003 Escape Route : The Heroes

er

Title : ESCAPE ROUTE (Rute Pelarian Diri)
Episode : 003 The Heroes (Para Pahlawan)
Release Date : 2015/12/15
Casts : You, others
Rules : Click here (Reading the rules first is mandatory / Membaca peraturan terlebih dahulu adalah wajib)
Important note : Don’t forget to take the survey after you finish this part of your game. Questions and choices will be written in red. Not understanding inside jokes is okay. Just go with the flow and enjoy! (Jangan lupa mengisi survei setelah menyelesaikan bagian permainanmu yang ini. Pertanyaan dan pilihan akan ditulis dalam warna merah. Tidak apa-apa bila kamu tidak memahami inside jokes dalam cerita. Ikuti saja arusnya dan nikmati!)

PREVIOUS EPISODE : 002 Escape Route

 

Ready to Imagine?

LET’S GO!

003

CHAPTER THREE : THE HEROES (PARA PAHLAWAN)

Rute apa yang kupilih di Chapter Two : The Routes?

  • Memanjat tembok (Klik DI SINI)
  • Menjelajahi hutan (Klik DI SINI)
  • Memasuki bangunan tua (Klik DI SINI)
  • Menggali tanah untuk mencari tahu tentang logam bertali (Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

PINTU BESI BAWAH TANAH

Ternyata benar, itu memang pintu besi.

Saat semua tanah yang menutupi sudah tergali, barulah kami mampu melihat keseluruhan pintu itu—sebuah pintu berukuran sekitar satu kali satu meter dengan permukaan berukir yang sudah karatan. Di gerendelnya yang rapuh dan tampak bisa patah kapan saja, terikat tali tambang yang tadinya terjulur keluar itu.

“Tuh, kan,” Leo bergumam puas, “Ini memang jalan rahasia yang kudu dibuka.”

“Mm…,” selaku, “Kenapa nggak kita coba lihat dulu aja dalemnya kayak gimana sebelum mutusin dengan gegabah untuk masuk?”

Leo menatapku sebentar. “Oke,” katanya, “Lo yang tarik, apa gue yang tarik?”

“Kamu aja,” jawabku langsung.

Leo tidak tampak keberatan sama sekali. Dengan cekatan, ia meraih tali itu dan menariknya kuat-kuat. Pintu tidak langsung terbuka, tentu saja. Malahan, ia tampak sangat kesulitan dalam membukanya—barangkali pintu itu beratnya berkilo-kilo, jadi bakal susah untuknya membuka dengan badan seceking itu. Tetapi, ternyata, setelah beberapa kali coba, sebuah suara kriet pelan akhirnya terdengar juga, menandakan pintu itu sudah berhasil dibuka.

Bau pengap langsung menguar keluar, menusuk indra penciumanku.

Aku menutup hidung dengan segera, tetapi Leo tampak tidak peduli. Ia membuka lebar-lebar pintu itu dan kami langsung dapat melihat tangga di bawahnya yang mengarah pada kegelapan tak berujung.

“Kamu yakin ini…,” gumamku ragu, “Jalan keluar?”

“Nggak terlalu,” jawabnya, “Tapi, otak logis gue berkata, mungkin aja. Soalnya, biasanya jalan keluar sebenarnya itu disembunyiin, dan ini memenuhi kriteria.”

Aku mengangguk, setuju bahwa perkataannya masuk akal.

“Siapa yang mau masuk duluan?” tanyaku. “Eh, kita mau masuk beneran, kan?”

Ia mengangguk. “Tapi kayaknya lo takut gitu,” katanya, “Jadi… gue aja.”

“Oke. Makasih,” ujarku setengah hati.

Ia meringis, lalu mulai berjalan turun ke kegelapan di bawah. Aku memandang dengan ngeri saat sedikit-demi-sedikit tubuhnya seperti… tertelan.

“Ayo,” ajaknya saat kepalanya sudah tinggal sedikit nongol di atas. Aku gemetaran, tetapi sadar harus ikut kalau tidak mau lumutan di atas sini. Akhirnya, aku turun di belakangnya, dan memegangi bajunya karena ketakutan.

Bau di bawah sangat tidak sedap, seperti tanah bercampur gas beracun. Leo masih tampak tenang sekali—mungkin ini ada hubungannya dengan fakta bahwa ia sudah pernah meninggal? Jangan-jangan, pancainderanya sudah tidak berfungsi lagi?

“Lorong,” ia bergumam sambil melihat ke depan—mengejutkan sekali, sebab aku tidak bisa melihat apa pun di depan.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata, dan akhirnya berhasil menyesuaikannya dengan kegelapan. Di hadapanku lorong sempit, dan lorong itu langsung menajam ke sebuah belokan yang arahnya hanya ke kiri saja. Dari belokan situ, ada cahaya kuning samar-samar yang mencurigakan.

“Ayo jalan terus,” kata Leo—suaranya bergema menakutkan. Ia berjalan duluan lagi, dan aku mengikuti.

Saat berbelok, barulah kami sadar bahwa cahaya tadi berasal dari nyala lilin.

“Siapa yang nyalain lilin di sini, ya?” gumamku sambil menatap benda itu horor. “Apa pernah ada yang masuk ke sini?”

“Lewat mana?” Leo menimpali, “Pintu itu udah terpendam setidaknya bertahun-tahun, soalnya udah ada rumput dan sebagainya di tanah yang mengeras.”

“Kalo gitu,” usulku, “Mungkin memang ada pintu lain di ujung satunya?”

“Tebakan yang paling bagus, sih, gitu,” ia menyetujui. “Kita ambil aja lilinnya dan anggep semua ini kemudahan. Gimana, Crap?”

Aku memutuskan untuk sepakat saja.

Leo yang mengambil lilinnya, karena aku tidak mau. Ia memimpin jalan dengan sangat tenang, membuatku merinding sendiri.

“Kamu nggak takut atau apa gitu, ya?” tanyaku pada akhirnya.

“Udah lama sejak gue lupa gimana rasanya takut,” jawabnya—yang mengingatkanku akan quote-quote di film horor, “Mungkin emang lebih baik begini. Gue nggak akan mati dua kali.”

Oke. Mungkin seharusnya aku tidak bertanya sejak awal, karena sekarang aku jadi tambah merasa cowok ini creepy abis.

Kami berjalan dalam waktu yang terasa bagaikan selamanya—atau jangan-jangan, memang kami akan berjalan selamanya? Lilin di tangan Leo sepertinya tidak meleleh barang semili pun, dan itu membuatku berpikir jangan-jangan lilin itu ada apa-apanya—oke, aku harus fokus pada jalan.

Kami baru tiba di belokan lain saat sudah berjalan sekiranya dua kilometer—aku tahu, jauh sekali memang. Kalau dilogika, seharusnya kami sudah berada agak jauh dari lingkaran ritual api unggun tadi. Di belokan ini, jalan melebar, dan akhirnya kami bisa melangkah berdampingan. Biarpun begitu, suasana masih sama saja seramnya dengan sebelumnya.

Lalu kami mendengar tetes air, dan jantungku langsung serasa berhenti berdetak.

“D-denger itu, nggak?” tanyaku dalam ketakutan, “Kayak ada suara air, gitu.”

“Denger,” jawab Leo dalam bisikan. “Jangan-jangan, di deket sini, ada sumber air?”

“Mungkin aja,” jawabku, “Tapi, kok… horor gini, sih?”

“Nggak, lah,” Leo menyanggah, “Ini nggak seberapa. Kita ke sana aja, daripada jalan di tempat yang gini-gini mulu, kayak nggak ada perkembangan, gitu, kan?”

“Mm… Tapi…”

“Lo mau jalan gini terus?”

“Nggak, sih.”

“Ya udah. Ayo ke sana. Arahnya dari kanan.”

Maka, kami pun berbelok ke kanan di belokan terdekat yang menyabang. Begitu berbelok, bau udara langsung berubah menjadi seperti bau oli yang dibiarkan tertutup dalam waktu lama—atau ini hanya bau comberan?

Perasaanku mendadak jadi tak enak.

“Ih,” aku buru-buru menutup hidung, “Kayak comberan.”

“Nggak kerasa, sih,” katanya santai—santai baginya, horor bagiku, “Tapi lihat, deh, di depan.”

Aku pun melihat ke depan—dan mataku langsung terbelalak. Di depanku, memang ada kolam air, tetapi langit-langitnya meninggi, dan dari atas sana, beberapa stalaktit menjulur turun seperti di film-film. Air hitam menetes dari ujung-ujungnya bagaikan pipet, mengisi kolam dan menimbulkan percik kecil air di beberapa bagian. Pemandangan itu, anehnya, janggal tetapi indah.

“Baunya tetep kayak comberan,” aku berkomentar pahit.

Leo diam.

“Eh, emang kita mau ke mana, sih, kalo udah dari sini? Mau renang, gitu?” tanyaku.

Leo mendesah berat. “Mungkin di sebelah sana ada perahu atau apa,” jawabnya, “Tapi, untuk sekarang, sih—“

Suaranya terputus oleh bunyi geraman yang berasal dari belakang kami. Geraman itu singkat, tetapi berat dan sungguh bermakna. Hawa panas menyapu tengkukku, dan aku pun langsung merinding. Kakiku mendadak gemetaran.

“I-itu…,” gumamku ngeri, “Suara apa, ya?”

Leo menoleh, lalu langsung membelalakkan mata. Ia tampak ingin menjerit, tetapi menahan diri—yang malah membuatku penasaran setengah mati. “Crap…,” gumamnya horor tanpa melepaskan pandangan pada apa pun yang sedang dilihatnya, “Jangan gerak, ya. Jangan gerak. Jangan noleh. Jangan—“

Terlambat. Aku menoleh duluan…

…dan menjerit duluan.

Di belakangku, tampak sesosok… makhluk yang besarnya kira-kira dua kali tubuhku. Bentuknya seperti semut raksasa setinggi tiga setengah meteran, dengan antena berbulu dan wajah buruk rupa yang mengeluarkan… tunggu, apa itu lendir? Kakinya beruas-ruas mengerikan dan tubuhnya dibalut cangkang keras mengilat. Tingginya hampir mencapai langit-langit—lebih tinggi lagi sedikit saja, dan dia akan meruntuhkan gua bawah tanah ini, otomatis meremukkan kami semua.

Makhluk itu… mendengus, memuntahkan lendir menjijikkan yang sejak tadi ada di wajahnya, dan rupanya lendir itu panas, sepanas minyak goreng di wajan penggorengan yang sedang menyala. Aku, yang terkena sedikit percikan, spontan menjerit-jerit kesetanan.

“Lari!” Leo berteriak, lalu langsung menarik tanganku. Kami berdua pun berlari terpental-pental tanpa bahkan takut tersandung—sebab semut raksasa itu jauh lebih mengerikan.

Si semut mengeluarkan geraman sekali lagi, dan baru kusadari bahwa bau comberan yang kuhirup dari tadi berasal dari napasnya. Ih, menjijikkan sekali—bau napas makhluk raksasa berlendir panas… apa lagi yang bisa lebih menjijikkan daripada itu?

“Ada perahu!” jerit Leo saat melihat sebuah perahu kecil terdampar di pinggiran kolam. Dalam gelap dan panik, aku tidak dapat melihat seperti apa kondisi perahu itu—barangkali tidak terlalu layak, sebab aku punya firasat, jarang ada yang menyeberang ke kejauhan sana (ke tempat yang tidak jelas apa).

“Naik, cepet!” perintahku, tidak memedulikan asumsi-asumsi mengerikan yang dibuat otakku.

“Didayung pake apa?” ia memrotes panik, tetapi naik juga karena memang tidak ada jalan lain. “Aduh, nggak ada dayung! Harus pake… tangan. Kita mau tetep naik perahu atau renang aja?”

Aku menggigit bibir dengan bimbang, sementara makhluk di belakangku sudah berdebum mendekat.

Aku harus cepat memutuskan, pikirku gelisah.

Apa yang harus kami lakukan?

  • Tetap naik perahu dan mendayung dengan tangan atau benda apa pun yang ditemukan (Klik DI SINI)
  • Berenang, tidak peduli bisa atau tidak, dan dalam atau tidak air kolam itu (Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

ANDREW DAN SAM

“Nah,” Andrew Leonardo berkata, setelah hening sejenak yang memberiku kesempatan untuk mencerna apa yang terjadi. “Sekarang kita udah ngenalin diri. Lo harusnya udah yakin sama kita.”

Aku menelan ludah, sebenarnya masih tidak yakin.

“Kalo gitu,” ia menyambung tanpa memedulikan ekspresi wajahku, “Kita langsung aja masuk ke dalem.”

Itu bukan ajakan. Itu pengumuman.

Buktinya, setelah berkata demikian, ia langsung ngeluyur masuk tanpa menunggu yang lain—bahkan Sam, temannya sendiri. Kalau aku tidak menepuk pundak cowok bernama lengkap Samuel Ethan Wijaya itu—buset, panjang juga namanya—dia bakal tetap bengong saja sepanjang waktu.

Kami berdua ikut masuk ke dalam lewat pintu yang sama sekali tidak terkunci. Dalam hati, aku bertanya-tanya apakah mereka tidak tertarik mengetahui namaku—apalagi setelah sesi perkenalan singkat yang mereka adakan secara sepihak tadi.

Pertanyaan itu tidak menunggu lama untuk dijawab. Sedetik setelah kami bertiga menapakkan kaki ke dalam ruangan, Sam sudah menyeletuk, “Eh, emang nama lo siapa?”

Kalau tidak ditanya demikian, aku pasti sudah memutar pandangan duluan untuk melihat seperti apa ruangan lembap yang baru saja kumasuki ini tampak. Hanya saja, berhubung ia bertanya, aku jadi ragu dan cuma bisa memandangi wajahnya dalam diam.

Kasih tahu, nggak, ya? Pikirku waswas, Apa mereka bisa dipercaya?

Tapi, sejak tadi, mereka yang selalu mengacau—

“Mm…,” gumamku, “Kayaknya… aku nggak bisa bilang, deh.”

Sam mengerutkan kening sambil melongo dengan wajah luar biasa kebingungan. “Hah?” tanyanya, “Kenapa?”

“Karena—“

“Lo masih nggak yakin sama kita,” Andrew melanjutkan alasanku. Aku mengangguk tanpa canggung.

Andrew mendesah putus asa—seperti lelah menghadapi tingkahku yang dianggapnya bodoh, tetapi aku tidak peduli. Yang penting aku bisa selamat dari segala ancaman. “Oke, deh,” katanya ketus, “Miss Aku-Mau-Ikut-Kalian-Berdua-tapi-Kalian-Kelihatan-Kayak-Teroris-dan-Aku-Takut-Teroris-jadi-Aku-Mau-Mikir-Sampe-Abad-Depan—Itu bisa diterima banget, kok.”

Aku meliriknya sinis—sedikit malu, sedikit tersinggung.

“Trus,” kataku, “Aku harus gimana?”

“Nggak gimana-gimana,” jawab Andrew asal, “Kita aja kalo gitu yang manggil lo sesuka hati kita, berhubung lo nolak ngasih tahu nama lo yang—paling-paling—nggak seberapa bagus.”

“Nggak per—“

“Nggak perlu?” ia menyambar, “Trus, kalo kita kepisah di sini, lo mau-mau aja gue panggil pake nama panjang yang gue kasih barusan itu? Atau lo mau gue panggil ‘Woy’ aja?”

Aku terdiam. “Nggak, sih,” gumamku.

Ia menyeringai puas. “Bagus,” katanya, “Kalo gitu, kita panggil lo Gwen.”

Sam langsung protes. “Eh, eh, enak aja mutusin sendiri!” pekiknya, “Cewek ini nggak seserem Gwen, tahu! Catherine aja—kan, dia cantik kayak Catherine.”

Andrew meliriknya garang. “Gwen.”

“Catherine.”

“Gwen.”

Catherine.”

Gwen.”

“Gue bilang Catherine, ya, Catherine.”

“Enak aja. Emang lo siapa? Gue maunya Gwen.”

Catherine.”

“Gwen!”

“Ya udah, Joshua!”

Jeda sedetik, lalu Andrew langsung hening cipta.

“Sam,” katanya mengambang setelah lama terdiam, “Mau tahu sesuatu?”

Sam mendengus dengan gaya menantang. “Apa?”

Andrew diam lagi sejenak, lalu tiba-tiba menyeringai. “Lo tumben pinter,” katanya puas. Lalu, ia berbalik menghadapku dan mengumumkan dengan bangga, “Mulai sekarang, nama lo Joshua. Nama aliasnya ‘si landak’. Lo harus terima, atau—“

“Tunggu,” aku menghentikannya, “Joshua bukannya nama cowok?”

“Joshua yang gue kenal,” Andrew menjawab, “Cewek, tuh.”

“Ngawur lo!” Sam langsung menyanggah, “Joshua cowok, tahu! Orang dia itu macan bunting jantan—”

“Bagi gue, dia cewek,” Andrew berkata santai, “Lo juga dilarang protes. Pokoknya, selama perjalanan ini, lo dan Joshua harus nurut sama gue—karena ini menyangkut hidup dan mati gue, dan walaupun menyangkut hidup lo juga, gue nggak peduli.”

Sam membuka mulut hendak membantah, tetapi Andrew sudah menyela lagi.

“Dan lagi, Sam,” katanya, “Di mana-mana, yang namanya macan bunting itu pasti betina, dasar Oon.”

Sam langsung tutup mulut.

Aku hanya bisa menyaksikan kedua orang itu bungkam sambil berusaha menenangkan hati dan pikiran. Ya Tuhan, pikirku, Semoga aku nggak salah ikut mereka.

“Oke,” Andrew akhirnya buka suara, “Masalah nama udah selesai. Sekarang, kita lihat di mana kita berada…”

Mau-tidak-mau, kalimat terakhirnya itu membuatku ikut memutar pandangan. Rupanya, kami sedang berada di dalam ruangan berlangit-langit tinggi dengan pilar megah di beberapa bagian, seperti ballroom pesta. Ruangan ini gelap karena tidak ada lampu yang menyala, tetapi entah bagaimana, kami masih dapat melihat keadaan sekitar. Di hadapan kami, membentang sebuah tangga yang dasarnya lebar, kemudian menyempit. Tangga itu dilapisi karpet yang tampak mahal, tetapi sudah berdebu dan compang-camping. Pegangan tangga berkilat-kilat mewah, menunjukkan tempat ini dulunya merupakan lokasi pesta orang kaya—bangsawan kerajaan, barangkali. Bahkan, lampu kristal raksasa yang tergantung di atas langit-langit pun tidak bisa membohongi sejarahnya.

Tapi, bukankah bagian luar bangunan ini tadi berupa…

“Kok…,” Sam bergumam, “Beda, ya, sama tampak luarnya?”

Berhubung Andrew berdiri membelakangiku, aku tidak bisa melihat ekspresi wajah seperti apa yang ia tampakkan. Tetapi, saat menoleh kemari, ia sudah menyeringai lebar. “Cocok, lah,” katanya, “Menurut gue juga lebih masuk akal kalo pelaku semua kejadian ini memilih tempat kayak gini—yang mewah, walaupun udah terbengkalai.”

“Mm…,” gumamku, “Trus, kalo emang gitu, kenapa kayak nggak ada tanda-tanda keberadaan orang lain, gitu, di sini?”

“Santai, bro,” Andrew mengibaskan tangan, “Lo udah nggak sabar banget, ya, kepingin ketemu dia? Gue hargai, deh, semangat lo untuk menghadapi ajal.”

“Kukira kita nggak ke sini untuk menghadapi ajal.”

“Sama aja, lah,” balasnya, “Mirip.”

“Tunggu, deh,” Sam menyela, “Tadi, tuh, ada sinar lampu dari mana, sih—kok gue nggak lihat, ya?”

“Atas,” jawabku, “Tapi waktu kita ke sini lagi, nggak kuperhatiin, sih, masih ada atau nggak.”

Andrew menatapku singkat. “Sama,” akunya, “Gue juga nggak merhatiin. Tapi, berhubung udah sampe di sini, mending kita naik, deh, ke tempat apa pun yang ada di atas.”

Aku diam. “Ya, deh,” jawabku pada akhirnya, “Yuk, naik.”

“Naik pake… tangga gede itu?” Sam bertanya goblok.

“Nggak,” jawab Andrew datar, “Terbang.”

Lalu, kami terbang ke lantai atas.

Bohong, ding. Setelah itu, terjadi adegan kekerasan yang tidak pantas diceritakan di sini, kemudian kami bertiga naik ke atas dalam diam, diiringi omelan-omelan yang sudah jelas asalnya dari mana.

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

AKU MELIHAT DIRIKU SENDIRI

“Aku lihatnya…” gumamku ngeri, “Diriku sendiri…

Theo menahan napas selama beberapa detik, hingga keheningan itu berubah menyiksa. Aku pasti sudah mengubur diri kalau tidak ingat ada urusan yang lebih mendesak untuk diselesaikan—dan bahwa mengubur diri itu sebenarnya susah plus tidak efisien.

“The…,” panggilku lirih, “Emang kamu… lihat siapa?”

“Aku lihat diriku sendiri juga,” jawabnya dalam sebuah gumaman. “Tapi, diriku yang ini… apa, ya—aneh?”

Aku berjalan menghampirinya dengan kaki gemetaran. Semakin dekat, aku semakin dapat melihat sorot kebencian dari… diriku yang itu. Ia menatap balik kepadaku seolah-olah aku ini makhluk hina yang sudah seharusnya disingkirkan dari muka bumi—tidak ada keterkejutan. Baju putihnya adalah bajuku, yang sudah tidak pernah lagi kupakai akhir-akhir ini. Raut wajahnya keras—semua seolah-olah ialah yang telah merencanakan semua ini.

“Siapa kamu?” tanyaku, mencoba terdengar tenang walaupun sebenarnya sudah kepingin menjerit.

Orang itu diam saja, begitu juga Theo.

“Jawab aku,” kataku, “Siapa kamu?”

Aku menatapnya tepat ke dalam kedua manik mata, dan tertegun menyadari betapa dalamnya mata itu.

Apa mataku selalu seperti itu? Pikirku, Apa aku selalu semengerikan itu?

“Ini nggak bener,” Theo bergumam, “Tunggu, deh. Jangan terlalu terbawa secara emosional dulu. Aku juga lihatnya aneh gitu.”

Bukannya aku tidak sadar bahwa perkataan cowok itu benar. Aku seharusnya bisa mengendalikan diri. Tetapi, pikirku, Mata itu…

“Na?” Theo memanggil-manggil, “Na, jangan lihat matanya, Na.”

Terlambat.

Aku merasakan sesuatu dalam diriku tersedot keluar, makin lama makin kuat, hingga akhirnya sekujur tubuhku terasa lemas dan mataku berkunang-kunang. Aku tidak lagi bisa merasakan bobot tubuh—kakiku seperti… mengambang. Aku mendengar Theo meneriakkan namaku beberapa kali, tetapi hanya itu saja.

Lalu, tiba-tiba, pemandangan di hadapanku seperti… pecah, dan aku terjerumus ke dalam kegelapan.

Aku ingin bergerak, tetapi tidak bisa. Rasanya seperti kehilangan kontrol terhadap tubuhku sendiri.

Atau mungkin ini bukan tubuhku? Pikirku dalam kengerian. Kalau ini tubuhku, yang tadi itu siapa?

Ada beberapa menit aku bertahan dalam kegelapan. Lalu, sesuatu yang tak terlihat seperti menyentakku dari dalam, dan aku…

terbangun.

Kedua mataku membuka dalam satu hentakan cepat dan rasa pusing langsung menyerang kepalaku.

Aku masih tidak bisa bergerak, tetapi untuk alasan lain. Saat memandang sekeliling, kusadari aku sedang berada di dalam sebuah ruangan serba putih, dengan langit-langit rendah dan lantai keramik bersih. Aku diikat ke sebuah kursi menggunakan semacam sabuk, dan sekujur tubuhku—dari kepala hingga kaki—disambungkan oleh kabel-kabel ke serangkaian mesin.

Tidak jauh dariku, aku dapat melihat lima orang lainnya—si rambut merah, si hantu, si pendek, si kacamata, dan… demi Tuhan, Theo—juga diikat ke kursi serupa. Mata kelima orang itu tertutup rapat, dan tubuh mereka kaku.

Ini mungkin manipulasi pikiran.’

Perkataan Theo tadi terngiang-ngiang di benakku.

Manipulasi pikiran, ya? Pikirku, Ternyata benar…

Jantungku langsung berdebar kencang, dan otakku kacau. Adegan-adegan di film Divergent berkelebatan di sana, seperti kaset rusak yang tidak bisa dimatikan sekeras apa pun aku mencoba. Aku ingin berteriak, tetapi rasanya tindakan seperti itu tidak bijak sama sekali. Lagipula, ada kemungkinan siapa pun di luar sana sedang memantau kami—walaupun bukan lewat dinding kaca seperti di Divergent, karena jelas-jelas di sini tidak ada dinding kaca.

Aku baru berpikiran hendak mencari ide lain saat tiba-tiba kudengar seseorang memanggilku.

“Hana?”

Rasanya jantungku hampir copot.

Aku menoleh dalam gerakan perlahan-lahan, dan tatapanku berserobok dengan kedua mata Theo yang terbuka.

Ia sedang menatapku dengan tatapan yang sulit dijelaskan, dan aku juga tidak tahu sejak kapan ia memeroleh kesadarannya kembali. Yang jelas, aku mendapati diriku membisikkan namanya. “Theo…

“Manipulasi pikiran,” katanya dengan suara serak, “Bener, kan?”[]

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

JERRY

“Nama lo siapa?” Jeremy Ericson—si hantu yang rupanya punya nama keren itu—bertanya.

Aku terdiam. Benakku masih sibuk menimbang-nimbang apakah orang ini bisa dipercaya setelah semua tindakan mendadaknya yang aneh itu.

Jangan, pikirku, Lebih baik jangan.

“Namaku…,” aku bergumam mengambang, “Maaf, aku nggak akan bilang. Kamu bisa panggil aku apa pun, deh—sesukamu aja.”

Jerry langsung mengerutkan kening tidak senang. “Oh,” gumamnya terpaksa, “Gitu? Jadi, lo minta gue… menamai lo karena menurut lo, gue nggak bisa dipercaya?”

“Bukan gitu,” sahutku langsung—sadar bahwa mencari masalah bukan pilihan bijak saat bersama cowok berandal ini. “Ada alasan khusus.”

“Berpikir kalo gue nggak bisa dipercaya itu juga alasan khusus, tahu?” katanya sengak. Aku menunduk dalam-dalam. Ia mengembuskan napas keras-keras, seperti meneguhkan diri untuk menghadapiku secara terpaksa. “Oke,” katanya pada akhirnya, “Berhubung lo yang minta, gue akan memanggil lo sesuka hati gue.”

Aku mendongak, menunggunya melanjutkan.

Sebuah seringai terbentuk di wajah pucatnya hampir seketika. “Maaf,” katanya, “Gue lupa, gue nggak punya hati. Jadi, gue akan panggil lo Miyabi.”

Aku membelalakkan mata. “Ya ampun!” pekikku, “Kok… Miyabi, sih?”

“Mikir apa lo?” dengusnya, lebih terdengar gembira daripada sinis, “Miyabi itu singkatan dari Mie Ayam dan Babi. Jadi, berbahagialah karena lo cuman setengah haram.”

Astaga, pikirku, Cowok ini sakit jiwa.

“Kenapa harus Miyabi?” protesku, “Kan terdengar negatif banget gitu, lho.”

“Karena gue suka Miyabi,” jawabnya tanpa dosa, “Maksud gue, Mie Ayam dan Babi. Lagian, cuman itu yang terlintas, soalnya gue lagi laper. Kecuali lo bisa cariin makanan yang seenak Miyabi, mending lo diem aja dan terima itu—hitung-hitung lo yang minta dinamain, kan?”

Aku menelan ludah. “O…ke, deh?”

Ia menyeringai. “Nah, gitu,” katanya bangga. “Sekarang, kita pikirin ini, nih : emang kita mau manjat pake apa?”

“Lah,” aku bergumam, “Kirain kamu tahu, gitu? Kan kamu yang usul.”

“Tadi, kan, gue udah bilang,” katanya, “Kalo nggak pake tali, kita ‘cari ide lain.’ Nah, sekarang, talinya nggak ada. Jadi, kesimpulannya—“

“Kesimpulannya, ini Mission Impossible,” sahutku emosi, “Lagian, kok bisa yakin banget nggak ada tali, sih?”

“Yakin, lah,” jawabnya, “Kalo ada pun, letaknya pasti di tembok belakang hutan. Kecuali lo mau ikut si… tukang tidur dari Korea itu, kita harus nyari benda lain buat manjat.”

“Tunggu, deh,” selaku, “Kok bisa kesimpulannya jadi gitu?”

“Karena gue berpenglihatan super, dan sejak tadi, gue udah lihat kesana-kemari di sepanjang tembok yang kelihatan, dan semuanya nihil,” jawabnya santai.

“Kalo di tembok yang nggak kelihatan?”

“Kalo nggak kelihatan, nggak bisa dipanjat, lah.”

“Oh,” gumamku, “Bener juga.”

“Jadi,” ia berkata, “Kesimpulannya, kita harus cari ide buat manjat tembok ini. Tapi, sebelum itu, kita harus observasi dulu keadaan di luar itu kayak apa.”

Aku mengangguk-angguk. “Nah,” kataku, “Itu caranya gimana?”

“Berhubung penglihatan gue super—seperti yang udah gue bilang tadi,” Jerry menjawab langsung. Sebuah seringai lain yang jauh lebih lebar terbentuk lagi di bibirnya, “Gue udah nemu satu cara selagi lo sibuk terkaget-kaget mendengar nama baru lo sendiri.”

“Oh, ya?” gumamku, “Gimana?”

Cowok itu menunjuk ke satu titik di kejauhan, di bagian bawah sebuah sisi tembok yang tertutup rerumputan. “Di situ,” katanya misterius, “Ada lubang. Untuk petunjuk selanjutnya, bakal lo dapetin kalo lo ikut gue jalan ke sana.”

Aku memiringkan kepala dengan bingung.

Ide macam apa yang dimiliki cowok ini?

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

SUARA NYANYIAN DI HUTAN

Rasanya aku kepingin menjerit.

“Ayo,” Theo menarik tanganku dengan tergesa-gesa, “Kita harus terus.”

“T-tapi—“

“Ada sesuatu,” katanya, “Yang mau aku buktiin di sana.”

Ada beberapa meter lagi kami berjalan, hingga akhirnya langkah kami berhenti di depan sebuah tanah lapang yang hampir tidak ditumbuhi pohon, kendati pepohonan di sekelilingnya sangat rindang—mengingatkanku akan lingkaran ritual api unggun (kecuali bahwa bentuknya tidak lingkaran dan tidak ada api unggun).

Suara-suara itu masih terdengar, bahkan semakin jelas dan jelas, dan sampai di sini, aku baru yakin bahwa asalnya pasti dari tanah lapang di hadapan kami.

Theo sepertinya juga mendapat gagasan yang sama, sebab ia langsung mengisyaratkan agar aku diam—padahal, tidak usah disuruh pun, aku juga sudah tahu kalau menimbulkan suara bakal menjerumuskan kami ke dalam masalah yang entah apa. [You found a lucky item! Click HERE for more information]

“Ini mencurigakan banget,” bisiknya dalam suara amat pelan yang hanya dapat kudengar karena aku berdiri sangat dekat dengannya. “Nggak ada orang di sana, tapi suaranya dari sana.”

“Mungkin kita harus ke sana?” usulku asal.

Ia mengeraskan rahang. “Barangkali,” gumamnya, “Di The Hobbit, peri-peri itu menghilang kalo dideketin. Tapi, berhubung ini bukan The Hobbit, mungkin aja kita yang diharapkan ngedeketin siapa pun yang ada di sana.”

“Tunggu, deh,” selaku, “Kukira kamu nggak percaya hantu?”

Ia mengangkat sebelah alis. “Memang,” jawabnya ringan, “Aku juga nggak bilang kalo yang ada di sana itu hantu.”

“Jadi,” aku bertanya lagi, “Kalo peri, kamu malah percaya?”

“Nggak juga,” jawabnya, “Tapi, aku punya perasaan kalo ini bukan di… dunia kita.”

Aku mengerutkan kening. “Hah?”

“Sejak awal, aku udah ngerasa bahwa konsep ‘diculik dan diisolasi’ itu nggak masuk akal. Kalau pun kita diculik dan diisolasi, nggak mungkin di tempat kayak gini. Pasti di ruangan apa, kek, gitu, yang lebih modern dan sesuai zaman. Tapi, kita di sini, di tempat yang lebih mirip setting film-film distopia, dan itu nggak mutu—apalagi, di sini nggak pernah terang dan sebagainya. Satu-satunya penjelasan adalah—“

Parallel universe?” usulku asal sekali lagi.

Ia memicingkan mata. “Aku nggak yakin kamu beneran ngerti konsep apa yang lagi kamu omongin sendiri,” sindirnya tajam, “Aku baru mau ngomong—satu-satunya penjelasan adalah… ini mungkin manipulasi pikiran.”

Sekali lagi, “Hah?”

“Semua ini,” ia menunjuk sekitar, “Manipulasi pikiran, menurutku. Karena memang bisa orang menciptakan ilusi kayak gini dari manipulasi pikiran—kayak di Divergent, di mana aslinya, sih, kita disambungin sama alat-alat berteknologi canggih.”

Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Oke, pikirku, Rupanya cowok ini cerdas, walaupun tampangnya tampak malas hidup begitu.

“Jadi,” aku menyimpulkan, “Menurutmu, nggak masalah apa yang kita lakukan di sini, kita tetep bakalan selamat?”

“Aku nggak bilang gitu,” katanya, “Cuman, ya, kataku, kita jangan terlalu panik di sini. Kalo emang bener semua cuman settingan dan kita panik banget, bisa-bisa kita nggak bangun.”

Aku mencernanya sejenak. “Jadi,” kataku lagi, “Sejak tadi, kamu bersikap sangat tenang juga gara-gara itu?”

Exactly,” jawabnya, “Aku udah punya pemikiran seperti ini dari awal bangun tadi, jadi aku nggak terlalu musingin bahaya masuk hutan dan sebagainya. Aslinya, sih, aku nggak setenang ini juga.” Lalu, ia menyeringai. “Aku mungkin lebih seperti cowok-cowok tadi daripada yang kamu kira.”

Aku ternganga.

“Trus, ya,” tanyaku sekali lagi, “Kok kamu milih masuk ke hutan daripada manjat tembok atau semacamnya?”

“Kalo manjat tembok yang tingginya segitu,” katanya, “Ada kemungkinan kita bakal diserang di tengah-tengah, dan nggak mungkin hal itu nggak bikin kita panik. Semua orang pasti lebih takut, kan, kalo berada di atas ketinggian begitu selagi menghadapi bahaya?”

Aku terdiam.

“Oke,” katanya, memutuskan bahwa topik ini harus disudahi, “Sekarang, anggep aja si pelaku settingan suka The Hobbit. Kita ke sana, lalu kejutin siapa pun yang ada dan tangkep dia.”

“Buat…,” gumamku mengambang, “Buat apa, tuh?”

“Kita lihat,” jawabnya, “Apa bener semua ini hanya manipulasi pikiran.”

Aku menelan ludah. Dalam hati, timbul keraguan yang tidak terelakkan bahwa kami mungkin bakal menghadapi bahaya. Tetapi, cara Theo mengungkapkan pemikirannya yang brilian entah mengapa memberiku keberanian. Ia sangat yakin, dan mungkin saja semua itu benar. Sebab, apa lagi penjelasan yang masuk akal?

“Oke,” aku menyetujui pada akhirnya, “Ayo kita ke sana.”

Dan begitulah, kami berjingkat-jingkat dengan hati-hati, semakin mendekati tanah lapang. Lalu, dalam tiga hitungan, kami melompat bersama-sama ke dalam area, dan…

…pemandangan di sekitar kami berubah dalam sekali kedip.

Mendadak, langit menjadi terang, dan angin kencang berembus entah dari mana. Suasana hutan yang tadinya menyeramkan menjadi… aneh. Aku bisa melihat bunga-bunga bermekaran di dekat deretan pohon yang saling tubruk—yang sebelumnya hanya tampak hitam kelam, dan bunyi cicit burung terdengar samar di kejauhan. Garis sinar matahari menerobos masuk lewat sela-sela daun, membuatku bisa melihat sekitar—termasuk wajah Theo yang ternyata lebih putih daripada yang kukira—dengan jelas.

Suara nyanyian itu masih ada, tentu saja. Tetapi, kali ini, lagunya berubah. Ini lebih terdengar seperti lagu-lagu soundtrack film Disney yang serba… princess.

“Mm…,” aku bergumam awkward, “Kok, freak, ya?”

Theo mendengus. “Udah kuduga,” katanya, “Semua ini memang bener manipulasi pikiran. Nggak mungkin, kan, settingnya bisa berubah secepet ini kecuali otak kita… diapain, gitu?”

Aku bergumam setuju. “Trus,” kataku, “Kita masih mau nyari… orang buatan yang nyanyi ini?”

Theo menatapku datar sejenak. “Masih,” jawabnya pada akhirnya, “Firasatku bilang, orang itu ada, walaupun nggak nyata. Dan orang itu ada di sekitar…”

Perkataannya itu terhenti saat kami sama-sama melihat sekelebat warna putih di antara pepohonan—seperti seseorang yang melesat berlari. Aku langsung merapat kepada Theo, lalu berbisik, “Di sekitar… sana?”

Ia menoleh menghadapku, lalu mengangguk yakin. “Merah-merah itu… kita kejar dia.”

“Tunggu,” selaku bingung sebelum ia betulan melompat berlari, “Merah-merah? Nggak ada merah sama sekali, tuh.”

“Baju orang itu,” katanya, “Merah, kan?”

Aku menggeleng. “Yang kulihat putih,” akuku. “Kok, kamu bisa lihatnya merah?”

Kami saling tatap selama beberapa detik yang super horor.

“Pokoknya,” katanya mengambang, “Kejar aja, deh.”

Begitulah, ia langsung berlari ke arah merah-merah yang dilihatnya, dan aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti. Kami berdua melesat melawan arah angin, hingga akhirnya bisa kulihat kembali orang berbaju putih yang tadi menampakkan diri. Orang itu hanya beberapa meter di depan kami, dan larinya tidak begitu cepat. Jadi, acara kejar-kejaran ini tidak berlangsung terlalu lama. Beberapa detik kemudian, Theo sudah berhasil menangkapnya, dan ia memekik tertahan.

Orang itu menoleh, lalu, untuk sedetik, jantungku serasa berhenti berdetak.

Itu, pikirku dalam ngeri, Itu, kan…

Pegangan Theo terlepas. Matanya terbelalak lebar-lebar, dan ia menoleh menghadapku pelan-pelan. “Orang ini…,” gumamnya, “I-ini…”

“Siapa?” tanyaku dengan suara serak. “Siapa dia?”

“Kamu…,” gumamnya, “Lihatnya siapa?”

Aku langsung menelan ludah.

Siapa orang yang kulihat?

==========================================================================================================================

AKU DAN LEO MENAIKI PERAHU

Tanpa berkata apa-apa, aku melompat masuk ke perahu, tepat di belakang Leo yang sudah siap-siap berdiri karena mengira aku akan mengusulkan agar kami berdua berenang saja.

“Buruan!” pekikku, “Kita naik ini aja!”

Leo kelabakan sebentar, kemudian ia segera duduk lagi dan mulai mendayung dengan tangan. Perahu bergerak sedikit, tetapi rasanya sama saja dengan diam, dan hal itu langsung membuatku ketar-ketir. “Cari benda apa pun yang bisa dijadiin dayung!” cowok itu memerintah.

Aku menggigit bibir bawah sampai hampir berdarah saking takutnya. Dalam kepanikan, mataku mulai mencari-cari.

Makhluk di belakang kami sudah semakin mendekat. Geraknya memang tidak secepat makhluk normal kebanyakan—terlebih karena ukuran tubuhnya jauh di atas rata-rata. Tetapi, bukan berarti kami aman. Semburan lendir panas dijamin masih mampu membakar kami berdua, dan kakinya—kalau menyambar perahu kami sedikit, bakal tamat riwayat beserta seluruh masa depan.

Kukira pencarianku tidak akan membuahkan hasil, sampai tiba-tiba mataku menangkap sesuatu di dasar perairan—akibat riak yang ditimbulkan tetesan air dari stalaktit. “Di bawah ada sesuatu!” pekikku, lalu mencoba meraih benda itu dengan tangan, tetapi rupanya perairan ini memang dalam. Malah, tanganku jadi nyaris beku terkena air dingin. “Nggak nyampe!” laporku.

Leo menoleh dalam panik. Kacamatanya berkilat di kegelapan, dan hal itu membuatnya tampak berbahaya. “Nggak ada pilihan lain,” katanya misterius, “Gantiin gue dulu.” Setelah berkata demikian, ia melepas kacamata dan meletakkannya di dasar perahu yang terlindung dari air, kemudian—

—holy crap, melompat masuk ke air!

Si semut raksasa memuntahkan satu lagi semburan lendir panasnya, dan aku menjerit. Segera kudayung perahu dengan tangan, walaupun efeknya tidak begitu terasa. Saking tergesa-gesanya, tanganku sampai menimbulkan bunyi kecipak-kecipuk yang meyakinkanku bahwa aku mendayung dengan salah.

Untung Leo tidak lama-lama amat. Rupanya ia cukup jago berenang. Buktinya, baru semenit saja, kepalanya sudah nongol lagi di permukaan. Kabar buruknya, ia tampak hampir kehabisan napas. Ia menumpukan kedua tangan di salah satu sisi perahu, dan aku langsung berinisiatif membantunya naik. Tetapi, bukannya menerima uluran tanganku, ia malah melepas tumpuannya pada salah satu tangan dan mengangkat tangan itu tinggi-tinggi.

Barulah saat itu kulihat bahwa ia sedang memegang tongkat kayu sepanjang satu setengah meter.

Tongkat itu ia ‘tancapkan’ pada bagian dalam kapal, tepat di depanku. Lalu, digunakannya tongkat sebagai tumpuan untuk naik. Tidak lama kemudian, kami sudah duduk berdua lagi di atas perahu, dengan dayung kayu yang menjadi satu-satunya harapan.

Mau tahu kabar buruk lagi? Aku, sih, malas amat.

Tapi, well… si semut raksasa sudah tinggal tiga langkah jauhnya dari kami, dan kalau itu kurang buruk, aku pasti sudah butuh dokter jiwa.

“Buruan!” teriakku, “Kita bakal mati!”

“Sabar, sabar!” ia menyahut. “Gue, nih, yang kerja di sini! Lo jangan ngeribetin dulu! Malah nggak fokus guenya!”

Aku langsung bungkam.

Leo berusaha mendayung secepat mungkin, dan kali ini, perahu kami bergerak lancar, meluncur di atas perairan hampir tanpa halangan. Si semut raksasa meraung, dan aku langsung membantu dayungan Leo dengan tangan. Setiap beberapa detik sekali, kutolehkan kepala untuk melihat pengejar kami, tetapi rupanya, ia tidak bisa masuk ke dalam air. Baru terkena sedikit saja, sosoknya sudah melompat ke belakang—menimbulkan bunyi debuman yang tidak enak didengar.

“Kita selamat,” umumku dengan lega. [You found something! Click HERE for more information]

“Selamat apanya?” Leo menyahut sengit. “Apa lo nggak lihat—di depan kita?”

Perkataan itu membawaku kembali ke kenyataan secepat kilat. Aku menoleh ke depan dan melihat kabut hitam pekat memblokir pandangan kami. Kabut itu tidak terlihat saat kami berada di belakang tadi, tetapi itu pasti gara-gara kami memang tidak bisa melihat sejauh itu di sana.

Uh oh…” gumamku. Jantungku berdebar keras sekali. “Di dalem situ… ada apa, ya?”

Rahang Leo keras. “Nggak tahu,” jawabnya, “Tapi otak logis gue berkata, bukan sesuatu yang menyenangkan.”

Kami memasuki kabut sesaat setelah itu, dan aku langsung dapat mencium bau belerang yang sangat kuat. Mataku tidak bisa menangkap apa-apa, dan aku langsung mengalami perasaan yang sama dengan saat naik wahana black hole di tempat-tempat wisata air. Leo duduk di bagian depan perahu, sehingga ia keluar duluan dari dalam kabut. Baru keluar sebentar saja, ia sudah mengeluarkan suara menahan napas.

“Crap…” gumamnya horor, “Ini… lo… bakal mati, deh, kayaknya.”

Tepat setelah itu, bagian belakang perahu keluar dari kabut, dan aku akhirnya bisa melihat lagi. Di hadapanku, langit-langit meninggi, dan pemandangannya pasti lumayan bagus kalau saja tidak ada… tidak ada…

Ya ampun, pikirku panik, Air terjun!

Perahu kami—yang beberapa detik lalu masih berlayar dengan lancar tanpa halangan—kini mengarah langsung ke air terjun ekstra deras yang menajam ke bawah.

Holy crap,” aku menyebut namaku sendiri, “Kok… bisa ada air terjun di bawah tanah, sih?!”[]

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

 

LANTAI-LANTAI DI BANGUNAN TUA

Lantai dua bangunan itu rupanya tidak seperti bayanganku—sama sekali.

Daripada rumah bangsawan kaya yang punya ballroom pesta super mewah, lantai ini lebih tampak seperti… sekolah. Semua kemewahan di lantai satu langsung lenyap begitu kaki kami menapak di anak tangga terakhir.

Tangga itu ada di salah satu sisi lorong gelap dengan lantai keramik putih. Jendela-jendela berdebu yang tampak mengenaskan berderet di hadapan kami, di sisi lorong yang satunya. Kami tidak bisa melihat apa-apa dari sana, tentu saja, karena sisi yang itu pastilah menempel dengan tembok raksasa enam puluh meter itu. Tetapi, lorongnya sendiri, sih, seram.

“Mm…,” Sam bergumam, “Ini tempat apa lagi, ya?”

“Kayak sekolah,” Andrew mengungkapkan pemikiranku, “Nggak sesuai sama lantai satunya banget, sih.”

“Kita mau terus jalan?” tanyaku.

“Iya, lah,” Andrew melirik tak senang, “Emangnya lo mau gimana—turun lagi dan keluar, trus mengisolasi diri di dalem lingkaran ritual sampe mati?”

Aku buru-buru menggeleng. “Nggak,” jawabku, “Kita terus aja.”

“Bagus,” desisnya singkat.

Kami pun berjalan lagi memasuki sekolah gadungan itu. Langkah kaki kami berkeletak-keletuk, menggema di sepanjang dinding. Selang beberapa meter, kami melihat sebuah pintu terbuka di sisi kiri. Tanpa aba-aba, aku langsung melongok ke dalamnya.

Mataku serta-merta terbelalak.

Ini…

“Ruang kelas,” Andrew—lagi-lagi—menyuarakan pemikiranku.

Ada meja-meja ditata rapi di sana—semuanya sudah berdebu, patah di banyak bagian, dan tidak layak pakai, tetapi masih tampak jelas. Dua buah blackboard membentang di sisi depan, saling menempel. Ada corat-coret kapur di sana, tetapi, daripada materi pelajaran, corat-coret itu lebih mirip hasil karya psikopat yang sedang stres—aku bahkan melihat gambar spiral mahabesar yang langsung mengingatkanku akan film Ju-On.

Ruang kelas itu benar-benar membuatku kehabisan kata-kata.

“Njir,” Sam bergumam, “Lebih jelek daripada kelas gue, bro.”

“Kalo kita…,” selaku dengan suara serak, “Lanjutin perjalanan aja gimana?”

Andrew masih melihat ke dalam sejenak, dengan sepasang matanya yang mencorong tajam. Tetapi, beberapa detik setelahnya, rahang cowok itu mengeras, dan ia mengangguk. “Mending gitu aja,” gumamnya dalam bisikan lirih.

Kami pun berbalik dan berjalan terus.

Di sepanjang jalan, ada ruangan-ruangan serupa, tetapi tanpa mengecek isinya saja, kami sudah tahu—sehingga tidak repot-repot berhenti untuk melihat lagi. Baru di ujung lorong setelah berbelok, pemandangan berganti.

Kali ini, kami dihadapkan pada sebuah ruang musik terbuka, dan tidak ada jalan lain selain masuk.

“Njir,” Andrew mengumpat, “Buntu, man.”

“Tapi ini bukan lantai teratas, kan?” sahutku buru-buru, “Bangunan ini kelihatan tinggi banget dari luar. Pasti ada satu atau dua lantai lagi, kan?”

“Ya gue juga nggak bilang ini lantai teratas, Josh,” Andrew mendesis, “Gue hanya bilang, mau-nggak-mau, kita harus masuk untuk cari tahu sendiri.”

“Mm…,” Sam langsung ketar-ketir, “Lo… lo duluan aja, deh, Ndrew.”

“Emang gue mau duluan,” Andrew menjawab cuek, kemudian memasuki ruang musik gelap gulita tersebut seperti tidak punya rasa takut. Aku menunggu Sam mengikuti, tetapi rupanya cowok itu malah pura-pura tidak tahu dan sok bersiul santai.

Sialan, pikirku, Aku harus masuk duluan.

Menyadari tidak ada pilihan lain—dan bahwa cowok ini akan terus berdiri di sana dan bersiul-siul sampai lumutan kalau kemauannya tidak dituruti, aku pun masuk terlebih dahulu.

Di dalam dingin—lembap dan bukannya pengap. Lantainya karpet yang sudah kotor, rusak, dan jamuran—membuat kakiku langsung terasa gatal dan risih. Ada gitar yang sudah putus senarnya, ada drum yang sudah bolong-bolong seperti habis ditinju Mike Tyson, ada piano klasik yang… yah, sudah digerogoti rayap. Semua itu tampak luar biasa menjijikkan.

“Itu tangga apa, ya?” Sam berbisik ngeri.

Baru saat itu kusadari, di sudut dalam ruangan, ada sebuah tangga gantung yang menyerupai tangga loteng, naik langsung ke kegelapan di atas bagian langit-langit yang berlubang.

“Kita nggak punya pilihan lain, kan?” Andrew mulai berjalan mendekati tangga itu—barangkali saraf rasa takutnya sudah putus, “Selain naik dan cari tahu sendiri tangga apa ini—lagian, Joshua tadi juga udah bilang, ini bukan lantai teratas.”

Aduh, aku mengeluh dalam hati, Aduh, aduh, aduh…

Nggak mungkin aku tetap di sini. Selain sudah terbukti perkataanku sendiri benar—sehingga bakal konyol kalau malah aku yang mundur, tidak ada juga jalan lain di bangunan ini yang bisa mengarah ke mana-mana. Sam juga tidak bakalan mau kembali ke lingkaran ritual, kan?

Jadi, satu-satunya pilihan…

Aku menelan ludah dan meneguhkan diri.

Rasanya mengerikan sekali saat akhirnya kuputuskan untuk mengikuti Andrew naik. Tangga itu seolah-olah bisa putus kapan saja, dan badanku bisa jatuh menimpa alat musik apa pun itu yang ada di bawah. Tetapi, rupanya, tangga itu cukup kuat. Saat aku sudah berhasil melompat naik ke atas dengan Sam mengikuti di belakang, rasanya aku lega sekali.

Hal pertama yang kusadari di tempat baru itu adalah baunya. Bau logam dan zat-zat lain yang tidak kuketahui bercampur menjadi satu, memenuhi ruangan dengan menyeluruh—siap menyiksa siapa pun yang masuk kemari.

“Bangsat,” Andrew langsung mengumpat.

Begitu memutar pandangan, baru kuketahui bahwa perkataaan itu rupanya termasuk cukup sopan. Sebab, ruangan ini butuh lebih dari sekedar komentar ‘bangsat.’

Ini laboratorium kimia, demi Tuhan.

“Ini bangunan apa, sih? Bajingan bener!” Andrew ngomel, yang langsung terpantul oleh dinding dan bergema mengerikan—aku seperti merasa dikatai ‘bajingan’ berkali-kali oleh tembok.

Di sekelilingku, ada meja-meja panjang ala laboratorium yang berantakannya minta ampun. Beberapa gelas kimia kosong pecah di lantai, dan belingnya siap menusuk kaki. Wastafel-wastafel sudah berkarat menjijikkan. Alat-alat ukur yang terbuat dari logam menguarkan bau besi yang membuatku ingin menutup hidung secepat mungkin—dan, sebenarnya, itulah yang kulakukan.

“Astaga,” Sam menatap nanar pada pecahan-pecahan gelas kimia di lantai, “Teriakan lo… udah memecahkan gelas-gelas nggak berdosa ini.”

“Goblok! Itu, mah, udah pecah dari sononya!”

“Oh.”

“Apa ini lantai teratas?” aku bertanya—lebih kepada diri sendiri.

Andrew menggeleng. “Bukan,” jawabnya yakin. Tangannya diarahkan ke satu titik di kejauhan. “Gue yakin itu…,” katanya misterius, “Lift.

Aku mengikuti arah tangannya menunjuk—begitu juga Sam, walaupun kadang ia masih curi-curi pandang pada gelas kimia di lantai dengan tatapan sedih. Di sana, ada sebuah ruangan kecil berlampu remang-remang dengan pintu ganda. Hanya saja, pintu itu bukan pintu rapat modern, melainkan pintu besi berlubang-lubang seperti di lift-lift kuno. Di atasnya, ada indikator berbentuk busur besar dengan jarum merah yang membuktikan perkataan Andrew bahwa itu memang lift—walaupun termasuk jenis kuno yang sudah hampir punah.

“Itu lebih kayak…,” Sam bergumam, “Ruang ganti salah tempat.”

“Mana ada ruang ganti kebuka gitu?” Andrew menoyor kepalanya, “Itu lift, Sam. Tapi yang kuno.”

“Trus,” aku menyela, “Kita mau naik?”

“Lo mau ndekem di sini aja?” Andrew balik bertanya dengan sengak. Aku buru-buru menggeleng. “Ya udah,” katanya enteng, “Kita naik dan selesaikan semua ini.”

Perjalan ke lift itu seperti memakan waktu berabad-abad, sebab kami harus melangkah sangat hati-hati untuk menghindari pecahan beling yang bertebaran mengerikan. Sam terus menggerutu sambil mengatakan sesuatu seperti, “Gelas kayak gini, kan, mahal”—tetapi aku berusaha tidak memusingkannya.

Begitu sampai di lift, Andrew masuk duluan seperti biasa, kemudian aku. Lalu, Sam ikut masuk…

…dan tiba-tiba terdengar bunyi sirine meraung-raung, membelah keheningan.

“Ada apa ini?!” jeritku panik. Lantai lift di bawah kami mengeluarkan bunyi berderak seram, dan kami terguncang kesana-kemari.

“Liftnya kelebihan bobot!” Andrew mengumumkan sambil berusaha berpegangan pada dinding lift yang paling kokoh.

Sam sudah menjerit-jerit tidak keruan. “Lo, sih, Ndrew!” ia menyalahkan, “Kebanyakan makan, jadi berat, kan!”

“Bukan masalah itu, Bloon!” Andrew berkata, “Salah satu dari kita harus turun!”

“Aku aja!” aku langsung menawarkan diri, berpikir lebih baik semua selamat daripada harus mati karena ego masing-masing.

“Gue belum selesai ngomong!” sanggah Andrew, “Gue baru mau bilang, salah satu dan bukan elo!”

“Hah?” teriakku—berusaha melawan kerasnya bunyi sirine, “Kenapa?!”

“Karena lo cewek—nggak mungkin ditinggal sendiri di lab kimia serem kayak gini! Lagian, Sam itu lebih useless daripada lo, jadi dia aja yang turun!”

“HAAAHH?! Nggak mau! Dasar nenek sihir lo!” Sam protes. Mukanya merah padam. “Ogah amat ditinggal di sini sendirian, anjir! Lo, tuh, kerjanya ngebosin aja! Lo aja yang turun!”

“Karena memang ada yang harus jadi bos, Oon!” Kalau tidak sedang menumpukan hidupnya pada dinding lift, pasti cowok berambut merah itu sudah menoyor kepala Sam lagi untuk yang kesekian kalinya. “Gue harus menyelesaikan semua ini dan membongkar identitas si pelaku settingan gila itu!”

Lift anjlok turun, dan kami bertiga menjerit bersamaan.

“Cepetan turun lo dari sini!” Andrew mengusir Sam dalam ketakutan. “Atau kita semua mati!”

“Lo aja yang turun!” Sam menolak mentah-mentah, “Atau biarin aja kita mati!”

“Udah, terserah aja siapa yang turun! Nanti juga bisa naik lagi kan—nyusul, gitu!” usulku panik.

“Nggak bisa!” Sam memekik, “Ini jelas bakal jebol dalam sekali naik!”

Andrew tampak sangat depresi. “YA UDAH, DEH!” jeritnya, “Kita biarin Joshua yang milih siapa yang harus keluar—lo atau gue! Tapi, kesepakatannya, siapa pun yang dia tendang keluar, nggak boleh nolak!”

“Anjrit!” Sam protes, “Mana bisa gitu?! Itu, mah, bakal jadi subjektif!”

“Biarin aja subjektif!” Andrew menjerit, sementara telinga kami sudah hampir tuli karena bunyi sirine yang tidak berhenti-berhenti. “Toh, kalo kita sama-sama ngotot terus, kita bakal kehabisan waktu!”

“Duh…,” Sam berpikir keras sambil memindah-mindah tumpuan kakinya—takut kalau-kalau ia berpijak di tempat yang rapuh, “Oke, deh!” ia memekik pada akhirnya, “Dia pasti milih gue! Ya, kan, Josh?”

Aku menatap mereka berdua ragu-ragu. Panik dan takut bercampur menjadi satu, dipicu bunyi sirine yang bisingnya semakin menjadi-jadi. Kepalaku rasanya hampir pecah, dan aku mau menangis.

“Buruan pilih, dasar lola!” Andrew membentak, “Lima detik lagi dan kita mati!”

Batinku menjerit-jerit.

Siapa yang harus aku pilih?!

Siapa yang mau kutendang keluar?

 

==========================================================================================================================

 

LEO

“Leo Marvel, ya?” ulangku sambil menjabat tangannya, “Salam kenal.”

Aku hendak menurunkan tangan, tetapi rupanya cowok itu mencegahku. Ia menahan tanganku dan mengerutkan kening. “Gue belum kenal lo, tuh. Soalnya, lo belum kasih tahu nama lo sendiri.”

Aku menelan ludah, mendadak canggung.

Ya ampun, pikirku, Apa harus kuberitahukan namaku padanya? Apa orang ini bisa dipercaya?

Sepertinya, walaupun tampak rapi dan pintar, ia berkepribadian aneh. Aku ingat ceritanya tentang pernah disiksa hantu pembunuh dan meninggal—dan kalau hal itu belum cukup untuk menyebutnya demikian, aku tidak tahu lagi apa yang bisa.

Tampaknya Leo sadar duluan bahwa aku ragu-ragu. Ia mengendurkan pegangan tangannya, kemudian melepaskan jabatan itu. “Fine,” katanya, “Lo nggak percaya sama gue, kan?”

“Mm…,” aku bergumam, “Yah, begitulah.”

“Kalo gitu,” katanya dengan secuil keketusan dalam nada bicaranya, “Lo nggak perlu kasih tahu nama lo.”

Aku buru-buru menyahut. “Sebagai gantinya, kamu boleh manggil aku sesuka hati, kok. Serius.”

Ia memicingkan sebelah mata menatapku. “Manggil sesuka hati, ya?” ulangnya dengan nada yang creepy banget, lalu mendadak tersenyum riang. “Oke,” ia menyetujui tiba-tiba, “Akan gue panggil lo…,” ia berpikir sejenak, lalu bergumam untuk dirinya sendiri, “Holy crap—apa, ya?”

“Hah?” aku berjengit, “Holy Crap?”

Ia melebarkan mata. “Lo mau dipanggil Holy Crap?” tanyanya. Setelah berpikir sejenak, ia berkata, “Ya udah, sih, gitu aja.”

“Eh?” aku hendak protes, tetapi ia sudah menyela lagi.

“Daripada Martabak Keju?—soalnya dari tadi otak logis gue kepikirannya Martabak Keju.”

“Oh.”

“Setidaknya lo masih holy, gitu—walaupun crap.”

“Suka-suka, deh.”

“Makasih.”

Hening cipta, pikirku, Mulai.

“Kalo gitu,” Leo memecah keheningan yang baru dimulai—nggak jadi hening cipta, deh, “Kita balik, nih, ke pertanyaan awal : emang mau ngegali pake apa?”

“Pake…,” aku berpikir, “Nggak tahu.”

“Cari ranting?” usulnya. “Tapi kita harus jalan jauh sampe ke tepi hutan. Lo keberatan, nggak?”

“Nggak usah gitu, deh,” kataku. “Kayaknya nggak cuman itu solusi yang ada.”

“Trus?”

“Kan, di belakang lo persis ada hutan palsu. Ngapain jalan sampe ke hutan yang jauhnya minta ampun itu?”

“Oh,” gumamnya, “Bener juga.”

Kami tidak menyia-nyiakan sedetik pun. Setelah itu, kami langsung berbalik ke hutan dan mengambil beberapa ranting kokoh dari sana.

Begitu tiba di tempat yang sama lagi, Leo langsung berjongkok untuk mulai menggali—tampaknya benar, ia bukan tipe orang yang suka buang-buang waktu (kalau aku melakukan ini bersama orang lain—katakan saja, si rambut merah dan si pendek—pasti bakalan makan waktu setidaknya lima hari). Melihatnya berbuat demikian, aku ikut berjongkok dan menggali sisi lain menggunakan rantingku sendiri.

Rupanya penggalian itu tidak mudah. Tanah di bawah kami dapat dibilang cukup keras, sehingga butuh tenaga yang besar untuk dapat menggalinya—apalagi bagi cewek sepertiku. Leo jelas lebih cepat dalam pekerjaannya—sebab dia cowok, dan saat aku baru berhasil menyingkirkan sepetak kecil tanah, ia sudah mengeruk dua kali milikku.

Lima menit pertama penggalian, tidak terjadi apa-apa. Kemudian…

Klang!

…sebuah bunyi yang amat mencolok mengusik telingaku.

“Leo,” panggilku horor, “Itu bunyi ap—“

Rupanya cowok itu sedang menatap takjub ke bawah, ke arah galiannya sendiri. Ia tampak mendengar suara itu lebih awal, mungkin karena itu suara yang ditimbulkannya sendiri.

Apa yang ditemukannya?

“Eh, Crap,” panggilnya bersemangat, “Gali terus, deh, coba.”

“Kenapa?” tanyaku penasaran, “Ada apa di bawah?”

Ia mendongak dalam gerakan slow motion yang mengerikan. “Kayaknya,” katanya, “Di bawah ada pintu besi.”

Aku diam untuk mencerna perkataannya, lalu langsung membelalakkan mata.

Ya ampun, pikirku, Jadi, logam itu…

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

LUBANG DI TEMBOK

Rupanya lubang yang dimaksud Jerry cukup besar—bagian tembok yang terkikis entah oleh hewan atau zat kandungan tanah yang tidak kuketahui apa.

“Intip,” perintahnya semena-mena sambil menunjuk lubang itu.

Aku melongo menatapnya, “Aku? Kenapa nggak kamu aja?”

“Karena gue yang nyuruh lo,” jawabnya santai, “Lagian, nih, ya. Gue udah nemuin lubang ini buat kita. Selain itu, gue juga udah punya ide yang belum tentu lo kepikiran. Masa gue doang yang kerja, trus lo tinggal manjat seenak jidat gitu?”

Aku menelan ludah. Dia punya alasan masuk akal, pikirku dengan menyesal.

Maka, aku pun bersimpuh di atas tanah berumput dan mulai mengintip—menyingkirkan rumput liar yang memblokir lubang dari pandangan dan melongokkan kepala.

Di luar gelap—sama gelapnya dengan di dalam. Lantainya berupa lantai batu kuning kecokelatan seperti di dalam lingkaran ritual api unggun tadi. Ada pepohonan yang tumbuh tak beraturan, dan beberapa lampu jalan menyala redup. Empat atau lima warung yang sudah tutup menghias sisi kanan-kiri jalan. Selebihnya hanya bangunan-bangunan kecil mirip rumah.

“Kayaknya ini jalan perkampungan sepi,” simpulku, “Atau sudah terbengkalai.”

Ia langsung mendengus penuh kebanggaan. “Tuh, kan,” katanya, “Gue bilang juga apa. Ini jalan keluar.”

Aku berdiri lagi dan menatapnya. “Jadi,” kataku, “Rencanamu apa?”

Ia menyeringai, lalu mengacungkan sebuah sulur tanaman yang entah dari mana didapatnya. “Pernah nonton The Maze Runner beneran nggak lo?” tanyanya, “Pake sulur taneman, lah!”

“Eh, tunggu,” selaku langsung, “Itu sulur… dapet dari mana?”

“Hutan,” jawabnya, “Tadi, waktu kita jalan ke sini, gue ngambil sulur dari hutan. Dan saking menghayatinya lo bengong, lo sampe nggak nyadar.”

Raut wajahku berubah dari bingung menjadi syok dalam beberapa detik singkat. “Jadi…,” simpulku, “Kamu ngambil sulur itu?”

“Ya, lah.”

“Dan kamu cuman ngambil satu?”

“Ya, lah.”

Rasanya aku kepingin menenggelamkan diri di perairan terdekat.

“Gue sengaja,” tambahnya kurang ajar, “Biar lo itu juga kerja, nggak gue doang. Sekarang, daripada gue muring-muring, mendingan kita ke sana bareng dan ngambilin sulur sebanyak-banyaknya buat disambung-sambungin. Lo kalo nggak mau, sih, ya udah. Gue tinggal aja di sini biar terjebak sampe keluar lumut dan borok.”

“Oke, oke,” selaku langsung, “Ayo cepet aja kita ke sana.”

Dia tidak protes lagi.

Kami berdua berjalan tergesa-gesa menuju hutan terdekat—yang notabene adalah hutan palsu—untuk mencabuti sulur. Rupanya, sulur di sana panjang-panjang dan sangat banyak. Saat aku keluar dari sana tadi, aku sama sekali tidak sadar. Yang ada di pikiranku waktu itu hanyalah cepat-cepat mencari jalan keluar, jadi baru sekarang aku merasa bersyukur ada sulur yang bisa kami gunakan.

Jerry lebih ahli dariku dalam memilih sulur, sebenarnya. Dalam beberapa menit saja, ia sudah mendapatkan banyak sekali sulur kokoh yang meyakinkan, sedangkan aku baru dapat beberapa. Biarpun begitu, pekerjaan itu tetap selesai dalam waktu singkat, dan kami segera berjalan kembali menuju tembok berlubang.

“Nah,” kata Jerry, “Sekarang, kita sambung-sambungin sulur ini pake simpul. Pernah pramuka nggak lo?”

Aku diam sejenak, kemudian mengangguk ragu.

“Bagus,” ia menyeringai, “Karena gue nggak pernah.”

Hah?”

“Ya, jadi maksud gue, lo yang nali sekarang. Gue sesi duduk-duduk manis aja, tugasnya nungguin kerjaan lo selesai.”

Aku melongo, merasa dijebak. “Kok gitu?” protesku, “Trus—“

“Tenang aja,” ia mengibaskan tangan, “Kerjaan lo pasti selesai. Dan lagi, ntar gue yang bagian ngelemparin tali buatan lo ke luar—lo pasti nggak mau, kan, ngelakuin pekerjaan gituan?”

Aku jadi merasa seperti budak.

Tetapi, akhirnya, kulakukan juga suruhannya itu. Dalam diam, aku mulai membuat simpul-simpul kuat yang menghubungkan sulur menjadi berpuluh-puluh meter panjangnya. Sementara itu, Jerry ‘duduk-duduk manis’ sungguhan, sebab ia langsung menjatuhkan diri di atas tanah dan menguap santai tanpa memedulikanku.

Saat sulur sudah selesai, aku memanggilnya. Ia berdiri dengan malas-malasan dan mengecek hasil kerjaku. “Cukup, deh,” katanya, “Gue tadi udah ngambil ranting besar yang kira-kira kuat buat nahan. Sayangnya, di luar nggak ada tanah. Jadi, kita cuman bisa nancepin di dalem.”

Aku membelalakkan mata, “Trus?” tanyaku, “Di luar nggak ada penahannya gitu?”

“Nggak lah,” jawabnya masa bodoh, “Gelantungan aja kayak Tarzan. Di The Maze Runner juga gitu.”

“Ya itu, kan, di film!” pekikku langsung.

“Kalo hal itu nggak masuk akal, bakal udah flop filmnya dan dicerca sana-sini!” ia malah membalas, “Jadi, udah diem aja dan siniin talinya.”

Aku sebenarnya masih hendak protes, tetapi kusadari memang ini satu-satunya jalan keluar, jadi kuserahkan tali buatanku kepadanya dan menyaksikannya mengambil ranting untuk mengikat. Ia rupanya cukup terampil dalam melilitkan, jadi aku mulai bertanya-tanya apakah benar dari tadi ia tidak bisa membuat simpul.

Pekerjaannya itu selesai dalam waktu singkat. Ia mulai mengambil ancang-ancang dan menyuruhku mundur, kemudian melempar tali buatan itu ke atas, melewati tembok yang tingginya puluhan meter dan menggantung begitu saja. Saat aku bersimpuh dan mengintip lewat lubang sekali lagi, dapat kulihat, ujung tali sulur yang satunya sudah bergelantungan di luar. Jantungku langsung berdebar kencang.

Apa sulur-sulur ini kuat menahan bobot tubuh kami, ya? Pikirku dalam keraguan. Dan lagi, rantingnya…

Jerry ikut bersimpuh, lalu menancapkan ranting itu ke tanah hingga melesak masuk dengan kokoh. Ia memeriksa sejenak hasil karyanya, lalu menyeringai penuh kepuasan. “Nah,” katanya, “Jadi, deh, sarana kabur kita.”

Aku hanya tersenyum kecut sambil menatap tali itu tak yakin.

So,” katanya, “Siapa yang mau manjat duluan?”

Aku berpikir sejenak. “Mm…,” gumamku, “Kayaknya…”

Siapa yang akan memanjat duluan?

==========================================================================================================================

AKU MENENDANG SAM KELUAR DARI LIFT

“Kalo gitu, Sam, deh, yang turun!” jeritku dalam kepanikan.

“Hah?! Anjir! Lo mau nendang gue keluar? Lo mau terjebak sama macan bunting salah jenis kelam—ANJING, AMPUN! GUE OGAH MATI!“

Cowok itu menjerit-jerit mendengar bunyi lift yang bergemuruh dan berderak, siap menerjunkan kami bertiga ke kematian.

“Buruan, Goblok! Nggak usah kebanyakan protes!” Andrew menjerit emosi, “Kan, tadi janjinya yang dipilih harus mau! Lo keluar sana! Ntar kita mati, masuk neraka lo gara-gara kebanyakan cincong di dunia!”

Sambil berkata demikian, Andrew mengulurkan tangan untuk mendorong temannya keluar dari lift dengan tergesa-gesa. Wajahnya merah padam, dan ekspresinya keras. Tetapi, entah hanya perasaanku, atau memang ada sesuatu yang lain di sana—seperti… berat hati. Mungkin ia juga tidak sepenuhnya rela, tetapi memutuskan bahwa bertahan hidup lebih penting.

Sam jatuh terjerembap di lantai laboratorium kimia, dan ia langsung mengumpat-umpat. Begitu berhasil mengumpulkan kekuatan di kedua kaki, ia segera bangkit dan berniat masuk kembali ke dalam lift. Tetapi, belum sempat kakinya bergerak maju, bunyi sirine yang meraung-raung berhenti, dan lift tidak lagi berderak-derak seperti sebelumnya. Pintu segera ditutup oleh Andrew dengan tangan gemetar. Sam melotot.

“Woy! Buka, woy! Gue aja yang ikut! Gue mau lo suruh ngapain di sini?!” ia berteriak-teriak kesetanan sambil menggedor-gedor pintu besi lift kuno yang berlubang-lubang—tepat di hadapanku, sehingga aku jadi merinding sendiri melihatnya.

“Sam, mundur!” pekikku. Tepat setelah aku berkata demikian, lift bergerak naik dalam derak dan desis, dan Sam terpental ke belakang sambil mengumpat-umpat. Aku berjengit melihatnya, sementara pemandangan itu dengan cepat lenyap lantaran kami sudah meninggalkan lantai itu. “Apa dia nggak apa-apa?” gumamku.

“Cuek aja,” Andrew menjawab. Wajahnya tidak menghadapku, sehingga aku tidak tahu ekspresi seperti apa yang sedang ditampakkannya saat ini.

Ada lima detik kami saling berdiam-diaman setelah itu, kemudian lift mengeluarkan bunyi berderak yang sama dengan di bawah tadi (hanya saja, tidak semengerikan itu), lalu berhenti secara mendadak. Aku mengangkat kepala dan segera menyadari bahwa yang tampak di hadapanku hanya kegelapan.

“Tempat apa ini?” gumamku.

Pintu lift membuka perlahan, dan aku langsung merasakan keraguan untuk keluar.

“Njir,” Andrew mengumpat, “Nggak kelihatan apa-apa, man!”

“Apa kita turun lagi?” usulku asal.

“Gila apa? Ini lift begitu pintunya nutup lagi, bakal ambrol sampe nyawa lo di tangan Lucifer! Mau, lo, emang?”

Aku segera menggeleng.

Andrew mendahuluiku turun seolah tidak punya rasa takut. Ia seperti lenyap ditelan kegelapan begitu melangkah keluar. Aku sendiri masih ketar-ketir—yah, habis tempat itu gelap banget. Setelah menimbang-nimbang selama dua detik singkat, akhirnya kuputuskan untuk mengikuti jejak Andrew. Dari bunyi ‘tuk’ yang ditimbulkan sepatuku saat menapak di luar, sepertinya lantai di sini terbuat dari kayu atau semacamnya. Aku meraba-raba dinding untuk mencari sakelar lampu, tetapi rupanya tidak ada. Aku bahkan tidak yakin apakah benar-benar ada lampu di sini.

Sedetik setelah kedua kakiku menapak di luar lift, benda itu menutup dengan bunyi yang sangat tidak enak didengar. Atap lift runtuh begitu saja, dan liftnya sendiri meluncur ke bawah hingga terperosok.

Dengan begitu, hilanglah satu-satunya sumber cahaya di sini, dan ruangan ini jadi tambah gelap saja.

“Kamu kelihatan sesuatu, nggak?” tanyaku pada Andrew, yang saat ini entah berada di mana.

“Nggak sama sekali,” jawabnya tenang. Dari asal suaranya, sepertinya ia sedang berdiri tak jauh dariku—di sebelah kanan. “Aneh,” gumamnya, “Seharusnya, cahaya tadi asalnya dari sini. Menurut perhitungan gue, ini udah lantai teratas.”

“Padahal,” aku menambahkan, “Di sini gelapnya minta ampun.”

Aku memutar pandangan dengan bimbang. Ketakutan mulai menyusup seiring dengan semakin lamanya waktu yang kami habiskan dalam kegelapan.

Tepat saat kukira sudah tidak ada lagi harapan, secercah cahaya menarik perhatianku. Cahaya itu redup, tetapi tampak sangat mencolok lantaran sekelilingnya gelap gulita.

“Ndrew, itu…,” aku menunjuk arah cahaya itu datang, “Jendela, bukan, ya?”

Hening sejenak. Kemudian, Andrew buka suara, “Cahaya itu?”

Aku mengangguk, lalu segera sadar Andrew tidak bisa melihatku. Jadi, aku menjawab, “Ya.”

“Mungkin,” Andrew bergumam, “Kita samperin aja, lah, Josh! Siapa tahu, kan, jendela beneran?”

Dengan begitu, kami berdua sama-sama meraba-raba sekitar untuk berjalan mendekati cahaya yang dimaksud. Untung jaraknya tidak jauh-jauh amat, sehingga kami tidak perlu menabrak terlalu banyak benda sebelum sampai. Berhubung aku berdiri lebih dekat dengan tempat itu, praktis, aku berjalan di depan Andrew. Cahaya itu tampak semakin jelas begitu aku mendekat, dan dengan girang, kusadari bahwa itu memang jendela yang tertutup tirai tipis.

“Jendela beneran, Ndrew!” aku mengumumkan dengan senang.

Kupercepat langkah menuju jendela itu, dan dapat kudengar, Andrew juga sedang bersusah-payah menyusul—ia tidak menabrak benda-benda sebanyak yang kulakukan, tetapi tetap saja, sesekali umpatannya memecah keheningan.

Dengan tangan gemetar penuh rasa penasaran, kusibakkan tirai yang menutupi jendela…

…dan cahaya bulan langsung menerobos masuk, menyiram ruangan dengan warnanya yang keperakan.

Aku melongo dengan takjub, dan dapat kurasakan, Andrew langsung menahan napas.

“Ndrew…,” gumamku setengah sadar, “Perasaan, tadi nggak ada bulan, kan? Sedeket ini, pula?”

Tidak mendapat respon, aku segera menoleh.

Yang kudapati cukup mengejutkan : Andrew berdiri di atas lantai kayu, di antara meja-meja operasi yang tersusun berantakan.

Dan di atas meja-meja itu, terbaring belasan mayat yang sudah membusuk, dengan darah kering dan organ-organ tubuh mengeras menggeletak di samping tubuh mereka…[]

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

AKU MELIHAT MUSUH TERBESARKU

“Orang itu…,” gumamku, “Musuh terbesarku…

Theo tertegun menatapku selama beberapa detik, kemudian si baju putih mencoba lari, dan ia segera menahannya dengan kaki.

“Musuh terbesarmu itu,” ia bertanya dengan nada tergesa-gesa, “Siapa namanya?”

Aku menelan ludah. “Aku nggak—“

“Namanya siapa? Jawab dulu!”

“Aku nggak bisa bilang, The!” pekikku pada akhirnya. “Emang kamu lihatnya siapa?”

Theo terdiam sejenak.

“Apa namanya Jo?” ia bertanya lirih, “Jonathan Henry?”

Aku mengerutkan kening. “Bukan…,” gumamku, “Apa dia yang kamu lihat?”

Theo mengeraskan rahang dan mengangguk. “Coba kamu ke sini,” katanya, “Dan lihat sendiri.”

Jantungku berdebar kencang sekali. Semua ini rasanya sungguh mengerikan—dan bagian terburuknya, aku diharap untuk bersikap tenang hingga entah kapan. Kalau boleh jujur, sih, aku sebenarnya sudah kepingin menjerit sejadi-jadinya sejak tadi.

Dengan kaki bergetar, aku berjalan mendekati Theo dan musuh terbesarku, yang saat ini masih terbaring di bawah kaki cowok itu, berusaha melepaskan diri dan lari. Ia tampak kuat—lebih kuat daripada Theo, barangkali—jadi aku tidak mengerti mengapa ia masih saja berada di sana dan belum berhasil lolos.

Mungkin tenaga Theo lebih besar daripada kelihatannya? Dengan ngeri aku berpikir.

Aku berjongkok dan mengamati si baju putih.

Nggak salah lagi, pikirku, Ini memang musuhku.

“Boleh tanya sesuatu?” aku bertanya pada Theo. Tanpa menunggu persetujuannya, aku melanjutkan, “Jonathan Henry siapamu?”

“Bisa dibilang,” Theo menjawab, “Dia juga musuh terbesarku.”

“Trus,” gumamku, “Maksud semua ini apa?”

“Ini settingan,” jawabnya, “Kayak di Divergent, lagi-lagi.”

“Dan kita diharapkan ngapain?” aku bertanya lagi. Dadaku sudah terasa sakit sekali hanya dengan melihat si musuh menatapku penuh kebencian. Ingin rasanya aku pergi dari sini sekarang juga—atau melakukan apa pun agar bisa bebas dari situasi ini.

“Itu tergantung kamu,” katanya, “Aku barusan mikir, mungkin ini memang suatu bentuk ujian. Karena itu, kamu punya dua pilihan.”

“Apa?”

“Menyuruhku ngelepas dia,” jawabnya, “Atau melenyapkan dia sekarang juga.

Mataku melebar. “Melenyapkan? Maksudmu… membunuh, gitu?”

“Bisa dibilang gitu,” jawabnya, “Dan kedua pilihan itu nggak jelas mana yang benar atau salah, karena ini bisa jadi ujian apa saja.”

“Maksudmu?”

“Kalo ini ujian kemanusiaan, bakal salah kalo kamu membunuh dia,” jelasnya, “Tapi, sebaliknya, kalo ini ujian keberanian, bakal salah kalo kamu ngelepasin dia. Tergantung persepsimu aja.”

“Trus, kok kamu mutusin buat ngebiarin dia?” tanyaku.

“Aku nggak ngebiarin,” jawabnya, “Aku nyerahin semua pilihan ke kamu. Karena apa? Karena kalo kamu yang nahan dia seperti ini, dia bakal lolos, dan itu nggak menyisakan pilihan. Dia kuat banget. Aku yakin kamu nggak bisa nahan dia.”

“Gimana kalo aku bisa?”

“Nggak,” ia menyahut yakin, “Nggak mungkin bisa. Aku aja udah hampir kewalahan.”

Rasanya aku kepingin menangis.

“Trus, ya,” suaraku terdengar serak, “Kamu nyuruh aku… memutuskan semua ini dan… dan… menentukan kelanjutan nyawa—“

“Kayaknya bukan kelanjutan nyawa, deh,” potongnya, “Ingat, ini cuma manipulasi pikiran. It’s all in your head. Kamu bebas ngelakuin apa aja. Cuma, kalo salah, nggak tahu akibatnya apa—yang jelas, menurutku, nggak bakal menuntun sampe kematian.”

Aku menelan ludah. Keheningan menengahi kami selama lima detik yang terasa bagaikan berabad-abad.

“Jadi, Hana,” Theo membuka suara, “Apa keputusanmu?”

Tepat saat dia berkata begitu, si baju putih meronta kuat sekali, membuatnya memekik.

“Cepet!” teriaknya, “Dia udah hampir lolos!”[]

Apa yang akan kulakukan? (simpan jawabanmu untuk digunakan di chapter selanjutnya)

  • Melepaskan musuh terbesarku dan membiarkannya pergi.
  • Membunuh musuh terbesarku untuk membuktikan keberanian.

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

AKU MEMANJAT DULUAN

“Aku aja, deh,” aku memutuskan pada akhirnya.

Jerry mengangguk-angguk. “Oke,” katanya, “Emang lebih aman gitu, sih. Tapi, kalo lo nggak berani gelantungan, bakal tamat riwayat—“

“Kita berdua.”

“Nggak, lo aja,” ia menyanggah kurang ajar sambil meringis tanpa dosa, “Gue, sih, gampang. Bisa cari sarana lain, apalagi kalo udah sampe puncak tembok.”

Aku memutar kedua bola mata. “Oke, deh,” kataku malas, “Sesukamu aja.”

“Emang sesuka gue,” balasnya seenak jidat. Setelah membetulkan rambut, ia berkata, “Gih, panjat. Keburu gue lumutan nungguin di sini.”

Aku menghela napas panjang dan meyakinkan diri berkali-kali.

Panjat, pikirku, Aku harus panjat. Nggak boleh takut.

Kalimat itu kuulang-ulang di benakku, sampai-sampai kalau pemikiranku direkam dalam pita kaset, semua orang bakal dengan senang hati memberinya label besar-besar bertuliskan “RUSAK”. Tetapi, mau bagaimana lagi? Toh, pemikiran itu juga yang memberiku keberanian untuk melangkah maju, lalu berpegangan pada tali palsu yang tertahan ranting besar di tanah.

Wish me luck,” kataku pada Jerry.

“Ini bukan masalah luck,” katanya merusak suasana, “Kalo lo lucky tapi goblok, ya sama aja bakal kepeleset—atau, minimal, luka-luka bonyok gitu, deh.”

Aku memutuskan untuk mengabaikannya saja. Tidak baik menanggapi omongan cowok ini terlalu serius.

Kuhitung satu sampai tiga dalam hati, kemudian mulai memanjat perlahan-lahan, dengan kaki dijejakkan ke tembok yang kokoh dan tangan menggenggam erat sulur itu.

Lumayan juga, pikirku, lebih seperti menenangkan diri, Sulur ini nggak goyang sama sekali.

Tepat saat aku berpikir demikian, tiba-tiba saja, sulur goyah dengan hebat, dan aku menjerit tertahan sambil menutup mata penuh kengerian.

“Goblok! Jangan jerit-jerit!” Jerry berteriak emosi dari bawah.

Aku memberanikan diri untuk melirik sedikit ke arahnya, dan ternyata ia juga sudah mulai memanjat—agaknya dua meter di bawahku. Jadi itu kenapa sulurnya goyah, pikirku penuh penyadaran.

“Ry,” panggilku dengan suara bergetar, “Kayaknya… kita naik satu-satu aja, deh. Ini nggak bakalan kuat.”

“Halah,” ia malah berkata, “Goyang dikit aja lo panik. Padahal, gue biasa aja, tuh. Lo santai aja, deh, Bi. Kalo jatuh juga tulang gue yang remuk, soalnya gue bakal ketiban badan lo—dan lo? Dapet bantalan berupa badan gue.”

Itu tidak membuatku tenang sama sekali—terlebih, orang jatuh belum tentu di tempat yang sama. Tetapi, berhubung tidak bagus saling ngotot di tengah ketinggian seperti ini, aku memutuskan untuk menuruti saja apa katanya—lagipula, kalau aku mundur sekarang, tidak ada jalan lain. Perlahan-lahan, aku memanjat lebih tinggi.

Selangkah, dua langkah, tiga langkah…

Oke, pikirku, mulai agak tenang, Mungkin ini emang semudah yang dia bilang. Cuma goyang aja.

Catatan untuk diri sendiri : lain kali, jangan mikir seperti itu lagi—dua kali aku dikhianati asumsiku sendiri. Begitu berpikir demikian, kakiku menginjak permukaan licin—lumut, barangkali?—dan langsung tergelincir turun. Akibatnya, aku kehilangan keseimbangan dan jatuh. Belum apa-apa, jeritanku sudah membelah udara.

Hap!

Aku berhasil meraih sulur dengan satu tangan. Tetapi, karena sempat jatuh tadi, muka Jerry jadi berada tepat di bawah kakiku, dan aku tidak sengaja menendangnya.

“Aduh!” ia memekik, lalu kurasakan sulur merosot turun, dan cowok itu jatuh bebas ke tanah. Aku membelalakkan mata melihat adegan itu, dan saking kagetnya, peganganku sampai terlepas. Aku ikut jatuh, dan beberapa saat setelah terdengar bunyi ‘GEDEBUK’ pertama, bunyi yang sama menyusul—yang, tentu saja, berasal dariku.

Rasanya seolah-olah tulangku remuk semua.

Aku menjerit dan kepingin menangis saja saking sakitnya, tetapi Jerry malah hanya mengaduh-aduh kecil, lalu bangkit berdiri dalam sekali sentak.

Kukira ia akan langsung ngamuk-ngamuk dan mengataiku ceroboh, tetapi, di luar dugaan, ia malah menghampiri tergesa-gesa dengan kedua kaki pincang akibat jatuh. “Lo nggak apa-apa?!” pekiknya panik, “Bi, lo nggak kenapa-napa, kan?!”

“Jelas kenapa-napa!” aku mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, seolah itu akan dapat mengurangi rasa sakit di sekujur tubuhku. Air mata sudah menggenang di kedua pelupuk mataku, dan bergerak pun rasanya susah.

“Astaga,” Jerry bergumam takjub, “Lo… lo kena batu.”

Aku membelalakkan mata.

Pantas saja Jerry nggak mengalami sakit separah diriku!

“Sini,” Jerry langsung berjongkok. Wajahnya tampak panik luar biasa—yang, dalam kondisi normal, akan membuatku melongo heran, sebab ia jadi tidak tampak seperti dirinya sama sekali. Ia menyuruhku berbalik pelan-pelan, lalu memeriksa punggungku. Tidak terasa apa-apa. Kemudian, ia memeriksa kakiku, dan aku yakin berteriak keras sekali saat ia menekankan satu tangan ke bagian betis. “Patah tulang…” gumamnya mengambang.

Patah tulang?” ulangku tak percaya, “Nggak mungkin! Masa patah tulang, sih?!”

“Kenyataannya gitu,” ia menjawab dengan penuh penyesalan, “Nggak terlalu parah, sih. Tapi…”

“Trus, aku mau manjatnya gimana?!” aku meratapi nasib, “Apa kita bakal terjebak di sini sampe mati?”

“Tenang dulu, deh!” ia menyela emosi pada akhirnya. Aku terdiam. “Kita bakal nemuin jalan lain, oke? Gue bakal ambil kayu atau apa pun buat menyangga tulang lo yang patah. Sementara itu, lo diem aja di sini, nggak usah gerak-gerak, apalagi mencoba berdiri.”

Air mata jatuh dari pelupuk mataku. “T-tapi…”

“Gue akan pikirin cara lain selagi ngambil kayu, tapi kalo lo polah dan terjadi apa-apa sama lo,” katanya, “Bukan salah gue, karena gue udah bilang begini dan lo yang ngeyel.”

Setelah berkata demikian, ia tidak menunggu responku. Tidak lama setelah itu, sudah terdengar bunyi langkah kaki yang menjauh di belakang, lama-kelamaan menghilang entah ke mana.

Aku menunggu dalam ketakutan dan diam. Sendirian begini, inderaku jadi lebih peka. Tanpa berusaha, aku sudah bisa mendengar bunyi jangkrik dan embusan angin yang membangkitkan bulu roma.

Duh, batinku panik, Mana kakiku masih sakit banget, pula.

Aku berdoa dalam hati, semoga Jerry tidak lama-lama amat. Dalam doaku itu, tiba-tiba saja kulihat sesuatu yang berkilat di tanah. Benda itu begitu mencolok, sehingga aku hampir yakin tadinya ia tidak ada di sana.

Atau mungkin tadi tertutup rumput, pikirku. Aku melongok sedikit sambil menahan sakit untuk mengamati benda itu.

Rupanya, kilat itu berasal dari mata pisau.

Mataku serta-merta terbelalak oleh perasaan campuraduk.

Pisau! Batinku menjerit-jerit, Kenapa bisa ada pisau di sini?

Aku menoleh ke belakang, dan melihat suasana begitu tenang—tanpa ada tanda-tanda Jerry telah selesai. Lalu, kutolehkan kembali kepalaku dan memandang pisau tajam di tanah.

Sebuah pemikiran menggodaku.

Haruskah kuambil pisau itu? Pikirku, Tapi… buat apa, ya?

Aku menelan ludah.

Aku harus cepat memutuskan, sebelum Jerry kembali ke sini.[]

Apakah aku akan mengambil pisau di tanah itu? (simpan jawabanmu untuk digunakan di chapter selanjutnya)

  • Ya
  • Tidak

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

THEO

Theo Reiner, batinku, mengulang berkali-kali nama cowok di hadapanku seperti bagian dari ritual suci.

Tangannya masih terulur, menantiku menjabat, tetapi aku yakin aku juga harus mengungkapkan namaku sendiri sebelum berjabat tangan, jadi keraguan mendatangiku.

Haruskah kuberitahukan namaku?

“Nggak perlu kasih tahu namamu,” katanya, seolah-olah bisa membaca pikiranku. Ia segera menurunkan tangannya yang terulur dan memasukkannya ke saku celana. “Aku emang kelihatan kayak hantu yang nggak bisa dipercaya—ya, ya, udah biasa digituin, aku, mah.”

“Maaf,” kataku penuh rasa bersalah, “Kuharap kamu maklum.”

“Oh, maklum banget,” jawabnya kurang ajar. Lalu, sambil memiringkan kepala, ia bergumam, “Tapi… bakal susah, ya, kalo aku nggak tahu namamu? Separah-parahnya kita kesasar dan pencar di hutan, aku nggak mungkin teriak-teriak ‘Heh! Kamu di mana, Heh? Jawab aku, Heh!’, gitu, kan?”

Kugelengkan kepala. “Emang nggak mungkin,” aku menyetujui.

“Kalo gitu,” katanya masa bodoh, “Aku panggil kamu Hana.”

Aku mengerutkan kening. “Hana…,” gumamku, “Kayak… bahasa Jepangnya ‘bunga’, gitu?”

Dalam hati, aku mulai takut kalau-kalau selain mirip hantu, cowok ini ternyata juga alay dan cheesy luar biasa.

Di luar dugaan, ia ikutan mengerutkan kening. “Oh,” jawabnya, “Itu artinya ‘bunga’, ya? Nggak tahu, sih. Nggak peduli juga.”

“Trus, kamu kenapa mau manggil aku begitu?”

“Yah,” gumamnya, “Itu nama anjingku yang udah mati.”

“Oh.”

“Dia bukan anjing kampung, kok. Tenang aja.”

“Makasih, ya.”

“Sama-sama.”

Kemudian hening. Lama.

“Mm…,” aku membuka suara, “Jadi… kita mau masuk… ke sini?”

Cowok itu langsung mengalihkan pandangan pada hutan di hadapan kami.

Tanpa diterangi cahaya bulan maupun bintang, hutan itu tampak semengerikan lokasi scene-scene pembunuhan film horor. Pohon-pohon yang menyusunnya tinggi-tinggi, dengan dahan yang menjulur, saling membentur satu-sama-lain—membentuk jalinan jaring kayu menyerupai atap yang tampak rapuh sekaligus kuat. Tanahnya tidak rata—tidak ada jalan luas atau apa. Batu-batu berbagai ukuran tampak menghiasi sepanjang jalan—setidaknya, begitulah asumsiku, karena yang kelihatan sebenarnya hanya sebagian kecil jalan di luar hutan. Di dalam sana gelap—terlalu gelap bagiku untuk melihat. Tetapi, dari sini, sudah terdengar suara hewan dan bunyi-bunyi berkeresak yang membangkitkan bulu roma.

“Ke tempat gelap yang penuh bunyi-bunyian misterius dan kemungkinan besar dihuni banyak hewan buas ini?” tanyanya sok pede, “Jelas.”

“Kamu nggak… takut atau gimana gitu?” tanyaku.

Ia menoleh menghadapku dan tersenyum aneh, “Nggak ada orang yang nggak takut masuk hutan,” katanya, “Tapi, gimana, ya? Kayaknya ini satu-satunya jalan keluar. Dan lagi, aku punya satu teori yang… mendukung sikapku ini.”

Well, aku ikut ke sini karena aku berpikiran sama, kan?

Mungkin aku juga harus menyingkirkan semua ketakutan ini dan bersikap masa bodoh sepertinya.

“Oke,” kataku pada akhirnya, “Ayo masuk.”

Dengan itu, kami melangkah masuk ke dalam hutan.

“Bawa senter?” tanyaku saat sadar kami hampir tidak dapat melihat apa-apa selain merasakan ranting menggores tubuh masing-masing dengan kejam.

“Nggak,” jawabnya, “Nggak ada persiapan sama sekali.”

“Trus,” gumamku, “Emang kita bisa, gitu, jalan di tempat yang gelapnya kayak gini?”

“Anggep aja bisa,” jawabnya.

Jawaban itu, secara ajaib, masuk dan langsung bersarang di benakku.

Anggep aja bisa.

Aku berusaha berjalan sambil mengulang kalimat itu di kepala, dan entah karena sihir atau apa, tiba-tiba saja, mataku jadi semakin awas. Kini, aku bisa samar-samar melihat keadaan sekitar yang tadinya gelap gulita.

Pepohonan di sekitarku rapat-rapat, dan baunya sangat tidak sedap. Jaring laba-laba menggantung malas di sela-sela beberapa pohon, beberapa masih dihuni laba-laba berbulu yang besar-besar. Tanah di bawah lebih padat daripada di luar tadi, dan di sana-sini, ada batu berukuran besar-besar, kerikil, serta dedaunan kering yang telah membusuk. Kendati demikian, aku tahu masih ada harapan.

Kami berdua berjalan dalam diam—sangat berhati-hati agar tidak tersandung atau semacamnya. Berkali-kali, terdengar bunyi kepak sayap hewan disusul terbangnya seekor serangga entah dari mana—dan entah ke mana. Jantungku berdebar kencang.

Ada kira-kira sepuluh meter kami berjalan, tiba-tiba, langkah Theo berhenti.

“Diem dulu,” katanya dalam bisikan. Bola matanya bergerak kesana-kemari dengan awas, seperti mencari-cari sesuatu—gerakan bola mata yang berkilat itu mengingatkanku akan burung hantu.

Lalu, aku mendengar suara-suara aneh.

Suara itu samar, tetapi jelas ada. Senandung seseorang yang terpantul dan bergema di batang-batang pohon—entah dari mana, entah sejauh apa.

Tubuhku langsung merinding sendiri.

“Denger, kan, suara itu?” tanyanya, “Kita nggak sendirian di sini.”

“Aduh…,” rengekku, “Suara apa itu? Kok, serem, sih?”

“Kalo di The Hobbit,” ujarnya, “Yang begituan pasti suara peri. Tapi… kalo di sini, aku ragu ada makhluk-makhluk mitos kayak gitu betulan.”

Peri?” ulangku, “Yang bener aja.”

“Aku bilang itu di film,” ia memberi penekanan, “Kalo di sini, mungkin lebih kayak—“

“Kayak hantu,” aku meneruskan untuknya.

“Nggak tepat begitu,” sanggahnya, “Kayak bunyi angin yang kena efek pantulan pohon, trus jadi mirip suara orang nyanyi.”

Kutatap ia tak yakin. “Kamu yakin begitu?”

“Kalo yakin,” ia menjawab, “Aku nggak akan pake kata kayak. Mending sekarang kita cek aja—jalan lebih jauh, dan kita bakal tahu teori itu bener atau nggak.”

Aku menelan ludah, menyadari bahwa memang tidak ada pilihan lain. Bakal coward banget kalau kami keluar dari sini sekarang, walaupun jalan keluar di belakang juga masih belum jauh-jauh amat. Lagipula, aku masih percaya bahwa jalan keluar yang sebenarnya ada di suatu tempat di depan kami.

Rupanya, Theo tidak menungguku atau apa. Ia langsung berjalan begitu saja tanpa peduli apakah aku mengikuti atau tidak.

Segera kususul ia dan berjalan di samping tubuh tingginya yang kini tampak kaku. Kami berusaha menahan diri dari berteriak karena suara-suara itu terus saja terdengar, hingga akhirnya aku memutuskan untuk berpegangan pada bajunya.

Theo berhenti sejenak, lalu menatap tanganku di bajunya. “Pegang tanganku aja kalo takut,” katanya.

Aku terdiam canggung, tidak bereaksi. Kemudian, cowok itu meraih tanganku dan menggenggamnya, lalu meneruskan perjalanan tanpa berkata apa-apa. Aku pun juga diam saja, berhubung memang tidak ada yang bisa dikatakan.

Semakin jauh ke dalam hutan, rupanya suara mengerikan itu semakin keras. Aku memererat genggaman tangan pada Theo.

‘…the wind blows, the sun rises…

Samar-samar, lirik gema lagu itu mulai tertangkap di telinga—semakin keras, keras, dan keras.

Baru selang beberapa detik, Theo membelalakkan mata.

Dengan horor, ia memutar kepala pelan-pelan menghadapku, lalu berbisik, “Itu bukan angin…,” Raut wajahnya menyesal saat mengatakan, “Itu suara lagu beneran…”

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

AKU BERENANG DALAM KEBUTAAN BERSAMA LEO

“Nggak jadi, deh!” jeritku panik, “Kita renang aja!”

“Gue udah tahu lo bakal ngomong gitu!” Leo berseru, “Semoga lo nggak tenggelem!”

Setelah berkata demikian, ia terjun dari perahu—langsung masuk ke perairan yang pasti dinginnya tidak keruan. Aku bergidik sedikit saat sudah tinggal selangkah jauhnya dari perairan yang sama.

Sedalam apa, ya, perairan ini? Batinku.

Tepat pada saat itu, si semut raksasa memuntahkan satu lagi semburan lendir panas ke arahku. Kalau saja aku tidak cepat melompat ke dalam air, pasti sudah gosong tubuhku saat ini.

Air itu dingin sekali, seperti perkiraanku—lebih dingin, malah. Aku punya perasaan, setelah keluar dari sini, aku bakal masuk angin berat. Leo sudah berenang duluan di depan—setiap beberapa waktu sekali, aku dapat melihat kepalanya menyembul ke atas, lalu masuk lagi dengan cekatan. Gerakan cowok itu cepat—barangkali ia memang memiliki bakat khusus dalam berenang atau apa. Yang jelas, hal itu membuatku ketar-ketir. Aku berusaha berenang secepat mungkin, tetapi jarak di antara kami masih sangat jauh.

Saat menoleh ke belakang, kusadari aku belum terlalu jauh dari tepi. Makhluk menjijikkan itu sudah berada di sana, menggeram dan mengentak-entakkan kaki dengan kuatnya, sampai-sampai aku bisa membayangkan guncangan yang pasti bakal kurasakan seandainya masih berdiri di sana. Ia menatapku dengan mata serangganya yang mahabesar, dan aku jadi merinding sendiri.

Jangan lihat ke belakang, aku meyakinkan diri sendiri, Nggak baik.

Dengan begitu, aku menoleh kembali ke depan dan meneruskan renangku. Leo sudah bergerak jauh sekali—bukan hal yang mengejutkan, sih. Aku mencoba menyusul, dan setelah memercepat gerakan kaki, jarak di antara kami berhasil dipertipis.

Yang mengejutkan adalah, cowok itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan.

Sedang apa dia? Pikirku heran, Menungguku?

Aku tiba di tempatnya berhenti, dan ikut menghentikan renangku. Ia melihat ke kejauhan di belakang sana, kemudian menggumam, “Dia nggak mengikuti kita.”

“Hah?”

“Kayaknya makhluk itu anti air,” jawabnya, “Kita aman.”

Mau tidak mau, aku menoleh juga ke belakang dan mendapati bahwa perkataannya benar. Si semut raksasa masih berdiri di tepi perairan dengan geram, tidak bergerak seinci pun dari saat terakhir aku melihatnya.

“Bagus,” kataku lega.

“Kata gue, sih, enggak,” Leo menciptakan momen antiklimaks. “Emang kaki sama tangan lo nggak pegel—renang terus gini? Otak logis gue bilang, kita bakal mati kalo ternyata perairan ini nggak ada ujungnya—macem laut, gitu.”

“Jadi,” aku bertanya, “Menurutmu, kita mendingan ambil perahu tadi?”

“Gue nggak bilang gitu juga,” jawabnya, “Lagian, nggak ada dayung. Kita nggak bakalan gerak. Trus, mana tahu dasar perahunya bocor dan sebagainya? Sama aja, sih, sama renang begini.”

“Trus, kita harus gimana?” tanyaku.

Leo menoleh ke depan, lalu menunjuk ke kejauhan. “Lo lihat tirai sulur taneman itu? Kita masuk aja ke sana dan lihat kondisinya dulu.”

“Ya emang,” sahutku, “Kan jalannya cuman itu.”

“Kita di selokan, kali, ya?” gumamnya, “Tapi nggak apa-apa, lah. Coba aja dulu.”

Setelah berkata demikian, ia menyelam lagi ke air dan mulai berenang. Aku tidak punya pilihan lain selain—lagi-lagi—mengikuti cowok itu. Kali ini, berhubung kami memulai dari start yang sama, jarak yang tercipta tidak jauh-jauh amat. Kami berhasil melewati tirai sulur nyaris bersamaan, dan langsung masuk ke terowongan gelap yang mengingatkanku akan sekuel film The Little Mermaid.

Terowongan itu panjangnya kira-kira sepuluh meteran. Begitu keluar, kami langsung sadar bahwa semua ketakutan tadi tidak ada gunanya.

Perairan itu rupanya sejenis danau yang dikelilingi daratan.

“Ah elah,” Leo langsung berdecak, “Antiklimaks amat.”

Aku baru akan tertawa menanggapi perkataannya saat tiba-tiba ekspresi cowok itu berubah drastis. Wajahnya yang sudah pucat semakin pucat, dan ia langsung menyelam masuk kembali ke dalam air.

“Ada apa?” tanyaku kebingungan. “Leo?”

Beberapa detik kemudian, kepala cowok itu menyembul keluar, dan ia segera berenang ke tepian tanpa memedulikanku. Merasa diabaikan, aku mengikutinya. Kami keluar dari perairan dan Leo langsung menjatuhkan diri dengan frustasi ke atas tanah. Ia mengerang—panjang dan penuh keputusasaan.

“Kenapa, sih?”

Cowok itu membuka mata dan melirikku. Dari mulutnya, keluar desahan berat. “Kacamata gue,” katanya, “Ilang di perairan tadi.”

Mataku terbelalak seketika. Benar juga, pikirku, Kenapa aku bisa tidak sadar cowok itu kehilangan kacamatanya?

“Trus…,” aku bergumam ragu, “Kamu… bisa lihat?”

“Kalo lo ngacung-ngacungin jari dan nyuruh gue nebak berapa jari yang lo acungin, gue bisa. Tapi, kalo ngelihat sekitar, burem banget rasanya,” jawabnya.

“Emang,” aku bertanya, “Kamu minus berapa?”

“Enam setengah, man!” jawabnya. “Yang satu enam doang, sih. Tapi sama aja, lah!”

Aku membelalakkan mata. “Hah?” pekikku, “Banyak amat! Itu serius?”

“Nggak!” balasnya penuh majas ironi, lalu menyambung, “Ya serius, lah! Lo kira gue bisa bercanda di saat-saat genting kayak gini?”

“Trus… trus…,” aku masih tidak dapat memercayai semua ini, “Kita harus gimana?”

“Ya gue usahain jalan tanpa kacamata, lah!” jawabnya.

Aku terdiam sambil menggigit bibir, dan cowok itu memerhatikanku sejenak.

“Muka lo kok aneh, ya?” gumamnya tiba-tiba.

Aku berdecak kesal. “Makasih, deh. Emang mukaku kalo burem aneh.”

“Nggak,” cowok itu bangkit duduk dalam sekali sentak, kemudian menarikku mendekat sampai rasanya jantungku nyaris jebol karena kaget, “Gue serius. Muka lo… bentol-bentol, gitu.”

Aku membelalakkan mata. “Bentol-bentol?” ulangku tak percaya, “Kayak apa?”

“Kayak cacar air,” jawabnya, “Tapi warnanya item. Banyak banget, gitu.”

Aku langsung tersedak. “Hah?!” pekikku, “Tapi nggak kerasa apa-apa, tuh! Jangan bercanda, deh!”

“Udah gue bilang,” jawabnya, “Gue nggak bisa bercanda di saat-saat kayak gini.”

Aku hampir-hampir menampar mukanya.

“Kalo lo nggak percaya,” cowok itu menyela sebelum aku sempat berbuat demikian, “Coba lihat tangan lo aja.”

Aku langsung melihat ke bawah perlahan-lahan, ke arah tanganku yang masih dipegang Leo.

Detik itu pula, aku menjerit.

Di sana—di tanganku—tampak banyak sekali bentol-bentol timbul berwarna hitam, semuanya mengeluarkan urat-urat menjijikkan di seluruh permukaan kulitku. Aku hampir tidak bisa melihat warna asli kulitku saking banyak dan rapatnya urat-urat itu menutup—membuatku berjengit dengan jijik dan ngeri.

Ya Tuhan! Aku berteriak dalam hati, Apa lagi ini?![]

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

AKU MENENDANG ANDREW KELUAR DARI LIFT

“Oke, kalo gitu, kamu yang turun!” jeritku pada Andrew dalam kepanikan.

“Hah?! Gue?! Lo gil—“

Perkataan cowok itu terputus oleh bunyi lift yang bergemuruh dan berderak, siap menerjunkan kami bertiga ke kematian.

“Buruan, Ndrew! Nggak usah kebanyakan protes!” Sam memekik panik, “Kan, tadi janjinya yang dipilih harus mau! Lo keluar sana! Ntar kita mati, gue dikangenin Catherine, astaga!”

Sambil berkata demikian, Sam mendorong temannya keluar dari lift dengan tergesa-gesa. Wajahnya masih merah padam, tetapi aku dapat melihat sebuah ekspresi yang baru di sana—seperti… berat hati. Mungkin ia juga tidak sepenuhnya rela, tetapi memutuskan bahwa bertahan hidup lebih penting.

Andrew menatap kami berdua dengan syok dari luar, kemudian tatapannya berhenti padaku. Sorot mata itu seolah mengisyaratkan bahwa aku goblok luar biasa karena sudah memilih untuk mengusirnya daripada Sam, tetapi aku sudah memutuskan—dan semua itu adalah hasil dari pertimbangan-lima-detik, jadi kalau pun pilihan itu tidak tepat, aku tidak bisa disalahkan.

Sesaat setelah cowok itu keluar, guncangan di lift berhenti dan sirine mati. Suasana menjadi sangat tenang—seolah-olah semua keributan yang baru terjadi beberapa detik lalu itu tidak nyata. Aku menekan tombol pintu dengan tangan bergetar, dan pintu lift bergerak menutup perlahan-lahan. Andrew masih berdiri mematung di sana seolah-olah ia baru saja melihat hantu. Bahkan, saat lift kuno ini sudah bergerak naik dengan suara berdecit dan mendesis, ia masih tak bergerak—membuatku merinding sendiri.

Sam diam saja—yang tidak seperti dirinya, sebab ia biasanya pembuat gaduh nomor satu. Aku ingin mangajaknya bicara, tetapi tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Ada lima detik kami saling berdiam-diaman dalam lift yang bergerak naik, kemudian lift itu mengeluarkan bunyi berderak yang sama dengan di bawah tadi (hanya saja, masih kalah mengerikan), lalu berhenti secara mendadak. Aku mengangkat kepala dan segera menyadari bahwa yang tampak di hadapanku hanya kegelapan.

“Tempat apa ini?” gumamku.

Pintu lift membuka perlahan, dan aku langsung merasakan keraguan untuk keluar.

“Kalo tempatnya kayak gini,” Sam berkata, “Lo keluar sendiri aja, deh. Gue, mah, mending mati.”

Aku membelalakkan mata menatapnya. “Sam!” tegurku.

“Bercanda,” ia menatapku datar, “Nggak mungkin gue nyia-nyiain kesempatan naik ke sini demi bunuh diri.”

“Bagus, deh,” sahutku, “Karena kalo kamu beneran berniat bunuh diri, aku bakal—“

“Ikut bunuh diri?” usulnya, “Kan, susah menerima kepergian orang terkeren sedunia.”

“Sam,” kataku datar, “Ini pun belum tentu di dunia kita, kan?”

“Oh,” Sam menyahut, “Bener juga.”

Jeda dua detik, kemudian…

“HAAAHHH?!”

“Sam!” aku menegurnya, “Jangan teriak-teriak gitu, dong!”

“Nggak— tapi— tunggu dulu— Ini bukan di dunia kita? Trus ini dunia apa? Dunia makhluk halus?! Apa kita bakal ketemu hantu-hantu serem di sini?! Apa kita—“

“Santai, woy!” potongku kesal, “Kan aku bilang belum tentu. Jadi, aku juga nggak tahu! Yang penting, sekarang kita turun dulu, deh!”

Sam masih tampak tidak terima, tetapi aku sudah mendahuluinya turun dengan harapan di depanku ada lantai atau tempat berpijak apa pun—yah, ini memang segelap itu. Saat aku melangkah keluar, rupanya ada lantai, dan dari bunyi ‘tuk’ yang ditimbulkan sepatuku, sepertinya lantai itu terbuat dari kayu atau semacamnya. Aku meraba-raba dinding untuk mencari sakelar lampu, tetapi rupanya tidak ada. Aku bahkan tidak yakin apakah benar-benar ada lampu di sini.

Sam menyusulku keluar, dan sedetik setelah kedua kakinya menapak di luar lift, benda itu menutup dengan bunyi yang sangat tidak enak didengar. Atap lift runtuh begitu saja, dan liftnya sendiri meluncur ke bawah hingga terperosok.

Dengan begitu, hilanglah satu-satunya sumber cahaya di sini.

“Yah…,” Sam bergumam, “Gelap, deh.”

“Emang udah gelap dari tadi, kali, Sam,” sahutku.

“Tapi tambah gelap, kan?” ia berargumen.

“Iya, sih,” aku menyetujui. “Kamu kelihatan sesuatu, nggak?”

“Nggak sama sekali,” jawabnya, “Njir, serem banget, nih, tempat.”

“Menurutmu, cahaya remang di lantai atas tadi asalnya dari mana, ya? Kok… menurut perhitunganku, ini seharusnya udah lantai paling atas?”

“Dari…,” ia bergumam, “Mana, ya?”

Aku memutar pandangan dengan bimbang. Ketakutan mulai menyusup seiring dengan semakin lamanya waktu yang kami habiskan dalam kegelapan.

Tepat saat kukira sudah tidak ada lagi harapan, secercah cahaya menarik perhatianku. Cahaya itu redup, tetapi tampak sangat mencolok lantaran sekelilingnya gelap gulita.

“Sam, itu…,” aku menunjuk arah cahaya itu datang, “Jendela, bukan, ya?”

Hening sejenak. Kemudian, Sam memekik, “Astaga!”

“Kenapa?”

“Itu… cahaya UFO!”

“Njir, Sam,” aku memutar kedua bola mata, “Serius dikit, dong!”

“Ini serius!” katanya, “Itu kayak cahaya UFO yang sering gue lihat di film-film! Jangan-jangan, itu bala bantua—“

“Ini di dalem ruangan, tahu,” potongku, “Nggak mungkin ada UFO di ruang tertutup!”

Sam diam. Kali ini lama. “Oh,” gumamnya pada akhirnya, “Bener juga, sih. Kalo gitu, ya. Kali aja jendela.”

Rasanya aku kepingin terjun dari sini supaya mati saja.

Memutuskan untuk menerima kelakuan cowok bego itu, aku mengajaknya meraba-raba sekeliling dan berjalan menuju cahaya itu. Untung jaraknya tidak jauh-jauh amat, sehingga kami tidak perlu menabrak terlalu banyak benda sebelum sampai. Cahaya itu tampak semakin jelas begitu aku mendekat, dan dengan girang, kusadari bahwa itu memang jendela yang tertutup tirai tipis.

Aku memercepat langkah menuju jendela itu, dan dapat kudengar, Sam juga sedang bersusah-payah menyusul—ia menabrak dua kali lebih banyak benda daripada aku, dan sepertinya sudah melontarkan enam kali lebih banyak sumpah serapah daripada yang pernah kuucapkan seumur hidup.

Dengan tangan gemetar penuh rasa penasaran, kusibakkan tirai yang menutupi jendela…

…dan cahaya bulan langsung menerobos masuk, menyiram ruangan dengan warnanya yang keperakan.

Aku melongo dengan takjub, dan dapat kurasakan, Sam langsung menahan napas.

“Sam…,” gumamku setengah sadar, “Perasaan, tadi nggak ada bulan, kan? Sedeket ini, pula?”

Tidak mendapat respon, aku segera menoleh.

Yang kudapati cukup mengejutkan : Sam berdiri di atas lantai kayu, di antara meja-meja operasi yang tersusun berantakan.

Dan di atas meja-meja itu, terbaring belasan mayat yang sudah membusuk, dengan darah kering dan organ-organ tubuh mengeras menggeletak di samping tubuh mereka…[]

(Klik DI SINI)

==========================================================================================================================

JERRY MEMANJAT DULUAN

“Kamu aja duluan, deh,” aku memutuskan pada akhirnya.

Jerry mengangguk-angguk. “Oke,” katanya, “Emang lebih aman gitu, sih. Kecuali lo nggak bisa nahan sulurnya saat berada di atas tembok. Kalo sampe gitu, sih, bakal tamat riwayat—“

“—mu,” sambungku.

“Nggak, riwayat lo,” ia menyanggah kurang ajar sambil meringis tanpa dosa, “Soalnya, gue pasti tetep bisa lompat. Sementara lo, kalo kehilangan bobot tiba-tiba, keseimbangan lo bakal terganggu. Trus, bakal ada adegan terjun bebas dari puncak—“

“Oke, oke,” aku memotong karena bergidik ngeri. “Sekarang cepetan aja, deh, kamu manjat.”

Ia menatapku sejenak, lalu mengangkat bahu. Dengan santai, ia melangkah mendekati tembok dan melompat, lalu meraih sulur pegangan dan mulai memanjat. Gayanya melakukan itu seolah-olah semuanya memang gampang banget.

Oke, pikirku, Mungkin memang nggak sesulit perkiraanku?

“Ry!” panggilku saat ia sudah memanjat kira-kira enam meteran, “Aku bisa manjat sekarang?”

Ia menoleh dan langsung membelalakkan mata. “Demi Lucifer!” umpatnya, “Lo belum manjat juga? Astaga, lola amat, sih! Lo kudunya udah manjat dari tadi, Bego! Buruan, panjat sekarang, keburu lumutan!”

Buru-buru, aku berpegangan pada sulur—takut dimarahi lagi oleh si berandalan SMA yang seramnya minta ampun.

Ini nggak sulit, ini nggak sulit, ini nggak sulit.

Aku mengulang kata-kata itu terus-menerus dalam benakku, lalu mulai memanjat dengan pijakan berupa tembok kokoh dan pegangan berupa tali buatan. Baru saja seluruh tubuhku terangkat dari tanah, mendadak, sulur goyah seperti kelebihan bobot.

Aku langsung berteriak.

“Njir, ngapain, sih, lo teriak-teriak, Bi?!” Jerry menegur emosi dari atas. Kegiatannya terhenti dan ia menatapku sebal. “Ini cuman goyang biasa, tahu! Nggak mungkin kita jatuh atau apa—goyangan ini normal banget!”

Aku menatapnya takut-takut. “T-tapi…”

“Udah, ah! Berisik aja lo. Lanjutin kerjaan, sono!” Dengan itu, ia meneruskan kegiatannya memanjat. Aku menelan ludah dan menggigit bibir.

Ya udah, deh, pikirku, Percayai saja ahlinya.

Berbekal pemikiran itu, aku mengikuti jejaknya.

Selangkah, dua langkah, tiga langkah…

Oke, pikirku, mulai agak tenang, Mungkin ini emang semudah yang dia bilang. Cuma goyang aja.

Catatan untuk diri sendiri : lain kali, jangan mikir seperti itu lagi.

Buktinya, begitu berpikir demikian, kakiku menginjak permukaan licin—lumut, barangkali?—dan langsung tergelincir turun. Akibatnya, aku kehilangan keseimbangan dan jatuh. Belum apa-apa, jeritanku sudah membelah udara.

Untung Jerry cepat tanggap. Ia merosot turun dengan segera, mengulurkan tangan, lalu menangkap salah satu tanganku, membuatku terombang-ambing di udara—sedetik jauhnya dari jatuh bebas dan patah tulang.

“Goblok!” tegurnya kasar. “Manjat, tuh, fokus!”

Aku baru hendak membalasnya dengan menyatakan seberapa takutnya aku sejak tadi, tetapi lalu kulihat ekspresi wajah itu.

Ya ampun, pikirku, Seorang Jerry… panik.

Nggak. Aku serius.

Wajah cowok itu merah padam, dan napasnya tersengal-sengal. Ia berpegangan padaku seperti berpegangan pada hidupnya sendiri, dan itu membuatku langsung bungkam.

“Cepetan,” katanya dingin, “Tangan lo satunya buat ambil pegangan lagi. Gue nggak bisa nahan lo selamanya.”

Wajahku langsung ikut memerah untuk alasan yang berbeda.

Buru-buru, aku menggunakan tangan yang bebas untuk berpegangan pada sulur, lalu cowok itu perlahan melepaskan pegangannya, dan aku bisa kembali lagi ke posisi panjat semula.

Jerry menatapku seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkan niat. Tanpa berkata apa-apa lebih lanjut, ia memanjat kembali dengan kecepatan lebih tinggi daripada sebelumnya, dan aku hanya bisa memandanginya dengan takjub dari bawah—itu sebelum sadar harus bergerak sendiri kalau tidak mau tertinggal.

Sisa pemanjatan itu kami habiskan dalam hening. Tidak ada yang bicara apa-apa, dan tidak ada yang berniat memulai percakapan. Saat akhirnya Jerry sampai di puncak, aku sudah tidak tahu lagi harus merasa bagaimana.

“Gue akan turun sekarang,” katanya—aku masih tiga meteran di bawahnya, “Saat gue udah sampe tengah-tengah, lo tahan tali sulurnya di atas, ya.”

Aku mengangguk canggung. Jerry langsung menghilang di balik tembok setelah itu—merosot turun dengan luwes seperti sudah terbiasa melakukannya. Sementara itu, aku memercepat panjatanku, hingga sebelum ia sampai di tengah, aku sudah berhasil tiba di puncak. Segera kutahan sulur kuat-kuat agar tidak bergerak kesana-kemari, lalu kusaksikan cowok itu merosot semakin turun dan turun, bergelantungan sebentar, kemudian mendarat dengan mulus. Ia mendongak ke arahku, lalu memaksakan sebuah seringai.

“Giliran lo,” katanya, “Gue akan tahan tali dari bawah.”

Aku mengangguk.

Sejujurnya, aku tidak terlalu takut turun, sebab hal itu jelas lebih gampang daripada memanjat naik. Jadi, saat aku mulai merosot turun, aku tidak punya secuil kekhawatiran pun—well, ada, sih, kalau cuma secuil saja. Tali sulur terasa kencang karena ditahan Jerry dari bawah di satu ujung, juga ranting kuat di ujung lainnya.

Pendaratan itu sukses—bukan kejutan, sebenarnya. Aku menapak di lantai batu kuning hampir semulus Jerry.

Saat aku sedang membersihkan baju dari tanah dan debu, cowok itu mengumumkan dengan bangga. “Nah,” katanya, “Kita udah sampe di luar.”

Aku mendongak setelah memastikan diriku sudah bersih, lalu memutar pandangan.

Dilihat dari dekat begini, rupanya perkampungan tempat kami berada lebih sepi dan menyeramkan. Lampu-lampu jalan yang menerangi setiap beberapa meter sekali malah memberi kesan creepy—karena mereka terus mati dan menyala silih berganti, menimbulkan suara-suara aneh. Warung yang tutup dikerudungi terpal biru, hijau pudar, dan abu-abu—totalnya ada lima. Pencahayaan di rumah-rumah tidak ada. Semua gelap gulita, walaupun langit rasanya sudah bertambah terang sejak aku mengintip lewat lubang tadi—entah untuk alasan apa.

“Kayaknya ini perkampungan terbengkalai,” aku berkata.

“Semacam… kota mati, gitu, ya?” Jerry menggumam. Matanya berkilat-kilat penuh rasa penasaran. “Kira-kira…” gumamnya, “Tempat ini sejauh apa, ya, dari kota asal kita?”

“Tunggu bentar,” selaku langsung, “Kamu beneran mikir kita ada di… dunia yang sama?”

“Iya, lah,” jawabnya yakin, “Kenapa nggak?”

“Kan tadi si… poni Korea bilang, di sini selalu malem karena langit selalu gelap,” jelasku, “Jadi, nggak masuk akal banget, kan, kalo ini di dunia yang sama? Mungkin aja ini kayak parallel universe atau—“

“Lo percaya, ya, sama si tukang tidur itu?” Jerry menyahut santai, “Gue, sih, nggak.”

Aku melongo sebentar. “Hah?”

“Gini, ya,” katanya, “Begitu bangun dan menyadari kondisi masing-masing, pasti semua orang akan langsung berpikir untuk melindungi diri dulu pertama-tama, termasuk dia. Semua ini soal survival, mungkin aja macem The Hunger Games atau Battle Royale gitu—siapa yang tahu, kan? Nah, dia mau ngejebak kita biar mikir yang aneh-aneh—biar kita kira ngelakuin apa pun nggak akan bikin kita mati, soalnya kita bukan di dunia sendiri. Padahal, mah, aslinya enggak.”

Aku mencerna perkataannya sejenak. “Dan…,” gumamku kemudian, “Alesanku harus percaya sama kamu apa?”

Jerry menatapku sebentar, lalu sebuah seringai terbentuk di bibirnya. “Lo bener-bener nggak perhatiin sekeliling, ya?” katanya sok prihatin. Aku mengerukan kening. “Coba, deh, Miyabi yang pintar, lo lihat dan perhatiin—di sebelah kiri lo dikit.”

Aku kebingungan, tetapi memutuskan untuk mengikuti saja instruksinya tanpa berkata apa-apa.

Baru sedetik menoleh, kedua mataku langsung membelalak sebesar buah kedondong.

Pemandangan itu samar, tidak begitu jelas, dan baru dimulai. Tetapi, aku yakin tidak mungkin salah lihat.

Itu matahari terbit.[]

TO BE CONTINUED

Thank you for finishing this part of your adventure. Save your answers by taking the survey below :

See you when you are back!

Advertisements