[CHAPTER TWO] In the Shadows Behind the Curtain

itsbtc

Previous posts under the category In the Shadows Behind the Curtain :

SUMMARY || PROLOGUE || CHAPTER ONE

font3MAU MEMBOHONGI SIAPA aku?

‘Tidak mengacaukan segalanya’ di hari pertama masuk sekolah baru jelas bukan pilihan buat orang sepertiku.

Belum apa-apa, aku sudah mendapat teguran banyak guru lantaran rambutku dianggap tidak rapi.

“Ponimu itu,” kata mereka, “Sibakkan! Saya risih melihatnya, tahu? Kalau kamu ketemu guru piket, kamu sudah bakal ngetem di ruangannya seharian. Untung kamu hanya ketemu saya!”

Aku tidak menganggap diriku ‘beruntung’ sama sekali, tuh. Begini, aku bahkan belum tahu siapa guru piket di sekolah ini, jadi untuk apa aku merasa takut padanya? Ia tidak mungkin lebih seram daripada hantu yang mengikutiku, kan?

Kemudian, orang-orang melirikku dengan tatapan tidak enak.

“Anak baru, anak baru,” aku sempat mendengar bisikan dari beberapa yang kulewati, yang tanpa malu-malu mengikuti jalanku dengan pandangan mereka. Aku tidak tahu apakah mereka membicarakan hal-hal buruk mengenaiku atau tidak, tetapi dengan pandangan seperti itu, sepertinya, sih, iya.

Apa kira-kira?

Soal rambutku lagi? Atau… mereka sudah pernah mendengar soalku dari teman-teman lama? Tapi aku, kan, tidak sepopuler itu. Jadi…

Ah, aku terlalu banyak memikirkan hal ini.

Tetapi, kalau tidak dipikirkan, bisa-bisa tekadku untuk mencari teman langsung ambruk seketika. Habis, berhubung sudah kelas dua belas, pergaulan di angkatanku sudah terkotak-kotak, dengan batas yang kelewat jelas sampai-sampai orang dungu pun bisa melihatnya. Ada geng cewek-cewek populer—yang sepertinya lebih elit daripada di sekolah lamaku. Ada geng cewek-cewek berandalan yang hobi bergaul dengan para cowok. Ada juga geng anak-anak culun yang kerjanya menggotong setumpuk buku ke mana-mana (eh, setelah dilihat-lihat lagi, ternyata itu hanya satu buah buku yang tebalnya minta ampun). Aku seperti disodori pilihan yang tidak bisa benar-benar kupilih sendiri.

Satu-satunya hal yang bisa kupilih sendiri hanyalah ekskul, dan tentu saja, aku tidak butuh waktu lama untuk menentukan.

“Klub drama?” wali kelasku menaikkan sebelah alis selepas membaca lembar formulir yang kuserahkan. “Kamu yakin?”

“Saya yakin, Pak,” jawabku tegas.

“Tidak banyak, lho, yang memilih klub ini,” katanya, “Kalau kamu hanya mau masuk karena menganggap tempat ekskulnya keren, lebih baik kamu pikirkan saja sekali lagi. Meskipun keren, ada banyak desas-desus tidak mengenakkan dari situ. Saya tidak menakut-nakuti atau membatasi pilihan kamu, tapi coba pertimbangkan dengan bijaksana.”

Dikiranya aku tidak tahu.

Tentu saja aku tahu. Aku bukan tipe orang yang suka berurusan dengan hal-hal yang tidak kupahami, jadi sebelum memulai sesuatu yang baru, minimal aku sudah melakukan riset sebelumnya. Dan kali ini, aku harus masuk ke tempat itu, dan ini satu-satunya cara kalau tidak mau dikira orang aneh karena masuk-keluar ruangan yang tidak wajar.

Eh, tapi soal desas-desus itu, aku tidak tahu, sih. Tidak apa-apa, lah. Aku bisa mencari tahu nanti.

“Saya mengerti, Pak,” jawabku, “Tapi saya tetap akan masuk ekskul ini.”

Guru separuh baya itu menatapku dengan sorot mata seolah mengatakan saya-sudah-coba-peringatkan-tapi-berani-beraninya-kamu-tidak-mendengarkan sekaligus anak-ini-kasihan-banget. Tetapi, kubalas tatapan itu dengan wajah datar yang menurutku lumayan meyakinkan. Setelah menghela napas berat, ia berkata, “Ya sudah. Itu, kan, pilihan kamu. Saya hanya mencoba memberi pertimbangan. Kalau menurut kamu tidak masalah, saya akan catat nama kamu di daftar anggota klub.”

“Terima kasih, Pak.”

“Klub drama latihan setiap hari Selasa, yang berarti hari ini. Kamu bilang sama orang yang menjemput kamu, setiap Selasa pulang jam tujuh malam. Tempatnya di lantai paling atas—lantai lima, tapi saya rasa kamu sudah tahu. Kalau kesulitan mencari, ada map di dekat tangga. Kamu bisa cek sendiri.”

“Terima kasih, Pak. Kalau begitu, saya mohon diri.”

Aku berbalik dan bersiap melangkah keluar dari kantor guru.

Tanpa diduga-duga, wali kelasku itu memanggil lagi.

“Ara.”

Aku menoleh. “Ya, Pak?”

“Rambutmu.”

“Oh.”

Aku pasti sudah mati lima kali sejak kejadian itu. Sebab, saat ini, aku merasa seperti zombi tidak tahu arah yang berkeliaran di sekolah saat bangunan ini mulai sepi. Kelasku—kelas XII-L—terletak di lantai empat, jadi aku hanya tinggal naik satu lantai saja untuk mencapai tempat ekskul yang legendaris itu. Tetapi, nyatanya, mencari ruangan itu tidak semudah memejamkan sebelah mata (yang, bagiku, mudah banget, sebab sejak lahir pun, mataku sudah terpejam sebelah). Sekolah baru ini sangat besar, dan lorong-lorong di dalamnya membingungkan—seperti labirin yang tampak sama semua di mana-mana, padahal kenyataannya tidak. Aku yakin sudah melewati toilet setidaknya tiga kali, dan kalau logikaku benar, itu berarti, aku sudah memutari seisi lantai lima. Tetapi, di mana ruang teater itu?

Coba kuingat-ingat. Lima tahun lalu, saat aku ke sini, di mana letaknya, ya? Sepertinya semua hal selain ruangan itu di lantai ini sudah dirombak—pintu-pintu kelas, lantai, cat tembok. Bagaimana mungkin aku bisa ingat?

Kalau kesulitan mencari, ada map di dekat tangga. Kamu bisa cek sendiri. Kalimat wali kelasku terngiang-ngiang di benakku.

Benar juga. Seharusnya dari awal aku tidak sok yakin aku tahu di mana ruangannya. Barangkali, kalau tadi bergantung pada map itu, aku tidak bakal telat selama ini. Sekarang, aku bahkan sudah lupa jalan kembali menuju tangga. Kurang goblok apa, sih?

Aku baru saja berbelok di tikungan saat tiba-tiba kulihat sekelebat bayangan melesat di belakang—di tempat aku datang tadi—dari ekor mata. Aku terkesiap dan langsung menghentikan langkah. Saat membalikkan badan, tidak ada yang kutemukan selain bayang-bayang pohon tinggi di luar yang menembus masuk. Suasana koridor sesepi kuburan, dan aku hanya sendirian di sini.

Tanpa kusadari, aku mulai memandang sekitar dengan waswas.

Kalau sendirian begini, otak warasku membatin, Jangan memandang sekitar. Fokus pada jalan yang mau kuambil. Kalau tidak, salah-salah, aku bakal melihat hal yang…

Benar juga. Aku tidak perlu sok berani memandang sekitar segala. Lebih baik, aku masa bodoh dan meneruskan perjalanan tanpa memikirkan apa-apa.

Aku berbalik dan melangkah maju sambil beursaha mengenyahkan pikiran-pikiran negatif yang sepertinya sebentar lagi bakal mengambil alih. Saat sedang lengah, tiba-tiba saja, kakiku menyandung sesuatu yang keras, dan aku kehilangan keseimbangan—sepertinya sempat menjerit juga sebelum itu. Saat kesadaranku kembali, tahu-tahu saja, aku sudah jatuh terjerembap di atas lan—tunggu, bukan lantai. Aku jatuh di atas… sepasang kaki.

Padahal sejak tadi tidak ada orang.

Spontan, aku menjerit sekeras-kerasnya. Jantungku berdebar sangat kencang dan rasanya aku kepingin menangis.

Apa ini saatnya?

Apa berhubung aku sudah dekat dengan tempat yang selalu hantu itu tunjukkan dalam mimpi, ia memutuskan untuk menampakkan diri?

Apa kaki ini miliknya?

Kepanikan membuatku kehilangan akal sehat. Dalam kondisi biasa, aku tak bakalan menjerit atau melakukan hal bodoh, tetapi aku entah takut mati atau malah cari mati. Yang jelas, sebuah suara berat tiba-tiba menyahut teriakanku.

“Apaan, sih, teriak-teriak?!”

Suara cowok.

Jadi, selama ini, hantu yang mengikutiku itu cowok?

Tapi… tunggu dulu. Hantu itu tidak bakalan ngomong begitu padaku. Ini lebih seperti manusia yang kaget mendengar teriakanku. Jangan-jangan dia memang bukan hantu. Jangan-jangan…

“Berdiri, dong! Kaki sama kupingku sakit, tahu?”

Embusan napas lega itu entah kusengaja atau tidak. Saat menoleh dan mendapati suara itu benar-benar berasal dari seorang manusia cowok—yang, omong-omong, kakinya masih kutindihi dengan tidak sopan—dan bukannya hantu cowok, aku langsung mengumpulkan kekuatan di kedua kaki yang masih bergetar dan bangkit berdiri dengan susah payah.

“Maaf,” kataku singkat. “Aku nggak lihat kamu.”

“Makanya,” ujarnya kasar sambil ikut berdiri, “Punya mata jangan ditutup-tutupi pakai rambut. Aku udah tiduran di sini dari tadi, tahu?”

Aku lebih heran kenapa ada orang yang tidur melintang di tengah koridor daripada takut dibentak olehnya, sebenarnya. “Maaf,” kataku lagi, membiarkan diriku terdengar seperti mesin penjawab otomatis yang punya kosakata terbatas. “Aku nggak lihat kamu.”

“Nggak perlu diulang! Walaupun teriakan tadi itu keras banget, kupingku belum tuli!”

“Maaf.”

Cowok itu hanya menatapku kesal. Sepasang matanya yang berwarna cokelat terang seperti memandang menembus diriku—menelitiku dari atas ke bawah. Aku tidak suka dipandangi seperti ini. Rasanya seolah-olah aku ini makhluk berdosa yang kotor dan hina. Padahal, kan, aku tidak begitu. Tidak perlu memandangiku dari ujung kepala sampai ujung kaki segala.

Lagipula, kalau kelamaan dipandangi, mana tahu dia bakal menyadari bahwa aku ini sebenarnya setengah buta?

“Jangan lihati aku kayak gitu.”

Ia tampak salah tingkah mendengar ucapanku yang lumayan straight-forward. Tangan kanannya sok-sok menyibakkan poni ala Korea acak-acakan di dahinya yang berkeringat (padahal ia dari tadi tiduran di tempat sedingin ini, jadi aku tidak mengerti dari mana keringat sebanyak itu muncul. Ah, sudahlah. Mungkin tubuh cowok memang punya hormon berbeda. Aku tidak terlalu suka biologi, jadi aku tidak tahu).

“Aku hanya mikir,” katanya, “Jangan-jangan kamu lagi nyari ruang teater.”

Deg.

Jangan-jangan dia hantu beneran dan sedang menyamar jadi manusia.

“Kok tahu?” tanyaku waswas. Aku mundur selangkah sambil menjaga agar cowok itu tidak curiga—sebab kalau dia sungguh-sungguh hantu itu dan sadar bahwa aku curiga, hidupku pastinya tak bakalan bertahan lama.

“Kamu ngapain bawa-bawa fotokopian formulir ekskul yang tulisannya ‘klub drama’ kalo bukan gara-gara mau masuk ke sana?”

Fotokopian formulir ekskul?

Oh, benar juga. Tadi, kan, aku membawanya. Sekarang, di mana benda itu? Kok, tanganku kosong?

“Masih di lantai, tuh,” cowok itu menyahut—mungkin melihatku kebingungan. “Belum diambil dari tadi.” Mengikuti pandangannya, aku menemukan benda yang kucari-cari di atas lantai tidak jauh dari kakinya. Buru-buru, aku mengambil lembaran itu.

“Makasih sudah ngasih tahu.”

“Jadi, bener, kan, kamu lagi nyari ruang teater?”

“Yah…” jawabku, “Begitulah.”

“Kuanter aja, deh, daripada nyasar terus. Ruangannya nggak jauh, kok, dari sini,” ia menawarkan. “Ini bukan tawaran. Mau nggak mau, aku tetep akan nganter kamu ke sana.” Oh, ternyata ia tidak menawarkan.

Tapi… aneh. Kenapa ia ngotot sekali soal ini? Jangan-jangan kecurigaanku benar dan ini hanya jebakan.

“Kenapa memangnya?” tanyaku, “Kamu nggak mau nyasarin aku ke mana gitu, kan?”

“Jangan parno,” celanya, “Apa untungnya aku melakukan itu? Lagian, kalo nggak kuanter, memangnya kamu bisa nemu ruangannya sendiri?”

Bisa, aku sudah hendak menjawab. Maksudku, aku pasti menemukan ruangan itu cepat atau lambat, kan? Lantai ini tidak mungkin seluas itu. Lagipula, ekskulnya masih sampai jam tujuh malam. Ini baru jam setengah enam sore. Aku lebih baik terlambat daripada mengambil resiko diantar orang tidak dikenal yang bisa saja bukan orang beneran. Bagaimana kalau…

“Nggak usah aja,” tolakku, “Aku bisa cari sendiri.”

“Idih,” dengusnya, “Sombong banget.”

Setelah itu, tanpa memedulikanku lebih lanjut, ia berjalan pergi dengan santai.

“Ikuti kalo mau nyampe ke sana tanpa nyasar lebih lanjut!” teriaknya sambil melambai-lambaikan tangan saat sudah agak jauh, kemudian sosoknya menghilang di balik tikungan.

Jangan ikuti, aku meyakinkan diri sendiri, Mungkin saja itu jebakan.

Jadi, tanpa berpikir panjang, aku memutar kembali ke arah datangku dan berjalan dengan buru-buru, menelusuri lorong-lorong yang sama sekali lagi dan masuk ke belokan yang tidak kuambil sebelumnya.

***

Aku menghabiskan hampir setengah jam mencoba menemukan ruangan yang dimaksud. Saat akhirnya tiba, aku sudah hampir mati terkena serangan jantung karena beberapa kali mengira mendengar suara dari tempat-tempat yang tak terduga di lorong. Membayangkan masuk dan bertemu orang-orang langsung membuatku lega sehingga aku tidak sempat berpikir macam-macam saat menjeblak pintu ganda itu lebar-lebar dan melangkah masuk—setengah berlari dan setengah tersaruk-saruk.

“Maaf, aku telat!” seruku. Aku berdiri di tingkat teratas amfiteater mini yang didereti bangku-bangku penonton beludru berwarna merah marun—persis seperti yang ada di dalam mimpi—dan rupanya anggota lain tengah bergerombol di dekat panggung (beberapa duduk di bangku terdepan atau tiduran di atas panggung). Ruangan itu sendiri gelap, sehingga dari atas sini, aku hanya dapat melihat beberapa yang mengenakan baju berwarna terang—ternyata mereka berganti baju sebelum ekskul (catatan buat diri sendiri: lain kali aku juga harus membawa baju ganti).

“Siapa kamu?” salah satu dari mereka balas berteriak, kemudian orang di sebelahnya tampak membisikkan sesuatu, dan dia menyambung, “Oh, kamu anggota baru itu. Jangan berdiri di sana terus, dong!”

Nada bicara orang itu begitu kasar sampai-sampai aku mulai terbayang para pembully di sekolah lama. Tidak mau nasibku berakhir tragis lagi, aku segera berlari menuruni amfiteater menuju ke area dekat panggung. Saat sudah cukup dekat, aku dapat menghitung jumlah orang yang berkumpul.

Lima, enam, tujuh…

Tujuh?

Tunggu dulu. Apa hanya ini anggota klub drama? Adakah yang tidak masuk? Separah apa sebenarnya desas-desus itu sampai tidak ada siswa lain selain tujuh orang ini yang sudi memasuki klub?

“Kenapa lihatin kami?” orang itu—yang ternyata adalah seorang cewek berambut sebahu—membentak lagi. “Kamu sudah terlambat, masih berani lihat-lihatin kami dengan tatapan seperti itu?!”

“Maaf,” jawabku spontan sambil menundukkan kepala singkat. “Aku hanya menghitung jumlah kalian. Maaf sekali.”

Dari arah bangku penonton, aku dapat mendengar sebuah dengusan familier. Saat kudongakkan kepalaku, kulihat cowok yang tadi menyandungku di tengah koridor sedang duduk dengan kedua kaki terangkat ke bangku di depannya.

Ya ampun, pikirku kaget, Ternyata dia anggota klub drama juga.

Pantas dia bersikeras mengantarku. Dia kan juga menuju ke sini.

Terkutuklah hantu sialan yang membuatku berpikir yang tidak-tidak itu. Kalau dipikir-pikir, makhluk itu juga yang membuatku terjebak dalam situasi ini, kan? Pokoknya terkutuklah dia.

“Menghitung jumlah kami?” cewek itu menatapku tak percaya, “Kenapa? Nyesel kamu masuk ke ekskul yang minim anggota seperti ini? Kalau iya, mending keluar saja! Banyak, kok, ekskul lain yang bisa menerima kamu.”

“Nggak,” jawabku langsung, “Aku nggak bermaksud begitu. Maaf.”

Cewek itu terdiam sejenak memandangiku. Sama seperti cowok tadi, ia juga menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki, membuatku langsung merasa tidak nyaman.

“Rambut kamu memang selalu begitu?” tanyanya to the point.

“E-eh… iya.”

“Mana bisa kamu main drama dengan muka tertutup separuh begitu? Kamu niat main drama atau cosplay tokoh anime?”

Dia nonton anime?

“Main drama,” jawabku langsung.

“Kalau begitu sibakkan ponimu!” bentaknya. Cowok yang berdiri di sebelahnya—yang tadi membisikkan sesuatu—langsung menyenggol sikunya. Ia menoleh dengan kesal. “Apa, sih?!”

“Dia anak baru, tahu?” bisik cowok itu, “Kamu jangan takut-takutin dia, Bego. Kalo sampe nggak betah, kita bisa kekurangan anggota lagi!”

Jadi, cewek itu yang bego atau dia yang bego? Bisik-bisik, kok, keras banget.

“Bodo amat!” cewek itu menyalak, “Namanya anggota, ya, anggota. Anak baru atau bukan, bukan urusanku!”

“Maaf,” kataku untuk kesekian puluh kalinya, “Aku bisa ngelakuin apa pun yang kamu suruh, asal jangan suruh aku ngerapiin poni.”

Alis cewek itu bertaut, tampak luar biasa kesal perintahnya dibantah. “Kenapa memangnya? Kamu bisulan di mata?”

Si cowok berbisik, “Bisul di mata itu nggak ad—“

“Diem dulu, deh! Itu, kan, cuma sarkasme. Jangan ngerusak suasana, ah!”

Aku tidak tahu harus takut atau tertawa mendengarnya. “Bukan,” jawabku sambil menahan senyum, “Aku hanya sudah terbiasa aja seperti ini. Aku nggak nyaman kalo nggak gini. Kuharap itu masuk akal.”

“Itu nggak masuk ak—“

“Masuk akal banget!” cowok itu memotong buru-buru. Ia maju selangkah. “Selamat datang di klub drama! Aku Christo Alexander. Salam kenal!”

Dari desahan-desahan bosan yang terdengar, tampaknya hal seperti ini sudah sangat sering terjadi. Aku bertanya-tanya apakah mereka berdua semacam ketua dan wakil klub ini. Kalau iya, keseharian klub pasti heboh sekali.

“Mm…” gumamku, “Salam kenal juga?”

“Emang kamu udah ngenalin diri?” Christo Alexander bertanya sambil meringis lebar.

Ups. Benar juga.

“Namaku—“

“Enak aja malah sok akrab!” si cewek galak membentak Christo Alexander. “Kalo ramah-ramah, bisa-bisa dia ngelunjak, tahu?”

“Tapi kalo marah-marah, dia bakal nggak betah, Bego!” balas yang diajak bicara sambil melotot. “Masa cuman nanya namanya aja salah? Kita, kan, juga harus ngenalin diri dan sebagainya! Di mana sopan santun—“

“Namanya Ara.”

Sebuah suara tiba-tiba menyahut dari arah bangku penonton. Baik aku, Christo Alexander (aku masih belum tahu siapa nama panggilannya), maupun si cewek galak sama-sama kaget. Saat menoleh, aku mendapati cowok koridor misterius tadi sedang menatap kami bosan. Poni Korea-nya sudah semakin tidak keruan saja bentuknya.

“Diem kamu,” si cewek galak membalas setelah mengatasi rasa terkejutnya, “Aku belum suruh kamu ngomong.”

“Idih,” cowok itu mendengus. “Mulut mulutku juga. Lagian, Christo nanyain namanya, kok.”—catatan buat diri sendiri: nama panggilan cowok di depanku ini ternyata Christo.

“Kok, kamu bisa tahu?” Christo bertanya. Kemudian, tatapannya dialihkan padaku. “Bener nama kamu Ara?”

“Bener,” jawabku tanpa basa-basi. “Dan, ya, aku anak baru. Baru masuk hari ini. Tadi aku sempat ketemu dia di koridor dan dia lihat formulirku.”

“Masuk kelas sepuluh apa?” Christo bertanya. “Eh, atau sebelas?”

“Aku kelas dua belas,” jawabku sambil tersenyum.

Mata semua orang langsung melotot.

“Elah,” seorang cewek yang duduk di sisi panggung bergumam keras—jelas-jelas tidak bermaksud supaya aku mendengar gumaman itu, “Udah kelas dua belas ngapain pindah sekolah segala?”

Christo langsung mencibir si cewek galak. “Tuh,” katanya, “Dia lebih tua daripada kamu, tahu? Makanya, jangan sok bentak-bentak dulu.”

Cewek itu malah memelototi Christo. “Aku nggak peduli,” katanya, “Aku, kan, sekolah di sini lebih lama. Dia tetep aja anak baru.” Kemudian, ia berganti menatapku. Ada sedikit raut malu di wajahnya, tetapi ia dapat menutupinya dengan mudah. “Aku Flo, dan aku ketua klub ini.”

“Kelihatan, sih,” balasku tanpa sadar. Ia langsung memelototiku dengan tajam—padahal sepertinya itu, kan, bukan hinaan.

“Yang lain kenalin diri juga, dong!” Christo berteriak pada anak-anak lain yang tersebar di belakangnya. Mereka tampak tak bersemangat sama sekali, tetapi berhubung tidak sopan tidak memulai dengan perkenalan, mau-tidak-mau, mereka menurut.

“Aku Serra,” cewek yang duduk di sisi panggung itu berkata, “Nama lengkapnya—“

“Nggak perlu!” Flo membentak.

“Astaga,” gumamnya, “Ya udah, deh. Terserah.”

Cowok yang tadinya tiduran di atas panggung turun dan menghampiriku, kemudian mengulurkan tangannya yang berjari kurus-kurus untuk berjabat tangan. “Christophorus Gemma. Panggil aja Gemma,” ia berkata. Kusambut uluran tangan itu.

“Ara,” kataku.

“Udah tahu!” Lagi-lagi, Flo berteriak. Demi Tuhan, cewek ini memang galak sekali.

“Theo.” si cowok misterius yang masih saja duduk santai di bangku penonton berteriak.

Siapa yang dia panggil Theo?

“Siapa…”

“Maksudku, namaku Theo.”

Astaga. Kukira dia memanggil seseorang bernama Theo. “Oh,” gumamku.

“Aku Kei,” cewek berambut pendek yang berdiri tak jauh dari Flo memperkenalkan diri. Ia satu-satunya anggota klub yang tampak ramah—selain Christo dan cowok tukang tidur bernama Gemma ini, yang sepertinya juga tidak berbahaya.

“Salam kenal,” kataku.

“Udah, kan?” Serra bergumam keras-keras lagi, kali ini memang ingin semua orang mendengarnya. Ia tampak sudah tidak sabar sekali ingin mengakhiri semua ini. Sejak tadi, yang dikerjakannya hanya memainkan poni pendeknya yang diwarna terang—warna apa itu? Pirang? Cokelat muda? Entahlah, di ruangan segelap ini, bahkan wajahnya pun tidak bisa kulihat dengan jelas.

“Kamu buta atau apa?” Flo mendesis, “Masih ada satu anggota lagi!”

Eh?

Siapa? Aku tidak melihat ada siapa-siapa selain orang-orang itu di sini.

Tapi, kalau dipikir-pikir, benar juga. Kuhitung ada tujuh orang saat berjalan tadi, tetapi yang memperkenalkan diri baru enam orang. Lalu, ke mana yang satu lagi?

“Di belakangmu, Ra,” Christo menjawab seolah-olah mampu membaca pikiranku.

Aku tidak langsung menoleh. Sebelum melakukan itu, sempat kulihat ekspresi Serra memucat terlebih dahulu—yang membuatku penasaran hingga akhirnya membalikkan badan…

…dan langsung berhadapan dengan sepasang mata dingin yang tajam menusuk.

Lompatan itu tak terelakkan. Aku bahkan nyaris menabrak Flo dan mengambil resiko dibakar hidup-hidup oleh cewek itu kalau saja sepasang tangan tidak menahanku (yang kuduga adalah tangan Kei). Sebab, sepasang mata yang menatapku balik begitu mengerikan, membangkitkan ketakutan-ketakutan yang sempat reda melihat tingkah anak-anak klub drama.

Pemilik sepasang mata itu tengah berdiri tegak persis di belakangku. Postur tubuhnya tidak tampak mengancam sama sekali. Ia berperawakan kecil, dengan rambut panjang mencapai pinggang yang diikat setengah. Poni lemparnya ditata rapi, menutupi alis sebelah kanannya. Hidung itu mancung dan agak besar, dan bibir di bawahnya sangat tipis. Secara keseluruhan, ia tampak normal, tetapi tatapan matanya…

“S-siapa…”

“Kita lagi perkenalan!” Flo membentaknya. “Perkenalkan dirimu!”

Cewek itu hanya menatapku. Pandangannya tak mampu kuartikan, dan entah mengapa, hal itu membuatku resah.

Siapa dia?

“Hei!” Flo membentak lagi.

Ia melirik sekilas, kemudian membuang muka. “Namaku Jeanna Christabel. Panggil aja Jean,” katanya pada akhirnya. Suaranya dingin dan nada bicaranya ketus—aku tidak suka itu. Kesannya seolah-olah kami seharusnya saling mengenal.

Tapi… Jeanna Christabel?

Apa aku pernah mendengar nama itu?

Rasa-rasanya belum. Lantas, mengapa cewek ini tampak begitu familier? Aku punya perasaan kami sudah pernah bertemu sebelumnya entah di mana.

Kapan?

Kapan aku pernah bertemu seorang cewek bernama Jeanna Christabel?

“…aku sedang tanya. Kamu dengar tidak?”

Aku gelagapan saat menyadari ternyata Jean sedang mengajakku bicara. “E-eh, iya? Kamu tanya apa?”

Matanya disipitkan penuh selidik. “Nama kamu siapa?”

“Dia, kan, sudah bilang dua kali dari tadi!” Flo menyahut, “Namanya Ara!”

“Aku tanya dia, bukan kamu, Flo,” balas Jean tajam tanpa bahkan repot-repot melirik ketua klub drama super galak itu. “Jawab aku. Siapa namamu?”

“Eh…,” aku bergumam bingung, “Aracelli, begitu maksud kamu?”

Mata Jean semakin disipitkan. “Siapa?”

“Aracelli.”

“Aku nggak tanya—“

“Je, udah, deh,” Gemma menyela. “Kamu aneh banget, tahu?”

Mulut Jean langsung dikatupkan mendengar teguran itu. Ia memijit kepalanya seolah-olah mendadak terkena migrain, kemudian memalingkan wajah.

Ya ampun, batinku, Cewek satu ini seram banget.

Kalau aku pernah mengenal cewek seseram ini di masa lalu, pastinya aku ingat, kan?

Dan lagi, apa yang mau dia bilang tadi? ‘Aku nggak tanya’ apa? Bukankah dia tanya namaku? Aku sudah menjawabnya, kan? Tiga kali malah. Lalu apa—

“Ya sudah, lah!” Flo menyela, “Daripada semua ini tambah absurd, lebih baik kita sudahi saja perkenalan tak jelas ini. Kita punya latihan untuk dilakukan, ingat?” Lalu, sambil melirikku sinis, ia berkata, “Dan jangan kira karena kamu anak baru, kamu bisa santai-santai di hari pertama. Ada ritual penerimaan anggota baru di sini, asal kamu tahu. Dan hari ini bakal jadi hari pertama yang sibuk.”

TO BE CONTINUED

Download Ebook?

dl

Okay, okay.

Inhale, exhale. Inhale, exhale. Inhale, exhale. Inhale…

FINALLY!!

*exhales*

I did pretty much nothing with this series until like yesterday, so I’m proud of myself. It’s all getting interesting, after all. You’ve met my new favorite characters, Theo and Jeanna… and a few more, which I don’t really like but well…

I’m gonna have my VERY FIRST exam in high school so this will be my last post this month. I’ll post more when the exam ends, which is like two weeks ahead. So be patient!

Think that’s all. Bye!

Advertisements

6 thoughts on “[CHAPTER TWO] In the Shadows Behind the Curtain

    1. Weh iya gak dicek ulang sih wkwk tar lah..
      Thanks;;- Theo ama Jerry cuman sama-sama cowok aja.. Selain itu beda 100% keknya hahah.. This is not all of Theo, remember? He’s only just appeared once, so… be prepared for more surprises from him! (And Jeanna) (and the others) (but I don’t really like the other so…)

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s