[CHAPTER FOUR] In the Shadows Behind the Curtain

itsbtcPrevious posts under the category In the Shadows Behind the Curtain :

SUMMARY || PROLOGUE || CHAPTER ONE || CHAPTER TWO || CHAPTER THREE

font4

JANTUNGKU BERDEGUP SANGAT kencang sampai dadaku terasa sakit. Aku menatap Theo tak percaya, tetapi yang ditatap malah hanya memiringkan kepala.

“Serius kamu?” tanyaku, “Ada orang… yang nyusulin Jean?”

“Jangan sok nakut-nakutin, deh,” ia malah berkata, “Aku nggak percaya hantu, tahu? Jadi, meskipun kamu pura-pura nggak lihat, nggak ada gunanya juga.”

Aku nggak pura-pura! Batinku menjerit protes.

Aku masih ingat melihat bahu Jean merosot di tikungan, tetapi hanya itu saja. Tidak ada orang lain selain dia, dan di sini sangat sepi sampai-sampai kalau ada cicak lewat pun, barangkali aku bakal sadar. Aku tidak mungkin, kan, melewatkan seseorang di tempat sesepi ini? Dan lagi, aku berdiri cukup dekat dengan tikungan itu. Jadi, apa…

“Aku beneran,” kataku, “Nggak ada siapa-siapa, The.”

Raut bercanda hilang dari wajah Theo. “Apa kamu bilang?”

“Nggak ada siapa-siapa,” ulangku, “Memangnya orang seperti apa yang kamu lihat?”

Aku menatap Theo dengan perasaan campur aduk. Cowok itu terdiam sejenak dengan dahi dikerutkan, memandangiku seolah menimbang-nimbang apakah aku bercanda atau serius. Setelah beberapa detik, ia akhirnya membuka mulut, “Orang itu…”

“Kak Theo!”

Baik aku maupun Theo sama-sama kaget saat tiba-tiba suara seorang perempuan menyela perkataannya. Kami menoleh dan mendapati Kei sedang berlari-lari kecil menuju kemari dari arah ruang teater. Wajahnya tampak tergesa-gesa. Theo melirikku sekilas, seperti memberi isyarat bahwa percakapan ini tidak akan dilanjutkan sampai kami bisa menemukan waktu lagi. Aku langsung lemas saat Kei sudah semakin dekat.

Apa, sih, yang barusan terjadi?

“Dicariin Flo,” katanya saat sudah mencapai tempat kami berdua berdiri.

Theo mengangkat sebelah alis. “Flo?” tanyanya, “Nyariin aku?”

“Sebenernya, bukan kamu,” Kei menjawab, “Kak Ara. Tapi kamu juga ikut.”

Gawat.

Kejadian barusan masih menyita seluruh pikiranku. Aku tidak yakin bisa menjawab dengan benar jika Flo menanyaiku macam-macam. Paling-paling, setelah ini, aku bakal dimarahi dan dicap anggota tak niat selamanya.

“Dasar,” Theo mengumpat, “Giliran ada anggota baru aja langsung sok disiplin, tuh, anak.”

“Balik aja, Kak,” Kei memohon. Pandangan matanya berpindah dari Theo ke aku, “Nanti aku yang dimarahin Flo.”

Aku melirik Theo sekilas. “Oke, aku akan balik,” jawabku—setengah luluh terhadap permohonan cewek itu, setengah takut bakal ikut dimarahi kalau menghabiskan waktu terlalu lama. Aku, kan, tidak mau semua ini berakhir pada pembullyan yang sama—yah, well, Flo mungkin saja punya sekawanan teman yang akan dengan senang hati menjulukiku sebagai ‘Anggota Klub Flo yang Belagu Abis Padahal Masih Bau Kencur.’

Kei tersenyum lega, kemudian melingkarkan tangan di lenganku dan mengajakku pergi dari sini. Aku menoleh pada Theo. “Ikut?” tanyaku.

Yang ditanya mengangkat bahu. “Emang ada pilihan lain?” balasnya.

***

Percakapan dengan Theo itu tidak pernah berlanjut—atau setidaknya, begitulah yang aku kira sampai titik ini.

Setelah jam ekskul usai, Theo langsung keluar dari ruang teater tanpa mengatakan apa-apa. Pikirku, aku akan mencarinya sehabis mendengarkan ceramah Flo—yah, aku disuruh ‘tinggal sebentar’ sehabis ekskul olehnya. Tetapi, saat keluar, rupanya cowok itu sudah tidak ada. Hanya ada Gemma di luar, dan kemungkinan besar ia juga akan pulang.

“Mana Theo?” tanyaku padanya.

“Udah pulang,” ia menjawab.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Padahal kukira isyarat Theo maksudnya kita akan berbicara lagi mengenai masalah itu hari ini. “Oh,” gumamku. Setelah menimbang-nimbang sejenak, aku berkata, “Ya udah, kalo gitu, aku duluan.”

Aku melangkah pergi dengan tubuh terasa lemas. Pikiranku terlalu penuh dengan dugaan bahwa orang yang disebut-sebut Theo mungkin saja hantu yang selama ini mengikutiku sampai-sampai aku tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan diri sendiri yang harus pulang sendirian malam-malam.

“Ara,” Gemma memanggil setelah aku sudah beberapa langkah jauhnya. Aku menoleh dan menaikkan alis. Yang ditatap tengah menatapku balik dengan pandangan penuh arti. “Kamu ada hubungan apa sama Theo?”

“Kami baru kenal,” jawabku, setengah bertanya-tanya dalam hati mengenai maksud pertanyaan cowok itu yang begitu tiba-tiba, “Tapi kata Theo, dulu kami pernah satu SMP. Aku sendiri nggak ingat. Kenapa?”

“Kamu nggak… secara kebetulan… ada perasaan khusus pada Theo, kan?”

Mataku melebar.

Perasaan khusus?

Maksudnya, dia tanya apakah aku suka pada Theo, begitu?

Yang benar saja. Naksir orang saja hampir tidak pernah, masa tiba-tiba aku naksir cowok yang sebegitu aneh dan dingin? Rasanya mustahil. Lagipula, hidupku terlalu penuh dengan masalah lain sehingga aku tidak pernah kepikiran untuk melirik cowok.

Well, batinku mengingatkan, Gemma, kan, tidak tahu itu.

“Nggak, kok,” jawabku, “Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”

“Nggak apa-apa, sih,” Gemma menjawab, “Hanya aja… kalau kamu suka sama dia, lebih baik kamu nggak berharap banyak. Semua orang tahu dia suka sama orang lain.”

Dan… dia memberitahuku hal ini karena…?

“Oh,” jawabku karena tidak tahu harus menjawab seperti apa—habis, semua ini, kan, nggak ada hubungannya sama sekali denganku, “Begitu, ya?”

Gemma menatapku heran. “Kamu nggak mau tanya apa, gitu?”

“Tanya apa?”

“Kamu nggak penasaran dia suka sama siapa?”

Seharusnya aku penasaran, ya? Aku bertanya-tanya dalam hati.

“Emang siapa?” tanyaku pada akhirnya—hanya karena dia sudah ngomong begitu (sebenarnya, sih, aku tidak begitu tertarik untuk tahu).

“Jean,” Gemma menjawab langsung. “Dia jelas masuk ke sini karena naksir Jean. Mereka itu seperti pasangan terkenal di klub kita—walaupun bukan benar-benar pasangan.”

“Oh,” jawabku lagi. Sebenarnya fakta itu cukup mengejutkan—mengingat kedua orang itu adalah dua orang yang paling menarik perhatianku di klub (dan semuanya sama-sama aneh, jadi kebetulan ini cukup mengherankan), tetapi aku bakal lebih terkejut kalau Jean yang naksir Theo, sih. Soalnya, cewek itu tampak tak berperasaan banget. Sebaliknya, menurutku mungkin-mungkin saja Theo naksir Jean. Toh, itu suka-suka dia. Jean juga lumayan cantik—kalau kau tidak memperhatikan tatapan mata predatornya itu. “Kukira kamu bilang Jean nggak pernah bicara sama cowok tadi?” tanyaku pada Gemma.

“Yah…,” Gemma bergumam, “Itulah kenapa aku bilang mereka bukan benar-benar pasangan. Soalnya, kepada Theo pun, Jean kayaknya jarang bicara.”

Yang terakhir itu cocok dengan persepsiku tentang Jean.

“Tapi, aku serius. Sebagai teman Theo, aku ingin memperingatkan kamu. Kalo kebetulan, kamu—“

“Aku udah bilang, aku nggak suka sama Theo,” selaku (dan langsung merasa menyesal detik setelahnya, sebab aku mungkin saja dikira tak sopan).

Gemma menatapku kaget. Selama dua detik penuh, matanya tidak berkedip. “Tapi…,” ia bergumam, “Kamu manggil dia, kan, tadi?—pas kalian berdua keluar dari ruangan. Untuk apa kamu manggil dia kalo katamu kamu aja nggak ingat pernah mengenal dia?”

Aku membelalakkan mata. “Kamu salah paham,” ujarku. “Aku sama sekali nggak tahu dia ngikutin aku. Aku sendiri keluar karena dipanggil Jean, kok.” Kemudian, sebuah penyadaran terbersit di otakku. “Eh, maksudku, bukan berarti dia ngikutin aku, bisa saja dia ngikutin Jean, karena katamu dia naksir cewek itu, kan, tadi?”

“Oh,” kelegaan tampak di raut wajah Gemma, “Aku malah nggak sadar kalau Jean juga nggak ada di ruangan.”

Aku hanya tersenyum pahit.

“Kalo gitu, bagus, deh,” katanya. “Kamu mau pulang sekarang?”

“Yah…,” gumamku, “Begitulah.”

“Udah dijemput?”

“Aku pulang sendiri,” jawabku, “Rumahku nggak jauh dari sini, jadi aku biasa jalan kaki.”

“Perlu aku anter?” tanyanya, “Bahaya sendirian malem-malem.”

“Nggak u—“

“Mau nganter siapa kamu?”

Sebuah suara menyela tolakanku. Begitu menyadarinya, Serra sudah berdiri di ambang pintu keluar ruang teater tepat di samping Gemma. Ekspresinya tampak luar biasa kesal, dan diterangi cahaya lampu koridor, aku akhirnya bisa melihat wajah cewek itu dengan jelas. Ia beralis tipis, dengan kedua mata sayu seperti orang mengantuk. Kedua mata itu dibingkai eyeliner hitam yang cukup tebal, membuatnya alih-alih tampak besar, malah tampak semakin sipit (setidaknya, begitulah menurut pandanganku). Bibirnya dilapisi lipstick merah yang bakal membuatnya dipanggil guru BK kalau saja ia bersekolah di sekolah lamaku. Rambutnya sendiri—seperti yang sudah pernah kubilang tadi—dicat warna terang, tetapi baru sekarang aku melihat bahwa warna itu adalah pirang menyala.

“Oh, udah selesai, Ra?” Gemma tampak tidak kaget sama sekali—mungkin dia memang menunggu cewek itu sejak tadi. Caranya mengucapkan ‘Ra’ sebagai sapaan membuatku sekilas mengira bahwa yang diajaknya bicara adalah aku—tetapi kemudian teringat namaku dan Serra berakhiran sama.

“Jawab aja, deh,” Serra tidak menanggapi pertanyaan basa-basi cowok itu. “Kamu beneran mau nganterin… cewek itu? Kalo iya, aku pulang aja, nih.”

Gemma gelagapan. “Eh, jangan, dong! Aku, kan, cuman berpikir itu bahaya buat seorang cewek pulang sendirian malem-malem.”

“Terus, kamu pikir, kalo kamu nganterin dia, nggak bakal ada cewek lain yang pulang sendirian malem-malem?”

“Aku nggak bilang begitu, lho,” Gemma berargumen, “Maksudku, kita bisa aja nganterin dia dulu, kan? Toh, aku bawa mobil. Setelah itu, baru aku—“

“Aku nggak mau!” Serra menyela. Raut wajahnya tampak luar biasa marah, dan ia mengentakkan kaki sambil bersidekap. Di titik ini, aku sudah bisa menyimpulkan bahwa mereka berdua ini pasti sepasang kekasih, walaupun kata ‘kasih’ dalam ‘kekasih’ tampaknya tak cocok untuk menggambarkan situasi mereka saat ini. Serra melirikku kesal, seolah-olah aku ini wanita jalang yang suka menggoda pacar orang, “Aku nggak mau ada cewek lain—apalagi cewek seperti dia—duduk di mobil kamu. Kalo sampe kamu nganterin dia, lihat aja sendiri, aku bisa berbuat apa ke dia!”

Dasar cewek-cewek manja, pikirku.

Mereka gampang sekali marah hanya gara-gara hal sepele. Padahal, kan, lebih baik berbasa-basi daripada dikira tidak punya tata krama. Dia seharusnya senang pacarnya masih memiliki sopan santun seorang pria. Lagipula, mengantar pulang bukan berarti apa-apa, kan? Memang benar kata Gemma. Bahaya sendirian malam-malam—dan aku lebih mengerti kebenaran perkataan itu daripada siapa pun.

Tapi… ah, sudahlah. Mungkin itu hanya pikiranku saja.

“Kenapa, sih, kenapa?” sebuah suara lain menginterupsi perdebatan seru pasangan di hadapanku itu. Christo muncul dari dalam ruang teater sambil menenteng sebuah tas berisi peralatan drama—yang, seingatku, sama sekali tidak disentuhnya selama pertemuan tadi (mungkin itu hanya alibi supaya kami dikira benar-benar melakukan kegiatan klub).

Serra menoleh sambil masih menunjukkan ekspresi marah. “Nggak apa-apa,” katanya, setengah membentak, “Nggak ada urusannya sama kamu.”

Pandangan Christo beralih padaku. “Kenapa, Ra?” tanyanya.

“Eh…,” aku bergumam ragu, “Nggak ada apa-apa, sih, sebenernya. Gemma hanya menawarkan diri mengantar aku pulang, tapi ternyata dia udah ada janji mengantar Serra juga, jadi…”

Serra melotot kaget. Tatapan matanya seolah mengisyaratkan ‘Udah ada janji mengantar aku pulang? Aku ini pacarnya, dasar cewek jalang!’

“Nah, kebetulan banget,” Gemma berkata, “Biar Christo aja yang ngantar Ara pulang.” Ia kemudian menoleh pada Christo dan meringis, “Nggak masalah, kan?”

Giliran aku yang melotot kaget. “Nggak usah!” pekikku langsung. Aku tidak kepingin pulang sendirian malam-malam, tetapi aku lebih tidak kepingin lagi merepotkan orang. Apalagi, orang itu adalah Christo, yang sepertinya tipe-tipe orang sibuk. Aku bisa membayangkan harus semobil—atau semotor, atau berjalan kaki—berdua saja dengannya. Itu pasti bakal jadi awkward banget. Dia tampaknya tipe orang yang cukup supel, dan aku sendiri tidak pede dengan kemampuanku bersosialisasi. Entah anggapan apa yang bakal dimilikinya tentang diriku setelah tahu aku ini orangnya garing setengah mati. Mungkin dia bakal mengecapku cewek flat yang tidak bisa diajak bicara, dan—

“Oh,” Christo berkata sambil menatapku, “Ya nggak apa-apa. Aku nggak ada acara, sih, habis ini.”

Kalau ini film kartun, mukaku pasti sudah berubah biru. “Nggak usah, deh…,” gumamku lirih.

“Jangan sungkan, lah,” Gemma menyahut, “Christo orangnya baik, kok.”

“Idih,” Christo mencibir, “Di depan orang lain aja kamu ngomong gitu.”

Gemma menatapnya kesal. “Memangnya aku homo—ngomong begituan di depanmu?”

“Loh,” Christo membelalakkan mata dengan gaya sok kaget, “Jadi, selama ini, kamu bukan homo?”

“Sialan,” Gemma menoyor Christo, “Jangan ngomong aneh-aneh di depan anak baru, Bego. Sana, buruan pergi aja!”

Kalau tidak sedang dalam keadaan kalut gara-gara membayangkan harus menghabiskan waktu berdua dengan cowok supel semacam Christo, aku pasti sudah bakalan ngakak melihat adegan ini. Tetapi, saat ini, sih, aku malah hanya bisa berdiri mematung sambil berusaha memikirkan alasan supaya aku bisa pulang sendiri.

“Ya udah, yuk, Ra!” Christo berjalan menuju ke arahku, “Aku anter naik motor!”

Aku merasakan dorongan untuk lari kabur, tetapi sepertinya itu bakal aneh plus tidak sopan. Kulihat Serra memutar kedua bola mata melihat tingkahku yang seperti orang bodoh. Barangkali cewek itu bakal membenciku setelah ini. Tapi, untuk saat ini, aku tidak ingin memikirkannya dulu. Bahkan kalau mungkin ia punya teman-teman yang—

“Aku nggak bisa naik motor!” pekikku spontan—dan langsung menyadari betapa gobloknya pernyataan itu sedetik setelahnya.

“Nggak ada yang nyuruh kamu naik motor, sih,” Christo terkekeh, “Tinggal duduk aja, kok. Aku yang boncengin.”

“M-maksudku… kalo naik motor, aku suka mabuk darat,” kataku. Biar sajalah aku dikira cewek manja yang cuma bisa naik mobil. Dengan begini, aku bisa meloloskan diri dari dicap cewek nggak seru olehnya. “Jadi, satu-satunya pilihan, aku—“

“Kita jalan kaki aja kalo gitu!” Christo memotong sambil meringis lebar-lebar. Aku melotot seketika. Ia lalu berhenti di hadapanku dan berkata, “Gampang, kan?”

***

Berbohong soal motor tadi benar-benar keputusan yang salah. Kalau saja kami naik motor, suasananya pasti tidak bakalan se-awkward ini. Malahan, kalau dipikir-pikir, naik mobil pun tidak bakalan seperti ini jatuhnya. Sekarang, sih, mau-tidak-mau, aku terjebak bersama Christo dalam keheningan tiada akhir sambil berjalan berdua menuju rumahku yang terletak di belakang kompleks sekolah—untung tidak jauh-jauh amat.

Aku sudah berkali-kali meminta maaf pada cowok itu karena ia jadi harus bolak-balik gara-gara aku. Ia hanya terkekeh dan berkata, “Nggak apa-apa. Lagian, jalan kaki itu menyehatkan. Rumahku juga searah sama sekolah, jadi tinggal ambil motor aja nanti. Nggak ada kerjaan juga, kok, aku.” Setelah itu, suasana sehening pekuburan di malam hari—eh, tapi kalau dipikir-pikir, ini memang suasana pekuburan di malam hari, sebab rumahku letaknya dekat sebuah pemakaman (tapi kau tahu sendiri, lah, maksudku).

Pikirkan sebuah topik, otakku mulai meraung-raung lagi. Kalau sudah begini, tidak mungkin aku membiarkan diriku dicap cewek membosankan. Aku, kan, sudah bertekad untuk tampak normal. Selama kesempatan face-to-face dengan orang lain tidak bisa dihindari, aku harus berusaha sebisa mungkin agar tekadku itu terwujud.

“Jadi…,” aku membuka suara, “Anggota klub drama memang hanya tujuh, ya?”

Oke, batinku, Topik itu aneh banget, tapi ya sudah, lah. Toh, aku terlanjur tanya.

“Yah,” Christo bergumam, “Seperti yang bisa kamu lihat.”

“Memangnya…,” aku bertanya lagi, “Desas-desus soal klub kita itu separah apa? Sampe-sampe nggak ada yang mau masuk.”

“Bukan tentang klubnya,” Christo menyanggah, “Sebenernya, itu tentang ruang teater. Nggak ada yang mau masuk ke situ sejak… sekitar… dua tahun yang lalu, mungkin? Tapi, berhubung kami suka uji nyali, jadi kami, mah, cuek aja.”

“Oh, ya?” tanyaku, “Kenapa, tuh?”

“Kenapa apanya?” tanyanya sambil meringis, “Kenapa kami suka uji nyali atau kenapa nggak ada yang mau masuk ke ruang teater?”

“Dua-duanya, lah,” jawabku.

“Kalo kenapa kami suka uji nyali, nggak ada alasan khusus, sih,” katanya, “Kami masuk dengan motif masing-masing, kurasa. Aku sendiri masuk karena Flo. Kami temen masa kecil, dan aku tahu persis wataknya seperti apa. Dia masuk karena suka drama, tentu saja. Aku sudah dengar desas-desus tidak enak soal ruang teater, dan berpendapat bahwa tidak bakal ada yang mau masuk sana, dan ekskul kecil selalu tidak diberi pembimbing khusus, apalagi yang jarang dibutuhkan di acara-acara sekolah. Aku tahu, kalo sampe dia kecewa karena klubnya ternyata nggak beneran belajar drama, dia bakalan ngamuk dan berbuat aneh-aneh. Jadi, aku masuk untuk mencegah hal itu terjadi. Nyatanya, sekarang, dia sudah lebih bisa menerima kenyataan itu.”

Aku manggut-manggut. “Kalo alasan kenapa orang nggak mau masuk ruang teater?”

“Yang itu panjang ceritanya,” Christo tersenyum simpul. Ia menatapku lurus-lurus dan berkata, “Pernah ada siswi yang ditemukan meninggal di sana.”

Sudah kuduga.

Kelebat bayangan mengenai mimpi-mimpi yang mengunjungi tidurku setiap malam mulai terbersit di benakku.

Pasti itu, pikirku, Pasti siswi yang itu.

“Dan…?” aku menggantungkan pertanyaanku di udara, “Penyebab meninggalnya karena…?”

“Nggak ada yang tahu,” Christo berkata, “Dugaan paling masuk akal adalah dibunuh. Tapi kenapa dan oleh siapa, itu yang nggak diketahui semua orang. Ia ditemukan dalam kondisi pucat tanpa darah, sepertinya dicekik atau kehabisan napas. Sudah diperiksa, dan nggak ada sidik jari sama sekali. Kasus ini belum ditutup, tapi masih menggantung begitu aja. CCTV sudah dicek, tapi ternyata pelakunya cukup cerdas, karena CCTV-CCTV itu dirusak.”

“Jadi…,” gumamku, “Benar-benar nggak ada yang tahu siapa pelakunya?”

“Nggak ada,” jawabnya, “Sampe sekarang, katanya, hantu siswi itu masih ada di ruang teater. Kenyataannya, sih, kami nggak pernah diganggu. Jadi, hal itu cuma gosip aja.”

Entah hanya perasaanku atau memang senyum yang ditampakkan Christo itu mengandung kepahitan.

“Tapi… kalau udah tahu begitu, kenapa semua orang masih aja nggak berani?”

“Banyak yang nggak percaya kalo itu hanya gosip. Ada yang bilang pernah melihat hantu itu sendiri atau apalah,” katanya, “Susah, sih, kalo gosip kayak begituan udah beredar.”

Aku terdiam sejenak.

“Iya juga, sih,” gumamku.

“Kamu jangan ikut-ikutan percaya sama gosip itu, lho, ya,” Christo tertawa kecil, “Bisa repot kalau begitu. Soalnya, tempatnya sendiri memang cukup seram. Kamu pasti nggak mau, kan, ketakutan terus gara-gara hal ini tiap kali berada di sana?”

“Aku, kan, bisa pindah ekskul kapan saja selama dua minggu pertama,” aku tersenyum jahil.

“Eh?” Christo berkedip sekali, “Beneran? Kamu mau pindah?”

Giliran aku yang tertawa kecil. “Nggak, lah,” jawabku, “Aku hanya bercanda.”

Christo diam sejenak untuk memproses perkataanku, kemudian tertawa. “Dasar,” katanya, “Ternyata orang seperti kamu bisa bercanda juga.”

Aku setengah senang dan setengah kecewa mendengar pernyataan terakhir itu—senang karena itu berarti dia sudah mendapat setidaknya satu kesan positif tentang diriku, dan kecewa karena dia menyebutku orang seperti kamu. Memangnya orang seperti apa aku ini dikiranya? Orang aneh? Apa yang lain juga melihatku demikian?

“Nah,” Christo membuka suara lagi, “Rumahmu yang mana?”

Aku mengerjap beberapa kali dan seketika sadar bahwa kami telah sampai di kompleks perumahanku. Dari luar, rumah-rumah di sini tampak sama persis, tetapi dengan melihat pepohonan palem tinggi yang berderet di sisi kanan, aku tahu bahwa kami masuk dari pintu belakang kompleks—dan itu berarti kami sudah mengambil jalan memutar tanpa kusadari (untung aku memberitahu Christo duluan sebelum jalan tadi. Kalau tidak, tersesatlah kita. Soalnya, sepanjang perjalanan, fokusku sama sekali tidak ada pada jalan yang kulalui).

“Di sini,” aku menunjuk rumah yang terletak di bagian kiri, dengan pagar bertuliskan angka 25. “Makasih sudah mengantar pulang,” kataku sambil tersenyum padanya, “Sekali lagi, maaf ngerepotin.”

“Nggak sama sekali,” katanya enteng, “Lain kali, kalo memang butuh bantuan, nggak usah sungkan-sungkan. Kita, kan, satu klub. Jadi, kita harus saling membantu.”

Diam-diam, aku menertawakan motto cowok itu yang terlalu idealis.

“Iya, oke,” sahutku. “Cepet balik aja. Nanti makin gelap.”

“Nggak mungkin bisa lebih gelap daripada ini,” ia terkekeh. “Ya udah, aku duluan, ya!”

Aku melambaikan tangan padanya, dan ia membalas lambaian tangan itu. Dengan langkah santai, ia berjalan keluar melalui pintu depan—dan dengan begitu, kuasumsikan dia tahu jalan kembali menuju sekolah melalui rute yang berbeda.

Aku menunggu hingga sosok cowok itu menghilang di kejauhan. Begitu punggungnya tidak tampak, senyum lenyap dari bibirku.

Sendirian lagi.

Aku menghela napas berat. Kubalikkan badan dan kukeluarkan kunci gerbang yang tersimpan di saku seragam.

Suasana rumah sesepi biasanya. Semua lampu dimatikan, dan tidak ada orang di dalam. Ayah dan ibuku biasanya pulang sebelum jam enam dan pergi lagi sekitar jam tujuh—entah ke mana. Tetapi, ada atau tidaknya mereka tidak berpengaruh terhadap kesunyian rumah. Sudah lama sejak semua keceriaan di rumah ini terenggut begitu saja, dan kini, rasanya tidak mungkin mengharapkannya kembali, walaupun aku tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari keceriaan itu.

Kutekan sakelar lampu dan menyaksikan semua lampu di rumah menyala secara beruntun—memang begitu cara kerjanya. Aku berjalan lambat-lambat melintasi ruangan-ruangan menuju kamarku di lantai dua. Saat melewati ruang makan, langkahku terhenti sejenak.

Meja makan ditutupi tudung saji.

Itu hanya berarti ada makanan di atas sana, tetapi aku sudah cukup berpengalaman untuk tahu bahwa makanan itu bukan untukku—selapar apa pun aku. Makanan itu untuk adikku.

Kuhela napas panjang.

Kapan mereka akan menghentikan semua permainan tak berarti ini? Pikirku.

Orang tuaku tidak pernah memperlakukan kami berdua secara adil, aku tahu. Tetapi, sudah lama sekali sejak aku melewati fase iri hati, dan aku pun sudah menerima semua kenyataan itu dengan ikhlas—terlebih, aku tahu persis alasan mengapa mereka mungkin merasa tidak puas terhadapku. Tetapi, bisakah mereka tidak bersikap berlebihan soal adikku?

Oh, baiklah. Sepertinya aku pernah berjanji akan menceritakan apa yang terjadi padanya, bukan?

Akan kuceritakan.

Di usianya yang kesepuluh, adikku, Aaron, telah hilang tanpa jejak.

Kejadiannya sekitar dua tahun lalu. Saat itu, ibuku menjemputnya dari sekolah—entah untuk alasan apa, aku tidak pernah bertanya. Biasanya, sih, dia selalu pulang naik bus sendiri. Dari cerita yang kudengar, mereka berhenti sebentar di bank. Ibuku turun untuk mengambil uang, sementara Aaron menunggu di mobil. Itulah kali terakhir kami—atau ibuku, setidaknya—melihat anak itu. Seseorang memecahkan kaca mobil dan menculiknya. Hingga kini, masih belum diketahui di mana adikku itu mungkin berada.

Aku sendiri tidak terlalu berharap banyak, sebenarnya.

Apa lagi yang bisa kau harapkan dari seorang anak yang sudah menghilang selama dua tahun? Sudah lama sejak aku melupakan kesedihan karena kehilangan anggota keluarga. Aku bahkan sudah ikhlas apabila suatu hari nanti seseorang melaporkan bahwa adikku ditemukan dalam keadaan tewas.

Maksudku, ia diculik.

Penculiknya sama sekali tidak menghubungi orang tuaku untuk minta tebusan. Diapakan lagi dia selain dibunuh atau dijadikan budak? Kalau kembali hidup-hidup pun, mentalnya pasti sudah terganggu. Aku telah memikirkan hal itu lama sekali, dan akhirnya berhasil merelakannya.

Masalahnya, orang tuaku sama sekali tidak berpikiran sama denganku.

‘Mungkin dia akan kembali suatu hari nanti,’ kata ibuku sambil menangis. Ia melarang semua orang membuang barang-barang Aaron, dan menyimpan fotonya di mana-mana—bahkan potret wajahnya di dinding kamar kami pun tidak boleh dilepas, walaupun kadang-kadang aku merinding sendiri melihatnya. Ia selalu memasak untuk Aaron dan meletakkannya di meja makan—seperti saat ini—walaupun akhirnya, makanan itu selalu jadi sarapannya sendiri pagi berikutnya. Kurasa ayahku lebih mendingan, tetapi beliau juga tidak melakukan apa-apa soal tindakan ibuku yang berlebihan, jadi aku menarik kesimpulan bahwa menentang mereka tidak mungkin aman.

Sudahlah, pikirku, Tidak ada gunanya memikirkan hal ini lagi.

Aku masuk ke kamar dan segera berganti baju. Tanpa aba-aba, bulu kudukku langsung berdiri lagi.

Yah, inilah yang selalu terjadi jika aku sendirian. Seharusnya, aku sudah mulai terbiasa dengan hal ini. Tetapi, kenyataannya, saat ini pun, jantungku masih berdebar-debar. Aku tidak menunjukkannya, tentu saja, karena itu bukan pilihan yang bijak dalam menghadapi hal-hal supranatural semacam hantu—film-film horor benar soal yang satu ini.

Kujatuhkan diri ke atas kasur dan memandangi potret adikku yang terpajang di dinding depan—ada potretku juga, tapi aku tidak pernah terlalu memerhatikannya karena tidak penting. Wajahnya tampak ceria sekali dalam foto itu. Ia baru berusia enam atau tujuh tahun saat itu, tetapi ukuran tubuhnya kira-kira sudah sama besar dengan saat ia menghilang—ia memang selalu tampak seolah-olah tidak pernah tumbuh.

Aku membiarkan diriku larut dalam lamunan selagi memandangi potret itu—membiarkan ingatan-ingatan tentang hari ini berkelebatan dalam benakku seiring dengan merosotnya badanku lebih dalam ke dalam selimut. Kubiarkan pula angin malam masuk dari jendela yang terbuka, membawa rasa berdesir yang membelai tengkukku.

Tidak apa-apa, aku menyakinkan diri, Kalau tidak dipikirkan, mimpi itu tidak akan datang.

Aku nyaris tertidur. Tetapi, di tengah kesadaran yang mulai memudar, sebuah suara tiba-tiba terdengar.

“Siapa itu?”

Aku membelalakkan mata dan langsung menjerit sejadi-jadinya.

Suara apa itu?

Suara itu begitu tegas dan dingin, dan rasanya seolah-olah dibisikkan langsung ke telingaku. Jantungku berdegup luar biasa kencang. Aku menutupi kedua mata dengan selimut, tetapi ketakutan itu tidak juga berhenti.

“Siapa itu?!” jeritku.

Hening beberapa detik. Kemudian…

Aku yang tanya. Jangan mengulangi pertanyaanku.”

Aku terlonjak kaget, langsung mengenali suara itu. Perlahan-lahan, kuangkat kepala dari selimut, memalingkannya pada jendela kamar yang terletak persis di samping kananku.

Dari sana, sepasang mata tajam menatapku balik.

Jeanna Christabel melirik ke arah foto adikku. “Maksudku anak di foto itu,” katanya, “Siapa dia?”[]

TO BE CONTINUED

Download Ebook?

dl

Advertisements

One thought on “[CHAPTER FOUR] In the Shadows Behind the Curtain

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s