[STACY’S CURSE] Special Halloween : Torment or Threat (Chapter One)

sc-tot

(P.S : as usual, this story is a collaboration with Viona Angelica from shining-hearts. This part of the story probably still isn’t that scary, but still, be careful. My tip is, you better read this alone. Dark room is more likely to bring you the vibe of scariness. By the way, I’m not gonna reveal who’s writing whose POV until you guess. So I’ll be waiting! Oh, and fyi, if you missed the prologue, you can go straight here to check it out. Happy reading!)

DON’T EVER LOOK BEHIND YOUR BACK WHILE READING THIS STORY…

SPECIAL HALLOWEEN STACY’S CURSE

TORMENT OR THREAT

(CHAPTER ONE)

–1 Day before Halloween–

Christian POV

Jam istirahat telah tiba, aku beserta kelima sahabatku berjalan beriringan menuju ke kantin.

Kantin masih kosong, belum ada satupun siswa selain kami berlima.Aku segera menduduki meja paling pojok yang jauh dari para penjual namun dekat dengan lapangan sedangkan teman-temanku segera membeli makanan sesuai dengan keinginan mereka. Yang pertama mendapat makanan adalah Leo, ia segera membawa sepiring nasi ayam kesukaannya dan duduk di depanku.

“Gue duluan ya.” Aku berpamitan sambil meninggalkan kursi menuju ke salah satu penjual makanan. “Bu, nasi soto satu dong.”

Ibu-ibu penjual itu segera menyiapkan pesananku dengan sigap dan cepat bak seorang pelayan profesional. “Makasih Bu.” Kataku setelah membayar dan meraih nasi soto yang masih panas itu.

Aku berjalan dengan sangat hati-hati melewati kerumunan anak yang mulai berdatangan, menuju ke meja di mana teman-temanku sudah duduk. Aku kembali menempatkan diriku di depan Leo, dan segera memakan nasi soto kesukaanku. Semuanya hening, yang terdengar hanyalah suara sendok garpu yang menatap piring dan suara siswa-siswa yang sudah memenuhi kantin.

“Eh ada yang tau nggak besok hari apa?” Aku berusaha membuka pembicaraan.

“Jumat. Emang kenapa?” Leo yang tak paham apa maksudku menyeletuk.

“Dasar Leo bego.” Lemon alias Raymond menyahut tak jelas.

Oh iya, kalau kalian penasaran kenapa Raymond bisa dipanggil Lemon, itu sebenarnya adalah ide dari Leo. Tapi setelah dipikir-pikir Raymond dan Lemon mirip juga, selain itu orang yang termasuk pendek dengan muka pas-pasan pun tak cocok mendapat nama ‘Raymond’ lebih baik kami memanggilnya Lemon saja.

“Lo itu yang bego, emang tau besok hari apaan?” Leo balik menyerangnya.

“Er…” Lemon berpikir keras. “Oh gue tau, besok hari ke tiga puluh satu dari bulan Oktober yang kebetulan jatuh di hari Jumat.” Sahutnya

“Dasar Lemon asem.” Sahut Leo. “Gue tadi cuma bercanda. Jelas-jelas besok hari Halloween.”

“Apa lo bilang? Bisa ulangin sekali lagi yang bagian awalnya?” Lemon segera berdiri dari sebelah Liz dengan tampang dan kelakuan sok jagoan. Namun walaupun ia berdiri seperti sekarang, ia masih tampak lebih pendek dari kami–aku dan Leo(saat kami berdiri)

“Nggak papa.” Leo mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya. “Butuh waktu seribu tahun buat ngulangin kata-kata gue ke orang tuli kaya lo.”

“Eh gue nggak tuli!” Katanya tak terima sambil bersiap menghantam muka orang berkaca mata yang duduk di samping Anna.

“Eh ngajakin berantem lo? Sini maju, gue nggak takut. Tapi kalo lo nangis, nggak usah lapor-lapor ke nyokap ya.” Ledek Leo.

“Eh udah dong, masa setiap ketemu kalian pasti berantem? Sekali-sekali akur kek.” Liz menarik Lemon agar ia kembali duduk di sampingnya. Untunglah ia melakukan hal ini, jika tidak sebentar lagi akan terjadi perang dunia ketiga walaupun sudah jelas akan dimenangkan oleh Leo.

“Iya-iya Liz sayang.” Lemon menyahut sok mesra.

“Cih gombal.” Leo berkata keras-keras sambil memperagakan orang muntah.

“Udah-udah! Gimana kalo besok kita adain permainan apa gitu yang berhubungan sama hantu-hantuan, atau mau bikin pesta kostum siapa tahu ada yang ngikut gitu?” Teriakku frustasi sambil mengacak-acak rambutku yang sengaja kupotong mirip Rain.

Yah, memang banyak yang bilang sih mukaku 11-12 sama Rain, jadi sekalian saja aku memodel rambutku agar menjadi kembarannya(Siapa tahu bisa numpang tenar)

“Hantu?” Anna membeo. Mukanya memucat hanya dengan mendengar kata itu.

“Gue sih setuju-setuju aja, kayaknya seru tuh.” Leo menyahut sambil menaikkan kedua alis tebalnya.

“Gue sih mending nggak usah aja daripada nanti roh halusnya ngamuk trus ngejar-ngejar kita.” Lemon menyeruput kuah rawonnya dengan santai dan hati-hati. “Kalian nih harusnya lebih mikirin keselamatan temen-temen dong.”

“Halaah… Lemon-Lemon. Bilang aja lo takut! Nggak usah pake alibi-alibian deh.” Leo yang sejak tadi sudah bersuasana hati tak senang kembali mengajak Lemon ke dalam pertengkaran.

“Eh enak aja—” Liz buru-buru memotong sebelum Lemon kembali menyeletuk hal-hal bodoh. “Udah Ray, nggak usah dibales lagi, gue udah capek ngedengerin kalian debat.”

“Kok gitu sih? Kok lo ngelarang gue buat ngelawan Leo yang jelas-jelas udah ngerusak citra gue sebagai seorang cowok berani?” Lemon tiba-tiba beranjak dari samping Liz. Wajahnya tampak merah padam, rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya, dan urat mukanya pun menegang mendandakan ia sedang marah besar.

“Plis deh Ray, gue bukannya ngelarang lo buat ngebela harga diri, gue cuma capek dengerin kalian debat nggak mutu dan nggak ada gunanya.” Liz menjelaskan sambil ikut berdiri dan berusaha membuat Lemon kembali duduk dengan memegang pundaknya dengan halus.

Sebelum kusadari, siswa-siswa yang berada di kantin sudah menaruh perhatian pada kami berlima, khususnya pada Lemon dan Elizabeth.

“Nggak!” Lemon menggebrak meja. “Gue nggak mau tau!” Ia yang sudah kehilangan akal sehat malah menangkis tangan Liz dari pundaknya.

“Heh! Heh! Udah lah tadi kan cuma hal sepele Mond, nggak usah sampe segitunya juga kali.” Anna yang sepertinya juga menyadari kalau kami jadi pusat perhatian mencoba menentramkan suasana.

“Diem lo! Nggak usah ikut-ikut!” Lemon berteriak lantang sambil menggebrak meja yang kedua kalinya masih tak sadar kalau dirinya menjadi pusat perhatian.

Dan karena ia sudah menggebrak meja DUA KALI, sotoku jadi tumpah. Tentu saja aku tak tinggal diam melihat sotoku mubazir hanya karena orang emosional sepertinya.

“Heh, sama cewek nggak boleh kasar-kasar. Apalagi sama Liz, pacar lo sendiri.” Aku berusaha mengingatkannya sambil memberi isyarat lirikan agar ia menyadari kalau sudah banyak teman-teman yang berkerumun di sekitar kami.

“Lo tau apa hah? Orang jomblo kaya lo nggak tau permasalahan orang-orang yang udah taken deh.” Kata Lemon seenaknya.

“Terserah lah lo mau ngapain!” Kataku frustasi. “Yang penting, soto gue yang udah lo tumpahin, lo tukerin!”

Bagus perkataanku barusan membuatnya agak sadar akan keadaan, ia mulai melihat ke sekitar, mulai dari siswa-siswa yang sedang menatap kami, sampai ke sotoku yang tumpah di meja.

“Heh!” Teriak Leo dengan lantang dan penuh emosi. Suasana hati Leo sekarang sedang tak baik dan penuh emosi seperti halnya Lemon dan ini adalah pertanda buruk. “Lo pikir, lo sama Liz itu cocok? Nggak! Lo beruntung dapet cewek secantik dan sebaik dia, seharusnya lo berterima kasih dan nggak nyia-nyiain gitu aja!”

“Enak aja! Gue sama Liz itu pasangan tercocok sedunia! Dan dia pacar gue, itu berarti gue berhak ngelakuin apa aja sama dia!” Emosi Lemon kembali naik, ia menatap Leo dengan tatapan sinis sekaligus merendahkan.

“Oh ya?” Alih-alih marah dengan ucapan tadi, Leo malah tersenyum sinis. “Buat kalian yang merasa Lemon sama Liz nggak cocok angkat tangan!” Perintah Leo pada orang-orang yang mengerubungi kami.

Alangkah mengejutkannya, lumayan banyak siswa-siswa, khususnya teman satu kelas kami yang mengangkat tangannya.

“Kalian semua bajingan!” Lemon berteriak tak senang sampai suaranya menjadi serak di akhir kalimat.

“Udah diem!” Aku menyela dengan suara tak kalah kerasnya dengan teriakan Lemon. “Kalian semua bubar kalo nggak mau gue santet!” Ancamku pada kerumunan orang-orang yang sejak tadi melihat kami.

Satu per satu mereka meninggalkan kantin seiring dengan hilangnya kasak-kusuk tak jelas. Yah sebagai cowok yang katanya ‘diikuti’ aura setan nggak jelas, teman-temanku selalu menyangkut pautkan segala hal gaib padaku, misalnya sapu yang tergantung di pojok ruangan terjatuh, pasti ada saja yang akan berkata : “Chris pasti lagi ngamuk ya sampe ngejatuhin sapu.”

“Dan buat lo Ray, gue nggak suka lo emosional kaya gini!” Aku kembali meneriaki orang bodoh itu.

“Nah lo…, Chris udah marah. Awas lho…, lo bakalan disantet nanti.” Leo yang tak tahu suasana hatiku yang sedang buruk malah menakut-nakuti Lemon.

“Leo, lo juga. Lebih baik lo diem daripada gue santet.” Aku berbisik dengan suara serendah dan semenakutkan mungkin untuk membungkam mulutnya. “Gue punya penyelesaian dari masalah ini.”

“Penyelesaian apa hah? Lo mau bikin gue sama Liz putus gitu?” Sahut Lemon.

“Nggak! Kita tanya sama roh halus pake permainan hantu dari Jepang.” Usulku.

“Roh halus?” Anna membeo dengan penuh ketakutan. Wajahnya pucat hanya dengan mendengar perkataan itu.

“Permainannya simpel kok, nanti biar gue yang nyiapin semuanya.” Kataku tanpa menghiraukan Anna. “Apalagi besok halloween, biasanya kalo ada perayaan hantu kaya gitu, permainan ini lebih akurat ramalannya.

“Oke, gue setuju, Liz, lo juga HARUS setuju ini buat kepanjangan hubungan kita di masa depan.” Lemon berkata sok berkharisma.

“Iya, gue manut deh.” Liz mengikuti kemauan Lemon dengan pasrah.

“Anna lo sebagai minoritas harus ikut ya?” Paksaku.

“Iya deh iya.” Anna menjawab sambil memilin-milin rambut panjangnya seperti biasa.

“Oke kalo gitu, besok kita kumpul di rumah gue, alamatnya di jalan gagak hitam no. 30 B. Jam sepuluh malem nggak boleh telat.”

“Siap deh.” Mereka kecuali Lemon menjawab dengan serentak.

***

Leo POV

“Sinting” mungkin adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan Chris. Kalau kau mengira aku sarkastik, kau bisa menanyai setiap orang dalam sekolah untuk membuktikannya. Yep, kesintingan temanku itu memang sudah terkenal–tidak hanya di kalangan siswa, melainkan juga guru-guru dan karyawan.

Kenapa cowok itu bisa dicap sinting?

Bicara jujur, dilihat dari segi fisik, cowok itu kelihatan normal. Tingginya agak di atas rata-rata–mungkin sekitar seratus delapan puluh tiga sentimeter. Wajahnya lumayan tampan–jangan katai aku gay, aku hanya bicara soal kenyataan. Matanya sipit dan tajam mirip Rain, si bintang Korea yang gosipnya tampan sekali. Menurut pengakuannya, karena dikatai mirip Rain itulah ia sengaja menyamakan model rambutnya dengan model rambut bintang itu di film Full House. Kedengarannya agak banci, aku tahu. Tapi entah mengapa, tidak ada orang yang pernah benar-benar mengatainya “banci”.

Mungkin ini ada hubungannya dengan hal lain yang membuatnya terkenal : dunia gaib.

Dunia gaib?

Yep, aku memang baru saja mengatakan “dunia gaib”. Jangan memandangiku seperti itu. Seharusnya pandangan itu kalian simpan saja untuk Chris saat bertemu dia nanti.

Cowok yang tergolong dekat denganku itu memang suka sekali segala hal berbau mistis–mulai dari hantu, monster, sampai ramalan-ramalan yang tak jelas benar atau tidaknya. Gosipnya, dia bahkan mempunyai segudang boneka voodoo di rumah (aku tak pernah berharap salah satunya mirip diriku, sih). Di sekolah, kerjanya hanya membicarakan ritual-ritual aneh yang telah dia lakoni–kebanyakan ritual pemanggilan hantu. Hal itu, tentu saja, membuat semua orang ketakutan. Karena itulah, muncul aturan tak tertulis bahwa jika kau mengusik Chris, kau bakalan kena santet atau disatroni Sadako saat tengah malam.

Sekarang cowok itu mau menyeret kami untuk melakukan salah satu ritual anehnya.

Menurut kalian bagaimana perasaanku?

Apa pun jawaban yang ada di kepala kalian, semuanya salah besar.

Takut, ngeri, ingin mengubur diri dalam-dalam di tanah? Tidak. Aku tidak merasakannya.

Kalau ada jawaban yang benar, itu adalah senang.

Oke, sekarang kalian boleh memandangiku seperti itu. Toh aku kedengaran sama sintingnya dengan Chris.

Kenapa tepatnya aku merasa senang, ini tentu ada hubungannya dengan Elizabeth alias Liz, cewek yang sudah lama kutaksir–mungkin sudah sekitar dua tahunan ini. Aku tahu, aku bukan satu-satunya cowok yang naksir cewek itu. Kalau dihitung-hitung, mungkin malah ada lusinan cowok yang mengklaim bahwa mereka menyukai Liz. Maklumlah, dia sangat cantik. Perangainya juga lemah lembut, tidak seperti kebanyakan cewek di sekolah kami yang hobi bergosip dan membuat onar dengan menangis di kelas (maksudku, siapa juga yang peduli soal pacar mereka yang tiba-tiba tidak ada kabarnya?)

Kalau pun ada kekurangan dalam diri Liz, itu adalah bagaimana seleranya sangat rendahan. Bayangkan saja, di antara lusinan cowok ganteng yang menyukainya (yep, ganteng. Banyak yang bilang, kok, kalau aku ganteng), dia malah memilih sebuah lemon hidup yang asemnya sudah menyamai buah sialan itu.

Oke, aku kedengaran kejam banget barusan. Tapi aku tidak mengada-ada saat aku bilang cowok bernama asli Raymond itu asem setengah mati. Lagipula, aku bukan satu-satunya orang yang berkata seperti itu. Cowok yang biasa dipanggil Lemon itu memang sudah terkenal kesongongannya di seluruh sekolah. Sudah bodoh, masih sok pintar pula. Sedikit-sedikit tersinggung, sedikit-sedikit marah. Punya barang bagus langsung pamer-pamer ke sepenjuru sekolah. Pokoknya tipe cowok yang tidak cocok diajak berurusan, deh.

Adanya aku berteman dengan Lemon juga karena terpaksa. Kalau aku tidak sok bersikap manis di depannya (yang sering gagal, seperti di kantin tadi siang), Liz pasti bakal menjauhiku. Tapi aku sendiri juga tahu, cewek itu tidak akan pernah melirikku walaupun aku sudah sok dekat-dekat dengannya.

Beruntung, tidak ada satu pun penghuni sekolah yang mendukung pasangan Lemon-Liz. Bisa dibilang, semua orang malah heran akan kenyataan bahwa Liz mau-maunya dipacari oleh Lemon. Chris bahkan mengaku bahwa dia sudah menerima sekitar tiga permintaan tolong untuk menyantet Lemon–yang semuanya tidak dia sanggupi (sayang sekali).

Mungkin kalian bertanya-tanya, apa hubungannya hal ini dengan permainan yang akan kami lakukan besok.

Jadi, sebaiknya kuberitahu kalian bahwa aku punya sebuah ide brilian yang muncul tiba-tiba saat sedang bengong di kelas tadi.

Begini, pertama-tama, dari semua fakta yang telah kubeberkan di atas, dapat disimpulkan bahwa permainan besok adalah momen yang sangat menentukan bagi pasangan tak serasi itu. Aku jelas tahu bahwa Lemon bukan tipe orang yang bisa berpikir logis (well, mungkin itu bukan salahnya bahwa dia terlahir tanpa otak). Hasil permainan besok pasti akan ditelannya mentah-mentah. Dipadukan dengan perasaan dan tindakannya yang selalu labil, aku yakin dia bakal membahagiakan seisi sekolah kalau sampai jawaban pertanyaan konyolnya itu berbunyi “tidak” (jelas, lah. Siapa juga yang tidak bakal senang kalau pasangan aneh itu putus mengenaskan?)

Tepat sekali. Dari situlah ide brilianku muncul.

Dan, yah, ide itu juga yang membuatku mau repot-repot mentraktir Chris dua mangkuk bakso di kantin selepas ekskul dan memandanginya makan sambil berusaha menahan air liur lantaran kantong sudah kosong melompong.

Aku tahu, cowok itu pasti punya cara untuk membantuku. Sebagai orang yang sering mengadakan ritual-ritual aneh, dia pasti–paling tidak–mengerti cara mengakalinya. Lagipula, dia kan bukannya goblok. Logikanya pasti berjalan untuk sekedar permainan yang telah ia pahami, kan?

Tapi… well, ini bukan orang sembarangan. Ini Christian, manusia yang tak pernah peduli soal kesintingannya yang populer itu. Kalau kau mau bukti soal kesintingan itu, coba saja lihat kelakuannya saat ini. Bukannya membicarakan permintaan tolongku secara serius, dia malah makan dengan lahap tanpa mempedulikan keadaan sekitar.

Lama sekali aku hanya mengamati cowok rakus itu tanpa berkata-kata, sampai akhirnya kesabaranku meluap entah ke mana saat ia sudah nyaris meludeskan bakso di mangkuk kedua.

“Jadi, gimana?” Tanyaku dengan nada mendesak. Yang ditanya malah hanya melirik acuh.

“Ya gitu, deh,” katanya kurang ajar.

“Gitu gimana?” Cecarku tak sabaran.

“Ya gitu. Gue setuju,” jawabnya dengan nada datar sambil menyeruput kuah bakso. Aku melongo seketika.

“Lo serius apa nggak, sih?” Tanyaku sebal.

“Serius, lah,” jawabnya, “Orang gue juga dari awal udah kepingin ngerjain pasangan tukang bikin heboh itu.”

Alisku langsung berkerut. “Maksud lo?”

“Gara-gara pasangan itu, mendadak gue direcoki tawaran pekerjaan buat nyantet. Jelas lah gue kesel. Makanya gue juga kepingin pasangan itu bubar aja,” jelasnya, masih sambil menyantap bakso di dalam mangkuk tanpa bahkan melirik ke arahku.

“Jadi? Tanpa gue minta, lo juga udah memiliki rencana yang sama?”

“Kurang-lebih,” jawabnya cuek.

“Kampret!” Umpatku, “Trus buat apa gue nraktir elo bakso? Dua mangkuk pula!”

“Nggak tahu,” jawabnya sambil menelan mentah-mentah bakso terakhir di dalam mangkuk. “Gue juga bingung kenapa lo tiba-tiba berbaik hati nraktirin gue. Makasih, ya.”

Aku menghela napas berat untuk menahan emosi. Untung aku bukan Lemon. Kalau dia, sih, pasti meja kantin sialan ini sudah kena gebrak.

“Sama-sama, deh, Pret,” jawabku asal.

“Lo emang temen yang baik,” katanya, semakin asal. “Baksonya enak banget, lho, hari ini.”

Dan aku hampir berubah menjadi Lemon saat bunyi perutku yang nelangsa semakin menjadi-jadi.

“Lo kelihatan marah,” kata Chris datar sambil mengelap bibirnya dengan tisu.

“Lupain,” dengusku, “Sekarang, kita straight ke rencananya aja.”

“Rencana apa?”

“Chris, plis, deh,” aku memutar kedua bola mata. “Ya rencana biar jawaban pertanyaan besok bisa ‘tidak’!”

“Bisa atau tidak?”

“Lo minta digampar, ya?”

“Nggak,” jawabnya datar, “Tapi aduh, kedengarannya sakit.”

“Bakal sakit kalo beneran,” kataku, luar biasa emosi menghadapi tingkah temanku yang lemot ini. Memang tak salah kalau dia dikatai sinting. Bukan hanya gara-gara kedekatannya dengan dunia gaib, tapi dia sendiri saja sudah sinting. “Serius, kek! Gimana caranya biar saat pertanyaan itu ditanyain besok, jawabannya ‘tidak’?”

Chris membuka mulut, dan aku yakin dia akan bertanya, “Pertanyaan yang mana?” Maka, segera kupelototi dia sampai keinginannya untuk terus mengalihkan topik pembicaraan meluap entah ke mana. Memahami maksud pelototanku, dia melengos.

“Itu mah gampang,” jawabnya pada akhirnya.

Aku mengangkat sebelah alis. “Lo sungguhan tahu caranya?”

“Jelas tahu,” katanya, “Asal lo tahu aja, ya, sebenernya semua permainan yang ada kaitannya dengan hantu bisa diakali. Lo pikir apa yang dilakuin para sutradara dan lakon film horor saat mereka harus bikin adegan pemanggilan hantu? Manggil hantu beneran?”

“Ngedit pake komputer?” Usulku.

Chris kagok. “Eh, iya juga, ya,” gumamnya, “Ah, lupain soal perumpamaannya, deh! Intinya, gue tahu cara buat mengakali permainan besok.”

“Dijamin berhasil?” Tanyaku.

“Seratus persen,” jawabnya mantap. “Lo hanya perlu datang sekitar sepuluh menit lebih awal ke rumah gue. Di sana, gue akan jelasin apa yang perlu lo lakuin.”

“Sepuluh menit lebih awal?” Ulangku, “Nggak terlalu mepet, tuh? Ntar kalo–”

“Caranya gampang banget, kok,” potongnya, “Anak TK aja pasti bisa.”

“Nggak, maksud gue, ntar kalo ada kesalahan teknis gimana? Kan kita nggak bakal punya waktu ekstra buat–”

“Nggak mungkin ada kesalahan teknis,” Chris memotong lagi, “Gue jamin seratus persen. Lo tenang aja.”

Untuk sesaat, aku memandangi temanku itu ragu. Aku tahu dia bukan tipe orang yang suka berbohong atau salah perkiraan, tapi entah mengapa, rencana ini terasa sangat ambigu.

“Ceritain ke gue soal rencana lo,” kataku pada akhirnya.

“Gue rasa nggak perlu,” jawabnya langsung sambil melengos, “Bikin males. Mending besok aja lo lihat sendiri.”

Keningku berkerut curiga. Tepat saat aku membuka mulut untuk memprotes, Chris berdiri cepat.

“Gue ada urusan. Harus pulang sekarang,” katanya, “Sampe ketemu besok.”

Setelah berkata demikian, cowok itu berjalan keluar dari kantin, meninggalkanku yang masih diliputi rasa penasaran. Saat aku hendak mengejarnya, ia malah berhenti dan menoleh singkat.

“Makasih sekali lagi buat baksonya,” katanya acuh untuk yang terakhir kali, sebelum akhirnya sosoknya benar-benar menghilang dari jarak pandang.

***

Christian POV

Aku sudah menyiapkan semuanya.

Saat ini aku sedang duduk sendirian di meja besi yang barusaja kumasukkan ke kamar, alias tempat yang akan digunakan untuk ‘ritual’. Kulirik jam dinding berbentuk burung hantu yang tergantung di atas kamarku. Burung itu menunjukkan pukul sembilan lebih empat puluh menit. Masih kurang sepuluh menit lagi dari jadwal janjianku dengan Leo.

Aku berdiri untuk menyalakan lilin yang memang sengaja kusediakan di pinggir atas kasurku. Kalau kalian bertanya-tanya kenapa aku menyimpan lilin di kamar? Aku memerlukan mereka untuk mengadakan ritual-ritual pemanggilan hantu yang biasa kulakukan untuk mengetahui banyak hal. Contohnya soal-soal yang akan dikeluarkan guruku bila ada ulangan esok hari. Dan selain itu kalau terjadi mati lampu aku bisa langsung menyalakan lilin tanpa perlu gelap-gelapan mencari lampu emergency.

Setelah itu aku berjalan menuju boneka ‘peliharaanku’ yang diberikan almarhum kakekku dulu. Boneka gadis kecil dengan kulit putih pucat, memakai kimono asli Jepang dengan rambut yang panjang karena sudah kurawat lumayan lama. Ya, nama original boneka ini adalah boneka Okiku. Boneka yang rambutnya terus tumbuh layaknya seorang gadis kecil. Aku memberinya nama lagi yaitu Yurigame-san.

“Christian! Ini ada temenmu dateng.” Suara mamaku terdengar jelas dari luar.

“Iya Ma, suruh langsung masuk kamar aja.” Teriakku tak kalah kerasnya.

Tak lama kemudian, Leo sudah bergabung denganku memandangi boneka Okiku yang duduk manis di rak.

“Er… Bonekanya lucu.” Ia membuka pembicaraan. “Tapi gimana kalo kita mulai rencana brilliant lo itu?”

“Rencana yang mana?” Kataku asal sambil memalingkan wajah dari Yurigame-san menuju ke Leo.

“Chris, lo bener minta digampar ya?” Ancamnya.

“Nggak juga.” Sahutku. “Oke deh daripada kelamaan mending gue langsung kasih instruksi lo harus apa.” Aku langsung duduk di salah satu kursi yang tadi sudah kusiapkan. “Jadi gini, permainan ini gue kreasiin dari permainan papan ouija.”

“Papan apaan? Owie ja?” Leo banyak tanya.

“Nggak penting.” Aku menghela napas panjang. “Intinya, nanti gue pura-pura manggil hantu di depan kalian. Tapi tenang, hantunya nggak gue panggil beneran karena gue berniat nggak ngelakuin salah satu step buat manggil hantunya.” Aku berusaha menjelaskan. “Trus nanti bakal gue sediain satu koin yang ceritanya udah dihinggapin hantu. Nah nanti waktu si Lemon nanyain pertanyaan itu, lo tinggal make magnet ini buat nggerakin koin dari bawah meja, menuju ke tulisan yang bakal gue tulis di deket lo. Tulisannya gini.” Aku menggambarkan tanda ‘はい’ di secarik kertas. “Nah, artinya ya. Ya realitanya kurang lebih kaya gini.” Aku menggerakan tanganku–yang membawa magnet—di bawah meja besi untuk menggerak-gerakan koin yang ada di atas meja besi.

“Oh oke gue paham.” Leo menyanggupi sambil langsung menyahut magnet yang menggerakan koin itu.

“Nah dan buat jaga-jaga kalo ada yang lainnya yang mau nanya, gue juga bawa satu magnet buat nggerakin koin ke tulisan yang bunyinya ‘nggak’ deket gue, kaya gini bentuknya.” Jelasku sambil menggambarkan huruf ‘ノー’ di bawah tulisan tadi.

Leo yang sedang asyik menggerak-gerakan koin yang terikat medan magnet itu tak menghiraukan kata-kataku.

“Ya udah gitu aja, sekarang kita tunggu yang lainnya dateng.” Aku kembali beranjak berdiri dari kursi untuk meraih sebuah lilin sekaligus menyembunyikan Yurigame-san agar ia tak dapat melihat kecuranganku malam ini.

***

Sekarang sudah pukul sepuluh tiga puluh, dan ketiga tamuku yang ditunggu-tunggu sudah datang. Namun ada seorang lagi yang belum datang. Orang itu adalah orang yang paling suka ngaret, si Lemon.

“Lemon mana nih? Udah ngaret setengah jam lho.” Leo yang sudah tak sabarpun akhirnya memprotes.

“Bentar-bentar, tadi sih katanya udah otw.” Liz menjawab sambil mengecek kembali ponselnya.

“Berapa jam yang lalu?” Anna ikut nimbrung. “Jangan bilang udah satu jam yang lalu.”

“Er…” Gumam Liz sambil masih mengotak-atik ponselnya. “Sekitar lima belas menit yang lalu.”

“Berarti bentar lagi dia dateng.” Aku menarik kesimpulan.

Dan benar, baru saja aku mengatupkan mulut, Lemon sudah membuka pintu kamarku tanpa permisi dan langsung menerobos masuk, lalu duduk di sebelah Leo.

“Ayo mulai! Lama amat?” Lagi-lagi orang tolol itu memprotes.

“Lo pikir yang bikin acara ini ngaret siapa?” Leo memelototi Lemon dengan tatapan tergarangnya.

Suasana hening.

Aku berdiri untuk menyalakan lilin yang ada di tengah meja besi tempat semuanya menghadap, lalu berjalan ke arah sakelar untuk mematikan lampu untuk menciptakan suasana seram.

Karena aku melakukan ini, senyuman dan rasa santai dari teman-temanku mulai pudar, terutama Anna yang tiba-tiba tampak seperti mayat hidup karena wajah pucatnya terkena cahaya yang masuk melalui ventilasi kamarku.

Aku kembali duduk sambil tersenyum semisterius mungkin lalu mengetukkan jari-jariku ke atas meja besi sepert tokoh antagonis di film-film. Karena bosan, akupun berusaha memecah keheningan, “Kenapa, sih?”

“Ng… Chris,” Liz, orang yang paling pemberani di antara tiga temanku–Ray,Anna, dan Liz– membuka suara. “Apa… lo nggak merasa ini agak keterlaluan?”

“Keterlaluan apanya?” Aku hanya mendengus untuk membuat efek seram lebih merasuk lagi ke tubuh mereka. “Kalian kan udah setuju untuk mengadakan permainan ini. Lagipula, gue udah pernah mencobanya. Nggak berbahaya, kok.” Karangku.

“Tapi… hari ini kan Halloween. Mungkin bakal terjadi sesuatu yang berbeda, kan?” Gadis itu menyahut lagi. Volume suaranya memelan, nyaris tercekat. Wajahnya pun ditekuk.

“Halloween itu kan cuma tanggal yang ditandai manusia buat bikin acara sendiri,” Aku berusaha membenarkan kesalah pahamannya mengenai ‘Halloween’. “Hantu, roh, dan makhluk-makhluk gaib lainnya nggak tahu apa itu Halloween. Manusia aja yang suka mengada-ada.”

“Kalo Halloween cuma dibikin buat mengada-ada, berarti aslinya itu nggak penting, kan?” Lemon menyahut kurang ajar. Aku bisa merasakan kalau ia sedang diliputi ketakutan namun berusaha menutupinya (iya lah, dia kan penakut tapi sok jago)

Aku memandanginya sejenak, kemudian mengangguk.

“Ya udah, kalo nggak penting, mendingan kita bubar aja. Lagian kita bikin acara permainan absurd ini dalam rangka Halloween, kan?” Lemon kembali menyeletuk kurang ajar.

“LEMON!” Aku sengaja membentak untuk membuatnya kaget. Kemudian terbesit ide untuk menakuti cowok satu ini, “Jaga mulut lo! Nggak ada hantu atau roh yang suka dikatai absurd. Bisa-bisa kita diganggu nanti.”

Namun ia malah balik memprotes, “Nggak usah dikatain absurd juga kita udah tergolong cari mati dengan ngadain permainan kayak gini. Lihat aja kamar lo ini. Udah bener-bener kayak sarang dukun.”

Sialan, kamar gue dibilang kaya sarang dukun, kalo nggak gara-gara mau ngerusak hubungan Liz sama Lemon dia udah gue cincang. “Mereka nggak mengganggu asalkan lo nggak mengusik mereka duluan,” kataku. “Contohnya gue. Selama ini, gue udah mencoba berbagai macam permainan tanya-jawab sama hantu-hantu itu. Tapi mereka nggak pernah ngeganggu gue, tuh, setelah itu. Karena apa? Karena gue melakukannya sesuai prosedur, nggak aneh-aneh. Gue nggak mengatai hantu itu apa-apa, apalagi absurd.”

“Berhubung tadi gue udah terlanjur ngatain mereka absurd, mending kita bubar aja, deh. Daripada ntarnya diganggu,” Lemon masih belum mau menyerah.

“Permainannya belum mulai. Mereka belum dateng. Mungkin aja mereka nggak denger dan itu nggak jadi masalah,” Aku bersikeras. Kalian tahu sendiri kan kalau permainan ini tiba-tiba batal, apa yang bakal terjadi? Selain aku bakal digampar Leo, pasangan Lemon-Liz bakalan bertahan dan itu artinya permintaan-permintaan untuk menyantet Lemon tidak akan berhenti. Saat Lemon sudah mau memprotes lagi, aku buru-buru menyela, “Nggak usah banyak alesan, deh. Lagian lo juga udah setuju buat ngadain permainan ini.”

“Iya,” Leo membantuku. “Lo kan bilang sendiri kalo pertanyaan itu ingin lo ketahui jawabannya. Tanpa permainan ini, lo nggak akan pernah tahu jawabannya.”

Lemon menoleh ke arahnya, dan untuk sesaat, keraguan terbersit di wajahnya. Tentu saja ini membuatku bahagia karena keinginannya untuk membatalkan permainan ini jadi berkurang drastis berkat hasutan Leo.

“Aduh… udah, nggak usah aja, deh, Ray,” Liz merajuk. Wajahnya memancarkan tatapan bahwa ia tahu bahwa ada sesuatu yang ganjil dengan permainan ini. “Lagian kita kan nggak perlu tahu jawabannya. Semua udah ada takdirnya masing-masing.”

Lemon ganti menatapnya dengan sok gentle. “Tapi, Liz, gue kepingin buktiin bahwa perkataan temen-temen tentang kita itu salah. Ini satu-satunya jalan.”

“Ya kita nggak usah peduliin omongan mereka, dong,” Liz menyahut, “Lagian nggak semua orang berpendapat gitu. Contohnya Anna. Ya, kan, Na?”

Anna yang duduk di samping Liz, mengangguk takut-takut sambil sesekali melirik ke arahku. “Er… i-iya. Mendingan kita bubar aja.”

“Tapi Chris sendiri, kan, udah bilang kalo permainan ini nggak berbahaya. Dan lagi, kita bisa tahu jawaban dari pertanyaan Lemon dengan diadakannya permainan ini. Nggak ada salahnya, lah,” sahut Leo.

“Leo bener. Nggak ada ruginya mainin permainan ini.” Kataku.

Dan ternyata perkataan terakhirku berhasil membungkam mulut-mulut criwis yang banyak ngoceh terutama mulut Lemon. Setelah keheningan yang cukup lama ini, tiba-tiba Lemon berkata, “Cuma satu pertanyaan aja, ya?”

“Boleh.” Aku langsung menyahut sebelum ia berubah pikiran. “Cuma pertanyaan itu aja nggak apa-apa.”

“Oke,” Lemon menjawab.

“Ray, tapi–”

“Udah, lah, Liz. Pertanyaan itu penting banget buat kita,” sela Lemon tak sabar.

“Oke,” katanya pada akhirnya, “Cuma satu. Oke.”

Setelah keheningan kembali menyelimuti ruangan gelap yang sudah berbau ‘kelilin-lilinan’ aku berdeham dan mengambil selembar kertas besar dari bawah kursiku. Bersamaan dengan kertas itu, aku juga mengeluarkan sekeping koin yang tadi sudah diuji coba bersama Leo, paku, bolpoin serta magnet yang kuletakkan di bawah meja, tempat koin berada. Magnet itu dengan sendirinya menempel ke sana.

“Jadi,” Aku menata peralatan-peralatan tadi di atas meja agar terlihat rapi. “Pertama-tama, kita tulis nama masing-masing di atas kertas ini.” Kataku sambil menyediakan selembar kertas dengan bolpoin di atasnya di tengah meja.

“Nggak ada yang mau mulai duluan?” Tanyaku pada orang-orang yang malah memandangiku dengan tatapan horror. “Oke, gue duluan, kalo gitu.” Kataku pasrah.

Aku segera meraih kembali kertas dan bolpoin di sana, kemudian menuliskan nama “CHRISTIAN” besar-besar di bagian atas kertas. Setelah selesai, aku sengaja mendorong kertas itu pada Liz, yang tampaknya masih belum begitu ketakutan.

Liz menggigit bibir bawahnya, kemudian meraih bolpoin beserta kertas tadi. Ia menuliskan kata “ELIZABETH” dengan ragu-ragu. Setelah menghembuskan napas berat, Liz menyalurkan kertas itu pada Anna yang duduk di sebelah kanannya.

“Er…, Leo dulu aja, deh,” Anna menolak. Wajahnya tampak dua kali lebih pucat daripada lima menit lalu. Kini, sekujur tubuhnya bahkan bergetar tidak keruan. Dan ini menandakan aku dan Leo berhasil meyakinkannya.

“Mau Leo dulu, kek, mau Lemon dulu, kek, tetep aja ujung-ujungnya elo kudu nulis nama lo juga. Jadi, apa bedanya?” Protesku.

Ia melirikku dengan tatapan tak senang, namun akhirnya ia menghela napas dan mulai menulis.

Dengan tangan bergetar, ia mulai menorehkan nama “YULIANNA” di atas kertas. Getaran di tangannya juga membuat tulisan rapinya berubah menjadi amburadul.

Setelah ia selesai, kertas itu didorong pada Leo yang duduk di hadapannya. Dengan cepat ia menuliskan “LEO” di bawah tulisan Anna. Kertas itu disalurkan lagi pada Lemon, yang duduk tepat di sebelahnya.

Lemon menerima kertas itu dengan ragu-ragu. Pandangan matanya berpindah-pindah antara ke arahku dan Liz, kakinyapun bergerak-gerak usil hingga tak sengaja menendang kakiku yang duduk dekat dengannya. Lalu ia menghela napas panjang dan mulai menuliskan sesuatu di atas kertas. Namun yang ia tulis adalah huruf ‘L’. Tentu saja aku langsung memprotesnya, “Eh, eh, eh!” Pekikku, “Nulis nama yang bener, dong!”

“Apanya yang salah? Ini kan–” Ia malah kebingungan.

“Pake nama asli, Bego,” potongku. “Atau prosesinya nggak akan berhasil. Lo nggak akan dihitung peserta. Otomatis lo nggak bisa tanya juga.”

Lemon mendesah frustasi. “Dicoret boleh, nih?”

“Terserah lo, ah! Lemot banget, sih? Keburu Halloween lewat, nih. Nggak seru, ah, lo,” gerutuku sehubungan dengan jam yang sudah hampir menunjukan jam setengah dua belas.

“Iya, iya, sabar,” Lemon mendumel sambil mencoret asal huruf L yang telah ditulisnya dan menggantinya dengan nama “RAYMOND”. Setelah nama itu selesai dituliskannya, aku segera menyambar kertas berisikan nama kami itu sebelum ada yang memprotes dan ingin mencoret namanya dari daftar.

“Oke, bagus,” kataku sambil berdiri dan mencondongkan tubuh ke depan. Lalu kuulurkan tangan beserta kertas tersebut ke arah lilin yang sedang menyala di tengah meja. “Sekarang, kita akan panggil dia.”

“Mau lo apain kertasnya?” Leo bertanya tak pada tempatnya, merusak suasana horror yang kuciptakan.

“Bakar,” jawabku santai seolah tanpa ekspresi. “Udah, deh. Kalian diem aja. Nurut sama gue.”

Setelah memastikan semuanya diam, aku segera membakar kertas itu. Dengan cepat lembaran tersebut dimakan api, menyisakan serbuk abu yang bertebaran ke mana-mana bersamaan dengan asap yang membumbung ke atas. Untung saja aku menahan napas, jadi aku bisa menghindari virus batuk-batuk seperti yang diidap teman-temanku.

“Chris!” Liz memekik membuatku kaget. Namun setelah aku menoleh padanya, aku malah merasa bersalah karena hidungnya berubah menjadi hitam akibat asap tadi. “Kok serem gini, sih?”

Alih-alih menjawab, lebih baik aku pura-pura membaca mantera asal agar terhindar dari amukan teman-temanku.

“Aduh…,” Anna kembali menggumam ketakutan, “Kalo kita mati gimana, dong?”

“Tau, tuh,” Liz merengek, “Chris serem banget, ah.”

Sepertinya mereka tak akan menuntutku sekarang, jadi lebih baik segera kuakhiri acting menjadi dukunku. “Kuru, kuru!” Kataku dengan lantang.

Kubuka mataku perlahan dan kudapati hidung mereka sudah bersih seperti semula. Aku menghela napas lega lalu meraih paku dan mulai digoreskannya ke atas meja besi. Kutuliskan huruf-huruf kanji tadi, yang berbunyi ‘ya’ kutuliskan di dekatku, sedangkan yang berbunyi ‘tidak’ kutuliskan di dekat Leo agar dia mudah menggerakan koinnya ke sana.

“Nah,” kataku setelah menjatuhkan paku itu ke lantai, menimbulkan bunyi ‘kling’ yang lumayan keras. “Kalian lihat dua huruf yang gue tulis di meja itu, kan?”

Semua tatapan mata tertuju padaku, yang entah kenapa membuatku merasa agak canggung, maka aku melanjutkan penjelasanku, “Huruf yang itu,” Aku menunjuk salah satu huruf yang letaknya persis di depan Leo. “Artinya ‘ya’. Kalo koinnya gerak ke situ, berarti jawaban pertanyaan itu ‘ya’. Sebaliknya, kalo koinnya gerak ke sini,” Aku memindahkan arah tunjukanku ke huruf yang berada di dekatku. “Berarti jawabannya ‘tidak’. Simpel, kan?”

Masih belum ada yang menjawab. Suasana di dalam ruangan mulai menegang.

“Sekarang, kita mulai permainannya,” sambungku santai, lalu aku memejamkan mata seperti sedang berdoa, mengangkat koin tinggi-tinggi sambil komat-kamit tak jelas.

Kuletakkan koin di atas meja seraya  membuka mata dan memandang satu-per-satu teman-temanku dalam gerak lambat.(Entah kenapa aku merasa seperti orang bodoh, tapi ah sudahlah) “Kawan,” Seruku.

“Err…, apa?” Leo menyahut ragu-ragu. Spontan aku memelototi Leo, lalu aku menggumam, “Siapa juga yang ngomong sama elo?”

Leo malah beralih memandang Lemon dengan kebingungan. “Maksudnya bukan kita?” tanyanya.

“Tau, tuh,” Lemon menjawab, “Kirain kita. Pantes bahasanya alay banget.”

Kutendang kaki Lemon dengan lumayan keras, tentu saja bukan karena ada roh halus yang akan mengamuk, tapi karena ia mengata-ngataiku alay.

Setelah suasana sudah hening kembali, aku menghela napas panjang dan melanjutkan, “Bolehkah aku mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu?”

Sesaat suasana di sini hening. Baguslah tak ada yang bertindak bodoh lagi, jadi aku tak perlu menendang mereka satu per satu.

Aku sengaja memberi selang beberapa waktu hingga semuanya sudah mulai tak percaya, baru menggerakan magnet di bawah meja menuju ke kata ‘ya’ di dekatku. Untung saja tak ada yang mengetahuinya.

Namun setelah ‘si koin’ sudah sampai menuju ke huruf tujuannya, tidak ada yang bereaksi. Semua hanya memandangi koin itu dengan ngeri.

“Sekarang saatnya lo tanya, Mon,” Desakku tak sabar.

Lemon tersentak kaget. “Gue?” Tanyanya, “Sekarang?”

“Iya, lah!” jawabku, “Lo kan tadi bilang mau tanya.”

Lemon berdeham gelisah. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan irama tak beraturan membuat kebisingan. Ia memandang koin di atas meja dan Liz secara bergantian.

Setelah diam tanpa kata-kata selama berabad-abad, Lemon membuka suara. “Hai… err, Kawan,” katanya ragu, “Gue mau–”

Aku,” koreksiku agar dia lebih grogi lagi. Entah kenapa, aku mulai menikmati untuk  mempermainkannya.

“Oke, aku,” Lemon pasrah sambil melirik padaku. “Aku mau tanya sesuatu.”

Lagi-lagi ia diam tanpa kata-kata dan aku–maksudku kami, harus menunggu berabad-abad lagi.

“Apa…,” akhirnya ia menyambung lagi, “Apa gu–aku–dan Liz ditakdirkan bersama?”

Apa akhirnya aku dan Liz ditakdirkan bersama? What a stupid question! Sumpah rasanya saat ini juga aku mau tertawa terbahak-bahak tetapi aku tahu itu akan membuat kedok kami terbongkar jadi aku menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan wajah-menahan-tawaku.

“Kok nggak gerak?” Liz berbisik pelan, membuatku tersadar kalau koin ini harus kugerakkan dengan tanganku bukan bergerak dengan sendirinya.

Anna menggigit bibir bawah. “Ng-nggak tahu…,” gumamnya, “Seharusnya gue seneng karena koin itu nggak gerak, tapi kayaknya ini nggak bakal berakhir secep–AKH!”

Sebelum Anna menyelesaikan kalimat bodohnya aku segera menggerakkan koin itu mengelilingi meja dulu baru menuju ke tempat Leo (yang duduk di sebelahku) agar ia menyambungkannya ke huruf yang berarti tidak. Liz dan Anna langsung berteriak-teriak kesetanan–hal ini membuatku agak takut kalau-kalau mereka ternyata kesetanan beneran– Semuanya tak sanggup melihat. Termasuk Leo yang oon malah ikut terkejut dan memalingkan wajah.

Ini kesempatanku.

Kutendang kaki Leo agar ia tersadar dan segera menyalurkan koin itu ke huruf ‘tidak’ sebelum semuanya kembali membuka mata.

Dia sudah menjawab,” Aku–secara tak langsung–menyuruh mereka melihat ke sini.

Perlahan-lahan, keempat orang lainnya (termasuk Leo yang kusuruh beracting ketakutan sekalian) menoleh perlahan-lahan.

Kini, perhatian semua orang terpusat pada keping koin yang bergeming di atas meja. Koin yang sudah berhenti bergerak sejak semenit lalu. Koin yang kini duduk manis di atas sebuah torehan huruf Jepang.

Dan huruf itu berbunyi ‘tidak’.

Awalnya, tidak ada di antara mereka yang bereaksi, tetapi semenit kemudian, terjadilah reaksi terheboh of the year yang ditampakkan oleh…, Lemon.

Ia langsung menggebrak meja (as usual) tapi kali ini diikuti teriakan Anna yang mengira hal supranatural terjadi.

“Raymond!” Tegurku agar ia tidak mengobrak-abrik kamar tercintaku dan membuat onar di rumahku jadi mamaku tak akan ngomel-ngomel.

“APA-APAAN, NIH?!” Teriaknya tak terima. Hanya butuh satu gebrakan meja lagi olehnya untuk membuat Liz sadar ia perlu menenangkan orang gila–pacarnya–itu.

“Ray, tenang, Ray…,” Liz berdiri dan berlari memutari meja untuk mencapai tempat Lemon. Namun, alangkah terkejutnya ia, pria itu menepis tangannya ketika hendak menahannya agar tak lagi melakukan tindakan gegabah.

Lemon menatap marah ke arah Liz, seakan-akan jawaban ‘tidak’ barusan adalah salah gadis itu. Tatapan itu, tak urung, membuat Liz kaget bukan kepalang. Ia nyaris jatuh kalau saja Leo tidak menahan tubuhnya.

“Apa perkataan orang-orang itu memang bener?!” Lagi-lagi pertanyaan bodoh terlontar dari mulutnya (jelas saja jawabannya ya kan?), “Apa kita memang nggak cocok bersama?!”

Dalam kegugupannya, Liz masih berusaha menenangkan pria itu sekuat tenaga. “Ray, barusan kan cuma permainan. Belum tentu–”

“CUMA PERMAINAN?!” Lemon memotong kasar. “Bahkan permainan pun berkata kita nggak cocok?! Apalah arti gue buat elo?! Apa gue emang sehina itu?!”

“Ray, gue cinta sama elo. Menurut gue, itu yang terpenting. Apa kata orang itu nggak penting,” Liz berkata dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca dan sekujur tubuhnya gemetaran.

“Raymond, lo jangan cari gara-gara, ya!” bentakku sambil ikut berdiri, mencari-cari ide untuk menenangkannya. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali menakutinya. “Dia masih ada di sini! Kita belum ngucapin selamat tinggal! Lo mau kena kutuk?! Cari mati lo?!”

“ALAA!! Roh bajingan!” Lemon berteriak emosi dengan seluruh wajah merah padam. Dengan kasar, direnggutnya koin dari atas meja dan dibantingnya ke lantai.

Ahh sial, menakutinya bukanlah option yang tepat, tau gitu tadi aku memilih option untuk memanggil arwah Yurigame-san untuk menerkamnya hitung-hitung sebagai makanannya. Tapi sekarang yang perlu dilakukan adalah mencegah agar ia tak mengobrak-abrik barang-barang koleksiku, mulai dari uangku yang menggelinding entah ke mana. (Padahal kan bisa untuk beli es the atau semacamnya)

Bukannya membantuku, semua orang malah melongo dengan takjub. Ruangan kembali hening untuk yang kesekian kalinya. Tak ada pandangan mata yang bisa lepas dari Lemon yang kini terengah-engah seperti habis lari marathon.(kecuali pandanganku yang mencari-cari ke mana perginya duitku tadi)

Suasana sudah hening selama nyaris lima menit saat Lemon membuka suara.

“Mungkin emang bener,” katanya lantang, “Gue emang nggak penting buat siapa pun. Lebih baik gue pergi aja dari sini.”

Setelah kalimat terakhir itu, ia pun menendang kursi di belakangnya–Kursiku LAGI–hingga terjatuh keras dan mengambil langkah lebar keluar dari ruangan, meninggalkan kami semua.

Dan sesuai prediksiku sebelumnya (yang tidak kuceritakan pada kalian) Liz dan Anna langsung ikut mengejar-ngejar Lemon keluar setelah pamit. Kini tinggal aku dan Leo saja yang terdiam di tempat masing-masing.

***

Leo POV

Aku tidak mengerti apa yang terjadi.

Seingatku, situasi masih berjalan di bawah kendali sampai beberapa menit yang lalu. Aku bahkan sempat bersorak dalam hati untuk kemulusan jalannya rencanaku dengan Chris yang–sebenarnya–agak-agak konyol itu.

Lalu tiba-tiba Lemon mengamuk, dan aku langsung tersadar akan suatu hal :

Seharusnya aku ingat bahwa cowok itu punya tempramen yang tak kalah buruknya dengan Squidward Tentacles.

Oke, malah mungkin sepuluh kali lipat lebih parah daripada si pegawai Krusty Krab jelek itu. Tempramen Lemon memang tidak ada tandingannya.

Lantas mengapa aku sempat berharap ia akan tercengang, kemudian duduk dan menangis tersedu-sedu sampai Liz jadi jijik dibuatnya?

Maksudku, ayolah, Leo. Itu kan nggak mungkin terjadi. Sekarang cowok itu malah ngamuk dan pergi tanpa permisi. Seharusnya rencana ini bisa dipermak jadi lebih baik–dengan mengikat dulu semua pemainnya ke kursi supaya tak ada yang bisa kabur seenak jidat, misalnya?

Tapi, saat ini, tak ada yang benar-benar bisa kulakukan. Tambahan lagi, setelah Lemon pergi, aku jadi ikutan kaget. Sebelum aku sempat bereaksi, Liz sudah berlari mengejar pacarnya itu duluan–membuatku dua kali lebih kaget daripada sebelumnya.

Oh, man. I’m screwed.

Semua ini benar-benar menyimpang dari skenario sempurna yang telah kususun di kepalaku. Padahal, aku sudah siap menjalankan Rencana B yang kedengarannya tidak buruk-buruk amat lantaran mengira Liz bakalan terlalu syok untuk mengejar Lemon.

Dalam bayanganku, cewek itu bakal menjatuhkan diri ke lantai dan menangis heboh, sementara aku bisa mengeluarkan akting terbaikku dengan berjongkok dan memandanginya penuh simpati. Lalu aku bakal berkata, “Tuh, kan. Bener kata orang-orang. Dia memang nggak cocok buat cewek sebaik elo. Dia terlalu jahanam.”

Oke, mungkin aku perlu membuang kata “terlalu jahanam” yang kedengaran keren itu supaya tak dikira antagonis di sini. Tapi, pokoknya, aku bisa membayangkan dia akan mendongak dan berkata, “Iya, mereka bener ternyata. Sekarang gue nyesel pernah pacaran sama buah asem itu. Gue pacaran sama elo aja, deh, mulai detik ini. Anjrit, lo ganteng banget.”

Lalu aku akan berkata, “Asyik!” dan menyambung, “Eh, kalo udah nyadar gitu, kenapa lo tetep nangis?”

“Karena lo belum meluk gue,” dia akan berkata, “Kan di film-film, kalo ceweknya nangis, biasanya cowoknya meluk dulu baru ceweknya bisa diem. Gitu.”

Dan aku akan menyahut, “Oh, iya juga, ya.” Lalu bakal terjadi adegan pelukan paling romantis sepanjang masa, and we all live happily ever after.

Sayangnya, skenario yang agak-agak melantur–atau malah melantur banget–itu langsung buyar begitu Liz berlari keluar tanpa ba-bi-bu sambil meneriakkan nama Ray–yang sama sekali tidak cocok untuk cowok jelek tempramental itu–berkali-kali.

Kekacauan bertambah parah saat Anna bangkit berdiri dan berseru, “Liz! Tunggu!”

Dan setelah itu, aku benar-benar spaced out. Anna berlari keluar mengejar sahabatnya itu sambil menangis histeris. Ia sempat membanting pintu keras-keras, membuat Chris berteriak syok.

“Astaga! Pintu gue!”

Saat kusadari aku tidak membalas teriakan Chris itu dengan kata, “Dasar alay”, aku langsung tahu bahwa aku masih terlalu syok untuk berbuat apa-apa. Yang bisa kulakukan hanya memandangi cowok paranoid itu dengan muka bengong yang sumpah-bego-banget.

Butuh waktu bermenit-menit bagi si Goblok yang kupandangi itu untuk menyadari bahwa aku sedang dilanda kekagetan luar biasa yang tak memungkinkanku untuk melakukan apa pun di bawah kendali otak. Ia memiringkan kepalanya dengan tampang risih dan berkata, “Iya. Gue tahu kita berhasil.”

Perkataan itu, tak urung, membuatku kepingin meloncat berdiri dan menamparnya sampai mental ke Antartika. Maksudku, berhasil? Bagian mana dari malam ini yang membuatnya berpikir rencana sialan itu berhasil?

Tapi, yah, kembali lagi pada fakta bahwa sekujur tubuhku masih beku tidak keruan. Satu-satunya kemajuan yang dilakukannya hanyalah mengizinkanku untuk memutar kedua bola mata dan mendesah frustasi sambil memalingkan wajah.

Tanpa perlu melihat pun, aku tahu bahwa Chris berusaha untuk tetap tenang saat ia kembali duduk di kursinya sendiri.

Suasana mendadak hening dalam waktu yang cukup lama. Keheningan ini terasa janggal, mengingat baru beberapa menit yang lalu, ruangan ini dipenuhi huru-hara heboh berkat Lemon yang kini sudah menghilang entah ke mana diikuti Liz dan Anna. Aku masih belum sudi menatap Chris, tetapi aku tahu cowok itu sedang memandangiku–entah dengan tatapan macam apa.

“Gue nggak tahu apakah harus merasa senang atau sedih dengan keberhasilan rencana kita ini,” katanya tiba-tiba, saat kusangka keheningan sudah bakal menjebolkan ruangan yang besarnya tidak seberapa ini. Aku menoleh dan bersiap melontarkan protesku bahwa rencana sialan itu sama sekali tidak berhasil. Tetapi, sebelum suara sempat keluar dari mulutku, Chris sudah melanjutkan duluan, “Seharusnya, sih, semuanya udah selesai sampe di sini. Tapi, entah kenapa, perasaan gue nggak enak. Rasa-rasanya, sesuatu yang buruk bakal terjadi.”

Dalam kondisi biasa, kata-kata seperti itu tak bakalan membuat nyaliku gentar barang secuil pun. Tapi, berhubung ini Chris yang sedang berbicara, perasaanku jadi ikutan tak enak. Tambahan lagi, kami baru saja mengalami peristiwa yang kurang mengenakkan. Bulu kudukku jadi semakin tegak berdiri.

“Err…, perasaan lo biasanya bener atau salah?” tanyaku ragu.

Chris mengangkat bahu. “Kebanyakan bener,” katanya, membuatku semakin merinding, “Tapi kadang salah juga, sih. Namanya juga manusia.”

Aku mendesah berat. “Kacau, deh,” gumamku frustasi. “Trus, menurut lo, perasaan buruk lo itu ada sangkut pautnya sama si Lemon nggak?”

“Jelas,” jawabnya mantap, “Masa lo nggak hafal tabiat cowok itu? Sekali marah, dia bakal bertindak nekad banget. Siapa tahu kali ini dia berani mencelakakan orang karena itu.”

“Tapi dia mau mencelakakan siapa?” Aku bertanya, “Basically, dia nggak tahu kalo kita udah berbuat curang padanya. Mau nyalahin temen-temen lain juga nggak bisa. Toh itu bukan salah mereka, kan? Dia juga nggak tahu kalo beberapa cowok minta bantuan lo untuk nyantet dia. Jadi, sebenernya, dari sudut pandang Lemon, perkara ini bukan perkara dimana dia bisa menyalahkan seseorang atau merencanakan balas dendam terhadap siapa pun.”

“Kalo lo bisa bilang begitu,” Chris menyahut, “Berarti lo udah lupa betapa tak terduganya cowok satu itu.”

Oke, ini hanya aku yang berlebihan atau memang kalimat terakhir Chris itu terdengar rada horor? Seolah-olah Lemon adalah mantan pembunuh bayaran yang sudah keluar dari bui dan sekarang dibuat ngamuk besar olehku sampai-sampai dia lupa kejamnya hidup di bui selama bertahun-tahun.

“Tapi dia nggak tahu kalo kita curang, kan?” Aku mulai panik, “Ya, kan? Ya, kan?”

“Kembali lagi ke kalimat terakhir gue tadi,” kata Chris, “Cowok itu selalu punya cara-cara tak terduga buat menyelesaikan masalahnya sendiri.”

“Misalnya yang kayak gimana?”

“Minta tolong seseorang, mungkin?”

“Contohnya siapa?”

“Ya mana gue tahu!” Chris memekik, “Orang yang mengetahui kecurangan kita, mungkin?”

“Ah, dari tadi lo mungkin-mungkinan melulu! Kapan pastinya? Gue jadi ngeri, nih!” Pekikku tak sabaran. “Lagian emangnya ada yang tahu soal kecurangan kita selain kita sendiri?”

“Ibu kantin yang lagi jualan pas kita diskusi denger, kali?”

Setelah usul Chris itu dilontarkannya, aku langsung menghunuskan tatapan astaga-lo-emang-goblok padanya.

“Kenapa?” tanyanya dengan watados alias wajah tanpa dosa–tipe-tipe wajah yang cocok ditonjok sampai bonyok tak berbentuk.

Aku menghela napas panjang. “Jadi gini, ya, Christian,” kataku sok serius, “Pertama, kemarin itu kita duduknya jauh dari si ibu-ibu kantin. Kedua, kalo duduk deket pun, emangnya dia bakal peduli sama apa yang kita omongin? Ketiga, kalau pun dia denger percakapan kita, emangnya Lemon bakal kepikiran buat nanyain dia? Tahu dari mana si Lemon kalo kita berbuat curang dan mendiskusikannya di kantin? Nggak masuk akal, kan?”

Chris terbengong seketika. Mungkin akalnya baru sampai ke situ. Maklumlah, namanya juga orang sinting. Yang ada di kepalanya paling-paling hanya ide-ide gila yang tak normal dan tak masuk di akal.

Lalu aku teringat sesuatu.

“Oh, ya, satu lagi,” kataku. Chris mengangkat kedua alisnya. Aku melanjutkan, “Yang jualan waktu itu bukan ibu-ibu, tapi bapak-bapak.”

“Masa?” Chris si Goblok malah bertanya.

“Udah, lah,” selaku, “Itu nggak penting. Sekarang, lo kasih tahu gue, apa mungkin si Lemon bakal mengincar kita?”

Chris memalingkan wajah sambil mengangkat bahu. “Entahlah,” katanya, “Secara logika sih enggak. Tapi bocah itu kan nggak waras. Mungkin aja dia ngelakuin sesuatu di luar batas logika. Membantai semua orang yang ngatain dia nggak cocok bersanding sama Liz, misalnya?”

“Lucu. Ha-ha-ha,” kataku datar, “Jangan bilang habis ini lo menduga dia bakal manggil setan atau roh halus buat mencelakai kita.”

Setelah kata-kata itu meluncur dari mulutku, mendadak aku merasa seolah disambar petir. Sebuah kenyataan yang mengerikan menghantam kepalaku kuat-kuat.

Benar juga. Lemon bukannya tak bisa melakukan hal itu.

Padahal aku cuma asal bicara, tapi entah mengapa aku merasa cowok tak waras itu mungkin saja melakukannya.

Chris sepertinya juga menyadari hal yang sama. Kami berdua saling berpandang-pandangan sejenak dalam keheningan. Dan dapat kurasakan suasana menegang dua kali lipat. Berkali-kali tengkukku rasanya tergelitik ngeri.

“Leo…,” Chris bergumam horor, “Lo bener juga.”

Oh, God,” desisku, “Ini nggak bagus.”

Selama beberapa detik setelahnya, aku dan Chris masih berpandang-pandangan dengan ngeri. Lalu tiba-tiba ia mendengus dan memalingkan wajah.

“Gue baru inget,” katanya, “Soal itu kayaknya kita nggak perlu khawatir.”

Aku melongo, “Kok tau-tau ngomong gitu?”

“Iya, kan gue bilang baru inget,” jawabnya, “Untuk minta tolong sama hantu atau roh halus, lo harus mengorbankan sesuatu. Seseorang, lebih spesifiknya. Dan orang itu harus punya barang kembar dengan si pengorban. Kita kan nggak punya barang kembar sama si Lemon, jadi jelas kita nggak mungkin dia korbanin. Lagian siapa yang sudi kembaran barang sama cowok songong kayak gitu? Paling-paling juga pacarnya itu, si Liz. Dan dia nggak mungkin ngorbanin Liz, lah. Gila apa?”

Dahiku serta-merta berkerut. “Cara minta tolong sama hantu masa cuma ada satu doang? Siapa tahu dia pake cara lain?”

“Lo pikir hantu itu nganggur apa? Kita harus punya alesan yang bener-bener bagus buat minta tolong sama mereka. Dia jelas nggak punya alesan bagus,” jawabnya yakin.

“Tapi kan–”

“Lagian dia mana tahu cara manggil hantu? Baru dibohongin aja udah ketakutan sampe pucet gitu. Coba beneran. Bisa mati di tempat dia,” Chris memotong, “Taruhan, dia nggak bakal mau ngulangin peristiwa yang sama lagi dalam hidupnya.”

Giliran aku yang terdiam.

Soal yang terakhir itu, aku tidak bisa membantah, sih. Soalnya, aku yang notabene lebih pemberani daripada si Lemon saja sempat ketakutan setengah mati saat Chris berakting menyeramkan tadi. Tidak bisa kubayangkan bagaimana nasib si Lemon kalau dia sampai nekad mencoba-coba permainan yang jauh lebih berbahaya daripada yang tadi itu.

Oke. Bagus, deh. Setidaknya sekarang aku bisa sedikit bernapas lega.

“Kita perlu kejar mereka nggak?” tanyaku setelah perasaanku sudah lebih tenang. Kucoba memasang tameng berupa kesantaian palsu yang sepertinya rada-rada berhasil, karena Chris tampak ikut rileks saat aku melontarkan pertanyaan itu.

“Kayaknya nggak,” jawabnya, “Ini udah lewat agak lama dari kepergian mereka. Paling-paling juga mereka udah nyasar entah ke mana. Kita tunggu di sini aja. Ntar juga pasti balik lagi.”

“Kok tau? Kalo nggak balik gimana?”

“Tasnya Anna masih di sini, tuh,” Chris menunjuk sebuah tas merah muda yang tergeletak asal-asalan di atas kursi yang tadi ditempati cewek penakut itu. “Lagian dia harus balik untuk bertanggung jawab atas pintu gue yang kemungkinan besar rusak gara-gara bantingannya tadi.”

“Itu kan Anna,” sahutku, “Kalo Liz sama Lemon nggak balik gimana?”

“Ngakunya naksir Liz, tapi wataknya aja lo nggak tahu,” Chris mencibir, “Cewek itu jelas nggak bakal ninggalin Anna sendirian, apalagi setelah kejadian kayak tadi.”

Sebenarnya aku punya banyak argumen yang menyangkut prioritas dan segala macam, tetapi mengingat runyamnya suasana saat ini, kuputuskan untuk tutup mulut saja daripada bikin kacau.

Suasana mendadak hening cukup lama. Kali ini, tidak ada di antara kami berdua yang saling pandang. Kami hanya sibuk dengan dunia masing-masing yang–omong-omong–sepertinya sama bikin pusingnya. Aku menatap menerawang ke belakang bahu Chris, sementara cowok itu memandangi lantai seolah-olah dengan begitu, bakal ada duit muncul secara ajaib di bawah kakinya. Cukup lama aku hanya terbengong sembari menikmati hembusan angin malam yang menyiksa tulang.

Lalu, untuk waktu yang terasa singkat, aku melihatnya.

Bukan. Yang kumaksud bukan Chris, tentu saja–karena toh aku dari tadi melihatnya terus. Yang kumaksud adalah sepasang mata berwarna hitam kelam segelap malam yang menatap tajam ke arahku di tengah gelapnya bayangan yang membelakangi sinar rembulan. Sepasang mata itu tepat berada di luar jeruji besi ventilasi yang rapuh di bagian atas dinding (bisa dibilang sangat tinggi sampai-sampai orang setinggi dua meter pun tak bakal mampu mengintip lewat sana). Tapi aku melihatnya. Aku sungguh melihatnya.

Tatapan mata itu begitu misterius. Hanya dengan sekali pandang saja, mendadak udara di sekitarku jadi terasa lebih dingin. Telingaku menangkap bisikan-bisikan tak berarti yang menyerupai desisan ular. Tubuhku membeku, tak sanggup bergerak. Rasanya seolah-olah sepasang mata itu telah menyerap habis seluruh tenagaku.

Bulu kudukku meremang dan debar jantungku serasa berhenti. Aku ingin berteriak sekencang mungkin, namun bibirku kelu. Hanya dengan melihat binar di matanya saja, aku sudah tahu bahwa siapa pun yang ada di luar sana itu pasti sedang menyeringai lebar saat ini.

Leo…

Bisikan-bisikan di telingaku yang semula tak berarti mendadak jadi terdengar jelas. Seolah siapa pun yang sedang membisikiku sudah semakin dekat denganku–lebih tepatnya sudah di samping telingaku.

Tepat itulah yang membuat seluruh kesadaranku kembali.

Aku terjengkang jatuh dari kursi sambil menjerit ketakutan. Sekujur tubuhku bergetar dan rasa-rasanya aku nyaris pingsan saking ngerinya.

“Leo! Lo kenapa?!” Chris memekik sambil menghampiriku dengan tergesa-gesa. Ia membantuku bangkit, namun aku sudah tak kuasa menahan rasa takut yang menghimpit dadaku.

“S-siapa itu?” racauku tak jelas dengan suara bergetar, membuat Chris kebingungan.

“Apanya yang siapa?” Chris bertanya.

“I-itu… gue… itu…”

“Udah, tenang dulu, tenang,” Chris menepuk-nepuk punggungku bersahabat. “Sekarang lo jelasin pelan-pelan deh, apa yang bikin lo sampe ketakutan gitu.”

“M-mata…,” racauku, “Ventilasi. D-di ventilasi, gue lihat… gue lihat–”

“Lo lihat mata di luar ventilasi?” Chris menebak. Entah hanya imajinasiku atau bukan, sebersit rasa ngeri tampak di matanya selama sepersekian detik.

Aku hanya sanggup mengangguk kaku.

“Yurigame-san…,” Chris bergumam dengan nada mengambang yang tak wajar.

“Apa?” Tanyaku ragu.

“Yurigame-san,” Chris mengulangi perkataannya, kali ini dengan nada mantap dan jelas, “Ada baiknya kita nggak membicarakan dia di sini. Dia nggak akan menyukainya. Tapi dia memang selalu mengawasi gue setiap kali gue melakukan interaksi dengan dunia gaib.”

Aku–yang sudah berhasil duduk di lantai dengan susah payah–tercengang. Entah mengapa, sesuatu di hatiku mengatakan bahwa ada hal yang tidak beres di sini. Hal yang salah. Hal yang tidak seharusnya. “A-apa… Yuri Gummy-san itu berbahaya?”

“Yurigame, maksud lo,” Chris mengoreksi, “Nggak, biasanya dia nggak berbahaya. Tapi tetap saja, membicarakan dia rasanya bukan pilihan yang bijak.”

Aku mengangguk-angguk kaku, walaupun sebenarnya rohku masih serasa melayang entah ke mana. Dengan tertatih-tatih, aku bangkit berdiri dan menegakkan kursi untuk duduk kembali. Debar jantungku masih belum normal, membuat gerak tubuhku jadi linglung.

Chris berusaha sekuat tenaga untuk menenangkanku saat aku sudah berhasil duduk dengan wajah pucat kehijauan dan sekujur badan gemetaran. Tetapi, aku tidak butuh bantuannya.

Kulirik ventilasi tempatku mengalami mimpi buruk beberapa menit lalu dan mendapati bahwa tidak ada apa pun di luar sana selain sebagian bulan yang tertutup awan. Sama sekali tidak ada bekas penglihatanku tadi. Seolah-olah semua itu memang hanya khayalanku yang tak nyata.

Tapi, tidak. Aku tidak bodoh. Aku tidak bakal percaya yang barusan itu hanya halusinasi belaka. Tetapi, walaupun aku tidak mengenal Yurikame-san (atau siapalah tadi namanya), sesuatu di hatiku berkata bahwa sepasang mata hitam berkilat-kilat itu bukan miliknya. Itu bukan dia. Aku hampir yakin itu bukan dia.

Rasanya, sesuatu yang jauh lebih mengerikan sedang menanti kami di luar sana.

TO BE CONTINUED…

Okay *takes a deep breath*, now on to the usual random talk.

Lemme fix my last sentence. This is definitely NOT random, because I feel so damn guilty for making you all wait. And for God’s sake, it’s already November 14 like hell, Halloween was already FIFTEEN days ago. And there I was assuring you that this part wouldn’t take too long to finish. THAT WAS DEFINITELY A LIE, GUYS. And now I’m here talking shit. I’M SO SORRY.

Oh, and actually I kinda posted this later than Viona. She posted it like a few hours ago, and maybe some of you have read this in her blog. Actually this was because I wasn’t at home and WiFi was (or IS) kinda everything to me and there was no WiFi outside so you see the prob. I’m also sorry for adding some talks after the story. I usually don’t do that to SCs because I want you to remain scared and NOT remain wanting to laugh because I always say ridiculous things hella freaky. But I myself realize that this part isn’t scary at all. Not even creepy. And everything’s pretty clear here so yea, here goes the random talk.

Mm… I’m kinda happy that you all guessed wrong. NO, GUYS. We weren’t planning on writing Lemon’s POV at all. Everyone I asked either guessed that I would write Lemon’s and Viona would write Leo’s or conversely. None of you guessed that Chris would have a POV here lol. Maybe it was because he felt creepy in the prologue while actually he was just acting. He is a dummy afterall, lol. All charas here are dummies except for Liz, I think. Hahaha.

Now, this isn’t funny.

So, before getting you all more and more bored, I’ll say goodbye. BABAH! And don’t forget to look forward to reading the next chapter!

NOW IT’S SAFE TO LOOK BEHIND YOUR BACK…
Advertisements

2 thoughts on “[STACY’S CURSE] Special Halloween : Torment or Threat (Chapter One)

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s