[STACY’S CURSE] Special Halloween : Torment or Threat (Prologue)

sc-tot

(P.S : as usual, this story is a collaboration with Viona Angelica from shining-hearts. This part of the story is something I wrote, but I won’t be writing the entire series of course, since this is a collaboration like what we did on A Bloody Farewell. My tip is, you better read this alone. Dark room is more likely to bring you the vibe of scariness. And don’t forget to pray before you read, cause remember, today’s Halloween and Stacy’s still behind you!)

DON’T EVER LOOK BEHIND YOUR BACK WHILE READING THIS STORY…

SPECIAL HALLOWEEN STACY’S CURSE

TORMENT OR THREAT

(PROLOGUE)

Malam itu, langit tampak lebih gelap daripada biasanya. Udara dingin yang menyiksa menyusup masuk melalui celahcelah jeruji ventilasi yang lebih mirip jeruji besi penjara, menyelubungi ruangan pengap di baliknya, membawa atmosfir mencekam yang terasa begitu kuat.

Ruangan itu tampak menyeramkan. Keempat sisi dindingnya yang terbuat dari batu bata merah dihiasi benda-benda gaib yang tergantung rapi–jelas-jelas sengaja diletakkan di sana. Ada boneka voodoo aneh yang sebagian jahitannya sudah rusak, lilin-lilin tinggi yang ujungnya meleleh–pertanda lilin-lilin itu sudah pernah disulut sebelumnya, senjata-senjata tajam yang ditata berdasarkan panjangnya, sampai papan ouija tua yang tidak jelas asli atau tidaknya. Benda-benda itu seakan berkonspirasi dengan udara dingin untuk membangkitkan suasana seram yang membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.

Kecuali bulu kuduk pria itu.

Ya, pria berkemeja hitam yang saat ini tengah duduk di ujung meja panjang yang terletak persis di tengah ruangan itu. Sejak tadi, yang ia lakukan hanyalah memandang ke sekeliling–ke arah empat orang lainnya yang semuanya tampak ketakutan setengah mati. Jari-jarinya diketukkan ke atas meja besi tempatnya bertopang, seolah suasana menyeramkan itu malah sedang dinikmatinya.

“Kenapa, sih?” Tanyanya, memecah keheningan. Lilin yang menyala terang di tengah-tengah meja menyorot wajahnya dalam kegelapan, membuatnya tampak hampir sama menyeramkannya dengan boneka voodoo yang dipajang di sisi ruangan. Padahal, tanpa aura gelap yang melingkupinya, pria itu seharusnya tampan. Seharusnya.

“Ng… Chris,” seorang gadis di antara keempat orang itu membuka suara. Raut wajahnya kelihatan sepucat kertas. Kalau ini sebuah pentas drama Halloween, pastilah gadis itu sedang berperan sebagai hantunya. “Apa lo nggak merasa ini agak keterlaluan?”

“Keterlaluan apanya?” Pria berkemeja hitam yang tampaknya bernama Chris itu mendengus. “Kalian kan udah setuju untuk mengadakan permainan ini. Lagipula, gue udah pernah mencobanya. Nggak berbahaya, kok.”

“Tapi hari ini kan Halloween. Mungkin bakal terjadi sesuatu yang berbeda, kan?” Gadis itu menyahut lagi. Volume suaranya memelan, nyaris tercekat. Wajahnya ditekuk.

“Halloween itu kan cuma tanggal yang ditandai manusia buat bikin acara sendiri,” Chris menjawab acuh, “Hantu, roh, dan makhluk-makhluk gaib lainnya nggak tahu apa itu Halloween. Manusia aja yang suka mengada-ada.”

“Kalo Halloween cuma dibikin buat mengada-ada, berarti aslinya itu nggak penting, kan?” Pria lainnya membuka suara. Pria itu pendek–tidak begitu pendek, sih, tapi jelas tidak setinggi Chris. Wajahnya tampak kusut, menandakan ia juga merasa tak nyaman.

Chris memandang pria itu sejenak, kemudian mengangguk.

“Ya udah, kalo nggak penting, mendingan kita bubar aja. Lagian kita bikin acara permainan absurd ini dalam rangka Halloween, kan?” Pria itu memprotes.

LEMON!” Chris membentak. Matanya melotot dan tangannya terkepal. “Jaga mulut lo! Nggak ada hantu atau roh yang suka dikatai absurd. Bisa-bisa kita diganggu nanti.”

Pria yang sepertinya bernama Lemon itu memutar bola matanya lagi. “Nggak usah dikatain absurd juga kita udah tergolong cari mati dengan ngadain permainan kayak gini. Lihat aja kamar lo ini. Udah bener-bener kayak sarang dukun.”

“Mereka nggak mengganggu asalkan lo nggak mengusik mereka duluan,” Chris berkata, “Contohnya gue. Selama ini, gue udah mencoba berbagai macam permainan tanya-jawab sama hantu-hantu itu. Tapi mereka nggak pernah ngeganggu gue, tuh, setelah itu. Karena apa? Karena gue melakukannya sesuai prosedur, nggak aneh-aneh. Gue nggak mengatai hantu itu apa-apa, apalagi absurd.”

“Berhubung tadi gue udah terlanjur ngatain mereka absurd, mending kita bubar aja, deh. Daripada ntarnya diganggu,” Lemon masih belum mau menyerah.

“Permainannya belum mulai. Mereka belum dateng. Mungkin aja mereka nggak denger dan itu nggak jadi masalah,” Chris bersikeras. Saat Lemon sudah mau memprotes lagi, ia buru-buru menyela, “Nggak usah banyak alesan, deh. Lagian lo juga udah setuju buat ngadain permainan ini.”

“Iya,” seorang pria lain yang tinggi dan berkacamata menyahut. Wajah pria itu tampak ketakutan, tapi sikapnya sangat tenang, seolah-olah ia sudah mulai terbiasa dengan suasana menyeramkan yang tercipta di ruangan itu. “Lo kan bilang sendiri kalo pertanyaan itu ingin lo ketahui jawabannya. Tanpa permainan ini, lo nggak akan pernah tahu jawabannya.”

Lemon menoleh ke arah pria itu, dan untuk sesaat, keraguan terbersit di wajahnya.

“Aduh udah, nggak usah aja, deh, Ray,” si gadis merengek, “Lagian kita kan nggak perlu tahu jawabannya. Semua udah ada takdirnya masing-masing.”

Lemon ganti menatap gadis itu. “Tapi, Liz, gue kepingin buktiin bahwa perkataan temen-temen tentang kita itu salah. Ini satu-satunya jalan.”

Ya kita nggak usah peduliin omongan mereka, dong,” Liz menyahut, “Lagian nggak semua orang berpendapat gitu. Contohnya Anna. Ya, kan, Na?”

Gadis lain yang duduk tepat di samping Liz–yang sepertinya bernama Anna–menoleh dengan wajah pucat. Ia mengangguk ragu. “Er i-iya. Mendingan kita bubar aja.”

Tapi Chris sendiri, kan, udah bilang kalo permainan ini nggak berbahaya. Dan lagi, kita bisa tahu jawaban dari pertanyaan Lemon dengan diadakannya permainan ini. Nggak ada salahnya, lah,” pria berkacamata itu berkata.

“Leo bener,” Chris menyetujui. “Nggak ada ruginya mainin permainan ini.”

Setelah kalimat terakhir Chris itu terucap, seisi ruangan langsung diliputi keheningan yang terasa janggal. Sepertinya semua orang sedang berusaha menimbang-nimbang dalam hati, amankah permainan itu untuk dilakukan. Suasana hening masih berlanjut sampai nyaris tiga menit kemudian, sebelum akhirnya seseorang membuka suara.

“Cuma satu pertanyaan aja, ya?”

“Boleh,” Chris langsung menyahut sambil menatap si penanya, Lemon, dengan antusias. “Cuma pertanyaan itu aja nggak apa-apa.”

“Oke,” Lemon menjawab.

“Ray, tapi–“

“Udah, lah, Liz. Pertanyaan itu penting banget buat kita,” sela Lemon. Tatapan matanya menyapu wajah Liz dengan intens, membuat gadis itu menelan ludah.

“Oke,” katanya pada akhirnya, “Cuma satu. Oke.”

Ruangan kembali dilanda keheningan. Semua orang saling berpandang-pandangan, seolah telah berhasil mencapai kesepakatan yang menyangkut hidup dan mati. Akhirnya, Chris berdeham dan mengambil selembar kertas besar dari bawah kursi tempatnya duduk. Bersamaan dengan kertas itu, dikeluarkannya pula sekeping koin, paku, dan bolpoin.

“Jadi,” katanya sambil menata peralatan itu di atas meja, “Pertama-tama, kita tulis nama masing-masing di atas kertas ini.”

Hening. Semua orang hanya memandangi Chris dengan tatapan horor.

“Nggak ada yang mau mulai duluan?” Chris bertanya. Masih belum ada yang merespons. Ia mengangkat bahu dengan pasrah. “Oke, gue duluan, kalo gitu.”

Dengan tangan kanannya, Chris meraih bolpoin dan membuka tutupnya, kemudian menuliskan nama “CHRISTIAN” besar-besar di bagian atas kertas. Setelah selesai, ia mendorong kertas itu pada Liz. Bolpoin disodorkannya dalam keadaan terbuka.

Liz menggigit bibir bawahnya, kemudian meraih bolpoin yang disodorkan Chris dan mulai menuliskan namanya. Tidak sebesar tulisan Chris, sih, tetapi nama “ELIZABETH” masih cukup jelas terbaca. Setelah menghembuskan napas berat, Liz menyalurkan kertas itu pada Anna yang duduk di sebelahnya.

“Er…, Leo dulu aja, deh,” Anna mencicit. Wajahnya tampak dua kali lebih pucat daripada lima menit lalu. Kini, sekujur tubuhnya bahkan bergetar tidak keruan.

“Mau Leo dulu, kek, mau Lemon dulu, kek, tetep aja ujung-ujungnya elo kudu nulis nama lo juga. Jadi, apa bedanya?” Chris berkata.

Anna melirik Chris dengan tatapan membunuh, tetapi dengan wajah sepucat itu, alih-alih kelihatan seram, dia malah kelihatan seperti orang yang sedang kepingin kabur secepat mungkindan sepertinya memang begitu kenyataannya.

Dengan tangan bergetar, Anna mulai menorehkan nama “YULIANNA” di atas kertas. Tulisannya bahkan lebih kecil daripada milik Liz. Getaran di tangannya juga membuat tulisan itu menjadi amburadul. Tapi tampaknya hal itu tidak akan mengganggu prosesi pengundangan yang sedang mereka lakukan. Buktinya, Chris sama sekali tidak memprotes.

Setelah Anna selesai, kertas itu didorong pada Leo yang duduk di hadapannya. Pria itu menyambar kertas itu dan cepat-cepat menuliskan nama “LEO” di bawah milik Anna. Kertas itu disalurkan lagi pada Lemon, yang duduk tepat di sebelahnya.

Lemon menerima kertas itu dengan ragu-ragu. Pandangan matanya berpindah-pindah antara Chris dan Liz, dan kakinya bergerak-gerak gelisah. Setelah memantapkan hati, ia menghela napas panjang dan mulai menuliskan namanya di atas kertas. Baru menulis huruf L, ia sudah mendapat protes sengit dari Chris.

“Eh, eh, eh!” Chris memekik, “Nulis nama yang bener, dong!”

Apanya yang salah? Ini kan–

“Pake nama asli, Bego,” Chris memotong. “Atau prosesinya nggak akan berhasil. Lo nggak akan dihitung peserta. Otomatis lo nggak bisa tanya juga.”

Lemon mendesah frustasi. “Dicoret boleh, nih?”

“Terserah lo, ah! Lemot banget, sih? Keburu Halloween lewat, nih. Nggak seru, ah, lo,” Chris menggerutu. Sepertinya kesabarannya sudah nyaris habis menghadapi teman-temannya yang penakut.

“Iya, iya, sabar,” Lemon mendumel sambil mencoret huruf L yang telah ditulisnya dan menggantinya dengan nama “RAYMOND”. Setelah nama itu selesai dituliskannya, Chris menyambar kertas itu dan tersenyum puas.

“Oke, bagus,” katanya misterius. Ia kemudian berdiri dan mencondongkan tubuh ke depan sambil mengulurkan tangan yang memegang lembaran kertas berisi nama-nama mereka itu. “Sekarang, kita akan panggil dia.

“Mau lo apain kertasnya?” Leo bertanya.

“Bakar,” Chris menjawab santai. “Udah, deh. Kalian diem aja. Nurut sama gue.”

Setelah memastikan tidak ada lagi yang berniat memprotesnya, Chris segera membakar kertas itu dengan lilin yang terletak di tengah-tengah meja. Kertas itu dengan cepat dimakan api, menyisakan serbuk abu yang bertebaran ke mana-mana bersamaan dengan asap yang membumbung ke atas. Semua orang kecuali Chris terbatuk-batuk.

“Chris!” Liz memekik setelah berhasil menghentikan batuknya, “Kok serem gini, sih?”

Chris tidak menjawab, dan malah menggumamkan kata-kata yang terdengar seperti mantra. Anna langsung meringkuk di balik bahu Liz. Raut wajahnya tampak nyaris menangis.

“Aduh…,” gumamnya ketakutan, “Kalo kita mati gimana, dong?”

“Tau, tuh,” Liz merengek, “Chris serem banget, ah.”

Semua orang masih memandangi Chris dengan horor saat pria itu tiba-tiba menghentikan kegiatannya merapal mantra. Ia menghela napas panjang dan berkata lantang. “Kuru, kuru!”

Kuru?” Lemon berbisik pada Leo, “Apa tuh maksudnya?”

Leo mengedikkan bahu. “Kok kayak bahasa Jepang gitu, sih?”

Chris tidak menghiraukan kebingungan teman-temannya. Diambilnya paku dan mulai digoreskannya ke atas meja besi. Ia menulis sesuatu yang tampak seperti huruf Jepang.

“Apa, tuh?” Lemon berbisik lagi pada Leo. “Dia bisa bahasa Jepang?”

Leo lagi-lagi mengedikkan bahu. “Nggak tahu. Kok perasaan gue nggak enak, ya?”

“Sama,” sahut Lemon, “Perasaan gue juga nggak enak.”

Chris menjatuhkan paku di tangannya ke lantai, kemudian duduk dengan tenang di tempatnya semula.

“Nah,” katanya misterius. Matanya tampak berkilat-kilat, membuat Anna mempererat pelukannya pada lengan Liz. “Kalian lihat dua huruf yang gue tulis di meja itu, kan?

Hening. Tidak ada yang bersuara. Semua hanya memandangi Chris dengan gugup.

“Huruf yang itu,” Chris menunjuk salah satu huruf yang letaknya persis di depan Leo dengan jari telunjuknya, “Artinya ‘ya’. Kalo koinnya gerak ke situ, berarti jawaban pertanyaan itu ‘ya’. Sebaliknya, kalo koinnya gerak ke sini,” Chris memindahkan jari telunjuknya ke huruf yang terletak lebih dekat dengan tempatnya duduk, “Berarti jawabannya ‘tidak’. Simpel, kan?”

Masih belum ada yang menjawab. Suasana di dalam ruangan menegang.

Sekarang, kita mulai permainannya,” Chris menyambung santai, tidak mempedulikan suasana yang terasa begitu canggung sekaligus mencekam. Ia memejamkan mata seperti sedang berdoa dan mengangkat koin tinggi-tinggi.

“Gawat, nih, gawat…,” Anna berbisik gelisah pada Liz. Jemarinya mencengkeram lengan temannya itu erat-erat, tampak begitu ketakutan. Liz sendiri juga tak kalah pucatnya dengan Anna. Sekujur tubuhnya gemetaran.

Chris meletakkan koin di atas meja dengan sangat hati-hati. Ia membuka mata dan memandang satu-per-satu teman-temannya dalam gerak lambat. “Kawan,” katanya lantang, membuat semua orang berpandang-pandangan.

“Err…, apa?” Leo menyahut ragu, mengundang pelototan dari Chris. Pria itu menggumamkan “Siapa juga yang ngomong sama elo?” tanpa suara.

Leo beralih memandang Lemon dengan kebingungan. “Maksudnya bukan kita? tanyanya.

“Tau, tuh,” Lemon menjawab, “Kirain kita. Pantes bahasanya alay banget.”

Dari bawah meja, Chris menendang kaki Lemon dengan kakinya yang panjang, mengisyaratkan pria itu untuk diam. Lemon menyumpah-nyumpah tanpa suara, tetapi akhirnya diam juga.

Setelah suasana sudah hening kembali, Chris menghela napas panjang dan melanjutkan, “Bolehkah aku mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu?”

Hening.

Sepertinya kali ini semua orang sudah tahu bahwa Chris tidak sedang berbicara dengan mereka, melainkan dengan kawan lain yang sudah ia undang.

Suasana terasa menegangkan. Semua orang memandang Chris dan koin di hadapannya secara bergantian, menanti hal apa pun yang akan terjadi.

Awalnya tidak ada jawaban atas penantian mereka, tetapi, sekitar semenit kemudian, sesuatu yang janggal mulai terjadi.

Koin di hadapan Chris perlahan-lahan bergerak menjauh.

Semua orang spontan tersentak. Anna bahkan nyaris terjatuh dari kursinya dan menjerit kesetanan kalau saja Liz tidak menahannya. Mereka semua sadar bahwa teriakan histeris bukanlah sesuatu yang diharapkan oleh si kawan lain.

Koin itu perlahan-lahan berhenti tepat di atas huruf ‘ya’, saat semua orang sudah hampir kehabisan napas saking kagetnya.

Tidak ada yang bereaksi. Semua hanya memandangi koin itu dengan ngeri.

“Sekarang saatnya lo tanya, Mon,” Chris berbisik dengan nada mendesak saat menyadari tidak ada satu pun di antara keempat temannya yang cukup berani untuk membuka suara.

Lemon tersentak kaget. “Gue?” Tanyanya, “Sekarang?”

“Iya, lah!” Chris menjawab, “Lo kan tadi bilang mau tanya.”

Lemon berdeham gelisah. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan irama tak beraturan. Ia memandang koin di atas meja dan Liz secara bergantian.

Liz memberi isyarat mata yang kurang-lebih berarti permohonan agar Lemon mengurungkan saja niatnya untuk bertanya. Namun, alih-alih mempengaruhi Lemon, isyarat itu malah membuat tekadnya makin bulat. Rahangnya mengeras seketika.

Setelah menghela napas panjang, Lemon membuka suara. “Hai err, Kawan,” katanya ragu, “Gue mau–“

Aku,” Chris mengoreksi dalam sebuah bisikan sambil menendang pelan kaki Lemon dari bawah meja.

“Oke, aku,” Lemon pasrah. “Aku mau tanya sesuatu.”

Ruangan kembali diliputi keheningan yang janggal. Lemon sepertinya masih sibuk mengatur dirinya sendiri serta menyusun kata-kata, sementara yang lainnya memandangi pria itu penuh penantian.

“Apa…,” Lemon menggantungkan kalimat sejenak di udara. Setelah memandang berkeliling ke arah teman-temannya, ia menyambung, “Apa guakudan Liz ditakdirkan bersama?”

Sedetik setelah pertanyaan itu meluncur dari mulut Lemon, kelima orang itu langsung menjatuhkan pandangan pada koin di atas meja dengan harap-harap cemas.

Seperti beberapa saat yang lalu, koin itu bergeming. Tak seinci pun gerak dilakukannya dalam waktu nyaris tiga menit.

“Kok nggak gerak?” Liz berbisik pelan pada Anna.

Anna menggigit bibir bawah. “Ng-nggak tahu…,” gumamnya, “Seharusnya gue seneng karena koin itu nggak gerak, tapi kayaknya ini nggak bakal berakhir secep–AKH!”

Tepat saat itu pula, keping koin itu meluncur cepat dan berputar-putar di antara kedua huruf Jepang yang tertoreh di atas meja. Anna menjerit-jerit kesetanan, sudah tak mampu lagi menahan rasa takutnya. Lemon memasang ekspresi penuh harap di balik wajah pucatnya yang ditundukkan. Liz mati-matian berusaha untuk tidak berteriak sembari sibuk menenangkan Anna yang sedang mencengkeramnya erat-erat. Leo memalingkan wajah dan memejamkan mata. Hanya Chris saja yang sanggup bersikap tenang dalam situasi seperti ini. Pria itu malah menatap lurus ke arah koin sambil bergumam tak jelas–mantra atau apa pun, yang jelas tidak ada yang berharap ia sedang memantrai koin itu agar memproyeksikan wujud asli si Kawan.

Suasana hening menyergap sesaat setelah Liz berhasil membuat Anna berhenti berteriak histeris. Seisi ruangan membeku. Tak ada suara, tak ada gerak, dan tak ada hal berarti. Hanya saja, masih belum ada satu pun di antara mereka yang berani memandang ke arah koin di atas meja. Semua masih terjebak dalam kengerian luar biasa yang seperti tak akan pernah berakhir.

Dia sudah menjawab,” suara Chris memecah keheningan yang menyiksa di antara mereka berlima. Yah, biar bagaimana pun, hanya ia satu-satunya orang yang berani menyaksikan prosesi itu dari awal sampai akhir tanpa sedikit pun rasa takut.

Perlahan-lahan, keempat orang lainnya memantapkan hati. Leo menoleh perlahan ke arah meja sambil membuka mata. Liz membuka mata dalam gerak pelan. Anna mengintip melalui celah jemari yang digunakannya untuk menutup mata.

Terakhir adalah Lemon, yang sejak tadi menunduk saking takutnya. Ia mengangkat kepala perlahan-lahan dengan wajah pucat.

Kini, perhatian semua orang terpusat pada keping koin yang bergeming di atas meja. Koin yang sudah berhenti bergerak sejak semenit lalu. Koin yang kini duduk manis di atas sebuah torehan huruf Jepang.

Dan huruf itu berbunyi ‘tidak’.

Awalnya, tidak ada di antara mereka yang cukup tenang untuk mencerna jawaban itu. Namun, ketika rona-rona merah mulai kembali ke wajah masing-masing, mendadak saja atmosfir ruangan berubah seratus delapan puluh derajat.

Lemon adalah yang paling cepat bereaksi. Ia berdiri dan menggebrak meja dengan penuh emosi. Anna langsung menjerit ketakutan, mengira hal supranatural lainnya barusan terjadi.

“Raymond!” Chris menegur tindakan Lemon yang mengejutkan seisi ruangan. Namun, pria itu tak lagi peduli. Kini ia tampak nyaris meledak.

“APA-APAAN, NIH?!” Teriaknya tak terima. Hanya butuh satu gebrakan meja lagi olehnya untuk membuat Liz sadar ia perlu menenangkan pacarnya itu.

“Ray, tenang, Ray…,” Liz berdiri dan berlari memutari meja untuk mencapai tempat Lemon. Namun, alangkah terkejutnya ia, pria itu menepis tangannya ketika hendak menahannya agar tak lagi melakukan tindakan gegabah.

Lemon menatap marah ke arah Liz, seakan-akan jawaban ‘tidak’ barusan adalah salah gadis itu. Tatapan itu, tak urung, membuat Liz kaget bukan kepalang. Ia nyaris jatuh kalau saja Leo tidak menahan tubuhnya.

“Apa perkataan orang-orang itu memang bener?!” Lemon berteriak marah, “Apa kita memang nggak cocok bersama?!”

Dalam kegugupannya, Liz masih berusaha menenangkan pria itu sekuat tenaga. “Ray, barusan kan cuma permainan. Belum tentu–“

“CUMA PERMAINAN?!” Lemon memotong kasar. “Bahkan permainan pun berkata kita nggak cocok?! Apalah arti gue buat elo?! Apa gue emang sehina itu?!”

“Ray, gue cinta sama elo. Menurut gue, itu yang terpenting. Apa kata orang itu nggak penting,” Liz berkata dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca dan sekujur tubuhnya gemetaran. Otak dan seluruh organ tubuhnya masih menolak untuk mencerna semua kejadian yang terjadi dalam waktu singkat ini.

“Raymond, lo jangan cari gara-gara, ya!” Chris membentak sambil berdiri. “Dia masih ada di sini! Kita belum ngucapin selamat tinggal! Lo mau kena kutuk?! Cari mati lo?!

“ALAA!! Roh bajingan!” Lemon berteriak emosi dengan seluruh wajah merah padam. Dengan kasar, direnggutnya koin dari atas meja dan dibantingnya ke lantai.

Semua orang melongo dengan takjub. Ruangan kembali hening untuk yang kesekian kalinya. Tak ada pandangan mata yang bisa lepas dari Lemon yang kini terengah-engah, masih dengan urat-urat yang tampak jelas di lehernya.

Suasana sudah hening selama nyaris lima menit saat pria itu membuka suara.

“Mungkin emang bener,” katanya lantang, “Gue emang nggak penting buat siapa pun. Lebih baik gue pergi aja dari sini.”

Setelah kalimat terakhir itu, ia pun menendang kursi di belakangnya hingga terjatuh keras dan mengambil langkah lebar keluar dari ruangan, meninggalkan keempat orang lainnya dalam kengerian yang tak dapat dijabarkan dalam kata-kata. []

TO BE CONTINUED…

STACY IS BACK!

Semoga cerita kali ini mengembalikan Stacy Feels yang udah lama banget ilang dari blog ini ya 🙂 plus, kalian sekarang udah tahu siapa-siapa aja tokoh yang terlibat dalam cerita ini. Jadi, mungkin kalian udah bisa nebak saya sama Viona mau ngambil POV-nya siapa, dan siapa dua karakter yang ‘kami banget’ itu 🙂 tebakannya boleh dishare di footnote :p

Oh, ya. Ada satu hal yang lupa saya omongin. Jadi, setelah berdiskusi dalam waktu yang agak lama (cieilah), saya dan Viona memutuskan bahwa cerita Stacy yang hanya didasari pola cerita yang itu-itu saja tergolong AMAT MEMBOSANKAN, jadi untuk cerita ToT kali ini, berhubung ini SPECIAL Halloween, jadi pastinya ceritanya special juga dong ya 😀 belum tentu bergantung pada stereotip temen-berkhianat-Stacy-bertindak :p karena itu membosankan lol.

So, cukup segitu aja kali ya. Chapter satunya belum selesai, jadi nggak tahu mau dipost kapan. Tapi yang jelas dalam waktu dekat ini lah, nggak jauh-jauh dari Halloween date :p BUBAH!

NOW IT’S SAFE TO LOOK BEHIND YOUR BACK…
Advertisements

One thought on “[STACY’S CURSE] Special Halloween : Torment or Threat (Prologue)

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s