[SHARE] Riddle #6

Hari sudah gelap. Udara dingin meliputi seluruh kota New York yang kini bersalju. Salju yang menutupi kota besar itu saat ini mungkin bisa diibaratkan sepekat salju yang menutupi Atlantika. Kebanyakan penduduk memilih berdiam di rumah ketimbang keluar dan harus bergelut dengan udara dingin dan kabut tebal yang berpotensi membuat semua penduduk terserang flu berat. Pokoknya, malam ini, New York terlihat lebih sepi daripada biasanya.Namun itu belum seberapa parah. Kondisi paling parah dapat dilihat di pinggiran kota New York, tempat perkampungan penduduk yang dapat dibilang cukup ‘liar’ berderet. Perkampungan itu kini ditutupi kabut supertebal dan diliputi udara dingin menusuk tulang. Beberapa lampu di rumah-rumah yang berderet tampak sudah dimatikan, pertanda pemiliknya lebih memilih untuk tidur kendati jam masih menunjuk angka delapan. Tampaknya kantor-kantor yang biasanya bekerja saat malam diliburkan. Itulah mengapa, kebanyakan penduduk sudah bisa bersantai di rumah masing-masing dengan perapian hangat dan segelas cokelat panas serta selimut supertebal menutupi tubuh mereka yang memutih kedinginan.

Seperti Detektif Cohen. Cohen–begitulah ia lebih senang disapa–merupakan salah satu dari puluhan penduduk yang tinggal di perkampungan penduduk pinggiran kota New York. Ia merasa sangat lelah malam ini karena otaknya habis digunakan untuk menangani sebuah kasus yang cukup rumit siang tadi. Kasus itu akhirnya bisa diselesaikan setelah berbulan-bulan tergantung begitu saja karena minim keterangan dari saksi. Cohen merasa sangat lega selepas berakhirnya kasus rumit yang memusingkan otak itu. Asistennya, Lucie Andersen, juga sudah ia suruh pulang dan beristirahat, setidaknya untuk jangka waktu dua hari ini. Cohen ingin rehat sebentar dari pekerjaannya yang menuntut kerja keras otak. Ia sudah bertekad, dua hari ini, ia tak akan menerima tawaran kerja dahulu, kendati mungkin tawaran yang akan ia terima bisa mendatangkan keuntungan berlipat ganda. Bagi Cohen, ia sudah cukup bahagia dengan kehidupannya yang sekarang–tanpa uang yang berlimpah ruah. Toh, vakum selama dua hari tak akan membuatnya menderita banyak kerugian, pikirnya.

Untuk itulah, siang tadi, selepas menutup kasus di pengadilan, Cohen mampir ke toko buku dan membeli lima buah novel tebal yang kira-kira setebal 600 halaman per buku. Buku-buku semacam itu selalu menjadi pelarian Cohen kala ia stres dan jenuh. Namanya juga detektif, pasti tak bisa berhenti berpikir juga. Karena itulah, buku-buku tebal yang dibelinya itu kebanyakan bertema detektif–hanya ada satu yang tidak bertema detektif, melainkan komedi dewasa. Cohen belum pernah membaca novel komedi dewasa sebelumnya, tapi ia memutuskan untuk mencoba membaca buku semacam itu karena kepopuleran buku itu di kalangan orang-orang seusianya belakangan ini. Ia ingin tahu, apakah buku itu bisa lebih manjur untuk melepas stres yang dideritanya ketimbang buku-buku detektif favoritnya.

Karena sudah penasaran, ia memutuskan membaca novel komedi dewasa itu terlebih dahulu. Maka, setelah membuat segelas kopi panas, ia membawa novel itu ke kursi empuk dekat perapian favoritnya. Kursi itu terletak bersebelahan dengan jendela kaca besar–satu-satunya jendela yang ada di rumahnya. Cohen biasanya senang melihat pemandangan melalui jendela itu, terutama saat malam hari karena lampu-lampu kuning di depan rumah penduduk selalu menghasilkan pemandangan yang unik dan menarik. Tapi malam ini, rasanya tidak ada yang bisa dilihat. Maka, ditutupnya tirai jendela dan mulai membaca setelah menyelimuti sekujur tubuhnya dengan selimut tebal.

Buku itu ternyata tidak cukup menghibur. Baru sampai di halaman kelima, Cohen sudah mulai bosan. Baginya, buku itu sama sekali tidak lucu dan tidak menghibur, beda sekali dengan novel-novel detektif yang biasa dibacanya. Tapi, demi melihat kejutan apapun yang ada di tengah-tengah buku, ia pun memaksakan diri meneruskan membaca sambil sesekali menyeruput kopi panasnya yang serasa membakar lidah.

Tiba-tiba, saat sedang serius membaca, terdengar sebuah teriakan kencang dari luar rumah. Kencang sekali, sampai-sampai Cohen terlonjak kaget dan berdiri secara spontan dari kursinya.

“Teriakan apa itu?” gumamnya. Naluri detektifnya muncul. Ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Maka, ditunggunya selama beberapa saat barangkali teriakan kedua akan terdengar. Namun, setelah menunggu selama kurang-lebih tiga menit, teriakan kedua yang ditunggu-tunggunya tak kunjung terdengar. Heran, kalau terjadi kejadian menghebohkan, masa hanya terdengar satu teriakan saja dalam jangka waktu tiga menit? Ini aneh.

“Heran, apa benar tidak ada apa-apa?” gumamnya lagi, “Lantas teriakan apa tadi itu? Aku tidak mungkin berhalusinasi. Teriakan itu begitu keras dan jelas, dan aku tahu halusinasi tidak akan sejelas itu.”

Didasari rasa penasaran yang mendalam, Cohen mengalahkan semua niatnya untuk beristirahat (bahkan ia juga mengalahkan niatnya untuk vakum selama dua hari dari dunia perdetektifan) dan menelepon Lucie, asistennya. Sesungguhnya ia agak tidak enak terhadap Lucie, karena tadi ia sudah terlanjur berkata bahwa ia akan memberikan libur dua hari. Tapi, kalau ada kejadian aneh seperti tadi, Cohen tidak bisa tenang.

Maka, setelah nada sambung yang cukup lama, Cohen segera menyambar Lucie dengan berbagai perintah.

“Tolong cari tahu mengenai kejadian terbaru di Mapple Street. Tadi aku mendengar teriakan seorang wanita, tampaknya berada di jalan yang sama dengan rumahku. Kabari aku setelah kau mendapatkan informasi,” katanya tanpa menunggu Lucie menjawab sapaannya terlebih dahulu.

“Detektif, apa ini tidak terlalu–” suara Lucie terdengar ragu.

“Sudahlah, lakukan saja! Aku akan melipatgandakan gajimu setelah ini,” Cohen berjanji hanya agar Lucie mau melaksanakan perintahnya.

“Baiklah, Detektif,” Lucie bergumam ragu, “Saya akan segera mencari tahu melalui agen di sekitar Mapple Street. Setelah mendapatkan informasinya, saya akan menelepon kembali agar Detektif bisa segera ke sana.”

Setelah mengatakan hal itu, Lucie menutup telepon. Cohen menunggu dengan cemas tanpa mempedulikan lagi buku komedi dewasa yang baru dibacanya sampai halaman 27 tadi. Ia ingin segera tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadap siapapun-tetangganya-yang-baru-saja-berteriak.

Tak lebih dari lima menit kemudian, Lucie sudah menelepon Cohen kembali. Cohen mengangkat telepon itu dengan antusias dan langsung bertanya apa informasi yang didapatkan asistennya itu.

“Baru saja terjadi pembunuhan di asrama Heaven’s Door Company. Korbannya adalah salah satu kepala bagian akuntansi yang perempuan. Cepat ke sana, Detektif. Saya akan segera menyusul,” begitulah kata Lucie dengan kecepatan bak kereta api ekspres sebelum mematikan telepon dalam sekali sentak. Cohen segera berlari kencang keluar tanpa mempedulikan bajunya yang masih belum diganti. Apapun yang terjadi, yang penting adalah menangkap basah pelaku sebelum ia pergi. Cohen tidak boleh menyia-nyiakan waktu hanya untuk memperhatikan penampilan. Citra seorang detektif tidak akan tercoreng gara-gara ia salah berpenampilan dalam menyelidiki suatu kasus. Kecuali bila ia mengenakan pakaian renang saat pesta. Nah, itu lain perkara.

Dengan cepat, ia berlari menuju asrama HDC alias Heaven’s Door Company, perusahaan plastik yang cukup besar. Asrama itu meliputi dua gedung yang dihubungkan oleh jembatan pendek melalui balkon kedua gedung. Cohen langsung tahu di gedung mana pembunuhan tersebut terjadi karena terlihat salah satu kaca gedung dipecahkan dan beberapa tetes darah tampak menyembur keluar. Ah, sebenarnya bukan hanya satu kaca dipecahkan. Tapi kaca lain yang terletak berhadapan dengan kaca itu di gedung yang berbeda juga dipecahkan. Hanya saja, kaca itu tidak dihiasi darah. Tanpa berpikir terlalu lama, Cohen segera melompat masuk melalui kaca yang dipecahkan tersebut dan melihat seorang wanita berpakaian piyama tergeletak tak bernyawa dengan perut dipenuhi bekas tusukan pisau dan mulut disumpal tisu. Tak hanya itu, ternyata, ada 2 orang lainnya yang berdiri di dekat jenazah.

Kedua orang itu satu laki-laki dan satu perempuan. Keduanya tampak kaget saat melihat Cohen masuk karena posisi mereka tengah berebut pisau yang berlumuran darah. Mata mereka terbelalak lebar dan mulut mereka spontan ternganga.

Cohen tersenyum simpul dan bersuara dengan tenang. “Nah,” katanya, “Sekarang jelaskan, siapa di antara kalian pelaku dari semua ini.”

***

Setelah Lucie dan beberapa kru bergabung bersama Cohen, barulah mereka menginterogasi kedua orang yang ditemukan berebut pisau di samping jenazah tadi. Kedua orang itu rupanya bernama Joseph (yang pria) dan Tessa (yang wanita). Mereka berdua adalah sesama pekerja di HDC, dan keduanya adalah bawahan korban yang bernama Christina tersebut di bidang akuntansi. Mereka diwawancarai sekaligus dan bukannya secara terpisah.

Tessa yang merupakan bawahan sekaligus teman Christina adalah yang ditanyai pertama kali. Ia menjawab langsung tanpa ragu. “Aku pihak bersih di sini. Joseph-lah pelakunya! Aku tadi sedang bersantai di kamarku saat kudengar teriakan Christina dan memutuskan untuk mengintip apa yang terjadi di kamar Christina. Kebetulan kamar kami berdua berhadapan. Kau bisa melihat kaca kamarku di sana yang dipecahkan, kan? Itu karena aku segera berlari ke sini untuk mencegah Joseph membunuh Christina! Aku kemudian merebut pisau dari tangan Joseph yang tengah menancap di perut Christina. Pria itu memang sudah lama bermasalah dengan Christina, tapi aku tidak menyangka ia akan berbuat hal senekad itu. Ia mantan pacar Christina, dan rumornya, ia hanya berpacaran dengan Christina supaya mendapatkan kenaikan pangkat karena pemilik HDC adalah ayah Christina. Semua itu terbukti ketika ia ketahuan berselingkuh dengan salah seorang rekannya. Setelah mengetahui hal itu, Christina segera memutuskannya. Tapi ia tidak pernah berhenti mengganggu Christina. Gadis itu bahkan sering curhat kepadaku mengenai betapa mengesalkannya tingkah Joseph. Aku menyarankan agar ia mengabaikan saja Joseph, dan tampaknya saran itu dilakukannya. Karena diabaikan, Joseph jadi marah. Tanya saja pada semua pekerja kantor. Beberapa di antara mereka sering memergoki Joseph melakukan tindakan kekerasan kepada Christina. Aku tidak berbohong. Kau bisa membuktikannya pada rekan-rekan kami.”

“Bohong!” Joseph sudah menyela duluan dengan tak terima dan gelagapan, “Dialah yang bersalah! Aku inosen dan sama sekali tidak bersalah! Bahkan, tanpa sidik jari di pisau itu, kalian bisa menyatakanku bersih! Aku datang ke sini setelah mendengar teriakan Christina. Kamarku ada tepat di sebelah kamar Christina dan kebetulan pintu kamarnya tidak terkunci, jadi aku masuk saja dan melihat Tessa sedang menusuk Christina dengan pisau itu! Lalu kurebut pisau itu dan kami berdua berakhir tertangkap basah dalam posisi yang sama sekali tidak menguntungkan! Tessa terkenal pengkhianat. Aku yakin dia sebenarnya menginginkan kekuasaan Christina makanya dia membunuh Christina. Aku sih tidak heran dia mampu berlaku seperti itu. Dari dulu mukanya sudah kelihatan kejam. Banyak yang tahu kalau dia suka memanfaatkan orang! Kalian jangan mempercayainya! Ia bohong! Percayalah padaku saja! Aku sungguh-sungguh berkata jujur!”

“Dia bohong!” Tessa menyela.

“Tidak, aku jujur!” Joseph berkeras, “Kamu yang bohong! Akuilah!”

“Jangan memfitnah!” Tessa berteriak, “Kamu yang harus mengakui perbuatanmu!”

“Apa yang harus kuakui? Aku tidak berbuat apa-apa! Kamulah yang bersalah!”

“Kamu bohong!”

“Kamu yang bohong!”

“CUKUP!” Lucie menyela perdebatan sengit antara dua tersangka itu, “Sekarang bagaimana? Kami harus berpikir dengan kepala dingin supaya bisa mengetahui siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas semua perkara ini. Toh sidik jari kalian berdua sama-sama ada di pisau itu, jadi kami harus berpikir lebih keras. Tidak sesimpel hanya dengan tes sidik jari.”

“Ya, Lucie benar,” Cohen membenarkan, “Sekarang biarkan aku berpikir.”

Hening sesaat, kemudian Lucie menyela dengan sebuah pertanyaan. “Tunggu dulu… Joseph, tadi kau bilang Tessa pengkhianat. Apa kau punya bukti untuk semua itu atau orang-orang yang bisa menjamin hal itu?”

Joseph gelagapan sejenak sebelum menjawab, “Banyak yang bilang!”

“Cukup, cukup,” Cohen langsung menyela dengan wajah seolah baru saja mendapat pencerahan, “Lucie, kurasa interogasinya sampai di sini saja. Aku tahu siapa yang berbohong.”

***

Yap, itu dia riddle keenam yang sebenarnya cukup mudah._. Akhirnya proses mengetik ulang dan menambah-nambahi detil tak penting selesai juga #:-s oh ya, tipsnya, jangan terlalu musingin detil nggak penting. Banyak detil nggak penting yang kutambah-tambahin sendiri di sini biar ruwet, Fokus aja ama perkataan dan alasannya tersangka. Ayo… pertanyaannya :

1. Siapa pelaku sebenarnya dari semua kejadian ini?

Ditunggu jawabannya di comment box^^

Advertisements

39 thoughts on “[SHARE] Riddle #6

  1. Hamba datang! Ini apaan yak kok panjang banget. Pusing bacanya aduh mata hamba berkunang-kunang, sebentar lagi hamba mau pingsan. Gak gak gak kuat mikirnya (orang baca aja gak kuat palagi mikir). Yaudah hamba tidur aja lah. Semoga tidur hamba nyenyak /(.-.)\

  2. Rumit @_@ asal jawab deh, pelakunya tessa, dia bunuh christina terlebih dahulu, lalu kabur keluar sambil memecahkan jendela kamar, dan teriakan yang mereka dengar bukan teriakan christina, tapi teriakan tessa. Mayat christina kan mulutnya disumpal, ._.

  3. Hai aku baru nemu riddle riddle di blog ini telat banget ya :”)
    tapi berhubung belum ada reader yg ngejawab bener, aku mau coba jawab deh.

    Joseph dan Tessa, mereka berdua bersekongkol buat ngebunuh Christina. Keduanya mengklaim mereka langsung datang begitu mendengar teriakan Chistina padahal jelas jelas mulut Christina tersumpal tissue.
    Tessa bilang kalau Joseph itu mantan pacar Christina dan mereka putus krn Josephnya ketahuan sellingkuh. Sedangkan Joseph bilang Tessa itu “pengkhianat”. Jadi ada kemungkinan kalau Tessa itu sebenernya selingkuhan Joseph dan mereka ngebunuh Christina karena alasan yang sama :
    Mereka berdua sama sama menginginkan posisi tinggi di HDC. Keduanya punya hubungan yang dekat dgn Christina, gak bakal susah kalau mereka mau minta naik jabatan. Sayangnya mereka berdua gagal krn hubungan perselingkuhan mereka keburu ketahuan. Atas dasar kecewa dan kesal, akhirnya mereka berdua ngebunuh Christina….

    Oke, mungkin ini sok tau banget wkwk tapi begitulah analisis yang aku dapet=_=

      1. waaah jadi malu /.\ wkwk

        Tessa itu punya mental disorder atau gangguan kejiwaan apa pun itu. Dia gak pernah sadar kl dia ngebunuh Christina, ketika dia “terbangun” dia kaget ngeliat Christina yang sudah tertusuk dan dia teriak.Dan teriakan itulah yang didengar Joseph maupun detektif Cohan….

        oke ini ngelantur.. another clue dong penasaran nih T___T

      2. ini juga masih belum benar πŸ™‚
        hmmm clue ya?
        Gini deh, perhatiin di bagian kesaksiannya aja, trus cocokin ama latarnya.. eheheh dicoba lagi deh^^

  4. “Kebetulan kamar kami berdua berhadapan. Kau bisa melihat kaca kamarku di sana yang dipecahkan, kan? Itu karena aku segera berlari ke sini untuk mencegah Joseph membunuh Christina!” that’s weird menurut aku, seorang wanita ‘nyebrang’ ke gedung sebelah lewat jendela yang kacanya dia pecahin

    atau jgn jgn pelakunya Lucie… HAHAHA aku mencurigai banyak hal</3

  5. Waktu Joseph ditanya tentang bukti kalau Tessa itu penghianat, dia kyak gugup gitu. Jadi curiga πŸ˜€
    Trus Tessa bilang kalau Joseph sering mlakukan tindak kekerasan pada korban. Motifnya bisa jadi karena marah diputusin dan pengen ngambil posisi si Christina itu .-.
    Asal jawab xD

  6. Mungkin ya ini…
    Pelakunya Tessa,kenapa ? Karena Tessa terkenal dengan “penghianat” dan Tessa adalah teman curhat dari si boss,mungkin si Tessa sakit hati ketika mendengar curhatan dari si boss,dan mungkin Tessa naksir Joseph,dan pernyataan Joseph yg mengatakan kalau Joseph sedang merebut pisau Tessa dan mereka terpergok detektif Cohan mungkin benar. Itu analisa saya #CMIIW ditunggu jawabanya gan ^_^

  7. Aku mau jawabb..
    aku ngutip dulu kata2 Tessa, ya

    β€œAku pihak bersih di sini. Joseph-lah pelakunya! Aku tadi sedang bersantai di kamarku saat kudengar teriakan Christina dan memutuskan untuk mengintip apa yang terjadi di kamar Christina. Kebetulan kamar kami berdua berhadapan. Kau bisa melihat kaca kamarku di sana yang dipecahkan, kan? Itu karena aku segera berlari ke sini untuk mencegah Joseph membunuh Christina! Aku kemudian merebut pisau dari tangan Joseph yang tengah menancap di perut Christina….”

    Pelakunya Tessa
    nah katanya dia ngedenger suara christina yang teriak, dan dia penasaran sama apa yang terjadi, kan? Terus si Tessa malah bilang kalau kaca kamarnya si Tessa ini dipecahkan untuk mencegah joseph membunuh christina, lha kok si Tessa tau kalau si christina teriak karena dibunuh joseph? masalahnya si Tessa tau itu saat diluar kamar si korban kan? Menurut saya si Tessa ga pandai bikin alibi untuk menutupi bahwa ia pembunuhnya /digebuk tessa/ yah segitu saja yang saya sampaikan deh..

    1. Benar, pembunuhnya memang Tessa. Tapi alasannya masih salah πŸ˜€ sebenernya bisa dicoba lagi dengan memperhatikan bagian paragraf-paragraf awal riddle ini~ *hayo clue nih*

      Oke, selamat mencoba^^

  8. pelakunya katanya kan Tessa
    Mau nanya dulu sebelum nya, si cohen ini kan katanya masuk ke kamar yang kacanya di pecahin, nah masuk ke kamar yang mana? Si Tessa apa Christina? Kan kamar mereka berhadepan.
    Jangan” si cohenny tuh masuk ke kamar si Tessa dan liat di Christina di bunuh di sana (?)

      1. Sebenernya rada aneh di bagian yang 1 kaca pecah ada darah satu lagi ngak

        Jangan” si Tessa ini kayak kelempar suatu barang yang ke buat kaca jendela dia sama Christina pecah dan pas itu Christina lagi di deket jendela jadinya kena barang itu dan berdarah, makanya pas itu Christina teriak (?)
        Trus abis di pecahin si Tessa langsung manjat bunuh Christina (?)

        Trus 1 lagi pas si Tessa bilang dia lari ke kamar Christina. Kok bilang nya lari bukan manjat?
        #bingung #pusing ._.

  9. Huaa bingung >< atau mungkin itu sebenernya teriakan christina karena teriakan itulah Tessa menyumpal mulut Christina lalu membunuhnya, terus memecahkan kaca jendela/?

  10. Coba nebak ya. Pelakunya memang tessa. Dia berbohong ketika bilang dia mengintip semua yang terjadi dari jendela kamarnya bagaimana bisa? sementara suasana luar gelap dengan lampu-lampu yang dimatikan dan kabut tebal :v

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s