001 Escape Route : The Circle

er

Title : ESCAPE ROUTE (Rute Pelarian Diri)
Episode : 001 The Circle (Lingkaran)
Release Date : 2015/12/04
Casts : You, others
Rules : Click here (Reading the rules first is mandatory / Membaca peraturan terlebih dahulu adalah wajib)
Important note : Don’t forget to take the survey after you finish this part of your game. Questions and choices will be written in red. Not understanding inside jokes is okay. Just go with the flow and enjoy! (Jangan lupa mengisi survei setelah menyelesaikan bagian permainanmu yang ini. Pertanyaan dan pilihan akan ditulis dalam warna merah. Tidak apa-apa bila kamu tidak memahami inside jokes dalam cerita. Ikuti saja arusnya dan nikmati!)

 

Ready to Imagine?

LET’S GO!

001

CHAPTER ONE : THE CIRCLE (LINGKARAN)

Malam itu, aku terbangun sesaat.

Ingat persis aku membuka mata dengan kepala dipenuhi rasa pusing berdenyut-denyut. Di sekeliling gelap dan dingin. Aku terbaring di atas permukaan kasar yang entah mengapa mengingatkanku akan lantai penjara. Ingin rasanya aku bangun dan mencari tahu apa yang terjadi, tetapi tubuhku belum mengumpulkan cukup energi untuk itu.

Habis diapakan aku? Pikirku waktu itu, Dipukul? Dibius? Apa seseorang telah menculikku?

Kemudian, ekor mataku menangkap beberapa orang yang terkapar sembarangan di atas lantai yang sama—samar-samar, tetapi aku yakin demikian.

Siapa mereka? Aku bertanya-tanya, Apa mereka masih hidup?

Sebelum sempat jawaban dari pertanyaan itu kudapatkan, kesadaranku sudah kembali lenyap.

Aku terbangun lagi setelahnya, tentu saja. Tetapi, aku sudah tidak yakin berapa lama waktu yang kuhabiskan dalam kondisi tidak sadar. Yang jelas, saat terbangun untuk kedua kalinya, aku berhasil mengumpulkan sisa-sisa nyawaku dan bangkit berdiri.

Ruangan tempatku berada tidak tepat disebut ‘ruangan.’

Aku berdiri di lapangan terbuka berlantai batu cokelat kekuningan yang dikelilingi pepohonan rindang tinggi-tinggi. Di tengah lingkaran yang mirip lingkaran ritual ini, tampak sebuah api unggun dengan nyala redup yang hangatnya bahkan tidak mencapai tulangku yang beku kedinginan. Retakan di lantai menjalar dari salah satu akar pohon, membuat permukaan lantai menjadi tidak rata—salah satunya mencuat ke atas, siap menusuk kaki siapa pun yang menapak di sana tanpa berhati-hati.

Langit di atas gelap—persis seperti yang kuingat. Tidak ada bintang. Tidak ada bulan. Hanya ada kekosongan.

Tempat apa ini? Pikirku—lebih bingung daripada takut, sebab entah mengapa tempat ini tidak terasa mengancam. Aneh sekali.

“Lo bangun.”

Sebuah suara menyentakku.

Saat aku menoleh, kusadari bahwa aku bukan satu-satunya orang yang berada di sini. Sejak tadi, ada lima orang lain yang duduk di sekeliling api unggun—tetapi mereka terlalu tenang, sehingga seolah-olah menyatu dengan alam, membuatku tak menyadari keberadaan mereka. Diperhatikan, rupanya semua cowok remaja—mungkin sekitar enam belas sampai delapan belas tahunan?

Yang menyapaku adalah seorang cowok berambut merah. Diterangi cahaya api, rambutnya tampak semakin merah saja. Matanya mencorong tajam dan bibirnya merengut. Sekujur tubuhnya tampak kotor dan acak-acakan, tetapi hal itu tidak membuatnya tampak jelek. Barangkali ia salah satu cowok paling ganteng yang pernah kutemui. Kalau saja ia tidak tampak segalak itu, ia malah bakal jadi cowok paling ganteng yang pernah kutemui.

Duduk di sampingnya adalah yang terpendek di antara lima orang itu. Rambutnya panjang dan acak-acakan—tidak seberantakan si rambut merah itu, sih. Wajahnya seperti anak kecil, tetapi ekspresinya kesal. Ia duduk membungkuk sambil menggerutu—entah mengocehkan apa. Mungkin ia juga bingung mengapa kita semua terdampar di sini—atau ia tahu alasannya, maka merasa kesal?

“Jadi,” katanya dengan nada menuntut penjelasan, “Jelasin ke gue. Kenapa lo nyulik-nyulik kita, trus ikutan sok terkapar di lantai kayak gitu?”

Aku mengerutkan kening, tidak mengerti.

“Goblok,” si rambut merah menegurnya, “Jangan asal tuduh!”

Si pendek tampak tidak terima. “Eh, asal tuduh gimana, sih?!” pekiknya, “Jelas-jelas dia cewek sendiri di sini. Pasti dia, kan, yang nyulik kita?”

“Belum tentu,” cowok lain menyahut. Yang satu ini berkacamata, dan rambutnya ditata model spike. Wajahnya tampak serius, dan walaupun tidak seganteng si rambut merah, wajah itu lumayan untuk ukuran cowok SMA. Dilihat dari gaya-gayanya yang dapat dibilang cukup rapi, sepertinya ia adalah yang terpintar di antara mereka semua. “Dilogika aja, ya,” katanya, “Mana mungkin seorang cewek bisa ngegotong lima cowok gede-gede kayak kita ke suatu tempat yang… terisolasi gini?”

“Aku setuju,” cowok lain lagi menyahut. Yang ini wajahnya mengantuk, walaupun ada sedikit kesan dingin juga di sana. Rambutnya diponi ala Korea yang sedang trend, dan sejak tadi ia hanya ongkang-ongkang kaki—maksudku, secara harfiah. Kalau saja ia tidak melirik dengan tatapan dingin yang tampak merendahkan—yang sepertinya tidak disadarinya sendiri—ia mungkin bakal tampak tidak berbahaya. “Dia terlalu kecil buat ngangkat kita. Dan aku juga ragu dia punya alasan untuk itu.”

“Heh, lo siapa, sih?” si pendek nyolot, “Udah rambut model banci gitu, ngomongnya aku-kamu, pula! Maho, ya, lo?”

“Diem, goblok,” si rambut merah lagi-lagi menegur—kali ini sambil menoyor kepalanya (di titik ini, sepertinya sudah bisa disimpulkan bahwa mereka saling kenal). Lalu, dalam bisikan yang sebenarnya bisa didengar semua orang, ia berkata, “Salah satu dari kita mungkin pelakunya. Lo oon, ya?”

“Itu keras banget, tahu?” si poni Korea menyuarakan pikiranku. Suaranya yang berat membuatku agak merinding. “Kalo mau nuduh aku penculik, mending introspeksi diri dulu, deh—emang kalian nggak mungkin pelakunya juga?”

Kali ini, si rambut merah tampak terusik. “Emang gue sengaja biar lo denger, kok,” katanya sengit, “Nggak usah songong-songong, deh, jadi orang. Udah dibelain juga.”

“Itu namanya bukan ngebel—“

“Diem, woy!” cowok terakhir menyela. Yang ini kelihatan paling ganas di antara lima cowok itu. Rambutnya lebih panjang daripada si pendek, dan lebih acak-acakan daripada si rambut merah. Mukanya hampir persis hantu—dengan kulit putih dan kantung mata super hitam serta bibir tipis yang merengut. Matanya cokelat mengerikan. Ia satu-satunya yang mengenakan seragam sekolah—tetapi itu tidak membuatnya terlihat cupu. Sebaliknya, dari tingkat kekuningan dan keamburadulan seragam itu, bisa dilihat bahwa ia adalah berandalan sekolah yang tidak bisa diremehkan. “Kalian ini bego atau apa, sih?” dengusnya, “Kita ini dijebak biar saling tuduh! Masa kalian langsung lompat masuk gitu aja ke jebakan?”

“Dia bener,” si kacamata menyetujui. “Lo tahu, nggak? Daripada acara culik-culikan, ini lebih mirip The Maze Runner. Kita diasingin ke sini buat…” setelah berhenti sejenak, ia bergumam, “Buat apa, ya?”

“Apaan, tuh, The May Zunner?” si pendek—yang sepertinya adalah yang paling goblok?—menimpali, “Emang lo yakin ini bulan Mei?”

“The Maze Runner,” si kacamata menyahut datar, “Ternyata bener si merah itu,” katanya, “Lo oon.”

“Oke,” aku menyela sebelum terjadi keributan lebih lanjut, “Nggak usah ribut-ribut dulu, deh. Bisa, nggak, salah satu dari kalian bener-bener mikirin kenapa kita bisa ada di… tempat ini?”

Suasana berubah hening hampir seketika. Semua cowok itu memandangku dengan tatapan takjub yang kurang-lebih maksudnya wow-ternyata-dia-nggak-bisu.

“Menurutku,” si poni Korea membuka suara setelah hening yang agak lama, “Dia bener.”

==========================================================================================================================

 

“Pernah baca And Then There Were None?” si poni Korea memulai diskusi. “Itu novel Agatha Christie yang gosipnya paling populer. Di novel itu, sepuluh orang diundang ke Pulau Negro yang nggak diketahui siapa pemiliknya dan dieksekusi mati satu-satu karena pernah membunuh orang secara sengaja di masa lalu—tapi mereka lolos dari hukum.”

“Jadi, lo pembunuh?” si hantu menyahut langsung.

“Oh, pastinya,” si poni Korea mendengus sarkastis, menambahkan penekanan berlebihan pada kata pastinya. “Kayaknya orang-orang di sini pinter semua, ya? Aku bilang apa, kalian nangkepnya apa.”

“Jelas,” si hantu malah terdengar bangga, “Jadi gini, ya. Kalo menurut lo skenario itu masuk akal, berarti lo punya suatu kesalahan yang bikin lo mikir lo pantes dapet nasib yang sama kayak sepuluh orang itu, kan?”

“Siapa bilang?” si poni Korea tampak tersinggung. Matanya yang mengantuk melebar sedikit. “Menurutku,” katanya, “Kalian mungkin punya kesalahan itu.”

“Trus, kalo emang punya dan lo nggak, ngapain juga lo ikutan diseret ke sini?” si hantu menyahut, “Salah nyulik, gitu? Trus, menurut lo, sebentar lagi bakal ada yang ngejemput lo pake UFO dan bilang ‘Maaf, yang ini ternyata salah ambil. Gue cuman ke sini buat ngejemput dia, kok. Bye! Semoga kalian dibunuh dengan baik, ya!’ gitu?”

“Aku juga nggak bilang gitu,” kata si poni Korea, “Kalo ternyata bener, ya aku bisa mikir-mikir lagi. Mungkin aku emang punya kesalahan yang selama ini nggak terlalu aku sadari?—dan jelas nggak ada hubungannya sama UFO dan imajinasi abnormal itu.”

“Kenapa nggak kita coba mikirin kesalahan masing-masing dulu?” si kacamata mengusulkan, “Ini bisa jadi salah satu skenario yang masuk akal.”

“Habis itu, kita mau ngapain?” si rambut merah mendengus, “Ndekem di sini sampe ada yang nolong? Kalo emang kita berbuat kesalahan pun, masa lo mau, sih, nunggu sampe dieksekusi mati satu-satu gitu? Gue, mah, ogah.”

“Nah,” si kacamata berkata, “Itu baru oon.” Setelah menghela napas panjang, ia menyambung dengan nada tinggi yang super ngotot, plus kecepatan kereta api ekspres, “Ya, nggak, lah! Kita bakal mencoba kabur dari sini. Tapi, kalo udah tahu alesan terdampar di sini, mungkin aja lebih gampang mikirin solusi, kan?”

“Gue nggak ngerti lo ngoceh apa, sih,” si pendek berkata langsung, “Tapi gue tahu satu kesalahan gue.”

“Apa?”

“Gue terlalu keren.”

“Lo terlalu oon.”

Kemudian hening.

Si poni Korea mengangkat sebelah alis. “Kalian serius mau keluar dari sini, nggak, sih?”

“Serius,” jawabku langsung.

“Kalo gitu,” katanya, “Ngomong yang bener.”

Si pendek terdiam. Pandangan matanya dipenuhi keberatan, kemudian ia mendesah. “Oke,” katanya, “Gue pernah nggak sengaja ngebakar rumah gue karena sok mau masak, trus gue dibuang dan jadi yatim piatu. Puas?”

Hening lagi.

“Kalo gue,” si kacamata memulai, “Pernah—saking bencinya sama salah satu temen gue—malsuin hasil game pemanggilan makhluk halus biar dia putus sama pacarnya. Trus, gue disiksa hantu pembunuh—dan meninggal, seinget gue. Jadi, gue sama sekali nggak tahu kenapa gue bisa hidup lagi dan bangun di sini.”

Kami semua berjengit mendengar ceritanya.

“Tunggu,” si rambut merah berkata, “Jadi, maksud lo… lo seharusnya udah mati, gitu?”

“Iya,” si kacamata menjawab, “Tapi, sekarang ini, gue berani jamin, gue bernapas. Dan badan gue padet. Jadi, gue bukan hantu. Seperti yang udah gue bilang, gue nggak ngerti sama sekali. Bahkan otak logis gue nggak bisa mikirin pendapat yang masuk akal.” Kemudian, ia berpikir sejenak sebelum menambahkan, “Eh, otak logis gue emang nggak pernah masuk akal, sih.”

“Oke, oke,” kataku, “Semua di sini emang nggak masuk akal, jadi kita terima aja cerita itu. Lanjut, deh.”

Semua orang mengalihkan pandangan pada si rambut merah, sementara yang ditatap memasang wajah garang. “Jangan lihatin gue,” katanya, “Kesalahan gue itu nggak penting. Gue waktu itu iseng aja ngebaca Puisi Kematian Tomino, tapi nggak selesai. Trus, entah kenapa, gue jadi sial terus. Mungkin si Tomino dendam.”

“Apa, tuh, Puisi Kematian Domino?” si kacamata bertanya, “Kenapa nama Jepang aneh-aneh, sih?—Domino, lah. Bokong, lah.”

“Hah?” si pendek melongo, “Bokong? Apaan, tuh, artinya? Salah satu hantu juga?”

Hening lagi.

“Sundel bokong?” si pendek masih belum menyerah bertanya-tanya, “Temennya Wewe?”

“Udah, ah, lo bego!” si rambut merah menoyor kepalanya, “Intinya, puisi itu kalo dibacain lantang-lantang sampai selesai bakal mengundang si hantu Tomino—pake ‘T’, dasar oon semua—dan orang yang ngebacain itu tamat riwayatnya alias mati.”

“Dominot?” si pendek bertanya—yang otomatis langsung diabaikan yang lainnya.

“Parah juga,” si poni Korea bergumam—seperti berpikir. “Setelah dipikir-pikir… aku nggak pernah melakukan kesalahan sampai separah itu.”

“Bilang aja lo nggak mau mengakui kesalahan,” si hantu mendengus tidak senang.

Si kacamata memicingkan mata menatap poni Korea, lalu bertanya, “You have one in mind, don’t you?”

Hening sejenak.

Poni Korea mendesah berat. “I do,” katanya, “Pas SMP, aku naksir cewek. Tapi, sahabatku benci banget sama cewek itu. Jadi, aku diem aja waktu cewek itu dibully dia. Malahan, aku kesannya nggak peduli, gitu. Padahal, gara-gara temenku itu, hidupnya jadi sengsara banget. Mungkin itu bisa dikategoriin kesalahan juga?”

“Bisa,” si kacamata menjawab, “Walaupun gue setuju kalo itu nggak separah yang lain.”

“Trus, kelanjutannya gimana, tuh?” si rambut merah bertanya, “Mati tuh cewek?”

“Pale lu,” poni Korea mengumpat. Kemudian, menyadari bahwa umpatannya terdengar aneh dan medok dengan aksen-aksen yang tidak sepantasnya, ia menyambung, “Maaf. Aku emang bukan dari ibukota.”

“Kalo gue,” si pendek menimpali, “Artis ibukota.”

“Penyanyi dangdut?” si rambut merah mencibir. “Udah, ah. Banyak bacot aja lu. Lanjut aja mendingan.”

Semua orang langsung mengalihkan pandangan lagi pada si hantu, yang—selain diriku—merupakan satu-satunya yang belum membongkar kesalahan yang pernah diperbuatnya.

“Norak,” dengusnya, “Nggak perlu lihatin sampe segitunya juga, kali. Buta—kapok, lo.”

Yang lain kecuali si rambut merah langsung pura-pura naksir api unggun.

“Jadi,” si hantu akhirnya berdeham, “Gue pernah ngerusak hubungan orang.”

Hening. Kali ini lama.

Kemudian, si pendek menyeletuk, “Hah?”

Si hantu mengerutkan kening, “Kurang, ya?” tanyanya, “Oke, gue tambahin. Gue jadi PHO dua kali.”

“Hah?” si kacamata gantian menyeletuk, tetapi kali ini ada lanjutannya, “PHO apaan, sih?”

“Perusak Hubungan Orang,” jawab si rambut merah, yang sepertinya paling menghayati. “Emang, ya,” katanya kemudian, “Kalian itu orang goblok semua.”

“Gue pergi, nih.”

“Eh, jangan, jangan!” si pendek langsung menyahut si hantu, “Lanjutin cerita lo.”

“Lanjutin apanya, Bego?” si hantu bertanya sarkastis, “Orang udah gitu doang.”

“Haaaaah?” si pendek merengek, persis orang yang baru diberitahu bahwa sinetron favoritnya di TV tamat besok, “Masa gitu doang? Nggak keren amat!”

“Makasih, ya,” si hantu menyeringai jahil, “Berarti, menurut lo, gue pantes punya cerita yang lebih keren daripada itu, kan?”

“Memang,” si kacamata menjawab tanpa tanggung-tanggung, “Tampang lo sangar gitu, masa dosa lo cuman jadi… Ba’o?”

“PHO,” si rambut merah mengoreksi datar sambil melirik kesal.

“PHO.”

“Ya emang gitu doang,” si hantu berdecak kesal, “Lo berharap gue ngapain? Ngemutilasi orang trus ngebuang mayatnya ke kasur tetangga sampe ada yang jerit-jerit tengah malem dan pingsan gara-gara asmanya kumat?”

“Anjir,” si kacamata bergumam, “Lo psikopat bener, bisa kepikiran sampe situ.”

Si hantu mendengus bangga, “Itu namanya kreatif.”

“Udah, ah,” si poni Korea akhirnya buka suara, “Kita nggak selesai-selesai, tahu? Langsung aja…” ia menggantungkan kalimat sejenak, tampak ragu hendak menyebutku apa.

“Kayaknya ini giliranku, ya?” kataku basa-basi, menolak memberitahukan nama karena mereka pun tidak repot-repot memerkenalkan diri.

“Cepetan aja,” si rambut merah mendengus kasar, lalu melirik si poni Korea, “Ntar si maho ini ngamuk-ngamuk lagi—buang-buang waktu, katanya.”

Poni Korea ikutan mendengus. “Tutup mulut,” desisnya kasar.

Aku menunggu suasana lebih tenang sebelum menghela napas. “Kesalahanku itu…”

Apa kesalahanku?

  • Pernah membunuh seseorang, entah karena dendam, benci, maupun tidak sengaja (Klik DI SINI)
  • Membully orang karena jijik atau iri (Klik DI SINI)
  • Tidak pernah melakukan kesalahan besar (Klik DI SINI)

 

==========================================================================================================================

B

“AKU MEMBULLY SESEORANG.”

Kelima cowok itu saling melempar pandangan.

“Tipikal cewek,” si hantu mendengus, “Masalahnya itu-itu aja, mah.”

Si kacamata mendesah berat. “Sori, ya,” katanya, “Itu emang kesalahan nggak seberapa. Tapi, sebagai orang yang pernah dibully, gue cuman mau ngasih tahu lo, bullying itu kejem. Lo kudu udahin semua itu.”

Poni Korea menatapku dengan pandangan jijik, lalu melengos. “Itu lebih parah daripada PHO, ngerti?” desisnya.

Si kacamata mengangguk, sekali ini sepakat dengan orang yang baru saja dikenalnya itu. “Jujur aja…” gumamnya, kemudian berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk tidak menyambung kalimat itu, “Nggak, deh. Nggak jadi.”

“Kalo menurutmu itu ringan,” poni Korea memulai lagi. Sambil melirik, ia bergumam, “Pikir ulang.”

Aku menunduk, lalu menghela napas panjang.

Yah, pikirku, Apa boleh buat.

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

A

“AKU PERNAH MEMBUNUH SESEORANG.”

Suasana berubah hening dengan cepat setelah itu, seperti yang sudah kuduga. Tidak ada di antara mereka yang melakukan kesalahan hingga membahayakan nyawa orang lain, dan di sinilah aku—mengakui bahwa aku pernah mengakhiri nyawa seseorang. Kenyataan bahwa aku cewek sendiri di sini sama sekali tidak membantu.

“Lo pernah…,” si rambut merah menggantungkan kalimat di udara, “Apa?

“Membunuh seseorang,” ulangku, kali ini sambil menunduk.

“Kayaknya…,” si pendek berbisik—tetapi suaranya memang sudah keras dari sananya, sehingga aku bisa mendengar dengan jelas, “Kita harus pergi dari sini. Serem, njir, tuh cewek.”

Aku menghela napas berat.

“Gini, deh,” si hantu berkata sambil melirikku tidak senang, “Gue percaya lo punya penjelasan untuk semua itu? Atau lo hanya psikopat?”

“Ada penjelasan,” jawabku, “Tapi… kalo kalian nggak keberatan, aku kepingin menyimpannya untuk diri sendiri.”

Poni Korea mendengus, “Boleh juga, tuh,” gumamnya dengan nada merendahkan, “Biasanya, pembunuh bakal langsung menyangkal dan memberi penjelasan panjang-lebar.”

“Mungkin lo bukan orang jahat,” si hantu menambahkan dengan pelan—nyaris tidak terdengar.

“Orang nggak berperasaan iya,” mendadak, si kacamata menimpali keras-keras. Tatapannya ngeri. “Denger, ya. Gue paling tahu rasanya dibunuh, dan itu… sumpah, kejam banget. Hilang respek gue sama lo.”

Aku memejamkan mata, menimbang-nimbang apakah perlu kuungkapkan alasanku membunuh. Tetapi, setelah beberapa saat, niat itu kuurungkan.

Yah, pikirku, Apa boleh buat.

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

C

“NGGAK ADA, SIH, SEBENERNYA. NGGAK ADA KESALAHAN YANG TERLALU BESAR.”

Hening sejenak.

Kemudian, “Hah?”

Oke, yang terakhir itu si pendek.

“Trus, ya,” si rambut merah segera mengatasi kecanggungan mendadak itu, “Ngapain juga lo dibawa ke sini kalo lo nggak pernah salah? Kita berlima udah terbukti salah, dan lo…?”

“Dia juga cewek sendiri,” si kacamata mengimbuhi. Wajahnya tampak seperti sedang berpikir, “Mungkin itu ada hubungannya.”

Si hantu mendengus. Tatapan matanya menghakimi, membuatku merinding. “Nggak ada kesalahan, ya?” gumamnya mengambang. Nada suara itu langsung membuatku merasa tidak nyaman. Kemudian, sambil menampakkan seringai yang terlihat luar biasa ganjil, ia berkata, “Oke, nggak ada kesalahan.”

“Mungkin bisa diinget-inget sambil jalan,” poni Korea mengusulkan, “Siapa tahu ada. Kayak aku—tadi seingetku, aku nggak pernah bikin kesalahan. Trus, ternyata ada.”

Aku menggeleng. “Nggak,” jawabku, “Udah berusaha kuinget-inget, tapi tetep nggak ada.”

Seringai si hantu makin lebar. “Ya,” katanya dalam desisan, “Gue percaya, kok.”

Aku mendengus pasrah, sadar betul bahwa perkataannya itu sarat sindiran.

Yah, pikirku, Apa boleh buat.

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

……………

“Oke,” si rambut merah menepukkan kedua tangannya sekali, berniat mengubah topik karena sadar suasana berubah tak enak. “Sekarang, kita asumsiin aja kita semua diculik ke sini. Nggak usah ada prasangka aneh-aneh.”

“Oke,” si hantu menjawab singkat—nadanya terlalu datar.

“Jadi, um…” gumamku canggung, “Kita mau gimana, nih, sekarang?”

“Gimana kalo,” si rambut merah—yang sepertinya paling merasa gerah dengan suasana canggung yang semakin parah, “Kita semua masuk ke hutan itu dan lihat ada apa di dalem sana? Siapa tahu ada jalan keluar, kan?”

“Mungkin…” si kacamata menyahut dengan nada mengambang, terdengar tak tertarik (atau mungkin moodnya hanya masih jelek). “Kalian nggak bawa apa gitu, kek—jimat? Sesuatu buat proteksi?”

“Elah,” si poni Korea mencibir, “Satu lagi orang yang percaya hantu?”

“Apa boleh buat,” si kacamata meliriknya sinis, “Hantu itu ada.”

“Setan juga ada,” si hantu menambahkan dengan terlalu antusias, terdengar jelas bahwa ia sedang menyindir seseorang. Kemudian, sadar tidak ada yang paham siapa yang disindirnya, ia menyambung sambil menyeringai, “Maaf—salah satu temen gue yang nggak lo kenal.”

Si rambut merah mendengus, “Bagus,” katanya, “Karena kalo sampe yang lo maksud gue, ini bakal jadi acara Hunger Games.”

“Gue yang menang,” si hantu malah menyahut girang.

“Gue, lah!” si pendek menyeletuk, “Dengan kekuatan bulan, gue, mah.”

“Itu Sailor Moon,” si rambut merah meliriknya kesal.

“Cie…,” si pendek berkata dengan nada menggoda, “Ketahuan nonton Sailor Moon, cie…”

“Lo juga kena, Goblok!” si rambut merah menoyor kepalanya, “Kan lo juga nonton, tuh, berarti.”

Si pendek terdiam. “Oh,” gumamnya, “Bener juga.”

“Ya udah,” si kacamata menyudahi perdebatan tak penting itu, “Mending kita buruan aja. Keburu makin malem, kan?”

“Di sini emang selalu malem,” si poni Korea mengoreksi.

“Hah?” tanyaku, “Masa?”

“Iya,” si poni Korea menjawab, “Aku bangun pertama, dan itu udah sekitar sepuluh jam yang lalu—mungkin lebih. Sama sekali nggak ada tanda-tanda langit akan—atau pernah—terang.”

Aku langsung merinding.

“Mm…” si kacamata menyela, “Daripada makin bikin ketakutan aneh-aneh, mending kita langsung aja, deh, masuk ke hutan itu.”

Kami berenam saling berpandangan sejenak, seperti meyakinkan diri.

Kemudian, aku berkata lirih, “Oke, kalo cuma itu pilihan yang ada…”[]

TO BE CONTINUED

Thank you for finishing this part of your adventure. Save your answers by taking the survey below :

See you when you are back!

Advertisements

One thought on “001 Escape Route : The Circle

Comments are closed.