[PROLOGUE] In the Shadows Behind the Curtain

itsbtc

 

Previous posts under the category In the Shadows Behind the Curtain :

SUMMARY

font1

“ITU TIDAK BENAR.”

Suara seorang perempuan menggema di ruangan gelap yang hanya menyisakan lampu-lampu kuning kecil menyala di sisi-sisinya. Ruangan itu cukup besar, dengan berderet-deret kursi beludru berwarna marun ditata melingkar, menyusun sebuah amfiteater mini yang mencerminkan kemegahan. Langit-langitnya tinggi menjulang, dihias puluhan lampu yang dibiarkan mati. Di bagian depan ruangan, tampak sebuah panggung besar dengan latar belakang tirai merah. Tirai itu kini terbuka, menampakkan properti-properti setengah jadi yang berserakan, jauh dari kata ‘terorganisir’.

Berdiri di tengah lautan properti itu adalah si perempuan. Wajahnya tidak terlihat di balik bayangan. Ia berdiri menghadap ke kursi penonton, dan langkahnya mundur perlahan, dibawa oleh kakinya yang gemetar hebat.

“Aku tahu,” sebuah suara menyahut. Yang satu ini terdengar berat sekaligus tenang—jelas milik seorang laki-laki. Tidak ada getaran dalam nada bicaranya yang tegas. “Awalnya kukira aku menyesal. Tapi… setelah dipikir-dipikir…”

“Maksudmu kau tidak menyesal,” sahut perempuan itu.

Hening sejenak. Kesannya seolah-olah adegan itu dipause, sebab tidak ada suara maupun gerakan yang terlihat. Suasana terasa sekaku patung marmer.

Kemudian, pelan namun pasti, suara laki-laki itu terdengar lagi. “Ya,” katanya, “Setelah dipikir-pikir, aku tidak menyesal.”

“Kau monster.”

“Memang,” jawabnya santai, “Tapi tidak akan ada yang tahu itu, kan?”

“Ada. Aku.” Perempuan itu menyahut.

“Hanya kau. Kau tidak akan menyebarkannya ke mana-mana.”

“Jangan terlalu yakin,” kata perempuan itu cepat, “Apa kau sudah lupa apa yang kubilang tadi? Aku tahu apa yang harus kulakukan, dan kau—tunggu saja. Aku tidak akan butuh waktu lama untuk menyadarkan semua orang sehina apa kau ini sesungguhnya.”

“Tentu, tentu. Itu perkara gampang, kan?”

Si perempuan terdiam lagi. Nada mengancam dalam suara laki-laki yang berbicara dengannya tampak telah berhasil membungkamnya, hanya mengirimkan detak jantung dan peluh alih-alih keberanian untuk menjawab.

“Tapi…,” si laki-laki menyambung tanpa diminta, “Aku tahu sesuatu yang lebih gampang daripada itu.”

Hening lagi. Kali ini lebih lama.

Saat perasaan-perasaan buruk mulai menyusup perlahan, keheningan itu berubah menjadi penyiksaan.

“A-apa yang—“

Suara logam saling berbenturan bergemerincing memenuhi seisi ruangan, dipantulkan oleh dinding-dinding hitam yang berdiri kokoh. Dalam sedetik singkat, si laki-laki sudah memegang serangkaian kunci dengan tangan kanannya, terangkat tinggi di udara.

“Terkadang,” katanya, “Kalau seseorang tidak mau mengubur kebenaran pahit, ialah yang harus dikubur dalam kebohongan manis. Bukan begitu?”

Perempuan itu lambat bereaksi. Ia membuka-tutup mulut, tetapi tak ada yang keluar dari sana. Sebelum sempat melakukan apa pun, si laki-laki sudah berbalik dan melangkah keluar.

“T-tunggu. Jangan per—“

Blam.

Pintu ditutup.

Detik berikutnya, saat terdengar bunyi ‘klik’ yang memilukan, mimpi buruk itu pun bermula…

 

***

…dan berakhir.

Aku bangun bersimbah peluh, mencengkeram seprai kasur berantakan yang sudah terlepas dari tempatnya. Napasku terengah-engah, nyaris sama cepatnya dengan detak jantung yang berdebum-debum, mengirimkan getaran yang membuat bulu romaku berdiri tegak dalam hitungan milidetik.

Mimpi itu lagi.

Sudah berhari-hari mimpi yang sama selalu mendatangi tidurku, sama sekali tidak mengurangi kadar keseramannya tiap kali ia memutuskan untuk mengganggu.

Aku sama sekali tidak mengerti.

Di jam-jam seperti ini, aku selalu terbangun dengan ketakutan, memandang keluar melalui jendela hanya untuk mendapati bahwa langit di luar masih gelap—tidak ada bulan, hanya ada kegelapan yang membangkitkan rasa waswas.

Dan, lagi-lagi, serangkaian pertanyaan yang sama menyerangku.

Siapa perempuan itu?

Aku sama sekali tidak mengenali suara dan postur tubuhnya—satu-satunya ciri yang bisa diperhatikan karena wajahnya tertutup bayangan. Ia tampak muda—lebih muda daripada aku, barangkali. Tetapi, siapa yang tahu? Aku bahkan tidak dapat melihat wajahnya dalam mimpi itu.

Siapa laki-laki itu?

Aku cukup yakin ia berperawakan tinggi. Suaranya berat—namun selalu kulupakan setiap kali mimpi yang sama berakhir. Yang kuingat hanyalah kesan yang kudapat dari suara itu—kejam dan mengancam.

Apa yang terjadi kepada si perempuan?

Mimpi itu selalu berakhir dalam kegelapan, teriakan-teriakan tanpa henti yang sepertinya bakal membuatku gila sebentar lagi. Apa ia dibunuh? Tetapi… bagaimana? Laki-laki itu jelas sudah keluar dari ruangan. Apa ada orang lain yang tinggal di sana bersama si perempuan?

Dan, terakhir, pertanyaan yang paling menggangguku.

Apa hubungannya mimpi itu denganku?

Kenapa, dari semua orang yang bisa ia datangi, ia memilih aku? Atau… apakah ada orang lain yang mendapat mimpi-mimpi yang sama?

Di antara berbagai hal abstrak, hanya satu yang kuketahui dengan jelas : tempat itu.

Sebuah ruang teater milik sekolah yang terletak persis di sebelah sekolahku. Ruangan itu memang sangat populer. Sejak dibangun beberapa tahun lalu, banyak sekali kelompok teater amatir dari seluruh penjuru kota yang menyewanya untuk pertunjukan. Aku pernah masuk ke sana sekali, dan walau bukan penggemar teater, harus kuakui, tempatnya memang bagus dan megah. Namun, aku sama sekali tidak tahu mengapa ruangan itu menjadi lokasi kejadian yang selalu muncul dalam mimpiku.

Dalam kebingungan, aku menghela napas panjang. Pikiranku sudah sedikit lebih tenang daripada beberapa menit lalu, dan napasku sudah mulai teratur.

Perlahan, aku menoleh ke arah jendela, mengamati bayangan samar yang terpantul di atas latar belakang malam. Di sana, aku dapat melihat diriku sendiri, pucat dan dipenuhi peluh walau nyaris tak tampak.

Di belakangku, tampak kamar yang telah kutinggali sendirian selama nyaris dua tahun.

Aku tidak tahu benda putih apa itu yang terlihat berdiri di samping lemariku, tetapi mungkin aku hanya berhalusinasi karena ketakutan, atau ayahku telah masuk saat aku tidur untuk menitipkan tongkat golfnya yang selalu ditutupi kain putih.

TO BE CONTINUED

Download Ebook?

dl

Advertisements

5 thoughts on “[PROLOGUE] In the Shadows Behind the Curtain

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s