[SHARE] Riddle #5

Siang ini begitu terik. Aku dan tiga temanku memutuskan untuk duduk-duduk sejenak di bawah pohon beringin besar untuk melepas stres sehabis mengerjakan ujian yang begitu sulit. Awalnya, kami hanya berbincang-bincang mengenai topik biasa : cowok, kios baru di pusat perbelanjaan favorit kami, mode, dan cuaca. Tiba-tiba salah seorang temanku mengangkat topik yang menarik : rumah berhantu.

“Rumah berhantu?” aku bertanya, “Memangnya ada rumah seperti itu di sekitar sini?”“Ada!” temanku memekik dengan bersemangat, “Di dekat lapangan bola belakang mal, ada sebuah rumah mirip gubug yang sudah tidak ditempati. Rumah itu bekas pembantaian massal puluhan tahun yang lalu! Pokoknya ngeri, deh!”

“Ada yang sudah pernah mencoba ke sana?” temanku yang lain bertanya dengan wajah sama antusiasnya denganku dan temanku yang satu lagi. “Pasti seru, tuh!”

“Ada,” jawab temanku, “Kemarin, kakak sepupuku berkata dia hendak pergi ke sana. Karena itulah aku jadi tahu kalau ada rumah berhantu semacam itu sekitar sini.”

“Ayo kita coba ke sana!” temanku yang lain mengusulkan, “Terdengar menantang!”

“Kapan? Kapan?” aku menimpali dengan bersemangat, “Aku suka sekali hal-hal berbau mistis seperti itu!”

“Nanti kita posting di blog tentang rumah itu beserta foto-foto kita di sana! Kalau bisa, kita bawa alat perekam juga supaya kita bisa memancing hantu di dalam rumah itu untuk bersuara! Kemudian hasil rekamannya kita sertakan di postingan blog kita!” temanku yang satu mengusulkan.

“Siapa yang punya alat perekam?” temanku yang lain bertanya dengan bingung, “Aku tidak punya, lho.”

“Aku juga tidak punya,” teman yang satunya menimpali.

“Aku punya, kok. Tenang saja,” kataku, “Sekarang saja kita ambil alat perekamnya di rumahku kemudian langsung ke rumah itu. Gimana? Setuju?”

“Setuju!” ketiga temanku menyahut dengan cepat tanpa komando.

“Oh, kameranya sekalian, ya,” temanku yang tadi bercerita berkata, “Punya kan kamu?”

“Punya, kok,” jawabku santai.

Setelah itu, kami memutuskan untuk berjalan kaki ke rumahku karena jaraknya sangat dekat. Aku mengambil semua perlengkapan yang diperlukan yaitu alat perekam, kamera, empat buah senter kecil, dan kalung salib untuk berjaga-jaga kalau-kalau kami nanti diganggu roh halus. Sayangnya, aku hanya punya dua kalung salib. Tapi tak apalah, toh kalung itu besar-besar. Kami genggam saja nanti bersama-sama.

Setelah semua peralatan sudah dicek kelengkapannya, kami berempat segera berangkat menuju ke rumah tua mirip gubug yang terletak di dekat lapangan belakang mal itu. Rumah itu punya pekarangan besar yang terlihat normal, hanya saja pekarangan itu tidak diaspal dan hanya berupa tanah yang sedikit becek terkena sisa air hujan. Kami berempat berjalan perlahan-lahan memasuki pekarangan rumah dan melihat banyak jejak kaki menuju rumah itu, menandakan banyak orang yang juga tetarik untuk mengetes kebenaran gosip bahwa rumah itu dihuni hantu-hantu tak terlihat (atau terlihat, ya? Entahlah, kan kami belum masuk jadi belum tahu).

“Rumahnya kecil, ya?” salah satu temanku berpendapat, “Rasanya tak percaya tempat ini pernah jadi TKP pembantaian massal. Kok sepertinya terlalu kecil.”

“Aku setuju,” temanku yang lain menimpali, “Mirip rumah biasa yang terbengkalai. Ya, nggak?”

“Ya,” jawabku menyetujui, “Anyways, kita langsung masuk, nih?”

“Ya udah lah, lagian mau ngapain lagi? Muterin pekarangan? Kayak kurang kerjaan aja,” temanku mencibir. Kami berempat tertawa kecil kemudian membuka pintu kayu yang sudah separuh dimakan rayap di depan kami. Kami masuk dan melihat ke sekeliling. Di dalam gelap, sama sekali tak ada penerangan. Untung saja pintu masih kami buka dan cahaya matahari dari luar masih bisa sedikit menerobos ke dalam. Kalau tidak, pasti kami sudah tidak bisa melihat apa-apa di dalam sini.

“Hii… banyak darah kering…” kami bergumam penuh kengerian melihat banyaknya percikan darah kering di tembok dan di lantai. Bau darah-darah itu begitu busuk dan tidak menyenangkan karena sudah berpuluh-puluh tahun dibiarkan begitu saja.

“Tutup saja pintunya!” salah satu temanku mengusulkan, “Kurang seru kalau terang-terang begini! Kan kita bawa 4 senter, cukup lah buat penerangan supaya foto-foto kita kelihatan lebih seram. Dan lebih kelihatan berhantu gitu, lho.”

“Kamu yakin nggak takut?” aku bertanya dengan suara bergetar karena mulai merasa tak enak dengan kondisi ruang depan rumah itu yang terbengkalai dan jelas sekali sebagai TKP pembantaian massal.

“Halah, toh cuma beginian aja. Bukannya kita suka hal-hal yang menantang?” ia menjawab. Aku sudah tidak bisa berkutik lagi karena ternyata dua temanku yang lain setuju padanya. Pintu pun ditutup dan kami langsung menyalakan senter.

“Foto! Cepat foto!” temanku menyenggolku. Aku mulai menjepret banyak foto menggunakan kamera di tanganku sementara temanku mulai bersiap dengan alat perekamku yang ditentengnya. Berkat cahaya senter dan flash kamera, foto-fotonya jadi tetap jelas, dan aku bersyukur karena hasil foto kami tidak buram dan sia-sia.

“Aku mulai rekam ya,” temanku berkata. Ia menekan tombol pada alat perekam dan mulai merekam suaranya sendiri. “Hai… kami sedang berada di rumah yang katanya bekas pembantaian massal. Di sini seram… apa benar ada hantu, ya? Hey, hantu! Dimanapun kamu, bersuaralah dan buat tanda!”

Kami berempat diam. Tidak ada suara sama sekali, dan temanku pun menyudahi rekamannya.

“Ayo kita lihat foto-fotonya dulu,” katanya kemudian semua mengerubungiku. Kami melihat dan memperhatikan satu-demi-satu foto dan harus kecewa karena tidak menemukan apa-apa.

Kemudian kami melihat foto itu.

Spontan, kami kaget karena di foto itu, terlihat seraut wajah mengerikan berwarna merah di dinding. “APA ITU?!” temanku memekik.

“Tunggu-tunggu,” aku menenangkan, kemudian menyorot senterku ke dinding yang menjadi objek foto itu. Ternyata, di dinding itu, percikan darah keringnya membentuk seraut wajah mengerikan seperti yang tertangkap di foto. “Itu bukan hantu, kok. Memang ada darah bentuknya mirip wajah seperti itu di dindingnya.”

“Tapi kok bisa pas sekali?” temanku berbisik lirih penuh kengerian.

“Sudahlah, ayo kita dengarkan rekamannya,” kataku kemudian merebut alat perekam dari tangannya dan menekan tombolย play.

“Hai… kami sedang berada di rumah yang katanya bekas pembantaian massal. Di sini seram… apa benar ada hantu, ya? Hey, hantu! Dimanapun kamu, bersuaralah dan buat tanda!”ย suara temanku di dalam rekaman terdengar bergema. Kemudian hening yang sangat lama. Tidak ada suara apa-apa kecuali bunyi napas kami bersahutan.

“Ah! Penonton kecewa! Tidak ada hal aneh apapun!” aku memekik kesal, begitu juga ketiga temanku.

“Sudahlah, berarti di sini memang tidak ada hantunya.”

Kami pun memutuskan bahwa kami sia-sia datang ke sini. Ah, kira-kira nanti posting blogku terdengarย pointless nggak, ya?

***

Riddle kelima yang cukup panjang, kan?^^ Hayok cari kejanggalan ceritanya… Aslinya gampang ini, tapi yah rada susah sih.-. (gimana sih)

Ditunggu komennya^^

Advertisements

32 thoughts on “[SHARE] Riddle #5

  1. Gw tauu!! #ga #yakin #bner #sih
    Tu kan ceritanya pekarangan gubug tu becek.. Padahal kan siang itu lg terik gitu(?) trus ap jangan2 becek tu becek darah? ._.v trus jejak2 tu bekas jejak para korban pembantaian yg badan’e berdarah2 gitu jd tanahnya becek!! \(._.)/
    #lupakan ._.

  2. Kami berempat diam dan temanku pun menyudahi rekamannya.

    Pas diliat lagi “ah penonton kecewa! Tidak ada hal aneh sedikitpun”

    jadi, alat perekam yang harusnya udah mati, menyala dengan sendirinya ._.

      1. Daaamn i’m so stupid, habis hujan, banyak jejak kaki, darah kering, bau anyir. Jejak kaki setelah hujan? Pasti jejak kakinya baru, bau darah dan banyak darah kering setelah puluhan tahun? Gak mungkin, jadi mungkin tempat itu baru aja dijadikan tempat pembunuhan,

  3. Terakhir nebak deh, bagian “ya sudahlah berarti disini tidak ada hantunya” itu yang bilang hantu. #ambilTali #gantung_diri

      1. Ok, gue nyerah ._. cuma penasaran itu sepupu temannya si “aku” nasipnya gimana, apa dia jadi ke rumah tua itu? Apa dia dibunuh disana?

      2. Itu, “kemarin kakak sepupuku hendak pergi kesana” tapi antara batal dan tidak pulang pulang kaya bang toyib, :v sisanya kaya jawaban kedua gue, pembantaian masal puluhan tahun lalu ga mungkin masih ninggalin jejak darah dan bau anyir.

        P.s ini bukan coba ngejawab lho ya ._.

  4. bacanya aje gue dah pusing. -_-
    udah buntu bnyk yg jwb tp belum tepat.
    dah apa jwbnnya, ksh tau lah min mimin yg bikin ini riddle u,u

    1. Sebenernya udah ada kok jawabannya di atas ๐Ÿ˜€
      Jawabannya adalah, di sana ada jejak kaki masuk, tapi nggak ada jejak kaki keluar. Berarti… #lanjutkansendiri
      Btw saya bukan yang bikin riddlenya loh :p cuma ada banyak riddle kayak gini di internet tapi kebanyakan pada copas dari satu sumber aja jadinya saya ketik ulang pake bahasa sendiri(?)

  5. Itu tape recordernya bukannya harus di rewind dulu ya baru bisa didengerinn? Tapi kok itu neken tombol play langsung bisa, artinyaa yg rewind ituu…..

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s