[CHAPTER FOUR] Mystery of the Orphanage (4/4)

MOTO

MYSTERY OF THE ORPHANAGE
CINDY HANDOKO & VIONA ANGELICA

CHAPTER FOUR

PART FOUR

P.S : This chapter is made by Cindy Handoko, the owner of this blog

What have you missed already?

PROLOGUE || CHAPTER ONE PART ONE || CHAPTER ONE PART TWO || CHAPTER TWO PART ONE || CHAPTER TWO PART TWO || CHAPTER TWO PART THREE || CHAPTER TWO PART FOUR || CHAPTER THREE PART ONE || CHAPTER THREE PART TWO || CHAPTER THREE PART THREE || CHAPTER THREE PART FOUR || CHAPTER FOUR PART ONE || CHAPTER FOUR PART TWO || CHAPTER FOUR PART THREE

Joshua POV

Rosaline memandangku dengan wajah bingung. Mulutnya ternganga lebar, seolah-olah aku sudah gila atau semacamnya.

“Orang berjaket hijau?” Tanyanya, “Masa iya, gue nggak lihat kalo ada orang berpenampilan semencolok itu masuk ke kantor guru? Itu mustahil, Josh.”

“Iya, maka dari itu,” ujarku, “Gue juga berpikir begitu.”

“Memangnya kenapa, sih?” Rosaline bertanya, “Kok tiba-tiba tanya kayak gitu? Kan bisa aja pembunuh itu ngeracunin Pak Tanto setelah gue pergi dari tempat itu.”

Aku menghela napas panjang. “Jadi gini,” aku mengawali, “Barusan, gue disamperin Bu Ajeng. Katanya, kemarin dia jaga malem di sekolah bareng Pak Tanto. Dia masuk ke kantor sekitar jam empat. Saat itu, posisi Pak Tanto sudah tidur telungkup seperti saat kita nemuin dia tadi. Jadi, kemungkinan besar, beliau sudah meninggal sejak sebelum jam empat.”

Dahi Rosaline berkerut. “Itu nggak masuk akal,” katanya, “Kemarin gue memang melihat Pak Tanto masuk ke kantor setelah Bu Asti dan Pak Hendro keluar. Tapi, setelah Pak Tanto, sama sekali nggak ada orang lain yang masuk. Lalu Bu Ajeng masuk. Dan setelah itu nggak ada lagi yang keluar maupun masuk.”

Dahiku berkerut.

Sungguh, tidak peduli berapa ratus juta kali pun aku memikirkannya, semua ini memang nggak masuk akal. Sekarang, kesaksian Rosaline tambah mendukung fakta itu. Aku tidak tahu mana yang harus kupercayai—Rosaline atau Bu Ajeng. Tapi, entah mengapa, firasatku mengatakan bahwa mereka berdua memang mengatakan hal yang sejujurnya, dan sama sekali bukan rekayasa pribadi.

“Aneh…,” gumamku. Rosaline mengangguk-angguk setuju. Ia sepertinya juga sedang berpikir keras.

Suasana menjadi hening selama beberapa menit. Sama sekali tidak ada yang bersuara untuk waktu yang cukup lama.

Lalu tiba-tiba raut wajah Rosaline berubah drastis. Matanya terbelalak dan dahinya dikerutkan, seolah ia barusan berhasil mengingat detil penting yang dicari-carinya.

“Josh,” katanya dengan nada suara yang sama syoknya dengan raut wajahnya, “Kemarin saat lo menghilang, gue melihat seseorang lagi masuk ke kantor guru.”

Mataku langsung ikut melebar. “Iyakah?” Tanyaku, “Siapa?”

Rosaline celingak-celinguk, seolah memastikan tidak ada orang lain di sini selain kami berdua. Setelah yakin kondisi koridor tempat kami berada sesepi kuburan, ia mencondongkan tubuhnya dan berbisik, “Orang yang lagi dicari-cari Luke dan Iris.”

Mataku semakin terbelalak. Aku tersedak air liurku sendiri. “Maksud lo, Pak Stenley?” Tanyaku setelah berhasil mengatasi keterkejutanku.

Rosaline spontan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. “Ssst…,” desisnya penuh peringatan, “Kalo bisa, jangan sebut namanya, dong! Gue aja berusaha nggak nyebut. Kalo ada orang lain yang denger, kita bisa mati!”

“Iya, iya, gue ngerti,” jawabku, “Tapi…”

“Kalo dugaan gue bener,” Rosaline mengawali, “Berarti racun yang digunakan adalah racun suntik. Sayangnya, kita nggak bisa melihat apakah ada bekas suntikan atau nggak di tubuh Pak Tan—maksud gue, korban. Karena bekas suntikan itu kecil banget, nggak kayak bekas tusukan atau semacamnya.”

“Lo bener, tapi…”

“Lagipula, mungkin-mungkin aja kalo dia pelakunya. Beberapa hari yang lalu, gue juga udah lihat bukti fotonya yang lagi megang pisau berdarah di sekitar TKP kasus Re—korban kedua—dari Bryan.”

Aku masih belum bisa mempercayai pendengaranku. “Tapi…,” aku menggaruk-garuk tengkukku yang tidak gatal, “Aduh. Kalau pelakunya benar si dia, itu berarti kita seharusnya nggak mencari dia. Kita mestinya menelepon pihak berwajib sendiri, supaya Pak Ta—korban—nggak jatuh ke tangan…,” aku mencari kata-kata yang tepat, “Orang yang salah.”

Rosaline tampak berpikir sejenak untuk mencerna perkataanku. Kemudian ia mendesah depresi. “Aduh, bener juga lo,” gumamnya. “Tapi saat ini udah terlanjur.”

“Lagian, kalo nggak terlanjur pun, kita nggak mungkin bisa ngejelasin situasinya ke orang lain,” tambahku, “Bryan udah pasti bisa mengerti. Tapi Max dan Olivia?” Aku menggeleng-geleng, “Nggak. Mereka bakal ngira kita tukang tuduh yang bahkan lebih parah daripada anak-anak cheerleaders centil itu.”

Rosaline mendesah frustasi. “Kalo dia bener-bener pelakunya, gue nggak tahu apakah kita bisa berbuat sesuatu. Dia bisa mengatur segalanya karena dia punya segalanya. Uang, kekuasaan, dan bahkan panti asuhan ini. Kita bisa apa?”

Aku terdiam sejenak. Kemudian, suatu gejolak dalam diriku membuat rahangku mengeras. Tanganku kukepalkan di sisi tubuh. “Kalo dia pelakunya, kita nggak boleh menyerah juga. Masa iya, kita ngebiarin seseorang membunuh dan menyiksa banyak orang hanya karena embel-embel kalah kuasa dan kalah kaya?”

“Tapi kan—”

“Lagian, gue dan yang lain udah dapat kerja part time. Kalo ada uang yang harus dikeluarin dalam proses ini, kita bakal udah nabung duluan.”

“Iya, tapi—”

“Dan, gue juga yakin kalau dia hanya membungkam mulut polisi setempat. Seandainya kita nelepon polisi dengan jabatan lebih tinggi, pasti sogokan-sogokan itu nggak berlaku untuk kasus seserius ini. Dan juga—”

“Dengerin gue dulu, Josh!” Rosaline memotong. Ia kelihatannya kesal karena sedari tadi aku menghalanginya bicara terus. “Masalahnya, pelakunya kan belum tentu dia. Apa lo nggak ingat Kesha? Dan Andrea? Dan orang-orang lain yang kita curigai?”

Aku terdiam sejenak untuk meredakan emosi yang tiba-tiba saja membeludak keluar barusan. Setelah menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali berkali-kali, aku berujar, “Oke, lo bener.”

Rosaline mendecakkan lidahnya. “Bukannya apa-apa, ya,” katanya mengawali, “Tapi gue cuman nyaranin aja. Sebaiknya, lo jangan emosional begitu menghadapi kasus serius kayak gini. Itu bakal merusak segalanya, tau?”

“Ya, ya, terserah lah. Lo bener, deh,” jawabku asal.

Setelah itu, keheningan yang canggung kembali melanda kami. Seperti biasa, Rosaline menunduk dan memainkan rambutnya, tampak tak berniat membuka pembicaraan—walaupun aku yakin ia sebenarnya kepingin sekali membahas hal ini lebih lanjut, hanya saja tidak tahu harus mulai dari mana.

Suasana sudah hening selama sekitar lima menit saat ia mulai membuka suara.

“Menurut lo, racun suntik hanya satu-satunya kemungkinan?” Tanyanya tanpa mendongak.

Aku menoleh ke arahnya dan memikirkan pertanyaan itu selama beberapa detik. Kemudian, “Nggak.”

“Nah, menurut gue juga begitu,” katanya, kali ini sambil menoleh juga ke arahku. “Mungkin aja ini racun yang efeknya jangka panjang.”

“Maksud lo, racun yang butuh waktu beberapa jam untuk membunuh korbannya?” Tanyaku.

“Ya,” jawabnya, “Oke, gue memang nggak tahu apa-apa soal racun. Tapi, menurut gue, pasti ada racun semacam itu. Dan mungkin juga itu tipe yang digunakan si pelaku.”

Aku menimbang-nimbang sejenak. “Bisa jadi lo bener.”

Rosaline mendesah. “Itu yang gue takutkan,” katanya, “Kalau gue sampai bener, berarti kita nggak cuman punya satu tertuduh aja. Bisa aja pelakunya orang lain yang melakukan itu sebelum dia bahkan keluar untuk makan siang. Dan itu hanya berarti kita nggak tahu siapa aja yang datang untuk nyamperin dia.”

Aku tertunduk sambil mencoba berpikir.

Perkataan Rosaline seratus persen benar.

Diracun adalah sesuatu yang berdefinisi terlalu luas. Ini bahkan lebih buruk daripada ditusuk atau didorong dari atas atap. Kita sama sekali nggak tahu racun tipe apa yang digunakan pembunuh itu, dan berapa waktu yang diperlukan racun itu untuk membunuh korban. Tanpa informasi-informasi itu, rasanya terlalu mustahil mencari tahu siapa saja kemungkinan tersangkanya.

Tapi, mungkin aku tahu suatu cara…

“Ada satu solusi,” kataku. Rosaline mengangkat kedua alisnya, meminta penjelasan. “Gue tahu satu orang yang mungkin mau membantu kita. Sebelum lo gabung, kami pernah minta tolong dia juga.”

“Siapa?” Rosaline bertanya.

“Iris Emmanuel,” jawabku, “Si penjaga CCTV.”

Awalnya Rosaline diam saja, seperti berusaha mencerna perkataanku. Kemudian matanya terbelalak. “Joshua, lo jenius!” Pekiknya, “Seinget gue, memang ada CCTV di deket kantor guru. Hanya saja, gue nggak tahu pasnya di bagian mana. Tapi nggak ada salahnya kita…”

“Mungkin bakal butuh duit,” potongku langsung. Rosaline berhenti berbicara. Alisnya mengerut dengan bingung. “Kali terakhir kami minta bantuan ke dia, nggak berjalan lancar. Gajinya dipotong dan sebagainya. Kayaknya kalo kita mau minta tolong lagi, harus ada minimal sedikit sogokan.”

Rosaline terdiam. Ia tampak berpikir. “Soal itu…,” katanya, “Mungkin gue bisa minjemin sedikit duit dulu.”

“Err…, biasanya, sih, kami patungan. Tapi kadang-kadang Sam suka bokek dan—”

“Nggak apa-apa,” Rosaline memotong, “Gue punya banyak tabungan, dan gue orangnya cukup toleran. Kalian boleh nukerin duit gue kapan aja kalian bisa. Lagian, gue udah punya penghasilan yang lebih dari cukup dari kerja part time.”

Aku mengangkat kedua alisku penuh keraguan. “Ini… serius, nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa,” ulangnya, “Baru-baru ini, gue dipindahtugaskan jadi kasir di kafe tempat gue kerja. Gaji gue sekarang jauh lebih besar daripada biasanya. Lo nggak perlu khawatir soal tabungan gue jebol dan semacamnya gara-gara ini.”

“Lo yakin?” Tanyaku lagi, seakan-akan memberi kesempatan sebanyak-banyaknya baginya untuk meralat kalau-kalau ia ternyata sedang mabuk atau semacamnya. Maklumlah, uang biasanya merupakan topik sensitif di panti asuhan kami. Semua orang di sini rata-rata pelit, karena mereka memang harus bekerja keras demi mendapatkan uang. Jarang-jarang ada orang yang mau dengan sukarela meminjamkan uang seperti ini.

“Yakin,” jawabnya mantap, “Berapa, sih, yang dibutuhin buat nyogok dia?”

“Err…, semampu lo aja, deh, kalo yang itu.”

Rosaline terdiam sejenak, kemudian tersenyum geli. “Ya ampun,” gumamnya, “Kenapa reaksi semua orang yang mau gue pinjemin duit selalu kayak gitu? Gue nggak habis pikir, deh.”

Nah, sekarang aku tambah heran lagi. “Lo udah minjemin duit ke banyak orang?” Tanyaku.

“Nggak terlalu banyak,” jawabnya, “Hanya beberapa yang lagi punya kebutuhan dan kekurangan duit. Tapi semuanya selalu bereaksi sama.”

“Ya karena itu nggak wajar. Gimana, sih?”

Rosaline terkikik geli. “Gue agak nggak normal, kalo gitu,” katanya. “Ah, udah lah. Yang penting sekarang, kan, gue udah setuju untuk minjemin duit. Jadi, kapan kita mau nyamperin si Ratu Mata Duitan?”

Aku melirik jam tanganku sekilas.

Seharusnya, jam segini, jam pelajaran sudah dimulai. Tapi aku bahkan tak yakin guru-guru yang hilang itu sudah kembali ke sekolah. Kemungkinan besar, beberapa jam pelajaran pertama bakal hilang.

“Sekarang?” Usulku.

“Boleh juga,” jawabnya menyetujui, “Tapi lo harus nemenin gue ngambil duit dulu di asrama.”

“Oke,” jawabku tanpa ragu-ragu. “Jadi, kita ke asrama dulu?”

Rosaline mengangguk.

Setelah itu, kami berdua pun berjalan menuju gerbang depan untuk keluar ke asrama.

Namun niat itu tidak pernah tercapai.

Sebab, baru selangkah kami menapaki lapangan, suara ‘gedebuk‘ keras sudah menyentak kami. Kami berbalik dan langsung disuguhi pemandangan mengejutkan.

Di sana, di tengah-tengah lapangan, seseorang jatuh tersungkur sambil mengaduh kesakitan. Ia sepertinya kesusahan untuk bangkit.

Dan… well, orang itu adalah Alice.

 

***

Alice POV

Mendapat bukti dari perkataan Andrew adalah hal terakhir yang kuinginkan saat ini.

Awalnya, aku sudah cukup terkejut dengan betapa cepatnya gosip menyebar. Di sepanjang koridor yang kulewati, topik berita yang menghangat di antara gerombolan anak-anak selalu sama :

Kematian Pak Tanto dan dugaan bahwa aku ada kaitannya dengan semua itu.

Menurut dugaanku (yang kemungkinan seratus persen benar), anak-anak cheerleaders itu sengaja menyebarkan berita palsu yang membuat semua orang jadi percaya bahwa aku berpeluang besar sebagai pelaku semua kejadian ini.

Gosip versi pertama mengatakan bahwa akulah yang meracuni Pak Tanto dengan kedua tanganku sendiri. Gosip versi kedua mengatakan bahwa aku bekerjasama dengan Gwen. Dan gosip versi ketiga mengatakan bahwa aku hanya menyuplai racun yang digunakan Gwen untuk membunuh. Pokoknya, semua gosip mengatakan aku ada sangkut-pautnya dengan pembunuhan itu.

Yah, ada, sih, gosip yang agak lebih mendingan. Misalnya gosip bahwa aku ini kutukan yang dilemparkan dukun ke sekolah ini—mungkin karena seringnya terjadi pembunuhan setelah aku masuk ke sini. Tapi tetap saja itu gosip miring, dan aku tidak suka dicap sebagai alat kotor dukun. Itu sama sekali nggak lucu.

Yang lebih nggak lucu lagi adalah, aku terus-terusan dikerjai seharian ini. Bukan oleh anak-anak cheerleaders itu, yang jelas. Karena saat aku bilang “dikerjai”, maksudku adalah tempat pensilku dimasuki bangkai cicak, tasku dijejali kalajengking mainan, dan tempat minumku dihiasi lumpur di mana-mana. Boro-boro melakukan, melihat benda-benda itu saja mungkin mereka sudah bakalan jijik atau bahkan teriak-teriak kesetanan.

Satu-satunya dugaan paling masuk akal yang kupikirkan adalah bahwa pelaku semua keisengan itu merupakan cowok-cowok korban gosip mereka. Dan itu sama sekali nggak lebih baik daripada mereka.

Setidaknya, awalnya kukira begitu.

Lalu kejadian di lapangan ini menimpaku, dan aku mulai berpikir ulang.

Nggak, deh. Rasanya lebih mending aku dijejali ribuan kalajengking mainan itu daripada harus dikerjai secara langsung oleh cewek-cewek kanibal itu.

Ceritanya nggak panjang-panjang amat, jadi mungkin aku bisa menceritakannya kembali pada kalian. Intinya, aku sedang berjalan keluar dari kelas bersama Catherine setelah nyaris pingsan menemukan bangkai cicak di tempat pensilku. Catherine terus-terusan memelototi setiap orang yang berani melirik ke arahku sembari berusaha menenangkanku.

“Nggak apa-apa,” katanya, “Itu cuma ulah anak iseng yang kurang kerjaan, kok. Nanti juga mereka bakal dapat ganjarannya sendiri.”

Tapi kata-kata itu sama sekali nggak membantu. Aku tetap saja berjalan sempoyongan seperti orang mabuk, dengan pikiran kacau-balau dan muka pucat yang mungkin saja bisa kurekam untuk kasting film vampir. Saat itu, yang kupikirkan hanyalah buru-buru pergi ke toilet, mencuci tangan, dan—kalau memungkinkan—mengurung diri di bilik toilet supaya tidak kena iseng lagi.

Catherine masih mengikutiku saat aku sudah mulai menyeberangi lapangan, hendak menuju toilet putri.

Nah, siapa pula yang menyangka kalau bakalan ada tali seukuran benang yang tiba-tiba terentang persis di depan kakiku?

Sebelum aku sempat mencerna kata, “Awas!” yang diteriakkan Catherine, kakiku sudah tersandung tali itu duluan, dan aku langsung jatuh tersungkur tanpa komando, dengan dagu menghantam tanah terlebih dahulu, dan disertai bunyi ‘gedebuk‘ heboh yang menarik perhatian semua orang dalam radius dua puluh meter. Yang berarti seluruh lantai satu beserta lapangan.

“Alice!” Catherine memekik. Ia langsung menghampiriku dan membantuku berdiri sebelum lebih banyak orang berkumpul untuk menyaksikan momen memalukan itu.

Tapi, seperti biasa, aku tidak semujur itu. Saat aku mencoba berdiri, rasa sakit di lutut dan daguku sama sekali tidak mengizinkanku. Aku malah terjatuh sekali lagi dan membuat Catherine memekik panik. Kerumunan orang sudah mengelilingiku sambil sibuk berkasak-kusuk sendiri.

Sebelum aku sempat bereaksi, Joshua dan Rosaline menerjang dari belakang kerumunan.

“Alice!” Teriak Rosaline, “Lo nggak apa-ap—”

Pertanyaan Rosaline terhenti seketika saat pandangan matanya bertubrukan dengan luka bonyok di lututku serta darah yang menetes-netes dari daguku.

“Ups,” gumamnya pelan, “Itu… sakit, pastinya.”

Seakan ingin memperjelas perkataan Rosaline, luka di lututku meraung-raung dan membuatku mengerang kesakitan.

“Lice, lo bisa berdiri?” Catherine bertanya khawatir. Ia berjongkok di sampingku tanpa mempedulikan kerumunan orang yang mengelilingi kami.

“Nggak yakin,” jawabku susah payah, “Sakit banget.”

“Kalo gitu tunggu sebentar,” Catherine langsung bangkit berdiri lagi dalam satu sentakan cepat, “Gue akan ambilkan kotak P3K-nya ke sini. Lo tahan dulu sebentar.”

Setelah mengatakan itu, cewek berambut nyaris pirang itu berlari menjauh, menuju UKS putri untuk mengambil kotak P3K.

Joshua berjalan mendekat, kemudian berjongkok untuk memeriksa luka di lututku. Entah hanya halusinasiku atau bukan, mukanya kelihatan marah. Aku tidak tahu ia marah padaku atau pada orang lain. Tapi kalau benar padaku, aku sama sekali tidak bisa memikirkan alasannya. Seharusnya aku bertanya, tapi rasa sakit di daguku seolah siap menyobek-nyobek rahangku kapan saja kalau aku kebanyakan bicara.

“Lin, lo punya tisu?” Joshua bertanya pada Rosaline tanpa menoleh. Rosaline merogoh saku roknya dan menyodorkan sebungkus tisu pada Joshua.

Dengan hati-hati, cowok itu memungut selembar tisu dan meletakkannya tepat di atas lukaku.

“Aduh!” Pekikku kesakitan saat tisu itu mulai ditotol-totolkannya ke atas lukaku untuk membersihkan kotoran yang menempel. Rasanya sakit sekali sampai-sampai aku nyaris kepingin mengamputasi kakiku kalau saja aku tidak ingat amputasi jauh lebih sakit daripada ini.

“Sabar dulu,” Joshua mendesis geram. Ia meneruskan kegiatannya tanpa membiarkanku protes. Saat sedang sibuk mengurusi lukaku, tubuhnya diam-diam dicondongkan ke depan, mendekatiku. Lalu, ia berbisik sepelan mungkin dalam sebuah geraman emosi yang nyaris sama dengan desisannya barusan. “Pelakunya cewek-cewek itu.”

Aku mengerutkan kening dengan bingung. Lalu, dengan susah payah, aku balik berbisik, “Maksud lo?”

Cheerleaders,” jawab Joshua, masih dalam sebuah bisikan, “Tadi gue lihat April dan satu anak lagi yang nggak gue kenali menarik tali itu di kanan-kirinya. Gue yakin soal itu.”

Aku terdiam sejenak untuk mencerna perkataannya, kemudian mataku melebar sedikit. “Masa?” Tanyaku, “Terus…, mereka di mana sekarang?”

“Kabur, lah,” Joshua menjawab, “Mereka udah terlatih ngelakuin itu, tau? Kabur bukan perkara susah. Nggak ketahuan juga bukan perkara susah.”

Aku sebenarnya bingung bagaimana ceritanya orang-orang bisa tidak menyadari keberadaan April padahal rambutnya saja supermencolok seperti itu, tapi lalu aku ingat kerumunan yang masih saja mengerubungi kami, dan aku jadi tahu alasannya.

Menyelipkan diri di antara kerumunan ini pasti nggak susah.

“Mereka udah sering ngelakuin itu?” Tanyaku pada Joshua yang kini sudah beralih pada lututku yang satunya lagi—yang kira-kira sama bonyoknya dengan yang sebelah.

“Lebih dari sering,” jawabnya, “Tapi orang-orang bego itu masih mengira kejadian jatuh-berulang-ulang-sampe-kiamat yang sering terjadi itu sebuah kecelakaan. Entah gimana caranya cewek-cewek itu meloloskan diri dari tuduhan bullying yang seharusnya bisa membuat mereka diskors itu.”

Aku bergidik ngeri mendengar kalimat terakhir Joshua. Mendadak saja lukaku jadi tidak terasa sesakit itu, sebab aku tahu hal yang lebih mengerikan pasti sedang menantiku.

Riwayatku tamat di tangan para kanibal itu.

Aku terdiam mengamati lukaku dibersihkan, dan masih bengong seperti orang sinting saat Catherine sudah datang tergopoh-gopoh sambil membawa kotak P3K. Rambutnya yang biasanya selalu tertata rapi kini tampak awut-awutan, pertanda ia berlari kencang sekali menuju UKS dan kembali lagi ke sini.

“Ini,” katanya dengan napas terengah-engah. Diserahkannya kotak P3K itu pada Rosaline yang kemudian ikut berjongkok membantu Joshua.

Namun, saat kotak itu dibuka, mendadak Rosaline memekik kaget.

Baik Joshua, aku, maupun Catherine tersentak mendengar pekikan Rosaline. Joshua bahkan menghentikan kegiatannya menotol-notol lukaku dengan tisu.

“Ada apa?” Tanyanya.

Rosaline tidak menjawab, dan hanya mendorong kotak P3K di sampingnya ke dekat Joshua. Catherine mendekat untuk mengamati, dan aku ikut-ikutan melongok ke dalam.

Di dalam, tampak seekor kadal hijau besar sedang menatap kami dengan matanya yang mirip mata plastik.

Aku terkesiap. Spontan kutahan jeritanku agar tidak keluar, namun rupanya Catherine tidak berhasil. Ia langsung memekik keras sekali, sampai-sampai kerumunan yang sudah berkurang jumlahnya di sekeliling kami mulai penasaran dan mencoba menyeruak maju untuk melihat isi kotak itu.

“Astaga,” gumamku.

“Ini kadal mainan,” Joshua berkata. Tangan kanannya mencapit ekor kadal tersebut dan mengangkatnya ke udara, menunjukkan pada kami bahwa kadal itu memang bukan asli. “Jelas sekali pelakunya kelompok yang sama.”

Aku merasakan desiran ngeri di jantungku—desiran yang nyaris sama dengan yang kurasakan saat aku melihat bangkai cicak dan kalajengking mainan di kelas tadi. Bedanya, kali ini cewek-cewek itu sendirilah yang meletakkan benda itu untuk mengerjaiku, dan bukannya cowok-cowok korban gosip mereka. Dan tentu saja hal itu malah membuat kadal mainan ini jadi empat kali lipat lebih seram daripada seharusnya.

“Ya ampun,” Catherine menggeleng-gelengkan kepalanya. Suaranya tercekat. “Kenapa tadi gue bisa nggak lihat itu?”

“Maklum, lah,” Joshua membalas, “Lo lagi buru-buru, kan, saat itu? Biar gimana pun, cewek-cewek itu memanfaatkannya.”

Joshua melempar kadal mainan di tangannya ke kerumunan yang masih bergerombol penasaran di sekeliling kami. Cewek-cewek yang berdiri di depan kerumunan langsung menjerit heboh sambil melompat mundur, dan Joshua berteriak dengan nada galak yang tidak pernah kudengar sebelumnya, “BUBAR! BUBAR!”

Seisi kerumunan langsung bubar. Setengahnya karena takut dan tidak mengharapkan bentakan sensasional Joshua barusan, dan setengahnya karena mengira kadal yang dilemparnya itu asli (padahal jelas-jelas tadi Joshua mengumumkan, “Ini kadal mainan”). Pokoknya, dalam sekejap, hanya tersisa beberapa anak nekad di kerumunan itu yang jumlahnya tidak lebih dari enam.

Bagus, batinku, Satu-satunya hal baik yang terjadi pagi ini.

Baru saja aku berpikir begitu, hal paling tidak kuharapkan di dunia ini terjadi.

Pak Stenley turun dari lantai dua, berjalan dengan tenang memasuki lapangan.

Beliau sepertinya tidak melihatku—setidaknya, belum—tapi aku bisa merasakan bahwa suasana hati beliau sedang tidak baik. Dan percayalah, bertatap muka dengan Pak Stenley yang suasana hatinya buruk sama parahnya dengan disamperin Lucifer. Atau bahkan lebih parah.

Setelah beliau menapakkan kaki di lapangan, sisa kerumunan anak-anak nekad di sekitarku langsung berlari tunggang-langgang kembali ke kelas. Tapi aku tidak bisa bergerak. Setidaknya, tidak dengan kaki bonyok yang berdenyut-denyut seperti ini.

Aku mencoba menunduk untuk membiarkan rambutku menutupi wajah, tapi kemudian rasa sakit di daguku meraung-raung kesetanan, dan aku jadi tidak punya pilihan lain selain tetap menegakkan kepala.

Dahiku langsung berkerut saat menyadari bahwa ternyata bukan hanya Pak Stenley yang memasuki lapangan. Di belakang beliau, Bryan mengikuti dengan tampang kusut. Kepalanya ditundukkan, dan ia sepertinya sedang mengumpat dengan suara rendah yang tidak mungkin didengar Pak Stenley.

Saat mereka berdua berbelok mengitari lapangan, Bryan mendongak. Tatapan matanya tidak sengaja bertubrukan denganku, dan ia terkesiap. Bahkan dari jarak jauh pun, aku bisa melihat napasnya tercekat kuat—yang menurutku wajar-wajar saja, karena siapa pun pasti bakal kaget melihat tampangku yang sekarang mengerikan gara-gara luka besar di daguku ini.

Nah, hal yang selanjutnya terjadi barulah tidak wajar.

Bryan berlari menghampiriku sambil berteriak, “LICE! Lo kenapa?!”

Baik aku, Joshua, Catherine, maupun Rosaline terperangah. Kami semua pasti sedang memikirkan hal yang sama.

Bryan kayaknya sudah gila.

Maksudku, tadi itu, kan, dia sedang bersama Pak Stenley. Dan kemungkinan besar, beliaulah yang memerintahkannya untuk mengikuti karena ingin membicarakan sesuatu. Bagaimana bisa dia bertindak senekad itu dengan berlari kabur, apalagi sambil berteriak-teriak heboh?

“Kenapa Alice bisa luka begini?” Tanyanya panik begitu ia sudah sampai tepat di hadapanku. “Siapa yang ngelakuin ini? Anak-anak cheers? Atau si topeng putih itu?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya, dan malah melirik ke balik bahu Bryan, persisnya ke pinggir lapangan, tempat Pak Stenley seharusnya berada. Kepala sekolah kami itu memang masih di sana, tapi beliau berdiri tegak memandangi punggung Bryan, dan raut wajah beliau kelihatan sangat marah.

Uh-oh.

“Bry…,” Catherine berbisik pelan sambil memberi isyarat mata pada Bryan untuk kembali mengikuti Pak Stenley saja daripada berakhir dicaplok beliau.

Tapi Bryan sepertinya tidak peduli. Ia malah berjongkok dan memeriksa lukaku dengan serius.

“Bry…,” Catherine berbisik sekali lagi. Kali ini nadanya terdengar lebih mendesak karena Pak Stenley sudah semakin melotot saja di tempat beliau berdiri.

Bryan tetap mengabaikan peringatan Catherine itu. Ia malah menggeram penuh emosi dan berpaling pada Joshua yang saat ini sedang menatapnya horor. “Ini pasti perbuatan cewek-cewek tukang tuduh itu, kan?” Tanyanya dengan suara keras yang pasti bakal terdengar paling tidak sampai ke ujung lapangan.

Luar biasa spektakuler.

“Bry,” Joshua membalas dengan suara terendah yang pernah dikeluarkannya, “Balik, sono! Lo udah dipelototin, Bego.”

“Gue nggak peduli!” Bryan membentak dengan suara yang bahkan lebih keras lagi, “Jawab dulu pertanyaan gue. Gimana bisa Alice sampe bonyok begini?!”

“Aduh, lo Oon banget, sih, Bry,” Joshua membalas lagi, masih dengan suara superrendah yang hanya bisa didengar dalam radius satu meter itu. Namun kali ini disertai pelototan kesal. “Kita bicarain ini nanti aja. Gue, Rosaline, sama Catherine bakal mengurus dia. Lo nggak usah sok overprotektif gitu, napa? Kelihatan begonya, tau?”

“Udah gue bilang, gue nggak peduli!” Bryan membalas, “Masa iya, gue lo suruh diem aja melihat Alice dicelakai sampai kayak gini?”

“Iya, tapi lo kudu ngedengerin perintah Pak Stenley,” Joshua mendesis, “Kalo beliau sampai memanggil elo, itu berarti masalahnya udah serius. Jangan ngacau lagi.”

Seakan ingin memperjelas peringatan Joshua, detik selanjutnya, kepala sekolah kami yang galak itu menghampiri dengan tergesa-gesa. Raut wajah beliau kelihatan sangat marah, dan muka beliau merah padam menahan emosi.

Aku tidak sanggup berkata-kata. Aku hanya bisa memanjatkan doa diam-diam, semoga nasibku masih cukup mujur untuk bertahan hidup.

Bryan tampaknya santai sekali. Ia masih mengamati luka di daguku sambil mengumpat-umpat dan berkomat-kamit, dan bahkan sama sekali tidak mempedulikan bunyi langkah sepatu Pak Stenley yang tergesa-gesa di belakangnya.

Sekali lagi, uh-oh.

“RANKING DUA!”

Teriakan garang Pak Stenley terdengar menggelegar di seisi lapangan. Jantungku mendadak berpacu tiga kali lebih cepat daripada normal, dan tanganku spontan mencengkeram udara kuat-kuat. Aku menunduk dalam, memutuskan untuk menahan saja rasa sakit di daguku daripada mukaku terekspos jelas di depan kepala sekolah seram itu.

Bryan menoleh ke arah Pak Stenley. Wajahnya masih kelihatan marah.

“Apa yang kamu lakukan?!” Pak Stenley membentak, “Saya, kan, sudah bilang agar kamu mengikuti saya!”

Rahang Bryan mengeras. “Saya nggak bisa, Pak! Apa Bapak nggak lihat, teman saya terluka sampai seperti ini?”

“Tidak ada urusannya dengan kamu!” Pak Stenley berkata, “Saat ini, kamu punya urusan yang harus diselesaikan dengan saya. Hal tidak berguna seperti ini sama sekali bukan urusan kamu.”

“Bagaimana bisa Bapak mengatakan ini hal nggak berguna?!” Bryan menggeram emosi, “Bagaimana kalau lukanya parah dan jadi infeksi?”

“Tetap bukan urusan kamu! Sekarang kamu ikuti saya, dan saya akan pertimbangkan hukuman yang lebih berat.”

“Nggak!” Bryan membentak. Dalam hati, aku sudah kepingin banget menampar cowok satu ini supaya menurut saja dan tidak memperparah suasana. Tapi tampaknya hal itu tak bakalan berhasil. “Lagipula, dia kan murid Bapak juga! Masa Bapak tidak peduli?”

Pak Stenley memelototiku dengan garang, “Hah!” Beliau mendengus, “Si anak baru. Sama sekali nggak penting.”

Bryan sepertinya sudah siap menghantam Pak Stenley kalau saja Joshua tidak menahannya.

“Udah, Bry,” bisiknya, “Dia kepala sekolah kita, dasar Oon. Lo nurut aja napa, sih?”

Bryan mengerang emosi. Ia hendak membantah Joshua juga, tapi Pak Stenley sudah keburu menyela dengan suara keras.

“Alexander Bryan Blake,” kata beliau tegas, “Temui saya di kantor kalau kamu sudah selesai.”

Setelah mengatakan itu, beliau berbalik dan berjalan menjauh dengan tenang.

Kami semua spontan berpandang-pandangan, dan di benak kami jelas terlintas pemikiran yang sama.

“Alexander Bryan Blake,” ulang Rosaline, lalu mengangkat bahu, “Jelas bukan pertanda baik.”

 

***

Bryan POV

Pernahkah kau merasa kepingin banget menonjok seseorang sampai hidungnya melesak ke dalam dengan mengenaskan?

Nah, saat ini, aku sedang mengalaminya.

Oke, sampai di situ, mungkin masih agak wajar. Bagian tidak wajarnya adalah, aku mengalaminya terhadap Pak Stenley.

Yep, kau nggak salah baca. Aku memang baru saja menyebutkan nama kepala sekolahku yang terkenal seram itu.

Sebenarnya ini bukan semata-mata gara-gara kejadian di lapangan barusan. Aku sudah kepingin menonjoknya sejak ia muncul di kantor guru dengan muka tenang, diikuti Iris dan Luke di belakangnya.

Aku yakin, Iris atau Luke pasti sudah memberitahukan perihal tragedi yang menimpa Pak Tanto sejak sebelum menggiring beliau ke kantor guru. Kendati demikian, raut wajah beliau tetap kelihatan santai, seolah-olah mengatakan, “Oh, si Tanto mati, toh. Mana lihat? Kayaknya lucu.”

Sampai di situ saja aku sudah kepingin banget melayangkan tinjuku.

Belum lagi saat beliau melihatku, Max, dan Olivia.

“Anak-anak yang sok ikut campur lagi?” Bentak beliau dengan nada suara tinggi. Beliau memandang satu-per-satu kami dengan tajam.

“Maafkan kelancangan kami, Pak,” Max berkata, “Kami hanya kebetulan menemukan Pak Tanto, dan memutuskan untuk berjaga di sini sembari menunggu Bapak.”

Pak Stenley mendengus sengit. “Kalian tidak dibutuhkan di sini,” katanya. Lalu, berita hebohnya, beliau melirikku dan menyambung, “Apalagi si Ranking Dua ini. Dia sudah kelewat sering melanggar perintah saya untuk tidak ikut campur. Tambahan lagi, dia tidak ada hubungannya dengan OSIS. Sama sekali tidak punya hak untuk mencampuri masalah ini.”

Nah, ini baru skandal.

“Bryan sudah banyak membantu, Pak,” Olivia menyahut dengan suaranya yang lembut. Walaupun biasanya aku agak merasa ngeri dengan cewek itu gara-gara ia keseringan memandangiku dengan tatapan psikopat, tapi aku merasa cukup lega juga saat itu karena dapat pendukung.

Pak Stenley mendengus, membuatku kesal setengah mati. “Membantu?” Ulang beliau sarkastis, “Membantu mengacaukan situasi, maksud kamu?”

Olivia mengerutkan dahinya dengan ekspresi terusik. “Bryan yang menemukan Pak Tanto pertama kali, Pak. Dia sama sekali tidak mengacaukan situasi,” katanya.

“Dia mengacaukan moral siswa teladan,” balas Pak Stenley, kemudian beliau memelototiku dengan garang sampai-sampai aku berharap mata sipit itu copot saja dari rongganya. “Setelah ini, Rangking Dua,” kata beliau sambil mengacungkan jari telunjuk yang diayun-ayunkan ke arahku.

“Setelah ini apa?” Tanyaku, ingin sekalian memancing kerusuhan saja biar heboh.

“Sepertinya kualitas murid sekolah ini sudah menurun. Begitu saja tidak mengerti,” Pak Stenley membalas, membuatku melotot dengan emosi. “Maksud saya, setelah ini, kamu perlu menyelesaikan beberapa masalah dengan saya. Tapi itu harus menunggu.” Beliau kemudian melirik tubuh Pak Tanto yang terkulai di atas kursi. “Masih ada beberapa hal kecil dulu yang harus diurus.”

Oke, pelajaran baru, nih, dari kepala sekolah teladan : gurumu meninggal diracun, itu masalah kecil. Temanmu menemukan gurumu meninggal diracun dan bermaksud menolongnya, itu skandal terbesar dalam sejarah.

Luar biasa sekali.

Jadi, dengan hati dipenuhi sumpah-serapah, aku mengikuti Pak Stenley keluar dari kantor guru setelah beliau selesai mengurus beberapa hal kecil.

“Guru-guru yang lain akan datang sebentar lagi,” kata beliau santai sebelum kami keluar dari ruangan, “Biar mereka yang urusi. Saya punya masalah yang lebih penting dengan si Ranking Dua ini.”

“Tunggu, Pak,” Max menyela sebelum beliau sempat menggiringku keluar seperti sapi perah. “Memangnya selama ini ke mana guru-guru lain itu?”

Pak Stenley menjawab santai, “Saya dengar, ada yang menonaktifkan bel alarm di asrama guru dan mematikan jamnya. Mungkin sebagian masih tidur, sebagian mengira hari masih subuh.”

Max melotot bingung. “M-maaf, tapi…,” ia menggantungkan pertanyaannya di udara dengan ragu, “Dari siapa Pak Stenley mendengar itu?”

“Pak Joseph baru saja mengirim SMS setelah mengecek asrama guru,” jawab beliau, “Yang menurut saya bisa dijadikan cukup alasan bagi kamu untuk tutup mulut. Saya tidak punya banyak waktu untuk meladeni pertanyaan tidak penting.”

Dan begitulah, beliau akhirnya benar-benar berjalan keluar, membiarkanku mengikuti di belakang dengan konyol. Dalam hati, aku sudah berencana untuk memancing emosi beliau supaya sekali-sekali beliau tahu betapa baiknya aku selama ini karena tidak pernah memprotes sama sekali saat dikata-katai.

Kesempatan itu datang saat aku melihat Alice terduduk di lapangan dengan lutut dan dagu terluka. Luka di lututnya bahkan bisa dibilang sangat parah sampai-sampai aku kaget sekali. Mengelilinginya dengan raut wajah khawatir adalah Joshua, Rosaline, dan Catherine.

Oke, aku tidak bakalan menyebutnya kesempatan. Tapi kurasa inilah yang dinamakan “sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui”. Aku kepingin banget menghampiri Alice dan mendamprat bajingan mana pun yang berani melakukan perbuatan keji itu padanya (kuharap itu Andrew), dan aku juga kepingin membuat marah Pak Stenley biar heboh.

Rencana sempurna otomatis tersusun di otakku.

Dan dimulailah aksi spektakulerku berlari menghampiri Alice sambil berteriak-teriak kesetanan. Kupastikan teriakanku keras supaya Pak Stenley mendengarnya, dan tampaknya rencana itu melebihi berhasil. Aku dapat merasakan tatapan tajam beliau menghunjam punggungku saat aku sudah mulai berjongkok mengamati luka Alice.

Awalnya, kukira luka di lutut Alice tidak separah itu. Habis, aku tadi melihatnya dari jarak jauh, dan sama sekali tidak terbersit dalam pikiranku kalau luka itu sampai bonyok dan mengeluarkan banyak sekali darah. Setelah melihat kondisi luka itu, rencanaku memancing emosi Pak Stenley secara sengaja langsung amburadul.

Jantungku mencelus.

Semua pikiran mengganggu mengenai sikap ketus dan dingin kepala sekolah kami itu dengan cepat digantikan oleh perasaan geram sekaligus bersalah. Debar jantungku bergemuruh, dan aku langsung merasakan godaan untuk berlari ke kelas X-B dan memberikan barang satu atau dua tamparan keras pada April dan antek-antek klubnya.

Bisa-bisanya mereka mencelakai Alice sampai sebegini parah!

Sungguh. Aku tidak habis pikir dibuatnya. Saking geramnya, aku sampai tidak tahu yang mana yang lebih mendingan : diteror si pembunuh dengan topeng putih buruk rupanya yang berdarah-darah atau dikerjai anak-anak cheerleaders.

Setelah dipikir-pikir, rasanya keduanya sama saja parahnya.

Pemandangan lutut Alice yang mengenaskan membuatku lepas kendali. Dalam beberapa detik, aku mendapati diriku mengamuk habis-habisan dan membentak siapa pun yang berani mengajakku bicara—mulai dari Joshua yang mungkin sudah agak lebih sering kubentak-bentak, sampai Pak Stenley yang mengamuk.

Aku sudah tidak peduli lagi bagaimana imej siswa teladanku bakal hancur. Toh, dengan atau tanpa imej itu, kepala sekolah seram itu tetap bakal membenciku. Jadi, apa salahnya meluapkan emosiku sekalian?

Aku sama sekali tidak menyadari kesalahanku sampai beliau mulai menyebut nama lengkapku.

“Alexander Bryan Blake,” kata beliau, seolah namaku adalah nama keramat yang seharusnya tidak terlalu sering disebut-sebut kecuali kalau kepepet, “Temui saya di kantor kalau kamu sudah selesai.”

Dan itulah persisnya yang membuatku tercengang, bahkan sampai saat beliau sudah melenggang meninggalkan lapangan dengan santai.

Perkataan Rosaline jelas tidak membuatku merasa lebih baik. Sebaliknya, aku malah bergidik sendiri membayangkan bakal dihukum oleh Pak Stenley. Barangkali diskors. Dan itu sama memalukannya dengan menuliskan namamu besar-besar di dahi menggunakan spidol permanen.

“Lo udah selesai,” Joshua memutuskan, “Nggak ada sok heroik-heroikan lagi. Sekarang saatnya menghadap bokap lo tercinta.”

Aku tidak tahu apakah aku masih bisa memprotes perkataannya, tapi kalau pun ada yang ingin kukomentari, itu pasti soal bagaimana dia menyebut Pak Stenley ayahku.

Yang benar saja. Kalau beliau ayahku, pasti sudah dari dulu-dulu aku mengelabui beliau demi kabur dari “rumah tercinta” ini.

“Iya, deh.” Oke, bagian sialnya adalah, aku merasa situasi terlalu kacau untuk mengomentari hal itu, jadi aku hanya menurut saja seperti anak kecil yang habis dimarahi ibunya (dan Joshua sama sekali nggak cocok jadi ibu).

Alice mendesah panjang. “Bry, lo emang udah terlalu nekad,” katanya, tampak bersusah payah karena luka di dagunya yang belum diobati, “Sebaiknya lain kali jangan lo ulangi lagi kalau nggak mau terlibat masalah yang lebih serius. Lo lihat sendiri, kan, kalo gue udah dijadiin bulan-bulanan anak-anak cheers? Gwen dituduh-tuduh banyak orang, Catherine nyaris dibunuh, Joshua mulai diteror, Andrew dan Sam dibenci semua guru, dan Rosaline dimusuhi habis-habisan. Apa lo mau menambah satu lagi masalah dalam deretan panjang IMS?”

Perkataan Alice membuatku bimbang—setengahnya merasa malu, dan setengahnya tercengang.

Bagaimana tidak? Demi menasihatiku, cewek yang kusukai rela menahan rasa sakit di dagunya dan mengatakan kalimat terpanjang yang pernah dikeluarkan mulutnya selama ini. Kalau aku tidak merasa malu, itu berarti urat maluku sudah rusak atau bahkan sudah disihir Pak Stenley supaya hilang saat beliau memelototiku tadi.

Lagipula, jujur saja, saat aku berniat memancing emosi Pak Stenley tadi, aku sama sekali tidak kepikiran soal deretan masalah yang sedang dialami IMS. Begini caranya, aku tak bakalan bisa memimpin tim kami dengan baik—yah, walaupun memang belum ada yang mengakuiku sebagai pemimpin secara resmi, sih.

Aku benar-benar sudah bertindak kelewat batas.

Padahal, biasanya, aku selalu menganggap jalan pikirku lebih rasional daripada kebanyakan orang lain. Ada dua kemungkinan terkait hal ini. Kemungkinan pertama, aku salah soal anggapanku itu. Dan kemungkinan kedua, semua kejadian misterius di panti asuhan semingguan ini sudah benar-benar merusak sel otakku sehingga cara kerjanya jadi tidak benar, dan pikiranku kehilangan kerasionalannya secara total.

Aku mencoba memaksakan seulas senyum pada Alice, tapi aku tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas nasihat panjang-lebarnya.

“Makasih” terkesan sarkastis, “Oh, ya?” terdengar bego, “Iya, deh. Nggak akan gue ulangi lagi,” membuatku tampak bagaikan anak kecil, dan “Wow, itu deretan kalimat terpanjang yang pernah lo ucapin!” terdengar seperti Sam—yang artinya nggak bagus.

Akhirnya, setelah dua detik berpikir dan belum juga menemukan kata-kata yang tepat, aku hanya berkata, “Obati dulu luka lo, Lice. Baru lo boleh memarahi gue dan melakukan apa pun yang lo mau ke gue.”

Alice memaksakan seulas senyum. “Gue cuman mau memperingatkan aja, kok,” katanya.

Aku membalas senyumnya dan berpaling pada Joshua. “Gue akui gue salah soal yang barusan,” kataku, “Tapi gue juga masih nggak bisa maafin siapa pun yang udah ngelakuin hal keji ini ke Alice. Maka, nanti setelah gue nemuin Pak Stenley, gue bakal pastikan untuk ngasih orang itu pelajaran. Sementara ini, lo bantu obati luka Alice dulu.”

Joshua membuka mulut, tampak kepingin memprotes. Tapi, sebelum sepatah kata pun sempat keluar dari mulutnya, aku sudah ngacir pergi duluan, membuatnya tak berkesempatan bicara.

Aku tidak benar-benar berkehendak menyerahkan diriku untuk dibantai secara sukarela oleh Pak Stenley, tapi aku tahu, tidak ada lagi pilihan lain.

Jadi, kuseret kakiku dengan malas-malasan menuju kantor beliau yang terletak di lantai tiga—dekat dengan TKP kematian Pak Tanto, yang membuatku merasa semakin tidak nyaman saja. Dalam sedetik, perasaan tidak nyaman itu berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan remeh yang sebenarnya tidak perlu dijawab.

Misalnya, kenapa Pak Stenley memintaku menemui beliau di kantor. Maksudku, tadi, kan, beliau menggiringku ke lantai dasar untuk membicarakan apa-pun-itu. Jadi, seharusnya beliau bisa saja membantaiku di bawah—kalau perlu di depan IMS sekalian biar aku kelihatan konyol. Tapi beliau malah menyuruhku naik lagi dengan seenaknya ke lantai tiga. Kayaknya aku dikerjain.

Sebenarnya, sih, pertanyaan barusan itu tidak perlu dijawab. Tapi toh tanpa kuminta, jawabannya sudah muncul sendiri begitu aku menapakkan kaki di lantai tiga.

Kondisi lantai itu masih sama seperti saat aku meninggalkannya—sepi, tenang, dan tidak menampakkan tanda-tanda kehidupan. Persis kota mati. Hanya saja, bedanya, kini, di depan kantor guru, tampak tiga pria berseragam polisi yang sedang berjaga. Entah mereka sedang menunggu rekan mereka yang akan segera menyusul atau sedang mengawasi keluar-masuknya orang ke dalam kantor karena rekan-rekan mereka sedang mengadakan penyidikan atau semacamnya. Pokoknya, yang aku tahu adalah, aku sama sekali tidak ingat kapan dan dari mana mereka pernah masuk, apalagi sampai naik ke lantai tiga yang keramat ini. Seingatku, aku baru turun beberapa menit melalui satu-satunya tangga di sekolah, dan sama sekali nggak melihat polisi mana pun naik ke atas.

Mungkin mereka naik lewat tangga darurat, separuh bagian otakku yang masih waras menduga. Atau mereka memang sudah bersembunyi di lantai ini sejak lama karena tahu bakal terjadi peristiwa seperti ini. Dan itu berarti Pak Stenley sudah merencanakan semuanya.

Oke, ralat. Kayaknya bagian otakku yang masih waras tidak sampai separuh. Ketidakwarasan mendominasi begitu kuat sampai-sampai aku bingung sendiri dibuatnya.

Pokoknya, yang kutahu, inti dari pemanggilanku ke lantai tiga ini adalah untuk menunjukkan polisi-polisi itu padaku. Pesannya sudah melebihi jelas : Ada pihak profesional yang lebih berwenang yang akan menyelidiki dan mengurus kasus ini. Anak-anak sekolah ingusan bukan apa-apanya dan sama sekali tidak punya urusan untuk ikut campur.

Aku merasa kesal setengah mati, tapi karena menurutku disemprot Pak Stenley lebih mengerikan daripada sekawanan polisi tukang pamer yang muncul entah dari mana, jadi kuputuskan untuk mengabaikan saja pertanyaan-pertanyaan membingungkan dalam benakku dan terus berjalan dengan perut mulas menuju ruang kepala sekolah.

Ruangan itu terletak tidak jauh dari kantor guru. Bahkan, kedua ruangan itu letaknya di koridor yang sama. Itulah sebabnya, aku tak butuh waktu lama untuk mencapai pintu ruangan.

Untuk sedetik, keraguan menyergapku. Aku mulai berangan-angan tentang model kuburan yang cocok untukku dan bunga apa yang seharusnya ditanam di atas makamku—barangkali bunga bangkai supaya mencerminkan hidupku yang sebusuk bau menyengatnya. Tapi kemudian, bagian waras dari otakku mengambil alih.

Jadi, detik berikutnya, aku mendapati diriku mendorong pintu ruang kepala sekolah ke dalam, menyebabkannya terbuka lebar seolah-olah siap mencaplok tubuhku.

Kondisi ruangan tertata rapi seperti biasa saat aku melangkah masuk. Dua meja mahoni berukuran besar ditata saling berhadapan, masing-masing dengan belasan tumpuk berkas dalam map warna-warni yang didominasi warna gelap seperti hitam dan marun. Vas berisi bunga plastik diletakkan di salah satu meja tersebut—yang biasanya ditempati si Kepala Sekolah Predator.

Namun, saat aku bilang ‘biasanya‘, itu artinya tidak berlaku untuk saat ini.

Saat ini, sih, beliau tidak ada di mana pun. Bahkan, kursi kerja beliau kosong, tanpa adanya tanda-tanda keberadaan beliau.

Di meja satunya, Pak Joseph tampak duduk santai sembari memeriksa beberapa data dalam map hijau cerahnya—satu-satunya map berwarna cerah di ruangan ini sehingga aku menduga pasti toko yang menjualnya kehabisan warna hitam saat benda itu dibeli.

“Permisi, Pak Joseph,” sapaku sopan. Kalau pada wakil kepala sekolah satu ini, sama sekali tidak kutemukan adanya alasan untuk bersikap kasar. Walaupun tidak ramah-ramah amat, beliau tetap tergolong sabar dan benar-benar menghargai semua murid—yang berarti bertolak belakang dengan Pak Stenley. Hukuman-hukuman yang beberapa kali beliau berikan pada murid bandel pun biasanya cukup manusiawi—seperti hukuman menulis “Saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan saya lagi” sebanyak dua lembar folio, benar-benar ala anak SD (tapi mendingan daripada disuruh cuci piring selama seminggu dan membersihkan lapangan, kan?)

Pak Joseph mendongak dari lembaran yang sedang ditekuninya. Beliau kelihatan kaget melihat kehadiranku karena jarang-jarang aku menyatroni ruang kepala sekolah. Aku bisa membayangkan ekspresi beliau tak bakalan sekaget itu seandainya aku ini Andrew Leonardo, si “pelanggan setia” ruang guru sekaligus pelanggar tetap peraturan. Barangkali beliau malah bakal menyuruhnya duduk dan bersantai-santai karena sudah bosan menghukumnya terus, setengahnya sadar bahwa ia tak bakalan kapok-kapok juga.

“Bryan Blake,” kata beliau, masih tampak kaget, “Tumben ke sini. Sendirian, pula.”

Aku tersenyum ramah. “Saya dipanggil Pak Stenley, Pak.”

Raut wajah Pak Joseph langsung berubah kaku. “Pak Stenley?” Tanya beliau.

“Ya,” jawabku, “Kalau kebetulan Bapak tahu, di mana beliau sekarang?”

“Pak Stenley sedang tidak bisa ditemui,” kata beliau, “Dan saya khawatir kamulah penyebabnya.”

Dahiku berkerut bingung. “Penyebab?” Aku membeo, “Penyebab apa?”

Pak Joseph menghela napas berat. Sejurus kemudian, beliau menunjuk sebuah tirai di pojok ruangan. Tirai itu menutupi jalan menuju ruang santai yang terletak di balik tembok. Biasanya, Pak Stenley dan Pak Joseph memanfaatkan ruangan itu untuk bersantai saat istirahat. “Beliau sedang di dalam,” kata Pak Joseph, “Darah tinggi mendadak.”

Mataku spontan terbelalak. “Darah tinggi mendadak, Pak?” Ulangku tak percaya, “Sungguhan?”

Pak Joseph mengangguk. “Sepertinya kamu habis membuat beliau marah, ya? Mungkin itu sebabnya.”

Aku masih belum bisa percaya. Emosiku menggerung hebat.

Sekarang Pak Stenley sudah berhasil membuatku kelihatan seperti pihak yang bertanggung jawab. Padahal, kan, beliau sendiri yang menyiksa diri dengan mengomeliku macam-macam. Seharusnya beliau tidak perlu melakukan itu, karena toh aku tidak salah apa-apa.

Dan… apa?

Darah tinggi mendadak hanya gara-gara dibentak murid satu kali?

Serius, nih. Apa selama ini belum pernah ada satu pun murid yang berani bersikap seperti itu terhadap beliau sampai-sampai kejadian itu jadi supermengejutkan?

Dasar Kepala Sekolah berlebihan. Seharusnya beliau main sinetron saja daripada memimpin panti dan menyengsarakan banyak orang—aku, terutama.

Tanpa sadar, tanganku terkepal di kedua sisi tubuh. “Jadi, beliau benar-benar tidak bisa ditemui, Pak?” Tanyaku.

Pak Joseph mengangguk. “Mungkin setelah beliau sehat lagi, kamu akan dipanggil ulang. Tapi untuk sementara ini, kondisi belum memungkinkan. Beliau butuh istirahat dulu.”

Dapat kurasakan rahangku mengeras saat aku akhirnya mengangguk, mencoba untuk tetap mengendalikan diri supaya tidak menerjang masuk ke dalam ruang santai dan mendamprat Pak Stenley karena sudah membuatku merasa bagaikan pihak yang bersalah. “Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak,” pamitku pada akhirnya.

Pak Joseph mengulum senyum tipis, kemudian mengangguk maklum.

Dan dengan hati masih disesaki emosi membuncah, aku pun keluar dari ruangan itu.

 

***

Joshua POV

Aku tidak bisa memutuskan apakah Bryan itu goblok atau bego—atau malah dua-duanya.

Kau tak bakalan tahu semengerikan apa situasi yang telah dibuatnya di lapangan tadi kalau tidak menyaksikannya secara langsung.

Maksudku, dalam kondisi biasa, dipelototi Pak Stenley saja sudah bisa bikin seseorang kepingin mengubur diri dalam-dalam di tanah. Tapi tadi? Tidak hanya melotot, beliau juga ngamuk-ngamuk, dan aku berani bersumpah seluruh urat di leher beliau nampak, disertai wajah merah padam yang mengerikan.

Menurutku, ekspresi Pak Stenley tadi bahkan lebih horor daripada kondisi mayat Pak Tanto.

Menilik dari kehororan ekspresi itu, aku bisa membayangkan bagaimana Bryan saat ini disemprot habis-habisan, kemudian diadili dan dijatuhi hukuman mati berupa menghabiskan-waktu-sembilan-jam-penuh-bersama-Pak-Stenley—yang entah kenapa judulnya terdengar ceria (padahal aslinya, sih, suram sesuram-suramnya.)

Rupanya bukan hanya aku yang berpikiran begitu. Catherine dan Rosaline yang sejak tadi membantuku memboyong Alice ke UKS juga memikirkan hal yang sama.

“Si Bryan nekat banget sumpah,” Rosaline berkata. Ekspresi wajahnya penuh kengerian. “Paling nggak dia bakal dicincang sampe jadi sepuluh bagian.”

“Sebelas,” ralat Catherine dengan raut wajah sepucat mayat hidup, “Atau bahkan dua belas. Gue bisa merasakan itu. Pak Stenley marah banget. Sampe-sampe gue yang nggak ikut kena amuk aja deg-degan.”

“Emang udah gila si Bryan itu,” timpalku, “Nggak ada waras-warasnya sama sekali.”

Rosaline bergidik. “Duh, tamat, deh, dia.”

Kami bertiga kemudian berjalan lagi dalam diam sambil masih memapah Alice. Tubuh cewek itu sebenarnya nggak berat-berat amat (terutama karena dia termasuk pendek), tapi tetap saja kami mengangkutnya bersama-sama. Awalnya Catherine menawarkan diri untuk melakukannya sendirian, tapi lalu Rosaline merasa tidak enak hati dan mau sukarela membantu. Dan berhubung aku cowok sendiri, rasanya jahat banget membiarkan cewek-cewek bekerja sementara aku santai-santai. Jadilah, akhirnya kami melakukannya bertiga.

Saat sudah sampai di depan pintu UKS putri, kami menghentikan langkah.

“Biar gue sama Rosaline aja yang ngerawat lukanya di dalem,” kata Catherine, “Biar gimana pun, sedarurat apa pun situasinya, lo cowok, Josh. Nggak boleh masuk ke UKS putri.”

Aku mengangguk patuh. Dalam benakku, langsung terlintas bayangan mengenai kejadian saat Gwen masuk ke UKS putra tanpa permisi. Cewek itu pasti adalah orang pertama yang nekad melakukan hal itu kalau mindset semua orang seperti Catherine.

“Cepet sembuh, Lice,” ujarku pada Alice yang tampak masih berusaha mati-matian menahan sakitnya. Alice mengangguk pelan sambil memaksakan seulas senyum.

Setelah itu, ketiga cewek itu masuk ke dalam ruangan, meninggalkanku sendirian di depan UKS.

Awalnya aku berniat menunggu di sini sampai cewek-cewek itu selesai. Tapi niat itu langsung terurung begitu aku ingat sepertinya aku bisa lumutan kalau benar-benar melakukan hal itu. Lebih baik tidak, deh.

Berbekal pemikiran itu, aku pun berjalan meninggalkan bagian depan UKS. Dalam hati, aku menimbang-nimbang apakah sebaiknya aku mengecek kondisi Bryan atau langsung menemui Iris untuk minta bantuan saja. Tapi lalu aku ingat kalau kedua hal itu mustahil.

Pertama, Bryan sedang bersama Pak Stenley. Mustahil aku tiba-tiba ikut campur tanpa disemprot habis-habisan. Dan kedua, aku nggak punya duit untuk menyogok Iris. Bodohnya, aku lupa menanyakan soal duit pinjaman itu pada Rosaline sebelum kami berpisah tadi.

Sekarang aku jadi tidak ada kerjaan.

Jadi, kuputuskan untuk nongkrong saja di kelas sambil bengong. Barangkali bengong bisa membantuku memikirkan ide untuk menyelesaikan kasus rumit yang tidak ada habisnya ini.

Begitu aku memasuki kelas, hal pertama yang kudapati adalah Sam menerjang tubuhku keras-keras dan memelukku erat.

“JOSH!” Teriaknya ala drama tragedi.

Dasar lebay. Sekarang dia menempel seperti perangko padaku sampai-sampai aku curiga siapa pun yang melihat bakal mengira kami homo.

“Apa-apaan, sih?!” Pekikku tak suka, setengahnya malu karena beberapa teman sekelas kami mulai memandangi sambil melongo heran. Di kepala mereka, mungkin sudah tersusun gosip baru berjudul, “Mungkinkah Joshua Tristan dan Samuel Ethan Mengubah Status Hubungan Mereka dari Musuh Menjadi Teman Maho?

Luar biasa. Bahkan nama kami pun ada rimanya. Pasti kami bakal jadi trending topic yang spektakuler kalau aku tidak buru-buru menendang Sam sampai nyaris jatuh ke belakang.

“Aduh!” Pekik si Cowok Maho saat tubuhnya terhuyung mundur, meleset seinci dari meja di belakangnya. Ia menatapku tak terima. “Njir, lo jahat amat, sih, Josh! Udah ninggal-ninggal, begitu ketemu masih main dorong, pula!”

“Dasar homo!” Selorohku, “Lo nggak usah main peluk kayak tadi, napa?”

“Santai, dong!” Sam berteriak, “Gue cuman kena dare dari temen-temen, kok!” Sambil berkata demikian, ditunjuknya kerumunan anak yang duduk bergerombol di pojok kelas sambil membentuk formasi lingkaran dengan botol air mineral kosong di tengah-tengah salah satu meja. Mereka tampak cekikikan dengan puas. Beberapa malah tertawa terbahak-bahak menyaksikan kejadian barusan.

“Kampret!” Umpatku, “Emangnya lo disuruh ngapain?”

“Disuruh mahoin elo selama lima detik begitu lo masuk ke kelas,” jawabnya dengan muka polos.

Aku langsung melotot. “Kok gue?!” Protesku, tidak terima dijadikan bahan tertawaan gara-gara Sam.

“Ya jangan tanya gue, lah! Emangnya gue yang minta?” Sam ngotot. “Gue aslinya juga kagak sudi, kali. Kecuali disuruh mahoin Catherine. Kalo itu, sih, gue nggak keberatan.”

“Catherine itu cewek, Bego.”

“Iya, emang. Terus, kenapa?”

“Lo nggak bisa mahoin cewek.”

Sam terdiam sejenak, kemudian mukanya berubah semakin bego. “Oh, iya, ya,” gumamnya, “Kalo gitu mahoin orang itu nggak seru, dong?”

Aku mendesah frustasi. “Selama ini lo bahkan mengira itu seru?”

“Nggak, sih,” jawabnya, “Tapi berhubung Catherine nggak bisa dimahoin, jadi tambah nggak seru, deh.”

“Ah, terserah, deh!” Teriakku frustasi sambil berjalan meninggalkannya menuju bangkuku sendiri, “Sono lanjutin permainan maho-mahoan lo!”

Tapi si Cowok Homo malah mengikutiku. “Nggak, deh,” katanya, “Kapok gue. Ntar kalo gue kena truth lagi, gue pasti bakal ditanya soal kapan terakhir kali gue ngompol. Trus kalo kena dare, mana tahu gue disuruh nyium elo.”

“Najis!”

“Makanya gue nggak mau!” Sam berkata. Ia kemudian ikut duduk di bangku milik Rosaline yang terletak bersebelahan dengan bangkuku. “Ngomong-ngomong, lo habis dari mana, sih? Lo nggak tahu apa, sejak diusir si Monster Number Three dari kantor guru tadi, gue luntang-luntung sendirian gara-gara ditinggal?”

“Perasaan gue juga jalan sendirian tapi nggak protes,” sindirku, “Lo-nya aja yang manja.”

“Yeee, gue nggak manja, tau!” Sam memprotes tak terima, “Gue kan cuma sebel aja! Padahal tadi gue diseret-seret naik, tapi begitu di atas, gue dikacangin begitu aja!”

“Yang lain, kan, lagi sibuk ngurusin kasus Pak Tanto,” jawabku, “Mana ada waktu buat meduliin elo? Lagian, lo baru pertama kali dibolehin ngelihat TKP kejadian berbahaya aja udah manja gitu.”

Sam cemberut. “Ngelihat TKP kejadian berbahaya, kan, bukan kemauan gue! Gue juga nggak suka, kok!”

“Halah,” cibirku penuh penghinaan, “Padahal selama ini lo selalu protes, ‘Kenapa cuma gue yang nggak boleh lihat?! Gue pingin lihat sekali-sekali!‘”

Sam terdiam, mungkin baru ingat kalau perkataanku benar.

“Beruntung tadi nggak ada guru,” lanjutku, puas melihat tampang begonya, “Coba kalo ada, pasti lo udah langsung kena gusur.”

Sam menggerutu. “Guru-guru, kan, emang suka paranoid! Padahal gue nggak pernah ngacau sama sekali, tapi mereka ngelarang-ngelarang gue dengan semena-semena!”

“Nggak pernah ngacau?” Ulangku sarkastis, “Luar biasa banget, Sam. Ngebakar rumah dan bikin setengah bangunan gosong itu nggak masuk hitungan, ya?”

“Itu kecelakaan!” Sam memekik langsung, “Lagian nggak selebay itu, kali! Nggak sampe setengah rumah gosong.”

“Tetep aja parah,” ujarku, “Begitu kok ngakunya nggak pernah ngacau.”

“Memang nggak pernah, kok!” Ia masih ngotot, “Dulu itu, kan, gue cuma nyoba-nyoba eksperimen sama kompor! Mana tahu kalo gasnya bakal meletus sampe kebakaran?”

“Tetep aja lo yang salah,” kataku.

“Enak aja gue yang salah!” Pekiknya, “Lo persis kayak nyokap gue, tau? Nyalah-nyalahin mulu kerjanya.”

“Tapi kan gue nggak ngebuang elo ke panti asuhan gara-gara itu,” aku mencibir.

“Karena emang nggak bisa!” Teriaknya, “Kita udah di panti asuhan. Lo mau ngebuang gue ke mana lagi?!”

Aku menyeringai kejam. “Ke kamarnya Gwen,” jawabku jahil, “Seru, tuh, pasti.”

Sam berhenti ngotot. Mukanya langsung berubah pucat. “Eh, anjir,” umpatnya, “Jangan, kek.”

Aku tertawa terbahak-bahak melihat reaksinya yang benar-benar bego. Butuh waktu lima detik bagi Sam untuk menyadari bahwa ia barusan dikerjai. Ia langsung memberengut bete dan melengos, pura-pura marah.

Setelah berhasil menghentikan tawaku, aku mulai membongkar-bongkar laci karena tidak ada kerjaan sambil mendengar gerutuan Sam yang tidak ada habisnya.

“Ngapain lo bongkar-bongkar laci?” Tanyanya sewot, “Nyariin surat cinta dari penggemar lo? Nggak ada di laci, tau. Udah gue masukin tas.”

“Lucu banget, Sam,” balasku sarkastis sambil masih mengaduk-aduk isi laciku.

“Ha-ha-ha,” ia mencibir, “Emang gue bercanda? Orang gue serius.”

“Lo mana pernah serius?”

“Pernah,” jawabnya, “Sekarang gue serius.”

“Lo pernah ngomong gitu juga dulu,” kataku, “Tapi kali ini gue nggak akan kemakan ucapan lo.”

Sam mengangkat bahu, “Ya terserah, deh. Orang gue beneran soal surat cinta itu. Nggak percaya? Coba cek aja.”

Aku mencibir lagi. Sam mulai mendumel kesal karena merasa aku tidak mempercayainya.

“Dasar,” umpatnya pada diri sendiri, “Gue kan serius. Lagian, dia bukannya harusnya seneng kalo punya penggemar? Mana tahu penggemarnya anak cheers. Kan lumayan.”

Gerakan tanganku terhenti.

Nah, sekarang aku agak percaya dengan perkataannya.

Pasalnya, Sam selalu mengatakan hal yang jujur saat ia mendumel. Dan aku tahu, kalau ia berbohong, ia bakal mendumel, “Yah, gue nggak dipercayai,” dan bukannya seperti barusan itu.

Penasaran, aku pun langsung menoleh padanya dengan kening berkerut. “Anak cheers?” Tanyaku, “Maksud lo? Lo serius soal surat itu?”

“Iya, lah! Ngapain gue bohong?”

“Lo emang biasanya suka bohong, Bego,” sindirku datar, “Tapi, serius, deh. Maksud lo surat apaan? Dari siapa?”

Sam mengangkat bahu. “Orang gue juga nggak tahu. Pokoknya, tadi si April masuk ke kelas dan bilang ke gue suruh ngasihin surat itu ke elo. Katanya, sih, dari salah satu temennya. Melihat dari amplopnya yang pink pake gambar hati gaje itu, kayaknya, sih, surat cinta.”

“Tadi lo bilang, surat itu lo taruh di mana?”

“Tas.”

Aku buru-buru membuka tasku dan membongkar isinya. Firasatku buruk mengetahui bahwa penyampai surat itu adalah April.

Benarlah, di dalam tas, sebuah ampop pink bergambar hati terselip. Aku menarik amplop itu dan mengeluarkannya hampir seketika. Bau parfum menyengat langsung membuatku nyaris muntah.

“Ih,” keluhku sambil menjepit hidung dengan dua jari, “Baunya norak banget.”

“Jelas, lah!” Sam mendengus puas, “Yang sudi-sudinya ngefans sama lo paling juga cuman cewek norak. Mana mungkin ada cewek sekelas Catherine yang bakal ngelirik elo?”

Aku bahkan tidak menanggapi selorohannya yang cenderung ngawur. Aku hanya penasaran dengan isi surat itu. Maka, dengan cepat, kusobek tutup amplop surat dan kutarik kertas di dalamnya keluar. Kertas itu berwarna putih dan dilipat menjadi empat bagian.

Aku membuka lipatan kertas dengan hati-hati.

Dan seketika itu pulalah mataku terbelalak lebar.

Nggak, nggak. Tentu saja Sam nggak benar. Alih-alih surat cinta, surat di hadapanku ini benar-benar berbeda. Bahkan, sebelum membaca isinya pun, aku tahu ini bukan surat semacam itu.

Sebab, surat ini ditulis menggunakan bolpoin bertinta merah terang, dan tulisan yang tertoreh pun lebih mirip cakar ayam.

Oke, yang terakhir itu sepertinya memang disengaja. Mungkin supaya tidak ada yang bisa mengenali siapa pemilik tulisan itu. Tapi tetap saja aku agak kesulitan membacanya.

Dear Joshua Tristan,

Begitulah surat ini dimulai.

Okelah, kalimat pertamanya masih normal. Tapi kalimat-kalimat selanjutnya membuat napasku nyaris berhenti.

Bagaimana hadiahnya? Kamu suka, kan?

Dengar-dengar, semua orang suka sekali dengan hadiahku itu sampai-sampai mereka berkerumun heboh di kantor guru. Keren!

Setelah ini aku janji akan memberi hadiah yang lebih bagus lagi. Aku sudah merencanakan kejutan karena kebetulan sebentar lagi salah satu temanmu akan pergi. Pasti bakal seru! Tunggu saja!

 

Regards, penggemar rahasiamu

(N.B : Kembalikan topengku, ya? Atau aku yang akan mencarimu sendiri untuk mengambil topeng itu)

Aku membaca surat itu nyaris tanpa berkedip. Jantungku bergemuruh kencang sekali sampai nyaris copot, dan kedua tanganku bergetar hebat. Aku bisa merasakan wajahku langsung memucat dan bulu kudukku meremang.

Keterlaluan!

Apa maksudnya surat ini?

Psikopat itu sudah mulai melancarkan aksi terornya lagi, namun dalam bentuk lain. Dan kurasa aku perlu mengucapkan selamat untuk diriku sendiri karena sudah sukses menjadi target peneroran selanjutnya.

Seperti biasa, aku sama sekali tidak memahami celotehan superpsikopatiknya. Sedikit pun tidak.

Maksudku, psikopat ini benar-benar pantas dijebloskan ke rumah sakit jiwa. Apa maksudnya “semua orang suka“? Yang ada, semua orang nyaris kena serangan jantung! Hanya dia saja yang bisa bersenang-senang dalam kondisi seperti ini, apalagi sampai menganggap hadiahnya keren!

Namun tidak ada yang lebih parah daripada paragraf terakhir surat itu.

Setelah ini aku janji akan memberi hadiah yang lebih bagus lagi.

Apa yang ia maksud?

Korban baru lagi? Atau teror yang lebih gila? Atau barangkali aku yang bakal jadi target pembunuhan selanjutnya?

Lalu ada kalimat berikutnya.

Aku sudah merencanakan kejutan karena kebetulan sebentar lagi salah satu temanmu akan pergi.

Apa ini ada hubungannya dengan kalimat sebelumnya? Atau maksudnya sebagai kalimat terpisah?

Kejutan apa lagi yang bakal ia berikan, dan siapa salah satu temanku itu? Ke mana temanku bakal pergi?

Dia ini mau membunuh orang lain, aku, atau temanku? Atau ketiganya sekaligus?

Lalu “kembalikan topengku” dan “atau aku yang akan mencarimu sendiri“. Apa, sih, maksudnya? Dia mau mencariku sungguhan, atau mencariku dalam tanda petik—alias membunuhku? Bukankah mencariku sungguhan sama artinya dengan menyerahkan diri? Dan kalau dia memang berniat membunuhku, buat apa dia memberitahuku duluan? Supaya aku bisa bikin surat wasiat dulu?

Dan soal topengnya. Siapa suruh dia memberikan topeng itu padaku? Kan itu salahnya sendiri.

Aku bertanya-tanya apakah dia punya banyak topeng seperti itu atau hanya itu satu-satunya. Seharusnya dia tidak perlu meminta topeng itu kembali kalau punya banyak yang serupa, kan?

Sungguh, terlalu banyak pertanyaan yang tidak terjawab sampai-sampai aku hanya sanggup duduk mematung tanpa bereaksi apa-apa.

“Penggemar rahasia lo pasti jelek banget, ya, sampe muka lo kayak gitu?” Sam menyeletuk, benar-benar tidak pada tempatnya.

Aku langsung meremas kertas surat itu sebelum Sam sempat mengintip isinya, takut kalau-kalau cowok itu bakal syok dan berteriak keras-keras sampai seisi kelas mengerumuni kami. “Bukan urusan lo,” kataku. Setelah itu, kumasukkan gumpalan kertas di tanganku ke dalam kantung celana dan menyambar Sam dengan pertanyaan mendesak, “Lo bilang April yang ngasih surat itu?”

“Iya,” jawabnya, “Tapi katanya, sih, dari temennya.”

“Siapa?” Tanyaku. Sam memasang tampang bingung. “Siapa temennya itu? Lo bahkan nggak tanya?”

“Nggak, lah,” Sam menjawab, “Peduli amat gue soal siapa fans lo. Lagian, gue kan cuman disuruh nyampein aja. Bukan ngepoin April.”

“Ya seharusnya lo tanya, dong!” Bentakku frustasi, “Masa lo sama sekali nggak curiga, sih?”

“Curiga soal apa?”

“Lupain!” Aku mengerang. “Sekarang, apa lo tahu di mana cewek itu?”

“Cewek yang mana?”

“Yang April!” Teriakku, “Eh, maksud gue, April. Bukan yang April. Tapi lo tahu sendiri, lah!”

“April?” Sam mengerutkan dahi, tampak berusaha memutar otak untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun hidupnya yang nyaris tak berguna. Ia mengacungkan jari telunjuknya seolah sudah mendapat pencerahan, kemudian memekik, “Nggak tahu!”

Aku langsung menoyor kepalanya tanpa ampun.

“Serius dikit, dong! Penting, nih!” Tegurku.

Sam cemberut. “Iya, iya, macan bunting,” gerutunya, “Tapi gue kan emang nggak tahu. Pokoknya, setahu gue, setelah ngasih surat itu tadi, dia langsung keluar begitu aja.”

“Dia sendirian atau sama orang lain?”

“Sama kakak kelas kita yang anggota cheers juga itu—siapa namanya? Oli?”

“Oli?”

“Soil?”

“Hah? Soil?”

“Soli?”

“Sally,” koreksiku dengan nada frustasi, masih bertanya-tanya bagaimana nama ‘Sally’ bisa meleset jadi ‘Oli’ dalam benaknya—apalagi ‘Soil’, benar-benar luar biasa.

“Nah, itu!” Ia menjentikkan jari, sok tahu. “Pokoknya mereka berduaan kayak lesbian gitu, deh.”

“Sally itu yang rambutnya sebahu bukan?” Tanyaku memastikan, “Pakai bandana ungu tua? Terus, tingginya sama kayak April?”

“Emangnya gue merhatiin tingginya seberapa?” Sam memprotes, “Tapi, iya, sih. Dia pake bandana ungu tua kayak anggur busuk gitu.”

Jawaban Sam itu membuatku mengeraskan rahang tanpa sadar.

Berarti dugaanku benar.

Anggota tim cheerleaders yang membantu April mencelakai Alice tadi adalah Sally ini. Maksudku, aku sudah beberapa kali mendengar nama cewek itu sebelumnya—termasuk status keanggotaannya dalam klub cewek-cewek centil itu—tapi aku tidak pernah benar-benar tahu yang mana dia.

Sekarang aku tahu. Dan sialnya, sebenarnya itu sama sekali tidak membantu.

Tidak ada petunjuk mengenai surat ini yang bisa kudapatkan kecuali aku menanyai April secara langsung. Cewek itu pasti tahu, kan, dari siapa dia menerima surat itu?

Tapi masalahnya, di mana dia sekarang?

Masa aku harus mencarinya?

“Sam,” panggilku. Sam menoleh ogah-ogahan. “Temenin gue, yuk.”

“Ke mana? Toilet?”

“Nyariin April,” jawabku.

“Nyariin April di toilet?”

“Enggak!” Bentakku depresi, “Lupain soal toilet! Maksud gue, nyariin April sungguhan.”

“Oh,” gumamnya, “Buat apa?”

Aku mendesah panjang. “Ada banyak hal yang perlu gue konfirmasi ke dia.”

Setelah itu, aku langsung berdiri dari bangkuku dan berjalan keluar diikuti Sam yang masih kebingungan. Baru selangkah aku keluar dari pintu kelas, tiba-tiba terdengar bunyi bel memekakkan yang dikeraskan melalui speaker kelas. Aku langsung menghentikan langkah.

Perhatian bagi seluruh siswa-siswi,” suara guru piket hari ini terdengar menggema, “Kami mohon maaf atas gangguan yang menyebabkan jam pelajaran efektif tidak bisa dimanfaatkan selama tiga jam pertama. Setelah ini, dimulai dari jam keempat, jam efektif akan diteruskan seperti biasa. Siswa diharapkan kembali ke kelas masing-masing dan mengikuti pelajaran. Peraturan sekolah berlaku seperti biasa untuk siswa yang bolos. Terima kasih.

Aku melongo sejenak mendengar pengumuman itu. Dapat kudengar, gumaman heran teman-teman sekelasku juga bersahut-sahutan. Suasana gaduh seketika.

Sam berjalan cepat menyusulku.

“Eh, ini beneran?” Sambarnya langsung. Wajahnya kelihatan malas sekaligus kaget. “Jam efektif bakal diterusin?”

Aku menggeleng. “Nggak tahu,” jawabku, “Tapi barusan lo denger sendiri, kan? Jadi semestinya iya.”

“Kampret!” Sam memekik sambil mengacak rambutnya frustasi, “Masa habis ini kita pelajaran lagi?! Mana jadwal setelah ini Matematika pula! Gue belum ngerjain PR!”

Aku langsung menoyor kepalanya tanpa permisi. “Bukan itu yang harus lo khawatirin, Bego!” Tegurku, “Mindset lo mindset pemales akut, sih.”

“Aduh!” Sam mengerang sambil mengelus kepalanya yang barusan kutoyor. “Terus apa, dong?” Tanyanya sok galak.

Aku memutar kedua bola mataku. “Harusnya lo khawatir, jangan-jangan kepsek kita udah nggak waras!”

“Bukannya emang udah nggak waras?”

“Maksud gue, secara harfiah!” Bentakku, “Masa iya, beliau masih merintahin guru-guru buat ngelanjutin KBM setelah kejadian mengerikan yang menimpa Pak Tanto pagi ini? Apa beliau nggak punya hati?”

“Bukannya emang nggak punya hati?”

“Terserah, deh!” Erangku, “Lagian emang bisa jadi beliau nggak waras atau nggak punya hati, kok.”

“Terus?”

“Ya kita duduk lagi, lah! Ngikutin pelajaran!”

“Aaarghh…!” Sam mengerang malas, “Kirain lo mau ngajakin gue kabur! Nyariin April atau apa gitu, kek. Gue rela.”

“April kan bakalan masuk kelas juga, Bego,” sahutku, “Nggak perlu dicariin lagi.”

Sam menggerung frustasi seperti mesin mobil karatan. “Ah, dasar nggak asyik lo,” dumelnya sambil berjalan loyo menuju bangkunya sendiri. Aku juga berjalan menuju bangkuku sambil masih menyimpan jutaan tanda tanya, menanti April datang sambil harap-harap cemas.

Namun hal itu tak pernah terjadi.

Bahkan, sampai semua siswa masuk dan guru mulai mengajar pun, cewek berambut ombre cokelat-oranye itu tidak menampakkan batang hidung.

Sedikit pun tidak.

 

***

Catherine POV

Aku tidak pernah mau mengatai Pak Stenley gila, sinting, atau semacamnya. Tapi kurasa saat ini bukan perkara mau atau tidaknya.

Aku harus mengatakan demikian.

Pasalnya, beliau sudah benar-benar nggak waras karena sudah mengeluarkan perintah untuk melanjutkan jam efektif.

Yah, bukannya aku keberatan, sih. Sebenarnya aku tidak ada masalah dengan sejam pelajaran Fisika, dua jam pelajaran Olahraga, dan sejam pelajaran Kesenian. Aku bahkan sudah mengerjakan semua PR dengan baik—yang tandanya tak bakalan ada semprotan mematikan dari guru mana pun.

Tapi… ayolah. Aku bahkan masih bisa mengingat dengan jelas seberapa mengerikannya peristiwa tadi pagi, dan itu pastinya bukan peristiwa yang bisa diabaikan begitu saja seolah itu tidak penting.

Aku termasuk penghuni lama sekolah ini, jadi aku tahu segalanya soal pembunuhan tahunan staf sekolah itu. Selama ini, yang dimaksud ‘staf sekolah’ selalu adalah para petugas kebersihan atau penjaga kantin. Kematian guru termasuk kasus yang teramat baru. Kasus yang seharusnya tidak dimaklumi begitu saja dan dianggap seolah-olah tidak pernah terjadi. Hanya orang tidak waras yang bisa melakukannya.

Dan kurasa kepala sekolah kami itu baru saja melakukannya.

Jadi, apa? Aku harus menahan diri untuk mengatai beliau tidak waras?

Rasanya nggak bisa.

Bahkan Rosaline pun tampak sama syoknya denganku.

“Astaga,” gumamnya heran, “Setelah kejadian di kantor guru itu, kita diharapkan untuk tenang-tenang aja seolah hari ini hari cerah yang biasa?”

Aku bergidik ngeri. “Ini keterlaluan, ah,” timpalku. “Lo masih berniat balik ke kelas?”

“Nggak tahu juga,” jawabnya, “Tapi ultimatum soal peraturan sekolah itu bener-bener nggak bisa diremehin. Kita bakal kena hukum kalo bolos.”

Aku mendesah. “Tapi…, ngelupain peristiwa kayak tadi jelas nggak gampang. Apalagi kita dituntut untuk nggak berkomentar apa-apa.”

“Emang udah gila beneran, nih,” Rosaline mendumel, “Dikiranya kita ini robot nggak berperasaan, apa? Minimal kasih penghormatan dikit, kek, ke almarhum Pak Tanto. Eh…, malah santai-santai ngumumin hal begituan. Bener-bener nggak bisa ditolerir.”

Aku mendesah panjang sekali lagi. Pandangan mataku terjurus pada Alice yang saat ini tengah duduk di atas ranjang UKS. Semua lukanya sudah terobati berkat kerjasamaku dan Rosaline. Kini, luka itu kelihatan sudah mendingan di balik balutan plester, kapas, dan perban luka.

Sungguh. Aku tidak tega meninggalkan Alice sendirian untuk kembali ke kelas. Tapi, di sisi lain, kondisinya tak memungkinkan untuk berjalan.

“Lice,” aku bergumam pelan, “Gue di sini aja, deh, nemenin lo.”

Mata Alice langsung terbelalak. “Eh, nggak usah!” Pekiknya, “Gue ikut aja ke kelas! Nggak apa-apa, kok. Sumpah!”

Aku menggeleng. “Jangan, Lice,” sanggahku, “Kondisi lo masih lemah. Kalo lo maksain diri, bisa-bisa sakit di badan lo makin parah, dan otomatis penyembuhannya bakal makin lama juga.”

“Kalo gitu gue di sini sendirian aja,” tawarnya, “Nggak apa-apa, kok. Beneran, deh.”

“Nggak bisa!” Aku dan Rosaline menyahut bersamaan.

“Catherine bener, Lice,” kata Rosaline. Ia sepertinya baru saja mengubah pikirannya soal masuk kembali ke kelas begitu ingat kondisi Alice masih lemah, “Bahaya bagi lo untuk ditinggal sendirian. Kalo nggak dikerjain sama anak-anak cheers, lo pasti bakal diteror sama si…, eh—nyebutnya gimana, ya?”

“Topeng putih?” Usulku.

“Ya, topeng putih,” Rosaline membenarkan. “Lo pasti bakal diincer.”

Wajah Alice berubah muram. “Tapi gue nggak enak ngerepotin kalian terus,” katanya, “Apalagi kalo kalian sampe harus kena hukum gara-gara gue. Pasti gue nggak bisa maafin diri sendiri.”

“Kalo sampe sesuatu yang buruk terjadi ke elo, guelah yang nggak bakal bisa maafin diri sendiri,” timpalku, “Keselamatan nggak bisa dituker dengan apa pun, Lice. Gue rela dihukum lompat katak lima belas putaran lapangan daripada harus ngelihat lo dicelakai.”

“Sama,” Rosaline berkata, “Gue juga.”

Alice menghela napas panjang. Tangannya bergerak-gerak gelisah. “Tapi gue nggak bakal kenapa-napa,” janjinya, “Kalian balik aja ke kelas. Pelajarannya pasti udah dimulai.”

“Udah, lah, Lice,” sanggahku, “Gue bener-bener nggak peduli soal diamuk guru. Gue cuman mau mastiin lo aman.”

Rosaline mengangguk setuju. “Lagian, lo nggak perlu ngerasa nggak enak hati. Kami ngelakuin ini dengan sukarela, kok.”

“Rosaline bener,” aku berkata. Alice terdiam dengan raut wajah dipenuhi keraguan. Sepertinya ia masih merasa benar-benar menjadi beban bagi kami—yang tentu saja tidak benar.

“Ya udah,” aku membuka suara untuk memulai penawaran, “Kalo lo masih ragu juga, gue akan coba minta izin ke guru yang lagi mengajar untuk nemenin lo di UKS, deh. Selain itu, gue janji cuman bolos sejam aja. Jam selanjutnya, gue akan ikut pelajaran lagi seperti biasa.”

Alice mendongak menatapku. Raut wajahnya masih belum berubah, tapi aku berani bersumpah melihat gurat ketakutan dalam ekspresi memelas itu. Sepertinya ia juga mulai menyadari betapa bahayanya posisinya saat ini.

“Janji?” Cicitnya. Aku tersenyum lebar sambil mengangguk. “Kalo gitu, ya udah, deh.”

“Oke,” kataku, “Lo tunggu di sini dulu. Gue sama Rosaline mau naik buat minta izin sebentar. Hati-hati, ya.”

Alice mengangguk.

Setelah itu, aku dan Rosaline berjalan beriringan menuju kelas masing-masing. Selama perjalanan, kami berdua membisu. Sama sekali tidak ada yang berniat membuka percakapan.

Aku nyaris merasa lega saat akhirnya berhasil mencapai pintu kelas. Kuketuk pintu itu pelan-pelan, kemudian mendorongnya ke dalam hingga terbuka. Kulongokkan kepala masuk dan melihat teman-teman sekelasku sudah menempati bangku masing-masing dengan tertib. Guru Fisika kami, Bu Ajeng, juga sudah berdiri dengan raut wajah serius di depan kelas. Kulihat, semua murid mengindahkan pengumuman soal peraturan sekolah untuk siswa bolos di speaker tadi. Buktinya, tidak ada siswa lain selain Andrew dan Willy yang membolos.

Begitu aku masuk ke dalam kelas, seisi ruangan langsung menatapku, membuatku merasa agak risih. Namun, berusaha kulontarkan senyum ramah seperti biasa saat mengatakan, “Permisi, Bu Ajeng.”

Guru berusia empat puluh tahunan itu menatapku serius dari balik kacamata berbingkai logamnya. “Kamu terlambat, Catherine Maxwell,” katanya dengan nada ragu yang sama sekali tidak sinkron dengan ekspresi wajahnya. Maklumlah ia merasa ragu. Sebelum ini, aku nyaris tidak pernah terlambat masuk ke kelas kecuali kalau habis dari toilet.

“Mm…, maaf sebelumnya, Bu. Tapi saya ke sini bukan untuk mengikuti pelajaran,” balasku penuh penyesalan. Mata Bu Ajeng terbuka sedikit lebih lebar. “Saya ingin meminta izin untuk tidak mengikuti jam pelajaran ini. Teman saya, Alicia Baskerville, mengalami sebuah kecelakaan di lapangan tadi. Sekarang dia sedang di UKS, dan saya rasa, saya perlu menemaninya.”

Dahi Bu Ajeng berkerut. Ia sepertinya tidak terlalu menyukai ide itu. “Kecelakaan?” Tanyanya, “Kecelakaan apa?”

Untuk sesaat, aku menimbang-nimbang apakah sebaiknya aku mengungkapkan terang-terangan kalau Alice dikerjai anak-anak cheerleaders, karena toh tidak ada satu pun dari mereka yang sekelas denganku. Tapi lalu kuurungkan niatku itu karena merasa omonganku tak bakal dipercayai begitu saja tanpa bukti yang jelas. “Dia jatuh terpeleset, Bu,” jawabku, setengah berbohong, “Lukanya lumayan parah. Untuk jalan ke kelas saja susah.”

Bu Ajeng berdeham sejenak. Ia tampak mempertimbangkan izinku sungguh-sungguh. “Apa Andrew Leonardo dan William Lee juga ada hubungannya dengan itu?” Tanyanya, benar-benar di luar dugaanku. Aku melongo singkat, kemudian menggeleng.

“Tidak,” jawabku, “Sama sekali tidak.”

“Lalu, kamu tahu ke mana mereka pergi?” Bu Ajeng mengedikkan dagunya ke arah dua bangku kosong yang terletak bersebelahan di pojok kelas.

“Tidak juga,” jawabku jujur, “Mungkin mereka memang berniat bolos, Bu.”

Bu Ajeng mendesah berat. “Mereka itu,” gumamnya penuh keheranan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia kemudian mendongak menatapku. “Ya sudah,” putusnya, “Kamu boleh pergi menemani Alicia.”

Aku menundukkan kepala dengan sopan. “Terima kasih, Bu,” ucapku. Bu Ajeng mengangguk singkat. “Saya permisi dulu.”

Setelah mengatakan hal itu, aku berjalan menuju pintu kelas, hendak keluar. Namun, sebelum sempat kutarik handel pintu itu, sebuah suara menyentakku.

“Sst!”

Suara itu terdengar memanggil dan mendesak. Mau-tidak-mau, aku menoleh ke samping dan mendapati Gwen, yang duduk sendirian di meja paling dekat dengan pintu, sedang memelototiku. Sepertinya ia jugalah yang barusan memanggilku.

Dahiku langsung berkerut.

Tumben sekali.

“Kenapa, Gwen?” Tanyaku dalam sebuah bisikan.

Gwen mengeluarkan sesuatu dari dalam lacinya dan meletakkannya di atas meja. Kemudian, didorongnya benda itu mendekatiku.

Kuperhatikan, benda itu adalah sebuah amplop surat berwarna pink pastel. Di bagian depannya, tertulis besar-besar alamat surat itu. Tulisan si pengirim surat terlihat seperti cakar ayam—benar-benar berantakan sampai nyaris tidak bisa dibaca.

TO : CATHERINE MAXWELL (X-A)

Mataku terbelalak.

“Apa itu?” Tanyaku tanpa suara pada Gwen yang masih saja memelototiku—sepertinya dia tidak benar-benar melotot, tapi entahlah, dia kelihatan seperti sedang melakukannya.

Gwen mengangkat bahu dengan cuek. “Ada di meja lo saat gue masuk tadi,” jelasnya sambil berbisik, “Jadi gue ambil aja.”

Kerutan di dahiku semakin dalam.

Banyak sekali keanehan yang kusadari dari surat itu.

Pertama, okelah, mungkin saja itu surat cinta. Bukannya menyombong, sih, tapi aku sudah pernah mendapatkan surat semacam itu beberapa kali sebelumnya. Tapi, selama ini, sama sekali tidak ada cowok yang menulis surat cinta dengan font seamburadul itu. Biasanya, mereka berusaha keras menulis sebagus mungkin, dan bukannya apa adanya seperti ini.

Kedua, Gwen melihat surat itu di mejaku? Bukankah itu artinya di atasnya?

Biar kujelaskan suatu hal. Nyaris tidak ada cowok yang menaruh surat cinta di atas meja cewek yang disukainya. Biasanya, mereka meletakkan surat itu di dalam laci, di bawah pintu kamar, atau semacamnya. Pokoknya tempat-tempat yang tersembunyi dari jangkauan penglihatan orang lain.

Ini sama sekali tidak lazim.

“Ambil, Bego,” suara Gwen mendesak sekaligus membuyarkan lamunanku. Aku baru ingat kalau sejak tadi aku masih saja berdiri mematung di balik pintu kelas sambil memandangi surat itu dan Gwen bergantian. Dan itu berpotensi sembilan puluh sembilan persen untuk membuatku dipergoki Bu Ajeng—atau barangkali disemprot dan diberi pencabutan izin bolos.

Buru-buru, aku memungut surat itu dari atas meja Gwen dan menarik handel pintu hingga terbuka. Aku berjalan cepat keluar kelas dengan tergesa-gesa sampai nyaris menabrak Rosaline.

“Eits!” Teriaknya saat tubuh kami sudah nyaris berhantaman dengan mengenaskan. Aku buru-buru menghentikan langkah dan meminta maaf atas kekikukanku barusan. Rosaline tidak menjawab, dan hanya memandangiku curiga. “Lo kenapa, Cath?” Tanyanya. “Nggak diizinin?”

“Bukan,” jawabku langsung, “Gue diizinin, kok. Hanya aja…,”

Aku menggantungkan kalimatku di udara selama dua detik penuh, sampai-sampai Rosaline mulai menyambar, “Hanya aja apa?”

Aku mendesah dan menggigit bibir bawahku, kemudian menggeleng. “Nggak, nggak apa-apa,” jawabku berdusta—kendati aku tahu dia tak bakalan mempercayainya, karena toh kelemahan terbesarku adalah berbohong dan berakting meyakinkan.

“Nggak apa-apa apanya? Jelas ada apa-apa,” desaknya, “Ayolah, ada apa sebenernya?”

Aku menyembunyikan tanganku yang memegang surat di balik tubuh sehingga Rosaline tidak bisa melihatnya, kemudian meyakinkannya lagi sebisa mungkin. “Beneran nggak apa-apa,” kataku, “Lo balik dulu aja ke UKS, ya? Nggak bagus ninggalin Alice sendirian terlalu lama.”

“Lo emangnya mau ke mana?”

“Ke toilet,” jawabku, kali ini tidak berbohong karena aku memang berniat membaca surat itu di sana.

Rosaline mengerutkan dahi. Ia sepertinya sedang mempertimbangkan izinku dengan sangat serius. Jeda dua detik, kemudian suaranya memecah keheningan, “Lo nggak butuh ditemenin?”

“Nggak,” jawabku yakin.

“Tapi kan lo target peneroran topeng putih itu, Cath. Bryan juga berpendapat lo nggak boleh ke mana-mana sendirian,” Rosaline menyangkal.

Soal itu, aku tahu ia salah. Aku memang target peneroran topeng putih itu, tapi saat ini aku hampir yakin tidak bakalan dibuntuti dia. Lagipula, kalau dugaanku benar, surat ini pasti asalnya dari dia. Dan belajar dari pengalaman, biasanya, sih, semengerikan apa pun sebuah teror, tidak bakalan ada dua teror sekaligus di saat bersamaan, dan pada orang yang sama pula.

“Gue akan baik-baik aja,” kataku meyakinkan, “Lagipula, gue kan cuman ke toilet aja. Nggak masalah, lah.”

“Tapi, kan—”

“Udah, lo nggak usah khawatir,” potongku, “Lebih baik lo cepet balik ke UKS aja. Kasihan Alice.”

Rosaline terdiam sejenak, masih tampak ragu. Kemudian, menyadari raut mendesak dalam wajah pucatku, ia mengangguk. “Ya udah, deh, kalo gitu. Ati-ati, ya.”

Aku mengangguk mantap, kemudian segera berlari menuju toilet setelah berpamitan. Jantungku bergemuruh kencang, dan firasatku semakin buruk begitu aku sudah sampai di toilet dan mengunci diriku di dalam salah satu biliknya.

Tenang, Catherine, batinku pada diri sendiri, Everything’s gonna be alright. Kutarik napas panjang dan kuhembuskan lagi. Begitu seterusnya sampai aku bisa merasa cukup tenang untuk membuka amplop surat itu.

Dengan tangan bergetar hebat, kusobek tutup amplop dan kutarik isinya keluar. Isi amplop itu berupa kertas putih yang dilipat menjadi empat bagian. Cukup standar. Tapi tidak menjamin semengerikan apa isinya.

Hati-hati, kubuka lipatan kertas itu hingga menjadi sebuah lembaran yang cukup besar. Sengaja kupejamkan mataku untuk menyiapkan mental sebelum membaca isi surat itu. Begitu kurasa aku sudah cukup siap, kubuka kembali mataku.

Dan aku langsung berhadapan dengan deretan tulisan bertinta merah terang yang berantakan.

Sebenarnya, sih, bukan itu bagian mengerikannya. Toh, bisa saja seseorang menulis surat cinta dengan bolpoin bertinta merah kalau kebetulan memang sedang kehabisan bolpoin.

Tapi surat ini tidak seperti itu. Ini bukan surat cinta. Hanya saja, walaupun aku cukup yakin akan itu, yang terparah adalah kenyataan bahwa aku sama sekali tidak bisa memahami makna tulisan itu. Sedikit pun tidak.

Surat ini berisi dua kalimat singkat. Benar-benar singkat, sampai-sampai kusangka anak TK pun tak bakalan menulis surat sesingkat ini. Font-nya bulat dan besar-besar, seperti disengaja supaya tidak satu pun orang mengetahui pemilik tulisan aslinya. Kendati demikian, aku masih bisa membaca dengan jelas kedua kalimat itu.

Tapi memahami tidak sesederhana membaca, tentunya.

Napasku tercekat saat aku memutuskan untuk membaca ulang isi surat dalam hati. Setengah bagian dalam diriku merasa bahwa kalimat-kalimat ini pasti bermakna sesuatu yang mengerikan, tapi setengahnya lagi mengingatkanku bahwa aku bahkan tak mampu memahaminya.

Aku berani bersumpah, dua kalimat ini adalah kalimat-kalimat paling mengerikan yang pernah ditujukan padaku seumur hidupku.

Kuhembuskan napasku yang tercekat kuat, dan kusadari kini dua kalimat psikopatik itu mulai terngiang-ngiang dalam benakku. Terulang dan terus terulang seperti gema yang tidak ada habisnya.

Dan aku hanya bisa mematung, bertanya-tanya dalam hati, apa maksud semua ini.

Persiapkan dirimu, begitulah kalimat pertama surat ini berbunyi, Kaulah orangnya.

 

***

Alice POV

Catherine tidak kembali ke UKS.

Maksudku, benar-benar tidak kembali, bahkan sampai bel tanda pergantian jam pelajaran dibunyikan. Rosaline terlihat sama gelisahnya denganku, menyadari ini sudah lewat dua puluh menit sejak hilangnya cewek berambut semu pirang itu.

“Tadi dia bilang mau ke toilet,” akunya, “Gue udah curiga saat itu. Tapi dia ngeyakinin gue kalo dia bakal baik-baik aja. Lagipula, gue juga sempet ngebuntutin dia dan ngelihat betul kalo dia memang masuk ke toilet.”

Aku ketar-ketir sendiri. “Aduh…,” rengekku, “Sekarang di mana dia? Kalo sesuatu terjadi sama dia gimana? Maksud gue…, dia nggak mungkin ke toilet selama ini, kan?”

“Memang nggak,” Rosaline mengakui, “Apa perlu gue cek ke toilet sekarang?”

“Tapi lo seharusnya masuk ke kelas, kan?” Aku mengingatkan, “Bel ganti jam pelajaran udah bunyi, Lin.”

“Apa lo nggak ingat soal keselamatan, Lice?” Rosaline membalas, “Keselamatan Catherine lebih penting daripada masuk ke kelas.”

Aku terdiam sejenak untuk memikirkan perkataannya. Rasanya aku nyaris menangis membayangkan sesuatu yang buruk mungkin saja terjadi pada sahabat baruku itu. “Lo bener,” simpulku pada akhirnya dengan suara tercekat. “Ayo kita periksa toilet.”

“Tunggu dulu,” Rosaline langsung menyela, “Kita? Lo mau ikutan? Dengan kondisi selemah ini?”

Aku melontarkan tatapan memohon yang penuh desakan. “Ayolah, Lin…,” rengekku, “Gue nggak apa-apa, kok. Serius. Gue bisa jalan sendiri juga.”

Rosaline menggeleng tegas. “Nggak,” putusnya, “Bahaya, tau? Lo juga inceran, dan parahnya lagi, inceran dua pihak berbeda. Apa lo mau cari mati?”

“Kan ada elo…,” tawarku dengan nada merajuk. Kupastikan wajahku supermemelas agar ia tak tega, “Lagian, kalo gue di sini sendirian terus, bisa-bisa topeng putih itu mengendus keberadaan gue dan memutuskan untuk membunuh gue. Apa lo nggak takut juga?”

Rosaline tersentak. Wajahnya memucat sedikit seakan ia baru memikirkan gagasan itu. “T-tapi…”

“Dan lagi, lo bisa mengawasi gue dengan baik, kok, Lin. Gue yakin itu,” kataku.

“Rosa,” ralatnya, “Panggil gue Rosa.”

“Oke, Rosa.”

“Tapi tetep aja bahaya, Lice.”

“Apa hubungannya sama Rosa?”

“Ya nggak ada. Gue cuman risih aja dipanggil ‘Lin’ melulu,” Rosaline menggumam, “Bukannya mau ngalihin topik pembicaraan lho, ya. Gue tetep nggak setuju.”

Wajahku berubah keruh. “Yaaahh…,” rengekku, “Li—Rosa, plis, deh… Gue janji nggak akan terjadi apa-apa.”

“Kalo sampe terjadi apa-apa?”

“Lo ngedoain?” Tanyaku kurang ajar.

“Ya enggak!” Rosaline—atau Rosa, atau siapalah itu panggilannya—menyela spontan. “Kan gue cuma memikirkan kemungkinan!”

“Kemungkinannya nol persen,” lagi-lagi aku sadar betul jawabanku kurang ajar. Untuk pertama kalinya, aku tetap mempertahankan jawaban semacam itu. “Atau minus seratus persen, alias yang bakal terjadi malah sebaliknya.”

“Sebaliknya apa?”

“Mana tahu luka gue malah bakal sembuh total dan gue jadi sehat walafiat?”

Rosaline melongo. “Lice, ini masalah serius, lho.”

“Gue juga serius,” desakku, “Gue nggak akan biarin siapa pun nyelakain Catherine, Lin.”

“Rosa.”

“Oh, ya. Lupa. Rosa, maksud gue,” ralatku, “Jadi, gimana?”

Rosaline—atau Rosa saja, deh, daripada aku diprotes lagi—tampak berpikir keras. Kuharap tatapan memelasku cukup untuk membuatnya luluh.

“Lo janji nggak akan lari sendiri ninggalin gue?” Tanyanya.

“Janji!” Jawabku langsung.

“Dan nggak akan bikin diri lo sendiri terlibat situasi berbahaya?”

“Janji!”

“Termasuk jika lo ngelihat Andrew? Lo nggak bakal ngikutin dia?”

“Jan—eh? Kok bisa sampe Andrew?” Aku bertanya bingung. “Apa hubungannya?”

“Halah,” Rosa mencibir, “Ngaku aja lo suka sama cowok itu.”

Aku baru membuka mulut hendak memprotes, namun ia sudah menyela duluan.

“Kalo gitu, ayo. Kita sebaiknya jangan buang-buang waktu di sini.”

Aku memberengut tak terima, namun akhirnya memutuskan bahwa perkataannya ada benarnya juga. Dengan susah payah, aku turun dari kasur dan mengikutinya berjalan keluar UKS sambil masih bertanya-tanya dalam hati akan perkataannya mengenai Andrew barusan. Pikiranku seolah bercabang dua—yang satu mengkhawatirkan Catherine, yang satu memikirkan Andrew.

Aku berusaha keras mengenyahkan cowok itu dari pikiranku, namun gagal. Sebuah pertanyaan tak terjawab terus saja terngiang-ngiang di benakku. Tanpa ampun, sampai aku nyaris frustasi dibuatnya.

Benarkah aku menyukai Andrew?

Jujur saja, baru sekali ini gagasan itu mencuat dari benakku.

Aku tak yakin itu benar.

Maksudku, aku tidak pernah benar-benar tahu seperti apa rasa suka itu. Sebelum ini, aku tidak pernah terlalu memusingkan perkara begituan. Sebab, sejak kecil, aku tahu aku tidak berkesempatan jatuh cinta karena akan dijodohkan dengan laki-laki pilihan orang tuaku demi kelangsungan perusahaan mereka. Aku tidak mau repot-repot membiarkan diriku jatuh cinta.

Lalu peristiwa kelam itu terjadi.

Dan aku mendapati diriku sama sekali tidak berpikiran bahwa semua doktrin tidak tertulis soal jatuh cinta itu juga ikut terhapuskan. Kini aku bertanya-tanya, apakah Andrew benar-benar orang yang bisa membuatku jatuh cinta.

Aku tidak mengerti. Sama sekali tidak mengerti.

“HEY, KALIAN!”

Sebuah bentakan keras bernada galak menyentakku dari lamunan, menyadarkanku bahwa aku masih berada di dunia nyata.

“Apa?” Tanyaku pada Rosa. Namun, yang kutanyai malah hanya terdiam dengan wajah syok. “Lo tadi teriak apa?” Aku mengulang pertanyaanku dengan lebih jelas.

“Sst, Lice!” Rosa memekik dalam sebuah bisikan, “Bukan gue yang teriak!”

Wajahku berubah bingung. “Terus, siapa?”

Rosa memutar kepalanya hati-hati menuju sumber suara, dan aku mengikuti gerak kepalanya.

Aku berani bersumpah, saat itu juga, aku nyaris terjengkang ke belakang.

Di tengah lapangan, tampak Pak Rusdi, guru olahraga kami, berdiri tegak dengan mata melotot dan tangan berkacak pinggang. Kumisnya bergerak-gerak galak—pertanda ia sedang mengamuk.

Dan lebih parahnya lagi, pelototannya itu ditujukan kepada kami berdua.

Seakan itu saja belum cukup, semua siswa berseragam olahraga yang berbaris di depannya menoleh menatap kami dengan penasaran. Beberapa berkasak-kusuk heboh.

Uh-oh.

“KALIAN ANAK KELAS SEPULUH, KAN?!”

Bukan, aku bukan siapa-siapa. Aku lebih baik mati saja, hati kecilku berteriak. Sayangnya, hal itu terlalu mustahil untuk diucapkan, sebab Pak Rusdi adalah tipe orang yang kelihatannya mampu merealisasikan perkataan itu.

“I-iya, Pak,” aku dan Rosa menjawab bebarengan. Di balik rasa takut, suara kami terdengar luar biasa konyol.

“NGAPAIN KALIAN BERKELIARAN DI SITU SAAT SEHARUSNYA KALIAN MENGIKUTI PELAJARAN SAYA?!”

Blaarr!!

Sambaran petir seolah menerpaku. Aku dan Rosa langsung berpandang-pandangan dengan ekspresi yang menyiratkan hal yang sama : oh, iya.

Sialan. Aku baru ingat kalau ini jam pelajaran olahraga—satu-satunya jam pelajaran yang diikuti kelas X-A dan X-B secara bersamaan. Sekarang tamat riwayatku.

“M-maaf, Pak…,” aku mencicit ketakutan sambil berusaha memikirkan alasan yang masuk akal untuk semua ini, “K-kami…,”

“Saya tadi menemani Alice di UKS, Pak,” Rosa menyambar, kentara sekali sedang berusaha menyembunyikan getaran ngeri dalam suaranya, “Tadi, dia kebetulan jatuh, dan—”

“NGGAK PERLU DITEMANI!” Pak Rusdi memotong kasar. Aku berani bertaruh bentakannya itu pasti terdengar paling tidak sampai ke loteng. “LAGIPULA, SEKARANG DIA SUDAH BISA JALAN SENDIRI, KAN? BIARKAN DIA DUDUK DI PINGGIR LAPANGAN, DAN KAMU SEGERA GANTI BAJU!”

Nyali Rosa ciut seketika. Wajahnya ditundukkan, dan ia mencicit, “T-tapi, Pak…”

“SEKARANG!!”

Bentakan pamungkas itu membuat baik Rosa maupun aku tidak berani membantah. Kami berdua saling berpandang-pandangan sejenak, kemudian ia mendesah berat, dan mulai berlari ke kelas untuk mengambil baju ganti.

Sementara aku berjalan sendirian menuju teras di pinggir lapangan, dan duduk dengan jantung masih disesaki kengerian.

 

***

Duduk sendirian dan menonton teman-teman berolahraga rupanya bukan ide bagus.

Oke, aku tahu, kondisiku masih belum memungkinkan untuk mengikuti pelajaran—apalagi materi olahraga hari ini adalah lompat jauh, yang artinya kalau aku ikutan, bisa-bisa aku jatuh dan jadi orang Indonesia pertama yang masuk Guinness Book dengan gelar ‘Manusia Bonyok’.

Tapi tetap saja itu nggak membuat acara duduk-dudukku terasa lebih menyenangkan.

Sejak nyaris lima belas menit yang lalu, aku sudah menonton teman-temanku beraksi dengan keren di lapangan—aku bahkan berkesempatan melihat Rosa jatuh mengenaskan sebanyak tiga kali (yang menurutku lucu, karena setiap jatuh, dia selalu malu-malu dan bersembunyi di toilet barang dua menit). Bryan dan Joshua bergantian menghampiriku untuk menanyakan keadaan lukaku. Sam sudah puluhan kali mengomeli pasir tempatnya mendarat—yang menurutnya adalah penyebab ia selalu jatuh dengan muka bak Sandman. Gwen beberapa kali melirikku penasaran—yang sebenarnya bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk olahraga jantung. Tapi hal-hal itu sama sekali tidak membantu. Aku tetap merasa bosan setengah mati.

Saat sedang berusaha mengenyahkan kebosanan—sekaligus melupakan kekhawatiranku terhadap Catherine yang belum juga kembali dan Andrew yang tidak kelihatan di mana pun—dengan memutar pandangan dan berangan-angan, tiba-tiba saja sebuah suara berat menyentakku.

“Alicia,” kata suara itu.

Aku menoleh dan nyaris terjatuh dari posisi dudukku saat melihat siapa orang yang baru saja memanggilku.

Orang itu adalah Pak Rusdi.

Oke, biar kujelaskan suatu hal. Pak Rusdi biasanya tidak terlalu sering berurusan denganku—atau dengan anak-anak lainnya, kecuali kau atlet sekolah seperti Bryan. Tapi, bahkan dengan frekuensi jarang-jarang itu, semua orang mengenalnya sebagai sosok yang galak dan mengerikan. Nyaris sebelas-dua belas dengan almarhum Pak Tanto.

Dan…, yah, guru-guru galak biasanya memanggil seorang murid hanya untuk dua tujuan. Tujuan pertama, memarahi atau menegur dia. Dan tujuan kedua, mengintimidasi dia. Pokoknya sama sekali nggak ada bagus-bagusnya.

“Ya, Pak?” Tanyaku dengan suara lirih. Kuusahakan nada bicaraku sopan supaya guru olahraga itu tidak protes.

Pak Rusdi memandangku dengan tatapan penuh penilaian—seolah ingin memutuskan apakah aku layak dimasukkan klub atletnya atau tidak. Tapi, apa pun yang dipikirkannya, kuduga itu berakhir dengan kata ‘tidak’, karena detik selanjutnya, ia menyambung dengan suara galaknya yang biasa, “Hari ini kamu jadi tenar mendadak, eh?”

Aku mencerna perkataannya sejenak, kemudian mengatakan hal paling cerdas yang pernah kupikirkan seumur hidupku, “Hah?”

“Saya banyak mendengar namamu dibicarakan di mana-mana,” jawabnya, tidak menjelaskan apa pun, sebenarnya.

Satu “Hah?” lagi, dan dia baru mau menjelaskan dengan gamblang.

“Anak-anak berkata, kamu kemungkinan pelaku kasus-kasus misterius itu. Jangan-jangan, kamu belum dengar?”

Aku bisa merasakan jantungku mendapat serangan kecil saat diingatkan mengenai hal itu.

Oh, tentu saja aku belum dengar, batinku, Aku juga belum dengar kalau tadi aku dituduh-tuduh sampai menangis di kantor guru dan dikerjai habis-habisan sampai lututku bonyok. Benar-benar hal yang baru.

“Sudah, Pak,” jawabku, merasa sarkasme bakal membuat bokongku ditendang jauh-jauh dari sini (kudengar Pak Rusdi mantan kickboxer).

Pak Rusdi manggut-manggut. Wajahnya dipenuhi gurat meremehkan yang entah mengapa membuatku merasa kepingin segera pergi dari sini.

Tapi itu, sih, masih kalah spektakuler dengan pertanyaan yang selanjutnya ia lontarkan.

“Kamu bukan benar-benar pelakunya, kan?”

Aku melongo sejenak. Oke, ralat, sepertinya bukan sejenak, tapi agak lama. Mungkin sekitar lima detik.

Aku mempertimbangkan untuk menanyakan pertanyaan jenius seperti, “Maaf, Pak, IQ Bapak berapa, ya?

Tapi lalu aku ingat soal kickboxer, dan segera mengganti jawabanku menjadi, “Bukan, lah, Pak.”

Pak Rusdi menatapku curiga. Sepertinya ia mengira dirinya punya kemampuan super berupa membaca pikiran orang atau menghipnotis mereka supaya menjawab pertanyaannya secara jujur atau apa. Sungguhan, aku tidak bisa membayangkan sebodoh apa orang yang mengira seorang pembunuh bakal mengaku dosa hanya gara-gara ditanyai dan dipaksa-paksa menjawab sampai nyalinya ciut. “Serius?”

Oh, nggak, Pak. Saya nggak serius. Saya sebenarnya otak dari semua kasus mengerikan itu. Sekarang saya akan membunuh Bapak. Dor! Bapak mati!

“Serius,” jawabku.

Pak Rusdi mempertimbangkan jawabanku sejenak, kemudian mengangkat bahu. “Oke,” katanya. Aku menghembuskan napas lega mengetahui kini ia tak bakalan merecokiku lagi dengan pertanyaan seputar skandal yang baru saja menimpaku.

Selama beberapa saat setelahnya, Pak Rusdi hanya terdiam. Ia memandangi lapangan dengan serius, mengamati anak-anak yang sedang berjuang melompat sejauh mungkin tanpa membuat tubuh mereka terjengkang mengenaskan.

Kira-kira lima menit sudah berlalu saat suara Pak Rusdi kembali memecah keheningan. “Kalau begitu, Alicia,” katanya, “Saya harus menyelesaikan urusan di kantor guru sebentar. Bisakah kamu menggantikan saya mengawasi anak-anak itu selama saya pergi?”

Aku terdiam sejenak. “Ya, Pak,” jawabku pada akhirnya. Pak Rusdi mengangguk singkat, kemudian berjalan pergi meninggalkan lapangan. Aku memperhatikan sampai sosoknya menghilang di balik tangga, kemudian mulai mengawasi keadaan sekitar.

Cukup lama aku mengawasi tanpa sedikit pun minat. Tiba-tiba saja, dua cewek yang sepertinya siswi kelas sebelas turun dari tangga. Aku menyipitkan mataku dan mengenali salah satu di antara mereka sebagai anggota klub cheerleaders yang menyerangku tadi pagi di kantor guru. Mata kejam orang itu yang sipit dan naik ke atas—seolah memancarkan kebencian pada siapa pun—benar-benar membangkitkan kenangan memalukan yang membuat namaku tenar itu. Sebelah tangannya menggenggam gelas plastik yang sepertinya berisi minuman, tapi ia menggenggamnya begitu kuat sampai-sampai aku mengira itu pasti semacam racun.

Aku buru-buru menundukkan wajah dan pura-pura naksir sepatuku yang sebenarnya tidak bagus-bagus amat.

Samar-samar, aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Semakin dekat, dan semakin dekat. Aku masih belum berani mendongak, tapi aku punya firasat buruk bahwa merekalah yang menimbulkan langkah kaki itu—maksudku tentu saja anak cheerleaders bermata seram dan temannya itu. Dan kalau firasatku benar, itu berarti mereka sedang menuju ke sini.

Apa yang mereka lakukan?

Di jam-jam seperti ini, seharusnya mereka sedang duduk manis di kelas masing-masing dan mendengar ceramah guru. Buat apa mereka menuju ke lapangan? Apa mereka mau ke toilet?

Nggak. Ke toilet pun nggak mungkin. Mereka turun dari tangga, jadi seharusnya tidak perlu menyeberangi lapangan untuk mencapai toilet.

Jadi, apa sebenarnya yang mereka lakukan?

Aku penasaran sekali, dan akhirnya memutuskan untuk melirik kecil ke arah datangnya suara.

Benarlah, mereka sedang menderap kemari dengan wajah licik. Semakin dekat denganku, langkah mereka semakin cepat.

Jantungku mendadak bergemuruh kencang. Aku menunduk lagi dan berusaha menulikan telingaku dari derap langkah kaki yang semakin mendekat itu.

Aku sudah nyaris berhasil saat tiba-tiba…

Byuurr!!!

Aku tersentak dan langsung menjerit saat sesuatu yang dingin mengguyurku. Cairan itu terasa lengket dan menjijikkan, dan kini aku megap-megap karena beberapa tetes masuk ke hidungku.

Aku mencoba mendongak untuk menatap orang yang baru saja mengguyurku—yang kuduga adalah cewek itu—tapi lalu aku menyadari suatu hal.

Mataku perih. Teramat perih.

Rasa perih itu mencegahku untuk membuka mata. Rasanya seolah-olah kedua mataku terbakar api.

“Aduh!” Teriakku.

“Ya ampun, sori!” Cewek itu memekik. Suaranya terdengar penuh kepalsuan, “Gue nggak hati-hati. Fanta gue jadi tumpah, deh.”

Aku baru mau memprotes kalau benda yang baru saja mengguyurku itu pasti bukan Fanta, tapi aku sadar mataku masih terlalu perih untuk tidak diurusi.

Aku mengerang kesakitan sambil memegangi kedua mataku seolah-olah kalau aku melepaskannya sedetik saja, benda itu bakal menggelinding jatuh dengan mengenaskan.

Aku tidak tahu bagaimana harus merespons perkataan sepalsu itu. Aku tidak mungkin membentak cewek itu—jelas bukan gayaku. Dan lagi, sepertinya anak-anak yang sedang berolahraga mulai memperhatikan kami. Aku bisa tahu dari bunyi kasak-kusuk yang tidak biasa dan disusul langkah kaki belasan anak mengerumuni kami. Tahu-tahu saja, suasana menjadi sangat ricuh.

“Ada apa ini?!” Suara Bryan terdengar mengatasi keramaian. Aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku bisa merasakan kemarahan dalam suaranya. “Lice! Apa yang—”

Perkataan Bryan terhenti. Selama sedetik, ia tidak bereaksi. Namun, detik selanjutnya, ia membentak dengan nada suara meninggi.

“HEH! Apa yang udah lo lakuin ke Alice?!”

“Kok ngomongnya gitu, sih, Dik?” Cewek itu menjawab dengan nada sok, “Seolah-olah gue udah ngelakuin sesuatu ke dia aja.”

“Lo emang udah ngelakuin sesuatu, kan?! Lo mengguyur dia sampe basah kuyup!”

“Ya ampun, gue kan nggak sengaja, Dik! Lagian, salah siapa kaki dijulur-julurin ke depan? Jadinya nyandungin orang, deh,” cewek itu mencibir. Aku kepingin berteriak untuk mengatakan bahwa kakiku bahkan tidak terjulur ke depan atau apa pun, tapi sepertinya Bryan juga sudah tahu itu.

“Eh, gue dari tadi lihat sendiri, ya, kalo kakinya nggak dijulurin ke depan! Nggak mungkin dia yang nyandung elo!” Bryan membentak marah.

“Aduh, berarti lo salah lihat, Dik,” si cewek menyebalkan berkata, “Temen gue aja lihat sendiri kalo gue kesandung. Ya, kan, Van?”

“Iya,” temannya menjawab. Bahkan, tanpa melihat pun, aku sudah tahu kalau saat ini cewek menyebalkan itu sedang tersenyum penuh kepuasan.

“Nggak usah bohong! Minta maaf aja dan tanggung jawab!” Bryan membentak lagi, kali ini nada suaranya terdengar bahkan lebih tinggi daripada sebelumnya.

“Lho? Kan gue udah minta maaf,” cewek itu menyahut pongah, “Lagian, dia juga harus minta maaf. Gara-gara dia, Fanta gue jadi kebuang sia-sia, deh.”

“Fanta?!” Bryan mengulang dengan nada omongan-lo-sampah-banget, “Kayak gini lo sebut Fanta?!”

Setelah itu, aku mendengar bunyi gelas kertas yang direbut dan dibuang ke tanah. Aku berusaha menerka apa yang terjadi sambil masih menahan perih yang membakar kedua mataku.

“Itu emang Fanta, kok,” cewek itu menjawab, jelas-jelas berbohong.

“Itu jamu, Bego!” Bryan menyambar marah. Aku bisa merasakan emosi yang membeludak melalui nada suaranya. “Lihat aja, matanya Alice sampe pedih semua!”

“Ya kali aja kena soda,” cewek itu masih ngeles, “Lagian… jamu? Gue mana sudi minum jamu? Udah pahit, pedes pula!”

“Itu juga pertanyaan gue!” Bryan membentak, “Ngaku aja lo sengaja membeli jamu itu dari awal cuma buat ngeguyur Alice!”

“Konyol,” cewek itu mendengus.

“Lo nggak kalah konyol,” Bryan membalas, “Sekarang ngaku!”

“Ngaku apa? Apa yang perlu gue akui?”

“Akui bahwa lo sengaja ngelakuin semua ini, terus minta maaf ke Alice dan tanggung jawab!”

“Gue kan udah bilang kalo—”

“SEKARANG!!”

“Tapi gue kan—”

“NGGAK PAKE TAPI!”

Bentakan pamungkas Bryan membuat cewek itu terdiam. Untuk sesaat, yang ada hanya kasak-kusuk heboh dari kerumunan orang, aura tegang yang memenuhi seisi lapangan, dan rasa perih yang menjadi-jadi di mataku.

Lalu, selang sepuluh detik kemudian, cewek itu mendengus. “Terus, kalo gue sengaja, lo mau apa?”

“Gue mau lo minta maaf, Tuli!” Bryan membentak. “Dan tanggung jawab cariin dia pinjeman seragam baru!”

“Emangnya lo pikir gue sudi?” Cewek itu mencibir. Aku bahkan bisa mendengar temannya cekikikan sedikit.

“Setelah mengatur rencana untuk ngebikin Alice jatuh di lapangan dan mengguyurnya dengan jamu, lo masih berani bilang nggak sudi?!”

“Eh, Dik,” cewek itu menyahut. Suaranya kedengaran sangat marah, “Siapa juga yang ngatur rencana buat bikin pembunuh cupu ini jatuh di lapangan? Gue?”

“Nggak perlu omong kosong soal pembunuh! Tingkah lo bahkan lebih buruk daripada itu! Cepet minta maaf aja!”

“Kalau pun ada yang harus minta maaf soal kejadian di lapangan tadi, itu adalah Sally dan April. Gue nggak ada kewajiban untuk tanggung jawab, dong.”

“Yang gue bahas adalah kejadian barusan! Jelas-jelas lo sengaja ngelakuin yang satu itu!”

“Tapi gue nggak merasa bersalah, kok,” jawab cewek itu enteng, “Namanya juga sengaja. Mana perlu rasa bersalah?”

“Lo ini udah keterlaluan, ya! Alice nggak salah apa-apa, masih aja lo perlakuin kayak gini!”

“Nggak salah apa-apa?” Cewek itu mengulang dengan nada sarat ejekan, “Eh, asal lo tahu, ya. Dia itu—”

Byurr!!

Aku tersentak kaget saat tiba-tiba pembantahan sengit cewek itu digantikan bunyi guyuran air yang deras, dan diikuti jeritan heboh yang kuyakini bakal terdengar sampai asrama. Beberapa tetes air bahkan memercik ke bagian kakiku. Dari dalam kerumunan, terdengar suara-suara napas tercekat yang saling sahut.

Penasaran, aku pun memutuskan untuk menahan rasa perih di mataku dan mengintip.

Saat mataku sudah terbuka sedikit, alangkah terkejutnya aku melihat cewek yang tadi mengguyurku dengan jamu itu kini sudah berdiri syok di tempatnya dengan rambut, wajah, dan baju seragam basah serta noda hitam di mana-mana. Ia tampak megap-megap. Wajahnya merah padam disulut amarah, dan matanya tampak dua kali lipat lebih menyeramkan daripada biasanya—bisa kau bayangkan seberapa seramnya itu.

“ARGH!!!!” Teriaknya marah. Ia menerjang Bryan—yang kuduga adalah orang yang mengguyurkan air itu padanya—dan berniat mencekiknya. Namun Bryan dengan mudah menahan tangannya dan memeluntirnya kuat-kuat.

“Air siraman tanaman ini udah lebih dari layak buat lo, Kak,” Bryan berkata sarkastis sambil memberi penekanan pada kata terakhir, “Mulai sekarang, jangan berani-berani gangguin Alice.”

“Lepasin!” Cewek itu meronta dan berteriak, namun Bryan malah memperkuat cengkeraman tangannya.

“Sekali lagi lo gangguin Alice,” katanya lantang, “Lo bakal mati di tangan gue. Dan hal itu nggak akan makan waktu lama. Tenang aja.”

Cewek itu meraung kesetanan. “Tahu apa lo?! Dasar bocah ingusan!”

Dan itu adalah hal terakhir yang kudengar sebelum aku sadar mataku bakal buta kalau tidak segera diguyur air bersih. Mengabaikan rasa penasaranku akan kelanjutan kejadian itu, aku memutuskan untuk berlari secepat yang kubisa menuju toilet.

Sialnya, hal pertama yang kulakukan di sana bukanlah membasuh mataku. Aku malah bersandar dengan lemas pada dinding bilik toilet, kemudian menangis tersedu-sedu.

 

***

Aku seharusnya berterima kasih pada Bryan.

Tindakan heroiknya di lapangan tadi berhasil menyelamatkanku dari cewek kejam yang nyaris membutakan mataku dengan kandungan jahe dari jamu Jawa itu. Kalau bukan gara-gara dia, aku pasti sudah terjebak semakin parah dengan cewek itu.

Tapi nggak, deh.

Diselamatkan Bryan rupanya bukan hal baik. Oke, mungkin itu kedengarannya termasuk lumayan baik. Tapi, diselamatkan Bryan di depan kerumunan orang banyak jelas bukan hal baik.

Pertama, aku baru tahu kalau kejadian heboh di lapangan tadi ternyata telah menarik perhatian banyak orang. Kabarnya, anak-anak kelas sebelas dan dua belas yang penasaran bahkan menontonnya dari balkon atas—membuat guru-guru yang mengajar di kelas mengamuk sampai hampir menghukum mereka semua lari keliling lapangan. Dalam sekejap, sudah muncul satu trending topic baru lagi di sekolah. Dan itu berarti, dua per tiga dari trending topic-trending topic yang beredar di sekolah seharian ini menyangkut diriku. Bagus, tuh. Kabar gembira.

Kedua, aku baru tahu kalau Bryan punya banyak penggemar. Dan kalau kau kira yang kumaksud dengan ‘penggemar’ adalah tiga atau empat cewek pemalu yang suka mengaguminya diam-diam melalui jendela kelas, kau salah besar. Maksudku adalah puluhan cewek brutal yang terang-terangan menamakan diri mereka sebagai “Bryan’s Fansclub“. Dan itu bukan “Bryan” dari Bryan Adams atau Bryan King, melainkan “Bryan” dari Alexander Bryan Blake, si cowok peraih ranking dua dari kelas X-A, sekaligus cowok yang baru saja menyelamatkanku dari kecaman maut.

Dan ketiga, aku juga baru tahu kalau ketua organisasi cewek brutal itu adalah Olivia Benita, si wakil ketua OSIS yang selama ini kukira alim gara-gara kacamata dan rambutnya yang selalu rapi. Asal tahu saja, membuat masalah dengan orang berjabatan penting sama artinya dengan bunuh diri.

Dan…, yah…, aku baru saja melakukannya secara tak langsung, kurasa.

Bukannya meminimalisir jumlah orang yang mengerjai dan memfitnah-fitnahku, tindakan heroik Bryan di lapangan tadi malah menyebabkan jumlah itu berlipat ganda. Kini, fans-fansnya yang sebelumnya termasuk pihak netral mulai menentangku. Mereka mengira aku menggoda Bryan sehingga cowok itu sampai mau-maunya membelaku.

Dalam waktu dua jam, aku sudah mendapat banyak sekali teror berupa serangga-serangga plastik menjijikkan dan sekitar selusin surat yang bunyinya nyaris sama : Jauhi Bryan.

Sungguh, aku tidak tahu apakah situasi bisa menjadi lebih mirip sinetron daripada ini. Rasanya nggak.

Mengingat kemarin aku masih dikenal sebagai anak baru yang cupu, tiba-tiba aku merasa tak berguna. Waktu “semalam” bisa membuatku mendapat banyak gelar spektakuler : Pembunuh, Anak Dukun, Cewek Caper, Penggoda Bryan, dan lain sebagainya (menyebutkannya di sini bakal membuatku frustasi sendiri). Dan dalam sekejap, kepopuleranku di sekolah sudah berhasil mengalahkan Andrea, Catherine, Bryan, dan bahkan Justin Bieber (apalagi gara-gara kejadian di lapangan tadi, aku jadi terpaksa mengenakan baju olahraga seharian—sehingga mengenaliku semudah menemukan pedang di antara tumpukan jarum). Guru-guru bahkan mengetahui semua gosip yang menimpaku, dan Pak Rusdi menyemprotku gara-gara dianggap tak bisa melaksanakan tugasnya menjaga lapangan dengan baik.

Aku betul-betul tidak berharap situasi ini berlanjut sampai nanti.

Bahkan, kembalinya Catherine ke kelas dengan wajah lesu saat jam pelajaran terakhir sama sekali tidak membantu. Cewek itu tidak sedang berada dalam suasana hati yang cukup baik untuk menghiburku. Ia sepertinya memiliki masalah sendiri yang disembunyikannya dariku, dan aku cukup tahu bahwa menanyakan masalahnya hanya akan membuatnya berusaha berakting lagi dan mengatakan, “Nggak ada apa-apa, kok,” padahal semua orang jelas tahu dia pembohong yang buruk.

Jadi, selama jam pelajaran terakhir, aku berdiam-diaman dengan Catherine.

Tidak hanya itu, aku juga berdiam-diaman dengan belasan surat ancaman yang menjejali laciku secara misterius. Menanggapi mereka hanya bakal membuatku darah tinggi.

Pelajaran Kesenian hari ini entah mengapa terasa lama. Seolah-olah seumur hidupku telah kuhabiskan untuk menuntaskan teori seni rumit. Kenyataannya, saat bel pulang berbunyi, aku merasa agak lega.

Kukatakan ‘agak‘, karena… entahlah. Aku hanya merasa sebenarnya aku tidak lega-lega amat. Perasaanku campur aduk. Aku tahu, selepas sekolah, orang-orang akan mulai mengerjaiku lagi—barangkali dengan trik yang lebih ekstrim (yang tidak kedengaran seperti hal bagus), dan aku bukannya menunggu-nunggu hal itu untuk terjadi.

Aku tahu, aku tak bakalan bisa melawan orang-orang kejam itu. Tapi mungkin aku bisa menghindari mereka.

Setidaknya, awalnya kukira begitu. Tapi lalu Pak Asep—si guru Kesenian yang galak itu—menghampiriku.

“Alicia Baskerville,” katanya, “Kamu salah seragam, ya? Sekarang saya akan beri kamu hukuman. Bersihkan kelas ini sendirian! Kamu tidak boleh pergi ke mana-mana sebelum kelas ini bersih!”

Seakan itu saja masih kurang, saat aku sudah mulai memungut sapu, Catherine juga menghampiriku.

“Ayo ke ruang kepsek,” ajaknya, “Hari ini kan ada pengumuman tes seleksi.”

Aku berani bersumpah, saat itu mukaku sudah sepucat kertas. Aku tidak tahu bagaimana harus bertindak kalau sampai disemprot Pak Stenley gara-gara terlambat mengikuti pengumuman, tapi juga tidak ingin diamuk Pak Asep kalau sampai dia melihat kelas masih berantakan dan aku sudah berani-berani pergi. Setelah membiarkan argumen sengit terjadi di benakku, akhirnya aku membuat keputusan berat.

“Lo duluan aja, deh,” jawabku pada Catherine, “Gue akan nyusul setelah kelas ini selesai gue bersihin.”

Dan begitulah, aku jadi sendirian di kelas gara-gara keputusanku itu. Parahnya lagi, aku sendirian bersama sapu dan kemoceng berdebu yang nyaris membuatku bersin-bersin.

Hukuman ini membuatku menyadari seberapa joroknya penghuni kelas X-A. Buktinya, keadaan kelas ini benar-benar jauh dari bayangan siapa pun mengenai ruang kelas unggulan ideal. Banyak tisu-tisu bekas berserakan di pojok kelas—dan aku tidak mau membayangkan dari mana asalnya tisu-tisu itu. Laci-laci dipenuhi kertas hitungan matematika dari ulangan kemarin. Meja kosong di belakang ruang kelas disesaki kertas-kertas HVS bekas yang bahkan tidak ditata rapi—sehingga aku harus bekerja ekstra untuk membereskannya. Aku bertanya-tanya apakah Pak Petugas Kebersihan pernah benar-benar bekerja selama ini.

Tidak ada yang bisa membantuku. Bryan dihukum gara-gara sudah membuat gaduh di lapangan tadi—kuharap dia tidak dihukum bersama-sama dengan cewek penyiram jamu itu, atau aku bisa menjamin terjadinya perang puputan pertama di sekolah ini. Gwen sudah ngacir pergi duluan untuk mendengar pengumuman (dan aku bahkan tak yakin ia mau membantuku kalau pun ia ada di sini). Andrew masih menghilang entah ke mana. Dan Catherine sudah kuusir tadi—sebenarnya, sih, tidak benar-benar kuusir.

Aku benar-benar merasa seperti orang gila.

Eh, atau jangan-jangan, aku memang sudah gila, ya?

Serius, deh. Seharian ini, rasanya aku tertimpa sial terus-terusan. Memikirkan kenyataan bahwa situasi ini hanya dipicu oleh pertanyaan spontanku yang sederhana jelas membuatku frustasi. Maksudku, coba aku lebih menjaga mulutku sedikit. Mungkin Kesha tak bakalan menemukan celah untuk menuduhku dan semua ini tak akan terjadi.

Sambil menyapu kotoran-kotoran menjijikkan keluar dari kelas, aku merutuki diriku sendiri dalam hati.

Kumpulan kotoran terakhir telah berhasil kukeluarkan, tapi itu sama sekali tidak membuatku merasa lega seperti seharusnya. Aku justru ketar-ketir, karena setelah ini aku harus keluar dari kelas. Tak ada yang bisa menjamin kalau aku tak bakalan dikerjai lagi, kan?

Dengan lesu, aku berjalan masuk kembali ke kelas, menggantungkan sapu di pojok belakang ruangan, dan menggendong tas ranselku. Sambil menghela napas berat berkali-kali, aku berjalan lambat keluar dari kelas.

Begitu aku sudah berhasil mencapai teras depan, aku langsung disuguhi pemandangan Bryan sedang menyapu lapangan. Ia sepertinya tidak melihatku, dan aku cukup bersyukur karenanya. Aku tidak mau ia berteriak menyapaku dan berakhir menarik perhatian siapa pun anggota fansclub-nya yang kebetulan sedang berkeliaran.

Tapi, biar bagaimana pun, aku juga merasa bersalah. Dia dihukum karena aku, dan kini aku menghindarinya. Itu sama sekali tidak terdengar adil. Lagipula, kami teman baik. Bersikap seperti ini rasanya salah.

Oh, dan satu lagi. Aku belum mengucapkan terima kasih atas bantuannya saat jam olahraga tadi.

Untuk sesaat, aku menghentikan langkah. Bimbang.

Haruskah kuhampiri Bryan?

Pertama-tama, aku tahu aku sebenarnya harus. Tapi aku tidak bisa menahan diri untuk merasa khawatir kalau-kalau seseorang telah memasang jebakan di tengah lapangan, khusus untukku (bukannya aku narsis, lho, ya. Tapi melihat dari kejadian yang sudah menimpaku dua jam belakangan, rasanya, sih, mungkin-mungkin saja kalau jebakan semacam itu tersebar di mana-mana).

Aku memandangi Bryan dan menimbang-nimbang dalam hati. Pemandangan dirinya yang sedang menyapu dengan terpaksa membuatku mau-tak-mau merasa iba.

Semenit berlalu, dan rasa iba itu mulai menggerogoti kekhawatiranku. Tak butuh waktu lama baginya untuk tertelan habis. Tahu-tahu saja, sebelum aku menyadarinya, aku sudah berjalan menghampiri cowok itu ke tengah lapangan.

Begitu jarakku sudah sekitar empat meter darinya, barulah ia menyadari kehadiranku. Gerakan tangannya yang sedang menyapu spontan terhenti, dan ia memandangiku dengan tatapan mata dipenuhi emosi bercampur aduk. Aku bisa melihat kegelisahan dan rasa bersalah dalam kedua matanya yang memancarkan kekhawatiran.

Tidak ada yang mulai berbicara, bahkan saat kami sudah berdiri berhadap-hadapan dan saling pandang. Sepertinya kami berdua sama-sama tahu seberapa rumit situasi yang sedang terjadi saat ini, dan sedang berusaha untuk tidak memperunyamnya barang hanya sedikit saja.

“Lice…,” Bryan-lah yang pertama membuka suara. Dapat kulihat, kakinya bergerak-gerak gelisah.

Aku tidak menjawab, dan kurasa wajahku sudah sangat pucat sampai-sampai ia memaklumi tindakanku itu. Masih belum ada yang berubah tiga detik selanjutnya. Keheningan masih membatasi kami, dan sapaan Bryan beberapa saat yang lalu rupanya tidak mampu mengubah situasi.

“Bry…,” gumamku pada akhirnya. Suaraku tercekat kuat di tenggorokan, “G-gue…”

“Udah,” selanya, “Nggak perlu dipaksain. Gue tahu emang susah buat lo.”

Aku mendesah pelan. Kutundukkan kepala dalam-dalam.

Suasana menjadi hening lagi untuk beberapa detik yang terasa bagaikan satu milenium. Rasanya jantungku berdesir-desir saking gugupnya aku.

Terima kasih, batinku, Kenapa susah sekali mengucapkannya?

“Lice?” Bryan memanggil.

Aku mendongak pelan dan menggigit bibir bawahku. “Mm…,” gumamku, “Gue…, gue cuma mau ngomong makasih… err… buat tadi.”

Bryan tersenyum kecil. Senyumnya kelihatan dipaksakan. “Nevermind,” katanya, “Gue memang udah seharusnya membela lo saat lo diperlakukan seperti itu.”

Aku ikut memaksakan senyum. Namun aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Ekspresi wajah cowok itu yang biasanya ceria kini tampak keruh. Hal itu jelas membuatku merasa kacau. Aku merasa sangat jahat sampai-sampai rasanya menatap wajahnya pun sulit.

Saking kalutnya pikiranku, aku sampai tidak menyadari keadaan sekitar. Kurasa aku sudah berdiri cukup lama di sini tanpa mengatakan apa-apa, dan mungkin bakal tetap seperti itu sampai lima jam ke depan kalau saja sebuah suara tidak menyela.

Oh, ralat. Itu bukan sebuah suara.

Itu suara segerombol cewek yang mengamuk.

Sebelum aku sempat menyadarinya, tiba-tiba saja sepasukan cewek menyerangku. Maksudku, benar-benar menyerang. Mereka mengerubungiku dengan ganas dan ekspresi wajah mereka menunjukkan kemarahan yang amat sangat.

Aku hanya sanggup mematung di tempatku berdiri sambil memandangi mereka dengan jantung bergemuruh kencang.

“Mau ngapain lagi lo?!” Teriakan seorang cewek membuatku semakin merasa takut.

Bryan terdesak di belakang kerumunan cewek-cewek itu, dan sepertinya sedang berusaha menerjang ke depan.

Aku memberi isyarat mata berupa pelototan padanya—yang kurang lebih artinya, “Mundur sana”. Aku tahu, kalau aku memberinya kesempatan maju dan membelaku, keributan ini bukannya bakal mereda, melainkan malah memulai babak baru yang jauh lebih brutal.

“Lo nggak usah ngegodain Bryan, dasar Cewek Jalang!” Cewek lainnya dalam kerumunan berteriak. Aku bertanya-tanya apakah dia pernah memikirkan istilah untuk menyebut dirinya sendiri. Tapi sepertinya tidak ada yang tidak menyetujui perkataan sarat ejekannya. Semua orang menyahut heboh dengan menyorakiku.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya aku benar-benar ingin bumi menelanku. Maksudku, secara harfiah. Aku kepingin lenyap dari sini. Bahkan masuk neraka pun masih terdengar lebih baik.

Di belakang kerumunan, dapat kulihat, Bryan masih berusaha menyeruak maju. Beberapa cewek mendekatinya untuk menahannya, tapi ia tak peduli. Kendati demikian, aku cukup bersyukur ia tidak meneriakkan namaku atau semacamnya.

Aku berusaha tetap tenang dan menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahku dari cewek-cewek seram itu. Namun ternyata aku salah langkah. Tindakanku itu malah memberi kesempatan bagi salah satu dari mereka untuk maju dan menjambak rambutku.

“Aaahh!!” Aku berteriak kesakitan sambil berusaha melepaskan tarikan tangannya pada rambutku. Tapi aku seharusnya tahu lebih baik. Cewek itu nggak akan melepaskan cengkeramannya semudah itu.

Aku masih bergulat dengan rambutku saat cewek-cewek lain mulai menjegal kakiku, membuatku terjatuh lagi—kali ini tidak keras, namun cukup untuk membuat air mataku nyaris tumpah.

Aku tidak punya perlindungan sekarang.

Bryan tidak mungkin membantuku lagi. Padahal, selama ini aku selalu berlindung padanya seperti cewek lemah—dan kenyataannya aku memang lemah. Aku sama sekali tidak tahu harus bergantung pada siapa sekarang ini. Segala sesuatu terasa kabur bagiku, dan untuk sedetik, rasanya aku sudah merasakan sesuatu yang lebih buruk daripada mati mengenaskan.

Aku hanya sanggup berdoa dalam hati, semoga Tuhan masih cukup baik untuk mempertahankan hidupku.

Kupejamkan mataku kuat-kuat dan membiarkan air mataku tumpah ruah sementara cewek-cewek kanibal itu masih menyiksaku. Beberapa dari mereka melempariku dengan benda-benda seperti tanah dan balon air, membuat tubuhku terasa sangat kotor.

Aku sudah hampir menyerah saat tiba-tiba sebuah suara menyentakku.

Ralat. Bukan menyentakku, melainkan menyentak kami semua.

“HEY, KALIAN! Jauhi pacar gue!”

Aku nyaris tersedak saking kagetnya. Bukan hanya gara-gara bunyi teriakan itu, melainkan juga karena aku mengenali pemilik suara itu.

Nggak, separuh bagian diriku menolak, Aku pasti salah.

Nggak mungkin yang barusan berteriak itu dia, kan?

Aku berusaha untuk mempercayai asumsiku sendiri, namun rasa penasaran mengalahkan segalanya. Aku mengintip ragu-ragu ke arah sumber teriakan dengan jantung berdebar kencang, memukul-mukul dadaku tanpa belas kasihan.

Semua orang juga sedang melakukan hal yang sama. Bedanya, mereka sudah melakukannya sejak sekitar dua detik yang lalu. Dan bahkan saat ini pun, mereka masih mempertahankan raut terkejut di wajah masing-masing. Aku jadi bertanya-tanya apakah jangan-jangan dugaanku memang benar soal dia.

Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa telingaku memang sering salah dengar saat aku mulai menangkap sosok orang itu.

Orang itu berdiri tepat di depan kerumunan. Badannya yang tinggi menjulang membuat cewek-cewek di sekitarnya kelihatan cebol. Raut wajahnya yang biasanya memang sudah seram kini tampak semakin seram dengan rahang yang mengeras. Alisnya yang turun ke bawah menunjukkan kemarahan. Rambut merah gelapnya jadi kelihatan sedikit lebih terang diterpa sinar matahari. Seragamnya yang seharusnya putih tampak kuning kucel, dan lengannya disingsingkan sebelah. Ia tidak memakai sepatu, namun hal itu sama sekali tidak mempengaruhi tinggi badannya.

Dan sialnya, ciri-ciri itu membuktikan bahwa dugaanku benar.

Itu memang Andrew Leonardo.

Aku terlalu kaget untuk bereaksi, dan untuk sesaat, aku hanya mampu memandanginya sambil melongo.

Andrew maju ke dekatku dengan langkah tegap yang biasanya tidak ia ekspos di depan kerumunan orang. Tatapan matanya yang tajam menyapu seluruh isi kerumunan, membuat mereka semua bergidik ngeri.

Butuh waktu sekitar semenit bagi cewek yang terlihat seperti pimpinan mereka untuk pulih dari syok.

“Jangan bohong,” katanya kasar. Kendati demikian, aku bisa menangkap getar takjub dalam suaranya, “Si pembunuh cupu ini nggak mungkin pacar lo! Dia aja ngegodain Bryan melulu!”

“Kalian salah paham,” Andrew menjawab cuek. Ia melirikku yang masih mematung di tempatku berdiri dengan wajah konyol. “Cewek ini nggak ngegodain Bryan. Ngerti?”

“Jelas-jelas dia melakukan itu,” cewek itu berkata, “Dan orang kayak lo nggak mungkin mau sama dia. Bilang aja lo cuman mau ngebelain dia!”

“Iya!” Timpal yang lainnya. Sinar kemarahan kembali ke mata mereka yang semula tampak terlalu syok, “Pasti ini cuman rekayasa lo aja!”

“Ini bukan rekayasa, Goblok,” Andrew menyahut santai, “Dia memang pacar gue, kok.”

“Oh, ya?” Cewek-yang-tampak-seperti-pimpinan itu menantang sengak, “Mana buktinya?”

“Iya, mana buktinya?” Cewek satunya mulai menyahut. Dalam hitungan detik, cewek-cewek lain dalam kerumunan ikut bersorak gaduh meminta bukti. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Semua ini terjadi begitu mendadak sampai-sampai kusangka ini pasti mimpi.

“Nggak perlu bukti,” Andrew berkata santai, “Emangnya gue pernah bohong, gitu?”

“Halah, jangan ngeles!” Cewek itu membalas kurang ajar, “Lo kan akhir-akhir ini deket sama cewek itu! Pasti lo cuman mau ngebelain dia aja, kan?”

“Eh, gue serius, ya,” Andrew berkata, “Gue bukannya cuman mau ngebelain dia. Dia memang pacar gue!”

“Kalo gitu, tunjukin buktinya!” Cewek itu menuntut. Semua orang bergumam setuju. Kemudian, tiba-tiba saja, entah siapa yang memulai, mereka mulai berteriak-teriak heboh.

“Bukti! Bukti! Bukti! Bukti!”

Teriakan itu diulang-ulang terus sampai-sampai kepalaku pusing. Aku masih belum bisa mempercayai semua ini. Menatap wajah Andrew saja aku tidak sanggup. Rasanya seolah rohku melayang keluar. Jantungku bahkan serasa berhenti berdetak—mungkin sudah copot.

Aku sudah benar-benar putus asa sampai pada titik dimana aku berpikiran untuk kabur secara nekad dari kerumunan ini. Mungkin aku bakal mengurung diri di kamar asrama selamanya atau semacamnya. Namun, baru saja aku bersiap menghitung satu sampai tiga, tangan besar Andrew yang kasar merenggut tanganku. Semua orang masih berteriak-teriak heboh.

Aku menoleh dengan kaget dan langsung berhadapan dengan wajah tegasnya yang dipenuhi kemarahan.

Aku sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi. Pokoknya, tiba-tiba cowok itu berteriak dengan berapi-api pada kerumunan, “Kalian mau bukti? Gue akan buktiin ke kalian!”

Lalu, dia mencium bibirku.

TO BE CONTINUED...

Download Ebook?

downloadd

Read this chapter’s author review?

CLICK HERE!

HULLO READERS! Finally I’ve managed to finish this super loooooooong chapter! :’)

I mean, literally. When I said “super long”, I didn’t lie. You want a prove? Try to download the ebook and see the number of pages. Maybe it’ll give you a lil shock 😐 It even did the same damn thing to me, the author. Dunno if it could be called “normal” or not. Probably not. Mostly not.

And… well, regarding to MOTO, I might have some big announcement to tell you after Viona finishes its fifth chap. But, not now. We’re still saving it for now.

Mm… last thing is, I apologize to you if this part isn’t as good as the three previous ones. I promise I’ll write better when I get the chance to. Thanks and bubye!

Advertisements

7 thoughts on “[CHAPTER FOUR] Mystery of the Orphanage (4/4)

    1. Jangan digigitin terus nanti terkikis(?) lho :v
      Bryan nggak ngelihat => seisi sekolah heboh soal kejadian itu dan akhirnya dia tahu juga => Perang Dunia III
      Bryan ngelihat => Perang Dunia III
      Intinya : ngelihat nggak ngelihat, tetep Perang Dunia III=))

      Enggak sih. Cuman kebetulan chapter ini ambilnya rabu aja._.v

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s