[CHAPTER THREE] Mystery of the Orphanage (4/4)

MOTO

MYSTERY OF THE ORPHANAGE
Cindy Handoko & Viona Angelica

CHAPTER THREE

PART FOUR

P.S : This chapter is made by Viona Angelica, the owner of shining-hearts

What have you missed already?

PROLOGUE || CHAPTER ONE PART ONE || CHAPTER ONE PART TWO || CHAPTER TWO PART ONE || CHAPTER TWO PART TWO || CHAPTER TWO PART THREE || CHAPTER TWO PART FOUR || CHAPTER THREE PART ONE || CHAPTER THREE PART TWO || CHAPTER THREE PART THREE

Joshua POV

“Ngapain kalian malem-malem di sini?” kata seseorang berjas hujan hitam yang masuk ke perpus.

“Kami—Kami kejebak hujan, jadi nggak bisa balik ke asrama.” kata Bryan mengakali.

Orang itu membuka jasnya danternyata dia adalah Pak Heri, penjaga perpustakaan, satu-satunya karyawan yang baik pada murid-murid SMA.

“Oalah, ya udah kalian nunggu di sini aja dulu sampe hujan reda. Lho kok lampunya dimatikan?” kata Pak Heri sambil menatapku bingung.

“Ng-Nggak Pak, ini mati lampu, saya coba nyalakan tetep nggak bisa.” kataku saat Pak Heri mendekatiku.

“Oh gitu.” kata Pak Heri mencoba menyetek saklar. “Ya udah nggak papa, saya bawa senter kok.” kata Pak Heri sambil menyalakan senter.

“Memang Pak Heri ke sini mau ngapain?” kata Catherine.

“Oh… Saya? Saya mau ngambil kunci serep ruang administrasi yang dipasrahin sama saya.” kata Pak Heri sambil mencari-cari kunci di meja perpustakaan.

Kuncinya! Apakah mereka berpikiran sama denganku? Aku melirik Bryan yang sedang menatap serius Pak Heri, lalu berpindah ke Alice yang memberi tatapan kikuk, lalu ke Andrew yang sedang marah-marah pada Rosaline karena memukulnya tadi.

Jangan-jangan hanya aku yang berpikiran bisa meminjam kunci serep dari Pak Heri.

“Um… Pak, kami boleh pinjem kunci ruang administrasi nggak?” kataku.

“Ha? Buat apa?” kata Pak Heri sambil mengantongi kunci serep ruang administrasi.

“Um…” aku mencoba mencari alasan yang masuk akal.

“Buat nyari data diri.” kata Sam asal-asalan.

Aku langsung melototi dia karena ia merusak rencanaku.

“Ha? Ujan-ujan gini kalian mau nyari data diri? Kenapa nggak besok aja?” kata Pak Heri heran.

“Soalnya…” kataku kembali mencari alasan.

“Soalnya besok kita ada extra Pak, trus kerja part time.” kata Sam lagi.

Aku menepuk jidat mendengarkan alasannya yang nggak masuk akal itu. Aku berharap bisa jalan ke sana dan menjitak kepalanya agar ia berhenti mengatakan hal-hal nggak masuk akal.

“Oh gitu, ya udah nggak papa, besok aja kalian temui saya setelah selesai kerja sama extra ya, sekarang kalian balik ke asrama aja, toh ujannya udah berhenti.” kata Pak Heri.

“Ya Pak, makasih.” kata Bryan.

Kami semua keluar satu per satu dari perpus untuk kembali ke asrama dan beristirahat.

 

***

Andrew POV

Aku membuka mataku dari tidurku semalam. Aku lupa kalau kemarin aku dan tim Bryan belum makan malam. Walaupun sebenarnya melewatkan makan malam sudah biasa untukku, tapi aku yakin mereka tidak biasa melewatkan makan malam.

Aku melirik kasur Willy yang terletak disebelahku, ia masih terbaring di kasur sambil bermimpi indah.

Sebenarnya jam berapa ini? Tumben si Willy

belum ngilang dari ranjangnya, biasanya dia selalu bangun lebih cepat dariku. Aku mendongak untuk melihat jam dinding milik kamar asramaku.

Sudah jam 6.50!? Berarti aku akan terlambat lagi dan harus melewati si monster penjaga pintu!

“Woi Will! Bangun! Kita udah telat kebo!” kataku sambil menendang pelan tubuhnya.

“Eng apaan sih! Orang gue hari ini nggak masuk, gue lagi nggak enak badan! Nggangguin aja lo!” katanya sambil masih terbaring malas di kasurnya.

Mending gue pura-pura sakit aja, kan nggak usah ikut pelajaran trus bisa males-malesan di kamar. Sip deh.

Aku kembali membaringkan tubuhku ke kasur untuk segera tidur kembali.

“Woi Ndrew, lo nggak jadi brangkat?” kata Willy sambil membalikkan badannya menghadapku.

“Nggak deh, gue juga nggak enak badan.” kataku sambil memejamkan mata.

“Bilang aja lo mau bolos brandalan.” kata Willy sambil mengulurkan kakinya untuk menggelitik pinggangku.

“Diem aja lo! Banyak bacot mulu! Katanya sakit, ya udah tidur sana!” kataku sambil membalikkan badan untuk tidur lagi.

 

***

Iris POV

Upacara telah usai, semua murid meninggalkan lapangan untuk kembali ke kelas melanjutkan pelajaran.

Aku benci hari Senin! Pasti setelah upacara selesai seisi kelas akan bau keringat, ditambah udara apek dan panas di dalam kelas yang membuatnya menjadi bertambah buruk.

Apalagi setelah ini jadwal Pak Stenley mengajar kelasku. Mendengar caci makinya setelah panas-panasan benar-benar membuatku gila!

Aku juga masih bingung kenapa aku membantu anak-anak itu untuk melakukan penyelidikan mainan mereka. Lagipula apa yang mereka harapkan dari penyelidikan bodoh itu? Segerombol anak SMA nggak akan bisa mengungkapkan misteri pembunuhan profesional ini.

“Hei Ris, makasih ya buat bantuin kita.” kata Joshua.

“Ya nggak usah dipikirin kok.” kataku sambil memasang senyum.

“Lagipula gue nggak bisa bayangin kalo lo nggak mau bantuin kita pasti kita udah diskors dari sekolah.” katanya sambil mengusap-usap tengkuknya.

“Hahaha nggak papa deh.” kataku sambil tersenyum padanya.

Lalu Pak Stenley memasuki ruangan, ia langsung kembali ke tempatnya karena tidak ingin terkena hukuman dari Pak Stenley.

Oke, sekarang penderitaan sesungguhnya dimulai.

 

***

Joshua POV

Akhirnya waktu istirahat tiba juga! Perutku sudah keroncongan sejak tadi sampai-sampai aku harus memeganginya agar suaranya tak didengar Rosaline.

Ini semua karena kami keseruan dengan game Sam kemarin, aku dan teman-temanku jadi melewatkan makan malam. Untung saja hukuman kami tidak berlaku di hari Minggu karena hari Minggu adalah hari bebas. Jadi hanya beberapa murid yang makan malam di ruang makan, dan itupun mereka harus mencuci piring sendiri.

Dengan cepat aku menyahut jatah makananku dan membawanya ke meja yang sudah dipenuhi teman-temanku untuk menyantapnya.

“Sam gara-gara lo kemarin kita jadi nglewatin makan malem kan! Untung aja ada makan pagi kaya sekarang, kalo nggak gue udah mati kelaparan!” kataku sambil melahap makananku.

Sam bahkan tak menghiraukan Joshua dan menyantap makanannya dengan brutal. Ia tampak seperti monyet kelaparan yang belum makan sebulan.

Namun Alice, Catherine, dan Bryan masih memakan makanan mereka dengan tenang.

“Oi kalian bertiga kayaknya biasa aja gitu sih?” kataku.

“Oh, kan gue kemarin udah makan masakan lo, Gwen, sama Sam jadinya itu kaya udah makan malem sekalian.” kata Alice ditambah senyumnya.

“Kalo gue sih udah biasa nggak makan.” kata Bryan.

“Sama kaya Alice sama Bryan.” kata Catherine.

“Oalah, pantesan! gue sama Sam kemarin kan nggak ikut makan masakannya jadinya seharian nggak makan.” kataku.

“Hi guys.” kata Rosaline yang nimbrung dengan kami.

“Hi?” kataku heran.

Dia memakan makanannya dengan tenang tanpa berbicara sepatah kata lagi.

“Umm Lin lo ngapain nimbrung di sini? Bukannya biasanya lo sama Kesha?” kataku memecahkan keheningan sesaat.

“Oh gue… Gue takut temenan lagi sama Kesha.” bisiknya pada kami.

“Ih lo ini.” kataku.

Ia hanya diam dan menyantap makanannnya. Suasana hening terjadi lagi.

“Um—” Rosaline menggumam.

“Ya?” kataku.

“G-Gue… Gue boleh gabung ke tim detektif lo nggak? Soalnya gue pengen nyelidikin kasus Fellicia, apa Kesha terlibat atau nggak.” katanya.

“Gimana nih temen-temen? Setuju nggak dia gabung?” kataku meminta persetujuan.

“Gue setuju.” kata Alice dan Catherine bersamaan.

“Terserah, yang penting dia sanggup tidur kurang dari tujuh jam hampir setiap malem dan bisa melekan sampe malem. Dan harus nanggung segala resiko yang kita lakuin sama-sama.” kata Bryan pasrah.

“Gue sanggup.” kata Rosaline tegas.

“Oke, kalo gitu dia harus melalui tes dan game kaya Andrew!” kata Sam dengan semangat.

“Sam—” kataku, Bryan, dan Catherine bersamaan.

“Hehehe cuma bercanda.” katanya sambil menunjukkan kedua jarinya.

“Oke deh berarti lo sekarang resmi jadi anggota detektif, kalaupun Andrew sama Gwen nggak setuju, bakal jadi lima lawan dua, tetep lo boleh ikut.” kataku menyikapi.

“Makasih ya.” katanya senang.

“Ya udah, sekarang gue sama temen-temen harus nyuci piring.” kataku sambil memberesi alat makanku untuk dibawa ke dapur.

“Ngapain?” kata Rosaline kaget.

“Hukuman Pak Stenley, biasa lah.” kata Bryan sambil membawa alat makannya ke dapur.

“Oh, gue bantuin deh.” katanya sambil ikut membereskan alat makan dan membantu membawanya ke dapur.

Hukuman kali ini kami kerjakan dibantu dengan Rosaline.

 

***

Bu Karina POV

Astaga! Ruang administrasi jadi sangat berantakan! Semua data-data siswa berhamburan di mana-mana. Bekerja menjadi seorang penjaga ruang administrasi memang membuatku gila!

Setiap hari aku harus menata sedemikian rupa beratus-ratus data siswa dari tahun ke tahun di dalam ruang sempit. Tentu saja itu tidak akan menjadi hal yang sulit kalau ruang administrasi diberi lemari-lemari penyimpanan.

Tapi sekolah ini berkualitas buruk, hanya ada satu lemari berkas di sini!

Ah! Aku mengutuk sekolah butut ini dan pekerjaanku yang membuatku gila!

Aku mulai menyusun kembali kertas-kertas yang berserakan itu satu per satu. Namun kemudian aku melihat jejak sepatu di sebuah kertas yang membuat kemungkinan seseorang telah menerobos masuk.

Jangan-jangan orang itu adalah si kepala sekolah misterius yang selalu berlaku seperti pembunuh. Hiii memikirkannya saja sudah membuatku merinding.

 

***

Sam POV

Akhirnya ekstra catur yang membuat otakku akan meledak sudah berakhir! Lagi-lagi aku harus kabur dari si kambing jorok agar aku bisa melewati tambahan catur. Padahal sudah berkali-kali aku bilang padanya kalau aku tak tertarik mengikuti lomba, jadi tak perlu menyuruhku mengikuti tambahan.

Dan seperti biasa lagi aku dan teman-temanku berkumpul di lapangan untuk menunggu Bryan selesai ekstra. Namun kali ini Rosaline juga duduk bersama dengan kami.

“Yuk kita ke perpus sekarang.” kata Bryan setelah berganti baju.

Kami semua mengangguk dan berjalan ke perpustakaan, namun… Namun aku lupa kenapa kita harus ke perpus setelah ekstra.

“Woi emang ngapain sih kita ke perpus? Lo mau baca buku? Tumben amat?” kataku pada Joshua sambil menepuk punggungnya dari belakang.

“Oon! Lo lupa kita ada janji sama Pak Heri? Kita kan mau pinjem kunci serep ruang administrasi ke dia!” kata Joshua sambil menjitak kepalaku.

“Oh iya ya, lo bener juga.” kataku sambil berusaha menjitak kepalanya.

“Memang gue bener.” katanya sambil menjitak kepalaku lagi.

“Hush, udah kita mau masuk perpus, tenang.” kata Alice yang berjalan di depan kami.

Kami semua masuk ke dalam perpustakaan dan menjumpai Pak Heri, penjaga perpustakaan.

“Misi Pak, kami mau pinjem kunci ruang administrasi.” kata Bryan.

“Oh iya ya, ini.” kata Pak Heri sambil memberikan sebuah kunci.

“Kami kembaliinnya kapan ya?” kata Bryan.

“Kapan aja nggak papa deh yang penting jangan lebih dari seminggu ya.” kata Pak Heri.

“Ya, makasih Pak.” kata Bryan sambil berjalan keluar dari perpus diikuti kami semua.

“Nanti setelah makan malem kaya biasa kita kumpul di gerbang sekolah ya, jangan lupa topeng dari Iris kemarin dibawa.” kata Bryan.

Semua mengangguk, dan segera kembali ke kamar masing-masing untuk melakukan persiapan LNO.

Akhirnya aku bisa kembali ke kasurku tersayang! Waktunya tidur~

 

***

Joshua POV

Aku dan Bryan sudah duduk dan mulai menyantap makanan kami. Namun kali ini Sam, Alice, Catherine dan Rosaline belum datang.

“Eh yang lain pada ke mana sih?” kataku pada Bryan.

“Nggak tau tuh, tadi sih Alice sama Catherine masih di kamar, kalo yang lain gue nggak tau.” katanya.

“Ya udah deh kita makan duluan aja paling nanti mereka dateng sendiri. Palingan Sam masih tidur di kamarnya.” kataku.

Bryan hanya tertawa kecil lalu kami saling terdiam.

“Oi gue gabung ya?” kata Andrew yang tiba-tiba duduk di depan kami.

“Ngapain lo ke sini?” kata Bryan.

Kalau sudah bertemu Andrew pasti aura Bryan berubah jadi aura serem.

“Ya makan lah ngapain lagi? Emang lo ke ruang makan buat tidur?” kata Andrew sambil menyantap makanannya.

“Bukan ke ruang makannya! Ke tempat di mana ada gue sama Joshua!” kata Bryan dengan nada ditinggikan.

“Ya terserah gue dong! Emang ni meja punya mak lo?” kata Andrew ikut emosi. “Eh sorry.” katanya saat ia menyadari kalau orang tua kami sudah meninggal.

Kami pun makan dengan tenang tanpa mengeluarkan sepatah katapun walaupun sesekali Bryan dan Andrew saling mencibir.

“Eh sorry gue telat nih, tadi gue ketiduran.” kata Sam yang datang dengan rambut acak-acakan.

“Nah kan tebakan gue bener.” kataku.

“Biasa lah Sam.” kata Bryan sambil tertawa.

“Kayaknya lo nggak niat hidup gitu sih?” kata Andrew.

“Memang.” kataku menyetujui.

Sesaat kemudian Rosaline dan bergabung dengan kami.

“Siapa lo?” kata Andrew dengan bingung.

“Dia Rosaline, tadi siang dia gabung ke grup kita.” kataku.

“Ha!? Dia gabung grup kita tanpa dianeh-anehin!? Tanpa harus nglewati game-game gaje kaya gue!? Wah parah lu semua!” kata Andrew nggak terima.

“Gue udah usulin, tapi nih Bryan nolak.” kata Sam menyalahkan Bryan.

“Salah sendiri lo ditolak hampir semua orang!” kata Bryan sambil melototinya.

“Hampir semua orang kata lo!? Perasaan cuma lo deh yang nggak setuju, iya kan Josh?” katanya sambil melirik sinis padaku.

“I-Iya,” kataku karena lirikan mautnya.

“Kok lo nggak ndukung sahabat karib lo sendiri sih Bro?” kata Bryan ikut melirikku sinis.

“G-Gue golput.” kataku sambil mengangkat tangan.

“Eh ngomong-ngomong si bocah cengeng ke mana?” kata Andrew sambil celingukan.

“Bocah cengeng siapa?” kata Bryan.

“Alice lah siapa lagi?” kata Andrew memasang tampang masa-lo-nggak-tau.

“Eh ngajakin berantem lo ya.” kata Bryan sambil menggulung lengan bajunya.

“Gue nyuci piring dulu deh ya.” kataku sambil mengangkat piringku untuk membawanya ke dapur.

“Gue juga.” kata Rosaline sambil mengikutiku.

“Gue ikut oi.” kata Sam sambil terburu-buru membawa alat makannya ke dapur.

Kami bertiga mulai mencuci piring duluan. Beberapa saat kemudian Bryan datang dan membantu kami membereskan dapur yang berserakan.

Namun setelah kami selesai mencuci dan membereskan dapur, Alice dan Catherine tak kunjung datang.

“Gue khawatir sama Alice sama Catherine, gimana kalo kita susul mereka?” kataku.

“Iya, gue juga jadi khawatir, ayo kita ke sana, gue bawain mereka jatah makannya.” kata Bryan sambil mengambil dua piring makanan dan memimpin kami menuju kamar Alice dan Catherine.

Ternyata pintunya tak dikunci, aku membuka pintu itu setelah mengetuknya. Tampak Alice yang sedang berbaring di kasur didampingi Catherine, Andrew dan… Gwen?

“Eh Ndrew lo ngapain di sana? Minggir ah minggir, ini tempat gue!” kata Bryan menempati tempat Andrew dengan paksa.

“Eh lo apa-apaan sih? Ngajakin berantem lagi?” kata Andrew tak terima.

“Heh lo berdua jangan berantem oi kasian Alice dia mau istirahat.” kataku berusaha melerai mereka.

“Oh iya sampe lupa! Lice lo kenapa? Cath, Alice kenapa?” kata Bryan dengan panik.

“Nggak tau, tadi pas gue sama Alice selesai mandi, kita kan jalan balik, trus dia pingsan di jalan, gue mbopong dia ke sini.” kata Catherine panik.

“Ya udah nih lo makan dulu gih.” kata Bryan sambil memberikan sepiring makanan pada Catherine.

“Lah lo ngapain di sini?” kata Sam saat melihat Gwen sudah ikut duduk di samping Catherine.

“Gue tadi liat Catherine mbopong Alice ke dalem kamar, gue takut Alice kenapa-kenapa jadi gue ikutan di sini.” kata Gwen sambil memasang wajah datar.

“Oh.” kata Sam acuh tak acuh.

“Itu siapa lagi tuh?” kata Gwen sambil menunjuk Rosaline sekaligus memasang tampang gak-penting-banget.

“Gue? Gue Rosaline Bernadette anak X-B.” kata Rosaline sambil menaikkan sebelah alis.

Gila ni anak ternyata nyalinya besar juga, sama Gwen nggak takut.

“Oh, lo juga ikutan gabung?” kata Gwen masih memasang tampang yang sama sambil mendengus seperti biasa.

Alangkah terkejutnya aku saat Rosaline ikut mendengus sepertinya. Aku baru tau kalau Rosaline bisa jadi jutek sejutek-juteknya.

Tanpa kusadari ternyata sejak tadi aku melihat ke arahnya. Untung saja dia tak menyadari hal itu.

“Ya udah kalo gitu malem ini kita batal LNO ya?” kata Bryan.

“Iya lah, Alice aja kaya gini lo mau lanjut?” kataku.

“Iya sih, trus malem ini sia-sia gitu? Semakin lama kita mecahin misterinya semakin banyak juga korban yang berjatuhan.” kata Bryan.

“Ya mau gimana lagi.” kata Catherine masih panik.

“Oh gue ada ide, gimana kalo kita perkenalin satu per satu kasus sama bukti-bukti yang ada ke Rosaline sama Andrew? Mereka kan baru masuk, jadi masih kurang tau.” kataku.

“Ide bagus tuh Josh, lo bawa kamera lo nggak?” kata Bryan.

“Bawa kok, nih.” kataku memberikan kameraku pada Bryan.

“Oke gue bakal mulai dari kasus pertama, kasus Fellicia. Terjadi di tangga sekolah, siang hari. Yang pertama dateng ke TKP itu lo, Gwen sama Rosaline ditambah Kesha. Mayatnya ditemuin dengan tulang leher patah, tapi setelah kita nyelidikin dia meninggal ditusuk bukan jatuh dari tangga. Barang bukti yang dijatuhin si pembunuh yang cukup teledor ini koran yang buat nyumpel, pisau sekaligus anting-anting yang cuma sebelah.” kata Bryan sambil menunjukkan gambar-gambar dari kameraku.

“Felli—” Andrew menggumam sambil terlihat sedih.

“Lo nggak papa?” kataku melihatnya seperti itu.

“Gue nggak papa.” katanya tersenyum.

“Dan yang kita udah selidikin itu anting-anting ini sama kaya anting-anting persahabatan Kesha sama Rosaline, dan setelah pembunuhan ini beberapa hari selanjutnya langsung muncul kasus Rey.” kata Bryan.

“Oi jangan lupa kalo si Willy juga pake anting perak di sebelah telinga.” kata Gwen menambahkan.

“Tapi kan cowok emang di sebelah doang.” kata Sam membantah.

“Terserah lo aja deh, siapa tau gue bener, mungkin aja dia bakal nyelinep malem-malem ke kamar lo dan Boom! Lo tau sendiri bakal jadi apa.” kata Gwen diikuti dengusan sinisnya.

“Who-Whoaaa…” Sam berteriak sambil bersembunyi di balikku.

“Jangan maho.” kataku padanya.

“Nggak gue nggak maho.” katanya sambil melepaskan pegangannya pada pundakku.

“Oke sekarang kasus Rey, meninggal di ruang multimedia, dia meninggal kemungkinan ditusuk-tusuk sampe bersimbah darah. Yang pertama dateng ke TKP itu Catherine sampe-sampe dia bisa dapet foto Pak Stenley yang mencurigakan ini. Bukti lainnya juga digunain koran.” kata Bryan sambil menunjukkan foto-foto yang kudapat.

“Rey—” lagi-lagi Andrew bergumam sedih.

Kali ini aku membiarkannya saja karena tidak ingin mengganggu masa-masa nostalgianya.

“Kalo menurut gue pembunuhnya goblok yah?” kata Catherine sambil tersenyum awkward. “Soalnya barang-barang bukti pembunuhannya berserakan di mana-mana” tambahnya.

“Gue setuju banget sama lo Cath, pinter banget deh.” kata Sam keluar dari balik punggungku.

“Yang selanjutnya kasus Alexa, di kamar mandi wanita di asrama, tengah malem. Yang pertama ada di sana itu Kim, soalnya dia yang ngajak Alexa ke kamar mandi trus kedua Iris, baru kita. Bukti yang ditemuin pembunuhnya pake gelang bayi di KANAN, dan alat yang dipake buat ngebunuh sapu tangan berkloroform sekaligus pisau dapur.” kata Bryan lagi sambil menunjukkan keadaan mayat Alexa.

“Itu kan yang waktu Joshua merhatiin Gwen banget kan? Trus langsung salting.” kata Sam nggak nyambung lagi.

“Eh udah dibilangin gue nggak sengaja lihat.” kataku berusaha tidak salting.

“Sam, kalo lo ngomong sekali lagi gue bakal jahit mulut lo.” kata Gwen dengan lirikan mautnya.

Mungkin kalian belum tahu kalau sebenarnya aku menyimpan rasa pada Gwen. Yah belum banyak yang tau sih, kalo sebenernya gue nyimpen foto-foto candid Gwen di kamera gue. Eh… Tunggu dulu… Kalo sampe Bryan nunjukin itu ke semuanya bakal gawat!

“Bry, udah kan siniin kamera gue.” kataku sedikit panik.

Ia tersenyum jahil dan bersiap untuk mengumumkan sesuatu.

“Siniin!” kataku sambil berlari ke arahnya untuk merebut kamera dari tangannya.

Tanpa kusadari ternyata semua mata kini tertuju padaku.

“Gue lupa kalo memorinya bentar lagi habis hehehe.” kataku berusaha agar mereka berhenti menatapku.

Akhirnya aku berhasil menghilangkan rasa curiga mereka padaku.

“Oh iya, satu lagi, kita punya datanya Fellicia di sini.” kataku sambil mengambil lipatan kertas dari kantungku yang lupa kukeluarkan dari kemarin.

 

Nama                                 : Fellicia

Kelahiran                           : January, 1998

Golongan darah                 : AB

Tinggi badan                     : 156 cm

Berat badan (kgs)               : 45 kg

Di asrama sejak berumur   : 11 tahun

Catatan khusus.                  : –

Ranking : 32

Perilaku : A

 

“Kayanya itu nggak cukup memberikan kita petunjuk.” kata Bryan setelah melihat data Fellicia.

“Gue setuju.” kata Sam.

“Sama.” kata Alice dan Catherine serta Rosaline serentak.

“Jadi biar gue simpulin, dari sedemikian rupa penyelidikan kalian, baru didapet tiga tersangka, Pak Stenley, Kesha, sama Willy?” kata Rosaline.

“Ya.” kataku setuju.

“Jangan lupa si Gwen.” kata Sam dari balik punggungku.

Gwen langsung melirikkan matanya pada Sam. Dengan cepat Sam kembali sembunyi di belakang punggungku.

“Awas lo ya ati-ati aja ntar malem, sapa tau ada yang nyelinap ke kamar lo.” kata Gwen menakut-nakutinya.

“Eh iya ampun-ampun, Gwen baik kok bukan pembunuh.” katanya dengan ketakutan.

“Eh ngomong-ngomong udah selang berhari-hari ya nggak ada pembunuhan lagi?” kataku membuka topik baru.

“Iya bagus deh, kita jadi bisa dapet kelonggaran nyelidikin kasus ini.” kata Bryan setuju.

“Nyelidikin apaan, orang pembunuhnya nggak ketemu-ketemu.” kata Andrew sambil mencibir pada Bryan.

“Ya sabar dong, namanya juga baru usaha.” kata Bryan tak terima.

Tiba-tiba Sam terkekeh-kekeh.

“Lo kenapa Sam kaya kesurupan gitu? Serem deh.” kataku sambil menyingkir dari depannya.

“Nggak papa sih.” katanya masih tertawa terbahak-bahak.

“Sam lo bikin gue merinding.” kata Catherine.

“Oh sorry-sorry, nggak papa sih lucu aja gitu kita bikin tim detektif kaya gini, trus barusan gue kepikiran buat mbikin nama grup dan jadinya lucu-lucu.” kata Sam dibalik tawanya.

“Sam lo genius! Ayo kita kasih nama grup kita!” kata Bryan dengan semangat. “Apa ya kira-kira yang keren?” lanjutnya.

The detectives?” kata Andrew.

“Oke itu tolol, ada usulan lain?” kata Bryan.

“Serah lo aja deh.” katanya sambil mendengus kesal.

The Mystery seeker?” kata Rosaline.

“Mungkin? Ada usulan lain?” kata Bryan.

The night walker?” kata Sam sambil tertawa.

“Lo pikir kita apaan?” kata Alice ikut tertawa terbahak-bahak.

“LOL masa iya kita jadi night walker team, bukannya kaya nama detektif malah jadi kaya nama pembunuh.” kataku sambil ikut tertawa.

“Gimana nih? Usulan lain?” kata Bryan.

“Oh gue tau, gue tau! Kan kita ada delapan orang, trus kalo delapan dimiringin jadi lambang infinity. Jadinya kita Infinite Mystery Seeker disingkat IMS, gimana?” katanya sambil tertawa lagi.

“Sam nama itu keren! Oke mulai sekarang kita adalah IMS ya?” kata Bryan menyetujui.

“Setujuu!” kata semua secara bersamaan.

“Eh? Jadi bakal pake nama itu?” kata Sam dengan raut bingung.

“Iya lah itu nama keren kok.” kata Catherine.

“Oh, keren ya, berarti gue pinter dong! Sapa dulu Sam gituu.” katanya kembali bergaya seperti super model.

“Ada-ada aja lo Sam-Sam.” kataku sambil menjitak kepalanya.

Seperti biasa ia mengomel dan menggerutu setelah aku melakukannya.

Rasanya senang sekali berada di lingkup persahabatan ini, segala hal yang biasa saja bisa kami jadikan seru bersama. Apakah kami masih bisa menikmati masa-masa seperti ini di masa yang akan datang?

TO BE CONTINUED…

Download Ebook?

downloadd

Read this chapter’s author review?

CLICK HERE!

Knock knock knock…

Hi email followers, sorry to bother you at midnight. Hi internet-surfers, sorry to bother you at midnight. Hi readers, sorry not to appear for the past week._.

Well, anyways, here’s the last part of MOTO’s third chapter! Finally it’s finished already^^

Umm… just so you know, the author review for this chapter’s gonna be long, so I think I don’t have that much to say here._. Bye, see ya at the AR!

P.S : you better read the Author Review for this chapter since it consists of important things that can help you!

Advertisements

10 thoughts on “[CHAPTER THREE] Mystery of the Orphanage (4/4)

  1. Heyooo.. .__.
    Chap 3 finally done!! =>
    Akhirnyaaaaa~

    Jd sebenernya IMS tu hasil pemikirannya Rosaline + Sam?
    Dan btw, pak heri(bener ga? Udh lupa .-.) masa rada bloon gitu, masa kunci lgsg diserah2in ke sembarang org? Seminggu pula .___. + alice kok tiba2 isa pingsan gitu? Ap dia emg terlalu lemah gt? :/

      1. Ahahaha ._.v #muncultiba2setelahlewat1abad
        Biar gue jelasin knp gue komen disini .___. Gue masih ngerasa blm ngelunasi komen2 gue yg selalu menuh2in kotak komen ._. Jd deh gue nyoba nyasar buat nyari tau dmana terakhir gue blm komen, ternyata disini udh, tp gpp, jadinya ya gue komen deh disini ._. #njelimet #apaan #lupakan
        Jadi gitu aja, gw mau nerusin pencarian dlu, bubye ._____.

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s