[CHAPTER TWO] Mystery of the Orphanage (1/4)

MOTO

 

MYSTERY OF THE ORPHANAGE
Cindy Handoko & Viona Angelica

CHAPTER TWO

PART ONE

Copyright © 2014 by Cindy Handoko

P.S : This chapter is made by Cindy Handoko, the owner of this blog

What have you missed already?

PROLOGUE || CHAPTER ONE PART ONE || CHAPTER ONE PART TWO

Joshua POV

Aku sungguh-sungguh tidak paham apa yang terjadi. Seingatku, aku beserta Catherine dan Bryan masih bersantai-santai mengamati berbagai aksesoris di kios Jeweleries sambil sesekali bercanda tawa dan menanyakan berbagai macam hal pada Bu Hermi, si penjaga kios yang ramah itu.

Kemudian teriakan itu terdengar.

Dan situasi berubah dengan cepat setelah itu. Catherine langsung berlari keluar dari kios tanpa mengatakan apa-apa, dan wajah Bryan berubah panik seketika.

Aku tidak mengerti. Sungguh-sungguh tidak mengerti.

Semua yang dapat kulakukan hanyalah berdiri mematung tanpa tahu harus berbuat apa. Rasanya horror sekali, sebab teriakan itu sungguh kencang dan terus bergema dalam rongga pikirku.

“Sekolah,” gumam Bryan.

Aku langsung mengangkat kepalaku dan memandanginya dengan tatapan bertanya-tanya.

“Asal teriakan itu dari sekolah,” Bryan menjelaskan maksud gumamannya.

Seketika, perasaan horror yang menyergapku semakin kuat. “A-apa… ini semua perbuatan hantu?”

“Ngaco lu! Ngapain hantu teriak-teriak gitu?” Bryan menyahut sengak.

“Nggak, nggak. Maksud gue, kalo bukan hantu, terus kenapa suara teriakan itu bisa kedengeran sampe sini? Jarak sekolah sama tempat ini kan jauh.”

Bryan ganti menatapku dengan pandangan horror. “Jadi, dari tadi lo nggak ngeh?”

“Ngeh apa?” tanyaku dengan bingung.

Bryan mendesah frustasi. “Joshua, gini, ya. Biar gue jelasin. Nggak ada yang namanya hantu di dunia ini. Kalaupun ada, dia nggak bakalan teriak-teriak gaje tanpa tujuan yang jelas gitu.”

“Jadi? Tadi itu apa, dong?” Aku bertanya.

“Satu-satunya kemungkinan adalah, teriakan itu dikeraskan melalui speaker!” Bryan menjawab dengan teriakan frustasi, “Masa lo nggak konek sampe situ, sih? Gue kira kita berpikiran sama.”

“Oh iya, ya,” gumamku, “Berarti asal teriakan itu adalah dari ruangan yang ada mikrofonnya?”

“Iya!” Bryan memekik langsung.

Aku manggut-manggut. “Terus, lo kenapa masih di sini?”

Aku menatap Bryan dengan sebelah alis terangkat. Bryan hanya diam saja, dan aku pun semakin bingung dibuatnya.

“Oh, lo nungguin gue? Duh, gue nggak nyangka ternyata lo setia kawan banget,” aku menyimpulkan dengan ngawur.

“Bukan itu!” Bryan langsung menyahut dengan emosi.

“Terus apa?” Aku bertanya dengan nada suara sengaja dibuat polos.

“Gue…,” Bryan menggantungkan kalimatnya di udara, “Gue nggak tahu ruangan mana yang ada mikrofonnya.”

Jawaban lirih itu nyaris membuatku terjengkang ke belakang. Astaga, rupanya dia nggak tahu ruangan mana yang ada mikrofonnya! Dasar kudet.

“Dari tadi lo berlagak jenius, tapi ternyata lo bego juga, ya?” Aku bergumam. “Udah berapa tahun sih lo sekolah di sini? Masa kayak gituan aja lo nggak tahu?”

“Belum ada setahun, Oon!” Bryan menyahut tak terima, “Kita kan baru aja pindah ke gedung SMA. Dasar pikun lo.”

Giliran aku yang terdiam.

Oh iya, ya. Benar juga Bryan. Masa-masa SD dan SMP kan tidak kami habiskan di gedung ini, melainkan di gedung belakang.

“Ah, pokoknya lo tergolong kudet, lah! Udah lewat setengah tahun kita sekolah di gedung ini, masa lo masih belum tahu juga?” aku membela diri.

Cut it out already! Kita harusnya buruan ke ruangan itu, bukannya malah debat gaje di sini!” Bryan memekik dengan nada depresi sekaligus panik.

“Ya udah, ya udah. Ayo, cepet! Lo ikutin gue aja,” aku berujar. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku segera berlari keluar dari kios setelah menyempatkan diri mengulum seulas senyum ramah pada Bu Hermi, si penjaga kios. Bryan mengikutiku dari belakang.

Aku berlari sekuat tenaga dan berhasil mencapai gedung sekolah dalam waktu kurang dari tiga menit. Bryan, yang pada dasarnya punya kaki lebih panjang daripada milikku, tentu saja berhasil menyusulku dengan sangat baik. Aku menatap ke sekeliling lapangan dan mencari-cari tiga sosok yang tadinya kami tinggalkan di sini dengan gusar.

“Ke mana mereka?” Aku bergumam saat menyadari tidak ada tanda-tanda ketiga orang itu.

“Nggak ada waktu buat ngurusin mereka, Josh! Kita harus buruan nyari sumber suara sebelum telat!” Bryan memprotes kelakuanku.

“Iya, iya! Giliran butuh aja, lo merhatiin gue. Coba kalo gue nggak dibutuhin, pasti udah lo tinggal gue dari tadi-tadi,” dumelku sambil mengambil ancang-ancang untuk kembali berlari.

“Berisik lo! Yang penting kan sekarang lo dibutuhin!” Bryan mengomel. “Buruan lari!”

Aku segera berlari dengan kecepatan ekstra. Seperti biasa, Bryan mengikutiku dari belakang. Kami berdua berlari dalam diam tanpa sepatah kata pun. Bahkan, sampai langkah kami menapaki tangga menuju lantai dua pun, kami masih terus diam.

“Di mana sih, ruangannya?” Tiba-tiba Bryan membuka suara.

“Lantai tiga,” jawabku cepat sambil masih terus berlari. Aku naik ke lantai tiga melalui tangga diikuti Bryan.

Suasana di lantai tiga sangatlah hening. Maklumlah, guru-guru sedang menjalani waktu istirahat. Biasanya, sih, lantai yang dipenuhi ruangan-ruangan guru dan administrasi ini selalu ramai oleh suara para guru yang saling bersahutan.

Aku memasuki koridor tempat ruangan yang kami cari-cari berada. Koridor itu sama sepinya dengan bagian lain dari lantai ini. Hanya saja, di koridor itu tercium bau amis yang sangat kuat. Saking kuatnya, aku sampai langsung menghentikan langkah begitu memasuki koridor itu.

“Buset! Bau apaan, nih?!” Pekikku sambil menutupi hidung dengan sebelah tangan.

Shit! Kita udah telat!” Bryan memekik sambil ikut berhenti dan mengatur napasnya yang terengah-engah sehabis berlari. “Ini jelas-jelas bau darah, Josh. Kalo baunya bisa sampe ke sini, itu artinya, darah yang dikeluarin orang itu udah banyak banget.”

Aku melongo, dan seketika itu juga, perasaan ngeri langsung merambati hatiku. “Maksud lo… siapa pun yang ada di dalem sana udah meninggal?”

“Logikanya sih gitu, Josh,” Bryan membalas, “Tapi kita harus tetep cek keadaannya!”

Tanpa aba-aba, Bryan langsung berlari lagi meninggalkanku. Aku ikut berlari dan mendahuluinya menuju ke ruangan yang kami cari, ruang multimedia.

Pintu ruangan itu terbuka lebar, dan bau amis menguar semakin kuat tatkala kami mencapai pintu ruangan.

Oh, sial. Bryan benar. Siapa pun orang yang ada di dalam sini, dia pasti sudah tinggal nama.

“Minggir, Josh,” Bryan menerjang bahuku yang menghalangi pintu masuk. Ia berjalan cepat memasuki ruangan dan mulai memandang ke sekeliling ruangan dengan liar. Aku hanya mengamatinya dan menunggunya bereaksi.

Tiba-tiba, ia memekik pelan. Dan saat itu pulalah aku tahu, apa yang kami perkirakan memang benar.

Bryan berlari dengan cepat menuju kursi hitam yang terletak di depan meja mikrofon, kemudian menggeser kursi itu dengan kasar. Aku mengintip dengan jantung berdebar-debar sambil menerka-nerka dalam hati.

Dan saat itu jugalah, aku merasa rohku melayang keluar dari tubuhku selama beberapa detik.

Aku tidak sanggup berkedip, bahkan bernapas. Sebab, di dekat meja mikrofon, terbaring tubuh bersimbah darah yang pucat dan lunglai. Di bagian dada seragamnya, terdapat banyak sobekan yang menampakkan bekas tusukan pisau yang dipenuhi darah pekat. Darah berbau amis itu merembes di seragamnya hingga seluruh bagian putih yang ada di seragam itu tertelan warna merah menjijikkan.

“J-Josh… Ini…”

“Siapa itu?” Sambarku dengan suara bergetar penuh ketakutan.

Bryan menggeleng dalam diam. Wajahnya sangat pucat, dan tampak sekali lututnya bergetar hebat. Melihatnya, aku jadi tak tega. Maka, kuberanikan diri untuk menghampirinya kendati masih agak terganggu dengan raga bersimbah darah yang kini tergolek di hadapannya.

Aku berjongkok untuk mengamati orang itu, sembari bersusah payah menahan debar jantungku yang semakin menjadi-jadi. Kuulurkan tanganku untuk memeriksa nadinya, namun kendati sudah kuulangi berkali-kali, aku tetap tak menemukan tanda-tanda kehidupan pada orang itu.

“Kita udah telat,” Bryan bergumam. “Nggak cuma telat dateng ke sini, tapi juga telat nangkep pelaku semua ini. Belum apa-apa, udah ada satu lagi korban jatuh.”

“Bry, tenang deh,” aku bergumam sambil berdiri dan menepuk punggungnya, “Apa nggak lebih baik kita cari bantuan dulu?”

“Orang ini udah nggak bisa ditolong lagi, Josh. Cari bantuan pun percuma,” Bryan berkata.

“Tapi, Bry, kalo kita diem aja dan tiba-tiba orang-orang pada dateng ke sini, kita bisa dituduh pelakunya,” aku mengutarakan alasan yang cukup masuk akal.

Bryan terdiam.

“Bener juga lo,” ujarnya pelan, “Ya udah, selagi TKP-nya masih fresh, kita kumpulin aja dulu semua bukti yang bisa kita kumpulin cepet-cepet, baru kita keluar dan cari bantuan.”

“Oke,” jawabku, kemudian mulai berjongkok lagi dan memeriksa lantai di sekitar mayat itu yang kini sebagian besar dipenuhi genangan darah. Bryan juga melakukan hal yang sama.

Tiba-tiba, Bryan menepuk pundakku. Aku menoleh dan melihatnya menunjuk sesuatu di dekat mayat itu.

“Cara yang persis sama,” ujarnya.

Aku mengikuti arah yang ditunjuknya dan melihat sebuah gumpalan kertas koran yang berukuran besar. Gumpalan itu nyaris persis dengan gumpalan yang juga ditemukan di samping mayat Fellicia. Melihat dari tempat jatuhnya gumpalan itu, tanpa perlu berpikir keras lagi, aku sudah tahu untuk apa gumpalan itu digunakan.

Ya, persis seperti kasus Fellicia, gumpalan itu juga digunakan untuk menyumpal mulut korban agar tak dapat berteriak. Sayangnya, gumpalan itu akhirnya juga jatuh dan menyebabkan teriakan terakhir yang korban lontarkan jadi terdengar jelas.

“Lo punya kertas, Josh?” Bryan bertanya.

“Kertas? Kertas kosong?”

“Bekas juga boleh, lah. Asalkan ukurannya rada gede,” Bryan menjawab.

Aku merogoh saku celanaku dan mencari-cari kertas di dalamnya. Setelah menemukan kertas yang kucari, segera kutarik benda itu keluar dan kubuka lipatannya hingga menjadi lembaran yang lumayan lebar. “Nih,” ujarku seraya menyerahkannya pada Bryan yang masih serius mengamati TKP.

Bryan menerimanya dan memperhatikannya sebentar. Kemudian raut wajahnya berubah seketika. “Jangan kertas hasil ulangan juga, kali, Josh!”

Aku menyahut tak terima, “Adanya itu! Udah lah, lagian kertas jelek itu nggak penting-penting amat. Kecuali kalo gue dapet 100, baru gue simpen kertasnya. Lah itu? Nilai 73 doang sih, buang aja.”

Bryan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya udah. Ntar kalo disuruh ngumpulin lagi pas akhir semester dan kertas lo nggak ada, jangan salahin gue, ya.”

Aku mengangkat bahu tanda tak peduli.

Bryan kemudian menggunakan kertas hasil ulanganku untuk mengambil gumpalan kertas koran yang tergeletak di lantai itu.

“Kenapa kudu pake kertas itu buat ngambil segala, sih?” Aku bertanya.

“Antisipasi,” jawab Bryan cepat sembari memasukkan gumpalan kertas koran itu ke dalam kantung plastik yang telah dia keluarkan dari sakunya, “Siapa tahu kita bisa pake teknologi sidik jari juga buat nyelidikin kasus ini.”

Aku manggut-manggut.

“Lo nemu benda lain, nggak?” Bryan bertanya. Aku kembali memperhatikan sekeliling secara cepat, kemudian menggeleng.

“Kayaknya emang itu aja,” jawabku.

“Oke, sekarang buruan lo ambil foto TKP, abis itu kita cari bantuan.”

Aku mengangguk, kemudian bersiap mengambil kamera yang biasa kugantungkan di leherku. Namun, detik itu juga, aku menyadari suatu hal.

Kameraku nggak ada.

Aneh. Padahal, aku selalu membawanya ke mana pun aku pergi. Kenapa tiba-tiba benda itu bisa hilang?

Mencoba untuk tidak panik, aku pun mulai mengingat-ingat.

Suatu fakta membuat kepalaku serasa dihantam batu berton-ton.

“Bry,” aku memanggil Bryan lirih.

“Kenapa? Buruan, deh.”

“Kamera gue masih dibawa Catherine,” aku berkata pelan, masih dengan suara lirih.

Wajah Bryan berubah dari wajah penuh rasa penasaran menjadi wajah bete. “Dasar bego! Sekarang ke mana cewek itu?”

“Mana gue tahu!” Aku membalas dengan cepat, “Tadi bukannya dia lari duluan?”

Bryan terdiam. “Iya, tapi di mana dia sekarang?”

Aku menggeleng tanda tidak tahu. “Jangan-jangan dia nyasar ke ruangan lain, Bry?”

“Jangan disamain sama elo, bego!” Bryan menoyor kepalaku, “Dia pasti juga ngerti kalo suara teriakan itu berasal dari ruangan ini.”

“Terus, ke mana dia sekarang?” Aku bergumam. Setelah cukup lama berpikir, aku menghela napas panjang. “Sialan, mana kamera gue dibawa, lagi.”

“Kalo gitu, pilihannya tinggal dua. Pilihan pertama, cari dia. Pilihan kedua, cari bantuan dulu aja, baru kita balik lagi ke sini malem nanti.”

Aku terdiam. “Kalo kita nyari dia kelamaan, bisa-bisa orang lain udah keburu nemuin mayat ini duluan. Gue nggak mau kita dituduh pembunuh, Bry.”

“Ya udah. Kalo gitu, terpaksa kita nggak ngambil dulu foto TKP untuk sementara waktu,” Bryan menyimpulkan. “Nah, sekarang, ayo kita keluar buat nyari bantuan.”

 

***

Alice POV

“Sam, buruan!” Aku berteriak sembari menggedor-gedor pintu kamar mandi pria dengan panik. “Kita udah ngaret lama banget, nih!”

“Iya, iya, sabar!” Terdengar suara Sam dari dalam bilik kamar mandi. Suaranya menyerupai rintihan kesakitan yang biasa dikeluarkan ibu-ibu saat bersalin. “Perut gue… Aduh, perut gue…”

“Ya ampun, Sam!” Aku berteriak lagi dengan tidak sabar. “Lo kira kita lagi main-main apa?! Bisa aja ada korban lagi, dan kita nggak tahu!”

“Tapi, Lice… Perut gue sakit banget…” Sam merintih lagi, “Ini semua gara-gara kita ditahan di lapangan sama Pak Petugas Kebersihan. Coba kalo gue diizinin pergi ke toilet dari tadi. Pasti perut gue nggak akan sesakit ini.”

“Halah, sesakit-sakitnya perut, nggak bakalan sesakit kalo lo kencing batu!” Aku membalas emosi.

Sam terdiam sejenak tanpa suara.

Kemudian, “Kencing batu itu apa?”

Saat dia mengatakan itu, aku berani bersumpah, tubuhku nyaris ambruk ke belakang. “Ya ampun, masa lo nggak tahu? Kencing batu itu terjadi gara-gara kita nahan pipis dalam waktu yang lama! Kencingnya jadi keras gitu, lho.”

Sam terdiam lagi, kemudian menyahut polos, “Jangan-jangan, gue kencing batu, Lice?”

“Ya nggak mungkin lah, Sam! Kalo lo kencing batu, lo udah terkapar nggak bisa berdiri, apalagi jalan. Terus, lo harus dioperasi dan diopname di rumah sakit!”

Suara Sam berubah panik. “Jadi, gue harus dioperasi dan dibedah-bedah perutnya pake gunting?!”

“SAM, ELO ITU NGGAK KENCING BATU!” Aku berteriak keras-keras.

Sam terdiam. “Masa?” Tanyanya, “Tapi ini kencing gue yang keluar keras, tuh.”

“Itu bukan kencing, Sam. Itu tinja,” aku membalas dengan suara datar. “Nggak usah ngelawak kenapa, sih?”

“Yah, habis gue kira, kalo kencing keras jadinya kayak gini,” Sam membalas.

“Jorok lu ah! Udah, cepetan aja, deh!”

Aku kembali menunggu dalam diam. Setelah lima menit menunggu, aku mulai kesal karena Sam tidak kunjung keluar juga.

“SAAAAMM!!” Aku menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan brutal. Dan saat itu juga, pintu dibuka dengan cepat. Tanganku nyaris menghantam jidat Sam kalau saja aku tidak menurunkannya duluan.

Wajah Sam terlihat pucat dan penuh keringat. Rambutnya berantakan dan lepek.

“Ya ampun, lo habis buang air apa bersalin sih, Sam?” Aku bergumam dengan nada penuh simpati yang dibuat-buat.

“Bersa—eh! Buang air, lah! Enak aja bersalin!” Sam mendumel sendiri. “Yuk, cepetan!”

Aku mengangguk kemudian mendahului Sam berlari meninggalkan kamar mandi. Sam mengikutiku dari belakang.

“Emang kita mau ke mana, sih?” Sam bertanya. Pertanyaan itu kontan membuat langkahku terhenti.

Oh, iya. Kita mau ke mana sih memangnya?

“Nggak tahu,” jawabku, “Coba ke lantai dua dulu?”

“Ya elah, kalo kita kecele gimana?” Sam bertanya.

Aku terdiam, kemudian menggaruk tengkukku yang tidak gatal. “Gimana, ya, Sam?”

Kami berdua terdiam tanpa suara sembari sama-sama berpikir. Tiba-tiba, seseorang berlari kencang menerjang Sam dengan wajah pucat. Mataku terbelalak saat menyadari siapa orang itu.

“Catherine!” Aku memanggilnya.

“Ruang multimedia, Lice! Cepet!” Catherine berteriak tanpa membalikkan badan sambil masih terus berlari menjauh.

Kendati agak bingung dengan sikap terburu-buru Catherine yang begitu aneh, aku memutuskan untuk tidak mempedulikannya. Ada hal lebih penting untuk diurus saat ini.

“Ayo, Sam!” Setelah meneriakkan hal itu, aku berlari mendahului Sam. Langkahku langsung terhenti saat kusadari Sam tidak mengikutiku.

Aku berbalik dan mendapatinya berdiri mematung di tempatnya semula dengan wajah seperti orang hilang kesadaran.

“Sam! Lo ngapain?!” Aku berteriak dengan panik sekaligus emosi.

“Gue habis diterjang Catherine… Gue diterjang Catherine… Catherine… Catherine…” Sam menggumam dengan nada mengambang.

“SAM!!” Aku berteriak tak sabar.

Wajah Sam berubah seperti ditampar, kemudian ia menoleh ke arahku dengan raut wajah kebingungan. “Eh, iya? Apa?”

“Ayo buruan!”

“Bentar, Lice. Gue masih nggak bisa percaya kalo—”

“Udah, lah! Nanti aja ngurusin itu! Sekarang masih ada hal yang lebih penting!” Teriakku emosi.

“Tapi, Lice. Tadi… Gue diter—”

“Lo naksir Catherine?” Aku bertanya. Wajah Sam seketika berubah merah, dan aku pun langsung tahu jawaban dari pertanyaanku tanpa perlu mendengarnya langsung dari mulut Sam. “Fine kalo lo nggak mau jawab. Yang jelas, apa pun jawaban lo, urusin nanti aja. Sekarang, lo ikut gue ke ruang multimedia.”

Sam menggeleng lemah. “Gue…”

“Nanti gue temuin lo sama Catherine, deh! Berdua aja!” Aku mengiming-imingi Sam, dan tepat seperti dugaanku, raut wajahnya langsung berubah.

“Serius nih lo?”

“Serius!”

Sam terdiam sejenak. Kemudian, “Ya udah, gue ikut.”

Aku memutar kedua bola mata dan mengumpat, “Dasar.”

Sam kemudian berlari-lari kecil menyusulku hingga kini ia telah berdiri di sampingku. Kuputuskan untuk menanyakan hal paling penting yang mengusik benakku saat ini.

“Sam, sebenernya, ruang multimedia itu di mana, sih?”

 

***

Bagian depan ruang multimedia telah dipenuhi kerumunan orang yang saling berdesakan, saling dorong satu-sama-lain dengan tidak sabar. Aku memperlambat langkahku dan membiarkan Sam berjalan duluan melewatiku.

Aku tak dapat melihat ke dalam ruangan karena terhalangi oleh kerumunan yang begitu ramai. Dalam hati, aku bertanya-tanya, separah apakah kondisi orang yang saat ini berada di dalam sana? Masih bisakah ia diselamatkan?

Pemikiran bahwa siapa pun orang yang berada di dalam sana mungkin saja sudah tiada membuatku merasakan suatu perasaan ngeri yang tak tertahankan.

Apa kematian orang itu karena aku dan Sam terlambat datang?

Jangan-jangan, kalau kami datang sesaat setelah teriakan itu terdengar, ia masih bisa diselamatkan?

Sungguh, aku jadi merasa bodoh.

Aku berjinjit sembari mencoba menerobos kerumunan. Namun, sekeras apa pun usahaku, aku tetap tak mampu melihat maupun masuk ke dalam. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dan mencari-cari Sam, dan kusadari ia rupanya juga telah menghilang entah ke mana.

Saat aku sedang sibuk mencari-cari, tiba-tiba kulihat gerombolan anak berseragam asrama berjalan cepat dari ujung lain koridor. Anak-anak itu sepertinya merupakan gabungan dari anak-anak di angkatanku serta kakak-kakak kelasku. Pokoknya, wajah mereka kelihatan panik sekali. Dari baju mereka yang berantakan, aku tahu, pasti mereka kabur dari asrama dan masuk melalui gerbang belakang. Mungkin mereka tidak diizinkan keluar dari asrama atau apa, lalu memutuskan untuk nekad melanggar peraturan karena penasaran.

Aku terus memperhatikan gerombolan itu saat tiba-tiba mataku menangkap seseorang di antara mereka. Orang yang menarik perhatianku itu bertubuh tinggi, kurus, dan berambut acak-acakan. Wajahnya yang sengak tentu membuatku berpikir bahwa aku tak mungkin salah mengenalinya.

Ya, aku ingat. Dia cowok berandal yang berani mencelaku di hari pertama aku masuk ke sekolah ini. Cowok yang tampak begitu kasar, namun juga menyimpan kelembutan dalam tatapan matanya yang selalu tampak meremehkan.

Tiba-tiba, jantungku berdebar semakin keras.

Astaga, ada apa denganku? Padahal, sebelum aku melihat cowok itu, rasanya debar jantungku tidak sekeras ini. Mana mungkin hanya dengan melihat seseorang, keadaan bisa segera berubah?

Lamunanku segera buyar ketika kulihat cowok itu mempercepat langkahnya mendahului gerombolan dan menerobos kerumunan orang yang menutupi pintu ruang multimedia dengan brutal.

“Minggir lo semua!” Teriaknya keras. Nyaris semua orang yang berkerumun—yang rata-rata adalah pegawai sekolah—ketakutan dan memberi jalan seketika. Sisanya hanya berbisik-bisik penuh sindiran.

Melihat kelakuan cowok itu, gerombolan anak asrama yang tadi ditinggalkannya segera menyusulnya dan menahan tubuhnya.

“Ndrew, berhenti!” Mereka berteriak.

“Nggak!” Cowok yang rupanya bernama Andrew itu berteriak, “Gue mau lihat!”

“Udah lah, Ndrew! Jangan nekad!” Teman-temannya berteriak lagi.

“Gue nggak mau tahu! Pokoknya gue harus lihat!” Andrew melepaskan diri dari cekalan teman-temannya dan segera berlari masuk dengan wajah marah.

Aku penasaran dan berjalan melewati kerumunan melalui jalan yang dibuat oleh mereka untuk Andrew. Mumpung tidak ada yang lihat, hitung-hitung aku bisa mengambil akses singkat untuk masuk.

Aku berdiri di ambang pintu dan mengintip ke dalam. Kulihat tubuh Andrew yang membelakangiku menegang seketika. Kedua tangannya dikepalkan di samping tubuhnya, dan bahunya ditegakkan. Dia seperti siap menghancurkan apa saja yang berada dalam jarak pandangnya.

“REY!!” Dia berteriak seraya berlari menuju ke dekat meja mikrofon. Pandanganku terus mengikuti sosoknya sampai ia berjongkok di samping tubuh bersimbah darah yang tergeletak di lantai. Aku terkejut ketika menyadari bukan hanya Andrew yang berada di ruangan ini, melainkan juga ada mayat itu.

Astaga! Padahal aku datang khusus untuk memeriksa mayat itu! Bagaimana bisa aku malah lupa tujuan awalku dan terus-terusan memperhatikan Andrew?

Kenyataan itu membuatku ingin menampar pipiku keras-keras agar aku tersadar dari mimpi apa pun yang baru saja menyatroni otakku.

Aku mencoba memfokuskan pandangan dan pikiranku pada mayat berkondisi mengenaskan itu, namun aku gagal. Perhatianku terus saja tertuju pada Andrew yang saat ini tengah berteriak-teriak dengan wajah merah padam di samping mayat itu.

“Rey! Bangun, bego! Jangan jadi orang lemah!” Andrew berteriak-teriak dengan emosional.

Tubuhku seperti disetrum listrik melihat pemandangan itu. Entah mengapa, aku merasa sangat tersentuh. Padahal, sebelumnya, aku tidak pernah merasakan hal ini.

Apa yang terjadi denganku?

“Percuma, Ndrew. Dia udah meninggal.”

Suara seseorang menyentakku dari fantasi sesaat. Aku mendongak dan semakin terkejut saat menyadari ternyata ada dua sosok yang kulewatkan di ruangan ini.

Dua sosok itu adalah Bryan dan Joshua.

“Bohong lo!” Andrew berteriak, “Rey nggak mungkin meninggal!”

“Ndrew, sabar, Ndrew,” Joshua berkata, “Lo harus nerima kenyataan ini.”

“Nggak bisa!” Andrew berteriak, “Tadi siang, dia masih sehat-sehat aja, kok! Tadi siang, dia masih bisa bercandaan sama gue, kok!”

Andrew menunduk dalam-dalam. Bahunya bergetar.

Oh, Tuhan. Apa dia menangis?

“Andrew!” Seseorang menerjang bahuku sampai aku nyaris jatuh dan masuk ke dalam ruangan. Cowok itu bertubuh jangkung dengan rambut cepak rapi. Ekspresinya panik hingga menampakkan urat-urat wajahnya dengan jelas. Sepertinya dia teman Andrew.

Oh, aku ingat!

Dia kan cowok yang melapor pada Pak Joseph mengenai kematian Fellicia. Tunggu, siapa namanya, ya?

Ah, aku lupa.

Cowok itu kini menatap Andrew dengan raut wajah tertegun. Sepertinya, Andrew bukan orang yang sering menangis.

“Andrew!” Cowok itu menghampiri Andrew sambil menariknya berdiri. “Udah lah, Ndrew! Nggak ada gunanya ditangisi gitu!”

“Tapi, Wil, gue nggak bisa diem aja! Ini udah kelewatan!” Andrew berteriak emosi.

“Andrew! Udah berapa kali gue bilang ke lo, jangan jadi cowok lemah!” Cowok itu berteriak sambil memutar bahu Andrew sehingga menghadap padanya.

Andrew menatap cowok itu dengan tatapan mata yang menyiratkan kemarahan sekaligus kesedihan. Sama sekali tidak tampak bekas air mata yang sepertinya baru saja dikeluarkannya tadi, dan itu membuatku berpikir bahwa cowok itu benar-benar tegar.

Pemikiran itu seolah menggelitik hatiku, membuat jantungku lagi-lagi berdebar keras.

Astaga, jangan-jangan aku mulai gila.

“Lo pikir gimana rasanya harus nerima kenyataan bahwa orang yang setiap hari bertatap muka sama lo tiba-tiba meninggal, dan dalam keadaan ngenes gini?!” Andrew berteriak.

“Ada apa ini?!”

Tiba-tiba, sebuah suara milik orang dewasa menyentak kami. Kami semua spontan berbalik dan menemukan Pak Stenley, kepala sekolah sekaligus ketua asrama kami yang baru saja tiba di ruangan ini, berdiri seraya menatap kami satu-per-satu lurus-lurus.

Bryan-lah orang pertama yang menjawab pertanyaan Pak Stenley. “Begini, Pak. Tadi, terdengar sebuah teriakan keras dari sini. Jadi, saya dan Joshua memutuskan untuk memeriksa apa yang terjadi. Dan saat kami tiba, kami menemukan—”

“Bukannya saya sudah tegaskan hal ini sebelumnya?” Pak Stenley memotong ucapan Bryan dengan sinis, “Serahkan ini semua pada saya saja! Kalian tidak usah ikut-ikutan! Ini bukan urusan anak-anak ingusan seperti kalian! Mengerti?”

Kami semua langsung tertegun. Kami sungguh tidak menyangka Pak Stenley bisa mengatakan sesuatu yang begitu dingin di saat-saat seperti ini.

“Tapi, Pak—“

“Kamu Bryan si ranking dua itu, kan?” Pak Stenley lagi-lagi memotong ucapan Bryan, “Kamu harusnya memberi teladan bagi anak-anak ini bagaimana menaati peraturan dengan baik, bukannya malah ikut-ikutan!”

Bryan tampak kaget sekali dengan respon Pak Stenley.

“Dan kamu.” Aku luar biasa terkejut saat tiba-tiba Pak Stenley menunjukku. Rasanya ingin segera lari dari sini secepat mungkin, apalagi menyadari bahwa tatapan mata beliau begitu tajam menusuk. “Kamu si murid baru itu, kan? Buat apa kamu ikut-ikut ke sini? Mau coba-coba melawan saya juga? Apa kamu nggak sadar, kamu itu pendatang baru yang seharusnya menaati semua aturan dengan baik?”

Aku tidak sanggup memikirkan apa pun. Yang dapat kulakukan hanyalah berdiri tegak dengan lutut gemetar sembari membuka-tutup mulutku karena batal bersuara beberapa kali.

“Dan Andrew Leonardo,” Pak Stenley menunjuk Andrew, “Lagi-lagi kamu. Dasar bocah tidak tahu aturan. Asal kamu tahu, kamu sudah melanggar banyak sekali pasal dalam buku aturan sekolah, termasuk pasal yang menegaskan tidak untuk membuat gaduh di sekolah.”

Urat wajah Andrew menegang, dan ia tampak siap meledak. “PAK! Apa Bapak nggak punya hati nurani?! Bapak bisa lihat kan, Rey—“

“Satu lagi. Pasal yang menegaskan untuk bersikap hormat pada guru dan sesama siswa,” Pak Stenley memotong dengan nada tenang. Andrew spontan melotot sembari megap-megap, tampak tidak terima terhadap perlakuan Pak Stenley.

Semua orang terdiam, menciptakan situasi hening yang terasa begitu menyiksa.

“Sekarang, kalian semua kembali ke asrama! Saya tidak mau lagi mendengar bahwa kalian coba-coba terlibat dalam perkara yang bukan urusan kalian.”

Setelah mengatakan hal itu, Pak Stenley memerintahkan paramedis yang ia bawa untuk masuk dan mengurus mayat Rey.

Satu-per-satu siswa yang tadinya berada di dalam ruangan mulai beranjak keluar, namun aku terlalu syok untuk bergerak. Aku hanya sanggup mematung di tempatku semula tanpa berkedip.

Tiba-tiba, kurasakan sebuah tangan yang hangat menggenggam tanganku. Aku mengangkat kepala dan mendapati Bryan menatapku sambil tersenyum lemah.

“Ayo, Lice,” ujarnya. Aku menelan ludah dengan susah payah kemudian mengangguk.

Aku pun mengikuti Bryan keluar sambil masih membiarkan tanganku digandeng olehnya. Lagipula, aku tidak yakin bahwa aku masih bisa berdiri dengan baik apabila tidak bertumpu padanya.

“Lo jangan takut,” Bryan berkata, “Pak Stenley emang orangnya suka gitu. Jangan terlalu dipusingin.”

Aku menggigit bibir bawahku.

Suasana menjadi hening dalam waktu yang cukup lama. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu.

“Oh iya, kalian lihat Gwen?”

Joshua, yang berjalan tepat di depan Bryan, langsung menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatapku dengan heran.

“Bukannya dia harusnya ada bersama lo dan Sam?” tanyanya bingung.

Aku menggeleng tanda tidak tahu. “Tiba-tiba aja, dia hilang dari lapangan. Sam juga nggak tahu ke mana perginya dia.”

Bryan mengerutkan dahi. “Well, tadi gue juga sempat lihat dia nggak ada di lapangan, sih. Tapi… gue kira dia pergi nyelidikin sendiri kasus ini.”

“Nggak tahu,” aku berkata, “Dia sama sekali nggak bilang apa-apa, tuh.”

Bryan dan Joshua langsung berpandang-pandangan.

No way!” Joshua tiba-tiba berteriak sambil menyilangkan tangannya dan mundur selangkah. “Kalo orang-orang nyadar, dia bakal tambah dicurigai!”

“Dasar cewek ceroboh,” Bryan menggumam dengan raut wajah keras. “Dia nggak berpikir apa akibatnya buat dirinya sendiri.”

“Terus, kita harus gimana?” aku bertanya.

Bryan dan Joshua sama-sama terdiam. Menyadari bahwa mereka tak bakalan menjawab pertanyaanku, aku memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan.

“Oh ya, ngomong-ngomong, Sam sendiri ke mana?”

Raut wajah Joshua langsung berubah datar. “Hari gini lo masih nanyain ke mana perginya dia. Hidupnya itu cuma berkutat di dua tempat : kamar dan kamar mandi. Pasti dia ada di salah satu dari kedua tempat itu.”

“Tapi dia dateng bareng gue, kok, tadi,” aku berargumen.

“Itu berarti, dia kena gusur,” Bryan membalas. “Kalo dia mendekati TKP kejadian apa pun, dia pasti kena gusur duluan. Soalnya, semua takut kalo dia bakal bikin kacau.”

Aku terbegong. “Kok bisa?”

“Kita jelasin nanti-nanti aja, deh,” Joshua menyambar cepat, “Ngomong-ngomong, Catherine juga ngilang, nih. Lo lihat dia?”

“Oh, kalo Catherine sih gue lihat tadi,” jawabku. “Gue papasan sama dia di lantai satu habis nganterin Sam ke toilet. Kayaknya dia mau balik ke asrama. Tapi… dia kelihatan buru-buru.”

Joshua dan Bryan lagi-lagi saling berpandangan.

“Kamera gue, man!” Joshua mengacak rambutnya frustasi.

“Kamera lo… kenapa?” aku bertanya dengan bingung.

“Kamera gue dibawa dia!” Joshua memekik emosi. “Kalo dia lihat foto-foto yang gue jepret gimana?”

Bryan langsung menoyor kepala Joshua. “Dasar! Bukan itu yang harus dikhawatirin saat ini! Yang lebih penting adalah, gara-gara itu, kita jadi gagal mengambil foto TKP!”

Aku hanya sanggup terbengong menatap kedua orang itu.

Lalu aku sadar suatu hal.

“Ehm… Bry,” aku memanggil Bryan, kemudian melirik tangannya yang masih menggenggam tanganku erat-erat.

“Oh, sori, sori,” Bryan segera melepaskan gandengan tangannya sambil meringis. Setelah berdeham-deham sejenak, dia menyambung dengan suara lantang, “Ya udah, kalo gitu, sekarang kita balik dulu aja ke asrama. Kita lihat apakah Gwen sama Catherine ada di sana. Penyelidikannya kita lanjutin lagi nanti malem.”

“Jangan!” Joshua langsung menyahut. “Resiko tinggi, tau! Lo mau dipanggil dan dihukum lagi kayak tadi?!”

Bryan terdiam. “Fine. Kalo gitu besok pagi.”

“Oke,” aku menjawab. Joshua mengangguk setuju.

Kami bertiga pun berjalan dalam diam menuju asrama.

 

***

Gwen menghilang sepanjang hari.

Aku sudah berusaha mencarinya ke seluruh penjuru asrama, namun ia tak dapat kutemukan. Aku semakin bingung, ke mana perginya cewek itu?

Oke, aku memang tidak ingin mempercayai tuduhan siswa-siswi lain mengenai Gwen. Tapi… kalau kelakuannya mencurigakan begini, bagaimana aku tidak mulai ragu?

Aku masuk ke kamar sambil menenteng plastik berisi peralatan sikat gigi yang baru saja selesai kugunakan. Di dalam kamar, kulihat Catherine sudah berbaring di kasurnya sendiri dengan posisi membelakangiku.

Oh ya, bicara soal Catherine, cewek itu jadi bersikap aneh banget. Sejak tadi, raut wajahnya seperti berpikir, dan ia nyaris tidak mau bicara. Aku sendiri tidak berani mengajaknya bicara karena ia sepertinya punya banyak masalah untuk dipikirkan, dan aku takut kalau-kalau aku dianggapnya mengganggu.

Maka, setelah meletakkan plastik di tanganku ke atas meja, aku segera berbaring di atas kasurku sendiri tanpa mengatakan apa-apa.

Aku menghela napas panjang, kemudian menatap lurus ke langit-langit kamar.

Semua ini jadi semakin rumit saja.

Padahal, belum ada seminggu aku masuk ke panti asuhan ini, tapi hidupku sudah semakin runyam saja dibuatnya. Memang sih, segala hal tentang penyelidikan ini terasa seru, tapi tak dapat kupungkiri, aku juga merasa ketakutan. Seolah-olah keselamatanku bisa saja terancam. Seolah-olah kemungkinan bahwa aku mungkin celaka sewaktu-waktu sangat besar.

Aku benar-benar merasa tidak aman.

“Lice.”

Lamunanku buyar ketika kudengar suara Catherine memanggilku. Aku menoleh dan terkejut mendapati cewek itu sudah menatapku dengan tatapan mata yang menyimpan banyak tekanan.

“Ya?” aku menyahut pelan.

“Besok…,” Catherine menggantungkan ucapannya di udara, “Gue mau ngasih lihat lo sama anak-anak sesuatu.”

Aku terdiam dengan tidak paham, namun akhirnya mengangguk juga.

“Kalo gitu, gue tidur dulu. Good night,” Catherine berkata sambil tersenyum lemah. Setelah itu, ia kembali berbalik membelakangiku.

Dalam hati, aku bertanya-tanya.

Apa yang akan ditunjukkannya pada kami besok?

 

***

Andrew POV

Aku melangkah gontai menaiki tangga menuju lantai tiga sekolah. Hari ini, Bu Mirna, guru sejarah kami sakit. Itulah mengapa, kelasku alias kelas X-A menganggur selama dua jam pelajaran penuh. Beberapa anak memilih untuk tetap berada di kelas dan mengerjakan tugas yang diberikan beliau, tapi aku tentu tidak termasuk kategori yang itu.

Aku tidak bisa berada dalam ruangan yang ramai di saat aku butuh waktu berpikir.

Aku berbelok menuju pintu tangga darurat sambil berusaha tidak menimbulkan suara. Maklumlah aku waspada. Lantai ini dipenuhi ruangan-ruangan guru dan administrasi. Yang artinya, tidak ada toleransi bagi murid-murid yang berkeliaran saat jam pelajaran, terutama di lantai ini.

Saat berhasil memasuki pintu tangga darurat, aku langsung merasa lega.

Segera kupercepat langkahku menuju tangga yang mengarah ke loteng.

Yah, loteng adalah semacam tempat rahasiaku. Tidak banyak siswa yang mengetahui keberadaan loteng ini karena tidak ada tangga dari lantai tiga yang mengarah ke sini.

Mereka hanya tidak tahu kalau ada tangga darurat di balik pintu yang mengarah ke sini.

Itulah mengapa, saat-saatku di loteng terasa begitu menenangkan. Tidak ada seorang pun yang bisa menggangguku. Aku benar-benar bisa menikmati waktu sendirian, dan kurasa itulah yang kubutuhkan saat ini.

Aku duduk di atas loteng dan membiarkan kakiku menggantung di udara. Kurasakan angin sepoi-sepoi menerpa wajahku perlahan.

Dan saat itulah, semua ingatan menyakitkan itu menyeruak dari lubuk hatiku.

Pertama Fellicia, cinta pertamaku. Kemudian Rey, teman sebangkuku. Siapa lagi selanjutnya?

Kenapa semua korban yang berjatuhan berkaitan denganku? Apakah ini hanya kebetulan atau memang sesuatu yang disengaja?

Tapi untuk apa?

Oke, aku tahu, pasti tidak sedikit orang yang dendam padaku karena perlakuan kasarku pada mereka. Tapi… masa sih, mereka sampai sanggup membalas dendam sekejam itu? Apa semua keisengan yang kulakukan sebanding dengan apa yang kuterima? Rasanya tidak.

Aku harus melakukan sesuatu.

Situasi seperti ini tidak bisa hanya dibiarkan tanpa tindakan tegas.

Aku kan Andrew Leonardo, orang yang kebal terhadap peraturan. Lantas kenapa aku berlemah-lemah ria dan menuruti perintah Stenley si ketua sok bijak itu? Aku harus bertindak sendiri.

Tapi… bagaimana caranya?

 

***

Bryan POV

Suasana kelas begitu ramai. Maklumlah, jam kosong adalah waktu yang begitu ditunggu-tunggu oleh semua murid. Kesempatan langka seperti ini terlalu sayang untuk dilewatkan.

Aku duduk diam di kursiku sendiri sambil berpikir mengenai kejadian kemarin.

Seriously, apa sih, yang pembunuh itu inginkan?

Aku tak habis pikir. Seberapa berdarah dinginnya sih, orang yang sanggup membunuh seseorang dengan cara sekeji itu? Apa orang semacam itu memang ada di sekitar sini?

Kalau iya, siapa?

Aku melirik Gwen yang duduk di kursinya sendiri dengan tenang. Sama sekali tidak ada ekspresi terpancar dari kedua manik matanya. Sikapnya biasa-biasa saja.

Aku yakin, ia juga sudah mendengar perihal kasus yang baru terjadi kemarin. Secara, kabar itu santer terdengar sejak tadi malam. Kuduga, para senior-lah yang menyebarkannya.

Lalu… kenapa ia sepertinya tenang-tenang saja?

Apa ia tidak takut dituduh?

Apa ia tidak sadar, kini semua dugaan mengarah padanya?

Lamunan singkatku buyar saat kulihat seseorang bangkit dari kursinya. Orang itu adalah Alice, yang duduk sebangku dengan Gwen.

Cewek itu menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian melangkah santai keluar dari ruang kelas. Aku langsung berdiri dari kursiku secara refleks.

Ke mana dia pergi?

Sebaiknya kuikuti saja dia. Aku khawatir dia akan melakukan hal yang membahayakan dirinya sendiri lagi. Beberapa hari yang lalu, dia sudah dipukul sampai pingsan. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan pembunuh itu lakukan kalau ia sampai melihat Alice lagi.

Aku melangkah hendak keluar dari ruang kelas, saat kemudian kudengar sebuah suara memanggilku.

“Bry.”

Aku menoleh dan mendapati Catherine sedang menatapku dengan mata abu-abunya yang besar. Aku memiringkan kepala.

“Bisa ke sini sebentar? Gue mau nunjukin sesuatu.”

Dahiku berkerut. “Apa?”

“Ke sini deh,” Catherine menjawab dengan nada penuh desakan. Dengan setengah hati, aku menghampirinya dan duduk di bangku di depannya yang kosong. Bangku itu sebenarnya milik Andrew, si berandalan yang memang hobi banget meninggalkan kelas—bahkan tidak hanya saat jam kosong saja.

Catherine menggigit bibir bawahnya, tampak sangat gugup. Tidak sabar, aku pun menyambar dengan sebuah pertanyaan. “Kok lo kayak gugup gitu?”

Catherine mengangguk ragu. “Habis… yah… yang mau gue tunjukin ke elo kayaknya bakal bikin lo syok berat.”

Dahiku semakin berkerut. “Apa, sih?”

Catherine tidak langsung menjawab pertanyaanku, melainkan malah celingukan. “Yang lain mana?” tanyanya.

“Alice barusan keluar dari kelas,” jawabku. “Kalo Gwen ada di bangkunya, tuh.”

“Panggilin Gwen coba,” Catherine berkata. “Habis itu, cari Alice.”

Wajahku langsung berubah kesal. “Serius, deh, Cath. Lo itu sebenernya mau nunjukin apa, sih? Kok kayaknya urgent banget gitu?”

“Emang urgent,” Catherine menjawab cepat.

“Kenapa nggak dibicarain nanti malem aja sih sama Joshua dan Sam sekalian?”

“Emangnya lo nggak takut bakal dihukum lagi kalo lagi-lagi ketahuan keliaran malem-malem?” Catherine membalas.

“Ah, lo sama aja sama Joshua,” dumelku. “Ya udah, bentar, deh.”

Aku segera beranjak dari kursiku. Kuhampiri Gwen yang masih duduk tenang di bangkunya sembari mengerjakan tugas.

“Oi,” panggilku. Gwen melirik singkat.

“Hm?” gumamnya malas-malasan.

“Buruan ke tempat Catherine, gih. Katanya dia mau nunjukin sesuatu yang urgent,” jawabku sambil menunjuk bangku tempat Catherine duduk dengan ibu jariku.

Gwen mengangkat kepalanya menghadapku. Ekspresi wajahnya tampak aneh selama beberapa saat, kemudian dia mengangkat bahu dan berdiri dari bangkunya untuk menghampiri arah yang kutunjuk.

Setelah kupastikan Gwen sudah duduk di bangku samping Catherine yang kosong, aku berlari cepat keluar kelas untuk mencari Alice.

 

***

Alice POV

Ke mana perginya Andrew?

Oke, aku tahu, sebenarnya aku tidak punya alasan untuk mengurusi masalah pribadinya, termasuk ke mana ia akan kabur selama jam kosong. Tapi… sebuah desakan dari hatiku memerintahkanku untuk peduli.

Dan untuk itulah, aku berdiri celingukan di sini.

Well, aku cukup yakin Andrew naik ke lantai tiga. Pasalnya, aku sempat melihat sosoknya berjalan menuju tangga yang mengarah ke lantai tiga dari bawah tadi.

Pertanyaannya, di bagian mana tepatnya?

Aku sudah berada di lantai tiga, dan bahkan sudah memutari seisi lantai hanya untuk mencari dia. Tapi, sosoknya belum juga kelihatan. Sekurus-kurusnya dia, aku pasti masih bisa menyadari keberadaannya kalau ia memang ada di sini.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan tatapan mataku berhenti pada sebuah pintu. Di atas pintu itu, terdapat tanda yang bertuliskan ‘Emergency stairs’ alias tangga darurat.

Aku mengerutkan kening.

Hmm… mungkinkah dia ada di dalam sana?

Ah, tidak ada salahnya memeriksa. Siapa tahu dia memang ada di dalam sana. Jadi, aku melangkah mendekati pintu itu dan mendorongnya hingga terbuka.

Ruangan di balik pintu itu begitu sempit dan minim penerangan. Untungnya saat ini siang hari. Coba kalau malam, pasti aku sudah tidak bisa melihat apa pun di dalam sini. Pasalnya, cahaya matahari masih dapat menerobos masuk melalui ventilasi yang cukup besar di sisi ruangan. Cahaya itu membantuku melihat keadaan sekitar dengan baik.

Keningku semakin berkerut tatkala kusadari ternyata ada tangga naik di sini. Padahal, gedung sekolahku hanya terdiri dari tiga lantai. Lalu, ke mana tangga itu mengarah?

Loteng kah?

Penasaran, aku pun menaiki tangga itu perlahan-lahan. Tangga itu rupanya berakhir pada sebuah pintu besi besar yang menyerupai pintu tangga darurat yang kutemui di bawah tadi. Bedanya, pintu ini sudah agak berkarat dan tampak tidak terurus. Sepertinya jarang-jarang ada orang yang pergi ke loteng.

Mengabaikan pemikiran itu, aku tetap mendorong pintu itu hingga terbuka. Untungnya, bagian bawah pintu masih cukup halus sehingga tindakanku tidak menimbulkan suara yang berarti.

Mataku langsung disambut oleh cahaya matahari yang menyilaukan. Kusipitkan kedua mataku dan kusadari aku kini telah berada di loteng sekolah. Pemandangan di sini sungguh berbeda dengan bagian lain dari sekolah ini. Di mana-mana, terlihat sampah berukuran cukup besar dan besi-besi berkarat yang saling tumpuk.

Di sudut loteng, juga terdapat beberapa pot bunga dari tanah liat yang kini hanya berisi tanah kering dan dedaunan layu.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan terheran-heran, saat akhirnya kulihat punggung seorang cowok tidak jauh dari tempatku berdiri.

Seharusnya aku mengalami kesulitan dalam mengenali siapa cowok itu karena hanya punggung dan bagian belakang kepalanya saja yang bisa kulihat, tapi entah mengapa, aku langsung tahu kalau itu Andrew. Ya, aku cukup yakin itu sungguh dia.

Aku melangkah perlahan mendekatinya dan duduk dengan hati-hati di sebelahnya. Ia tampak tidak menyadari kehadiranku, jadi aku hanya memandanginya saja tanpa bersuara selama beberapa saat. Hingga akhirnya, aku merasa gerah dengan situasi hening yang tercipta di antara kami.

“Hey,” sapaku sambil menepuk bahunya yang membungkuk ke depan. Tepukan itu seolah menyadarkannya dari mimpi sesaat. Ia membelalakkan mata dan menoleh menatapku dengan kaget, kemudian tersentak mundur.

“Siapa lo?!” teriaknya spontan. Aku tidak menjawab dan hanya memandanginya saja, sampai akhirnya dia mengerutkan kening dan berkata dengan nada datar yang tidak menunjukkan ketertarikan, “Oh, lo murid baru itu toh.”

Aku mengangguk pelan. “Dan lo Andrew Leonardo, si biang onar,” tambahku diikuti tawa geli. Cowok itu mendengus sengak.

“Nggak usah sotoy lo,” gumamnya. “Kalo nggak ada urusan di sini, mending lo pergi aja. Bikin kaget, tau.”

“Kagetnya kan cuman sebentar,” kilahku, “Lagian, gue juga penasaran, apa sih yang ngebuat biang onar macam lo termenung sendirian di sini.”

Andrew melirik sinis ke arahku. Entah mengapa, lirikan sinis itu membuat jantungku berdebar dua kali lebih cepat daripada normal. “Bahasa lo seolah-olah gue tukang galau yang malu-maluin,” desisnya. “Jangan harap gue kasih tahu lo. Dasar sok penting.”

Detak jantungku seolah berhenti selama beberapa detik mendengar makian kasar itu.

“L-lo… lagi sensitif, ya?” aku mencoba bergurau, walaupun berbuah sebuah pelototan garang dari yang bersangkutan. “Oke, sori, gue nggak bermaksud bikin lo emosi,” ujarku.

“Lo udah bikin gue emosi, bego! Makanya, cepet enyah dari sini aja!” Andrew membentak.

Aku menghela napas panjang, kemudian membiarkan suasana menjadi hening selama beberapa saat. Aku baru membuka suara saat kurasa Andrew sudah agak tenang. “Gue denger…” aku menggantungkan kalimatku di udara, “…Fellicia itu cinta pertama lo?”

Andrew tampak kaget selama beberapa saat karena aku tiba-tiba mengangkat topik itu, namun akhirnya dia berusaha membuat ekspresi wajahnya kembali dingin. “Bukan urusan lo,” jawabnya ketus.

“Apa ini yang bikin lo murung?” aku bertanya lagi tanpa berniat menyudahi topik ini.

“Udah gue bilang, bukan urusan lo!” Andrew membentak.

Aku menghela napas panjang. “Ndrew, gue emang baru kenal lo,” aku mengawali, “Tapi gue tahu, lo butuh tempat buat nyurahin isi hati lo. Nggak selamanya masalah bisa dipendem sendirian, Ndrew.”

“Lo sotoy bener ya,” sindir Andrew. “Udah lah, lo bikin kuping gue panas. Cepet turun lagi aja sana!”

“Ndrew, lo denger apa kata gue nggak, sih?” aku tetap tak menyerah. Wajah Andrew tampak memerah, entah karena marah atau malu. Ia kemudian membuang muka.

“Belum saatnya lo tahu,” Andrew berkata sinis.

“Apa lo berniat nyari tahu juga siapa yang ada di balik semua ini?” aku tidak kehabisan topik pembicaraan. “Secara, lo pasti juga ngerasa nggak aman kan, soal ini?”

“Gue kan nggak sok detektif kayak elo,” jawabnya ketus. “Lagian… polisi juga udah cukup buat nyelidikin semua ini. Mereka kan nggak goblok.”

“Jangan bohong, deh,” aku menyela. “Lo sebenernya kepingin nyelidikin kasus ini juga, kan?”

“Sumpah ya, lo sotoy bener!” Andrew menyahut emosi. Tapi, dapat kulihat, raut wajahnya sedikit berubah. Aha, benar dugaanku.

“Gini, deh. Gue nggak mau maksa, tapi kalo lo berniat, lo bisa ka—“

“ALICE!” sebuah suara memotong ucapanku. Aku menoleh dan terkejut mendapati Bryan sudah berdiri dengan jarak dua meter di belakangku, memandangiku dengan tatapan marahnya. Tunggu dulu, sejak kapan ia di sini? “Di sini lo rupanya.”

 

***

Bryan POV

Aku berdiri menatap Alice dan Andrew dengan marah. Jantungku berdentum-dentum memukul dadaku dengan keras, dan semua urat wajahku menegang. Lahar luapan amarah seolah siap meledak keluar dari kepalaku.

Aku tidak tahu harus mengatakan apa, yang jelas, aku masih tak habis pikir.

Bagaimana Alice bisa berada di sini bersama Andrew?

Apa mereka sudah janjian sebelumnya untuk bertemu di sini dan berbincang-bincang mesra? Atau… Jangan-jangan, mereka sudah pernah berduaan di sini juga sebelumnya?

Demi Tuhan! Apa yang ada di pikiran Alice?

Oke, aku tahu kenapa kalian mulai memandangiku dengan aneh. Mungkin kalian bertanya-tanya, untuk apa aku peduli terlalu banyak terhadap masalah orang lain. Apalagi, terhadap masalah seorang cewek.

Selama ini, aku dikenal jarang berurusan dengan cewek. Walaupun sebagai kapten tim basket, aku dituntut untuk berinteraksi cukup banyak dengan cewek-cewek cheerleaders, aku tetap terkenal dingin pada para cewek.

Lantas kenapa tiba-tiba aku begitu peduli pada urusan Alice yang jelas-jelas adalah seorang cewek?

Beberapa di antara kalian pasti bisa menebaknya, kan?

Ya, aku memang naksir Alice.

Aku benci untuk mengakuinya, tapi aku tidak bisa mengelak dari perasaanku sendiri.

Sejak hari pertama aku melihat Alice, aku sudah merasakan sesuatu yang lain. Cewek itu berbeda dari cewek kebanyakan. Dia punya keberanian yang tidak biasa, dan senyumnya benar-benar manis. Pokoknya, aku sudah menaruh perhatian padanya sejak ia menapakkan kaki di sekolah.

Dan sekarang, apa yang baru saja kulihat?

Ia dan Andrew berbincang-bincang mesra?

Seriously, apa sih, yang ada di pikiran Alice?

Maksudku, dari antara puluhan cowok di sekolahku, kenapa Andrew?

Yah, bukannya wajah Andrew jelek atau tubuhnya cebol dan gempal, sih. Justru sebaliknya, kalau ada orang yang berniat membuat daftar cowok-cowok di sekolah dari yang terganteng sampai yang terjelek, dapat dipastikan Andrew masuk ke dalam lima besar—atau minimal, sepuluh besar. Tubuhnya juga tidak cebol. Malahan, tingginya hampir sama denganku yang notabene kapten tim basket. Dia juga tidak gempal. Boro-boro gempal, berisi saja tidak. Sekujur tubuhnya seperti hanya disusun dari tulang-tulang kering saja.

Tapi, bukan penampilan yang kubicarakan, melainkan sifat.

Dilihat dari sisi mana pun, Andrew jelas-jelas bukan orang baik. Sejak hari pertama aku masuk ke panti asuhan ini, dia sudah terkenal sebagai biang onar kelas wahid. Setiap hari, kerjanya hanya mencari masalah dengan anak-anak cowok, termasuk aku. Bukan hanya anak-anak saja, sih, sebenarnya. Guru-guru pun juga kena imbasnya. Makanya, sama sekali tidak ada guru yang menyukainya.

Kalau bukan gara-gara nilainya yang tergolong cukup baik, pasti sudah dari dulu-dulu dia tinggal kelas. Ditunjang nilai sikap yang selalu luar biasa buruk, pasti guru-guru tidak keberatan menendangnya dari kelas—atau malah dari sekolah, kalau memungkinkan.

Pokoknya, dia adalah contoh sempurna dari berandalan yang tidak punya masa depan jelas.

And why, all of a sudden, that bastard got close to Alice?

Maksudku, Alice kan cewek polos yang belum lama berada di panti asuhan ini. Bagaimana kalau dia membawa pengaruh buruk bagi Alice?

“Eh, Bryan,” Alice berujar dengan raut wajah kaget. “Sejak kapan lo berdiri di situ?”

“Belum lama,” jawabku tak penting. “Dan sejak kapan lo duduk-duduk santai di situ?”

“Belum lama juga,” Alice membeo sambil tertawa geli. “Lo nyariin gue? Ada apa?”

“Kita punya urusan lebih penting, Lice,” jawabku, memberi penekanan pada kata ‘lebih penting’ seraya melirik Andrew dengan sinis supaya dia merasa tersindir. Yah, siapa tahu dengan begitu, dia bisa sadar kalau dirinya tidak penting.

“Urusan… apa?” Alice bertanya dengan bingung. Keningnya berkerut seketika.

“Catherine,” jawabku cepat, “Katanya dia mau nunjukin sesuatu.”

Mata Alice langsung terbelalak. “Oh, iya!” pekiknya, “Kemarin dia juga bilang kalo mau nunjukin sesuatu. Aduh, sampe lupa gue.”

“Makanya, ayo buruan,” ujarku. Kulirik Andrew yang sudah berbalik lagi membelakangiku.

Alice mengangguk, kemudian buru-buru berdiri dari duduknya. “Duluan ya, Ndrew,” ujarnya manis.

Ucapan manis itu membuat hatiku semakin panas. Apalagi saat kulihat Andrew sama sekali tidak bereaksi.

Dasar tidak sopan!

Alice berlari mendekatiku, masih dengan senyum di wajahnya. “Yuk,” ajaknya. Aku mengangguk, kemudian membiarkan ia mendahuluiku turun kembali melalui tangga darurat.

“Kok lo bisa nemuin gue di sini?” Alice membuka pembicaraan.

Pertanyaan itu membuatku teringat sesuatu. Kurogoh saku kemejaku dan mengeluarkan sebuah jepit bergambar stroberi yang lucu. “Nih,” ujarku sambil mengacungkan jepit itu. “Tadi gue nemu ini di depan pintu tangga darurat.”

Mata Alice spontan terbelalak, dan dia mulai meraba-raba rambutnya. “Oh!” Pekiknya, “Itu punya gue!”

Aku menyerahkan jepit itu padanya. “Karena itulah, gue jadi tahu lo ada di loteng.”

Alice tersenyum manis. “Makasih,” jawabnya, “Kalo lo nggak nemuin ini, pasti gue nggak nyadar kalo jepit gue ilang satu.” Alice kemudian memasang kembali jepit itu di rambutnya sambil mendumel pelan, “Nih jepit emang udah saatnya dibuang. Sama sekali nggak ada kenceng-kencengnya lagi.”

Aku tertawa kecil, setengah terpaksa karena hatiku masih saja kesal pasca melihat Alice berduaan dengan Andrew tadi.

Jangan-jangan, Alice tidak tahu ya, kalau Andrew itu cowok nggak benar?

Apa sebaiknya kuperingatkan saja dia?

“Lice,” sebelum sempat memutuskan, tahu-tahu saja mulutku sudah nyerocos duluan. Alice menoleh dengan kedua alis terangkat. “Lo…,” aku menggantungkan kalimatku di udara karena masih merasa kurang yakin akan mengatakan hal ini.

“Iya? Gue kenapa?” Alice bertanya dengan tidak sabar.

Aku berpikir sejenak. Kemudian, “Lo jangan sering-sering duduk di loteng situ, ya.”

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, wajah Alice langsung berubah bingung. “Hah?” Tanyanya, “Kenapa emang?”

“Mm… Yah… Gue merasa… bahaya aja, duduk dengan kaki ngegantung gitu. Kan rawan jatuh,” aku beralasan, walau sepertinya alasanku tidak masuk akal. Lalu aku sadar suatu hal. “Eh, gue nggak ngedoain lho, ya. Amit-amit, jangan sampe.”

Alice terkekeh pelan. “Tenang aja. Gue ngerti, kok,” jawabnya, “Ya udah, gue nggak akan duduk di situ lagi.”

Mataku terbelalak.

Apa itu artinya dia nggak akan pergi ke loteng itu untuk bertemu Andrew lagi?

Luapan rasa senang langsung membeludak di hatiku. Namun, luapan itu surut kembali saat Alice menyambung santai dengan suara entengnya.

“Kalo ke sana lagi, gue berdiri aja, deh.”

Wajahku berubah datar. “Bagus deh kalo lo ngerti,” jawabku dibuat-buat.

Kami berdua kemudian berjalan dalam diam sampai akhirnya kami tiba di kelas. Suasana kelas masih sama seperti saat aku meninggalkannya untuk mencari Alice. Keramaian yang terjadi di dalam sana masih belum surut.

Kulihat, Catherine dan Gwen juga masih duduk di tempat mereka semula. Sepertinya, sejak tadi, mereka belum berbicara sepatah kata pun.

Aku berani bertaruh, ini pasti gara-gara Gwen hanya diam saja tanpa berniat membuka percakapan.

Hah… Cewek itu memang selalu begitu. Kadang, aku sendiri bingung padanya.

Aku mendahului Alice berjalan menuju bangku di depan bangku Catherine dan Gwen. Seperti tadi, bangku yang kududuki adalah bangku Andrew si berandalan tak punya masa depan.

Cih, memikirkannya membuatku jijik.

Alice yang mengikuti di belakangku kemudian duduk di sampingku, yaitu di bangku Rey.

Oh, ya. Ngomong-ngomong, ternyata korban yang kutemukan bersama Joshua kemarin adalah Rey, teman sekelas kami. Aku tidak menyadari hal itu sebelumnya karena aku memang tidak begitu kenal Rey. Kami jarang bertatap muka, dan bahkan asrama kami pun berbeda lantai. Itulah mengapa, aku sama sekali tak mengenalinya kemarin. Begitu pula Joshua, yang notabene tidak sekelas dengannya.

“Jadi, apa yang mau lo tunjukin?” Gwen bertanya pada Catherine begitu Alice sudah duduk manis di bangku Rey.

Catherine menggigit bibir bawahnya. “Bentar,” ujarnya kemudian menarik tas sekolahnya dari laci dan mengaduk-aduk isinya. Dari dalam tas, dikeluarkannya sesuatu yang kukenali sebagai kamera Joshua.

“Ah!” Pekikku, “Itu kan kameranya Joshua!”

Catherine mengangguk. Wajahnya tampak lesu. Ia kemudian menyalakan kamera itu dan mulai mengutak-atiknya.

Menyadari sesuatu, aku pun langsung memekik lagi. “Eh, jangan bilang lo mau nunjukin foto-foto hasil jepretannya Joshua!”

Catherine menghentikan kegiatannya dan menatapku bingung. “Nggak, kok,” katanya. “Gue sama sekali nggak lihat foto-foto hasil jepretannya dia. Swear.”

Aku langsung menghembuskan napas lega mendengar jawaban Catherine. “Bagus, deh,” gumamku.

“Emang kenapa?” Alice bertanya dengan nada polos. “Kok kayaknya dari kemarin panik banget soal foto-foto itu?”

Aku tersenyum kecut. “Nggak, nggak ada apa-apa, kok.”

Alice menyipitkan sebelah matanya sembari memiringkan kepalanya. “Jangan-jangan… Kalian berdua berkomplot nyimpen gambar-gambar mesum?”

Aku langsung melotot. “Ngawur!” Pekikku. Alice terkekeh geli.

“Bercanda, bercanda,” ujarnya.

“Oh, ya,” Catherine menyela, “Kalian janji ya, jangan bereaksi terlalu berlebihan pas lihat foto ini?”

“Iya, iya!” Gwen memekik tak sabar, “Lo buang-buang waktu gue, tau?”

“Oke, oke, sori,” Catherine berujar. Kemudian, diserahkannya kamera itu kepadaku yang notabene duduk berhadapan dengannya. Aku menerima kamera itu dengan penasaran sembari bertanya-tanya dalam hati, foto apa kira-kira yang akan ditunjukkan Catherine pada kami.

Aku menatap layar kamera dan memperhatikan foto di dalamnya.

Dan saat itulah, aku nyaris menjatuhkan kamera itu dari tanganku.

Sebab, di dalam foto, tampak sebuah sosok yang kukenali sebagai sosok Pak Stenley, kepala sekolah sekaligus ketua panti asuhan kami, yang mengenakan setelan hitam-hitam. Pak Stenley berdiri membelakangi kamera, namun kepalanya menoleh ke belakang. Raut wajahnya kelihatan lebih serius daripada biasanya.

Namun bukan itu yang membuatku kaget bukan kepalang.

Masalah utamanya adalah, di tangan kanannya, tampak sebilah pisau penuh darah.

Aku mengerutkan kening dan mulai berpikir. Sementara itu, Alice yang duduk di sampingku segera mengambil kamera yang telah kuletakkan ke atas meja dan melihat ke layarnya. Matanya langsung melotot, dan sebelah tangannya menutupi mulutnya dengan tidak percaya.

“Ah!” ia memekik tertahan. “I-ini… d-dari mana lo dapet foto ini, Cath?”

“Gue adalah orang pertama yang tiba di TKP kemarin,” Catherine memulai ceritanya. “Saat gue tiba, sama sekali belum ada orang yang dateng. Gue ngumpet di balik tembok sebelum masuk karena gue dengar sesuatu yang mencurigakan. Rasa-rasanya ada yang lagi berada di sekitar gue. Makanya, gue nggak berani masuk langsung ke sana. Pas gue ngintip ke sana, tiba-tiba aja seseorang keluar dari ruangan. Gue cuma bisa lihat punggungnya aja, sih. Tapi… lo tahu kan, postur tubuh dia itu khas banget? Gue mutusin buat ngambil foto dia, tapi pas gue ngejepret, gue baru nyadar kalo ternyata flash kameranya nyala. Kilatan flash itu membuat dia nyadar dan noleh. Karena menurut gue itu kesempatan bagus, jadi gue ambil aja fotonya sebagai bukti.”

Aku dan Alice terbengong mendengar penjelasan panjang-lebar Catherine. Kami berdua sama-sama belum bisa percaya bahwa ketua panti asuhan kami memiliki peluang besar sebagai pelaku semua ini. Selama ini, walaupun dia adalah sosok yang tegas dan cenderung galak, kami tak menduga bahwa dia mungkin saja… mungkin saja…

Ah, bahkan aku pun kehabisan kata-kata saat ini.

“Apa, sih?”

Nah, ini dia orang yang sejak tadi belum tahu apa-apa, Gwen. Cewek itu tampak kebingungan sekaligus kesal.

Dia siapa?” tanyanya, “Kok kayak nyebut nama Voldemort aja.”

Baik aku, Alice, maupun Catherine tidak bisa menjawab. Sadar bahwa pertanyaannya tidak mungkin mendapat jawaban dari kami, Gwen menyambar sendiri kamera yang masih berada di tangan Alice. Alice memekik tertahan, tapi lalu ia membiarkan Gwen merebut kamera itu dan melihat layarnya secara cepat.

Wajah Gwen tampak tetap datar, bahkan setelah ia melihat foto itu.

“Oh,” gumamnya, “Si ini toh.”

Aku, Alice, dan Catherine langsung terbengong. Apa maksudnya ‘si ini toh’? Seolah-olah dia sudah bisa menduganya sebelumnya. Baru saja Catherine membuka mulut hendak bertanya, Gwen sudah mematikan kamera itu dan meletakkannya ke atas meja.

“Gue nggak percaya,” katanya datar.

Catherine langsung melongo.

“Hapus aja foto nggak penting ini,” Gwen menyambung. “Pelakunya nggak mungkin si itu.”

Entah karena isi perkataannya atau karena kalimatnya yang memberi kesan seolah-olah Pak Stenley adalah semacam barang, kami tercengang lagi. Serius, deh. Jalan pikiran cewek ini adalah hal yang paling tidak mungkin dimengerti. Dari mana bisa dia dapatkan sikap sesantai dan pemikiran secepat itu?

“Kok lo bisa yakin?” Alice membuka suara. “Jelas-jelas ada buktinya. Kita kan nggak bisa langsung mutusin bahwa bukti itu nggak benar.”

“Lo pikir, deh,” Gwen mengawali, “Dia itu perintis panti sekaligus sekolah ini. Mana ada perintis yang mau ngejatuhin nama pantinya sendiri dengan bikin-bikin kasus heboh kayak gini? Bukannya dengan begitu, namanya dia sendiri yang bakal jadi jelek?”

“Tap—“ Catherine hendak membantah, tapi kemudian ia sadar perkataan Gwen ada benarnya. Alice juga tampak kehabisan kata-kata.

“Bisa aja kan, dia itu psikopat haus darah yang suka ngebunuh anak-anak di bawah umur, terus dia sengaja merintis panti ini supaya dia bisa ngumpulin anak-anak untuk dibunuh?” aku nyerocos, mengutarakan hal pertama yang terlintas di benakku.

“Bisa aja, Bry, kalo ini film thriller,” Gwen membalas sarkastis.

“Tapi, Gwen, bisa aja Bryan bener,” Alice mendukungku. “Kalo dia bener-bener—amit-amit—psikopat, pasti jalan pikirannya susah ditebak sama kita-kita. Bisa aja dia memang ngelakuin ini semua dengan motif seperti yang dikatakan Bryan.”

“Ya, dan speaking of which, apa lo pernah denger kabar kakak-kakak kelas yang udah lulus dari sini?” Catherine menambahkan. “Nggak ada yang pernah denger, kan? Kalo bener situasinya seperti dugaan Bryan, mungkin aja mereka…” Catherine menggantungkan kalimatnya di udara, kemudian menunduk dan menghela napas berat, “…dibantai?” lanjutnya.

Bulu kudukku langsung berdiri sedikit mendengar dugaan Catherine. Wajah Alice seketika memucat. Habis, kalau dipikir-pikir, perkataannya benar juga. Tidak ada di antara kami yang tahu ke mana senior-senior itu pergi. Yang kami tahu, mereka lulus dan—katanya—sudah bisa mencari kerja sendiri secara mandiri. Tapi baru sekarang terlintas di pikiranku suatu hal.

Ke mana mereka-mereka yang gagal mendapatkan pekerjaan?

Oke, semua ini mulai terasa janggal.

Namun, berbeda denganku dan Alice, Gwen malah tetap memasang wajah datarnya. Wajah yang begitu tenang. Wajah yang tak memancarkan ekspresi apa pun. Wajah yang seolah-olah tahu ke mana para senior itu pergi.

Wajah itu membuat bulu kudukku semakin menegak. Alice dan Catherine bahkan mulai menatap gadis itu dengan pandangan ngeri.

“Kalian semua bodoh,” katanya pelan, nyaris menyerupai desisan. Ia kemudian segera berdiri dan berjalan keluar dari kelas dengan langkah tegap.

Dan kami bertiga hanya bisa memandangi punggungnya dari belakang. Punggung yang sangat tegak, dan bahkan lebih tegak dari orang kebanyakan.

PART BREAK

[Read the second part of this chapter here]

Advertisements

12 thoughts on “[CHAPTER TWO] Mystery of the Orphanage (1/4)

  1. Haii.. Disini ad yg mau tak tanyain.. Tu mereka dihukum ngebersihin lapangan waktu pulang skul ap kapan? Kok pas ad teriakan, ga ad yg dtg sebelum catherine, padahal catherine lari dari tempat yg agak jauhh, lha trus klo ad murid ap guru ap karyawan di gedung sekolah kok malah pada gatau ._____. #sori #kalo #kepanjangan

    1. Iya itu pulang sekolah..
      Dan lagi kalo didengerin dari sekolah, kan gak tau teriakannya nyampe radius berapa._. jadi dikirain cuma bisa kedengeran dari sekolah doang padahal dari kiosnya bu hermi aja kedengeran._. nah jadi yang didalem sekolah yang denger nggak tau kalo teriakannya sampe sekeras itu dan nggak bisa nebak kalo asalnya dari ruang multimedia._. (karena mereka kira radius teriakannya cuman sampe sekolah aja)

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s