[CHAPTER THREE] In the Shadows Behind the Curtain

itsbtcPrevious posts under the category In the Shadows Behind the Curtain :

SUMMARY || PROLOGUE || CHAPTER ONE || CHAPTER TWO

font4

MUNGKIN BENAR YANG dikatakan Theo di koridor tadi: jangan parno.

Seharusnya, saat ketua ekskul tukang kecam itu mengatakan ‘ritual penerimaan anggota baru’, aku tidak langsung berpikir yang aneh-aneh. Maksudku, tidak mungkin, kan, aku disuruh tidur telentang di tengah ruangan dikelilingi anggota lain yang membacakan mantra-mantra pembuka segel iblis sungguhan?

Pertama, aku tidak yakin ada benda yang berpotensi sebagai tempat iblis disegel di sini. Kalau ada pun, itu pasti salah satu di antara properti-properti berantakan yang dibiarkan berserakan di atas panggung—dan kemungkinan tidak ada yang memperhatikan benda-benda itu. Kedua, kalau ritual seperti itu benar-benar diadakan setiap ada anggota baru, pasti semua orang di sini sudah mati. Dan, terakhir sekaligus yang paling penting, bagian tengah ruangan ini berupa amfiteater. Jadi, tidak mungkin aku bisa tidur telentang di sana.

Tetapi, saat Flo mengumandangkan soal ritual itu, aku tetap ketakutan, dan hal itu bukannya tidak beralasan. Logikanya sederhana. Ada desas-desus soal ekskul—atau tempat—ini, tetapi ketujuh orang yang berdiri di hadapanku tetap mau mendaftar. Itu hanya berarti mereka orang-orang nekad yang tidak takut mati—atau kepingin berurusan dengan hal-hal supranatural (sejak tadi, aku selalu menduga itulah ‘desas-desus’ yang disebut-sebut). Kalau ketujuh orang ini benar-benar bergabung dengan alasan itu, tidak pelak lagi, mereka pasti lebih suka mengadakan kegiatan semacam uji nyali daripada latihan drama sungguhan. Jadi, masuk akal, kan, kalau aku takut mereka bakal menyuruhku melakukan hal aneh-aneh?

Well, kenyataannya, sepuluh menit kemudian, aku menemukan diriku tengah mengepel lantai panggung yang berdebu sementara anggota lain sibuk bersantai.

“Bersihkan panggung tempat properti itu!” begitulah bunyi perintah yang dilontarkan Flo. Tidak terbayang betapa leganya aku saat itu. Tetapi, sekarang, sih, aku tidak bisa mengatakan hal yang sama. Habis, panggung ini berantakan banget, dengan properti setengah jadi di mana-mana dan udara pengap yang menaungi lantai berdebu. Belum lagi, separuh bagian panggung tertutup bayang-bayang tirai yang dibiarkan menjuntai turun. Suasananya jadi semakin tak keruan saja.

Itu bukan bagian terburuk.

Bagian terburuknya adalah, ketujuh orang lainnya malah tidak melakukan apa-apa. Maksudku, secara harfiah. Mereka bahkan tidak latihan sama sekali—dan aku ingat persis Flo berkata ‘kita punya latihan untuk dilakukan’ sebelum memerintahku seperti bos. Jangan-jangan, mereka memang tidak pernah berlatih. Kalau begini caranya, buat apa menyiksa anggota baru? Untuk kesenangan?

Atau… lebih parah lagi, aku bakal terbully seperti di sekolah-sekolah lama?

Menjadi jongos untuk selamanya bagi orang-orang yang kebetulan sekolah lebih lama di sini dan terpaksa melakukan apa pun yang mereka perintahkan?

Oh, tidak. Itu bakal jadi mimpi buruk.

“Nggak usah beneran dibersihin.”

Aku tersentak saat sebuah suara datar tiba-tiba terdengar. Nyaris saja kujatuhkan tongkat pel di tanganku kalau saja mataku tidak lebih dulu menangkap sesosok tubuh laki-laki yang tinggi menjulang—tidak sampai dua meter dari tempatku berdiri.

Sial, batinku, Lagi-lagi aku parno.

Aku mendongak dan mendapati bahwa orang itu ternyata adalah Gemma, cowok berkacamata super tinggi yang sepertinya hobi tidur. Aku tidak pernah terlalu memerhatikan wajahnya sampai detik ini—dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan ruangan yang kurang pencahayaan. Tetapi, setelah melihat dari dekat, dapat kusimpulkan, ia pasti termasuk lumayan populer—atau malah populer banget? Habis, wajahnya tergolong lumayan. Dengan postur tubuh seperti itu, ia juga tampak seperti olahragawan (barangkali pemain basket atau apalah, yang bakal menambah satu poin dalam daftar hal-hal yang berpotensi membuat dirinya tenar).

“Aku nggak mau bikin dia marah,” jawabku—setelah sekian lama hanya diam memandangi wajah orang yang mengajakku bicara itu.

Ia tersenyum geli. “Siapa? Flo?”

“Yah…,” gumamku, “Siapa lagi?”

“Flo nggak pernah serius soal gertakan-gertakan itu, kok,” katanya sambil menggaruk bagian belakang kepala, “Dia cuman terlalu peduli sama reputasi klub kita. Dia nggak kepingin kita dipandang klub kekurangan anggota yang hanya bisa malas-malasan dan nggak menghasilkan apa-apa. Jadi, dia memang bersikap agak keras, terutama sama anggota baru.”

‘Malas-malasan dan nggak menghasilkan apa-apa’ jelas pernyataan yang tepat untuk menggambarkan klub ini, kalau boleh jujur.

Aku melirik ke arah anggota lainnya, yang masih sibuk dengan diri mereka masing-masing di deret-deret terdepan bangku penonton—ada yang bermain ponsel, ngobrol, bahkan tidur. Hanya Flo yang tidak melakukan apa-apa. Ia berdiri tegak dengan gelisah sambil sesekali mencuri pandang pada anggota-anggota klubnya dengan tatapan depresi.

“Begitu,” aku bergumam, “Aku ngerti, kok. Dia memang kelihatan paling tanggung jawab.”

“Iya, kan?” Gemma tersenyum simpul, “Makanya, jangan terlalu ditanggapi serius. Enjoy yourself aja, lah, di sini. Tugas bersih-bersih itu mau kamu tinggalin juga nggak masalah.”

Aku mengalihkan pandangan dari Flo kepada Gemma. “Nggak. Makasih,” ujarku, “Aku nggak mau meninggalkan kesan pertama yang buruk pada orang sekeras Flo.”

Gemma memandangku tanpa berkedip selama dua detik penuh, kemudian terkekeh. “Kamu unik banget, ya?” komentarnya tiba-tiba. “Asal kamu tahu, waktu Serra masuk ke sini dan aku mengatakan hal yang sama, dia langsung keluar untuk nongkrong di depan sekolah sama teman-temannya.”

“Beneran?” tanyaku, “Dia emang nggak pernah serius gitu, ya, orangnya?”

Gemma mengangkat bahu. “Nggak ada di sini yang benar-benar serius, tahu? Nggak satu pun di antara kami gabung karena kepingin belajar seni peran—aku bilang begini supaya kamu nggak berekspektasi macam-macam terhadap kami ke depannya. Jadi, kalau di masa depan, kamu merasa nggak dapat apa-apa dari sini, jangan bilang aku belum memperingatkan kamu.”

Jadi, dugaanku benar. Mereka memang tidak pernah latihan.

“Aku tahu,” jawabku, “Tenang aja. Aku nggak akan berkata macam-macam, apalagi berekspektasi. Ini tahun terakhirku di SMA, jadi kalau aku sampai tidak menyukai kegiatan di sini pun, aku hanya harus bertahan selama kurang dari setahun, kan?”

“Begitu?” Gemma tersenyum ramah. Tidak ada orang yang pernah tersenyum seramah ini padaku sampai-sampai aku mulai memalingkan wajah karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Keheningan mengambil alih dengan cepat setelah itu. Suasana mendadak jadi secanggung saat aku ditinggal berdua dengan ayahku—yang berarti canggung banget, sebab aku memang tidak dekat dengan beliau.

Pikirkan sebuah topik, otakku memerintahkan, Apa saja asal tidak aneh.

Tidak mungkin aku menyia-nyiakan satu-satunya kesempatan bersosialisasi selain di kelas begitu saja. Aku harus menjalin pertemanan seluas-luasnya, dan hal itu bisa saja dimulai dari percakapan kecil semacam ini. Masalahnya, apa yang biasa orang-orang bicarakan di saat-saat canggung untuk mencairkannya? Aku sudah terlalu lama tidak bergaul dengan siapa pun sampai-sampai lupa cara menggerakkan mulut dan pikiran secara sinkron.

“Mm…,” aku bergumam, “Gem—“

“Ra,” Tak kuduga, Gemma juga memulai percakapan, nyaris bersamaan dengan panggilan yang kulontarkan. Aku buru-buru menutup mulut, terlebih karena sepertinya ia tidak mendengar kalimatku yang terpotong barusan. Dengan jari telunjuk terarah ke suatu tempat di kejauhan, ia berkata, “Kayaknya kamu dipanggil Jean, deh.”

Nama ‘Jean’ langsung mengaktifkan sebuah sirine khayalan yang merang-raung di benakku.

Jean? Memanggilku?

Buru-buru, kuikuti arah jari Gemma menunjuk, dan di tengah undakan amfiteater yang mulai tertutup bayang-bayang, benarlah, aku mendapati cewek pemilik tatapan mata predator itu tengah berdiri sambil melayangkan pandangan ke arahku. Dari jarak sejauh ini, aku tidak bisa benar-benar melihat ekspresi wajahnya, tetapi aku sudah bisa merasakan hawa dingin merambati tengkukku.

Cewek itu mengangkat tangannya, menggerakkan jari-jarinya membentuk sebuah isyarat untuk mengikuti dirinya.

Astaga. Ini gawat.

Benarkah dia memanggilku? Untuk apa? Apa aku kebetulan sudah berbuat sesuatu yang salah terhadapnya di masa lalu?

Tidak mungkin, kan?

Aku tidak pernah secara sengaja berbuat jahat pada orang lain—terlebih kepadanya, karena kita tidak saling kenal sebelum hari ini, dan kalau ini bukan tentang kesalahan di masa lalu pun, aku tidak mau harus menghabiskan waktu dengan cewek seseram dia.

“Gem, mungkin dia manggil kamu?” saranku, mencoba berpikir positif—atau lebih tepatnya, membuat alternatif yang lebih menyenangkan bagiku. Matanya memang terarah ke sini, tetapi bisa saja orang yang dituju oleh pandangan mata itu Gemma, kan?

“Nggak mungkin,” Gemma membalas cepat—langsung membuyarkan harapanku dalam sekali kecap, “Jean jarang banget berkomunikasi sama cowok. Sekalinya dia ngomong sama aku, itu karena aku menutupi pandangan dan dia nyuruh aku minggir.”

Oh, crap.

“Tap—“

Perkataanku terputus karena Jean sudah mulai berjalan keluar, dan kali ini aku benar-benar merasa ia mengira aku sudah paham terhadap isyaratnya. Jantungku langsung berdegup kencang.

“Dia manggil aku beneran, ya?” aku bergumam gelisah.

“Kayaknya begitu,” Gemma menjawab, “Sana, gih. Mungkin ada yang penting.”

Senyum yang dilontarkan cowok itu tambah membuatku gugup. Mau-tidak-mau, aku mulai melangkah turun dari panggung, menyandarkan tongkat pel, dan mengikuti cewek seram itu keluar dari ruangan.

Saat melewati deretan bangku keempat, sebuah suara memanggilku.

“Hei.”

Aku mengenali suara itu. Saat menoleh dan mendapati Theo menatapku, aku tahu aku benar soal tebakanku. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku khawatir bakal kehilangan Jean kalau terlalu lama berada di sini.

Maka, tanpa mengatakan apa-apa, aku berjalan melewatinya, masuk ke bagian ruangan yang ditutupi bayang-bayang, dan berjalan lebih jauh.

***

Jean berhenti di ujung sebuah koridor—lumayan dekat dari ruangan tadi, kurasa (setidaknya cukup untukku mengingat jalan kembali). Ia tidak mengatakan apa-apa, menoleh pun tidak. Tetapi, aura yang ditimbulkannya membuat sekujur tubuhku merinding tidak keruan.

Apa yang mau dia bicarakan?

Aku tidak mungkin sudah berbuat kesalahan padanya dalam periode yang singkat ini, kan? Kami bahkan belum berbicara satu-sama-lain selain saat perkenalan. Dan kurasa bakal absurd sekali kalau dia memanggilku ke sini hanya gara-gara tidak suka terhadap sikapku yang bengong saat diajaknya bicara tadi.

Selama beberapa detik yang terasa bagaikan jutaan tahun, ia hanya berdiri membelakangiku. Punggungnya tegak—terlampau tegak, malah. Ia nampak tegang, tetapi aku sama sekali tidak mengerti kenapa. Terlalu banyak hal abstrak mengenai dirinya yang membuatku waswas—ini salah satunya.

Saat yang bersangkutan tak kunjung membalikkan badan atau memulai percakapan, sebuah pemikiran mulai terbentuk di benakku.

Jangan-jangan…

Mataku terbelalak.

Baiklah, batinku, Aku memang tidak seharusnya parno lagi.

Tetapi, kenapa sikapnya begitu misterius? Aku tidak salah, kan, kalau mencurigainya? Maksudku, memang agak aneh untuk mencurigai Theo atau Gemma, tetapi ini Jean. Hanya dengan melihatnya, aku bisa menyimpulkan bahwa ia mungkin saja… mungkin saja…

“Jadi,” Jean berkata setelah sekian lama hanya diam. Aku terkejut hingga nyaris terpeleset dan jatuh mengenaskan kalau saja tidak ada tembok untuk bertumpu. “Sudah berapa lama?”

Tuh, kan. Sekalinya ngomong, jatuhnya pertanyaan tak jelas lagi.

Apa dia juga mendapat pemikiran yang sama bahwa kita pernah bertemu sebelumnya?

Kalau iya, jangan-jangan, kita memang sudah pernah bertemu sebelumnya. Tetapi, bisakah alih-alih bersikap seram dan misterius terhadapku, ia memperkenalkan diri saja dulu? Siapa tahu aku bisa ingat tentang siapa dia sebenarnya dan hubungan seperti apa yang kami miliki di masa lalu.

“Sudah berapa lama…,” aku menggantungkan sejenak pertanyaanku di udara, kemudian menyambung ragu, “Apanya?”

Jean terkesiap. Ia membalikkan badan dalam satu sentakan cepat dengan mata terbelalak—kuberitahu kau, ia tampak jauh lebih menyeramkan saat membelalakkan mata seperti ini. Aku merasakan desiran aneh yang merambat dari tengkuk ke kedua tangan. Saat melihatku, raut kekecewaan tampak di kedua matanya, tetapi ia dapat dengan mudah mengubah ekspresi wajah itu menjadi wajah dingin yang biasa.

“Sudah berapa lama kamu—“ Jean kagok sendiri. Pandangan matanya berpindah-pindah dari satu titik ke titik lainnya secara acak, dan aku bertanya-tanya apakah ia salah panggil atau semacamnya. Jangan-jangan, ia benar-benar memanggil Gemma dan bukannya aku. “Ah, lupakan,” ia akhirnya berujar frustrasi.

“Maaf,” kataku, “Kamu nggak manggil aku, ya?”

Ia tidak menjawab. Dipandanginya aku dengan tatapan stres sekaligus penuh selidik. “Kita kenal, nggak, sih?” tanyanya. Aku tidak tahu suara itu bisa terdengar begitu putus asa.

“Tadi kan udah—“

“Bukan itu,” selanya, “Sebelum tadi. Apa kita seharusnya saling kenal?”

Seharusnya aku yang tanya begitu, kan?

“Mm…,” gumamku, “Aku nggak yakin. Mungkin, tapi aku nggak ingat.”

“Apa kamu merasa pernah lihat aku?” ia tidak menyerah. “Di mana gitu?”

“Yah…,” aku tak yakin harus menjawab apa, “Mungkin?”

“Yang benar aja,” desisnya, “Kalau kamu pernah lihat aku, masa nggak ingat? Aku bukannya punya wajah yang pasaran banget, kan?”

“Bu-bukan begitu. Tapi… aku nggak pernah dengar namamu.”

Ia menatapku tajam. Pandangan matanya begitu tegas sampai membuatku berusaha menghindarinya dengan cara sesopan mungkin.

“Ingat-ingat baik-baik,” katanya setelah beberapa saat hanya terdiam. “Kalau kamu ingat, kasih tahu aku.”

Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan melangkah pergi dengan tergesa-gesa. Bahunya masih sangat tegak sampai ia berbelok di tikungan, saat mengira aku sudah tak dapat melihatnya. Di sana, kedua bahu itu merosot hampir seketika, dan aku pun bertanya-tanya apa yang membuatnya begitu.

Dia tidak mungkin merasa tegang saat berbicara denganku, kan?

Apanya yang terlalu mengancam soal aku?

“Apa-apaan itu?”

Sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan. Terbawa suasana, aku meloncat kaget dan berakhir terpeleset sungguhan—aku bertanya-tanya sudah berapa kali aku nyaris terpeleset sejak tadi, dan akhirnya saat ini datang juga. Aku jatuh mengenaskan dengan pantat menghantam lantai keras-keras. Saat sedang sibuk mengaduh kesakitan, sebuah sosok muncul dari balik pintu ruang laboratorium yang terbuka sejak tadi.

Ya Tuhan. Ternyata itu hanya Theo.

Jadi, selama ini ia mengintip dari kaca pintu laboratorium?

“Kamu kenapa, sih?” sulutnya, “Setiap ketemu aku, ekspresimu kayak lihat hantu gitu.”

Oh, yang benar saja. Aku, kan, tidak mungkin cerita padanya kalau aku memang diikuti hantu sungguhan. Bisa-bisa dia kira aku sudah gila.

Sambil berdiri secepat yang kubisa, aku menjawab, “Nggak, tuh.”

Ia mendengus, “Jadi, menurut kamu, teriak-teriak dan kepeleset sampai jatuh hanya gara-gara disapa itu wajar?”

“Bukan begitu juga.”

Theo mendesah panjang. “Bilang aja kamu takut aku bakal ngebully kamu.”

Apa dia bilang? Memangnya kelihatan banget kalau aku takut dibully? Dan lagi, atas dasar apa dia bilang begitu? Apa dia tahu aku pernah dibully habis-habisan? Atau… aku kelihatan seperti sasaran bully yang empuk?

Tidak mungkin. Setelah semua usahaku untuk jadi normal…

“Kenapa aku harus takut dibully?” tantangku dengan gaya sepede mungkin.

Theo mengangkat sebelah alis. “Bener juga,” katanya, “Sekarang kamu udah merubah penampilan, ya?”

Holy crap.

Apa maksudnya itu?

Kenapa, sih, anak-anak klub drama seram-seram semua? Tadi ada Jean yang berpikir pernah mengenalku di masa lalu. Sekarang Theo.

Lagian, seram banget dia bisa tahu soal hal ini.

“Apa maksudmu?” tanyaku dingin.

“Ya ampun,” ia mendesah lagi, “Jangan bilang kamu beneran lupa sama aku.”

Hah?

“Kita kenal?” tanyaku, “Kenapa, sih, kalian itu aneh banget? Tadi Jean, sekarang—“

“Yang tadi emang aneh,” Theo memotong, “Tapi aku benar-benar pernah kenal kamu.”

Aku melongo.

“Astaga, Ra,” ia memutar kedua bola mata, “Bahkan setelah aku memperkenalkan dirimu sebagai Ara dan bukan Aracelli di dalem tadi?”

Mataku langsung terbelalak.

Benar juga.

Di formulir ekskulku, aku menuliskan nama lengkap. Tidak mungkin dia bisa langsung tahu nama panggilanku. Aku bahkan tidak memperkenalkan diri.

Itu berarti…

“Theo Reiner,” ia mengulurkan tangan sambil tersenyum penuh kemenangan, “Temen sekelasmu waktu SMP, tahun pertama.”

Aku membuka-tutup mulut seperti ikan koi kepanasan.

Theo Reiner?

Aku sudah terlalu sering pindah sekolah sampai-sampai lupa siapa saja nama orang-orang yang pernah menjadi teman sekelasku. Tidak ada satu bayangan pun mengenai nama itu di dalam ingatanku.

“Maaf,” ujarku. “Aku lupa siapa kamu, tapi salam kenal.”

Senyum lenyap dari wajah Theo. Ia menurunkan tangannya yang terulur dan memasukkannya ke saku celana panjang. “Wajar, sih, kamu lupa,” katanya, “Aku nggak ikut-ikutan ngebully kamu, sih.”

“Aku lupa ada orang yang nggak membully aku. Maaf.”

“Mungkin kamu inget Alfon?” tanyanya, “Alfonsus Benjamin.”

Tidak mungkin aku melupakan cowok satu itu. Ia adalah orang yang memulai mimpi burukku di SMP. Orang pertama yang berani membuat lelucon soal mataku yang buta sebelah sekaligus orang paling bengis yang pernah kukenal.

“Inget,” jawabku. “Cowok berbodi besar yang sering dipanggil ke ruang BK itu, kan?”

“Ya,” katanya, “Aku dulu temen mainnya.”

Mataku terbelalak. “Aku nggak ingat ada temen Alfon yang nggak membully aku.”

“Ada,” sanggahnya, “Dan nggak cuma aku. Ada beberapa orang seperti Jo dan Albert. Cewek-cewek yang deket sama Alfon pun nggak terlibat, tahu?”

“Oh?” aku menatapnya kebingungan, “Tapi… seingatku semua orang selalu membully aku.”

Don’t be too bitter.”

“Bukan begitu,” sangkalku, “Mungkin aku hanya lupa.”

“Salah sendiri keseringan pindah sekolah.”

“Yah…,” gumamku, “Itu, kan, bukan kemauanku.”

“Apa kamu beneran kenal Jean, kalo gitu? Mengingat kamu sering pindah sekolah dan sebagainya.”

“Aku nggak tahu,” jawabku jujur, “Aku melupakan banyak orang. Dan kalau pun memang aku kenal dia di masa lalu, aku nggak menemukan alasan buat dia untuk bersikap seperti tadi.”

“Bener juga,” ia menyetujui, “Kalau Alfon saja kamu ingat, kamu juga pasti ingat sama orang-orang lain yang pernah bikin masalah sama kamu.”

“Ya,” kataku, “Kalau nggak pernah bikin masalah sama aku, dia nggak perlu sampai ngotot sekali seperti tadi, kan?”

“Memang,” ujarnya, “Tapi jangan berprasangka buruk soal Jean. Dia bukan orang jahat.”

“Aku sama sekali nggak berpikir dia orang jahat,” akuku, “Aku hanya mendapat sedikit kesan aneh dari dia.”

“Dia nggak selalu bersikap begitu. Mungkin kamu hanya mengingatkan dia akan seseorang, makanya dia sampai ketus begitu.”

“Nggak tahu, deh,” jawabku, “Aku nggak mau terlibat lebih jauh dengan dia, jadi aku cukup tahu aja.”

Raut wajah Theo berubah agak aneh, tetapi kemudian ia membuang muka. “Begitu,” katanya, “Ya udah, lah. Good luck buat itu. Soalnya, kamu bakal sering ketemu dia mulai sekarang.”

“Sekali seminggu itu nggak sering-sering amat, lah.”

“Ya,” katanya, “Tapi kelas kalian sebelahan.”

Aku tidak pernah merasa sekacau ini. “Oh, ya?” tanyaku setengah hati.

Theo mengangguk singkat.

Lagi-lagi, suasana berubah hening dengan cepat. Aku jadi ingat saat hal yang sama terjadi bersama Gemma tadi, tetapi entah mengapa, kali ini aku tidak terdorong untuk memulai topik pembicaraan. Aku masih terlarut dalam pikiran mengenai sikap aneh Jean dan pesan terakhirnya untuk mengingat-ingat apakah aku pernah melihatnya sebelumnya.

Koridor terasa lebih dingin dalam beberapa detik singkat itu. Aku bisa mendengar bunyi gemerisik daun dari luar, entah mengapa mengirimkan perasaan tidak nyaman ke sekujur tubuhku.

“Kalau orang yang tadi…,” Theo tiba-tiba membuka suara, “Kamu kenal?”

“Orang yang mana?” tanyaku.

Theo memandangku bingung. “Yang tadi,” ulangnya.

“Yang tadi… yang mana, sih?”

“Yang jalan dari belokan lain koridor trus nyusulin Jean,” jawabnya.

Sesuatu serasa memukul-mukul dadaku dengan kencang. “Kapan itu?” tanyaku dengan suara lirih,

“Barusan,” jawab Theo, “Kamu, kan, berdiri ngelihatin sampe dia pergi. Masa nggak lihat ada orang muncul dari sampingnya? Dia ngikutin Jean belok ke sana. Kulitnya pucet banget sampe-sampe kayak nggak normal gitu. Mustahil kamu nggak perhatiin.”

TO BE CONTINUED

Download Ebook?

dl

Advertisements

2 thoughts on “[CHAPTER THREE] In the Shadows Behind the Curtain

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s