What Happened?

Heyoo… Maaf baru muncul lagi sekarang setelah sekitar semingguan menghilang 🙂

Anyways, ini bukan cerpen atau posting yang penting. Ini cuma cuap-cuap aja, yang mungkin bagi sebagian (besar) orang bisa dianggap ‘nggak penting’ atau bahkan ‘luar biasa nggak penting’. Disebut ‘sampah’ juga boleh lah ya, terserah.

Kenapa judul posting ini “What Happened?”?

Pertanyaan bagus. Di sini, saya mau ngebahas soal kelanjutan dari posting-posting yang sempat saya post di blog ini sebelumnya. Sampai di sini, sudah ada yang merasa posting ini useless? Oke, silakan close tab atau go to website lain atau tekan tombol back di bagian atas jendela browser kalian.

Saya bahas satu-satu aja, ya. Dari yang paling mendesak sampai yang sebenarnya nggak penting-penting amat (tapi karena posting ini secara universal jadi mau gak mau harus dibahas kalo nggak mau disangka diskriminasi) :

  1. Little Stories of Ours alias LSOO. Pernah salah satu teman saya nanya kenapa cerita saya yang satu ini mandek dalam posisi yang tidak jelas, terombang-ambing, dalam waktu yang lama, dan sama sekali tidak ada keterangan. Banyak di antara pembaca (yang membaca juga gara-gara saya paksa aja biar viewers nambah *duilee* *nggak punya malu*) malah sudah lupa ceritanya atau akhir cerita dari chapter sebelumnya. Yah, saya sih cuma bisa senyam-senyum aja ya. Habis, sebenernya chapter 13 itu udah nyaris kelar. Ketika kalian membaca kalimat sebelumnya, tolong jangan soroti bagian “nyaris kelar”-nya. Soroti bagian “SEBENARNYA”. Itu berarti sekarang nggak benar, kan? Nggak benarnya apa? Ya, ceritanya panjang nih ya. Jadi, dulu, jauh dari saat ini, LSOO 13 itu udah kelar lebih dari setengahnya. Bisa dikategorikan nyaris selesai. Tapi tiba-tiba handphone saya ngehang. Nah, ada yang bertanya-tanya, apa hubungannya LSOO sama handphone saya? Yap, jawabannya adalah, karena saya nulis LSOO di WTG handphone saya 😐 Nah, si benda laknat yang baru aja kita bicarakan itu tiba-tiba nggak bisa dinyalain dan perlu diservis sampai saya harus kehilangan semua memori baik device memory maupun media card memory. Alasannya ada banyak. Salah satunya adalah karena media card saya ngerror juga, jadi nggak bisa dibuka. Waktu pertama kali diberitahu, sebenarnya saya nggak kepikiran soal LSOO-nya, jadi saya langsung bilang “ya udahlah nggak apa-apa”. Ehh.. begitu dibalikin, baru nyadar saya. LSOO-nya ilang semua. Gitu deh ceritanya. Jadi sekarang harus diulang dari awal lagi dulu, dan itu bikin saya malas. Jadi, dari situlah asal mula semua penundaan dengan ribuan alasan yang saya buat. Maklumi aja lah ya. Tapi LSOO akan tetap saya lanjutin kok. Malas juga nggantung-nggantung cerita tanpa ending (walaupun endingnya masih lama, hiks)
  2. Mystery of the Orphanage. Moga-moga banyak yang udah nungguin cerita kolaborasi ini. Di prolog memang masih membingungkan, tapi nanti chapter satunya udah mulai seru kok. Saya, sebagai proofreader dari chapter pertama *cielah gayanya* yang baru setengah jadi, menjamin bahwa kemungkinan kalian nggak kecewa (jangan tanya kenapa saya menjamin KEMUNGKINAN.. kalian semua kan tahu kalo saya orangnya gaje). Saya sendiri nantinya akan membuat chapter dua, dan semoga chapter duanya juga nggak mengecewakan. Sementara ini, chapter satu belum selesai, masih rada panjang. Tapi kita berharap ajalah semoga Viona bikinnya nggak lama-lama amat 🙂
  3. Riddle. Di sini, duduk permasalahannya adalah, saya suka membaca riddle berbahasa Inggris, bukannya Indonesia. Sebagai owner blog yang setengah-setengah dalam menjalankan blog nggak mutunya ini, saya tentu malas mentranslate semua riddle itu ke Bahasa Indonesia dengan memilih kata-kata yang tepat. Semua riddle yang udah pernah saya kasih itu adalah yang aslinya BI semua, jadi saya tinggal asal copas aja. Kecuali riddle keenam, itu terjemahan plus ulur-uluran saya sendiri. Hasilnya apa? Jadi gampang, kan? Nggak sesusah riddle-riddle sebelumnya, kan? Because what? Dibaca dalam B. Inggris bikin kalian jadi fokus sama hal lain yang sebenernya nggak perlu dipusingin. Lah, kok bisa gitu? Ya iyalah, orang dibahasa indonesia-in jadi kehilangan suasana membingungkannya. Jadi gampang, deh. Ya udah, nanti kalo ada yang masih mau, saya kasih riddle berupa code breaking aja ya, yang nggak rancu dan sama aja walau ditranslate ke bahasa manapun 🙂
  4. Stacy’s Curse. SC? Yelah.. Ini mah cerita yang dibikin kalo lagi ada ide aja. Jangan anggep utang, dong 😐

Ya udah, segitu aja. Moga-moga kalian yang memutuskan buat membaca posting ini sampai akhir nggak protes apalagi ngebash. Sekian.

Advertisements

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s