002 Escape Route : The Routes

er

Title : ESCAPE ROUTE (Rute Pelarian Diri)
Episode : 002 The Routes (Rute-rute)
Release Date : 2015/12/08
Casts : You, others
Rules : Click here (Reading the rules first is mandatory / Membaca peraturan terlebih dahulu adalah wajib)
Important note : Don’t forget to take the survey after you finish this part of your game. Questions and choices will be written in red. Not understanding inside jokes is okay. Just go with the flow and enjoy! (Jangan lupa mengisi survei setelah menyelesaikan bagian permainanmu yang ini. Pertanyaan dan pilihan akan ditulis dalam warna merah. Tidak apa-apa bila kamu tidak memahami inside jokes dalam cerita. Ikuti saja arusnya dan nikmati!)

PREVIOUS EPISODE : 001 Escape Route

 

Ready to Imagine?

LET’S GO!

002

CHAPTER TWO : THE ROUTES (RUTE-RUTE)

Rupanya semua ini settingan.

Begitu memasuki hutan, kami langsung menyadari bahwa hutan itu kecil—hanya sepetak lingkaran di luar ‘lingkaran ritual api unggun’ kami. Tempat ini seperti sudah diatur demikian, sebenarnya. Bahkan, setelah berhasil keluar dari hutan itu, rasanya memutari lingkaran hutan tidak akan makan waktu sampai lima belas menit.

Kabar buruknya, di luar tidak ada apa-apa.

Well, ada. Hanya hamparan tanah berumput yang lapang, membentang dari ujung ke ujung.

Di kejauhan depan, tampak sebuah tembok tinggi—barangkali mencapai enam puluhan meter? Atau lebih?—Tembok itu berdiri kokoh, seperti baru dibangun khusus untuk menjebak kami berenam. Tidak hanya di depan, tembok itu menyudut, membentuk ruangan tak beratap di sekeliling kami—di kanan, kiri, dan (aku yakin) belakang.

“Ini Maze Runner beneran, deh, kayaknya…” si kacamata bergumam tak percaya.

Aku menelengkan kepala. Kuperhatikan lagi sekitarku, dan mendapati bahwa tanah lapang bukan satu-satunya yang ada di sini.

Menempel di tembok jauh di depan kami, berdiri sebuah bangunan tua bertingkat yang tampak seperti gudang terbengkalai. Bangunan itu gelap dan tampak luar biasa seram, tetapi ada cahaya remang-remang memancar dari salah satu ruangan di bagian atas yang hampir tak terlihat saking redupnya.

“Mungkin ada orang di sana,” si rambut merah bergumam. “Gue mau masuk.”

“Ntar dulu, deh,” si kacamata menyela, “Dipikir-pikir dulu.”

Kami kembali memutar pandangan.

Di sisi kiri, tidak ada bangunan. Tetapi, ada deretan pepohonan yang sama dengan tempat kami baru saja keluar, hanya lebih rapat dan tak beraturan. Sepertinya, yang satu itu hutan sungguhan, bukan bohongan seperti yang ada di belakang kami. Saking jauhnya dari sini, kami sampai bisa melihat sisa tembok yang tidak tertutup pepohonan di kejauhan. Semua itu langsung membuatku merinding.

“Di belakang ada apa, ya?” si poni Korea bergumam di tengah ketakjuban kami.

“Maksud lo, di belakang hutan palsu ini?” si kacamata bertanya, “Coba aja kita ke sana.”

Dan begitulah, kami memutari lingkaran pepohonan dan sampai di bagian belakang.

Tidak ada bangunan atau apa pun lagi, tentu saja. Semuanya kosong dan lapang.

“Ada sesuatu di dalem tanah,” si hantu berkata datar. Tatapannya tampak tidak tertarik.

Kami semua langsung memandanginya kebingungan.

Ia menunjuk dengan santai ke satu titik di bawah. “Lo lihat tali itu?”

Kami mengarahkan pandangan ke titik yang ditunjuknya, dan melihat bahwa memang ada tali yang menjalar dari dalam rerumputan, keluar sepanjang setengah meter.

“Ya?” gumamku, “Ada apa dengan tali itu?”

“Lo nggak lihat ada logam berkilat di bawahnya? Astaga.”

Aku mencorongkan mata sekali lagi dan baru melihat kilat logam di bawah yang sedikit tertutup rumput, tetapi dengan jernih diekspos oleh gelapnya malam.

Mata poni Korea terbelalak. “Bener juga.”

Denah lokasi (ukuran tidak dipertimbangkan)

Denah lokasi (ukuran tidak dipertimbangkan)

 

“Itu berarti, mungkin aja ada benda yang bisa membantu kita, kan, di sana?” si kacamata menyimpulkan dengan antusias, “Wah, gali aja, tuh!”

“Gue, mah, ogah,” si hantu menolak mentah-mentah usulan si kacamata, “Buang-buang tenaga. Ambil jalan yang udah pasti aja, lah. Panjat, tuh, tembok. Pasti keluar, kan?”

“Lo mau manjat pake apa, Goblok?” si rambut merah menyahut—barangkali dia satu-satunya orang yang berani menyebut si hantu ‘Goblok’, karena memang dia menyebut semua orang begitu.

“Cari tali, lah,” si hantu menjawab santai, “Kalo nggak, cari ide lain. Pokoknya panjat.”

“Pake kuku lo aja,” si pendek mendengus, “Kan lo udah kayak macan bunting, tuh, galaknya. Siapa tahu kuku lo juga kay—astaga, ampun.” Ia langsung bersujud di tanah lantaran dilirik sinis oleh si hantu—secara harfiah.

“Kalian, sih, terserah, mau gimana,” si hantu mengabaikannya, “Mau pake kuku juga boleh. Gue, mah, nggak keberatan kalo kalian terjebak di sini selamanya.”

“Oh,” si rambut merah menyahut, “Sama. Gue juga nggak keberatan kalo lo terjebak di sini selamanya.”

Si hantu menyeringai lebar. “Kita lihat aja nanti, sepinter apa, sih, lo itu.”

“Oke,” dengus si rambut merah, “Walaupun gue nggak yakin nyawa lo cukup panjang untuk melihat kepinteran gue.”

“Tunggu, deh,” poni Korea menyela, “Daripada kalian ribut-ribut, mending kita balik ke tempat tadi. Setelah kupikir-pikir, masuk hutan kayaknya paling meyakinkan. Kalian lihat sendiri, kan, apa yang kita kira hutan di dalem lingkaran ternyata cuman bohongan? Siapa tahu, hutan di situ tadi juga kamuflase untuk menutupi pintu keluar.”

“Mati di dalem—kapok, lo,” si hantu mencibir, “Di mana-mana, hutan itu selalu nggak aman buat dimasuki.”

“Kamu juga tadi setuju-setuju aja waktu kita mau keluar dari lingkaran buat masuk hutan,” poni Korea membalas sengit sambil menaikkan sebelah alis.

“Gini, ya,” si rambut merah menyela, “Lo-lo pada terkesan yakin banget kalo kita berenam satu-satunya yang ada di sini.”

“Yakin, lah,” si kacamata menjawab.

“Apa kalian nggak mikirin soal cahaya remang di bangunan tadi?” si rambut merah bertanya datar, “Gue, mah, yakinnya kalo ada orang lain di sana—si pelaku, barangkali.”

“Mau lo samperin gitu, pelakunya?” cibir si hantu.

“Ya nggak masalah,” si rambut merah malah menantang, “Daripada dia nontonin kita begitu aja dari atas sana—kita kayak pion-pionnya yang nggak berdaya gini. Mending gue samperin aja. Mau duel? Ayo-ayo aja!”

“Eh,” si pendek memucat, “L-lo serius? Kita mau nyamperin pelakunya buat duel?”

“Ya kalo lo nggak mau ikut, terserah,” si rambut merah berkata, “Ntar lo tinggal sendirian di lingkaran ritual, mendadak ada putih-putih yang—“

“Ikut!” si pendek langsung menjerit, “Gue ikut!”

“Oke,” si rambut merah tersenyum penuh kemenangan, “Udah diputusin? Kita masuk ke sana?”

“Jangan mutusin seenak jidat lo,” si kacamata menegur, “Gue, mah, oke-oke aja kalo mau masuk. Tapi, gue harus tahu di bawah sana ada apa dulu. Gue yakin itu ada hubungannya sama semua ini—nggak mungkin, lah, tali dijulur-julurin gitu kalo bukan buat digali dan ditarik.”

“Idih,” si rambut merah bergidik, “Kalo gitu, lo selidiki sendiri aja sono. Kalo ternyata kuburan dan isinya hantu pembunuh—kapok, lo, mati dua kali.”

“Kuburan pake logam?” si kacamata mendengus, “Lucu, lho.”

“Kalian orang-orang goblok selidiki sendiri-sendiri aja,” si hantu berkata datar, “Gue tetep mau manjat, karena otak gue selangkah lebih maju daripada punya kalian.” Lalu, setelah berpikir sejenak, ia meralat, “Maaf, kalian, kan, nggak punya otak.”

Si kacamata tampak tersinggung. “Ya udah,” katanya, “Terserah lo. Perkara lo mau kepeleset pas manjat dan mati gegar otak, gue nggak peduli juga.”

“Aku juga nggak ikut panjat-panjatan,” poni Korea berkata, “Jauh lebih bahaya daripada masuk hutan.”

Si rambut merah meliriknya tak senang, sejenak saja. “Lo jadi masuk hutan?” tanyanya sengit.

Poni Korea balas meliriknya, tak kalah garang. “Masalah, gitu?” salaknya, “Kalo kalian nggak mau ikut, terserah. Mati aja pada.”

Lo itu yang bakal mati,” si kacamata mendesis, “Gue nggak mungkin.”

“Yakin amat lo,” cibir rambut merah, “Emang lo positif seratus persen kalo benda logam gaje itu bisa ngebawa lo keluar? Emang apaan, tuh—baling-baling bambu Doraemon?”

“Bukan gitu,” si kacamata tersenyum penuh kemenangan.

“Trus, kok lo yakin nggak bakal mati?”

“Kan gue udah pernah mati.”

“Oh.”

Hening sejenak.

“Tapi bisa aja lo mati dua kali,” si pendek mengusulkan, “Kan, biasanya orang yang dosanya banyak—kayak lo-lo gitu, lah—direspirasi, trus mereka ngulang hidup sampe dosa mereka terbayar.”

“Direspirasi?” si kacamata bertanya, “Maksud lo… kayak… dikasih napas buatan sampe bangun lagi, gitu?”

“Bukan, Oon,” si pendek mencibir—dengan gerakan tangan seolah-olah hendak menoyor si kacamata, tapi tidak berani, “Respirasi itu ajaran agama Hindu. Kita lahir kembali gitu, lho.”

“Respirasi ajaran agama monyet, kali!” si hantu menyeletuk.

“Hus! Nggak boleh ngejek agama lain!”

“Siapa juga yang ngejek agama—orang bener, monyet juga bisa respirasi alias bernapas,” si hantu mengembalikan omongan si pendek.

“Hah?”

“Yang lo maksud dari tadi itu reinkarnasi, Bego,” si rambut merah menoyor kepala si pendek berkali-kali. “Malu gue, kenal sama lo.”

“Oh,” si kacamata bergumam, “Pantes, gue bingung apa hubungannya sama pernapasan.”

Si pendek mendengus kesal. “Cih,” cibirnya, “Kesel gue ngadepin lo-lo semua. Gue mau pergi!”

“Ya udah,” si hantu berkata, “Good luck.

“Aku, sih, ogah masuk ke hutan bareng orang kayak kamu,” poni Korea berkata, “Jadi, kalo mau pergi, cari jalan lain aja. Soalnya, kalo masuk hutan, belum apa-apa, kamu udah bakal kesrimpet—tali sepatu sendiri.”

“Eh, eh.”

“Apa?”

“Gue nyeker.”

“Oh.”

Hening. Lama.

“Mm…” si kacamata membuka suara, “Ini… jadinya gimana, ya?”

Hening lagi. Lama juga.

“Gini, deh,” aku akhirnya berpendapat, “Pada pencar-pencar aja.”

“Hah?” si pendek langsung protes, “Pencar-pencar… sendiri-sendiri, gitu?”

“Iya, lah. Apa boleh buat?”

“Ih, kalo sendirian bukannya bahaya?”

“Itu, sih, mindset coward,” poni Korea menyahut, “Aku mau-mau aja pergi sendiri.”

“Sama,” si kacamata setuju.

“Gue, sih, nggak ada bedanya—mau pergi sendiri, kek, sama seluruh masyarakat Indonesia, kek, sama aja,” si hantu berkata.

“Eh, tunggu bentar,” si rambut merah tiba-tiba menyela, “Bukan gimana-gimana, sih. Tapi, lo… si… siapa, tuh, cewek pendek itu—lo ngusul-ngusulin pencar, emangnya lo mau ke mana? Balik, gitu, ke lingkaran ritual?”

Aku terdiam dan teringat lingkaran yang dimaksud. Sekejap, rasa merinding merambati tengkukku membayangkan harus berada di sana seorang diri.

“Nggak,” jawabku langsung, “Aku… mungkin akan ikut salah satu dari kalian.”

“Ikut…,” si kacamata bergumam, “Siapa?”

Apa kesalahan yang sudah kupilih di Chapter One : The Circle?

  1. Pernah membunuh seseorang, entah karena dendam, benci, maupun tidak sengaja (Klik DI SINI)
  2. Membully orang karena jijik atau iri (Klik DI SINI)
  3. Tidak pernah melakukan kesalahan besar (Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

C

“BELUM AKU PIKIRIN, SIH,” JAWABKU.

“Ikut kita aja, biar genep bertiga!” si pendek langsung menyeletuk.

“Tiga itu ganjil, Oon!” si rambut merah spontan menoyor temannya—lagi, “Bilang aja lo ogah jalan berdua sama gue karena capek dikatain mahoannya si landak terus di panti!” Kemudian, dia berpikir sejenak, lalu menyambung, “Eh, atau jangan-jangan lo gatel aja sama cewek?”

“Yee… enak aja!” si pendek tidak terima, “Gue menawarkan bantuan dengan rela hati, kok!”

“Ikut aku juga boleh,” si poni Korea berkata, “Kalo mau.”

“Jangan mau,” kata si kacamata, “Lo diajak masuk hutan, sama aja mau diajak mati bareng.”

Poni Korea memutar kedua bola matanya. “Terserah kalo nggak percaya,” katanya, “Tapi menurutku, hutan itu udah yang paling meyakinkan.”

“Mending ngegali tanah ini, lah!” si kacamata berkata sambil menunjuk tanah tempat tali lima puluh sentian itu masih menjalar tenang, kebal terhadap teriakan cowok-cowok itu sejak tadi. “Lebih nggak berbahaya.”

“Gue, sih,” si hantu menimpali tiba-tiba, “Terserah lo mau ikut siapa. Mau cari macan biar diterkam di hutan, boleh. Mau ngegali kuburan sendiri, boleh. Mau masuk ke bangunan tua yang hampir ambruk itu biar mati kerubuhan, boleh juga. Yang jelas, nggak ada pilihan buat lo ikut gue.”

Aku menatapnya dengan mata dilebarkan. “Kenapa?”

Ia menyeringai, kemudian aku teringat adegan di lingkaran ritual tadi, saat aku mengatakan kepada semua orang bahwa aku tidak punya kesalahan. Saat itu, ia juga menampakkan seringai yang sama, dan seringai kejam itu membawa perasaan tidak nyaman di sekujur tubuhku.

Astaga, pikirku, Ia masih menganggapku bohong.

“Nggak ada alasan khusus,” katanya, “Gue cuman ogah aja di tengah-tengah manjat tiba-tiba kepingin ngejorokin lo, trus beneran gue jorokin. Males ngebunuh orang, sih, gue—mulia, kan?”

Aku menahan geram.

Omongan cowok ini pedes banget, batinku kesal, Apa dia beneran sedendam itu hanya gara-gara hal sepele?

“Ya udah,” balasku, berusaha terdengar dingin, “Aku juga nggak akan ikut kamu.”

“Kalo gitu,” poni Korea membuka suara, “Mau ikut siapa?”

Jalan apa yang akan kuambil?

  1. Menjelajahi hutan dan mencari pintu keluar bersama si poni Korea (Klik DI SINI)
  2. Memasuki bangunan tua dan mencari pelaku settingan bersama si rambut merah dan si pendek (Klik DI SINI)
  3. Menggali logam bertali mencurigakan di tanah bersama si kacamata (klik DI SINI)

==========================================================================================================================

 

A

AKU BELUM MENJAWAB, TETAPI SUDAH BISA KURASAKAN SUASANA BERUBAH DENGAN CEPAT.

Yang paling tampak mencolok adalah si pendek, yang tiba-tiba saja merapat pada si rambut merah seolah ketakutan. Ia membisikkan sesuatu di telinga temannya itu, tetapi kali ini aku tidak dengar apa yang dikatakannya.

“Aku…,” gumamku, “Belum tahu, sih.”

“Bukan gimana-gimana, nih, ya,” si kacamata menyahut dingin. Bukannya aku tidak sadar bahwa sejak tadi ia beberapa kali melirik sinis kepadaku, tetapi baru kali ini ia mengonfrontasi terang-terangan, “Tapi lo nggak bisa ikut gue. Gue mau menggali tanah, dan lo—sebagai kaum cewek yang biasanya sok manja-manja nggak mau kuku hasil nail art-nya ternodai, gue tolak mentah-mentah kalau pun lo mau ikut gue.”

Huh, batinku, Siapa juga yang mau ikut dia?

“Mm…,” si pendek bergumam ragu, “Kayaknya nggak bisa ikut kita, juga, soalnya kita udah berdua. Hehe.”

Si rambut merah langsung menoyor kepala temannya dan berbisik dengan suara keras, “Jangan ditambahin ‘hehe’, Bego! Ketahuan bohongnya!”

Aku mendesah berat.

“Kayaknya nggak ada yang bisa, ya?” kataku, “Kalo gitu, aku muter-muter di sini aja, nyari jalan lain.”

Gue nggak keberatan, sih,” si hantu tiba-tiba menyahut, “Kalo cuman manjat aja, kayaknya cewek pun bisa. Jadi, kalo lo berniat ikut, gue nggak masalah.”

“Ikut aku juga boleh,” si poni Korea ikut menawarkan diri.

Aku berpikir sejenak.

Secara naluriah, aku akan merasa lebih aman apabila ditemani seseorang dalam menjelajahi tempat asing seperti ini. Dan lagi, memutari lapangan belum tentu ada hasilnya. Aku ragu ada sesuatu di antara bentangan tembok kokoh yang mengelilingi lapangan. Jadi… sebaiknya aku ikut salah satu di antara mereka.

Masalahnya, pikirku, Siapa?

Jalan apa yang akan kuambil?

  1. Memanjat tembok bersama si hantu (Klik DI SINI)
  2. Menjelajahi hutan dan mencari pintu keluar bersama si poni Korea (Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

B

“SIAPA, YA?” AKU BALAS BERGUMAM.

“Ikut kita aja, biar genep bertiga!” si pendek langsung menyeletuk.

“Tiga itu ganjil, Oon!” si rambut merah spontan menoyor temannya—lagi, “Bilang aja lo ogah jalan berdua sama gue karena capek dikatain mahoannya si landak terus di panti!” Kemudian, dia berpikir sejenak, lalu menyambung, “Eh, atau jangan-jangan lo gatel aja sama cewek?”

“Yee… enak aja!” si pendek tidak terima, “Gue menawarkan bantuan dengan rela hati, kok!”

“Ikut mereka aja kalo mau,” si poni Korea menatapku dingin. Bukannya aku tidak sadar bahwa sejak tadi ia sudah sering melirikku sinis, tetapi baru kali ini kudengar nada suaranya sekasar itu, “Yang jelas, jangan ikut aku. Aku nggak mau tanggung jawab kalo sampe sesuatu terjadi sama kamu di dalem hutan—seperti yang udah si bocah SMA ini bilang tadi, hutan itu bahaya.”

Bilang aja ogah, batinku kesal.

“Oh, dan kayaknya lo nggak bisa ikut gue juga,” si kacamata menambahkan, “Gue mau ngegali tanah, soalnya. Gue ragu cewek-cewek suka kegiatan yang… begitu.”

“Kalo gue, sih,” si hantu menyahut, “Tergantung lo aja. Kalo lo suka kegiatan yang begono, ya silakan aja ikut.”

“Begono?”

“Maksud gue,” si hantu menjelaskan, “Manjat tembok—tipikal kegiatan orang berpendidikan tinggi.”

“Idih,” si rambut merah mencibir, “SMA aja belum tentu lulus, udah belagu.”

Si hantu mendengus. “Yang penting masa depan gue terjamin,” katanya, “Masa depan lo, mah, bentar lagi juga kandas. Lo nantangin pelaku semua ini, kan? Iya kalo ada. Kalo nggak ada, mati nyasar lo.”

“Halah,” si rambut merah mengibaskan tangan dengan gaya meremehkan, “Yakin amat lo kalo nggak ada?”

“Gue belum selesai ngomong,” kata si hantu, “Gue baru mau bilang, kalo ada, mati dibunuh lo.”

Hening lagi. Lama.

Aku berdeham sejenak untuk mengatasi kecanggungan. “Mm…,” gumamku, “Oke, aku udah mutusin.”

“Oh, ya?” si pendek bertanya antusias, “Lo mau ikut siapa?”

Jalan apa yang akan kuambil?

  1. Memanjat tembok bersama si hantu (Klik DI SINI)
  2. Memasuki bangunan tua dan mencari pelaku settingan bersama si rambut merah dan si pendek (Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

SI HANTU

“SIAPA PUN ITU YANG MAU MANJAT TEMBOK AJA, DEH,” KATAKU PADA AKHIRNYA.

Si hantu melebarkan mata sedikit. “Gue?” tanyanya memastikan, “Oke. Orang berotak yang jalan pikirnya sama kayak gue selalu diterima. Asal nggak ngerepotin aja, sih.”

Aku tersenyum simpul. “Semoga, ya,” kataku.

“Kalo gitu…” si rambut merah menggantungkan kalimat di udara, “Berarti udah diputusin, nih, rutenya?”

“Yah… well,” si kacamata berkata, “Kita pencar sekarang aja, sih, kalo kata gue.”

“Menurutku juga gitu aja,” si poni Korea berkata. “Aku udah gatel mau nyari jalan keluar.”

“Sama,” si pendek meringis, yang malah membuatnya tampak lucu, “Gue juga udah nggak sabar mahoan sama An—“

Si rambut merah langsung menoyornya.

“Aduh, aduh!” si pendek menjerit, “Bercanda, woy, bercanda!”

“Nggak lucu, tahu?” si rambut merah menggerutu, “Udah, ah, buruan aja kita pergi, daripada lo malu-maluin di depan umum lagi kayak barusan!”

Dengan itu, diseretnya si pendek pergi ke tempat tujuan mereka sendiri.

“Aku juga pergi sekarang, deh,” poni Korea berkata. Setelah memandang kami semua satu-per-satu, ia berbalik dan melangkah pergi, memutari hutan palsu untuk masuk ke pepohonan yang menurutnya adalah jalan keluar.

Si kacamata menatapku dan si hantu bergantian selama beberapa saat. Kemudian, sadar kami berdua hanya diam saja, ia berkata, “Lo pergi, kek. Gue mau ngegali jadi gimana, gitu, kalo ada dua orang mupeng?”

“Maaf, maaf,” kataku. Aku menatap si hantu sebentar, dan menyadari betapa canggungnya suasana akan terasa apabila hanya ada kami berdua.

Nggak apa-apa, lah, batinku, Nggak usah dipikirkan.

“Mm… yuk?”

Si hantu mengangguk tak acuh, kemudian berjalan mendahuluiku menuju tembok. Aku mengikutinya sambil berlari-lari kecil karena rupanya kaki cowok itu panjang sekali.

Butuh waktu cukup lama bagi kami untuk mencapai tembok tujuan. Memang, tanah tempat kami berpijak sangat lapang, sampai-sampai sulit menahan napas agar tidak terengah-engah.

Aku masih berlari-lari ringan saat si hantu sudah berhenti persis di depan tembok. Ketika akhirnya sampai di dekatnya, ia berbalik dan menyeringai lebar-lebar.

“Berhubung udah tinggal kita berdua,” katanya dengan nada misterius yang langsung membuatku kaget, “Boleh, deh, gue perkenalkan diri gue.”

Aku mengerutkan kening.

Tunggu, pikirku, Kenapa rasanya ini mendadak sekali?

Tadi, dia bahkan nggak repot-repot menanyakan namaku. Sekarang, dia yang mau memerkenalkan—

“Kenalin,” katanya santai, “Nama gue Jeremy Ericson. Biasa dipanggil Jerry.”[]

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

 

SI PONI KOREA

“IKUT… ITU AJA, DEH, YANG MAU MASUK KE HUTAN,” JAWABKU.

Si poni Korea menatapku sejenak, kemudian mengangguk. “Boleh,” katanya.

“Kalo gitu…” si rambut merah menggantungkan kalimat di udara, “Berarti udah diputusin, nih, rutenya?”

“Yah… well,” si kacamata berkata, “Kita pencar sekarang aja, sih, kalo kata gue.”

“Menurut gue juga gitu aja,” si hantu berkata. “Gue udah gatel kepingin manjat tembok dan ngebuktiin kalo kalian semua goblok.”

“Sama,” si pendek meringis, yang malah membuatnya tampak lucu, “Gue juga udah nggak sabar mahoan sama An—“

Si rambut merah langsung menoyornya.

“Aduh, aduh!” si pendek menjerit, “Bercanda, woy, bercanda!”

“Nggak lucu, tahu?” si rambut merah menggerutu, “Udah, ah, buruan aja kita pergi, daripada lo malu-maluin di depan umum lagi kayak barusan!”

Dengan itu, diseretnya si pendek pergi ke tempat tujuan mereka sendiri.

Kami bertiga ditinggal dalam hening.

“Mm…,” aku bergumam awkward, “Jadi…?”

“Jadi,” si hantu mengutip pertanyaanku, “Gue pergi duluan. Nggak usah kangen.”

Setelah itu, ia juga berbalik dan berjalan menuju tembok terdekat untuk dipanjat.

“Nah,” si kacamata membuka suara, “Kalian berdua juga buruan masuk aja ke hutan, sono. Gue mau menggali dengan tenang, nih.”

Si poni Korea mengangkat bahu. “Tenang aja,” katanya, “Kami juga nggak berniat lama-lama di sini.”

Lalu, ia melirikku singkat dan berjalan menjauh, seperti memberi isyarat untuk mengikuti. Aku pun mengikuti isyaratnya dalam diam.

Hutan tampak semakin mendekat seiring lamanya kami berjalan. Rupanya, jarak ke sana tidak sependek yang kukira. Saat masih berjarak sekitar dua puluh meteran dari sana, aku sudah terengah-engah dan sulit bernapas. Sebaliknya, poni Korea tampak tidak kelelahan sama sekali. Ia berjalan setenang hantu—yang mengejutkan, sebab hantunya mungkin sudah memanjat tembok sekarang ini—dan baru kusadari bahwa setiap gerakannya tidak menimbulkan suara.

Gerakan itu begitu lembut, pelan, dan…

“Kenapa lihat-lihat?”

Aku tersentak saat ia tiba-tiba berhenti—tepat sebelum langkah kami memasuki hutan. Aku langsung kagok, tetapi berusaha memasang sikap kalem.

“Nggak apa-apa,” jawabku bohong.

Ia memicingkan sebelah mata. “Kamu…,” gumamnya sejenak. Lama sekali perkataan itu digantungkannya di udara, tetapi akhirnya disambungnya juga, “Curiga kalo aku mungkin hantu?”

Aku langsung membelalakkan mata. “Hah?” pekikku, “Kok… bisa sampai situ?”

Ia menatapku selama beberapa detik. Kemudian, di luar dugaan, ia malah terkekeh. “Santai aja,” katanya, “Aku udah terbiasa ngadepin persepsi aneh-aneh begitu dengan seseorang.”

Aku hanya tersenyum simpul dengan canggung.

“Dan… yah,” katanya, “Aku bukan hantu, kok. Tenang aja.”

Lalu, dengan gerakan yang—masih—tenang, ia mengulurkan tangan.

“Kenalin,” katanya singkat, “Namaku Theo Reiner. Biasa dipanggil Theo.”[]

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

SI RAMBUT MERAH DAN SI PENDEK

“KALIAN AJA, DEH,” AKU MENUNJUK SI RAMBUT MERAH DAN SI PENDEK BERGANTIAN.

Reaksi yang kuperkirakan tidak serta-merta terlihat. Tetapi, setelah saling berpandangan selama dua detik penuh, si pendek bersorak juga sesuai dugaan.

“Asyik!” pekiknya sambil melompat girang, “Nggak jadi mahoan sama—“

“Diem, Goblok!” si rambut merah langsung menggebuk punggung si pendek, membuatnya menjerit.

“Anjrit!” umpatnya, “Sakit, tahu!”

“Tahu!” si rambut merah menantang. “Emang gue tahu!”

“Asem lo jadi orang!” si pendek merengek.

“Tadi katanya tahu, sekarang asem!” si rambut merah berkata asal, “Jadi, gue tahu apa asem?”

Si pendek mengerang. “Ah, terserah, deh!” katanya, “Capek gue ngadepin monster nyasar yang—AMPUN, BOS!”

Yang terakhir itu karena si rambut merah melakukan gerakan hendak menggebuknya lagi.

“Mm…,” si kacamata akhirnya buka suara setelah sejak tadi hanya membetahkan diri menonton pertengkaran mereka yang kekanak-kanakan, “Jadi… kita mau pencar kapan, nih?”

“Sekarang aja,” poni Korea berkata, “Daripada buang-buang waktu di sini, kan?”

“Ya udah, sih,” si hantu berkata, “Gue juga udah berniat pergi dari tadi.”

Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia berjalan pergi begitu saja, meninggalkan kami berlima saling berpandangan.

“Tuh orang kenapa, sih?” si kacamata bergumam.

“Salah lo, tuh!” si rambut merah menoyor kepala si pendek, “Dia pergi gara-gara lo terlalu nggak mutu buat ditonton!”

“Yee… kok lo ngatain, sih? Orang gue itu—“

“Udah, ah, aku ikutan pergi aja,” poni Korea buru-buru menyela sebelum muncul satu lagi adegan parodi berkepanjangan. Dalam hati, aku mulai bertanya-tanya apakah ada di antara mereka yang berpikir aku suka adegan-adegan seperti itu lantaran memilih untuk ikut kedua pelawak tak jelas itu. Yang jelas, poni Korea sepertinya berpikir demikian. Sebab, saat berjalan pergi, ia melirikku sejenak dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, lalu meneruskan langkah.

Ya udah, sih, pikirku pasrah.

“Sekarang,” si kacamata membuka suara, “Kalian pergi, deh, dari sini. Gue mau menggali dengan tenang.”

Si rambut merah dan si pendek saling berpandang-pandangan, kemudian tatapan keduanya beralih padaku.

“Yuk, deh,” kata rambut merah. Aku mengangguk, kemudian mengikuti mereka berdua yang sudah mulai berjalan menjauh.

Sebelum kami lenyap dari jarak pandang si kacamata, si pendek berteriak, “Semoga nemu hantu, ya! Kasih tahu gue kalo lo mati dua kali dan direspirasi!”

Reinkarnasi,” koreksiku.

“Oh, bener juga,” ia bergumam, kemudian berteriak untuk meralat, “Reinkarnasi, maksud gue!”

Setelah itu, perjalanan kami dipenuhi keheningan—yang mengejutkan, sebab kukira mereka berdua akan mulai mengoceh yang tidak-tidak lagi. Bukan hanya itu. Rupanya, perjalanan itu sangat jauh. Yah, aku bisa memakluminya, sih. Sebab, kedua tempat itu terletak di dua ujung yang berbeda dari lapangan ini.

Dari kejauhan, aku sudah dapat melihat bangunan tua tujuan kami. Semakin dekat, rasa merinding kian kuat merambati tengkukku.

Kenapa semua ini terasa salah, ya? Pikirku.

Bangunan itu rupanya sangat tinggi. Barangkali ada empat atau lima lantai yang menyusunnya. Lantai-lantai atas tampak hampir rubuh, sedangkan yang bawah terlihat lebih kuat, walaupun juga lebih seram—karena tidak ada lampu dan sebagainya.

Kami bertiga kini sudah sampai di ambang pintu depan, tetapi tampaknya hanya rambut merah yang masih punya nyali.

“Nah,” katanya, “Kita sampe.”

Yang pertama dipandangnya saat menoleh adalah aku. Sepertinya ia menyadari raut pucat di wajahku, karena ekspresinya langsung berubah keruh.

“Lo takut?” tanyanya, “Atau nggak yakin sama kita berdua?”

“Mm…,” gumamku, “Dua-duanya, sih, kalo boleh jujur.”

Si rambut merah memandang si pendek, berniat membuat kontak mata dengan temannya itu. Tetapi, yang dipandang malah masih mengamati bangunan tua di hadapan kami sambil merinding cupu.

“Oke,” ia berdeham, “Kalo gitu, kita perkenalin diri dulu aja, biar lebih meyakinkan. Gue Andrew Leonardo—boleh lo panggil Andrew.”

Si pendek diam saja.

Setelah disenggol oleh Andrew, ia baru mau menoleh. “Eh, apa?” tanyanya.

Perkenalan, Bego,” bisik Andrew.

Si pendek mencernanya sejenak, kemudian tersentak. “Oh!” pekiknya. Sambil berusaha tampak tidak takut, ia menoleh kepadaku dan tersenyum. “Sam,” katanya, memerkenalkan diri, “Samuel Ethan Wijaya. Biasa dipanggil Si Keren juga, sih.”[]

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

SI KACAMATA

“IKUT… ITU AJA, DEH, YANG MAU NGEGALI TANAH,” JAWABKU.

Si kacamata menatapku sejenak, kemudian mengangguk. “Boleh,” katanya. “Asal lo mau ikut ngebantu gali, sih.”

“Nggak masalah,” jawabku. “Udah kupikirkan soal itu.”

“Kalo gitu…” si rambut merah menggantungkan kalimat di udara, “Berarti udah diputusin, nih, rutenya?”

“Yah… well,” si poni Korea berkata, “Kita pencar sekarang aja, sih, kalo kataku.”

“Menurut gue juga gitu aja,” si hantu berkata. “Gue udah gatel kepingin manjat tembok dan ngebuktiin kalo kalian semua goblok.”

“Sama,” si pendek meringis, yang malah membuatnya tampak lucu, “Gue juga udah nggak sabar mahoan sama An—“

Si rambut merah langsung menoyornya.

“Aduh, aduh!” si pendek menjerit, “Bercanda, woy, bercanda!”

“Nggak lucu, tahu?” si rambut merah menggerutu, “Udah, ah, buruan aja kita pergi, daripada lo malu-maluin di depan umum lagi kayak barusan!”

Dengan itu, diseretnya si pendek pergi ke tempat tujuan mereka sendiri.

Kami bertiga ditinggal dalam hening.

“Mm…,” aku bergumam awkward, “Jadi…?”

“Jadi,” si hantu mengutip pertanyaanku, “Gue pergi duluan. Nggak usah kangen.”

Setelah itu, ia juga berbalik dan berjalan menuju tembok terdekat untuk dipanjat.

“Aku juga duluan, deh,” si poni Korea ikut-ikutan, “Makin aneh aja suasana di sini.”

Sambil mengerutkan kening, ia melangkah pergi.

Begitulah, aku ditinggal berdua dengan si kacamata, yang mulai detik ini akan menjadi satu-satunya partnerku dalam usaha pembebasan diri penuh keambiguan ini.

“Jadi…,” gumamku, “Kita gali… pake apa, nih?”

Ia menatapku sambil menimbang-nimbang. “Bisa, deh, cari alat dulu,” katanya, “Gue nggak keberatan ngeruk pake kuku, sebenernya. Tapi, gue yakin, lo kayaknya keberatan.”

Yakin apa kayaknya?”

“Yakin kayaknya,” jawabnya sambil meringis. “Anyways, kayaknya nggak sopan banget kalo gue nggak memerkenalkan diri dulu—mengingat udah tinggal kita satu-satunya di sini dan sebagainya.”

Aku mengangkat kedua alis. “Boleh juga.”

“Oke,” katanya. Kemudian, sambil mengulurkan tangan, ia berkata, “Gue Leo Marvel—biasa dipanggil Leo, tapi kalo lo mau manggil yang lainnya juga boleh.”[]

TO BE CONTINUED

Thank you for finishing this part of your adventure. Save your answers by taking the survey below :

See you when you are back!

Advertisements

One thought on “002 Escape Route : The Routes

Comments are closed.