Tears Behind the Bathroom Door

Copyright © 2014 by Cindy Handoko

Udara malam ini terasa dingin menusuk, ribuan kali lebih kejam daripada malam-malam biasanya. Aku berjuang keras menahan getaran di lututku akibat dinginnya hawa yang memecutku tanpa belas kasihan. Hanya sedetik aku berhasil, dan detik selanjutnya aku tidak lagi kuat. Tubuhku merosot begitu saja ke lantai, seolah-olah gravitasi yang begitu kuat menarikku.

Malam ini, semuanya terasa salah. Bahkan, pintu kamar mandi tempatku biasanya bersandar ini juga ikut terasa dingin.

Oh, tidak. Tunggu dulu. Yang terakhir itu memang sudah biasanya terjadi. Di malam-malam sebelumnya, saat aku melarikan diri ke sini, pintu itu memang selalu terasa dingin. Seolah-olah pintu pun menentangku, memunggungiku dengan kejam.

Aku merasa tak berguna. Sama sekali tak ada yang memihakku. Segala yang kulakukan untuk merubah situasi rasanya tak ada gunanya. Sekalinya aku berlari, aku menemukan diriku kembali lagi ke titik yang sama. Titik di mana aku memulai. Titik di mana semua itu menyiksaku hingga hanya tersisa rasa nyeri di ulu hatiku.

Seperti titik di mana aku berdiri saat ini.

Ah, aku salah lagi. Seharusnya bukan ‘seperti‘, tetapi ‘itulah‘. Ya, itulah titik di mana aku berdiri saat ini.

Rasa sakit itu nyata, dan bukannya fantasi layaknya harapan yang tertanam di jiwaku. Aku bahkan masih bisa merasakan perih di kepalaku akibat akar rambut yang nyaris tercabut keluar. Begitu pula rasa ngilu pada memar di sekujur tubuhku, terlebih memar yang baru saja kudapat. Memar yang diukir dengan tidak berperikemanusiaan oleh orang yang seharusnya menjadi tempatku bertumpu.

Tak ada yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan.

Itu bukan pendapatku. Itu pendapat orang banyak yang seringkali kudengar.

Pendapat itu kini mendapat respon keras dari otakku.

Ada. Ada yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan.

Aku tidak dikhianati, tapi rasanya lebih sakit daripada dikhianati. Bukankah itu berarti memang ada yang lebih menyakitkan daripada hal laknat itu? Bukankah itu berarti aku berada di titik yang lebih terpuruk daripada seseorang yang telah dibuang?

Oh, sial. Bahkan tanpa dibuang pun, kondisiku sudah lebih parah.

Sampai kapan aku mau lari ke sini terus?

Sampai kapan kamar mandi ini akan menampung seluruh air mataku hingga aku siap untuk kembali disakiti?

Ini semua sudah cukup.

Tidak ada hal yang lebih menyedihkan daripada bertanya-tanya dalam hati, tapi tak mendengar sepatah kata pun yang memberikan jawaban. Hanya gema semu yang terus mengusik yang terdengar.

Akhiri saja semua ini, maka kau akan baik-baik saja.

Sekali lagi, sial. Aku benci gema itu.

Sudah berkali-kali ide untuk mengakhiri semua ini terbersit. Ini tentu bukan kali pertama. Tapi sebelumnya aku selalu menolak, dengan alasan yang bahkan tak kuketahui apa. Aku selalu beranggapan bahwa seberapa pun terpuruknya aku, aku tetap harus memiliki hati yang bersih, hati yang murni. Seberapa pun terpuruknya aku, aku tetap harus menjadi seorang baik yang nantinya akan memperolah kebahagiaan di akhir cerita.

Namun akhir-akhir ini, suara lain di hatiku mulai mengatakan bahwa itu semua bualan. Itu semua tak mungkin terjadi di dunia kejam tempatku berada sekarang.

Bukankah orang yang selalu menyembunyikan luka di balik senyum bisa dianggap pembohong?

Lalu apakah itu berarti ia seorang pendosa? Sebab orang bilang, bohong itu dosa.

Lalu apa bedanya dengan menunjukkan perasaan itu terang-terangan, mengamuk, membanting benda-benda yang ada di sekitar, dan menampari wajah orang?

Toh yang kau dapatkan sama : dosa.

Untuk apa menyiksa diri sendiri kalau pada akhirnya tindakanmu itu juga dianggap salah?

Aku tidak bisa maju. Mundur pun tidak bisa. Lalu apa yang bisa kulakukan?

Saat pemikiran itu terbersit di benakku, aku mulai membenci semua gema yang pernah mengusikku. Aku benci mengakui bahwa suara-suara itu benar. Aku benci mengakui bahwa aku memang seharusnya mengakhiri semua ini saja daripada aku tambah menderita.

Di hadapanku, terbentang bak berisi penuh air.

Menenggelamkan kepalaku di sini rasanya bisa menjadi jalan pintas untukku melarikan diri.

Benar. Itu terdengar cukup bagus.

Aku menarik napas panjang, berulang kali. Setelah aku merasa siap, kupejamkan mataku. Kurasakan angin dingin yang membelai tengkukku, tidak sekejam tadi. Setidaknya, ia tak lagi memecutku.

Keyakinan bahwa pilihanku benar membuatku perlahan membenamkan wajahku ke dalam genangan air jernih di hadapanku.

Hanya sedetik, dan sesak itu pun datang.

Aku tak kuat. Aku tak sanggup.

Kubuka mataku, dan kusadari kini wajahku telah terbenam sepenuhnya ke dalam air. Sesak itu masih belum hilang, tapi lalu aku ingat tujuanku.

Untuk mengakhirinya.

Ya, benar. Aku ingin mengakhiri sesak ini. Jalan terbaik adalah untuk menahannya lebih lama. Sedikit lebih lama. Sedikit…

“ANAK IBLIS!!”

Teriakan itu menyentakku. Entah hanya fantasi atau memang ada teriakan seperti itu dari luar kamar mandi. Rasa-rasanya aku sering sekali mendengar teriakan itu.

Apa mungkin, inilah yang disebut-sebut orang?

Katanya, saat kau akan mati, otakmu akan memutar balik kilasan-kilasan kejadian dalam hidupmu?

Katanya, saat kau akan mati…

“APA YANG KAU LAKUKAN DI DALAM SANA?! DASAR BABI!! KAU SUDAH MENGHABISKAN WAKTU DUA JAM DI DALAM SANA!!”

Teriakan terakhir itu membuatku mengangkat kepalaku secara terburu-buru. Napasku terengah-engah.

Aku yakin, yang terakhir itu bukan hanya fantasiku.

Itu memang dia.

Tidak.

Bahkan saat aku hendak mengakhiri segalanya, dia berniat menghalangiku. Aku tidak mau ini semua berakhir di tangannya.

Aku mundur dua langkah, dan kembali memerosotkan tubuhku ke lantai, bertumpu pada pintu kamar mandi yang masih terasa dingin.

Aku mungkin tak bisa mengakhirinya saat ini, tapi aku tak akan keluar dari sini.

Selamanya, kalau memungkinkan.

Aku tak akan biarkan… hidupku berakhir di luar kehendakku.

Sebab jika aku keluar, aku yakin…

dialah yang akan mengakhiri hidupku.

Advertisements

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s