[CHAPTER SEVENTEEN] Little Stories of Ours

Cover by Cindy Handoko

Cover by Cindy Handoko

Copyright © 2015 by Cindy Handoko

Previous chapters : 1 || 2 || 3 || 4 || 5 || 6 || 7 || 8 || 9 || 10 || 11 || 12 || 13 || 14 || 15 || 16

Tujuh Belas

Stephanie

Terlalu banyak mulut yang terjahit rapat—menyimpan rahasia, tetapi hanya akan mengucurkan darah apabila dibuka paksa.

 

***

NYARIS saja aku menjatuhkan diri sendiri dari kursi saat Jerry tiba-tiba menoleh dan mencondongkan tubuh ke arahku. Aku dapat merasakan mataku melotot dan mulutku hampir menjerit. Cindy, yang duduk tepat di hadapan kami berdua, juga nampak terkejut. Untuk sesaat, kami bertiga terdiam dalam keheningan yang membingungkan.

Aku dapat melihat wajah Jerry dari jarak yang dapat dibilang terlalu dekat saat sel-sel tubuhku masih membeku. Wajah itu tampak pucat, dan rahangnya keras. Kantung matanya ditekan oleh dua bola mata cokelat gelap yang melotot, dipaksa membentuk lengkungan hitam tepat di atas plester luka yang ditempel melintang di pipinya. Bibirnya yang pucat mengerut, dan sikap tubuhnya tegang.

Nafasku yang tertahan sudah hampir membirukan wajah saat akal sehatku mulai mengambil alih. Aku segera berdiri dari kursi dan membentak spontan, “Lo kenapa, sih?”

Jerry langsung menoleh ke belakang dengan buru-buru. Pandangannya menyapu bagian luar kaca etalase outlet Cindy dalam dua detik singkat sebelum nafasnya terhembus lega. Ia kembali menoleh ke depan dan mendongak menatapku.

“Lo bego atau apa, sih?” sindirnya tiba-tiba, “Di luar tadi gue lihat temen lo sama si Cowok Brengsek lagi berhenti. Mereka lihat ke sini, Oon!”

Aku melongo. Mendadak, semua tindakan spontannya yang membingungkan itu jadi masuk akal, dan itu membuatku merasa goblok sungguhan. “Masa?” tanyaku. Kemudian, sesuatu terlintas di benakku, dan aku pun menyambung, “Mereka berdua aja? Nggak ada Kak Marcell sama pacarnya?”

Alis Jerry bertaut seketika. “Lo hampir ketahuan jadi stalker, dan lo masih peduli apa mereka cuman berdua atau nggak?”

Aku mengerjap, mendadak sadar seburuk apa kedengarannya itu. “Maksud gue… siapa tahu dua lainnya masih di belakang dan bisa lewat sewaktu-waktu, kan?”

Raut wajah Jerry berubah bete. “Emang dua lainnya kenal elo?”

Oh, pikirku, Iya juga, ya.

Aku berpikir keras untuk mencari kata-kata balasan yang tepat, tetapi akhirnya memutuskan bahwa pembicaraan ini terlalu memalukan untuk berlanjut. Jadi, aku kembali duduk, berusaha kelihatan tidak peduli akan apa pun yang barusan terjadi.

Cindy menatap kami berdua dengan mata bulatnya selama beberapa detik yang canggung, sebelum akhirnya tertawa geli, seolah raut wajah setengah-pucat-setengah-kesal kami adalah hiburan yang menyenangkan.

Yah, mungkin kalau aku berada di posisinya, aku juga bakal melakukan hal yang sama.

“Ternyata kamu masih sekasar biasanya, Ry,” Cindy berkomentar sambil menatap Jerry yang sudah kembali ke posisi duduknya semula—menghadap ke depan. Ada dua hal yang langsung menggelitik benakku setelah mendengar perkataan itu. Pertama, aneh rasanya mendengar Jerry dipanggil “Ry”, setelah bulan-bulan yang kuhabiskan untuk memanggilnya “Jer”—dan panggilan itu langsung terdengar puluhan kali lebih jelek daripada panggilan Cindy. Kedua, entah mengapa, aku merasa pembawaan Cindy saat bersama Jerry benar-benar berbeda dengan saat bersama David. Ia terlihat jauh lebih santai, sama sekali tidak ada kesan formalitas dalam keramahannya.

Apa ini gara-gara David mantan pacarnya?

Atau… ia punya ketertarikan terhadap Jerry?

Tuh, kan. Pikiranku jadi melantur lagi.

“Susah, sih, nggak kasar sama cewek yang agak-agak oon kayak gini,” Jerry melirikku, dan aku segera melotot tajam ke arahnya—tidak digubris, tentu saja.

Cindy tertawa geli sekali lagi. “Berarti aku juga agak-agak oon, dong, dulu?”

Jerry mengangkat bahu. “Bisa jadi, kalo lo mau berasumsi begitu.” Lalu, sambil menaikkan sebelah alis, ia menambahkan, “Tapi gue bener-bener merasa kebegoan Stephanie udah di atas rata-rata manusia normal.”

Dan usahaku untuk jaim di depan Cindy langsung gagal, karena detik setelahnya, aku sudah menginjak kaki Jerry.

“Tuh, kan,” katanya datar, “Dia pikir injekan kayak gitu bakal ngaruh ke gue. Gue harus bilang, itu idiot.”

Tawa Cindy menjebol keluar.

“Ya ampun,” katanya setelah berhasil menghentikan tawa itu. “Steph, nggak usah didengerin, ya, apa kata dia? Emang orangnya suka gitu, kok.”

Aku merasakan sesuatu menarik-narik perutku. Aneh rasanya mendengar ada cewek yang mengguruiku soal Jerry. Selama ini, aku sudah terlalu terbiasa dengan cowok songong itu. Aku tidak tahu mengapa mendengar sesuatu tentangnya dari mulut orang lain yang sudah mengenalnya lebih lama terasa seperti ini. Aku merasa kikuk, kesal, marah, sekaligus bingung.

Mungkin sudah saatnya semua pemikiran berlebihanku itu diketik dan dijilid menjadi trilogi novel. Barangkali bakal jadi lebih hits daripada The Hunger Games. Judulnya juga lebih keren : The Melodramatic Games.

Nggak jadi, deh. Itu lebih cupu.

“Nggak masalah,” jawabku pada akhirnya, “Aku udah terbiasa, kok.”

“Halah, pake sok aku-akuan,” cibir Jerry, dan kali ini aku hanya memelototinya dengan kesal.

Sekuel trilogi The Melodramatic Games : Kenapa Jeremy Ericson Jadi 1000x Lebih Menyebalkan di Depan Cindy?

Oke. Aku harus berhenti. Siapa tahu Jerry sebenarnya bisa membaca pikiran orang dan sedang ngakak diam-diam dalam hati saat ini.

Cindy tertawa geli sekali lagi. Posisi tubuhnya dicondongkan ke depan, menandakan ia tertarik untuk melanjutkan pembicaraan yang hampir bisa dibilang belum dimulai ini.

“Jadi,” katanya, “Kalian hampir ketahuan mata-matain kencan ganda orang, eh?”

“Dia aja, gue enggak,” Jerry langsung menjawab. “Gue kan nggak malu-maluin.”

Aku nyaris menegur Jerry lagi dengan membantah pernyataan itu, tetapi kemudian aku mengingatkan diri sendiri bahwa tidak baik kelihatan goblok di depan cewek cantik yang kelihatannya punya tingkat intelegensi di atas rata-rata.

Kami memang sudah menceritakan soal rencana pembuntutan yang memalukan itu sebelumnya. Kalau saja Jerry tidak tiba-tiba melakukan hal aneh tadi, mungkin kami sudah sampai pada bagian cerita dimana Jerry membeberkan “obsesiku” terhadap David. Aku hampir bersyukur hal itu tidak sungguhan terjadi. Pasti bakal memalukan jika Cindy tahu aku naksir mantan pacarnya. Tapi, sekali lagi, aku harus ingat bahwa yang bersamaku ini adalah Jerry, orang yang tidak punya rasa malu dan berpikir bahwa semua orang sama dengannya. Berharap dia akan menjaga privasi sama mustahilnya dengan berharap hujan datang dari bawah tanah.

“Intinya,” aku buru-buru berkata sebelum Jerry sempat membuka mulut lagi dan mengatakan yang tidak-tidak, “Aku cuman iseng. Aku kepingin tahu gimana sebenernya hubungan sahabatku itu sama cowok yang dia taksir. Sebelum ini kami sempet bertengkar, dia nggak cerita apa-apa sama aku waktu dia mulai naksir cowok itu. Aku cuma penasaran.”

“Aku tahu, aku tahu,” Cindy menjawab. Binar kegelian masih belum meninggalkan tatapan matanya, dan aku bertanya-tanya apakah binar itu sebenarnya karena dia memang tertarik atau aku kelihatan lucu saking gobloknya. “Tapi, yang aku bingung,” katanya, “Tumben-tumbennya Jerry mau ngurusin hal beginian. Biasanya dia sok cuek gitu, deh.”

“Cindy,” Jerry menyela. Tatapan matanya tajam dan serius, dan aku mendadak punya perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak kuketahui di antara mereka berdua.

Perasaan itu sempat bertahan beberapa detik, sebelum sinar kebingungan di wajah Cindy menghancurkan segalanya. “Apa?” tanyanya tidak mengerti.

Jerry mendesah, seolah mengejek secara nonverbal bahwa cewek itu bolot banget. “Salah satu di antara orang-orang yang dibuntuti Stephanie itu,” katanya pada akhirnya, “David Hansen.”

Aku terlonjak mendengar nada serius dalam suara itu. Dengan ngeri, kusadari ini kali pertama Jerry menyebut David dengan nama aslinya, alih-alih “Cowok Brengsek” seperti yang biasa ia lakukan. Aku bertanya-tanya dengan tidak nyaman saat sinar pemahaman mulai menggantikan raut bingung di wajah Cindy. Mendadak, tatapan matanya menjadi nanar.

“Oh,” katanya, “Oh.”

Aku ingin sekali bertanya ada apa dengan fakta bahwa salah satu di antara mereka adalah David, tetapi kurasa tidak sopan langsung bertanya seperti itu. Jadi, kubiarkan saja Cindy menyambung perkataannya lagi.

“Dan… David cowok yang ditaksir temennya Stephanie itu?”

Jerry mendengus geli. “Bukan,” jawabnya dengan sebersit nada mengejek, “Galak-galak gitu, Luna masih waras, kok.”

Jerry,” aku dan Cindy menegur bersamaan. Aku terkejut menyadarinya. Sepertinya bukan gaya Cindy untuk menegur orang yang secara tidak langsung mengatai dirinya tidak waras. Yah, biar bagaimana pun, dia pernah berpacaran dengan David. Dia pasti pernah naksir David, kan?

Tapi, melihat sinar di matanya, aku sadar, dia menegur Jerry untuk alasan yang lain. Alasan yang aku tidak tahu—dan tidak yakin akan pernah tahu—apa.

“Apa?” Jerry menuntut, “Gue kan cuma ngomong yang sebenernya.”

“Itu kasar,” Cindy berkata. Sorot matanya yang tajam masih menghunjam Jerry, membuat cowok itu mengangkat bahu.

“Oke, oke,” katanya, “Kalo diserang sama dua kanibal buas gini, gue nggak bisa macem-macem, deh.”

Cindy melepaskan pandangannya dari Jerry, kemudian tersenyum menatapku. “Jadi,” katanya, “Kita bisa lanjutin lagi ceritanya?”

Aku masih ragu, tetapi memutuskan untuk mengangguk. Dari sudut mata, dapat kulihat Jerry sedang memandangi Cindy dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan, dan kini aku yakin, memang ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti apa.

Mendadak, aku merasa seolah-olah baru mengenal Jerry kemarin sore, dan bahwa selama ini aku tidak pernah benar-benar memahami cowok itu. Saat lirikan matanya mulai mengingatkanku lagi akan seseorang, perasaan itu semakin kuat.

Aku marah.

Bukan kepada Jerry, melainkan kepada diriku sendiri untuk tidak menyadari hal itu lebih awal.

Mungkin selama ini Jerry memang terlalu jujur soal satu hal : aku ini goblok.

***

Sepanjang perjalanan ke rumah, kami berdua hanya diam sambil mengayuh sepeda masing-masing. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam—terakhir kali aku mengecek. Bukannya semakin sepi, jalanan malah semakin dipadati kendaraan yang berlalu-lalang. Aku baru bisa menghirup udara segar saat sepeda kami berbelok masuk ke perumahan.

Bunyi keramaian kota terdengar jauh, dan aku diam-diam melirik Jerry dalam setiap kayuhan. Wajah cowok itu tidak menampakkan perubahan ekspresi dari biasanya—masih wajah cuek dengan sedikit kepongahan di atas kulit sepucat hantu. Tetapi, kini aku bisa melihat lebih baik. Sorot mata itu tidak cuek—tidak pernah begitu. Itu sorot mata serius yang selama ini selalu kukira pendukung untuk setiap sarkasme yang dia lontarkan, dan mungkin juga alasan ia tampak begitu menyebalkan saat berkata-kata kasar. Namun, kini aku tahu itu tidak benar. Cowok ini jelas-jelas menyembunyikan banyak hal.

Oke, aku seharusnya tidak perlu memikirkan hal itu.

Setiap orang punya privasi, kan? Sebesar apa pun orientasi seseorang pada kehidupan sosial, pasti ada sudut-sudut dalam dirinya yang dibiarkan tak tersentuh—rahasia yang tak pernah dia umbar kepada siapa pun. Bahkan, Luna pun pasti punya rahasia yang tidak kuketahui. Begitu pula David dan orang-orang lain yang termasuk orang terdekatku. Aku tidak seharusnya mencoba mencari tahu.

Tapi ini berbeda. Rahasia Jerry membuatku sangat penasaran.

Mungkin itu karena aku tahu rahasia itu melukainya, atau mungkin juga karena ada kemungkinan yang tidak bisa diremehkan bahwa rahasia itu menyangkut diriku. Aku tidak mau kedengaran geer, tapi kemungkinan itu memang ada, kan? Dia selalu bersikap seperti itu di hadapanku, dan kukira seperti itulah ia bersikap di hadapan semua orang. Tetapi, melihat interaksinya dengan Cindy tadi, aku jadi sadar seberapa berbedanya kami diperlakukan.

Apakah dia bersikap berbeda kepada Cindy, atau kepadaku?

Selalu ada dua kemungkinan itu. Menilik dari hal-hal yang tidak kupahami—seperti rahasia di antara mereka—saat berbincang-bincang tadi, entah mengapa aku merasa akulah yang diperlakukan berbeda. Jerry membagi rahasianya dengan Cindy—bukankah itu berarti rahasia itu tidak termasuk sudut yang tak tersentuh? Dia toh menceritakannya pada orang lain.

Mungkinkah itu yang membuatku penasaran setengah mati?

“Lo kenapa?” Jerry bertanya tanpa sedikit pun melirikku.

Aku tersentak kaget dan nyaris kehilangan keseimbangan karena tidak menyangka ia menyadari lirikan-lirikan yang kutujukan kepadanya.

“Gue nggak kenapa-napa,” jawabku spontan, dan mendadak aku tahu mengapa kebanyakan orang menjawab hal yang sama untuk pertanyaan ini—mereka tidak siap dan merasa tidak aman untuk menjawab dengan sesuatu yang lain. Pertanyaan ini memang membangkitkan spontanitas yang mencengangkan.

“Bohong lo,” tuduhnya.

Aku diam saja. Setelah menghela napas panjang berkali-kali, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya saja—apa pun yang ingin kutanyakan. Ini Jerry, jadi semestinya aku tidak perlu terlalu menjaga sikap di hadapannya kan?

Dia akan mengerti, kan?

“Emang,” kataku pelan. Jerry menoleh dengan dahi berkerut—tidak menyangka aku akan menjawab begitu (atau mungkin dia hanya kaget saja, karena aku sudah terdiam selama kurang-lebih sepuluh detik sebelum menjawab, dan dia menyangka aku tidak berencana menjawab sama sekali).

“Maksud lo?” tanyanya, “Lo emang bohong, gitu?”

Sesaat, aku ragu. Tetapi, detik selanjutnya, aku seolah dapat mendengar suara Luna bersorak-sorak dalam benakku. Cablak aja! Katanya, Yang penting nggak ada yang ngeganjel lagi. Sisanya urusan belakangan. Aku bertanya-tanya apakah Luna juga kadang mendengar suaraku di benaknya saat akan melakukan tindakan nekad tanpa pemikiran panjang khas dirinya. Tapi kuputuskan ini bukan saat yang tepat untuk menerka-nerka. Jadi, aku menjawab, “Iya, gue bohong. Gue emang lagi kepikiran sesuatu.”

“Lo mau ngusir gue dari rumah karena sadar gue ngerepotin?” Jerry menebak langsung.

“Gue nggak sejahat itu, tahu?” balasku, “Gue cuman lagi mikir, sebenernya apa yang lo sembunyiin dari gue.”

Itu dia. Aku sudah mengatakannya.

Aliran rasa lega yang sempat menggelitikku langsung hilang begitu Jerry menjawab, “Maksud lo?”

“Jer, jujur aja, deh,” kataku, “Lo pasti nyembunyiin sesuatu dari gue, kan? Sesuatu yang ada hubungannya sama… sama gue.”

Jerry melirikku. Tatapan matanya berubah dingin. “Apa yang membuat lo berpikir kayak gitu?”

“Tadi,” jawabku, “Waktu kita ngomong-ngomong sama Cindy, kalian kayak saling mencegah untuk ngasih tahu sesuatu ke gue saat obrolannya mulai menjurus ke hal-hal yang lebih serius.”

“Hal-hal yang lebih serius?” Jerry membeo dengan ketus, “Contohnya apa?”

Aku sempat bingung, tetapi mendadak sebuah pemikiran menyergapku, dan aku lagi-lagi merasa bodoh karena tidak menyadarinya lebih awal. “Soal David,” jawabku yakin, “Ada hubungannya sama David.”

Entah hanya perasaanku atau bukan, bahu Jerry menegang sedikit. Lirikan matanya yang ditujukan kepadaku kembali terpusat pada jalanan sepi di depan, seolah dia sudah memutuskan untuk mengakhiri perbincangan ini. Tetapi, toh dijawabnya juga perkataanku. “Ada sesuatu yang mungkin sebaiknya nggak lo ketahui, Stephanie,” katanya, mengejutkanku. Kalimat itu terdengar kaku, dan untuk pertama kalinya aku mendengar ia berbicara dengan suara yang begitu serius—kecuali mungkin saat itu di perpustakaan miniku, bedanya kali ini lebih serius.

“Kenapa?” tuntutku, “Gue udah lama kenal sama elo. Gue yakin, kalo ada kata yang tepat buat menyebut hubungan kita, kata itu adalah persahabatan. Gue rasa, rahasia bukan sesuatu yang boleh disimpan di antara sahabat, kan?”

Kukira dia bakal membalas dengan sarkastis bahwa aku tidak dianggapnya sahabat, tetapi rupanya ia menjawab sebaliknya.

“Gue juga menganggap lo sahabat,” katanya tenang—hanya orang yang mengenalnya cukup dekat yang dapat mendengar getaran dalam suaranya, “Justru di saat-saat tertentu, gue takut lo nggak menganggap gue sahabat.”

Sesuatu di dalam diriku meraung protes, dan saat setelahnya, aku sudah mendebat, “Jangan konyol! Gue menganggap lo sahabat, dan gue selalu berlaku seperti sahabat, kan? Apa yang—“

“Orang selalu ngedengerin apa yang dikatain sahabatnya, Steph,” Jerry memotong. Aku terdiam dengan bingung. “Lo nggak ngedengerin gue.”

“Bukan gitu,” sanggahku, “Gue selalu berusaha ngedengerin elo. Faktanya, gue bahkan selalu ngedengerin elo—“

“Dalam banyak hal, iya,” Jerry menyela lagi, “Tapi, ada satu hal yang selalu lo anggap remeh.”

“Apa?” tuntutku.

“Udah berapa kali, sih, gue bilang?” Jerry balik bertanya—mungkin tidak tepat disebut bertanya. Lalu, setelah jeda yang cukup lama, ia menyambung, “Jauhi David, Steph.”

Aku tersentak, dan kali ini kayuhanku melemah. Sepeda berdecit berhenti saat kakiku menapak tanah beraspal—mencari keseimbangan. Jerry ikut berhenti, dan tatapan matanya intens menatapku. Jantungku berdegup kencang, dan ribuan pertanyaan menyeruak keluar ke alam sadarku.

“Gue perlu tahu alesannya,” kataku serak, “Lo… lo selalu bertingkah seolah-olah lo kenal David lebih dari siapa pun. Lo selalu bertingkah seolah-olah lo tahu semua kebusukan dia, padahal semua orang punya sisi busuk. Lo selalu—“

“Itu karena gue memang tahu,” potongnya. Aku diam membeku. Dapat kurasakan, wajahku memucat. “Stephanie, gue tahu cowok itu brengsek. Lo jadi buta karena naksir dia, tahu?”

Darahku mendidih, tetapi sesuatu menahanku dari semburan amarah. Sebuah perasaan yang tak kukenali sebelumnya muncul ke permukaan. Desiran-desiran aneh merambat melalui kaki dan tanganku saat aku melihat wajah serius Jerry yang jauh dari kesan bercanda.

“Cuman elo yang bilang begitu,” kataku akhirnya. Suaraku bahkan lebih serak daripada sebelumnya. “Nggak ada orang yang nggak bilang dia baik. Semua orang yang kenal dia tahu kalo dia baik, Jer.”

“Itu karena mereka nggak bener-bener kenal dia,” Jerry ngotot. Bibirnya mengerut, dan pegangan tangannya pada stang dieratkan—aku dapat melihat urat-urat tegang menggaris di sepanjang lengan bawahnya. “Lo cuman harus percaya gue, Steph. Sesulit itukah?”

Aku kehilangan suaraku. Perasaan asing itu muncul semakin jelas, dan aku merasa seolah perutku ditarik-tarik dengan kasar oleh sebuah kekuatan tak kasat mata. Debar jantungku masih belum mau memelan, mengirimkan getaran ke sekujur tubuhku—seperti rasa kesemutan.

“Apa ini ada hubungannya sama Cindy?” aku mendapati diriku bertanya lirih.

Mata Jerry melebar, dan semua kesan berandalan pada dirinya hilang begitu saja—menguap digantikan wajah seorang cowok remaja polos yang hampir normal (kalau saja plester-plester luka itu tidak ada di sana, dia pasti sudah kelihatan sangat normal).

“Gue tanya,” ulangku, “Apa ini ada hubungannya sama Cindy?”

“Steph, lo nggak ngerti. Ini—“

“Kalo ini karena Cindy pernah mendapat perlakuan yang nggak mengenakkan dari David dan lo berada di sisinya, lo hanya perlu bilang, Jer,” potongku, “Mungkin gue bisa cari tahu alesannya. Mungkin ini nggak seperti yang lo kira. Mungkin—“

“Stephanie!” Jerry membentak, dan aku terlonjak kaget. Bentakan itu membuatku merasa sakit hati—dan entah apa lagi. Aku marah, tetapi tidak tahu kepada siapa. Jerry tidak sepenuhnya salah. Dia hanya ingin mengutarakan pendapatnya—tidak ada yang salah dengan itu, kan? “Lo nggak ngerti apa-apa,” katanya. Suaranya berubah lembut, dan aku bisa melihat sinar kesedihan itu di balik tatapan matanya.

“Jerry,” kataku, “Apa lo kenal David?”

Jerry hanya menatapku nanar.

“Apa lo kenal David secara pribadi? Apa dia kenal elo?”

Jerry masih terdiam. Wajahnya dipalingkan, dan pegangannya pada stang mengendur. Urat-urat tegang itu hilang begitu saja. “Ya,” jawabnya lirih, “Gue pernah deket banget sama dia, tapi itu udah masa lalu.”

Sesuatu dalam caranya berbicara membuatku tidak merasa kaget seperti seharusnya. Aku sudah menduga semua ini—tidak, seharusnya aku tahu lebih awal. Seseorang yang tidak mengenal David secara pribadi tidak akan bertingkah seolah-olah mereka tahu sesuatu tentang cowok itu yang tidak orang lain ketahui.

Sekali lagi, mungkin aku saja yang terlalu goblok.

Seluruh ketegangan yang memuncak dalam diriku mencelus, dan aku merasakan lemas yang tidak biasa di sekujur tubuh. Aku ingin bertanya-tanya lebih lanjut, tetapi merasa tidak punya tenaga untuk itu. Lagipula, detik selanjutnya, Jerry sudah mengayuh sepedanya untuk meneruskan perjalanan. Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti.

Kami menghabiskan sisa perjalanan dalam keheningan—kayuhan-kayuhan pelan yang hampir tidak menimbulkan suara. Benakku rasanya kosong, dan seluruh energi seperti terhisap keluar dari tubuhku. Aku ingin menangis, tapi merasa perlu menemukan alasan jelas untuk itu. Aku merasa… entahlah. Kacau?

Saat sepeda kami berdua tiba di perempatan jalan dekat rumahku, tiba-tiba Jerry berhenti mengayuh. Bahunya menegang lagi, dan aku pun semakin kebingungan.

“Steph,” panggilnya tiba-tiba. Nadanya mendesak dan memperingatkan, tetapi pandangan matanya tidak lepas dari sesuatu di kejauhan sana. Aku baru akan mengikuti pandangan mata itu saat dia menyambung, “Belok ke kanan. Cepetan.”

Dahiku berkerut dan mataku melotot. “Rumah gue di depan! Kenapa gue harus belok ke—“

“Nggak usah banyak omong! Buruan belok!”

“Tapi, lo nggak—“

“Cepetan, Steph!”

Nada mendesak dalam suara itu membuatku tak punya pilihan. Aku mengarahkan sepedaku ke kanan dan mengayuh dengan cepat, sambil melirik ke kiri—ke arah rumahku, sekaligus arah yang dipandangi Jerry sejak tadi. Samar-samar, aku dapat melihat sebuah sepeda motor diparkir di depan rumah, dan dua pria berseragam polisi berdiri di sampingnya. Mataku membelalak, tetapi sudah terlambat untuk mencegat Jerry dan menanyainya. Cowok itu juga sudah mengayuh sepedanya sendiri—menghampiri kedua polisi itu.

Saat aku sudah terbebas dari zona pandang mereka, mendadak aku merasakan sebuah kengerian yang mencekam.

Apa yang diinginkan polisi-polisi itu?

Untuk apa polisi datang ke rumahku?

Aku tidak merasa pernah melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Jerry sudah dibebaskan dari tuduhan dan dibersihkan namanya beberapa hari lalu. Aku tidak mungkin disangka menyembunyikan buronan.

Atau mungkin… bukan aku yang mereka cari? Mungkinkah itu Jerry?

Tapi bagaimana mereka bisa tahu Jerry berada di rumahku? Secara nalar, mereka akan mencarinya di rumah sakit tempat ayahnya dirawat, kan?

Tunggu dulu.

Rumah sakit.

Jerry pernah berkata akan mengurus sesuatu di rumah sakit sebelum pindah untuk tinggal di rumahku. Mungkin dia memberitahukan alamat rumah yang akan ditinggalinya kepada pihak rumah sakit.

Tapi, kalau pun benar begitu, untuk apa polisi mencari Jerry lagi?

Apa sesuatu terjadi pada ayahnya? Atau… kakaknya?

Tidak, tidak mungkin.

Kalau benar begitu, masa polisi-polisi itu mendatangi Jerry secara pribadi? Kalau pun salah satu di antara mereka masuk dalam kondisi kritis yang darurat, situasi ini tetap tidak masuk akal. Aku butuh penjelasan.

Dengan berjingkat-jingkat, aku turun dari sepeda dan berjalan kembali ke arah perempatan itu. Aku berhasil menemukan pohon terdekat—tepat di pojok belokan—dan bersembunyi di baliknya. Dari kejauhan, aku dapat melihat Jerry sedang bercakap-cakap dengan kedua polisi itu. Posisi tubuhnya membelakangiku sehingga aku tidak bisa melihat ekspresi apa yang sedang ia tampakkan.

Aku mencoba menguping, tetapi sadar betul bahwa jaraknya terlampau jauh. Aku harus mendekat kalau ingin mendengar sesuatu.

Jadi, aku pun keluar dari balik pohon dan merapat di pagar-pagar rumah yang berderetan, menyembunyikan diri di dalam bayangan sebisa mungkin sembari merayap mendekat. Saat jarakku sudah cukup dekat, aku bisa melihat wajah kedua polisi itu—semuanya tampak sudah cukup berumur, dengan aura kewibawaan yang sanggup membuatku bergidik.

Aku menyelipkan diri di antara pagar rumah dengan pohon sambil menajamkan pendengaran.

“…tewas,” aku bisa mendengar sepatah kata dari salah satu polisi. Jerry terkesiap.

“Kapan?” tanyanya.

“Sore ini,” jawab polisi itu, “Kasus ini sudah berkembang menjadi kasus pembunuhan. Kami berpikir, mungkin Anda bisa memberi keterangan karena Anda ada di sana saat—“

“Saya tidak bisa,” Jerry memotong. Mataku melebar menyadari bahwa ia bahkan punya nyali untuk menyela perkataan polisi yang sepertinya punya pangkat yang tidak bisa diremehkan. “Saya hanya melihat sekilas. Saya yakin, rekan saya, Alfred, bisa memberi keterangan yang lebih jelas. Dia berada di sana lebih lama, dan posisinya lebih menguntungkan untuk melihat.”

Kedua polisi itu saling berpandangan, kemudian menatap Jerry tidak percaya. “Anda mendapatkan luka-luka itu,” kata salah satu di antara mereka, “Maaf, kami tidak bermaksud menyinggung, tapi—“

“Luka-luka ini baru,” potongnya lagi, “Sama sekali tidak ada hubungannya dengan insiden itu.”

“Bukannya kami meragukan pernyataan Anda, tapi—“

“Tadi siang, saya hampir dirampok. Itulah kenapa saya mendapatkan luka-luka ini. Ini bukan dari—“

“Maaf, Saudara Jeremy. Tapi kami betul-betul butuh keterangan sekecil apa pun dari siapa pun yang bisa kami mintai keterangan.”

“Apa kalian sudah bertanya pada Alfred?” Jerry bertanya.

“Belum,” jawab polisi itu, “Tapi kami berencana menemuinya setelah ini di apartemennya.”

“Kalau begitu, sebaiknya kalian tanyai dia dulu saja. Kalau memang tidak ada informasi yang bisa dikorek, kalian boleh kembali,” Jerry berkata. “Walaupun saya tidak yakin itu akan berguna, sih.”

Kedua polisi itu kembali saling berpandangan, dan kali ini salah satu di antara mereka mengangguk maklum. “Baiklah, kalau begitu,” katanya. “Kami akan ke sana sekarang. Pastikan Anda tidak pergi ke mana-mana. Kalau-kalau kami butuh keterangan dan tidak bisa menemukan Anda di sini, Anda akan dianggap buronan. Mengerti itu?”

Aku tidak kesulitan melihat rahang Jerry mengeras, bahkan dari balik bahunya. “Saya mengerti,” jawabnya kaku.

Kedua polisi itu kembali memakai helm mereka, kemudian salah satu memundurkan motor sebelum naik ke atasnya. Yang lain mengikuti. Mesin motor menyala, dan aku bisa melihat Jerry sedikit tersentak.

“Oh, dan satu lagi,” polisi di belakang tiba-tiba berkata, “Sidang kakak Anda akan dilaksanakan lusa, kalau-kalau Anda berencana datang.”

“Terima kasih atas infonya,” jawab Jerry, “Tapi… tidak, saya tidak berencana datang. Silakan hati-hati di jalan.”

Dan dengan begitu, motor itu pun melaju meninggalkan rumahku.

Jerry berdiri diam di tempatnya selama beberapa saat, sampai-sampai kukira jiwanya entah bagaimana telah melayang ke luar. Aku menahan nafas sambil berusaha merambat kembali melalui pagar-pagar untuk mengambil sepeda.

Lalu, tiba-tiba, Jerry bersuara.

“Gue tahu lo di situ,” katanya, dan jantungku rasanya berhenti berdetak.

Sial. Aku ketahuan menguping.

Entah apa yang akan dikatakannya setelah ini. Mungkin dia bakal marah atau jijik terhadapku—apalagi tadi aku sempat mendesaknya soal privasi di jalan. Aku jadi merasa sangat berdosa.

Ia berbalik. Pandangan matanya menangkapku dalam bayang-bayang pepohonan tinggi. Senyumnya getir di wajahnya yang pucat diterpa sinar lampu kuning jalanan. “Nah,” katanya, “Ambil dulu, gih, sepeda lo. Gue bisa jawab semua pertanyaan lo nanti, setelah kita masuk ke dalem.”

***

Aku tidak menyangka Jerry benar-benar berencana menceritakan semuanya kepadaku. Tetapi, saat aku mengikutinya masuk ke kamarnya dan melihatnya duduk dengan tenaga terkuras di tepi kasur, aku mulai jadi yakin.

Entah mengapa, pemikiran itu membuatku merasa bersalah.

“Lo nggak perlu cerita kalo memang nggak mau,” kataku, “Gue nggak akan maksa.”

“Nggak,” sergahnya, “Soal ini… gue rasa, gue perlu cerita ke elo. Sahabat berbagi rahasia, kan? Gue merasa bersalah karena udah nyembunyiin yang satu ini terlalu lama.”

Aku tidak tahu apakah dia menyindirku atau memang suaranya selemah itu. Tapi, kukatakan, “Nggak semua rahasia harus dibagi, kok. Kalo memang nggak mau—“

“Steph, gue kan udah bilang, gue mau cerita,” ia mendongak memandangku. Aku bisa melihat sinar kelelahan di kedua bola matanya. Ekspresi wajahnya membuatku bungkam, dan untuk kedua kalinya malam ini, jantungku berdebar kencang seolah hendak menjebol ke luar.

“Oke,” jawabku pada akhirnya. Suaraku terdengar serak saat aku melanjutkan, “Gue akan dengerin.”

Jerry menghela nafas panjang. “Lo tahu,” katanya, “Gue selalu pergi tiap malem dan nggak pernah bilang-bilang ke elo, kan?”

Aku menelan ludah.

“Gue kerja, Steph,” katanya, “Kerja gue shift malem.”

Aku membelalakkan mata. Bayangan mengenai Jerry memakai seragam pegawai terlalu sulit dipercaya. “Nggak mungkin,” gumamku tanpa sadar, “Lo bercanda, kan?”

“Nggak,” jawabnya tegas, “Gue minta maaf karena nggak ngasih tahu lo lebih awal, padahal sebenernya nggak ada untungnya juga gue nyembunyiin ini. Gue udah lama kerja. Setiap pulang sekolah, gue selalu stay di sekolah sampe sore dan bantu-bantu satpam, karena tempat kerja gue deket dari situ.”

Aku teringat malam pertama kami bertemu di sekolah. Saat itu, aku mengiranya hantu dan berteriak-teriak seperti orang kesetanan. Aku selalu menganggapnya jin sakti bermuka seram yang bisa memompa sepedaku dalam waktu supersingkat. Tetapi, sekarang, melihatnya dengan ekspresi lelah dan sedih yang bercampur aduk, ia jadi tampak seperti… manusia. Seolah-olah ia cukup manusiawi untuk diraih, tidak seperti biasanya, saat kurasa ia terlalu jauh dan tertutup walaupun menyandang status sebagai salah satu sahabatku.

Saat ia memfokuskan pandangan matanya padaku, getaran-getaran itu kembali lagi, membuatku bertanya-tanya mengapa aku merasa seperti ini. “Gue selalu nggak akur sama bokap dan kakak gue,” katanya, “Jadi, gue mutusin bahwa nggak pulang ke rumah sebelum larut bisa jadi pelarian yang bagus.”

“Itu…,” suaraku makin serak, “Apa itu juga alasan lo nunggak? Lo nggak pernah punya waktu belajar?”

“Bisa dibilang gitu,” jawabnya, “Atau jangan-jangan gue emang goblok dari sononya. Tapi… yah, soal pelarian itu, gue bener-bener serius.”

Aku diam membeku dengan mulut setengah terbuka, diliputi perasaan bingung dan hampa dalam waktu bersamaan. Aku tahu ini bukan sesuatu yang kuharapkan. Aku tahu masih banyak rahasia lain yang dia simpan dariku, tetapi mengetahui hal ini rasanya aneh. Seolah-olah dia mungkin saja membuka diri suatu waktu—walaupun aku tahu hal itu sepertinya mustahil.

Berbagai pertanyaan memenuhi ruang pikirku.

Kenapa hubungannya dengan keluarga tidak akur?

Apa ada masalah yang pernah ia hadapi di masa lalu?

Kerja apa dia?

Di mana?

Saking banyaknya pertanyaan-pertanyaan itu, aku sampai merasa bahwa menanyakannya pasti tidak sopan. Aku selalu mengira Jerry tahan banting seperti baja—bahwa perkataan setidak sopan apa pun tidak bakal melukainya. Tapi kini, di hadapanku, ia tampak rapuh, dan mendadak aku merasa punya kewajiban untuk menjaga perasaannya supaya tidak semakin terluka.

Aku memutuskan untuk menanyakan hal lain sebagai gantinya. “Terus,” kataku, “Soal polisi-polisi itu…?”

“Itulah masalahnya,” katanya. Ia menyiapkan diri sejenak sebelum mulai bercerita. “Kemarin malem, gue kerja seperti biasa. Awalnya, sih, nggak ada apa-apa. Lalu, tiba-tiba, ada pengunjung yang mabuk dan mulai menyerang semua orang di sana. Dia bawa pisau, dan ada rekannya juga di sana. Mereka berdua melukai orang-orang. Gue dan rekan-rekan gue maju untuk menghalangi mereka, tapi…”

Dia tidak perlu melanjutkan. Aku tahu kelanjutannya.

“Itulah kenapa lo bohong sama gue sore tadi?” tanyaku, “Luka-luka itu beneran lo dapet dari insiden kemarin, kan?”

Jerry mengangguk. “Gue juga terpaksa bohong sama polisi-polisi itu. Gue rasa, gue nggak perlu lagi melibatkan diri sama kasus-kasus begitu. Masalah bokap sama kakak gue aja udah cukup rumit, nggak perlu ditambah-tambahin masalah lain.”

“Maksud lo, lo mau menghindar sebagai saksi?” tanyaku. Rasa iba menggelayuti diriku, membuatku merasakan dorongan untuk memeluknya dan mengatakan semua bakal baik-baik saja. Dia bermaksud baik, jadi seharusnya itu tidak apa-apa, kan?

“Kurang-lebih begitu,” jawabnya, “Gue nggak tahu lagi kenapa gue bisa terlibat kasus-kasus rumit belakangan ini. Pertama-tama, gue dituduh sekongkolan sama kakak gue. Terus, gue jadi saksi pembunuhan. Setelah ini apa? Gue jadi saksi ritual sekte sesat?”

Dia bermaksud melucu, tapi aku tidak merasakan dorongan untuk tertawa. Aku malah jadi semakin merasa kasihan padanya. Debar jantungku bukannya memelan atau semakin tenang, melainkan semakin brutal dan menggila. Jerry menunduk, menyembunyikan wajah. Aku memberanikan diri untuk maju dan berlutut di hadapannya.

Dari jarak dekat, aku terkejut menyadari bahwa cowok itu menangis.

Ia—seorang Jeremy Ericson—menangis.

Ini bukan tangisan histeris atau isakan sedih. Ini hanya aliran beberapa tetes air mata yang sudah cukup untuk mewakili semua rasa tertekan yang membebaninya, yang selama ini mati-matian ia rahasiakan dari orang lain.

Entah mengapa, aku yakin, aku benar-benar orang pertama yang ia beritahu tentang hal ini. Aku benar-benar orang yang cukup ia percaya untuk mengetahui masalah ini.

“Mereka akan nanyain temen lo, kan?” tanyaku lembut, “Satu saksi aja mestinya udah cukup. Lo tenang aja. Lo nggak akan terlibat lebih jauh.”

Jerry mendongak menatapku. Tatapan matanya memang lelah, tapi pertahanan di dalamnya masih sekeras baja. Ia masih Jerry yang biasanya, hanya saja malam ini ia memutuskan untuk sedikit membuka bagian dirinya yang selama ini tertutup rapat. Sedikit celah yang hanya ia buka untukku—sementara, mungkin. Aku merasakan dorongan kuat untuk menghiburnya, tetapi alih-alih dapat mengatakan sesuatu, aku malah membeku di tempat disergap tatapan mata itu.

Aku ini kenapa? Benakku bertanya-tanya.

Sesuatu berdesir-desir di jantungku, dan tanganku yang sudah sempat terangkat untuk meraih tangan Jerry mendadak bergetar tidak keruan. Aku hanya sanggup menatapnya dengan sekujur tubuh terasa lemas. Ia membalas tatapanku, dan kali ini, tidak ada kesinisan dalam raut wajahnya. Ia benar-benar hanya remaja cowok biasa yang punya kelemahan di balik pertahanannya yang luar biasa. Orang-orang hanya menilainya secara tidak adil selama ini.

“Alfred akan membantu gue,” katanya. Dalam jarak sedekat ini, ia melirihkan suara, membuatku bisa menangkap kelembutan dalam desah nafasnya. Rasanya aku bisa pingsan kapan saja. “Gue yakin itu,” ia menyambung, “Tapi gue tetep merasa… stres, Stephanie. Gue butuh seseorang yang bisa gue dongengin soal ini. Kalo lo merasa gue membebani dan bertingkah kekanak-kanakan, gue minta maaf.”

Sinar matanya begitu tulus, aku tidak tahan untuk tidak luluh. Bukan saja ini pertama kalinya ia mengucapkan kata maaf sebanyak itu, tetapi sesuatu yang lain dalam dirinya juga membuatku merasa lebih dekat dengannya, padahal baru setengah jam lalu aku merasa sebaliknya. “Gue sama sekali nggak merasa begitu,” jawabku, “Lo boleh cerita apa pun ke gue, kapan pun. Gue akan selalu dengerin, kok. Dan kalo gue bisa bantu, pasti gue bantu.”

Lo juga bisa cerita soal masalah lo sama David, gue nggak akan marah. Kalimat itu sudah hampir keluar dari mulutku, tetapi mati-matian kutahan karena merasa ini bukan waktu yang tepat. Kalau memang masalah itu ada hubungannya denganku, aku percaya suatu saat nanti aku pasti bakal mengetahuinya sendiri. Aku tidak perlu mendesak cowok yang tampak begitu rapuh, begitu hancur di balik pertahanan dirinya yang entah bagaimana tetap tampak kuat, untuk menghancurkan dirinya semakin jauh lagi. Ia pasti…

“Stephanie,” Jerry memanggil. Tatapan matanya tidak lepas dariku, membuatku merasa seolah bisa saja meleleh di tempat sewaktu-waktu. Aku menunggunya melanjutkan, tetapi rupanya ia tidak berencana melakukan itu. Ia hanya memandangiku dengan raut wajah asing yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Kenapa?” tanyaku dengan suara seperti tercekik.

“Lo nggak mengasihani gue, kan?” tanyanya pelan.

Mataku melebar. Aku bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Ada sebagian kecil dari diriku yang merasa kasihan terhadapnya, tetapi sebagian besarnya… bukan itu. Aku tidak tahu apakah itu berarti ya atau tidak. “Nggak,” jawabku pada akhirnya, “Gue kepingin… gue kepingin ngeringanin beban lo aja.”

Jerry merosot dari sisi kasur tempatnya duduk, dan aku mundur untuk memberinya tempat. Ia kini duduk berhadapan denganku dan tengah mati-matian memaksakan sebuah senyum. “Bagus,” katanya, “Gue nggak mau dikasihani.”

Senyum itu begitu miris. Aku tidak bisa lagi menahan diri. Kumajukan tubuh dan kupeluk cowok itu erat-erat. Ia tampak kaget. Bahunya menegang dalam pelukanku. Kemudian, setelah rileks kembali, ia membalasnya. Pelukan itu terasa begitu hangat. Aku tidak pernah membayangkan bahwa tubuh Jerry sehangat ini. Selama ini, aku hanya melihatnya sebagai cangkang manusia dari hati sekebal besi, dan bahkan tidak sekali pun mengingatkan diri bahwa dia hanya manusia biasa. Bahwa pelukannya bisa saja sehangat ini, dan bahwa tubuh kurusnya bisa saja sekuat ini.

Aku bisa merasakan nafas Jerry membelai kulit kepalaku, membuat jantungku nyaris meloncat saking cepatnya berdebar. Saat telingaku menempel di dadanya, aku bisa mendengar detak jantungnya—cepat dan keras seperti bunyi ketukan pada pintu.

Lalu, setetes air mata jatuh ke rambutku, dan aku menjauh perlahan-lahan sambil masih berpegangan pada tubuhnya. Wajahnya tampak lembut, dan entah mengapa, air mata berjatuhan tanpa bisa ia cegah.

“Stephanie,” desahnya, dan aku tahu kali ini bahwa ia tidak benar-benar berniat mengatakan sesuatu. Ia hanya ingin memanggil namaku, seperti halnya aku ingin memanggil namanya.

Jeremy,” kataku. “Jeremy Ericson.”

Setelah aku mengucapkan nama itu, seperti ada setan yang merasuki, ia mendekatkan wajahnya dan menciumku—perlahan-lahan dan tidak memaksa. Aku terlalu terkejut untuk bereaksi, tetapi tidak bisa mengelak. Jantungku meloncat-loncat tidak keruan, dan aku hampir kehabisan nafas.  Bibir Jerry lembut dan basah. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya mencium bibir itu sebelum ini, tetapi mendadak semuanya terasa masuk akal. Segala sesuatu tentangnya terasa begitu nyata—hembusan nafasnya, detak jantungnya, dan… bibirnya. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar ingin melepaskan diri. Saat tangannya meraih bagian belakang leherku untuk mendekatkan wajahku ke wajahnya, aku memejamkan mata dan membalas ciuman itu.

Dan dia pun tersentak.

Dalam sedetik, dia memundurkan wajah dan mendorongku menjauh. Aku lagi-lagi terkejut. Raut wajah itu tampak syok dan pucat. Sekujur tubuhnya gemetaran.

“Maaf,” katanya, “Gue… gue nggak bermaksud…”

Aku sudah akan berkata bahwa itu sama sekali tidak apa-apa, tetapi suaraku tidak mau keluar. Aku sendiri masih belum bisa memproses semua ini. Aku tidak bisa mempercayai bahwa aku baru saja…

Astaga.

Aliran darah naik ke wajahku, dan aku yakin ekspresiku pasti sangat memalukan.

“G-gue…” sulit berbicara dengan benar, tetapi kupaksa diriku untuk mengatakan, “Sebaiknya gue tidur sekarang.”

Aku mencoba berdiri, tetapi kakiku masih gemetaran. Aku jatuh terjerembap, dan tangan Jerry menahanku. Dengan buru-buru, aku menegakkan posisi berdiriku dan menatap wajah pucat Jerry untuk yang terakhir kalinya sebelum setengah berlari keluar dari ruangan.

TO BE CONTINUED

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Saya : “GILAK GUE ROMANTIS BANGET!”

Reader 1 : *speechless* “L-lo kesurupan?”

Saya : “Ng-nggak tahu, nih. Bisa tolong cek, nggak?”

Reader 1 : “OGAH GUE! MAU PERGI AJA!”

Saya : “………………yah, giliran nggak disuruh pergi, malah pergi. Giliran disuruh pergi, malah nempel. Elah.”

J-jad-jadi……….

NGGAK TAHU, DEH! ASIK, SAYA NULISNYA KOK JADI GINI YA?

Okelah, ini kayaknya bukan kiss scene pertama di blog ini (yang pertama di sini), tapi tetep aja beda, kan? Kenapa saya jadi Sterry shipper gini, sih? (note : Sterry = Stephanie-Jerry). Kenapa Jerry bisa gitu, sih? Kenapa adegannya bisa gitu, sih? Kenapa… kenapa…

Reader 1 : “LO KENAPA SIH?”

Yah, nggak tahu, lah. Ini mungkin emang chapter paling aneh, tapi semoga kalian masih mau bersabar sama cerita ini yang kayaknya tarik-ulur mulu(?). Ini udah masuk klimaks, kok, hohoho…

Oh, dan nggak ada cover baru kali ini (biasanya tiap 2 chapter ganti), dan mungkin nggak akan pernah ada cover baru lagi. Aing mau ngulang dari cover pertama aja biar nostalgia :p

Kayaknya segitu aja, deh, ya. Mohon tinggalkan komentar supaya saya bisa berkembang dalam menulis, terutama adegan romance, karena saya butuh pengajaran(?) untuk nulis adegan gituan selain dari novel-novel YA yang saya baca. Saya butuh masukan readers. Jadi, kalo nggak keberatan, dibantu ya dibantu.

Makasih semua! Babah!

Much love,

The author full of absurdity,

Cindy Handoko

Saya : “MBUH NGOPO KUWI KOK ONO SALAM PENUTUPE”

Reader 1 : “KAREPMU NDUK”

Download the Ebook?

dl

Advertisements

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s