[CHAPTER TWO] Mystery of the Orphanage (2/4)

MOTO

 

MYSTERY OF THE ORPHANAGE
Cindy Handoko & Viona Angelica

CHAPTER TWO

PART TWO

Copyright © 2014 by Cindy Handoko

P.S : This chapter is made by Cindy Handoko, the owner of this blog

What have you missed already?

PROLOGUE || CHAPTER ONE PART ONE || CHAPTER ONE PART TWO || CHAPTER TWO PART ONE

Bryan POV

Aku berjalan menuju lapangan basket dengan langkah lemas. Pikiranku masih dipenuhi ingatan mengenai wajah datar Gwen saat kami membicarakan foto yang diambil Catherine tadi.

Sungguh, sampai sekarang pun—saat jam sekolah sudah usai dan kami mulai bersiap menjalankan kegiatan ekskul masing-masing—aku masih tak habis pikir.

Bagaimana seseorang bisa begitu tenang saat di sekolahnya terjadi pembunuhan tak berperikemanusiaan?

Bagaimana mereka bisa tenang bila kemungkinan pembunuh itu ada di dekat mereka sangat besar?

Jawaban-jawaban yang tidak kuketahui itu semuanya ada pada diri Gwen. Entah pengendalian dirinya terlalu baik, atau memang ada sesuatu yang juga tidak kuketahui di balik semua ini.

Well, aku memang tidak mau mempercayai tuduhan orang-orang bahwa dialah pelakunya, sih. Tapi… siapa sih, yang tidak mulai curiga saat kelakuannya benar-benar meresahkan begitu?

Aku sudah berteman dengannya sejak kecil. Bukan hanya aku dan dia, melainkan juga Joshua. Joshualah orang pertama yang memperkenalkanku pada Gwen. Dulu, mereka berdua bersahabat dekat. Joshua yang dulunya sangat kuper, merasa mendapat malaikat penyelamat saat Gwen masuk ke panti asuhan ini di usia 4 tahun. Yah, kalau diingat-ingat, dulu Gwen tidak bersikap seperti sekarang, sih. Malahan, ia sangat normal, selayaknya anak-anak lain seusianya.

Aku, yang baru masuk ke panti asuhan saat usiaku 9 tahun, langsung membaur bersama mereka berdua. Kami begitu dekat, bahkan lebih dekat daripada saudara kandung. Hanya saja… sesuatu merubah segalanya.

Saat itu usia kami 10 tahun, dan Gwen terlibat dalam kecelakaan yang misterius. Aku dan Joshua tidak tahu kecelakaan apa itu, dan begitu pula anak-anak panti asuhan yang lain. Satu-satunya orang yang mengetahui perihal kecelakaan itu hanyalah Pak Stenley selaku ketua panti asuhan.

Semua yang kuingat hanyalah memori-memori tak penting. Waktu itu ulang tahun Catherine, dan seperti biasa, kami mengadakan makan-makan dengan menu spesial di ruang makan asrama untuk merayakan ulang tahunnya. Hal itu memang biasa kami lakukan tiap kali ada yang berulang tahun.

Sehabis makan, anak-anak ramai-ramai berlarian keluar ke taman untuk bermain. Gwen mengajak Joshua keluar untuk mengambil beberapa foto di taman yang dihias balon warna-warni dalam rangka ulang tahun Catherine. Aku tahu, mereka berdua memang sama-sama memiliki ketertarikan terhadap dunia fotografi. Hal itulah yang membedakanku dari mereka. Aku sama sekali tidak tertarik pada dunia itu. Jadi, aku memutuskan untuk tinggal di ruang makan dan membantu para pengurus asrama membereskan piring-piring kotor.

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tahu-tahu saja, semua orang heboh sendiri. Suasana di taman luar menjadi riuh. Pak Joseph tiba-tiba datang dan memerintahkan semua anak untuk masuk kembali ke dalam asrama. Mereka menurut karena ketakutan. Kulihat, Joshua masuk sendirian dengan wajah pucat. Saat aku menanyakan di mana Gwen, dia tidak menjawab.

Setelah kami berdua sampai di kamarku, barulah tangisnya pecah. Dia bercerita bahwa dia kehilangan Gwen. Saat itu, keadaan sangat ramai, dan Gwen begitu bersemangat untuk menjepret foto karena pemandangan yang tercipta begitu indah. Ia berlari kesana-kemari tanpa mempedulikan Joshua. Karena itulah, mereka jadi terpisah. Joshua masih sibuk mencari Gwen yang hilang ketika tiba-tiba sebuah teriakan pelan terdengar dari taman belakang. Taman belakang adalah sisi lain dari taman yang jarang didatangi orang. Taman itu nyaris terbengkalai, bahkan hingga sekarang.

Entah siapa yang berteriak itu, pokoknya, semua anak langsung ribut sendiri. Sebelum mereka sempat mencari tahu perihal teriakan itu, Pak Joseph sudah datang dan menyuruh mereka semua masuk. Joshua begitu takut kalau Gwen-lah orang yang berteriak itu. Kami berdua khawatir sesuatu yang buruk terjadi padanya.

Kekhawatiran kami terbukti. Keesokan harinya, wali kelasku, yang juga ada saat peristiwa itu terjadi, menyampaikan suatu kabar yang tidak mengenakkan. Gwen mengalami kecelakaan. Saat anak-anak mulai menanyakan kecelakaan apa itu, beliau berkata bahwa beliau sendiri juga tidak tahu. Pak Stenley-lah yang menangani kecelakaan itu secara langsung, dan beliau hanya mendengar dari Pak Joseph, wakil ketua panti asuhan.

Sejak saat itu, sikap Gwen berubah drastis. Ia benar-benar menjadi seseorang yang tidak kami kenal. Sampai sekarang pun, kami masih penasaran, kecelakaan apa itu yang menimpa Gwen saat kami berusia 10 tahun.

“Oi, ngelamun aja lo.”

Panggilan bernada akrab itu membuatku tersadar dari lamunan dan langsung bertatap muka dengan Lukas alias Luke, teman satu tim basketku sekaligus teman sekamar Joshua. Ia adalah anggota tim basket paling tepat waktu. Karena itulah, ia selalu datang paling awal. Contohnya saat ini. Baru ada dia saja di dalam lapangan indoor basket.

“Baru lo yang dateng?” aku bertanya sambil berjalan menuju ruang ganti di sisi lapangan. Di dalam ruangan itu, juga terdapat loker yang digunakan anak-anak basket untuk menyimpan baju ganti. Luke mengikutiku masuk ke dalam ruang ganti.

“Nggak,” jawabnya di luar dugaanku, “Tadi udah ada Benny sama Kimberly. Katanya sih, Benny mau ngambil barang yang ketinggalan dulu. Kalo Kimberly nggak tahu, deh.” Luke mengangkat bahu dengan cuek.

Mungkin kalian heran mendengar nama cewek disebut-sebut di sini. Secara, tidak ada tim basket putri di sekolahku karena minimnya dana anggaran ekskul. Yah, bagi kalian yang bertanya-tanya, Kimberly bukan anggota tim basket, kok. Dia adalah anggota sekaligus kapten tim cheerleaders. Ekskul cheerleaders sebenarnya bukan ekskul resmi di sekolahku. Hanya saja, mereka mendanai sendiri keperluan tim tanpa menggunakan anggaran dari sekolah. Ini dilakukan mereka karena kebanyakan ekskul di sekolah adalah ekskul yang ‘cowok banget’. Sisanya hanya ekskul-ekskul murahan seperti klub teater yang hanya diisi manusia-manusia lebay. Kuduga, mereka—cewek-cewek yang merasa dirinya terlalu high class untuk bergabung dengan ekskul murahan—enggan bergabung dengan ekskul yang ‘cowok banget’ itu dan memutuskan untuk membentuk ekskul dengan dana sendiri. Entah dari mana mereka dapat dana itu. Sepertinya sih, dari hasil kerja paruh waktu. Yah, kebanyakan siswa memang melakukan kerja paruh waktu demi mendapatkan tambahan uang. Tapi aku bukan termasuk salah satu di antara mereka.

“Baru itu doang?” aku bertanya lagi pada Luke yang saat ini sedang sibuk bersandar di pintu lokernya sendiri sambil mendengarkan lagu dari headset di telinganya.

“Kayaknya,” jawabnya. “Mau latihan one on one dulu?”

“Ayo,” sahutku. “Siapa takut?”

Luke tersenyum simpul, kemudian mengambil sebuah bola basket dari keranjang di samping loker. Ia memutar bola basket itu dengan jari telunjuknya kemudian berkata dengan percaya diri, “Gue tantang lo. Taruhan goban.”

“Taruhan, nih?” Aku tersenyum penuh arti, “Seperti yang udah gue bilang. Siapa takut?”

 

***

Alice POV

“Di mana lapangan basketnya?” aku bertanya pada Catherine yang saat ini tengah berjalan di sampingku. Kami berdua memang berencana ke lapangan basket untuk menunggu Bryan latihan. Yah, berhubung aku belum bergabung dengan ekskul mana pun, aku jadi tidak ada kerjaan. Sedangkan Catherine yang merupakan anggota ekskul paduan suara sedang tidak ada jadwal ekskul hari ini. Jadilah kami berdua sama-sama menganggur.

Kami sudah tidak sabar lagi untuk membahas mengenai foto yang dijepret Catherine kemarin siang. Berhubung ‘malam hari’ sudah tidak aman lagi bagi kami untuk berkeliaran—bukan karena takut menjadi korban selanjutnya dari pembunuh berdarah dingin itu, melainkan karena takut ketahuan Pak Stenley—kami pun sepakat bahwa ‘selepas ekskul’ adalah waktu pengganti yang sempurna. Guru-guru sedang istirahat di jam-jam seperti ini dan tidak banyak dari mereka yang masih berkeliaran di gedung sekolah. Kebanyakan memilih untuk mencari makan di luar sekolah. Hal terburuk yang bisa kami temui paling-paling hanya Bu Asti si guru ekonomi yang nyaris obesitas dan malas gerak, atau Pak Hendro si guru kesenian yang sabarnya minta ampun. Tidak ada yang lebih seram daripada itu.

Tapi, ternyata Bryan, Joshua, dan Sam sama-sama ada kegiatan ekskul. Terpaksa kami harus menunggu mereka. Yah, daripada menonton Joshua melukis sambil menahan diri untuk tidak berteriak gara-gara dipelototi Pak Soni terus-terusan atau menonton Sam kalah main catur dalam ruangan yang luar biasa sumpek, kami putuskan untuk menonton Bryan latihan basket saja. Sepertinya itu yang paling menarik, kan?

“Bentar lagi kita nyampe,” Catherine menjawab, “Tuh, dengerin aja. Rame-ramenya lapangan udah nyampe sini.”

Aku mengangguk-angguk. Benar juga. Dari sini, sudah terdengar teriakan-teriakan khas anak basket yang saling bersahutan.

Catherine mendahuluiku berbelok ke koridor yang lebih sempit. Aku mengikutinya dan langsung melihat pintu besi ganda yang terbuka lebar di sisi kanan koridor. Jelas sekali bahwa ruangan di balik pintu besi ganda itu adalah lapangan basket indoor. Lapangan itu rupanya tidak seluas bayanganku. Malahan dapat dibilang cukup sempit untuk ukuran lapangan basket indoor.

Yah, sepertinya aku memang harus menerima kenyataan bahwa segala sesuatu yang ada di sekolah baruku ini tidak sespektakuler di sekolah lamaku. Aku jadi menyesal tidak memanfaatkan waktu-waktuku di sekolah lama dengan baik. Dulu, kukira, aku tak akan pernah kehilangan semua yang kumiliki. Tapi…

Ah, sudahlah. Kenapa aku malah membahas itu lagi? Bukankah sudah kuputuskan untuk mengubur dalam-dalam kehidupan lamaku dan mencoba menikmati hidup baruku apa adanya?

“Duduk sini aja ya, Lice?” Catherine berkata sambil meletakkan tas selempang kecil yang dibawanya di atas sebuah kursi di tribun penonton. Yah, memang sih, lapangan basket indoor ini cukup sempit seperti yang kukatakan tadi, tapi setidaknya lapangan ini masih memiliki tribun penonton.

Ngomong-ngomong, Catherine membawa tas selempang kecil khusus untuk kamera Joshua. Katanya, dia tidak biasa terlihat dengan kamera dikalungkan di lehernya. Jadi, untuk menghindari kecurigaan orang-orang, dia pun membawa tas selempang sebagai wadah kamera itu.

“Di sini juga boleh, lah,” aku berkata pasrah kemudian duduk di kursi tepat di samping kursi yang dipilih Catherine. Catherine juga duduk di kursinya sendiri. Kami berdua pun kemudian mulai menonton permainan yang sedang berlangsung di lapangan.

Aku cukup terkejut saat menyadari ternyata yang sedang bermain di tengah lapangan hanya dua orang saja, dan bukannya dua tim. Anggota tim yang lain malah duduk di tepi lapangan sambil bersorak-sorak ala anak basket. Aku menyipitkan mataku agar dapat melihat dua sosok yang sedang bertanding itu dengan jelas.

Aku mengenali salah satu di antara kedua sosok itu sebagai Bryan.

“Ngapain tuh, Bryan? Kok main berdua aja gitu?” aku bertanya pada Catherine yang sepertinya sudah sejak tadi menyadari bahwa sosok yang kumaksud adalah  Bryan—bahkan mungkin sejak kami berdua masuk ke sini.

“Mungkin dia lagi battle one on one,” Catherine menjawab, “Kayaknya anak-anak basket sering ngelakuin itu. Tapi… berani amat si Luke. Apa dia nggak nyadar kalo ngelawan Bryan itu semacam mustahil?”

Aku menoleh pada Catherine dengan bingung. “Luke? Luke siapa?”

“Itu, orang yang lagi one on one sama Bryan,” Catherine menunjuk sosok lain di lapangan, “Namanya Lukas Angelo, tapi panggilannya Luke. Dia anak X-B, dan dia sekamar ama Joshua. Di tim basket, kadang-kadang dia ngegantiin Bryan jadi kapten kalo lagi berhalangan hadir. Tapi, dibandingin sama Bryan, skillnya masih kalah agak jauh.”

Aku manggut-manggut, kemudian kembali memperhatikan permainan seru di lapangan. “Kayaknya lo tahu banyak soal tim basket, ya?” gumamku.

Catherine tertawa kecil. “Dulu gue anggota cheers,” katanya. “Tapi gue mutusin buat keluar karena kaki gue pernah terkilir di salah satu performance kami. Lagian, sejak kejadian itu, banyak guru yang nganjurin gue buat nggak ikut cheers lagi. Katanya, cheers itu ekskul paling boros yang kerjanya cuma ngabis-ngabisin duit aja.”

“Kok bisa?” aku bertanya, “Bukannya biasanya ada dana anggaran dari sekolah dalam jumlah yang sama besar untuk setiap ekskul?”

Catherine menoleh ke arahku sambil tersenyum. “Cheers nggak gitu,” katanya, “Ekskul ini bukan ekskul resmi. Sebenernya, sekolah kekurangan dana anggaran buat ngebiayain ekskul. Terus, beberapa orang yang nggak sreg dengan daftar ekskul yang ada mutusin buat ngerintis ekskul cheers dengan dana mandiri. Jadi, bisa dibilang, cheers itu satu-satunya ekskul dengan independent funding di sekolah ini.”

Aku tercengang. “Boleh, gitu?” tanyaku bingung.

“Boleh, asal konsisten dan kuat ngebiayainnya,” Catherine menjawab. “Tuh, temen-temen cheers gue dulu.” Catherine menunjuk ke sisi lapangan basket dimana beberapa cewek sedang berkumpul dan asyik berbincang seru. Kulihat, mereka memakai kaus kembar berwarna soft pink serta celana kain yang berbeda-beda warnanya. Hmm… sepertinya dana yang mereka kumpulkan juga digunakan untuk biaya menyablon kaus kembar. Keren. Aku jadi ingin bekerja paruh waktu juga.

Aku memperhatikan cewek-cewek itu dan menyadari bahwa salah satu di antara mereka mengenakan jaket bertudung. Karena posisinya yang membelakangiku, aku jadi tak bisa melihat wajahnya.

“Ngapain tuh cewek pake hoodie segala? Apa nggak sumpek?” aku bertanya pada Catherine seraya menunjuk cewek itu.

Catherine mengikuti arah jari telunjukku, kemudian tertawa kecil. “Oh…” gumamnya, “Itu Andrea Sylviana, anak X-B. Dia emang suka pake hoodie gitu. Nyaris setiap kali latihan, dia pake jaket berhoodie.”

Aku manggut-manggut, masih bertanya-tanya dalam hati akan jawaban dari pertanyaan keduaku. Apa nggak sumpek?

Tiba-tiba, terdengar sorak-sorakan heboh dari anak-anak basket yang duduk di sisi lapangan. Aku terkejut dan baru sadar bahwa pertandingan one on one Bryan dan Luke ternyata sudah selesai. Anak-anak basket berhambur ke tengah lapangan dan melakukan high-five dengan Bryan.

“Bryan yang menang?” tanyaku, setengah menyimpulkan.

“Yep,” jawab Catherine, “As I said before, he’s got a better skill.”

Aku tersenyum, mengakui dalam hati bahwa perkataan Catherine benar. “Oh, ya, Cath, ngomong-ngomong… pronounce lo keren banget. Lo emang menekuni Inggris atau…?” aku bertanya.

Catherine tertawa kecil. Kedua pipinya bersemu merah, membuat wajahnya terlihat semakin manis. “Makasih,” katanya lembut, “Nggak. Gue blasteran.”

Aku terperangah. “Hah? Masa?!” pekikku kaget.

Catherine mengangguk, masih dengan pipi bersemu kemerahan. Aku spontan memperhatikan wajah Catherine secara detil. Kalau dipikir-pikir… masuk akal juga, sih. Tidak banyak orang lokal yang punya mata abu-abu belo seperti milik Catherine. Kulit Catherine juga terlalu pucat untuk ukuran orang lokal.

Kenapa aku bisa tidak sadar ya, selama ini?

“Kayaknya lo kaget banget, ya?” Catherine terkekeh pelan. “Sori nggak ngasih tahu sebelumnya.”

Aku tersenyum geli. “Nggak apa-apa. Sekarang gue jadi tahu deh, dari mana lo dapet wajah cantik itu.”

Catherine langsung salah tingkah. “E-eh… gue nggak cantik, tau,” katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan canggung, “Lo lebih cantik kok, Lice.”

“Jangan bohong,” aku berkata sambil tertawa geli. Serius, deh. Catherine ini lucu banget. Tingkahnya yang malu-malu benar-benar membuatku geli. “Oh, ya, Cath,” aku membuka topik baru. Catherine buru-buru berdeham untuk menetralkan suasana, kemudian menoleh ke arahku dengan kedua alis terangkat. “Gue ke toilet dulu, ya.”

Catherine mengangkat alisnya semakin tinggi. “Eh, gue juga kebelet, nih.”

“Bareng aja gimana?” tawarku.

“Nggak bisa, Lice,” Catherine menyanggah. “Tasnya gimana?” Catherine mengangkat tas selempang berisi kamera Joshua yang sejak tadi dipangkunya.

Oh iya. Benar juga. Kami tidak bisa membawa ataupun meninggalkannya di sini.

“Lo duluan aja, deh,” Catherine berkata sambil tersenyum manis. “Gue nggak seberapa kebelet, kok. Masih bisa ditahan, lah.”

“Serius nggak apa-apa?” tanyaku. Catherine mengangguk mantap.

“Ya udah, gue duluan, ya,” ujarku kemudian beranjak dari duduk untuk pergi ke toilet.

Aku berjalan keluar dari lapangan indoor dan berbelok ke kiri. Saat hendak berbelok lagi, tiba-tiba saja, seseorang muncul dari balik tikungan. Aku kaget bukan kepalang dan berakhir nyaris menabrak orang itu kalau saja aku tidak mundur duluan. Sebagai gantinya, aku kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di lantai.

Aku mendongakkan kepala dan langsung membelalakkan mata melihat orang yang baru saja nyaris kutabrak.

Sumpah, orang itu serem banget!

Dia memakai jaket merah bertudung dan kepalanya tertunduk dalam. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket dan langkahnya pelan. Aku nyaris berpikir bahwa dia adalah hantu kalau saja kakinya tidak menapak ke lantai.

Gadis itu mengangkat kepalanya dengan kaget. “Sori!” pekiknya langsung. “Gue… gue tadi ngelamun.”

Aku berdiri dengan bertumpu pada satu tangan seraya memaksakan seulas senyum. “Nggak apa-apa,” ujarku, “Lagian… gue juga nggak lihat lo datang dari balik tikungan. Jadi, ini bukan sepenuhnya salah lo.”

Gadis itu tersenyum ramah. “Ya udah kalo gitu,” ujarnya, “Gue duluan, ya.”

Setelah mengatakan hal itu, ia berjalan melewatiku dan berbelok masuk ke dalam lapangan indoor. Aku memperhatikan punggungnya yang ditutupi jaket dengan kening berkerut.

Kok rasanya postur tubuh dan jaket orang itu familiar?

Aku mencoba mengingat-ingat sejenak. Sesuatu terlintas di benakku dan membuatku kaget bukan kepalang.

Bukankah… cewek itu adalah si anggota tim cheerleaders yang dibilang Catherine selalu memakai jaket bertudung?

Tunggu dulu, siapa tadi namanya?

Oh, ya! Andrea, kalau tidak salah. Ya, sepertinya benar. Habis, postur tubuhnya benar-benar mirip seperti yang kulihat tadi. Selain itu, jaket yang dikenakannya juga sama persis dengan jaket yang dikenakan Andrea.

Tidak salah lagi, tadi itu memang Andrea.

Serr…

Bulu kudukku langsung meremang. Maksudku, yang benar saja! Bukankah tadi Andrea masih berada di sisi lapangan basket sembari berbincang-bincang dengan teman-teman satu timnya? Serius, deh. Itu kan baru beberapa menit yang lalu! Masa dia bisa tiba-tiba datang dari luar lapangan dalam waktu sesingkat itu? Habis dari mana dia? Ke toilet untuk sekedar cuci tangan pun tidak mungkin secepat itu.

Suatu ketakutan langsung merambati hatiku. Aku berjalan cepat menuju toilet untuk segera menyelesaikan ‘bisnisku’. Setelah itu, aku berlari kembali ke ruang lapangan indoor dan segera duduk di tempat dudukku.

Catherine yang melihatku begitu terburu-buru kemudian bertanya, “Kenapa, Lice?”

Aku mengatur napasku yang sedikit terengah-engah sebelum menjawab. “Astaga, Cath! Tadi… tadi gue ngelihat Andr—AAH!!” aku memekik keras begitu menyadari ternyata orang yang hendak kubicarakan sudah ada di tribun yang sama dengan kami. Ia duduk dua baris di depan kami.

Aku langsung menutup mulutku.

“Ada apa, Lice?” Catherine bertanya lagi.

“I-itu…” aku menunjuk gadis itu seraya berbisik lirih supaya tidak seorang pun mendengar kecuali Catherine, “…Andrea, kan?”

Pandangan Catherine mengikuti arah jariku menunjuk. Ia terdiam sebentar, kemudian tertawa geli.

“Bukan,” katanya. Aku tercengang. “Yang itu Alexa,” lanjutnya, membuatku semakin bingung.

Yang itu?” aku mengulang dua kata dari pernyataan Catherine yang terdengar janggal. “Maksud lo?”

“Itu Alexa Berliana, temen sekelas kita,” Catherine memulai penjelasannya, “Dan dia saudara kembar Andrea.”

Mataku langsung melotot. “Hah?! Saudara kembar?”

Catherine mengangguk sambil masih tersenyum geli.

“E-emang… ada gitu, ya, anak kembar di sekolah kita?” aku bertanya, masih berupa bisikan agar tak seorang pun kecuali Catherine—terutama cewek bernama Alexa itu—mendengarnya.

“Tuh, ada buktinya,” Catherine menunjuk ke sisi lapangan tempat anak-anak cheerleaders sudah mulai berlatih. Aku memperhatikan mereka dan lagi-lagi menemukan sosok yang persis sama dengan sosok gadis yang duduk dua baris di depanku itu.

Aku menghembuskan napasku yang rupanya sejak tadi kutahan.

Fiuh… syukurlah bukan hantu sungguhan yang kulihat.

Tapi aku cukup terkejut juga, sih, karena ternyata di sini ada anak kembar segala. Tambahan lagi, mereka memakai baju yang persis sama.

“Apa mereka emang selalu gitu?” tanyaku pada Catherine.

“Selalu… gimana?” Catherine bertanya karena merasa pertanyaanku kurang jelas.

“Selalu pakai jaket yang sama gitu,” jelasku.

Catherine tertawa geli. “Iya,” jawabnya, “Hampir semua barang mereka kembar, malahan.”

Aku manggut-manggut dengan takjub.

“Kalo gitu… gue ke toilet dulu, ya, Lice,” Catherine pamit seraya berdiri dari kursinya. “Nih, titip tasnya.” Diserahkannya tas selempang yang sejak tadi dipangkunya padaku. Aku menerimanya dan memutuskan untuk menyelempangkannya saja ke pundakku daripada repot-repot memangkunya sepanjang waktu.

Setelah Catherine berjalan keluar dari ruangan dan benar-benar menghilang di balik tikungan, aku mulai memperhatikan Alexa yang duduk dua baris di depanku dengan serius. Entah kenapa, aku merasa penasaran. Sepertinya gadis itu sangat unik.

Apa lebih baik aku coba mengajaknya bicara saja, ya?

Setelah menimbang-nimbang berulang kali, akhirnya kuputuskan untuk menghampirinya dan duduk di sampingnya. Saat aku sudah berada tepat di sampingnya, dapat kulihat tatapan matanya yang serius terarah pada sisi lapangan, di mana saudara kembarnya, Andrea, sedang berlatih cheerleading. Wajahnya tampak… tegang.

“Hey,” sapaku. Ia terkejut dan menoleh menatapku.

“E-eh… hai,” ia menyapa balik. “Sori, tadi gue agak nggak konsen.”

“Nggak apa-apa,” jawabku. “Nonton kembaran lo?” aku bertanya sok akrab. Dia tersenyum simpul kemudian mengangguk.

“Ya,” jawabnya singkat.

Kami berdua terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia membuka pembicaraan. “Lo bukannya murid baru itu, ya?”

Aku tersenyum lebar. “Yep,” jawabku, “Kok lo bisa tahu?”

Alexa menoleh kemudian menjawab dengan wajah polosnya, “Kita bukannya sekelas?”

Aku terdiam sejenak untuk mengingat-ingat. Kemudian, “Oh! Iya, sori, sori. Gue masih susah bedain yang mana di antara lo dan kembaran lo yang sekelas sama gue,” ujarku kikuk sembari menggaruk-garuk tengkukku yang tidak gatal.

Alexa tersenyum simpul. “Katanya lo ada di TKP pas kasus Rey itu, ya?”

Mataku langsung terbelalak. “L-lo… tahu dari mana?”

“Dari Willy,” jawabnya. “Tahu Willy, kan?”

Aku mengerutkan kening. “Sori, gue… masih agak-agak susah nginget nama temen-temen,” ujarku, “Willy itu yang mana, ya?”

“Aduh, susah ngedeskripsiinnya,” Alexa bergumam, “Anaknya tinggi, kurus, rambutnya cepak gitu deh. Terus… mm… dia juga temenan sama Andrew. Lo tahu Andrew, kan?”

Aku merasakan jantungku berhenti berdetak selama satu detik mendengar nama Andrew disebut-sebut. Argh… serius, deh! Ada apa sih, denganku?

“O-oh…” gumamku untuk mengalihkan rasa aneh yang mendadak menghinggapi hatiku, “Yang itu, toh. Dia… juga ada di TKP kan, waktu itu?”

“Iya,” jawab Alexa, “Waktu itu, dia kabur dari asrama.”

Aku manggut-manggut. Terlintas dalam ingatanku mengenai gerombolan anak-anak berseragam asrama yang kulihat waktu itu.

“Dia cerita kalo lo kayaknya tertarik nyelidikin kasus-kasus itu,” Alexa berkata. “Bener? Lo tertarik?”

Aku menggigit bibir bawahku, tidak tahu harus menjawab apa. “Yah… dikit, sih,” jawabku pada akhirnya.

“Nggak usah dipusingin, kali,” Alexa mengibaskan tangannya di depan wajahku, “Kasus gituan emang udah selalu terjadi tiap tahun, biasanya sekitar dua kasus per tahun, lah.”

Aku langsung membelalakkan mata. Nah, ini baru fakta baru. “Serius lo? Kasus pembunuhan kayak gini terjadi tiap tahun?”

Alexa mengangguk. “Bedanya, biasanya korbannya guru-guru atau karyawan. Baru kali ini sih, ada korban murid.”

Aku mengerutkan kening dan mulai berpikir. Kira-kira… fakta ini berguna nggak ya, buat penyelidikan? Ah, setidaknya aku sudah dapat satu fakta baru dulu, lah. Siapa tahu ini bisa menjadi petunjuk.

“Berarti… panti asuhan ini emang aneh gitu, ya?”

Alexa tersenyum simpul. “Semacam itu kali, ya.”

Kami berdua kemudian memperhatikan lapangan dengan serius. Karena aku penasaran dengan apa yang ditonton Alexa dengan begitu serius, aku pun ikut menonton latihan tim cheerleaders alih-alih menonton latihan tim basket.

Sekarang, para anggota tim sedang membentuk piramid seperti yang lazim dilakukan tim-tim cheerleaders pada umumnya. Kulihat, Andrea naik ke bahu temannya sambil berpegangan. Tiba-tiba saja, ia hilang keseimbangan dan nyaris jatuh.

“AWAS!!” Alexa berteriak heboh kemudian berdiri secara langsung dari duduknya. Karena gerakan tiba-tiba itu, ia jadi terjatuh dan membentur kursi di depannya.

Semua orang yang ada di lapangan maupun tribun penonton kaget. Perhatian terpusat pada Alexa yang kini merintih kesakitan dalam posisi terduduk di lantai. Andrea sendiri ternyata tidak jadi kehilangan keseimbangannya.

“Eh!” pekikku, “Lo nggak apa-apa?”

Aku segera berjongkok di samping Alexa yang masih meratapi lututnya yang terbentur kursi. Kulirik lutut itu dan kulihat sebentuk luka yang cukup besar akibat benturan keras tadi.

“Alexa!” Andrea turun dari bahu temannya dan segera berlari ke arah Alexa diikuti teman-teman satu timnya. Tak luput, anak-anak basket pun ikut berbondong-bondong kemari.

Hal pertama yang kulihat adalah Bryan berlari menuju ke arahku dengan wajah khawatir. “Lice, lo nggak apa-apa?”

Aku langsung memasang wajah datar. “Bry, yang jatuh bukan gue, tapi Alexa,” ujarku.

Bryan terdiam sejenak. Kemudian, “Oh, Alexa toh.”

Aku menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mengajak Bryan ikut memperhatikan luka Alexa. Rupanya, luka itu sangat besar.

“Wah, luka ini bakal membekas terus, nih,” gumam salah satu anggota tim cheerleaders. “Aduh, sayang banget kakinya. Mulus-mulus malah dapat cacat kayak gini.”

“April!” Andrea menegur temannya, “Udah, deh. Nggak usah nyudutin Alexa.”

Cewek bernama April itu mencibir.

“Ada yang bawa obat merah di sini? Gue cuma punya perban, nih!” seseorang berteriak-teriak heboh. Tak lama kemudian, salah satu penonton yang sejak tadi duduk di tribun penonton maju menghampiri orang itu dan menyerahkan sebotol kecil obat merah. “Kapasnya nggak ada?” orang yang tadi berteriak-teriak itu bertanya.

“Sori, nggak ada,” si pemilik obat merah tersenyum penuh rasa bersalah.

“Ya udah, nggak apa-apa,” orang itu menjawab. Ia kemudian menghampiri kerumunan yang mengerubungi Alexa. “Oi, Luke!” ia berteriak, memanggil Luke yang juga sedang berjongkok mengamati luka Alexa. Mendengar namanya dipanggil, Luke menoleh. Orang itu melempar botol obat merah di tangannya ke arah Luke. Luke langsung mengerti maksud orang itu dan segera menangkap botol kecil itu dengan baik. Ia membukanya dengan cepat dan berjongkok lagi. Diteteskannya beberapa tetes obat ke luka Alexa.

Alexa merintih tertahan saat tetesan obat merah mengenai lukanya. “Aduh…” erangnya.

“Sabar, Lex,” Luke berujar, “Sakitnya bentar doang, kok. Abis itu nggak lagi deh pasti.”

Mendengar perkataan Luke, Alexa kemudian mencoba menahan erangannya agar tidak keluar. Setelah obat merah selesai dibubuhkan ke lukanya dan perban telah dibebatkan ke sekeliling lututnya, ia bernapas lega.

Pada saat bersamaan, Catherine masuk ke dalam lapangan indoor dan langsung kebingungan melihat kerumunan orang yang begitu riuh. Ia menghampiriku tanpa berniat untuk bersikap sok pahlawan dengan berteriak, “Ada apa ini?!” keras-keras.

“Lice, kenapa, sih?” ia berbisik saat sudah tiba di sampingku. Sementara itu, kerumunan sudah mulai bubar dan melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.

“Alexa jatuh,” jawabku singkat, “Lukanya gede di lutut.”

Catherine manggut-manggut. “Untung cuma di lutut, ya,” ia menggumam, “Coba kalo kebentur bagian lain, bisa bahaya.”

Aku mengangguk menyetujui.

Kami berdua kemudian spontan mengarahkan pandangan pada Alexa yang kini sudah kembali duduk tenang sambil memperhatikan Andrea dengan serius. Hanya dengan memandanginya selama beberapa detik, kurasa aku sudah yakin Catherine mendapat gagasan yang sama denganku.

Gadis ini benar-benar unik.

 

***

Sam POV

KRIIING……

Aku langsung terlonjak berdiri dari duduk saat mendengar bel tanda ekskul usai dibunyikan.

Akhirnya!

Setelah berjam-jam aku duduk dan membiarkan bokongku panas gara-gara kursi kayu jelek ini, aku bisa menghirup udara segar!

Aku menjadi orang pertama yang membereskan peralatan caturku di kelas, dan juga menjadi orang pertama yang menggendong tasku bersiap keluar dari kelas.

Dengan gembira, aku melambaikan tangan pada anggota ekskul yang lain, yang masih sibuk membereskan barang-barang mereka. Aku tidak peduli mereka menatapku aneh saat aku mulai melenggang keluar kelas.

Aku baru peduli saat kudengar seseorang memanggil namaku. Suara orang itu begitu berat, serak, dan mengerikan. Seolah-olah suara itu berasal dari neraka.

Oh, gawat. Neraka memanggilku.

“Samuel Ethan Wijaya!” Begitu katanya. Aku bahkan bisa merasakan tiga kata itu berdengung dalam rongga kepalaku terus-terusan, memaksaku untuk berbalik perlahan-lahan dengan tubuh gemetaran.

Dan aku langsung berhadapan dengan seraut wajah seram berhidung besar dan bermata belo.

Oh, tidak, tidak. Wajah itu tidak seganteng bayanganmu. Bahkan, kau bisa nyaris muntah kalau terus-terusan memandangi wajah jelek itu. Apalagi, rambut di kupingnya mencuat keluar semua, menambah kesan bahwa orang ini superjorok.

“Apa, Pak?” Jawabku dengan nada sesantai mungkin.

Aku awalnya cukup bangga dengan nada santaiku karena menurutku itu keren. Tapi, rasa bangga itu dengan cepat surut saat mata belo jelek itu melotot lebar-lebar.

Oh, tidak. Sepertinya menjawab dengan nada santai bukan pilihan yang tepat.

Rasanya aku mau muntah.

“SAMUEL!”

Sekali lagi, oh, tidak.

“Kamu mau ke mana?!” Kambing Jorok itu berteriak.

“P-pulang, Pak” jawabku dengan nyali yang sudah hilang tak berbekas.

“PULANG?!”

Sungguhan, teriakan Kambing Jorok yang spektakuler barusan berpotensi tinggi untuk dijadikan dubbing film kartun. Tapi bukan di adegan yang bagus-bagus, melainkan di adegan yang bikin penonton menahan pipis berjam-jam saking ketakutannya mereka.

“I-iya, Pak,” jawabku.

“Kan tadi sudah saya bilang, kamu harus tinggal dulu sebentar setelah ekskul untuk pembinaan khusus!” Kambing Jorok berteriak lagi.

“Ah, saya kan nggak sekeren itu, Pak, mainnya. Masa sampe harus dibina segala sih? Emangnya saya mau diikutin lomb—”

“Siapa bilang kamu mainnya keren?” Kata Si Kambing Jorok dengan kurang ajar. “Saya itu mau memberi kamu pembinaan khusus karena skill kamu di bawah rata-rata anggota lain! Kamu mau nilai kamu merah di rapor nanti?”

Aku terhenyak.

“Jadi, main saya nggak keren?” Tanyaku dengan nada teganya-lo-bilang-gue-nggak-keren.

“Selama ini kamu pikir main kamu keren?” Si Kambing Jorok bertanya dengan nada ternyata-selama-ini-kamu-nggak-sadar-kalau-dirimu-berada-di-jalan-yang-salah-Nak yang bikin aku kepingin menampar mukanya sambil berteriak, “Siapa lo?! Pergi dari hadapan gue!”

“Iya,” jawabku sok pede.

“Berarti kamu nggak tahu caranya main catur dengan benar!” Si Kambing Jorok menyimpulkan dengan sarkastis.

“Enak aja, Pak!” Aku membantah karena tidak terima dibilang tidak tahu cara bermain catur dengan benar, “Bapak pikir, selama ini saya ngapain aja di ekskul catur?”

“Bukannya kamu selalu tidur-tiduran, kalah main, terus ngegangguin anggota lain?” Si Kambing Jorok balas bertanya, masih dengan nada sarkastisnya yang supermenyebalkan.

Aku baru membuka mulut hendak membalas lagi ketika aku tersadar bahwa perkataan Si Kambing Jorok benar adanya.

Sialan. Sekarang aku tidak bisa kabur dari perintah mematikannya dengan cara elegan, yaitu menang debat.

“Kamu sadar itu kan, Sam?” Si Kambing Jorok menyudutkanku.

Aku menundukkan kepala dalam-dalam dengan gaya dramatis. Seperti yang kuharapkan, Si Kambing Jorok mengira aku sudah menyadari kesalahanku kemudian bertobat dan menangis tersedu-sedu seolah-olah ini adalah adegan sinetron. Bahkan, dengan kepala tertunduk pun, aku tahu bahwa ia mendengus penuh kemenangan sambil berkacak pinggang. “Makanya, kamu harus menurut pada saya. Ikut pembinaan itu adalah jalan terbaik supaya rapor kamu batal dapat merah.”

Yah, tadi aku memang sempat bilang kalau aku tidak bisa kabur dari perintah dengan cara elegan, sih. Mungkin, Si Kambing Jorok ini punya kemampuan super untuk membaca pikiran orang atau bagaimana, makanya ia mulai berlagak sombong seolah-olah berhasil ‘menaklukkanku’ adalah sebuah prestasi besar.

Tapi dia salah.

Hahaha! Memangnya dia pikir, cara elegan adalah satu-satunya cara untuk kabur?

Tentu saja tidak!

Ada cara lain yang jauh lebih praktis dan mendebarkan untuk dilakukan. Cara itu adalah…

“LARIII!!!”

Aku berteriak kencang seraya berlari kabur dari hadapan Kambing Jorok. Kukerahkan semua tenagaku dan segera kutebalkan telingaku agar suara teriakan apa pun yang bakal terdengar setelah ini tidak mengganggu konsentrasiku dalam berlari. Salah-salah, aku bisa menabrak benda-benda yang tidak diinginkan nantinya. Tembok, misalnya.

“SAMUEL ETHAN WIJAYAAA!!!”

Aku menoleh ke belakang dan melihat Kambing Jorok yang sudah berada cukup jauh di belakangku melotot garang dengan tampang guru psikopat. Mukanya merah padam dan kakinya dihentak-hentakkan. Tapi dia sama sekali tidak berinisiatif untuk mengejarku.

Dasar obesitas malas gerak.

Dia nyaris sejenis dengan Bu Asti, si guru ekonomi itu. Hanya dengan sedikit pemanjangan rambut saja, mungkin orang bakal mengira mereka kembar. Apalagi, tingkah mereka pun mirip. Terutama dalam hal suka mencak-mencak tak jelas.

Aku menoleh ke belakang dengan wajah sarat ejekan kemudian melakukan kissbye dengan narsis pada Kambing Jorok. “Dadaaaah, fans!” teriakku nyaring dengan suara bak bintang film yang habis menang Oscar.

Setelah merasa jarakku dengan Kambing Jorok sudah cukup jauh, aku memperlambat langkah. Kuatur napasku yang masih terengah-engah sehabis berlari.

Hah… Alangkah bahagianya aku bisa lolos dari Kambing Jorok. Rasanya seperti terbebas dari vonis hukuman penjara seumur hidup.

“Oi, ngapain lo?”

Sebuah panggilan menyentakku seketika. Aku mendongak dan menemukan Joshua sudah berdiri tegak di hadapanku. Badannya yang menjulang tinggi membuatku jadi merasa pendek dan cupu.

Cih, aku benci merasa pendek dan cupu.

“Habis kelar ekskul,” jawabku, “Mau balik ke asrama.”

“Jangan!” Joshua menyela, “Ikut gue aja!”

Aku mengerutkan kening dengan malas-malasan. “Ke mana? Gue mau tidur, nih.”

“Ke lapangan indoor, nyamperin Bryan. Paling-paling tuh anak masih mandi sekarang ini,” jawab Joshua.

“Ah, kalo gitu gue nggak ik—”

“Catherine kayaknya juga ada di sana,” Joshua memotong ucapanku dengan lihai.

“Serius?” Tanyaku.

Joshua mengangguk.

Aku berlagak sok berpikir sejenak. Kemudian, “Ya udah, gue ikut.”

Muka Joshua spontan berubah datar. Tapi kemudian ia menarik tanganku tanpa mengatakan apa-apa. “Kalo ikut, cepetan,” gerutunya.

Aku hanya mengikuti dengan pasrah karena tahu nyawaku tak akan bertahan lama-lama amat kalau aku melepaskan tanganku sambil berteriak, “Nggak mau! Jalan lambat-lambat aja! Gitu kok susah!”

Dengan berbekal kepasrahan yang memalukan, aku akhirnya tiba di depan pintu lapangan basket indoor yang terbuka lebar. Bagian dalam lapangan tampak sudah lumayan lengang. Hanya saja, teriakan anak-anak basket dari ruang ganti maupun kamar mandi masih terdengar sesekali.

Pandangan mataku langsung mengedar, mencari-cari sosok cewek pujaanku, Catherine.

Yap, kedengarannya agak lebay memang. Tapi aku sungguhan naksir Catherine Maxwell, si blasteran primadona sekolah itu. Yah, walaupun banyak orang yang bilang kalau peluangku dilirik olehnya hampir 0 persen, tapi aku sih pede-pede saja. Toh, aku kan nggak jelek-jelek amat. Malahan, menurutku, aku cukup ganteng, kok.

Pandangan mataku berhenti mengedar saat kulihat cewek yang kucari-cari sedang duduk di salah satu bangku di tribun penonton sambil mengutak-atik ponselnya. Tidak hanya dia yang ada di sana, melainkan juga Alice yang duduk di sebelahnya sambil melakukan hal yang sama. Sepertinya mereka berdua juga sedang menunggu Bryan selesai latihan.

“Josh, itu mereka!” Aku berkata dengan bersemangat seraya menunjuk Catherine dan Alice. Joshua mengikuti arah yang kutunjuk, kemudian langsung mengajakku menghampiri mereka.

“Yuk, ke sana,” katanya. Ia kemudian mendahuluiku berjalan menyeberangi lapangan basket.

Baru selangkah aku mulai mengikutinya, tiba-tiba saja seseorang menerjangku dengan keras. Aku nyaris jatuh kalau saja tidak menemukan pegangan berupa tiang ring basket.

Sialan! Siapa tadi yang menerjangku? Berani-beraninya dia nyaris bikin imejku jeblok di hadapan Catherine dengan jatuh memalukan!

Aku segera menoleh dan melihat punggung seorang cewek berjaket merah berlari menjauhiku. Cewek itu sepertinya baru saja keluar dari ruang ganti tim cheerleaders yang hanya terletak bersebelahan dengan ruang ganti tim basket. Dari postur tubuhnya saja, aku sudah bisa mengenali siapa cewek itu.

Itu Andrea Sylviana, teman sekelasku.

Andrea adalah salah satu cewek terpopuler di sekolah. Bahkan, kepopulerannya digosipkan hampir menyamai Catherine. Dia memang cantik, sih. Tapi entah kenapa, aku kurang suka padanya.

“Sam! Ngapain lo pegangan tiang ring terus gitu?” Joshua setengah berteriak, menegurku dari jarak empat meter. Lamunanku buyar dan aku segera sadar kalau posisiku masih sama dengan saat aku mempertahankan keseimbangan agar tidak jatuh tadi.

Ya, aku masih berdiri dengan tubuh condong ke belakang dan berpegangan erat dengan tiang ring basket seolah-olah tiang itu satu-satunya tumpuan hidupku.

Aku segera menoleh pada Catherine dan terkejut seketika menyadari cewek itu juga sedang menatapku geli dengan sepasang mata abu-abunya yang besar.

Sialan! Hancurlah imej beserta seluruh harga diriku!

Aku segera berdiri tegak kembali sambil bertanya-tanya dalam hati, berapa lama tadi aku bertahan dalam posisi memalukan itu.

Melihatku sudah berdiri tegak kembali, Joshua meneruskan langkahnya dengan santai tanpa berniat menungguku menyusulnya. Aku berlari-lari kecil, mencoba menyejajari langkahnya.

Saat akhirnya kami tiba di tribun penonton, Joshua langsung duduk santai di samping Catherine. Aku melotot.

Tidak terima, aku memerintah Alice dengan nada sok berkuasa, “Geser lo.”

Alice mendongak dan menatapku dengan bingung selama sekian detik, tapi kemudian ia memutuskan untuk tidak bertanya. Ia berdiri dari kursinya dan duduk di kursi sebelahnya, menyisakan kursi di sebelah kiri Catherine kosong. Aku segera duduk di sana dengan girang.

“Bryan udah lama di dalem?” Joshua bertanya sambil menunjuk pintu ruang ganti tim basket yang terletak di seberang lapangan.

“Udah agak lama,” Alice menjawab, “Paling bentar lagi keluar dia.”

“Habis itu kita balik ke asrama, kan?” Aku bertanya, membayangkan sebentar lagi aku akan bisa kembali tidur dan meneruskan mimpiku berkencan dengan Catherine tadi malam.

Joshua menatapku dengan pandangan aneh, kemudian menyindir dengan menyebalkan, “Emang kita ke sini cuma buat ngejemput Bryan? Penting amat dia, sampe-sampe latihan basket aja ditungguin sama empat orang.”

Mukaku berubah bingung. “Lho? Terus, kita ini ngapain?”

“Ya mau diskusi lah, Oon!” Joshua membentak, “Lo kira kita mau tidur siang bareng?”

“Josh, ini udah sore,” ralatku, “Mestinya tidur sore bareng.”

Joshua terdiam sejenak. “Oh iya, ya,” gumamnya, “Ah! Itu kan nggak penting! Ngapain juga kita malah ngebahas gituan?”

“Biar seru,” jawabku ngawur.

“Lo pikir tidur melulu itu seru?” Joshua membalas sarkastis.

“Selama ini lo nggak merasa itu seru?” Aku gantian membalas, merasa kemampuan debatku sudah di atas angin.

“Udah, lah! Ngapain juga sih, pada ngebahas hal-hal nggak penting?” Alice menyela perdebatanku dengan Joshua. Sialan. Padahal kan aku bisa saja memenangkan perdebatan itu dan kelihatan keren di depan Catherine. Ah, dasar Alice.

Aku memasang tampang datar sembari menggerutu kemudian kembali mengarahkan pandangan ke depan. Untuk sesaat, kami berempat hanya terdiam.

Hingga tiba-tiba, sebuah suara mengagetkan kami.

“Aduh!”

Suara itu spontan membuat kami berempat menoleh ke kanan, ke bagian lain dari tribun tempat seorang gadis sedang duduk sambil menunduk dalam-dalam. Kedua tangannya sibuk memperbaiki perban di lututnya, dan tampaknya teriakan barusan itu berasal dari mulutnya.

Oh iya. Itu kan Alexa Berliana, kembarannya Andrea.

Oh, dan ternyata nggak cuma dia yang ada di situ, melainkan juga Andrea yang kini berdiri di hadapannya sambil ikut mengamati lututnya yang terbalut perban putih. Mereka berdua memakai jaket yang persis sama. Jaket itu memang selalu mereka pakai ke mana saja. Perbedaan mendasar dari kedua jaket itu hanyalah, jaket milik Andrea memiliki bordiran kata ‘cheers‘ di bagian dada kirinya, sementara milik Alexa tidak.

“Kenapa tuh, si Alexa?” Joshua bertanya pada Alice dan Catherine yang jelas-jelas sudah berada di sini lebih lama daripada kami berdua.

“Tadi dia jatuh,” jawab Catherine, “Heboh banget sampean.”

“Alay,” gumamku.

“Sensi amat lo, Sam?” Joshua menegurku, “Wajar lah kalo Alexa jatuh jadi heboh. Habis, pasti si kembarannya itu ngurusin banget dan bikin seisi ruangan heboh. Lo kan tahu, kembarannya itu populer banget. Semua orang pasti ngikutin yang dia lakuin.”

“Di situlah alaynya,” aku mendumel. “Emang sepenting apa sih, si Andrea itu?”

Catherine dan Alice hanya tertawa kecil, sementara Joshua tidak lagi membalas perkataanku dan hanya memperhatikan sepasang kembar itu berkutat dengan perban di kaki Alexa yang sepertinya baru saja mereka ganti.

“Oi, pada ngapain?”

Sebuah suara mengagetkan kami berempat. Kami menoleh dan mendapati Bryan sudah berdiri dengan kaus santainya di hadapan kami. Tubuhnya yang ramping memungkinkannya untuk menyelip di antara kursi-kursi di tribun penonton biarpun sebagian dari space kosong yang ada sudah diisi oleh kaki-kaki kami.

“Eh, yang ditunggu muncul juga!” Aku memekik senang, mengira dengan munculnya Bryan, kami bisa segera berdiskusi dan kembali ke asrama setelah selesai.

Membayangkan kasur itu rasanya…

“Kami lagi nungguin lo aja,” Joshua menjawab pertanyaan Bryan.

“Oh,” Bryan menjawab, “Kalo gitu, berhubung gue udah di sini, buruan mulai aja diskusinya.”

Joshua menatap kami semua satu-per-satu secara bergantian, kemudian mengangguk mantap. “Oke, kita mulai.”

PART BREAK

[Read the third part of this chapter here]

Advertisements

12 thoughts on “[CHAPTER TWO] Mystery of the Orphanage (2/4)

  1. Tak kira aku dh komen d sini, ternyata belom ._. Jadi, …
    #gataumaukomenapaan #tagnyapanjangamatgakmutupula
    Berhubung ak dh mbaca trus lupa, jd aku liat2 ke atas sekilas, dan btw Kambing Jorok tu yg meranin sp? .___. #lhah

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s