[CHAPTER THREE] Mystery of the Orphanage (1/4)

MOTO

MYSTERY OF THE ORPHANAGE
Cindy Handoko & Viona Angelica

CHAPTER THREE

PART ONE

P.S : This chapter is made by Viona Angelica, the owner of shining-hearts

What have you missed already?

PROLOGUE || CHAPTER ONE PART ONE || CHAPTER ONE PART TWO || CHAPTER TWO PART ONE || CHAPTER TWO PART TWO || CHAPTER TWO PART THREE || CHAPTER TWO PART FOUR

Bryan POV

“Pergi kalian! Jangan mengganggu si penjaga CCTV!” kata Pak Stenley sambil menarik kasar tangan Alice, orang paling dekat dengannya keluar.

“Lepasin Alice!” kataku spontan.

Tentu saja kau tak akan terima bila orang yang kau suka ditarik-tarik ataupun disakiti oleh orang lain, sekalipun itu gurumu sendiri.

“Kamu si ranking dua, berani ngelawan saya ya?” kata Pak Stenley saat mendengar perkataanku.

“Bukannya begitu Pak, saya–” kataku berusaha menjelaskan.

“Diam kamu! Masih mau ngeles aja! Keluar pokoknya keluar! Sudah cukup mengganggu si penjaga CCTV!” kata Pak Stenley.

“Nama saya Iris Pak, bukan penjaga CCTV.” kata Iris ikut nimbrung tanpa membalik badan.

Ia hanya menengokkan kepalanya sehingga sebagian rambutnya menutupi mukanya yang pucat dan hal itu membuat ia tampak seperti hantu apalagi ia berada di ruang CCTV yang gelap.

“Pokoknya jangan mengganggu Iris lagi dan cepat keluar!” kata Pak Stenley dengan suara yang agak bergetar.

Akhirnya kami keluar satu per satu dari ruang CCTV.

“Sekali lagi kalian nggak nurut sama perintah saya, kalian saya keluarkan dari panti asuhan ini!” kata Pak Stenley garang. “Dan untuk kamu Iris, sekali lagi kamu bantuin mereka keliaran malem-malem, kamu saya pecat!” kata Pak Stenley sambil menengok pada Iris.

Iris hanya mendengus kesal tanpa membalikkan badannya.

“Nah untuk sekarang kalian saya hukum membantu petugas dapur bersih-bersih setelah selesai makan siang dan makan malam satu Minggu ke depan dimulai besok!!!” kata Pak Stenley masih menampilkan wajah garangnya. ” Dan untuk kamu Iris, gaji kamu saya potong lima puluh ribu!” kata Pak Stenley lagi.

“Yah Pak, nggak bisa gitu dong, gaji saya aja cuman tuju puluh lima ribu sebulan, itupun saya harus tidur kurang dari tujuh jam sebulan.” kata Iris tak terima.

Namun Pak Stenley tak menghiraukannya dan segera menutup pintu ruang CCTV.

Ia langsung pergi secara misterius tanpa berkata apa-apa lagi pada kami.

“Sekarang kalian kembali ke asrama masing-masing untuk tidur.” kata Pak Joseph pada kami sebelum mengikuti langkah Pak Stenley.

“Aaah  males banget deh ngelakuin hukumannya, ide bikin LNU malem ini kan ide lo Bry. Lagipula lo kan sering bantu bersih-bersih di dapur kan? Kenapa nggak lo aja yang lakuin?” kata Sam setelah Pak Joseph turun menuju lantai dua.

“Enak aja lo main nggak ikutan, lo kan juga ikut ambil bagian di penyelidikan kali ini, lagipula penyelidikan kita namanya LNO bukan LNU goblok.” kata Joshua sambil menonyor kepala Sam dari belakang.

“Trus kalo nanti jam tidur gue kepotong, akibatnya gue nggak punya cukup energi, dan akhirnya gue pingsan, trus lo lo semua harus nggendong gue ke kamar, iya kalo gue sembuh dalam sehari, kalo nggak lo semua harus ngerawat gue selama gue sakit. Nggak mau kan?” kata Sam lagi sambil memegangi kepalanya agar Joshua tak menonyornya untuk kedua kalinya.

“Tidur mulu yang lo pikirin, lagipula kalo lo pingsan, tenang aja entar gue seret trus gue ceburin ke selokan–eh jangan sungai aja biar lo hanyut kebawa arus!” kata Joshua lagi sambil menjitak kepala Sam dari atas. “Eh jangan-jangan, mending gue kasihin Gwen aja biar lo dibunuh sama dia.” kata Joshua tersenyum jahil.

“Ih lo mentang-mentang tinggi njitakin orang mulu kerjaannya, pergi lo sana shoo shoo.” kata Sam sambil mendorong Joshua agar menyingkir dari sebelahnya. “Dan… Gue nggak takut sama Gwen ataupun lo.” tambahnya sambil mencibir.

“Eh, bukan salah gue kalo gue lebih tinggi dari lo, salah sendiri tumbuhnya ke samping nggak ke atas.” kata Joshua.

“Kayaknya tadi siang lo takut banget sama Gwen deh, kalo nggak ada dia aja lo berani.” kataku nimbrung.

“Udah deh! Kalian nggak usah berantem kaya anak kecil terus!” kata Alice mulai frustasi.

“Heh!!!” kata suara keras yang mengagetkan kami semua. Suara itu berasal dari belakang kami, depan ruang CCTV.

Aku berbalik dan kulihat Iris telah berdiri di dekat tangga yang berjarak tidak begitu jauh dari tempatku berada. Ia berjalan mendekati kami semua dengan tampang marah.

“Tuh kan, gara-gara lo semua gaji gue dipotong sama Pak Stenley! Lima puluh ribu lagi.” kata Iris sambil mengacungkan kelima jarinya pada kami.

“Ya… Mau gimana lagi, lagipula yang ngelaporin ke Pak Stenley pasti Kim kan? Soalnya kita tadi nyuruh dia lapor ke Pak Stenley tentang pembunuhan Alexa, jangan-jangan dia juga nglaporin kalo kita keliaran malem-malem dan waktu itu kita di ruang CCTV.” kata Sam ngawur.

“Heh lo nggak boleh asal nuduh oon! Lo kan tau sendiri Kim itu orangnya bisa diajak kerja sama, kali aja Pak Stenley mau liat awal mula kejadian ini lewat CCTV dan kebetulan kita lagi di sana.” kata Joshua membela Kim.

“Udah! Lo nggak usah debat sendiri dulu! Nih duit gue gimana, tukerin dong, lo kan udah ngomong mau tanggung jawab.” kata Iris tambah marah.

“Haah!? Berarti kita harus ngumpulin duit segitu buat dikasihin lo?” kata Sam heboh.

“Iya lah! Lo pikir gue rela gaji gue dipotong cuma gara-gara kalian! Kalo gitu caranya gue nggak mau kerja sama lagi sama kalian!” kata Iris.

Wait wait, keep calm Ris, tenang aja, besok kita bakal nukerin gaji lo kok.” kataku. “Tapi besok malem lo bantuin kita kabur buat penyelidikan lagi.” tambahku.

“Tapi, gue nggak punya duit.” kata Sam tersenyum kikuk.

“Lo juga nggak kerja part-time?” tanya Catherine.

“Orang semales Sam mana mungkin kerja part-time sih? Kerjaannya tidur mulu.” kata Joshua.

“Eh emangnya lo kerja part-time? Nggak kan? Sesama pengangguran nggak usah saling ngejek deh.” kata Sam mencibir pada Joshua.

“Gue punya sepuluh ribu, tadi di kasih Bu Surti penjaga kantin gara-gara bantu-bantuin mereka.” kataku sambil mengeluarkan uang sepuluh ribu dari kantungku tanpa menghiraukan mereka.

“Sebenernya gue ada dua puluh ribu, tapi yang sepuluh buat tabungan, jadi, nih sepuluh ribu.” kata Alice sambil tersenyum dan memberikannya pada Iris.

“Nih gue juga punya sepuluh ribu.” kata Catherine yang juga memberikan uangnya pada Iris.

“Gue sih juga ada sepuluh ribu.” kata Joshua sambil mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari sakunya dan mengumpulkannya pada Iris.

“Baru ada empat puluh ribu nih, gimana?” kata Iris sambil menunjukan empat lembar sepuluh ribuan yang sudah kami kumpulkan.

“Gimana kalo kita minta Gwen?” kata Alice dengan mukanya yang lugu.

Kami semua kecuali Iris yang tidak kenal Gwen langsung melotot kaget ke arah Alice.

“Um.. Lice, ngomong sama Gwen aja kaya ngomong sama setan, apalagi  minta uang ke dia.” kataku menerangkan.

“Trus gimana dong?” kata Alice masih memasang tampang lugu.

“Gue ada ide!” kata Joshua. “Di sini kan yang belum ngasih duit Sam, jadi… Biar dia aja yang minta duit ke Gwen.” kata Joshua tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Sam.

“Hah!? Gue nggak mau!!!” kata Sam langsung menyingkirkan tangan Joshua dari kepalanya.

“Ah, udah deh gue nggak mau tau pokoknya besok malem antara jam sembilan sampe jam sembilan lebih satu menit, kalian harus ngembaliin duit itu ke gue. Kalo telat semenit aja, jangan harap gue mau bantu kalian lagi, sekalinya kalian berani keluar lagi gue bakal aduin sama Pak Stenley! Sekarang gue harus kerja lagi, inget JAM SEMBILAN!” kata Iris dan langsung kembali ke ruang CCTV.

“Oke Sam, jadi… Kalo lo nggak minta ke Gwen, lo harus ngerjain semua hukuman yang kita dapet sendirian.” kataku menimpali.

“Kalian jahat banget sih.” kata Sam sambil mencibirkan bibirnya.

“Nggak papa Sam, kamu tanggung jawab dong, kan kamu belum bayar sendiri, kita-kita aja udah nyumbang sepuluh ribu lho, dan uang segitu kan berharga banget bagi orang kaya kita.” kata Catherine ikut setuju.

“Ya udah deh, terserah kata lo deh Cath.” kata Sam pasrah.

Setelah Sam setuju, akhirnya kami kembali ke kamar masing-masing untuk segera beristirahat.

 

***

Aku terbangun dari tidur singkatku karena cahaya matahari telah menembus ventilasi udara dan tepat mengenai mataku.

Dengan sangat malas aku bangkit dari kasur dan duduk di pinggirnya. Aku merasa sangat ngantuk dan malas hari ini. Kulirik jam dinding yang tergantung di dekat kasurku, jam menunjukan pukul 06.00 yang menandakan aku hanya tidur dua jam semalam.

Aku memutuskan untuk kembali menidurkan tubuhku ke atas kasur untuk kembali ke alam mimpi paling tidak lima menit lagi.

BRAK!!!!

Tiba-tiba terdengar suara sangat keras yang membuatku melompat dari kasur. Dan yang lebih mengejutkanku adalah… Adalah… Suara itu berasal dari kamar Alice.

Aku langsung membuka kunci kamarku dengan cepat lalu segera melongok keluar. Kulihat sekelibat bayangan berjubah hitam yang menghilang di balik tikungan tangga.

Untung saja pembunuh itu tak menyadari kehadiranku sehingga aku terbebas dari percobaan pembunuhan selanjutnya.

Aku langsung menggedor-gedor pintu kamar Alice dengan brutal sambil memanggil-manggil namanya. Mungkinkah sesuatu terjadi pada Alice?

Tiba-tiba aku menyadari sesuatu tergenang di depan pintu mereka, dan itu adalah… Adalah segenang darah yang mengalir dari bawah pintu asrama Alice.

Hal itu membuatku semakin panik, jangan-jangan… Jangan-jangan… Alice dan Catherine telah dibunuh di kamar asrama mereka sendiri!?

“Ada apa Bry?” kata Alice sambil membuka pintu dan kaget akan apa yang baru saja ia temukan di depan pintunya.  “Bry, lo berdarah?” tanyanya dengan tampang shock.

“Nggak, pembunuh itu yang numpahin darah di sini.” kataku menjelaskan.

“B-brarti l-lo juga bakal jadi korban percobaan pembunuhan s-selanjutnya dong?” katanya takut-takut.

“Nggak, dia nggak nyadar kalo gue intai tadi.” kataku sambil membungkuk untuk mengamati genangan darah itu.

Tess…

Tiba-tiba sesuatu menetes dari atas kami. Aku mendongak ke atas dan ternyata genangan itu bukanlah genangan darah manusia melainkan darah seekor burung gagak berwarna hitam yang sedari tadi tergantung di atas pintu kamar Alice.

Ketika kami mendongak, tiba-tiba sesuatu terjatuh dari mayat burung gagak yang mati disembelih itu. Yaitu, sebuah kertas yang telah basah akan darah.

“Lice, liat nih.” kataku sambil mengambil kertas itu dari depanku.

“Ada apa ribut–” kata Catherine dengan wajah ngantuknya yang tiba-tiba berubah pucat setelah melihat darah di depan pintu kamarnya. “Gue… Diterror lagi?” katanya takut-takut.

“Entahlah, tapi Bryan nemuin gulungan kecil di mayat burung gagak di atas tuh.” kata Alice menerangkan. “Coba buka Bry.” katanya lagi.

“J-jangan, gue belum siap, gu-gue takut, gimana kalo itu ancaman buat gue lagi? Dan sebentar lagi gue jadi korban selanjutnya?” kata Catherine mulai gemetaran.

“Nggak papa, kalo nggak dibuka kita nggak akan tau kan?” kataku membijakki dan langsung membuka gulungan itu.

TO : CATHERINE MAXWELL

JUST DIE ALREADY!!!

GO TO HELL!!!

I WILL KILL YOU!!!

Itulah tulisan yang tercantum dalam gulungan yang jatuh tepat di atas kepalaku. Walaupun tintanya sudah agak blur karena terkena darah, aku yakin pasti itu bunyinya.

Wajah Catherine dan Alice langsung berubah pucat pasi, terutama Catherine.

“Lo berdua tenang aja oke? Kita selesaiin masalah ini sama-sama, termasuk sama Sam, Joshua, n’ Gwen.” kataku berusaha menenangkan mereka.

“T-tapi Bry—” kata Alice masih dengan wajah pucatnya.

“Sst… Nggak usah dipikirin Lice, lo aman kok sekarang tenang aja ya.” kataku sambil menepuk pundaknya halus.

“Ngapain lo pagi-pagi udah ngapel di kamar Alice?” kata Gwen yang tiba-tiba muncul dari belakang tikungan tangga.

Nampaknya ia baru saja selesai mandi, aku bisa menebak dari sabun yang dibawanya. Tetapi satu hal yang menarik perhatianku yaitu terdapat noda merah darah pada baju hitam yang ia bawa.

“Heh ditanyain pake bengong segala. Ngapain kalian ribut pagi-pagi sih?” kata Gwen sambil berjalan mendekati kami dengan tampang terganggu.

“Ini nih, barusan gue, Alice, sama Catherine nemuin genangan darah di depan kamar mereka, dan tiba-tiba ada gulungan kertas ini jatuh dari bangkai di atas sana.” kataku pada Gwen sambil memberikan gulungan itu.

“Oh… Gue nggak perlu baca.” katanya saat aku akan memberikan kertas itu padanya. “Udah ya gue balik dulu.” tambahnya dengan raut wajah datar, dan langsung masuk ke kamarnya.

Aku, Alice dan Catherine hanya bisa diam terpaku menatap sosoknya yang baru saja menghilang ke dalam kamar.

“Udah deh, mendingan sekarang kalian mandi-mandi dulu, trus siap-siap berangkat daripada telat, bangkai ini biar gue yang buangin. O iya, lo berdua jangan pisah ya buat jaga-jaga.” kataku pada mereka.

“Berarti kita mandi berdua dong?” kata Alice.

“Ya nggak gitu juga kali, pas mandi nggak usah sama-sama juga nggak papa.” kataku sambil menepuk jidat.

***

Samuel POV

Aku terbangun dari tidur malamku yang amat sangat sebentar. Karena kurang puas, aku melanjutkan kembali tidurku itu lagipula ini masih jam 6.40, aku bisa tidur paling tidak 10 menit lagi.

“Heh Sam, lo jangan ngebo mulu dong, kalo lo telat gimana?” kata seseorang tiba-tiba saat aku sedang mencoba kembali ke tidurku.

“Apaan sih lo bawel deh, lagipula yang telat kan gue, bukan lo, nemangnya lo sapa nyuruh-nyuruh gue!” kataku sambil masih tiduran tanpa melihat siapa yang berbicara denganku.

“Bangun oiii!!!” kata seseorang lagi, kali ini ia melemparkan sesuatu ke arahku.

“Apaan sih lo ngganggu gue tidur aja!” omelku sebal pada kedua orang tadi yang dapat kupastikan mereka sedang berdiri di depan pintu.

Dan ternyata dua pengganggu itu adalah Bryan dan Joshua yang entah bagaimana bisa membuka pintu kamarku padahal aku sudah menguncinya rapat-rapat agar Gwen tak bisa masuk dan membunuhku.

“Kok kalian bisa masuk sih? Pake nglempar gue pake kertas segala lagi!” kataku kesal sambil mengacak-acak rambutku yang sudah acak-acakan.

“Tadi kita lewat di lantai satu, trus gue nggak sengaja ngeliat pintu kamar lo kebuka. Dan gue yakin lo masih ngebo aja di sini, jadi gue ajak Bryan nyamperin lo biar lo nggak telat lagi.” kata Joshua padaku.

“Aah ini pasti ulah si Jeffrey, sejak dia pindah ke kamar gue gara-gara kematian Rey, kamar gue pasti kebuka terus gara-gara dia nggak pernah ngunci pintu abis keluar.” kataku sebal.

“Heh oon, kalo dia ngunci pintu, ya lo kekancingan di dalem dong, yang ada malah lo tambah bengak-bengok sampe mbangunin anak-anak satu asrama.” kata Joshua sinis.

“Iya juga ya, tapi entah kenapa si Jeffrey kalo berangkat sekolah pagi banget, trus masuk kamarnya mepet sama jam tidur, jadinya kan kamar gue sering nggak kekunci, kalo Gwen dateng gimana coba?” kataku merinding sendiri.

“Tenang aja, besok gue suruh Gwen ke sini deh nemenin lo,  hahahaha…” kata Bryan sambil menyilangkan tangan di depan perut.

“Ah resek lo-lo pada. Udah bubar-bubar, gue mau keluar minggir lo.” kataku sambil segera mengambil baju seragam dan alat mandi dari lemari.

Setelah mengambil semua peralatan itu aku langsung menerobos kedua orang yang menghalangi pintu untuk keluar.

“Minggir-minggir, gue harus ngunci nih pintu.” kataku pada mereka sambil langsung menutup dan mengunci pintu.

Kedua orang itu hanya tersenyum jahil menatapku. Aku mendengus kesal dan langsung meninggalkan mereka untuk mandi.

***

Alangkah kedinginannya aku setelah selesai mandi. Aku benci mandi di pagi hari, dinginnya air membuatku terjaga dari keinginan untuk tidur lagi.

Aku berjalan kembali ke kamarku yang sebenarnya tidak jauh dari kamar mandi pria.

Aku berjalan dengan ngeri melewati kamar mandi wanita, tempat pembunuhan terjadi tadi malam. Hii membayangkan tubuh Alexa yang bersimbah darah saja aku nggak kuat.

Jadi aku mempercepat langkahku agar melewati tempat yang mungkin berhantu itu.

Aku kembali menuju kamarku, membuka pintunya, menaruh pakaian kotor di bak cucian untuk kucucikan di tempat laundry sekolah nanti siang, dan segera menuju ke sekolah untuk mengikuti pelajaran, tepatnya untuk tidur lagi sambil didongengi oleh para guru.

***

Catherine POV

Aku masih mengamati meja Alexa yang kini kosong. Anak itu memang sangat misterius, aku yang tergolong paling sering berbicara dengannya saja tidak tau apa yang ia pikirkan.

Bisa saja ia menyimpan suatu rahasia yang sangat besar dibalik sosok misteriusnya. Sesuatu yang membuat ia termenung sepanjang hari dan menampilkan sosok yang misterius setiap harinya.

Sekarang Pak Tanto sedang menjelaskan sesuatu yang amat sangat membosankan di depan kelas. Karena tak tahan akan kebosanan ini, aku mencari sesuatu yang menarik untuk dilihat.

Aku mengitarkan mataku untuk melihat seisi kelas. Dan pandangan itu terhenti pada sosok Bryan yang sedang mendengarkan Pak Tanto dengan sangat serius.

Dasar Bryan, dia itu terlalu rajin, setiap pelajaran selalu memperhatikan dengan sangat serius seperti itu. Karena memandang Bryan yang sedang konsentrasi menatap Pak Tanto itu membosankan, aku kembali mencari sesuatu untuk diperhatikan.

Dan pandangan itu terhenti pada Andrew yang sekarang duduk berjajar dengan Willy. Sepertinya mereka sedang berantem karena suatu hal.

Bagaimana aku tahu? Itu karena mereka sedang sibuk dengan kegiatan sendiri : Willy sedang merapikan rambutnya sedangkan Andrew sedang menaikkan kakinya ke meja dan ia tampak seperti sedang berpikir keras.

Namun kedua sahabat ini akan cepat akur kembali walaupun mereka berantem seperti apapun juga.

Tiba-tiba Andrew melirik ke arahku dan akhirnya aku bertatap muka dengan berandalan seram itu. Aku langsung memalingkan pandangan secara acak karena takut dipelototi olehnya.

Akhirnya aku mengalihkan pandanganku ke depan, alangkah kagetnya aku ketika Gwen yang duduk hanya sebangku di depanku sedang menatapku tajam.

“L-lo ngapain natap gue kaya gitu?” kataku kaget sambil megap-megap sendiri.

“Nggak papa.” katanya di balik dengusan yang ia keluarkan dan langsung membalikkan pandangan ke depan menuju Pak Tanto.

Dari kecil aku sudah takut dengan cewek seram yang ada di depanku ini. Dia selalu memancarkan tatapan kejam ke arah siapa saja yang sedang berbincang-bincang padanya.

Bahkan ia selalu memancarkan muka yang datar saat ditemukan mayat di sekolah. Wajahnya bagaikan memancarkan kalimat “Hal itu hanyalah hal biasa yang selalu terjadi”. Walaupun bisa kuakui di asramaku selalu terjadi dua sampai tiga kali pembunuhan dalam setahun, tapi itu semua kan kebanyakan korbannya guru-guru dan staff bukan murid.

Aku ingat pasti, waktu kecil setelah ia kecelakaan, setiap aku menyapanya ia hanya mendengus kesal dan langsung pergi meninggalkanku.

Ah sudahlah tidak ada gunanya aku memikirkannya, lebih baik aku mulai membuka buku pelajaranku dan segera mengikuti pelajaran dengan baik layaknya anak SMA yang rajin.

***

Joshua POV

Aku memperhatikan setiap kata yang dikatakan oleh guru seniku, Pak Asep alias si kambing jorok. Walaupun pelajaran ini membosankan sekali, aku tetap harus memperhatikannya agar mendapat nilai bagus di teori seni.

Kalau kalian mengikuti tesnya kalian pasti tau sebagaimana susahnya teori seni di tangan Pak Asep.

Sesekali aku terpaksa tertawa pada leluconnya yang sama sekali tak lucu untuk menghargainya. Ya, kalau kalian di sini pasti kalian tau seberapa ‘garing’ nya lelucon guruku ini.

Biasanya Andrea selalu menertawakan keras-keras lelucon yang tak lucu itu dengan tujuan mengejek Pak Asep. Tetapi sampai sekarang guru jorok itu tak pernah tau kalau kami semua tertawa dengan tujuan mengejeknya, ataupun karena terpaksa, bukan karena ia lucu.

Namun hari ini semua itu berbeda, Andrea yang biasanya menjadi pemacu semua orang tertawa keras untuk mengejeknya, hanya duduk sambil memasang tampang datar. Oleh karena ia diam tanpa kata, hanya beberapa anak dari kelas X-B yang tertawa untuk menghargai si kambing jorok.

Sejak kematian saudara kembarnya Alexa, sikapnya menjadi berubah drastis, ia yang biasanya tak pernah serius menjadi sangat serius sejak pagi tadi. Sikapnya yang ceria dan riang menjadi dingin dan terus merasa bersalah sepanjang waktu. Ia juga menjadi lebih sensitif dan emosional.

Akhir-akhir ini tingkah Rosaline juga aneh, ia yang biasa mendengarkan pelajaran dengan serius tampak sedang berpikir keras untuk memutuskan sesuatu. Ia menjadi lebih sering melamun dan murung setiap harinya. Ada apa dengan kedua orang ini?

Sesaat kemudian bel istirahat berbunyi menandakan waktunya murid-murid beristirahat di luar.

Aku segera keluar dari kelas bersama dengan Sam menuju ke kelas X-A, tujuanku untuk bertemu Bryan dan membicarakan soal kasus Alexa yang membuat Andrea bersikap sangat berbeda.

Tapi untuk Sam sepertinya ia hanya ingin menjumpai Catherine dan bersikap sok pahlawan di depannya.

“Hei bro.” kataku sambil menepuk pundak Bryan dari belakang saat kami bertemu.

“Hei!” katanya penuh semangat dan mengajakku high-five

Dan dugaanku benar, Sam sekarang sedang melamun memperhatikan gerak gerik Catherine dari tempatku berada.

“Heh Sam!” kataku mencoba membuyarkan lamunannya.

“E-Eh apa-apa?” katanya sambil celingukan kaget.

“Ada kebakaran tuh di kelas sebelah, bantuin madamin gih.” kataku ngawur.

“Hah!? Kebakaran!? Gue harus selametin Catherine!” katanya sambil langsung menghampiri Catherine dan menarik tangannya.

“Sam, gue cuma bercanda oii!” teriakku pada Sam yang sudah berlari keluar sambil menarik tangan Catherine.

“Oh cuma bercanda.” katanya dengan tampang poker face sambil masih menggandeng tangan Catherine yang saat ini celingukan  bingung.

“Sam? Ngapain lo narik-narik gue?” kata Catherine sambil melihati Sam penuh tanya.

“Eh-Eh nggak papa kok,” kata Sam sambil melepaskan tangan Catherine.

“Bentar-bentar.” kata Catherine sambil melepaskan gandengan Sam dan masuk kembali ke kelas.

“Lice, yuk ke kantin.” kata Catherine.

“Yuk,” katanya sambil keluar kelas diikuti Bryan.

Karena Bryan dan Sam mengikuti mereka berdua, terpaksa aku juga mengikuti kedua orang itu pergi ke kantin untuk makan siang.

***

“Lo semua nyadar nggak sih kalo beberapa hari terakhir ini sikap Rosaline sama Andrea agak berubah drastis?” kataku membuka pembicaraan saat kami sudah duduk di sebuah meja yang cukup untuk enam orang.

“Berubah gimana?” kata Catherine sambil menaikkan kedua alisnya.

“Ya berubah aja… Contohnya Andrea jadi agak pemurung gitu, tuh liat di sana, dia jadi penyendiri kan?” kataku sambil menunjuk Andrea yang sedang duduk menyantap makan siangnya sendirian.

“Iya juga sih.” kata Catherine sekaligus menyudahi acara ngomong-ngomong kami.

“Eh btw kita kan harus nukerin duit Iris, trus kurang 10 ribu, gimana nih?” kata Alice menambahkan.

“Kan Sam mau minta ke Gwen, ya kan Sam?” kataku sambil menepuk pundak Sam yang duduk di sebelahku sambil menyantap makan siangnya.

Ia langsung terbatuk-batuk, entah karena kaget kutepuk atau kami mengingatkannya pada tugasnya untuk minta uang pada Gwen.

“O iya Sam, lo ydah ngomong ke Gwen belom kalo kita perlu 10 ribu lagi buat nukerin Iris?” kata Bryan menambahkan.

“B-Belum lah! Gue perlu nyiapin mental sungguh-sungguh, harus bertapa dulu biar dapet kekuatan njinakin roh seremnya Gwen!” kata Sam menghentikan acara makannya.

“Gue gabung di sini oke?” tiba-tiba seseorang langsung menyela dan duduk di antaraku dan Sam.

“Siapa sih lo main gabung aja pergi san—” Sam mengomel namun terhenti saat ia melihat siapa yang bergabung dengan kami, yaitu Gwen.

“Apa lo bilang tadi? Gue nggak denger.” kata Gwen sambil menatap Sam tajam.

“Eh nggak kok, gue bilang terserah lo mau gabung atau nggak he-he-he.” kata Sam sambil ngacir pindah ke sebelah Bryan yang duduk di depanku.

“Denger-denger lo semua dihukum buat nyuciin piring di dapur sehari penuh kan?” kata Gwen menanyakan.

“Kok lo bisa tau sih?” kata Alice kaget.

“Jefrrey yang cerita ke temen-temen, dia kan paling update tentang begituan.” kata Gwen dengan datar sambil memandang kami satu per satu dengan muka horror.

“Oh gitu, ya udah gue ke toilet dulu ya, mules nih.” kata Sam yang mulai ketakutan karena tatapan Gwen.

Ia langsung berdiri dari kursinya dan bersiap lari untuk segera kabur.

“Eeeh! Lo nggak usah ke mana-mana, bentar lagi kita harus nyuci piring!l” kata Bryan sambil menarik kerah baju Sam dan menariknya kembali duduk.

“Ya udah gue mau nyuci piring duluan aja.” kata Sam sambil membawa mangkuk bekas makannya ke dapur.

Semuanya mengikuti Sam kecuali aku dan Gwen yang masih duduk di mana kami berada sambil menyantap makan siang masing-masing.

Beberapa menit berlalu, kami hanya diam tanpa kata-kata sambil makan makanan masing-masing.

“Lo ikutan nggak?” kataku akhirnya sambil berdiri dari kursi untuk membawa piring ke dapur.

“Nggak, gue males lagipula gue kan nggak ikutan LNO di mana kalian ceroboh sampe-sampe ketauan keliaran.” katanya tanpa menoleh.

“Ya udah kalo gitu.” kataku sambil berbalik menuju dapur menyusul teman-temanku dan segera mengerjakan hukuman dari Pak Stenley.

***

Alice POV

Aku kembali ke kelasku, X-A bersama dengan Bryan dan Catherine.  Setelah Bryan menjelaskan alasan mengapa kami dtang terlambat, aku duduk kembali ke bangkuku, di sebelah Gwen untuk mengikuti pelajaran.

***

Hari sudah siang, kelas-kelas sudah kosong, hampir semua anak telah kembali ke asramanya. Aku masih membereskan barang-barangku yang berserakan di kelas. Bahkan Bryan pun sudah turun ke lapangan indooruntuk latihan basket bersama timnya. Catherine juga pergi untuk menonton latihan cheerleader di lapangan indoor sekolah.

Tak ada siapapun di kelas ini kecuali aku, Gwen, dan Andrew. Aku segera membereskan barangku agar dapat menyusul Catherine dan Bryan ke lapangan.

“Hey Lice.” tiba-tiba ada yang memanggilku dan yang pasti itu bukan suara Gwen yang sedari tadi duduk sambil membaca novel di sebelahku. Dan itu berarti yang memanggilku adalah Andrew.

Deg…

Entah kenapa tiba-tiba jantungku berpacu sangat kencang hiingga rasanya seperti akan melompat keluar.

“Ya?” kataku sambil berusaha menetralkan suasana hatiku.

“Ikut gue bentar.” katanya sambil meninggalkan tempat duduk dan tasnya.

Aku pun menghentikan acara beres-beresku dan mengikutinya tanpa membawa tas pula seperti terkena hipnotis. Ia berjalan menuju ke tangga lantai tiga untuk naik ke lantai tiga.

Aku mengikuti setiap langkahnya perlahan-lahan. Namun tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang janggal.

Sepertinya ada sepasang mata yang mengintai kami sedari tadi. Aku segera berbalik untuk melihat siapa itu, namun tak ada seorangpun di lorong lantai dua.

“Ayo cepetan!” kata Andrew yang sudah berada di lantai tiga.

Akhirnya aku menghiraukan hal itu dan langsung berlari ke tempatnya berada, di loteng.

Ketika aku membuka pintu besi menuju loteng, aku berbalik sekali lagi untuk mengecek perasaan janggalku dari tadi, namun tak ada siapapun, entah kenapa aku bisa merasakan ada yang mengikuti kami, namun aku tak tahu apakah ini karena jantungku terus berdebar atau memang ada yang mengikuti kami.

Akhirnya aku masuk ke loteng dan mendapati Andrew sudah duduk di tempat dia biasa duduk. Aku menyusulnya ke tempat itu dengan menaiki tangga yang ada dan ikut di sana, namun sambil berdiri karena aku teringat akan pesan Bryan kalau duduk di sana itu bahaya.

“Jadi, sebenernya gue ngajak lo ke sini gue pengen ngomong sesuatu.” katanya saat aku sudah berdiri di sampingnya.

“Ngomong apa?” kataku bingung.

Entah kenapa jantungku kembali berdegub sangat kencang, bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Sebenarnya apa yang terjadi denganku? Apakah aku sakit jantung? Jangan-jangan aku akan kena serangan jantung!

“Jadi… Sebenernya… Gue itu—” kata-katanya tergantung di udara.

Tiba-tiba seseorang membuka pintu besi menuju loteng dengan sangat keras. Aku sangat kaget, dapat kurasakan aku benar-benar akan terkena serangan jantung bahkan aku hampir terjungkal ke depan dan jatuh.

PART BREAK


[Read the second part of this chapter here]
Advertisements

8 thoughts on “[CHAPTER THREE] Mystery of the Orphanage (1/4)

  1. Sori, baru komen, td mbaca separo trus ketiduran .__.v
    *ini beneran, gue ga tau mau komen ap*
    Tu yg dtg sapa? (lhah idiot, kan part ini di cut sengaja dibuat penasaran sp yg dtg ._.)
    Tanya tp njawab sendiri, drpd penasaran, gue pindah part 2 ya ._____________. (nih emot kayanya bakal kepotong deh hbs gue “post comment” .-.) ya udh coba gue buktiin dlu..

    Salam, exotic yg dibenci CHT :’)

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s