[CHAPTER ONE] The Missing Light : Smoke, Cards, and Everything Red

BIAR kumulai cerita ini dengan sesuatu yang membosankan : bunyi decitan spidol di papan tulis itu warnanya biru seperti lautan, dan bunyi dentang jam setiap satu jam berlalu itu warnanya merah seperti darah.

Ya, ya, aku tahu. Aku memang terdengar seperti sedang melantur, tetapi hal semacam ini—hal-hal konyol yang tidak dipahami orang-orang—sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku.

Namaku Levi Octavian, dan aku adalah seorang penderita sinestesia.

Oke, mungkin tidak tepat disebut ‘penderita’, sebab fenomena yang kualami ini menurutku cukup keren dan sama sekali tidak membuatku bisa disebut cacat.

(Kecuali jika aku mengungkapkan isi pikiranku kepada orang-orang—maka, ya, reaksi pertama mereka barangkali adalah, “Cacat lu.” Tetapi, aku percaya itu sesuatu yang berbeda.)

Sekarang kalian mulai mengira aku sinting—mencerocos tanpa satu pun kata-kata yang mudah dimengerti dan dengan santainya mengocehkan tentang diriku sendiri. Well, dalam level tertentu, aku memang sinting, hanya saja jelas bukan sinting seperti hey-tidak-ada-apa-pun-yang-lucu-tapi-aku-ingin-tertawa-keras-keras atau kau-sangat-baik-jadi-aku-akan-membunuhmu-dengan-kapak. Pokoknya bukan jenis sinting yang perlu kau khawatirkan. Tetapi, percayalah, sinestesiaku tidak ada hubungannya dengan kesintingan itu.

Baiklah. Mungkin ada, sedikit. Dan kurasa sudah waktunya kujelaskan apa itu sinestesia yang kusebut-sebut sejak tadi.

Bukan, sinestesia bukan suatu majas—well, dalam hal ini. Malahan, menurutku, majas sinestesia dinamai berdasarkan nama kelainan yang kuderita (oke, di titik ini, kata ‘derita’ mulai menggangguku. Aku sama sekali tidak merasa menderita, tuh.) Yah, kelainan ini memang mirip dengan majasnya.

Sejak lahir, aku memiliki suatu pengalaman pancaindera yang tidak wajar.

Dalam kasusku, aku melihat bunyi. Tidak semua bunyi, sih. Hanya beberapa bunyi khas yang entah mengapa memiliki kesan tersendiri bagiku.

Bagi orang-orang lain yang terlahir dengan kondisi yang sama, kemampuan mereka mungkin datang dalam beragam jenis yang berbeda. Ada yang bisa mendengar rasa atau mencecap bunyi. Ada yang bisa melihat bau atau mendengar warna—yang terakhir ini adalah yang paling umum. Tetapi, percayalah, ini bukan sesuatu yang spesial. Ini sama saja seperti kalian terlahir dengan kemampuan untuk bernapas, yang sudah kalian kenal sejak kecil sampai-sampai malah aneh rasanya kalau seseorang bertanya, “Kok bisa, sih, lo napas?” Aku sendiri baru sadar kalau apa yang kumiliki ini berbeda kira-kira setelah hidup selama enam atau tujuh tahun.

Intinya, kalau disuruh memerkenalkan diri, sinestesia bukan sesuatu yang akan kusebutkan pertama kali, karena aku sama sekali tidak menganggapnya spesial dalam artian baik. Belakangan ini, malah, aku berusaha menghindari pembicaraan tentang kelainanku itu, sampai-sampai sedikit sekali orang yang tahu mengenainya. Dan, lebih dari apa pun, aku bersyukur karenanya.

Lantas, mengapa aku membuka tulisan ini dengan mengumumkan keras-keras bahwa aku pengidap sinestesia?

Ini semua karena dari situ, sesuatu yang luar biasa telah terjadi. Sesuatu yang sangat, sangat besar. Sesuatu yang mengubah hidupku untuk selamanya—dan aku bukan penggemar hiperbola. Tanpa sinestesiaku, aku yakin nasib akan membawaku ke jalan yang sama sekali berbeda.

Dan ceritanya bermula dari sini.

 

***

Hari itu awalnya hanya hari biasa—terlambat masuk sekolah, membolos jam kedua, mendengarkan ceramah Victoria sepanjang istirahat soal betapa pentingnya menghentikan kebiasaan buruk, blah blah blah. Sama sekali tidak ada yang spesial. Well, mungkin ada, sedikit. Beberapa hal cukup mengganggu pikiranku, seperti pertengkaran ibu dan ayahku semalam (lagi), masakan kantin yang asinnya minta ampun, atau sekumpulan anak bertudung hitam yang mengeluarkan asap pelangi bersinar-sinar kemarin malam. Bukan hal yang besar.

(Oke, mungkin yang terakhir sedikit aneh. Tapi aku akan memikirkannya lebih serius nanti. Sekarang, sih, aku malas. Toh, mungkin saja aku hanya kecapekan dan berhalusinasi. Selalu ada kemungkinan itu, kan?)

Hari itu, sekolah lagi-lagi diramaikan dengan satu lagi gosip ababil yang, percayalah, tidak mau kau dengar. Sesuatu tentang seorang murid pindahan tampan mirip bule yang identitasnya… apa kata mereka—misterius? Cewek-cewek terus menghebohkan bagaimana kemarin cowok baru itu masuk ke kelas-kelas mereka dan memerkenalkan diri sebagai ‘Cello dari kelas sebelah’, kemudian meminjam beberapa buku paket dan pergi begitu saja. Ya, mungkin kalian bertanya-tanya apa anehnya tindakan itu. Awalnya aku juga berpikir begitu. Kemudian, aku dengar bahwa rupanya dia benar-benar masuk ke setiap kelas dan mengatakan hal yang sama—garisbawahi di bagian ‘dari kelas sebelah’. Artinya, setelah mencocokkan informasi, rupanya dia tidak ada di kelas mana pun, dan tak seorang pun mengenalnya.

Secara pribadi, aku tidak terlalu memusingkan gosip itu, sih. Seseorang yang mau melakukan hal bodoh seperti meminjam buku paket ke semua kelas tetangga di hari pertama masuk sekolah paling-paling hanya tukang cari sensasi. Mungkin ia memutuskan bakalan keren kalau dengan tampang bulenya, ia menampakkan diri di mana-mana dan menggaet fans-fans ababil sebelum izin pulang dan absen selama beberapa hari untuk menciptakan kesan misterius yang katanya disukai cewek-cewek.

(Maksudku, bukannya aku peduli dengan apa yang disukai cewek-cewek. Aku hanya… eh—kau tahu, kurasa lebih baik kau lupakan saja perkataanku soal cewek-cewek.)

Pokoknya, taruhan, dalam beberapa hari, si Cello ini—serius, deh, orang tua macam apa, sih, yang memberi nama anaknya seperti itu? Apa mereka mau anak itu tumbuh besar dengan muka seperti alat musik kayu bersenar seberat tiga kilogram?—ya, intinya, si Cello ini bakalan muncul lagi di salah satu kelas dan mengatakan sesuatu seperti, “Ah, kemarin gue di rumah sakit dua hari. Cedera kaki ringan, cuman gara-gara racing pake Ninja yang gue beli pake duit hasil part-time, kok. Oh, ya, dan ini buku paket lo. Thanks, ya. Tanpa lo, gue nggak akan bisa apa-apa.” Ya, tentu saja. Karena cewek-cewek suka bad boy yang independen seperti itu, apalagi jika mereka pandai menggombal.

(Kau tahu, lupakan. Dan jangan tatap aku seperti itu.)

“Menurut lo, Pak Adriel jadi ngasih kuis, nggak, ya, abis ini?”

Sebuah pertanyaan menyentakku dari lamunan. Victoria, satu-satunya cewek yang kuketahui tidak ikut-ikutan heboh soal gosip cowok alat musik gesek itu, bertanya sambil menyeruput kuah baksonya. Saat ini, kami sedang duduk berhadap-hadapan di kantin dan ia sudah selesai ceramah sejak… kira-kira… dua menit yang lalu.

Untuk menjawab pertanyaanmu selanjutnya, ya, kami duduk berdua saja, dan tidak, kami tidak pacaran. Aku dan Vic sudah bersahabat lama sekali, kira-kira sejak kami SD kelas satu. Kalau bukan karena itu, mungkin kami tidak bakalan saling kenal. Vic cewek yang tidak pedulian pada orang asing, dan walaupun aku populer setengah mati, ia tidak bakalan tertarik untuk sekadar tahu namaku.

(Kubilang jangan tatap aku seperti itu, apalagi bertanya aku populer dalam hal apa.)

Tapi, yah, aku tidak boleh protes. Aku seharusnya bersyukur. Soalnya, selain cewek itu, tidak ada yang mau benar-benar berteman denganku…

…untuk alasan tertentu, kurasa.

Aku menyeruput kuah baksoku sendiri dan bergumam, “Emang dia bilang mau ada kuis, ya?”

Vic mendesah berat. “Lo, sih, bolos mulu. Lama-lama gue tebang juga, tuh, pohon.”

Maksudnya tentu saja adalah pohon tempat aku biasa tidur-tiduran di tengah jam pelajaran. Pohon itu memang sudah jadi hak milikku sejak hari pertama menginjakkan kaki di sekolah ini. Berkat modifikasi kecil-kecilan, aku berhasil membuat dahan besar yang berfungsi sebagai kasurku sehari-hari tertutup dedaunan rindang yang bakal mengecoh guru-guru BK tua yang rabun (dan dengan ‘guru-guru BK tua yang rabun’, maksudku adalah sekitar… tiga dari tiga guru BK). Ya, aku memang kreatif seperti itu.

(Dan ya, aku populer sebagai Levi si Raja Bolos. Kau boleh berhenti bertanya-tanya sekarang.)

Aku berhenti menikmati baksoku yang super asin dan mendesah, seolah-olah punya beban hidup yang amat berat. “Lo tahu, nggak, Vic? Di samping belajar mulu kayak begitu, manusia juga butuh ketenangan batin,” aku membalas sok Mario Teguh, “Otak sama fisik aja nggak cukup. Lo harus perhatiin juga jiwa—“

“Ya, ya, ya,” ia memotong kurang ajar, “Pokoknya, gue nggak mau lo kena SP lagi. Ini udah mau ketiga kalinya, lho. Lo udah OTW didepak dari sekolah ini.”

“Tenang aja,” balasku, “Gue nggak akan di-DO. Kalo sampe iya pun, gue bisa pindah sekolah atau… apalah, ngamen di jalan, kek. Suara gue, kan, bagus.”

Vic melemparkan tatapan membunuhnya padaku. “Sekali lagi ngomong gitu, lo—“

KRIIIING……

Raut galak di wajah Vic tiba-tiba berubah menjadi bingung. Aku menaikkan kedua alis dengan menantang, menunggunya melanjutkan ancaman yang hendak ia lontarkan. Tetapi, alih-alih menyambung, dahinya malah berkerut, membuat sehelai poni cokelat yang terlalu pendek untuk diikat ke belakang menjuntai ke atas mata belonya. “Loh, kok udah bel? Perasaan baru aj—“

KRIIIING……

“Hah, ini—“

KRIIIING……

Sebelum kusadari apa yang terjadi, kantin berubah ricuh oleh gumaman-gumaman heran. Gerakan semua orang melambat seolah-olah tombol bel di ruang multimedia memiliki fungsi tersembunyi untuk menghentikan kerja otak mereka. Aku ikut mengerutkan dahi, tetapi sepertinya untuk alasan yang… well, agak berbeda.

“Lo pada kenapa?” tanyaku.

Vic beralih menatapku tak percaya, seolah-olah baru sadar sahabatnya sejak kecil setumpul itu. Aku memutuskan bahwa aku tidak suka tatapannya. “Lo denger, kan, bel tadi?”

“Denger, lah. Memangnya gue tuli?” balasku tak terima, “Tapi biasa aja, kali. Ya mungkin, kan, waktu istirahat dipotong atau apa, kek. Kayak baru sekali dua kali aja. Bingung-bingung amat.”

Kini mata Vic melotot sampai sebesar buah kedondong. “Bukan itu, Bego! Yang jadi masalah, belnya dibunyiin tiga kal—“

KRIIIING……

“—empat kali.”

Setelah itu, seperti tidak terima angka yang disebut Vic hanya empat, bel tersebut berbunyi lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Dalam sekejap, kantin berubah menjadi medan kerusuhan terbesar yang pernah kulihat seumur hidup. Semua orang sibuk berteriak-teriak, “Ada apa? Ada apa?” atau berdesak-desakan keluar. Beberapa bahkan berseru, “Kebakaran, kebakaran!” (Setidaknya aku cukup pintar untuk mengetahui bahwa bunyi alarm kebakaran bukan seperti ini.) Di tengah kericuhan itu, bel tidak henti-hentinya berbunyi, seperti tidak mau kalah dengan kebisingan yang diciptakannya sendiri.

Aku membiarkan dahiku berkerut sejenak sebelum akhirnya menyerah dan mengangkat bahu. “Rusak kali,” tebakku. Menurutku, rugi sekali waktu ekstra yang seharusnya bisa digunakan untuk menghabiskan bakso malah disia-siakan untuk terbengong-bengong. Peduli setan, deh. Baksoku lebih berharga, dan aku yakin Vic juga akan setuju—

…atau tidak.

Walaupun biasanya tidak pedulian, Vic langsung beranjak berdiri dan mendesak kerumunan untuk keluar dari kantin.

“Woy, Vic!” aku memanggil, kesal—setengahnya karena dia tidak berkata apa-apa sebelum pergi begitu saja, dan setengahnya lagi karena merasa goblok sudah salah menebak reaksinya. Tetapi, di tengah keriuhan kantin, tentu saja suaraku tidak terdengar. Yang kudapat hanya lirikan bingung dari orang-orang yang berada cukup dekat denganku—yang perlahan berubah menjadi lirikan horor. Aku berdecak sebal dan membanting sendokku ke piring, lalu ikut berdiri dan mengejar Vic setelah memelototi beberapa orang kurang ajar yang tidak mau minggir.

 

***

Baru setelah sekitar lima menit bel terus berbunyi, sesuatu yang tidak kalah keras terdengar.

“Perhatian, perhatian,” suara sengau yang terdengar seperti suara mesin itu berseru, “Para siswa diharap tetap tenang. Tetap di tempat masing-masing. Dilarang ada siswa yang berkeliaran di koridor. Diulangi, para siswa diharap…”

Itu adalah Bu Marni, wakil kepala sekolah kami yang kini berdiri di pinggir lapangan dengan wajah kesal sambil membawa toa dengan speaker super keras—walaupun suaranya saat ini lebih mirip robot kartun daripada ibu-ibu kepala lima yang mengamuk. Tetapi, percuma saja. Ketika perintah itu diumumkan, hampir semua siswa sudah beranjak keluar dari ruangan tempat mereka berada dan sedang berdesak-desakan di koridor—mungkin ini ada hubungannya dengan teriakan “Kebakaran!” yang kudengar di dalam tadi.

(Yang akan membuktikan bahwa aku setidaknya sedikit lebih pintar daripada kebanyakan orang di sini.)

Aku sendiri bisa melihat Bu Marni karena aku berada di teras depan kantin yang menghadap lapangan, mencari Vic di tengah keramaian.

Dalam hati, aku mengumpat kesal. Oke, sebenarnya aku tidak perlu mengikutinya. Kami, kan, tidak harus selalu bersama-sama (entah mengapa, ide itu terdengar super aneh. Tolong jangan pernah berpikiran seperti itu.) Masalahnya adalah, kalau bukan karena ada Vic, aku bahkan tidak akan sudi makan di kantin. Tadinya, berhubung lapar, aku meminta cewek itu untuk menemaniku supaya setidaknya aku tidak jadi pusat perhatian sendirian. Di atas segalanya, aku benci hal itu. Sekarang, begitu ia pergi, duduk sendiri di kursi kantin, di tengah keramaian yang sedikit memudar di sekililingku (dan hanya di sekelilingku) tidak terdengar seperti hal yang terlalu nyaman dilakukan. Jadi, aku entah harus menemukan Vic atau pura-pura sibuk mencarinya.

(Ke toilet bisa jadi pilihan bagus juga, tetapi aku malas berjalan jauh-jauh, jadi kembali ke pilihan pertama, kurasa.)

Di kejauhan, suara Bu Marni masih terdengar, nadanya meninggi dalam setiap tarikan napas. Aku belum pernah melihatnya sekesal ini, tetapi mungkin itu karena aku belum pernah tidak membolos dari jam-jam matematikanya. Aku terus menerobos kerumunan tanpa melihat ekspresi orang-orang yang kudesak minggir. Tetapi, bahkan sampai ke ujung koridor pun, aku tidak menemukan sosok berekor kuda cokelat yang kucari-cari.

“Kampret!” teriakku kesal sambil mengentakkan kaki—membuat orang-orang yang berdiri di sekitarku terkejut.

Atau tidak.

Well, mereka memang terkejut, tetapi rupanya bukan gara-gara aku. Mata mereka memandang ke lapangan, lurus ke atas. Sambil mengerutkan dahi, aku mengikuti arah pandang mereka dan melihat…

… udara kosong.

Tidak ada apa-apa.

Aku sempat heran. Kemudian, pandanganku turun ke bawah, dan mataku menangkap sesuatu yang familier—asap berwarna merah yang saling tumpuk, membumbung ke udara.

Kepalaku langsung terasa sakit.

Ini persis seperti yang kulihat kemarin malam. Hanya saja, tidak ada warna lain selain merah. Dan, kalau tidak salah ingat, sepertinya cahaya asap kemarin jauh lebih redup daripada kali ini. Aku berkedip sekali, dan cahaya itu menghilang. Kemudian, aku berkedip lagi, dan ia muncul kembali. Selanjutnya, asap merah itu terus berkedip-kedip, seolah menunjukkan padaku ilusi dan realita dalam waktu bersamaan. Aku bertanya-tanya apakah itu yang membuat semua orang terkejut.

Jawabannya kudapatkan sedetik setelahnya.

Pandanganku turun sedikit lagi, dan kusadari di bawah asap, di tengah lapangan sana, berdiri seorang cowok bertudung merah. Tingginya paling-paling hanya seratus enam puluhan—seratus tujuh puluh, paling banyak. Ia mengenakan celana jins gombrong yang mencapai pergelangan kaki. Aku tidak bisa melihat rambutnya secara keseluruhan, tetapi kurasa rambut itu panjang—cukup panjang untuk membuatnya mendapat SP dari kepala sekolah. Hidungnya agak terlalu mancung untuk ukuran orang Indonesia, dan bibirnya tipis, menyunggingkan senyum nakal yang membuatku merinding. Kulitnya putih pucat tanpa cela, kontras dengan alis hitamnya yang diangkat. Tetapi, yang paling aneh adalah matanya. Mata itu besar dan naik ke atas di ujung luar seperti kucing, dan sepasang bola mata yang menatap ke sekeliling itu berwarna merah. Ya, merah. Seperti merah darah dan merah bendera Cina dijadikan satu, saling bergejolak membentuk riak-riak di permukaan kristal.

Itu adalah sepasang mata paling aneh, paling tidak biasa yang pernah kulihat.

Dan sedetik setelah menatapnya, duniaku seperti dijungkirbalikkan…

…secara harfiah.

Awalnya, lantai seolah berputar ke atas, kemudian langit turun ke bawah, dan kepalaku rasanya seperti mau pecah. Pandanganku berputar-putar dengan brutal selama beberapa detik. Begitu gambar yang kulihat di mataku kembali normal, sesuatu jatuh dari langit—tidak, bukan sesuatu. Beratus-ratus, bahkan beribu-ribu kertas kecil mengilap melayang-layang dari udara, membentuk hujan yang lama-kelamaan menutup pandanganku dari cowok bertudung merah itu, tetapi tidak dari asap sewarna matanya.

Hujan kartu.

Hujan kartu di lapangan sekolahku.

Aku bergerak mendekat dalam langkah-langkah lambat, seolah sedang dalam keadaan trans. Sesungguhnya, aku punya kendali penuh atas diri sendiri. Hanya saja, rasanya kakiku tak bertenaga, jadi langkahku terseret-seret. Aku melompat ke atas tembok teras, dua meter jauhnya dari kartu terdekat. Begitu sampai di sana, baru kusadari ternyata kartu-kartu yang berjatuhan—semuanya, tanpa terkecuali—adalah as wajik berwarna merah.

Apa ini? Aku berpikir dalam kebingungan, Apa maksudnya semua ini?

Aku tidak yakin apakah semua orang di koridor memang diam atau suara-suara telah terserap keluar dari telingaku, tetapi sepertinya yang pertama lebih mungkin. Semua orang tampaknya juga sedang menyaksikan pemandangan yang sama dengan mulut terbuka dan napas tertahan. Untuk waktu yang terasa seperti berabad-abad, yang terdengar hanya bunyi bel yang tak henti-hentinya meraung, menciptakan kesan hampa yang aneh.

Lalu, dari sudut mata, aku melihat sosok berekor kuda cokelat melesat cepat di koridor lantai tiga, jauh di sebelah kiriku.

Itu Vic, dan sepertinya dia sedang menuju ke ruang multimedia.[]

TO BE CONTINUED

Advertisements

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s