ke belakang…

…dan menatap matanya.

Mata itu bukanlah mata indah yang sanggup membuat orang-orang terpesona, apalagi mata besar belo yang melontarkan tatapan penasaran. Mata itu memang besar, tapi terlalu besar. Begitu mengerikan, begitu mematikan. Sepasang mata itu hitam kelam tanpa ada bagian putihnya. Sekilas terlihat mengkilap seperti kelereng hitam. Keseraman mata itu diperkuat dengan tidak adanya alis yang menaunginya, hanya ada poni rata yang panjang dan nyaris mencapai mata. Rambut kusam sosok itu menjuntai hingga ke pinggang, dan kulitnya putih pucat seperti kertas dengan tulang-tulang yang menonjol dan nyaris menyeruak keluar kalau saja kulit yang menutupinya lebih tipis sedikit. Bagian di antara kedua mata mengerikan itu rata–sungguh-sungguh rata, tanpa ada batang hidung yang menonjol.

Dan, demi Tuhan, dua lubang besar itu.

Lubang itu kuasumsikan sebagai lubang hidung. Hanya saja, ukurannya kelewat besar, sampai-sampai kusangka ia bisa menyedot nyawaku ke dalamnya sewaktu-waktu. Lubang hidung itu seolah menyatu dengan garis bibir yang begitu lebar. Bibir itu bukan bibir biasa. Ujung-ujungnya dipenuhi bekas sayatan pisau yang telah menutup, namun masih menyisakan darah kering. Bibir itu menyeringai lebar, sampai-sampai kusangka wajahnya akan segera terbelah menjadi dua bagian kalau saja ia tersenyum lebih lebar sedikit.

Gaun biru kusam yang dikenakannya melambai-lambai saat ia berbisik sekali lagi. “Saengil chukkae, Kim Sohwa.”

Dan setelah itu, kurasakan pisau dicabut dari punggungku, dan ditusukkan dalam-dalam ke pundakku sampai menembus ketiak. Darah menyembur keluar bersamaan dengan patahnya tulang selangkaku menjadi dua bagian. Patahan tulang itu menusuk dagingku, sehingga darah semakin mengucur deras dan tidak mau berhenti karena pembuluh darahku pecah. Dengan puas, sosok itu mencabut pisaunya dan menusuk dadaku.

Kalau kau kira aku langsung mati, kau salah besar.

Sosok iti ternyata lebih psikopat daripada yang kukira. Ia sengaja menusukkan pisaunya tepat di tulang rusuk, sehingga jantungku tidak mengalami gangguan apapun akibat tusukannya–kecuali bahwa ia mungkin bakal kekurangan pasokan darah bersih setelah ini. Sebaliknya, tulang rusukku sepertinya patah akibat tusukan itu.

Aku meringis kesakitan sembari mencoba mendorong sosok mengerikan itu mundur. Namun, sosok itu begitu kuat, nyaris sekuat pisau yang ia gunakan untuk menyiksaku. Buktinya, sebelah tangannya yang bebas malah memelintir tanganku yang kugunakan untuk mendorongnya kuat-kuat. Entah tenaga apa yang membuatnya begitu brutal, yang jelas, dapat kudengar bunyi sangat keras disertai rasa sakit luar biasa yang menandakan patahnya tangan kananku.

Ya Tuhan, matilah aku.

Sosok itu menghempaskan tubuhku hingga jatuh ke lantai, kemudian kakinya yang tertutup sepatu biru kusam menginjak pisau yang masih tertancap di dadaku.

KREKKK!!

Pisau itu membelah tulang rusukku hingga tembus ke paru-paru. Dapat kurasakan, darah menyembur-nyembur disertai bau amis yang begitu kuat. Aku megap-megap menyadari bahwa sebelah paru-paruku telah sobek. Akibatnya, aku kesulitan bernapas. Rasanya aku nyaris mati dibuatnya.

Cairan bening keluar perlahan-lahan dari tusukan di dadaku, meleleh dan menimbulkan rasa dingin di antara genangan darah panas. Aku terbatuk-batuk dan kejang-kejang.

Seolah merasa kondisiku kurang mengenaskan, sosok itu menyeret pisau di dadaku ke bawah menggunakan kakinya. Pisau terseret hingga membelah perutku, menampakkan daging berwarna merah segar bercampur darah yang terus memancar. Saat sampai di ususku, ia menginjak sekali lagi pisaunya sampai menembus usus. Mataku melotot tanpa bisa kukendalikan, dan darah keluar dari mulutku. Aku terbatuk-batuk dan semakin kejang-kejang.

“Katakan selamat ulang tahun,” bisiknya dengan suara rendahnya yang mengerikan.

Aku tak sanggup membalas perkataannya, dan hanya menatapnya dengan wajah siap mati.

“KATAKAN!”

JREBB!!

Pisau diinjak semakin dalam hingga aku tak punya daya apa pun untuk menolak permintaannya.

Sae–uhuk uhuk!–saengil c-chukkahamnida,” ujarku dengan sisa tenaga yang kupunya. Sosok mengerikan itu menyeringai lebar, kemudian, melalui pandang mataku yang sudah buram, aku dapat melihat ia mengambil pisau bacok yang tergeletak di lantai.

“Terima kasih,” bisiknya sebelum mengacungkan pisau bacok itu tinggi-tinggi.

Dan satu-satunya yang kuingat sebelum mataku menutup adalah pisau bacok itu menerjang ke arah leherku dengan ganas…

***
SOHWA’S MOM POV

Jalanan malam ini begitu sepi. Aku menyetir mobil bututku dengan konsentrasi penuh karena khawatir salju yang menimbun aspal dapat menyebabkan roda mobilku selip. Di samping kananku, Sohyun, putri bungsuku, tertidur lelap. Maklumlah, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, dan kami baru saja kembali dari mengantar adik iparku pulang ke rumahnya.

Mobil kusetir memasuki kawasan perumahanku yang bahkan lebih sepi dan minim penerangan lagi. Yah, aku dan suamiku memang tidak kaya, jadi kami hanya mampu membeli rumah di kawasan yang kurang baik seperti ini.

Sedang sibuk berkonsentrasi, mendadak saja lampu mobilku menyorot sesosok manusia bermantel hitam tebal yang tengah berdiri menunduk di tengah jalan.

CIIITTT…..

Aku kaget bukan kepalang dan buru-buru mengerem mobilku sebelum menabrak manusia–yang ternyata adalah seorang gadis remaja–itu. Napasku terengah-engah menyadari seberapa dekat jarak bagian depan mobil dengan gadis itu. Kalau saja aku terlambat mengerem sedikit, dapat dipastikan, aku akan segera dicekal pihak kepolisian atas tuduhan mencelakakan seorang gadis muda.

Gadis itu perlahan-lahan mengangkat wajahnya, dan tampaklah seraut wajah sepucat kertas yang nyaris seluruhnya ditutupi rambut hitam panjang. Mata gadis itu hitam di bagian tepi-tepinya, memberi kesan seolah ia memakai alat kosmetik semacam eye liner. Postur tubuhnya agak membungkuk, dan tinggi badannya sedikit di atas rata-rata remaja normal.

Perlahan namun pasti, gadis itu berjalan tanpa suara menuju mobilku. Saat tiba di samping kaca mobil, ia memandangiku dengan wajah datar, seolah mengisyaratkan agar aku menurunkan kaca mobil. Dengan segera, kuturunkan kaca mobil, memberi akses baginya untuk berbicara denganku. Namun, ternyata, gadis itu tidak kunjung bersuara.

“Ada apa, gadis muda?” aku bertanya dengan nada seramah mungkin.

Gadis itu tidak menjawab, tapi ia meraih sesuatu dari saku mantelnya dan menyodorkannya padaku. Tangannya yang terulur ke depan tampak putih pucat tanpa sarung tangan.

Benda yang diulurkannya adalah setangkai mawar merah.

Aku mengerutkan alis dan meminta penjelasan atas perlakuan gadis itu yang begitu aneh. Gadis itu tersenyum lebar, dan aku pun sadar bahwa senyumnya begitu mengerikan.

“Berikan ini pada putrimu, Kim Sohwa,” bisiknya lirih namun jelas. “Katakan padanya untuk tenang, sebab empat bunga mawar tidak berbahaya.”

Dengan bingung, aku menerima bunga mawar merah yang disodorkannya padaku. Tanpa ba-bi-bu lagi, gadis itu langsung berjalan pergi dan lenyap dari jarak pandangku dengan cepat.

Belakangan kusadari, mawar merah itu terikat dengan sebuah kertas putih kecil yang ditulisi dengan tinta merah. Kubaca tulisan itu dalam hati dengan alis yang berkerut.

13.02.2014

SOHWA KIM

Saengil chukkae.

***
DICTIONARY

Appa : sapaan untuk ayah dalam bahasa Korea
Mwo : “apa” dalam bahasa Korea
Shireo : “tidak mau” dalam bahasa Korea
Gotjimal : “jangan berbohong” dalam bahasa Korea
Jugeosseo : “matilah” dalam bahasa Korea
Songsaengnim : sapaan untuk guru atau dokter dalam bahasa Korea
Ne : “ya” dalam bahasa Korea
Eomma : sapaan untuk ibu dalam bahasa Korea
Eonni : sapaan oleh seorang perempuan kepada kakak perempuannya dalam bahasa Korea
Molla : “tidak tahu” dalam bahasa Korea
Ahjussi : sapaan untuk laki-laki seumuran dengan paman yang tidak memiliki hubungan darah dalam bahasa Korea
Saengil chukkae : ucapan selamat ulang tahun secara nonformal dalam bahasa Korea
Nae ireumeun : “namaku” dalam bahasa Korea
Wae geudae : “ada apa” dalam bahasa Korea
Andwae : “jangan” dalam bahasa Korea
Jaebal : “kumohon” dalam bahasa Korea
Gomawo : ucapan terima kasih secara nonformal dalam bahasa Korea
Kajja : “ayo” dalam bahasa Korea. Biasanya merujuk pada ajakan untuk pergi.
Bibimbap : makanan khas Korea
Saengie : singkatan akrab untuk “dongsaeng” yang berarti adik dalam bahasa Korea
Ppalli : “cepatlah” dalam bahasa Korea
Chamkamman : “tunggu sebentar” dalam bahasa Korea
Hajiman : “tapi” dalam bahasa Korea
Mian : ucapan minta maaf secara nonformal dalam bahasa Korea. Secara lazim diartikan secara internasional sebagai kependekan dari “mianhae
Imo : sapaan untuk bibi yang memiliki hubungan darah dalam bahasa Korea
Aniya : “tidak” atau “bukan” dalam bahasa Korea. Secara umum digunakan untuk menyatakan penyangkalan.
Annyeonghaseyo : “halo” secara formal dalam bahasa Korea.
Saengil chukkahamnida : ucapan selamat ulang tahun secara formal dalam bahasa Korea

***

YEAY!! Finally finished!^^

Selamat ulang tahun buat Stacy :3 hehehe… Maaf kalo SC yang ini jelek. Mohon dimaklumi, karena bikinnya buru-buru dikejar deadline. Yang penting udah memenuhi target lah, selesai 13 Februari 😀

Semoga kalian nggak kecewa ya dengan yang satu ini 🙂 dan bagi penggemar boneka Emily (saya perhatikan ternyata ada juga yang seperti ini), berbahagialah karena porsi Emily di sini cukup besar. Ya, kan? 😀

Ohya, ada beberapa perbedaan antara SC yang ini dengan SC-SC lainnya, yaitu :

  • Mengandung unsur ulang tahun (jelas)
  • Settingnya di Korsel, tepatnya di Busan. Jadi, banyak bahasa Korea yang mungkin bagi beberapa orang lebih terdengar seperti bahasa planet (dan nulisnya jadi serasa nulis ff sungguhan :”). Hehehe… Tapi kan ada dictionary-nya’-‘)9

[Read more Stacy’s Curses in shining-hearts]

Advertisements

3 thoughts on “[Stacy’s Curse] The Red Covered Package

  1. Hai, sori baru komen, kemaren ketiduran jadi lupa ninggalin komen :p
    btw aku bacane sekita tgh malem (seru jg ternyata + jd kebayang2 ._.)
    Tu kelanjutannya gmn? Eomma-nya sohwa ap ga syok? ._.

    btw keep writing!! 😉

    1. gapapa 😛 wkwkw
      nah tengah malem kan baru greget bacanya 😀 siang-siang nggak bakal kebayang-bayang._.v
      syok lah._. ehehe.. tapi memang sengaja dibikin nggantung gitu
      thanks!^^ hwaiting yoo!!

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s