[CHAPTER FIVE] In the Shadows Behind the Curtain

itsbtcPrevious posts under the category In the Shadows Behind the Curtain :

SUMMARY || PROLOGUE || CHAPTER ONE || CHAPTER TWO || CHAPTER THREE || CHAPTER FOUR

font6

SEBELUM KUSADARI APA-APA, suara jeritanku sudah memenuhi ruangan—lagi, kali ini dengan volume yang lebih keras.

Aku melompat turun dari kasur dan meraih benda pertama yang kulihat—yang rupanya adalah guling—untuk dilemparkan pada sosok yang kini berdiri di luar jendela itu.

Siapa, sih, Jean ini? Jeritku dalam hati.

Bagaimana bisa dia ada di sini?

Apa benar dugaanku bahwa… bahwa…

“Astaga!” Jean menangkap guling yang kulempar sebelum benda itu mengenai wajahnya. Ia menatapku, heran sekaligus kesal. Dengan satu tangan, dilemparkannya guling itu kembali ke dalam—mengirimnya melayang sampai ke kasur adikku di belakang, terombang-ambing di ujung, kemudian jatuh mengenaskan ke lantai keramik.

“Pergi!” jeritku sambil melemparkan benda lain lagi padanya—aku tidak terlalu yakin benda apa itu, sebab aku hanya asal ambil saja dengan mata tertutup.

Hening sedetik, kemudian terdengar jeritan Jean yang berkata, “Kamu mau ngebunuh aku? Dasar orang gila!”

Mungkin udara yang menghangat itu yang membuatku memeroleh keberanian kembali. Mungkin juga bunyi napas cewek itu yang saling memburu, atau betapa terengah-engahnya napas itu.

Dia bernapas, dengan lega kusadari, Itu berarti, dia bukan hantu.

Kubuka perlahan kedua mataku, dan melihat cewek yang sempat kukira hantu itu sedang berdiri sambil memegangi sebuah lampu tidur kaca yang hampir mengenai wajahnya.

Well… ups?

“Maaf,” kataku sambil kembali mengambil posisi di tempat tidur—dalam hati sibuk menenangkan debaran jantung yang berdentum-dentum di dada. Jean membelalakkan mata seolah-olah aku ini sudah sinting.

“Dasar orang bego!” pekiknya, “Maaf? Kalo tadi aku mati gimana?!”

Aku mengatupkan kedua tangan dan mengangkatnya ke atas kepala. “Maaf,” kataku, kemudian mengambil lampu di tangan Jean dan meletakkannya kembali ke atas nakas di samping kasurku.

“Psikopat gila,” ia masih mendumel kesal.

“Kamu kenapa bisa ada di sini?” tanyaku senormal mungkin—dengan nada seolah-olah keberadaannya wajar-wajar saja, padahal kalau yang beginian disebut wajar, dunia pasti sudah hancur dari dulu-dulu. Yah, aku memang cenderung berpikir sikap tenang bisa menyelamatkan siapa pun dari segala situasi. Aku tidak bakalan memertahankan sikap kaget yang tadi kutunjukkan lantaran tidak mau dikira parno olehnya.

“Aku sejak tadi ada di belakangmu, tahu?” katanya setelah merapikan baju dan poni dalam gerakan-gerakan cepat. “Masa nggak sadar?”

Mataku terbelalak. “Aku nggak sadar sama sekali. Ngapain, tuh?”

“Rumahku searah, jadi seharusnya kamu tadi pulang bareng aku aja,” katanya sambil berdeham singkat. “Tapi… well, kalau kamu lebih suka diantar cowok aneh, aku nggak keberatan juga.”

Yang benar saja. Memangnya aku kelihatan seperti cewek murahan, gitu? Dan lagi, siapa pun pasti bakal setuju kalau Jean lebih aneh daripada Christo. Maksudku, siapa, sih, yang bisa lebih aneh daripada cewek seram yang mengikuti seseorang diam-diam dan mengejutkannya dengan cara muncul di depan jendela kamar malam-malam?

“Christo nggak aneh. Kamu lebih aneh, tahu?” balasku, memutuskan untuk mengabaikan seluruh rasa takutku terhadap cewek ini. Aku sudah terlalu sering mengiranya hantu dan mendapat bukti bahwa tindakannya ternyata manusiawi sampai-sampai aku berani menyimpulkan bahwa dia bukan makhluk yang menggangguku sehari-hari itu.

Jean mendengus. “Gampang sekali kamu percaya dengan orang asing,” katanya, “Bahkan kata-kata mereka pun kamu telan mentah-mentah. Kamu ternyata orang yang mudah dijebak.”

Dan… apa maksudnya itu?

“Maksudmu?”

“Seseorang mungkin nggak sebaik kelihatannya, tahu?” jelasnya, “Pikirkan kata-kata orang sebelum memercayainya. Misalnya aja, menurutmu, Gemma tadi jujur?”

Gemma? Percakapan ini mengarah ke mana, sih?

“Soal apa?”

“Soal nggak sadar aku juga nggak ada di ruangan pas kamu sama Theo keluar,” jawabnya.

“Memangnya ada apa dengan itu?” tanyaku.

“Tadi, waktu aku manggil kamu, menurutmu dia ada dimana?”

Aku mencoba mengingat-ingat. Setelah beberapa detik, mataku membelalak kaget.

Benar juga.

Tadi, kan, aku sedang ngomong-ngomong dengan Gemma. Dia tahu kalau Jean yang memanggilku, jadi tidak mungkin dia tidak sadar cewek itu menghilang.

Jean tersenyum simpul.

“Lain kali,” katanya, “Bersikaplah lebih hati-hati. Melangkah lebih jauh lagi, Serra nggak akan tinggal diam.”

“Memangnya Gemma naksir aku, gitu?” cibirku, “Tenang aja. Aku nggak tertarik sama cowok mana pun. Jadi, selama itu bukan salahku—“

“Kita lihat saja nanti,” Jean memotong.

Aku menatapnya dengan depresi, kemudian membuang muka. Tidak ada gunanya memertahankan pendapat di hadapan orang sekeras kepala ini.

“Ngomong-ngomong,” Jean membuka suara. “Kamu belum jawab pertanyaanku.”

Aku meliriknya bingung. “Pertanyaan apa?”

Pandangan mata cewek itu beralih pada foto di dinding—yang sudah kulupakan saking kagetnya aku tadi. “Anak itu,” katanya, “Dia itu siapa?”

“Oh,” aku bergumam, “Adikku.”

“Apa yang terjadi padanya?” tanyanya.

Aku mengerutkan kening.

Bagaimana dia bisa tahu kalau sesuatu terjadi pada Aaron?

“Dia… hilang,” jawabku ragu, “Dari mana kamu tahu sesuatu terjadi padanya?”

Mata Jean melebar sedikit, tetapi kukira itu hanya imajinasiku atau apa. “Itu…,” katanya. Pandangannya kemudian berubah frustrasi, dan ia memalingkan wajah. “Lupakan. Aku cuma mendapat firasat.”

Secara pribadi, aku merasa jawaban itu aneh. Tetapi, tampaknya aku tak bakalan mendapat apa-apa dari memaksa cewek ini mengatakan yang sesungguhnya. Jadi, aku diam saja.

“Sudah berapa lama dia hilang?” Jean bertanya lagi.

“Dua tahun, kurang-lebih,” jawabku.

“Dan kamu masih majang fotonya di sini?”

Well, bukan aku,” jawabku, “Ibuku. Dia nggak mengizinkan foto itu diturunkan. Bahkan, barang-barangnya pun nggak dibereskan. Semua seolah-olah dia masih di sini.”

Jean terdiam sejenak, seperti mencerna perkataanku barusan. Kemudian, kembali ke gaya menyeramkannya yang biasa, ia berkata, “Jangan terlalu berharap banyak kalau dia masih hidup.” Dibetulkannya poni yang menutupi sebelah alisnya dan menyambung, “Kalau ternyata dia sudah meninggal, menurutmu apa yang akan arwahnya rasakan melihat semua perlakuan yang cukup… pathetic ini?”

Rupanya ada yang sependapat denganku, walaupun itu tidak berarti apa-apa kalau orangnya bukan ibuku. Tetapi, aneh rasanya mendengar hal semacam ini keluar dari mulut Jean, orang yang baru tadi sore kutemui dan sudah meninggalkan kesan pertama yang luar biasa buruk padaku. Sekarang ini, rasanya dia hanya cewek normal yang bisa diajak berbincang-bincang. Sulit memercayai bahwa baru beberapa saat lalu aku sangat takut padanya, mengingat sekarang dia terkesan…

Tunggu. Nggak, sih. Ada yang sedikit aneh soal perkataannya barusan.

“Kamu percaya hal-hal supranatural?” tanyaku tanpa berminat melanjutkan topik kami sebelumnya.

Jean mengerutkan kening. Tatapan matanya tajam seperti biasa, tetapi kini aku sudah bisa lebih beradaptasi dengan itu setelah melihat kepanikannya saat kulempari lampu tidur kaca tadi. “Kenapa nanya begitu?”

“Habis…,” aku memikirkan alasan-alasan yang mungkin masuk akal, tetapi ternyata tidak ada pilihan selain mengutarakan hal ambigu itu, “Tadi… kamu ngomong soal arwah adikku. Berarti kamu percaya bahwa arwah—oke, mungkin semacam hantu—itu ada dan bisa berkeliaran di dunia manusia?”

Jean langsung terdiam begitu aku selesai bertanya. Ditatapnya aku lurus-lurus tanpa mengatakan apa-apa, seolah pertanyaanku barusan telah menggelitik kembali sisi sensitif yang membuatnya tampak seram. Padahal, menurutku, aku bahkan tidak menyinggungnya dalam hal apa pun. Jadi, kukembalikan tatapannya itu dengan raut penasaran.

“Nggak,” katanya singkat pada akhirnya. Dengan begitu tiba-tiba, ia mundur dari jendelaku dan bersiap pergi. Aku, yang tidak tahu kesalahan apa yang telah kuperbuat, hanya menautkan alis. Sementara itu, sebentuk senyum tipis misterius terulas di bibirnya. Katanya, “Aku hanya percaya pada hal-hal yang bisa kulihat.”

Sebelum sempat kupikirkan kata-kata itu, Jean sudah melangkah pergi, hilang ditelan kegelapan.

***

Semalaman aku tidak bisa tidur.

Kalimat terakhir Jean terus terngiang-ngiang di benakku seperti radio rusak yang mulai memutar rekaman yang sama setiap kali rekaman itu berakhir, terus dan terus tanpa henti.

Hanya percaya pada hal-hal yang bisa dia lihat? Apa itu maksudnya?

Kalau dia membicarakan arwah, apakah itu berarti dia bisa melihat arwah?

Kalau dia bisa melihat arwah, apakah itu berarti…

Sialan, batinku, Kalau satu pertanyaan menuntun ke yang lain, bisa-bisa kepalaku pecah.

Yang paling menggangguku adalah pemikiran bahwa dia bisa melihat arwah adikku.

Oke, katai aku jahat lagi. Kenyataannya, aku memang sudah percaya banget bahwa adikku itu kemungkinan besar meninggal. Dan kalau begitu, mungkin-mungkin saja seorang indigo melihat hantunya.

Masalahnya, apakah Jean indigo?

Kalau iya, bukankah peluangnya sangat besar bahwa hantu yang mengikutiku sehari-hari itu adalah… adalah…

Aku tidak bisa membiarkan pemikiran ini mengacaukkan otakku. Begitu bangun tidur di pagi hari—well, tidak benar-benar ‘bangun’, sebab aku juga tidak bisa dibilang telah tidur—aku langsung bertekad untuk menanyai cewek itu hari ini. Kemarin Theo bilang kelasnya bersebelahan dengan kelasku, dan itu pasti maksudnya ia berada di kelas XII-K. Tidak bakalan sulit menemukannya.

Setidaknya, awalnya kukira begitu.

Saat sampai di sekolah dan menghampiri kelas itu, ia sama sekali tidak bisa kutemukan. Aku malah harus bertatap muka dengan tampang masam Theo yang tampak lumayan kaget melihat kemunculanku di depan kelas Jean—kelasnya juga, ternyata.

“Jean?” tanyanya, “Kukira kamu takut sama dia?”

“Tadinya,” jawabku, “Banyak hal terjadi, dan… dan sekarang pokoknya aku harus ketemu dia.”

“Kuasumsikan itu bukan karena kamu mau minta ditemenin shopping siang ini?” cibirnya, membuatku berdecak kesal.

“Nggak, makasih,” kataku, “Aku nggak suka shopping, dan kurasa sampai kapan pun, aku nggak bakalan mengajak dia shopping.”

Theo memandangiku sejenak, seolah menimbang-nimbang apakah memberiku jawaban akan menguntungkannya atau tidak. “Dia barusan keluar,” katanya pada akhirnya, “Tepat sebelum kamu masuk, sebenernya.”

Aku menghela napas berat. “Kebetulan yang ironis,” gumamku. Kemudian, dengan suara lebih keras yang kutujukan kepada Theo, aku berkata, “Ya udah. Aku permisi.”

Pencarian itu terpaksa kutunda sampai istirahat pertama. Tetapi, saat itu pun, aku tak bisa menemukannya. Berkali-kali aku melihat cewek itu, tetapi sesaat kemudian, sosoknya menghilang ditelan keramaian. Saat akhirnya aku bisa bertatap muka dengannya di istirahat kedua, ia malah memasang tampang dingin.

“Mau apa?” tanyanya tajam.

“Bisa bicara sebentar?” aku bertanya balik. Sebenarnya, ia juga tidak sedang bersama siapa-siapa, jadi seharusnya bisa saja aku langsung menanyakan apa yang menggangguku. Tetapi, pasti bakal aneh kalau ternyata ia ogah berbicara denganku.

“Nggak bisa,” katanya, “Aku sibuk.”

Sebelum sempat aku membalas apa-apa, ia sudah melangkah pergi, meninggalkanku dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak menyenangkan untuk disimpan di otak.

Kenapa, sih, dia?

Dia bahkan belum tahu, kan, aku mau bicara apa? Sikapnya yang aneh itu malah terkesan seolah-olah ia sedang menghindariku.

Atau jangan-jangan, ia memang menghindariku?

Yah, barangkali. Walaupun aku tidak bisa menemukan alasan yang pas baginya berbuat begitu, tetapi melihat dari sikapnya barusan, aku berani menyimpulkan.

Tapi ini penting, aku mengingatkan diri sendiri, Ini soal hantu itu.

Berbekal pemikiran yang sama, aku—untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun bersekolah—meloncat keluar paling awal saat bel pulang berbunyi. Mungkin teman sekelasku kaget, tetapi aku tidak punya waktu untuk melihatnya. Aku langsung melesat ke depan kelas XII-K dan menunggu kemunculan Jean. Sepertinya tidak ada yang memedulikan keberadaanku, tetapi itu tidak membuatku berpikir Jean akan melakukan hal yang sama. Maka, aku pun menyembunyikan diri di balik sebuah pilar dekat situ. Saat orang yang kutunggu muncul, aku segera mengikutinya, berniat mencegatnya di tempat sepi agar ia tak lagi bisa menghindar.

Tetapi, rupanya kesempatan yang kunanti-nanti tidak pernah datang.

Begitu keluar dari lingkungan sekolah, dia langsung masuk ke dalam sebuah mobil sedan mentereng yang disetirnya sendiri.

Ikuti saja, pikirku penuh tekad, Kemarin dia sudah mengagetkanku di depan kamar. Nggak ada salahnya mengagetkan dia balik dengan muncul di rumahnya.

Cepat-cepat, aku meloncat masuk ke dalam sebuah taksi—yang bukan kebetulan ada di sana, melainkan memang ada pangkalan taksi dekat sekolahku—dan berkata pada supirnya, “Ikuti sedan itu!”

Rasanya seolah-olah aku sedang syuting film action. Hanya saja, a) aku bukan jagoan keren yang bisa menggebuki orang, dan b) aku punya perasaan tidak bakal ada yang perlu digebuki di rumah Jean. Kecuali aku kepingin bertarung dengan ibunya seperti di film-film Jackie Chan, kurasa ini bakal jadi kunjungan normal saja ke rumahnya—yang mungkin bisa dikategorikan penguntitan taraf ringan.

Yang tidak kuduga adalah, mobil itu sama sekali tidak berjalan ke arah rumahku.

Aneh, pikirku, Padahal, dia bilang rumah kami searah.

Jangan-jangan, dia tidak mau langsung pulang. Kalau begini, namanya aku benar-benar menguntit dia, kan?

Ah, tapi, sudahlah. Bisa ke mana, sih, dia? Tempat penyekapan rahasia? Markas besar? Memangnya dia ini apa?

Aku kehilangan kata-kata saat mobil itu mulai berbelok ke area yang tidak kukenal—dan sepertinya memang jarang dikunjugi siapa pun.

Tunggu, aku membatin, Jangan-jangan benar, dia sedang menyekap seseorang?

Oke, kurasa aku harus berhenti menyamakan dunia nyata dengan anime gore.

Beberapa saat kemudian, mobil sedan Jean berbelok lagi di tikungan, dan akhirnya aku bisa melihat ke mana mobil itu menuju.

Pemakaman.

Dahiku berkerut nyaris seketika.

Pemakaman? Pikirku, Buat apa dia ke pemakaman?

Aku kebingungan, tetapi tidak merasa bisa melakukan apa-apa soal itu berhubung sudah terlanjur mengikutinya sampai sini. Saat ia turun, aku segera membayar taksi dan ikut-ikutan turun dengan harapan ia tidak melihatku di tempat sesepi ini.

Aku sudah hendak menyapanya, tetapi ia terlanjur berjalan memasuki pemakaman, jadi aku tidak punya pilihan selain mengikuti dalam diam—well, setidaknya aku mencoba mengikuti dalam diam. Kenyataannya, sih, kakiku terus-terusan menginjak ranting dan dedaunan kering yang bertebaran di mana-mana. Untung Jean sama sekali tidak peduli. Kalau ia lebih peduli sedikit, pasti keberadaanku sudah ketahuan dari tadi-tadi.

Sambil mengikuti cewek misterius itu masuk lebih dalam, benakku mulai bertanya-tanya lagi.

Siapa kira-kira yang mau dia jenguk?

Sulit membayangkan Jean menyekar seseorang, sebab dia sendiri sudah kelihatan seperti hantu. Tetapi, mau-tidak-mau, aku mulai membayangkan ia memiliki seorang anggota keluarga yang sudah meninggal.

Siapa?

Salah satu dari orang tuanya?

Kalau begitu, apakah sikapnya yang misterius itu juga akibat dari kepergian salah satu orang tuanya?

Terlalu banyak keambiguan yang memenuhi otakku sampai-sampai aku nyaris tidak sadar cewek yang kuikuti itu sudah berhenti di depan salah satu nisan kuburan yang tidak tampak mencolok. Aku segera ikut berhenti dan mengamatinya memandang sekitar dengan gerak tubuh tegas yang sama sekali tidak menunjukkan kesedihan—aku tidak tahu soal ekspresi wajahnya karena berdiri di belakang, tetapi kuduga wajah itu juga tampak datar seperti biasa.

Mungkin anggota keluarganya itu sudah lama meninggal?

Ah, tapi buat apa dia menyekar sekarang? Ini waktu yang sangat tidak masuk akal, mengingat hari tidak libur dan tidak sedang ada peringatan khusus—seperti Hari Arwah Sedunia atau apalah, walaupun aku juga tidak yakin peringatan semacam itu ada. Dia bisa saja memilih hari lain seperti Minggu, atau menunggu saja sampai…

Eh, tapi mungkin ini peringatan berapa tahunan atau semacamnya?

Tapi kalau begitu, kenapa ia datang sendirian? Apa ia tidak punya anggota keluarga lain?

Aku begitu kebingungan sampai-sampai hampir lupa membaca nama yang tertera di batu nisan itu. Setelah sadar, aku langsung mengarahkan mata pada sebentuk nama yang tampak asing di mataku.

Trisha Amabel.

Dahiku berkerut—lagi.

Trisha Amabel?

Nama itu terdengar mirip nama Jean. Jadi… barangkali orang itu bukan ibunya, melainkan saudaranya?

Hal itu tidak mengurangi keherananku, sebenarnya.

Jean sama sekali tidak tampak sedih, dan dia tidak membawa apa-apa selain dirinya sendiri. Kupikir kata ‘menyekar’ akan terdengar lebih sesuai dengan definisi aslinya apabila ia membawa bunga atau apa.

“Trish…,” Jean bergumam—lebih seperti berseru, sebab nadanya sama sekali tidak menyimpan emosi apa-apa. Ia lebih terdengar seperti memanggil daripada menggumamkan nama saudaranya yang sudah meninggal. Lagi-lagi, hal itu membuatku heran. Baru beberapa detik saja berada di sini, aku sudah kehilangan niat dan keberanian untuk menyapa Jean sesuai rencana awal.

Mungkin besok saja, pikirku.

Aku baru akan melangkah pulang dan berpura-pura tidak peduli dengan semua ini ketika mendadak kurasakan getaran yang tidak asing di tengkukku.

Aku merinding.

Kupandang sekitar dengan waswas, dan tiba-tiba aku mulai menyadari betapa menyeramkannya tempat ini sejak awal.

Oke, pekuburan memang seharusnya terkesan paling tidak sedikit menyeramkan, tetapi tempat ini menyeramkan banget.

Sepertinya tidak terlalu banyak orang yang sering datang untuk menyekar, sebab kuburan-kuburan di sini rata-rata tebengkalai. Banyak sekali dedaunan dan ranting kering yang tersebar di atas tanah tempat nisan-nisan menancap, dan di beberapa bagian, tanah itu pecah oleh akar pohon-pohon tua yang tinggi-tinggi. Sepanas apa pun cuaca, suasana di sini akan tetap terasa dingin dan teduh, sebab dedaunan pohon menutupi sebagian besar langit yang seharusnya nampak.

Aku tidak bisa membayangkan seberapa horornya suasana pekuburan ini di malam hari.

Tetapi, lagi-lagi, aku tidak mengerti.

Rasa merinding yang merambat ke sekujur tubuhku ini terasa akrab, seolah-olah aku memang merasakannya tiap hari. Aku mencium bau dedaunan, tetapi ada aroma lain di balik itu yang seperti sudah menempel di dalam hidungku, padahal sebelumnya tidak kusadari sama sekali.

Aku kembali menatap Jean, yang masih berdiri di depan makam saudaranya seperti tidak mau pergi. Kini, getaran-getaran di tubuhku semakin kuat, dan aku hampir merasakan dorongan untuk menghambur pada cewek itu saking ketakutannya.

Tetapi, kemudian, ia melangkah pergi.

Aku begitu lega sampai-sampai langsung mengikutinya tanpa memedulikan apakah gerakanku menimbulkan suara—lagipula, sepertinya ia tidak terusik oleh suara-suara yang kubuat saat kemari tadi, jadi kuasumsikan suara apa pun tidak bakalan mengganggunya (kecuali aku berniat mengambil gergaji mesin dan menggergaji salah satu pohon di sini, maka ya).

Aku berjalan sampai ke luar dan mengamati cewek itu menghilang, masuk ke dalam mobil dan pergi. Suasana di luar tidak seseram di dalam tadi, tetapi tetap saja tempatnya sepi.

Bagaimana pun, ini aneh.

Setelah keluar, bahkan saat aku sendirian, kusadari aku tidak merinding sama sekali. Semuanya terasa senormal saat aku berada di tengah kerumunan orang banyak.

Lalu, pikirku, Kenapa di dalam tadi aku merasa ketakutan, ya?

***

Aku memutuskan untuk mencari tahu soal Trisha Amabel—demi Tuhan, aku harus segera menghentikan rasa penasaranku yang melewati batas ini.

Keesokan harinya, saat pulang sekolah, aku menemui Theo—satu-satunya orang yang kupikir bisa kutanyai soal hal ini. Tetapi, alih-alih mendapat keberanian untuk bertanya dan dicap orang tidak sopan yang suka melanggar batas privasi, aku malah mendapat… yah, lemparan bola yang tidak terlalu menyenangkan di kepala.

“Sori!” teriak cowok itu, yang sedang bermain basket bersama salah satu temannya di lapangan. Temannya langsung terkekeh geli, membuatku setengah malu, setengah kepingin mendatangi dan menyuruhnya diam.

Theo menghampiriku, tentu saja. Ia sadar aku datang mencarinya. Tetapi, saat ia sudah sampai di hadapanku, aku mendadak merasa ragu untuk bertanya.

“Kenapa?” tanyanya.

Aku membuka-tutup mulut seperti ikan koi kepanasan, tetapi ia hanya diam sambil menungguku mengatakan sesuatu—yang malah membuatku tambah merasa tidak berguna.

“Kamu nggak mau nyari Jean lagi, kan?” tanyanya lagi pada akhirnya.

Aku tahu itu hanya candaan, tetapi kukatakan saja dengan asal, “Sebenernya, ya.”

Mata cowok itu melebar dan raut wajahnya seolah mengatakan ‘gila-nih-anak’. “Dia udah pulang, lah! Ngapain nanya aku?”

Aku tergagap. “Kamu bukannya naksir dia?”

Oh, pikirku, Perkataan yang cerdas banget.

Theo terdiam. Setelah beberapa detik hanya memandangiku, ia akhirnya melengos. “Aku bukan stalker yang selalu ngamatin dia, tahu?” gumamnya.

Setelah itu, aku memutuskan untuk tidak menanyai orang lagi.

Aku mengunjungi perpustakaan keesokan harinya dan mencari-cari dalam buku kenangan, siapa tahu nama Trisha Amabel ada di salah satunya. Pencarianku, tentu saja, tidak segampang kedengarannya. Ada puluhan buku kenangan sejak sekolah ini buka—semuanya masih tersimpan rapi dalam rak khusus yang isinya buku-buku yang tidak boleh dibawa pulang.

Berhubung kuasumsikan saudara Jean tidak mungkin hidup di tahun 1973, aku mulai dari belakang—dari buku tahunan terakhir yang diterbitkan, alias buku tahun lalu.

Tidak ada nama Trisha Amabel di sana, sayangnya.

Aku malah menemukan beberapa foto menggelikan dari teman-teman sekelasku dan anggota klub teater—yang semuanya tidak dipajang dalam halaman khusus sebab bukan mereka yang lulus tahun itu, melainkan hanya foto sekelas biasa dengan nama-nama panggilan yang tertera di atas kepala masing-masing anak. Rupanya Flo sekelas dengan Jean tahun lalu, dan aku tidak bisa menghindar dari membayangkan seberapa tidak beruntungnya teman-teman sekelas mereka waktu itu.

Biar bagaimana pun, aku harus melanjutkan pencarianku.

Aku beralih pada buku dua tahun yang lalu, tetapi hal itu lagi-lagi tidak membuahkan hasil. Malahan, aku menemukan sesuatu yang janggal dari buku itu.

Pertama, Kei ada di sana. Dan kedua, Jean tidak ada di sana.

Aneh, pikirku, Kei seharusnya belum masuk waktu itu, dan Jean sudah. Tetapi, kenapa malah tertukar begini?

“Kei nggak naik kelas sekali.”

Sebuah suara mengagetkanku. Aku menoleh dan mendapati Christo sedang berdiri di sampingku dengan senyum cerah tak berdosa. Untung aku duluan menyadari bahwa itu dia. Kalau tidak, pasti aku sudah menjerit—lagi.

Kusadari aku tengah memerhatikan foto kelas Kei sejak tadi, dan aku pun segera menutup buku di tanganku secepat kilat.

“Kenapa kamu di sini?” tanyaku—tidak bermaksud untuk terdengar dingin, tetapi seperti itulah yang keluar.

Hanya perasaanku, atau anak-anak klub teater memang sepertinya suka muncul di tempat-tempat tak terduga?

Kalau Jean benar-benar hantu seperti sangkaanku kemarin—yang untungnya tidak benar—barangkali mereka semua juga hantu, kurasa.

“Aku tadi lihat kamu, jadi aku bermaksud menyapa,” jawabnya riang. “Ngapain kamu lihat-lihat buku kenangan?”

Aku mencerna perkataannya sejenak, kemudian memutuskan untuk menerimanya mentah-mentah. “Ada yang mau kucari,” jawabku, “Oh, dan mukamu menggelikan di buku tahun lalu.”

Ia terkekeh. “Memang!” jawabnya—agak terlalu antusias, “Ada yang terjadi, jadi mukaku kucel begitu. Tapi bukan sesuatu yang penting.”

Aku mengerutkan dahi. “Oh,” gumamku, memutuskan untuk mengabaikannya, “Ada yang mau kutanyain, sebenernya.”

Raut wajah Christo berubah lebih serius sedikit—sepertinya ia sengaja, menyadari aku sangat serius soal ini. “Apa?” tanyanya.

“Kenapa Jean nggak ada di buku tahunan dua tahun lalu?”

Kedua alis cowok di hadapanku itu terangkat. “Oh,” katanya, “Dia memang anak baru. Baru masuk tahun lalu, kok.”

Mataku terbelalak. “Oh, ya?”

“Ya, dan kehadirannya sempat menggemparkan seisi sekolah, sebenernya.”

Mataku terbelalak makin lebar lagi. “Dan… kenapa itu?”

Christo tersenyum simpul—kali ini dipaksakan. “Coba kamu buka buku kenangan sebelumnya, edisi tiga tahun yang lalu.”

Aku segera memasukkan kembali buku di tanganku ke rak, dan mengeluarkan buku lain yang terletak persis di sebelahnya. Buku itu bersampul hitam, seolah-olah kelulusan murid-murid di tahun itu menandai masa depan buruk yang menanti mereka—yang kuduga bukan pemikiran si pembuat buku saat mendesain cover ini. Tidak ada yang aneh dari buku itu selain sampulnya—dan aku memang tidak berharap akan menemukan sesuatu yang aneh dari fisiknya.

Kubuka buku itu dan bertanya, “Kelas berapa?”

“Siapa?”

“Orang yang kamu minta aku cari,” jawabku, “Kamu nyuruh aku ngelihat buku ini… pasti karena ada seseorang secara khusus, kan, di sini?”

Christo terdiam sejenak. “Yah… memang, sih,” gumamnya pada akhirnya. Kemudian, ia menyambung, menjawab pertanyaanku, “Kelas X-A.”

Gerakan tanganku terhenti.

Kelewatan, dong, pikirku kesal, Kelas X-A jelas letaknya di bagian depan, jadi seharusnya dia menyuruhku berhenti dari tadi-tadi.

Aku membalik halaman-halaman di buku itu ke depan, mencari kelas yang disebutkan cowok itu. Saat akhirnya kutemukan, aku melihat serombongan anak berbaju seragam olahraga di dalam foto—persis seperti kelas-kelas lainnya.

Mataku mulai menelusuri wajah-wajah dalam foto itu satu demi satu.

Awalnya, tidak ada yang janggal. Kemudian, aku melihat Jean.

Demi Tuhan, batinku dengan kaget.

Jean di foto itu tampak berbeda. Ia lebih berisi, dan rambutnya lebih pendek. Rambut itu dikepang menyamping dan disampirkan di bahu. Daripada menyeramkan, wajahnya lebih tampak lelah.

Aku serta-merta menoleh ke arah Christo yang sudah sejak tadi ikut memandangi foto di buku tahunan itu.

“Jean… pernah ada di sekolah ini sebelum itu?” tanyaku.

“Oh, bukan kayak gitu,” jawabnya. “Kenapa nggak kamu baca namanya?“

Aku langsung memeriksa nama yang tertera di atas kepala cewek di dalam foto.

Tepat saat mataku mulai menangkap nama itu, Christo menjelaskan, “Itu bukan Jean.”

Benar, pikirku dalam syok.

Itu bukan Jean. Itu Trisha.

“Trisha?” gumamku, “Trisha Amabel?”

Mata Christo melebar. “Kukira kamu nggak kenal dia,” katanya.

“Memang nggak kenal,” aku membenarkan, “Aku hanya pernah dengar nama itu.”

Christo menimbang-nimbang sejenak. “Bener juga,” gumamnya, “Kamu pasti udah mencari tahu, ya?”

Hah?

“Memangnya kenapa aku harus mencari tahu?” tanyaku sambil menutup buku kenangan di tanganku dan menatap cowok itu penasaran.

Dahi Christo berkerut. “Kukira kamu…” ia menghentikan kalimat dengan kebingungan, kemudian memutuskan untuk mengganti arah pembicaraan, “Apa yang kamu dengar soal dia?”

“Nggak ada,” jawabku jujur, “Hanya namanya.”

“Aneh,” gumamnya dengan nada mengambang, lebih kepada diri sendiri, “Padahal kukira ini gara-gara perkataanku beberapa hari yang lalu itu.”

“Perkataanmu…,” aku bertanya langsung, “Yang soal apa?”

Hening sejenak—cukup lama, sebenarnya. Christo menatapku lurus-lurus, entah untuk alasan apa.

Aku punya perasaan ini bukan sesuatu yang baik.

“Soal siswi yang meninggal tercekik di ruang teater,” jawabnya sambil memiringkan kepala pada akhirnya, “Siswi itu, kan, Trisha Amabel—saudara kembar Jeanna Christabel.”

TO BE CONTINUED

Download Ebook?

dl

Advertisements

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s