Reunion

Copyright © 2015 by Cindy Handoko

Tidak pernah terpikir olehku bahwa empat tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengubah seekor itik buruk rupa menjadi angsa yang cantik.

Setidaknya, tidak sampai hari ini, saat aku melihatnya lagi setelah tahun-tahun yang kuhabiskan untuk memikirkannya, menatap foto kami yang diambil saat karyawisata kelas.

Aku masih mengingatnya dengan jelas dalam foto itu.

Ia duduk di sampingku sambil tersenyum cerah dan mengacungkan kedua jarinya yang membentuk huruf V–tipikal gaya yang bakal membuatku mengejek orang habis-habisan kalau itu bukan dia. Sebuah kacamata berbingkai kuning menggantung di batang hidungnya, membuat matanya yang seharusnya besar tampak sipit. Tepat di atas kacamata itu, sejumput poni tipis jatuh berantakan. Rambutnya yang panjang diikat tinggi-tinggi di belakang. Ia tampak seperti tipe-tipe orang yang bakal kau jauhi sebelum kau ajak bicara di kelas.

Tetapi, saat itu, aku tidak peduli.
Sama seperti sekarang. Walaupun yang berdiri di hadapanku tidak tampak seperti gadis di dalam foto itu, aku tidak akan pergi lagi kali ini.

Berdiri dengan anggun di hadapanku, ia melontarkan senyum. Rambutnya yang dulunya hitam kini berkilau kecokelatan, bergelombang di bagian bawah yang mencapai lengannya. Matanya abu-abu besar, dibingkai eyeliner hitam yang membuatnya nampak tegas. Hidungnya mancung dan kecil. Bibirnya kemerahan. Kalau bukan karena senyum itu, aku pasti tidak mengenalinya.

“Wendy,” aku memanggilnya. Bibirku melengkungkan senyuman penuh rasa puas karena baru saja mengucapkan nama yang akrab itu setelah bertahun-tahun lamanya.

“Ash,” sahutnya. “Lama nggak ketemu.”

***

Dua jam kemudian, kami sudah duduk berhadap-hadapan di kafe yang biasa kami kunjungi saat SMA, membicarakan hidup masing-masing selama perpisahan yang menyiksa itu, mengenang masa-masa indah kami yang rasanya sudah berdekade-dekade lalu.

Ia bertanya mengenai studiku di Rusia, dan aku bertanya mengenai kuliahnya di universitas negeri yang selalu ia impikan. Kami tertawa bersama mengenang betapa naifnya pemikiran kami saat itu, mengira pendidikan di universitas akan mengizinkan kami menjalani hari-hari dengan lebih santai, membayangkan dapat berjalan-jalan ke mana pun kami mau kapan saja. Kini, setelah sama-sama merasakan pahitnya kehidupan, kami dapat melihat lebih dalam ke pribadi masing-masing. Mengakui kesalahan-kesalahan bodoh dan membelalakkan mata pada hal-hal kecil yang terlupa.

Di sini, kami mengulang kembali masa-masa remaja yang sempat tertinggal di sudut hati, tempat bilik kenangan kami biasanya terkunci rapat.

Benar kata orang-orang. Saat kau menikmati waktu, ia selalu berjalan lebih cepat dari yang kau harapkan. Baru saja aku selesai membeberkan soal sulitnya mencari pekerjaan di negeri orang dan betapa aku selalu dipandang sebelah mata dalam wawancara-wawancara hanya karena berkulit sawo matang, kusadari aku sudah menghabiskan dua gelas kopi dan sepiring spaghetti yang bakal membuatku mengeluh kekenyangan empat tahun lalu. Saat melirik jam yang tergantung di sisi ruangan, aku sadar, aku tidak punya banyak waktu.

“Kenapa?” Wendy bertanya, menyadari sebersit raut resah di wajahku, “Kamu buru-buru?”

Aku menatapnya penuh penyesalan. “Iya,” jawabku, “Rekan kerjaku nungguin buat pertemuan kami.”

“Nggak masalah,” ia berkata seraya tersenyum, “Lagipula, aku juga nggak bisa lama-lama di sini.”

Setelah itu, obrolan kami dihiasi basa-basi singkat sebelum kami memutuskan untuk bangkit dari duduk.

“Senang bisa berbincang-bincang lagi kayak dulu,” katanya, “Aku harap ini bukan pertemuan terakhir kita, ya?”

“Aku juga berharap begitu,” jawabku, “Boleh minta nomor kontakmu? Supaya kita nggak putus hubungan lagi.”

Senyuman lenyap dari bibir Wendy. “Maaf,” katanya, “Ponselku rusak, dan aku belum beli kartu baru. Untuk saat ini, nggak ada nomor kontak yang bisa dihubungi.”

Aku mengerutkan dahi–setengah kecewa, setengah merasa sikapnya aneh. “Oh,” gumamku, “Oke, nggak masalah.”

Gadis itu tersenyum lagi, kali ini lebih cerah daripada sebelumnya. “Sekali lagi maaf, ya,” katanya, “Kalo gitu… kamu mau duluan?”

Aku mengangguk dengan setengah terpaksa. Kemudian, setelah mengucap salam perpisahan, aku melangkah keluar dari kafe itu.

Mobilku, yang merupakan bukti nyata dari semua kerja keras selama tiga bulan terakhir, telah menunggu di lahan parkir. Aku masuk ke jok pengemudi dan memasang sabuk pengaman.

Sambil menyalakan mesin mobil, pikiranku lagi-lagi melayang ke pertemuan barusan. Aku tidak bisa melupakan betapa antusiasnya binar di mata Wendy saat kami membicarakan masa-masa lalu. Selama ini, aku selalu mengira hanya diriku yang merasakan hal seperti itu. Mengetahui bahwa ia juga merasakan hal yang sama merupakan salah satu hadiah terindah yang kudapatkan di hari ulang tahunku ini–ngomong-ngomong, dia lupa bahwa hari ini aku berulang tahun (tapi itu tidak masalah. Toh, sudah lama kami tak berjumpa. Aku juga tak mengingat tanggal ulang tahunnya, jadi kurasa itu cukup adil).

Saat aku bersiap menginjak pedal gas, tiba-tiba ponsel di sakuku berbunyi.

Aku memutuskan untuk mematikan mesin mobil terlebih dahulu dan mengangkat panggilan telepon itu. Tanpa melihat nomor yang terpampang di layar, aku menekan tombol hijau.

“Halo,” sapaku.

“Ash?” Suara di seberang telepon menyahut. Rupanya Jay, satu-satunya temanku dari SMA yang masih rajin berhubungan denganku. Aku mendadak penasaran apakah ia masih akan menggodaku seperti empat tahun lalu jika aku menceritakan pertemuanku dengan Wendy barusan.

“Ya, aku di sini,” jawabku. “Kenapa?”

“Sebelumnya, selamat ulang tahun,” katanya. Aku tersenyum.

“Ingat juga,” gumamku, “Makasih, makasih. Tapi, kamu telepon bukan cuma gara-gara ini, kan?”

“Memang,” Jay tertawa kecil. “Aku mau tanya. Kamu di Indonesia, kan?”

“Ya,” jawabku, “Kenapa?”

Jay diam sejenak. “Kamu free, nggak, hari ini?”

“Sebentar lagi ada pertemuan,” jawabku, “Tapi mungkin jam tujuh nanti udah beres. Kenapa, sih?”

“Hari ini, anak-anak alumni SMA mau kumpul. Kamu bisa ikut? Mungkin nanti sekitar jam setengah delapan,” jawabnya.

“Oh, lihat-lihat dulu, ya,” jawabku, “Dalam rangka apa?” Lalu, dengan nada menggoda, aku menyambung, “Bukan buat ngerayain ulang tahunku, kan?”

Jay tertawa. “Ge-er,” ejeknya, “Bukan. Kita mau nulis surat buat dibakar.”

Aku nyaris berpikir aku salah dengar. “Hah?” gumamku, “Buat apa? Kurang kerjaan?”

“Lho, belum ada yang ngasih tahu kamu?” Jay bertanya, “Kan, besok kita mau nyekar.”

“Nyekar siapa?” Tanyaku, “Guru kita ada yang meninggal?”

Jay terdiam. Lama sekali. “Ash,” panggilnya setelah itu. Suaranya terdengar ragu. “Bener-bener belum ada yang ngasih tahu kamu, ya?”

“Belum,” jawabku jujur, “Siapa, sih, yang meninggal?”

“Temen kita,” katanya, “Wendy, mantan pacarmu. Dia korban tabrak lari setahun lalu. Kamu belum tahu itu?”[]

Advertisements

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s