[STACY’S CURSE] Special Halloween : Torment or Threat (Epilogue)

tot-poster-2

As promised, this is the epilogue of Torment or Threat we have finished a few days ago (it’s kinda save to say ‘a week or two’ actually). And by ‘we’ I meant me and Viona Angelica from shining-hearts, my writing partner. Although this is just an epilogue, don’t underestimate it. It tells you what happened to other characters that were sadly sided during the main chapters, and it tells you the event following those incident in the final chapter that was so… I dunno, ambiguous? Anyways, in whose POV will this epilogue take? Well you read yourself, and decide yourself. We both wrote a POV tho. While reading this story, dark room is preferred because it brings the creepy vibe very well. And it’s so much better if you’re alone. Don’t let anyone peek, because… who knows what will possibly happen to him/her who peeked? I’m not going to tell you, but it’s not something really nice. And I suggest you not to read this before reading the prologue (here), first chapter (here), second chapter (here), third chapter (here), and final chapter (here) because Chris (who had just passed away tragically not too long ago) said that spirits loved to visit and play with someone who read scary stories without even understanding the story. I don’t know whether he lied or not, but please take this seriously.

(P.S : I’m sorry, but I honestly also dunno where Stacy is at the moment.)

DON’T EVER LOOK BEHIND YOUR BACK WHILE READING THIS STORY…

SPECIAL HALLOWEEN STACY’S CURSE

TORMENT OR THREAT

(EPILOGUE)

Anna POV

Tak terasa matahari sudah hampir terlelap.

Ternyata aku sudah mengitari seluruh pelosok kota selama enam jam. Raymond benar-benar sudah kelewatan! Akibat ia kabur entah ke mana saat permainan seram yang diadakan Chris itu, seluruh anggota OSIS, terkhususnya AKU harus mencarinya mati-matian selepas pulang sekolah.

Bahkan aku tak sempat mengunjungi Leo yang sudah genap tiga hari dirawat di rumah sakit sejak aku dan Liz menemukannya terkapar penuh darah di lapangan malam itu.

Keadaannya saat itu membuat tubuhku bergidik ngeri. Ia terkapar tak berdaya di sana dikelilingi darahnya sendiri.

Ser…

Sebuah angin misterius membelai halus tengkukku. Angin itu membuatku tersadar dari imajinasi singkat yang baru saja kualami.

Deg…

Jantungku nyaris berhenti ketika kudapati diriku sedang berdiri di depan sebuah pintu putih bernomor 107. Tepat di sampingnya tercantum nama “Leo Marvel” yang ditulis pada sebuah kertas. Tanpa harus berpikir lebih lanjut, aku sudah paham kalau keberadaanku sekarang adalah di rumah sakit tempat Leo dirawat..

Seingatku aku sedang dalam perjalanan PULANG, tak mungkin aku bisa sampai di sini! Bahkan rumah sakit ini bertentang jalan dengan rumahku, nyasar pun aku tak mungkin sampai di sini!

Sruk…

Tanpa diberi aba-aba, pandanganku langsung tertuju ke arah sumber suara itu, yaitu lorong di sebelah kananku. Lorong itu tampak sepi, tak ada seorang pun di sana. Bulu kudukku meremang seketika, jantungku yang sudah berdegup kencang sejak tadi bertambah anarki. Tahu-tahu saja bau yang sangat wangi tercium di hidungku.

Sruk…

Aku langsung menerjang masuk ke dalam kamar Leo tanpa permisi dan menutup pintu itu rapat-rapat.

Ruangan ini kosong.

Tak ada buah atau semacamnya di meja. Tak ada seorang pun yang berbaring di atas kasur putih yang tampak rapi. Yang ada di sini hanyalah bau anyir tak sedap. Bau itu semakin kuat saat aku berjalan menuju kasur.

Saat aku sedang berusaha meyakinkan diriku tidak ada hal buruk yang akan terjadi seperti Leo kejang-kejang lalu kehabisan darah dan semacamnya…

…sesuatu mengalir dari bawah kasur itu.

Aku hampir pingsan saat mendapati yang mengalir di sana adalah darah merah kental,sumber bau anyir yang memenuhi ruangan ini.

Rasa penasaranku tak terbendung lagi, akhirnya aku berjalan mengitari kasur untuk melihat ke sisi satunya. Saat itu juga aku tahu sumber bau tak sedap, yang memenuhi ruangan ini.

Terbaring dua mayat mengenaskan bersama sebuah boneka yang sedang membawa cutter.

“AAAAAKKHHHHH” Aku terjatuh ke belakang.

Mayat-mayat itu sudah hancur lebur tak berbentuk. Yang satu berkaki buntung dan tangan kanannya pun juga sudah tidak ada. Sedang yang satunya lagi sebelah tangannya hilang, perutnya yang bolong menunjukkan dinding penuh darah di belakangnya. Seluruh tubuh mereka seperti sapi yang baru saja dikuliti.

Yang terparah dari semua adalah, aku yakin kalau kedua mayat itu adalah temanku yang tak mungkin salah kukenali, Leo dan Chris.

Kurasakan jantungku meletup-letup hendak meloncat keluar. Kepalaku sangat pusing entah karena apa, mungkin bau anyir sudah meracuni otakku.

Saat aku sedang berusaha mendorong diriku sejauh mungkin dengan kaki dan tangan gemetaran, boneka itu memutar kepalanya seratus delapan puluh derajat. Ia menyeringai lalu berkata dengan suara nyaring, “Halo Anna.

Seketika itu juga aku langsung ambruk tak sadarkan diri.

***

Tahu-tahu saja aku sudah terbaring di atas kasur putih bersih di salah satu kamar serba putih bersih.

Bayangan kedua mayat temanku kembali tersiar di otakku, diikuti dengan wajah seram boneka setan tadi.

Aku kembali menjerit keras hingga membuat seorang suster datang ke kamar ini.

“Tenang saja, tenang.” Suara suster itu terdengar tertahan dari balik masker hijaunya. “Semuanya akan baik-baik saja.” Ia memegangi lenganku.

Aku tak bisa mengendalikan diriku, saat ini aku hanya bisa menjerit sambil menangis. Kau tak akan pernah tahu rasanya melihat mayat kedua sahabat baikmu. Juga rasa ketakutan saat boneka gadis Belanda penuh retakan menyapamu sambil mengacungkan sebuah silet.

Lama kelamaan kurasakan cengkeramannya semakin kuat, bahkan membuatku kesakitan. Aku berusaha menarik tanganku dari cengkeramannya, tetapi seberapa besar pun aku mencoba, cengkraman itu tak dapat lepas. Alih-alih bisa kabur, tanganku malah terluka akibat cakarnya.

“Tenang saja, sebentar lagi kau akan menyusul mereka.” Bisiknya seperti desisan ular sambil melepaskan cengkaramannya.

Ia mundur selangkah ke belakang lalu mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. Boneka itu.

Boneka penuh darah itu ia lemparkan padaku beserta beberapa belatung menjijikan.

“AAAKKHHH!” Aku berteriak semakin keras dan melengking sambil berusaha mengusap-usap belatung itu pergi.

“Ada apa?” Sebuah suara membuatku membuka mata.

Belatung dan boneka tadi menghilang begitu saja, hanya tinggal tersisa si suster yang sudah melepas maskernya dan menapakkan wajahnya.

Tetap saja aku tak bisa berhenti mengusap-usap kaki-tanganku yang sudah telanjur merasa geli sambi berteriak-teriak.

Suster itu mendekat lagi, memegang lenganku. “Lepas! Pergi dari sini! Jangan sakitin gue!” Teriakku sekencang-kencangnya.

Ketakutan benar-benar telah menyelimuti seluruh tubuhku. Aku tak dapat lagi mengendalikan diriku. Kuraih jarum suntik yang ada di sebelah ranjang. Suntik itu pun meluncur mengenai perutnya.

Kupandangi suster itu dengan tatapan kosong. Ia memegangi perutnya sambil menangis kesakitan. Tiba-tiba seorang suster lain masuk, ia tampak terkejut hingga berlari-larian keluar sambil menyerukan kata ‘Dokter’.

Kenapa ia begitu terkejut? Dasar orang aneh.

Aku tertawa kecil sambil memeluk kakiku sendiri di atas kasur. Isakan suster itu masih bisa kudengar dari sini, tandanya ia masih ada di bawahku, sedang bersantai di lantai.

Tiba-tiba seorang pria berjubah putih menerjang masuk. Ia mengeluarkan sebuah jarum suntik yang diarahkan padaku. Aku mengerang sambil berusaha mengelak suntikan itu, namun suster keparat-tukang-lapor tadi malah memegangku.

Akhirnya ia berhasil menyuntikku.

***

Liz POV

Aku nyaris ikutan jadi gila.

Pertama-tama, aku dan Anna menemukan Leo jatuh terkapar di lapangan sekolah dalam kondisi berdarah-darah. Kejadiannya lima hari yang lalu. Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya jatuh dari sana, tetapi saat kami menemukannya, kaca jendela perpustakaan yang terletak di lantai dua telah pecah berkeping-keping, memberi kami konfirmasi bahwa cowok itu jatuh dari sana. Untuk alasan apa, aku tidak tahu.

Lalu, Chris ikut-ikutan menghilang. Ia sama sekali tidak menampakkan batang hidung di sekolah sejak hari kami menemukan Leo dan membawanya ke rumah sakit. Hal ini membuatku frustasi. Ray saja belum berhasil kami temukan. Aku tidak bisa menanggung beban kehilangan dua orang berharga sekaligus.

Saat aku memutuskan untuk tidak memberitahu Anna soal misi pribadiku untuk mencari Chris dan Ray—entah mengapa aku punya firasat mereka berada di tempat yang sama—tiba-tiba aku mendapat telepon dari pihak rumah sakit Leo.

“Kami menemukan dua jenazah di kamar Saudara Leo Marvel,” kata suster di seberang telepon dengan panik, “Kami curiga salah satunya adalah Saudara Leo sendiri. Mereka mustahil dikenali! Saat ini kami sedang memanggil tim kepolisian, namun saya memprioritaskan untuk menghubungi salah satu penjamin dahulu. Bisakah Anda ke sini?”

Aku berani bersumpah kepalaku nyaris pecah. Air mata menjebol keluar dari kedua pelupuk mataku dan rasanya aku kepingin bunuh diri. Sudah terlalu banyak cobaan yang menimpaku secara misterius, dan aku tidak tahu apakah mungkin bagiku untuk tetap bertahan.

Di tengah keterkejutanku dan kekacauan kondisi otakku, entah mengapa aku masih ingat suatu hal.

“Bagaimana dengan Anna?” tanyaku pada saat itu, “Maksud saya, teman saya, Yulianna, yang saat itu juga ikut membawa Leo ke sana. Bukankah nomor saya hanya nomor alternatif? Kalau Suster sampai menghubungi saya, apakah itu berarti nomor Anna tidak bisa dihubungi?”

Suster itu terdiam selama kira-kira dua detik. Namun, dua detik saja sudah cukup untuk membuat ketakutan lain mencekamku. Aku tahu pasti ada sesuatu. Anna selalu bisa dihubungi. Bahkan, dalam kondisi sibuk sekali pun, sahabatku itu selalu menyempatkan diri untuk mengecek ponsel. Ia juga tak mungkin sedang berada di daerah yang tak terjangkau, karena setahuku ia tidak suka pergi-pergi keluar rumah. Kegiatan pencarian OSIS yang didedikasikan untuk Ray—mereka hanya belum sadar kalau Chris juga menghilang saat mengagendakan pencarian seperti itu—seharusnya sudah lama bubar, mengingat saat itu sudah malam.

Setelah jeda dua detik yang mendebarkan sekaligus membuat depresi itu, si Suster menjawab, “Itulah masalahnya. Saat kami menemukan kedua jenazah itu, Saudara Anna juga ada di dalam kamar. Entah bagaimana caranya dia masuk. Itu bukan jam besuk, seharusnya dia tidak ada di sana.”

“Dan?” aku mendesaknya. Emosiku meledak dalam hati. Aku tahu Suster itu akan menyampaikan sesuatu yang sangat buruk. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana.

“Dia ditemukan dalam kondisi pingsan sambil memeluk sebuah boneka. Wajahnya pucat, jadi kami memutuskan untuk mengambil tindakan darurat dengan merawatnya dalam salah satu kamar. Untuk itulah kami menelepon Anda, Nona Liz. Satu-satunya penjamin yang tersisa adalah Anda.”

Setelah itu, aku hilang akal. Aku memutus sambungan telepon dengan stres dan mulai melempari barang-barang yang ada di kamar sambil menangis meraung-raung—hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Aku berlari keluar kamar dan mengabaikan panggilan-panggilan orang tuaku. Aku bahkan tak peduli bagaimana wajahku terlihat. Yang ada di pikiranku hanyalah : Kunci mobil. Ngebut gila-gilaan. Sampai ke rumah sakit dalam lima menit.

Dan aku benar-benar melakukannya…

…hanya untuk semakin membuat diriku depresi dengan kondisi yang kuhadapi di sana.

Mereka melarangku melihat kedua jenazah itu, tetapi aku memaksa. Tidak perlu melihat dua kali, aku mengenali sweater hitam bergaris biru yang dikenakan salah satu jenazah. Jenazah yang satu lagi mengenakan pakaian rumah sakit—mungkin itu yang membuat si Suster menebak bahwa jenazah itu adalah Leo—dan kondisinya terlampau mengerikan. Aku juga mengenali wajah hancur mereka, walaupun hal itu nyaris mustahil dilakukan.

Aku menangis meraung-raung lagi, dan mereka harus menahan tubuhku supaya tidak ambruk ke lantai.

“Kasihan dia,” kata beberapa Suster yang memegangiku, mengira aku tidak bisa mendengar mereka lantaran sudah lepas kendali. Namun kata-kata itu malah membuatku semakin marah dan ketakutan.

Chris dan Leo adalah sahabat-sahabatku yang terbaik. Mereka selalu ada di kala aku membutuhkan, dan walaupun mereka bukan tipe orang yang mudah diajak bergaul, aku tahu lebih baik. Mereka sudah seperti bagian dari hidupku. Melihat mereka seperti itu untuk terakhir kalinya membuatku merasa seolah ada suatu bagian tubuhku yang dicabut paksa. Itu sama sekali tidak adil. Aku bisa mengerti mengapa Anna pingsan. Ia pasti tidak kuat melihat pemandangan mengerikan itu.

Aku benar-benar mengira situasi sudah mencapai bagian terburuk.

Lalu raungan itu terdengar, dan seisi ruangan langsung panik.

“Itu suara Suster Frida!” teriak salah satu suster yang memegangiku—yang kemudian segera melepaskan pegangannya karena kaget, “Apa yang terjadi?”

“Dokter! Dokter!” aku melihat seorang Suster melintas dengan cepat melalui pintu yang terbuka sambil memanggil-manggil Dokter. Saat itu, perasaanku tidak enak.

Baru belakangan aku diberi tahu cerita lengkapnya. Mereka melarangku ikut melihat apa pun yang baru terjadi dan meninggalkanku bersama dua suster penjaga di luar ruangan—yang malah menguatkan perasaan bahwa apa pun yang terjadi itu pasti ada hubungannya denganku. Saat aku menyadari mereka masuk ke kamar Anna, aku berteriak-teriak kesetanan. Aku tahu sesuatu tak beres pasti terjadi.

Dan saat mereka benar-benar memberitahuku, dunia seolah runtuh begitu saja.

Anna terbangun dan diduga mengalami halusinasi. Ia secara sengaja melempar jarum suntik ke perut seorang Suster dan tertawa-tawa sendiri. Dokter harus mengambil langkah ekstrim : menyuntiknya dengan obat tidur dan membawanya secara paksa ke rumah sakit jiwa.

“Anna tidak gila!” teriakku saat si Dokter selesai menjelaskan situasinya, “Dia tidak mungkin gila!”

“Saya tahu pasti berat menerima semua ini mentah-mentah, Nona Liz,” katanya sok prihatin, “Tapi begitulah kenyataannya.”

Perdebatannya tidak sesingkat itu, tentu saja. Aku dan Dokter itu beradu argumen sengit sepanjang malam, tapi kurasa aku tidak bakal kuat membicarakannya lagi. Di saat-saat seperti itu, aku benar-benar berharap Ray mendampingiku. Sayangnya, pacarku itu masih tidak bisa ditemukan. Dokter menyerahkan kepadaku boneka yang dipeluk Anna saat ditemukan—sampai ketika dia dimasukkan ke kamar rumah sakit. Aku tidak tahu mengapa Anna membawa-bawa boneka, tetapi setahuku sahabatku itu tidak memiliki satu boneka pun di rumahnya. Kuduga ia tidak suka boneka, jadi hal itu membuatku merasakan sepintas firasat buruk

Kini aku duduk di kamar, memandangi boneka itu dengan tatapan nanar. Ia sudah diam di atas meja rias kamarku selama dua hari—terhitung dari malam itu. Dan setiap hari, aku selalu memandanginya dengan pikiran kosong dan harapan hidup nol besar—tak ada gunanya hidup bila kau sendirian. Aku bahkan tidak masuk sekolah dan menolak keluar kamar.

Tapi hari ini aku harus.

Bukan, maksudku bukan harus masuk sekolah. Maksudku, aku harus keluar kamar.

Pihak rumah sakit jiwa menghubungiku dan berkata bahwa Anna sudah bisa dikunjungi. Orang tuanya bahkan sudah mengunjunginya tadi pagi dan mereka menangis meraung-raung. Kudengar, mereka juga terlibat pertengkaran dengan orang tua Leo dan Chris—yang menerima konfirmasi soal hasil otopsi yang menyatakan bahwa kedua jenazah itu sungguh anak mereka tepat kemarin. Aku tahu hal itu pasti sangat sulit diterima oleh ketiga pihak.

Pertama-tama, Chris anak tunggal. Kematian itu pasti membuat kedua orang tuanya sangat terpukul. Tidak ada yang bisa disalahkan.

Kedua, Leo anak bungsu. Kakak perempuannya sudah bekerja di luar kota, dan itu praktis menjadikan Leo satu-satunya anak yang dimiliki orang tuanya. Tidak ada juga yang bisa disalahkan.

Dan terakhir, Anna. Sahabatku itu punya adik perempuan yang selalu dijaganya. Bukan hanya orang tua, adiknya pun juga pasti akan merasa sangat kehilangan dan terpukul. Aku bisa mengerti kalau mereka mulai mencari kambing hitam untuk situasi sulit yang menimpa putri sulung mereka.

Aku hanya tidak tahu apa yang harus kulakukan saat orang-orang yang masuk-keluar kamarku berkata, “Tenanglah. Kamu harusnya bersyukur, Elizabeth. Kamu tidak kenapa-napa.” Termasuk ayah dan ibuku.

Aku tidak tahu apanya yang tidak kenapa-napa dari diriku. Secara fisik? Mungkin iya. Tapi secara mental? Aku bahkan sudah hampir yakin bakal menyusul Anna ke rumah sakit jiwa secepatnya. Satu-satunya hal yang tak berhenti kulakukan adalah men-dial nomor ponsel Ray, yang tentu saja tak membuahkan hasil.

Putus asa, aku pun berganti pakaian dan berjalan keluar seperti zombi, berniat menjenguk Anna. Aku menyetir mobil sendiri tanpa sepengetahuan orang tuaku, dan berakhir nyaris menabrak mobil dua kali, nyaris keluar jalur lima kali, dan nyaris menyerempet motor empat kali. Bunyi klakson tidak menggangguku. Mobil kupacu dengan kecepatan penuh hingga aku tiba di rumah sakit jiwa dalam waktu sekitar tujuh menit—padahal letaknya termasuk jauh dari rumahku.

Petugas rumah sakit tersenyum cerah padaku, seolah tidak memahami suasana hatiku yang superkacau—atau dia memang sudah terbiasa dengan pengunjung bermuka depresi yang berjalan seperti mayat hidup (aku yakin pasti banyak yang seperti itu). Dia mengantarku ke bangsal Anna, yang ukurannya kecil—khusus untuk menampung dirinya sendiri. Bangsal itu memiliki jendela yang dibatasi jeruji-jeruji layaknya penjara, dan masih ditutup lagi dengan kaca tembus pandang berlubang-lubang kecil (aku punya firasat lubang-lubang itu juga bisa ditutup tirai atau semacamnya, yang mungkin mereka lakukan kalau sedang tidak ada penjenguk). Hanya dari jendela itulah aku bisa melihat sahabatku.

Anna tampak sangat lain dari biasanya. Tangannya diikat kuat ke belakang, dan tatapan matanya tidak fokus. Ia seolah melotot sepanjang waktu. Rambut pendeknya yang biasanya disisir rapi tampak acak-acakan. Kantung mata menggantung di bawah matanya yang memancarkan binar aneh. Ia duduk di kursi di tengah ruangan, sepertinya diikat di situ.

Aku tidak tega melihatnya. Sahabatku itu selalu ceria dan baik hati. Kini, ia tak akan kembali seperti dulu lagi. Hal itu membuatku marah dan sedih pada waktu yang bersamaan, sehingga menangislah aku. Aku tak peduli si petugas menatapku lekat, aku juga tak peduli Anna tak bakalan mengerti maksudku. Aku hanya tidak bisa lagi menahan semua ini.

Saat tangisku reda, kuperkirakan aku sudah menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit di sana, terus memandangi Anna yang tak bisa diam di kursinya. Ia tidak melihatku, dan entah mengapa, aku punya firasat buruk bahwa ia memang tidak perlu melihatku.

“Kurasa aku harus pergi,” kataku tanpa tahu mengapa. Sebuah perasaan ngeri tiba-tiba menyergapku saat aku melihat Anna lagi, dan rasanya aneh mengingat baru dua detik lalu aku tidak merasakan adanya apa-apa.

Si penjaga tersenyum dan mendahuluiku berbalik pergi untuk menunjukkan jalan keluar. Saat aku hendak mengikutinya, mendadak Anna meraung seperti orang kerasukan setan. Bunyi ‘DUK’ keras menyentakku sehingga aku berjengit dan langsung menoleh ke belakang untuk melihat apa yang terjadi.

Dan mataku langsung berserobok dengan tatapan Anna yang menghunjam dari balik jeruji.

Entah bagaimana, ia barusan bisa meninju kaca melalui celah jeruji. Padahal, seingatku, tadi tangannya diikat kuat. Begitu pula kakinya. Letak jendela itu agak jauh dari tempatnya semula—yaitu di tengah ruangan. Kini, mata gadis itu melotot menatapku, dan wajahnya merah padam seperti orang mabuk. Bulu kudukku berdiri. Aku begitu kaget sampai-sampai aku berteriak. Aku takut kalau ia mencoba lagi, ia bakal bisa memecahkan kaca itu dan meraihku.

“BEBASKAN DIA!” raungnya keras di tengah binar kegilaan yang memancar dari matanya. Ia menggedor-gedor kaca tanpa hasil, tetapi gedoran itu membuat tangannya memerah.

“Anna, tenang!” pekikku dengan suara tertahan. Penjaga yang sudah setengah jalan di lorong segera berbalik sambil menyerukan panggilan-panggilan pada perawat atau dokter jiwa—aku tidak tahu, dan sama sekali tidak peduli. Aku ketakutan, dan hanya bisa jatuh terduduk di lantai tanpa benar-benar melakukan apa-apa. Anna terus berteriak kesetanan dan meraung-raung.

“BEBASKAN ROHNYA, ATAU KAU AKAN DIKURUNG DALAM API NERAKA!” teriaknya. Aku tidak tahu apa yang dia maksud, dan aku hanya bisa tergagap dengan bingung.

Sejumlah perawat mulai membanjiri lorong. Sebagian membuka kunci ruangan dan masuk untuk menangani Anna, sebagian menghampiri dan menenangkanku.

“Tidak apa-apa, Nona,” kata mereka, “Dia hanya orang gila. Apa pun yang diocehkannya tidak usah dikhawatirkan.”

Aku tahu aku seharusnya percaya saja pada mereka. Toh itu fakta. Anna memang sudah gila. Tetapi, sesuatu di dasar hatiku mengatakan bahwa Anna memang mengancamku. Ia seolah-olah mengenaliku sebagai Elizabeth, sahabatnya, dan memang berencana mengatakan hal-hal itu. Tetapi aku tidak mungkin mengungkapkannya di hadapan perawat-perawat yang sedang kalang kabut.

“Saya rasa saya harus pulang sekarang,” kataku setelah mereka memberiku segelas air putih dan kondisiku sudah lebih tenang. Mereka meminta maaf dan mengantarku sampai ke mobil.

Aku menyetir nyaris tanpa konsentrasi. Pikiranku terus terbayang-bayang dengan wajah Anna dan pelototannya yang mengerikan, yang menghunjamku dari balik kaca dan jeruji bangsal rumah sakit jiwa. Adegan itu seakan berputar dan terus berputar dalam benakku. Suara seraknya yang seram berdenging-denging di telingaku bak kaset rusak. Aku bahkan nyaris membuat diriku mati kecelakaan lebih sering daripada saat berangkat tadi.

Begitu sampai di rumah, aku mendapati kondisi rumah gelap gulita. Hal itu menandakan orang tuaku tidak tahu kalau aku sedang berkeliaran. Mereka kira aku masih mendekam di kamar dan memutuskan untuk tidur awal. Aku benar-benar bersyukur karena tidak tahu lagi harus mengatakan apa kalau mereka menanyakan apa yang baru saja kualami. Maka, dengan kaki bergetar, aku memasuki kamar dan mengunci pintu.

Tubuhku ambruk di atas kasur begitu aku mencapainya. Aku tidak sanggup memperhatikan refleksiku di cermin, karena aku tahu wajah syokku pasti bakal semakin mengingatkanku pada adegan di rumah sakit jiwa tadi.

Aku menenangkan diri dengan menarik dan menghembuskan napas berkali-kali, dan akhirnya berhasil setelah mencoba begitu keras. Badanku langsung terasa lelah, dan mendadak aku merasakan desakan untuk tidur. Mataku mulai terasa sangat berat.

Dan sebelum mataku benar-benar terpejam, aku melirik meja riasku.

Boneka itu sudah tidak ada di sana.

THE END

I’ve told you I also dunno where Stacy is at the moment. Now don’t ask me and go to sleep. God bless you! Oh and just a friendly reminder that it’s better to keep the lights on tonight…

…or tomorrow night, or whenever something unwanted might come to you.

CAN WE JUST ASSUME THAT IT’S ALREADY SAFE TO LOOK BEHIND YOUR BACK NOW?
Advertisements

3 thoughts on “[STACY’S CURSE] Special Halloween : Torment or Threat (Epilogue)

  1. Akhirnya nggantungin imajinasiku… Ta kira si Stacy dah ngga bakal keluar lg(Meski 75%mungkin bs keluar) Beuh,apik og,Cin.

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s