[CHAPTER THIRTEEN] Little Stories of Ours

LSOO5

Cover by Cindy Handoko

Copyright © 2014 by Cindy Handoko

Previous chapters : 1 || 2 || 3 || 4 || 5 || 6 || 7 || 8 || 9 || 10 || 11 || 12 

Tiga Belas

Stephanie

Terlalu banyak hal yang masih terasa gelap. Terlalu banyak rahasia yang belum tersingkap. Dan aku masih berdiri di sini, terdiam dengan sejuta harap.
 

***

“ANJRIT! Rumah lo keren banget!”

Kalimat itu adalah kalimat pertama yang diteriakkan Jerry keras-keras begitu menginjakkan kaki di rumahku. Sebenarnya, sih, rumahku tidak bagus-bagus amat. Justru sebaliknya, di antara lebih dari selusin rumah yang tergabung dalam kompleks yang sama, rumahku termasuk salah satu di antara lima rumah terjelek. Mungkin rumah Jerry jauh lebih jelek daripada ini atau semacamnya. Entahlah, aku sendiri belum pernah masuk ke sana.

Sesungguhnya, aku merasa reaksinya terhadap rumahku sangat lucu, mengingat reaksi pertama yang ia tampilkan saat aku mengusulkan ide padanya untuk menginap di rumahku begitu berbeda dengan yang saat ini ia tampakkan terang-terangan. Saat itu, air mukanya langsung berubah aneh dan ia bertanya dengan nada suara yang sama anehnya dengan ekspresi wajahnya.

“Lo gila atau sinting, sih? Kepala lo habis kebentur apaan?”

“Cuma ngusul,” jawabku sambil berdecak kesal, “Mau nggak? Daripada lo tidur di rumah sakit terus.”

“Dulu lo menolak gue anter ke rumah karena takut dikira cewek nggak bener sama tetangga. Sekarang, lo ngajak gue nginep di rumah lo. Nah, pasti saraf otak lo habis mengalami kerusakan serius,” ujarnya dengan nada sarat ejekan.

“Sejak kapan seorang Jeremy Ericson membicarakan hal biologis soal saraf otak?” aku balas mengejek, “Gue waras, kok. Dan ini semua murni gue lakukan karena gue—maaf—kasihan sama lo.”

“Gue nggak suka dikasihani,” jawabnya singkat namun lugas.

“Iya, kan gue udah bilang maaf sebelumnya,” sanggahku, “Masalah itu, gue udah pikirkan. Rasanya nggak masalah, asal lo nggak beneran melakukan hal nggak bener ke gue.”

“Gue nggak bisa jamin,” jawabnya dengan kurang ajar.

Aku berdecak kesal sambil memutar kedua bola mata, “Gue yakin lo bukan mesum yang suka memanfaatkan kesempatan, kok. Lagian, kalo lo sungguhan nginep di rumah gue, kamar lo bakal terletak di lantai satu, sementara kamar gue di lantai dua. Nggak akan ada apa-apa yang terjadi.”

“Gimana lo bisa yakin?” tanyanya dengan nada menantang, “Gimana kalo gue tiba-tiba dateng ke kamar lo malem-malem dan—“

“Udah, udah! Nggak usah diterusin!” aku buru-buru memotong perkataannya karena tahu apa yang akan dikatakannya setelah itu bukan hal yang pantas didengar dan kuyakini bakal membuatku langsung bergidik ngeri membayangkannya. “Intinya, lo mau apa nggak? Kalo lo orang baik, lo pasti bisa menahan apa-pun-itu-yang-tadi-mau-lo-bicarain.”

“Ya gue nggak jamin. Soalnya, di rumah itu, lo cuma tinggal sendirian. Dan lo cewek, sementara gue cow—“

“Udah gue bilang, nggak usah diterusin!” aku memotong perkataannya lagi dengan emosi, “Ini bukan waktunya debat, tau. Gue udah mau buru-buru balik ke kelas, jadi lo harus cepet mutusin iya atau enggak.”

“Soal tetangga gimana?” ia bertanya lagi.

“Itu gampang gue urusin. Lagian, tetangga gue nggak pernah bener-bener merhatiin, kok. Banyak yang nggak saling kenal, malah,” jawabku.

“Terus, ngapain lo waktu itu ketakutan dicap cewek nggak bener?” tanyanya menantang.

Iya juga, ya. Kalau dipikir-pikir, kenapa dulu aku ketakutan?

Tidak mau mengakui kekonyolanku, aku pun hanya membuang muka saja. “Bukan urusan lo. Sekarang cepet putusin aja, deh.”

“Ya udah, bisa gue pikirin lagi,” jawabnya acuh-tak-acuh, “Nanti gue putusin sepulang sekolah. Gue bakal ada di sekitar sini sampe pulang. Lo temuin gue lima menit setelah bel pulang bunyi. Jangan telat.”

“Enak aja merintah-merintah,” cibirku tak terima, “Yang butuh kan elo, harusnya lo yang ngedatengin gue, dong.”

“Yang ngusul kan elo,” jawabnya santai, “Pokoknya, kalo mau denger jawaban dari gue, lo yang harus dateng.”

Baru saja aku membuka mulut hendak memprotes, suara cempreng cowok itu sudah menyela duluan.

“Keputusan Jerry tidak bisa diganggu gugat.”

Aku menatap wajah menyebalkannya dengan raut muka depresi, kemudian mendesah pelan, “Di mana-mana, adanya keputusan juri tidak bisa diganggu gugat.”

“Halah, juri sama Jerry apa bedanya?” jawabnya songong, “Lagian, ini peraturan baru. Lo harus nurut.”

Menyadari aku tak bakalan bisa membantah cowok itu tanpa berakhir dengan perdebatan, akhirnya aku mengiyakan saja permintaannya yang rada maksa itu—ralat, maksa banget malah. Jadilah, siang tadi, setelah bel pulang sekolah berbunyi nyaring, aku buru-buru membereskan semua barangku yang berserakan di atas meja dan berlari keluar menuju warung Mang Usep untuk menemui Jerry.

“Lo telat,” katanya dengan wajah datar begitu aku sampai di hadapannya, “Menurut jam gue, lo udah telat tiga menit dua puluh enam detik.”

Aku mendesah putus asa menghadapi kelakuan cowok itu. Kenapa dulu aku bisa berpikiran untuk menjadikannya sahabat, ya? Sebab sungguhan, cowok bertampang sengak itu menyebalkan banget. “Terserah lo, lah,” jawabku dengan suara yang sama putus asanya dengan desahan yang baru saja kukeluarkan, “Sekarang, cepet putusin aja.”

“Oke,” jawabnya singkat sekaligus santai.

“Jadi, apa keputusannya?”

“Gue tadi udah jawab, kan?”

“Apa?”

“Oke.”

Aku melongo. “Itu artinya iya atau enggak? Kenapa tampang lo bilang enggak, tapi lo bilang oke?”

“Tampang gue emang kayak gini terus setiap saat, goblok,” gumamnya datar, “Udah lah, yang penting gue kan udah ngasih jawaban. Asal lo kasih makan gue nasi tiap pagi, siang, malem, nyediain kamar mandi dan kamar tidur yang layak, dan bersedia ngebangunin gue setiap pagi—dengan catatan, semuanya gratis—gue sih oke-oke aja.”

Tampangku langsung berubah syok. “Ya ampun, tamu macam apa lo? Kriterianya banyak amat. Lo pikir duit bulanan gue sanggup buat ngasih lo makan pagi, siang, malem? Gue aja jarang makan pagi pake nasi, kenapa lo harus makan pagi, siang, malem pake nasi?”

Muka Jerry berubah depresi dalam beberapa milidetik. “Dasar lemot lo. Jelas-jelas gue cuma bercanda soal ngasih makan itu, kenapa lo tanggepin serius?”

Aku mencerna perkataannya selama beberapa detik, dan langsung menghembuskan nafas lega begitu mengetahui maksud perkataan itu. Cuma bercanda rupanya. Baru saja aku merasa lega karena ternyata cowok songong itu hanya bercanda mengenai kriterianya, dia sudah menyambung lagi dengan nada datar yang menyebalkan.

“Tapi soal nyediain kamar mandi dan kamar tidur yang layak sama ngebangunin gue setiap pagi itu nggak bercanda,” ujarnya. Aku spontan melongo lagi, dan dia menambahkan, “Itu seratus persen serius.”

“Kamar mandi dan kamar tidur layak, okelah. Tapi kenapa gue harus ngebangunin lo kalo lo telat bangun?” protesku sengit.

“Ya jelas, dong. Memangnya lo mau kita berdua telat masuk sekolah? Kalo gue sih udah biasa, tapi gue yakin lo nggak biasa,” jawabnya tanpa dosa.

“Siapa bilang gue mau nungguin lo buat berangkat sekolah?” aku menyangkal cepat.

“Stephanie yang pintar,” Jerry berujar seraya memberi penekanan berlebihan pada kata pintar, “Memangnya kalo lo keluar rumah duluan, siapa yang bakal ngunci pintu rumah lo? Lo mau nitipin kuncinya ke gue? Nggak takut ilang?”

Sialnya, aku harus mengakui bahwa Jerry benar. Aku hanya punya satu kunci rumah dan gara-gara itu, terpaksa aku harus menurut padanya.

“Ya udah, ah. Terserah lo aja. Asal gue nggak perlu ngasih lo makan—sumpah, lo jadi kayak binatang peliharaan aja kalo disebut gini—gue nggak apa-apa,” jawabku pada akhirnya. Jerry tersenyum puas.

“Gue ke rumah lo lusa sepulang sekolah,” ujarnya, “Hari ini, gue harus siap-siap dulu, dan besok, gue harus menyelesaikan beberapa urusan dengan pihak rumah sakit. Pokoknya, lusa nanti, lo tungguin gue dulu sebelum pulang, dan kita ke rumah lo bareng-bareng.”

Dan di sinilah kami sekarang.

Jerry masih saja sibuk mengagumi setiap detil rumahku yang bahkan belum pernah kuperhatikan sampai seteliti itu sebelumnya, sementara aku berjalan menuju kamar yang rencananya akan ditempati Jerry. Kamar itu adalah kamar tamu. Ukurannya lumayan besar, walaupun tidak sebesar kamarku maupun kamar orang tuaku. Kendati demikian, AC di kamar itu sering rusak. Jadi, aku harus mengecek terlebih dahulu apakah AC itu berfungsi dengan baik sekaligus merapikan sebentar kamar itu sementara Jerry masih sibuk dengan dunianya sendiri.

Begitu aku masuk ke dalam kamar, nuansa putih bercampur biru muda langsung menyambut mataku. Dipikir-pikir, aku sudah jarang sekali masuk ke kamar ini, jadi aku agak kurang terbiasa dengan lampu di kamar ini yang sedikit lebih terang daripada lampu di kamar-kamar lainnya—termasuk kamarku. Oke, mungkin lampu-lampu itu sama terang, hanya saja, karena kamar ini didominasi warna cerah, pencahayaan di sini jadi terlihat dua kali lebih terang daripada yang sebenarnya. Berbeda dengan kamarku yang lebih didominasi warna abu-abu gelap.

Aku melangkah menuju meja rias kosong yang terletak di sudut ruangan. Meja rias itu berhubungan langsung dengan lemari kayu yang lumayan rendah. Di atas lemari itulah terdapat remote AC yang sedang kucari-cari.

Aku meraih remote itu dan memeriksa monitornya untuk memastikan angka penunjuk suhunya terbaca dengan jelas, kemudian menekan tombol untuk menghidupkan AC sambil mengarahkannya pada AC di seberang kasur yang belum berseprai.

Lampu indikator di AC tersebut perlahan menyala, namun AC itu sama sekali tidak mau terbuka. Aku menyipitkan mata dan memperhatikan benda bobrok itu. Kucoba mematikan dan menyalakan AC sekali lagi, namun hasilnya sama saja.

Aduh, rusak sungguhan ternyata.

“Jer,” aku memanggil, setengah berteriak karena tidak tahu cowok itu ada di mana.

“Ya?” terdengar jawabannya dari jauh, “Anjrit, WC lo keren parah!”

Jadi dia sedang ada di WC.

Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah cowok itu yang kelihatan superkatrok. Habis, WC di rumahku tidak bagus-bagus amat, kok. WC di lantai satu ini malah kalah bagus dibandingkan WC di lantai dua. Melihat WC standar seperti itu saja dia sudah terkagum-kagum. Bagaimana kalau aku meninggalkannya di istana bangsawan Inggris barang hanya sejam saja? Jangan-jangan dia malah akan pingsan duluan.

“Lo betah tidur tanpa AC, nggak?” aku bertanya, memutuskan untuk tidak menegur sikap katroknya yang kelewat lucu.

“Betah, kok,” jawabnya langsung, “Gue memang nggak pernah tidur pake AC.”

“Oh. Bagus, deh,” jawabku singkat, kemudian mematikan kembali AC yang sempat gagal kunyalakan dan meletakkan remote-nya ke atas lemari. Aku membuka lemari dan mengeluarkan selembar seprai berwarna putih untuk dipasang di kasur.

Saat aku sedang menggelar seprai di atas kasur, tiba-tiba, kepala Jerry nongol dari balik pintu.

“Ini kamar yang nantinya gue tempati?” tanyanya dengan nada suara sulit diartikan.

“Ya,” jawabku singkat sambil masih sibuk dengan seprai di tanganku.

“Keren!” pekiknya, “Kalo gini caranya, udah dari dulu-dulu gue nyuruh lo nraktir gue ke restoran mewah, bukannya cuma di warung Mang Usep aja.”

Aku melotot, “Enak aja! Lo pikir gue kaya? Rumah ini juga bukan punya gue, tapi punya bokap sama nyokap gue.”

“Halah, buah jatuh tidak jauh dari tanah,” sahutnya ngawur.

“Yang bener, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” ralatku, “Masa peribahasa kayak gitu aja nggak tahu?”

“Jelas, lah. Kalo gue tahu, nilai rapor BI gue nggak bakal merah,” jawabnya dengan nada pongah. Dasar, nilai rapor merah kok malah bangga. “Nah, berhubung bokap-nyokap lo kaya, berarti lo juga kaya—minimal dikit-dikit, lah.”

“Gue akan kaya, tapi sekarang belum,” jawabku datar, “Gue masih dalam tahap terima uang jajan, belum kerja.”

“Lo terima uang jajan dari bokap-nyokap lo yang kaya, kan?” Jerry membalas santai.

Sial, dia benar—walaupun sebenarnya ayah dan ibuku tidak sekaya itu. Aku terdiam dan menatapnya dengan raut wajah kesal. Melihat wajah kesalku, Jerry malah meringis dengan kurang ajarnya.

“Bercanda, kali,” katanya, “Baru bercanda aja muka lo udah kayak mau nelen gue hidup-hidup gitu, coba kalo beneran. Bisa-bisa lo ngelindes gue pake traktor.”

“Itu yang gue inginkan,” jawabku singkat.

“Ya udah, lakukan aja, dong,” ia membalas santai, “Toh lo bakal gantian dihukum mati karena udah ngebunuh gue.”

Aku bergumam tak jelas sambil merapikan seprai yang telah berhasil kupasang di atas kasur. Melihat Jerry yang tidak bergerak dari tempatnya berdiri, aku menegur, “Bantuin, kek.”

“Bantuin apaan? Lo kan udah kelar,” cibirnya.

Aku mendesah frustasi. “Bilang makasih, kek.”

“Oke,” jawabnya santai, kemudian menyambung dengan nada acuh-tak-acuh sambil masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. “Makasih.”

“Nggak tulus,” gumamku.

“Memang, kan gue bilangnya gara-gara lo yang nyuruh,” ia menjawab santai, kemudian berjalan menuju jendela yang ditutupi gorden biru tua. “Gordennya mirip kayak gorden di rumah lama gue,” ia menggumam pelan, kendati aku masih bisa mendengar dengan cukup jelas. Sebelah tangannya bergerak perlahan menyibak gorden untuk memperhatikan detilnya. Saat gorden akhirnya terbuka dan menampakkan jendela yang mengekspos pemandangan di luar, dapat kulihat, gerakan Jerry spontan terhenti.

Tangannya yang digunakan untuk memegangi gorden terlihat sedikit bergetar dan bahunya berubah tegang. Sepertinya ia melihat sesuatu yang mengusiknya di luar jendela.

Aku mengerutkan kening.

Ada apa di luar jendela?

“Kenapa, Jer?” Aku bertanya saking penasarannya terhadap perubahan sikap tubuh cowok itu yang begitu tiba-tiba. Ia memutar kepalanya perlahan-lahan dan menampakkan wajahnya yang menyiratkan kecemasan tersendiri.

“Lo…,” ia menggantungkan kalimatnya di udara selama dua detik penuh, “Lo tetanggaan sama cowok brengsek itu?”

“Cowok brengsek?” aku terdiam sejenak untuk berpikir, “Siapa cowok brengsek?”

“Jangan pura-pura bego kalo emang udah bego,” ujarnya dengan nada mendesak, “Satu-satunya cowok yang pernah gue sebut brengsek ya cuma dia, kan?”

“Dia siapa?”

“David Hansen!” Jerry berujar frustasi dengan nada suara sedikit meninggi, “Lo tetangaan sama dia, kan?”

“Oh…,” aku bergumam paham begitu mengetahui maksudnya.

“Jadi, iya atau nggak?”

“Iya,” jawabku mantap, “Kenapa emang?”

“Rumah dia yang di seberang jendela situ?” Ia menunjuk sebuah rumah di seberang jendela.

“Ya,” jawabku. “Bukannya lo udah pernah gue kasih tahu? Lo lupa?”

Entah hanya halusinasiku atau bukan, mata Jerry melebar selama sepersekian detik. “Dari luar jendela bisa ngelihat ke dalem jendela, nggak?”

Aku mencerna perkataannya selama beberapa detik, kemudian bertanya, “Luar jendela rumah David atau luar jendela di depan lo itu?”

“Luar jendela di depan gue,” jawabnya.

Aku mengangguk, “Bisa. Memangnya kenapa?”

Jerry langsung menjatuhkan tangannya yang digunakan untuk memegangi gorden dan mengunci gorden itu. Dapat kulihat, mulutnya berkomat-kamit seperti mengumpat.

“Hey,” aku memanggil saat ia sedang sibuk membetulkan letak pengunci gorden, “Lo belum jawab pertanyaan gue.”

Jerry sama sekali tidak menggubrisku dan masih saja sibuk mengumpat dengan suara rendah yang membuatku sulit menangkap kata-kata yang digumamkannya dengan nada sebal.

“Jerry,” aku memanggilnya. Sama seperti sebelumnya, cowok itu tidak juga mempedulikanku. Malahan, ia terlihat seperti tidak mendengar panggilanku.

“JER!” Aku akhirnya membentak dengan suara keras. Bentakan itulah yang akhirnya membuat Jerry tersentak dan menatapku dengan tampang seperti baru sadar dari mati suri.

“Eh, apa?” Ia bertanya dengan nada polos yang menyebalkan.

“Lo belum jawab pertanyaan gue,” aku membalas dengan raut wajah kesal.

“Pertanyaan yang mana?” Jerry mengerutkan dahi dengan bingung.

Nah, kesimpulannya, dia tidak mendengar perkataanku sejak tadi. Bagus sekali.

Aku memutar kedua bola mata sebelum menjawab, “Lo kenapa?”

“Kenapa apanya?” Dia bertanya lagi.

“Kok kayaknya lo tegang gitu lihat rumahnya David?” Aku mengulangi maksudku dengan sabar. “Apa yang salah sama rumah itu?”

“Nggak ada,” jawabnya langsung, “Tapi gue nggak mau dia sampe lihat gue nginep di sini. Biar bagaimana pun, dia itu satu sekolah sama kita. Gimana kalo dia nyebarin rumor yang enggak-enggak?”

Aku terdiam sejenak karena masih kurang yakin alasan itu sungguh-sungguh jujur. Setelah memastikan ekspresi wajahnya tidak menyiratkan kebohongan, aku pun memutuskan untuk percaya. “Iya juga, sih,” jawabku singkat. “Ya udah, gue keluar dulu, deh. Beresin barang-barang lo dulu aja. Lo mau minum apa? Gue siapin.”

“Es kopi ada?” Ia bertanya.

“Nggak,” jawabku, “Nggak pernah punya kopi. Nggak doyan.”

“Ya udah, es teh,” ia menawar, “Ada, kan?”

“Habis,” jawabku lagi.

Muka Jerry berubah bete. “Sama aja lo nawarin tapi ujung-ujungnya gue kudu minum air putih juga.”

Aku terkekeh, “Gue punya sirup, sih. Lo mau?”

“Nggak,” Jerry menjawab langsung, “Nggak suka yang manis-manis. Air putih aja kalo gitu.”

“Ya udah,” jawabku, “Gue ambilin dulu. Kalo beres-beresnya udah kelar, lo ke ruang depan aja.”

Setelah mengatakan hal itu, aku keluar dari kamar dan segera beranjak menuju dapur untuk menyiapkan air minum.

 

***

Aku keluar dari dapur membawa dua gelas air es yang baru saja kukeluarkan dari kulkas. Dengan hati-hati, aku bergabung dengan Jerry yang ternyata sudah duduk santai di ruang depan sambil menonton TV. Setelah meletakkan gelas-gelas berisi air es itu di atas meja, aku pun duduk di sofa kecil yang terletak bersebelahan dengan sofa utama yang diduduki Jerry. Cowok itu melirik singkat ke arahku sebelum mengalihkan kembali perhatiannya pada TV yang sedang ia tonton.

“Jam di kamar gue rusak,” katanya, “Gue baru sadar tadi.”

“Rusak?” Aku bergumam, kemudian mulai mengingat-ingat sudah berapa lama kamar itu tak ditempati sampai-sampai nyaris segala sesuatu yang ada di dalamnya rusak. Cukup lama ternyata. Pantas saja benda-benda malang itu rusak, “Ya udah, nanti gue cariin gantinya, deh.”

Aku meraih segelas air es dan meminumnya perlahan sambil menahan rasa ngilu di gigiku yang mendadak timbul saking dinginnya air yang kuminum.

“Jangan ketawa,” tiba-tiba Jerry bergumam datar. Aku menoleh ke arahnya dengan bingung dan kemudian melirik ke arah TV.

Nyaris saja aku tersedak saat menyadari apa yang sedang cowok itu tonton.

“Udah gue bilang, jangan ketawa,” hardiknya, “Kalo nggak suka, ganti aja.”

Setelah berhasil menelan ludah dengan baik tanpa tersedak, aku terkekeh geli. “Ya ampun, lo nonton Tom&Jerry?”

“Ada masalah?” Jerry bertanya sinis.

Tawaku spontan meledak. “Gue kira, selera lo film-film action yang tokohnya cowok-cowok sejenis elo gitu. Ternyata, tontonan lo kayak gini.”

“Kenapa? Tokoh di film ini juga sejenis gue, kok,” Jerry protes.

“Maksud lo, lo spesies tikus bandel, gitu?”

“Bukan, kan nama kita sama-sama Jerry, jadi kita sejenis,” jawabnya santai, “Lagian, filmnya lucu. Boleh-boleh aja dong, gue nonton film ini.”

Aku menggeleng-gelengkan kepala, “Sekarang gue jadi tahu dari mana lo dapat semua ide kekerasan yang lo terapin ke temen-temen sekolah.”

“Ngaco,” Jerry protes lagi, “Gue kan nggak ngegencet orang pake lemari atau menggoreng mereka di penggorengan. Lagian, gue nggak pernah berbuat kekerasan ke temen-temen, kok. Gue berbuat kekerasan ke musuh-musuh.”

“Apa kata lo, lah,” aku bergumam pasrah, “Tapi gue juga suka Tom&Jerry, kok. Jadi tenang aja, lo nggak perlu ngeganti saluran TV-nya.”

“Bagus, deh,” jawabnya, kemudian kembali memusatkan perhatian pada TV. Kali ini, aku ikut menonton sambil sesekali tertawa kecil melihat tingkah Jerry si tikus bandel terhadap Tom si kucing rakus yang selalu gagal memangsanya. Setiap kali si tikus berulah, aku selalu menunjuk TV dan menoleh ke arah Jerry sambil berkata, “Tuh, mirip lo. Memang satu spesies.”

Cowok kurang ajar itu membalasku dengan menunjuk majikan Tom yang gendut dan cuma kelihatan pantatnya saja. “Tuh, mirip lo. Bawelnya setengah mati,” begitu katanya.

Acara nonton itu kemudian berubah menjadi acara ejek-ejekan. Sesekali, kami berdebat saking tidak terimanya diejek-ejek terus. Acara perdebatan itu berlangsung cukup lama, sampai akhirnya, bunyi bel pintu yang nyaring menginterupsi acara sengit itu. Dengan perasaan kesal sekaligus lega, aku beranjak dari sofa tempatku duduk untuk membukakan pintu.

Sore-sore begini, siapa ya, yang datang? Tidak biasanya ada tamu di jam-jam segini. Pengantar koran biasanya datang pagi-pagi sebelum aku sekolah, pengantar majalah langgananku biasanya datang siang-siang, sesaat setelah aku pulang sekolah. Intinya, tidak biasanya ada tamu di jam-jam segini.

Dengan penasaran, aku membuka pintu dan keluar ke pekarangan depan untuk membukakan pintu gerbang. Ketinggian pintu gerbang membuatku kesulitan untuk melihat keluar tanpa membukanya terlebih dahulu. Akhirnya, kubuka saja gerbang itu dengan hati-hati.

Di depan gerbang, tampak David berdiri dengan senyum lebarnya yang langsung membuat jantungku melonjak selama satu detik. Cowok itu tampak menawan dengan seragam sekolahnya yang rapi dan putih bersih, serta rambutnya yang berantakan tapi tetap terlihat keren. Di tangannya, terdapat setumpuk map yang biasa ia bawa saat rapat mading. Melihatku, senyumnya melebar.

“Hai,” sapanya ramah.

“Hai,” jawabku dengan suara serak karena tidak menyangka dialah yang barusan membunyikan bel pintu. “Ada apa?”

David mengacungkan map-map di tangannya dan berkata dengan nada suara yang sama sekali tidak terdengar memojokkan, “Lo bolos rapat hari ini.”

Aku terdiam untuk mencerna perkataannya selama beberapa detik, kemudian tersentak karena baru ingat suatu hal. “Oh, iya! Hari ini ada rapat, ya? Aduh, sori, sori, gue lupa.”

“Nggak apa-apa,” katanya dengan nada santai, “Lagian, lumayan banyak juga yang bolos tadi karena pemberitahuan yang terlalu mendadak.”

Aku manggut-manggut. “Jadi, gue ketinggalan banyak?”

David mengangkat kedua alisnya, membuat wajahnya jadi terlihat keren sekaligus imut, “Bisa dibilang begitu. Yang jelas, cukup banyak sampai gue bela-belain mampir ke sini cuma buat ngejelasin ulang materi rapat yang belum lo ikuti. Soalnya, tim desain bakal berperan banyak, dan lo, sebagai anggota tim desain, nggak boleh melewatkan detil sekecil apa pun.”

Aku berusaha menahan debar jantungku saat bertanya, “Jadi, tujuan lo ke sini buat ngejelasin ulang semua materi itu?”

“Yep,” jawabnya mantap, “Itu pun kalo gue diizinin oleh sang empunya rumah.”

“Boleh,” jawabku spontan, “Masuk aja. Nggak enak, kan, berdiri terus?”

David memperlebar senyumnya. “Makasih,” jawabnya sambil masuk ke pekarangan rumah. Aku berjalan mendahuluinya setelah menutup kembali pintu gerbang.

Saat aku masuk ke dalam rumah, kulihat Jerry masih duduk di atas sofa dengan santai.Pemandangan itu spontan membuat kedua mataku terbelalak lebar.

Ya Tuhan, aku lupa kalau ada cowok itu di rumahku!

Panik, aku memelototi Jerry yang masih nongkrong seperti tak terjadi apa-apa. Cowok itu tampak bingung melihat isyarat mataku, tapi detik setelahnya, ia tersentak. Oh, tidak. Ia mengerti maksudku. Itu berarti, ia sudah melihat David.

Jerry kalang kabut. Ia berlari secepat kilat menuju ruangan pertama yang dilihatnya. Kulihat, ia masuk ke dalam perpustakaan mini. Syukurlah, ia tidak masuk ke dalam toilet. Aku tidak bisa membayangkan ia harus terjebak di dalam toilet dalam waktu yang lama. Jangan-jangan, ia malah akan pingsan gara-gara kekurangan oksigen. Secara, toilet di lantai satu ini begitu sempit dan tidak memiliki ventilasi udara.

Aku segera menoleh ke belakang untuk memastikan David belum sempat melihat Jerry. Beruntung, cowok itu menunduk membetulkan map-map yang dibawanya sejak tadi. Jadi, kemungkinan besar, ia tidak melihat sosok Jerry berlari kesetanan menuju perpustakaan mini. Sambil menahan debar jantung yang nyaris membuat jantungku copot barusan, aku mempersilakan David duduk di sofa ruang depan, sofa yang baru saja ditinggalkan Jerry.

Tanpa curiga, David duduk, dan aku pun mengikuti dengan mengambil tempat di sofa kecil tempatku duduk tadi.

Saking gugup dan paniknya aku gara-gara kejadian barusan, aku sampai baru sadar kalau aku seharusnya menawari David minuman saat cowok itu sudah mulai membongkar isi salah satu mapnya. “Oh, ya. Mau minum apa?” Aku bertanya dengan nada yang kuusahakan senormal mungkin.

“Air putih aja,” jawabnya, masih dengan senyum ramah yang seolah tidak pernah lepas dari wajah tampannya.

“Dingin atau…”

“Biasa aja. Jangan dingin,” jawabnya langsung. Kentara sekali ia tidak mau merepotkanku. Benar-benar cowok yang sopan. Tidak seperti Jerry yang baru ditawari minum saja sudah minta es kopi. Sejujurnya, aku sedikit bersyukur ia tidak minta bir atau sampanye saat aku menawarinya tadi.

Dengan senang hati, aku bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur untuk mengambilkan segelas air putih untuk David. Saat aku kembali, cowok itu sedang sibuk menekuni lembaran konsep mading yang dibawanya. Aku duduk di sampingnya dan meletakkan gelas yang kubawa di hadapannya.

“Habis ada yang bertamu, ya?” David bertanya setelah perhatiannya teralih dari lembaran konsep mading di tangannya. Pertanyaan itu, sontak, membuatku tersentak.

“Err… Kok lo tahu-tahu tanya gitu?”

David menunjuk gelas berisi sisa air es Jerry dengan dagunya. “Tuh, gelasnya belum lo beresin.”

Jderr!!

Sial. Aku baru ingat kalau gelas-gelas yang masih setengah kosong itu belum kubereskan. Seharusnya kubawa saja gelas-gelas itu sekalian saat aku ke dapur untuk mengambilkan minum tadi. Mungkin, dengan begitu, David tak bakalan sadar kalau tadinya ada dua gelas bekas di atas meja.

“O-oh… Iya,” aku bergumam tak jelas, “Tadi ada teman yang dateng, dan g-gue lupa beresin gelas yang dia pake.”

“Oh,” David menyahut tanpa curiga. Ia terkekeh pelan, “Kalian suka Tom&Jerry?”

Sekali lagi, sial. Seharusnya kusuruh Jerry mematikan TV lebih dahulu sebelum bersembunyi. Jangan-jangan, sekarang David curiga kalau “temanku” yang barusan datang itu masih ada di sini. Yah, semoga tidak, deh.

“Mm… Nggak, sih. Tadi acaranya bukan Tom&Jerry, kok. Tapi berhubung gue belum sempat matiin TV, tahu-tahu, acaranya udah ganti,” aku ngeles, berharap alasan yang kuajukan membuat David yakin kalau “temanku” itu sudah lama pergi. Dengan sigap, kumatikan TV dan kubereskan gelas-gelas bekasku dan Jerry, kemudian meletakkannya di bak cucian di dapur dan kembali secepat kilat.

“Nah,” David mengawali begitu aku sudah duduk kembali di atas sofa, “Tadi, tim mading udah menyusun konsep dasar yang bakal dipakai. Sketsanya udah digambar Clara di kertas ini, jadi coba lo lihat dulu aja, apakah konsep ini cocok sama elo atau lo punya usul lain yang lebih bagus.”

Dengan tangan yang masih agak gemetaran, aku menerima lembaran konsep mading dari David dan memperhatikannya tanpa konsentrasi penuh. Akibatnya, otakku jadi buntu. Setelah lima menit hanya memandangi gambar di atas kertas itu tanpa sanggup memikirkan apa-apa, akhirnya aku mengembalikan kertas itu pada David dan berkata pasrah, “Gini aja udah bagus, kok,” padahal aku sama sekali tidak paham konsep yang dituangkan dalam gambar sketsa yang barusan kulihat itu.

“Oke, jadi…,” David menggantungkan kalimatnya di udara, “Setelah pembicaraan soal artikel tadi, udah bulat keputusannya bahwa artikel psikologi nggak akan dibutuhkan lagi. Jadi, sori, ya, Steph.”

“Nggak apa-apa,” jawabku cepat, “Lagian, mungkin gue bisa ngerjain yang lain.”

“Nah, untuk itu, tadi Clara udah melakukan pembagian tugas secara mendasar. Bentar, bentar, gue bawa kertasnya, kok,” David merogoh-rogoh map lainnya dan mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya. Aku sampai heran, buat apa dia membawa banyak map kalau kertas-kertas itu sebenarnya bisa disatukan dalam satu map saja?

Ah, sudahlah. Jalan pikiran orang yang terorganisir memang berbeda.

“Nih,” dia mengawali, “Tugas lo… bentar, bentar. Mana, ya? Ah! Ini dia! Tugas lo nulis artikel tentang evolusi hewan, terus ngerancang TTS sederhana. Tugas-tugas yang lainnya juga udah dirinciin satu-satu di kertas ini,” dia meletakkan kertas di tangannya ke hadapanku.

Aku mengamati kertas itu, masih dengan pikiran yang tidak fokus.

“Lo boleh fotokopi,” David buru-buru menambahkan setelah melihat tampangku yang tampak depresi.

“Makasih, nggak usah aja,” tolakku halus.

“Lo bawa aja juga boleh,” David menawarkan lagi.

“Nggak usah,” aku mencoba tersenyum, “Akan gue inget-inget sendiri apa aja tugas gue.”

“Ya udah kalo gitu,” David menyerah pada akhirnya, “Oh, ya. Berkaitan sama konsep baru, berarti bahan-bahan tim kurang. Untuk itu, rencananya, kami bakal belanja lagi buat melengkapi bahan yang kurang. Lo ikut juga, ya?”

“Hah? Belanja lagi?” Aku memekik spontan. Astaga, masa cuma untuk membuat satu mading saja perlu belanja berkali-kali? Kenapa pakai gonta-ganti konsep segala, sih? Bikin repot saja.

“Steph, lo masih takut sama Evelyn dan Jessica, ya?” David menyimpulkan melihat tampangku yang berubah tak menyenangkan. Jujur saja, aku sudah lama tak berurusan dengan mereka lagi. Aku takut kalau-kalau mereka masih memperlakukanku seperti dulu. Jadi, ya, aku masih takut pada mereka.

“Ya,” jawabku jujur.

“Apa perlu gue minta mereka supaya nggak ikut?” David menawarkan.

Aku spontan menyanggah, “Oh, nggak, nggak, nggak usah! Biarin mereka ikut aja. Gue yang nggak ikut, deh.”

“Tapi…”

“Udah, nggak apa-apa, Kak. Lagian, gue juga udah ikut dua kali. Kali ini, nggak ikut mungkin nggak masalah,” aku memotong.

David terdiam sejenak dengan ragu, kemudian bertanya, “Serius, nggak apa-apa?”

“Serius,” jawabku yakin.

“Ya udah, kalo gitu gue akan sampein ke Clara,” David akhirnya pasrah. Aku bersyukur ia orang yang pengertian dan tidak keras kepala, sehingga aku tidak perlu ngotot seperti ketika aku bersama Jerry.

Ngomong-ngomong soal cowok itu, gimana ya, kabarnya di dalam perpustaan mini? Kudengar ia tidak suka belajar. Semoga ia tidak mual melihat deretan buku yang sebegitu banyaknya.

Aku tidak bisa mengalihkan perhatian dari pintu perpustakaan mini, bahkan ketika David sudah sibuk menjelaskan pelengkap konsep dengan berapi-api. Berhubung aku tidak sepenuhnya memahami ucapannya, aku pun hanya bergumam saja dan langsung menyetujui keputusan apa pun yang telah dibuat dalam rapat tadi tanpa banyak omong. Untungnya, David tidak menegur perlakuanku yang pasif, dan malah meneruskan penjelasannya dengan bersemangat seperti yang selalu ia lakukan di setiap rapat mading.

Saat akhirnya ia selesai membahas semua materi yang belum kuikuti, aku langsung merasa lega. Kami berbincang-bincang sejenak mengenai pensi yang akan ditangani OSIS sebelum ia berpamitan untuk kembali ke rumahnya sendiri. Satu-satunya hal yang kupikirkan setelah ia menghilang dari balik gerbang adalah mengecek keadaan Jerry.

Aku melesat menuju perpustakaan mini dan menjeblak pintunya sampai terbuka.

Di dalam, aku langsung disambut oleh muka bete Jerry yang tampak superkuyu.

Muka itu membuatku—mau-tak-mau—tertawa geli. Habis, ia kelihatan lucu sekali.

Tawaku rupanya membuat Jerry tersinggung. “Temen lo tersiksa selama nyaris satu setengah jam di dalem ruangan penuh buku dan lo malah ketawa?” begitulah sindirnya dengan nada sengak yang diperjelas.

“Sori, sori,” ujarku, “Habis, lo lucu banget, sih. Muka lo bete gitu.”

“Itu karena gue emang bete!” Protesnya sengit, “Enak aja lo ngomong sori! Lo kasih tahu dulu kek, kalo ruangan ini sumpeknya minta ampun, biar gue bisa sembunyi di ruangan lain!”

“Tap—”

“Masa lo sibuk pacaran sama cowok nggak bener, sementara lo ninggalin temen lo di dalem ruangan sumpek yang—”

“Tunggu dulu,” aku memotong ucapannya yang penuh emosi, “Kenapa lo nggak nyalain AC aja?”

Jerry langsung terbengong. Muka betenya seketika berubah menjadi muka bego. “AC? Emang ada?”

Aku mati-matian menahan tawa sebelum menjawab, “Ada! Remote-nya ada di meja belakang lo. Ya ampun, pantesan lo berasa sumpek, ternyata lo nggak tahu kalo ada AC.”

Wajah Jerry langsung seperti ditampar atau dijatuhi beratus-ratus kilogram besi. “Jadi, selama satu setengah jam gue kesumpekan di sini, ternyata ada AC?”

Aku mengangguk dengan tampang sok prihatin.

“Jadi, selama satu setengah jam muka gue lecek keringetan gini, ternyata ada AC?”

Aku mengangguk lagi dengan monoton.

What the f—

“Jerry!” Aku buru-buru menegur sebelum kata-kata kasar itu meluncur dari mulutnya. Melihat mukanya yang merah padam, mau-tak-mau, aku tertawa lagi. Astaga, dia kocak banget!

“Kenapa lo nggak bilang dari tadi?” Jerry memprotes dengan muka depresi.

“Kapan gue bisa bilang?”

Jerry menghela nafas berat dengan sok dramatis, “Bikin emosi aja. Sekarang ketek gue jadi bau, nih. Lo harus tanggung jawab.”

“Gue harus ngapain?” Aku bertanya dengan nada mengejek, “Beliin lo deodoran supaya ketek lo wangi? Yang ada, bau keringet campur bau deodoran malah makin nggak karuan.”

“Siapa suruh beliin deodoran,” Jerry ngedumel dengan nada sarat cibiran.

Mukaku langsung berubah bingung, “Terus? Masa gue harus mandiin lo?”

“Nggak apa-apa kalo lo mau,” jawabnya santai, “Lagian, udah banyak yang ngantri kok, buat mandiin gue.”

“Sialan!” Aku spontan memekik, “Mandi sendiri, dong!”

“Siapa tadi yang nawarin buat mandiin gue?” Jerry mengulang dengan nada menyebalkan.

“Gue kan cuma menduga pikiran mesum lo itu!” Aku memprotes, “Gue nggak nawarin, kok.”

“Tahu dari mana pikiran gue mesum?” Jerry membalik ucapanku, “Jangan-jangan, malah pikiran lo yang mesum.”

“Ngasal!” Aku memprotes lagi, “Ah, udah lah. Nggak selesai-selesai debat sama lo. Sampe capek juga nggak ada gunanya. Sana, mandiin ketek lo biar nggak bau!”

Setelah mengatakan hal itu, aku berbalik dan bersiap keluar dari ruangan. Tapi, kemudian, suara Jerry menahanku. Suara itu sudah tidak terdengar sengak seperti sebelumnya.

“Steph,” panggilnya.

“Hm?” Aku menoleh dengan kedua alis terangkat.

“Tadi cowok brengsek itu ngapain aja?” Jerry bertanya dengan nada penuh selidik.

“Ngejelasin materi rapat tim mading tadi siang. Gue ketinggalan materi itu,” jawabku jujur, “Kenapa memangnya?”

“Ngejelasin materi yang ketinggalan aja harus pakai mampir ke rumah segala, ya?” Jerry menyindir. Nada tidak senang dalam suaranya terdengar kentara, dan aku sama sekali tidak mengerti kenapa ia begitu anti terhadap David.

“Ya,” jawabku nekad, “Memang harus. Kalo nggak, di mana lagi?”

Jerry tidak menjawab, tapi tatapan matanya terlihat tajam. Aku bertanya-tanya, di mana aku pernah melihat sepasang mata itu sebelumnya. Oke, pertama senyumnya, dan sekarang tatapan matanya. Kenapa semua hal yang ada pada dirinya seperti mengingatkanku pada seseorang? Tapi… siapa?

“Jer,” aku berujar lirih dengan suara yang sedikit bergetar karena tatapan matanya yang begitu intens, seolah-olah ia adalah seorang ayah yang tidak terima putrinya dekat dengan seorang pria, “Kenapa, sih, lo begitu bencinya sama David?”

Jerry membuang muka. “Panjang alasannya, Steph. Kalo lo mengira ini semua gue lakukan karena gue suka sama lo, tenang aja, lo salah. Gue punya alasan lain yang belum bisa gue ceritain.”

Dahiku spontan berkerut. Tapi, setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk menjawab, “Oke. Ceritain kalo lo udah bisa nyeritain. Tapi, untuk sementara ini, gue minta, lo jangan ganggu gue dan David.”

“Selama ini, lo anggap gue pengganggu?” Jerry balik bertanya.

“Gue nggak ingin bilang seperti itu,” sanggahku, “Tapi, gue minta, jangan jadikan diri lo pengganggu.”

“Tapi, Steph,” Jerry menggantungkan kalimatnya di udara, “David bukan cowok baik. Gue bisa lihat itu.”

“Dan apa buktinya?” Aku balas bertanya.

“Apa lo harus menunggu buktinya? Lo mau dia menyakiti lo duluan baru lo percaya?” Jerry membalas dengan lihai. “Pikir, Steph. Cowok populer kayak gituan nggak ada yang bener-bener baik. Semuanya munafik.”

“David beda, Jer,” aku masih ngotot, “Kenapa lo nggak pernah mau ngedukung gue, sih? Gue udah suka sama dia sejak lama, dan deket sama dia rasanya kayak mimpi. Jangan bikin gue jadi ragu gini, dong.”

Jerry lagi-lagi tidak menjawab. Setelah terdiam selama beberapa detik, dia menghembuskan nafas berat, “Ya udah, terserah lo kalo nggak mau percaya. Gue mau mandi dulu.”

Dia bangkit dari duduk dan berjalan melewatiku, keluar dari pintu untuk menuju kamar mandi. Baru saja aku mulai memikirkan keanehan sikapnya, tiba-tiba saja, ponselku berbunyi. Aku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan benda itu dari dalamnya.

1 new message

Aku membuka SMS baru yang masuk ke dalam ponselku itu dan membacanya.

From : Luna

Ke rumah gw. Skr.

Mataku langsung terbelalak lebar dan mulutku nyaris melongo saking kagetnya. Luna? Tunggu dulu. Ada banyak sekali keanehan yang kutemukan dari SMS supersingkat itu.

Pertama, Luna sudah tidak pernah menghubungiku lagi akhir-akhir ini. Jadi, merupakan suatu hal yang janggal apabila ia tiba-tiba mengirimiku SMS. Dan kedua, Luna biasanya tidak pernah memintaku pergi ke rumahnya. Ialah yang selalu datang ke rumahku apabila ia butuh sesuatu.

Kenapa ia tiba-tiba memintaku datang? Apa dia mau memarahiku lagi seperti dua hari yang lalu?

Aku tidak ingin menduga yang tidak-tidak, tapi melihat dari kemarahannya padaku dua hari yang lalu, rasanya mungkin-mungkin saja kalau ia kepingin meluapkan emosinya sekali lagi. Oh tidak.

Tapi aku harus datang. Siapa tahu, aku bisa memperbaiki kembali hubunganku dengannya.

Maka, dengan tergesa-gesa, aku naik ke kamarku dan berganti pakaian, kemudian keluar dari rumah dan segera mengayuh sepedaku menuju rumah Luna.

 

***

Juna adalah orang yang membukakan pintu begitu aku sampai di rumah Luna. Cowok itu tampak kaget melihatku. Maklumlah, jarang-jarang aku mampir ke sini, jadi mungkin dia agak kurang terbiasa dengan kehadiranku.

“Eh, Kak Stephanie,” sapanya, “Masuk, Kak.”

Aku tersenyum kemudian masuk ke dalam rumah Luna. Aku menunggu Juna mengunci pintu gerbang, kemudian membiarkannya berjalan duluan memasuki rumah.

Di dalam rumah, Kak Sella, sepupu Luna yang katanya baru saja datang ke Jakarta, sudah menunggu di ruang tamu. Ia langsung berdiri begitu melihatku, dan aku berniat menyapanya karena sudah lama sekali kami tidak bertemu.

“Steph,” sapaan yang belum keluar dari mulutku itu rupanya sudah disela duluan oleh Kak Sella, “Kakak kepingin ngomong-ngomong sama kamu, tapi kayaknya hal itu harus menunggu. Sekarang, Kakak mau kamu masuk ke kamarnya Luna, terus nenangin dia.”

Dahiku langsung berkerut dengan bingung. Apa maksudnya? “Hah?” Aku hanya sanggup bergumam tak jelas.

“SMS tadi itu aku yang ngirim, Steph,” Kak Sella berkata, “Aku ngambil HP-nya Luna buat ngirim SMS ke kamu. Sekarang, Luna lagi patah hati. Sejak tadi, dia mengurung diri di kamar. Aku sendiri bingung, nggak tahu harus berbuat apa. Kupikir, kamu pasti tahu karena kamu sahabatnya. Buruan, masuk, deh. Kayaknya dia butuh kamu buat curhat.”

Mataku spontan melotot. “Tapi, Kak, aku sama Luna lagi—”

“Kakak tahu. Luna udah cerita,” Kak Sella memotong, “Gunakan sekalian kesempatan ini untuk baikan sama dia. Kamu tahu, dia cuma ngetes kamu untuk lihat apakah kamu akan datang ke dia dan meminta maaf. Kamu kan ngerti kalau dia memang kekanak-kanakan. Sebenernya, aku tahu, dia udah maafin kamu sejak dulu. Dia cuma gede gengsinya aja.”

“Tapi, Kak, aku kan nggak tahu apa yang bikin dia patah hati dan—”

“Nanti dia pasti cerita, kok,” Kak Sella memotong lagi dengan nada sarat desakan, “Udah, deh. Buruan.”

Tanpa membiarkanku protes, Kak Sella menarik tanganku menuju kamar Luna yang terletak tidak jauh dari ruang tamu. Setelah mengetukkan pintu untukku, dia meninggalkanku begitu saja.

Astaga! Harus ngapain aku?

Mengingat tidak baiknya hubunganku dengan Luna beberapa hari terakhir ini, rasanya konyolkalau aku tiba-tiba muncul dan sok-sok mengurusi masalahnya. Entah apa yang akan dia bilang nanti. Jangan-jangan, dia malah akan semakin marah padaku.

Tapi, pelototan mata Kak Sella dari kejauhan memaksaku untuk tetap membuka pintu.

Pintu terbuka perlahan, menampakkan bagian dalam dari kamar Luna yang agak berantakan. Di pojokan kasur, tampaklah Luna duduk diam dengan pandangan menerawang ke sudut kamar. Wajahnya terlihat tertekan sekaligus sedih, dan parahnya, aku tidak tahu apa yang membebani pikirannya sebegitu banyak. Yang aku tahu, setelahnya, aku berjalan menghampirinya dengan ragu.

Ia sama sekali tidak menoleh, dan bahkan aku tak yakin ia menyadari kehadiranku.

Astaga, apa yang harus kulakukan?

Aku bahkan belum tahu apa yang akan kuucapkan saat aku sudah berdiri tepat di hadapannya. Pandangannya masih kosong, dan tampaknya ia masih belum sadar aku sudah berdiri dengan lutut bergetar dalam radius kurang dari dua meter dari kedua kakinya yang terjulur ke depan.

“Lun…,” terdengar suaraku yang penuh keraguan memecah keheningan yang terasa menyiksa ini. Suara itu tampaknya tak mempan untuk membuat Luna tersadar. Aku terdiam sejenak untuk menunggunya bereaksi. Namun, saat aku sadar ia tak akan membalas panggilanku, aku pun mengulanginya sekali lagi. Kali ini lebih keras daripada sebelumnya. “Luna.”

Dapat kulihat, Luna sedikit tersentak dan ia melirik ke arahku sebentar. Tapi, dalam waktu kurang dari dua detik, ia sudah mengalihkan kembali tatapannya. “Keluar,” ujarnya dengan suara lirih yang agak berbeda dari suaranya yang biasa.

Tanpa menghiraukan perintahnya, aku duduk di atas kasur, tepat di depan kedua kakinya. Ia tak bergerak, tapi matanya kembali melirik ke arahku sekali lagi.

“Gue bilang, keluar,” ulangnya dengan nada lebih tegas, “Gue lagi butuh sendiri.”

Aku terdiam sejenak. “Lagi ada masalah?”

Pertanyaanku membuat cewek itu lagi-lagi melengos. “Bukan urusan lo,” ujarnya dingin.

Aku menghela nafas panjang. “Lun, plis deh.”

“Apa? Lo mau nyalahin gue?”

“Atas apa?” Aku balik bertanya, “Gue aja nggak tahu apa masalahnya, gimana bisa mutusin bakal nyalahin atau ngebela lo.”

Luna mencibir. “Nggak penting,” katanya, “Anggep aja nggak ada masalah.”

Aku menahan nafas sejenak melihat betapa keras kepalanya sahabatku satu ini. Kuhembuskan nafas panjang. Hal itu kulakukan berulang kali sampai aku merasa cukup tenang untuk membuka suara kembali.

“Mau lo pendem sampe kapan masalahnya?” Aku bertanya tanpa menghiraukan cewek itu yang sepertinya tidak menganggapku ada. “Sampe lo ngerasa nggak ada yang medullin lo, trus lo marah-marah sendiri karena menurut lo dunia itu nggak adil?”

Luna melotot padaku dengan garang.

Aku mengangkat bahu, “Cuma pancingan yang berhasil,” ujarku santai. Luna mendengus sembari memutar kedua bola matanya.

“Kapan lo berniat keluar?” Tanyanya sinis.

“Nggak akan, sampai lo mau cerita soal masalah lo ke gue,” jawabku. Sejujurnya, aku sama sekali tidak menyangka bahwa aku bisa bersikap setenang ini di depan Luna, mengingat beberapa detik yang lalu aku masih sibuk menahan getaran lututku yang menjadi-jadi.

“Lo nggak bisa nginep di sini,” katanya menyindir, “Walaupun gue nggak mau cerita ke lo sampai kapan pun.”

“Karena gue juga nggak berniat nginep di sini, makanya buruan cerita,” aku membalas.

Luna diam saja tanpa bersuara. Aku hanya memandanginya selama beberapa detik sebelum akhirnya memutuskan untuk meminta maaf. Siapa tahu, dengan begitu, ketegangan di antara kami akan mencair.

“Lun, gue minta maaf,” ujarku pelan.

“Minta maaf?” Ulangnya, “Buat apa?”

“Buat semua kesalahan gue yang sempet lo jabarin panjang lebar itu,” jawabku, “Gue minta maaf buat semua itu.”

“Kata maaf nggak menjamin hal-hal itu nggak bakal terulang lagi,” katanya.

“Kata maaf memang nggak menjamin itu,” kataku, “Tapi gue bakal menjamin itu.”

Luna melirik ke arahku dengan tampang tak tertarik, “Sejak kapan kemampuan debat lo jadi meningkat drastis gitu?”

“Nggak penting,” jawabku, “Yang penting, gue minta maaf.”

Luna terdiam sejenak, seolah menimbang -nimbang apakah kata “maaf” itu pantas diberikannya untukku atau tidak.

“Kalo gue maafin lo, lo bakal keluar?” tanyanya pada akhirnya.

Aku mengangkat bahu, “Coba aja, dan lihat apakah gue bakal keluar atau nggak.”

“Oke,” jawabnya, “Kalo gitu gue maafin lo. Sekarang, keluar.”

Aku tertawa kecil, “Makasih, tapi gue nggak akan keluar.”

Luna melotot, “Lo lagi bermain-main sama gue?”

“Nggak,” jawabku, “Memangnya gue pernah janji bakal keluar kalo lo maafin gue?”

“Tapi tadi lo bilang…”

“Gue kan cuma bilang kalo lo perlu maafin gue dulu supaya bisa lihat apa yang bakal gue lakukan selanjutnya,” jawabku, “Dan hal itu adalah : tetap berada di sini.”

Luna menatapku tak percaya.

Wow, siapa yang ngajarin lo debat gini?” cibirnya, “Siapa pun itu, gue bersyukur dia udah berhasil bikin lo berhenti berlembek-lembek ria.”

Aku mengangkat bahu. “Sekarang, apa lo mau mulai cerita?”

“Siapa bilang gue mau cerita?” sangkalnya, “Gue nggak pernah bilang gitu, tuh.”

Aku mendesah pelan. “Ayolah,” pintaku, “Lo kan udah maafin gue.”

“Maafin bukan berarti gue bisa segampang itu cerita soal masalah gue ke lo,” katanya.

“Terus, apa yang harus gue lakuin supaya lo mau cerita?” Aku bertanya, “Gue mau kita balik lagi kayak dulu. Tolong kasih tahu gue gimana caranya.”

“Lo bersedia ngelakuin apa aja untuk itu?” tantangnya.

Aku mengangguk mantap.

“Walaupun gue nyuruh lo terjun ke dalem sumur atau nari-nari telanjang di tengah jalan?” Luna menantang lagi.

“Kalo itu beda,” jawabku cepat, “Dan gue tahu lo nggak bakal sungguhan nyuruh gue berlaku seperti itu, kok.”

“Kok lo bisa yakin?”

“Iya lah,” jawabku pasti, “Kan lo udah maafin gue. Lo nggak akan sekejam itu sama orang yang udah lo maafin.”

Luna terdiam sejenak dengan wajah tak percaya, kemudian mulai geleng-geleng kepala. “Sungguhan, deh. Gue perlu ketemu sama orang yang udah bikin lo jadi sepinter ini dalam berdebat. Rasanya gue kudu bilang makasih berulang kali ke dia.”

Aku tertawa kecil. Sejujurnya, aku tidak yakin ia masih bisa mengatakan hal yang sama kalau tahu orang yang dimaksudnya adalah Jerry.

“Sekarang cerita, deh,” pintaku, “Siapa tahu gue bisa ngebantu meringankan masalah lo.”

“Kalo gue masih nggak mau juga, gimana?” ia bertanya.

“Gue nggak akan pergi dari sini sampe selamanya,” jawabku santai.

“Ngotot amat lo sekarang,” gumamnya, “Kalo gue cerita, lo nggak akan ngetawain gue?”

“Jelas nggak,” jawabku, “Gue nggak sejahat itu kok sama sahabat sendiri.”

“Lo masih nganggep gue sahabat?” Luna bertanya dengan nada dibuat takjub. Kelihatan sekali dia sedang berusaha mengalihkan topik pembicaraan supaya tidak perlu bercerita. Sayangnya, dia lupa kalau aku mengenalnya dengan baik. Lebih baik daripada orang-orang kebanyakan.

“Iya lah, sampe kapan pun akan selalu gitu,” jawabku, “Sekarang cepet cerita sama sahabat lo ini.”

Baru saja Luna membuka mulut, aku sudah menyela lagi.

“Kali ini nggak pake ngalihin pembicaraan lagi, ya.”

Luna terdiam selama beberapa detik, kemudian menghela napas panjang seraya menunduk. “Well, I guess it’s a must now.”

Aku diam dengan sabar sambil menunggunya mulai bercerita. Setelah menarik nafas dan menghembuskannya kembali beberapa kali, Luna mendongak lagi dan menatapku.

“Lo inget cowok yang waktu itu sama gue?”

“Pas kita dari rumah Jerry itu?” aku bertanya, sekadar untuk memastikan.

Luna mengangguk.

“Ya, inget,” jawabku, “Apa ini semua gara-gara dia?”

Unfortunately yes,” jawabnya, “Namanya Kak Marcell, dan dia kakak dari temennya Juna.”

Aku mengangguk-angguk.

“Sebelumnya, maaf kalo gue nggak pernah cerita sama lo tentang ini. Tapi… sejak gue sama dia camp kedokteran bareng, gue sadar kalo gue suka sama dia,” Luna melanjutkan dengan suara lirih. “Kayaknya malah lebih dari itu.”

Aku menahan nafas sejenak.

“Sayangnya, dia udah punya cewek yang dia suka,” Luna melanjutkan lagi. Kali ini, pandangannya berubah menerawang, dan nada suaranya mengambang. “Namanya Dian. Dan gue rasa, dia tipe cewek yang diinginkan semua cowok. I’ll never be able to beat her, lah.”

Luna menghela nafas panjang sebelum kemudian membuka suara lagi.

“Gue aja sih yang terlalu bodoh. Gue pura-pura ngedukung hubungan mereka, padahal gue sendiri juga tahu kalo berlaku seperti itu hanya akan menyakiti gue lebih dalam lagi,” katanya. “Gue malah memberikan saran ini-itu saat Kak Marcell mau nembak Dian. Gue bener-bener bodoh.”

Aku masih terdiam menunggu kelanjutan ceritanya.

“Dan kemarin, saat dia bener-bener melaksanakan niatnya buat nembak Dian, gue cuma bisa berharap aja, semoga perkiraan gue nggak bener.”

“Dan…?” aku bergumam.

“Sampe di sini, masa lo nggak bisa nebak kelanjutannya bakal gimana?” Luna pura-pura sewot, padahal jelas sekali matanya mulai berkaca-kaca. “Jelas lah, perkiraan gue bener! Kapan sih, Luna pernah salah?”

Luna tertawa sumbang, berusaha menutupi kesedihannya.

“Lun, lo nggak usah pura-pura kuat gitu,” aku menegur halus, “Kalo memang sakit rasanya, keluarin aja. Nangis aja sampe lo puas.”

“Udah gue lakuin beberapa jam yang lalu,” dia berkata, “Tapi tetep aja, nggak ada yang berubah. Rasanya tetep sama aja. Sakit. Sakit banget, malah.”

Aku menghela nafas panjang. “Oke. Gue emang nggak tahu sesakit apa rasanya. Tapi, gue minta, lo jangan terlalu mikirin masalah ini. Coba lo cari hal-hal yang bisa bikin lo seneng, bisa bikin lo ketawa lagi. Toh kalo kalian sungguh-sungguh jodoh, pasti dia akan kembali lagi ke lo kok suatu saat nanti.”

“Berarti gue cuman kayak pelarian gitu, ya?”

“Nggak gitu, Lun. Tapi semua butuh waktu,” aku mencoba menjelaskan padanya, “Dia mungkin belum bisa lihat kalo lo pantes berada di sampingnya. Tapi suatu saat nanti, gue yakin, mata dia akan terbuka juga kalo lo bener-bener sayang sama dia.”

“Dari mana lo yakin kalo gue pantes berada di sampingnya?”

“Oh, ayolah,” aku merengek, “Ke mana Luna yang selama ini selalu percaya diri? Ke mana Luna yang selama ini selalu sewot ke gue, ‘Lo harus pede, Steph! Nggak ada gunanya ngerendahin diri sendiri terus!’? Ke mana Luna yang selama ini selalu berpikir positif?”

Luna terdiam sejenak. “Entahlah, Steph. Rasanya gue nggak bisa sepede itu soal yang satu ini.”

Aku menghela nafas berat.

“Gue nggak mau menyerah, tapi juga nggak tahu apa hak gue untuk nggak menyerah,” Luna melanjutkan lagi, “Gue nggak mau ngaku kalah, tapi gue sendiri juga bingung, apa Kak Marcell memang nggak ada perasaan ke gue, barang hanya secuil aja. Soalnya, selama ini, dia selalu bersikap seolah-olah gue itu penting. Dia selalu bersikap sangat baik ke gue. Gue jadi bertanya-tanya, apa dia memang seramah itu pada semua orang, atau cuma sama gue aja dia gitu.”

“Lun…” aku bingung harus berkomentar apa.

“Tapi lalu gue sadar, mana mungkin dia hanya bersikap kayak gitu sama gue? Gue kan nggak sepenting itu. Sepenting-pentingnya gue buat dia, paling juga cuma sebagai sahabat. Nggak akan lebih daripada itu.”

“Mungkin dia cuma belum sadar, Lun,” aku bergumam penuh simpati.

“Belum sadar apa? Belum sadar kalo gue bahkan nggak layak untuk dianggap sahabat?” Luna bertanya dengan nada bercanda yang dibuat-buat.

“Nggak,” sanggahku langsung, “Belum sadar kalo lo itu tulus sayang sama dia.”

Luna menghela nafas panjang. “Kalau pun suatu saat nanti dia sadar, apa dia bakal berpaling ke gue? Rasanya nggak mungkin. Dia kan nggak punya perasaan apa-apa sama gue. Dan lagi, sekarang dia udah jadi milik orang lain.”

“Soal udah jadi milik orang lain, itu kan cuma masalah waktu. Selama mereka belum terjalin ikatan resmi secara hukum alias menikah, sebenernya nggak ada alasan buat lo untuk menyerah,” ujarku, “Tapi soal nggak punya perasaan apa-apa sama lo, lo nggak bisa yakin dulu. Lo harus—minimal—optimis soal itu. Kalo dia nggak merasa nyaman sama lo, mana mungkin dia mau sahabatan sama lo? Coba pikir, deh. Pasti lo itu ada artinya buat dia.”

“Gue nggak yakin soal itu, Steph,” kata Luna, “Maksud gue… gue mungkin ada artinya buat dia, tapi… in what context? Kalo selamanya gue cuma bisa jadi sahabat buat dia, ya gue bisa apa?”

“Gini, deh,” aku berkata, “Untuk sementara ini, lo jangan menjauh dari dia dulu. Tetap jadi sahabatnya aja, dan pelan-pelan coba buat dia sadar, kalo lo itu sebenernya tulus banget sama dia.”

“Saran lo rada mirip sama sarannya Kak Sella,” ujarnya, “Cuman bedanya, dia nyuruh gue untuk tetep sahabatan sama Kak Marcell sementara gue pelan-pelan berusaha ngelupain dia. Dan lo malah nyuruh gue bikin dia sadar. Saran siapa nih, yang harus gue turuti?”

“Waduh, soal itu, sih, keputusan ada di elo aja,” jawabku, “Coba deh lo pikirin, mana yang kayaknya lebih sreg di elo. Abis itu, lo lakuin. Gue yakin, pasti lo bakal merasa lebih baik.”

Luna menghela nafas panjang. “Ya udah, deh. Thanks ya, Steph, udah mau dengerin bacotan gue yang annoying ini.”

“Sama sekali nggak annoying, kok,” jawabku, “Gue malah lebih suka lo cerita gini daripada sok tertutup kayak kemarin-kemarin.”

“Iya, iya, sori lagi soal yang itu,” Luna mendumel.

Kami berdua kemudian terdiam selama beberapa menit. Aku dapat merasakan seluruh beban yang menghimpit hatiku seolah terangkat saat menyadari keheningan ini tidak lagi terasa menyiksa. Sepertinya kini urusanku dengan Luna sudah selesai. Semoga kondisi seperti ini bertahan terus sampai nanti.

“Oh, ya, Steph,” suara Luna memecah keheningan.

Aku mengangkat kedua alis.

“Habis ini lo sibuk, nggak?” Luna bertanya.

“Nggak. Kenapa?”

“Temenin gue ngemall, yuk. Kita kan udah lama nggak ngemall bareng,” ujarnya.

“Boleh,” jawabku, “Gue juga kepingin ngemall bareng lo lagi.”

“Ya udah. Lo keluar bentar dulu, gih. Gue mau ganti baju,” katanya.

“Oke,” jawabku kemudian bangkit dari duduk dan berjalan menuju pintu keluar dengan perasaan ringan.

 

***

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam saat aku tiba di rumah. Acara ngemall bareng Luna tadi ternyata seru banget. Kami memutuskan untuk karaokean lantaran sudah lama sekali tidak melakukan hal itu. Rasa-rasanya sudah lebih dari setahun. Berbaikan dengan Luna benar-benar bikin seluruh hariku terasa menyenangkan, seolah semua masalah yang membebaniku sudah tuntas.

Aku berjalan dengan santai memasuki rumah setelah memarkir sepedaku di halaman depan. Sebenarnya, aku sedikit terkejut karena suasana rumah begitu sepi. Sama sekali tidak terdengar suara TV atau radio. Lampu-lampu juga sebagian dimatikan.

Aneh. Padahal Jerry kan ada di sini. Mana mungkin cowok itu betah sunyi-sunyian begini? Dalam keadaan remang-remang pula.

Jangan-jangan dia sudah tidur?

Ah, mana mungkin! Ini kan baru jam setengah sembilan. Aku saja tidak terbiasa tidur seawal ini, apalagi Jerry.

“Jer?” aku memanggil dengan suara keras.

Tidak ada yang menyahut panggilanku.

“Jerry? Lo di mana, sih?” aku memanggil sekali lagi dengan suara yang lebih keras daripada sebelumnya.

Karena sama sekali tidak mendapatkan jawaban, aku pun menjadi penasaran. Setengahnya geram karena panggilanku tidak dijawab, setengahnya lagi agak khawatir kalau terjadi apa-apa terhadap Jerry. Secara, aku kan tidak tahu-menahu soal riwayat kesehatan cowok itu. Siapa tahu dia sebenarnya mengidap penyakit semacam asma dan kambuh mendadak, tapi tidak ada yang menolongnya selama berjam-jam. Hii… membayangkannya saja aku sudah bergidik ngeri.

Dengan tergesa-gesa, aku menghampiri kamarnya dan mengetuk pintu.

“Jer, lo di dalem?” aku bertanya.

Seperti yang sudah terjadi sebelumnya, sama sekali tidak terdengar suara Jerry menyahut panggilanku.

Dengan panik, aku pun menjeblak pintu kamarnya hingga terbuka.

Ternyata, keadaan di dalam gelap gulita. Aku segera menyalakan lampu dan memandang ke sekeliling.

Sama sekali tidak ada tanda-tanda Jerry di sini. Yang ada hanya seprai yang agak berantakan seperti habis dipakai, serta barang-barang yang berserakan di lantai.

Ya ampun, ke mana perginya cowok jorok itu, sih?

Aku segera menutup pintu tanpa mematikan lampu, kemudian naik ke lantai dua untuk menuju ke kamarku. Sesampainya di kamar, aku segera merogoh saku bajuku dan mengeluarkan ponsel dari dalamnya.

Sial, ternyata baterainya habis total. Bahkan sampai tidak bisa dinyalakan.

Dengan segera, aku menancapkan kabel charger ke ponselku dan menunggu benda itu menyala. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya ponsel itu menyala juga. Aku langsung mencari nama Jerry di daftar kontak dan menekan tombol hijau untuk menghubunginya, tidak peduli ponselku masih di-charge dan bisa saja rusak.

Terdengar nada sambung yang panjang.

Aku terus menunggu, sampai akhirnya sebuah suara terdengar di seberang telepon.

“Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Silakan…”

Aku segera menekan tombol merah, kemudian mencoba menelepon kembali. Seperti sebelumnya, yang terdengar hanya suara operator. Aku tidak menyerah. Kuulangi lagi panggilan itu sampai tiga kali.

Saat aku sudah nyaris lelah karena tidak adanya jawaban, mendadak saja, seseorang mengangkat teleponku.

“Halo,” terdengar suara seorang pria di seberang telepon.

Aku baru hendak menyambar dengan berbagai pertanyaan saat aku menyadari sesuatu.

Suara itu bukan suara Jerry.

Ya, aku tidak mungkin salah. Suara Jerry tidak seringan ini. Suaranya berat walaupun sedikit cempreng. Ini jelas bukan suaranya.

“Halo? Halo?” orang itu terus memanggil saat aku tidak kunjung menjawab sapaannya.

Aku mengerutkan kening.

Di mana Jerry sebenarnya? Kenapa bukan dia yang mengangkat telepon? Siapa pria yang mengangkat teleponnya itu? Dan kenapa di seberang telepon sepertinya sangat ramai?

“Halo? Halo? Siapa ini?” suara itu terus mencecarku.

Aku memutuskan untuk memutus sambungan. Sambil masih terus bertanya-tanya, aku berjalan menuju kasurku dan merebahkan diri di atasnya.

Kira-kira Jerry kenapa, ya?

Jangan-jangan, terjadi sesuatu yang buruk padanya.

Rasanya aku tidak bisa tinggal diam. Baru sehari dia menginap di rumahku dan sudah terjadi kejadian aneh seperti ini. Bagaimana kalau dia menghilang dan nantinya aku yang disalahkan?

Aku benar-benar tak habis pikir.

Bahkan, sampai aku jatuh tertidur pun, pikiranku masih belum berhenti bertanya-tanya.

 

***

Aku terbangun saat merasakan guncangan kuat di kasurku. Rasanya tubuhku terlonjak ke atas dan ke bawah gara-gara guncangan itu. Masih dengan mata setengah terbuka, aku melirik ke samping.

Dan seketika itu juga mataku langsung terbelalak lebar.

Aku menjerit sambil duduk tegak di atas kasurku.

“JERRY! NGAPAIN LO DI SINI?!” aku berteriak pada Jerry yang saat ini tengah memandangku dengan wajah datar.

Melihatku, dia kemudian menghentikan aksi loncat-loncatnya di atas kasurku.

“Akhirnya lo bangun juga,” gumamnya tanpa rasa bersalah.

“Lo… kok lo bisa ada di sini, sih?!” aku memekik keras, “Dan ngapain lo loncat-loncat di atas kasur gue? Lo tahu nggak, lo nyaris bikin jantung gue copot!”

Jerry melompat turun dari kasurku dan mengangkat bahu. “Habis, diteriakin berkali-kali juga lo nggak mau bangun. Lebih baik gini kan, daripada gue siram pake air dingin?”

“Kan lo bisa guncang-guncangin tubuh gue kek, apa gimana gitu,” protesku, “Kenapa lo harus loncat-loncat di atas kasur gue, sih? Bikin ngeri, tau nggak!”

“Udah gue lakuin berkali-kali juga,” katanya, “Ternyata lo itu kebo banget, ya. Kudu ada gempa dulu, baru mau bangun. Gempanya juga kudu delapan skala richter gitu.”

“Dasar,” aku mengumpat, “Kenapa sih, lo masuk-masuk kamar gue sembarangan? Lo kan punya kamar sendiri di bawah! Lebih-lebih, ini udah…,” aku terdiam sejenak untuk melirik jam dinding yang terpasang di dinding kamarku, “lewat tengah malem!”

“Kenapa?” dia bertanya balik, “Lo takut gue apa-apain? Tenang aja, gue nggak nafsu kok sama lo.”

“Mau digimanain juga, gue tetep takut,” jawabku. “Seperti yang lo bilang. Lo cowok, dan gue cewek. Dan kita di sini berdua aja. Gimana gue nggak takut coba? Lebih-lebih, ternyata nggak ada gunanya juga gue taruh lo di kamar bawah. Tetep aja lo bisa ke sini. Loncat-loncat di atas kasur gue, pula!”

“Yeee… gue ke sini kan ada alesannya.”

“Dan apa alesannya?”

Dia mengarahkan ibu jarinya ke arah pintu. “Lo sadar nggak, air di dispenser lo habis? Gue sampe nyaris dehidrasi selama berjam-jam, dan tenggorokan gue udah gersang kayak padang gurun. Dan lo malah enak-enak ngebo kayak nggak terjadi apa-apa gitu.”

Aku terdiam sejenak dengan tampang bego. “Hah? Jadi, lo bangunin gue cuma gara-gara itu?”

Cuma?” dia mengulangi kata-kataku dengan nada mengejek, “Lo bilang cuma? Sejak kapan nyaris dehidrasi jadi sekedar cuma?”

“Kan lo bisa akalin sendiri. Ambil galon baru, kek,” aku berkilah.

“Lo lupa? Ini kan rumah lo, bukan rumah gue. Mana bisa gue ngambil-ngambil galon baru seenak jidat. Tambahan lagi, kalo bisa pun, gue nggak tahu galon barunya di mana,” jawabnya, “Buruan, kek. Gue bisa dehidrasi sungguhan nih.”

“Iya, iya, sabar,” aku mengomel sambil turun dari kasur dan membuka pintu. Jerry mengikutiku menuju dapur untuk mengambil galon baru.

Tiba-tiba terlintas dalam benakku untuk menanyakan perihal keanehan yang tadi kutemui sebelum tidur kepada Jerry.

“Oh, ya, Jer,” aku memanggil, “Tadi lo pergi ke mana?”

“Tadi?” Jerry bergumam, “Tadi kapan?”

Aku mengangkat sebuah galon baru sambil menjawab, “Ya tadi, sebelum gue tidur itu. Pas gue balik dari pergi, lo udah nggak ada di rumah.”

Jerry terdiam sejenak, sebelum kemudian berkata, “Oh, itu. Gue cuma pergi bareng temen-temen aja.”

“Terus, pas gue telepon lo tadi, kenapa nggak aktif? Tambahan lagi, begitu diangkat, yang ngangkat bukan elo. Siapa, tuh?”

“Tadi gue lagi ke toilet,” jawabnya tak meyakinkan, “Temen gue yang ngangkat. Dia bilang juga kok kalo lo telepon. Katanya, dia akhirnya angkat gara-gara HP gue bunyi terus nggak ada habisnya. Tapi gue nggak telepon balik soalnya nggak ada pulsa.”

“Bohong,” sanggahku, “Mana mungkin lo ke toilet lama banget? Orang gue telepon sampe lebih dari empat kali. Sekali nada sambung aja udah makan waktu berapa lama?”

“Tadi gue makannya di warung. Toiletnya masuk gang, ke rumah pemiliknya gitu. Makanya jalannya lama,” jawabnya.

Sebenarnya aku agak tak yakin dengan jawabannya, tapi akhirnya memutuskan untuk percaya saja dan tidak melanjutkan interogasiku lebih jauh. “Angkat sendiri gih, galonnya.”

Jerry mengangguk, kemudian mengangkat galon yang tadinya ada di tanganku untuk dibawa ke dispenser. Setelah memasang galon itu dan membuang galon lama yang sudah kosong, dia berbalik dengan santai menuju kamarnya sendiri.

“Nggak bilang makasih?” aku bertanya.

Jerry berhenti dan menoleh dengan tak acuh. “Makasih,” katanya dengan nada terpaksa.

“Sama-sama,” jawabku singkat tanpa protes kemudian bersiap naik ke kamarku sendiri.

Suara Jerry-lah yang kemudian membuat langkahku terhenti.

“Steph,” panggilnya.

Aku menoleh dan mengangkat kedua alisku.

“Jangan lupa janji lo besok, ya?” dia berkata dengan nada jahil.

“Janji?” aku mengerutkan kening, “Janji apa?”

“Dasar pikun lo emang, ya,” Jerry menggumam dengan nada supermenyebalkan, “Masa lo lupa? Lo kan janji mau bangunin gue.”

Aku terdiam sejenak untuk mengingat-ingat, kemudian langsung tersentak. “Astaga! Masih inget juga lo rupanya!”

Jerry tertawa penuh kemenangan. “Inget, dong! Jadi, lo kudu pastiin gue bangun besok! Mau lo teriakin, kek. Mau lo guyur air, kek. Terserah elo. Pokoknya gue kudu bangun. Titik.”

Setelah mengatakan hal itu tanpa rasa bersalah, ia langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu.

Sementara aku hanya bisa melongo memandangi pintu yang sudah tertutup dengan hati dongkol.

Entah mengapa, aku punya perasaan buruk soal besok.

TO BE CONTINUED

Sorry for latepost 😐

Next chapter : 14

Download the Ebook?

download-icon2

Advertisements

8 thoughts on “[CHAPTER THIRTEEN] Little Stories of Ours

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s