[STACY’S CURSE] Special Halloween : Torment or Threat (Chapter Three)

tot-poster-2

I collaborate with fellow blogger, Viona Angelica from shining-hearts, in writing this story. Parts in Christian’s POV are written by her, whilst parts in Leo’s POV are written by me. This story is more adventurous than the previous SCs, but probably still isn’t as scary as ABF or those birthday projects for Stacy, because this is just the turning point of Stacy’s Curse. While reading this story, dark room is preferred because it brings the creepy vibe very well. And it’s so much better if you’re alone. Don’t let anyone peek, because… who knows what will possibly happen to him/her who peeked? I’m not going to tell you, but it’s not something really nice. And I suggest you not to read this before reading the prologue (here), first chapter (here), and second chapter (here), because Chris said that spirits loved to visit and play with someone who read scary stories without even understanding the story. I don’t know whether he lied or not, but please take this seriously.

(P.S : I changed the cover because it’s far from Halloween already, so the pumpkin just doesn’t match. Furthermore, this chapter has NO relation to Halloween at all, and so does the next chapter, chapter four–which we have finished at the moment but will be posted next week. The only thing it has to do with Halloween is that the series of events here are what they get from starting something really dangerous on October 31, 2014. Something really, really, dangerous. So, there you go)

DON’T EVER LOOK BEHIND YOUR BACK WHILE READING THIS STORY…

SPECIAL HALLOWEEN STACY’S CURSE

TORMENT OR THREAT

(CHAPTER THREE)

Leo POV

Kalau aku terbangun dengan kondisi segar bugar dan kesadaran penuh, aku pasti sudah lari dari sini untuk menyelamatkan nyawa.

Kenyataan tidak seindah itu, tentu saja.

Saat aku membuka mataku yang terasa lengket untuk pertama kalinya sejak kejadian mengerikan yang terasa sudah lama sekali itu, kepalaku rasanya pusing. Bukan pusing biasa, melainkan pusing luar biasa yang menyebabkan seluruh dunia rasanya berputar-putar tanpa bisa kukendalikan. Kalau pun ada komentar yang ingin kuucapkan, pasti itu adalah, “Aduh, tolong aku!”

Seakan itu saja belum cukup parah, aku terbangun dalam kondisi menyerupai orang amnesia. Maksudku, aku benar-benar tak bisa mengingat di mana diriku ini, mengapa aku bisa berada di sini, atau bahkan siapa aku ini. Mengapa aku bisa terbaring di atas kasur seempuk kardus dengan kepala dibebat kain putih dan perban di sana-sini, itu juga menjadi pertanyaan besar.

Untungnya, setelah mencoba berkonsentrasi terhadap keadaan sekitar, ingatanku perlahan-lahan kembali.

Aku ini Leo Marvel. Usia enam belas tahun. Baru saja terjun dari jendela perpustakaan sekolah karena dikejar-kejar sesosok hantu gila—walaupun aku tidak bisa memastikan apakah kejadian itu tadi malam, kemarin, sebulan lalu, atau malah sepuluh tahun lalu (yang artinya usiaku bisa saja sudah bukan enam belas lagi, melainkan dua puluh enam). Kondisi fisikku babak belur dan aku nyaris mati—melihat dari rasa sakit tak tertahankan yang menyerang kepalaku, sepertinya aku mengalami gegar otak kecil. Kondisi mental? Hampir sama gilanya dengan hantu tak berhidung yang mengerikan itu.

Kuharap tidak ada informasi yang kulewatkan.

Aku memberanikan diri untuk bangkit duduk perlahan-lahan. Awalnya, rasa pusing yang berdenyut-denyut menyerang semakin kuat, tetapi aku mati-matian menahannya. Setelah lima detik yang terasa sangat menyiksa, akhirnya aku berhasil duduk dengan berpegangan pada bagian samping kasur.

Hal pertama yang kulakukan adalah memutar pandangan ke sekeliling.

Ruangan ini hanya kamar rumah sakit biasa. Dinding putih tanpa cela mengelilingi dengan aksen berupa keramik-keramik putih gading yang entah mengapa mengingatkanku pada ruang kelas. Bedanya, kamar ini tidak sumpek. Malahan, bisa dibilang, suhu di sini sangat dingin berkat AC yang terpasang di sudut ruangan. Meja panjang yang kosong melompong terletak berseberangan dengan kasur tempatku duduk—menandakan belum ada yang berkunjung untuk menjengukku dan membawakan parsel atau semacamnya. Tirai cokelat yang tidak ditutup tergantung lemas di samping tempat tidur, membatasinya dengan meja kecil tempat sebuah remote yang berisi tombol pemanggil darurat dilakban erat. Di meja itu, juga terdapat bunga plastik yang jelas-jelas tidak berbau.

Tidak berbau.

Pemikiran itu membuatku sedikit lebih tenang, sebab setidaknya, aku tidak akan terganggu lagi oleh bau wewangian tak wajar yang berujung mempertemukanku dengan sesosok hantu mengerikan yang berkeinginan membunuhku.

Memikirkan itu, mendadak bulu kudukku berdiri lagi.

Aku merasakan kebas di tangan kiriku, dan segera menyibakkan selimut yang menutupinya menggunakan tangan kananku.

Dan saat itu barulah kusadari, tanganku tidak berada di sana.

Di tempat seharusnya lengan kiri bawahku berada, hanya ada udara kosong yang bersentuhan dengan perban kain berdarah-darah yang membebat lengan atasku yang buntung kuat-kuat.

Mataku spontan melotot. Aku ingin berteriak, namun suaraku tidak keluar. Gelombang rasa ngeri yang menjadi-jadi melanda sekujur tubuhku, membuatnya gemetaran tak keruan. Mendadak, suhu udara di sekitarku serasa turun berpuluh-puluh derajat. Kepalaku pusing dan air mata nyaris menjebol keluar.

Otakku mulai mereka ulang dengan brutal kejadian malam itu. Aku ingat berlari putus asa ke pintu keluar hanya untuk mendapatinya terkunci rapat secara misterius. Aku ingat melompat ke atas meja dan ditarik ke belakang oleh tangan kurus pucat itu. Aku ingat rasa depresi yang menggelitik naluri nekadku sehingga buku hardcover di tanganku kulempar keluar tanpa berpikir panjang.

Dan terakhir, aku ingat melompat keluar dari jendela yang pecah dan membiarkan kepingan-kepingan kaca menggores dan menusuk tanganku.

Serr…

Rasa ngeri yang tak tertahankan menyergapku habis-habisan seiring dengan hembusan angin dingin yang kuharap asalnya dari AC di sudut ruangan.

Pasti gara-gara itu.

Goresan di tanganku pasti telah menimbulkan infeksi dan pembusukan, sehingga lengan bawahku harus diamputasi. Atau mungkin… aku mematahkan lengan itu saat membentur tanah di bawah sehingga tulangku sendiri mencuat dan menusuk dagingku, yang membuatnya tak bisa lagi dipertahankan. Yang jelas, apa pun itu, semuanya mampu membuatku berjengit penuh kengerian dan membantu otakku menyusun hipotesis-hipotesis seramnya hanya untuk membuatku kepingin pingsan lagi saja.

Tidak apa-apa, satu sisi otakku berkata, Setidaknya, kau aman di sini. Tidak ada yang bisa mengganggumu lagi, tidak ada yang bisa…

Baru saja kalimat-kalimat itu nyaris menenangkanku, mendadak tirai di sampingku melambai-lambai pelan. Mataku melotot, dan aku nyaris jatuh dari kasur kalau saja tidak ada pegangan yang menahan tubuhku.

Mataku langsung jelalatan ke sepenjuru ruangan, mencari-cari apa pun yang bisa memberitahuku hari apa dan tanggal berapa ini, serta sudah berapa lama aku terperangkap dalam kondisi tak sadar.

Aku perlu mengetahuinya. Seandainya ini sudah benar-benar lewat sepuluh tahun dari kejadian itu, maka mungkin si hantu sudah menyerah untuk membunuhku. Mungkin dia berpendapat bahwa menungguku sadar selama sepuluh tahun terlalu lama dan merepotkan sehingga memilih sasaran lain untuk dibunuh. Tetapi jika ini baru lewat beberapa jam…

Pandangan mataku tertumbuk pada tas sekolah hitam yang tergeletak di sebelah kanan kasurku, di atas lantai keramik. Tanpa berpikir panjang, aku segera meraih tas sekolah itu dan membongkar isinya. Aku ingat selalu menyelundupkan ponsel di dalam map yang kusimpan di tas ini. Semoga saja benda itu masih ada di sana.

Kalau ada yang bertanya-tanya, apakah membuka ritsleting, menarik map keluar, dan membongkar isi map mudah dilakukan dengan satu tangan saja, maka dengan menyesal, harus kuberitahu kau. Jawabannya : tidak sama sekali.

Dalam kondisi biasa saja, sudah sulit bagi seorang Leo untuk bergerak secepat kilat. Bayangkan saja harus melakukannya dengan satu tangan saja, plus pikiran kacau yang dibayang-bayangi rasa depresi mendalam akibat kehilangan satu tangan secara tidak adil.

Kau tidak boleh menyerah, si otak kurang ajar berkata, Dia bisa saja menangkapmu dan langsung membunuhmu kalau kau lengah.

Yeah, pikirku, Menenangkan sekali, Otak.

Dengan kepayahan, aku akhirnya berhasil menarik mapku keluar. Map hitam itu tampak serapi biasanya, yang kuharap bisa dijadikan pertanda bahwa tidak ada yang mengutak-atiknya selama aku pingsan. Aku mulai membolak-balik halaman demi halaman dari map itu dengan brutal.

Dan akhirnya, tanganku bersentuhan dengan benda hitam kecil yang lumayan berat itu.

Aku sudah tidak tahu lagi harus merasa bagaimana. Lega pun rasanya tidak pas. Bisa saja mengetahui hari dan tanggal saat ini tidak berarti apa-apa. Bisa saja pada akhirnya ia tetap mengejarku tak peduli apa pun kondisinya. Bisa saja aku memang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan hantu gila. Ponsel butut ini jelas tidak bisa mengubah takdir apa pun, kan?

Walau begitu, aku tidak peduli. Tetap kurenggut ponsel itu dan kunyalakan hingga layarnya bercahaya lemah.

Gawat, pikirku, Baterainya.

Saat benda itu sudah berhasil kubuka kuncinya, aku segera membuka aplikasi kalender. Hari dan tanggal memang sengaja tidak kutampilkan di home screen, entah apa tujuanku saat mengatur tetek bengeknya. Yang jelas, hal itu sama sekali tidak membantu saat ini. Cahaya ponsel semakin redup saat layar memuat aplikasi itu, yang menandakan mode hemat baterai sedang aktif. Aku melakukan kesalahan dengan melirik status bateraiku, yang malah membuatku deg-degan sendiri melihat angka tujuh persen tertera di sana.

Saat aplikasi kalender sudah termuat seluruhnya, jantungku rasanya nyaris berhenti.

2 November 2014.

Ponselku dengan segera meluncur jatuh dari tangan.

Dua November?

Benakku berpacu cepat bagaikan kuda liar yang baru dibebaskan dari kandang. Kalau ini tanggal dua November, berarti kejadian mengerikan itu baru terjadi tepat kemarin, dan kemungkinan ia masih mengincarku adalah sembilan puluh sembilan persen.

Tidak. Mungkin lebih.

Kenyataan itu membuatku tidak bisa berpikir. Segala sesuatu terasa kabur di mataku, dan aku hanya bisa merasakan pacuan jantung yang berdebum-debum, menimbulkan rasa gemetar yang berdesir-desir di sekujur tubuhku.

Aku harus lari, tetapi hal itu nyaris mustahil dilakukan—apalagi aku sempat melirik kakiku dan mendapati banyak sekali perban yang menandakan kondisinya tak memungkinkan untuk dibawa lari kabur.

Aku harus melakukan sesuatu, tetapi otakku terlalu kacau untuk berpikir. Mungkin benturan itu masih mempengaruhinya atau bagaimana, aku tidak tahu.

Satu-satunya hal yang bisa kupikirkan hanyalah memanggil orang lain sehingga aku bisa merasa aman.

Maka, kutekan tombol darurat itu.

Tombol itu awalnya menyala sebagaimana seharusnya, tetapi nyalanya hanya bertahan tak lebih dari dua detik. Setelahnya, secara misterius, nyala itu berkedip-kedip sesaat. Kemudian, detik selanjutnya, ia sudah mati, seperti lampu yang mengalami korsleting.

Aku mendongak ke atas dan melihat lampu kamar baik-baik saja. Ini tidak mungkin korsleting. Lagipula, rumah sakit mana yang tidak memasang diesel zaman sekarang? Melihat dari kondisi kamar yang bersih dan modern, ini pasti bukan rumah sakit kuno dan terbengkalai atau semacamnya.

Pikiran-pikiran buruk mulai menyergapku, dan rasanya kepalaku nyaris pecah dibuatnya.

Tenang, Leo, benakku mengingatkan, Mungkin belnya rusak.

Cukup menenangkan, tetapi tetap saja itu berarti tidak ada bala bantuan yang akan datang. Kecuali… kecuali…

Tok tok tok

“Masuk!”

Aku tidak sadar seberapa ketakutannya diriku sampai sahutan spontan itu keluar.

Wow. Aku bahkan tidak mau repot-repot mengulur waktu untuk bertanya siapa si pengetuk yang berada di luar kamar itu.

Aku sudah tidak peduli lagi siapa yang menjengukku. Mau itu dokter atau bukan, yang penting ada yang masuk ke sini, itu sudah cukup bagiku. Bahkan, dalam kegentingan seperti ini, Lemon pun pasti bakal kuterima dengan senang hati. Barangkali dia malah bisa dipakai untuk menakut-nakuti hantu.

Pintu perlahan membuka, menyisakan derit pelan yang nyaris membuatku kepingin mencabut remote tombol darurat dan melemparkannya kepada siapa pun yang sedang membuka pintu. Maksudku, come on! Ngapain dia pakai membuka pintu itu pelan-pelan, sih? Dia pikir ini film horor? Dia pikir penting bagiku untuk mendengarkan bunyi derit yang dipikir-pikir agak seram itu? Seharusnya dia jeblak saja langsung pintu itu hingga terbuka!

Saking emosinya, aku sampai tidak sadar memelototi pintu itu hingga terbuka lebar.

Aku baru sadar saat orang di baliknya bergumam, “Ouch,” sambil mundur selangkah dengan ketakutan.

Oke. Pelajaran pertama, jangan memelototi tamu yang hendak menjengukmu. Dan, pelajaran kedua, jangan punya wajah seram.

Kedua hal itu bakal menakuti gadis mana pun yang masuk ke kamarmu, terutama bila gadis itu adalah Elizabeth.

“Liz!” pekikku langsung. Refleks, aku meraih ponselku yang terjatuh dan memasukkannya asal-asalan ke dalam saku celana. “Sori, tadi… gue… gue kira—“

“Nggak apa-apa,” Liz memotong, walau suaranya terdengar agak bergetar di telingaku. Ia berjalan masuk perlahan-lahan dan melontarkan sebuah senyuman.

Entah hanya perasaanku atau bukan, senyuman itu sepertinya dipaksakan. Entahlah, pokoknya itu tidak terlihat seperti senyumannya yang biasa.

“Bagaimana keadaanmu, Leo?”

Plus, bicaranya kaku. Ini benar-benar menghadirkan kesan seolah aku adalah seorang alien yang seharusnya dijauhi saja daripada ditengok saat mengalami kecelakaan. Dia terlihat terlalu berhati-hati, terlalu… lain.

“Lumayan baik,” kataku, “Tapi tangan gue…”

“Mereka mengamputasinya.”

Lagi-lagi, nada bicara resmi itu. Entah mengapa, hal itu membuatku merasa agak tak nyaman.

Liz tampak lebih cantik daripada biasanya hari ini. Jika biasanya dia selalu mengenakan pakaian berwarna cerah, hari ini, dia mengenakan sweater turtle-neck berwarna hitam yang membuat kulit putihnya nampak bersinar-sinar. Rambutnya yang kecokelatan digerai menyamping, dan ia mengenakan rok abu-abu yang jelas sekali bukan rok seragam—walaupun warnanya mirip, sih. Rok itu tergolong panjang, sebab ia menjuntai cukup jauh di bawah lutut, walaupun bagian dasarnya belum mencapai kaki Liz.

Daya tarik lain yang membuatku nyaris menahan napas adalah sepasang matanya yang entah mengapa tampak lebih dingin hari ini. Dingin yang seolah menerawang entah ke mana. Dingin yang berbeda. Dingin yang… aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tetapi jauh di dasar hatiku, hal itu membuatku agak tak nyaman.

“O-oh…,” gumamku, “Harus… ya?”

“Harus,” jawab Liz tegas, “Terlalu banyak luka gores dan pecahan kaca yang menancap. Tambahan lagi, kau mengalami patah tulang, sehingga patahan tulang itu menembus keluar, menusuk dagingmu sampai terjadi infeksi parah. Lengan bawahmu membusuk. Tidak bisa dipertahankan.”

Bulu kudukku langsung berdiri. Entah mengapa, udara terasa lebih dingin.

Satu lagi perbedaan dalam diri Liz hari ini : dia menggunakan aku-kamu alih-alih gue-lo. Padahal, selembut-lembutnya gadis itu, biasanya dia langsung meng-gue-lo­ semua sahabatnya.

Kecuali aku sudah tidak termasuk sahabatnya lagi.

Atau… ada hal lain yang tidak kuketahui.

“Oh, serem,” balasku sekenanya, “Gue sudah menduga, mungkin salah satunya terjadi ke lengan gue. Tapi, ternyata… err… dua-duanya, ya?”

“Ya,” Liz menjawab singkat.

“Luar biasa…,” gumamku mengambang.

Suasana hening selama beberapa saat. Rasanya aneh berduaan saja dengan gadis yang kau taksir—yang entah mengapa berpenampilan dan bersikap berbeda hari ini—tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Jadi,” aku mencoba memecah keheningan, “Gimana… mereka menemukan gue?”

Liz menatap ke arahku, tetapi entah hanya perasaanku saja atau bukan, pandangan matanya sepertinya diarahkan ke tempat lain, bukan kepadaku. “Seorang… perempuan menemukanmu di lapangan.”

Dahiku berkerut. “Perempuan?” gumamku, “Siswi sekolah?”

“Bukan,” jawab Liz cepat, “Pokoknya, perempuan itu memberitahu orang terdekat, dan mereka membawamu ke sini.”

Perempuan…

Kata itu seakan bergema di ruangan kecil ini, membuatku bertanya-tanya mengapa semakin lama aku merasa semakin tak nyaman, apalagi setelah kata itu diucapkan.

Hantu itu perempuan, kan? Sisi logis otakku memberitahu—yang kuharap tidak pernah dilakukannya, sebab aku malah jadi parno dan penasaran sendiri.

Aku kepingin melupakan perkara itu saja, karena toh aku sudah berada di sini, dan tidak penting siapa yang membawaku ke sini. Tetapi aku tidak bisa. Rasa penasaran yang begitu kuat mendorongku sehingga aku tidak kuasa menahan pertanyaan itu.

“Perempuan itu… kayak gimana?”

“Apa maksudmu?” Liz bertanya cepat.

“Penampilannya,” jawabku, “Kayak gimana penampilannya?”

Liz terdiam. “Apa kamu curiga kamu mengenal perempuan itu, Leo?”

Pertanyaan macam apa itu? Aku sudah hendak bertanya demikian. Maksudku, dia mengucapkannya dengan terlalu kaku, sehingga rasanya begitu canggung.

“Y-yah…,” gumamku, “Siapa tahu.”

“Coba sebutkan ciri-ciri perempuan yang kamu curigai itu,” kata Liz datar. “Mungkin kamu benar.”

“Err…,” aku menggantungkan gumaman ragu di udara.

Matanya hitam kelam berkilat-kilat, nggak ada bagian putihnya. Mustahil. Dia tak akan percaya itu. Mana ada manusia yang matanya seperti itu?

Dia nggak punya batang hidung, cuma dua lubang berdarah-darah yang seramnya minta ampun. Tidak. Yang itu juga tidak masuk akal. Jangan-jangan Liz malah bakal mengira maksudku perempuan itu mimisan (which is sama sekali tidak seram, malah menjijikkan).

Bibirnya robek sampai ke samping kanan-kiri telinga. Darah di robekan itu menetes-netes sehingga kulitnya yang sepucat mayat jadi berbercak-bercak darah amis. Aku jadi kayak psikopat, deh. Lebih mungkin Liz bakal kabur karena mengira aku bakal membunuhnya di tempat.

“Leo?” Liz memanggilku, menyadarkanku bahwa aku sudah bengong terlalu lama untuk memikirkan kata-kata deskriptif yang tepat bagi hantu itu.

“Eh, iya,” sahutku spontan, “Di-dia… matanya…”

“Matanya kenapa?”

“Matanya…”

“Hitam kelam? Berkilat-kilat? Tidak ada bagian putihnya?”

Aku serius saat mengatakan jantungku nyaris melompat keluar dan badanku tersentak ke belakang.

“Liz? Gimana… gimana lo bisa tahu?”

“Dia tidak punya batang hidung? Hanya dua lubang gelap saja?”

Oke, aku merinding sekarang. Mata Liz saat melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu menyala-nyala aneh, membuat insting dan otakku yang sering bentrok tak keruan berteriak bersama-sama, Lari!

Tetapi tentu saja aku tidak mungkin lari.

“L-Liz…?”

“Bibirnya,” Liz berkata, “Sobek hingga ke kanan-kiri telinga? Banyak darah? Seram?”

Bibirku kelu. Sekujur tubuhku rasanya membeku. Aku tahu tidak seharusnya berlama-lama di sini. Sesuatu di benakku terus mendorong diriku untuk kabur, ke mana saja, asal tidak harus bertemu muka dengan Liz.

“Gimana lo bisa tahu?” di tengah kepanikanku, aku berhasil melontarkan sebuah pertanyaan lirih dengan suara serak, sembari merayap pelan-pelan pada pegangan kasur. Aku memaksa kakiku yang masih terluka untuk mengangkat tubuhku sedikit-demi-sedikit, supaya aku bisa kabur kapan pun diperlukan.

Liz menunduk hingga rambutnya menutupi wajah. Entah sedang berpikir atau…

Aku tidak mau memikirkan kemungkinan lainnya. Tepat saat aku siap meloncat berdiri, lampu kamar berkedip-kedip aneh. Kadang nyala, kadang mati. Suhu ruangan turun, dan aku yakin itu bukan hanya perasaanku saja. Tidak ada yang menyentuh remote AC yang entah berada di mana.

Krieeett…

Sebuah suara yang menyerupai suara pintu dibuka menggema di koridor depan ruangan, seolah-olah perempuan yang sedang kami bicarakan barusan keluar dari kamar sebelah dan menimbulkan suara itu.

Tapi aku tahu lebih baik.

Ia tidak mungkin keluar dari kamar sebelah. Sebab…

Akulah dia,” Liz mengangkat kepalanya, dan tampaklah wajah aslinya.

Persis seperti yang kuingat, wajah itu putih pucat dan keriput di beberapa bagian. Mata hitam berkilat-kilatnya kontras dengan warna kulitnya yang dihiasi bercak-bercak darah yang telah membusuk. Di tempat seharusnya batang hidung terletak, pori-pori kulit membesar, sehingga kulit itu tampak kasar seperti kulit reptil. Darah mengalir melaluinya, menuju bibir robek yang menyeringai kejam itu.

Dan bibir itu memang bagian terseram dari semuanya.

Sebenarnya, bibir itu berukuran normal. Hanya saja, mungkin pernah terjadi pembunuhan atau kecelakaan yang membuat sisi kanan-kirinya robek parah. Robekan itu menyayat sepanjang wajahnya, membuat wajah itu seakan terbelah menjadi dua bagian, dipisahkan oleh luka robek yang telah membusuk. Dari celah kecil robekan itu yang tampak saat dia menyeringai, aku bisa melihat lusinan—mungkin puluhan—belatung yang menggeliat-geliat di dalam mulutnya, seakan jika ia membuka mulut lebar-lebar, hewan menjijikkan itu akan tumpah ruah ke luar dan mengerubungi mayat orang yang dibunuhnya sampai busuk.

Tubuh Liz jadi-jadian itu mendadak berubah perlahan-lahan, menjadi tubuh hantu Belanda yang kulihat kemarin. Tetapi aku cukup waras untuk tidak menunggu dan hanya melihat saja. Tanpa mempedulikan kakiku yang rasanya berdenyut-denyut dan sekujur tubuhku yang bergetar, aku melompat turun dari kasur dan berlari keluar.

Pasti terkunci, sisi logis otakku yang kurang ajar berkata, Kemarin kan juga begitu. Kau hanya akan mengulangi kesalahan yang sama.

Persetan dengan itu! Aku membentak si otak kurang ajar itu lagi. Di saat-saat seperti ini, aku tidak bisa mengandalkan pemikiran rasional. Jika ada yang bisa menjadi tempatku bergantung, itu adalah keberuntungan yang tidak pasti—yang juga merupakan peluang terbesarku untuk bertahan hidup.

Tidak ada jendela di sini, jadi aku tidak mungkin melompat turun lagi seperti kemarin. Lagipula, jika aku melompat turun, semua tulang di tubuhku pasti akan patah karena dua kali berturut-turut membentur permukaan keras—begini saja sudah cukup parah. Ujung-ujungnya, aku bakal mati juga. Dan satu lagi.

Siapa yang bisa menjamin ini bukan lantai dua puluh rumah sakit atau semacamnya?

Jadi, dengan secuil harapan akan keberuntungan, aku menerjang pintu keluar.

Dan pintu itu menjeblak terbuka.

Perasaan lega membanjiriku saat aku mulai berlari keluar menyusuri koridor. Aku bahkan sudah tidak memikirkan suara kriet yang kudengar tadi, dengan asumsi hantu mengerikan itu tidak membawa teman.

Lampu di koridor juga berkedip-kedip mengerikan. Lebih parah lagi, lampu itu malah mengeluarkan suara-suara yang mengusik konsentrasiku.

Yah, sulit berlari cepat dengan konsentrasi buyar dan kaki nyaris patah yang berdenyut-denyut, apalagi jika kau hanya punya satu tangan yang bisa bergerak optimal untuk dipakai berpegangan saat diperlukan.

Leo…

Suara serak itu menggema di sepanjang koridor tempatku berlari kesetanan, bersamaan dengan hembusan angin dingin yang membelai tengkukku.

Shit. Shit. Shit.

Dia di sini. Dia pasti di sini.

Mungkin dia bisa berteleportasi ke semua tempat yang dia mau dan mencekikmu kapan saja, kata otak logisku yang sama sekali tidak membantu.

Sayangnya, aku menolak mempercayai hal itu. Aku tetap berlari semampuku, melewati kamar-demi-kamar yang tertutup rapat (entah mengapa sepertinya rumah sakit ini kosong), kamar mandi yang bisa saja menjadi tempatku mati kalau aku memutuskan bersembunyi di sana, dan lift yang kuyakini tak bakal bisa digunakan.

Tangga darurat.

Ya, benar. Aku harus ke tangga darurat.

Masalahnya, di mana tangga itu?

Aku tidak punya waktu untuk berjalan pelan-pelan dan mencarinya. Yang bisa kulakukan hanyalah berlari dan terus berlari, berharap pintu tangga berada di suatu tempat yang dekat denganku.

Sruk… sruk… sruk…

Suara tersaruk-saruk sesuatu yang merambat di lantai di belakangku terdengar menggema. Aku tidak tahu sejauh apa sumber suara itu, tetapi aku punya firasat buruk bahwa letaknya tidak jauh-jauh amat.

Aku berusaha mempercepat lariku, tetapi luka-luka di kakiku malah kembali mengucurkan darah segar. Darah itu menetes-netes dan meninggalkan rasa sakit yang luar biasa, yang nyaris membuatku berteriak histeris kalau saja aku tidak ingat apa yang sedang kuhadapi.

Darah yang menetes. Bercak.

Oh, sial. Darah itu bakal membuatku gampang dilacak! Itu sama saja seperti menaburkan kertas-kertas bertuliskan “Ke arah sini!” di sepanjang jalan yang kulewati.

Aku berjongkok sejenak dan merobek bagian bawah pakaian pasien rumah sakitku untuk membelitkannya ke lukaku yang terbuka. Saat kuperiksa luka itu, aku baru menyadari bahwa perbannya kendur. Itulah sebabnya lukaku membuka kembali dan darah bisa merembes keluar dengan gampang.

Aku tidak punya banyak waktu.

Tambahan lagi, merobek dan membelitkan kain tidak mudah dilakukan hanya dengan satu tangan. Aku harus bergegas.

Sruk…

Suara itu terdengar semakin keras, namun melambat. Seolah-olah ia tahu bahwa ia tidak perlu cepat-cepat, karena toh aku tak bakal punya cukup waktu untuk menghindar.

Sruk…

Sial! Sial! Sial!

Jantungku berdentum-dentum dengan brutal, siap menjebol keluar dari dadaku. Suara itu membuat sekujur tubuhku merespons dengan keresahan.

Sruk…

Semakin dekat. Ia semakin dekat.

Sruk…

Sedikit lagi. Sedikit lagi aku selesai mengikatkannya. Hanya sebentar, dan…

BRAKK!!

“AAAAAHHH!!!”

Aku spontan berteriak dan melompat saat merasakan sesuatu yang berat jatuh dari atas. Aku berhasil lari menghindar, tetapi kain itu tidak terikat dengan benar.

Persetan dengan itu, batinku, Tapi, apa itu yang jatuh?

Aku tidak kuasa menahan rasa penasaranku, dan aku pun menoleh ke belakang sembari berlari.

Di lantai tempatku berada tadi, kini tergeletak besi-besi yang memercikkan api sesekali. Melihat dari bangkainya saja, aku tahu itu adalah lampu yang terjatuh.

Seharusnya sampai di situ saja aku melihat.

Tetapi, dasar bodoh, sebelum membalikkan kepala ke depan, aku sempat melihat ke belakang bangkai lampu tersebut.

Dan ia ada di sana, semakin dekat menuju ke arahku.

Tidak ada waktu. Aku harus bergegas kalau tidak mau ia menangkapku. Benakku sudah mulai membayangkan adegan-adegan penyiksaan keji yang bakal ia gunakan untuk membunuhku.

Saat itulah, aku menyadari sesuatu.

Lampu.

Lampu itu tadi jatuh, dan bisa saja membunuhku kapan saja kalau aku tidak menghindar. Dan jika lampu itu bukan satu-satunya, maka…

BRAKK!!!

Lampu kedua jatuh tepat di depanku, nyaris menghantam wajahku kalau saja aku tidak mundur, kemudian melompatinya walaupun dengan kepayahan.

Setelah itu? Aku sudah tidak tahu lagi.

Lampu-lampu mulai berjatuhan satu-demi-satu, memblokir jalan ke sana-sini. Percikan-percikan api ganas terkadang menyembur ke arahku, membuatku terjatuh hanya untuk bangkit lagi dengan sekuat tenaga.

Nyaris semua lukaku membuka kembali. Darah mengucur deras, dan sekujur tubuhku rasanya linu. Rasanya seolah aku bisa saja mati sebelum ia bahkan sempat menangkapku. Pendarahan, barangkali.

Bunyi “sruk sruk sruk” itu sama sekali tidak membantu. Ia semakin mendekat dari detik ke detik, membuat jantungku berpacu kencang dan keringat mengucur deras membasahi pelipisku. Aku tahu, di setiap waktu yang kuhabiskan untuk meratapi luka-lukaku yang membuka semakin lebar, ia sudah semakin mendekat. Di satu titik, aku bahkan bisa mendengar tawanya yang memberdirikan bulu romaku.

Aku menolak untuk peduli. Saat akhirnya aku menemukan pintu tangga darurat itu, energiku seakan sudah terkuras habis. Tetapi, aku tetap membukanya dan berlari masuk, menuruni tangga tiga-tiga di bawah lampu redup yang nyala-mati setiap detiknya.

Tangga itu rasanya panjang sekali. Mungkin benar bahwa kamarku tadi berada di lantai dua puluh. Sebab, sejauh apa pun aku melangkah, tangga itu tidak ada habis-habisnya.

Aku kehabisan tenaga. Rasanya sudah tidak memungkinkan bagi sekujur tubuhku yang terluka parah untuk berlari lebih jauh lagi. Alhasil, aku terhempas jatuh dengan napas tersengal-sengal dan sekujur tubuh berdarah-darah.

Ruang tangga darurat itu sempit seperti yang seharusnya, tetapi sirkulasi udaranya cukup baik. Baru sekarang hal itu sempat kuperhatikan, berhubung aku sudah berhenti lari-lari seperti orang kerasukan setan. Aku memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, dan memutuskan bahwa ia tak mungkin berada dekat denganku. Aku sangat yakin aku sudah berlari jauh sekali.

Di sini cukup aman, pikirku.

Aku memejamkan mata sejenak dan mengatur napas yang kewalahan sehabis berlari. Kucoba untuk tidak memikirkan rasa sakit yang menjadi-jadi di seluruh bagian lukaku yang terbuka kembali. Walaupun sakit itu rasanya begitu membakar, aku tidak boleh terlarut di dalamnya. Aku harus memusatkan seluruh perhatianku untuk beristirahat sejenak.

Angin dingin membelai tengkukku pelan, membawa perasaan nyaman yang rasanya sudah lama sekali tak kurasakan. Untuk sesaat, yang terdengar hanyalah suara kehampaan yang—sebenarnya—cukup kunikmati. Sekujur tubuhku yang lemas merespons terhadap rasa nyamanku. Ia menjadi lebih rileks.

Seharusnya sudah aman, batinku. Mungkin dia bahkan tidak berhasil masuk melalui pintu tangga darurat, dan aku aman.

Aku bertahan dengan pemikiran itu selama nyaris lima menit, kurasa. Sebelum akhirnya otak logisku yang konyol mulai berceloteh lagi.

Kau memberinya waktu untuk mengejar, katanya dengan kurang ajar. Bagaimana kalau sebentar lagi dia datang?

Aku menolak untuk mendengarkan, tetapi keresahan di dasar hatiku tidak bisa bersembunyi.

Terus bergerak sajalah¸ katanya, Keluar dari rumah sakit ini.

Untuk sesaat, tubuh dan pikiran logisku bergelut sengit. Aku tahu, pikiran itu ada benarnya—malah mungkin sembilan puluh persen benar. Tetapi, rasa sakit di tubuhku meraung-raung. Aku tidak yakin bisa meneruskan pelarianku.

Ayolah, otak logisku memaksa, Buka matamu dan teruskan perjalananmu.

Tubuhku menegang, merespons terhadap perintah itu. Mungkin sudah cukup lama juga aku beristirahat di sini, dan saatnya untuk bergerak.

Jadi, kubuka mataku.

Dan langsung menatap kedua mata hitam kelam yang jaraknya tak lebih dari lima belas sentimeter darinya.

“AAAAAAHHHH!!!!”

Aku langsung berteriak dan melompat berdiri.

Ia di sini!

Tambahan lagi, ia sudah berada di sini sejak tadi. Aku saja yang terlalu dungu untuk menyadarinya.

Di titik ini, ia pasti bakal membunuhku. Ruangan ini begitu sempit, dan nyaris tak ada peluang bagiku untuk kabur. Seringai di bibir robek itu sudah semakin lebar, dan aku nyaris pingsan dibuatnya.

Tetapi, yang membuatku heran, saat aku berlari menuju pintu keluar terdekat, sosok itu tidak mengejar. Ia hanya mendesis-desis di tempatnya duduk sambil memandangiku dengan mata tajamnya.

Ah, persetan, batinku, Bukannya malah bagus kalau dia tidak mengejar?

Maka, kubuka paksa pintu di hadapanku, dan menerjang keluar.

Barulah saat itu kusadari, tidak ada yang namanya keluar.

Baik di luar atau di dalam ruang tangga darurat, aku tak punya jalan keluar.

Sebab, begitu aku berhasil menutup pintu, di hadapanku berdiri sosok yang sangat kukenal. Sosok yang bersandar di bawah kegelapan sambil menggenggam sebilah pisau tajam. Sosok yang menyeringai kejam penuh dendam ke arahku.

Aku langsung teringat bunyi “kriet” yang kudengar di kamar tadi, dan mendadak semuanya menjadi jelas.

Sosok berambut acak-acakan itu menatapku keji sekaligus jijik, seolah aku ini sampah yang harus segera dibereskan. “Hai, Leo,” katanya. Suaranya masih sama seperti yang kuingat. Tetapi aku tidak yakin bisa memperlakukannya sama seperti yang biasanya.

Dan di tengah ketakutan yang mencekamku, aku masih berhasil menggumamkan namanya. Nama yang baru sekitar dua kali kusebut sebelum ini. Nama yang baru sekarang terasa mengerikan, bahkan di telingaku sendiri.

Raymond…”

***

 

Christian POV

Aku hanya bisa terpaku di lantai ketika dua jiwa misterius yang entah darimana datangnya, bergelut di hadapanku.

Saat si mulut robek hendak menusukku dengan pisau daging berdarahnya, tiba-tiba saja sesosok wanita Jepang berambut panjang menghadang jalannya. Ia mengenakan kimono putih bercorak bunga sakura yang sangat pas dengan kulit putih pucatnya. Entah bagaimana, roh satu ini mengingatkanku pada Yurigame si boneka Okiku.

Lari!” Serunya sambil menahan kedua tangan si hantu Belanda.

Tanpa banyak memprotes, aku segera kabur lewat pintu depan. Kulangkahkan kakiku tanpa tujuan pasti sampai sebuah angin kencang mengentikan langkahku. Angin itu tak datang sendiri, ia diikuti sebuah suara keras. Parahnya, suara itu menyerukan namaku. Dan apapun yang barusaja memanggilku, ia terdengar sangat marah.

“Mau lo apa hah?” Bentakku frustasi sambil mengacak-acak rambutku sendiri.

“Christian, kali ini kau salah besar.” Bisiknya lagi. “Kau memancing kemarahan jiwa yang kuat sekali. Dia menyimpan dendam yang sangat besar sehingga dendam itu sendiri berubah menjadi kekuatannya. Kekuatan yang sudah sangat besar itu, ditambah lagi dengan perjanjiannya dengan temanmu. Saat ini, kekuatan jiwa itu sudah melampaui batas,  bahkan aku tak dapat menghadangnya.”

“Aku tahu aku salah. Tapi aku harus gimana lagi? Semuanya sudah telanjur. Minta maaf pun tak mungkin.” Kataku pasrah.

Rasanya seluruh tubuhku sudah dilahap oleh rasa takut, padahal ini kan aku, seorang Christian Axelries yang–seharusnya–tidak mengenal kata ‘takut’.

Segel dia.” Sarannya. “Tapi harus kuingatkan, kau tidak boleh takut dan ragu, juga tingkat kesuksesannya sangat rendah dan lagi aakh—” Setelah teriakan keras itu, suaranya menghilang begitu saja.

Ser…

Angin sepoi-sepoi mengganti kehadiran angin kencang tadi. Walau angin yang ini lebih menenangkan, aku merasa ada yang tak beres dengan angin ini. Bulu kudukku langsung berdiri seketika. Otak dan kakiku pun sudah sepakat untuk lari lebih cepat bila ada sesuatu yang janggal terjadi.

“Christian…”

Sebuah suara serak mirip desisan ular memanggil namaku. Mataku langsung mencari-cari sosok misterius itu.

Tak ada apapun.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku melanjutkan langkahku, dua kali lebih cepat dari sebelumnya.

Kurasakan sebuah tatapan tajam menghujam punggungku.

Tanpa diberi aba-aba, tubuhku langsung berbalik dengan sendirinya. Hantu Belanda itu sudah berdiri lumayan jauh di belakangku, di bawah sebuah pohon beringin yang amat besar. Mata hitamnya menatapku tajam seperti dua bola glow in the dark. Lubang hidungnya tidak tampak begitu besar, namun ia tetap berwujud seperti alien. Ia diam saja di sana sambil menyeringai padaku seperti biasanya. Bedanya, sekarang sesuatu jatuh dari mulutnya, sesuatu berwarna putih dan menggeliat.

Aku yakin. Sangat yakin, benda itu adalah belatung.

Rasa geli langsung melanda mulut beserta tenggorokanku. Aku berdeham beberapa kali untuk menghilangkan rasa aneh itu. Setelah merasa lebih baik, aku kembali menatapnya. Ia masih berada di sana, tak bergerak satu milimeter pun.

“Pergilah! Jangan mengikuti lagi!” Usirku sambil berlari lebih jauh.

Belum jauh aku berlari, sesuatu memegangi kaki kananku, membuatku jatuh ke aspal dan melukai lututku.

Aku yakin, yang memegang kakiku adalah sepasang tangan kurus putih pucat sedingin es.

Kucoba berdiri lagi, perlahan-lahan. “Aw…” Aku spontan berteriak saat mendapati kaki kananku, kaki yang baru saja dipegangi, terasa sangat sakit. Sepertinya kaki kananku terkilir.

Tidak, aku tidak boleh terhenti hanya karena kaki sialan ini, aku harus terus berjalan sebelum akhirnya si hantu separuh alien itu menangkapku. Kembali kupaksa kakiku untuk mengangkat tubuh beratku.

Akhirnya aku bisa kembali berdiri, namun untuk berjalan, kurasa aku tak mampu. Terpikir olehku untuk berhenti saja dan menunggu bala bantuan.

Kusandarkan tubuhku pada tiang lampu jalan di belakangku sambil menunggu siapa-saja-yang-kebetulan-lewat untuk meminta pertolongan, paling tidak mengantarkanku ke gereja terdekat.

Lima belas menit berlalu.

Sama sekali tak ada satu makhluk hidup pun yang melewati gang ini. Aneh sekali, memangnya ini jam berapa? Sudah tengah malam kah? Seharusnya ini masih sekitar pukul sembilan atau sepuluh lah. Kumasukkan tangan ke dalam kantong celanaku. Kuambil benda kotak berwarna putih dengan casing warna putih pula dari kantongku. Kutekan tombol bulat yang terletak tepat di bawah layar ponselku, kemudian munculah hal yang membuatku terkejut.

Sudah pukul dua belas malam.

Sejak kapan jam berjalan segini cepat? Aneh! Kugeser tangan dari kiri ke kanan layar untuk membuka lock ponselku. Tiba-tiba layarnya menjadi blur. Lama-lama layar itu sedikit menggelap, seperti ponsel yang akan kehabisan baterai, padahal baterai yang tertera di sana masih delapan puluh sembilan persen.

“Hallo, Christian…”

Bisikan serak yang mampu membuat ketakutanku hidup itu kembali terdengar, namun kali ini dari ponselku. Tanganku gemetaran, aku menatap ponsel itu dengan horror. Tiba-tiba layarnya mati begitu saja, digantikan dengan pemandangan tak menyenangkan yang membuatku hampir melemparkan ponsel ke tanah lalu menghancurkannya berkeping-keping kalau saja aku tidak ingat kalau harganya mahal.

Lemon ada di dalam sana, menatapku penuh kebencian.

“Mon?” Panggilku sambil mengangkat ponsel itu ke depan wajahku.

Tak ada jawaban, ia malah menghilang dari layar mungil itu.

Aku segera memasukan benda itu ke kantong baju sebelum pemandangan tak menyenangkan lain muncul dari ponsel gila milikku. Bagaimana bisa Lemon masuk ke dalam sana? Pake natap-natap segala! Seingatku, aku tak pernah menyimpan fotonya, bisa-bisa ponselku terkena virus.

Drrtt…

Lampu jalan mati dengan sendirinya.

Aku menatap lampu itu dengan tatapan poker face sembari berpikir, pemerintah sudah mengkorupsi pajak yang seharusnya digunakan untuk mengganti lampu jalan.

Tiba-tiba, lampu itu meledak.

Segera kuturunkan wajahku dan kupejamkan mata sebelum pecahan bohlam mengenai kedua mataku.

“Apa-apaan ini!?” Teriakku sambil membersihkan pecahan-pecahan kaca dari kepalaku.

Surprise…” Sahut sebuah suara familiar. Ya, tak salah lagi, itu adalah suara si Lemon yang secara ajaib bisa keluar dari ponselku.

“Lo ngapain di sini? Pake sembunyi-sembunyi di HP gue segala! Lo di cariin seantero sekolah, bego! Pulang sana!” Usirku.

Alih-alih menurut, ia malah berdiri di depanku, menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya lalu tersenyum penuh kelicikan.

Senyum itu sangat identik pada si hantu Belanda.

Tiba-tiba aku teringat pada perkataan si hantu cantik dari Jepang tentang temanku yang sudah membantunya.

Sekarang semuanya masuk akal.

“Gue?” Jawabnya santai. “Gue mau bunuh lo!” Ia mengeluarkan sebuah pisau daging, persis seperti yang dimiliki oleh si hantu mata kelereng.

Dalam sekejap, ia sudah melangkah maju dan hendak menusukkan pisau itu ke wajahku.

Spontan aku menutup mata, memutar kepalaku agar menghadap ke belakang dan memakai tanganku untuk menepis serangannya. Jantungku berdegup kencang, sekujur tubuhku dibanjiri keringat dingin, aku sama sekali tak dapat berpikir jernih lagi, otakku hanya dipenuhi dengan kata “Kau sudah tamat.” Kakiku yang sudah tak memungkinkan untuk membawaku berlari pun melemas, membuatku terduduk di aspal. Aku benar-benar sudah pasrah.

Walaupun aku sudah melemas, mataku masih bisa menangkap sosoknya berjalan mendekatiku. Ia tersenyum sinis, lalu diangkatnya pisau tinggi-tinggi dengan bagian runcing menghadap kepalaku.

TO BE CONTINUED...

A sincere apology from me because we took too long to finish this. We only meant to make three chapters, but then I figured out the total number of pages it took was 45 pages, and I don’t think it’s very wise to just post it all at once. So, we cut it in two. To conclude, the last chapter is finished already, but will be posted next week (also on Wednesday). I hope you keep your patience. Thank you.

NOW IT’S SAFE TO LOOK BEHIND YOUR BACK…
Advertisements

4 thoughts on “[STACY’S CURSE] Special Halloween : Torment or Threat (Chapter Three)

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s