[CHAPTER FIFTEEN] Little Stories of Ours

Cover by Cindy Handoko

Cover by Cindy Handoko

Copyright © 2015 by Cindy Handoko

Previous chapters : 1 || 2 || 3 || 4 || 5 || 6 || 7 || 8 || 9 || 10 || 11 || 12 || 13 || 14

Lima Belas

Stephanie

Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Hanya saja, aku tak pernah bisa memahami alasan aku berdiri di sini, masih bertahan menghadapi sakit tak terperi.

 

***

‘IDE buruk’ bukan kata yang tepat untuk menggambarkan situasi ini.

Aku bahkan hampir tidak yakin ‘kata yang tepat’ itu sungguh-sungguh ada, tetapi kalau pun ada kata semacam itu, pasti bunyinya adalah ‘ide mengerikan’ atau bahkan ‘ide dari neraka’. Pokoknya tidak ada bagus-bagusnya.

Aku tidak mengerti mengapa ide setolol itu bisa mencuat dari benakku yang kacau. Mungkin gara-gara menghadapi tingkah songong Jerry selama seharian penuh serta bertahan dari semprotan air mautnya, otakku jadi mengalami korsleting atau apa. Maksudku, serius, deh. Dari mana ide untuk meminta David menjadi pacar bohongan Luna muncul?

Oke, aku tahu itu cuma sehari—atau malah beberapa jam yang tak berarti saja. Tapi bukan berarti segala sesuatunya jadi mudah.

Pertama-tama, aku mengalami masalah besar saat berusaha untuk meminta tolong pada cowok yang kutaksir itu. Dalam satu jam waktu yang kuperlukan untuk mendapatkan persetujuannya, kuperkirakan aku telah menghabiskan sekitar lima puluh menit untuk ketar-ketir tak keruan di depan pintu rumah mewahnya, bergulat dengan otakku sendiri mengenai apakah sebaiknya aku menekan bel pintu atau mengurungkan saja niatku yang supermemalukan. Barangkali aku bakal terdengar seperti cewek penjilat yang suka memanfaatkan cowok kalau sedang butuh. Lagipula, kekhawatiran-kekhawatiran lain menghinggapi benakku.

David cowok sibuk. Sebagian diriku mengatakan bahwa aku bakal sangat merepotkannya kalau sungguh-sungguh meminta tolong. Dia punya tim mading untuk dipikirkan (dan sebagai anggota timnya, aku mengerti betapa banyak energi, pikiran, dan waktu yang harus dicurahkan seorang ketua terhadap tim tak jelas itu). Selain itu, dia juga ketua OSIS. Beberapa minggu terakhir ini, dia sibuk rapat sana-sini untuk pensi. Aku seharusnya memikirkan semua itu sebelum asal mengusul pada Luna.

Perkara keduanya, sekali mendengar usulan seperti ini, aku sadar, Luna tak bakalan mau melepaskannya. Aku terlalu mengenal cewek itu. Dia pasti bakal sangat kecewa seandainya aku mengurungkan niat. Aku tak ingin hubunganku dengannya yang sudah membaik dirusak lagi hanya gara-gara aku membunyikan bel pintu dan mengatakan, “Eh… nggak jadi, deh, Kak,” sambil lari terbirit-birit (barangkali sambil menabrak satu atau dua pohon dan membuat wajahku bonyok sedikit).

Setelah berseteru dengan pikiranku sendiri, akhirnya kuputuskan untuk memantapkan niat dan menekan bel pintu. Tidak perlu waktu lama, orang yang kucari-cari membukakan pintu, lengkap dengan senyum ramahnya (bolehkah aku berharap senyum itu gara-gara dia sudah mengintip melalui celah dan tahu bahwa akulah tamunya? Oke, singkirkan pikiran itu, Stephanie. Kau terdengar menyedihkan).

Seperti yang sudah kuekspektasikan sebelumnya, bicaraku seperti tikus terjepit lemari. Aku berkali-kali tak bisa menemukan kata yang tepat dan cenderung terlalu canggung untuk bicara langsung pada intinya. Untunglah, seperti yang mungkin sudah pernah kusinggung-singgung tadi, cowok itu akhirnya setuju. Aku bahkan tidak perlu memaksa. Membantu orang sepertinya memang salah satu prioritas hidup cowok itu (atau bolehkah aku berharap yang aneh-aneh lagi? Tidak. Kurasa tidak).

Setelah mengucapkan beribu-ribu terima kasih (aku tidak melebih-lebihkan) dan mengabari Luna mengenai keputusan David untuk membantu, kukira masalah telah selesai.

Aku terkejut otakku masih punya selera humor.

Lucu sekali. Masalah tidak mungkin selesai begitu saja. Serahkan padaku untuk membuat masalah-masalah baru yang seharusnya tidak perlu ada.

Yah, dan saat kubilang ‘seharusnya tidak perlu ada’, aku serius. Ini sepertinya hanya perasaan yang terlalu kulebih-lebihkan, tetapi toh mendorongku untuk melakukan tindakan konyol lainnya juga.

Sepanjang malam, aku tak bisa tidur. Aku hanya dapat berguling-guling tak jelas di atas kasur sambil memikirkan apa kira-kira yang bakal terjadi hari selanjutnya (yang berarti hari ini, tetapi okelah, kurasa aku perlu mundur sedikit untuk menjelaskan alasan tindakan konyolku secara gamblang. Sekedar agar kalian tak mengira aku sinting). Jerry masih belum kembali ke rumah seperti malam sebelumnya, tetapi hal itu tidak terlalu menggangguku. Di beberapa aspek, itu malah membuatku agak lega, karena :

  1. Aku bisa berpikir tanpa diganggu oleh suara berisik yang sering dia keluarkan, dan
  2. Aku yakin dia tak bakalan kenapa-napa bahkan tanpa aku mencemaskannya. Hal ini sudah cukup kubuktikan malam sebelumnya. Dan, dengan asumsi dia tidak pulang dalam keadaan mabuk atau semacamnya, hal itu tak bakalan mempengaruhiku terlalu banyak. Aku hanya memberinya tumpangan, bukan bertanggung jawab terhadapnya (walaupun di saat-saat tertentu, aku merasa perlu melakukannya, sih).

Aku bukan tipe orang yang bisa melepaskan suatu perkara begitu saja. Alih-alih masa bodoh, aku selalu memikirkan kemungkinan yang tidak-tidak untuk hal yang kuanggap tak pasti. Seperti kencan ganda Luna ini. Pertanyaan-pertanyaan paranoid menghujani benakku seperti serombongan meteor yang siap meledakkan kepalaku kalau aku membawanya masuk terlalu jauh—istilah kerennya, ‘baper’ alias ‘bawa perasaan’ (koreksi aku kalau salah. Aku tidak terlalu berminat mengikuti istilah-istilah keren zaman sekarang).

Bagaimana kalau David dan Kak Marcell ternyata tidak cocok satu-sama-lain?

Ini adalah pertanyaan paling mustahil, sebenarnya. Mengingat David biasanya ramah pada semua orang, dan hal itu membuatnya mudah bergaul dengan siapa saja.

Bagaimana kalau Luna bersikap canggung?

Kemungkinan besar David bisa mengatasinya. Kurasa dia cukup fleksibel. Tambahan lagi, Luna jago akting. Aku seharusnya tak perlu memikirkannya terlalu serius.

Bagaimana kalau cewek Kak Marcell—siapa pun namanya itu—malah naksir David?

Ini adalah pemikiran paranoid nomor dua—yang nomor satu menyusul—malam itu. Sebab, dari kesaksian Luna, masih belum dapat dipastikan tipe cewek seperti apa dia. Luna bilang, sikapnya lumayan dewasa. Tetapi, di saat-saat tertentu, dia seperti cewek-cewek centil lainnya—dan tidak menutup kemungkinan bahwa ‘cowok’ merupakan salah satu topik paling normal baginya, yang mungkin dianggapnya agak remeh, sehingga dia bisa saja naksir orang lain selagi mempunyai pacar. Lagipula, kata Luna—lagi (aku belum pernah melihat cewek itu, jadi maklumi saja kalau seisi paragraf ini mengandung banyak sekali ‘kata Luna’ atau ‘menurut Luna’), penampilan cewek itu mirip sosialita yang hobi dandan. Atau itu bisa saja hanya karena sohibku itu agak sentimen terhadap siapa pun yang berani dekat dengan cowok yang ditaksirnya (apalagi sampai berpacaran sungguhan).

Tapi, semua itu masih tidak seberapa dibandingkan pemikiran paranoid nomor satuku.

Bagaimana kalau David naksir Luna?

Sebut saja aku gila. Tapi, entah mengapa, aku merasa hal itu mungkin saja terjadi. Kalau dipikir-pikir, karena akulah yang memintakan tolong kepada David, mau-tak-mau, cowok itu bakal membandingkan aku dengan Luna saat jalan dengannya. Dan, yah, walaupun aku tahu Luna agak sulit bergaul dengan orang baru, tetap saja dia jauh di atasku bila dibandingkan. Dia lebih menyenangkan, dan aku cenderung membosankan. Wajahnya jelas lebih cantik daripada wajah hantuku. Dia punya selera berpakaian yang lebih up to date daripada aku. Pria waras mana saja yang disuruh memilih pasti bakalan memilih dirinya ketimbang aku.

Mungkin hal itu tak bakalan terjadi. Tetapi, seberapa keras pun aku meyakinkan diriku, aku tetap merasa khawatir. Takut, lebih tepatnya. Aku tahu seharusnya aku tak terlalu memusingkan hal itu. Toh kalau David sungguhan suka pada Luna pun, aku tak bisa berbuat apa-apa. Cowok itu tidak mungkin naksir aku juga, kan?

Iya, kan?

Melihat banyaknya pertanyaan yang membobol zona nyamanku, aku terkejut menyadari aku masih bisa tidur juga setelah sekitar dua jam bergelut mati-matian. Soal pulas atau tidaknya, aku tak bakal berkomentar. Tetapi aku cukup bersyukur tidak menghancurkan pagiku dengan tidak bisa tidur sama sekali (dengan tidur cukup saja, tampangku sudah cukup buruk).

Sampai di situ, aku sudah cukup lega. Tetapi, otakku masih saja punya selera humor. Begitu aku turun dari tangga, kusadari bukan aku yang merusak pagiku, melainkan orang lain.

Dan orang itu tak lain adalah Jerry.

Cowok songong itu sedang duduk di sofa saat aku sampai di bawah. Posisinya yang membelakangiku membuatku tak bisa melihat ekspresi wajahnya, tetapi aku yakin ia tidak mengenakan seragam sekolah.

“Jer?” sapaku—atau tegurku, barangkali, “Kok lo nggak siap-siap? Bisa telat kita.”

Jerry masih tidak menoleh, tetapi ia menyahut sengak seperti biasanya. Bedanya, kusadari suaranya agak serak. “Siapa, ya, yang nggak ngebangunin gue supaya nggak telat bangun?”

Mendengar sindiran dari seseorang yang sedang membelakangi kita mungkin adalah hal paling absurd yang seharusnya tidak usah terjadi. Aku jadi berasa bicara pada patung yang dihuni roh sinting cerewet.

Aku berdecak kesal. “Terus? Kan sekarang lo juga udah bangun. Buruan, gih, siap-siap! Gue nggak mau dihukum terus gara-gara lo. Bisa-bisa reputasi gue anjlok.”

Si patung—maksudku, Jerry—mencibir. “Lo emang ada reputasi apa? Hantu muram yang habis keluar dari sumur? Lo takut gara-gara dihukum ngosek WC tiap hari, reputasi lo bakal berubah jadi ‘hantu muram yang habis keluar dari septic tank’?”

“Jangan bikin gue sebel pagi-pagi gini, deh!” bentakku, “Anggep aja iya, atau gimana, lah, terserah lo. Pokoknya, buruan!”

Jerry tidak menjawab selama dua detik penuh, dan aku sudah sempat mempertimbangkan untuk melempar sesuatu ke arahnya.

“Emang gue ada bilang kalo mau masuk sekolah?” katanya pada akhirnya, saat kukira ia sudah benar-benar kehilangan suara gara-gara serak misterius yang mendadak melanda tenggorokannya.

Karena masih emosi, aku butuh waktu cukup lama untuk mencerna perkataannya. Ketika berhasil, mulutku spontan melongo. “Lo mau bolos?” tanyaku, setengah menyimpulkan.

“Gue nggak bilang gitu juga,” balasnya, “Tapi, mungkin aja.”

Dahiku langsung berkerut. Hal seperti itu terasa semakin janggal karena cowok itu belum juga mau membalikkan badan. Kalau aku ibunya, aku pasti sudah bisa menemukan alasan untuk menuduhnya tidak hormat. Sayangnya, aku tahu aku tidak punya hak. Kalau dia memang tidak ingin menatap wajahku, mungkin ada suatu alasan. Dan aku sangat menghargai privasi, misalnya dalam hal ‘tidak mau menatap wajah Stephanie karena seram’ (beberapa orang di sekolah sering terjangkit penyakit akut dalam hal itu, ngomong-ngomong).

“Kenapa memangnya?”

Okelah, mungkin ‘menghargai privasi’ agak tidak sesuai dengan sifat kepoku yang kadang-kadang muncul.

“Nggak kenapa-napa,” jawabnya tak niat, “Males aja. Emang nggak boleh?”

Kerutan di dahiku semakin dalam, tetapi aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk membalasnya.

Suasana hening bertahan di antara kami selama kurang-lebih dua menit. Aku terus menatap punggungnya sambil bertanya-tanya apa yang terjadi, sementara dia masih duduk diam tak bergerak di tempatnya semula.

Suaranyalah yang akhirnya memecah keheningan.

“Katanya takut telat,” cibirnya, “Kok malah mandangin punggung gue gitu? Kenapa? Punggung gue lebih indah daripada muka Pak Suratno, ya?”

“Idih!” aku langsung bergidik sambil menirukan bunyi orang muntah, “Jangan geer, ah, jadi orang.”

Jerry mendengus meremehkan.

“Ya udah, gue tinggal, deh, ya?” kataku pada akhirnya, sambil berjalan menjauh menuju kulkas. Jerry tidak menyahut, tetapi kalau dia tidak mau ditinggal, dia pasti bilang.

Saat aku membuka kulkas, diam-diam kulirik cowok itu dari balik pintu kulkas. Dari sini, jaraknya agak jauh. Tetapi aku masih bisa melihat dengan jelas wajah kuyu cowok itu dari samping.

Pemandangan yang kulihat membuatku membelalakkan mata.

Wajah itu tampak sangat kelelahan. Kantung matanya yang biasanya sudah tebal tampak semakin tebal—nyaris seperti ada kantung lagi di dalam kantung mata itu. Sorot matanya tidak fokus, seolah ia tidak bisa memutuskan harus memandang ke mana. Gerakan tubuhnya lunglai.

Akan tetapi, bukan itu yang membuatku begitu terkejut.

Di sekujur tubuhnya, tampak banyak sekali lebam dan luka lecet yang mengkhawatirkan.

Aku terlalu syok untuk berkata apa-apa. Mendadak, seluruh nafsu makanku hilang begitu saja. Aku buru-buru menutup kulkas dalam satu gerakan cepat dan berbalik pergi. Sepatu kupakai asal-asalan, kemudian aku berlari keluar dan mengeluarkan sepedaku.

Sambil mengayuh sepeda, benakku tak sanggup diam. Sebuah pertanyaan tak terjawab terus menggangguku, sampai-sampai aku takut hal itu akan mempengaruhi konsentrasiku dalam mengayuh.

Apa yang terjadi pada Jerry sebenarnya?

 

***

Masalah Jerry itu benar-benar membuatku lupa akan kekalutanku semalam. Aku seharusnya cukup bersyukur akan itu. Sayangnya, begitu sampai di sekolah dan melihat wajah Luna, segala pertanyaan paranoid itu kembali lagi, bercampur aduk tak keruan dengan kekhawatiranku mengenai Jerry.

Rasanya kepalaku mau pecah.

“Kenapa lo?” Luna bertanya blak-blakan, “Lo kayak habis dihantam bata gitu.”

Terima kasih sudah diingatkan kalau penampilanku bahkan jauh lebih buruk daripada saat berkaca tadi, Luna. “Nggak kenapa-napa,” jawabku—jelas-jelas berdusta, karena dari sekian banyak masalah yang membebani pikiranku, tidak satu pun dapat kuceritakan padanya (apalagi masalah pertanyaan paranoid yang pasti bakal memalukan banget itu).

“Bohong lo, ah,” Luna memutar kedua bola matanya, “Nggak ada hubungannya sama gue, kan?”

“Nggak,” jawabku langsung, walaupun aku tak yakin berkata jujur.

“Terus?” Luna mengerutkan dahi. “Soal Jeremy?” tebaknya, “Dia berbuat aneh-aneh lagi?”

“Bukan, kok,” jawabku, lagi-lagi tak yakin berkata jujur (cowok itu jelas tak berbuat aneh-aneh padaku, tetapi penampilannya pagi ini membuatku berpikir aneh-aneh tentangnya).

Kerutan di dahi Luna semakin dalam. Aku bisa mengerti kalau ia tahu aku berbohong, karena toh ia mengenalku lebih dari siapa pun. Tetapi, kurasa tak ada gunanya juga mengatakan terang-terangan padanya. Yang ada hari ini malah bakal berubah menjadi ‘Hari Sesi Ceramah Langka’.

Untungnya, karena alasan yang sama pula, Luna sepertinya mengerti bahwa aku benar-benar enggan membicarakan masalahku. Jadi, dia pun memutuskan untuk pura-pura percaya saja. “Oh, kurang tidur doang kali, ya, lo?” katanya sok masa bodoh—padahal aku tahu dia sangat penasaran.

“Soal itu, iya,” jawabku (kali ini jujur, walaupun sudah bisa tidur saja aku bersyukur).

“Pantes, deh,” Luna menyahut. Keheningan melanda kami selama beberapa menit, sampai akhirnya dia memutuskan untuk memulai topik pembicaraan baru. “Kemarin gue udah ngabarin Kak Marcell,” katanya, “Gue juga udah bilang ke dia kalo yang bakal gue ajak itu temen doang.”

Aku tersentak kaget. “Kok lo malah bilang gitu?” protesku.

Ekspresi Luna berubah bete (okelah, bisa dibilang ‘kembali seperti biasa’). “Emang lo pikir dia nggak tahu kalo gue nggak punya pacar, gitu?”

Aku, yang sepertinya menjadi lima kali lebih bolot pagi ini, berusaha mencerna perkataannya. Kemudian, “Oh, iya, ding.”

Luna mengerucutkan bibir. “Berita buruknya,” ia berkata, “Dian nggak tahu, dan nggak ada yang mau dia curiga. Jadi, gue tetep harus pura-pura pacaran sama si Barney lo itu.”

“Dia anaknya asyik, kok, Lun,” kataku, “Nggak bakal canggung deh lo sama dia.”

“Masalahnya, gue ngomong sama dia aja belum pernah,” Luna berkata sambil memberikan penekanan berlebihan di mana-mana (seolah perlu penegasan berkali-kali bahwa aku ini bolot banget), “Lo berharap gue sama dia kelihatan kayak pasangan macam apa? Kalo pasangan suami-istri, pasti ini udah masuk tahap pisah-ranjang-dan-nggak-bicara-satu-sama-lain-sampe-cerai. Menurut lo, Dian nggak bakal curiga?”

“Kalo dia tahu pun, dia nggak bisa apa-apa, lah,” kataku, “Toh terserah lo juga, kan, mau ngajak siapa?”

Luna memutar kedua bola matanya, “Suka-suka lo, deh. Tapi kalo lo di posisi gue, kali aja lo bakal lebih panik. Gue aja ketar-ketir sendiri sekarang.”

“Santai aja, deh, Lun,” kataku, berusaha terdengar seperti apa yang kusarankan—padahal dalam hati, aku yakin aku lebih panik daripada dia. “Kak Sella bilang apa soal rencana ini, ngomong-ngomong?”

Luna terdiam sejenak, seolah sedang berkata kepada dirinya sendiri : Oke, ini dia pertanyaan yang gue tunggu-tunggu.

“Dia bilang,” Luna menarik napas dalam, “’Nggak apa-apa, lah. Dibetah-betahin dulu. Usahain jangan terlalu canggung supaya nggak mengundang kecurigaan, dan—KRING! Astaga, HP-ku bunyi! Bentar, ya, Na, Tiffany telepon, nih. Kayaknya dia lagi banyak masalah akhir-akhir ini. Habis, dia jadi rempong banget. Bentar, ya, aku keluar dulu’. The end.”

Mataku mengerjap-ngerjap selama sepersekian detik, kemudian tawaku menyembur keluar. Dapat kulihat, Luna juga mati-matian menahan tawa, tetapi demi imej betenya yang terkenal, dia memalingkan wajah. “Gue tebak percakapan itu nggak pernah berlanjut,” kataku setelah berhasil mengendalikan tawa.

As you guessed,” jawab Luna. “Habis itu, dia mendekam aja di kamarnya sambil telfonan sama si Miss Rempong.”

“Jahat amat lo sama sepupu sendiri,” ujarku geli.

“Habis, yang satu itu alay banget. Gue tebak ini masalah maskara habis trus nggak ada duit buat beli baru atau semacamnya, lah. Pokoknya bukan masalah yang penting-penting amat,” Luna mendengus sambil tertawa kecil. Aku sudah tidak asing lagi dengan permusuhan aneh yang ditampakkan Luna terhadap adik Kak Sella, Tiffany. Kemungkinan besar ini karena saat kecil, kedua-duanya bersaing mendapatkan perhatian Kak Sella (yang sudah jelas dimenangkan oleh Tiffany, karena biar bagaimana pun, dia lebih sering bersama-sama dengan kakaknya itu).

Tepat saat kukira aku bisa menyambung percakapan itu dengan banyolan lain supaya suasana hati kami berdua yang sama-sama panik bisa mendingan, bel berbunyi nyaring. Tanpa punya waktu untuk mengutuk bel itu, kami berdua bergegas menempatkan diri di bangku masing-masing dan mengikuti pelajaran.

 

***

Sore hari datang lebih cepat daripada perkiraanku. Saat aku tiba di rumah, jam sudah menunjukkan pukul empat sore.

Aku masuk dan mendapati Jerry masih duduk di tempatnya tadi, tertunduk dan tampak sedang tidur pulas. Satu-satunya hal yang membedakannya adalah bahwa ia sudah berganti pakaian dan memplester beberapa luka lecet di wajah serta tangannya. Aku menahan napas saat berjalan mendekat.

Sesebal-sebalnya aku terhadap Jerry, melihatnya seperti itu tetap membuatku merasa kasihan. Dalam tidurnya, ia terlihat sangat kelelahan, dan aku sendiri bisa membayangkan rasa sakit yang mungkin dideritanya gara-gara luka-luka itu. Tetapi, aku tetap merasa penasaran. Satu sisi diriku kepingin membangunkannya dan menyuruhnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, berhubung sepertinya lebih mungkin pertanyaan itu bakal berujung perdebatan melelahkan, aku memutuskan untuk mengurungkan saja niatku dan berjingkat-jingkat melewatinya sambil masih menahan napas.

Saat langkahku sudah mencapai pangkal tangga, mendadak sebuah suara serak mencegatku.

“Baru pulang lo.”

Aku menoleh dan mendapati Jerry masih berada dalam posisi semula—duduk tertunduk dengan mata terpejam. Namun, kini aku sadar, dia tidak tidur. Ekspresi kelelahan di wajahnya itu mungkin memang apa adanya, bukan gara-gara dia sedang tidur (orang bilang, semua kelelahan kita akan tercermin di wajah saat tidur. Aku jadi tidak bisa membayangkan bagaimana rupa Jerry kalau ia sampai tidur sungguhan saat ini).

“Iya,” jawabku supercanggung. Belum pernah aku secanggung ini di depan Jerry, tapi berhubung dia juga belum pernah tampak seperti itu sebelumnya, jadi kurasa adil-adil saja aku bersikap seperti ini. “Lo ngapain di situ terus?”

“Nggak ada kerjaan,” jawabnya, benar-benar bukan jawaban yang akan diberikan seorang Jeremy Ericson dalam kondisi biasa—menandakan ia benar-benar sedang punya masalah serius. Kalau tidak begitu, dia pasti sudah keluyuran kesana-kemari dan barangkali memalak anak-anak kecil di jalanan.

“Luka-luka itu,” kataku pada akhirnya, “Kenapa?”

Jerry mendengus dan menoleh menatapku. Matanya memancarkan sinar jahil yang biasa, dan sebelah alisnya terangkat. “Menurut lo?”

Dahiku berkerut bingung. “Lo… berantem?”

“Iya, lah!” jawabnya pongah sambil memaksakan senyum bangga—bagaimana aku bisa tahu itu dipaksakan? Entahlah, aku hanya tahu saja. “Apa lagi yang mungkin gue lakuin?”

Aku pura-pura tidak curiga dan bertanya, “Kapan berantem? Gara-gara apa?”

“Siang,” jawabnya, “Pas lo masih berkutat sama buku pelajaran bau lo itu. Gara-gara apa? Anggep aja biar keren.”

Sekarang jelaslah bahwa dia bohong besar. Aku sendiri melihat luka-luka itu sudah ada sejak pagi tadi, tetapi mungkin dia tidak tahu aku mengintip. ‘Biar keren’ juga sama sekali bukan jawaban yang kuharapkan, apalagi dengan suara seraknya yang aneh itu.

“Jawaban macem apa itu?” gumamku, berusaha bersikap normal, “Ya udah, deh. Gue naik dulu aja. Pusing gue ngadepin elo.”

Sesuai perkataanku, aku pun meneruskan langkah menuju kamarku yang terletak di lantai dua, sembari berusaha mati-matian untuk tidak menoleh supaya rasa penasaranku tidak semakin menjadi-jadi.

Saat aku berhasil masuk ke kamar, tubuhku langsung rebah di atas kasur. Pertanyaan-pertanyaan kembali mengusikku, tetapi aku tahu, kali ini aku tidak boleh terlalu memusingkannya. Kulirik jam dinding dan melihat jarum panjang sudah mengarah di angka satu. Masih ada lebih dari satu jam dari jadwal kencan ganda Luna. Aku mempertimbangkan apakah sebaiknya kutelepon dia atau tidak, tetapi kemudian kuputuskan untuk tidak melakukannya, karena dia pasti sedang sibuk bersiap-siap.

Pandangan mataku beralih pada lemari, dan mendadak sebuah ide gila terlintas di benakku.

Tidak, kata ‘mendadak’ sepertinya kurang cocok. Aku sudah memikirkan hal-hal yang mengarah ke sana sejak kemarin, tetapi baru saat ini aku mendapatkan gambaran utuhnya.

Apa kubuntuti saja Luna dan David, ya?

Lagi-lagi, sebut saja aku gila.

Biasanya aku bukan tipe orang kepo yang hobi membuntuti cowok yang dia taksir ke mana-mana. Aku juga bukan psikopat gila yang suka memata-matai. Tetapi, pertanyaan-pertanyaan itu mengusikku terlalu jauh, sampai-sampai pikiranku tidak konsen sepanjang hari (di luar kenyataan bahwa kondisi babak-belur Jerry juga ambil bagian dalam membuatku melamun di kelas).

Kurasa tidak ada salahnya bersikap tak tahu malu sedikit sekali-sekali. Toh tidak ada ruginya juga—kecuali fakta bahwa kalau kepergok, aku tak bakal bisa sok asyik dan berkata, “Hai! Wah, kok Jakarta sempit banget, ya? Gue lagi jalan-jalan, eh… ketemu kalian! Asyik! Jalan bareng, yuk?”

Alasannya jelas : Luna memberitahuku tempat kencannya, dan aku jelas-jelas minta bantuan David untuk Luna kemarin. Jadi, kalau aku sungguhan sok asyik begitu, kemungkinan besar bakal terjadi Perang Dunia ketiga besok pagi (antara aku dan Luna, dan barangkali David bakal berpihak di kubu lawan saking malu-maluinnya aku).

Er… dipikir-pikir, konsekuensinya lumayan besar.

Tapi, masa bodoh, lah. Daripada aku penasaran terus dan berakhir jadi tidak tenang.

Akhirnya, setelah menimbang-nimbang lagi, kuputuskan untuk menyerah pada rasa penasaranku. Aku bangkit berdiri dan mengambil baju pergi paling normal yang kupunya (aku tidak mau pergi dengan baju hitam-hitam di mal. Pasti bakalan mencolok banget, kan?), kemudian masuk ke kamar mandi dan mulai membasuh diriku.

Ketika aku selesai, jam sudah menujukkan pukul empat lebih dua puluh lima menit. Masih lama sekali dari jadwal janjian. Kurasa aku bisa bersantai dulu sambil tidur-tiduran di kamar.

Jadi, aku pun masuk ke kamar dan bermain ponsel. Lama sekali aku hanya duduk saja sambil melirik-lirik jam tiap lima menit sekali. Tetapi, entah bagaimana, aku berhasil menghabiskan waktu satu jam lebih itu tanpa ketiduran.

Saat jam sudah menunjuk pukul setengah enam, aku bangkit berdiri dan menyambar tas selempangku, kemudian turun ke bawah secepat kilat.

Jerry masih di bawah, seperti yang sudah kuduga. Ia langsung menoleh begitu melihatku dan tampak agak terkejut.

“Mau ke mana lo?” tanyanya langsung.

“Pergi jalan-jalan,” jawabku tak penting.

“Kirain mau layat,” Jerry mencibir sarkastis. “Ya iya, lah! Ngapain lagi lo pergi pake baju santai warna-warni cerah gitu kalo bukan mau jalan-jalan?”

“Habis, lo tanyanya nggak jelas,” balasku, merasa menang.

“Ya udah, deh, gue tanya yang jelas,” Jerry berkata, “Nona Stephanie yang bolot luar biasa, Anda mau jalan-jalan ke mana?”

Aku mengangkat kedua alis. Ternyata, dalam kondisi babak-belur pun, cowok ini tetap sama menyebalkannya dengan biasa. “Nyindir banget lo,” dengusku, “Ke mal doang, kok.”

“Mal?” Jerry mengulangi, kemudian dia melirik jam dinding dan berkata, “Sendirian lo?”

“Nggak,” jawabku, “Sama pacar.”

Dahi Jerry berkerut.

“Ups,” kataku, “Lupa gue. Kan gue nggak punya pacar.”

Jerry langsung mendengus sengak. “Jomblo ngenes emang suka gitu, deh. Udah ngaku-ngaku punya pacar, pake ke mal naik sepeda segala, pula. Idih, elit banget.”

Aku menyipitkan mata dengan tersinggung. “Ada yang salah dengan ke mal naik sepeda? Kayaknya dulu lo juga gitu, deh.”

“Gue ini perkecualian,” katanya pongah, “Mau naik apa pun, gue tetep keren. Lah, elu? Makin kelihatan ngenesnya.”

“Terus mau lo gimana?” tanyaku sengak.

Jerry mengangkat sebelah alisnya. “Mau gue?” tanyanya. Kemudian, dalam satu sentakan cepat, dia berdiri dan menghadapku. “Gue mau ikutan.”

Belum sempat aku mencerna perkataannya, ia sudah berlalu dan masuk ke kamarnya. Begitu menyadari apa yang barusan dia katakan, mulutku langsung melongo.

“Eh! Nggak, nggak, nggak bisa!” teriakku keras-keras, memastikan ia bisa mendengarku dari balik pintu kamar. Tetapi, cowok itu sudah terlanjur keluar dengan jaketnya yang butut.

“Hak gue, kan?” cibirnya, “Lagian, lo harusnya berterima kasih. Dengan adanya gue, lo nggak bakalan kelihatan ngenes-ngenes amat.”

Aku melongo lagi. “T-tapi—“

“Udah, buruan! Mal mana? Gue duluan, deh, kalo lo masih mau melongo-longo di situ dulu.”

Aku gelagapan.

Sial, dia bakal tahu kalau aku membuntuti kencan ganda orang! Aku tak tahu lagi seberapa memalukannya itu. Barangkali dia bakal mengolok-olokku sampai tua gara-gara ini.

“Lo… b-bukannya lo selalu ada urusan kalo malem-malem gini?” aku berhasil menemukan alasan untuk mencegahnya ikut.

Di luar dugaan, raut wajah Jerry mendadak mengeras. “Hari ini gue free, kok,” jawabnya. Entah hanya perasaanku atau bukan, sepertinya nada bicaranya lebih dingin daripada sebelumnya.

Aku tergagap lagi, dan bahkan tak sempat memikirkan keanehan perubahan sikapnya. Aku hanya berusaha mencari-cari dalih supaya dia tidak perlu ikut.

“Lo mau ngapain, sih, sebenernya?” tanyanya curiga, menyadari aku terlalu lama diam seperti orang bego. Matanya disipitkan, dan sepertinya aku sudah bisa menebak hal-hal kotor apa yang sedang dipikirkan otak ngaconya itu (itu pun kalau dia punya otak).

“Ke mal beneran, kok!” jawabku—agak terlalu cepat, sehingga kalau aku jadi dia, aku juga bakalan jadi makin penasaran.

“Kalo cuman ke mal, boleh, dong, gue ikut?”

Jerry mengangkat sebelah alisnya lagi. Tatapan matanya mengancam dengan segala kecurigaan aneh yang entah apa. Saat menyadari aku kehabisan alasan, akhirnya aku menyerah. Kuhela nafas berat, kemudian berjalan loyo menuju pintu depan.

“Suka-suka lo, deh, kalo gitu.”

 

***

Seharusnya aku tahu lebih baik.

Sesuai dugaan, Jerry tidak berhenti ngakak begitu mengetahui aku datang ke mal ini untuk membuntuti dua “pasangan” yang sedang kencan ganda.

“Buset,” katanya sambil masih ngakak-ngakak tak jelas, “Dasar jomblo kurang kerjaan, lo, ya! Idup lo itu ngenesnya udah kelewatan. Gue aja sampe kalah, lho!”

“Ssst!” bentakku sambil memelototi muka kurang ajarnya, “Lo diem dulu, napa? Kita bisa ketahuan!”

Kita?” ulangnya sengak, “Lo aja kali. Gue nggak. Gue kan nggak sengenes elo, ngebuntutin orang yang lagi nge-date. Ckckck… apa perlu gue samperin aja, ya, mereka? Biar lo mati kutu kepergok sendiri.”

Aku menginjak kakinya dengan penuh penghayatan.

“Aduh! Sakit, goblok!” dia balas menendang kakiku—dengan pelan, untungnya (kalau tidak, barangkali aku bakal jatuh mengenaskan dan membuat suara yang luar biasa keras, yang bisa dianggap lonceng kematianku juga pasca Perang Dunia ketiga).

“Lo kenapa, sih?!” balasku dalam bisikan, “Mereka udah jalan lagi, tuh! Lo ngeganggu konsentrasi gue, tau!”

“Halah, konsentrasi,” Jerry mencibir, “Giliran lihat cowok brengsek aja konsentrasi lo jadi bagus banget, ya?”

“Enak aja!” balasku spontan, “David nggak brengsek, dan gue ke sini bukan gara-gara dia. Gue cuman mau ngikutin Luna aja!”

Itu, sih, jelas dusta.

“Oh, ya?” Jerry mencibir lagi, “Kenapa lo? Cemburu? Jangan-jangan lo bisek—“

“Ngawur!” potongku sebelum cowok itu melanjutkan perkataan kotornya, “Diem aja, deh! Gue tinggal, baru tahu rasa lo.”

“Sok penting banget, Bu?” Jerry mendengus, “Lo tinggal juga gue bisa pulang sendiri. Orang gue bawa sepeda sendiri.”

“Ya udah, pulang sono!”

“Ogah. Gue masih mau ngamatin konsentrasi lo yang suci itu.”

Darahku sudah mendidih, dan kalau aku lebih kasar sedikit, pasti sudah kutendang cowok itu hingga mental ke luar angkasa. Rasanya wajahku merah padam dipermalukan seperti ini. Setelah memberikan satu-dua pelototan garang, aku pun berjalan cepat mengikuti keempat orang itu, hanya untuk diikuti lagi oleh si pengganggu.

“Ayo, semangat!” serunya kurang ajar, “Kejar cowok brengsek lo, Steph! Asyik! S to the T to the E to the P to the H to the A to the—“

“Diem, berisik!” aku membentak. Alasannya bukan hanya gara-gara dia mengusikku, tetapi juga gara-gara sulit mendengarnya bersorak seperti itu tanpa membayangkannya mengenakan baju ketat cheerleaders dan berdiri di atas formasi piramida sambil mengayun-ayunkan pompom di udara. Percayalah, itu bayangan yang tidak bakal lulus sensor.

“Ampun, gue dibentak Nyonya Penguntit!” Jerry sok ketakutan—yang malah membuatku kepingin menonjoknya semakin kuat kalau saja aku tidak ingat ia sudah punya cukup luka.

Aku terpaksa hanya menginjaknya lagi, kemudian berjalan lebih cepat. Sayangnya, konsentrasiku buyar total. Dalam sekejap, aku sudah kebingungan sendiri, ke mana orang-orang yang kuikuti pergi.

Saat berhasil menemukan mereka, lagi-lagi aku mendengar sorak cheerleaders dari arah belakang.

“Semangat! S to the T to the H to the E—“

“DIEM DIKIT, DONG!” Aku berteriak sambil berbalik menatapnya dengan marah. Aku sudah lupa sama sekali dengan misiku untuk membuat keberadaanku tak dipergoki. Aku hanya kesal setengah mati pada si cowok pengganggu itu.

Jerry cekikikan dengan pongah, yang malah membuatku semakin kepingin menghapus bayangannya mengenakan baju cheerleaders yang sudah terlanjur ada di benakku itu.

Saat aku berbalik kembali untuk meneruskan langkah, kusadari aku sudah benar-benar kehilangan mereka. Sejauh mata memandang, sama sekali tidak tampak tanda-tanda keberadaan mereka. Suasana mal yang ramai malah semakin memperparah suasana.

“Sial!” pekikku langsung. “Tuh, kan, ilang!”

Jerry menyejajari langkahku dan bersikap sok simpati. “Yah, kecewa dong lo. Cowok brengseknya udah pergi.”

Aku langsung memelototinya dengan garang. “Ini semua gara-gara lo, tau!”

“Wah, kok lo nyalahin gue?” jawabnya sok tak berdosa, “Kan gue cuman nyemangatin elo. Elonya aja yang sensi.”

“Stres gue ngadepin elo,” balasku depresi, “Lo pingin digampar atau ditendang?”

“Aduh, serem,” katanya tak niat, “Gue mau digampar hantu septic tank. Serem. Aduh. Astaga.”

Dan aku benar-benar menendangnya.

Harapanku, dia bakalan mental ke Alaska. Tetapi, tentu saja tidak. Dia malah cekikikan dengan puas, seolah-olah membuatku sebal adalah tujuan mulianya yang akhirnya terpenuhi.

“Lo harus tanggung jawab,” kataku, “Sekarang, lo bantu gue cari mereka lagi.”

Tanpa babibu, aku membalikkan badan dan berjalan mendahuluinya dengan emosi masih membeludak. Baru selangkah aku berjalan, sebuah suara menyentakku.

“Jerry?”

Suara itu terdengar asing, tetapi juga familier. Seolah-olah aku sudah pernah mendengarnya sebelum ini, tetapi mungkin sudah lama sekali sehingga aku tidak ingat. Penasaran, aku pun menoleh dan mendapati seorang gadis berdiri di belakangku dan Jerry. Gadis itu berperawakan mungil—tidak semungil itu, sih, tetapi tetap saja termasuk pendek. Kulitnya agak cokelat, tetapi serasi dengan gaun tosca yang dikenakannya. Wajah cantiknya dibingkai rambut berwarna Hazelnut yang bergelombang indah, mencapai pinggang. Mata bulat besarnya yang berkilat-kilat memandangiku dan Jerry secara bergantian, tampak antusias.

“Dan Stephanie!” sambungnya. Bahkan suaranya pun terdengar sangat merdu di telingaku. Baru melihatnya saja, aku tidak kesulitan mengenalinya.

“Cindy?” Jerry-lah yang menyuarakan sapaan di benakku terlebih dahulu, dan baru kusadari bahwa semua ini terasa janggal.

Aku ingat Cindy. Dia mantan pacar David yang pernah bertemu denganku beberapa waktu lalu. Sama sekali tidak ada yang berubah, kecuali fakta bahwa rambutnya sudah memanjang—tapi tampaknya itu malah membuatnya tampak semakin cantik. Aku nyaris lupa bahwa gadis itu punya outlet di mal ini. Tetapi, di antara semua itu, aku menemukan hal paling janggal di antara semuanya.

Bagaimana dia bisa mengenal Jerry?

Saking sibuknya berpikir, aku sampai lupa menyapanya. Tetapi, ia sepertinya baik-baik saja. Ia tetap tersenyum ramah tanpa menyadari kebingungan di wajahku. “Kalian saling kenal?” ia bertanya, “Ya ampun, aku nggak nyangka banget. Masuk ke outletku bentar, yuk! Kita ngobrol-ngobrol. Udah lama banget aku nggak ketemu Jerry.”

Sebenarnya, aku kepingin menolak. Soalnya, tujuanku ke sini adalah untuk membuntuti Luna dan David, dan aku bahkan belum menemukan mereka lagi. Tetapi, sebelum aku sempat menyatakan keberatan, Jerry sudah menyela duluan.

“Boleh,” jawabnya langsung. “Mana outlet lo?”

Dan begitulah, aku terpaksa menurut. Cindy memimpin kami menuju outletnya yang seingatku terletak di lantai bawah. Sembari berjalan, aku melirik Jerry.

Kok lo bisa kenal sama dia? begitulah kira-kira bunyi pesan yang kusisipkan dalam lirikan mataku. Jerry sepertinya memahami maksudku. Ia balas melontarkan tatapan yang kira-kira artinya :

Nanti. Bakal gue jelasin ke elo.

TO BE CONTINUED

Finally done! Huahahaha!

Friendly reminder that the Cindy here doesn’t refer to myself and was made to be the exact opposite of me lol. I’m far from tiny, beautiful, tanned, fashionable, etc etc. Anyways, I kinda think the new poster is weird but meh whatever. As long as I can put on something new I’m happy lah.

I think that’s it. See ya on the next chapter! (if there’s any :p)

Download the Ebook?

dl

Advertisements

2 thoughts on “[CHAPTER FIFTEEN] Little Stories of Ours

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s