[PROLOGUE] The Missing Light

Copyright © 2017 by Cindy Handoko

SEGALA sesuatu terasa biasa.

Gelapnya cakrawala yang dibalut awan mendung tanpa bintang, embusan angin malam yang membawa hawa dingin menusuk tulang, bunyi gemeresik daun yang sesekali terdengar di kejauhan, bau harum samar-samar bunga bugenvil yang baru saja mekar, lorong-lorong sekolah yang remang-remang, kesunyian malam, bunyi dentang jam setiap satu jam sekali—semuanya, semuanya terasa biasa.

Barangkali ada sesuatu yang berbeda malam itu—bukankah biasanya, hal-hal yang nampak wajar menyimpan rahasia yang luar biasa di baliknya? Tetapi, tidak. Kita tidak boleh membicarakannya. Itu suatu larangan. Dan lagipula, sudah empat tahun situasi ini berlangsung, bukan? Seharusnya orang sudah mulai terbiasa.

Ya, seharusnya keberadaan tirai merah muda itu—lampu-lampu misterius yang menyala di baliknya—sudah berbaur dengan kewajaran sekitar.

Tetapi, mengapa ia masih saja mengundang tanya?

Di balik semak-semak yang dibiarkan tumbuh begitu saja, tiga remaja wanita berseragam mengintip sambil saling berbisik. Mereka memandang lurus, ke arah tirai merah muda yang menjuntai di pojok lantai teratas. Ekspresi wajah mereka penuh rasa penasaran bercampur takut.

“Tunggu aja dulu, deh.” Salah satu di antara mereka berkata, “Katanya bener, kok, suka ada bayangan-bayangan misterius di balik sana.”

“Plis, deh.” Yang lain menyahut, “Nggak perlu lihat bayangan-bayangan itu aja, gue udah merinding, nih. Lagian, aneh banget tahu gak, sih? Ngapain lampu kelas itu dinyalain padahal ini udah malem? Jam sekolah udah bubar sejak tadi sore. Lo nggak berpikir itu cukup serem?”

Mereka bertiga diam dalam keheningan. Untuk sesaat, segala sesuatu kembali biasa.

Situasi yang terlampau wajar itu bertahan selama beberapa detik, kemudian salah seorang membuka suara lagi. “Udah, deh,” ia berkata, “Kita pulang aj—“ dan memekik. Pekikan itu begitu keras sampai-sampai kedua temannya meloncat kaget.

Lampu di balik tirai merah muda itu mendadak padam satu detik yang lalu.

“Kenapa, sih, lo?” jerit salah satu temannya. “Kita bisa-bisa ketahuan, tahu, nggak?”

“Ha—habis… lo lihat sendiri, kan? Serem banget, tahu! Kita lagi ngomongin, tiba-tiba lampunya mati!”

“Iya, tapi kan—“

“Sst! Diem dulu, deh! Kayaknya ada seseorang yang keluar dari kelas itu.”

Kasak-kusuk heboh langsung memenuhi percakapan mereka bertiga dalam hitungan milidetik.

“Masa?”

“Iya, dia turun ke bawah!”

“Ke sini? Beneran ke sini?”

“Aduh, gue takut banget, nih! Padahal tadi nggak ada bayangan apa-apa, kan, di balik tirai? Kok bisa, sih, tiba-tiba ada orang keluar?”

“Lo yakin dia orang?”

“Hush! Awas lo nakut-nakutin sekali lagi! Gue bu—“

“Sst! Tutup mulut, deh! Gue denger langkah kaki. Gue denger—“

“Banyak orang. Banyak orang menuju kemari.”

Sepi, sunyi. Mereka bertiga diliputi kegugupan yang mencekam. Dalam empat detik yang terasa bagaikan empat abad, mereka berdiri merapat, berusaha menyembunyikan diri di balik semak-semak.

Pelan namun pasti, bayangan-bayangan gelap mulai bermunculan dari tangga.

Satu… dua… tiga…

Bayangan-bayangan itu terus berjalan tanpa suara, tanpa kebisingan yang berarti. Dari balik kegelapan, nampak kilat-kilatan mata yang tidak wajar. Suasana masih tegang ketika tiba-tiba terdengar embusan napas lega dari salah satu gadis itu, lalu diikuti dua lainnya. Bahu mereka langsung merosot, dan mereka beranjak dari posisi sembunyi-sembunyi yang memalukan.

“Cuma petugas kebersihan, toh,” gumam salah satu.

“Gue kira apaan,” jawab temannya, “Mana jalan berempat gitu, pula. Macem boyband aja. Bikin kaget.”

“Pulang aja, yuk,” ajak yang lain, “Nggak ada gunanya kita nungguin di sini. Terbukti, kan, yang namanya hantu itu nggak ada?”

Beberapa basa-basi terlontar, kemudian ketiga remaja itu berjalan berdampingan keluar melalui area lapangan sekolah. Di sela-sela percakapan mereka, terselip selorohan-selorohan tentang betapa konyolnya tindakan mereka malam itu.

Sungguh suatu malam yang sia-sia. Ya, kan?

Ya, barangkali, kalau cerita ini berhenti di situ.

Lima belas meter di belakang semak-semak, sepasang mata tengah mengawasi gerakan mereka. Seorang pria berbaring malas-malasan di atas dahan pohon yang melengkung, terkamuflase oleh beberapa helai daun yang menjuntai. Sambil memandangi punggung ketiga wanita itu, ia mereka ulang percakapan mereka yang tak sengaja ia curi dengar.

Cuma petugas kebersihan…

Cuma petugas kebersihan…

Apa-apaan maksud mereka?

Jelas-jelas tidak ada petugas kebersihan. Yang turun adalah serombongan remaja bertudung hitam, dengan kepala tertunduk dan tangan yang masuk ke dalam saku. Bunyi langkah kaki mereka seperti kucing—nyaris tidak terdengar sama sekali, dan langkah mereka cepat seperti kilat.

Tetapi, yang lebih aneh lagi, jumlah mereka bukan empat…

…melainkan lima.

Dan dari punggung mereka, tampak berkas-berkas cahaya warna-warni yang saling berpadu, membentuk asap pekat beragam warna. Merah, perak, kuning, biru—malam itu benar-benar berwarna, tetapi mengapa ketiga wanita tadi tidak menyadarinya?[]

TO BE CONTINUED

Okay, so, I’ve had this in my laptop for like… months, but I dunno… I always feel like I haven’t finished enough chapters to keep this going, and I’m rather slow at progressing due to writer’s block, but I figured if I didn’t post anything soon enough, I wouldn’t be posting ANYTHING at all, so yeah, here goes.

Oh, and remember the choices I gave you? I ended up going with the first one anyway. Originally planned to take the second one, but I struggled to start that one because that one is SUPER COOL but I feel like I’m not able to make a good start so yeh, idk how to translate ideas into words anymore. Gotta figure it out first then I’ll start. For now, the first choice is up to go! Hope y’all don’t find it weird:|

(Oh, and I suck at titling so)

(And actually I’m too lazy to make a poster for this so)

Advertisements

2 thoughts on “[PROLOGUE] The Missing Light

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s