The Accident That Night

Copyright © 2017 by Cindy Handoko

Rintik hujan terus turun dengan deras, membasahi jalan perumahan utama kota yang baru saja selesai diaspal tiga hari yang lalu. Bunyi guyuran air yang menghantam atap-atap rumah dua tingkat yang berderet di sepanjang jalan turut mengeruhkan suasana malam itu. Sirene polisi meraung-raung di kejauhan. Mobil-mobil berderet di sisi kiri jalan, seperti mengantre di belakang garis polisi yang dipasang melintang, ditinggalkan oleh para pemiliknya yang penasaran akan huru-hara yang sedang terjadi.

Seorang wanita bertudung hijau menerobos garis polisi, melewati beberapa aparat yang berteriak-teriak menyuruhnya berhenti. Wajahnya semakin pucat saat langkahnya berhenti di depan pintu kursi pengemudi mobil Benz hitam yang terbuka lebar. Kaki wanita itu gemetaran. Ia tidak bisa mempercayai penglihatannya.  “Quin!” jeritnya parau.

Anaknya tidak apa-apa.

Atau setidaknya, begitulah kelihatannya.

Gadis berusia sembilan belas tahun itu duduk dengan pandangan kosong di balik kemudi. Sabuk pengaman masih terikat kencang pada tempatnya. Selain sebuah lebam di dahi, ia tampak baik-baik saja. Padahal, ia sedang memandang asap yang membumbung tinggi dari bumper Benz yang penyok, nyaris remuk.

Sang ibu menghambur memeluknya. Tangisan lega meruntuhkan kepanikan yang tadinya nampak di wajahnya. Tetapi, Quin bergeming.

“Syukurlah,” kata sang ibu, “Kau tidak apa-apa!”

Pelukan erat itu berakhir, dan sang ibu menatap wajah anaknya lekat-lekat, seolah tidak mau membayangkan ketakutan akan kehilangannya lagi. Untuk saat ini, anaknya itu hidup. Ia sehat. Ia selamat dari kecelakaan itu.

“Quin, ayo kita—“

Bibir pucat Quin bergerak, otomatis membungkam ibunya. Suaranya lirih dan lemah saat berkata, “Apakah aku…”

Sang ibu menanti kelanjutan dari perkataan putrinya seolah-olah itu akan menjadi kata-kata terakhirnya.

Pandangan Quin berserobok dengan kedua mata sang ibu yang penuh kekhawatiran. Ia melanjutkan dengan suara parau, “Apakah aku membunuhnya?”

Kilatan di mata sang ibu meredup. Perlahan, tetapi Quin jelas melihatnya.

“Ma, katakan…,” gadis itu menuntut, “Apa aku membunuhnya?”

Melihat sang ibu tak kunjung menjawab, wajah Quin semakin pucat. Ia menggigit bibir keras-keras hingga darah hampir keluar dari tempat gigi-giginya menancap.

“Aku membunuhnya, kan?” jeritnya histeris. “Aku sudah menghilangkan nyawa seseorang, kan?”

“Quin—“

“TOLONG JANGAN BERUSAHA MENENANGKANKU!” Air mata tumpah ruah dari kedua mata gadis itu. Tubuhnya gemetaran hebat. “Aku… aku seorang pembunuh, kan?”

***

Lorong-lorong rumah sakit lengang seperti biasa. Nyonya Lee berjalan dengan langkah pelan menyusuri pintu demi pintu yang tidak menampakkan tanda-tanda kehidupan. Ia tertawa dalam hati.

Tanda-tanda kehidupan? Batinnya, Bukankah itu yang dicari oleh tempat semacam ini?

Di tempat ini, seharusnya orang… hidup kembali. Ironis bahwa di saat-saat tertentu—seperti sekarang, atau sebagian besar waktu—sama sekali tidak ada kesan ‘hidup’ di sini. Apalagi dengan warna putih yang tampak di mana-mana, bau obat-obatan…

“Ibu Lee,” sebuah suara memanggil. Nyonya Lee berbalik ke sumber suara dan melebarkan kedua matanya.

“Oh, Dokter,” katanya, “Saya kira ini bukan jadwal Anda. Mengapa Anda di sini?”

Sang dokter tersenyum, menampakkan kerutan-kerutan di wajahnya yang sudah menua, memberi kesan ramah yang selalu disukai oleh Nyonya Lee. “Memang bukan,” akunya, “Tetapi saya ada jadwal pertemuan dengan klien penting, dan saya pikir, sekalian saja mengecek keadaan—“

“Anda mengecek keadaannya?” Mata Nyonya Lee melebar lagi, “Bagaimana? Dia baik-baik saja, kan? Dia… dia tidak—“

“Tidak, tidak,” sang Dokter menenangkan, “Tenang, Bu. Dia hidup. Dia baik-baik saja.”

Nyonya Lee menghela napas lega. “Syukurlah…,” gumamnya, “Kemarin, dengan situasi sekacau itu, saya kira…”

“Tidak. Anda boleh tenang,” kata sang Dokter, “Di sini, kita tidak akan membiarkan hal semacam itu terjadi. Kita akan berusaha terus supaya pasien bertahan.”

“Lalu… dia sudah bisa dijenguk, kan?”

“Tentu saja,” jawab Dokter, “Mau saya temani?”

Nyonya Lee ragu sejenak. Sang Dokter memperlebar senyumnya sambil menelengkan kepala. Wanita itu pun akhirnya mengembuskan napas panjang. “Boleh,” katanya, “Saya agak takut melihatnya sendirian.”

***

“Aku membunuhnya, kan?” Quin menjerit. Darah sudah benar-benar keluar dari bibirnya yang kering, tetapi sang ibu tidak peduli. Yang terpenting adalah menenangkannya sekarang, sebab anak itu meronta-ronta sebegitu kuat.

“Quin! Quin, berhenti!”

Dua orang aparat kepolisian segera menghambur ke arah mereka. Salah satu mencekal tangan Quin yang terus mencakari udara kosong, sedangkan yang satu lagi mencoba memisahkan sang ibu dari anaknya.

“Bu,” katanya, “Tolong—“

“Biarkan saya, Pak!” sang ibu berteriak, “Saya ibunya! Saya berhak berada di sini!”

“Biarkan polisi yang mengurusnya terlebih dahulu, Bu. Setelah situasi tenang, ibu boleh—“

“Bapak tidak mengerti!”

Sang polisi berusaha keras menyeret wanita itu menjauh dari pintu mobil. Wanita itu berusaha mengelak, tetapi tentu saja tenaganya kalah besar. Dalam beberapa detik, ia sudah berada dalam jarak aman. Quin masih berteriak-teriak di tempatnya, kini ditahan oleh polisi sehingga gerakannya tidak bisa melukai diri sendiri.

“Anda bilang, Anda ibunya?” sang polisi bertanya.

“Ya. Jadi biarkan saya—“

“Baik, tolong berikan saya nama dan alamat tinggal Ibu—“

“Saya Kristin Lee, dan saya tinggal tepat di tikungan itu,” Nyonya Lee menunjuk ke depan, “Sekarang biarkan saya—“

“Tunggu, Bu. Saya akan mendata ganti rugi yang harus dibayarkan—“

“Pak, Bapak tidak mengerti!”

Nada keputusasaan dalam jeritan itu membungkam sang polisi. Ia menatap Nyonya Lee yang terengah-engah. Wanita itu tampak kacau sekali.

“Anak saya…,” ia meneruskan dengan lirih, “Anak saya pikir, dia telah menabrak seseorang.”

***

“Biarkan dia tidur, Bu.”

Nyonya Lee menatap sesosok gadis yang terbaring lemah di atas kasur. Wajah gadis itu pucat, dan bahkan dalam tidurnya, kedua alis itu bertaut dengan tidak tenang.

Quin Lee memang tidak seharusnya tenang.

Tempat ini… anaknya itu tidak seharusnya ada di tempat ini.

“Saya akan pastikan dia tidak mencoba untuk membunuh dirinya sendiri lagi,” sang Dokter berkata. “Untuk saat ini, dia di bawah pengaruh obat penenang.”

Nyonya Lee mengangguk-angguk lemah. Keduanya kemudian keluar dari ruangan dengan langkah-langkah pelan.

“Ada tanda-tanda dia akan sembuh?”

Sang Dokter diam sejenak. “Belum ada. Dia terus-terusan membicarakan tentang gadis yang ditabraknya dan mengira dirinya seorang pembunuh. Kami belum berhasil meyakinkannya bahwa itu hanya sebuah halusinasi.”

Nyonya Lee menghela napas panjang. Keheningan kembali memenuhi lorong. Selain bunyi sepatu hak tingginya, tidak ada yang bisa membuatnya nyaman berada di rumah sakit jiwa seperti ini. Tetapi, ia harus terus ada untuk anaknya, kan? Tidak hanya sekarang, tidak hanya sejak kecelakaan tunggal malam itu—tetapi selalu.

Sebab tidak peduli sesering apa Quin Lee mencoba membunuh dirinya sendiri, dan tidak peduli seerat apa rantai-rantai membelenggu tangan dan kakinya, gadis itu masih tetap anaknya. Dan ia ingin anaknya sembuh. Di atas segalanya, ia hanya menginginkan hal itu.[]

 

(P.S : wrote this as a practice bcs I haven’t done much writing lately. Done in one sitting. Didn’t double check. Pardon me if you find it weird._. or the twist doesn’t quite get to you. I hope the real thing won;t be this messed up.)

Oh, and follow my instagram >> @cinhtw

Advertisements

3 thoughts on “The Accident That Night

  1. Halo, Cindy 🙂 You can call me Sher, 18 tahun ini, jadi semoga gak salah ya aku manggil kamu tanpa kak 😂

    Pernah baca tulisannya satu dua paragraf dan aku langsung tertarik plus follow blognya, udah agak lama ya kayaknya? Tapi baru sekarang sempet baca satu cerita​, and it was good, kayak baca cerpen kompas 👏👏

    Have a nice day cindy 🙂

    1. Hello Kak Sher!! Maaf telat banget balesnya;;-;;;
      Aww thanks pujiannya! Semoga suatu saat bisa bener-bener selevel sama cerpen-cerpen Kompas, amin!
      Have a nice day as well!

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s