Sedang Menulis…

Hari ini, aku ingin menulis.

Rintik hujan beradu genting di luar membasahi jendela dengan tetes-tetes air yang berlomba-lomba mengalir turun, dan udara dingin mengisi kekosongan yang tercipta akibat kesendirian. Bau karat bingkai jendela yang sudah lama bercampur dengan bau tanah yang basah oleh tangisan langit. Sunyi membentengi sore mendung itu. Suara tawa, barangkali hanya dalam imajinasiku saja.

Aku bukan penulis.

Tidak, bukan itu yang ingin kutulis. Aku tidak pandai membuat sajak. Aku tidak pandai merangkai kata. Tetapi aku ingin–aku harus menulis.

Bunyi goresan pena pada kertas yang tadinya kosong menyusup perlahan dalam keheningan. Segores, dua gores. Setetes, dua tetes air mata. Sesak, sesak rasanya. Kucoba mengingat kapan terakhir kali perasaan sekuat ini menyentuhku. Tidak ingat–tidak ada. Rasaku sudah mati, dan arwahnya lah berbicara. Barangkali arwah itu akan menghantuiku, tetapi tidak kubiarkan. Aku sudah membiarkan cukup banyak hal. Terlalu banyak.

Kalau penaku sudah menutup kalimat terakhir, aku tidak lagi bisa mengatakan hal yang sama. Tetapi, tidak masalah. Hatiku sudah memutuskan, dan seperti yang selalu terjadi–tidak peduli seindah apa pun, seberapa menginspirasi orang-orang mencoba menggambarkannya–keputusan tidak pernah mudah. Pada akhirnya, selalu ada yang kalah. Selalu ada yang salah.

Aku menulis lagi.

Aku menulis terus.

Hujan berubah menjadi badai kala kabut mulai menghias pandangku. Denyutan-denyutan itu, yang kucoba redam walau tak kuhentikan. Kata terakhir telah memandangku sendu, menyaksikanku–runtuh ditelan waktu. Jam berdetik, semakin keras dan semakin jelas. Hawa dingin menusukku dari segala arah. Berhenti, jangan berhenti.

Aku pun pergi, tetapi tak beranjak.

Semalam berlalu. Rumahku lautan kelabu. Aku kembali, walau tidak kembali. Hening yang terakhir kuingat, dirobek paksa jerit pilu. Dia, yang kukira tak kukenal. Ke mana saja dia? Ke mana saja wajah-wajah itu? Riuh rendah bergema aneh dalam ruangan itu. Ruangan itu–yang kini tak lagi bisa berjumpa dengan sahabatnya yang setia. Hanya pada saat itu saja, semua kawan lain–tetangga, orang asing–datang kepadanya, dan ia tak bisa apa-apa. Oh, betapa kasihan ia.

Aku telah menulis, dan kini kata-kata itu terhapus air mata. Aku mendengar bisikan, namun bukan dari tempat seharusnya kudengar.

“Mengapa?”

Aku diam saja. Tentu aku diam saja. Tak ada lagi kataku yang tersisa. Aku telah menulis. Semuanya telah habis tanpa kecuali.

Tetapi ia terus bertanya, mengapa. Mengapa, mengapa, mengapa.

Ada kesenduan. Ada kepedihan.

Ada kasih sayang.

Kalung berlian itu–tergeletak sepi. Tak mampu ia raih tangan pemiliknya. Tak bisa ia lihat wajah pemiliknya–untuk kali pertama. Atau barangkali bisa, hanya saja bukan dalam pesta dansa yang gemerlap itu, yang selalu ia impi-impikan. Mereka akan berjumpa dalam sebuah kotak kecil. Kegelapan akan menelannya–kegelapan akan menelan mereka. Dan terang tak akan kembali lagi untuk menyapa.

Apa, apa yang telah kutuliskan?

Rasaku belum mati. Kala kusaksikan kehancuran itu, ia–dengan kemarahan dan penyesalan yang membuncah berapi-api–menamparku keras-keras. Ia tidak mati. Ia tidak mati. Atau barangkali sebaliknya.

Ya Tuhan, aku seharusnya tidak menulis.

Tetapi, semuanya percuma. Aku hanya punya sebuah pena. Aku selalu hanya punya sebuah pena. Dan tulisanku, tidak peduli sekeras apa pun kucoba hilangkan, tidak akan pernah bisa dihapus.[]

 

***

SELESAI

 

November 18, 2012, I made this blog. It was obviously a different feeling. I was excited. I was not about to see something, I was about to create something. November 18, 2012, I had not published any book. Heck, I had not even written the very first chapter of Little Stories of Ours.

It’s been five years now.

I have grown. Some things have lost their meaning, and I am so, so much older than before. But even when I clearly understand that, I want to honor the feeling I used to feel–the excitement that used to throw little bombs inside my heart. The desire to stay at home–to write, to write, and to write. The passion–the calming sound of the keyboard as my fingers dance along the music I create inside my head in the form of words.

I miss that.

I miss being here, and I miss you.

I would honor my past jokes, as well. I would love to. But it is quiet. It has been since a long time ago, before I even realized it. So in the silence, I don’t really have the push to laugh. I don’t have it. Instead, I want to cry. But tears don’t always come from sadness, and I think you should know that.

Through this short, crazily spontaneous story, I want to show you that suicide is not beautiful. I know many people who write, write because they are desperate. Because they need to put their overwhelming feelings somewhere people cannot see clearly. And I know the pressure is insane. I am sure some are fighting against themselves very hard right now, and are reading because they need self justification for their suicidal feeling. But I ain’t giving you that.

I know this has been repeated times and times again, but this is the internet. People try to romanticize suicide. But I, I have never explained any of my writings before, especially in the end of the story. I like to make people figure out themselves what I mean. I am not really good at throwing obvious clues here and there. However, it would be such a shame if you don’t get what I am trying to deliver here, that I am trying to save someone–to save anyone. I am with you, and I can only write. So I am doing so. I will continue to do so.

I know it doesn’t even sound like me, but to commemorate my fifth anniversary with this blog, I want to be inspirational. I want to lead people somewhere beautiful and I want to be with them, beside entertaining them with my words. This is one of my steps. So spread the love, and keep fighting.

(By the way, I intentionally didn’t reread this to keep it raw. So I hope you won’t mind the bad choices of some words and the arrangement.)

Advertisements

Tell Me Whatever You're Thinking Right Now

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s