[CHAPTER ONE] In the Shadows Behind the Curtain

itsbtc

Previous posts under the category In the Shadows Behind the Curtain :

SUMMARY || PROLOGUE

font2

HAL-HAL TIDAK berjalan lancar bagi seseorang yang terlahir setengah buta.

Tidak, tunggu. Dengarkan aku dulu.

Aku tahu, mungkin kalian punya banyak argumen soal ini.

Apa salahnya menjadi setengah buta?’

‘Toh, kau masih bisa melihat.’

‘Orang-orang tak bakal mempermasalahkannya’

‘Itu keren! Kau bisa pakai eyepatch ke mana-mana seperti tokoh anime!’

Dan banyak lagi, barangkali.

Tetapi, harus kutekankan, apa pun hal positif yang bisa kau pikirkan soal menjadi setengah buta, kau salah. Aku berani menjaminnya.

Kenapa? Karena aku merupakan salah satu dari orang-orang yang tidak beruntung itu.

Pertama-tama, orang tuaku tidak tampak terlalu senang mengetahui putri sulung mereka terlahir buta. Mereka selalu memperlakukanku berbeda dari adikku. Sebagian besar waktu, mereka mengacuhkanku seakan-akan aku ini semacam patung hiasan rumah.

Kemudian, aku masuk sekolah. Dan hidupku bertambah buruk saja.

Teman-teman mengolok-olokku karena mataku tertutup sebelah. Awalnya hanya ejekan-ejekan biasa seperti, “Hei, apa kau bisa menyatukan kedua bola matamu di tengah? Oh, iya, aku lupa. Kau, kan, setengah buta!” Tetapi, lama-kelamaan, mereka mulai bersikap keterlaluan. Segala hal yang kulakukan pasti disangkut-pautkan dengan kecacatan itu dan sekali aku berbuat kesalahan… BAM! Itu pasti gara-gara aku setengah buta.

Padahal, jujur saja, aku gagal menemukan hubungan antara menjadi setengah buta dengan ketahuan mencontek saat ulangan matematika. Mereka benar-benar sudah kehilangan akal sehat.

Sampai di sini, mungkin kau bakal berargumen lagi bahwa teman-teman sejati tak akan berbuat demikian. Aku seharusnya pindah sekolah saja dan memulai hidup baru bersama orang-orang yang lebih toleran.

Kuberitahu kau satu hal : sudah.

Aku sudah melakukannya. Dan kalau itu masih belum cukup, aku sudah melakukannya berkali-kali. Orang tuaku tidak pernah melihat adanya masalah dengan pindah sekolah, jadi aku kerap memohon kepada mereka untuk itu. Nyatanya, tidak ada yang berhasil. Skenario ‘pindah-sekolah-dan-bertemu-dengan-orang-orang-yang-bisa-menerimamu’ itu mungkin hanya bisa terjadi jika :

  1. Kau secantik Ariana Grande,
  2. Kau punya kepribadian ramah yang menyenangkan, atau
  3. Kau anak kepala sekolah. Dan ayahmu galak.

Aku tidak memenuhi ketiganya.

Aku tidak cantik. Wajahku biasa-biasa saja. Sepanjang tujuh belas tahun hidupku, orang yang pernah mengataiku cantik bisa dihitung jari—sekitar dua, barangkali, dan salah satunya nenekku. Postur tubuhku tidak bagus. Aku pendek dan agak gemuk. Selain itu, karena setengah buta, keseimbanganku jadi agak terganggu. Itulah mengapa aku berjalan dengan cara yang aneh—kadang-kadang, kalau sedang tidak fokus, aku bisa menabrak benda-benda seperti tiang dan tembok.

Aku tidak punya kepribadian ramah yang menyenangkan. Well, sebenarnya, menurutku, aku orang yang cukup oke. Selera humorku lumayan—hei, kadang-kadang aku menertawakan lelucon-leluconku sendiri!—walaupun aku jarang bercanda selain dalam hati. Aku punya banyak topik menyenangkan yang bisa dibahas—seperti anime, film-film Bollywood, dan hantu—walaupun aku canggung dengan beberapa orang, terutama para cewek populer. Aku tidak jahat dan tidak pernah membicarakan hal buruk tentang orang lain—kebanyakan karena aku tidak pernah terlalu memperhatikan mereka sehingga tak ada cukup waktu bagiku untuk merasa kesal atau semacamnya. Tetapi, rupanya, hal-hal itu saja tidak cukup bagimu untuk dianggap keren. Kalau kau cewek dan tidak suka fashion, bergosip, membicarakan cowok, mencari perhatian sana-sini, dan tidak punya tawa heboh, kau bakal dibuang dari pergaulan. Ralat, tambahkan ‘setengah buta’ di sana. Barangkali kalau hal itu tidak menjadi kekuranganku, aku bakal punya setidaknya satu atau dua teman.

Dan, terakhir, aku bukan anak kepala sekolah. Ayahku sama sekali tidak galak.

Kalau kau mengira tumbuh besar akan membuat teman-temanku makin dewasa, well, kau salah lagi. Buktinya, aku masih dibully sampai naik kelas dua belas, tuh.

Luar biasa, kan? Kurang apa lagi hidupku?

Aku tidak pernah terlalu menanggapinya dengan serius, sebenarnya—karena kalau kau sudah terbiasa dibully selama nyaris dua belas tahun, kau akan cenderung jadi tidak peduli—tapi tetap saja, aku kepingin punya masa remaja yang normal, yang bakal membuatku melihat kembali foto-foto lama dan berpikir, “Oh! Aku ingat ini. Waktu itu, kami pergi memancing bersama dan piknik di tepi sungai untuk merayakan ulang tahunku. Seandainya waktu bisa diputar kembali.”

Di titik ini, sih, aku cuma bakal melihat foto lama dan berpikir, “Oh, ini, kan, waktu darmawisata sekolah. Aku ingat diceburkan ke danau dan berakhir tidak ikut foto kelas karena bajuku basah sendiri,” atau, “Wah, waktu itu aku hampir mati dibunuh guru laboratorium karena teman-teman membakar seragamku! Seandainya waktu bisa diputar kembali.”

Intinya, hidup tak akan pernah berhasil untukku.

Sebenarnya, ada satu hal lagi yang pasti bakal membuatmu makin bersyukur tidak hidup sebagai diriku.

Aku tidak yakin yang satu ini ada hubungannya dengan menjadi setengah buta. Tapi, aku bisa menjamin bahwa itu hal terburuk yang pernah terjadi di hidupku—dan hidupku saja sudah cukup buruk, kau tahu sendiri.

Hal itu adalah bahwa aku, di tahun ketujuh belas hidupku yang nyaris tidak dihiasi dosa besar sama sekali, diikuti oleh sesosok hantu.

***

Hal ini bermula sekitar setahun lalu, saat aku tengah membaca buku sendirian di dalam kamar. Suasana begitu hening saat tiba-tiba aku mendengar ketukan di pintu. Itu jelas bukan orang tuaku. Mereka tidak pernah mengetuk pintu kamar sebelum masuk—yang sudah jarang sekali mereka lakukan sejak setahun sebelumnya. Itu juga jelas bukan adikku, karena… yah, itu cerita yang berbeda. Sesuatu terjadi pada adikku. Aku mungkin bisa menceritakannya di lain kesempatan.

Aku membuka pintu, dan, tentu saja, tidak menemukan siapa pun di sana. Saat aku kembali masuk ke kamar, tidak ada yang berubah. Semua tampak normal-normal saja.

Kemudian, malam berikutnya, aku mulai mendapatkan mimpi-mimpi buruk. Mimpi tentang seorang perempuan yang diancam oleh seorang laki-laki. Mimpi itu tidak pernah selesai—selalu menggantung di tempat yang sama. Aku sudah mencoba berkonsultasi dengan guru di sekolahku soal ini, tetapi dua dari tiga guru itu berkata, “Nggak apa-apa. Nggak usah dipikirkan terlalu jauh. Mungkin mimpi itu nggak berarti apa-apa.” Yeah, yang benar saja. Mungkin sebaiknya aku mendatangi dukun untuk berkonsultasi lain kali.

Kalau hanya sampai di situ saja, aku tak bakalan sampai berani menyimpulkan. Kenyataannya, teror itu berlanjut. Aku mulai melihat bayangan-bayangan yang tidak semestinya—kadang, kalau aku sendirian. Aku sendiri sudah terbiasa dengan cerita-cerita hantu, jadi kejadian semacam itu tidak langsung membuatku panik. Aku cukup waras untuk tidak menunjukkan kecurigaanku bahwa salah satu dari mereka mungkin mengikutiku. Aku tidak bercerita kepada orang lain—tidak juga kepada teman-temanku (setengahnya karena aku memang tidak punya teman, jadi… yah). Aku bersikap normal.

Lalu, suara-suara.

Tengah malam, saat aku terbangun dari tidur, kadang aku masih memejamkan mata. Saat itu, aku bisa mendengar suara senandung pelan yang tidak jelas milik laki-laki atau perempuan. Suara itu lembut dan samar-samar, tetapi aku mendengarnya. Aku, tentu saja, tidak langsung bangun dan berteriak, “Siapa itu?!” Tidak, tidak. Aku cukup waras untuk tidak menantang makhluk apa pun yang mengikutiku.

Itu sampai setengah tahun pertama.

Segalanya berubah setelah itu. Aku mulai terganggu saat kurasakan pandangan tajam selalu mengikutiku—kapan pun, di mana pun. Aku menoleh untuk mendapati bahwa tidak ada siapa-siapa di sana. Aku entah sendirian atau sedang bersama terlalu banyak orang sampai-sampai yang memandangiku bisa jadi siapa saja.

Lalu, senandung itu. Tidak pernah sekali pun aku tidak mendengar lagu kematian. Semuanya lagu bernada muram mengenai siksaan dan ajal. Sebentar lagi telingaku bakal iritasi, barangkali. Bayangkan saja terbangun di tengah malam karena mendapat mimpi buruk yang sudah kau hafal jalan ceritanya, kemudian disuguhi lagu-lagu kematian yang entah dari mana asalnya. Siapa yang tak merasa ngeri kalau hal itu terjadi terus-terusan?

Sejak saat itu, hari-hariku dipenuhi perasaan waswas. Aku tidak berani ke toilet sendirian—walaupun tidak ada juga yang mau menemaniku, jadi ujung-ujungnya aku harus tetap ke sana sendirian. Aku selalu mendekati keramaian, walaupun di sana aku bakal dikucilkan dan dianggap tak ada. Aku tak lagi mendekam di kelas selama istirahat. Aku keluar dan menahan diri menghadapi teman-teman yang kegirangan karena aku akhirnya bisa dibully saat istirahat juga. Aku takut untuk tidur—karena mimpi itu selalu datang dan mengacaukan segalanya. Aku khawatir siapa pun yang mengikutiku bakal menampakkan wujud aslinya. Hidupku sudah seperti hidup zombi—kalau mereka bisa disebut ‘hidup’.

Aku barangkali sudah setengah gila saat memutuskan pindah sekolah untuk kesekian kalinya. Mungkin mimpi buruk itu sudah memengaruhi kewarasanku begitu banyak, sehingga aku terdorong untuk menghampiri liang kubur sendiri.

Itu cukup sederhana, sebenarnya. Aku hanya berpikir, Oke. Kalau semua ini tidak juga berhenti, maka mungkin aku diharapkan melakukan sesuatu, dan mimpi itu ada hubungannya denganku. Di mana setting mimpinya? Oh, sekolah sebelah. Pindah ke sana, ah. Lagian, aku capek dibully terus. Siapa tahu murid-murid di sana tidak suka menyiksa orang setengah buta.

Bohong, ding.

Tidak sesantai itu aku memutuskannya. Aku menghabiskan berminggu-minggu untuk membuat pertimbangan, dan berminggu-minggu lagi untuk menemukan waktu berbicara dengan kedua orang tuaku serta meyakinkan mereka bahwa aku memang perlu pindah sekolah.

Awalnya mereka tidak setuju—itu cukup mengejutkan, karena biasanya mereka cenderung membiarkanku melakukan apa pun asal tidak mengganggu mereka.

“Kamu udah terlalu sering pindah sekolah,” kata ibuku sambil mengerutkan dahi, “Terakhir baru dua bulan lalu, kan?”

“Satu setengah tahun,” koreksiku.

“Ya, itu juga belum terlalu lama.”

“Tapi aku nggak tahan dengan perlakuan teman-teman. Aku nggak bakal bisa fokus ujian kalau begini caranya.”

“Ujianmu, kan, masih lama. Kamu baru kelas sepuluh sudah bicara ujian.”

“Ma,” kataku, “Aku kelas dua belas.”

Ibuku memandangi selama beberapa detik. Kemudian, “Oh.”

“Papa juga nggak setuju kamu pindah sekolah,” ayahku mengambil alih. “Biaya masuknya mahal. Baru-baru ini, ada masalah di kantor. Keuangan keluarga sedang buruk.”

Itu jelas bohong. Aku memergoki ayahku sedang melihat-lihat harga mobil baru online sehari sebelumnya—dan mobil kami baik-baik saja, tuh. Dan, sejauh yang kuingat, biaya masuk sekolah ini tidak semahal harga mobil-mobil yang dijual di sana.

“Tapi kalian nggak masalah aku diperlakuin seperti itu sama teman-teman?”

“Ah, itu kan udah biasa.”

Dan begitulah, perdebatan itu berlangsung berhari-hari.

Saat akhirnya aku berhasil membujuk mereka, aku sudah kehilangan separuh niatku untuk pindah sekolah. Alhasil, aku mempersiapkannya dengan asal-asalan. Tidak sedetik pun aku memikirkan rencana apa yang bakal kupakai untuk bertahan di sekolah baru ini. Aku hanya memikirkan soal teror tak kasatmata itu, dan bagaimana aku mungkin bakal bisa bebas darinya kalau melakukan semua ini dengan benar.

Maka, saat aku berdiri di depan sekolah baruku, aku merasa seperti orang bodoh.

Sekolah itu besar—jauh lebih besar daripada sekolah lamaku. Bangunannya lebih modern, dan aku mendadak merasa tidak berguna karena selama ini tidak pernah memperhatikan sekolah yang letaknya persis bersebelahan dengan sekolahku. Aku mendadak mulai memikirkan soal bully yang sudah kuhadapi seumur hidup itu, dan betapa aku tidak ingin hal itu terjadi lagi kali ini—di sekolah sebesar ini, yang jelas mempunyai murid lebih banyak. Tanpa ba-bi-bu, aku melirik jam tangan yang kupakai di tangan kiri, memastikan masih ada cukup waktu bagiku sebelum kelas dimulai.

Aku berlari menuju kamar mandi luar dan segera masuk ke salah satu biliknya. Kupandangi refleksi diriku di cermin—menghabiskan waktu cukup lama untuk mengamati mata kiriku yang tertutup rapat.

Aku bakal mengulangi tragedi yang sama kalau begini caranya, pikirku.

Kutarik napas panjang dan menghembuskannya lagi. Dengan tangan bergetar, kutarik ikat rambut yang sudah kupakai selama setengah masa sekolahku, dan membiarkan rambut panjang menjuntai menutupi wajah. Aku menyisirkan jari-jari di antara rambut dan melemparnya ke depan, menatanya sebisa mungkin agar menutupi setengah mataku yang buta.

Saat selesai, aku kembali memandang diriku sendiri dalam cermin.

Aku terlihat aneh. Tetapi, setidaknya, tak akan ada yang tahu mataku yang satu buta, dan mungkin aku sudah menyelamatkan setahun masa sekolah dengan melakukan hal ini.

Kuhela napas panjang sambil mengumpulkan kepercayaan diri.

Dalam keheningan, aku membulatkan tekad.

Sekali ini, aku tidak akan mengacaukannya. Akan kuselesaikan masalah konyol ini, walaupun itu berarti aku mungkin bakal menemukan hal-hal yang tidak kuharapkan. Dan selagi menyelesaikannya, aku akan menjadi cewek normal. Senormal yang bisa dilakukan oleh seseorang yang sudah mengalami masalah pergaulan sejak lahir.

TO BE CONTINUED

Download Ebook?

dl

Advertisements

6 thoughts on “[CHAPTER ONE] In the Shadows Behind the Curtain

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s